Anda di halaman 1dari 52

TUGAS LAPORAN PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS

Disusun Oleh : Andy Irawan Rudini Mulya Paulus F.P. Herman Santoso p. Aditya Anugrah S. Ikhya Maulana 41610010029 41610010035 41610010004 41610010001 41610010031 41610010011

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur tim penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat-Nya yang melimpah kepada tim penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan laporan Tugas Akhir PASTI yang berjudul Perancangan Tata Letak Fasilitas, sebagai syarat akademis dalam menyelesaikan mata kuliah PASTI pada Jurusan Teknik Industri, Universitas Mercu Buana. Tim Penulis menyadari banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak selama pelaksanaan penelitian dan penyusunan laporan ini sehingga pada kesempatan ini bermaksud mengucapakan terima kasih. Tim Penulis berharap semoga laporan ini dapat memberikan masukan serta wawasan bagi pembacanya. Tim Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan untuk itu peneliti mengharapkan kritik dan saran demi kemajuan.

Universitas Mercu Buana 15 Januari 2014

Tim Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Dalam menghadapi era pasar bebas saat ini, dimana terjadi persaingan

yang sangat ketat, maka perusahaan dituntut untuk dapat menciptakan produk dengan biaya murah, kualitas yang baik, dan delivery tepat waktu. Untuk itu dibutuhkan usaha penekanan biaya dengan cara meningkatkan efektivitas, efisiensitas, dan produktivitas. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memaksimalkan tata letak fasilitas produksi. Tata letak fasilitas produksi merupakan elemen dasar yang sangat penting dari kelancaran proses prosuksi untuk menciptakan produk atau jasa yang berkualitas dan menentukan daya saing perusahaan. Tata letak fasilitas yang buruk merupakan pemborosan (waste) yang harus diminimalisi dengan cara melakukan perbaikan/menata ulang fasilitas. Tata letak fasilitas yang baik akan mengurangi biaya produksi secara total tidak hanya pada salah satu proses tetapi pada tiap proses produksi. Pengurangan ini dapat dilakukan dengan mengurangi pergerakan pemindahan bahan yang tidak efisien dan merencanakan rute perencanaan yang lebih teliti sesuai dengan aliran proses produksi yang nantinya diharapkan akan menghasilkan hasil produksi yang optimal maka dengan adanya penelitian evaluasi dan modifikasi tata letak fasilitas ini, diharapkan dapat membantu sebagai referensi dalam membangun tata letak fasilitas produksi yang baik.

Berkaitan dengan masalah tersebut, maka peneliti mencoba menganalisa tata letak fasilitas produksi yang ada saat ini terkait dengan tipe tata letak dan pola aliran bahan pada produksi meja laptop portable yang lebih efisien. 1.2 Rumusan Masalah Sehubungan dengan latar belakang yang telah dikemukan di atas maka masalah yang akan kami angkat adalah: 1. bagaimana merancang tata letak fasilitas produksi meja laptop portable yang tepat dan efisien sesuai dengan usaha yang didirikan? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Mengetahui apakah produk Meja Laptop Portable layak untuk diproduksi. 2. Mengetahui apakah pabrik untuk memproduksi Meja Laptop Portable layak didirikan. 3. Menghindari penanaman modal yang sia-sia. 4. Melihat prospek proyek produksi dimasa mendatang/kedepan. 5. Menyediakan sebuah kerangka kerja yang memungkinkan untuk membuat estimasi sumberdaya, biaya dan jadwal yang dapat dipertanggungjawabkan. 6. Mengetahui apakah usaha ini dapat hidup dan menghasilkan laba.

1.1. Sistematika Penulisan Dalam penulisan laporan ini, Kami berpedoman pada kriteria penyusunan tugas besar dan membaginya dalam enam bab yang saling berkaitan satu sama lainnya, yaitu dengan format sebagai berikut :

Bab 1 Pendahuluan Diuraikan mengenai latar belakang, tujuan penelitian, rumusan masalah, batasan dan asumsi, dan sistematika penulisan tugas besar. Bab II Landasan Teori Diuraikan mengenai tinjauan-tinjauan kepustakaan yang berisi tentang teori-teori mengenai kelayakan pabrik, pemikiran-pemikiran yang digunakan sebagai landasan dalam pembahasan serta pemecahan permasalahan dalam mendirikan pabrik. Bab III Pengumpulan Dan Pengolahan Data Diuraikan mengenai data data yang dibutuhkan untuk menganalisa kelayakan suatu pabrik serta melakukan pengolahan data untuk mengetahui apakah pabrik tersebut layak untuk didirikan. Bab IV Analisa Dan Hasil Bab ini berisi analisa pemecahan masalah berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan pada bab sebelumnya. Bab V Kesimpulan Dan Saran Pada bab ini berisikan kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisa data dan saran -saran bagi pengembangan penelitian selanjutnya.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Pemilihan lokasi Pemilihan lokasi usaha merupakan salah satu keputusan bisnis yang harus

dibuat secara hati-hati. Penelitian-penelitian terdahulu menemukan bahwa lokasi usaha berhubungan dengan kesuksesan usaha tersebut (Nurul Indarti, 2004). Namun, penelitian-penelitian tersebut masih didominasi oleh pemilihan lokasi di sektor manufaktur, industri teknologi tinggi, dan perusahaan besar, dimana pemilihan lokasi usaha-usaha tersebut didorong oleh pertimbangan besarnya biaya transportasi bahan produksi. Von Thunnen mengembangkan teori lokasi pada awal abad 19. Thunnen melakukan pengamatan di daerah tempat tinggalnya, dari pengamatan tersebut Thunnen menemukan berbagai komoditas pertanian diusahakan menurut pola tertentu. Dengan memperhatikan jarak tempuh antara daerah produksi dan pasar. 2.2 operation proses chart (OPC) Setelah gambar teknik sebagai dasar pertama dalam melakukan perencanaan teknis dalam perencanaan tata letak pabrik. Gambar teknik adalah sebagai desain produk dalam merencanakan produk yang akan diproduksi. Selanjutnya adalah desain proses yang akan dibuat untuk membuat produk dari gambar teknik yang sudah dibuat Salah satu dari alat grafis ini adalah peta kerja. Peta kerja merupakan salah satu alat yang sistematis dan jelas untuk berkomunikasi secara luas.

Dan sekaligus melalui peta kerja kita bisa mendapatkan informasi-informasi yang diperlukan untuk memperbaiki suatu metode kerja. Jadi, peta kerja adalah suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas (biasanya kerja produksi). Lewat peta ini kita bisa melihat semua langkah atau kejadian yang dialami oleh suatu benda kerja. Peta proses operasi merupakan salah satu dari peta kerja. Peta proses operasi (operation process chart) merupakan suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami bahan baku mengenai urutan-urutan proses dan pemeriksaan. Sejak dari awal proses sampai menjadi produk utuh maupun sebagai komponen,dan juga memuat informasi-informasi yang dibutuhkan. Informasi-informasi yang bisa didapatkan dalam peta proses operasi adalah sebagai berikut:

Bahan baku dan bahan penunjang yang dibutuhkan (dipresentasikan dengan garis panah horizontal)

Operasi yang dibutuhkan pada masing-masing komponen atau bagian dari bahan baku (direpresentasikan dalam lingkaran)

Waktu yang dibutuhkan dalam proses Mesin atau alat yang digunakan dalam operasi Scrap (geram) yang dihasilkan (dibuang) dalam proses

Dalam setiap peta proses operasi kegiatan dalam bentuk lambang atau simbol yang telah dibakukan adalah sebagai berikut: 1. Operasi Yaitu suatu kegiatan operasi yang terjadi apabila benda kerja mengalami perubahan sifat, baik fisik maupun kimiawinya. Operasi merupakan kegiatan

yang paling banyak terjadi dalam suatu proses yang biasanya terjadi di suatu mesin atau stasiun kerja. 2. Pemeriksaan (Inspeksi) Yaitu suatu kegiatan pemeriksaan terhadap benda kerja atau peralatan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Lambing ini digunakan untuk melakukan pemeriksaan terhadap suatu objek tertentu agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. 3. Aktifitas gabungan Yaitu suatu kegiatan yang terjadi apabila aktivitas operasi dan pemeriksaan dilakukan secara bersamaanatau pada satu tempat benda. 4. Penyimpanan Yaitu suatu kegiatan menyimpan benda kerja untuk waktu yang cukup lama. Jika benda kerja tersebut akan diambil kembali biasanya melakukan prosedur perizinan tertentu.

2.2.1 Prinsip-Prinsip Pembuatan Peta Proses Operasi Untuk bisa menggambarkan peta proses operasi dengan baik, ada beberapa prinsipyang perlu diikuti sebagai berkut:

Pada bagian kiri paling atas menyatakan No. Peta, Nama, Kapasitas dan Efisiensi.

Pada bagian tengah atas terdapat Nama Perusahaan, Engineering Consultant, Operation Process Chart, dan Kursi Kuliah.

Sedangkan pada bagian atas sebelah kanan terdapat Nama Dosen, Nama Asisten dosen, Tanggal Dipetakan, dan Tanggal Disetujui.

Material yang akan diproses diletakan diatas horizontal yang menunjukan bahwa material tersebut masuk kedalam proses.

Lambang-lambang ditempelkan dalam arah vertikal, yang menunjukan terjadinya perubaha proses.

Penomoran terhadap suatu kegiatan pemeriksaan diberikan secara tersendiri dan prinsipnya sama dengan penomoran dalam proses operasi.

Agar diperoleh gambar peta proses operasi yang baik, produk yang paling baik memerlukan operasi, harus dipetakan terlebih dahulu, berarti dipetakan dengan garis vertikal disebelah kanan halaman kertas.

Setelah semua proses dipetakan dengan lengkap, pada bagian akhir halaman dibuat ringkasannya. Yang memuat informasi-informasi seperti : jumlah keseluruhan informasi, jumlah keseluruhan pemeriksaan, dan jumlah waktu keseluruhan yang dibutuhkan dalam membuat produk jadi.

Membuat surat penawaran untuk peta proses operasi yang ditujukan pada dosen masing-masing kelas, yang disertai oleh landasan teori yang mendukungnya.

2.3

Routing sheet Untuk membuat peta proses operasi membutuhkan sutau dokumen utama

yang dikenal dengan nama Master Route Sheet atau Routing Sheet. Yang merupakan tahap awal yang harus di!akukan sebe!um kegiatan produksi dimulai adalah mengidentifikasi ataupun menentukan urut-urutan mesin/peralatan, proses dan operasi yang sesuai dengan kebutuhan dan efisiensi. Digunakan untuk mengetahui jalannya proses produksi dari komponen-komponen kursi kita dapat

menggunakan pola peta proses produksi. Hasi identifkasi ataupun penentuan ini biasanya disajikan dalarn bentuk apa yang dinamakan dengan Routing Sheet. Routing Sheet ini merupakan hal yang sangat penting bagi pengawasan produksi, karena merupakan penentuan mutu produk yang akan dibuat, dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengerjakan setiap kegiatan produk tersebut. Pada umumnya, selain menyajikan urut-urutan mesin/peralatan, proses dan operasi, routing sheet ini juga memuat antara lain kapasitas mesin/peraiatan, % scrap, serta jumlah kebutuhan bahan/mesin/peralatan. Sehingga untuk keperluan perhitungan kebutuhan bahan, mesin ataupun peralatan, routing sheet ini dapat dipergunakan. Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum membuat Routing sheet adalah sebagal berikut : 1. Bahan/material yang digunakan untuk memproduksi suatu produk. 2. Banyaknya satuan unit produk yang akan dibuat. 3. Urut-urutan kegiatan yang sifatnya tetap. 4. Peralatan yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan. 5. Komponen- komponen untuk assembling setelah diprcduksi.

2.3.1 Tujuan pembuatan routing sheet 1. mengetahui aliran pross yang dialami oleh bahan bakuuntk tiap jenis komponen dengan mengetahui jumlah mesinnya. 2. Sebagai dasar dalam penentuan tata letaj pabrik 3. Sebagai alat untuk memperbaiki cara kerja yang sedang dilakukan 4. Dengan diketahuinya lama waktu pelaksanaan kegiatan, ditentukan pemanfaatan fasilitas produk.

2.4

Multy Proses Product Chart (MPPC) Satu teknik analisa lainnya yang menyerupai peta kerja dan juga

dipergunakan untuk menganalisa aliran bahan adalah Multy Product Procees Chart ( MPPC ). Teknik analisa ini mengambil dasar penyajian dari Operation Process Chart ( OPC ), hanya saja pada MPPC ini penggambaran proses operasi di pisahkan menjadi sub bagian tersendiri, yaitu : Rough Lumber, Fabrikasi dan Assembling, yang dapat di persamakan dari ketiga peta itu adalah dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara luas, jelas dan sistematis. 2.4.1 Pengertian Apabila didefinisikan MPPC merupakan suatu diagram yang

menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami oleh bahan, baik bahan baku maupun bahan tambahan, seperti urutan-urutan operasi, pemeriksaan dan penyimpanan, serta dalam menggambarkannya dipisahkan antara Rough Lumber, Fabrikasi dan Assembling, atau dapat di katakan MPPC adalah suatu peta yang menggambarkan jumlah pemakaian kebutuhan mesin dari Routing Sheet. Simbol-simbol yang di pergunakan dalam MPPC ini sama dengan simbolsimbol yang di gunakan pada OPC, antara lain operasi, pemeriksaan dan penyimpanan. Hanya saja pada cara penomorannya dilakukan berdasarkan urutanurutan proses operasi perkomponen

2.4.2

Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari MPPC adalah :

Menentukan berapa banyak kebutuhan mesin

Menunjukkan keterkaitan produksi antara komponen-komponen produk Sebagai pedoman dalam menjalankan proses produksi Sebagai alat kerja yang memberikan informasi yang berguna dalam perbaikan sistem.

2.5

Ongkos Material Handling (OMH) Di dalam merancang Tata Letak Pabrik, maka aktivitas pemindahan bahan

(material handling) merupakan salah satu faktor yang cukup penting untuk diperhatikan dan diperhitungkan. Aktivitas pemindahan tersebut dapat ditentukan dengan terlebih dahulu memperhatikan aliran bahan yang terjadi dalam suatu operasi. Selanjutnya hal yang harus diperhatikan adalah type lay out yang akan digunakan. Ongkos material handling adalah ongkos yang dikeluarkan untuk melakukan pemindahan material dari satu departemen menuju departemen yang lain untuk dilakukannya proses produksi selanjutnya. MaterialHandling adalah suatu seni dan ilmu pengetahuan mengenai peminda han,pengepakan dan penyimpanan, pengepakkan danpenyimpanan semuajenis /be ntuk material / bahan yang terjadi di dalam pabrik termasuk pemindahan bahan baku kepabrik serta pemindahan barang jadi sampai ketangan konsumen. Seni dan ilmu pengetahuan dari perpindahan, penyimpanan, perlindungan dan pengawasan material penanganan material dalam jumlah yang tepat dari material yang sesuai, dalam kondisi yang baik, pada tempat yang cocok, pada waktu yang tepat, pada posisi yang benar, dalam urutan yang sesuai, dengan biaya yang murah dan menggunakan metode yang benar.

Tujuan Ongkos Material Handling adalah menjaga atau mengembangkan kualitas produk, mengurangi kerusakan dan memberikan perlindungan terhdap material. Kebutuhan-kebutuhan tersebut meliputi: 1. Menghemat penggunaan luas lantai 2. Mengurangi beban manusia dan kecelakaan 3. Meningkatkan semangat kerja 4. Mengurangi biaya handling/penanganan 5. Mengurangi biaya over head 6. Mengurangi biaya produksi Keguanaan luas lantai adalah saat digunakan dalam membantu untuk perhitungan OngkosMaterial Handling (OMH) antar departemen, sesuai dengan luas lantai hasil perhitungan. 2.5.1 Prinsip-Prinsip Material Handling 1. Right Material : Material yang disediakan sesuai dengan yang dipesan oleh bagian produksi, akan lebih akurat jika menggunakan peralatan otomatis. 2. Right Mount : Jumlah yang disediakan oleh bagian material handling sesuai jumlah kebutuhan. 3. Right Condition : Sesuai dengan keinginan konsumen (misal tidak rusak, kondisi barang dipak atau tidak dipak, diurut penyusunannya, dlan lain-lain). 4. Right Place : Menempatkan material langsung dilokasi akhir siap untuk digunakan, tidak di tengah-tengah perjalanan (misal di gang).

5. Right Sequence : Urutan penanganan material yang efisien misalnya dengan penyederhanaan kerja, efisiensi manufakturing. 6. Right Cost : Mendesain bentuk yang efisien sehingga biaya menjadi efisien Not the lowest cost. 7. Right time : On time delivery, jika proses material handling di dalam pabrik dilakukan dengan peralatan otomatis syarat ini akan lebih mudah dicapai. Beberapa aktivitas pemindahan bahan yang perlu diperhitungkan adalah sebagai berikut: a. Pemindahan bahan dari gudang bahan baku (Receiving) menuju departemen fabrikasi maupun departemen assembling. b. Pemindahan bahan yang terjadi dari satu departemen menuju departemen yang lainnya. c. Pemindahan bahan dari departemen assembling menuju gudang bahan jadi (Shipping) d. Alat Angkut yang Dipergunakan Pemilihan jenis alat angkut didasari terhadap besar beban material yang harus dipindahkan, dimana jenis alat angkut yang dipergunakan bergantung pada spesifikasi alat angkut dalam melakukan operasinya. Beberapa alat-alat angkut yang biasa dipergunakan adalah : e. Alat angkut dengan menggunakan Tenaga Manusia < 20 Kg. f. Alat angkut dengan menggunakan Walky Fallet (20 50 Kg). g. Alat angkut dengan menggunakan Lift Truck (diatas 50 Kg).

Setelah ditentukan alat angkut yang akan digunakan, maka selanjutnya dapat ditentukan ongkos alat angkut berdasarkan jarak tempuh (meter gerakan)./ jarak pengangkutan. Pemilihan peralatan pemindahan bahan juga dapat diklarifikasikan pada gerakan dasar perpindahan yang akan dilakukan oleh peralatan tersebut. Gerakan perpindahan ini dapat di bedakan atas : Lintasan tetap atau fleksibel. Gerakan perpindahan yang terputus-putus atau continue. Jarak lintasan perpindahan jauh dekat. Perpindahan bahan diselenggarakan didalam atau diluar pabrik. Gerakan perpindahan kearah vertical, Horizontal, membentuk sudut ataukah merupakan kurva.

2.6

Activity Relationship Chart (ARC) Teknik ideal untuk desain relationship antara setiap kelompok aktivitas

yang saling berkaitan. Perencanaan aktivitas relationship menggunakan ARC sebagai instrumen analisa dalam pengerjaannnya Kegunaan ARC adalah : 1. Penyusunan urutan pendahuluan bagi peta dari-ke 2. Lokasi relatif dari pusat kerja atau departemen dalam satu kantor 3. Lokasi kegiatan dalam satu usaha pelayanan 4. Lokasi pusat kerja dalam operasi perawatan atau perbaikan 5. Lokasi nisbi dari daerah pelayanan satu kegiatan dengan yang lainnya, serta alasannya. 6. Memperoleh satu landasan bagi penyusunan daerah selanjutnya.

Langkah-langkah pembuatan ARC adalah : 1. Penyusunan urutan pendahuluan bagi peta dari-ke 2. Lokasi relatif dari pusat kerja atau departemen dalam satu kantor 3. Lokasi kegiatan dalam satu usaha pelayanan 4. Lokasi pusat kerja dalam operasi perawatan atau perbaikan 5. Lokasi nisbi dari daerah pelayanan satu kegiatan dengan yang lainnya, serta alasannya. 6. Memperoleh satu landasan bagi penyusunan daerah selanjutnya.

Kode pembuatan ARC adalah dalam pembuatan ARC kode derajat relationship yang menggunakan hurup-hurup (A, E, I, O, U, X) diletakkan pada bagian atas kotak. Sedangkan alasan derajat relationship dimasukan di kotak bawah contoh sebagai berikut: A

Contoh derajat relationship

Kode 1 2 3 4 5 Urutan aliran material

Alasan

Membutukan area yang sama Intensitas hubungan dokumen dan personalia yang sama Debu dan bising Bau dan kotot

Aturan derajat relationship KODE A E I O PERSENTASE 5 % 10 % dari banyaknya total relationship yang terjadi 15 % 20 % KETERANGAN

U dan X : Tidak ada batasan

Total Relationship Total relationship N, dapat dihitung berdasarkan jumlah departemen atau pusat kerja dengan menggunakan rumus[1] sebagai berikut:

Bila n = jumlah departemen dalam pabrik. Misalkan depatemen berjumlah 25 maka: = 300 Relationship

A tidak boleh lebih dari 15 relationship (300 x 5% = 15). Begitupun selanjutnya, Total relationship E dan I tidak boleh lebih dari 30 dan 45 relationship Bila n = 6 maka Total Relatisonship =

= 15 Relationship

Contoh ARC Relationship Pusat Kegiatan 1 1 Assembly O E 2 Kantor U O 3 Gudang A U 4 Pengiriman U U 5 R. Istirahat U 5 6 R. Alat 6 4 U 3 2 O U I 1 U I 5 6 2 3 4

KODE 1 2 3 4 5 Urutan aliran material

ALASAN

Membutukan area yang sama Intensitas hubungan dokumen dan personalia yang sama Debu dan bising Bau dan kotot

2.7

Activity Relationship Diagram (ARD) ARD pendekatan ini menggambarkan ARD dengan hubungan garis yang menunjukan besarnya derajat relationship antara aktivitas yang satu dengan aktivitas lainya. Pembuatan ARD dalam SLP mempertimbangkan dengan meng

kombinasikan dua aspek yaitu: Aspek Kuantitatif (Aliran Material) Aspek Kualitatif (ARC)

Contoh ARD :

2.8 Area Alocation Diagram (AAD) Area Alocation Diagram merupakan lanjutan dari ARC. Dimana dalam ARC telah diketahui kesimpulan tingkat kepentingan antar aktivitas dengan demikian berarti bahwa ada sebagian aktivitas harus dekat dengan aktivitas yang lainnya dan ada juga sebaliknya. Atau dapat dikatakan bahwa hubungan antar aktivitas mempengaruhi tingkat kedekatan antar tata letak aktivitas tersebut. Kedekatan tata letak aktivitas tersebut ditentukan dalam bentuk Area Alocation Diagram. Adapun dasar pertimbangan dalam prosedur pengaloaksian area ini adalah sebagai berikut : Aliran produksi, material, peralatan ARC, informasi aliran, aliran personil, hubungan fisikal Tempat yang dibutuhkan ARD

AAD ini merupakan lanjutan penganalisaan tata letak setelah ARC, maka sesuai dengan persoalan ARC diatas maka dapat dibuat AAD-nya. AAD merupakan Template secara global informasi yang dapat dilihat hanya pemanfaatan area saja, sedangkan gambar visualisasi secara lengkap dapat dilihat pada template yang merupakan hasil akhir dari penganalisaan dan perencanaan tata letak pabrik.

Contoh gambar AAD :

RECEIVING & SHIPPING

STOCK ROOM

TOOL ROOM MAINTENANCE

PRODUCTION LOCKER ROOM FOOD SERVICE OFFICE

2.9

Template Template merupakan suatu gambaran yang telah jelas dari tata letak pabrik

yang akan dibuat dan merupakan gambaran detail dari AAD yang telah dibuat. Informasi yang dapat dilihat pada Template : a. Tata letak kantor dan peralatannya b. Tata letak pelayanan yang ada di pabrik, misalnya jalan, kantin, sarana olah raga, dan lain-lain. c. Tata letak bagian produksi, misalnya receiving, pabrikasi, assembling, shipping. d. Aliran setiap material, mulai dari receiving sampai dengan shipping

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

3.1

Pemilihan Lokasi Pemilihan lokasi pada dasarnya adalah menentukan suatu tempat atau lokasi

yang tepat untuk suatu perisahaan atau perkantoran atau lokasi untuk tujuan tertentu, dengan memperhitungkan kelebihan dan kekurangan lokasi tersebut. Dalam pemilihan lokasi kita akan membandingkan suatu lokasi dengan lokasi lainnya, berdasarkan nilai break even point lokasi tersebut. No. Keterangan Biayatenagakerja 7 orang/Tahun BiayaListrik / Tahun Biaya Air / Yahun BiayaPerawatan / Tahun Biayaadministrasi / Tahun Pajakbumidanbanguna / Tahun Sewamobilselamasetahun / Tahun SewaBangunandan Tanah setahun Total = Jakarta 140.000.000 3.890.000 1.080.000 1.200.000 600.000 120.000 800.000 8.000.000 155.690.000 3.500 3.000 6.500 Tangerang 140.250.000 3.890.000 110.000 1.150.000 700.000 120.000 720.000 8.400.000 154.940.000 3.600 3.500 7.100

FC

VC Ongkosburuh / unit Ongkosoperasi / unit Total

Jika dianggap persamaan linier maka: BEP = FC+(VC x Unit/Th) Jakarta Tangerang = 155.690.000 + (6.500 5.000) = Rp. 188.190.000 = 154.940.000 + (7.100 5.000) = Rp. 190.440.000

3.2 Operation produksi chart OPC adalah suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang dialami oleh bahan baku yag meliputi urutan proses operasi dan pemeriksaan. Pembuatan OPC ini merupakan tahap pertama dalam urutan untuk merencanakan tata letak pabrik.

Bagan 3.2.1 OPC (Operation product chart)

3.3

Flow Process Chart Berikut adalah gambaran skematik/diagram yang menunjukkan seluruh langkah dalam suatu proses pembuatan tas laptop dan menunjukkan bagaimana langkah itu saling mengadakan interaksi satu sama lain.

Proses : Binder Bag Beginning : Badan Binder bag Ending : Storage Step No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Time (min) 5 1 15 0,83 5 1 10 1 5 0,83 10 1 10 1 15 1

Activity Operation Transportation Inspection Delay Store Distance (meter)

RINGKASAN WORK INSTRUKSI Number Time (min) of step 16 9 1 1 130 11 5

Distance (ft)

17,5

Description
Memotong Alas Atas

2 1 2 2 1 2

Mengebor Alas Atas Mengamplas Alas Atas Mengecat Alas Atas Memotong kaki meja 1 Mengebor kaki meja 1 Mengamplas kaki meja 1 Mengecat kaki meja 1 Merakit kaki meja 1 Memotong kaki meja 2 Mengebor kaki meja 2 Mengamplas kaki meja 2 Mengecat kaki meja 2 Merakit kaki meja 2

Perakitan utama Inspeksi

3.4

Routing Sheet Routing sheet di butuhkan untuk merencanakan tata letak pabrik, Routing

sheet ini digunakan untuk : 1. Menghitung jumlah mesin yang diperlukan 2. Menghitung jumlah part yang harus dipersiapkan dalam usaha memperoleh sejumlah produk jadi yang diinginkan.
No. Op. O-1 O-2 O-3 O-4 O-5 O-6 O-7 O-8 O-9 O-10 O-11 O-12 O-13 O-14 O-15 O-16 Msn (alat) Mesin Potong mesin bor mesin bor compresor Mesin potong mesin bor mesin bor compresor compresor Mesin potong mesin bor mesin bor compresor compresor Finish goods operator waktu proses (menit) produksi mesin /menit % Scrap Bahan Diminta Bahan Dipersiapk an Effisien si Msn Kebutuhan mesin Teori Aktual

Deskripsi Memotong Alas Atas Mengebor Alas Atas Mengamplas Alas Atas Mengecat Alas Atas Memotong kaki meja 1 Mengebor kaki meja 1 Mengamplas kaki meja 1 Mengecat kaki meja 1 Merakit kaki meja 1 Memotong kaki meja 2 Mengebor kaki meja 2 Mengamplas kaki meja 2 Mengecat kaki meja 2 Merakit kaki meja 2 Perakitan utama Inspeksi

2 1,5 1,5 2,5 2 1,5 1,5 2,5 1,5 2 1,5 1,5 2,5 1,5 3 1,5

30 40 40 24 30 40 40 24 40 30 40 40 24 40 20 40

0,980 0,950 0,920 0,890 0,860 0,830 0,800 0,770 0,740 0,710 0,680 0,650 0,620 0,590 0,560 0,530

30 40 40 24 30 40 40 24 40 30 40 40 24 40 20 40

30 40 40 24 30 40 40 24 40 30 40 40 24 40 20 40

1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00

1,00 0,03 0,03 0,04 0,03 0,03 0,03 0,04 0,03 0,03 0,03 0,03 0,04 0,03 0,05 0,03

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Bagan 3.3.1 Table Routing sheet

3.5

MPPC (Multi Proses Product Chart) Setelah OPC dan routing sheet terpenuhi maka langkah selanjutnya adalah

membuat MPPC. MPPC di perlukan untuk mengetahui banyak mesin, dan untuk mengetahui operasi yang dilakukan masing-masing bahan baku.
No Operasi Alas Meja A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 storage Meja Pabrikasi Meja Potong Mesin Bor Mesin Serut Assembling Mesin Compresor Inspeksi Gudang Produk Jadi Alas Meja B Fabrikasi Kaki meja K Kaki meja K Baut Accessories

Total =

Bagan 3.4.1 Table MPPC (Multi Proses Product Chart)

3.6

Kebutuhan Luas Lantai Pabrik Pada tahap ini akan dilakukan analisa perhitungan luas lantai yang dibutuhkan dalam mendirikan pabrik pembuatan tas laptop, berikut adalah perhitungan luas lantai pabrik:

1.1 Luas Lantai Produksi Berikut adalah perhitungan luas lantai yang dibutuhkan untuk bagia produksi:
Ukuran (m) Nama Mesin Departemen Jumlah Mesin 2 2 Departeme Produksi 1 1 1 P 1 1,5 1 1,5 1,5 L 2 0.5 1 1 1 TOTAL Luas Mesin (m2) 2 0.75 1 1,5 1.5 Luas Seluruh Mesin (m2) 2 0,75 1 1,5 1.5 Toleransi Bahan (100%) 2,00 0,75 1,00 1,50 1,50 Allowan ce (200%) 4 1,5 3 3 3 Total Luas/Departe men (m2) 8,00 3,00 5,00 6,00 6,00 28,00

Mesin Potong Mesin Bor Mesin Compresor Meja Perakitan Meja Packing

3.7

Ongkos Material Handling

Langkah awal dalam menaganlisi biaya material handling maka perlu diketahui dulu jumlah departemen dan jarak perpindahan yang disajikan pada tabel berikut: a) Gudang Bahan Baku b) Dept. Pemotongan c) Dept. Pengeboran d) Dept. Compresor e) Dept. Perakitan f) Dept. QC dan Packing g) Gudang Produk jadi h) Kantor

Tabel 3.7.1 Aliran Material Antar Departemen


Dari Ke

B 10

C X 10

D X X 10

E X X X 10

F X X X X 10

G X X X X X 10

H X X X X X X X

A B C D E F G H 10 X X X X X X

10 X X X X X 10 X X X X

10 X X X 10 X X

10 X X

Untuk mengetahui biaya material handling maka langkah awal perlu fiketahui dahulu jarak antar departemen dan frekuensi perpindahan material adalah sebagai berikut: Tabel Frekuensi perpindahan material dan jarak antar departemen No. Dari AB BC CD DE EF FG BA CB DC ED FE GF Total = Alat Angkut Material 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Manual Manual Manual Manual Manual Manual Manual Manual Manual Manual Manual Manual Frekuensi Perpindahan 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 120 Jarak (m) 2 2 3 3 2 3 2 2 3 3 2 3 30 Frekuensi Jarak (m) 20 20 30 30 20 30 20 20 30 30 20 30 300

Sebelum melangkah ke proses perhitungan OMH maka perlu diketahui dahulu biaya ongkos perpindahan per meter sebagai berikut:

Tabel Ongkos Perpindahan Material perhari


Stasiun Kerja waktu Proses (menit) Terdiri Dari Waktu Pengerjaan waktu Perpindahan gaji pekerja menit ongkos pemindahan material (unit) frekuensi produk dipindahkan ongkos perpindahan

Gudang bahan baku Pemotongan Pengeboran Compresor + Amplas Perakitan qc dan packing

6 4,5 4,5 10,5 3 2

8 8 8 16 4 2

2 2 2 3 2 3

183,34 183,34 183,34 183,34 183,34 183,34

366,68 366,68 366,68 550,02 366,68 550,02

15 15 15 15 15 15 Total

5500,2 5500,2 5500,2 8250,3 5500,2 8250,3 38501,4

Langkah selanjutnya aadalah menghitung Ongkos Material Handling per meter dengan menggunakan rumus:

OMH perMeter = OMH perMeter =

Ongkos Perpindahan perhari Jarak Total Rp.38.501,4 450 m

Ongkos OMH/Meter : Rp. 85,55 Dengan demikian maka OMH dalam sebulan dapat diketahui dengan perhitungan sebagai berikut: OMH perBulan = (OMH perMeter Total jarak perpindahan) 30 hari OMH perBulan = (Rp. 85,55 450) 30 OMH perBulan = Rp. 1.154.250

3.8

Activity Relationship Chart (ARC) Dalam industri pada umumnya terdapat sejumlah kegiatan atau aktivitas

yang menunjang jalannya suatu industri. Setiap kegiatan atau aktivitas tersebut saling berhubungan (berinteraksi) antara satu dengan lainnya, dan yang paling penting diketahui bahwa setiap kegiatan tersebut membutuhkan tempat untuk melaksanakannya. Aktifitas atau kegiatan tersebut diatas dapat berupa aktivitas produksi, administrasi, assembling, inventory, dll. Sebagaimana diketahui diatas bahwa setiap kegiatan atau aktifitas tersebut saling berhubungan antara satu dengan lainnya ditinjau dari beberapa kriteria, maka dalam perencanaan tata letak pabrik harus dilakukan penganalisaan yang optimal. Teknik yang digunakan sebagai alat untuk menganalisa hubungan antar aktifitas yang ada adalah Activity Relationship Chart.

Tabel 3.7.1 Jenis Departemen Industri Tas Laptop No. Jenis Pusat Kegiatan / Departemen 1 2 3 4 5 6 7 8 Gudang Bahan Baku Dept. Penggambaran Pola Dept. Pemotongan Dept. Penjahitan Dept. Perakitan Dept. QC dan Packing Gudang Produk Jadi Kantor

Bedasarkan hasil kajian dari data desain pabrik memerlukan 8 pusat kegiatan untuk menunjang kegiatan produksi taslaptop, pusat-puasat kegiatan sebenarnya terdiri atas unit-unit kegiatan yang kecil. Namun, atas pertimbangan efesiensi penggunaan luas lantai, tim perancang melakukan penggabungan. Setelah seluruh departemen diketahui maka langkh selanjutnya adalah melakukan analisis derajat relationship yang menggunakan kode hurup-hurup (A, E, I, O, U, X) yang didapat dengan merumuskan alasan tingkat hubungan antar departemen sebagai berikut:

Tabel alasn hubungan atar pusat kegiatan Kode 1 2 3 4 5 Alasan Urutan aliran bahan Membutukan area yang sama Intensitas hubungan dokumen dan personalia yang sama Debu dan bising Bau dan kotot

Kedekatan Setelah diketahui apa saja alasan kedekatan dan alasan menjauh maka Menjauh kode derajat relationship dapat dirumuskan sebagai berikut:

Kode Derajat Kedekatan Atar Pusat Kegiatan KODE A E I O DERAJAT RELATIONSHIP Mutlak Penting Sangat Penting Penting Biasa Alasan Hubungan 3 Alasan Mendekat 2 Alasan Mendekat 1 Alasan Mendekat

U X

Tidak Penting Tidak Diinginkan

1 Alasan Menjauh 2 Alasan Menjauh

Langkah selanjutnya yaitu memasukkan alasan setiap pasangan departemen pada ARC yang didasarkan pada relationship antar aktivitas sesuai dengan alasan hubungan tiap departemen yang disajikan pada diagram berikut:

Gambar 3.7.2 Diagram ARC Hubungan Aktifitas

Langkah selanjutnya untuk mempermudah penganalisaan selanjutnya maka hubungan antar aktivitas tersebut dibuat kedalam kertas kerja (work sheet) yang dibuat sebagai berikut :

Tabel 3.7.3 Work Sheet ARC WORK SHEET FOR ACTIVITY RELATIONSHIP CHART NO. ACTIVITY DEGREE OF CLOSENESS A E I O 1 Gudang Bahan Baku 2 7,8 3,5 2 Dept. Penggambaran Pola 3 1 4 5,7,8 3 4 5 6 7 8 Dept. Pemotongan Dept. Penjahitan Dept. Perakitan Dept. QC dan Packing Gudang Produk Jadi Kantor 2 4 3,5 4,6 5,7 6 5 2 3 8,1 7,1 1 6 1,7,8,2 4,8,2 5,2 6,5,2

U 4 6,7 1,7 3 4,3 -

X -

8 8 3,4

Gambar 3.7.4 Block Template ARC

Tabel 3.7.5 Total Space Requirement Sheet No 1 2 3 4 5 6 7 8 Pusat Kegiatan Gudang Bahan Baku Dept. Penggambaran Pola Dept. Pemotongan Dept. Penjahitan Dept. Perakitan Dept. QC dan Packing Gudang Produk Jadi Kantor Total Lantai Dimensi Luas (m2) (m x m) 3x5 15 4x4 16 4x4 16 5x5 25 4x4 16 8x4 25 3x5 15 8x4 32 160 Kebutuhan Modul (2 x 2) 4 4 4 6 4 8 4 8 39

Berdasarkan kebutuhan modul yang diperlukan sebanyak 39 modul. Maka area template dibuat minimal 39 modul.

3.9 Activity Relationship Diagram (ARD)

Bedasarkan ARC yang telah diketahui, maka dapat ditarik kesimpulan tingkat kepentingan antar aktivitas, dengan demikian berarti bahwa ada sebagian aktivitas yang harus dekat dengan aktivitas yang lainnya dan ada juga sebaliknya. Untuk menentukan penempatan letak lokasi

departemen yang satu dengan departemen yang lain dan menggambarkan hubungan derajat relationship antar aktivitas, dan membantu

perencanaan untuk menghubungkan masing-masing aktivitas secara tepat, maka langkah selanjutnya adalah membuat ARD dengan metode block layout yang dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 3.8.1 Diagram ARD Block Layout

Bedasarkan gambar diatas dapat diketahui Ruang kantor tidak dapat berada dekat Dept. Pemotongan dan Penjahitan dikarenakan suara bising dan getaran mesin yang menggangu, sedangkan Dept. Penggambaran Pola dan Dept. Pemotongan harus berada bersebelahan bedasarkan derajat relasi yang menunjukkan kode A. Block Layout ini adalah yang terbaik yang kami pilih bedasarkan layout by process.

4.9 Area Allocating Diagram (AAD) AAD merupakan Template secara global informasi yang dapat dilihat hanya pemanfaatan area saja, sedangkan gambar visualisasi secara lengkap dapat dilihat pada template yang merupakan hasil akhir dari penganalisaan dan perencanaan tata letak pabrik. Dengan demikian untuk mengetahui hubungan antar aktivitas mempengaruhi tingkat kedekatan antar tata letak aktivitas tersebut maka tata letak aktivitas tersebut ditentukan dalam bentuk Area Alocation Diagram (AAD) yang akan diuraikan sebagai berikut:

Gambar 4.9.1 Area Alocating Diagram ADD

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Pusat Kegiatan Gudang Bahan Baku Dept. Penggambaran Pola Dept. Pemotongan Dept. Penjahitan Dept. Perakitan Dept. QC dan Packing Gudang Produk Jadi Kantor Total

Lantai Dimensi Luas (m2) (m x m) 3x5 15 4x4 16 4x4 16 5x5 25 4x4 16 8x4 25 3x5 15 8x4 32 160

Kebutuhan Modul (2 x 2) 4 4 4 6 4 8 4 8 39

BAB IV ANALISIS DAN HASIL

4.1 Analisis Analisis merupakan suatu kegiatan kajian untuk mencari hasil kebenaran dari kegiatan yang sudah dilakukan untuk perbaikan kegiatan dimasa yang akan datang. Analisis yang akan dibahas pada bab empat ini merupakan analisis dari perancangan tataletak fasilitas yang terdiri dari: 1. Pemilihan lokasi. 2. Operation produksi chart (OPC). 3. Routing sheet. 4. Multi proses product chart (MPPC) 5. Ongkos material handling (OMH). 6. From to chart. 7. Activity relationship chart (ARC). 8. Activity relationship diagram (ARD). 9. Area alocation diagram (ADD). 10. Template. 4.1.1 Pemilihan Lokasi Pemilihan lokasi pabrik ini dilakukan karena tersedianya lahan kosong yang sudah tersedia bangunan namun belum digunakan. Kami memanfaatkannya unntuk tempat produksi serta kantor dari fan chair table dengan alasan meminimalisasi peyewaan lahan atau pembelian lahan utuk lokasi kantor dan tempat produksi.

4.1.2 Operation Produksi Chart (OPC). Aktifitas pembuatan OPC dilakukan sesuai dengan produk yang akan di buat serta bahan baku untuk pembuatan produk, Operasi yang dibutuhkan pada masing-masing komponen atau bagian dari bahan baku, waktu yang dibutuhkan dalam proses, mesin atau alat yang digunakan, Scrap (gram) yang dihasilkan (dibuang) dalam proses, serta luasnya ukuran pabrik yang tersedia. Produk yang akan kami buat berupa fan chair table yaitu, penggabungan dua buah produk (kursi kuliah dan kipas pendingin laptop). Analisis untuk pembuatan pabrik fan chair table ini terdiri dari 9 lini produksi, 1 lokasi inspeksi. Banyaknya melahirkan lini produksi karena dalam proses pembuatan produk harus dilakukan pembongkaran meja dari kursi yang memerlukan 3 lini produksi (pelepasan, pemotongan dan melubangi), perakitan kembali serta menggabungkan dengan engsel slide 1 lini produksi, perakitan meja kursi, kursi dan cooling pad 1 lini, 1 lini inspeksi dan 4 storage berupa pemeriksaan bahan baku dari 4 raw material yang akan digunakan. 4.1.3 Routing Sheet Pembuatan routing sheet di sesuaikan dengan mesin dan alat kerja untuk membuat fan cair table. Beberapa alat pembantu keja yang dibutuhkan untuk pembuatan fan chair table adalah obeng (proses dissable), gerinda (proses cutting), bor (proses drilling), serta obeng (proses assembling). Serta melakukan perhitungan scrap%, efisiensi dari masing-masing alat kerja atau mesin yang digunakan dan menentukan banyaknya alat kerja atau mesin yang di perlukan.

4.1.4 Multi Proses Product Chart (MPPC). Pada multi proses product chart produksi fan chair table bertujuan sebagai pedoman dalam menjalankan proses produksi. Beberapa hubungan antara bahan baku, alat kerja atau mesin dan proses produksi fan chair table antara lain: Alur dari colling pad melewati proses dissamble, cutting, drilling dan assembling. Alur dari engsel slide melewati proses dissamble, cutting, drilling dan assembling. Alur dari meja kursi melewati proses dissamble, cutting, drilling dan assembling. Alur dari kursi melewati dissamble, cutting, drilling, assembling dan inspection. 4.1.5 Ongkos Material Handling (OMH). Analisis yang dilakukan untuk pembuatan OMH adalah dari perhitungan jarak angkut tiap jamdibagi dengan total biaya (depresiasi ditambah operator). 4.1.6 From to Chart. Melakukan dua jarak, yang pertama jarak peraktivitas dan perhitungan durasi (jam) dalam penggunaan trolley. Asumsi yang digunakan dalam penggunaan troleey untuk per-aktivitas adalah 60 menit

4.6.7 Activity Relationship Chart (ARC). Hubungan anatara interaksi satu bagian pabrik dengan bagian lainnya pada pabrik dapat ditentukan dengan ARC baik hubungan dekat ataupun hubungan jauh. Pada pabrik fan chair table memiliki 10 bagian pada pabrik. Untuk melakukan penilaian hubungan antar bagian-bagian pabrik perusahaan fan chair table menggunakan simbol-simbol ( A untuk status mutlak penting, E untuk status sangat penting, I untuk status cukup penting, O untuk status biasa, U untuk status tidak perlu dan X untuk status tidak diinginkan). Sedangkan, untuk hubungan peletakan antar bagian-baguan pada pabrik menggunakan penilaian (1 untuk dalam area yang sama, 2 saling berkaitan dengan lebih dari satu area, 3 intensitas hubungan antara dokumen dengan manusia yang sama, 4 untuk debu dan bisisng, 5 untuk bau dan kotor, 6 untuk membutuhkan operator).

4.6.8 Activity Relationship Diagram (ARD). Pada ARD menentukan nilai-nilai hubungan antar ruangan pada pabrik sama dengan ARC. Pada ARD adalah membentuk lingkaran untuk menentukan hubungan-hibungan pada setiap ruangan pada bagian pabrik fan chair table dengan menggunakan warna agar lebih mudah di baca. Untuk pemberian penilaian antar hubungan dengan warna menggunakan kode- kode warna (Hitam untuk status mutlak penting, Oranye untuk status sangat penting, Hijau untuk status cukup penting, Biru untuk status biasa, Coklat untuk status tidak perlu dan Ungu untuk status tidak diinginkan).

4.1.9 Area Alocation Diagram (AAD). Pembuatan area alocation diagram pada perusahaan fan chair table masih menggunakan penggambaran manual yang sederhana untuk menginformasikan aliran produksi dan penempatan bagian pabrik. 4.1.10 Template. Template yang dibuat pada perusahaan fan chair table adalah lanjutan dari penggambaran AAD yang digambar lagi lebih spesifik sengan menggunakan aplikasi CAD.

4.2 Hasil Hasil adalah sesuatu yang sudah dibuat. Jadi pemaparah hasil dari bab 4 ini adalah hasil pengolahan pembuatan tataletak fasilitas/pabrik yang dilakukan di perusahaan fan chair table. Hasil yang akan dipaparkan antara lain hasil: 4.2.1 Pemilihan Lokasi. Pemilihan lokasi pada dasarnya adalah menentukan suatu tempat atau lokasi yang tepat untuk suatu perusahaan atau perkantoran atau lokasi untuk tujuan tertentu, dengan memperhitungkan kelebihan dan kekurangan lokasi tersebut. Dalam pemilihan lokasi kita akan membandingkan suatu lokasi dengan lokasi lainnya, berdasarkan nilai break even point lokasi tersebut. Tanggerang Pajak / tahun Listrik / tahun Ongkos buruh / bulan Ongkos operasi / unit 120.000 1.770.744 1.800.000 3.000

Setelah dilakukan analisa untuk pemilihan lokasi yang sangat baik dan tepat adalah wilayah Tangerang dengan pertimbang sebagai berikut: a. Pajak bangunan per tahun jauh lebih murah ketimbang wilayah jakarta dan bogor b. Biaya pemakaian listrik lebih murah ketimbang bogor meskipun sedikit lebih mahal dari jakarta c. Ongkos buruh per bulan lebih murah ketimbang jakarta dan bogor d. Ongkos operasi yang relatif standar dari jakarta dan bogor

4.2.2 Operation Process Chart (OPC). Berikut adalah hasil Operation Process Chart pada pembuatan Fan Chair Table :

Komponen yang dipakai dalam proses adalah: 1. Kursi kuliah 2. Engsel slide 3. Meja kursi

4. Fan laptop

4.2.3

Routing Sheet.

Berikut ini adalah hasil dari routing sheet. No. Op. 1 1 2 3 4 5 Deskripsi Msn (alat) 3 Obeng

2 Dissamble

Produk % Bahan Bahan Effisiensi Kebutuhan Msn / Scrap Diminta Dipersiapkan Msn mesin jam Teori Aktual 4 5 6 7 8 9 10 0.357 0 0.357 0.357 38% 1.053 1 0.357 0.357 0.357 0.357 5% 2% 0% 0% 0.357 0.357 0.357 0.357 0.376 0.364 0.397 0.397 39.57% 38.36% 44.09% 44.09% 1.108 1.074 1.235 1.235 1 1 1 1

Cutting Gerinda Drilling Bor Assembling Obeng Inspection Person 4.2.4

Multi Process Product Chart (MPPC). Berikut ini adalah hasil dari multi product chart.

No 1

Perakitan storage colling pad

Fabrikasi engsel meja slide kursi

kursi

mesin aktual 4

2 3

Dissamble Cutting

1 1 1 4 1

4 5 6

Drilling Assembling Inspection

TOTAL

12

4.2.5

Ongkos Material Handling (OMH). Dibawah ini adalah hasil dari perhitungan ongkos material handling.

Depresiasi = (Rp. 300.000,- x 1th x 1hari) / (5th x 300 hari x 7 jam) = Rp. 28,-/ jam

Jarak Pengangkutan Tiap Jam =128.1 m/hari / 7 jam = 896.7 m/jam

Total Biaya = (Depresiasi + Operator) = 28+ 12.857,14 = Rp. 12.885,71/jam

Ongkos Material Handling (OMH/M) = 12.885,71 / 896,7 = Rp.14,37/m

4.2.6

Activity Relationship Chart. Hasil dari aktivitas relationship berupa chart.

Dari

Ke

B 5.29

C 5.29 X

D X 8.18 X

E X X X 6.56

F X X X X 5.79

G X X 7.89 X X 8.23

H X X X X X X 7.36

I X X X X X X X 4.63

J X X X X X X X X 4.83

A B C D E F G H I J Dari Ke A B C D 10 1 X A 5.29 5.29 X X X X X X X

Keterang Jarak ant aktivitas

X 8.18 X X X X X X X X X 7.89 X X X

6.56 X X X X X 5.79 X X X X

8.23 X X X 7.36 X X

4.63 X 4.83

B 10

C 1 X

D X 10 X

E X X X 10

F X X X X

G X X 1 X

H X X X X

I X X X X

J X X X X

Keteranga Frekuens Trolley

X 10 X

E F G H I J

X X X X X X

X X X X X X

X X 1 X X X

10 X X X X X 10 X X X X

10

X 10

X X 10

X X X 10

X X X X 10

10 X X X 10 X X

10 X 10

Aktivitas A-B A-C B-D C-G D-E E-F F-G G-H H-I I-J

Frekuensi (M) 9.33 1 9.33 1 9.33 9.33 9.33 9.33 9.33 9.33

Frekuensi (M) 10 1 10 1 10 10 10 10 10 10

Durasi (Jam) 0.88 0.09 1.36 0.13 1.09 0.97 1.37 1.23 0.77 0.81 8.70

Keterangan : Perhitungan durasi (jam) dalam penggunaan trolley. Asumsi yang digunakan dalam penggunaan troleey untuk per-aktivitas adalah 60 menit.

4.2.7

Activity Relationship Diagram (ARD). Hasil dari activity relationship diagram.

Keterangan
Mutlak Penting A Sangat Penting E Cukup Penting I O U Tidak Diinginkan X Biasa Tidak Perlu

1 2 3 4 5 6

Berada dalam area yang sama Saling berkaitan dengan lebih dari satu area Intensitas hubungan antara dokumen dengan manusia yang sama Debu dan bising Bau dan Kotor Membutuhkan operator

4.2.8

Area Relation Diagram (ARD). Hasil dari area relation diagram.

Keterangan 1 2 3 4 5 aliran proses memudahkan pemindahan bahan membutuhkan informasi & tenaga kerja yang sama menimbulkan bau, bising, panas, debu, kotor Keselamatan

sandi A E I O U X

mutlak penting sangat penting cukup penting biasa tidak perlu tidak di inginkan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Keterangan kantor gudang receiving area disambling area cutting area drilling area Inspection shipping rest room pembuangan limbah

4.2.9

Area Alocation Diagram (AAD).

Loading Dock

Raw Material (Chair)

Raw Material (Fan)

Assembly Area Inspection


Werehouse

Shepping Area

Office Dissable Area Cutting Area Drill Area


Rest Room

4.2.10 Template.

BAB IV KESIMPULAN DAN EVALUASI