Anda di halaman 1dari 10

TINJAUAN YURIDIS TENTANG PELANGGARAN PERBURUHAN PABRIK KUALI DI TANGERANG DALAM PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA

Tinjauan Tentang HAM Pengertian HAM menurut John Locke Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia (Pasal 1 angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM). Sedangkan menurut Koentjoro Poerbapranoto, Hak Asasi adalah hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya yang tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya sehingga sifatnya suci. Filsuf terkemuka asal Prancis yaitu Montesquieu dan J.J Rousseau merupakan salah satu pemikir yang melahirkan Deklarasi Hak Manusia dan Warganegara pada tahun 1789. Dimana menurut mereka deklarasi ini melahirkan pemahaman terhadap HAM sebagai hak atas kebebasan (Liberty), Harta (Property), Keamanan (Safety) dan perlawanan terhadap penindasan (Resistance to Oppression). Menilik kembali tentang hakekat Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia, sepertinya belum bisa sepenuhnya untuk bisa diwujudkan. Dalam sejarah konstitusi negara Republik Indonesia, Hak Asasi Manusia (HAM) yang pada awalnya diatur dalam UUD 1945 sangatlah minim dan belum memadai. Dimana hal ini menjadi momentum yang panjang dan sulit untuk diperjuangkan, karena adanya perbedaan pendapat/pandangan daripada pendiri negara mengenai hakekat Hak Asasi Manusia (HAM) itu sendiri. Pada saat itu hakekat Hak Asasi Manusia (HAM) diidentikkan dengan ideology liberalis yaitu merupakan paham terhadap pengakuan hak individu secara menyeluruh. Hal inilah yang dianggap tidak cocok dan bertolak belakang dengan kepribadian bangsa Indonesia. Namun setelah waktu berlangsung dengan sejarah perkembangan yang panjang. Akhirnya Hak Asasi Manusia di Indonesia diakui dan secara terbuka mulai diatur dalam
1

konstitusi maupun undang-undang. Dari masa orde lama dan orde baru panghargaan terhadap Hak Asasi Manusia masih sangat minim. Tetapi, dengan adanya reformasi membawa angin segar terhadap penjaminan Hak Asasi Manusia (HAM). Terbukti dengan diaturnya pasal dalam konstitusi mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) yaitu pada pasal 28A-28J UUD RI 1945 dan Undang-Undang no. 39 tahun 1999. Dalam aturan penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) pada hakikatnya menyangkut seperti yang saya jelaskan diatas tadi. Di Indonesia sendiri Implementasi terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) masih jauh dari kata sempurna. Ini terbukti dari maraknya kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Seperti yang kita ketahui, barubaru ini terdapat kasus penyekapan buruh pabrik kuali aluminium selama tiga bulan di Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang. Hal ini merupakan contoh nyata dari adanya kealpaan aparatur negara dan pemerintahan dalam upaya penjaminan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Kasus yang mencuat ini pun menjadi buah bibir yang genjar dibicarakan, dimana aparat negara ikut dalam melindungi dan menutupi kasus ini. Aparatur negara seharusnya memiliki kewajiban dalam penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) bukan malah menjadi jembatan dalam upaya perbudakan buruh ini. Selain itu, peran pemerintahan dalam upaya penjaminan terhadapa hak warga negara pun juga mulai dipertanyakan. Kemana peran pemerintah selama ini? Mengapa kasus ini baru bisa terkuak setelah tiga bulan lamanya. Dari adanya kasus ini menjadi pembelajaran hebat bagi pemerintah negara Republik Indonesia bahwa dalam penjaminan hak warga negaranya terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) pemerintah masih memiliki PR yang panjang untuk mewujudkan terciptanya keadilan. Selain itu, dalam hal keikutsertaan aparat negara juga menjadi PR bagi pemerintah untuk menertibkan aparat negara yang bertindak sewenang-wenang dan mendisiplinkan agar tidak terjadi lagi hal serupa. Uraian diatas menggambarkan masih kurangnya perhatian pemerintah terhadap kepentingan warga negara dalam penjaminan terhadap hak-hak individu yang bersifat dasar. Dapat disimpulkan bahwa dari kasus ini, Implementasi Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia masih kurang dan belum tepat sasaran, dimana pemerintahan masih jauh dalam pemenuhan hak dasar warga negaranya Pasal 27 (2) : Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Dalam UUD 1945 yang diamandemen, HAM secara khusus diatur dalam Bab XA, mulai pasal 28 A sampai dengan pasal 28 J. Pasal 28 B (2) : Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Pasal 28 D (2): Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja Pasal 28 G (1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, kekuasaannya, ancaman ketakutan untuk keluarga, kehormatan,

martabat, dan harta benda yang dibawah rasa aman dan perlindungan dari

serta berhak atas berbuat atau

tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. **) (2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan berhak dan perlakuan yang suaka

merendahkan

derajat

martabat

manusia

dan

memperoleh

politik dari negara lain. **) Pasal 28 H (3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan

pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. **) (4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut

tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang oleh siapa pun. **) Kronologi Kasus Sebuah Industri kecil pembuatan alumunium batangan dan kuali ilegal di RT 3, RW 4, Kampung Bayur Ropak, Desa Lebak Wangin, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang digerebek Satuan Reskrim Polresta Tangerang pada Jumat 3 Mei 2013 petang. Selain tidak memiliki izin usaha, industri yang memproduksi wajan alumunium tersebut mempekerjakan karyawan dengan tidak manusiawi. Kasat Reskrim Polresta Tangerang Kompol Shinto Silitonga mengatakan, penggerebekan ini berawal dari kaburnya salah satu karyawan bernama Andi Gunawan. Korban pulang ke kampung halamannya di Lampung, lalu melaporkan perlakuan sewenang-sewenang pemilik usaha bernama Yuki Irawan ke Polres Lampung Utara dan Komnas HAM."Korban mengaku kalau dia bekerja di bawah tekanan
3

dan dianiaya, itu terlihat dari bekas luka di tubuhnya. Atas laporan itu, Polres Lampung Utara dan Komnas HAM bekerjasama dengan Polresta Tangerang melakukan penggerebekan," ujarnya ketika di lokasi, Jumat (3/5). Dari penggerebekan tersebut, pihaknya menemukan sebanyak 25 pekerja dalam keadaan tidak terawat dan mengalami penyakit kulit. Empat pekerja di antaranya masih di bawah umur. Mereka berasal dari Lampung dan Cianjur."Ketika bekerja di sini, HP mereka disita dengan alasan agar tidak hilang. Mereka juga tidur di sebuah bilik yang gelap dan pengap sehingga kondisi mereka kotor dengan pakaian koyak-koyak dan kena penyakit kulit. Bahkan 17 pekerja belum mendapatkan 2 bulan gaji. Ini menguatkan indikasi perlakukan tidak manusiawi yang dilakukan pemilik usaha," papar Shinto. Selain itu, industri yang telah berdiri selama satu tahun ini tidak memiliki izin usaha, hanya surat keterangan usaha dari Kecamatan Cikupa. Hal itu, menurut Shinto, menyalahi aturan karena karena surat tersebut jauh dari lokasi industri yang berada di Sepatan."Untuk penyelidikan kita bawa 25 buruh, mandor serta pemilik usaha ini ke Polresta Tangerang. Kita juga amankan barang bukti berupa komponen alat, bahan baku dan produk jadi," paparnya.Shinto menegaskan,.Sementara salah satu pekerja yang belum diketahui identitasnya mengakui bahwa dirinya bekerja di bawah tekanan dan paksaan."Saya bekerja sudah enam bulan, kerjanya dari jam 6 sampai 8 malam dengan gaji Rp 600 ribu per bulan. Saya sering dipaksa dan dianiaya kalau kerja salah. Makan juga cuma seadanya, pakai nasi sama tempe dua buah. Karena itu banyak yang kabur dari sini," tukasnya. Koordinator Komisi orang hilang dan tindak kekerasan (KontraS) Haris Azhar mencium adanya keterlibatan aparat dalam kasus penyiksaan buruh pabrik kuali dan wajan ilegal di Kampung Bayur Opak, Desa Lebak Wangi, Kabupaten Tangerang. Namun sayangnya, temuan ini tidak ditindak lanjuti oleh pihak kepolisian. Haris menyebut kalau dua anggota Brimob berinisial A dan N sering dimanfaatkan oleh pemilik pabrik kuali, Yuki Irawan untuk menekan buruh. Kedua Brimob tersebut sering mengancam dan memarahi para buruh."Para korban (buruh) mengaku kalau Brimob tersebut sering dipakai untuk mengintimidasi mereka. Bahkan Brimob tersebut sering menyiksa dan sering mengancam untuk menembak mereka," ujar Haris di kantornya, Senin (6/5).Polisi tidak membantah jika ada anggota polisi dan TNI yang sering singgah ke pabrik itu. Bahkan, pemilik juga mengakui kenal dan sering memberikan uang bensin kepada aparat yang datang."Saya sudah konfirmasikan kepada tersangka YI, kalau mereka (anggota TNI dan polisi) sering datang dan dikasih uang bensin," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Senin (6/5).Rikwanto mengatakan, jadwal kedatangan kedua personel TNI dan
4

polisi itu sebulan sekali. Dia menilai kedatangan keduanya dipersepsikan sebagai beking oleh buruh itu. "Hal inilah yang dipersepsikan oleh para buruh sebagai beking,"

tandasnya.Rikwanto justru menuding pemilik pabrik telah memanfaatkan pertemanannya dengan aparat untuk menakut-takuti para buruh. Hal ini dilakukan agar para buruh tak buka suara dengan apa yang dialaminya."Selama ini pelaku memanfaatkan petugas yang datang ke rumahnya. Padahal hanya untuk patroli. Namun, kedatangan polisi dan TNI dimanfaatkan oleh tersangka untuk menakuti nakuti karyawan untuk tidak berbicara terkait perbudakan, dengan masyarakat dan kepolisian," ujar Rikwanto. Namun, Haris menyayangkan karena dalam pemeriksaan oleh Polres Tiga Raksa Tangerang tindakan kedua Brimob tersebut tidak dicantumkan dalam berita acara pemeriksaan (BAP). "Ini sungguh sangat aneh," katanya. Selain itu, dirinya khawatir kalau nanti Polda Metro Jaya dan Polres Tiga Raksa Tangerang sama-sama menangani kasus ini. Untuk itu dia meminta Mabes Polri bertindak tegas siapakah yang harus menangani."Karena Mabes Polri memiliki kewenangan untuk mengaturnya," tutur Haris. Sebelumnya, Jumat sore lalu petugas kepolisian berhasil menyelamatkan sebanyak 25 buruh asal Lampung dan Cianjur yang dipekerjakan layaknya budak di perusahaan wajan itu. Petugas juga masih mengejar dua orang tersangka yang bekerja sebagai mandor serta menetapkan kedua mandor tersebut daftar pencarian orang oleh Polda Metro Jaya (http://selvinaputry.blogspot.com/ diakses pada hari senin 16 september 2013 pukul 16.25 WIB) . Dalam ruangan berukuran 40x40 meter yang kotor, tertutup, dan bau, sekitar 40 orang pekerja tidur. Mereka diwajibkan bekerja sejak pukul 05.30 WIB hingga pukul 22.00 WIB dengan tanpa menerima gaji dan dilarang bersosialisasi dengan lingkungan. Selama bekerja, buruh alami siksaan, perlakuan kasar, seperti ditendang dan disundut rokok, disiram air panas, penyekapan dan tidak ada pemberian hak dari majikan selama bekerja. Para buruh hanya beristirahat di ruang tertutup ukuran 8 meter x 6 meter, tanpa ranjang tidur, hanya alas tikar, kondisi pengap, lembab, gelap, terdapat fasilitas kamar mandi yang jorok dan tidak terawat. Peralatan berupa telepon seluler, dompet, uang, dan pakaian yang dibawa buruh ketika awal bekerja disita tanpa argumentasi yang jelas. Kondisi badan buruh juga tidak terawat, rambut coklat, kelopak mata gelap, berpenyakit kulit seperti kurap dan gatal - gatal serta tampak tidak sehat. Saat ini, kepolisian telah menahan lima orang yang dijadikan tersangka terkait kasus itu yakni Yuki Irawan (41)

sebagai pemilik pabrik serta empat anak buahnya yakni Tedi Sukarno (35), Sudirman (34), Nurdin alias Umar (25), dan Jaya (30). Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto menyatakan berkas perkara perbudakan pabrik kuali di Tangerang sudah P21 atau selesai. Dia mengatakan, penyidik Polsek Tangerang tinggal mengirim tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan (3/9). (http://www.merdeka.com/peristiwa/kasus-perbudakan-pabrik-kuali-di-tangerang-segeradisidang.html diakses pada hari senin 16 september 2013 pukul 16.01 WIB) Pada akhirnya Pengadilan Negeri Tangerang, Banten, Selasa (26/11) menggelar sidang perdana kasus "perbudakan" buruh pabrik kuali milik Yuki Irawan di Desa Lebak Wangi, Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang. Tak hanya Yuki, empat orang lainnya yang merupakan mandor yaitu Nurdin, Sudirman, Tedy dan Rohjaya, juga menjalani sidang yang serupa. Adapun untuk ancaman hukuman sesuai pasal yang dikenakan terhadap Yuki Irawan yakni 15 tahun penjara, kata Jaksa Penuntut Umum (JPU), Agus Suhartono (http://www.merdeka.com/peristiwa/tindas-buruh-bak-budak-bos-pabrik-kuali-terancam-15tahun-bui.html diakses pada hari selasa 26 november 2013 pukul 21.26 WIB) Pasal Yang Dilanggar Kelima tersangka dijerat dengan pasal 333 KUHP tentang perampasan hak kemerdekaan warga negara, pasal 351 KUHP tentang penganiayaan, pasal 372 tentang penggelapan, UU Perindustrian, UU Perlindungan Anak, dan UU perdagangan manusia. Berkas perkara tujuh tersangka, yaitu Yuki Irawan, 41 tahun, pemilik pabrik dan empat anak buahnya: Tedi Sukarno (35), Sudirman (34), Nurdin alias Umar (25), dan Jaya (30), serta dua tersangka lainnya yang masih buron, diserahkan ke Kejaksaan Negeri Tigaraksa, Selasa, 11 Juni 2013. Para tersangka akan dijerat dengan enam pasal berlapis. Keenam pasal itu, lanjut Rolando, yakni Pasal 333 KUHP dan 351 KUHP tentang penyekapan dan penganiayaan, Pasal 24 UU No 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, karena pabrik itu tak memiliki Tanda Daftar Industri (TDI) atau Izin Usaha Industri (IUI). "Selanjutnya, Pasal 88 UU No 23 Tahun 2002 tentang tentang Perlindungan Anak, karena tersangka telah mempekerjakan anak berumur 17 tahun," jelasnya. Dia melanjutkan, Yuki juga dikenakan Pasal 2 UU No 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Manusia, karena telah merekrut orang dengan cara penipuan dan mempekerjakannya di bawah ancaman kekerasan fisik serta dieksploitasi.
6

"Terakhir pasal 372 KUHP tentang Tindak Pidana Penggelapan, dengan fakta bahwa barangbarang milik para buruh seperti handphone, dompet, uang, dan pakaian dilucuti dan dikuasai tersangka," tutupnya. (http://www.merdeka.com/peristiwa/kasus-perbudakan-pabrik-kuali-ditangerang-segera-disidang.html diakses pada hari senin 16 september 2013 pukul 16.01 WIB) Secara detil, pelanggaran yang diduga dilakukan dalam kasus tersebut, yakni upah di bawah ketentuan Upah Minimum Pasal 90 ayat 1 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ancaman hukuman maksimal 4 tahun dan atau denda maksimal Rp400 juta (http://m.aktual.co/sosial/225608jangan-terjadi-kerja-rodi-seperti-buruh-kuali diakses pada hari senin 16 september 2013 pukul 16.15 WIB). Kemudian, memperkerjakan Anak pada Bentuk Pekerjaan Terburuk Pasal 74 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ancaman hukuman maksimal 5 tahun dan atau denda maksimal Rp500 juta. Perusahan tidak membuat Peraturan Perusahaan, UU Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 106 ayat (1). Ancaman hukuman pidana denda maksimal Rp50 juta. Selanjutnya, waktu Kerja Waktu Istirahat Pasal 78 UU Nomor 13 Tahun 2003. Ancaman hukuman maksimal 12 bulan dan atau denda maksimal Rp100 juta. Jamsostek Pasal 4 ayat 1 UU Nomor 3 Tahun 1992. Ancaman hukuman maksimal 6 bulan atau denda maksimal Rp50 juta. Pelanggaran lainnya, Wajib Lapor Ketenagakerjaan UU Nomor 7 Tahun 1981. Ancaman hukuman maksimal 3 bulan atau denda maksimal Rp1 juta. Keselamatan Kerja UU Nomor 1 Tahun 1970. Ancaman hukuman maksimal 3 bulan atau denda maksimal Rp100 ribu. Satu tambahan pasal, yaitu pelanggaran Undang-Undang Tenaga Kerja yang dilakukan oleh Yuki cs, menurut Rolanda, menjadi kewenangan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang. "Jadi kami hanya menjerat enam pasal tersebut," kata dia. Dalam Persidangan Pertama, 26 November 2013, Jaksa Penuntut Umum membacakan Surat Dakwaan atas nama Terdakwa Yuki Irawan, Tedi Sukarno, Nurdin, Sudirman, dan Roy Jaya yang masing masing penuntutannya diajukan terpisah. Materi penuntutannya sebagai berikut (www.kontras.org/index.php?hal=siaran_pers&id=1821 diakses tanggal 18 desember 2013 pukul 16.36 WIB) :

1. Yuki Irawan : a) Perdagangan orang, Pasal 2 ayat (1) UU no 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Pemberantasan Perdagangan Orang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP b) Eksploitasi anak, Pasal 88 UU no 23 tahun 2002 tentang Perlidungan Anak jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP c) Penggelapan, Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP d) Mendirikan perusahaan tanpa izin usaha industry, Pasal 24 ayat (1) UU no 5 tahun 1984 tentang Perindustrian 2. Tedi Sukarno : a) Perdagangan orang, Pasal 2 ayat (1) UU no 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Pemberantasan Perdagangan Orang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP b) Eksploitasi anak, Pasal 88 UU no 23 tahun 2002 tentang Perlidungan Anak jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP c) Penggelapan, Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP 3. Roh Jaya : a) Perdagangan orang, Pasal 2 ayat (1) UU no 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Pemberantasan Perdagangan Orang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP b) Eksploitasi anak, Pasal 88 UU no 23 tahun 2002 tentang Perlidungan Anak jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP 4. Nurdin : a) Perdagangan orang, Pasal 2 ayat (1) UU no 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Pemberantasan Perdagangan Orang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP b) Eksploitasi anak, Pasal 88 UU no 23 tahun 2002 tentang Perlidungan Anak jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP 5. Sudirman : a) Perdagangan orang, Pasal 2 ayat (1) UU no 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Pemberantasan Perdagangan Orang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP
8

b) Eksploitasi anak, Pasal 88 UU no 23 tahun 2002 tentang Perlidungan Anak jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Kesimpulan Pengaturan yang dibuat untuk memenuhi hak asasi para buruh telah banyak dikeluarkan oleh pemerintah, namun dalam penegakan peraturan tersebut pemerintah kurang ketat dengan tidak adanya inspeksi yang dilakukan terhadap pabrik pabrik yang ada sehingga dapat memunculkan pabrik pabrik yang tidak terdaftar. Pabrik yang tidak terdaftar akan mengakibatkan sulitnya pengawasan terhadap para buruh yang bekerja disitu sehingga pelanggaran yang terjadi akan sulit diketahui oleh pemerintah. Faktor individu juga mempengaruhi dalam hal ini, yaitu keterlibatan oknum dalam memalsukan perijinan pendirian pabrik tersebut dan juga oknum yang dijadikan obyek untuk menekan buruh. Namun, apabila kita mencermati lebih seksama maka kondisi nyata di lapangan tidak selalu sama dengan apa yang diharapkan maupun yang tertuliskan. Menurut Pak Kostrad (aktivis perserikatan buruh KASBI) menyatakan bahwa, Sebenarnya D ISNAKERTRANS itu tau apa yang terjadi, namun tutup mata terhadap yang terjadi tersebut bahkan dengan tipu daya suatu yang melanggar pun dibuat seolah olah itu benar ketika sidak, namun kembali lagi terjadi pelanggaran ketika sudah selesai sidak-nya. Bukan rahasia umum lagi kalau pengusaha pasti memberi amplop khusus kepada DISNAKERTRANS agar dapat melancarkan usaha nya, kalau tidak maka akan dipersulit prosesnya. Demikian juga pihak kepolisian setempat, dalam hal ini Polsek pasti mengetahui bagaimana kondisi wilayahnya dan kalau ada pengusaha baru pasti tau dan kemungkinan besar meminta jatah keamanan. Dalam beberapa pendapat saksi mata maupun korban, terdapat beberapa dugaan keterlibatan oknum TNI dan Polri, namun di dalam tuntutan tidak dicantumkan adanya bukti bukti tersebut sehingga menimbulkan tanda tanya bagi sejumlah pihak. Beberapa pihak berfikir kalau para korban mendapat ancaman dari beberapa pihak terkait sehingga dugaan keterlibatan oknum TNI dan Polri menjadi kabur. Saran Meningkatkan pengawasan dari pemerintah mengenai ijin dan pelaksanaan kegiatan industri ataupun kegiatan usaha di masyarakat.
9

Meningkatkan peran serta masyarakat dalam hal pengawasan kawasan industry ataupun kegiatan usaha di sekitarnya Meningkatkan profesionalitas dan kinerja pemerintah khususnya aparat yang bersangkutan Memberikan sosialisasi kepada para buruh terhadap undang undang yang berkaitan dengan perburuhan dan hak nya, sehingga buruh dapat membela hak nya. Pengusaha harus berani menentang yang salah dan mensejahterakan buruh, bila buruh sejahtera maka akan ada simbiosis mutualisme antar pengusaha dan buruh. JPU dan Majelis dapat menguraikan fakta fakta keterlibatan oknum TNI dan Polri. Mabes Polri menindak lanjuti aduan keterlibatan oknum TNI dan Polri dan berani memproses secara pidana terhadap nya. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban(LPSK) memberikan dan memastikan keamanan saksi korban dalam memberikan keterangan di persidangan. Daftar Pustaka http://selvinaputry.blogspot.com/ http://www.merdeka.com/peristiwa/kasus-perbudakan-pabrik-kuali-di-tangerang-segeradisidang.html http://m.aktual.co/sosial/225608jangan-terjadi-kerja-rodi-seperti-buruh-kuali http://www.merdeka.com/peristiwa/tindas-buruh-bak-budak-bos-pabrik-kuali-terancam-15tahun-bui.html
www.kontras.org/index.php?hal=siaran_pers&id=1821 diakses tanggal 18 desember 2013 pukul 16.36 WIB

Pasal 1 angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM UUD NRI tahun 1945

10