Anda di halaman 1dari 33

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

1/27/2014

Suwardjono

Transi 1

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Tujuan Pembelajaran
Mencapai kemampuan dan kompetensi peserta untuk: Menjelaskan pengertian penalaran. Menyebut dan menjelaskan komponen penalaran. Menyatakan asersi secara makna dan diagram. Menyebut dan menjelaskan sifat keyakinan. Menyebutkan dan menjelaskan jenis argumen. Membedakan antara argumen dan strategem. Menjelaskan dan memberi contoh strategem dan salah nalar. Mengevaluasi validitas argumen. Menjelaskan aspek manusia yang menghambat argumen yang sehat.

1/27/2014

Suwardjono

Transi 2

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Penalaran
Proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan terhadap suatu pernyataan atau asersi. Menentukan secara logis dan objektif apakah suatu pernyataan valid (benar atau salah) sehingga pantas untuk diyakini atau dianut. Struktur penalaran terdiri atas masukan, proses, dan keluaran.
1/27/2014

Suwardjono

Transi 3

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Unsur atau Komponen Penalaran Pernyataan atau asersi (assertion) Keyakinan (belief) Argumen (argument)

1/27/2014

Suwardjono

Transi 4

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Proses dan Struktur Penalaran


Masukan
Asersi sebagi elemen

Proses

Keluaran
Keyakinan bahwa asersi konklusi benar/valid

Argumen

Asersi

Asersi Asersi Asersi

Asersi Asersi Asersi

inferensi

konklusi

1/27/2014

Suwardjono

Transi 5

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Arti Penting Argumen


Serangkaian asersi beserta inferensi atau penyimpulan yang terlibat di dalamnya. Simpulan dinyatakan pulan dalam bentuk asersi. Merupakan bukti rasional akan kebenaran suatu pernyataan. Argumen membentuk, memelihara, atau mengubah keyakinan.
1/27/2014

Suwardjono

Transi 6

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Asersi
Penegasan tentang sesuatu hal atau realitas yang dinyatakan dalam bentuk kalimat atau ungkapan.
Pengkuatifikasi asersi Untuk membatasi asersi universal/umum menjadi spesifik dan menentukan hubungan inklusi, eksklusi, saling-isi. Pengkuantifikasi: sedikit, banyak, tak semua, beberapa, semua.

1/27/2014

Suwardjono

Transi 7

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Penyajian Asersi
Makna atau arti

Semua badan usaha milik negara adalah perusahaan pencari laba.


Struktur atau bentuk

Semua A adalah B.
Diagram

B A

1/27/2014

Suwardjono

Transi 8

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Penyajian Asersi
Hubungan eksklusi: Tidak satupun A adalah B = Tidak satupun B adalah A

Hubungan inklusif:

B A
Suwardjono

Semua A adalah B
dapat bermakna

Tidak semua B adalah A


1/27/2014 Transi 9

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Penyajian Asersi
Hubungan saling isi

1/27/2014

Suwardjono

Transi 10

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Penyajian Asersi
Beberapa B adalah A
Tanpa diagram tidak diketahui apakah: Ada sebagian A yang bukan B. Semua A adalah B. B sama dengan A Asersi menyangkal Semua B adalah A Asersi menegaskan Tidak semua B adalah A

Beberapa B adalah A tidak selalu sama dengan Tidak semua B adalah A


1/27/2014

Suwardjono

Transi 11

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Penyajian Asersi
Interpretasi: Beberapa B adalah A.

atau

Umumnya ini yang dimaksud.

Menyangkal Semua B adalah A. Menegaskan Tidak semua B adalah A


Suwardjono
Transi 12

1/27/2014

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Asersi untuk Evaluasi Istilah


Interpretasi:
meja bundar biru (blue round tables) meja biru bundar (round blue tables)

certified public accountant (CPA) = bersertifikat akuntan publik (BAP)?


1/27/2014

Suwardjono

Transi 13

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Jenis dan FungsiAsersi


Jenis: Asumsi (assumption) Hipotesis (hypothesis) Pernyataan fakta (statement of facts) Sebagai pernyataan premis dan konklusi Kredibilitas konklusi tidak dapat melebihi kredibilitas terendah premis-premis yang diajukan dalam argumen.

Fungsi:

Kaidah/prinsip:

1/27/2014

Suwardjono

Transi 14

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Keyakinan
Kebersediaan untuk menerima bahwa suatu asersi adalah benar tanpa memperhatikan apakah argumen valid atau tidak atau apakah asersi tersebut benar atau tidak. Properitas Keyakinan Keadabenaran Bukan pendapat Bertingkat Berbias Bermuatan nilai Berkekuatan Veridikal Berketertempaan
Transi 15

1/27/2014

Suwardjono

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Anatomi Argumen
Premis 1
Asersi

inferensi Premis 3
Asersi

inferensi
Asersi

Premis 2

inferensi

inferensi

Asersi

Konklusi

1/27/2014

Suwardjono

Transi 16

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Indikator Argumen
Dalam suatu argumen atau penalaran yang kompleks, tidak selalu mudah untuk mengenali premis dan konklusi. Indikator premis: oleh karena, karena, mengingat, dengan asumsi bahwa, jika

Indikator konklusi: oleh karena itu, dengan demikian, maka, sehingga, sebagai akibatnya Cara mengenali: Prinsip/kaidah interpretasi terdukung (principle of charitable interpretation)

1/27/2014

Suwardjono

Transi 17

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Jenis Argumen
Deduktif Nondeduktif: Induktif Analogi Sebab-akibat

1/27/2014

Suwardjono

Transi 18

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Argumen Deduktif
Argumen yang simpulannya diturunkan dari serangkaian asersi umum yang disepakati atau dianggap benar (disebut premis baik major maupun minor). Pada umumnya berstruktur silogisma sehinga disebut argumen logis (logical argument). Premis major: Premis minor: Konklusi: Semua binatang menyusui berparu-paru. Kucing adalah binatang menyusui. Kucing berparu-paru.

Lihat contoh penalaran deduktif dalam akuntansi pada Gambar 2.8


Suwardjono
Transi 19

1/27/2014

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Kriteria Kebenaran Argumen Deduktif


Kelengkapan Kejelasan Kesahihan Keterpercayaian

Kebenaran konklusi dalam argumen deduktif adalah kebenaran logis bukan kebenaran empiris (realitas).
Kriteria kebenaran logis:

1. 2. 3.
1/27/2014

Semua premis benar Konklusi mengikuti semua premis Semua premis dapat diterima
Suwardjono
Transi 20

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Hubungan Premis dan Konklusi (Gambar 2.9)


Bila konklusi mengikuti premis secara logis, kebenaran logis konklusi bergantung pada kebenaran semua premis. Premis 1: B Premis 2: B Premis 3: B Premis 1: B Premis 2: B Premis 3: B Premis 1: S Premis 2: S Premis 3: S Premis 1: S Premis 2: S Premis 3: S

Konklusi: B
Pasti/harus

Konklusi: S
Tak mungkin

Konklusi: B
Mungkin

Konklusi: S
Mungkin

B = Benar, S = Salah
1/27/2014

Suwardjono

Transi 21

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Argumen Induktif
Argumen yang simpulannya merupakan perampatan atau generalisasi dari keadaan atau pengamatan khusus sebagai premis. Generalisasi menjadikan argumen induktif merupakan argumen ada benarnya (plausible argument) bukan argumen pasti benarnya atau logis (logical argument). Premis: Premis: Konklusi: Satu biji jeruk dari karung A manis rasanya. Beberapa biji berikutnya manis rasanya.

Semua jeruk dari karung A manis rasanya.


Ada benarnya tetapi dapat salah. Tidak pasti benar.

1/27/2014

Suwardjono

Transi 22

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Perbedaan Argumen Deduktif dan Induktif


Argumen deduktif
Premis 1: Semua burung berbulu. Premis 2: Bebek berbulu. Konklusi: Bebek adalah burung.

Argumen induktif
Premis 1: Beberapa burung dapat terbang. Premis 2: Bebek adalah burung.
Konklusi: Bebek dapat terbang.

Pasti benar (necessarily true)

Boleh jadi benar/ada benarnya (not necessarily true)


Untuk meyakinkan perlu dilekatkan tingkat keyakinan (confidence level), misalnya 90% atau 95%.

Lihat contoh penalaran induktif dalam akuntansi pada Gambar 2.11


1/27/2014

Suwardjono

Transi 23

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Argumen Sebab-Akibat (Causal Generalization)


Argumen untuk mendukung bahwa perubahan faktor tertentu disebabkan oleh faktor yang lain. Kriteria Penyebaban: 1. 2. 3. Faktor sebab bervariasi dengan faktor akibat (efek). Faktor sebab terjadi sebelum atau mendahului faktor akibat. Tidak ada faktor lain selain faktor sebab yang diidenfikasi.

Lihat kaidah penyebaban Mill pada Gambar 2.10


1/27/2014

Suwardjono

Transi 24

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Kecohan (Fallacy)
Keyakinan semu atau keliru akibat orang terbujuk oleh suatu argumen yang mengandung catat (faulty) atau tidak valid. Orang dapat terkecoh akibat taktik membujuk selain dengan argumen yang valid.

Orang dapat mengecoh atau terkecoh lantaran: Strategem Salah nalar (reasoning fallacy) Aspek manusia dalam berargumen

1/27/2014

Suwardjono

Transi 25

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Kecohan lantaran Strategem


Persuasi taklangsung Membidik orangnya Menyampingkan masalah Misrepresentasi Imbauan cacah Imbauan autoritas Imbauan tradisi Dilema semu Imbauan emosi

1/27/2014

Suwardjono

Transi 26

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Kecohan lantaran Salah Nalar


Menyangkal anteseden Pentaksaan Perampatan-lebih Parsialitas Pembuktian dengan analogi Merancukan urutan kejadian dengan penyebaban Menarik simpulan pasangan
Ketegaran ilmiah (scientific rigor) dan prinsip ketersalahan (principles of falsifiability) bukan salah nalar.
1/27/2014

Suwardjono

Transi 27

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Kecohan lantaran Aspek Manusia


Puas dengan penjelasan sederhana Kepentingan mengalahkan nalar Sindroma tes klinis Mentalitas Djoko Tingkir Merasionalkan daripada menalar Persistensi Fiksasi fungsional

1/27/2014

Suwardjono

Transi 28

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Kutipan Penting
Hirshleifer (1988) di halaman 90. Nickerson (1986) di halaman 92. Thomas Kuhn (1970) di halaman 93.

1/27/2014

Suwardjono

Transi 29

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

All sciences advance through disagreement.


In astronomy the geocentric model of Ptolemy was opposed by the new heliocentric model of Copernicus; in chemistry Priestley supported the phlogiston theory of combustion while Lavoisier propounded the oxidation theory; and in biology the creationism of earlier naturalists was countered by Darwins theory of evolution. It is not universal agreement but rather the willingness to consider evidence that signals the scientific approach. For Galileos opponents to disagree with him about Jupiters moons was not unscientific of itself; what was unscientific was their refusal to look through his telescope and see.
Jack Hirshleifer, Price Theory and Applications (1988), hlm. 4.
1/27/2014

Suwardjono

Transi 30

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Priestley never accepted the oxygen theory, nor Lord Kelvin the electromagnetic theory, and so on. The difficulties of conversion have often been noted by scientists themselves. Darwin, in a particulary perceptive passage at the end of his Origin of Species, wrote:
Although I am fully convinced of the truth of the views given in this volume..., I by no means expect to convince experienced naturalists whose mind are stocked with a multitude of facts all viewed, during a long course of years, from a point of view directly opposite to mine. ... [B]ut I look with confidence to the future, to young and rising naturalists, who will be able to view both sides of the question with impartiality.
Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (1970), hlm. 151.
1/27/2014

Suwardjono

Transi 31

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

And Max Planck, ..., sadly remarked that


a new scientific truth does not triumph by convincing its opponents and making them see the light, but rather because its opponents eventually die, and a new generation grows up that is familiar with it ... scientists, being only human, cannot always admit their errors, even when confronted with strick proof. I would argue, rather, that in these matters neither proof nor error is at issue. The transfer of allegience from paradigm to paradigm is a conversion experience that cannot be forced.
Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (1970), hlm. 151.
Suwardjono

1/27/2014

Transi 32

Bab 2

Penalaran (Reasoning)

Bila orang merasakan belajar sebagai kenikmatan, maka dia akhirya akan mengenyam kenikmatan ganda.
1/27/2014

Suwardjono

Transi 33