Anda di halaman 1dari 28

PRAKTIKUM BIMBINGAN KONSELING PRIBADI SOSIAL PEMANTAPAN KEMAMPUAN BERTINGKAH LAKU DAN BERHUBUNGAN SOSIAL Tugas Ini Dibuat

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktikum Bimbingan Pribadi Sosial

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Gede Sedanayasa, M.Pd. Anggota Kelompok 10 : Ida Bagus Mugi Raharja I Putu Wahyu Budi Kusuma I Made Andri Suantara I Made Sumadiyasa ( 1111011011 ) ( 1111011033 ) ( 1111011036 ) ( 1011011103 )

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA 2013

KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat beliaulah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses penyusunan dan pembuatan makalah ini. Rasa terima kasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang turut serta membantu demi terselesaikannya makalah ini sesuai dengan apa yang telah diharapkan sebelumnya. Kami sebagai manusia yang banyak memiliki kekurangan menyadari bahwa apa yang kami sampaikan dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dalam proses penyampaiannya maupun isi atau hal-hal yang terkandung di dalamnya. Maka dari itu kami selaku penulis dan penyusun makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang kami banggakan yang bersifat membangun sehingga dapat membantu kami untuk dapat lebih menyempurnakan lagi makalah yang kami buat ini. Kami sangat berharap apa yang kami sajikan dan apa yang kami sajikan dalam makalah ini dapat memberikan manfaat-manfaat yang sedianya dapat berguna pagi pembaca pada umumnya dan para calon konselor pada khususnya sehingga apa yang menjadi tujuan pendidikan di Indonesia serta tujuan Bangsa Indonesia dapat tercapai sebagaimana yang diharapkan.

Singaraja, 20 September 2013

Kelompok 10,

ii

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.............................................................................. DAFTAR ISI............................................................................................ BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 1.1. Latar Belakang Masalah......................................................... 1.2. Rumusan Masalah................................................................... 1.3. Tujuan..................................................................................... 1.4. Manfaat.................................................................................. BAB II PEMBAHASAN......................................................................... 2.1. Penjelasan ............................................................................... 2.2. Indikator ................................................................................ 2.3. Strategi Pelaksanaan ............................................................. 2.4. Seting Praktek ....................................................................... BAB III PENUTUP.................................................................................. 3.1. Kesimpulan............................................................................. 3.2. Komentar................................................................................ 3.3. Saran....................................................................................... DAFTAR PUSTAKA............................................................................... ii iii 1 1 2 2 2 4 4 8 8 17 24 24 24 24 25

iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah. Latar belakang pembuatan makalah ini adalah disebabkan karena melihat fakta yang terjadi di lapangan bahwa banyak sekali di lapangan terjadi tindakan yang meresahkan, merugikan dan tentunya membawa dampak yang buruk bagi si pelaku dan masyarakat pada umumnya. Dilihat dari pelakunya kebanyakan adalah siswa siswi yang masih mengikuti pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta, hal ini menunjukkan bahwa lemahnya pengaruh dari sistem pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan lembaga pendidikan tersebut yang meliputi kurikulum, model, strategi dan komponen pendidikan lainnya yang bertanggung jawab terhadap proses pendidikan yang dilaksanakan. Dan walaupun sebenarnya sistem pendidikan yang telah dirancang bertujuan untuk mengembangkan tingkah laku dan hubungan sosial yang positif di kalangan para remaja, namun nampaknya hal tersebut masih kurang efektif untuk mencapai tujuan yang diharapkan yaitu para remaja mampu bertingkah laku dan berhubungan sosial di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat sesuai dengan menjunjung tinggi tata krama, sopan santun, serta nilai agama, adat istiadat, dan kebiasaan yang berlaku. Oleh sebab itulah strategi pelaksanaan pendidikan tersebut perlu diubah sesuai dengan seting tempat pelaksanaan pendidikan tersebut. Dengan tingkat pemahaman terhadap strategi dan model pendidikan yang akan dilaksanakan diharapkan dapat semakin mengoptimalkan kemampuan bertingkah laku dan berhubungan sosial siswa yang positif baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat.

1.2. Rumusan Masalah. Berdasarkan apa yang terdapat di dalam latar belakang masalah, maka yang menjadi rumusan masalah di sini adalah : Bagaimana penjelasan tingkah laku dan cara berhubungan sosial yang menjunjung tinggi tata krama, sopan santun, serta nilai agama, adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku ? Apa saja yang menjadi indikatornya ? Bagaimanakah strategi yang digunakan ? Bagaimana cara pelaksanaan strategi tersebut pada setting tertentu ? 1.3. Tujuan. Sesuai dengan penjelasan dalam latar belakang masalah dan rumusan masalah, tujuan dari penulisan makalah ini adalah : Memenuhi tugas mata kuliah Praktikum BK Pribadi Sosial. Memberikan pemahaman kepada pembaca tentang tingkah laku dan hubungan sosial yang menjunjung tinggi tata krama, sopan santun, serta nilai agama, adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku. Menjelaskan indikator-indikator prilaku dan berhubungan sosial yang dimaksud. Memberikan gambaran mengenai strategi pelaksanaan dan cara yang digunakan untuk membentuk tingkah laku dan cara berhubungan sosial tersebut. 1.4. Manfaat. Berdasarkan apa yang terdapat di dalam latar belakang masalah, rumusan masalah dan tujuan, manfaat dari makalah ini adalah : Terselesaikannya tugas mata kuliah Praktikum BK Pribadi Sosial. Pembaca dapat memahami tentang tingkah laku dan cara berhubungan sosial yang dipaparkan.

Pembaca dapat mengetahui mengenai indikator prilaku dan cara berhubungan sosial yang dimaksud tersebut. Para pembaca memiliki gambaran tentang strategi dan cara penerapan strategi guna membentuk prilaku dan cara berubungan sosial yang dimaksud.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Penjelasan. Deskripsi mengenai tingkah laku dan hubungan sosial yang menjunjung tinggi tata krama, sopan santun, adat istiadat, nilai agama, hukum serta kebiasaan yang berlaku yaitu : - Menjunjung tinggi berarti sikap menghormati, berpedoman, dan melaksanakannya secara suka rela dan penuh tanggung jawab. - Tata krama artinya sopan santun atau tata cara sikap baik yang mengatur keharmonisan dalam bergaul. - Sopan santun atau sikap bertata krama adalah menunjuk pada berbudi pekerti yang baik. - Nilai agama yaitu sikap dan tindakan yang benar dan baik menurut ajaran agama. - Hukum adalah peraturan atau adat resmi yang mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah; pelanggaran terhadap hukum dikenai sanksi. - Adat istiadat menunjuk pada tata kelakuan yang sifatnya turun-temurun ( dari generasi ke generasi ). Dari sinilah ditarik tentang pengertian warisan. - Kebiasaan yang berlaku menunjuk pada aturan tingkah laku dan tata cara sopan santun yang benar di mana kebiasaan tersebut dilaksanakan. Dari pengertian ini secara singkat dapat dikatakan bahwa mewujudkan nilai dan norma dalam kehidupan sehari-hari secara sadar dan bertanggung jawab itulah sikap menghormati dan melaksanakan tata krama, sopan santun, nilai agama, adat istiadat, hukum dan kebiasaan yang berlaku. Nilai dan norma ini jika berlaku dalam segi kehidupan sehari-hari dapat menciptakan kehidupan yang selaras, serasi, seimbang dalam pergaulan kapan pun, di mana pun dan dengan siapa pun. Ruang lingkup tata krama meliputi tata krama lokal dan tata krama nasional. Tata krama lokal yaitu tata krama yang perlu dalam kehidupan sehari-hari

dalam suat kelompok masyarakat tertentu ( tata krama di rumah, sekolah dan masyarakat tertentu ). Tata krama nasional yaitu adat istiadat atau sopan santun yang dianggap benar dan baik secara nasional. Dipandang dari tingkah laku tata krama dapat dibagi menjadi tata krama berbicara, tata krama pergaulan dan tata krama penampilan. Tata krama berbicara. Dalam berbicara dengan orang lain kita harus memperhatikan dengan siapa kita berbicara, di mana pembicaraan itu terjadi dan bagaimana situasinya. Dalam hal inilah sopan santun berbicara diberlakukan. Ada pepatah yang menyatakan lidah lebih tajam dari pedang. Berbicara dapat mengakibatkan sesuatu entah itu melukai hati, melukai perasaan, atau yang lainnya. Kata menentukan makna, jadi ketika berbicara dengan orang lain pikirkan terlebih dahulu perkataan yang akan dilontarkan. Perkataan dapat membangun seseorang atau merusak orang lain. Dengan perkataan kita dapat orang, wicara. menyakiti dll. Intinya orang, dalam mempermalukan berbicara kita orang, harus dapat merendahkan Kejujuran

memperhatikan : Jangan berbohong, kebohongan menumbuhkan ketidakpercayaan. Peganglah kepercayaan orang lain dalam diri anda, dan kepercayaan itu antara lain lewat perkataan. Jangan bersumpah palsu karena itu dapat meruntuhkan seluruh amal kebaikan yang pernah dilakukan. Jangan berkata kotor, memaki; sebab selain dilarang oleh nilai dan norma itu akan menyebabkan orang lain tidak menyukai dan tidak menghormati kita. Jangan membuka aib orang, karena orang yang demikian tidak dapat dipercaya dan mengundang kebencian orang. Ada pepatah yang mengatakan berjalan peliharalah kaki, berkata peliharalah lidah. Artinya peliharalah segala sesuatu yang baik dalam keadaannya. Dengan hal tersebutlah kita menjunjung tinggi tata krama, adat istiadat, nilai agama, hukum serta kebiasaan yang berlaku. Hal ini

juga berlaku ketika berbicara dengan menggunakan media lain seperti telepon atau surat. Tata krama pergaulan. Tata krama pergaulan adalah sopan santun dan etika bergaul dengan siapa pun ( guru, atasan, teman, keluarga, orang tua ). Tata krama ini akan menghasilkan hubungan yang harmonis dan saling menguntungkan dalam pergaulan. Tata krama pergaulan tetap memberlakukan adat istiadat, nilai agama, norma hukum dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Indonesia adalah negara dengan beragam budaya atau kebiasaan, oleh karena itu kita harus mengetahui tentang budaya-budaya tersebut agar dalam pergaulan tidak terjadi kesalahpahaman. Salah satu bentuk perbedaan paham yaitu ketika orang berkenalan dengan berjabat tangan merupakan suatu yang lumrah, namun harus disesuaikan dengan paham orang yang diajak berkenalan karena ada orang yang memiliki paham bahwa menganggap berjabat tangan ( terutama dengan lawan jenis ) adalah dosa. Kesan pertama anda ketika melakukan perkenalan akan mempengaruhi hubungan selanjutnya. Tata cara bertamu ( berkunjung ke rumah orang lain ) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan : Bertemu pada waktu yang tepat. Jangan bertamu pada saat jam istirahat ( tidur siang atau malam ). Mengucapkan salam. Jangan masuk ke kamar tidur tempat kita bertemu. Jangan marah, membentak, membanting sesuatu ketika bertamu. Demikian juga ketika menerima tamu : Terimalah tamu dengan senyum keramah-tamahan. Bila tamu datang dan anda ketika akan pergi untuk suatu keperluan yang penting, katakan dengan terus terang tanpa menyinggung perasaan tamu tersebut.

Tata krama penampilan. Penampilan lahiriah seseorang ( cara berbicara, cara bersolek, cara berjalan, cara makan ) akan memberikan kesan langsung kepada orang lain tentang siapa diri kita. Karena itu dalam beberapa situasi kita perlu memperhatikan penampilan kita. Dalam berbusana, perhatikanlah tata cara berbusana. Pilihan busana hendaknya disesuaikan dengan bentuk tubuh, warna kulit, warna baju, situasi, waktu dan tempat atau pun acara yang dihadiri. Jangan menggunakan baju yang norak atau tidak nyaman untuk dikenakan. Berpakaian dengan sembarangan akan menjadi pusat perhatian atau keanehan dalam pergaulan. Bagaimana dengan berpakaian di sekolah hendaknya disesuaikan dengan aturan berpakaian yang ada di sekolah tersebut. Tata cara bersolek, gunakanlah perhiasan yang sesuai dengan situasi dan kondisinya. Jangan menggunakan asesoris yang berlebihan yang tidak mencerminkan kepribadian anda. Tata cara berjalan, jika seorang pria dan wanita berjalan hendaknya posisi pria melindungi si wanita yaitu pria pada sisi yang dekat dengan lalu lintas baik sisi kanan atau pun kiri sesuai dengan arah lalu lintas, jika ada 2 pria hendaknya si wanita berada di tengah-tengah, dan apabila lalu lintas sedang ramai sebaiknya berjalan seperti berbaris ( satu di depan, satu di tengah dan satu di belakang ). Tata cara makan masing-masing suku atau budaya berbeda. Oleh karena itu kita perlu mempelajari tata cara makan di daerah kita supaya ketika makan bersama kita tidak menjadi bahan pergunjingan orang. Tata cara makan yang umum hendak diperhatikan terutama pada saat acara resmi. Jika hendak duduk hendaknya dari sisi sebelah kiri dan begitu pula jika hendak keluar, serbet yang terlipat di buka dan taruh di atas pangkuan untuk menahan makanan yang jatuh. Ketika makan hendaknya jangan berbicara karena orang yang melihat makanan dalam mulut akan merasa jijik dan mungkin saja makanan tersebut akan jatuh. Ketika makan hendaknya jangan memasukkan makanan terlalu banyak hingga pipi menjadi membesar, hal itu mengindikasikan bahwa orang tersebut rakus terhadap makanan. Ingatlah

tata krama makan walau pun tampaknya sepele namun itu menunjukkan tingkat kepribadian anda. 2.2. Indikator. Indikator tingkah laku dan hubungan sosial yang menjunjung tinggi tata krama, sopan santun, adat istiadat, nilai agama, hukum serta kebiasaan yang berlaku, yaitu : - Menunjukkan sikap menghormati, berpedoman, dan melaksanakan secara suka rela dan penuh tanggung jawab tata krama, sopan santun, adat istiadat, nilai agama dan kebiasaan yang berlaku. - Menampilkan sikap sopan santun atau tata cara sikap baik yang mengatur keharmonisan dalam bergaul. - Menunjukkan sikap yang berbudi pekerti yang baik. - Memperlihatkan prilaku yang sesuai dengan ajaran agama yang dianut. - Mampu berprilaku sesuai dengan norma hukum yang berlaku di mana pun berada. - Berprilaku sesuai dengan kebiasaan atau adat yang sudah menjadi warisan di masyarakat. 2.3. Strategi Pelaksanaan. Strategi yang digunakan untuk memantapkan prilaku dan berhubungan sosial yang menjunjung tinggi tata krama, sopan santun, nilai agama, adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku baik di rumah, sekolah maupun di masyarakat adalah dengan menggunakan pendidikan budi pekerti. Alasan mengapa pendidikan budi pekerti digunakan dikarenakan pendidikan budi pekerti memiliki visi yaitu mewujudkan pendidikan budi pekerti sebagai bentuk pendidikan nilai, moral, etika yang berfungsi menumbuhkembangkan individu warga negara Indonesia yang berakhlak mulia dalam pikir, sikap, dan perbuatannya sehari-hari, yang secara kurikuler benar-benar menjiwai dan memaknai semua mata pelajaran yang relevan serta sistem sosial - kultural dunia pendidikan sehingga dari dalam

diri setiap lulusan setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan terpancar akhlak mulia. Dan misi pendidikan budi pekerti yaitu : - Mengoptimalkan substansi dan praksis mata pelajaran yang relevan khususnya Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ( PPKn ), serta mata pelajaran lainnya yang relevan sebagai wahana pendidikan budi pekerti sehingga para peserta didik bukan hanya cerdas secara rasional, tetapi juga cerdas secara emosional, sosial, dan spiritual. - Mewujudkan tatanan dan iklim sosial budaya dunia pendidikan yang sengaja dikembangkan sebagai lingkungan pendidikan yang memancarkan akhlak/moral luhur sebagai wahana bagi siswa, tenaga kependidikan, dan manajer pendidikan untuk membangun interaksi edukatif dan budaya sekolah yang juga memancarkan akhlak mulia. - Memanfaatkan media massa dan lingkungan masyarakat secara selektif dan adaptif guna mendukung keseluruhan upaya penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai budi pekerti luhur baik yang melalui mata pelajaran yang relevan maupun yang melalui pengembangan budaya pendidikan di sekolah. Menurut pendapat Cahyoto ( 2002 : 18-22 ), ruang lingkup atau scope pembahasan nilai budi pekerti yang bersumberkan pada etika atau filsafat moral menekankan unsur utama kepribadian, yaitu kesadaran dan berperannya hati nurani dan kebajikan bagi kehidupan yang baik berdasarkan sistem dan hukum nilai-nilai moral masyarakat. Hati nurani ( ada yang menyebutnya kata hati, suara hati, dan suara batin ) adalah kesadaran untuk mengendalikan atau mengarahkan perilaku seseorang dalam hal-hal yang baik dan menghindari tindakan yang buruk. Kebajikan atau kebaikan merupakan watak unggulan yang berguna dan menyenangkan bagi diri sendiri dan orang lain sesuai dengan pesan moral ( Solomon, 1984: 100 ). Mengingat budi pekerti merupakan etika praktis atau terapan yang bersumber dari masyarakat ( kesusilaan atau moralitas, agama, hukum, adat istiadat setempat ), maka konsep budi pekerti menjadi lebih luas lagi dengan menyerap aspek budi pekerti dari lingkungan yang makin meluas

( environmental development approach ). Dari lingkungan yang makin meluas inilah budi pekerti mengandung nilai moral lokal ( aturan keluarga, kerabat dan tatanan lingkungan setempat ), nasional ( tatanan demokrasi, loyalitas, nasionalisme, undang-undang, hukum, hak asasi manusia, dan lain-lain ), dan internasional ( hukum internasional, hubungan dan kerja sama antar bangsa, perdamaian dan keamanan ) dan masih banyak konsep lain yang menjadi norma dan berlaku bagi kesejahteraan lingkungan. Pendidikan budi pekerti yang khusus berkaitan dengan pendidikan agama dipelajari tersendiri oleh siswa melalui pendidikan agama. Pendekatan yang digunakan dalam pendidikan budi pekerti secara umum yaitu sebagai berikut : Penyisipan ( plug in ). Perbaikan ( improvement ) dengan cara mengoptimalkan isi, proses, dan pengelolaan pendidikan saat ini guna mencapai tujuan pendidikan nasional. Strategi pelaksanaan pendidikan budi pekerti dilaksanakan sebagai berikut : Upaya Pembinaan. Untuk menjadikan seorang anak didik memiliki budi pekerti luhur atau akhlak mulia diperlukan pembinaan terus-menerus dan berkesinambungan di sekolah. Pembinaan akan berhasil hanya dengan usaha keras dan penuh kesabaran dari para guru, selain itu harus didukung oleh peran serta dari orang tua murid dan masyarakat. Dalam pembinaan atau penanaman budi pekerti luhur terhadap para siswa di sekolah diperlukan upaya keras dari semua guru secara bersama-sama secara konsisten dan berkesinambungan dengan pendekatan yang tepat, yaitu sebagai berikut : Dengan menciptakan situasi yang kondusif atau yang mendukung terwujudnya budi pekerti luhur pada diri siswa. Situasi yang kondusif tersebut dapat terwujud dengan pendekatan :

10

Dialogis, antara guru dengan siswa, antara orang tua dan guru, dialog dapat dilakukan secara pribadi, kelompok, atau dengan seluruh siswa dalam kegiatan upacara bendera. Komunikatif, apa saja yang ingin kita laksanakan, dan kalau ada hal-hal penting yang perlu disampaikan, maka sampaikanlah kepada para siswa secara pribadi dengan guru BP, dengan kelompok kelas oleh wali kelas, dan seluruh siswa oleh kepala sekolah atau wakil kepala sekolah. Demikian juga komunikasi antara guru dan siswa, dapat pula dilakukan dengan guru pembina kegiatan ekstrakurikuler dalam berbagai kesempatan. Keterbukaan, dialog ataupun komunikasi yang dilakukan harus terbuka, para siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan pendapatnya. Situasi kondusif antara lain dapat tercermin dengan adanya suasana damai, sejuk, penuh kekeluargaan, dan kebersamaan. Mengoptimalkan pendidikan Budi Pekerti pada mata pelajaran agama dan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ( PPKn ) terutama yang bertujuan untuk membentuk tingkah laku dan hubungan sosial yang positif pada siswa. Guru agama diharapkan mampu memilih materi pendidikan agama yang mengandung materi yang berkaitan dengan budi pekerti. Contohnya adalah : Materi yang berkaitan dengan akhlak mulia berkaitan pula dengan materi budi pekerti luhur. Misalnya pendidikan untuk membentuk siswa ikhlas dalam membantu sesama. Keikhlasan sendiri termasuk ke dalam unsur budi pekerti dan termasuk dalam prilaku yang berakhlak mulia. Seperti tercantum dalam Bhagavad-Gita :

11

Terjemahan : Wahai Dhananjaya, jauhkanlah perbuatan-perbuatan rendah melalui kesadaran keseimbangan seperti itu. Berlindunglah pada kesadaran seperti itu, oleh karena orang menginginkan pahala dari perbuatan-perbuatannya sesungguhnya adalah orang yang pelit. ( Bhagavad-Gita, 2012 : 254 )

Terjemahan : Orang-orang suci membebaskan dirinya dari pahala-pahala yang lahir dari perbuatan dengan menekuni Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam kesadaran suci. Mereka terbebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai alam kekekalan. Dan dalam Saramuscaya yang membahas tentang pergaulan dinyatakan sebagai berikut : Meskipun sedikit kepandaian/kebijaksanaan seseorang, apabila bertempat tinggal dengan orang yang pandai/bijaksana dan selalu bertanya ilmu pengetahuan dengannya, maka akan semakin bertambah pandai/bijaksanalah hasilnya, bagaikan zat warna yang jatuh pada air, akan menyebar dan akhirnya mewarnai air itu. Sloka 302. Mereka yang utama budi tidak memikirkan cacat dan dosa orang lain, pun tidak akan mengeluarkan kata-kata kasar dalam menanggapi celaan dan hinaan orang. Dalam hatinya yang dilihat hanyalah kebajikan dan perbuatan baik orang dan selalu berpikiran positif. Tidak ada kemungkinan apapun yang dapat membuatnya menyimpang dari kebajikan dan kebijaksanaan, ia

12

selalu berkeadaan teguh pada susila, etika, dan sopan santun. Orang baik dan bijaksana disebut juga sebagai manusia utama. Sloka 307. Materi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ( PPKn ) yang mengandung materi budi pekerti luhur harus dikaitkan antara keduanya. Semua pokok bahasan PPKn mengandung materi budi pekerti. Hanya saja dalam penyampaiannya guru PPKn harus dengan cermat melihat materi PPKn untuk menyampaikan materi tersebut kepada para siswa. Misalnya membahas tentang kebhinekaan bangsa Indonesia yang dikaitkan dengan bagaimana bertingkah laku dan berhubungan sosial sesuai dengan adat atau budaya masing-masing daerah. Peningkatan kerja sama dengan orang tua murid dan masyarakat. Pada dasarnya tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab tri pusat pendidikan, yaitu Orang tua. Sekolah/pemerintah. Masyarakat.

Peran orang tua dalam menyukseskan pendidikan budi pekerti sangat besar. Hal ini dikarenakan pada dasarnya sikap, perilaku, dan budi pekerti anak itu dimulai dari keluarga ( orang tua ). Orang tualah yang mengajarkan kepada anak tentang budi pekerti melalui keteladanan dari orang tua, dan penerapan aturan yang berlaku di lingkungan keluarga. Namun demikian, adakalanya tidak semua keluarga mempunyai anak yang memiliki budi pekerti luhur, bahkan sekarang banyak anak yang mempunyai budi pekerti kurang baik. Terhadap anak yang mempunyai budi pekerti kurang baik, diharapkan orang tua memberitahu pihak sekolah agar dapat diberikan pembinaan. Sedangkan peran masyarakat dalam pendidikan budi pekerti juga tidak kalah penting. Kehidupan sekolah tidak lepas dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. Dalam banyak kasus, banyak pula para siswa yang berbudi pekerti kurang baik mengganggu ketenangan

13

hidup masyarakat, dengan melakukan hal-hal yang tidak terpuji, misalnya mencuri, berkelahi, menyalahgunakan obat-obatan terlarang, suka minum-minuman keras, narkoba, tawuran, dll. Kepada anggota masyarakat yang melihat siswa melakukan perbuatan negatif tersebut, agar segera melapor ke pihak sekolah atau yang berwajib untuk pembinaan selanjutnya. Kepedulian masyarakat terhadap pelaksanaan penanaman budi pekerti atau perannya sebagai Social Control sangat diharapkan. Sifat Pembinaan. Untuk mengetahui apakah seorang anak didik telah berbudi pekerti terutama dalam hal bertingkah laku dan berhubungan sosial yang sesuai dengan menjunjung tinggi tata krama, sopan santun, nilai agama adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku dapat dinilai dari kecenderungan tingkah laku atau perilaku yang ditunjukkannya dalam kehidupan seharihari. Sifat-sifat yang mengandung budi pekerti luhur antara lain sebagai berikut : Tingkah laku. - Bekerja keras. Sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan, sela lu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan, suka bekerja keras, tekun, dan pantang menyerah. - Berdisiplin. Seseorang dikatakan disiplin apabila melakukan pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan waktu dan tempatnya, serta dikerjakan dengan : a. penuh kesadaran; b. ketekunan; c. tanpa paksaan dari siapa pun atau ikhlas.
- Beriman.

Sikap dan perilaku yang menunjukkan keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa ini diwujudkan dengan. kepatuhan dan 14

ketaatan dalam melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya. - Bersyukur. Sikap dan perilaku yang pandai berterima kasih atas rahmat dan nikmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai manusia yang beriman kita harus senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada kita, nikmat yang kita peroleh dari Tuhan tidak terbatas jumlahnya. - Bertanggung jawab. Sikap dan perilaku yang berani menanggung segala akibat dari perbuatan yang telah dilakukannya. - Bertenggang rasa. Sikap dan perilaku yang mampu mengekang keinginan dan kepentingan diri dengan ikut memerhatikan kepentingan orang lain. - Cermat. Sikap dan perilaku yang menunjukkan ketelitian dan kehati-hatian. - Hemat. Sikap dan perilaku yang menghargai dan memanfaatkan waktu, dana, dan pikiran sesuai dengan kebutuhan dan tidak menggunakan sesuatu secara berlebihan. - Jujur. Sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata apa adanya, dan berani mengakui kesalahan. - Menghargai karya orang lain. Sikap dan perilaku yang menunjukkan bahwa orang harus bekerja untuk memperoleh nafkah sehingga kita harus menghargai upaya orang lain. - Menghargai waktu. Sikap dan perilaku yang mampu memanfaatkan waktu yang tersedia secara efisien dan efektif. - Pengendalian diri.

15

Sikap dan perilaku yang mempertimbangkan keseimbangan antara dorongan dari dalam diri ( berupa dorongan nafsu ) dan dari luar diri ( berupa aturan-aturan yang mengekang ). - Rela berkorban. Sikap dan perilaku yang tindakannya dilakukan dengan ikhlas hati dan kehendak sendiri. - Rendah hati. Sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan diri. - Sabar. Sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri. - Setia. Sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat. - Tertib. Sikap dan perilaku yang teratur, taat asas, dan konsisten. - Sopan santun. Sikap dan perilaku yang tertib sesuai dengan adat istiadat atau menurut norma yang berlaku di masyarakat. - Sportif. Sikap dan perilaku kesatria, adil, dan jujur, baik terhadap kawan maupun lawan. - Susila. Sikap dan perilaku yang sesuai dengan harapan masyarakat, yang dikendalikan - Tegas. Sikap dan perilaku yang tidak ragu-ragu dan dalam keadaan sulit berani mengambil keputusan yang pasti. oleh nurani dalam tatanan kehidupan yang menyangkut pengendalian nafsu manusia.

16

- Tekun. Sikap dan perilaku yang menunjukkan kesungguhan yang penuh daya tahan dan terus-menerus serta tetap semangat dalam melakukan sesuatu. - Tangguh. Sikap dan perilaku yang sukar dikalahkan dan tidak mudah menyerah dalam mewujudkan suatu tujuan dan cita-cita tertentu. - Tepat janji. Sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan yang bertanggung jawab terhadap apa yang telah disetujui, baik pada diri sendiri maupun bersama orang lain. - Ulet. Sikap dan perilaku yang tetap bertahan meskipun menghadapi hambatan yang sangat besar atau sulit, tidak mudah putus asa. 2.4. Setting Praktek. Di rumah. Carilah segi positifnya. Bagaimanapun tidak sepantasnya bentuk tingkah laku anak Anda, cobalah untuk menemukan sesuatu yang positif untuk dipuji. Ini tampaknya tidak mungkin, maka berikut ini ada beberapa contoh. Jika anak Anda mengaku tidak mematuhi sebuah perintah, berarti dia adalah anak yang jujur. Jika anak Anda memulai perkelahian di sekolah, berarti dia adalah anak yang kuat dan berani. Jika anak Anda berbohong, berarti dia memiliki imajinasi yang baik. Cara ini meniru teori belajar Operant Conditioning yaitu dengan memberikan reward ( memuji dengan melihat sisi positif dari tingkah laku negatif anak ) kemudian diikuti dengan menyebutkan sisi negatif dari tingkah lakunya. Dengan begitu anak akan sadar bahwa tingkah lakunya ternyata salah dan anak akan cenderung

17

untuk memperbaiknya, cara ini cukup efektif dibandingkan hanya dengan memberikan punisment kepada anak terhadap prilaku buruk yang ia tunjukkan yang cenderung membuat anak tersebut semakin berbuat ke arah negatif. Pemberian hukuman ( terutama hukuman yang berat ) jika terpaksa sebaiknya hanya dilakukan kepada anak yang telah berusia 14 tahun ke atas dan untuk anak yang belum mencapai umur tersebut sebaiknya tidak diberikan hukuman ( Rai Partia, dalam Meyorot Aneka Masalah Umat Hindu, 1996 ). Memberi contoh perilaku yang sepantasnya. Anak-anak sering kali melakukan hal yang menurut kita tidak pantas, kadang-kadang mereka memerlukan orang dewasa untuk menghentikan dan memperlihatkan kepada mereka jalan yang lebih baik. Sebagai orang tua, Anda adalah orang yang akan ditirukan oleh anak Anda lebih dari orang lain. Karena itu, memberi contoh adalah cara terbaik dan termudah untuk mendidik anak Anda Memberi contoh adalah hal yang mudah dipelajari dengan pengamatan. Dengan kata lain, anak Anda akan mempelajari apa tingkah laku yang pantas dengan melihat dan menirukan Anda. Istilah percontohan ( modeling ), belajar dengan mengamati ( observation learning ), menirukan ( imitation ), belajar sosial ( social learning ), dan belajar mengalami dipergunakan saling bergantian. Melalui proses belajar mengamati, klien dapat belajar melaksanakan perbuatan-perbuatan yang diinginkan tanpa belajar trial and error. Bandura ( 1969 , 1971a, 1971b, 1977 ) menekankan pentingnya peranan percontohan dalam pengembangan dan perubahan tingkah laku manusia. Tingkah laku yang orang tua tampilkan di sini tentu tingkah laku yang sesuai dengan nilai agama, adat istiadat, tata krama yang berlaku. Seperti misalnya, mengucapkan panganjali umat ketika baru masuk ke dalam rumah. Katakan Tidak. Mengatakan tidak di sini bertujuan untuk mengontrol tingkah laku anak di rumah untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak

18

sesuai atau bertentangan dengan tata krama, sopan santun, nilai agama, adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku. Ketika menyatakan kalimat penolakan dengan kata tidak tersebut agar lebih efektif sebaiknya dikatakan dengan tegas dan jelas serta dapat diperkuat dengan menggunakan bahasa tubuh agar si anak merasa bahwa hal tersebut benar-benar tidak boleh untuk dilakukan misalnya mengatakan tidak untuk menolak keinginan anak untuk ikut keluar bersama temannya hingga larut malam dengan diikuti menggunakan jari tangan yang digerakkan ke samping kanan dan kiri. Tentukan batasan yang jelas. Rumah adalah pengenalan pertama pada cara kerja di dunia. Rumah merupakan suatu dunia dalam bentuk kecil, suatu masyarakat kecil. Dengan memberikan batas kepada anak di rumah, berarti kita telah mengajarkan bahwa aturan, hukum, dan larangan berlaku di mana pun. Jika anak belajar menghargai aturan pada usia yang masih muda, mereka akan diselamatkan dari penderitaan di masa mendatang. Aturan seharusnya ditetapkan dengan jelas dan sesingkat mungkin sehingga anak dapat mengerti dan mengingatnya. Anak harus mengetahui di mana aturan digariskan dan bahwa konsekuensi negatif akan berlaku, seperti dalam dunia sebenarnya, jika mereka memilih melanggar aturan. Konsekuensi negatif, atau hukuman, diartikan di sini sebagai cara yang digunakan untuk mengurangi tingkah laku buruk pada anak. Sebaliknya, adalah penting untuk memberikan kepada anak konsekuensi positif, jika dia tetap mematuhi aturan. Konsekuensi positif adalah berbagai cara atau imbalan yang Anda lakukan untuk mendorong tingkah laku anak Anda yang baik, misalnya memuji, memberi afeksi, dalam bentuk barang, atau meluangkan waktu untuknya. Contoh pemberian batasan yang jelas kepada anak adalah dengan membatasi bagaimana ia berpakaian agar tidak

19

melanggar tata krama berpenampilan di lingkungan keluarga dan masyarakat tentunya. Di sekolah. Pengintegrasian dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan atau Contoh Kegiatan pemberian contoh atau teladan di sini maksudnya adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh pengawas, kepala sekolah, staf administrasi di sekolah yang dapat dijadikan sebagai model bagi peserta didik. Dalam hal ini guru berperan langsung sebagai contoh bagi peserta didik. Segala sikap dan tingkah laku guru, baik di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat hendaknya selalu menunjukkan sikap dan tingkah laku yang baik, misalnya berpakaian dengan sopan dan rapi, bertutur kata dengan baik, tidak makan sambil berjalan, tidak membuang sampah di sembarang tempat, mengucapkan salam apabila bertemu orang, tidak merokok di lingkungan sekolah. Belajar meniru disebut belajar observasi ( observation learning ), yang meliputi aktivitas menguasai respon baru atau mengubah respon lama sebagai hasil dari mengamati perilaku model. Kegiatan Spontan Kegiatan spontan yang dimaksud di sini adalah kegiatan yang dilaksanakan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui adanya sikap atau perilaku peserta didik yang kurang baik, seperti meminta sesuatu dengan berteriak-teriak, mencoret-coret dinding, dan sebagainya. Apabila guru mengetahui sikap atau perilaku peserta didik yang demikian, hendaknya secara spontan diberikan pengertian dan diberitahu bagaimana sikap atau perilaku yang baik, misalnya kalau meminta sesuatu dilakukan dengan sopan dan tidak berteriak-teriak. Kegiatan spontanitas tidak saja berkaitan dengan perilaku peserta didik yang negatif, tetapi pada sikap atau perilaku yang positif juga perlu ditanggapi oleh guru. Hasil ini dilakukan sebagai penguatan

20

bahwa sikap atau perilaku tersebut sudah baik dan perlu dipertahankan sehingga dapat dijadikan teladan bagi teman-teman. Teguran. Guru perlu menegur peserta didik yang melakukan perilaku buruk dan mengingatkannya agar mengamalkan nilai-nilai yang baik sehingga guru dapat membantu mengubah tingkah laku mereka. Pengkondisian lingkungan. Suasana sekolah perlu dikondisikan sedemikian rupa, dengan penyediaan sarana fisik. Contohnya dengan penyediaan tempat sampah, jam dinding, slogan mengenai budi pekerti yang mudah dibaca oleh peserta didik, aturan tata tertib sekolah yang ditempelkan pada tempat yang strategis sehingga setiap peserta didik mudah membacanya. Kegiatan rutin. Kegiatan rutinitas merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus-menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan ini adalah berbaris masuk ruang kelas, berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, mengucapkan salam apabila bertemu dengan orang lain, dan membersihkan kelas serta belajar secara rutin dan rajin. Pengintegrasian dalam kegiatan yang telah diprogramkan. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang jika akan dilaksanakan terlebih dahulu dibuat perencanaannya atau diprogramkan oleh guru. Hal ini dilakukan jika guru menganggap perlu memberikan pemahaman atau prinsip-prinsip moral yang diperlukan. Berikut contoh kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengintegrasikan perilaku minimal dalam program kegiatan yang direncanakan oleh sekolah. Perilaku Minimal Taat kepada ajaran agama Toleransi Disiplin Perilaku Minimal Diintegrasikan pada kegiatan peringatan hari-hari besar keagamaan. Diintegrasikan pada saat kegiatan yang menggunakan metode tanya jawab, diskusi kelompok. Diintegrasikan pada saat kegiatan olahraga, upacara 21

Tanggung jawab Kasih sayang Gotong royong Kesetiakawanan Hormat-menghormati Sopan santun Jujur Di masyarakat.

bendera, dan menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Diintegrasikan pada saat tugas piket kebersihan kelas dan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Diintegrasikan pada saat melakukan kegiatan sosial dan kegiatan melestarikan lingkungan. Diintegrasikan pada saat kegiatan bercerita atau berdiskusi tentang gotong royong menyelesaikan tugastugas keterampilan. Diintegrasikan pada saat kegiatan bercerita, berdiskusi, misalnya mengenai kegiatan koperasi, pemberian sumbangan. Diintegrasikan pada saat menyanyikan lagu-lagu tentang hormat-menghormati, saat kegiatan bermain drama, dan sebagainya. Diintegrasikan pada kegiatan bermain drama dan berlatih membuat surat. Diintegrasikan pada saat melakukan percobaan, menghitung, bermain, dan bertanding.

Pada setting di masyarakat menggunakan cara social control. Dalam hal ini masyarakat bertindak sebagai pengawas terhadap tingkah laku yang dilakukan oleh anak didik, dan apabila terjadi suatu bentuk tindakan yang melanggar nilai agama, adat istiadat, sopan santun, tata krama yang berlaku di masyarakat, maka anggota masyarakat diharapkan melaporkannya kepada sekolah atau keluarga siswa yang bersangkutan. Misalnya seorang remaja yang masuk seka truna truni namun tidak hadir dalam acara rapat seka tersebut karena alasan yang tidak diketahui dapat dilaporkan kepada anggota keluarganya. Dan selain pengawasan kepada peserta didik, pengawasan juga ditujukan kepada setiap anggota masyarakat di lingkungan tersebut guna menciptakan kehidupan masyarakat yang adil. Mempertahankan sikap yang baik pada anak didik. Cara yang dapat digunakan adalah dengan memberikan reward pada anak didik yaitu seperti berikut : Pujian berupa kata-kata atau kalimat yang diucapkan guru setelah melihat sikap atau perilaku peserta didik yang baik. Seperti kata ''bagus", contohnya "bagus, kamu telah dapat mengubah tingkah 22

lakumu menjadi lebih baik" atau "Ucapan Selamat", atau yang lainnya. Pujian dalam bentuk mimik atau gerakan anggota badan yang memberikan kesan pada peserta didik, misalnya anggukan kepala, memberikan acungan jempol, senyuman, dan lain-lain. Memberikan benda sederhana seperti permen, pensil, buku, atau lainnya yang bermanfaat. Mencegah prilaku yang tidak baik. Berikut beberapa cara yang dapat digunakan untuk mencegah prilaku yang tidak diharapkan dari peserta didik : Memberikan perhatian atau pelayanan yang adil sesuai dengan kebutuhan kepada setiap peserta didik agar tidak timbul rasa iri atau cemburu. Memberikan sanksi pada anak yang melanggar aturan di rumah, sekolah dan masyarakat. Memberikan pengertian mengenai nilai-nilai budi pekerti melalui cerita. Menghindari penggunaan respons negatif. Memperdengarkan nilai-nilai budi pekerti kepada peserta didik setiap saat atau memasang slogan-slogan di tempat-tempat terbuka, seperti "Bersih itu sehat", "Sehat itu Nikmat", "Kebersihan Cermin Kepribadian", "Sudah Rapikah Saya", dan sebagainya.

23

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan. Berdasarkan apa yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk dapat memantapkan tingkah laku dan hubungan sosial anak di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat serta di tempat kerja yang tidak melanggar tata krama, nilai agama, adat istiadat, sopan santun dan kebudayaan yang berlaku, dapat diwujudkan melalui pendidikan budi pekerti yang dilakukan pada setting lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, serta pelaksanaannya sesuai dengan strategi yang telah di sebutkan. Dengan strategi dan setting yang tepat akan dapat membentuk tingkah laku dan cara berhubungan sosial anak sesuai dengan indikator prilaku yang ingin dibentuk. 3.2. Komentar. Menurut kami strategi dan setting yang telah dijelaskan tersebut hanya akan efektif jika semua pihak terlibat dan memberikan kontribusi dalam pelaksanaannya. Pihak-pihak yang dimaksud adalah mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan tentunya anak didik yang ingin dimantapkan prilaku dan cara berhubungan sosialnya sesuai dengan tata krama, adat istiadat, sopan santun dan kebiasaan yang berlaku yang kesemuanya tersebut terangkum dalam nilai-nilai budi pekerti. 3.3. Saran. Saran kami untuk efektivitas dari apa yang telah kami paparkan pada bab sebelumnya, semua pihak yang terlibat dalam pembentukan dan pemantapan tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai budi pekerti ini diharapkan aktif dalam menjalankan tugasnya. Karena jika tidak, maka harapan untuk membentuk tingkah laku dan cara berhubungan sosial tersebut tidak akan tercapai sebagai mana yang kita harapkan.

24

DAFTAR PUSTAKA Lighter, Dawn. 1999. Gentle Discipline 50 Cara Efektif Menanamkan Tingkah Laku Positif pada Anak. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Jensen, G. D. & Suryani, Luh Ketut. 1996. Orang Bali Penelitian Ulang Tentang Karakter. Bandung : Penerbit ITB. Sedanayasa, Gede. 2009. Keterampilan Komunikasi. Singaraja : Jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha. Corey, Gerald. 2010. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung : PT. Refika Aditama. Zuriah, Nurul. 2011. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Partia, I Gusti Rai. 1996. Menyorot Aneka Masalah Umat Hindu. Denpasar : Yayasan Dharma Naradha. Habsari, Sri. 2010. Bimbingan dan Konseling SMA untuk Kelas X. Jakarta : PT. Grasindo. ----------. 2013. Buku Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Darmayasa. 2012. Bhagavad Gita. Denpasar : Yayasan Dharma Sthapanam. Anonimous. 2010. Perilaku Menyimpang dan Pengendalian Sosial ( Kontrol Sosial ). Diakses pada 25 September 2013 dari http://wartawarga. gunadarma.ac.id/2010/04/perilaku-menyimpang-dan-pengendalian-sosialkontrol-sosial/ Mustofa, Muhammad. 2000. Memahami Kerusuhan Sosial, Suatu Kendala Menuju Masyarakat Madani. Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 1 No. I September 2000 : 10 - 19. Sadnyari, Dayu. 2012. Sloka 300-351 Sarasamuscaya. Diakses pada 24 September 2013 dari http://yadnya-banten.blogspot.com/2012/06/sloka-300351-sarasamuscaya-pergaulan.html.

25