Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Keluarga merupakan kesatuan biopsikososial primer yang berfungsi sebagai satu kesatuan psikis. Keluarga bukanlah sesuatu yang bersifat statis, tetapi terus berubah, berkembang, dan bersifat dinamis. Melalui sifat keluarga yang dinamis inilah muncul model siklus kehidupan keluarga. Keluarga bukan merupakan sekelompok orang yang tidak mempunyai kesamaan dan bergabung. Keluarga merupakan grup alami yang beranggotakan individu yang tidak asing, atau dapat disebut juga kesatuan dari manusia yang berinteraksi. Keluarga terdiri atas individu yang terus berinteraksi, hidup bersama, berubah, dan tumbuh. Keluarga berfungsi untuk memfasilitasi dari mulai pembuahan. Keluarga merupakan kebutuhan dasar yang diperlukan untuk bertahan hidup dan meneruskan eksistensi. Kebutuhan tersebut termasuk interaksi antar individu, pelindung psikososial, suplai makanan, dan kebutuhan pokok, keuangan, dan pelayanan kesehatan.

1.2. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana siklus kehidupan keluarga dalam praktek pelayanan kesehatan.

1.3. Manfaat Penulisan Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah dapat memberikan pemahaman tentang siklus kehidupan keluarga beserta masalah yang mungkin muncul dalam siklus kehidupan dan makalah ini juga diharapkan dapat bermanfaat dalam mengaplikasikan ilmu siklus kehidupan keluarga dalam memahami masalah-masalah kesehatan yang muncul.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Anat !i Telinga

Gambar 1. Anatomi elinga1 1. Telinga Luar elinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. !aun telinga terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. !aun telinga terdiri dari tulang ra"an elastin dan kulit. #iang telinga berbentuk huruf $, dengan rangka tulang ra"an pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. %anjangnya kira-kira &,' ( ) cm.&

%ada sepertiga bagian luar kulit telinga terdapat banyak kelenjar serumen dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh liang telinga.%ada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.& 2. Telinga tenga"

elinga tengah berbentuk kubus yang terdiri dari*&,) Membran timpani yaitu membran fibrosa tipis yang ber"arna kelabu mutiara. +erbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Membran timpani dibagi atas & bagian yaitu bagian atas disebut pars flasida ,membrane sharpnell- dimana lapisan luar merupakan lanjutan epitel kulit liang telinga sedangkan lapisan dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, dan pars tensa merupakan bagian yang tegang dan memiliki satu lapis lagi ditengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin.

Gambar &. Anatomi Membran impani .

ulang pendengaran yang terdiri dari maleus, inkus dan stapes. ulang pendengaran ini dalam telinga tengah saling berhubungan.

uba eustachius, yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring.


4

3. Telinga #ala!

Gambar ). Anatomi elinga !alam1 elinga dalam terdiri dari koklea ,rumah siput- yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari ) buah kanalis semisirkularis. /jung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli.1 Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. %ada irisan melintang koklea tampak skala vestibule sebelah atas, skala timpani sebelah ba"ah dan skala media ,duktus koklearis- diantaranya. $kala vestibule dan skala timpani berisi perilimfa sedangkan skala media berisi endolimfa. 0on dan garam yang terdapat di perilimfa berbeda dengan endolimfa. !imana cairan perilimfe tinggi akan natrium dan rendah kalum, sedangkan endolimfe tinggi akan kalium dan rendah natrium. 1al ini penting untuk pendengaran. !asar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli ,2eissner3s Membrane- sedangkan skala media adalah membran basalis. %ada membran ini terletak organ corti yang mengandung organel-organel penting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran. 4rgan corti terdiri dari satu baris sel rambut dalam ,)555- dan tiga baris sel rambut luar ,1&555-. $el-sel ini menggantung le"at lubang-lubang lengan hori6ontal dari suatu jungkat jangkit yang dibentuk oleh sel-sel penyokong. /jung
5

saraf aferen dan eferen menempel pada ujung ba"ah sel rambut. %ada permukaan sel-sel rambut terdapat stereosilia yang melekat pada suatu selubung di atasnya yang cenderung datar, bersifat gelatinosa dan aselular, dikenal sebagai membrane tektoria. Membran tektoria disekresi dan disokong oleh suatu panggung yang terletak di medial disebut sebagai limbus.7 %ada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang diebut membran tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis 8orti, yang membentuk organ 8orti.&,7 2.2 $isi l gi Tu%a Eustachius 9ungsi abnormal tuba Eustachius merupakan faktor yang penting pada otitis media. uba Eustachius adalah saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring, yang terdiri atas tulang ra"an pada dua pertiga ke arah nasofaring dan sepertiganya terdiri atas tulang.1 uba Eustachius biasanya dalam keadaan steril serta tertutup dan baru terbuka apabila udara diperlukan masuk ke telinga tengah atau pada saat mengunyah, menelan dan menguap. %embukaan tuba dibantu oleh kontraksi muskulus tensor veli palatini apabila terjadi perbedaan tekanan telinga tengah dan tekanan udara luar antara &5 sampai dengan :5 mm1g. uba Eustachius mempunyai tiga fungsi penting, yaitu ventilasi, proteksi, dan drainase sekret. ;entilasi berguna untuk menjaga agar tekanan udara dalam telinga tengah selalu sama dengan tekanan udara luar. %roteksi, yaitu melindung telinga tengah dari tekanan suara, dan menghalangi masuknya sekret atau cairan dari nasofaring ke telinga tengah. !rainase bertujuan untuk mengalirkan hasil sekret cairan telinga tengah ke nasofaring.1 2.3. Definisi &MA 4titis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. 4titis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif, di mana masing-masing memiliki bentuk yang akut dan kronis. $elain itu, juga terdapat jenis otitis media spesifik, seperti otitis media tuberkulosa, otitis media sifilitika. 4titis media yang lain adalah otitis media adhesive.1 4titis media akut ,4MA- adalah peradangan telinga tengah dengan gejala dan tandatanda yang bersifat cepat dan singkat yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Gejala dan tanda klinik lokal atau sistemik dapat terjadi secara lengkap atau sebagian, baik berupa otalgia, demam, gelisah, mual, muntah, diare, serta otore, apabila telah terjadi perforasi
6

membran timpani. %ada pemeriksaan otoskopik juga dijumpai efusi telinga tengah. erjadinya efusi telinga tengah atau inflamasi telinga tengah ditandai dengan membengkak pada membran timpani atau bulging, mobilitas yang terhad pada membran timpani, terdapat cairan di belakang membran timpani, dan otore. %aling sering otitis media akut dipertimbangkan sebagai spectrum berkelanjutan dari otitis media yang mempengaruhi anak pada usia muda, akhir lainnya menjadi otitis media dengan efusi.&,),< %ada anak makin sering anak terserang infeksi saluran nafas atas, makin besar kemungkinan terjadi 4MA. %ada bayi terjadinya 4MA dipermudah oleh karena tuba eustachiusnya pendek, lebar, dan agak hori6ontal letaknya.1,&,),< Gambar :. $kema %embagian 4titis Media

Gambar '. $kema %embagian 4titis Media +erdasarkan Gejala

2.'. E(i#e!i l gi
7

+ayi dan anak mempunyai resiko paling tinggi untuk mendapatkan otitis media, insidensinya sebesar 1'-&5= dengan puncaknya terjadi antara umur .-). bulan dan :-. tahun. 0nsiden penyakit ini mempunyai kecenderungan untuk menurun sesuai fungsi umur setelah usia . tahun. 0nsiden tertinggi dijumpai pada laki-laki, kelompok sosial ekonomi rendah, anak-anak dengan celah pada langit-langit serta anomaly kraniofasial lain dan pada musim dingin atau hujan.: %ada anak, makin sering anak terserang infeksi saluran nafas atas makin besar kemungkinan terjadinya otitis media akut. %ada bayi terjadinya otitis media akut dipermudah oleh karena tuba eustachiusnya pendek, lebar, dan agak hori6ontal.> 2.). Eti l gi 1. +akteri +akteri piogenik merupakan penyebab 4MA yang tersering. Menurut penelitian, .'7'= kasus 4MA dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya melalui isolasi bakteri terhadap kultur cairan atau efusi telinga tengah. Kasus lain tergolong sebagai non-patogenik karena tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. iga jenis bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae ,:5=-, diikuti oleh Haemophilus influenzae ,&')5=- dan Moraxella catarhalis (15-1'=-. Kira-kira '= kasus dijumpai patogen-patogen yang lain seperti Streptococcus pyogenes (group A beta-hemolytic), Staphylococcus aureus, dan organisme gram negatif. Staphylococcus aureus dan organisme gram negatif banyak ditemukan pada anak dan neonatus yang menjalani ra"at inap di rumah sakit. Haemophilus influenzae sering dijumpai pada anak balita. ?enis mikroorganisme yang dijumpai pada orang de"asa juga sama dengan yang dijumpai pada anak-anak.: &. ;irus ;irus juga merupakan penyebab 4MA. ;irus dapat dijumpai tersendiri atau bersamaan dengan bakteri patogenik yang lain. ;irus yang paling sering dijumpai pada anak-anak, yaitu respiratory syncytial virus ,2$;-, influenza virus, atau adenovirus ,sebanyak )5-:5=-. Kirakira 15-1'= dijumpai parainfluenza virus rhinovirus atau enterovirus. ;irus akan memba"a dampak buruk terhadap fungsi tuba Eustachius, menganggu fungsi imun lokal, meningkatkan adhesi bakteri, menurunkan efisiensi obat antimikroba dengan menganggu mekanisme farmakokinetiknya. !engan menggunakan teknik polymerase chain reaction ,%82- dan virus

specific enzyme-lin!ed immunoabsorbent assay ,@#0$A-, virus-virus dapat diisolasi dari cairan telinga tengah pada anak yang menderita 4MA pada 7'= kasus. : 2.* $akt r +isik 9aktor risiko terjadinya otitis media adalah umur, jenis kelamin, ras, faktor genetik, status sosioekonomi serta lingkungan, asupan air susu ibu ,A$0- atau susu formula, lingkungan merokok, kontak dengan anak lain, abnormalitas kraniofasialis kongenital, status imunologi, infeksi bakteri atau virus di saluran pernapasan atas, disfungsi tuba Eustachius, inmatur tuba Eustachius dan lain-lain.: 9aktor umur juga berperan dalam terjadinya 4MA. %eningkatan insidens 4MA pada bayi dan anak-anak kemungkinan disebabkan oleh struktur dan fungsi tidak matang atau imatur tuba Eustachius. $elain itu, sistem pertahanan tubuh atau status imunologi anak juga masih rendah. 0nsidens terjadinya otitis media pada anak laki-laki lebih tinggi dibanding dengan anak perempuan. Anak-anak pada ras "ative American #nuit, dan #ndigenous Australian menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi dibanding dengan ras lain. 9aktor genetik juga berpengaruh. $tatus sosioekonomi juga berpengaruh, seperti kemiskinan, kepadatan penduduk, fasilitas higiene yang terbatas, status nutrisi rendah, dan pelayanan pengobatan terbatas, sehingga mendorong terjadinya 4MA pada anak-anak. A$0 dapat membantu dalam pertahanan tubuh. 4leh karena itu, anak-anak yang kurangnya asupan A$0 banyak menderita 4MA. #ingkungan merokok menyebabkan anak-anak mengalami 4MA yang lebih signifikan dibanding dengan anak-anak lain. !engan adanya ri"ayat kontak yang sering dengan anak-anak lain seperti di pusat penitipan anak-anak, insidens 4MA juga meningkat. Anak dengan adanya abnormalitas kraniofasialis kongenital mudah terkena 4MA karena fungsi tuba Eustachius turut terganggu, anak mudah menderita penyakit telinga tengah. 4titis media merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat infeksi saluran napas atas, baik bakteri atau virus.: 2., Pat genesis %atogenesis 4MA pada sebagian besar anak-anak dimulai oleh infeksi saluran pernapasan atas ,0$%A- atau alergi, sehingga terjadi kongesti dan edema pada mukosa saluran napas atas, termasuk nasofaring dan tuba Eustachius. uba Eustachius menjadi sempit, sehingga terjadi sumbatan tekanan negatif pada telinga tengah. +ila keadaan demikian berlangsung lama akan menyebabkan refluks dan aspirasi virus atau bakteri dari nasofaring
9

ke dalam telinga tengah melalui tuba Eustachius. Mukosa telinga tengah bergantung pada tuba Eustachius untuk mengatur proses ventilasi yang berkelanjutan dari nasofaring. ?ika terjadi gangguan akibat obstruksi tuba, akan mengaktivasi proses inflamasi kompleks dan terjadi efusi cairan ke dalam telinga tengah. 0ni merupakan faktor pencetus terjadinya 4MA dan otitis media dengan efusi. +ila tuba Eustachius tersumbat, drainase telinga tengah terganggu, mengalami infeksi serta terjadi akumulasi sekret di telinga tengah, kemudian terjadi proliferasi mikroba patogen pada sekret. Akibat dari infeksi virus saluran pernapasan atas, sitokin dan mediator-mediator inflamasi yang dilepaskan akan menyebabkan disfungsi tuba Eustachius. ;irus respiratori juga dapat meningkatkan kolonisasi dan adhesi bakteri, sehingga menganggu pertahanan imum pasien terhadap infeksi bakteri. ?ika sekret dan pus bertambah banyak dari proses inflamasi lokal, perndengaran dapat terganggu karena membran timpani dan tulang-tulang pendengaran tidak dapat bergerak bebas terhadap getaran. Akumulasi cairan yang terlalu banyak akhirnya dapat merobek membran timpani akibat tekanannya yang meninggi. 1,&,),:,15 4bstruksi tuba Eustachius dapat terjadi secara intraluminal dan ekstraluminal. 9aktor intraluminal adalah seperti akibat 0$%A, dimana proses inflamasi terjadi, lalu timbul edema pada mukosa tuba serta akumulasi sekret di telinga tengah. $elain itu, sebagian besar pasien dengan otitis media dihubungkan dengan ri"ayat fungsi abnormal dari tuba Eustachius, sehingga mekanisme pembukaan tuba terganggu. 9aktor ekstraluminal seperti tumor, dan hipertrofi adenoid.1,&,),:,15 2.- .ejala /linis Gejala klinis 4MA bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien. %ada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga, di samping suhu tubuh yang tinggi. +iasanya terdapat ri"ayat batuk pilek sebelumnya. %ada anak yang lebih besar atau pada orang de"asa, selain rasa nyeri, terdapat gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang mendengar. %ada bayi dan anak kecil, gejala khas 4MA adalah suhu tubuh tinggi dapat mencapai )>,'A8 ,pada stadium supurasi-, anak gelisah dan sukar tidur, tiba-tiba anak menjerit "aktu tidur, diare, kejang-kejang dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. +ila terjadi ruptur membran timpani, maka sekret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun dan anak tidur tenang.1 %enilaian klinik 4MA digunakan untuk menentukan berat atau ringannya suatu penyakit. %enilaian berdasarkan pada pengukuran temperatur, keluhan orang tua pasien
10

tentang anak yang gelisah dan menarik telinga atau tugging, serta membran timpani yang kemerahan dan membengkak atau bulging.1,& abel &.1. $kor 4MA $kor $uhu ,B8Gelisah arik elinga Kemerahan pada Membran impani 5 1 & ) C)<,5 )<,5-)<,' )<,.-)>,5 D)>,5 idak ada 2ingan $edang +erat idak ada 2ingan $edang +erat idak ada 2ingan $edang +erat +engkak pada Membran impani ,+ulgingidak ada 2ingan $edang +erat

%enilaian derajat 4MA dibuat berdasarkan skor. +ila didapatkan angka 5 hingga ), berarti 4MA ringan dan bila melebihi ), berarti 4MA berat. %embagian 4MA lainnya yaitu 4MA berat apabila terdapat otalgia berat atau sedang, suhu lebih atau sama dengan )>A8 oral atau )>,'A8 rektal. 4MA ringan bila nyeri telinga tidak hebat dan demam kurang dari )>A8 oral atau )>,'A8 rectal.1,& 4MA dapat dibedakan dari otitis media dengan efusi yang dapat menyerupai 4MA. @fusi telinga tengah ,middle ear effusion- merupakan tanda yang ada pada 4MA dan otitis media dengan efusi. @fusi telinga tengah dapat menimbulkan gangguan pendengaran dengan 5-'5 decibels hearing loss. .,1) abel &.&. %erbedaan Gejala dan anda Antara 4MA dan 4titis Media dengan @fusi 15 Gejala dan anda 4titis Media Akut 4titis Media dengan @fusi Eyeri tekinga ,otalgia-, menarik F -

telinga ,tugging0nflamasi akut, demam @fusi telinga tengah Membran timpani membengkak F F FGF H

,bulging-, rasa penuh di telinga Gerakan membran timpani berkurang F F


11

atau tidak Iarna membran timpani abnormal seperti menjadi putih, kuning, dan biru Gangguan pendengaran 4tore purulen akut Kemerahan erythema mebran timpani, F F F F F F

2.0 Pen1e%a%2(en1e%a% Anak Mu#a" Terserang &MA !ipercayai bah"a anak lebih mudah terserang 4MA dibanding dengan orang de"asa. 0ni karena pada anak dan bayi, tuba lebih pendek, lebih lebar dan kedudukannya lebih hori6ontal dari tuba orang de"asa, sehingga infeksi saluran pernapasan atas lebih mudah menyebar ke telinga tengah. %anjang tuba orang de"asa )7,' mm dan pada anak di ba"ah umur > bulan adalah 17,' mm. 1 0ni meningkatkan peluang terjadinya refluks dari nasofaring menganggu drainase melalui tuba Eustachius. 0nsidens terjadinya otitis media pada anak yang berumur lebih tua berkurang, karena tuba telah berkembang sempurna dan diameter tuba Eustschius meningkat, sehingga jarang terjadi obstruksi dan disfungsi tuba. $elain itu, sistem pertahanan tubuh anak masih rendah sehingga mudah terkena 0$%A lalu terinfeksi di telinga tengah. Adenoid merupakan salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh. %ada anak, adenoid relatif lebih besar dibanding orang de"asa. %osisi adenoid yang berdekatan dengan muara tuba Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya tuba Eustachius$ $elain itu, adenoid dapat terinfeksi akibat 0$%A kemudian menyebar ke telinga tengah melalui tuba Eustachius.: Gambar .. %erbedaan Antara uba Eustachius pada Anak-anak dan 4rang !e"asa :

12

2.13. Sta#iu! &MA 4MA dalam perjalanan penyakitnya dibagi menjadi lima stadium, bergantung pada perubahan pada mukosa telinga tengah, yaitu stadium oklusi tuba Eustachius, stadium hiperemis atau stadium pre-supurasi, stadium supurasi, stadium perforasi dan stadium resolusi.1,& Gambar 7. Membran impani Eormal 1,&,<

1. $tadium 4klusi uba Eustachius %ada stadium ini, terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan intratimpani negatif di dalam telinga tengah, dengan adanya absorpsi udara. 2etraksi membran timpani terjadi dan posisi malleus menjadi lebih hori6ontal, refleks cahaya juga berkurang. @dema yang terjadi pada tuba Eustachius juga menyebabkannya tersumbat. $elain retraksi, membran timpani kadang-kadang tetap normal dan tidak ada kelainan, atau hanya ber"arna keruh pucat. @fusi mungkin telah terjadi tetapi tidak dapat dideteksi. $tadium ini sulit dibedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan oleh virus dan alergi. idak terjadi demam pada stadium ini.1,& &. $tadium 1iperemis atau $tadium %re-supurasi %ada stadium ini, terjadi pelebaran pembuluh darah di membran timpani, yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat. 1iperemis disebabkan oleh oklusi tuba yang berpanjangan sehingga terjadinya invasi oleh mikroorganisme piogenik. %roses inflamasi berlaku di telinga tengah dan membran timpani menjadi kongesti. $tadium ini merupakan tanda infeksi bakteri yang menyebabkan pasien mengeluhkan otalgia, telinga rasa penuh dan demam. %endengaran mungkin masih normal atau terjadi gangguan ringan, tergantung dari cepatnya proses

13

hiperemis. 1al ini terjadi karena terdapat tekanan udara yang meningkat di kavum timpani. Gejala-gejala berkisar antara dua belas jam sampai dengan satu hari.1,& Gambar <. Membran impani 1iperemis 1,<

). $tadium $upurasi $tadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen atau bernanah di telinga tengah dan juga di sel-sel mastoid. $elain itu edema pada mukosa telinga tengah menjadi makin hebat dan sel epitel superfisial terhancur. erbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani menyebabkan membran timpani menonjol atau bulging ke arah liang telinga luar. %ada keadaan ini, pasien akan tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. %asien selalu gelisah dan tidak dapat tidur nyenyak. !apat disertai dengan gangguan pendengaran konduktif. %ada bayi demam tinggi dapat disertai muntah dan kejang. $tadium supurasi yang berlanjut dan tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan iskemia membran timpani, akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membran timpani. erjadi penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil, sehingga tekanan kapiler membran timpani meningkat, lalu menimbulkan nekrosis. !aerah nekrosis terasa lebih lembek dan ber"arna kekuningan atau yello% spot. Keadaan stadium supurasi dapat ditangani dengan melakukan miringotomi. +edah kecil ini kita lakukan dengan menjalankan insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari telinga tengah menuju liang telinga luar. #uka insisi pada membran timpani akan menutup kembali, sedangkan apabila terjadi ruptur, lubang tempat perforasi lebih sulit menutup kembali. Membran timpani mungkin tidak menutup kembali jikanya tidak utuh lagi.1,& Gambar >. Membran impani &ulging dengan %us %urulen 1,<

14

:. $tadium %erforasi $tadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Kadangkadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi ,berdenyut-. $tadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman. $etelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu tubuh menurun dan dapat tertidur nyenyak. ?ika mebran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret atau nanah tetap berlangsung melebihi tiga minggu, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. ?ika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih satu setengah sampai dengan dua bulan, maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik.1,& Gambar 15. Membran impani %eforasi 1,<

'. $tadium 2esolusi Keadaan ini merupakan stadium akhir 4MA yang dia"ali dengan berkurangnya dan berhentinya otore. $tadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal hingga perforasi membran timpani menutup kembali dan sekret purulen akan berkurang dan akhirnya kering. %endengaran kembali normal. $tadium ini berlangsung "alaupun tanpa pengobatan, jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman rendah.

15

Apabila stadium resolusi gagal terjadi, maka akan berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik. Kegagalan stadium ini berupa perforasi membran timpani menetap, dengan sekret yang keluar secara terus-menerus atau hilang timbul. 4titis media supuratif akut dapat menimbulkan gejala sisa berupa otitis media serosa. 4titis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa mengalami perforasi membran timpani.1,& 2.11 Diagn sis Kriteria diagnosis 4MA harus memenuhi tiga hal berikut, yaitu* .,11,1& 1. &. %enyakitnya muncul secara mendadak dan bersifat akut. !itemukan adanya tanda efusi. @fusi merupakan pengumpulan cairan di telinga tengah. @fusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut, seperti menggembungnya membran timpani atau bulging, terbatas atau tidak ada gerakan pada membran timpani, terdapat bayangan cairan di belakang membran timpani, dan terdapat cairan yang keluar dari telinga. ). erdapat tanda atau gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut, seperti kemerahan atau erythema pada membran timpani, nyeri telinga atau otalgia yang mengganggu tidur dan aktivitas normal. Menurut 2ubin et al. ,&55<-, keparahan 4MA dibagi kepada dua kategori, yaitu ringansedang, dan berat. Kriteria diagnosis ringan-sedang adalah terdapat cairan di telinga tengah, mobilitas membran timpani yang menurun, terdapat bayangan cairan di belakang membran timpani, membengkak pada membran timpani, dan otore yang purulen. $elain itu, juga terdapat tanda dan gejala inflamasi pada telinga tengah, seperti demam, otalgia, gangguan pendengaran, tinitus, vertigo dan kemerahan pada membran timpani. disertai dengan otalgia yang bersifat sedang sampai berat. .,11,1& @fusi telinga tengah diperiksa dengan otoskop ,alat untuk memeriksa liang telinga dan gendang telinga dengan jelas-. !engan otoskop dapat dilihat adanya gendang telinga yang menggembung, perubahan "arna gendang telinga menjadi kemerahan atau agak kuning dan suram, serta cairan di liang telinga. ?ika konfirmasi diperlukan, umumnya dilakukan otoskopi pneumatic ,pemeriksaan telinga dengan otoskop untuk melihat gendang telinga yang dilengkapi dengan pompa udara kecil untuk menilai respon gendang telinga terhadap
16

ahap berat meliputi

semua kriteria tersebut, dengan tambahan ditandai dengan demam melebihi )>,5A8, dan

perubahan tekanan udara-. Gerakan gendang telinga yang berkurang atau tidak ada sama sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan dini. %emeriksaan ini meningkatkan sensitivitas diagnosis 4MA. @fusi telinga tengah juga dapat dibuktikan dengan timpanosintesis ,penusukan terhadap gendang telinga-..,11,1& 2.12 Penatalaksanaan 2.12.1. Peng %atan %enatalaksanaan 4MA tergantung pada stadium penyakitnya. %engobatan pada stadium a"al ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik. ujuan pengobatan pada otitis media adalah untuk menghindari komplikasi intrakrania dan ekstrakrania yang mungkin terjadi, mengobati gejala, memperbaiki fungsi tuba Eustachius, menghindari perforasi membran timpani, dan memperbaiki sistem imum lokal dan sistemik. .,11,1& %ada stadium oklusi tuba, pengobatan bertujuan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. !iberikan obat tetes hidung 18l efedrin 5,' = dalam larutan fisiologik untuk anak kurang dari 1& tahun atau 18l efedrin 1 = dalam larutan fisiologis untuk anak yang berumur atas 1& tahun pada orang de"asa. $umber infeksi harus diobati dengan pemberian antibiotik.1 %ada stadium hiperemis dapat diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik. !ianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. ?ika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. /ntuk terapi a"al diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. +ila pasien alergi tehadap penisilin, diberikan eritromisin. %ada anak, diberikan ampisilin '5-155 mgGkg++Ghari yang terbagi dalam empat dosis, amoksisilin atau eritromisin masing-masing '5 mgGkg++Ghari yang terbagi dalam ) dosis.1 %ada stadium supurasi, selain diberikan antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur.1 %ada stadium perforasi, sering terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut atau pulsasi. !iberikan obat cuci telinga , ear toilet- 1&4& )= selama ) sampai dengan ' hari serta antibiotik yang adekuat sampai ) minggu. +iasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup kembali dalam 7 sampai dengan 15 hari.1
17

%ada stadium resolusi, membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi menutup. +ila tidak terjadi resolusi biasanya sekret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membran timpani. Antibiotik dapat dilanjutkan sampai ) minggu. +ila keadaan ini berterusan, mungkin telah terjadi mastoiditis.1 !iagnosis pasti 4MA harus memiliki tiga kriteria, yaitu bersifat akut, terdapat efusi telinga tengah, dan terdapat tanda serta gejala inflamasi telinga tengah. Gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam kurang dari )>A8 dalam &: jam terakhir. $edangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang-berat atau demam )>A8. %ilihan observasi selama :<-7& jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan sampai dengan dua tahun, dengan gejala ringan saat pemeriksaan, atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua tahun. 'ollo%-up dilaksanakan dan pemberian analgesia seperti asetaminofen dan ibuprofen tetap diberikan pada masa observasi. .,11,1& Menurut American Academic of (ediatric ,&55:-, amoksisilin merupakan first-line terapi dengan pemberian <5mgGkg++Ghari sebagai terapi antibiotik a"al selama lima hari. Amoksisilin efektif terhadap Streptococcus penumoniae. ?ika pasien alergi ringan terhadap amoksisilin, dapat diberikan sefalosporin seperti cefdinir. Second-line terapi seperti amoksisilin-klavulanat efektif terhadap Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis termasuk Streptococcus penumoniae ,Kerschner, &557-. (neumococcal )-valent con*ugate vaccine dapat dianjurkan untuk menurunkan prevalensi otitis media.' 2.12.2. Pe!%e#a"an erdapat beberapa tindakan pembedahan yang dapat menangani 4MA rekuren, seperti miringotomi dengan insersi tuba timpanosintesis, dan adenoidektomi.1,),: 1. Miringotomi Miringotomi ialah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani, supaya terjadi drainase sekret dari telinga tengah ke liang telinga luar. $yaratnya adalah harus dilakukan secara dapat dilihat langsung, anak harus tenang sehingga membran timpani dapat dilihat dengan baik. #okasi miringotomi ialah di kuadran posterior-inferior. +ila terapi yang diberikan sudah adekuat, miringotomi tidak perlu dilakukan, kecuali jika terdapat pus di telinga tengah. 0ndikasi miringostomi pada anak dengan 4MA adalah nyeri berat, demam, komplikasi 4MA seperti paresis nervus fasialis, mastoiditis, labirinitis, dan infeksi sistem saraf pusat. Miringotomi merupakan terapi third-line pada pasien yang mengalami kegagalan terhadap dua kali terapi antibiotik pada satu episode 4MA. $alah satu tindakan miringotomi

18

atau timpanosintesis dijalankan terhadap anak 4MA yang respon kurang memuaskan terhadap terapi second-line, untuk menidentifikasi mikroorganisme melalui kultur. &. impanosintesis Menurut +luestone ,1>>.- dalam itisari ,&55'-, timpanosintesis merupakan pungsi pada membran timpani, dengan analgesia lokal supaya mendapatkan sekret untuk tujuan pemeriksaan. 0ndikasi timpanosintesis adalah terapi antibiotik tidak memuaskan, terdapat komplikasi supuratif, pada bayi baru lahir atau pasien yang sistem imun tubuh rendah. %ipa timpanostomi dapat menurun morbiditas 4MA seperti otalgia, efusi telinga tengah, gangguan pendengaran secara signifikan dibanding dengan plasebo dalam tiga penelitian prospertif, randomized trial yang telah dijalankan. ). Adenoidektomi Adenoidektomi efektif dalam menurunkan risiko terjadi otitis media dengan efusi dan 4MA rekuren, pada anak yang pernah menjalankan miringotomi dan insersi tuba timpanosintesis, tetapi hasil masih tidak memuaskan. %ada anak kecil dengan 4MA rekuren yang tidak pernah didahului dengan insersi tuba, tidak dianjurkan adenoidektomi, kecuali jika terjadi obstruksi jalan napas dan rinosinusitis rekuren. 2.13. / !(likasi ),:,1& $ebelum adanya antibiotik, 4MA dapat menimbulkan komplikasi, mulai dari abses subperiosteal sampai abses otak dan meningitis. $ekarang semua jenis komplikasi tersebut biasanya didapat pada otitis media supuratif kronik. Komplikasi 4MA terbagi kepada komplikasi intratemporal ,perforasi membran timpani, mastoiditis akut, paresis nervus fasialis, labirinitis, petrositis-, ekstratemporal ,abses subperiosteal-, dan intracranial ,abses otak, tromboflebitis-. 2.1'. Pen4ega"an erdapat beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya 4MA. Mencegah 0$%A pada bayi dan anak-anak, menangani 0$%A dengan pengobatan adekuat, menganjurkan pemberian A$0 minimal enam bulan, menghindarkan pajanan terhadap lingkungan merokok, dan lainlain.: 2.1) Pr gn sis

19

%rognosis untuk otitis media akut sangat baik. Eamun bila ditangani dengan tepat dan cepat. +ila terjadi penumpukan cairan dalam rongga telinga dalam "aktu yang lama maka ada kemungkinan otitis media yang diderita akan berubah menjadi kronis.:

BAB III /ESIMPULAN

4titis media akut ,4MA- adalah peradangan telinga tengah dengan gejala dan tandatanda yang bersifat cepat dan singkat yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Gejala dan tanda klinik lolal atau sistemik dapat terjadi secara lengkap atau sebagian, baik berupa otalgia, demam, gelisah, mual, muntah, diare, serta otore, apabila telah terjadi perforasi membran timpani. Adanya sesuatu gangguan pada tuba eustachius merupakan faktor penyebab utama timbulnya otitis media. Mula-mula mukosa jadi edema, silia paralise dan tuba eustachius tertutup. /dara dalam kavum timpani diabsorpsi, hingga menyebabkan tekanan negatif dalam kavum timpani. 1al ini menyebabkan retraksi membran timpani dan mengiritasi membran mukosa untuk memproduksi cairan eksudat. Kenaikan volume eksudat akan menaikkan tekanan cairan dalam kavum timpani dan menyebabkan bertambahnya rasa sakit dan
20

gangguan terhadap peredaran darah di membran timpani sehingga menjadi nekrosis, thrombosis kapiler dan akhirnya pecah. Absorpsi toJin menyebabkan pireksia dan malaise. Gejala klinis dan patologi penyakit berdasarkan umur dan stadium penyakit. %ada bayi dan anak biasanya disertai gejala prodormal, sedangkan pada de"asa jarang disertai gejala prodormal. %erjalanan penyakit terdiri dari ' stadium yaitu stadium oklusi tuba eustachius, stadium hiperemis, stadium supurasi, stadium perforasi, dan stadium resolusi. !imana penatalaksanaannya sedikit berbeda pada setiap stadium. %enatalaksanaan 4MA tergantung pada stadium penyakitnya. %engobatan stadium a"al ditujukan untuk mengobati infeksi saluran nafas, dengan pemberian antibiotic, dekongestan local atau sistemik, dan antipiretik. ujuan pengobatan pada otitis media adalah untuk menghindari komplikasi intracranial dan ekstrakranial yang mungkin terjadi, mengobati gejala, memperbaiki fungsi tuba @ustachius, menghindari perforasi membran timpani, dan memperbaiki sistem imun lokal dan sistemik.

DA$TA+ PUSTA/A

1. !jaafar KA. Kelainan elinga engah . !alam* $oepardi @A, 0skandar E, @d. +uku Ajar 0lmu Kesehatan &551L:>-'<. &. Adams G #, +oies #2, 1igler %A. Alih bahasa Iijaya, 8aroline. +uku Ajar elinga-1idung- enggorok. @disi ke-:. ?akarta. Gaya baru-9K/0.

%enyakit elinga 1idung enggorokan. @disi ke-.. ?akart. @G8.1>>:. ). Mansjoer A, iyanti K, $avitri 2, Iardhani I0, $eto"ulan I, @ditor, Kapita $elekta

Keokteran, ?ilid 0, @disi ), Media Aesculapius, 9K/0, ?akarta*&551, 7>-<1. :. Eelson I@, +ehrman 2@, ;aughan ;8, alih bahasa Maulany 29. 0lmu Kesehatan AnakEelson. @disi ke-1&. +agian ke-&. ?akarta. @G8.1>>).
21

'. Americcademy of pediatrics, !iagnosis and Management os Acute 4titis Media, available at* http*GGpediatrics.aappublications.orgGcontentG11)G'G1:'1.full .. Acute 4titis Media Author* ?ohn ! !onaldson, M!, 928$M, 9AA%, 9A8$ available at* http*GGemedicine.medscape.comGarticleG<'>)1.overvie"Na"&aab.b&b& 7. Keith #. Moore,%h!,90A8,92$M, %enyakit telinga, 1idung, enggorokan, ?akarta. @G8. 1>>). <. ?ohn ?acob +allenger M.$, M.!. %enyakit elinga, 1idung, enggorolam, Kepala, dan #eher. @disi k"-1) ?ilid & 9K/0 2$8M. 1al 151-115. >. Acute otitis media* overvie" and risk factors by* physicians committee for responsible medicine. Avaiable at* http*GG""".tcolincampbell.orgGcourse-resourcesGarticleGacute-otitismedia-overvie"-and-risk 15.Guidlines O protocolsadvisory committee. Acute otitis media and otitis media "ith effusion available at* """.bcguidlines.caGpdfGotitis.pdf 11. Aute otitis media* part 00. reatment in an @ra of 0ncreasing Antibiotic 2esistance

available at* http*GG""".aafp.orgGafpG&5555:1'G&:15.html. 1&. ?ournal of otitis media acute by +arley MK, available at /2#*

http*GG""".oncologychannel.com.1eadneck.nasaleavity.shtml. 1).4titis media akut, available at* http*GGmedicastore.comGmedGdetailpyk.phpP idktgQ1'OiddtlQ'&O/0!Q&55'51)15:&:1)&1>.<).><.&1:

22

23