Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia.

Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring, kemudian diikuti oleh tumor ganas hidung dan sinus paranasal (18% , laring (16% dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, data laboratorium "atologi hipofaring dalam presentase rendah. !erdasarkan

#natomi tumor ganas nasofaring sendiri selalu berada dalam kedudukan $ besar dari tumor ganas tubuh manusia bersama tumor gans ser%iks uteri, tumor payudara, tumor getah bening dan tumor kulit. 1 &iagnosis dini menentukan prognosis pasien, namun 'ukup sulit dilakukan, karena nasofaring tersembunyi di belakang tabir langit(langit dan terletak di ba)ah dasar tengkorak serta berhubungan dengan banyak daerah penting di dalam tengkorak dan ke lateral maupun ke posterior leher.1 *leh karena letak nasofaring tidak mudah diperiksa oleh mereka yang bukan ahli, seringkali tumor ditemukan terlambat dan menyebabkan metastasis ke leher lebih sering ditemukan sebagai ge+ala pertama.1 "rognosis ( angka bertahan hidup $ tahun dari stadium a)al dengan stadium lan+ut, yaitu 8$% untuk stadium I, ,$% untuk stadium II, -$% untuk stadium III dan hanya 10% untuk stadium I../

BAB II
1

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ANATOMI 0ongga mulut dan faring dibagi men+adi beberapa bagian. 0ongga mulut terletak di depan batas bebas palatum mole, arkus faringeus anterior dan dasar lidah. 1aring adalah tabung mus'ular berukuran 1/,$ 'm yang merentang dari bagian dasar tulang tengkorak sampai esofagus. 1aring terbagi men+adi nasofaring, orofaring, dan laringofaring. 2asofaring meluas dari dasar tengkorak sampai batas palatum mole. *rofaring meluas dari batas tadi sampai batas epiglotis, sedangkan di ba)ah garis batas ini adalah laringofaring atau hipofaring. 2asofaring membuka kearah depan ke hidung melalui koana posterior. 3uperior, adenoid terletak pada mukosa atap nasofaring. &i samping, muara tuba eustakius kartilaginosa terdapat di depan lekukan yang disebut fosa 0osenm4ller.5,2asofaring adalah bagian posterior rongga nasal yang membuka ke arah rongga nasal melalui dua naris internal (koana .a. &ua tuba 6usta'hius (auditorik menghubungkan nasofaring dengan telinga tengah. 7uba ini berfungsi untuk menyetarakan tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga. b. #mandel (adenoid faring adalah penumpukan +aringan limfatik yang terletak di dekat naris internal. "embesaran adenoid dapat menghambat aliran udara. 8ambar 9 &aerah 2asofaring

2.2 DEFINISI Karsinoma nasofaring adalah tumor yang timbul dari sel epitel yang menutupi permukaan dan garis nasofaring.$
2

2.3 EPIDEMIOLOGI
Ke+adian tahunan karsinoma nasofaring di Inggris adalah 0,/$ per +uta (umur standar, usia 0(1- tahun , 0,1 per +uta pada usia 0(: tahun dan 0,8 per +uta pada usia 10(1- tahun. !erdasarkan data dari Inggris dan ;ales, setidaknya 80% dari karsinoma nasofaring ter+adi pada usia 1$(1: tahun. <eskipun banyak ditemukan di 2egara dengan penduduk non(

<ongoloid, namun demikian daerah =ina bagian selatan masih menduduki tempat tertinggi, yaitu dengan /.$00 kasus baru pertahun untuk propinsi 8uang(dong (K)antung atau pre%alensi 5:.8->100.000 penduduk. 1,$ Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring, kemudian diikuti oleh tumor ganas hidung dan sinus paranasal (18% , laring (16% , dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam prosentase rendah. !erdasarkan data ?aboratorium "atologi #natomik tumor ganas nasofaring sendiri selalu berada dalam kedudukan lima besar dari tumor ganas tubuh manusia bersama tumor ganas ser%iks uteri, tumor payudara, tumor getah bening dan tumor kulit.1 &i Indonesia frekuensi pasien ini hampir merata di setiap daerah. &i 03@"2 &r. =ipto <angunkusumo Aakarta sa+a ditemukan lebih dari 100 kasus setahun, 03. Hasan 3adikin !andung rata(rata 60 kasus, @+ung "andang /$ kasus, "alembang /$ kasus, 1$ kasus setahun di &enpasar dan 11 kasus di "adang dan !ukittinggi. &emikian pula angka(angka yang didapatkan di <edan, 3emarang, 3urabaya, dan lain(lain menun+ukkan bah)a tumor ganas ini terdapat merata di Indonesia.1

2.4 ETIOLOGI 3udah hampir dapat dipastikan bah)a penyebab karsinoma nasofaring adalah .irus 6pstein(!arr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti(%irus
3

6! yang 'ukup tinggi. &itemukan pula 'ukup banyak kasus di Bunani, #frika bagian @tara seperti #l+aCair dan 7unisia, pada orang 6skimo di #laska dan 7anah Hi+au yang diduga penyebabnya adalah karena mereka memakan makanan yang dia)etkan dalam musim dingin dengan menggunakan bahan penga)et nitrosamin. !anyak penyelidikan mengenai perangai dari %irus ini dikemukakan, tetapi %irus ini bukan satu(satunya faktor, karena banyak faktor lain yang sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini, seperti letak geografis, rasial, +enis kelamin, genetik, peker+aan, lingkungan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit. "engaruh genetik terhadap karsinoma nasofaring sedang dalam pembuktian dengan mempela+ari cell-mediated immunity dari %irus 6! dan tumor associated antigens pada karsinoma nasofaring.1

2.5 PATOGENESIS Infeksi laten 6!. sangat penting dalam perkembangan menu+u dysplasia yang berat pada K21('an'er in thai . 3eperti yang ditemukan pada keganasan umumnya, terdapat beberapa tahap gambaran histology yang men'erminkan perubahan genetik pada K21 yaitu.6

&isplasia merupakan lesi a)al yang dapat terdeksi, yang diperkirakan dipengaruhi oleh beberapa karsinogen lingkungan. Hal ini berkaitan dengan kehilangan alel pada lengan pendek kromosom 5 dan : yang menyebabkan inakti%asi beberapa tumor suppressor genes, terutama p1-, p1$, dan p16. Karsinogen yang berkaitan belum ditemukan namun terdapat hubungan antara konsumsi ikan asin pada masyarakat =ina dan makanan asin lain dengan perkembangan K21. #rea displasia ini merupakan asal dari tumor namun belum 'ukup untuk menyebabkan perkembangan yang progresif. "ada stadium laten ini, infeksi 6!. dapat menga'u pada perkembangan displasia yang lebih berat. &idapatkannya kerusakan gen pada kromosom 1/ dan kehilangan alel pada 11D, 15D dan 16D dapat memi'u ter+adinya kanker in%asi%e dan metastasis sering dihubungkan dengan mutasi p$5 dan ekspresi 'adherin yang menyimpang.6

2.6 Manife !a i K"ini# 8e+ala klinik yang ditimbulkan oleh karsinoma nasofaring antara lain 9 1. 8e+ala hidung a. 6pistaksis &inding tumor biasanya rapuh sehingga iritasi ringan sa+a dapat mengakibatkan ter+adinya perdarahan. Keluarnya darah ini biasanya berulang(ulang, +umlahnya sedikit dan ber'ampur dengan ingus., b. 3umbatan hidung 3umbatan hidung yang menetap ter+adi akibat pertumbuhan tumor ke dalam rongga nasofaring dan menutupi koana. 8e+alanya menyerupai pilek kronis, kadang(kadang disertai dengan gangguan pen'iuman dan adanya ingus kental., /. 8e+ala telinga a. Kataralis> oklusi tuba eusta'hius "ada umumnya tumor bermula di fossa 0ossenmuller, pertumbuhan tumor dapat menyebabkan penyumbatan muara tuba, sehingga mengakibatkan keluhan rasa
5

penuh di telinga, berdengung, dan kadang(kadang disertai dengan gangguan pendengaran., b. *titis media serosa dan dapat berlan+ut sampai ter+adi perforasi dan gangguan pendengaran., 5. 8e+ala tumor leher *leh karena tumor pada nasofaring relatif bersifat anaplastik dan banyak terdapat kelen+ar limfe, maka karsinoma dapat menyebar ke kelen+ar limfe leher. <elalui aliran pembuluh limfe, sel(sel kanker dapat sampai di kelen+ar limfe leher dan tertahan disana karena memang kelen+ar ini merupakan pertahanan pertama agar sel( sel kanker tidak langsung ke bagian tubuh yang lebih +auh., &i dalam kelen+ar ini sel tersebut tumbuh dan berkembang biak sehingga kelen+ar men+adi besar dan tampak sebagai ben+olan pada leher bagian samping. !en+olan ini dirasakan tanpa nyeri karenanya sering diabaikan oleh pasien., 3elan+utnya sel(sel kanker dapat berkembang terus, menembus kelen+ar dan mengenai otot diba)ahnya. Kelen+ar men+adi lekat pada otot dan sulit digerakkan. Keadaan ini merupakan ge+ala yang lebih lan+ut lagi. ?imfadenopati ser%ikalis merupakan ge+ala utama yang mendorong pasien datang ke dokter., -. 8e+ala mata 3ebenarnya ge+ala mata termasuk ge+ala saraf kranial, karena ge+ala mata disebabkan oleh kelumpuhan saraf, yang berhubungan denan mata seperti9 n.II, III, I., .I. Auga karena ge+ala mata ini adalah ge+ala kranial yang dekat dengan nasofaring. #pabila kelumpuhan mengenai n..I yang letaknya di atas foramen laserum, yang mengalami lesi akibat perluasan tumor, maka penderita akan mengeluh kurang penglihatan, yang dimaksud sebenarnya disini adalah melihat barang dobel atau diplopia. Kelumpuhan n.III dan I. mengakibatkan kelumpuhan mata, disebut +uga *ftalmoplegia, serta proptosis bulbi., #pabila perluasan kanker mengenai kiasma optikus, maka n. *ptikus akan lesi, sehingga penderita mengalami penurunan keta+aman penglihatan., $. 8e+ala neurologis Karsinoam nasofaring telah diketahui dapat menyebabkan berbagai lesi neurologis, khususnya kelumpuhan saraf kranial. 7umor ini dapat menyebar se'ara intrakranial maupun ekstrakranial sehingga menyebabkan ter+adinya paralisis saraf kranial multipel., a. "erluasan keatas
6

7umor meluas ke intrakranial men+alar sepan+ang fossa medialis, disebut pen+alaran petrosfenoid. 3indroma petrosfenoid ter+adi bila seluruh grup anterior yang terkena. !iasanya melalui foramen laserum. Kemudian ke sinus ka%ernosum dan fossa kranii mengenai grup anterior saraf otak yaitu 2 II E 2 .I. 7idak +arang ge+ala diplopialah yang memba)a penderita lebih dulu berobat ke dokter mata. "erluasan keatas lebih sering ditemukan di Indonesia., 7anda(tanda lainnya adalah ter+adinya 9 ( ( ( ( 2euralgia trigeminal unilateral *ftalmoplegia unilateral 8e+ala nyeri kepala hebat ter+adi akibat penekanan tumor pada durameter. 7umor meluas kebelakang se'ara ekstrakranial sepan+ang fossa posterior, disebut pen+alaran retroparotidian. Bang terkena adalah grup posterior dari saraf otak yaitu 2 .II ( 2 FII berserta ner%us simpatikus ser%ikalis. ( ( 7umor dapat mengenai otot dan menyebabkan kekakuan otot(otot rahang sehingga ter+adi trismus. 3indrom retroparotidian ter+adi akibat kelumpuhan 2 IF, 2 F, 2 FI, 2 FII. <anifestasi keluhannya ialah 9 i. ii. iii. i%. 2 IF 9 kesulitan menelan karena hemiparesis otot konstriktor superior serta gangguan penge'apan pada sepertiga belakang lidah. 2 F 9 hiperanestesi atau hipoanestesi mukosa palatum mole, faring, dan laring disertai gangguan respirasi dan sali%a. 2 FI 9 kelumpuhan atau atrofi otot(oto trapeCius, sternokleidomastoideus, serta hemiparesis palatum mole 2 FII 9 hemiparalisis dan atrofi sebelah lidah. 3emua ini biasanya disertai dengan sindrom Horner akibat kelumpuhan ner%us simpatikus ser%ikalis, berupa penyempitan fisura palpebralis, enoftalmus dan miosis. !iasanya beberapa saraf otak terkena se'ara unilateral, tetapi pada beberapa kasus pernah ditemukan bilateral. 3edangkan 2 .II dan 2 .III, karena letaknya agak tinggi serta terletak dalam kanalis tulang, sangat +arang ter+adi kerusakan oleh karena tumor.,

b. "erluasan kebelakang ,

2. $

Dia%n& a

2. $. 1. Ana'ne a Karena tidak ge+ala spesifik yang di+umpai pada penderita karsinoma nasofaring, terlebih pada stadium dini, banyak kasus yang terlambat didiagnosis. "ada a)alnya banyak pasien mengeluh pilek(pilek biasa. ?endir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. "ada keadaan lan+ut, hidung akan men+adi terasa tersumbat sebelah atau keduanya. "er+alanan tumor ke selaput lendir hidung dapat men'ederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan ter+adi epistaksis.8,: Keluhan telinga dapat dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran 6ustha'ius yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar. kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga yang mana pendengaran sedikit menurun serta mendesing. 8,: Karsinoma nasofaring +uga sering menekan saraf pusat yang keluar dari otak. 3araf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata, akibatnya ter+adi kelumpuhan bola mata yang menebabkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang +uling. 3elain gangguan motorik, keluhan sensorik +uga sering timbul di daerah )a+ah, yaitu adanya hyperesthesia, paresthesia atau dysesthesia. 3elain itu pasien +uga sering mengeluhkan adanya sakit kepala. 8, :, 10 2. $. 2. Pe'e(i# aan Fi i# Ke+adian yang paling banyak adalah pasien karsinoma nasofaring yang menun+ukkan adanya masa pada ser%ikal yang merupakan metastase yang menyebar se'ara limfogen. Keadaan yang sering di+umpai +uga adalah keluarnya 'airan serous dari salah satu lubang telinga yang dikarenakan oleh oklusi pada tuba 6ustha'ius.8 2. $. 3. Pe'e(i# aan )en*n+an% @ntuk menegakkan diagnosis, selain gambaran keluhan dan ge+ala seperti yang diuraikan di atas +uga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat se'ara
8

langsung dinding nasopharing dengan alat endoskopi, =7 s'an, <0I nasopharing dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. &iagnosis pastinya adalah dengan biopsi +aringan nasopharing. !iopsi dapat dilakukan dengan / 'ara, yaitu dari hidung atau dari mulut.1, 8 Aika diperkirakan adanya lesi, tetapi tidak bisa dilihat langsung ataupun tidak bisa dipalpasi, maka hal ini dapat diperiksa dengan nasopharingoskopi ataupun dengan fiberoptik fleksibel ataupun +uga dengan endoskopi rigid. "ada beberapa kasus, pemeriksaan dengan 'ara dengan endoskopi, akan ditemukan adanya lesi nodular pada region orifisium tuba 6ustha'ius. 3ebagian masa yang ada pada nasopharing ini sangat ke'il, sehingga sulit terdeteksi. :

<agneti' 0esonan'e Image (<0I adalah pilihan yang paling tepat untuk melihat gambaran kanker nasopharing. 1oto paru, @38 hepar dan pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastase pada organ(organ tersebut. #danya metastasis dimanapun akan mengubah stadium dan mempunyai konsekuensi terhadap tu+uan penatalaksanaan dan pengobatan.8,:

"emeriksaan serologi Ig# anti 6# dan Ig# anti .=# untuk infeksi %irus 6bstein(!arr nasopharing. 1 @ntuk lebih rin'inya, metode diagnosis untuk karsinoma nasopharing ini terdiri dari 9 $ 1. "emeriksaan klinik pada pembesaran dan lokasi dari kelen+ar getah bening pada ser%ikal. /. 2asopharingos'opy tidak langsung untuk mendeteksi tumor primer. 5. "emeriksaan neurologis pada saraf kranial. -. =7><0I s'an pada leher sampai kla%ikula dan kepala untuk mendeteksi metastase. $. 1oto thorak (#" dan lateral untuk melihat apakah karsinoma nasopharing sudah menyebar ke paru atau tidak. 6. "emindaian tulang atau bones'intygraphy untuk melihat metastase ke tulang. ,. "emeriksaan darah total 8. "emeriksaan urea, elektrolit, kreatinin, funsi hati, =a, "*- dan alkaline phospatase. :. "emeriksaan antigen %irus 6bstein(!arr dan &2# %irus 6bstein(!arr 10. !iopsi kelen+ar getah bening atau tumor primer untuk pemeriksaan histopatologi. telah menun+ukkan kema+uan dalam mendeteksi karsinoma

2. $

Dia%n& a Ban,in% ,

#da beberapa diagnosis banding yang perlu diketahui seperti9 1. Hyperplasi adenoid !iasanya terdapat pada anak(anak,+arang pada orang de)asa, pada anak(anak hyperplasi ini ter+adi karena infeksi berulang. "ada foto polos akan terlihat suatu massa +aringan lunak pada atap nasofaring umumnya berbatas tegas yang li'in dan agak membulat. 3edangkan se'ara =7(s'an biasanya +aringan adenoid ini +uga berbatas tegas dan umumnya simetris serta struktur Estruktur sekitarnya tak tampak tanda(tanda infiltrasi seperti tampak pada karsinoma. /. #ngiofibroma +u%enilis

10

!iasanya ditemui pada usia relati%e muda dengan ge+ala Ege+ala menyerupai karsinoma nasofaring. 7umor ini kaya akan %as'ular dan biasanya tidak infiltrati%e. "ada foto polos akan didapat suatu massa pada atap nasofaring yang berbatas tegas. "roses dapat meluas seperti pada penyebaran karsinoma, )alaupun +arang menimbulkan destruksi tulang hanya erosi sa+a karena penekanan tumor. !iasanya ada pelengkungan kearah depan dari dinding belakang sinus maksilaris yang dikenal sebagai antral sign. Karena tumor ini kaya akan %as'ular maka arteriografi 'arotis eksterna sangat diperlukan sebab gambarannya sangat karakteristik. Kadang Ekadang sulit pula membedakan angiofibroma +u%enilis dengan polip hidung pada foto polos. 5. 7umor sinus sphenoidalis 7umor ganas primer sinus sphenoidalis adalah sangat +arang dan biasanya tumor sudah sampai stadium agak lan+ut )aktu pasien datang untuk pemeriksaan pertama. -. 2eurofibroma Kelompok tumor ini sering timbul pada ruang faring lateral sehingga menyerupai keganasan dinding lateral nasofaring. 3e'ara =7(s'an, pendesakan ruang parafaring ke arah medial dapat membantu membedakan kelompok tumor ini dengan karsinoma nasofaring. $. 7umor kelen+ar parotis 7umor kelen+ar parotis terutama yang berasal dari lobus yang terletak agak dalam dapat mengenai ruang parafaring dan menon+ol kea rah lumen nasofaring. "ada sebagian besar kasus terlihat pendesakkan ruang parafaring kea rah medial yang tampak pada pemeriksaan =7(s'an. 6. =hordoma ;alaupun tanda utama 'hordoma adakah destruksi tulang, tetapi mengingat karsinoma nasofaring pun sering menimbulkan destruksi tulang, maka terlihat kalsifikasi atau destruksi terutma daerah 'li%us. =7(s'an dapat membantu melihat apakah ada pembesaran kelen+ar ser%ikal bagian atas karena 'hordoma umumnya

11

tidak memperlihatkan kelainan pada kelen+ar tersebut sedangkan karsinoma nasofaring sering bermetastasis ke kelen+ar getah bening. ,. <eningioma basis kranii ;alaupun tumor ini +arang tetapi gambarannya kadang(kadang menyerupai karsinoma nasofaring dengan tanda E tanda sklerotik pada daerah basis kranii. 8ambaran =7(s'an meningioma 'ukup karakteristik yaitu sedikit hiperdense sebelum penyuntikan Cat kontras dan akan men+adi sangat hiperdense setelah pemberian Cat kontras intra %ena. "emeriksaan arteriografi +uga sangat membantu diagnosis tumor ini. 2.- Hi !&)a!&"&%i ,an S!a,i*' , Klasifikasi se'ara histopatologi dari ;H* mangkatagorikan tumor ini kedalam 5 kelompok besar sesuai dengan pola dominan yang terlihat se'ara mikroskopik, yaitu9 1. Karsinoma sel skuamosa ber(keratin /. Karsinoma sel skuamosa tidak berkeratin 5. Karsinoma tidak berdiferensiasi. Aenis ini yang tersering dari K21 dan +uga merupakan +enis yang tersering pada anak(anak diba)ah usia 1/ tahun. 3tadium K21 (@I== /00/ 7 7G 70 71 7/ 9 7umor primer 9 7umor primer tidak dapat ditentukan 9 tidak ditemukan adanya tumor primer 9 7umor terbatas pada daerah nasofaring sa+a (lateral>posterosuperior>atap 9 7umor meluas sampai daerah orofaring dan atau rongga nasal tanpa penyebaran sampai daerah parafaringeal

12

7/a

9 7umor meluas sampai daerah orofaring dan>atau rongga nasal tanpa penyebaran sampai daerah paragaringeal

7/b 75 7-

9 7umor meluas sampai daerah parafaringeal 9 7umor menyerang struktur tulang dan >atau sinus paranasal 9 7umor mengenai sampai daerah interfaringeal dan >atau penyebaran tumor di saraf 'ranial, fossa intratemporal, hipofaring, orbita atau ruangan masti'ator.

2 2G 20 21

9 "embesaran kelen+ar getah bening (K8! regional 9 "embesaran K8! regional tidak dapat ditentukan 9 7idak ada pembesaran K8! regional 9 <etastasis unilateral K8! dengan ukuran H 6'm merupakan ukuran terbesar terletak diatas fossa suprakla%ikula

2/

9 <etastasis bilateral K8! dengan ukuran H 6'm merupakan terbesar terletak di atas fossa supraklafikula

25

9 metastasis bilateral K8! dengan ukuran I 6 'm atau terletak pada fossa suprakla%ikula.

25a 9 ukuran K8! I 6 'm 25b 9 K8! terletak pada daerah fossa suprakla%ikula Ket. K8! di daerah garis tengah dianggap sebagai K8! ipsilateral

<

9 metastasis +auh

<G 9 adanya metastasis +auh tidak dapat ditentukan


13

<0 9 tidak ada metastasis +auh <1 9 terdapat metastasis +auh 8rup stadium 9 3tadium 0 3tadium 1 3tadium II# 3tadium II! 9 7is(20(<0 9 71(20(<0 9 7/a(20(<0 9 71(21(<0 7/b(20, 21, <0 3tadium III 9 71(2/(<0 7/a,7/b(2/(<0 75, 20,1,/(<0 3tadium I.# 9 7-(20, 1, /(<0 3tadium I.! 9 #ny 7(25(<0 3tadium I.= 9 #ny 7( #ny 2(<1 3tadium I.# 9 7-(20, 1, /

2.. Pena!a"a# anaan 1. 0adioterapi 0adioterapi merupakan pengobatan utama pada karsinoma nasofaring. 1 "ada massa karsinoma nasofaring yang berukuran ke'il, radioterapi merupakan satu(satunya pengobatan yang dibutuhkan. "ada kasus yang lain, radioterapi dapat dikombinasikan dengan kemoterapi. Aenis lain dari radioterapi adalah brakiterapi yang biasa digunakan pada karsinoma nasofaring yang rekuren./

14

/. Kemoterapi a. Kemoterapi neoad+u%an Kemoterapi neoad+u%an dilakukan sebelum dilakukan radioterapi. Kemoterapi ini bertu+uan untuk mengurangi besarnya massa tumor sebelum dilakukan radioterapi, karena dengan %askularisasi yang masih baik, pen'apaian obat sampai ke massa tumor men+adi optimal./ Kemoterapi pra radiasi dengan memberikan epirubi'in dan 'is( platinum.1 b. Kemoterapi konkuren Kemoterapi konkuren adalah pemberian kemoterapi bersama(sama dengan radioterapi. &engan kemoterapi ini diharapkan dapat membunuh sel kanker yang sensiti%e terhadap kemoterapi dan mengubah sel kanker yang resisten men+adi lebih sensitif terhadap radioterapi./ Kemoterapi yang diberikan adalah mitomy'in = dan $(fluoroura'il oral setiap hari sebelum diberikan radiasi yang bersifat radiosensitiCer.1 '. Kemoterapi ad+u%an Kemoterapi ad+u%an dilakukan setelah radioterapi. Kemoterapi ini dilakukan untuk menghan'urkan sel kanker yang masih tersisa di dalam tubuh. / 3ebagai terapi ad+u%an, kemoterapi terbaik adalah kombinasi 'is(platinum dengan bleomy'in dan $(fluoroura'il.1 5. "embedahan "enatalaksanaan dengan pembedahan tidak sering dilakukan pada karsinoma nasofaring. "embedahan dilakukan untuk mengangkat kanker nodus limfe di leher. "ada kasus tertentu, pembedahan dapat dilakukan untuk mengangkat tumor dari nasofaring./ "engobatan dengan pembedahan diseksi leher radikal dilakukan terhadap ben+olan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran (residu atau timbul kembali setelah penyinaran selesai, dengan syarat tumor induknya sudah hilang, dibuktikan dengan pemeriksaan radiologik dan serologi serta tidak ditemukan adanya metastasis +auh.1
15

-. "era)atan paliatif "erhatian pertama harus diberikan pada pasien dengan pengobatan radiasi. <ulut rasa kering karena kerusakan kelen+ar liur mayor maupun minor se)aktu penyinaran. 2asihatkan pasien untuk makan dengan banyak kuah, memba)a minuman kemana pun pergi dan men'oba memakan dan mengunyah bahan yang rasa asam sehingga merangsang keluarnya air liur. "ada keadaan timbul metastasis dapat diberikan obat simptomatis untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.1 2.1/ P(&%n& i 7idak seperti keganasan kepala leher yang lainnya, karsinoma nasofaring mempunyai risiko untuk ter+adinya rekurensi dan follo)(up +angka pan+ang diperlukan. Kekambuhan tersering ter+adi kurang dari $ tahun dan $(1$% kekambuhan sering kali ter+adi antara $(10 tahun.1 !anyak faktor yang mempengaruhi prognosis karsinoma nasofaring diantaranya, besarnya ukuran tumor, stadium tumor, keterlibatan nodus limfe, tipe karsinoma nasofaring, usia, lamanya inter%al dari biopsi dan inisiasi radio terapi, keterlibatan dari dasar tengkorak, penyebaran tumor primer, dan keterlibatan ner%us kranial. 3,4,5 !erdasarkan stadium, sur%i%al rates karsinoma nasofaring adalah 80% pada stadium I, 6$ % pada stadium II, -$ % pada stadium III, dan 50% pada stadium I.. (meds'ape prognosis 2.11 K&')"i#a i Karsinoma nasofaring dapat bermetastasis di luar nasofaring. Kebanyakan penderita karsinoma nasofaring mempunyai metastasis regional. 7umor primer dapat bermetastasis ke daerah sekitar nasofaring seperti nodus limfe di leher dan bermetastasis +auh ke tulang, sumsum tulang, paru, dan hati. Karsinoma nasofaring dapat +uga menyebabkan sindrom paraneoplastik. "ada kasus tertentu sistem imun tubuh akan bereaksi terhadap penyakit kanker ini dengan 'ara menyerang sel tubuh yang normal./

16