Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Penelitian Bangsa Indonesia mempunyai tiga sektor kekuatan ekonomi yang melaksanakan berbagai kegiatan usaha dalam tata kehidupan. Ketiga sektor kekuatan tersebut adalah sektor negara, swasta dan koperasi. Untuk mencapai kedudukan ekonomi yang kuat dan mencapai masyarakat yang adil dan makmur maka ketiga sektor kekuatan ekonomi itu harus saling berhubungan dan bekerjasama dengan baik dan teratur. Lebih lanjut dalam pasal 33 UUD 1945 dijelaskan bahwa produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua dibawah pimpinan atau anggota-anggota masyrakat. Kemakmuran rakyatlah yang diutamakan bukan kemakmuran perseorangan. Oleh karena itu, perekonomian disusun atas asas kekeluargaan, badan usaha yang sesuai adalah koperasi. Badan usaha koperasi merupakan wadah kesatuan tindakan ekonomi dalam rangka mempertinggi efisiensi dan efektifitas pencapaian tujuan ekonomi individu anggotanya. Menurut UUD No. 25 tahun 1992 koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum sekaligus sebagai kegiatan ekonomi rakyat yang berdasar asas kekeluargaan. Sebagai badan usaha koperasi juga berarti merupakan kombinasi dari manusia, aset-aset fisik dan non fisik, informasi, dan teknologi. Sebagaimana diketahui koperasi memiliki ciri khas yang berbeda dengan badan usaha lain, yaitu dimilikinya identitas ganda (dual identity), dimana para 2

anggota koperasi disamping sebagai pemilik (owner) juga sebagai pelanggan (user) dari produk atau jasa yang dihasilkan koperasi. Selain partisipasi anggota, koperasi dapat tumbuh dan berkembang melalui manajemen aktiva yang baik, pinjaman dari kreditur, pengelolaan dana yang baik dan pengalokasian dana yang tepat. Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) merupakan koperasi primer yang anggotanya para pegawai negeri di Indonesia. Dengan dibentuknya koperasi ini diharapkan pegawai mampu berpartisipasi secara nyata dalam pembangunan sesuai dengan kemampuan masing-masing dan memetik hasil dalam usaha meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya serta masyarakat pada umumnya. Menurut survei pendahuluan, jumlah KPRI yang terdaftar di Pusat Koperasi Republik Indonesia (PKPRI) Kabupaten Temanggung adalah 49 koperasi. Sebagian besar KPRI yang ada di Temanggung memiliki kegiatan atau bidang usaha yang hampir sama yaitu usaha pertokoan dan unit simpan pinjam. Untuk penelitian ini akan lebih berfokus pada KPRI Unit simpan pinjam (USP) dengan pertimbangan, USP adalah unit usaha yang paling menonjol, USP mempunyai kedudukan yang sangat vital terutama menunjang sektor riil yang diusahakan oleh masyarakat koperasi serta USP sangat dibutuhkan dan dimanfaatkan oleh anggota koperasi dalam rangka meningkatkan modal usaha maupun memenuhi kebutuhannya. Kegiatan dari USP adalah menerima simpanan (sejumlah uang yang disetorkan oleh anggota pada koperasi ). Terkait dengan kegiatan ini maka USP memiliki kewajiban bunga yang harus dibayarkan dalam periode tertentu. Selain

menerima simpanan atau tabungan dari anggota, USP mempunyai kegiatan lain 3 yaitu memberikan pelayanan pinjaman bagi anggota yang membutuhkan. Dengan adanya unit ini maka dapat memberikan kemudahan bagi anggota untuk memperoleh pinjaman yang sangat diperlukan. Semakin banyak anggota yang melakukan pinjaman dan tepat waktu dalam pengembaliannya maka hal ini akan meningkatkan laba koperasi atau simpan pinjam. Tujuan perusahaan pada umumnya adalah memperoleh laba begitu pula dengan koperasi, walaupun usaha koperasi bukan semata-mata berorientasi pada laba, namun didalam menjalankan aktivitas usahanya koperasi harus memperhatikan bagaimana upaya yang dapat dilakukan agar posisinya tetap menguntungkan sehingga kelangsungan usahanya dapat terjaga. Rentabilitas adalah menunjukkan kemampuan suatu badan usaha menghasilkan laba selama periode tertentu (Munawir, 2001:33). Rentabilitas sering digunakan untuk mengukur efisiensi modal dalam suatu perusahaan dengan memperbandingkan antara laba dengan modal yang digunakan dalam operasi, oleh karena itu keuntungan yang besar tidak menjamin atau bukan merupakan ukuran bahwa perusahaan tersebut rendabel. Oleh karena itu bagi manajemen atau pihak-pihak lain, rentabilitas yang tinggi lebih penting dari pada keuntungan yang besar. Bagi koperasi rentabilitas adalah penting sebagai ukuran koperasi itu telah dapat bekerja dengan efisisen atau tidak. Efisien baru diketahui dengan memperbandingkan antara laba yang diperoleh dalam suatu periode dengan

jumlah aktiva atau jumlah modal koperasi. Dengan kata lain, menghitung rentabilitasnya. 4 Berdasarkan laporan keuangan pada 15 objek KPRI USP tahun 20032005, tingkat rentabilitas ekonomi KPRI di Kabupaten Temanggung rata-rata yang dicapai selama tiga tahun adalah 6.92 %, 7.22 %, 6.47%. Apabila dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan oleh Depkop&UKM yaitu tingkat rentabilitas ekonomi koperasi yang efisien yaitu 8 %, maka pada tahun 2003-2005 tingkat rentabilitas ekonomi pada KPRI USP di Kabupaten Temanggung belum efisien. Hal ini menunjukkan pengelolaan harta yang dimiliki kurang optimal. Masih rendahnya rentabilitas yang dicapai oleh KPRI USP di Kabupaten Temanggung menunjukkan juga bahwa pengelolaan komponen modal kerja yang terdiri dari kas dan piutang yang dimiliki masih belum efektif dan efisien. Koperasi Simpan Pinjam memerlukan pengelolaan yang baik tentang modal kerjanya yang meliputi kas dan piutangnya serta perlu mengetahui rentabilitasnya. Agar koperasi dapat mencapai rentabilitas seperti yang dikehendaki, maka sebaiknya pihak koperasi dapat mengelola harta (Asset) yang dimiliki dengan baik diantaranya adalah likuiditasnya, melalui rasio likuiditas dan rasio aktivitas. Untuk mengetahui kemampuan koperasi dalam memenuhi kewajiban finansiilnya yang harus segera terpenuhi serta untuk memperoleh gambaran tentang seberapa efektif koperasi mengelola aktivanya perlu dilakukan analisis

keuangan koperasi khususnya mengenai likuiditas dan aktivitas koperasi simpan pinjam. Analisis digunakan untuk memberikan petunjuk dan gejala-gejala serta informasi keuangan lainnya mengenai keadaan keuangan koperasi simpan pinjam 5 Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat diambil judul dalam penelitian ini yaitu Analisis Rasio Likuiditas dan Rasio Aktivitas Terhadap Rentabilitas Ekonomi pada Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Unit Simpan Pinjam di Kabupaten Temanggung tahun 2003-2005 1. 2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas dan untuk mengetahui gambaran yang benar mengenai kondisi keuangan dan perkembangan terutama hal-hal yang berkaitan dengan analisis laporan keuangan khususnya mengenai masalah likuiditas dan aktivitas serta rentabilitas KPRI USP di Kabupaten Temanggung, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana kondisi rasio likuiditas, aktivitas dan rentabilitas ekonomi pada KPRI USP di Kabupaten Temanggung? 2. Seberapa efektif tingkat rasio likuiditas, aktivitas dan rentabilitas ekonomi pada KPRI USP di Kabupaten Temanggung? 3. Apakah rasio likuiditas dan rasio aktivitas berpengaruh terhadap rentabilitas ekonomi baik secara simultan maupun secara parsial? 1.3 Penegasan Istilah Penegasan istilah dalam penelitian ini mencakup pengertian-pengertian istilah dalam judul skripsi. Hal ini digunakan untuk memberikan gambaran yang

jelas serta memudahkan dalam menelaah isi penelitian ini. Adapun penegasan istilah yang dimaksudkan adalah sebagai berikut: 6 1.3.1 Likuiditas Adalah kemampuan perusahaan atau badan usaha untuk memenuhi kewajiban finansiilnya yang harus segera dipenuhi (Riyanto, 1997:25). Dalam penelitian ini likuiditas yang diambil adalah likuiditas KPRI di Kabupaten Temanggung tahun 2003 s.d 2005. Indikator pengukuran likuiditas melalui current ratio dan acid test ratio. 1.3.2 Aktivitas Adalah kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam suatu periode tertentu. Indikator pengukuran aktivitas pada penelitian ini menggunakan rasio cash turnover dan receivable turnover. 1.3.3 Rentabilitas Adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Riyanto, 1997:35). Dalam penelitian ini Rentabilitas yang dimaksud adalah rentabilitas yang menunjukkan perbandingan antara laba koperasi dengan total aktiva yang menghasilkan laba tersebut. Indikator pengukuran rentabilitas pada penelitian ini menggunakan rasio rentabilitas ekonomi. 1.3.4 KPRI Adalah suatu badan koperasi yang beranggotakan para pegawai negeri. Pegawai negeri yaitu pegawai pemerintah yang berada diluar politik,

bertugas melaksanakan administrasi pemerintah berdasarkan perundangundangan yang telah ditetapkan. (Tim penyusun kamus pusat pembinaan dan pengembangan bahasa 1989: 65). Adapun KPRI dalam penelitian ini adalah KPRI unit simpan pinjam yang menjadi anggota PKPRI Kabupaten Temanggung. 7 1.4 Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi, maka tujuan diadakannya penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui kondisi rasio likuiditas, aktivitas dan rentabilitas ekonomi pada KPRI USP di Kabupaten Temanggung. 2. Untuk mengetahui seberapa efektif tingkat rasio likuiditas, aktivitas dan rentabilitas ekonomi pada KPRI USP di Kabupaten Temanggung 3. Untuk menguji secara simultan dan secara parsial pengaruh Rasio Likuiditas dan rasio terhadap rentabilitas ekonomi pada KPRI USP di Kabupaten Temanggung. 1.5 Kegunaan Penelitian Adapun hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1.5.1 Manfaat teoritis Secara akademis penelitian ini bermanfaat sebagai bahan kajian dalam menambah khasanah ilmu pengetahuan dibidang akuntansi terutama mengenai penerapan rasio keuangan dalam perkoperasian. Dapat

mengetahui sejauh mana pengaruh rasio likuiditas dan rasio aktivitas terhadap rentabilitas koperasi serta memberikan rangsangan dalam melakukan penelitian lanjutan dengan topik dan pembahasan yang berkaitan dengan penelitian ini. 1.5.2 Manfaat Praktis a. Bagi PKPRI 8 Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui kinerja masing-masing koperasi yang bernaung dibawah PKPRI dengan menganalisa laporan keuangan dari masing-masing koperasi. b. Bagi KPRI Dapat digunakan untuk menilai kinerja keuangan koperasi dilihat dari laporan keuangan yang menyangkut aspek-aspek hasil yang telah dicapai, kondisi finansiil yang menyangkut kewajiban dan kemungkinan pertumbuhan laba dimasa yang akan datang sehingga berguna sebagai bahan masukan bagi manajemen koperasi dalam mengambil kebijakan-kebijakan. c. Bagi Akademisi Penelitian ini diharapkan mampu menciptakan kemampuan dalam menganalisis Laporan keuangan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan para civitas akademika khususnya dalam hal yang berkaitan dengan rasio keuangan. BAB II

LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR 2.1 Perkoperasian 2.1.1 Pengertian Koperasi Pegawai Republik Indonesia ( KPRI ) KPRI adalah suatu badan koperasi yang beranggotakan para pegawai negeri dapat diartikan pegawai pemerintah yang berada diluar politik, bertugas melakukan administrasi pemerintah berdasarkan perundang-undangan yang ditetapkan. (Anoraga, 1997:4). KPRI menurut Chaniago Arifinal adalah suatu jenis koperasi fungsional merupakan wadah untuk menampung kegiatan-kegiatan karyawan dalam usaha meningkatkan kesejahteraan anggotanya, sedangkan menurut Ninik (2003: 110) yang dimaksud KPRI adalah koperasi fungsional yang merupakan wadah yang berusaha dibidang konsumsi yang anggotanya dilingkungan tertentu untuk memenuhi kebutuhan anggotanya. Sebagaimana kita ketahui, anggota KPRI adalah gabungan masyarakat yang mempunyai pendapatan yang tetap dan karenanya perjuangan KPRI hendaknya diarahkan ketujuan: a. Minimal mempertahankan tingkat hidup anggotanya sebagai landasan, pangkal tolak dan untuk menigkatkan tingkat hidupnya . b. Maksimal memperbaiki kualitas hidup anggotanya. Pegawai negeri diwajibkan untuk menjadi anggota dan pada koperasi yang ada pada instansi kantor atau jawatan (Sagimun, 1990:90) sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku maka setiap pegawai negeri tersebut tidak hanya sebagai abdi negara akan tetapi mereka juga

10 menjadi pejuang pembangunan nasional dibidang ekonomi untuk mempercepat tercapainya masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila. Menurut Pratama (2000:156) koperasi simpan pinjam adalah koperasi yang didirikan guna menolong anggotanya dengan meminjamkan uang atau kredit dengan bunga kecil. Koperasi simpan pinjam adalah koperasi yang melaksanakan kegiatan usahanya hanya usaha simpan pinjam (Depkop, 1999:33). Dalam penelitian ini yang dimaksud adalah KPRI yang bergerak dalam simpan pinjam untuk membantu para anggotanya guna memenuhi modal yang diperlukan. 2.1.2 Modal koperasi Untuk menjalankan setiap usaha dalam koperasi, permodalan unsur yang sangat penting menurut UU No. 25 Tahun 1992 modal koperasi terdiri dari: 1. Modal Sendiri 1.1) Simpanan Pokok 1.2) Simpanan Wajib 1.3) Dana Cadangan 1.4) Hibah 2. Modal Pinjaman. Modal pinjaman merupakan modal dari luar koperasi, berupa: 1.1) Anggota

1.2) Koperasi lain 11 1.3) Bank dan Lembaga lain 1.4) Penerbitan obligasi 1.5) Sumber Lain yang sah Menurut Sukamdiyo (1996: 77-78) ada beberapa simpanan pada anggota koperasi antara lain: 1) Simpanan pokok 2) Simpanan wajib 3) Simpanan wajib khusus 4) Simpanan sukarela Modal untuk unit simpan pinjam berupa: 1) Modal tetap 1.1) Modal yang disetor pada awal pendirian 1.2) Modal tambahan dari koperasi yang bersangkutan 1.3) Cadangan yang disishkan dari keuntungan koperasi 2) Modal tidak tetap 1.1) Modal penyertaan 1.2) Pinjaman dari pihak ketiga Unit usaha simpan pinjam (USP) sebagai unit koperasi yang memiliki fungsi menyimpan dana dari anggota, maka faktor kepercayaan dari anggota sangat penting. Dengan semakin banyak anggota yang menyimpan dana ke USP, berarti modal USP semakin kuat dan dapat

digunakan untuk menjaga posisi likuiditas dan investasi dalam aktiva tetap. Dalam aspek permodalan komponen yang dinilai meliputi perbandingan rasio modal sendiri terhadap asset dan rasio modal sendiri 12 terhadap pinjaman, sedangkan total asset adalah merupakan kekayaan USP yang antara lain berupa: 1) Dana atau uang dalam bentuk uang tunai yang disimpan sebagai kas. 2) Dana atau uang yang disimpan di bank dalam bentuk giro, tabungan dan deposito. 3) Dana yang disimpan di USP dalam bentuk Tabkop dan Sijakop. 4) Penanaman dalam bentuk surat berharga. 5) Penanaman dalam bentuk pinjaman yang diberikan 6) Penanaman dalam bentuk penyertaan dalam badan usaha lain. 2.2 Laporan Keuangan Koperasi Menurut Prinsip-Prinsip Akuntansi Indonesia, yang dimaksud Laporan keuangan adalah neraca dan perhitungan rugi-laba serta segala keterangan yang dimuat dalam lampirannya, antara lain laporan tentang sumber dan penggunaan dana. Laporan keuangan merupakan produk akhir dari suatu proses akuntansi. Laporan keuangan inilah yang menjadi bahan informasi bagi para pemakainya sebagai salah satu bahan dalam proses pengambilan keputusan. Disamping sebagai informasi, laporan keuangan berperan sebagai pertanggungjawaban, laporan keuangan juga dapat

menggambarkan indikator kesuksesan suatu perusahaan mencapai tujuannya. (Harahap, 2002: 7) 13 Laporan keuangan koperasi merupakan laporan keuangan yang disusun untuk dapat menggambarkan posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas perusahaan secara keseluruhan sebagai pertanggungjawaban pengurus atas pengelolaan keuangan koperasi yang terutama ditujukan kepada anggota koperasi. Laporan keuangan koperasi sebagai badan usaha, pada dasarnya tidak berbeda dengan laporan keuangan yang dibuat oleh badan usaha lain seperti badan usaha swasta dan badan usaha milik negara. Menurut IAI dalam PSAK No.27 tentang Akuntansi perkoperasian paragraf 74, Laporan keuangan koperasi meliputi Neraca, Perhitungan Hasil usaha, Laporan Arus Kas, Laporan Promosi Ekonomi Anggota, dan catatan atas laporan keuangan. Perhitungan SHU sesuai dengan UU No. 25 tahun 1992 tentang pokok-pokok perkoperasian pasal 45 ayat (1) adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku yang bersangkutan. Dengan demikian SHU sebelum pajak Laporan Perhitungan SHU menurut UU No.25 tahun 1992 pasal 45 terdiri: 1. Pendapatan Operasional Pendapatan operasional USP berupa: 1). Pendapatan bunga

Bunga atas pinjaman yang diperoleh USP. Bunga dari bank berupa giro, tabungan dan deposito Bunga dari koperasi berupa tabungan dan simpanan berjangka. 14 Pendapatan administrasi. 2). Pendapatan operasional lainnya. 2. Beban Operasional Beban operasional USP berupa; 1). Beban biaya bunga 2). Biaya bunga pinjaman 3). Beban komisi atau profisi 4). Biaya umum dan administrasi 5). Biaya organisasi 3. Beban Non Operasonal 2.3 Analisa Rasio 2.3.1 Pengertian Analisis Rasio Keuangan Analisis rasio adalah suatu metode untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laba-rugi secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut (Munawir, 2002:37). Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perlambangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio yang akan menjelaskan atau menggambarkan kepada penganalisa

baik atau buruknya keadaan posisi keuangan suatu perusahaan. Dari definisi tersebut diatas, maka dapat disimpulkan analisa rasio keuangan adalah teknik atau alat untuk mengukur prestasi perusahaan dalam hal menentukan tingkat likuiditas, solvabilitas, keefektifan operasi 15 serta derajat keuntungan perusahaan dengan menghubungkan antar pospos dalam neraca atau laporan rugi-laba atau kombinasi dari keduanya. 2.3.2 Tujuan dan Kegunaan Analisa Rasio Keuangan Tujuan dari analisis rasio keuangan adalah membantu manajer dalam memahami apa yang perlu dilakukan perusahaan sehubungan dengan informasi yang berasal keuangan yang sifatnya terbatas. Dengan menggunakan rasio-rasio tertentu manajer akan memperoleh suatu informasi tentang kekuatan dan kelemahan perusahaan dibidang keuangan. Dari informasi tersebut, manajer dapat membuta keputusan-keputusan penting dimasa yyang akan datang. Bagi pihak ekstern, analisis rasio keuangan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan keuangan suatu perusahaan. Untuk selanjutnya mereka dapat memutuskan apakah akan membeli, menahan atau menjual saham perusahaan tersebut. Apabila dari hasil analisis perusahaan memiliki kesehatan atau perkembangan keuangan kurang baik, maka investor akan lebih berhati-hati. Manfaat dari analisis rasio keuangan dapat diketahui adanya kelemahan-kelemahan dari tahun-tahun sebelumnya. Manfaat lain adalah

dapat memberikan informasi apakah perusahaan dalam aspek keuangan tertentu berada diatas rata-rata, pada rata-rata atau dibawah rata-rata. Apabila diketahui bahwa perusahaan dibawah rata-rata maka pimpinan perusahaan akan mencari faktor-faktor yang menyebabkannya untuk 16 kemudian diambil kebijakan keuangan sehingga dapat meningkatkan rasio keuangan. 2.3.3 Macam-macam Analisa Rasio Keuangan Menurut munawir (2002:68) pada dasarnya banyak sekali angka rasio itu karena rasio dibuat menurut kebutuhan penganalisa. Namun demikian angka-angka rasio pada dasarnya dapat digolongkan menjadi 2 yaitu sumber data keuangannya dan berdasarkan tujuan penganalisa. Berdasarkan sumber datanya angka rasio dibedakan menjadi (Munawir, 2002:68) a. Rasio-rasio neraca (Balanche sheet ratio) b. Rasio-rasio laporan laba-rugi (Income statement ratio) c. Rasio-rasio antar laporan (Inter statement ratio) Berdasarkan tujuan penganalisa angka rasio dapat digolongkan antara lain (1) rasio-rasio likuiditas, (2) rasio-rasio solvabilitas, (3) rasiorasio rentabilitas, (4) rasio-rasio lain yang sesuai dengan kebutuhan penganalisa misalnya rasio-rasio aktivitas (Munawir, 2002:69) Menurut Robert Anggoro (1997:18-23) rasio keuangan dapat dikelompokkan menjadi lima jenis berdasarkan ruang lingkup atau tujuan

yang ingin dicapai, yaitu: a. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio) Rasio ini menyatakan kemampuan peruasahaan dalam jangka pendek untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo b. Rasio Aktivitas ( Acti vity Ratio) 17 Rasio ini menunjukkan kemampuan serta efisiensi perusahaan didalam memanfaatkan harta yang dimilikinya c. Rasio Rentabilitas atau Profitabilitas (Profitability Ratio) Rasio ini menunjukkan keberhasilan perusahaan didalam menghasilkan keuntungan. d. Rasio Solvabilitas (Solvency Ratio) Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Rasio ini disebut juga leverage ratio e. Rasio Pasar (Market Ratio) Rasio ini menunjukkan informasi penting perusahaan yang diungkapkan dalam basis perusahaan 2.4 Rasio Likuiditas Likuiditas adalah kemampuan perusahaan atau badan usaha untuk memenuhi kewajiban finansiilnya yang harus segera dipenuhi (Riyanto, 1997:25). Menurut Nitisemito (1989;107) Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya yang harus segera dibayar. Jadi likuiditas adalah menunjukkan koperasi untuk melunasi hutang jangka pendeknya pada saat jatuh

tempo. Koperasi simpan pinjam (KSP) dikatakan likuid bila posisi dana lancar yang tersedia cukup untuk memenuhi kewajiban jangka pendek (kewaiban lancar) Sebaliknya KSP dinyatakan ilikuid bila posisi dana lancar yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Aspek yang perlu diperhatikan dalam menganalisis likuiditas menurut PP N0. 9 tahun 1995 adalah: 18 1) Penyediaan aktiva lancar yang mencukupi untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. 2) Rasio antara pinjaman yang diberikan dengan dana yang telah dihimpun Rasio likuiditas adalah perbandingan yang digunakan badan usaha koperasi untuk menilai dan menggambarkan posisi keuangan dalam jangka pendek yaitu untuk mengetahui kemampuan koperasi dalam menyediakan alatalat yang likuid (mudah diuangkan) guna menjamin pengembalian hutang-hutang jangka pendek pada waktunya atau jangka panjang yang telah atau akan jatuh tempo. Rasio-rasio yang dapat dipakai untuk menentukan kemampuan membayar utang jangka pendek perusahaan adalah sebagai berikut: 1) Rasio lancar (Current Ratio) Current ratio yaitu kemampuan perusahaan membayar hutang yang harus segera dipenuhi denagn aktiva lancar (Riyanto, 2001:332). Current ratio dapat dihitung dengan membandingkan antara jumlah aktiva lancar dengan hutang lancar.

Aktiva lancar menggambarkan alat bayar dan diasumsikan semua aktiva lancar benar-benar bisa digunakan untuk membayar. Sedangkan hutang lancar menggambarkan yang harus dibayar dan diasumsikan kewajiban yang benar-benar dibayar. Rumus: Current Ratio = Hu gLancar AktivaLancar tan X 100 % Contoh: Rp. 1.500.000,00 Rp 3.000.000,00 X 100 % = 200% 19 Menurut Riyanto (2001: 26) Current ratio kurang dari 2:1 dianggap kurang baik, sebab apabila aktiva lancar turun sampai lebih dari 50%, maka jumlah aktiva tidak mencukupi lagi untuk menutup utang lancarnya. Standar normal Current Ratio untuk analisis koperasi sebesar 175%-200% (Depkop&PPKM: 2002) 2) Rasio Cepat (Quick Ratio/ Acid Test Ratio) Riyanto (2001: 104) menyatakan Acid test ratio adalah kemampuan untuk membayar hutang yang harus segera dipenuhi dengan aktiva lancar yang lebih likuid.

Rasio ini merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendek dengan asset yang dimiliki koperasi. Rasio ini lebih tajam dari current ratio, karena hanya membandingkan aktiva yang sangat likuid dengan hutang lancar. Jika Current ratio tinggi tapi Quick ratio rendah menunjukkan adanya investasi yang sangat besar dalam persediaan. Rumus: Cash ratio = Hutang Lancar Kas + Bank + Piutang X100% Contoh: Rp. 1.000.000,00 Rp1.850.000,00 X 100% = 185% Standar normal Acid Test Ratio dalam koperasi adalah 175%-200% (DepKop&PPKM: 2002) 2.5 Rasio Aktivitas Aktivitas adalah kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam suatu periode tertentu (Setiawan, 2005: 19). 20 Menurut Tunggal, Amin Wijaya (1996:6) Aktivitas adalah suatu langkah dalam proses produksi yang memperhatikan untuk menyelesaikan suatu proses. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa aktivitas adalah

kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam proses produksi suatu periode tertentu. Aktivitas menggambarkan apa yang koperasi lakukan, cara waktu digunakan, proses dan keluaran. Rasio aktivitas mengukur seberapa efektif koperasi mengelola aktivanya. Jika koperasi memiliki terlalu banyak aktiva, maka biaya modalnya akan menjadi terlalu tinggi dan akibatnya laba akan menurun. Disisi lain jika aktiva terlalu rendah maka penjualan yang menguntungkan akan hilang. Rasio aktivitas berisikan perbandingan antara tingkat penjualan dan investasi dalam berbagai harta. Untuk mengukur rasio aktivitas dapat digunakan rasio sebagai berikut: 1. Receivable Turnover (Piutang Dagang) Piutang yang dimiliki oleh koperasi dalam hal ini jenis usaha simpan pinjam mempunyai hubungan yang erat dengan volume kredit yang diberikan. Posisi hutang dan taksiran waktu pengumpulannya dapat dinilai dengan menghitung tingkat perputaran piutang tersebut, yaitu dengan membagi total kredit yang diberikan dengan piutang rata- rata. Receivable Turnover = Rata - rata piutang Kredit yang diberikan X kali Makin tinggi rasio perputaran menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang rendah, sebaliknya kalau rasio semakin rendah berarti ada over investment dalam piutang sehingga memerlukan analisis 21 lebih lanjut, mungkin karena bagian kredit dan penagihan bekerja tidak

efektif atau mungkin ada perubahan dalam kebijaksanaan pemberian kredit. Contoh: Rp. 14.229.425,00 Rp. 226.900.100,00 X Kali = 16 kali Standar normal Recevable Turnover dalam koperasi adalah >15 kali (DepKop&PPKM: 2002) 2. Cash Turnover (Perputaran kas) Perputaran kas adalah Perbandingan antara jumlah kredit yang diberikan dengan nilai rata-rata kas yang dimiliki oleh koperasi ( Riyanto, 1999: 95). Tingkat perputaran kas merupakan ukuran efisiensi penggunaan kas yang dilakukan oleh koperasi. Dikatakan sebagai ukuran efisiensi karena tingkat perputaran kas menggambarkan kecepatan arus kas kembalinya kas yang telah ditanamkan dalam modal kerja. Rumus : cash turnover = Rata - rata kas Kredit yang diberikan X kali Contoh: Rp. 8.847.189,00 Rp. 416.149.050,00 X Kali = 47 kali Standar normal untuk cash Turnover dalam koperasi adalah >45 kali (DepKop&PPKM: 2002) Jika koperasi memiliki tingkat perputaran kas yang tinggi maka akan

semakin baik. Hal ini menandakan bahwa pemberian kredit tinggi yang 22 berarti pula koperasi dapat mencapai rentabilitas yang tinggi. Sebaliknya jika rasio ini rendah menandakan bahwa pemberian kredit juga rendah atau banyak dana yang tertanam dalam kas. Jika kas terlalu besar jumlahnya dan tidak digunakan untuk investasi (iddle money) maka koperasi akan mendapatkan tingkat rentabilitas yang rendah. 2.6 Rentabilitas Rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Dengan kata lain, Rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Pada umumnya rentabilitas dapat dirumuskan: Rentabilitas = Modal Laba Usaha X 100% Menurut Bawsir ( 1997: 173) yang dimaksud rentabilitas adalah kemampuan dalam menghasilkan laba, baik dengan menggunakan data eksternal maupun dengan data internal. Dari kedua pernyataan tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu yang dinyatakan dalam prosentase. Rentabilitas suatu koperasi diukur dengan kesuksesan koperasi dan kemampuan menggunakan aktiva yang produktif. Dengan demikian rentabilitas suatu koperasi dapat diketahui dengan membandingkan antara laba yang diperoleh

dalam suatu periode dengan jumlah aktiva atau modal koperasi tersebut. Menurut Riyanto ( 1997: 36) Rentabilitas dibedakan menjadi dua, yaitu Rentabilitas ekonomi dan Rentabilitas modal sendiri. 23 1) Rentabilitas Ekonomi Rentabilitas ekonomi adalah perbandingan antara laba usaha dengan modal sendiri dan modal asing yang dipergunakan untuk menghasilkan laba tersebut dan dinyatakan dalam prosentase (Riyanto, 1997: 36). Oleh karena pengertian Rentabilitas sering digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal dalam suatu perusahaan, maka Rentabilitas ekonomi sering pula dimaksudkan sebagai kemampuan suatu perusahaan dengan seluruh modal yang bekerja didalamnya dalam menghasilkan laba. Rentabilitas ekonomi = Total Aktiva Laba Usaha (SHU) X 100% Rentabilitas ekonomi atau sering disebut earning power mempunyai arti penting dalam perusahaan, maka perlu diusahakan agar Rentabilitas meningkat. Menurut Riyanto (1997: 37) tinggi rendahnya Rentabilitas dipengaruhi oleh dua faktor: 1.1) Profit margin Adalah perbandingan antara laba usaha dengan penjualan usaha yang dinyatakan dalam persentase. Profit Margin =

Penjualan Usaha Laba Usaha X 100% 1.2) Turnover of Operating Asset ( tingkat perputaran aktiva usaha) Adalah kecepatan berputarnya operating asset dalam suatu periode tertentu. Perputaran tersebut dapat ditentukan dengan membagi penjualan bersih dengan modal usaha. Turnover of Operating Asset = Modal Usaha Penjualan Bersih X 100% 24 Dengan demikian dapat dikatakan bahwa profit margin dimaksudkan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan melihat besar kecilnya laba usaha dalam hubungannya dengan penjualan. Sedangkan operating asset turnover dimaksudkan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan melihat pada kecepatan perputaran operating asset dalam suatu periode tertentu. Hasil akhir dari percampuran keduanya ini menentukan tinggi rendahnya earning power. Oleh karena itu makin tinggi tingkat profit margin atau operating asset turnover, masing-masing atau keduanya akan mengakibatkan naiknya earning power. Hubungan antara keduanya dapat digambarkan sebagai berikut: Rentabilitas = Profit Margin X Operating asset turnover =

Penjualan Bersih Laba Usaha X Modal Usaha Penjualan Bersih = Modal Usaha Laba Usaha 2) Rentabilitas modal sendiri Rentabilitas modal sendiri atau sering dinamakan Rentabilitas usaha adalah perbandingan antara jumlah laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri disatu pihak dengan jumlah modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut dilain pihak. Dengan kata lain rentabilitas modal sendiri adalah kemampuan suatu perusahaan dengan modal sendiri yang bekerja didalamnya untuk menghasilkan keuntungan (Riyanto, 1997: 44) Rentabilitas Modal sendiri = Modal sendiri Laba Usaha (SHU) X 100% 25 Faktor- faktor penentu tinggi rendahnya rentabilitas modal sendiri adalah: a. Rentabilitas Ekonomi Tingkat rentabilitas ekonomi dapat mempengaruhi rentabilitas modal sendiri, dalam hal ini dapat dilihat pada unsur yang berhunungan dengan rentabilitas modal sendiri. Menurut Riyanto (1997: 36),

Rentabilitas ekonomi adalah perbandingan antara laba dengan modal sendiri dan modal pinjaman yang dipergunakan untuk menghasilkan laba tersebut dan dinyatakan dalam persentase. Maka, jelas rentabilitas ekonomi mempunyai hubungan erat dengan rentabilitas modal sendiri mengingat besar kecilnya keuntungan atau laba menjadi hak para pemilik modal. b. Tingkat bunga modal pinjaman Laba yang diperhitungkan didalam menghitung rentabilitas modal sendiri adalah laba bersih, yaitu laba kotor setelah dikurangi bunga modal pinjaman dan pajak perseroan. Semakin tinggi tingkat bunga modal pinjaman yang harus dibayar, berarti akan memeperkecil laba yang menjadi bagian pemilik modal sendiri. c. Tingkat pajak pendapatan Penghasilan kena pajak dihitung dengan mengurangi semua biaya, termasuk penyusutan dan bunga dari pendapatan kotornya. Semakin tinggi tingkat pajak yang ditentukan pemerintah, maka akan memperkecil laba yang menjadi hak bagi pemilik dan sebaliknya. Hal ini menyebabkan rentabilitas modal sendiri terpengaruh. 26 2.7 Kerangka Berfikir KPRI merupakan koperasi primer yang anggotanya para pegawai negeri di Indonesia. KPRI bertujuan mencari laba untuk melanjutkan usahanya, watak sosial ditujukan bahwa koperasi mencari laba bukan untuk

perseorangan tetapi untuk kemakmuran seluruh anggota. Untuk mewujudkan tujuan tersebut koperasi menjalankan aktivitas usahanya, memperhatikan bagaimana upaya yang dapat dilakukan agar posisinya tetap menguntungkan sehingga kelangsungan usahanya dapat terjaga. Agar keberlangsungan usaha koperasi tetap terjaga koperasi harus dikelola dengan baik. Salah satu aspek pengelolaannya adalah dengan melakukan pencatatan dalam suatu sistem pembukuan yang disebut akuntansi. Hasil akhir dari proses akuntansi adalah laporan keuangan yang menunjukkan hasil-hasil usaha koperasi dan keadaan keuangan koperasi. Laporan keuangan didalamnya terdapat informasi yang sangat berharga dalam menilai suatu perusahaan atau koperasi. Disamping sebagai alat pertanggungjawaban pengurus kepada anggota, yang tidak kalah penting selain laporan keuangan koperasi adalah analisa rasio keuangan. Rasio akan mempermudah dalam upaya pembandingan kinerja koperasi dengan Standar dari DepKop&UKM 2002. Dari hasil analisis dapat diketahui kesehatan koperasi dan perkembangan koperasi. Analisa rasio dapat menunjukkan hubungan diantara pos-pos yang terpilih dari data laporan keuangan serta untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan finansial koperasi. 27 Untuk mengetahui kemampuan koperasi dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang harus segera di penuhi dengan menggunakan aktiva lancar dapat dilihat tingkat likuiditasnya melalui Current ratio dan Acid Test Ratio, sedangkan untuk mengetahui kemampuan koperasi dalam mengelola

aktivanya dapat dilihat tingkat aktivitasnya melalui Receivable Turnover dan Cash Turnover. Current ratio menunjukkan tingkat keamanan (Margin of safety) kreditur jangka pendek, atau kemampuan koperasi untuk membayar hutanghutang tersebut. Semakin tinggi current ratio menunjukkan adanya kelebihan uang kas atau aktiva lancar lainnya dibandingkan dengan yang dibutuhkan sekarang atau dengan asumsi bahwa semua aktiva lancar dikonversikan kedalam kas. Adanya kelebihan uang kas menyebabkan sebagian menganggur dalam suatu kopeasi dikarenakan dana tersebut tidak digunakan untuk operasi. Jika terlalu lama sebuah kopeasi memiliki dana menganggur maka mengalami penurunan pendapatan dikarenakan kehilangan kesempatan untuk menginvestasikan dananya, yang akibatnya laba juga akan menurun. Sehingga dari uraian diatas dapat dipahami bahwa tingginya current ratio akan mempengaruhi laba. Acid Test Ratio adalah kemampuan koperasi dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan tidak memperhitungkan persediaan. Tingginya Acid test rasio berarti adanya investasi yang besar di koperasi. Dengan demikian, akan mengakibatkan adanya dana yang menganggur karena dana tersebut tidak digunakan untuk investasi sehingga tidak ada 28 kembalian yang akan diperoleh koperasi, dengan demikian rentabilitas koperasi akan menurun. Cash Turnover yaitu dengan membagi total kredit yang diberikan

dengan kas rata-rata. Pada tingkat perputaran kas yang tinggi pada satu sisi volume penjualan menjadi tinggi sedangkan lain biaya atau resiko yang ditanggung menjadi besar. Besarnya laba yang diterima koperasi akan membuat tingkat rentabilitas ekonomi menjadi tinggi. Dengan demikian, tingkat perputaran kas mempengaruhi tingkat rentabilitas ekonomi. Semakin cepat atau tinggi tingkat perputaran kas semakin tinggi pula tingkat rentabilitas ekonomi. Receivable turnover yaitu dengan membagi total kredit yang diberikan dengan piutang rata-rata. Tinggi rendahnya tingkat perputaran piutang mempunyai efek yang langsung terhadap besar kecilnya modal yang diinvestasikan dalam piutang. Pada tingkat perputaran piutang yang tinggi disatu sisi akan menghasilkan jasa pinjaman atau laba dalam jumlah yang banyak sedangkan pada sisi lain adalah meminimalkan biaya. Dengan demikian laba bersih yang diterima perusahaan akan mempertinggi tingkat rentabilitas ekonomi, semakin lama semakin kecil tingkat perputaran piutang dalam satu periode. Dengan demikian, tingkat perputaran piutang akan mempengaruhi rentabilitas. Dari uraian tersebut, dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut: 29 Gambar 1 Skema Kerangka Berfikir 2.8 Hipotesis

Dalam penelitian ini perlu diberikan hipotesis dimana hipotesis ini merupakan dugaan yang mungkin benar mungkin salah. Hipotesis menurut Djarwanto PS dan Pangestu Subagio (1995:183) adalah pernyataan mengenai suatu hal yang harus diteliti kebenarannya. Dengan demikian hipotesis merupakan anggapan sementara bersifat sebagai pedoman untuk mempermudah jalannya penelitian. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Ada pengaruh rasio likuiditas dan rasio aktivitas terhadap rentabilitas ekonomi. 2. Tidak ada pengaruh antara rasio likuiditas dan rasio aktivitas terhadap rentabilitas ekonomi. Current Ratio Likuiditas (X1) Lapo ran Keua ngan Bisnis KPRI Rentabilitas ekonomi (Y) Standar

DepKop& UKM 2002 Acid Test Ratio Recievable turnover Aktivitas (X2) Cash turnover