Anda di halaman 1dari 31

I TEKNIK ANESTESI TIVA 1.

1 Anestesi Intravena Anestesi intravena (TIVA) merupakan teknik anastesi umum dengan hanya menggunakan obat-obat anastesi yang dimasukkan lewat jalur intravena. TIVA digunakan untuk ketiga trias anastesi yaitu hipnotik, analgetik, dan relaksasi otot.. ebanyakan obat-obat anastesi intravena hanya men!akup " komponen anastesi, akan tetapi ketamin mempunyai ketiga trias anastesi sehingga ketamin dianggap juga sebagai agent anastesi yang lengkap. 1.2Kelebihan TIVA #. $apat dikombinasikan atau terpisah dan dapat dititrasi dalam dosis yang lebih akurat dalam pemakaiannya. ". Tidak mengganggu jalan na%as pada pasien &. 'udah dilakukan dan tidak memerlukan alat-alat serta mesin anestesi khusus. 1.3 Indikasi Pemberian TIVA TIVA dalam prakteknya sehari-hari digunakan sebagai ( #. )bat induksi anastesi umum ". )bat tunggal untuk anastesi pembedahan singkat &. Tambahan untuk obat inhalasi yang kurang kuat *. )bat tambahan anastesi regional +. 'enghilangkan keadaan patologis akibat rangsangan ,,1.4 Cara pemberian TIVA #. ,untikan tunggal, untuk operasi singkat .ontoh ( !abut gigi ". ,untikan berulang sesuai dengan kebutuhan .ontoh ( kuretase &. $iteteskan lewat in%use dengan tujuan menambah kekuatan anestesi

1. !enis"#enis Anastesi Intravena 1. $%&%N$AN 'A('IT)(AT -entothal/ Thiopenthal ,odium/ -enthio 0arbital/ Thiopenton )bat ini tersedia dalam bentuk serbuk higroskopis, bersi%at basa, berbau belerang, larut dalam air dan al!ohol.-enggunaannya sebagai obat induksi, suplementasi dari anastesi regional, antikonvulsan, pengurangan dari peningkatan TI , proteksi serebral.'etabolismenya di hepar dan di ekskresi lewat ginjal. )nset $urasi $osis ( "1-&1 detik ( "1-&1 menit ( Induksi iv ( &1+ mg/ g 00, anak +-2 mg/ g 00, bayi 3-4 mg/kg 00 ,uplementasi anastesi ( iv 1,+-# mg/kg 00 Induksi re!tal ( "+ mg/ kg 00 Antikonvulsan ( iv #-* mg/kg 00 ,istem kardiovaskuler - $epresi otot jantung - Vasodilatasi peri%er - Turunnya !urah jantung ,istem pernapasan, menyebabkan depresi saluran pernapasan konsentrasi otak men!apai pun!ak apnea $apat menembus barier plasenta dan sedikit terdapat dalam A,I ,edikit mengurangi aliran darah ke hepar 'eningkatkan sekresi A$6 (e%ek hilang setelah pemberian dihentikan) -emulihan kesadaran pada orang tua lebih lama dibandingkan pada dewasa muda 'enyebabkan mual, muntah, dan salivasi 'enyebabkan trombophlebitis, nekrosis, dan gangren
2

5%ek samping obat(

ontraindikasi ( Alergi barbiturat ,tatus ashmatikus -orphyria -eri!arditis !onstriktiva Tidak adanya vena yang digunakan untuk menyuntik ,yok Anak usia 7 * th (depresi saluran pernapasan)

2. $%&%N$AN 'EN*%+IA*EPIN )bat ini dapat dipakai sebagai tras8ualiser, hipnotik, maupun sedative.,elain itu obat ini mempunyai e%ek antikonvulsi dan e%ek amnesia. )bat-obat pada golongan ini sering digunakan sebagai ( a. )bat induksi b. 6ipnotik pada balan!e anastesi !. 9ntuk tindakan kardioversi d. Antikonvulsi e. ,ebagai sedasi pada anastesi regional, lo!al atau tindakan diagnosti! %. 'engurangi halusinasi pada pemakaian ketamin g. 9ntuk premedikasi a. $ia:epam arena tidak larut air, maka obat ini dilarutkan dalam pelarut organi! (propilen glikol dan sodium ben:oate). arena itu obat ini bersi%at asam dan menimbulkan rasa sakit ketika disuntikan, trombhosis, phlebitis apabila disuntikan pada vena ke!il.)bat ini dimetabolisme di hepar dan diekskresikan melalui ginjal. )bat ini dapat menurunkan tekanan darah arteri. arena itu, obat ini digunakan untuk induksi dan supplement pada pasien dengan gangguan jantung berat.
3

$ia:epam biasanya digunakan sebagai obat premedikasi, amnesia, sedative, obat induksi, relaksan otot rangka, antikonvulsan, pengobatan penarikan al!ohol akut dan serangan pani!. Awitan aksi ;ama aksi $osis ( -remedikasi ( iv/im/po/re!tal "-#1 mg ,edasi ( 1,1*-1," mg/kg 00 Induksi ( iv 1,&-1,2 mg/kg Antikonvulsan ( iv 1,1+-1," mg/kg 00 setiap +-#1 menit dosis maksimal &1 mg, -)/re!tal "-#1 mg "-* kali sehari 5%ek samping obat ( 'enyebabkan bradikardi dan hipotensi $epresi pernapasan 'engantuk, ataksia, kebingungan, depresi, Inkontinensia <uam kulit $VT, phlebitis pada tempat suntikan ( iv7 " menit, re!tal 7 #1 menit, oral #+ menit-# jam ( iv #+ menit- # jam, -) "-2 jam

b. 'ida:olam )bat ini mempunyai e%ek ansiolitik, sedative, anti konvulsi%, dan anteretrogad amnesia. $urasi kerjanya lebih pendek dan kekuatannya #,+-&= dia:epam. )bat ini menembus plasenta, akan tetapi tidak didapatkan nilai A->A< kurang dari 3 pada neonatus. $osis ( -remedikasi ( im ",+-#1 mg, -o "1-*1 mg ,edasi ( iv 1,+-+ mg Induksi ( iv +1-&+1 ?g/kg

5%ek samping obat (


4

Takikardi, episode vasovagal, komplek ventrikuler premature, hipotensi 0ronkospasme, laringospasme, apnea, hipoventilasi 5uphoria, agitasi, hiperaktivitas ,alvasi, muntah, rasa asam <uam, pruritus, hangat atau dingin pada tempat suntikan

3. P(%P%,%& 'erupakan !airan emulsi isotoni! yang berwarna putih.5mulsi ini terdiri dari gliserol, phospatid dari telur, sodium hidroksida, minyak kedelai dan air. )bat ini sangat larut dalam lemak sehingga dapat dengan mudah menembus blood brain barier dan didistribusikan di otak. -ropo%ol dimetabolisme di hepar dan ekskresikan lewat ginjal. -enggunaanya untuk obat induksi, pemeliharaan anastesi, pengobatan mual muntah dari kemoterapi $osis ( ,edasi ( bolus, iv, +-+1 mg Induksi ( iv "-",+ mg/kg -emeliharaan ( bolus iv "+-+1 mg, in%use #11-"11 ?g/kg/menit, antiemeti! iv #1 mg -ada ibu hamil, propo%ol dapat menembus plasenta dan menyebabakan depresi janin. -ada sistem kardiovaskuler, obat ini dapat menurunkan tekanan darah dan sedikit menurunkan nadi. )bat ini tidak memiliki e%ek vagolitik, sehingga pemberiannya bisa menyebabkan asystole. )leh karena itu, sebelum diberikan propo%ol seharusnya pasien diberikan obat-obatan antikolinergik. -ada pasien epilepsi, obat ini dapat menyebabkan kejang. 4. KETA-IN )bat ini mempunyai e%ek trias anastesi sekaligus. -emberiannya menyebabkan pasien mengalami katalepsi, analgesi! kuat, dan amnesia, akan tetapi e%ek sedasinya ringan. -emberian ketamin dapat menyebakan mimpi buruk.
5

$osis ,edasi dan analgesia ( iv 1,+-# mg/kg 00, im/re!tal ",+-+ mg/kg 00, -o +-2 mg/kg 00 Induksi ( iv #-",+ mg/kg 00, im/ re!tal +-#1 mg/kg 00 etamin meningkatkan aliran darah ke otak, kerana itu pemberian ketamin berbahaya bagi orang-orang dengan tekanan intra!ranial yang tinggi. -ada kardiovaskuler, ketamin meningkatkan tekanan darah, laju jantung dan !urah jantung.$osis tinggi menyebabkan depresi napas. ontraindikasi ( 6ipertensi tak terkontrol 6ipertroid 5klampsia/ pre eklampsia >agal jantung 9nstable angina In%ark miokard Aneurisma intra!ranial, thoraks dan abdomen TI tinggi -erdarahan intraserebral TI) tinggi Trauma mata terbuka

. %PI%I+ )pioid (mor%in, petidin, %entanil, su%entanil) untuk induksi diberikan dalam dosis tinggi.)pioid tidak mengganggu kardiovaskulet, sehingga banyak digunakan untuk induks pada pasien jantung. a. 'or%in -enggunaanya untuk premedikasi, analgesi!, anastesi, pengobatan nyeri yang berjaitan dengan iskemia miokard, dan dipsnea yang berkaitan dengan kegagalan ventrikel kiri dan edema paru. $osis (
6

Analgesi! ( iv ",+-#+ mg, im ",+-"1 mg, -o #1-&1 mg, re!tal #1-"1 mg setiap * jam Induksi ( iv # mg/kg ( iv7 # menit, im #-+ menit ( "-3 jam

Awitan aksi ;ama aksi

5%ek samping obat ( 6ipotensi, hipertensi, bradikardia, aritmia 0ronkospasme, laringospasme -englihatan kabur, sinkop, euphoria, dis%oria <etensi urin, spasme ureter ,pasme traktus biliaris, konstipasi, anoreksia, mual, muntah, penundaan pengosongan lambung 'iosis

b. -etidin -enggunaannya untuk nyeri sedang sampai berat, sebagai suplemen sedasi sebelum pembedahan, nyeri pada in%ark miokardium walaupun tidak see%ekti% mor%in sul%at, untuk menghilangkan ansietas pada pasien dengan dispnea karena a!ute pulmonary edema dan a!ute le%t ventri!ular %ailure. $osis )ral/ I',/, ( $ewasa ( $osis la:im +1@#+1 mg setiap &-* jam jika perlu, Injeksi intravena lambat ( dewasa #+@&+ mg/jam. Anak-anak oral/I'/, ( #.#@#.4 mg/kg setiap &@* jam jika perlu. 9ntuk sebelum pembedahan ( dosis dewasa +1 @ #11 mg I'/,

-etidin dimetabolisme terutama di hati


7

ontraindikasi -asien yang menggunakan trisiklik antidepresan dan 'A)i. #* hari sebelumnya (menyebabkan koma, depresi pernapasan yang parah, sianosis, hipotensi, hipereksitabilitas, hipertensi, sakit kepala, kejang) 6ipersensitivitas. -asien dengan gagal ginjal lanjut

5%ek samping obat $epresi pernapasan, ,istem sara% ( sakit kepala, gangguan penglihatan, vertigo, depresi, rasa mengantuk, koma, e%oria, dis%oria, lemah, agitasi, ketegangan, kejang, -en!ernaan ( mual, muntah, konstipasi, ardiovaskular ( aritmia, hipotensi postural, <eproduksi, ekskresi Aendokrin ( retensi urin, oliguria. 5%ek kolinergik ( bradikardia, mulut kering, palpitasi, takikardia, tremor otot, pergerakan yg tidak terkoordinasi, delirium atau disorintasi, halusinasi. ;ain-lain ( berkeringat, muka merah, pruritus, urtikaria, ruam kulit

-eringatan BBB 6ati-hati pada pasien dengan dis%ungsi hati A ginjal krn akan memperlama kerja A e%ek kumulasi opiod, pasien usia lanjut, pada depresi sistem sara% pusat yg parah, anoreksia, hiperkapnia, depresi pernapasan, aritmia, kejang, !edera kepala, tumor otak, asma bron!hial !. Centanil $igunakan sebagai analgesi! dan anastesia $osis ( Analgesik ( iv/im "+-#11 ?g
8

Induksi ( iv +-*1 ?g/ kg 00 ,uplemen anastesi ( iv "-"1 ?g/kg 00 Anastetik tunggal ( iv +1-#+1 ?g/ kg 00 ( iv dalam &1 detik, im 7 4 menit ( iv &1-21 menit, im #-" jam

Awitan aksi ;ama aksi

5%ek samping obat ( 0radikardi, hipotensi $epresi saluran pernapasan, apnea -using, penglihatan kabur, kejang 'ual, muntah, pengosongan lambung terlambat 'iosis

0erikut !ontoh penggunaan teknik TIVA ( I. -<)-)C);TIVA( #. -remed ( -ethidine "+ mg/lV atau Centanyl +) ug/lV ". Induksi $ewasa D dosis #.+ - ".+ mg/kg 00/IV Anak D dosis lebih %anggi 'anula D dosis diturunkan s/d "+ - +1E &. 'aintenan!e( $osis 2-#" mg/kg 00/lv F G <ata-rata D 4 mg/kg 00/jam atau $osis #11 - &11 u/kg 00/mnt/IV (kombinasi dengan short a!ting opioid) $osis sedasi D "+-#11 ug/kg/mnt (rata-rata D #11 m/jam) dosis -= tertentu dapat ditambahkan opioid atau mida:olam

II. -5HT6)TA; TIVA. #. -remed( -ethidine ( "+ mg/IV (dosis 1.+ mg/kg 00/IV) Centanyl( # - " u/kg 00/TV
9

". Induksi( $osis -enthotal D&-+ mg/kg 00/IV 'aintanan!e ( # mg/kg00 $. III 5TA'IH TIVA 5%ek ketamin pada Air Iay( #. ekakuan otot dan gerakan tidak beraturan (bila terjadi pada otot rahang F G gangguan pada Air Iay / )bstruksi) ". 6ipersalivasi &. 'ual / 'untah *. -emberian !epat FG henti napas -ada induksi dengan ketamin re%le= muntah masih (J) KG hati-hati waktu itubasi -remed( ,- ,A (untuk melawan 6ipersekresi) - 0en:odiasephine (untuk melawan 5mergen!y $elirium ) Induksi( etamin ($osis #-" mg/kg 00/IV)F# pelan (G 21 dtk)

'aintenan!e( - 0olus D etamin dengan dosis E doss induksi. $iberikan tiap ( 3 -#1 menit - $rips etamin dengan dosis ( "-* mg/kg 00/jam - ,tiringe -ump etamin ( "-* mg/kg 00/Lam

10

II AS-A 1. +e.inisi Asma/ 'enurut >IHA ( >lobal Initiative %or Asthma), Asma adalah gangguan in%lamasi kronik saluran napas respiratorik dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosino%il, dan lim%osit T. -ada orang yang rentan in%lamasi ini menyebabkan epioden whee:ing berulang, sesak napas, rasa dada tertekan, dan batuk, khususnya malam hari atau dini hari. >ejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan saluran respiratorik yang luas namun bervariasi, yang paling tidak sebagian bersi%at reversible baik se!ara spontan maupun dengan pengobatan. In%lamasi ini juga berhubungan dengan hiperaktivitas saluran respiratorik terhadap berbagai rangsangan.# Asma adalah penyakit saluran napas kronik akibat terjadinya peningkatan kepekaan saluran napas terhadap berbagai rangsangan. -ada penderita yang peka hal ini menyebabkan mun!ulnya serangan batuk, mengi, keluarnya dahak, sesak napas, dan rasa tidak enak di dada terutama pada malam atau pagi hari. Asma merupaka suatu penyakit yang di!irikan oleh hipersensitivitas !abang-!abang trakeobronkial terhadap berbagai jenis rangsangan. 6al tersebut menyebabkan penyempitan saluran-saluran napas se!ara periodi! dan reversible akibat bronkospasme."

2. Pat0.isi0l01i Asma -ato%isiologi asma melibatkan pelepasa mediator ke jalan napas dan mungkin juga karena adanya aktivitas yang berlebihan yang melibatkan sistem sara% parasimpatis. ,ubstansi yang terhirup dapat menimbulkan bronkospasme melalui respon imun spesi%ik dan non spesi%ik oleh daya degranulasi sel mast bronkial. -ada asma alergi yang klasik antigen berikatan dengan Ig5 di permukaan sel mast dan menyebabkan degranulasi, bronkokonstriksi merupakan hasil dari pelepasan histamine, bradikinin, leukotrien, platelet a!tivating %a!tor, prostaglandin (->), ->5,, ->C" al%a, dan ->$", dan %aktor netro%il eosino%il kemotaktik. ,edikitnya ada " jenis T-helper (Th), lim%osit subtype .$*J telah dikenal pro%ilnya dalam produksi sitokin. 'eskipun kedua jenis lim%osit T mensekresi I;-& dan granulo!yte-ma!rophage !olony stimulating %a!tor ( >'-.,C), Th # terutama memproduksi I;-", IC-M dan THC-N. ,edangkan Th" terutama memproduksi sitokin yang
11

terlibat dalam asma, yaitu I;-*, I;-+, I;-O, I;-#& dan I;-#2. ,itokin yang dihasilkan oleh Th" tersebut bertanggung jawab atas terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe lambat maupun !ell mediated. ;angkah pertama terbentuknya respon imun adalah aktivasi lim%osit T oleh antigen yang dipresentasikan oleh sel-sel aksesoris yaitu proses yang melibatkan molekul '6. kelas II pada sel T .$*J dan '6. kelas I pada sel T .$4J. & -ada asma baik dengan atau tanpa mekanisme alergi memiliki kelabilan bronkus abnormal yang memudahkan penyempitan saluran napas oleh banyak %aktor, saluran napas ini seakan-seakan merupakan persara%an N-adrenergik yang tidak kompeten dan banyak bukti memberikan paling tidak se!ara %ungsional terdapat hambatan parsial pada reseptor Nadrenergik pada penderita asma yang khas ini. -enyebab utama saluran respiratorik adalah kontraksi otot polos bronkus yang diprovokasi oleh pelepasan agonis dari sel-sel in%lamasi. Pang termasuk agonis adalah histamine, triptase, prostaglandin $" dan leukotrien .* dari sel mast, neuropeptida dari sara% a%eren setempat dan asetilkolin dari sara% post ganglionik. ontrasksi otot polos saluran respiratorik diperkuat oleh penebalan dinding saluran napas akibat edema akut, in%iltrasi sel-sel in%lamasi dan remodeling, hyperplasia dan hipertro%i kronis otot polos, vaskulaer dan sel-sel sekretori serta deposisi matrik pada dinding saluran respiratorik. ,elain itu hambatan saluran respiratorik juga bertambah akibat produksi se!ret yang banyak, kental dan lengket oleh sel goblet dan kelenjar submukosa, protein plasma yang keluar melalui mikrovaskuler bronkus dan debris seluler. * ,istem sara% parasimpatis memainkan peranan penting dalam menjaga tonus normal bronkial. Akti%asi re%le= vagal terjadi pada bronkokontriksi yang dimediasi oleh peningkatan siklik guanosin mono%os%at intraseluler (!>'-).+ ,elama serangan terjadi bonkokonstriksi, edema mukosa, dan sekresi yang akan meningkatkan tahanan aliran gas disetiap tempat jalan napas yang lebih rendah. Tahanan jalan napas kembali normal pertama kali pada jalan napas yang lebih besar (bronki utama, lobar, segmental dan sub segmental), kemudian baru peri%er. ;aju ekspirasi menurun melampaui CV. tetapi pada pemulihan serangan laju rata-rata ekspirasi menurun hanya pada volume paru rendah. Volume residu (<V), T;., C<. semua menurun. -a.)" normal atau tinggi menunjukkan bahwa pasien tidak dapat mempertahankan kerja napas lagi dan hal ini sering merupakan tanda adanya gagal napas (impending). -ulsus paradoksus dan gambaran 5 > renggangan ventrikel kanan (perubahan ,T, deviasi aksis ke kanan, dan <000) menunjukkan obstruksi jalan napas berat. 0erat ringannya asma ditentukan oleh berbagai %aktor, antara lain gambaran klinik sebelum pengobatan (gejala, eksaserbasi, gejala malam hari, pemberian obat inhalasi N-" agonis dan uji %aal paru) serta obat-obat yang digunakan untuk mengontrol asma (jenis obat, kombinasi obat dan %rekuensi pemakaian obat). $engan adanya pemeriksaan klinis termasuk
12

uji %aal paru dapat menentukan klasi%ikasi menurut berat ringannya asma yang sangat penting dalam penatalaksanaanya. Asma diklasi%ikasikan atas asma saat serangan (akut) atau tanpa serangan. 3. Pemba1ian AS-A A. Asma di &2ar Seran1an -ada orang dewasa asma diluar serangan terdiri dari( #. Intermiten ". -ersisten ringan &. -ersisten sedang *. -ersisten berat $erajat Asma Intermiten3 'ingguan Persisten (in1an, 'ingguan >ejala >ejala 7#=/minggu Tanpa serangan gejala diluar >ejala 'alam Q" kali sebulan Cungsi -aru V5-# A-5R41E atau

,erangan singkat Cungsi paru asimptomatik dan normal diluar serangan >ejala G #=/minggu tapi 7#=/hari ,erangan dapat mengganggu aktivitas tidur >ejala harian 'enggunakan obat setiap hari ,erangan mengganggu aktivitas dan tidur ,erangan "=/minggu, bisa
13

G" kali seminggu

V5-# atau A-5R 41E normal

Persisten Sedan1, 6arian

Gsekali seminggu

V5-# atau A-5 G21E tetapi Q41E normal

berhari-hari Persisten 'erat, ontinu >ejala terus menerus Aktivitas %isik terbatas ,ering serangan ,ering V5-# atau A-5 741E normal

'. Asma Saat Seran1an lasi%ikasi derajat asma berdasarkan %rekuensi serangan dan obat yang digunakan sehari-hari, asma juga dapat dinilai berdasarkan berat-ringan serangan. >IHA membuat pembagian derajat serangan asma berdasarkan gejala dan tanda klinis, uji %aal paru, dan pemeriksaan laboratorium. $erajat serangan menentukan terapi yang akan diterapkan. lasi%ikasi tersebut meliputi asma serangan ringan, asma serangan sedang, dan asma serangan berat. -erlu dibedakan antara asma (aspek kronik) dengan serangan asma (aspek akut). &

14

III PENAN$ANAN ANESTESI PA+A PASIEN AS-A A. Eval2asi Peri0perati. 5valuasi pasien asma sebelum tindakan anestesi dan pembedahan sangat penting untuk men!egah ataupun mengendalikan serangan asma, baik intraoperati% maupun postoperati%. 'aka diperlukan evaluasi yang meliputi riwayat penyakit, pemeriksaan %isik, laboratorium, pemeriksaan %aal paru, analisan gas darah, dan %oto rontgen thora=.* #. <iwayat penyakit 'eliputi lama penyakitnya, %rekuensi serangan, lama serangan atau berat serangan, %aktor-%aktor yang mempengaruhi serangan, riwayat penggunaan obat-obatan dan hasilnya, riwayat perawatan dirumah sakit, riwayat alergi (makanan, obat, minuman), riwayat serangan terakhir, beratnya dan pengobatannya. # 0ila baru-baru ini menderita in%eksi saluran napas atas dan menimbulkan serangan maka operasi elekti%nya sebaiknya ditunda *-+ minggu untuk men!egah reakti%itas jalan napas.2 ". -emeriksaan Cisik Tanda-tanda serangan asma tergantung dari derajat obstruksi jalan naps yang terjadi. $apat dilihat dari inspeksi penderita tampak sesak, sianosis, ekspirasi memanjang. -alpasi didapatkan takikardi, perkusi didapatkan hipersonor, auskultasi didapatkan whee:ing.3 &. -emeriksaan ;aboratorium -ada asma, eosino%il total dalam darah sering meningkat. Lumlah eosino%il ini selain untuk menilai !ukup tidaknya dosis terapi kortikosteroid, dapat juga untuk membedakan serangan asma dengan bronkitis kronis. -ada pemeriksaan sputum selain didapatkan eosino%il, juga ditemukan adanya ristal .har!ot ;eyden, spiral .hurs!hman dan mungkin juga miselium Aspergilus fumigates.3

*. <ontgen Thora= -ada umumnya hasil normal atau hiperin%lasi. -emeriksaan tersebut umumnya dilakukan bila ada ke!urigaan adanya proses patologi diparu atau adanya komplikasi asma seperti pneumotoraks, pneumomediastinum, atelektasis, pneumonia. adang
15

didapatkan gambaran air trapping, dia%ragma mendatar karena adanya hiperin%lasi, jantung tampak menge!il dan lapang paru hiperlusen.3 +. -emeriksaan Caal -aru (,pirometri) 9ntuk mengetahui kondisi klinis pasien asma perlu dilakukan pengukuran aliran udara ekspirasi yaitu volume ekspirasi paksa detik pertama (C5V#) dan arus pun!ak ekspirasi (-5C<). ;ebih bagus lagi bila dibandingkan dengan hasil pengukuran sebelumnya. Hormalnya nilai volume ekspirasi paksa (C5V#) untuk laki-laki adalah lebih dari & liter dan lebih dari " liter untuk wanita. Hilai normal arus -5C< adalah lebih dari "11;/menit( pada laki-laki dewasa muda lebih dari +11 ;/menit). Hilai -5C< kurang dari "11;/menit pada pria dan kurang dari #+1;/menit menunjukkan gangguan e%ektivitas batuk dan akan meningkatkan komplikasi pas!a bedah. 6asil C5V# atau -5C< 7 +1E menunjukkan asma sedang sampai berat. 0ila nilai -5C< 7#"1 l/menit atau C5V# # liter menunjukkan obstruksi berat. -emeriksaan ini penting dilakukan karena sering terjadi ketidaksesuaian gambaran klinis asma dengan %ungsi paru. -enderita yang baru sembuh dari serangan akut atau penderita asma kronik sering tidak mengeluh, tetapi setelah diperiksa ternyata obstruksi saluran napas. -emeriksaan ini diindikasikan pada pasienpasien yang menderita penyakit paru-paru sedang sampai berat yang menjalani operasi berdampak pada sistem respirasi. -emeriksaan ini juga dapat memprediksi terhadap risiko komplikasi paru postoperative dan memprediksi kebutuhan bantuan ventilasi dan respon pengobatan.+ eadaan klinik Hormal Asma ringan Asma sedang Asma berat ,tatus asmatikus EC5V/CV. 41-#11 3+-3O +1-3* &+-*O 7&+

2. Analisa >as $arah -emeriksaan gas darah biasanya dilakukan pada penderita dengan serangan asma yang berat. -ada keadaan ini bisa terjadi hipoksemia, hiperkapnea, dan asidosis respiratorik. ondisi yang berat akan meningkatkan risiko komplikasi paru-paru.# 3. Cisioterapi $ada

16

'erupakan istilah umum yang dipakai untuk membersihkan jalan napas. Indikasi %isioterapi dada bisa akut atau bisa sebagai pro%ilaksis. eadaan akut untuk dilakukan %isioterapi adalah pada pasien-pasien dengan retensi sputum yang berlebihan atau abnormal akibat batuk yang terus menerus atau pada pasien yang batuknya sangat lemah.2 '. Pen1el0laan Peri0perati. ;angkah pertama persiapan penderita dengan gangguan pernapasan yang menjalani pembedahan adalah menentukan reversibilitas kelainan. -roses obstruksi yang reversible adalah bronkospasme, sekresi yang terkumpul dan proses in%lamasi jalan napas. )bstruksi yang tidak reversible dengan pemberian bronkodilator misalnya adalah em%isema, tumor.2 -asien dengan bronkospasme yang %rekuen harus diobati dengan preparat bronkodilator yang berisi N-adrenergik agonis, teo%ilin dan kortikosteroid. + -ada pasien dengan serangan asma balans !airan dan elektrolit perlu dipelihara, pada kondisi ini pasien sering mengalami dehidrasi.3 #. 'anajemen Asma -reparat yang digunakan untuk asma adalah sebagai berikut( a. ,impatomimetik atau agen N-agonis, menyebabkan bronkodilatasi melalui !A'yang memediasi relaksasi otot polos. )bat-obat ini juga menghambat histamine dan neurotransmitter kolinergik. #. ,elekti% N-adrenergik, umumnya diberikan se!ara inhalasi dan sampai saat ini merupakan preparat yang paling e%ekti%. 'isalnya Albuterol (Ventolin) " pu%%s atau lebih dengan '$I setiap &-* jam atau 1,+ml/"ml salin setiap *-2 jam. ,almeterol " pu%%s dengan '$I setiap &-* jam atau 1,+ml/"ml salin setiap *-2 jam. -asien-pasien yang menggunakan beta bloker hendaknya menggunakan yang tidak menimbulkan spasme bronkus seperti atenolol, metoprolol atau esmolol.2 ". .ampuran N# dan N" adrenergik termasuk epine%rin (Adrenalin), isoproterenol dan isoetharin. 5%ek samping takikardi dan aritmogenik membahayakan pada penderita penyakit jantung. &. Terbutaline sul%at pemberiannya 1,"+mg ,., dapat diulangi #+ menit, tetapi tidak lebih dari 1,+mg dalam * jam. b. Santin (Teo%ilin) #. Teo%ilin 5%ek dari teo%ilin sama dengan golongan simpatomimetik, tapi !ara kerjanya berbeda. ,ehingga bila kedua obat ini dikombinasikan e%eknya saling memperkuat. Teo%ilin sebagai bronkodilator memiliki " mekanisme aksi utama,
17

yaitu dengan !ara relaksasi otot polos dan menekan stimulant yang terdapat pada jalan napas. 'ekanisme aksi yang utama belum diketahui dengan pasti. $iduga e%ek bronkodilatasi disebabkan adanya inhibisi " isoen:im yaitu %os%odiesterase (-$5 III) dan -$5 IV. ,edangkan e%ek selain bronkodilatasi berhubungan dengan aktivitas mole!ular yang lain. Teo%ilin juga dapat meningkatkan kontraksi otot dia%ragma dengan !ara peningkatan uptake .a melalui adenosine-mediated !hannel. ". Amino%ilin -ada serangan asma akut reversible berat yang berhubungan dengan bron!hitis kronis dan em%isema digunakan amino%ilin. 0entuk pemberian adalah injeksi iv dengan kemasan # ampul dosis tunggal. .ara pemberiannya ( a) 0ila pasien belum mendapat amino%ilin sebelumnya, berikan amino%ilin dosis awal 2mg/kg00 dalam $e=trosa atau Ha.l sebanyak "1 ml dalam "1-&1 menit b) 0ila pasien telah medapat amino%ilin (7 * jam), dosis diberikan separuhnya. !) 0ila mungkin kadar amino%ilin diukur dan dipertahankan #1-"1m!g/ml d) ,elanjutnya berikan amino%ilin dosis rumatan 1,+-# mg/kg00/jam !. ortikosteroid

,ering digunakan pada pasien yang tidak respon terhadap terapi antagonis N". Terutama bentuk parenteral yang digunakan untuk terapi serangan asma berat. 'ekanisme kerja obat ini melalui pengurangan edema mukosa, stabilisasi membrane sel mast dan anti in%lamasi. ortikosteroid yang diberikan jangka panjang dapat menimbulkan e%ek samping oleh karena itu dianjurkan pemberian melalui inhalasi digunakan dengan dosis maksimal "111m!g, sangat e%ekti% dalam mengendalikan gejala asma dan mengendalikan eksaserbasi. 0ila pemberian se!ara inhalasi belum bisa mengontrol asma maka dianjurkan pemberian parenteral dengan 6idrokortison #"mg/kg00 atau #11mg IV/4jam dan 'etilprednisolon *1-41 mg IV / *-2 jam atau 1,4mg/kg00. d. ,odium .romolyn dan nedokromil adalah preparat inhalasi yang digunakan sebagai pro%ilaksis pada asma. 'ekanisme kerja obat ini melalui stabilisasi membrane sel mast dan anti in%lamasi. e. 'ukolitik ". -remedikasi4
18

a) ,edati% (0en:odia:epin) adalah e%ekti% untuk an=iolitik tetapi pada pasien dengan asma berat dapat menyebabkan depresi napas. ,edasi ini penting diberikan pada pasien dengan riwayat asma yang dipi!u oleh emosional. b) Harkotik / )pioid sebagai analgesi! dan untuk sedative sebaiknya dipilih yang tidak mempunyai e%ek pelepasan histamine misalnya %entanil dan sul%entanil#1 !) Antikolinergik diberikan jika terdapat sekresi berlebihan atau penggunaan ketamin sebagai agen induksi. Antikolinergik tidak e%ekti% untuk men!egah re%le= bronkospasme oleh karena tindakan intubasi. d) 6" bloker (!imetidin, ranitidine), se!ara teori dapat mengganggu, karena aktivasi reseptor 6" se!ara normal akan menyebabkan bronkodilatasi dengan adanya pelepasan histamine, aktivitas 6# yang tanpa hambatan dengan blo!kade 6" dapat menimbulkan bronkokonstriksi. + e) -ada pasien asma yang sudah menggunakan bronkodilator inhaler atau kortikosteroid inhaler, obat-obat ini perlu dibawa masuk ke ruang operasi. $ianjurkan pemberian kortikosteroid parenteral ('etilprednisolon *1-41mg) #-" jam sebelum induksi anestesi. 0ronkodilator harus diberikan sampai proses pembedahan selesai, pasien yang mendapatkan terapi lama dengan glukokortikoid harus diberikan tambahan untuk mengkompensasi supresi adrenal. 6idrokortison +1-#11mg sebelum operasi dan #11 mg/4 jam selama #-& hari pas!a operasi.+,O %) -ada penderita asma yang akan dilakukan intubasi dapat diberikan lido!ain ##,+mg/kg00 atau Centanyl " m!g/kg00 dapat menurunkan reakti%itas laring terhadap 5TT. -emberian anestesi inhalasi menggunakan halotan/en%luran pada stadium dalam dapat mengatasi spasme bronkial berat yang re%rakter. O,#1 . Penan1anan Anestesi Intra0perati. -emahaman terhadap suatu masalah pato%isiologi yang mendasar lebih penting daripada pilihan anestesi khusus atau obat. -ilihan teknik bisa regional anastesi saja, dengan pasien tetap sadar, mampu mengontrol sistem napasnya sendiri, dan pada situasi lain diperlukan kombinasi general anestesi dengan regional anestesi, karena pertimbangan untuk mengendalikan nyeri postoperative. A. (e1i0nal Anestesi ,pinal atau epidural anestesi adalah pilihan pada pembedahan ekstremitas bawah. -ada pasien asma pernapasannya tergantung pada penggunaan otot-otot tambahan (inter!ostal untuk inspirasi dan otot perut untuk ekspirasi paksa). ,pinal anestesi dapat memperburuk kondisi jika hambatan motorik menurunan C<., mengurangi kemampuan untuk batuk dan membersihkan lendir atau memi!u gangguan respirasi atau bahkan
19

terjadi gagal napas. ,pinal tinggi atau epidural anestesi dapat memperburuk bronkokonstriksi karena terhambatnya tonus simpatis pada jalan napas bawah (T#-*) dan menyebabkan akti%itas parasimpatis tidak terhambat. ombinasi teknik epidural dan anestesi umum dapat menjamin kontrol jalan napas, ventilasi adekuat, dapat men!egah hipoksemia dan atelektasis. -ada prosedur pembedahan peri%er yang panjang sebaiknya dilakukan dengan general anestesi. Caktor @%aktor penting yang menghalangi keberhasilan penggunaan anestesi regional seperti pasien tidak tahan berbaring lama di meja operasi dalam waktu lama, batuk spontandan tidak terkendali dapat membahayakan yaitu pada tahap kritis pembedahan.

'. $eneral Anestesi Iaktu paling kritis pada pasien asma yang dianestesi adalah selama instrumentasi jalan napas. Hyeri, stress, emosional atau rangsangan selama anestesi dangkal dapat menimbulkan bronkospasme. )bat-obatan yang sering dihubungkan dengan pelepasan histamin (seperti !urare, atra!urium, miva!urium, mor%in, meperidin) harus di!egah atau diberikan dengan sangat lambat jika digunakan. Tujuan dari anestesi umum adalah smooth indu!tion dan kedalaman anestesi disesuaikan dengan stimulasi. -emilihan agen anestesi tidak sepenting dalam pen!apaian anestesi yang dalam sebelum intubasi dan stimulasi pembedahan. #. Agen Inhalasi Agen inhalasi anestesi seperti halotan akan menyebabkan bronkodilatasi dan dapat digunakan untuk men!egah terjadinya bronkospasme. 6alotan bepengaruh pada diameter airway dengan !ara memblok re%lek airway dan e%ek langsung relaksasi otot polos jalan napas. Hamun hati-hati dalam penggunaan pada pasien dengan gangguan jantung karena e%ek depresi miokardial dan e%ek aritmianya. Iso%luran dan des%luran dapat pula menimbulkan bronkodilator dengan derajat yang setara tetapi harus dinaikkan se!ara lambat karena si%atnya iritasi ringan dijalan napas. ,evo%luran tidak terlalu berbau (tidak menusuk) dan memiliki e%ek bronkodilator serta si%atnya tidak iritasi dijalan napas. ". )bat-obat induksi Intravena 9ntuk induksi intravena dapat digunakan obat-obatan yang mempunyai onset kerja !epat. .ontoh obat induksi yang dapat digunakan adalah thiopenton, propo%ol, dan ketamin. Thiopenton paling banyak digunakan untuk usia dewasa tetapi kadangkadang dapat menimbulkan bronkospasme karena adanya pelepasan histamin. 0eberapa penelitian menyebutkan bahwa thiopenton dapat menyebabkan bronkokonstriksi melalui reseptor ?", menimbulkan kontraksi dan mengakti%kan
20

mekanisme umpan balik negative dengan membatasi pelepasan A.6 lebih lanjut akibat stimulasi yang harus berlanjut. )leh karena itu blok reseptor ?" dapat menghambat A.6 dan potensiasi bronkokonstriksi yang disebabkan aktivitas vagal (biasanya karena iritan)#1. etamin dan propo%ol dapat digunakan untuk men!egah dan mereverse bronkokonstriksi melalui mekanisme utama penekanan neural dan melalui penekanan langsung aktivitas otot polos saluran napas. $ari suatu hasil penelitian, walaupun keduanya terbukti dapat digunakan untuk bronkokonstriksi, ketamin dikatakan lebih poten daripada propo%ol*. -ropo%ol dengan dosis ",+ mg/kg00 dapat menurunkan insidensi whee:ing setelah intubasi dibanding dengan penggunaan metohe=ital dengan dosis setara yaitu 2 mg/kg00. $ibandingkan dengan ben:odia:epine, propo%ol lebih menguntungkan karena %aktor onset yang !epat dan akhir yang !epat pula.* etamin mempunyai e%ek bronkodilatasi selain e%ek analgesi! untuk menghindari e%ek depresi respirasi, ketamin diberikan dengan pelan-pelan, ketamin juga mempunyai e%ek meningkatkan sekresi saliva dan trakeobronkial. 5%ek ini dapat di!egah dengan menggunakan antisialogog seperti atropine ataupun gy!opyrolate.#"<e%leks bronkospasme dapat di!egah sebelum intubasi dengan pemberian tambahan tiopenton #-"mg/kg00, pasien diventilasi dengan "-& 'A. agen volatile selama + menit atau diberikan lidokain intravena atau intratrakeal #"mg/kg00. Tetapi perlu di ingat lido!ain sendiri dapat memi!u bronkospasme jika dosis tiopenton tidak adekuat. $apat juga dengan antikolinergik (atropine " mg atau glikoperolat # mg) tetapi dapat menyebabkan takikardi. &. 'us!le <ela=ant Caktor lain yang peru dipertimbangkan dalam penggunaan mus!le rela=an adalah perlu tidaknya mereverse kerjanya. $engan menghambat penghan!uran A.6 endogen, inhibitor !holinesterase seperti neostigmin dapat meningkatkan sekresi jalan napas dan dapat menimbulkan bronkospasme. 5%ek ini dapat di!egah dengan penggunaan antagonis mus!arinik seperti atropine # mg atau gly!opyrolate 1,+mg untuk meminimalkan e%ek samping muskarinik. Alternati% lain dapat digunakan mus!le rela=n shorta!ting. 'eskipun suksinilkolin dapat menyebabkan pelepasan histamine tetapi se!ara umum dapat digunakan dengan aman pada kebanyakan pasien asma.

C. Terapi 'r0nk0spasme Intra0perati. 0ronkospasme pada intraoperati% ditunjukkan dengan whee:ing, mun!ulnya penurunan volume tidal ekshalasi atau mun!ulnya suatu kenaikan pelan dari gelombang di!apnogra%, hal ini dapat diatasi dengan mendalamkan anestesinya. Lika tidak hilang
21

maka perlu dipikirkan hal lain seperti sumbatan pipa endotrakeal akibat kekakuan, balon yang keras, intubasi endobronkial, tarikan akti% karena anestesi dangkal, edem pulmo atau emboli dan pneumotoraks semua dapat menyebabkan bronkospasme." 0ronkospasme harus ditangani dengan suatu beta adrenergi! agonist baik se!ara aerosol atau inhaler kedalam jalur inspirasi dari sirkuit napas."Teknik pemberian ini adalah se!ara matered dose inhaler, berikan +-#1 pu%%s obat tersebut kedalam jalan napas bagian bawah. Asma sedang sampai berat perlu diterapi dengan amino%ilin intravena, terbutalin (1,"+mg) atau keduanya. -asien yang tidak menerima amino%ilin preoperative perlu diberikan amino%ilin bolus +-2 mg/kg00 intravena lebih dari "1 menit, diberikan pemeliharan 1,+1,O mg/kg00. -asien asma dengan serangan asma berat sebaiknya diberikan ventilasi bantuan untuk mempertahankan -a)" dan -.)" pada level normal, ke!epatan ventilasi yang rendah(2-#1 napas/menit) ,volume tidal yang rendah dan waktu ekshalasi yang panjang.O -enurunan diameter saluran napasyang disebabkan bronkokonstriksi yang berat dapat mempengaruhi distribusi gas dalam paru. $ampak akibat penurunan ventilasi pada beberapa unit paru-paru dengan rasio ventilasi dan per%usi yang lebih rendah dapat menyebabkan hipoksemia arterial. Vasodilatasi pulmoner akibat pemberian beberapa bronkodilator dapat memperberat rasio ventilasi dan per%usi yang lebih rendah dapat menyebabkan hipoksemia arterial. )leh karena itu pada pasien-pasien yang teranestesi, yang penting adalah meningkatkan konsentrasi gas oksigen inspirasi menjadi #11E pada saat terjadi bronkospasme. 6al ini tidak hanya meminimalkan derajat hipoksia arterial tetapi juga menjaga tekanan parsial oksigen dalam alveoli. #1 -ada akhir pembedahan sebaiknya pasien sudah bebas whee:ing, aksi pelemas otot nondepolarisasi perlu direverse dengan anti!holine esterase yang tidak mema!u terjadinya bronkospasme, bila sebelumnya diberikan antikolinergik dengan dosis sesuai. 5kstubasi dalam perlu dilakukan sebelum pulihnya re%le= jalan napas normal untuk men!egah bronkospasme atau setelah pasien asma sadar penuh. ;ido!ain bolus #,+-" mg/kg00 diberikan intravena atau dengan kontinyu dosis #-"mg/menit dapat menekan re%le= jalan napas. +

4.Penan1anan P0st0perati. -asien asma yang selesai menjalani operasi pemberian bronkodilator dilanjutkan lagi sesegera mungkin pada pas!a pembedahan. -emberian bronkodilator melalui nebulator atau sungkup muka sampai pasien mampu menggunakan '$I sendiri dengan benar. 2,##
22

-asien akan memperoleh man%aat dari terapi '$I bila memenuhi !riteria berikut(2 #. Crekuensi napas 7"+ kali /menit ". 'ampu menahan napas selama + detik atau lebih &. apasitas vital G #+ ml/kg

*. 'ampu komunikasi verbal dan mengikuti instruksi +. oordinasi tangan-mulut-inspirasi memadai

2. -5C< R#+1;/menit untuk wanita dan G"11;/menit untuk pria -ada akhir pembedahan pasien harus bebas whee:ing, reversal pemblok neuromus!ular nondepolarisasi dengan antikolinesterase tidak menimbulkan bronkospasme jika diberikan dosis antikolinergik yang tepat. -asien yang teridenti%ikasi risiko tinggi perlu dimasukkan ke unit monitoring post operati%, dimana %isioterapi dada dan su!tion dapat dilakukan. -enanganan nyeri posoperati% adalah hal yang penting untuk menurunkan bronkospasme. #"'asalah berikut yang terjadi pas!a bedah adalah penurunan volume paru akibat anestesi dan pembedahan. ,e!ara %isiologi hal tersebut oleh karena terjadi penurunan ventilasi alveolar dan C<.. -enurunan ventilasi alveolar disebabkan penurunan volume semenit oleh peningkatan dead spa!e. -enurunan volume semenit pas!a bedah disebabkan pengaruh anestesi, narkotik, sedasi, pelemas otot, atau penyakit neuromus!ular, atau myasthenia gravis, >0,, lesi medulla spinalis servikal, !ederan pada nervus phreni!us. -eningkatan dead spa!e terjadi pada emboli paru, penurunan !urah jantung, bronkospasme. -enurunan C<. biasanya disebabkan oleh atelektasis, edema paru, dan pneumonia. Adapun kriteria untuk perawatan I.9( #. -asien yang memerlukan Ventilatory ,upport ". C5V atau -5V7+1E &. -.)"G+1 mm6g *. -)"7+1mm6g +. -asien nampak bingung dan lemah 2. -asien yang membutuhkan monitoring terapi !airan dan %armakologis 3. -asien dengan trauma mayor, multitrauma dan luka bakar apalagi disertai instabilitas hemodinamik 4. -asien trauma mayor yang dilakukan prosedur $amage .ontrol ,urgery
23

O. -asien yang mengalami pembedahan mayor.

IV +ATA PASIEN 2.1 Identitas Hama (Hy.,iti Aminah


24

9mur Lenis elamin Agama Alamat -ekerjaan Tanggal '<,

( "2 tahun ( -erempuan ( Islam (Lalan Taman ,ari, $ringu ( ,wasta (karyawan 5rate=) ( * Luni "1#&

2.2 Anamnesa - eluhan utama( Tidak ada( pasien kontrol ke poli ortopedi dan diren!anakan untuk lepas wire ) - <iwayat -enyakit ,ekarang( -asien mengatakan diren!anakan lepas wire setelah dipasang wire # bulan yang lalu, tidak ada pusing, tidak ada mual dan muntah, tidak ada batuk. - <iwayat -enyakit $ahulu( - -asien dipasang wire # bulan lalu pada jari ke empat tngan kanan - Tidak ada riwayat $iabetes 'elitus - Tidak ada riwayat 6ipertensi - -asien memiliki riwayat asma sejak ke!il, kambuh bila terkena debu, asap, atau pada saat dingin. ,ekarang sudah jarang sekali kambuh setelah mengkonsumsi obat teosal, de=tran %orte - <iwayat -enyakit eluarga( Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama
25

- <iwayat Alergi( -asien memiliki riwayat alergi terhadap obat -arame= , setiap minum parame= mata bisa bengkak. 2.3 Pemeriksaan Stat2s Anastesi Pre %perasi ,uje!tive eadaan 9mum <iwayat Alergi <iwayat Asma <iwayat $' <iwayat 6ipertensi 'akan/'inum 'ual/muntah 0A )bje!tive Airway 0reathing ( Lalan Hapas 0ebas, 'alampati # ( << <onki Ihee:ing .ir!ulation( Tensi ( #"1/41 mmhg
26

( 0aik ( (J), analgetik ( (J) ( (-) ( (-) ( (J) ( (-) ( ,pontan

( "1 =/menit ( (-) ( (-)

Hadi -er%usi $isability ( >rima!e >., 5=posure ,tatus >eneralis epala 'ata ;eher Lantung -aru Abdomen

( 42 =/menit ( akral merah, hangat

( (-) ( *+2

( bentuk simetris ( onjun!tiva Anemi (-) s!lera I!terus (-) ( -embesaran >0 (-) ( >erakan dada simetri ( retraksi (-), >erakan dada simetris, sesak (-), Ih (-), <h (-) ( $istensi (-), $e%ans muskuler (-), nyeri tekan (-) J J 5dema -

5=tremitas ( akral hangat

J ,tatus lokalis ( Assessment -ost op wire digiti IV manus de=tra -lanning

'anus $e=tra ( digiti IV manus de=tra ditutup kasa, nyeri (J), <)' terbatas, riwayat pemasangan wire # bulan lalu

- A,A " (riwayat Asma dan Alergi analgetik) - -uasa 4 jam (dari jam "*.11, * Luni "1#&)
27

- ;engkapi In%ormed .onsent - In%us <; "1 tetes/menit 3.4 Pemeriksaan Pen2n#an1 ;aboratorium -emeriksaan 6aemoglobin ;eukosit 6ematokrit Trombosit $i%% .ount ;5$/00, 6asil #*,2 #1.311 *" #2+.111 -/-/3/21/&#/" &*/+4 Hilai Hormal ;( #&-#4, -( #"-#2 g/dl *111-##111 !mm ;( *1-+*, -( &+-*3 #+1111-*+1111 !mm 1-"/1-#/#-"/*+-31/&+-+1/1-" ;( +-#1, -( #1-"1 /jam

3. Ph5si6al Stat2s A,A " yaitu pasien dengan gangguan sistemik ringan dan tidak ada keterbatasan %ungsional (pasien riwayat asma dan alergi analgetik) 3.4 -0nit0rin1 Pasien pre 0p Terapi .airan pertama tanggal * Luni "1#& -asien diberikan In%. <; +11 !! dengan maintenan!e "1 tpm -asien mulai dipuasakan saat pertama kali menerima !airan pukul "*.11 tanggal * Luni "1#&. $iren!anakan dilakukan operasi a%% wire pada tanggal + Luni "1#& pagi.

3.7 Anasthaesi pada Tindakan A.. 8ire pada pasien Asma

28

-asien masuk ) untuk dilakukan a%% wire pada tanggal + Luni "1#& -ukul 4(&1 II0 dengan >eneral Anastesi Teknik TIVA ( Total Intravenous Anasteti! ). -asien masuk dengan masih menerima antibiotik pro%ilaksis Hovalmy!in " gram drip dalam Ha.; #11!!. )bat -remedikasi $e=ametason ( #= +mg i.v ,ediaan + mg/ml )ndan!etron ( # = *mg i.v $osis ( 1,1# mg/kg00 (*-4 mg IV), sediaan ( * mg/"ml Centanyl ( #= 1,1+mg i.v ,ediaan( 1,1+ mg / "ml )bat Induksi ( - -ropo%ol #11mg i.v, $osis #,+-",+mg/kg00 i.v )ksigen ( * lpm dengan %a!e mask -lanning -ost operasi - Analgesik -ost operasi ( Injeksi etorola! & = &1 mg i.v - In%us <; "1 tpm -'akan minum bebas -0nit0rin1 !2ni 29133 p2k2l 14.39 8I'

,( -asien tidak ada keluhan, sesak (-), pusing (-), mual (-), muntah (-). )( >.,( *+2 Tekanan darah ( ##1/31mm6g Hadi ( O2 kali/menit
29

<< ( "* kali /menit ,uhu ( &2,&1. ,tatus lokalis ( digiti IV manus de=tra dibebat kasa, nyeri sedikit. A( -ost A%% Iire digiti IV manus de=tra -( <; "1 tpm etorola! &=&1mg iv 'akan dan minum bebas

$a%tar -ustaka #. arnen 0, #OOO ( Asma 0ronkial dalam Ilmu -enyakit $alam, 0alai -enerbit C 9I, Lakarta, hal ("#-&O ". -erhimpunan $okter -aru Indonesia (-$-I) "11*, -edoman $iagnosis dan -enatalaksanaan Asma di Indonesia, -enerbit C 9I, Lakarta. &. ;en%ant ., haltaev H. >IHA. H6;0I/I6) Iorkshop <eport "11".

30

*. 0ou8uet L, Le%%ery - . 0usse II, Lohnson ', Vignola A'. Asma. Crom 0ron!ho!onstri!tion to airway remodeling. Am L <espir .rit .are 'ed, "111T#2#(#3"1*+ +. 'organ >5, "112( Anestesi %or -atients with <espiratory $isease in .lini!al Anaesthesiologist &rd edition, page ( +3#-+32 2. Indro 'ulyono,"111( -engelolaan -erioperati% pada penderita gangguan -ernapasan dalam -I0 S I$,AI di 0andung, hal( ###-#&&. 3. )beroi >, -hilip >, "111( 'anagement o% some medi!al emergen!y situation, '! >raw6ill, page (&#+-&#4 4. evin . and enneth 5. ,hepherd, "11"( ,pe!i%i! !on!oderation with -ulmonary disease in !lini!al anaesthesia pro!edure o% the 'assa!husetts >eneral 6ospital, 2 th edition ;ipin!ott Iilliam A Iillkins page ( &&-*# O. 'ark <. 5:ekeil. -ulomnary $isease, 6and 0ook o% Anaesthesiology, .urrent .lini!al ,trategies, "11*-"11+ , page( &*-&+ #1. >all TL, "11", <ea!tive airway $isease ( Anaestheti! -erspe!tive, IA<, "11" <eview .ourse ;e!ture, 9,A ##. Iilliam <. ,olomon, "11"( -atologi, #42 #". 5pstein ;, #OOO( ,pe!i%i! .onsideration with -ulmonary $isease in .lini!al Anaesthesia -ro!edure od 'assa!husetts >eneral 6ospital, 2th ed. ;ippin!ot Iilliam A Iilkins, page( 2,&&-*#,"+O-"2# #&. Anaesthesiology. "1#". 9nair #*. Iim de Long. 0uku Ajae Imu 0edah ed. &. "1#1. 5>. ( Lakarta onsep linis -roses-proses penyakit, hal ( #3#-

31