Anda di halaman 1dari 11

STATISTIK

A. Pengertian Statistic is the science of collecting, organizing, analyzing and interpreting numerical data for the purpose of making better decisions in the face of uncertainty (Mason, 1974). Artinya statistik merupakan suatu ilmu tentang pengumpulan, penyusunan, penganalisisan dan penafsiran data dalam bentuk angka untuk tujuan pembuatan suatu keputusan yang lebih baik dalam menghadapi ketidakpastian. Defenisi di atas menggambarkan bahwa statistik merupakan suatu tindakan (action), dalam arti bahwa statistik adalah suatu cara (metode). Bandingkan dengan defenisi Kendall berikut ini; Statistic is the branch of scientific method wich deals with the data obtained by counting or measuring the properties of populations if natural phenomena (Goodman, 1969). Dari defenisi ini jelaslah bahwa statistik adalah suatu metode ilmiah. Pengertian natural phenomena dalam defenisi di atas cukup luas karena ia meliputi semua peristiwa di dunia luar, apakah itu human atau bukan human. Penegasan bahwa statistik adalah suatu metode juga dikemukakan oleh Croxton & Cowden (1967). Mereka menyatakan bahwa statistic is not a science, it is a science method. Disamping pengertian metodologi di atas, terdapat pula pengertian lain tentang statistik. a. Statistik berarti kumpulan angka-angka yang menerangkan tentang suatu masalah , baik yang sudah tersusun di dalam daftar-daftar yang teratur atau grafik-grafik maupun yang belum.

Ikhtisar Mata Kuliah Statistik Program Studi BPI, Jurusan Dakwah STAIN Palopo Oleh : Achmad Sulfikar, S.Sos.

Pengertian ini lebih bersifat deskriptif. Sebagai contoh misalnya Statistik Penduduk merupakan kumpulan keterangan tentang penduduk yang menggambarkan keadaan penduduk dari segala segi. Statistik Pertanian merupakan kumpulan keterangan tentang hal-hal yang terdapat di dalam bidang pertanian dalam arti luas. Tetapi menurut Croxton & Cowden pemakaian istilah statistik untuk ini tidak tepat, sebaiknya dipilih istilah data. Jadi data penduduk dan data pertanian. b. Statistik adalah bilangan tunggal yang menerangkan sifat atau karakteristik dari sekumpulan data/pengamatan seperti; rata-rata, bilangan persen, dan lain-lain. Menurut Harper, apa yang dihasilkan oleh metode statistik dapat pula disebut sebagai statistik. Bowen & Starr (1982) memberikan pengertian dalam arti jamak dan dalam arti tunggal. Dalam arti jamak, statistik merupakan sekelompok data numerikal. Sedangkan dalam arti tunggal, statistik merupakan suatu bidang studi. Bagian yang terpenting dari bidang studi ini adalah statistik deskriptif, kemungkinan/probabilitas analisis pengambilan keputusan, dan statistik inferensi. Pengertian kedua ini lebih berkaitan dengan metode statistik.

B. Statistik Deskriptif dan Statistik Induktif Atas dasar pengertian-pengertian di atas, dapat dibedakan antara statistik deskriptif dan statistik induktif (inferensi). Statistik deskriptif merupakan suatu cabang penting dari statistik dan terus-menerus digunakan secara luas. Sebagai suatu metode, statistik deskriptif merupakan sekumpulan prosedur dasar yang terdiri dari : 1. Pengumpulan data; 2. Pengorganisasian data; Ikhtisar Mata Kuliah Statistik Program Studi BPI, Jurusan Dakwah STAIN Palopo Oleh : Achmad Sulfikar, S.Sos.

3. Penyajian data; 4. Analisis data, dan; 5. Interpretasi data. Di dalam statistik deskriptif terdapat pekerjaan analisis dan penafsiran, tetapi tidak terdapat penarikan suatu kesimpulan yang bersifat umum. Untuk menjelaskan pengertian statistik deskriptif, perhatikan uraian berikut. Misalkan kita memiliki dua kelompok data tentang hasil panen dari dua desa. Data tersebut merupakan hasil pengamatan terhadap 10 petani dari setiap desa dan di atur sebagai berikut:

Petani Desa Barangkali Jumadi Rahman Hamka Rahmat Djuma Irfan Denias Gaffar Ilham Sabri

Hasil Panen (ton) 3 4 2 1 5 4,5 3 3 2,5 4

Petani Desa Kalibarang Dedi Bakri Ikbal David Hilmi Riza Fawzi Adi Chandra Alwi

Hasil Panen (ton) 4 3 3 4 4 2 1,5 3,5 4 3

Masing-masing kelompok dihitung angka rata-rata dan simpang bakunya. Hasilnya adalah: Desa Barangkali : Rata-rata 3,2 ton Desa Kalibarang : Rata-rata 3,2 ton Apabila kita hanya sekadar ingin tahu besarnya angka rata-rata saja, maka pekerjaan tersebut termasuk ke dalam pengertian statistik deskriptif.

Ikhtisar Mata Kuliah Statistik Program Studi BPI, Jurusan Dakwah STAIN Palopo Oleh : Achmad Sulfikar, S.Sos.

Statistik induktif merupakan sekelompok prosedur yang dipergunakan untuk melakukan pendugaan dan generalisasi yang didasarkan pula pada sebuah cuplikan kasus-kasus yang terbatas dari sebuah populasi. Statistik induktif sangat mengandalkan pada teori kemungkinan. Mari kita lihat kembali contoh di atas. Kedua kelompok petani tersebut merupakan bagian kecil dari keseluruhan penduduk petani di kedua desa tadi. Dengan bahasa statistik dapat dikatakan bahwa kedua kelompok petani masing-masing merupakan cuplikan dari populasi petani di kedua desa. Bila kedua kelompok tadi dibandingkan dengan menggunakan angka ratarata sebagai bahan perbandingan dan kemudian dilakukan pengujian hipotesis untuk pada akhirnya menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum, maka semua proses pekerjaan tersebut termasuk ke dalam artian statistik induktif. Di dalam statistik induktif tidak terlepas pula peranan teori kemungkinan. Hal ini disebabkan di dalam statistik kita bekerja dalam keadaan yang serba tidak pasti. Misalnya saja angka rata-rata di kedua desa di atas; apakah itu juga merupakan angka rata-rata bagi seluruh populasi petani? Kita tidak dapat memberikan jawaban yang pasti, melainkan kemungkinan ya atau kemungkinan tidak. Dengan memberikan jawaban demikian, berarti kita menyadari akan adanya kemungkinan kesalahan di dalam jawaban tersebut. Kemungkinan kesalahan itu lazimnya dinyatakan dalam bentuk angka persen seperti 1%, 2%, dan 5%.

C. Data Statistik Kata Data berasal dari bahasa latin yang berarti keterangan atau kumpulan keterangan. Kata data adalah dalam artian jamak, sedang tunggalnya adalah datum. Atas dasar bentuknya dikenal 2 (dua) jenis data yaitu;

Ikhtisar Mata Kuliah Statistik Program Studi BPI, Jurusan Dakwah STAIN Palopo Oleh : Achmad Sulfikar, S.Sos.

1. Data kuantitatif, yaitu data dalam bentuk angka sebagai hasil pengamatan atau pengukuran yang dapat dihitung dan diukur. Misalnya data tentang berat badan, harga barang-barang, dan lain-lain yang dinyatakan dalam bentuk angka. 2. Data kualitatif, yaitu data yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga tidak dapat dihitung dan diukur. Misalnya tentang selera (taste), tingkah laku dan lain-lain. Atas dasar sumbernya dikenal 2 (dua) jenis data, yaitu: 1. Data internal, yaitu data yang berasal dari dalam lingkungan sendiri. 2. Data eksternal, yaitu data yang berasal dari luar lingkungan sendiri. Data eksternal sendiri dibagi menjadi dua macam: a. Data Primer, yang dapat diperoleh langsung dari sumbernya; b. Data Sekunder, yang dapat diperoleh tidak langsung dari sumbernya. Data primer pada umumnya lebih baik daripada data sekunder, karena ia lebih terperinci, istilah-istilah dan unit pengukuran yang digunakan dirumuskan dengan lebih sempurna. Data eksternal ada yang diterbitkan adapula yang tidak.

D. Klasifikasi Data Pengklasifikasian data sangat diperlukan saat data akan dianalisis. Pada dasarnya ada 4 (empat) macam cara pengklasifikasian data, yaitu: 1. Kualitatif 2. Kuantitatif 3. Kronologis 4. Geografis Berikut penjelasannya: 1. Kualitatif. Ikhtisar Mata Kuliah Statistik Program Studi BPI, Jurusan Dakwah STAIN Palopo Oleh : Achmad Sulfikar, S.Sos.

Klasifikasi secara kualitatif sering juga disebut klasifikasi secara kategoris. Bentuk klasifikasi seperti ini antara lain seperti contoh berikut: Pekerja dikasifikasikan ke dalam anggota serikat pekerja dan bukan anggota serikat pekerja. Orang (pribadi) diklasifikasikan ke dalam kawin, tidak kawin, janda/duda. Petani diklasifikasikan ke dalam petani pemilik, petani penyewa, petani penyakap, dan buruh tani. 2. Kuantitatif Jika variabel-variabel berkaitan dengan beberapa sifat yang dapat diukur, maka klasifikasi secara kuantitatif dapat dipakai. Sebagai contoh: Keluarga diklasifikasikan menurut jumlah anak. Petani diklasifikasikan menurut luas areal tanah garapannya. Nasabah bank diklasifikasikan menurut jumlah kredit yang diambilnya. Sebaran dari data yang diklasifikasikan secara kuantitatif disebut Sebaran Frekuensi (frequency distribution). Kadang-kadang data yang telah diklasifikasikan secara kualitatif dapat diklasifikasikan kembali secara kuantitatif. Misalnya; Petani yang sebelumnya diklasifikasikan dalam petani besar, petani sedang, dan petani kecil, dapat diubah pengklasifikasiannya berdasarkan luas areal garapan dengan mengganti ukuran besar dengan 1 Ha ke atas, sedang dengan 0,51 0,99 Ha dan kecil dengan kurang dari 0,50 Ha. 3. Kronologis Data kronologis atau data deret berkala (time series) memperlihatkan angka-angka mengenai suatu fenomena tertentu pada berbagai kurun waktu tertentu. Misalnya, data tentang produksi padi selama periode 1999-2009, pengiriman TKW ke Malaysia selama periode 1995-2005, dst. Semuanya itu merupakan data kronologis. Jadi, pengklasifikasian secara

Ikhtisar Mata Kuliah Statistik Program Studi BPI, Jurusan Dakwah STAIN Palopo Oleh : Achmad Sulfikar, S.Sos.

kronologis berarti data disusun menurut urutan peristiwa kejadiannya. Pengklasifikasian ini dapat berdasarkan pada tahun, bulan, hari dan seterusnya. Kadang-kadang sebuah deret berkala dapat diganti oleh sebuah sebaran frekuensi. Misalnya sebuah perusahaan setiap tahun selama periode 10 tahun, menambah pegawai. Catatan penerimaan pegawai itu merupakan deret berkala seperti yang tampak dibawah ini. Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Pegawai yang diterima (orang) 8 10 6 7 11 9 10 6 8 5

Data ini dapat diubah dalam bentuk sebaran frekuensi dengan melihat pada lamanya pegawai itu bekerja pada perusahaan tersebut. Pegawai diklasifikasikan menurut lamanya ia bekerja;

Lama Bekerja Kurang dari 2 tahun 2 tahun hingga 4 tahun 4 tahun hingga 6 tahun 6 tahun hingga 8 tahun 8 tahun ke atas

Jumlah Pegawai 5 14 19 18 24

Ikhtisar Mata Kuliah Statistik Program Studi BPI, Jurusan Dakwah STAIN Palopo Oleh : Achmad Sulfikar, S.Sos.

4. Geografis Sebaran secara geografis sesungguhnya merupakan suatu tipe sebaran kualitatif, tetapi pada umumnya dipandang sebagai suatu klasifikasi yang berbeda. Sebagai contoh suatu klasifikasi geografis misalnya bila data penduduk diklasifikasikan menurut tempat tinggalnya. Kadang-kadang suatu sebaran geografis diubah dalam bentuk sebaran frekuensi. Misalkan, kita memiliki data geografis tentang hasil panen per Ha di tiap kecamatan. Data ini diklasifikasikan kembali menurut kelompok kelas berdasarkan hasil panen per Ha. Klasifikasi Geografis: Kecamatan A B C D E Dst Hasil Panen/Ha (kwt) 35 20 30 25 27 dst

Sebaran Frekuensi: Hasil Panen/Ha (kwt) Kurang dari 20 20 24 25 29 dst. Jumlah Kecamatan 3 8 10 dst.

Ikhtisar Mata Kuliah Statistik Program Studi BPI, Jurusan Dakwah STAIN Palopo Oleh : Achmad Sulfikar, S.Sos.

REKOMENDASI BUKU: Berikut ini saya akan mengulas sebuah buku yang sangat menarik mengenai statistik. Buku ini bukan merupakan suatu buku teori statistik atau bahan rujukan untuk mata kuliah ini, melainkan sebagai wacana alternatif yang membahas statistik dari perspektif yang berbeda.

Berbohong dengan Statistik Ada tiga macam kebohongan: ngibul, bohong, dan statistik. Benjamin Disraeli (1804-1881) Tujuh dari sepuluh wanita Indonesia memakai Laurier bunyi sebuah iklan di tivi. 70% masyarakat Sulsel siap mendukung saya kata seorang cagub dari Sulsel, dan Setiap hari terjadi 20 kasus pembunuhan di Indonesia tulis sebuah surat kabar nasional. Semua informasi yang baru saja anda baca ini diakui oleh sumber masing-masing sebagai hasil pengukuran statistik. Buku yang dibahas kali ini mirip panduan bagaimana menggunakan statistik untuk mengelabui. Karena para penipu telah mahir menerapkan berbagai trik di dalam buku ini, orangorang jujur seperti anda layak membacanya untuk membela diri. Statistik telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Kemampuan statistik menampilkan persoalan yang kompleks dalam wujud angka telah menjadikannya metode yang berdayaguna untuk menentukan pilihan. Mulai urusan belanja keluarga, menentukan merk cat tembok, susu formula untuk bayi, hingga urusan pemilihan Presiden seringkali menjadikan angka statistik sebagai bahan acuan utama. Walaupun demikian statistik bisa membuat fakta tampak berbeda, jika disusun dengan cara yang keliru, jumlah sampel tidak memadai, ataupun keduanya. Di penghujung tahun 2001 saya mengutip data dalam buku ini terjadi kecelakaan kereta api beruntun. Sebuah majalah nasional terkemuka dengan rinci mengulasnya dalam berlembar-lembar kolom investigasi Ikhtisar Mata Kuliah Statistik Program Studi BPI, Jurusan Dakwah STAIN Palopo Oleh : Achmad Sulfikar, S.Sos.

berjudul Maut Mengintai di Jalur Besi. Sangat seram! Itu belum seberapa. Keterangan selanjutnya: Frekuensi kecelakaan kereta api yang terjadi sepanjang 2001 mencapai 72 kasus. Kalau diratarata, berarti setiap lima hari sekali terjadi satu kecelakaan. Angka rata-rata itu makin menyeramkan pada tahun-tahun sebelumnya: nyaris terjadi satu kecelakaan tiap dua hari sekali.

Ternyata bepergian dengan kereta api sangat berbahaya! Tapi benarkah demikian? Bisa jadi, tetapi bisa juga tidak. (menurut penerjemah, lima hari sebelum naskah ini dicetak, 26 april 2002, tak satupun kecelakaan kereta api terjadi). Data yang dikumpulkan wartawan majalah itu mungkin benar, yaitu bahwa pada 2001 terjadi 72 kecelakaan. Tapi benarkah demikian kesimpulannya? Rata-rata kecelakaan sebenarnya akan lebih menggambarkan keadaan di lapangan seandainya dibandingkan dengan jumlah perjalanan atau panjang perjalanan itu sendiri, bukan dengan jumlah hari dalam setahun. Tidak jelas apakah kekeliruan ini disengaja oleh si penulis agar timbul kesan menyeramkan, tetapi statistik semacam itu bukanlah barang baru, sebagaimana diperlihatkan contoh-contoh dalam buku ini.

How to Lie With Statistics pertama kali terbit pada 1954 dan direvisi pada 1973. Tidak heran, contoh-contoh di dalamnya sebagian berasal dari berbagai surat kabar atau majalah terbitan sebelum 1954 hingga 1973. Beberapa data memang telah kadaluarsa, tetapi tidak demikian dengan peringatan yang terkandung didalamnya. Itulah sebabnya buku ini tergolong klasik dan dipuji oleh banyak ahli statistik. Jika anda mengetikkan How to Lie With Statistics pada mesin pencari Google, anda akan menjumpai 518.000 link yang mengulas buku klasik ini. Ikhtisar Mata Kuliah Statistik Program Studi BPI, Jurusan Dakwah STAIN Palopo Oleh : Achmad Sulfikar, S.Sos.

Di edisi bahasa Indonesia ini, penerjemah menambahkan beberapa catatan kaki pada beberapa kasus yang dirasa kurang populer untuk pembaca di Indonesia agar konteks persoalan menjadi lebih jelas.

Judul Pengarang Alih bahasa Terbitan Volume

: Berbohong dengan Statistik ( terj. How to Lie with Statistics) : Darrel Huff dan Irving Geiss 1954 : J. Soetikno PR. & Christina M. Udiani : Kepustakaan Populer Gramedia, Cetakan kedua: Agustus 2003 : xv + 167 hlm.; 13 cm X 19 cm.

Bahan/Soal UAS : Sebagai bahan UAS/Final bagi mahasiswa, tugas anda adalah membuat tulisan (bisa berbentuk makalah atau ulasan biasa) dimana dalam uraian tersebut anda akan menjawab pertanyaan; Seberapa penting statistik dalam kehidupan kita? Apa manfaat mempelajari statistik? Sejauh mana statistik bermanfaat bagi pekerjaan anda sekarang. Uraikan beberapa metode pengumpulan data yang anda ketahui. Uraikan beberapa metode sampel yang anda ketahui. Uraikan juga alasan mengapa metode tersebut dilakukan. Tugas di ketik sebanyak minimal 10 lembar (gunakan sampul kertas biasa & tidak perlu di jilid plastik). Sangat disarankan dalam mengerjakan tugas ini anda menggunakan buku-buku statistik yang bisa anda dapatkan di perpustakaan STAIN Palopo.

Ikhtisar Mata Kuliah Statistik Program Studi BPI, Jurusan Dakwah STAIN Palopo Oleh : Achmad Sulfikar, S.Sos.