Anda di halaman 1dari 5

Ardisa Permata Putri - UPH

TUBEKTOMI Tubektomi atau sterilisasi (sterilization), atau metode operatif wanita (MOW) adalah prosedur bedah untuk menghentikan fertilitas (kesuburan seorang perempuan) secara permanen. Tindakan ini sangat efektif dan permanen. Pada wanita sterilisasi lazimn a dilakukan dengan memotong dan mengambil sebagian saluran telur (tuba) sehingga dikenal istilah tubektomi. !adang"kadang prosedur sterilisasi tidak dilakukan dengan memotong tuba tetapi cukup dengan mengikatn a. JENIS- JENIS TUBEKTOMI A. Metode Irving Penestrasi dilakukan di bawah tuba sekitar # cm dari uterotubal junction menggunakan gunting atau hemostat. $% Tuba kemudian diligasi dua kali, kemudian daerah tuba diantara kedua tuba ang diligasi dipotong. &% '(ung"u(ung tuba proksimal di(ahit ke dalam rongga miometrium posterior dan u(ung tuba bagian distal di(ahit di Mesosalph n). *% Pengikatan (ahitan mengamankan u(ung"u(ung tuba proksimal di dalam rongga miometrium.

Metode +r,ing

B.

Metode Pomeroy &ara pomero adalah cara ang paling sederhana, mudah, dan paling ban ak

dipakai Tuba bagian tengah diangkat dan di klem pada bagian bawahn a sampai membentuk suatu loop (lengkungan). !emudian pada pangkal loop diligasi dengan benang chromic catgut absorbable -../.. 0alu bagian loop tersebut dipotong. Pengikatan menggunakan benang ang mudah diserap dengan maksud mengurangi pembentukan reaksi radang dan akan mempermudah pemisahan sisa kedua u(ung tuba ang tidak dipotong. !emudian kedua u(ung tuba kegagalan pada teknik Pomero ang tersisa akan mengalami fibrosis secara alami dan bersatu dengan peritoneal tanpa pembentukan fistula. 1ngka kira"kira adalah .,- per 2.. wanita. 3alah satu kelebihan cara ini dibanding cara lain adalah bila diperlukan pen ambungan kembali dengan teknik Tubal Reversal Microsurgery angka keberhasilann a dapat mencapai 445 dengan menggunakan teknik bedah mikro.

Metode Pormero

C.

Metode Uchida Metode 'chida. 1% +n(eksi larutan ,asokonstriktif diberikan di bawah lapisan

serosa tuba sekitar 6 cm dari uterotubal junction. 0apisan serosa kemudian diinsisi. $% '(ung dari mesosalfing ditarik ke arah uterus, membuka sekitar 4 cm tuba. &% Tuba diligasi pada proksimal dan dipotong, kemudian potongan ang terikat dibiarkan beretraksi ke dalam mesosalfing. 7emostat pada potongan distal tetap dipertahankan untuk memudahkan eksteriorisasi bagian tuba ini. *% 8ahitan pursestring pada mesosalfing di sekitar potongan tuba ang dieksisi mengamankan posisin a. Tuba

proksimal ang diligasi di(ahit ke dalam mesosalfing.

Metode 'chida . Metode Par!"and Metode Parkland sebenarn a hampir mirip dengan metode Pomero . Perbedaann a dengan Pomero , tiap u(ung tuba ang tersisa (tidak dipotong) diligasi sendiri"sendiri, dan segmen ang tuba ang dipotong sebelumn a tidak dibentuk loop terlebih dahulu. 1% Penestrasi - hingga 9 cm dibuat di bagian isthmus tuba dengan hemostat. $% 0alu kedua u(ung tuba diligasi. &% 3egmen diantara kedua u(ung tuba tersebut dipotong.

Metode Parkland E. Metode Kroener (Fimbriectomy)

$agian fimbria dari tuba dikeluarkan dari lubang operassi. 3uatu ikatan dengan benangsutera dibuat melalui bagian mesosalping di bawah fimbria. 8ahitan ini diikat dua kali,satu mengelilingi tuba dan ang lain mengelilingi tuba sebelah proksimal dari (ahitansebelumn a. 3eluruh fimbria dipotong. 3etelah pasti tidak ada perdarahan, maka tubadikembalikan ke dalam rongga perut. Teknik ini ban ak digunakan. !euntungan cara iniantara lain adalah sangat keciln a kemungkinan kesalahan mengikat ligamentum rotundum. 1ngka kesalahan .,2:5.

Metode ;imbriectom

#.

Metode Mad"ener $agian tengah dari tuba diangkat dengan cunam sehingga terbentuk suatu

lipatan terbuka. !emudian dari dasar lipatan tersebut di(epit dengan cunam kuat"kuat, dan selan(utn a dasar itu diikat dengan benang ang tidak dapat diserap. Pada cara ini tidak dilakukan pemotongan tuba. 3ekarang cara Madlener tidak dilakukan lagi karena angka kegagalann a relati,e tinggi aitu 2"95

Metode Madlener