Anda di halaman 1dari 20

SASTRA ANAK SEBAGAI WAHANA PENGENALAN DAN PENGASUHAN IDEOLOGI: Sebuah Kajian Wacana* CHILDREN LITERATURE AS A MEANS FOR

INTRODUCING AND NURTURING THE IDEOLOGY: A Discourse Analysis

Riyadi Santosa, Djatmika, Fitria Akhamerti Primasita Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Senirupa Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami, Kentingan Surakarta Fax: (0271) 632368 ABSTRACT This research deals with the possible usage of children literature for introducing and nurturing the ideology. The data included the register and genre of the children books. The techniques of analysis, interpretation and discussion of the findings were Systemic Functional Linguistics approach and Conversation Analysis. The result of the research showed that the genres used in the children literature could be classified into 3 types: narrative, recount and report. The register corresponded to the types of the genre and the target readers, consisting of children of under five, children of year 1-3 and those of year 4-6 in elementary schools. The ideological or cultural values in the children literature could be categorized into three: household social values, socioenvironmental values, and socio-schooling values. The dominant values in the children literature were socio-environment ones. Meanwhile, the genre used mostly one-sided point of view, so that the ideology brought about in the books belonged to right antagonist. The other children literature using two sided-points of views belonged to right protagonist. Kata Kunci: genre, register, ideologi, wacana, sastra anak PENDAHULUAN Buku bacaan anak mempunyai genre yang bermacam-macam, misalnya naratif, rekon, dan lain sebagainya. Setiap genre tersebut mempunyai register (bahasa yang sedang digunakan), mulai dari pilihan kata, tatabahasa, kohesi, dan struktur teks,
64
Jurnal Penelitian Humaniora, Edisi Khusus, Juni 2006: 64-83

yang berbeda-beda. Sementara itu, peran genre dan register dalam merealisasikan suatu nilai budaya atau ideologi sangat dominan. Sejauh mana dominannya serta bagaimana bentuk dan maknanya dalam buku cerita itu, penelitian ini akan menjadikan dua hal tersebut sebagai topik bahasan utama . Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini menganalisis dan mengkaji penggunaan bahasa yang digunakan untuk melangsungkan pengenalan dan pengasuhan ideologi terhadap anak-anak melalui buku cerita anak. Berbagai buku cerita anak asli Indonesia, yang ditulis oleh orang Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit di Indonesia, diambil sebagai data penelitian. Pendekatan yang dipergunakan di dalam analisis adalah systemic functional grammar dengan memfokuskan pada kajian genre, register, dan ideologi yang dikonfigurasikan di dalam buku-buku cerita anak itu. Karya sastra anak dapat digunakan sebagai alat yang sangat efektif bagi para pendidik maupun para orang tua di dalam menanamkan nilai-nilai, norma, perilaku luhur, dan kepercayaan yang diterima di dalam suatu masyarakat atau budaya. Adapun yang dimaksud dengan sastra anak di sini adalah bentuk karya sastra yang ditulis untuk kalangan pembaca anak-anak. Ada beberapa bentuk karya sastra jenis ini, dari buku cerita bergambar (cergam atau komik), buku cerita, dongeng anak-anak, puisi anak-anak, karya biografi, dan sebagainya. Jumlah karya sastra ini sangat banyak dan dapat dengan mudah ditemukan di dalam masyarakat. Meskipun tiap jenis karya sastra anak ini dapat digunakan untuk mentransfer ideologi yang berlaku dan diterima di dalam masyarakat, dua jenis karya sastra yang pertamalah, yaitu buku cerita bergambar dan buku cerita, yang dipercaya sangat tepat dipergunakan sebagai wahana pengenalan dan pengasuhan ideologi kepada anak-anak sebagai target pembaca karya ini. Tentu saja tidak hanya karya sastra anak yang dapat digunakan sebagai wahana pengenalan dan pengasuhan ideologi tersebut; ada beberapa sarana lain yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan pengenalan dan pengasuhan tersebut, misalnya bukubuku agama untuk anak-anak atau yang sejenisnya. Akan tetapi, karya sastra anak, dalam hal ini buku cerita anak, diyakini merupakan bentuk karya yang mudah dipergunakan untuk melangsungkan pengenalan dan pengasuhan ideologi ini dibandingkan dengan sarana yang lain. Pengenalan dan pengasuhan ideologi itu tentu saja akan dilakukan dengan cara mengeksploitasi bahasa. Sementara itu, aspek kebahasaan yang dapat dikaji untuk melihat bagaimana sebuah teks, dalam hal ini, buku cerita mentransfer ideologi yang berlaku di dalam sebuah masyarakat kepada anak-anak sebagai target pembaca buku itu adalah struktur genre dan konfigurasi register. Oleh karena itu, fokus kajian dan analisis penelitian ini melihat struktur genre dan konfigurasi register dari bukubuku cerita yang menjadi data penelitian untuk melihat bagaimanakah bahasa dieksploitasi untuk melangsungkan pengenalan dan pengasuhan ideologi terhadap anak-anak melalui buku cerita anak itu.
Sastra Anak sebagai Wahana Pengenalan dan ... (Riyadi Santosa, dkk.)

65

Berkaitan dengan genre, Hasan mendefinisikannya sebagai suatu makna yang diperoleh dari bahasa yang sedang mengerjakan pekerjaan di dalam suatu konfigurasi kontekstual tertentu. Istilah ini sebetulnya lebih merupakan genre-specific semantic potential karena ia mempunyai potensi struktur generik yang melekat pada teks tersebut, sekaligus menjadi ciri tertentu teks itu yang membedakan antara teks yang satu dengan jenis teks lainnya. Potensi Struktur Generik atau PSG merupakan struktur wajib yang dimiliki oleh sebuah teks yang dapat digunakan untuk menentukan genrenya. Karena sifatnya yang wajib ini, setiap genre mempunyai PSG yang berbeda-beda. Sementara itu, teks-teks yang mempunyai genre yang sama bisa bervariasi pada struktur teksnya karena struktur teks bervariasi menurut konteks situasinya sehingga memungkinkan mempunyai elemen struktur opsional/pilihan yang berbeda-beda (dalam Halliday dan Hasan, 1985). Genre dan PSG-nya ini, mestinya melekat pada kejadian sosial yang terdapat pada konteks kultural. Artinya, Genre dan PSG-nya ini merupakan representasi nilai-nilai dan norma-norma kultural yang langsung menentukan tatacara dan fungsi sosial dari suatu proses sosial, karena PSG merupakan representasi tatacara suatu proses sosial. Pada tingkat konteks situasi yang langsung membentuk teks, genre dan PSG-nya dapat diketahui melalui struktur teks. Untuk mengetahui genre-nya, suatu teks harus dilihat struktur-struktur yang bersifat wajib dan struktur-struktur yang bersifat pilihan. Misalnya, dalam konteks kultural genre rekon (linguis lain menyebutnya narasi) di dalam masyarakat yang berbahasa Inggris mempunyai PSG: orientasi, rekaman kejadian, dan reorientasi. Akan tetapi, dalam konteks situasi genre ini bisa ditemukan di dalam: surat, cerita faktual, berita di koran, majalah, radio dan televisi. Umumnya struktur teks dari teks-teks ini berbeda-beda, tetapi mempunyai struktur wajib yang sama, sedangkan lainnya bersifat opsional atau pilihan. Dari pembahasan di atas akhirnya dapat diringkas bahwa genre: 1. adalah suatu prototipe proses sosial verbal (pandangan statis) dan berada pada sistem tatanilai suatu masyarakat, bukan pada tingkat teks (lisan maupun tulis), yaitu simbol yang dapat dilihat (jika tulis) atau yang dapat kita dengar (jika lisan) mempunyai fungsi atau makna atau tujuan sosial tertentu (goal-oriented) untuk mencapai tujuan sosial tersebut genre bertahap-tahap atau staged (Martin, 1992) tahapan tersebut bersifat generik oleh karena itu Hasan dan Halliday mengatakan bahwa genre mempunyai struktur generik atau struktur skematik yang bersifat wajib, yang secara umum tahapan tersebut adalah opening, body, dan closing.

2. 3. 4.

66

Jurnal Penelitian Humaniora, Edisi Khusus, Juni 2006: 64-83

5.

karena setiap genre mempunyai fungsi sosial yang berbeda maka setiap genre mempunyai tahapan atau struktur skematik (struktur awal - struktur inti - dan struktur akhir ) yang berbeda-beda. genre seperti proses sosial non-verbal juga akan berubah seiring dengan perubahan imanen sistem tata nilai pada masyarakatnya (pandangan dinamis). Perubahan tersebut dapat terdapat pada fungsi atau tujuan sosialnya maupun pada sistem pentahapannya atau struktur generiknya. pada tingkat teks dengan berbagai konteks situasinya, suatu genre akan secara variatif mempunyai struktur teks yang berbeda-beda. Artinya ia tetap akan mempunyai struktur generik atau skematik wajib yang sama, walaupun terdapat struktur-struktur lain yang bersifat opsional/pilihan yang tidak wajib.

6.

7.

Martin (1992) melihat ideologi sebagai hal yang dapat dikategorikan menjadi 2. Pertama, ideologi dapat dilihat secara statis atau sinoptis. Dalam pengertian ini ideologi dapat dilihat sebagai lect atau ragam bahasa yang digunakan oleh golongan atau masyarakat tertentu. Dengan demikian, ideologi seperti ini sama dengan pengertian ideologi dalam dunia politik. Seseorang atau kelompok orang dapat dikategorikan paham ideologi politiknya melalui variasi bahasa yang digunakan. Jika bahasa yang digunakan adalah A maka ia atau mereka adalah golongan politik A. Sebaliknya, jika variasi bahasa yang digunakan B, maka ia atau mereka termasuk golongan politik B, dan sebagainya. Sebetulnya bisa saja model statis ini digunakan untuk mengidentifikasi ideologi seseorang atau kelompok melalui bahasa yang digunakan. Akan tetapi, model statis ini menjadi kurang dapat dipertanggungjawabkan mengingat interaksi antara nilainilai kultural baik lokal maupun dari luar, agama, etnisitas, serta perkembangan ilmu dan tehnologi dapat mempengaruhi ideologi seseorang untuk merespon suatu fenomena sosial/isu sosial. Bisa jadi seseorang yang masuk ke dalam golongan/ politik tertentu membela isu A, tetapi menentang isu B yang mungkin dibela anggota politiknya. Oleh karena itu, Martin melihat model ideologi dinamis menjadi lebih tepat untuk melihat hubungan hegemoni kekuasaan ini dengan genre yang digunakan. Untuk melihat hegemoni kekuasaan di dalam masyarakat digunakan 2 poros, yaitu: poros antagonis/protagonis dan poros kiri/kanan untuk melihat jika ada suatu isu atau profil ditentang. Poros antagonis/ protagonis adalah poros yang menunjukkan cara dan sudut pandang yang digunakan dalam melihat isu/profil, sedangkan kiri/ kanan merupakan poros pemegang hegemoni kekuasaan/power. Dengan demikian, antagonis kanan merupakan interlokutor yang melontar isu atau profil secara sepihak dan sebagai pemegang hegemoni kekuasaan; protagonis kanan adalah interlokutor yang memandang isu dari berbagai segi untuk mendukung adanya profil/isu tersebut.

Sastra Anak sebagai Wahana Pengenalan dan ... (Riyadi Santosa, dkk.)

67

Sementara itu, protagonis kiri adalah interlokutor yang melihat isu dari berbagai sudut pandang sebelum mereka menolak kehadiran isu/profil tersebut; dan antagonis kiri adalah interlokutor yang menentang kehadiran isu/profil tersebut secara sepihak dan dalam keadaan tidak memegang hegemoni kekuasaan, tetapi menantang untuk mendapatkan kekuasaan yang sedang diperebutkan. Dalam konteks ini, kekuasaan tidak selalu berarti politik pemerintahan.

Antagonis kanan

Protagonis kanan

Isu/Profil

Protagonis kiri

Antagonis kiri
Gambar 1. Bagan Perspektif Ideologi Dinamis (diambil dari Martin, 1992 dengan modifikasi) Dengan melihat sistem hegemoni kekuasaan di atas, penggunaan genre dapat diprediksikan sebagai berikut. Secara umum antagonis akan menggunakan eksposisi karena genre ini mempunyai urutan aktivitas yang memungkinkan mereka membuat tesis serta mempertahankan secara sepihak. Teks yang dihasilkan antagonis yang sepihak ini disebut hortatoris, sedangkan protagonis yang melihat isu/profil dari berbagai sudut pandang akan menggunakan genre diskusi, mengingat genre ini mempunyai urutan aktivitas yang dapat melihat isu dari berbagai segi sebelum kesimpulan dan saran. Karena sifatnya yang berasal dari berbagai sudut pandang ini, teks yang muncul sering disebut analitis. Dalam level register teks analitis dan hortatoris ini dapat dilihat perbedaannya. Register secara sederhana dapat dikatakan sebagai variasi bahasa berdasarkan penggunaannya atau use-nya, berbeda dengan dialek yang merupakan variasi bahasa berdasarkan penggunanya atau user-nya. Dalam pengertian ini register tidak terbatas pada variasi pilihan kata saja (seperti pengertian register dalam teori
68
Jurnal Penelitian Humaniora, Edisi Khusus, Juni 2006: 64-83

tradisional), tetapi juga termasuk pada pilihan penggunaan struktur teks, dan teksturnya: kohesi dan leksikogramatika, serta pilihan fonologi atau grafologinya. Karena register meliputi seluruh pilihan aspek kebahasaan atau linguistis, banyak linguis menyebut register sebagai style atau gaya bahasa. Variasi pilihan bahasa pada register tergantung pada konteks sistuasi, yang meliputi 3 variabel: field (medan), tenor (pelibat), dan mode (sarana) yang bekerja secara simultan untuk membentuk konfigurasi kontekstual atau konfigurasi makna. Sementara itu, variasi bahasa pada dialek berdasarkan letak geografis (misalnya di dalam Bahasa Jawa meliputi daerah Jawa Timuran, Pesisiran, Surakartan, Yogyakartan, dan Banyumasan), strata sosial (misalnya: struktur hirarkis di dalam sistem kekerabatan, struktur hierarkis status sosial, struktur hierarkis profesi). Seperti yang telah sedikit disebutkan di atas, register merupakan konsep semantis yang dihasilkan dari suatu konfigurasi makna atau konfigurasi kontekstual antara: medan, pelibat, dan sarana di dalam konteks situasi tertentu. Konfigurasi makna tersebut membatasi penggunaan/pilihan makna dan sekaligus bentuknya untuk mengantar sebuah teks di dalam konfigurasi itu. Dengan demikian, register bukan semata-mata merupakan konsep bentuk. Di dalam suatu konfigurasi makna tertentu register memerlukan bentuk-bentuk ekspresi tertentu. Hal itu disebabkan bentukbentuk ekspresi diperlukan untuk mengungkap makna yang dibangun di dalam konfigurasi tersebut. Dalam pengertian ini register sama dengan pengertian style atau gaya bahasa, yaitu suatu varian bahasa berdasarkan penggunaannya (lihat Lyons,1987). Bahkan Fowler mengatakan bahwa register atau gaya termasuk penggunaan bahasa dalam karya sastra seperti puisi, novel, drama dan lain sebagainya (1989). Ia berpendapat walaupun para sastrawan berpendapat bahwa karya sastra merupakan dunia kreasi tersendiri, yang merupakan second order semiotic system (sistem semiotika tingkat kedua) dan bahasa sebagai medianya hanya merupakan first order semiotic system (sistem semiotika tingkat pertama), keseluruhan sistem semiotik tersebut baik yang tingkat pertama maupun kedua tetap saja direalisasikan ke dalam bahasa yang merupakan media karya sastra tersebut. Medan (field) merujuk pada apa yang sedang terjadi, sifat-sifat proses sosial yang terjadi, apa yang sedang dilakukan oleh partisipan dengan bahasa sebagai mediumnya. Medan ini juga menyangkut pertanyaan yang terkait dengan lingkungan kejadian seperti: kapan, di mana, bagaimana kejadian itu terjadi, mengapa kejadian itu terjadi, dan sebagainya. Dalam contoh ungkapan rembug desa, medan merujuk pada peristiwa rembug desanya itu sendiri, cara yang digunakan dalam rembug desa tersebut, yaitu: musyawarah, topik yang dibahas, tempat dan waktu musyawarah, serta mengapa musyawarah itu dilaksanakan. Aspek medan ini di dalam teks dapat dilihat melalui struktur teks, sistem kohesi, transitivitas, sistem klausa, sistem grup, (nomina, verba, dan adjunct), serta sistem leksis: abstraksi dan teknikalitas, serta ciri-ciri dan kategori semantiknya.
Sastra Anak sebagai Wahana Pengenalan dan ... (Riyadi Santosa, dkk.)

69

Selanjutnya, pelibat (tenor) merujuk pada siapa yang berperan di dalam kejadian sosial tersebut, sifat-sifat partisipan, termasuk status serta peran sosial yang dipegangnya: macam peran sosial yang bagaimana yang dipegang setiap partisipan, termasuk hubungan status atau peran permanen atau sesaat, di samping merujuk pada peran bahasa yang digunakan untuk mengekspresikan hubungan peran dan status sosial di dalamnya. Akhirnya, sarana (mode) merujuk pada bagian mana yang diperankan oleh bahasa, apa yang diharapkan partisipan dengan menggunakan bahasa dalam situasi tertentu itu: organisasi simbolis teks, status yang dimilikinya, fungsinya di dalam konteks tersebut, saluran (channel) (apakah bahasa yang digunakan termasuk bahasa tulis, lisan, atau gabungan), termasuk di dalamnya sarana retorisnya: apakah yang diinginkan teks tersebut termasuk dalam kategori (persuasif, ekspositori, didaktis, atau lainnya). Secara terperinci, channel atau yang juga disebut gaya bahasa dapat dibagi menjadi dua, yaitu gaya lisan dan gaya tulis. Gaya lisan atau tulis ini tidak terkait erat dengan apakah bahasa itu diucapkan atau ditulis, tetapi gaya lisan dan gaya tulis ini dilihat dari sifat alamiah bahasa yang sedang digunakan (the nature of language). Sebenarnya pembagian gaya bahasa lisan atau tulis ini tidak semata-mata bersifat mengklasifikan atau mengkategorikan bahwa gaya bahasa hanya ada dua, tetapi pembedaan itu lebih merupakan suatu kontinum. Artinya, bahasa yang digunakan sehari-hari dapat jatuh pada garis kontinum lebih bersifat lisan, cenderung lisan, tengah-tengah antara lisan dan tulis, cenderung tulis, atau lebih bersifat tulis.

lisan cenderung lisan lisan-tulis cenderung tulis

tulis

Gambar 2. Kontinum Gaya Rahasa Lisan dan Tulis Akan tetapi, di dalam realitas sehari-hari veriasi gaya bahasanya akan jauh lebih banyak dibanding dengan pembagian di atas. Terdapat gaya bahasa yang jatuh pada titik kontinum antara lisan dengan cenderung lisan, antara cenderung lisan dan lisan-tulis, antara lisan-tulis dengan cenderung tulis, dan antara cenderung tulis, dengan tulis, yang tergantung pada konteks situasinya. Berkaitan dengan analisis percakapan, Levinson (1986) melihat bahwa percakapan mempunyai 3 aspek sentral di dalamnya. Pertama, percakapan mempunyai overall organization atau tata organisasi, yang teridiri dari opening, body, dan closing. Kedua, percakapan mempunyai struktur turn-taking atau giliran berbicara. Ketiga percakapan mempunyai struktur adjacency pairs atau pasangan mesra.
70
Jurnal Penelitian Humaniora, Edisi Khusus, Juni 2006: 64-83

Selanjutnya, Levinson menjelaskan bahwa percakapan sering dimulai dengan pembukaan yang sering diisi dengan greeting yang juga dibalas dengan greeting. Bagian ini sering diisi dengan ungkapan: Good morning, Hello, Hi, Nice to meet you, long time no see, dan lain-lain yang berfungsi sebagai pembuka basa-basi untuk melalui isi percakapan yang berada di bagian isi. Bagian isi merupakan inti dan tujuan percakapan. Isinya merupakan topiktopik pembicaraan yang sesuai dengan tujuan percakapan. Kadang-kadang terjadi perpindahan topik percakapan atau topic shift yang ditandai dengan ungkapan By the way. Bagian penutup biasanya diisi dengan ungkapan-ungkapan yang disebut leave-taking, misalnya: good bye, see you, bye bye, dan lain-lainnya. Sebelumnya didahului ungkapan seperti: sorry, I had to go, Its good to see you, but, I think its already late, dan lain-lainnya. Yang penting dari tata organisasi ini adalah bahwa percakapan ini akan menuju ke arah mana, apakah akan menuju ke tipe teks (deskripsi, rekon, laporan, prosedur, eksplanasi, eksposisi, atau diskusi) atau organisasinya akan menuju ke genre cerita, seperti (rekon, anekdot, eksemplum, atau naratif). Bagian penting kedua ialah turn taking (giliran berbicara). Pada umumnya distribusi turn taking ini bergantian. Misalnya ada dua peserta percakapan, maka giliran berbicaranya berpola A-B, AB, A-B dan seterusnya. Kalau pesertanya 3 akan berpola, A-B-C, A-B-C, A-B-C. Dalam keadaan seperti ini, percakapan menjadi berimbang, demokratis karena setiap peserta mendapat bagian di dalam interaksi atau transaksi tersebut. Akan tetapi, percakapan sering kali tidak demikian halnya. Ada saja salah satu atau dua peserta percakapan yang mendominasi giliran berbicara sehingga percakapan tidak berimbang dan hanya dikuasai oleh segelintir orang. Dalam keadaan seperti ini percakapan sudah tidak berimbang, tidak demokratis, dan cenderung dikuasai oleh golongan tertentu (lihat juga Eggins & Slade, 1997, Brown & Yule, 1983). Bagian terakhir di dalam analisis percakapan ialah pasangan mesra (adjacency pairs). Umumnya percakapan diisi dengan pasangan mesra ini, baik dibagian pembukaan, isi, maupun penutup. Secara umum pasangan mesra ini terdiri dari dua konstituen atau bagian, bagian pertama dan bagian kedua. Kedua bagian tersebut bisa berupa: pertanyaan jawaban, greeting-greeting, comment acceptance, comment refusal, compliment accepteance, compliment refusal, sebagainya (lihat juga Eggins & Slade, 1997, Brown & Yule, 1983). Sering kali pasangan mesra ini tidak selalu terdiri dari dua bagian, tetapi 4 bagian, dengan tambahan insertion atau sisipan, misalnya: Ibu Anak Ibu Anak : Itu apa? : Yang mana? : Yang itu, warnanya biru? : Oh itu, kertas berwarna untuk sampul buku.
Sastra Anak sebagai Wahana Pengenalan dan ... (Riyadi Santosa, dkk.)

71

Sisipan ini tidak hanya terjadi di dalam kasus pertanyaan-jawaban, tetapi juga bisa terjadi pasangan mesra lainnya. Di samping itu, ada pasangan kedua yang sudah diinginkan atau diharapkan. Misalnya, kalau bagian pertama pertanyaan, bagian kedua jawaban. Kalau bagian pertamanya compliment, maka bagian kedua adalah acceptance atau thanking. Jika terjadi hal ini, bagian kedua ini kita sebut dengan preferred second part. Akan tetapi, juga sering terjadi bagian kedua tersebut tidak seperti yang kita inginkan atau harapkan, misalnya pertanyaan dijawab dengan pertanyaan, compliment dijawab dengan penolakan, greeting dijawab dengan pertanyaan, dan sebagainya. METODE PENELITIAN Sumber data penelitian ini adalah karya sastra anak dalam bentuk buku cerita anak. Sementara itu, sampel penelitian adalah buku-buku cerita anak yang ditulis oleh orang Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit di Indonesia. Data penelitiannya berupa struktur teks, kohesi, dan leksikogramatika buku cerita anak tersebut. Teknik sampling yang dilakukan di dalam penelitian ini didasarkan beberapa kriteria untuk buku cerita anak sebagai sumber data yang diambil, teknik ini disebut teknik sampling yang bersifat purposive. Adapun kriteria sumber data yang diambil adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. buku cerita anak-anak berbahasa Indonesia, ditulis oleh penulis Indonesia, diterbitkan oleh penerbit yang ada di Indonesia, dan ditujukan untuk kalangan pembaca anak-anak berusia 2-10 tahun.

HASIL DAN PEMBAHASAN Genre Berdasarkan genrenya, dari 4 jenis buku cerita tersebut, dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe genre, yaitu naratif, rekon (murni, dengan prosedur, dengan eksposisi, dan dengan eksplanasi), dan report. Genre naratif buku cerita anak ini umum mempunyai pentahapan: orientasi, komplikasi dan resolusi. Namun demikian, ada pula beberapa cerita yang mempunyai struktur evaluasi. Hal ini disebabkan karena evaluasi bukan struktur wajib genre naratif (lihat Martin 1992). Sementara itu, genre rekon umumnya mempunyai unsur wajib orientasi dan diikuti dengan kejadian detil. Jika ada unsur lain seperti eksplanasi, prosedur, dan eksposisinya itu memang merupakan bagian dari kejadian di dalam rekon tersebut. Di pihak lain, genre report, tampaknya memang digunakan oleh penulisnya untuk mengenalkan makanan, hewan dan perilakunya. Oleh karena itu, isi genre tersebut hanya terdiri dari deskripsi
72
Jurnal Penelitian Humaniora, Edisi Khusus, Juni 2006: 64-83

mengenai makanan dan hewan. Sementara itu, unsur definisi dan klasifikasi tidak hadir dalam buku tersebut karena terlalu teknis dan ilmiah, yang tidak cocok untuk anak prasekolah. Dari sejumlah 134 cerita, genre naratif sangat dominant berjumlah 111 buah, sedangkan rekon terdapat 21 buah dan report satu buah. Register Buku Cerita Register adalah suatu variasi bahasa yang dipengaruhi oleh konteks situasi dan konteks budaya atau genrenya. Setiap genre akan mempunyai register yang bersifat generik, yang membedakan antara genre yang satu dengan genre yang lain. Akan tetapi, bisa jadi pada strata teks register suatu genre akan mempunyai kesamaan dengan register lainnya, yang disebabkan oleh suatu konteks situasi tertentu (field, tenor, dan mode). Akan tetapi, unsur tersebut nantinya akan menjadi unsur yang bersifat pilihan dan tidak menjadi unsur wajib di dalam teks. Buku cerita/cerita sebagai sumber data terdiri dari 4 jenis mode yaitu: cerita bergambar (yang disingkat CB), komik (K), dan campuran antara cerita bergambar dan komik (CBK), dan cerita tak bergambar (CTB). Akan tetapi, dari jumlah cerita sebanyak 132 buah, jumlah CB sangat dominan, yaitu 109 buah, sementara komik hanya terdapat 9 buah, CBK terdapat 5 buah, sedangkan CTB terdapat 10 buah. Sementara itu, Tenor buku-buku tersebut umumnya ditujukan kepada 3 kelompok anak-anak, yaitu kelompok pra-sekolah, kelompok SD 1-3, dan kelompok anak SD 4-6. Pembagian ini kurang jelas dasar pijakannya, tetapi ada kecenderungan sebagai berikut. Walaupun, tentu saja, ada kecenderungan adanya pembauran antara target pembaca kelompok balita dengan SD kelas 1 3 bagian bawah dan antara kelompok SD kelas 1-3 bagian atas dengan kempok SD kelas 4-6, serta kelompok SD kelas 4-6 bagian atas dengan kelompok usia yang lebih tinggi. Jumlah buku yang ditujukan kepada kelompok umur pra-sekolah terdapat 47 buah, jumlah buku untuk SD kelas 1-3 terdapat 28 buah, dan untuk SD kelas 4-6 ada 57 buah. Tema (Field) umum yang menjadi topik pokok dalam buku cerita ini terbagi menjadi 4 bagian, yaitu tema cerita rakyat dengan jumlah buku 5 buah, nilai sosial rumah tangga dengan jumlah buku sebanyak 17, nilai sosial lingkungan dengan jumlah 108 buah buku, dan nilai sosial di sekolah dengan 2 buku. Sebagai gambaran, register yang dieksploitasi di dalam buku-buku cerita anak dapat dicontohkan di dalam Genre Naratif, yang mempunyai kharakteristik berikut. 1) Struktur Teks Struktur teks genre naratif dalam buku bacaan anak ini umumnya berupa: orientasi, komplikasi, dan resolusi. Akan tetapi, ada beberapa buku yang menggunakan Evaluasi. Tidak adanya evaluasi ini kemungkinan bisa disebabkan adanya unsur
Sastra Anak sebagai Wahana Pengenalan dan ... (Riyadi Santosa, dkk.)

73

kesengajaan bisa jadi karena ketidaktahuan penulisnya. Akan tetapi Martin (1992) menyebutkan bahwa tidak adanya unsur evaluasi dalam naratif tidak mengganggu atau tidak mengubah genre naratif, karena unsur ini sifatnya hanya opsional atau pilihan. 2) Kohesi Kohesi di dalam genre naratif di dalam buku ini mempunyai variasi yang sangat lengkap, baik kohesi yang bersifat gramatikal maupun leksikal. Kohesi gramatikal di dalam genre narasi ini misalnya ada item referensi, substitusi, elipsis, dan konjungsi. a). Item referensi Di pagi hari, tampaklah empat bebek kecil yang cantik dan lincah: Lini, Tini, Wini, dan Dini. Lihatlah mereka sudah berada di tengah danau. b). Elipsis Mereka memang sengaja pergi. Mereka tidak mau lagi berteman dengan kamu, ujar Baldi mulai berbohong. Betulkah, Baldi? Tanya Wini sedih sekali. c). Konjungsi Konjungsi internal Oleh sebab itu, banyak bebek-bebek lain yang sangat menyukai mereka. - Konjungsi eksternal Empat sekawan bebek kecil itu sangat baik hati dan suka menolong.. Tidak munculnya kohesi gramatikal substitusi pada narasi ini bisa jadi bersifat kebetulan, atau memang penulis mempunyai pikiran bahwa untuk target pembaca SD kelas 1-3 belum memerlukan kohesi ini. Sementara itu, kohesi leksikal di dalam genre narasi juga meliputi semua unsur kohesi leksikal komposisi, termasuk di dalamnya sinonimi, metonimi, repetisi, dan lawan kata. Misalnya: a). Metonimi Lihatlah mereka sudah berada di tengah danau. b). Repetisi, Pasti, ia sedang berada di danau, kata Wini. Ayo, kita segera ke danau, ajak Tini. c). Sinonimi Lini, Tini, Wini, dan Dini saling berteman dan bersahabat baik. Merekalah empat sekawan
74
Jurnal Penelitian Humaniora, Edisi Khusus, Juni 2006: 64-83

d). Lawan kata Wini berjalan pulang. Hatinya sedih mendengarkan cerita Baldi. Sementara itu, Baldi tersenyum puas. Tidak munculnya kohesi leksikal superordinasi dalam narasi ini dapat dimengerti karena di dalam narasi pengklasifikasian benda bersifat opsional, tidak harus hadir di dalam teks. 3) Leksikogramatika

a). Transitivitas Di dalam tatabahasa SFL terdapat 6 jenis proses, yaitu materi, mental, verbal, perilaku (verbal dan mental), relasional, dan eksistensial. Di dalam narasi di atas terdapat: Proses Materi - Mereka berenang kian kemari sambil bercanda ria Proses Mental - Oleh sebab itu, banyak bebek-bebek lain yang sangat menyukai mereka. Proses Verbal - Ayo, kita berlomba renang. Siapa yang tercepat sampai ke tepi danau, dialah yang paling kuat, seru Wini. Proses Perilaku (Verbal) - Mereka berenang kian kemari sambil bercanda ria. Proses Perilaku (Mental) - Lihatlah mereka sudah berada di tengah danau. Proses Relasional (Atributif) - Tini, Wini, dan Dini ___ saling berteman dan bersahabat baik Proses Relasional Identifikasi - Kamu memang yang terkuat, Tini, kata ketiga bebek lain sambil terengah-engah kelelahan. Proses Eksistensial - Di pagi hari, tampaklah empat bebek kecil yang cantik dan lincah: Lini, Tini, Wini, dan Dini. b). Mood: Proposisi dan Proposal Proposisi - Di pagi hari, tampaklah empat bebek kecil yang cantik dan lincah: Lini, Tini, Wini, dan Dini.
Sastra Anak sebagai Wahana Pengenalan dan ... (Riyadi Santosa, dkk.)

75

Proposal - Lihatlah mereka sudah berada di tengah danau. c). Struktur Tema Tema Topikal Unmarked: - Mereka berenang kian kemari sambil bercanda ria. Marked: - Di pagi hari, tampaklah empat bebek kecil yang cantik dan lincah: Lini, Tini, Wini, dan Dini Tema Tekstual - Segeralah mereka bersiap-siap menanti aba-aba. Tema Interpersonal - Sayangnya, ada seekor bebek yang tidak senang pada mereka. d). Klausa: Simpleks dan Kompleks Klausa Simpleks - Lihatlah mereka sudah berada di tengah danau. Klausa Kompleks - Di pagi hari, tampaklah empat bebek kecil yang cantik dan lincah: Lini, Tini, Wini, dan Dini. e). Kelompok Nomina Simpleks dan Kompleks Kelompok Nomina Simpleks Di pagi hari, tampaklah empat bebek kecil yang cantik dan lincah: Lini, Tini, Wini, dan Dini. Lihatlah mereka sudah berada di tengah danau. Kelompok Nomina Kompleks - Di pagi hari, tampaklah empat bebek kecil yang cantik dan lincah: Lini, Tini, Wini, dan Dini. f). Lexis Deskriptif Atitudinal Lexis Deskriptif: Di pagi hari, tampaklah empat bebek kecil yang cantik dan lincah: Lini, Tini, Wini, dan Dini. Lexis Atitudinal - Di pagi hari, tampaklah empat bebek kecil yang cantik dan lincah: Lini, Tini, Wini, dan Dini

76

Jurnal Penelitian Humaniora, Edisi Khusus, Juni 2006: 64-83

g). Reported speech Direct speech: - Ayo, kita berlomba renang. Siapa yang tercepat sampai ketepi danau, dialah yang paling kuat, seru Wini. Indirect speech tidak muncul di dalam contoh ini tetapi muncul di contoh lain di dalam buku cerita. h). Adjacent Pairs Tanya Jawab (preferred) A: Betulkah, Baldi? Tanya Wini sedih sekali. B: Benar Wini. Mereka berkata seperti itu, kata Baldi meyakinkan. Pertanyaan Pertanyaan (Dispreferred) A: Ada apa kamu, Wini? Tanya Tini khawatir. Mengapa menangis, Wini? Tanya Lini dan Dini. B: Mengapa kalian datang kemari? Bukankah kalian sudah tidak mau lagi berteman denganku? Tanya Wini masih terisak. Dukungan Genre dan Register dalam Pengenalan Ideologi Ideologi adalah nilai-nilai baik buruk, benar-salah yang dianut oleh suatu masyarakat di dalam konteks kultural tertentu. Di dalam buku cerita ini nilai ideologis dapat dikategorikan menjadi 3 tipe berdasarkan tempat anak bersosialisasi, yaitu: nilai sosial rumah tangga, nilai sosial, lingkungan sosial, dan nilai sosial sekolah. Realitasnya nilai-nilai kultural tersebut bisa mencakup 45 jenis ditampilkan pada tabel 1. Dalam buku cerita tersebut ada dua cara pengenalan yang digunakan para penulis untuk memperkenalkan nilai-nilai tersebut, yaitu menggunakan teknik satu sisi atau arah dan dua sisi atau arah. Yang dimaksud dengan teknik satu arah ini ialah bahwa para penulis di dalam cara memperkenalkan nilai-nilai ideologis ini hanya mengantarkan nilai tersebut melalui interaksi sosial para tokoh tanpa ada tantangan terhadap nilai-nilai tersebut. Nilainilai dalam cerita tersebut seperti mengalir melalui tokoh-tokohnya tanpa adanya gangguan atau tantangan yang direpresentasikan atau dilakukan oleh tokoh lain. Model penyampaian cerita satu arah ini sangat dominan di dalam buku cerita ini, yaitu ada sejumlah 104 buku cerita yang menggunakan teknik penyajian satu sisi Sementara itu, yang dimaksud dengan teknik penyajian dua arah ialah suatu cara pengenalan ideologi oleh penulisnya yang disertai dengan tantangan melalui alur cerita dan tokoh-tokohnya. Dalam teknik ini nilai ideologis, misalnya, takhayul sandekala atau candekala, mendapat tantangan baik secara verbal bahwa sandekala itu tidak
Sastra Anak sebagai Wahana Pengenalan dan ... (Riyadi Santosa, dkk.)

77

Tabel 1. Jenis Nilai-Nilai Ideologis dalam Buku Cerita Anak


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. ketabahan persahabatan kebersamaan kepercayaan terhadap takhayul pengorbanan etika makan hormat terhadap orang tua kesabaran perhatian terhadap lingkungan Tak boleh berburuk sangka keiklasan dalam bertindak tidak pilih kasih menghargai jasa orang lain membantu orang Kasih sayang orang tua 16. Mencuri tidak baik 17. Kesetiaan 18. Melanggar hukum membawa akibat 19. Penilaian yang tidak pada tempatnya 20. Kesabaran 21. Ketekunan 22. Kesederhanaan 23. Kesombongan berbuah kecelakaan 24. Ciptaan Tuhan yang berbeda-beda 25. Sifat iri dengki membuat hidup sengsara 26. Pengorhamatan terhadap orang tua 27. Keadilan pemimpin 28. Kemandirian 29. Kesiapan dalam melaksanaan kegiatan 30. Saling menolong 31. Kesadaran akan kelebihan dan kelemahan diri maupun orang lain 32. Kerukunan 33. Kebohongan membawa akibat 34. Kelicikan membawa akibat 35. Keberanian 36. Keyakinan 37. Keserakahan 38. Menerima ikhlas 39. Balas budi 40. Menepati janji 41. Peduli sesama 42. Kerajinan 43. Penggunaan akal 44. Kerjasama 45. Menuruti nasihat orang tua

benar dan melalui perilaku fisik untuk membuktikan adanya sandekala. Dengan demikian, nilai takhayul tersebut dilihat dari sisi setuju dan tidak setuju atau diskusi di dalam cerita tersebut secara dua sisi. Contoh buku cerita yang seperti ini dengan teknik penyajian dua sisi tidak begitu banyak, yaitu sekitar 28 buku cerita. Dukungan Genre terhadap Pengenalan dan Pengasuhan Ideologi Genre yang paling tepat untuk memperkenalkan nilai-nilai ideologis kepada anak ialah genre naratif dengan teknik penyajian dua sisi. Genre naratif dengan teknik penyajian satu sisi hanya memberikan tempat untuk mengenalkan nilai ideologis. Anak hanya diberi pengertian bahwa nilai-nilai tertentu baik, tetapi nilai-nilai yang lain tidak baik. Teknik ini terjadi seperti orang menuangkan air pada suatu tempat saja. Jadi, anak sepertinya harus menerima nilai-nilai tersebut dengan alasan satu sisi tanpa ada alasan lain. Hal ini berarti bahwa anak tidak diajak
78
Jurnal Penelitian Humaniora, Edisi Khusus, Juni 2006: 64-83

melihat atau mendiskusikan nilai-nilai tersebut secara proporsional baik buruknya dan benar tidak-benarnya. Sementara itu, genre naratif dengan teknik penyajian dua sisi akan memberikan dampak yang bagus kepada anak. Selain anak diperkenalkan nilai ideologisnya, anak juga diajak untuk mengasuh nilai ideologis tersebut. Dengan teknik ini, anak melalui cerita dan tokoh di dalamnya diajak berpikir untuk melihat sisi baik dan buruk, atau sisi benar dan tidak benar suatu nilai ideologis. Melalui alur cerita dan tokoh di dalamnya anak-anak diajak untuk melihat sendiri bagaimana cara para tokoh berkilah, setuju, tidak setuju, menentang nilai baik melalui bahasa atau melalui tindakan. Mereka juga melihat sendiri akibat yang ditimbulkan dari tindakan para tokoh tersebut. Ini artinya anak-anak diajar berpikir dan mengevaluasi nilai-nilai ideologisnya sendiri. Dengan demikian, teknik ini mengajak anak untuk melihat, berpikir, dan mengevaluasi nilai-ideologis sendiri. Oleh karena itu, teknik ini tidak hanya memperkenalkan ideologi tetapi juga memberikan cara untuk mengasuh ideologinya. Sementara itu, genre rekon, yang hanya terdiri dari pentahapan orientasi dan detil kejadian kurang memberikan alasan yang jelas mengapa suatu nilai ideologis itu baik atau buruk. Hal ini disebabkan rekon hanya terdiri dari kejadian saja, tidak seperti naratif yang memberikan gambaran mengenai perubahan watak atau psikologis tokoh, baik satu sisi maupun dua sisi. Akhirnya, genre report semakin kurang bisa digunakan untuk memperkenalkan nilai-nilai ideologis. Kalaupun bisa itu nanti merupakan hasil interpretasi berikutnya, karena pada hakikatnya genre report hanya digunakan untuk memperkenalkan suatu makhluk hidup atau benda mati, jenisnya termasuk apa, dan gambaran bagianbagiannya. Dukungan Register terhadap Pengenalan dan Pengasuhan Ideologi Dukungan register menjadi sangat penting karena seluruh nilai ideologis dan genre-nya selalu direalisasikan pada registernya. 1). Struktur Teks Dukungan struktur teks ini akan sangat penting karena melalui struktur teks ini pentahapan genre direalisasikan dan berarti nilai-nilai ideologis akan kelihatan melalui struktur teksnya. Di dalam penelitian ini banyak genre yang tidak mulai dengan opening atau pembukaan. Misalnya rekon tanpa orientasi, dan report tanpa pembuka definisi. Hal ini menyulitkan anak untuk menangkap nilai-nilai dengan baik karena hanya
Sastra Anak sebagai Wahana Pengenalan dan ... (Riyadi Santosa, dkk.)

79

dengan struktur teks yang baik unsur-unsur wajib dalam genre akan muncul. Kemunculan struktur wajib genre inilah yang menentukan mudah dan tidaknya suatu nilai itu diserap. Khususnya tidak adanya struktur evaluasi di dalam naratif tidak begitu mempengaruhi penangkapan nilai-nilai ideologis karena evaluasi hanya bersifat opsional (Martin, 1992). 2) Kohesi

Kohesi merupakan unsur logika di dalam teks untuk merangkai kalimat menjadi teks. Oleh karena itu, kohesi juga mengambil peranan penting di dalam membentuk teks. Khusus untuk buku cerita di dalam pnelitian ini kohesinya sudah ditata dengan baik. Penggunaan repetisi dalam banyak buku cerita ini menunjukkan gaya bahasa anak yang memang masih bertumpu pada repetisi dari pada item referensi, sinonimi, atau yang lainnya. Kohesi lainnya memang tergantung banyak terhadap target pembaca, misalnya di beberapa buku untuk target pembaca balita kohesi tindak muncul lengkap. Misalnya substitusi dan hiponimi sering tidak muncul karena balita masih belum bisa memahami substitusi dan hiponimi tersebut. 3) a) Leksikogramatika Transitivitas

Transitivitas ini merupakan realisasi pengalaman di dalam klausa. Ini tergantung jenis genre dan registernya. Genre naratif akan mempunyai transitivitas yang lengkap karena semua pengalaman akan muncul di naratif. Akan tetapi, pada genre rekon hanya akan muncul beberapa dan pada genre report akan semakin sedikit, hanya relasional dan material dalam penelitian ini. b) Mood Demikian juga mood, dalam naratif akan muncul proposisi dan proposal, tapi di dalam report biasanya hanya akan muncul proposisi. Demikian juga rekon biasanya akan muncul proposisi, tetapi rekon dalam buku cerita ini muncul proposal juga. Hal ini disebabkan kedua genre ini menggunakan gaya bahasa lisan melalui direct speech di dalam cerita rekon ini. c) Tema

Tema mempunyai kekuatan untuk menyusun alur cerita. Di dalam penelitian ini tema topikal unmarked dan marked sudah digunakan secara proporsional seperti di dalam pembahasan sebelumnya. Untuk rekon dan naratif tema marked tempat dan waktu menjadi sangat penting untuk mengatur alur waktu dan tempat kejadian
80
Jurnal Penelitian Humaniora, Edisi Khusus, Juni 2006: 64-83

ceritanya. Untuk report justru tema topikal unmarked yang dominan karena bergerak dari bagian ke bagian. d) Klausa, kelompok nomina, dan Leksis

Peranan utama klausa, kelompok nomina, dan leksis ialah untuk membentuk gaya bahasa yang sesuai dengan target pembacanya. Dalam buku cerita ini gaya bahasa yang digunakan sesuai dengan umur target pembaca. Buku cerita untuk anak kelas 4 -6 ke atas akan jatuh pada gaya antara lisan dan tulis, buku cerita untuk anak SD 1-3 bergaya cenderung lisan dan gaya bahasa buku cerita untuk anak balita akan semakin cenderung lisan. Jika digambarkan, gaya bahasa buku cerita tersebut adalah sebagai berikut.

lisan cenderung lisan lisan-tulis cenderung tulis


Gambar 3. Gaya Bahasa Buku Cerita dan Target Pembaca Catatan: C : gaya bahasa buku cerita dengan target pembaca SD kelas 4-6 B : gaya bahasa buku cerita dengan target pembaca SD kelas 1-3 A : gaya bahasa buku cerita dengan target pembaca balita.

tulis

e) Reported Speech dan Adjacency Pairs Reported speech menjadi ciri utama dalam naratif walaupun dalam rekon juga muncul. Demikian juga, dalam report juga ada. Akan tetapi, dalam report sebetulnya menjadi sangat opsional. Peranan reported speech ini akan membantu pembangunan watak tokoh utama karena akan memunculkan ungkapan-ungkapan langsung yang membantu dalam penokohan. Melalui direct speech akan muncul adjacency pair, yang dapat mengungkapkan apakah suatu statemen disetujui atau tidak ditolak, pertanyaan dijawab dengan jawaban atau pertanyaan, dan lain sebagainya. Dari adjacency pairs inilah sebetulnya penyajian satu sisi atau dua sisi dapat dilihat karena persetujuan dan sangkalan, pernyataan dan penolakan dapat diketahui. Misalnya, dalam buku dengan judul Sandekala dalam halaman 9 muncul adjacency pair: pernyataan penolakan. Ciloko Pasti mereka diganggu sandekala, Wajah Slamet langsung pucat. Idiiih kamu! Jangan bikin aku takut, dong! gerutu Yuni. Hus, kalian jagan percaya takhayul. Dosa tahu! Damar mengingatkan.
Sastra Anak sebagai Wahana Pengenalan dan ... (Riyadi Santosa, dkk.)

81

Ideologi dalam Sastra Anak / Cerita Anak Ideologi yang terkandung di dalam buku cerita anak di dalam penelitian ini dapat dikategorikan menjadi 2: antagonis kanan dan protagonis kanan. Cerita yang termasuk berideologi antagonis kanan ialah buku cerita dengan penyajian satu sisi. Penyajian satu sisi di dalam buku cerita ini menggambarkan nilai-nilai kultural atau ideologis secara sepihak bahwa nilai ini baik dan nilai itu tidak baik tanpa adanya tantangan dari pihak lain atau tokoh lain untuk mengubah nilai itu (lihat Martin, 1992) Sementara itu, cerita yang termasuk berideologi protagonis kanan adalah cerita dengan penyajian dua sisi, artinya nilai kultural atau ideologis di dalam ceritanya disajikan secara dua pihak. Satu pihak ada tokoh yang mendukung nilai itu dan lain pihak menantang nilai tersebut untuk berubah walaupun akhirnya cerita itu diakhiri dengan nilai-nilai lama yang didukung secara umum. SIMPULAN Genre di dalam buku cerita anak ini terdiri dari dari 3, yaitu genre naratif, rekon, dan report. Genre naratif merupakan genre yang dominan karena terdiri dari 111 cerita dengan pentahapan orientasi, oomplikasi, dan Resolusi. Hanya beberapa saja yang menggunakan Evaluasi sebelum Resolusi. Genre rekon hanya terdapat 21, dengan struktur orientasi dan detil kejadian. Ada beberapa yang tidak menggunakan Orientasi secara jelas dan hanya 1 genre report tanpa definisi, hanya detil deskripsi. Buku cerita untuk anak SD 4-6 bergaya antara lisan dan tulis, gaya bahasa buku cerita untuk SD kelas 1-3 bergaya cenderung lisan dan buku cerita untuk anak balita bergaya semakincenderung lisan. Sementara itu, ada 3 jenis nilai kultural ideologis, yaitu nilai sosial rumah tangga, nilai sosial lingkungan, dan nilai sosial sekolah yang terdiri dari 45 macam nilai-nilai sosial yang lebih detil. Peranan genre dan register dalam pengenalan dan pengasuhan ideologi kepada anak menjadi sangat penting. Melalui struktur teks (register) akan membantu untuk melihat alur cerita dan terutama nilai ideologis di perkenalkan kepada anak. Ditambah penggunakan adjacency pair di dalam registernya akan membantu menentukan teknik penyajiannya akan bersifat satu sisi atau dua sisi. Di samping itu, kohesi juga akan membantu pertautan antar idetransitivitas sendiri merupakan idenya. Mood menunjukkan pertukaran informasi atau barang atau jasanya. Adapun struktur tema digunakan untuk membantu menyusun alur cerita. Klausa, kelompok nomina, dan leksis digunakan untuk menyusun gaya bahasanya yang sesuai dengan target pembaca. Ada dua macam ideologi di dalam buku cerita anak dalam penelitian ini, yaitu antagonis kanan dan protagonis kanan. Buku cerita yang berhaluan antagonis kanan
82
Jurnal Penelitian Humaniora, Edisi Khusus, Juni 2006: 64-83

adalah cerita-cerita yang menggunakan penyajian satu sisi, sedangkan cerita yang berhaluan protagonis kanan adalah cerita-cerita yang menggunakan penyajian dua sisi.

DAFTAR PUSTAKA Brown, G. & Yule, G. 1983. Discourse Analysis. Cambridge: Cambridge University Press. Eggins, S & Slade, D. 1997. Analysing Casual Conversation. London: Cassell. Fowler, R. 1989. Linguistic Criticism. Oxford: OUP. Halliday, M.A.K. dan Hasan, R. 1985. Language, Context and Text: Aspects of Language in A Sosial Semiotic Persperctive. Victoria: Deaking University. Hodge, R. dan Kress, G. 1995. Sosial Semiotics. Cambridge: Polity Press. Lyons, J. 1987. New Horizon in Linguistics. London: Penguin. Martin, J.R. 1992. English Text: System and Structure. Philadelpia: John Benjamins Publishing Company.

Sastra Anak sebagai Wahana Pengenalan dan ... (Riyadi Santosa, dkk.)

83