Anda di halaman 1dari 6

Adhelia Desi Prawestri A K7411004

PENENTUAN HARGA PELAYANAN PUBLIK


Salah satu tugas pokok pemerintah adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat (public services). Pemberian pelayanan publik pada dasarnya dibiayai melalui 2 sumber, yaitu melalui pajak dan pembebanan langsung kepada masyarakat sebagai konsumen jasa publik. Permasalahan yang kemudian muncul adalah apakah suatu pelayanan publik lebih baik dibiayai melalui pajak atau dengan pembebanan langsung kepada konsumen. A. PELAYANAN PUBLIK YANG DAPAT DIJUAL Dalam memberikan memberikan pelayanan publik, pemerintahan dapat dibenarkan menarik tarif untuk pelayanan tertentu baik secara langsung atau tidak langsung melalui perusahaan milik pemerintah. Beberapa pelayanan publik yang dapat dibebankan tarif pelayanan misalnya penyediaan air bersih, transportasi publik, jasa pos dan telekomunikasi, energi dan listrik, perumahan rakyat, fasilitas rekreasi, pendidikan, jalan tol, irigasi, jasa pemadam kebakaran, pelayanan kesehatan, dan pengolahan limbah/ sampah. Pembebanan tarif pelayanan publik kepada konsumen dapat dibenarkan karena beberapa alasan, yaitu: a. Adanya Barang Privat Dan Barang Publik Terdapat 3 jenis barang yang menjadi kebutuhan masyarakat, yaitu : Barang privat Yaitu barang-barang kebutuhan masyarakat yang manfaat barang atau jasa tersebut hanya dinikmati secara individual oleh yang membelinya, sedangkan yang tidak mengkonsumsi tidak dapat menikmati barang/jasa tersebut. Contohnya adalah makanan, listrik dan telepon. Barang publik Yaitu barang-barang kebutuhan masyarakat yang manfaatnya dinikmati oleh seluruh masyarakat secara bersama-sama. Contohnya adalah pertahanan nasional, pengendalian penyakit, jasa polisi. Campuran antara barang privat dan publik Terdapat beberapa barang dan jasa yang merupakan campuran antara barang privat dan barang publik. Karena, meskipun dikonsumsi secara individual seringkali masyarakat secara umum juga membutuhkan barang dan jasa tersebut. Contoh : pendidikan, pelayanan kesehatan, transportasi publik, dan air bersih. Barang barang tersebut sering disebut dengan merit good karena semua orang membutuhkannya akan tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan barang dan jasa tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan barang tersebut pemerintah dapat menyediakannya secara langsung (direct publik privision), memberikan subsidi, atau mengontrakkan ke pihak swasta. Sebagai contoh pendidikan, meskipun pemerintah bertanggungjawab untuk menyediakan pendidikan, namun bukan berarti barang tersebut sebagai pure publik good yang harus dibiayai semuanya dengan pajak dan dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. Dapat saja sektor swasta terlibat dalam penyediaan pelayanan pendidikan tersebut.

Pada tataran praktek, terdapat kesulitan membedakan barang publik dan barang barang privat diantaranya karena: 1. Batasan antara barang publik dan barang privat sulit untuk ditentukan. 2. Terdapat barang dan jasa yang merupakan barang/jasa publik, tapi dalam penggunaannya tidak dapat dihindari keterlibatan beberapa elemen pembebanan langsung. Contohnya adalah biaya pelayanan medis, tariff obat-obatan, dan air. 3. Terdapat kecenderungan untuk membebankan tarif pelayanan daripada membebankan pajak karena pembebanan tarif lebih mudah pengumpulkannya Biasanya terdapat anggapan bahwa dalam suatu sistem ekonomi campuran (mixed economy), barang privat lebih baik disediakan oleh pihak swasta (privat market) dan barang publik lebih baik diberikan secara kolektif oleh pemerintah yang dibiayai melalui pajak. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan pemerintah menyerahkan penyediaan barang publik kepada sektor swasta melalui regulasi, subsidi, atau sistem kontrak. Jika manfaat dirasakan secara perorangan, seperti listrik, telepon, dan air bersih, maka untuk memperoleh barang-barang tersebut masyarakat biasanya dibebani dengan tarif untuk penyediaan kebutuhan tersebut. Jika manfaat dirasakan secara umum, karena spillover effects (eksternalitas positif), yang tidak bisa dihilangkan dan pasti ada seperti pertahanan dan pengendalian kesehatan, maka pendanaan untuk hal-hal tersebut lebih tepat didanai lewat pajak. Dalam hal penyediaan pelayanan publik, yang perlu diperhatikan adalah : 1. Identifikasi barang/jasa 2. Siapa yang lebih berkompeten untuk menyediakan kebutuhan publik tersebut 3. Dapatkah penyediaan pelayanan publik tertentu diserahkan kepada sektor swasta dan sektor ketiga 4. Pelayanan publik apa saja yang tidak harus dilakukan oleh pemerintah namun dapat ditangani oleh swasta Pola hubungan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : Unit Bisnis Pemerintah (BUMN/BUMD) Unit-Unit Pelayanan Pemerintah

Pemerintah

Pelayanan Publik

Non Pemerintah: Swasta, Voluntary, LSM, Gabungan (kontrak dan kerjasama)

b. Efisiensi Ekonomi Ketika setiap individu bebas menentukan banyaknya barang dan jasa yang mereka ingin konsumsi, mekanisme harga memiliki perang penting dalam mengalokasikan sumber daya melalui : Pendistribusian permintaan, pihak yang mendapatkan manfaat paling banyak harus membayar lebih banyak pula. Pemberian insentif untuk menghindari pemborosan. Pemberian insentif pada suplier berkaitan dengan skala produksi. Penyediaan sumber daya pada supplier untuk mempertahankan dan meningkatkan persediaan jasa (supply of servise). Untuk public goods, pemerintah lebih baik menetapkan harga di bawah harga normalnya (full price) atau bahkan tanpa dipungut biaya. Mekanisme pembebanan tarif pelayanan merupakan satu cara menciptakan keadilan dalam distribusi pelayanan publik. c. Prinsip Keuntungan Ketika pelayanan tidak dinikmati oleh semua orang, pembebanan langsung kepada masyarakat yang menerima jasa tersebut dianggap wajar bila didasarkan prinsip bahwa yang tidak menikmati manfaat tidak perlu membayar. Pemerintah tidak boleh melakukan maksimisasi keuntungan bahkan lebih baik menetapkan harga di bawah full price, subsidi, bahkan tanpa dipungut biaya. Fee adalah biaya atas perijinan atau lisensi yang diberikan pemerintah. Biaya perijinan/lisensi relatif kecil, umumnya berupa biaya administrasi & pengawasan, yang didasarkan pada: Kategori perijinan yang dilakukan. Ada tidaknya keuntungan yg diperoleh pemegang ijin atas ijin yang dimiliki. B. ARGUMEN TERHADAP TARIF PEMBEBANAN PELAYANAN Dasar pembebanan langsung (direct charging) ditentukan oleh alasan-alasan berikut : a. Suatu jasa, baik merupakan barang publik maupun barang privat, mungkin tidak dapat diberikan kepada setiap orang, sehingga tidak adil bila biayanya dibebankan kepada semua masyarakat melalui pajak, sementara mereka tidak menikmati jasa tersebut. b. Suatu pelayanan mungkin membutuhkan sumber daya yang mahal atau langka sehingga konsumsi publik harus didisiplinkan (hemat), misalnya pembebanan terhadap penggunaan air dan obat-obatan medis. c. Terdapat variasi dalam konsumsi individual yang lebih berhubungan dengan pilihan daripada kebutuhan, misalnya penggunaan fasilitas rekreasi. d. Suatu jasa mungkin digunakan untuk operasi komersial yang menguntukan dan untuk memenuhi kebutuhan domestic secara individual maupun industrial, misalnya air, listrik, jasa pos dan telepon. e. Pembebanan dapat digunakan untuk mengetahui arah dan skala permintaan publik atas suatu jasa apabila jenis dan standar pelayanannya tidak dapat ditentukan secara tegas. Terlepas dari kasus yang merupakan barang publik murni, terdapat argumen yang menentang pembebanan tarif pelayanan, yaitu : a. Terdapat kesulitan administrasi dalam menghitung biaya pelayanan b. Yang miskin tidak mampu untuk membayar

Penetapan tarif pelayanan mensyaratkan adanya sistem pencatatan dan pengukuran yang handal. Hal tersebut dapat meningkatkan biaya penyediaan pelayanan. Akan tetapi keterukuran membuat penafsiran tarif pelayanan lebih mudah dibandingkan dengan perhitungan pajak (seperti: menghitung besarnya biaya untuk air dan listrik lebih mudah dibandingakan dengan menghitung pajak penghasilan). Kesenjangan ekonomi dan pendapatan yang lebar menyebabkan orang miskin tidak mampu membayar pelayanan dasar yang mestinya mereka dapatkan, seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, transportasi umum dan bahkan makanan sehat. Namun, yang menjadi masalah adalah dapatkah kita membuat daftar kebutuhan dasar secara objektif. Yang penting bagi seseorang belum tentu penting bagi orang lain, sehingga skala prioritas dan pilihan individu berbeda-beda. Penyediaan pelayanan gratis atau subsidi mungkin sia-sia dan kurang efektif. Eksternalitas positif (spilover effects) misalnya tarif pelayanan yang terlalu tinggi membuat masyarakat tidak terdorong untuk menggunakannya. Demikian juga barang yang dianggap sebagai merid good mungkin lebih baik diberikan secara gratis atau tanpa beban biaya, seperti pendididkan. Terdapat cara alternatif untuk alokasi sumber daya selain dengan pembebanan harga pelayanan, misalnya melalui pembagian kupon (cards) dan vouchers. C. PRINSIP DAN PRAKTIK PEMBEBANAN Dalam praktiknya, pelayanan yang gratis secara nominal seringkali sulit dijumpai. Pelayanan gratis menyebabkan insentif rendah, sehingga terkadang kualitas pelayanan menjadi sangat rendah. Misalnya pemberian pelayanan kesehatan gratis biasanya kualitasnya kurang memuaskan. Kesalahan penetapan tarif pelayanan publik merupakan penyebab utama defisit anggaran di negara berkembang. Pelayanan gratis mengakibatkan insentif yang rendah sehingga kualitas menjadi sangat rendah dan tidak memuaskan. KEGUNAAN PEMBEBANAN DALAM PRAKTEK Charging for services merupakan alah satu sumber penerimaan bagi pemerintah daerah tertentu. Pemerintah memperoleh penerimaan dari beberapa sumber, antara lain dari pajak, pembebanan langsung kepada masyarakat, laba BUMN/BUMD, penjualan aset milik pemerintah, hutang, dan pembiayaan defisit anggaran. Data biaya kadang sulit diperoleh dan sulit diperbandingkan, terutama antara jasa yang disediakan langsung oleh pemerintah dan yang disediakan oleh perusahaan milik negara. Pada kasus perusahaan negara, hanya net defisit atau surplus yang muncul dalam rekening pemerintah. Pada umumnya kita mengharapkan bahwa penyedia barang publik seperti pertahanan, kesehatan publik dan jasa kepolisian seharusnya diberikan secara gratis, dalam arti dibiayai dari pajak. Sementara itu, penyediaan barang privat yaitu jasa untuk mkepentingan individu seperti listrik, telepon, transportasi umum ditarik sebesar harga pemulihan biaya totalnya (full cost recovery price). Untuk barang campuran (mixed/merit good), seperti pendidikan menengah, penyembuhan kesehatan, sanitasi disediakan melalui pajak dan sebagian dari tarif. PENETAPAN HARGA PELAYANAN Pemerintah harus memutuskan berapa harga pelayanan yang akan ditetapkan? Aturan yang biasa dipakai adalah bahwa beban (Charge) dihitung sebesar total biaya untuk

D.

E.

menyediakan pelayanan tersebut (Full cost recovery). Akan tetapi untuk menghitung biaya total tersebut terdapat beberapa kesulitan, karena : a. Kita tidak tahu secara tepat berapa biaya total (full cost) untuk menyediakan suatu pelayanan b. Sangat sulit mengukur jumlah yang dikonsumsi c. Pembebanan tidak memperhitungkan kemampuan masyarakat untuk membayar d. Biaya apa saja yang harus diperhitungkan Ahli ekonomi umumnya menganjurkan untuk menggunakan marginal costs pricing, yaitu tarif yang dipungut seharusnya sama dengan biaya untuk melayani konsumen tambahan (costs of serving the marginal consumer). Harga tersebut adalah harga yang juga berlaku dalam pasar persaingan untuk pelayanan tersebut. Marginal costs pricing mengacu pada harga pasar yang paling efisien (economically efficient price), karena pada tingkat harga tersebut (ceteris paribus) akan memaksimalkan manfaat ekonomi dan penggunaan sumber daya yang terbaik. Masyarakat akan memperoleh peningkatan output dari barang atau jasa sampai titik dimana marginal costssama dengan harga. Penetapan harga pelayanan publik dengan menggunakan marginal cost pricing, setidaknya harus memperhitungkan : a. Operasi biaya variabel (variable operating cost) b. Semi variable overhead cost seperti biaya modal atas aktiva yang digunakan untuk memberikan pelayanan c. Biaya penggantian atas aset modal yang digunakan dalan penyediaan pelayanan d. Biaya penambahan aset modal yang digunakan untuk memenuhi tambahan permintaan Akan tetapi, marginal cost pricing tidak memperhitungkan pure historic capital cost atau pure overhead cost, yang tidak terkait sama sekali dengan penggunaan jasa. Contoh kasus klasik dari historical cost adalah seperti jembatan penyebrangan.Marginal cost pricing menganjurkan tidak ada biaya yang ditarik atas jasa penyebrangan karena marginal cost yang ada nol. Memungut biaya penyebrangan sehingga menimbulkan kapasitas menganggur atas jembatan tersebut, ini akan mengurangitotal economic benefit. F. PERMASALAHAN MARGINAL COST PRICING Penggunaan marginal cost pricing memiliki beberapa permasalahan, antara lain : 1. Sulit untuk memperhitungkan secara tepat marginal cost untuk jasa tertentu 2. Apakah didasarkan pada biaya marginal jangka pendek atau panjang? 3. Marginal cost pricing bukan berarti full cost recovery 4. Kegunaan konsep kewajaran 5. Ekternalitas konsumsi 6. Pertimbangan ekuitas KOMPLEKSITAS STRATEGI HARGA 1. Two-part tariffs : banyak kepentingan publik (seperti listrik) dipungut dengan two-part tariffs, yaitu fixed charge untuk menutupi biaya overhead atau biaya infrastruktur dan variable charge yang didasarkan atas besarnya konsumsi. 2. Peak-load tariffs : pelayanan publik dipungut berdasarkan tarif tertinggi. Permasalahannya adalah beban tertinggi, membutuhkan tambahan kapasitas yang disediakan, tarif tertinggi

G.

untuk periode puncak yang harus menggambarkan higher marginal cost (seperti telepon dan transportasi umum). 3. Diskriminasi harga. Hal ini adalah salah satu cara untuk mengakomodasikan pertimbangan keadilan (equity) melalui kebijakan penetapan harga. Jika kelompok dengan pendapatan berbeda dapat diasumsikan memiliki pola permintaan yang berbeda, pelayanan yang diberikan kepada kelompok dengan pendapatan tinggi. Hal tersebut tergantung dari kemampuan mencegah orang kaya menggunakan pelayanan yang dimaksudkan untuk orang miskin. 4. Full cost recovery. Harga pelayanan didasarkan pada biaya penuh atau biaya total untuk menghasilkan pelayanan. Penetapan harga berdasarkan biaya penuh atas pelayanan publik perlu mempertimbangkan keadilan (equity) dan kemampuan publik untuk membayar. 5. Harga diatas marginal cost. Dalam beberapa kasus, sengaja ditetapkan harga diatasmarginal cost, seperti tarif parkir mobil, adanya beberapa biaya perijinan atau licence fee. H. TAKSIRAN BIAYA Penentuan harga dengan teknik apapun yang digunakan pada dasarnya adalah mendasarkan pada usaha penaksiran biaya secara akurat. Hal ini melibatkan beberapa pertimbangan sebagai berikut : a. Opportunity cost untuk staf, perlengkapan, dll. b. Opportunity cost of capital c. Accounting price untuk input ketika harga pasar tidak menunjukkan value to society (opportunity cost) d. Pooling, ketika biaya berbeda-beda antara setiap individu e. Cadangan inflasi Pelayanan menyebabkan unit kerja harus memiliki data biaya yang akurat agar dapat mengestimasi marginal cost, sehingga dapat ditetapkan harga pelayanan yang tepat. Prinsip biaya memberikan dasar yang bermanfaat untuk penentuan harga di sektor publik. Marginal cost pricing bukan merupakan satu-satunya dasar untuk penetapan harga di sektor publik. Digunakan MC pricing atau tidak, yang jelas harus ada kebijakan yang jelas mengenai harga pelayanan yang mampu menunjukkan biaya secara akurat dan mampu mengidentifikasi skala subsidi publik.