Anda di halaman 1dari 5

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang dikembangkan di Indonesia seharusnya juga mampu menemukan kembali relevansi nilai-nilai fundamental masyarakat

dengan dinamika sosial yang berubah secara cepat. Sehubungan dengan itu pengajaran PKn tidak boleh hanya bermateri pada persoalan-persoalan kognitif semata, tetapi harus memberikan sentuhan moral dan social action. Sentuhan moral dan social action ini justru harus mendapat perhatian yang lebih besar, agar pembelajaran PKn mampu menuju sasaran dan tujuannya, yaitu untuk membentuk mahasiswa menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Munculnya gelombang reformasi yang membawa harapan baru bagi perkembangan demokrasi dan perwujudan masyarakat madani Indonesia, di samping itu juga menyisakan masalah sosial sebagai masalah bangsa dan negara yang harus diselesaikan. Masalah tersebut antara lain: 1. Praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam penyelenggaraan pemerintahan 2. Hancurnya nilai-nilai demokrasi dalam masyarakat 3. Memudarnya kehidupan kewargaan dan nilai-nilai komunitas 4. Kemerosotan nilai-nilai toleransi dalam masyarakat 5. Pelanggaran terhadap nilai-nilai kebangsaan dan hak asasi manusia 6. Kerusakan sistem dan kehidupan ekonomi 7. Memudarnya nilai-nilai kejujuran, kesopanan, dan rasa tolong-menolong 8. Melemahnya nilai-nilai dalam keluarga. Dengan pendekatan pembelajaran dengan sentuhan moral dan sosial actions di atas. Pendidikan Kewarganegaraan akan mampu menanamkan nilai-nilai budaya bangsa dan moral yang tinggi kepada para mahasiswa agar kelak mereka mampu memahami dan memecahkan persoalan-persoalan kemasyarakatan. Lembaga-lembaga pendidikan sebagai salah satu elemen civil society organization perlu menggalang jaringan yang kuat agar gagasan civic education (Pendidikan Kewarganegaraan) ini cepat meluas sebagai salah satu upaya recovery dari keterpurukan krisis multi dimensional sekaligus sebagai upaya perwujudan masyarakat madani Indonesia. Keberhasilan Pendidikan Kewarganegaraan dengan pendekatan tersebut di atas akan dapat melahirkan mahasiswa yang dapat mengembangkan diri menjadi warga negara kritis, cerdas, dan beradab atau warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Nilai Strategis tersebut pada gilirannya akan membuahkan tingkah laku yang sangat positif dari mahasiswa, yaitu keterlibatan atau partisipasi warga Negara yang efektif dan bertanggung jawab untuk memperbaiki kualitas kehidupan sosial dan politik secara keseluruhan.

Kontribusi pendidikan Kewarganegaraan terhadap mahasiswa keperawatan atau kebidanan akan melahirkan tenaga perawat atau bidan yang profesional, dapat menjadi sosok perawat atau bidan ideal senantiasa menjadi role model bagi perawat atau bidan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien/kliennya. Hal ini dikarenakan perawat atau bidan profesional memiliki pendidikan yang lebih tinggi sehingga ia lebih matang dari segi konsep, teori, dan aplikasi dapat bersikap baik dalam arti lembut, sabar, penyayang. ramah, sopan dan santun saat memberikan asuhan keperawatan terhadap pasiennya menggunakan pendekatan ilmu keperawatan atau kebidanan tanpa mengesampingkan disiplin ilmu lainnya termasuk Pendidikan Kewarganegaraan. Semoga PKn mampu membentuk generasi penerus bangsa yang tangguh LANGKAH PENTING DALAM PROSES PROFESIONALISASI KEPERAWATAN Keperawatan dalam arti merawat orang sakit sudah dikenal sejak zaman purba, dalam perkembangannya keperawatan mengalami beberapa pergeseran pandangan, yaitu yang diawali dari pandangan keperawatan sebagai pelayanan vokasional dan hanya perpanjangan tangan tenaga medis kepada keperawatan sebagai pelayanan profesional. Keperawatan sebagai profesi di Indonesia mulai disadari pada awal tahun 1983 yaitu setelah disepakatinya keperawatan sebagai profesi dan pendidikan keperawatan berada pada jenjang pendidikan tinggi. Sejak tahun itulah terjadi proses profesionalisasi di bidang keperawatan yang berlangsung sampai sekarang. Keperawatan sebagai suatu profesi saat ini sudah semakin jelas, hal ini dapat dilihat dari perkembangan pendidikan tinggi keperawatan, perkembangan konsep dan perangkat hukum yang mengatur tentang praktik keperawatan, meskipun pada kenyataannya praktik keperawatan profesional hingga saat ini belum dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat luas. Proses profesionalisasi keperawatan di Indonesia sedang berlangsung sampai saat ini, langkah-langkah penting dalam memacu proses ini perlu diidentifikasi dan dilaksanakan secara terkendali. Unsur terpenting yang menentukan tercapainya tujuan dalam proses profesionalisasi keperawatan di Indonesia adalah perawat sendiri. Perawat secara sendiri dan berkelompok harus menunjukkan bahwa ia profesional, dengan ciri-ciri seperti yang dikatakan o!eh Schein, E.H (1974). Tantangan bagi keperawatan di Indonesia adalah seberapa jauh ia dapat mencapai tingkat profesionalisme dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat luas (termasuk masyarakat kedokteran) sebagai suatu profesi sehingga dapat melaksanakan dan mengembangkan profesinya sesuai kaidah-kaidah profesi. Beberapa langkah penting yang kiranya perlu dilakukan dalam proses profesionalisasi keperawatan di Indonesia: a. Penataan Pendidikan Keperawatan. Pendidikan merupakan unsur pertama yang harus dilakukan penataan karena melalui pendidikan perkembangan profesi keperawatan akan terarah dan berkembang sesuai dengan

kemajuan ilmu dan teknologi sehingga tenaga keperawatan yang dihasilkannya dapat berkualitas. Dalam penataan pendidikan keperawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Percepatan pertumbuhan pendidikan keperawatan dalam sistem pendidikan nasional dengan menetapkan jenjang dan jenis pendidikan keperawatan mulai dari jenjang pendidikan diploma,sarjana,dan profesi. 2. Pengendalian dan pembinaan pelaksanaan pendidikan pada pusat-pusat pendidikan keperawatan. Pelaksanaan pengendalian tersebut dilakukan dengan mengadakan pelaksanaan akreditasi pendidikan serta penyesuaian standar pendidikan sesuai dengan pendidikan profesi keperawatn. 3. Pengembangan lahan praktek keperawatan dilakukan dengan membentuk komunitas profesional. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan membentuk komunitas keperawatan seperti pembagian komunitas perawat menjadi divisi- divisi, seperti: komunitas perawat divisi medical bedah,divisi maternitas, divisi anak, divisi jiwa,divisi gawat darurat,divisi gerontik dan lain-lain, sehingga keperawatan sebagai pendidikan profesi akan lebih terarah. 4. Pengembangan dan pembinaan staf akademis menuju terbentuknya masyarakat akademis professional. Hal tersebut dilakukan dengan melalui berbagai pengembangan bagi staf untuk mengadakan penelitian sehingga akan dihasilkan berbagai karya untuk kepentingan profesi keperawatan dan pengabdian apda masyarakat dalam rangka menata bentuk aplikasi di masyarakat bagi profesi keperawatan. b. Penataan Praktek keperawatan. Penataan praktek keperawatan merupakan bentuk penataan profesi keperawatan menuju profesi yang sejajar dengan profesi kesehatan lain. Mengingat dengan menata bidang ini, lingkup praktek keperawatan akan lebih jelas dan terarah dalam praktek sebagai profesi, dan dalam penataan praktek keperawatan tersebut, maka dapat dilakukan upaya sebagai berikut: 1. Pengembangan dan pembinaan pelayanan asuhan keperawatan secara professional. Pengembangan ini dilakukan harus berlandaskan ilmu pengetahuan dengan menggunakan metode ilmiah. 2. Penyusunan dan pemberlakuan standar praktek keperawatan. Penyusunan ini akan dilakukan dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan sehingga dapat dipertanggung jawabkan melalui asuhan keperawatan mandiri dan professional. 3. Penerapan model asuhan keperawatan secara professional dengan memperhatikan beberapa kode etik keperawatan yang berlaku dan dalam melakukan setiap tindakan menggunakan asuhan professional.

c. Penataan Pendidikan Keperawatan Berlanjut. Penataan pendidikan keperawatan berkelanjutan merupakan syarat penting dalam mempercepat profesionalisasi keperawatan, karena melalui pendidikan berkelanjutan keperawatan akan selalu berkembang dan terarah. Untuk menuju penataan tersebut dapat dilakukan : 1. Pengembangan pola pendidikan berkelanjutan. Pengembangan pola ini diharapkan akan lebih memudahkan dalam jangkauan dan pencapaian bagi komunitas perawat agar selalu meningkatkan diri dalam perkembangan ilmu keperawatan. 2. Penyusunan program pendidikan berkelanjutan yang disesuaikan dengan kebutuhan perawat. Proses ini dapat dimulai dengan program sertifikasi dalam keterampilan atau keahlian khusus. 3. Pengembangan kemampuan untuk melaksanakan pendidikan keperawatan melalui upaya pengembangan pendidikan keperawatan di beberapa tempat pelayanan atau pendidikan. d. Penataan Organisasi Profesi Keperawatan. Organisasi profesi merupakan sarana untuk komunikasi antar perawat professional serta wadah dalam menyalurkan aspirasi dalam perkembangan keperawatan dalam menuju tertatanya organisasi profesi . Oleh karena itu dapat dilakukan dengan : 1. Pembinaan organisasi profesi keperawatan. Pembinaan tersebut dalam rangka agar organisasi profesi tersebut mampu melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai organisasi profesi melalui pembinaan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 2. Peningkatan kemampuan organisasi profesi keperawatan dengan melaksanakan tanggung jawab dalam pendidikan keperawatan yang berkelanjutan 3. Pembinaan organisasi profesi keperawatan. Dengan pelaksanaan ini diharapkan organisasi profesi bias diakui secara benar-benar menjadi organisasi profesi keperawatan yang professional. e. Penataan Lingkungan untuk Perkembangan Keperawatan. Lingkungan merupakan sesuatu yang penting dalam penerapan atau pengembangan profesi, karena dengan pengakuan dari lingkungan, maka profesi keperawatan akan semakin cepat berkembang ke arah terciptanya lingkungan yang professional. Upaya keperawatan dalam menata lingkungan tersebut dapat dilakukan kegiatan sebagai berikut: 1. Melaksanakan desiminasi pengertian tentang keperawatan professional dengan menjelaskan lingkup peran dan tanggung jawab serta kewenangan profesi keperawatan kepada masyarakat.

2. Menciptakan kesempatan bagi profesi keperawatan untuk memberikan pelayanan keperawatan dengan sikap professional. 3. Memberlakukan undang-undang dalam penerapan praktek keperawatan professional sehingga segala kendala dan hambatan dapat diatasi secara langsung. 4. Memberikan kepercayaan kepada masyarakat untuk melaksanakan program praktek keperawatan agar diakui oleh masyarakat PENUTUP Hingga dewasa ini keperawatan di Indonesia sedang memasuki proses awal dari proses profesional dan masih harus memperjuangkan langkah-langkah profesionalisasi yang sesuai dengan keadaan lingkungan sosial di Indonesia. Untuk itu para perawat harus memahami falsafah dan paradigma keperawatan yang memberi arah kepada perkembangan keperawatan sebagai profesi. Berbagai teori yang berkembang dalam bidang keperawatan bertolak dari berbagai cara konseptualisasi dari keperawatan, akan memperkaya khasanah keilmuan dalam bidang keperawatan, dan memacu upaya mencari kebenaran dalam empat komponen paradigma keperawatan, yaitu manusia, sehat, lingkungan, dan keperawatan. Adalah tanggung jawab para perawat selanjutnya untuk menggunakan dan menguji berbagai model yang telah dikembangkan oleh ilmuwan keperawatan. Hal yang demikian ini akan memacu perkembangan keperawatan selanjutnya, khususnya perkembangan pendidikan dan pelayanan/asuhan keperawatan. Perawat bertanggung jawab sendiri untuk mengembangkan keperawatan menuju ke arah yang benar, sesuai hakikat keperawatan. Perubahan-perubahan yang diintroduksikan pada akhirnya harus tercerminkan dalam pemanfaatan pada upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sungguh suatu pekerjaan yang berat, namun sangat mulia.