Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL PROGRAM UNIT PENGOLAHAN PUPUK ORGANIK

PEMBERDAYAAN KEWIRAUSAHAAN MASYARAKAT DESA MELALUI PENGEMBANGAN RUMAH KOMPOS DARI LIMBAH TERNAK SAPI DAN TANAMAN DILAHAN SAWAH

Diajukan Oleh: Kelompok Tani Ternak MUTIARA MAKMUR

KP PORCIP RT 004/04CANDALI KEC. RANCABUNGUR KABUPATEN BOGOR TELP. 085717742199 TAHUN 2010

LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL


No Lampiran Perihal : 05/KTT MM-APPO/IV/2010 : 1 (Satu) Berkas Proposal : PermohonanBantuanuNITPengolahanPupuk Organik

AssalamualaikumWr.Wb. Segalapujibagi keluarga, Kami Allah SWT yang telahmemberikankarunia Muhammad yang saw, yang

takterhinggakepadakitasemua.ShalawatsertasalambagiNabi selalukitanantikansyafaatnya. menyambutdengan rasa syukur,

sahabatdanparapengikutnyasampaiakhirjamannanti

program-program

pemerintahdalambentukbantuanamatbermanfaatbagi kami, terutamabagi kami sebagaipetaniuntukmeningkatkanhasilpertaniandankesejahteraankeluarga. Perlu kami sampaikanbahwakegiatanKelompokTaniTernakMUTIARA kami, agar MAKMURadalahmengelolaanpeternakansapi, dombadanpertanianpadisebagaiusahapokokkegiatan melakukankerjasamajual-beli, Di tahun2009ini sertapelatihanterhadapparapemudadesa kami mencobamengajukan danmelakukanpembinaanterhadappetani, peternaksapi, dombadandaging kami memilikibekalhidup yang lebihmantap. proposal Perkebunan, bantuanRumahKomposkepadaDinasPertanian, taniankepadaanggotaKelompokTaniTernakMUTIARA MAKMURdankepadamasyarakatpadaumumnya.

danKehutananKab.Bogorsebagaiusahauntukmeningkatkanproduktivitashasilper

Besarharapan kami untukmemperolehbantuandariDepartemenPertanian RI, mudah-mudahansemuaaktivitas yang kitalakukanmendapatridlo Allah SWT. WassalamualaikumWr.Wb

KelompokTaniTernak M MUTIARA e MAKMUR n g e t a Duta Setiawan h Ketua u i

Emad Sekretaris

An. KepalaDinasPeternakandanPerikanan KepalaBidangProduksiPeternakandanPerikanan Kabupaten Bogor

Ir. BambangMegabudi, MM

PENDAHULUAN Latar belakang Keberhasilan pembangunan yang telah dicapai negara kita dewasa ini, khususnya dalam bidang ekonomi ditandai dengan meningkatnya pendapatan perkapita penduduk, laju pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 6,8 % pertahun dan kemampuan menekan pertambahan penduduk sekitar 2,145%. Akan tetapi pertumbuhan tersebut menimbulkan peluang dan munculnya kendala distribusi pembangunan yang belum merata hingga keseluruh pedesaan. Hasil pembangunan yang belum dinikmati oleh kelompok lapisan bawah dengan ditandai oleh banyaknya kantong kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan sehingga masih banyak penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan. Kondisi ini selain disebabkan oleh faktor penduduk desa yang terpuruk kelembah kemiskinan akibat dampak ketidak-merataan pendistribusian hasil-hasil pembangunan, juga oleh sikap mental penduduknya yang mengalami kemiskinan secara alamiah maupun kultural. Kelompok penduduk miskin yang berada dimasyarakat pedesaan umumnya berprofesi sebagai petani gurem, buruh tani, peternak, nelayan, buruh dan pengangguran. Kelompok miskin ini akan menimbulkan problematika yang terus berlanjut bagi kemiskinan kultural maupun struktural bila tidak ditangani serius terutama untuk generasi berikutnya. Padahal seluruh potensi sumberdaya alam yang ada belum termanfaatkan secara optimal. Pembangunan masyarakat merupakan tanggungjawab bersama, baik pemerintah masyarakat maupun akademisi. Lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi dituntut untuk respontif terhadap permasalahan kemiskinan dan pemberdayaan.. tridarma perguruan tinggi merupakan dasar pokok dalam pergerakan pengabdian dalam masyarakat. Kemampuan intelektual yang dimiliki oleh para sarjana perguruan tinggi diharapakan segala bentuk hasil aplikasi teknologi dapat terdistribusikan kepada masyarakat pedesaan, sehingga pemerataan hasil-hasil pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Pembangunan masyarakat pedesaan tidak lepas dari pembentukan mental dan pribadi masyarakat itu sendiri terkait dengan lingkungan dan faktor sosial lainnya. Hal ini merupakan tantangan tersendiri dalam pemberdayaan masyarakat. Sumberdaya yang beragam dan potensi alam perlu dikembangkan melalui formulasi yang terintegrasi yang mendukung seluruh sektor pembangunan pedesaan. Keterpaduan usaha peternakan sapi

dengan usaha lain sangat diperlukan, karena pada dasarnya sistem integrasi ternak sapitanaman dilahan sawah merupakan basis usaha bagi masyarakat pedesaan dan pada pelaksanaannya telah terbukti efisien dan menguntungkan. Tetapi masih banyak petani yang belum memanfaatkan limbah ternak dan sawah sebagai pupuk organik yang memiliki kandungan hara yang tinggi. Berdasarkan hal diatas dalam rangka turut serta mewujudkan kepedulian terhadap masyarakat pedesaan perlu diterapakan suatu formulasi pemberdayaan masyarakat pedesaan melalui program Rumah Kompos. Pembinaan secara efektif tentang pemanfaatan Limbah sebagai Pupuk organik yang berasal dari sistem integrasi ternak sapi- tanaman akan meningkatkan life skill, pendapatan sehingga meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat. Teknologidaninovasidalampengolahanlimbahorganic peternakan yang diterapkandalampengkajianinimeliputi proses pembuatanpupuk organic denganmekanisasipertanianterpadudenganpolakelompokdanstrategipeningkatanmutupup uksebagaisalahsatukuncikeberhasilansistempeningkatanhasilpanenpetanikarenatanahselal useimbangdanterjagaunsurharanya. Penggunaanteknologipengolahandanpemanfaatankomposuntukmeningkatkankesuburanla hanmemegangperanan yang sangatpenting, organic karenabahanbakulimbah yang organic

melimpahdanpermintaanpupuk memilikisegmenpasar yang

sangatbanyaksehinggapupuk

sangatluas.

Degankegiatantersebutdiatas,

darisuatukawasanpersawahandapatdihasilkanpadisebagaiprodukutama, dagingsebagaiprodukusahapeternakan, danpupukorganiksebagaihasilsampingusahapeternakan yang menguntungkan.Di dalam perkembangannya masyarakat pedesaan memerlukan perhatian dan bantuan teknis berupa modal usaha, pelatihan ketrampilan, bimbingan pendampingan dan pelaksanaan yang dapat memicu peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat desa.

Tujuan, Arah, dan Sasaran Program A. Tujuan 1. Membuka peluang bagi masyarakat desa untuk meningkatkan taraf

hidupnyadengan cara menciptakan dan memperluas lapangan kerja produktif melalaui pengembangan memanfaatkan limbah sebagai pupuk organik dengan sistem usaha integrasi ternak sapi- tanaman dilahan sawah. 2. Mewujudkan sistem pertanian orgsnik berkelanjutan dan ramah lingkungan.

3. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, kemampuan kewirausahaan, pemgembangan usaha ternak-tani dan pemantapan kelompok usaha bersama. 4. Meningkatkan kesadaran, kemauan, rasa kebersamaan, harga diri dan percaya diri masyarakat. 5. Mewujudkan peran pemerintah dalam kepeduliannya terhadap pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat pedesaan melalui program Alat Pengolahan Pupuk Organik. 6. Menciptakan dan mengembangkan pola pemberdayaan masyarakat yang ideal dan dapat diterapkan dalam kontek pembangunan nasional.

B. Arah Program Program Alat Pengolahan Pupuk Organikdiarahkan untuk menggali potensi sosial ekonomi masyarakat pedesaan dan dikembangkan melalui pemberdayaan kewirausahaan pada usaha integrasi ternak sapi-tanaman dilahan sawah dengan usaha peternakan sapi potong sebagai kegiatan pokoknya. Pendekatan partisipatif masyarakat diarahkan untuk memperkuat mekanisme perencanaan guna lebih mendorong terjadinya tranformasi sosial ekonomi kemasyarakatan kearah yang lebih baik.

C. Sasaran program Sasaran utama dalam pelaksanaan program Alat Pengolahan Pupuk Organik ini adalah: 1. Kelompok tani, Karang taruna, dan kelompok masyarakat lainnya yang terdapat didesa pengembangan. 2. Golongan masyarakat petani-peternak prasejahtera. 3. Industri kecil yang telah tumbuh dan berkembang dilingkungan masyarakat pedesaan.

Keluaran yang Diharapkan

a. Jangka pendek 1. Tingginya tingkat ketrampilan masyarakat baik secara teknis maupun manajemen dalam mengelola Rumah Kompos. 2. Tumbuhnya jiwa kewirausahaan dan berkembangnya permodalan.

3.

Terbentuknya Kelompok Usaha Bersama berbasis pertanian yang berdaya saing dan berorientasi bisnis.

4.

Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pedesaan

b. Jangka Panjang 1. Terjalinya kerjasama yang berkesinambungan dengan pihak pemerintah 2. Tertariknya minat dan kepercayaan pihak luar untuk berinvestasi

mengembangkan usaha peternakan sapi. 3. Berkurangnya masyarakat yang tergolong kedalam masyarakat prasejahtera. 4. Terciptanya pemberdayaan masyarakat yang ideal dan dapat diterapakan dalam konteks pembangunan swa sembada daging secara Nasional.

JUSTIFIKASI SISTEM RUMAH KOMPOS DENGAN KONSEP INTEGRASI SAPI- TANAMAN DILAHAN SAWAH

Ternak merupakan komponen utama dalam suatu sisterm usaha tani, dan paling banyak berkaitan dengan komponen produksi lainnya. Selain menjadi salah satu bagian produksi yang mendatangkan penghasilan usaha ternak sapi menjadi penghasil pupuk organik, sumber tenaga kerja dan juga dapat dikaitkan dengan usaha usaha konservasi tanah, serta sebagai pemakan limbah pertanian. Peranan ternak sapi lebih vital dalam usaha tani secara tradisional. Didaerah yang belum terjangakau oleh pertanian modern, seperti traktor maka keberadaan sapi sangat bermanfaat sebagai tenaga kerja. Salah satu ciri yang menonjol dalam pemeliharaan ternak di Indonesia umumnya masih dilakukan oleh masyarakat pedesaan dengan skala usaha yang kecil dan tidak merata. Kondisi seperti ini tentunya tidak dapat diharapkan produktifitasnya. Rendahnya produktifitas panen sawah di indonesia disebabkan oleh semakin menurunnya tingkat kesuburan tanah karena penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan kesuburan tanah sawah melalaui penggunaan pupuk organik secara rutin yang telah terbukti meningkatkan kesuburan tanah dalam jangka panjang. Dilain sisi para petani belum mampu mengolah limbah pertanian sebagai pupuk organik yang berkualitas dan dapat meningkatkan kesuburan tanah sawah. Untuk meningkatkan kesadaran petani tentang penggunaan pupuk organik maka perlu dilakukan berbagai metode pendekatan baik melalui penyuluhan, sekolah lapang, magang maupun pendirian Rumah Kompos yang akan menjadi pioner dalam rangka meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan petani. Sementara itu disisi lain permintaan akan pupuk organik akan terus meningkat seiring dengan semakin baiknya kesadaran masyarakat akan manfaat pemakaian bahan organik yang lebih baik hasilnya dan keamanannya bagi kesehatan manusia. Peluang ini tentunya sangat disayangkan jika hanya dilewatkan begitu saja padahal dengan pemberian pupuk organik yang sedikit sajal dapat meningkatkan produktivitas panen dan akhirnya menambah penghasilan petani.

Peningkatan Produktivitas Ternak dengan Usaha Tani Terpadu

Menilik

pentingnya

peranan

ternak

dalam

meningkatkan

penghasilkan

masyarakat, maka sudah selayaknya jika peningkatan produktivitas tersebut diupayakan. Peningkatan dapat diusahakan dengan memanfaatkan perusahaan yang tersedia sehingga tidak menambah pengeluaran biaya, tetapi dapat menambah penghasilan. Sistem usaha tani tersebut dengan memadukan pemeliharaan sapi dengan

tanaman di lahan sawah itulah yang disebut dengan Sistem integrasi tani ternak terpadu. Dalam usaha ini antar komunitas harus saling memberikan keutungan secara langsung, ternak sapi menghasilkan kotoran untuk menjadi pupuk bagi tanaman, sedangkan tanaman digunakan untuk pakan ternak sapi atau sebagai sumber pangan untuk tanaman pangan. Keuntungan lain adalah meningkatkan pendapatan petani dan mempertahankan produktivitas lahan melalui penggunaan pupuk kandang, dan yang terpenting adalah penggoptimalan penggunaan lahan yang tersedia.

Komoditas Usaha Tani ternak Yang Dikembangkan 1. Pembuatan Pupuk Kompos 2. Pembuatan Pupuk Cair 3. Pembuatan Demplot Padi Organik

Kelompok Usaha Bersama (KUB)

Kelompok Usaha bersama merupakan sistem usaha yang ditekankan pada prinsip kebersamaan, gotong-royong, dan konsolidasi manajemen pengelolaan. Pemberdayan masyarakat desa dalam kelompok usaha Bersama dapat dilaksanakan dengan atau lembaga-lembaga masyarakat yang sudah ada seperti karang taruna, kelompok tani, pesantren, kelompok pengajian, dan pokmas-pokmas lainnnya. Usaha lain dilaksanakan dengan pembentukan usaha bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) sesuai kebutuhan masyarakat. Dalam pelaksanaannya kelompok usaha bersama yang terbentuk maupun yang dikembangkan bertanggungjawab atas usaha yang dilakukan, seperti penyediaan sarana, bahan baku, pengolahan hasil, pemasaran dan lain-lain sehingga terintegrasi dari hulu

sampai hilir. Pengelolaan KUB dilaksanakan dengan koordinasi tingkat desa sebagai KUB inti yang membawahi KUB tingkat kelompok masyarakat.

METODOLOGI PELAKSANAAN PROGRAM Pendekatan Program Program Alat Pengolahan Pupuk Organik merupakan wujud nyata pengabdian pemerintah kepada masyarakat melalui pemberdayaan kewirausahaan masyarakat dalam pemanfaatan limbah pertanian dengan sistem Integrasi Sapi-Tanaman di lahan sawah yang tergabung dalam Kelompok usaha Bersama (KUB). Dalam pelaksanaannya ditekankan semangat kebersamaanya yang kuat untuk maju dalam menanggulangi kemiskinan, menumbuhkan kesempatan untuk berpartisipasi seluas-luasnya dalam pembanguanan kepada seluruh lapisan masyarakat desa terutama golongan ekonomi lemah. Beberapa pendekatan yang yang diterapkan dalam pelaksanaan program ini adalah: 1. Kegotong-royongan yaitu menumbuhkan kebersamaan yang kuat guna membantu yang lemah sehingga tercipta kesejahteraan yangn merata. 2. Keswadayaan yaitu menitik beratkan pada usaha mandiri. 3. Partisipatif yaitu melibatkan warga masyarakat khususnya kelompok sasaran dalam pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pemanfaatan hasil sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan yang berkembang dimasyarakat itu sendiri.

TAHAPAN PENERAPAN PROGRAM

1. Aspek teknis Arah pendampingan yang akan dilakukan dalam program Alat Pengolahan Pupuk Organik di wilayah Pebayuran dibagi menjadi tiga tahapan strategis, yaitu : a. Tahun pertama dititikberatkan pada penataan dan pengembangan manajemen produksi pembuatan pupuk organik . Usaha sampingan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah pembuatan pupuk cair, silase jerami dan budidaya padi organik. b. Tahun kedua dititikberatkan pada diversifikasi produk olahan dan membangun pemasaran sekaligus sertifikasi mutunya serta legalitas usaha melalui badan hukum koperasi c. Tahun ketiga diharapkan tercapai stabilitas usaha dan manajemen sehingga bisa dilakukan perluasan jejaring dan ekspansi permodalan sekaligus skala usaha.

2. Teknis Pengolahan Pupuk Organik Berdasarkan cara pembuatan pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi 3 macam : 1) Pembuatan Pupuk Organik Dan Kotoran Ternak Yang Tercampur Dengan Sisa Pakan/Hijauan (Jerami / Rumput) - Timbun kotoran ternak yang bercampur dengan rumput jerami di tempat yang teduh dan beratap, tumpukan maximal 2 M tingginya. - Kemudian tumpukan/timbunan, tersebut disiram dengan air yang sudah dicampur dengan Starter (0,1%) dengan caradipercik-percikan hingga merata, maka suhu pada tumpukan bagian dalam setelah beberapa hari akan naik hingga 70 C. - Diamkan selama 2 minggu (14 hari), kemudian diaduk hingga rata, sehingga suhunya turun lebih kurang 40 oC.Pengadukan dilakukan setiap 2 minggu sekali dan perlakuan ini dilakukan sampai 2-3 bulan (4-6 kali pengadukan) - Setelah 3 bulan, pupuk organik sudah jadi dan dapat digunakan sebagai pupuk.

2) Pembuatan Pupuk Organik Dan Kotoran Ternak Yang Tidak Tercampur Dengan Sisa Pakan Hijauan - Kotoran Ternak Segar dikeluarkan dari kandang, dijemur hingga setengah kering (lakukan tiap hari)

- Caranya dihamparkan tipis-tipis dan ditimbun tiap hari di atasnya sambil diadukaduk hingga setengah kering - Kumpulkan dan tumpuk di tempat terpisah pada ruangan yang beratap - Kotoran Ternak Segar yang bercampur dengan sisa - sisa pakan di aduk setiap 3-4 hari sekali lakukan selama 30 hari dan ditambahkan Starter 0,1% dengan cara dipercik-percikan - Tumpukan bahan yang setengah jadi tersebut dicampur dengan kotoran sapi setengah kering dari luar, kemudiandiaduk. Hal ini dilakukan setiap hari - Pencampuran antara tumpukan bahan pupuk (setengah jadi dengan kotoran ternak setengah kering, dimaksudkanuntuk mempercepat proses. Pupuk organik sudah dapat dipergunakan sebagai pupuk, disamping digunakan sebagai bibit pupuk organik untuk pembuatan berikutnya. - Pupuk Organik yang akan dijual dilakukan pengayakan dan pengemasan, disamping itu harus diberi lebel.

3) Pembuatan Pupuk Organik Melalui Biodigester Bagi Peternak Yang Memanfaatkan Biogas. Biodigester yang sudahaktif menghasilkan biogas, sisa kotoran ternak yang sudah terurai akan keluar secara sendiri dari pipa pengeluaran danditampung pada penampungan, berbentuk lumpur atau slury : - Pindahkan sisa kotoran ternak (slury) dan bak penampungan ke bak pemrosesan pupuk organik yang beratap. Isihingga 3/4 bagian, biarkan mengering air keluar dan alas kaki yang dibuat miring dan diberi lubang - Setelah didiamkan 1 minggu (agak mengering) tambahkan Starter yang sudah diaktifkan (cairan Starter proses 0,1%).Penggunaan pengomposan dengan larutan cara Starter 0,1%

untukmempercepat

dipercik-percikan

ataudisemprotkan dengan sprayer (jangan terlalu basah atau terlalu kering untuk menjaga agar suhu pemrosesan/pengomposan antara 45-65?C dengan

kelembaban antara 40-50%) - Aduk-aduk hingga merata dan setiap 7 hari (1 minggu) dilakukan pembalikan - Setelah kurang lebih 1 bulan pupuk organik sudah dapatdigunakan 3. Pemasaran Hasil Kegiatan pemasaran pupuk organik yang akan dilakukan secara kontinu dengan bekerjasama dengan para ditributor pupuk organik, petani, kelompok tani dan pedagang

tanaman hias.. Pemasaran juga bekerjasama dengan melakukan publikasi media, tokotoko pertanian dan superarket. Pada tahap lanjut akan didirikan outlet-outlet bisnis untuk pemasaran produk hasil peternakan ini.

Pengembangan dan Kelestarian Program Keberlangsungan program Rumah Kompos diharapkan berkesinambungan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan. Pengembangan dan kelestarian program dilakukan melalui keberlanjutan usaha KUB dengan pengelolaan mandiri, terjalinnya dengan pihak pasar, serta tumbuhnya KUB-KUB baru dengan komunitas usaha yang beragam.

Kerjasama Dukungan dari pihak lain sanngat diperlukan dalam kelancaran dan keberhasilan program Sarjana Membangun Desa. Oleh karena itu kerjasama dengan pihak luar adalah hal yang harus dilakukan. Adapun pihak-pihak yang direncanakan antara lain adalah: 1. Pemerintah Daerah Kabupaten 2. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat IPB (LPPM IPB) 3. Lembaga Penyedia Starter Untuk Fermentasi seperti Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (PUSBANGLITNAK), Lembah Hijau Farm dan lain-lain. 4. Lembaga Swadaya Masyarakat terkait 5. Media Massa (RRI, Koran, Majalah TROBOS, Majalah Trubus dan Majalah Agribisnis Lainnya). 6. Lembaga Penguatan Modal (Perbankan, PT Pemodalan Nasional Madani, maupun Investor).

RENCANA ALOKASI PELAKSANAAN

Waktu yang direncanakan dalam pelaksanaan program Rumah Kompos ini adalah 3 tahun, yaitu mulai Juni 2010- Mei 2013. Hal ini didasarkan pada periode produksi komoditas usaha ternak tani yang dikembangkan dan tahapan-tahapan pelaksanaan. Berikut rencana alokasi waktu pelaksanaan program Sarjana Membangun Desa:
No 1 2 3 4 5 6 7 Uraian TahapanpersiapanPengkajian Tahap Pembangunan RumahKompos TahapPemasanganMesinKompos TahapPelaksanaanGerakanPemberdayaan Monitoring Evaluasi Pelaporan Waktu yang Dibutuhkan 2 Minggu 6 Minggu 4 Minggu 33 bulan PeriodeWaktu Jun-10 Jun-Jul 10 Agust-10 Sep 09- Mei 2013 Periodiktiap 3 Bulan Periodiktiap 4 Bulan

RENCANA ALOKASI ANGGARAN

No 1

Uraian/Aktivitas
Pembangunan rumahkompos 1) Pengadaanbahandan material - Semen - Batubata/Batako - Bahanatap 2) Konstruksirumahkompos - Tenagakerja PenyediaanSaranaPenunjang - APPO skalabesar - Alatangkutan motor roda 3 - Dekomposer (drum, ember dll) - Bahan MOL (Urine ternak, buahmaja/bonggol pisang, gula) - Kotoranternak Pelatihan 1) Penggunaan APPO 2) Pembuatan MOL 3) Pembuatankompos TOTAL

Unit

Rp/ Unit

Total Rp

140 10000 20 60

65000 500 200000 100000

9100000 5000000 4000000 6000000

3 1 12 12 3000

60000000 20000000 1000000 25000000 2000000

180000000 20000000 12000000 300000000 6000000000

2 2 3

5000000 5000000 5000000

10000000 10000000 15000000 657110000

PENUTUPAN

Demikian proposal program Rumah Kompos ini disusun dan diajukan. Besar harapan saya untuk ikut melakukan pengabdian terhadap masyarakat, sekaligus mengaplikasikan ilmu yang saya peroleh selama kuliah. Semoga apa yang menjadi tujuan dan harapan dapat tercapai.