Anda di halaman 1dari 13

STUDI KORELASI KUAT TEKAN BETON ANTARA BERNDA UJI SILINDER DENGAN BENDA UJI KUBUS MENGGUNAKAN SEMEN

TIPE PCC Study of The Correlation of Compressive Strength between Cylindrical specimen and Cube specimen of PCC Concrete Ohtrianas Pongpare Jurusan Teknik Sipil Universitas Tadulako-Jalan Soekarno Hatta Km. 8 Palu 94118, e-mail: oktrianas.p@gmail.com
ABSTRACT

The purpose of this research is to determine correlation value of Compressive Strength between cylinder specimen and cube specimen of PCC concrete. This research was started by material test, collecting related data, mix design, manufacturing the specimens and concrete compressive strength test. The correlation value between cylinder specimens and cube specimen using Bosowa cement, Tonasa cement and Tiga Roda cement as follows: 0,815; 0,813; 0,770. The correlation value between cube specimen and cylinder using Bosowa cement, Tonasa cement and Tiga Roda cement that based on Peraturan Beton 1989 as follows: 1,202; 1,200 dan 1,190. The correlation value of concrete compressive strength that obtained by using portland composite cement was smaller than PBI71. While the correlation value of concrete compressive strength using empirical formula also was smaller than the test result. The correlation value that obtained by using PCC smaller than the correlation value using OPC Type 1. Keywords: concrete compressive strength, portland composite cement, cube specimen, cylinder specimen
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai korelasi antara benda uji kubus dan silinder dengan menggunakan semen tipe PCC. Penelitian ini dimulai dengan pemeriksaan bahan, pengumpulan data-data yang berkaitan, perancangan komposisi campuran, pembuatan benda uji dan pengujian kuat tekan beton. Hasil korelasi kuat tekan beton dari benda uji silinder 15 cm x 30 cm terhadap benda uji kubus 15 cm, untuk merk semen Bosowa, Tonasa dan Tiga Roda berturut-turut adalah: 0,815; 0,813; 0,770. Nilai korelasi kuat tekan benda uji kubus 15 cm terhadap silinder 15 cm x 30 cm yang didapat dari rumus empiris Peraturan Beton 1989, untuk merek semen Bosowa, Tonasa dan Tiga Roda berturut-turut adalah: 1,202; 1,200 dan 1,190. Nilai korelasi kuat tekan beton dengan menggunakan tiga macam semen tipe PCC lebih kecil dari pada hasil uji PBI71. Sedangkan nilai korelasi yang didapat dari rumus empiris pada PB89 lebih kecil dari pada hasil uji. Nilai korelasi yang didapat dengan menggunakan semen PCC lebih kecil daripada nilai korelasi semen OPC tipe I. Kata kunci: Kuat Tekan Beton, Semen PCC, Benda uji kubus, benda uji silinder

PENDAHULUAN a. Latar belakang Peningkatan kebutuhan akan semen saat ini mendorong pabrik-pabrik semen untuk menciptakan jenis-jenis semen yang baru yang diklaim lebih ramah lingkungan dan memiliki kualitas yang tidak kalah dengan semen jenis sebelumnya. Saat ini yang banyak beredar dimasyarakat adalah semen portland komposit Berbeda (Portland dengan

diperlukan nilai korelasi rata-rata antara keduanya. Berdasarkan PBI 1971 N.I.-2 nilai korelasi kuat tekan untuk benda uji kubus ukuran 15 cm x 15 cm x 15 cm, kubus ukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm dan silinder ukuran 15 cm dengan panjang 30 cm adalah sebagai berikut. Tabel 1. Perbandingan kekuatan tekan beton pada berbagai benda uji (sumber: PBI 1971 N.I.-2) Perbandingan Kekuatan Benda Uji Tekan Kubus 15 cm 1,00 Kubus 20 cm 0,95 Silinder 15 cm x 0,83 30 cm Pada kondisi tertentu nilai korelasi tersebut dapat berubah-ubah dikarenakan sifat beton yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sifat beton adalah jenis semen yang digunakan. Oleh karena itu perlu diadakan nilai penelitian korelasi untuk dengan

Composite

Cement).

semen OPC, Semen PCC mengandung lebih sedikit klinker dan lebih banyak bahan tambahan, bahan tambahan tersebut berupa Fly ash, slag dan limestone dengan persentase 5 36% dari massa semen portland komposit. Dalam hal kualitas kedua jenis semen perlu untuk diuji. Mutu beton dapat diketahui dengan pengujian beton yang menggunakan benda uji kubus maupun silinder. Menurut SNI03-4810-1998 benda uji yang digunakan untuk pengujian kuat tekan beton ialah benda uji silinder dengan ukuran standar 150 mm x 300 mm atau 152 mm x 305 mm. Namun dalam beberapa kasus benda uji kubus masih digunakan sebagai

mengetahui

menggunakan semen PCC. b. Tinjauan Pustaka Beton didefenisikan sebagai

campuran semen portland (semen hidrolik), agregat halus, agregat kasar dan air dengan atau tanpa bahan tambahan (SK SNI T-151991-03). Menurut Edward G. Nawy

alternatif dari bentuk silinder, dengan demikian akan terdapat perbedaan hasil pengujian dari kedua benda uji sehingga

(1990), beton dihasilkan dari sekumpulan interaksi mekanis dan kimiawi sejumlah material pembentuknya. Bahan pembentuk beton terdiri dari semen, agregat (kasar dan halus), air, dan dengan atau tanpa bahan tambahan (additive) kimia yang dicampur menjadi satu kesatuan yang utuh dalam cetakan hingga terbentuk batu buatan (beton keras). Beton memiliki kekuatan tekan yang lebih besar dari pada kuat tarik dan lentur. Sifat yang paling penting dari beton adalah kuat tekan beton. Nilai kuat tekan beton relatif tinggi dibanding kuat tariknya, dan merupakan bahan getas. Nilai kuat tariknya berkisar antara 9% - 15% dari kuat tekannya, pada penggunaan sebagai komponen struktural bangunan, umumnya beton diperkuat dengan batang tulangan baja sebagai bahan yang dapat bekerjasama dan mampu membantu kelemahannya, terutama pada bagian yang bekerja

Ac

= luas penampang, mm

Pengujian kuat tekan dilakukan dengan cara memberi gaya tekan aksial secara bertahap terhadap benda uji, sampai benda uji mengalami keruntuhan. Benda uji beton digunakan untuk berbagai macam keperluan, misalnya untuk mengetahui kuat tekan, modulus elastisitas, kuat tarik belah. Ukuran dan bentuk benda uji dapat dibuat bermacam-macam, misalnya berupa

silinder, kubus, atau prisma. Standar pengujian beton

dalam PBI 1971, didasarkan pada sejumlah benda uji berbentuk kubus beton berukuran 15x15x15cm. Sedangkan pada standar SNI T-15-1991-03 digunakan silinder beton berukuran diameter 150 mm dan tinggi 300 mm. Saat ini sebagian besar Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) masih

menggunakan benda uji kubus (K), untuk mendapatkan nilai kuat tekan dalam bentuk silinder (fc) maka digunakan nilai korelasi antara kedua macam benda uji sebagai faktor pengali untuk mengkonversikan nilai kuat tekan yang didapat. Nilai korelasi antara kedua benda uji didapat dari hasil pembagian kuat tekan benda uji standar

menahan tarik (Dipohusodo, 1994). Kekuatan tekan adalah kemampuan beton untuk menerima gaya tekan persatuan luas. Kuat tekan beton (fc) dihitung berdasarkan persamaan berikut: (1) Keterangan: fc = kuat tekan beton, MPa Pmaks = beban maksimum, N

terhadap kuat tekan benda uji yang akan dikonversikan. Kuat tekan beton dari

berbagai macam bentuk benda uji akan mempengaruhi nilai yang diperolehnya tidak akan sama. Variasi tersebut

kontak dengan mesin uji, rasio antara tinggi dan lebar (diameter), dan lain sebagainya.Kuat tekan relatif antara benda uji silinder dan kubus ditunjukkan pada Tabel 2 dan Tabel 3 yang berdasarkan ISO.

disebabkan oleh banyak faktor seperti komposisi bahan dasar, metode perawatan, metode pencampuran, bentuk dan bidang

Tabel 2. Rasio kuat tekan silinder-kubus (Sumber: Mulyono, 2004) Kuat Tekan (MPa) 7,0 15,2 20,0 24,1 26,2 34,5 36,5 40,7 44,1 50,3 Kuat rasio silinder/kubus 0,76 0,77 0,81 0,87 0,91 0,94 0,87 0,92 0,91 0,96 Tabel 3. Perbandingan kuat tekan antara silinder dan kubus (Sumber: Mulyono,2004) Kuat tekan silinder (MPa) Kuat tekan kubus (MPa) 2 2,5 4 5 6 7,5 8 10 10 12,5 12 15 16 20 20 25 25 30 30 35 35 40 40 45 45 50 50 55

Menurut BS.1881 (Mulyono, 2004), rasio kubus terhadap silinder untuk semua kelas adalah 1,25, sedangkan menurut K.W. Day (1995) (Mulyono, 2004),

Keterangan: fc = kuat tekan beton bentuk silinder fck = kuat tekan beton bentuk kubus Menurut BS 1881 : bagian 4: 1970 (Murdock, 1989) memberikan faktor

kekuatan tekan kubus jika dibandingkan dengan silinder dinyatakan dengan

koreksi pada perhitungan kuat tekan kubus 150 mm ekivalen terhadap silinder dengan pelbagai perbandingan panjang/diameter

persamaan 2 dan persamaan 3 (dalam MPa). ( ( Sedangkan

) )

(2) (3) PB1989

(L/D). koreksi yang diperlukan dapat disederhanakan dalam persamaan 5: (5) Keterangan: C = faktor koreksi untuk silinder L = Panjang silinder (mm) D = diameter silinder (mm)

menurut

(Mulyono, 2004) memberikan hubungan antara kekuatan kubus dengan silinder dalam persamaan 4 berikut: * ( )+ (4)

METODE PENELITIAN Adapun recana alur kerja adalah sebagai berikut:


Mulai Penyiapan Bahan dan Sampel Pemeriksaan Sampel

mengacu pada Metode Standar Nasional Indonesia (SK SNI T 15-1990-03) yang lazim dikenal dengan British Standard, yaitu Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. Pembuatan

benda uji dengan komposisi sesuai dengan hasil rancangan campuran (mix design),
Tidak

Memenuhi Spesifikasi Ya Rancangan Komposisi Campuran Pencampuran dan Pembuatan Benda Uji (Silinder dan Kubus)

mengacu pada SK SNI M-62-1990-03, tentang Metoda Pembuatan dan Perawatan Benda Uji di Laboratorium. Pengujian dilakukan terhadap beton segar dan beton keras. Prosedur pengujian sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

Beton keras

Pengujian Benda Uji

Beton Segar

Adapun

pengujian-pengujian

terhadap

sampel atau benda uji yang akan dilakukan


Slump Kandungan Udara Berat Isi

Kuat Tekan Silinder Kuat Tekan Kubus

adalah sebagai berikut: 1. Pengujian slump beton, dimaksudkan untuk menentukan slump beton.

Pengolaan Data

Prosedur yang digunakan sesuai SK


Hasil dan Pembahasan

SNI M-12-1989-F. 2. Pengujian kandungan udara pada beton segar, dimaksudkan untuk menentukan

Penutup

Gambar 1. Bagan alir proses penelitian Bahan dan sampel terlebih dahulu disiapkan, kemudian dilakukan 3.

banyak udara dalam beton segar. Prosedur yang digunakan sesuai SNI 03-3418-94. Pengujian berat isi beton,

pemeriksaan terhadap sampel tersebut, setelah memenuhi spesifikasi bahan dan sampel yang ada dibuatkan Mix Design untuk menyusun komposisi campuran. Perancangan campuran dilakukan dengan

dimaksudkan untuk menentukan berat isi pada beton. Prosedur yang

digunakan sesuai SK SNI M-13-1989F.

4.

Pemeriksaan

Kuat

Tekan

30 cm dan kubus 15 cm berumur 7 dan 28 hari. Prosedur yang digunakan sesuai SK SNI M-14-1989-F.

menggunakan Compression Machine terhadap benda uji silinder 15 cm x

Kebutuhan benda uji yang akan dibuat sesuai Tabel 4 di bawah ini. Tabel 4. Kebutuhan benda uji Jenis Semen Mutu Beton fc (MPa) Bentuk Benda Uji Umur Benda Uji (Hari) 7 28 7 28 7 28 7 28 7 28 7 28 Benda Uji Uraian 3x5 3x5 3x5 3x5 3x5 3x5 3x5 3x5 3x5 3x5 3x5 3x5 Jumlah 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 180

Silinder 15 cm x 30 cm 3 20 Kubus 15 cm x 15 cm x 15 cm Silinder 15 cm x 30 cm 3 25 Kubus 15 cm x 15 cm x 15 cm Silinder 15 cm x 30 cm 3 30 Kubus 15 cm x 15 cm x 15 cm Jumlah Benda Uji HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian benda uji dilakukan

tiga variasi merek semen yaitu Bosowa, Tiga Roda dan Tonasa. Pengujian

menggunakan mesin uji tekan Compression Machine dengan penambahan beban antara 2 sampai 4 kg/cm perdetik. Pengujian kuat tekan dilakukan setelah beton mencapai umur perawatan 7 dan 28 hari untuk semua mutu beton. Hasil-hasil dari pengujian tersebut disajikan dalam Tabel 6 dan Gambar 1 di bawah ini:

terhadap sampel beton segar dan beton keras. Pengujian beton segar meliputi pengujian slump test, kandungan udara dalam beton segar dengan alat Air

Entrainment Meter, dan berat isi beton segar. Hasil-hasil pengujian beton segar disajikan dalam Tabel 5. Pengujian beton keras berupa pengujian kuat tekan kubus dan silinder beton dengan menggunakan

Tabel 5. Hasil pengujian terhadap beton segar Mutu Slump Beton Merek semen (mm) (MPa) Bosowa 94 20 Tiga Roda 95 Tonasa 95 Bosowa 99,5 25 Tiga Roda 101 Tonasa 100 Bosowa 90 30 Tiga Roda 90 Tonasa 90 Spesifikasi 100 20

Kand. Udara (%) 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 Maks 3 - 5

Berat Isi Beton Segar (gr/cm) 2,368 2,373 2,364 2,370 2,365 2,359 2,373 2,364 2,364 2,2 2,5

Tabel 6. Hasil pengujian kuat tekan terhadap beton keras pada umur 7 dan 28 hari Mutu Kuat Tekan Beton Semen Tipe PCC Benda Beton Umur Uji Bosowa Tonasa Tiga Roda (Mpa) Silinder 7 14,607 14,890 15,287 Kubus 7 18,400 19,422 20,133 20 Silinder 28 24,572 24,855 25,761 Kubus 28 30,622 31,156 32,578 Silinder 7 15,060 15,626 16,249 Kubus 7 21,289 21,556 23,467 25 Silinder 28 28,025 28,478 29,101 Kubus 28 34,400 35,022 37,778 Silinder 7 23,892 24,062 25,874 Kubus 7 28,978 29,778 33,778 30 Silinder 28 33,347 33,517 35,952 Kubus 28 40,133 40,489 43,911

Kuat Tekan Beton Berbagai Mutu dan Bentuk Benda Uji Umur 28 Hari
45,000

40,000

Bosowa

Tonasa

Tiga Roda
34,400 35,022 37,778

Kuat Tekan (MPa)

30,000

30,622 31,156 32,578

20,000

24,572 24,855 25,761

25,000

Silinder 20

Kubus

28,025 28,478 29,101

Silinder 25

Kubus

33,347 33,517 35,952 Silinder 30

35,000

Gambar 2. Kuat tekan beton berbagai mutu dan bentuk benda uji umur perawatan 28 hari 1. Perbandingan terhadap PBI71 PBI71 menyebutkan bahwa faktor korelasi untuk perbandingan kuat tekan beton dalam berbagai bentuk benda uji adalah seperti dalam Tabel 1 di atas. untuk nilai korelasi bentuk lain kuat tekannya dengan

dikorelasikan/diperbandingkan

suatu koefisien nilai seperti pada Tabel 1. Perbedaan korelasi antara PBI71 dan hasil uji adalah seperti dalam Tabel 7 dan Gambar 3 di bawah ini.

Tabel 7. Nilai korelasi kuat tekan beton antara benda uji silinder dan benda uji kubus hasil uji, penelitian terdahulu dan PBI71. Nilai korelasi kuat tekan Bentuk Bosowa Tonasa Tiga Roda Benda Hasil Penelitian Hasil Penelitian Hasil Penelitian PBI'71 uji terdahulu terdahulu terdahulu uji uji uji silinder 0,815 0,843 0,813 0,848 0,77 0,844 0,83 kubus

40,133 40,489 43,911 Kubus

0,86 0,84 0,82 Nilai korelasi 0,8 0,815

0,843 0,813

0,848

0,844 0,83

0,78 0,76 0,74 0,72

0,77

Hasil uji Penelitian Hasil uji Penelitian Hasil uji Penelitian terdahulu terdahulu terdahulu Bosowa Tonasa Jenis semen Tiga Roda PBI'71

Gambar 3. Grafik korelasi kuat tekan hasil uji, penelitian terdahulu dan PBI71 Dari Tabel 7 di atas dapat dilihat bahwa hasil uji laboratorium menunjukkan nilai korelasi yang bervariasi untuk setiap mutu, jenis semen dan bentuk benda uji. Untuk benda uji silinder dengan standar kubus 15 cm mutu 25 MPa hasil uji semen Bosowa 0,815 atau 1,844% lebih kecil dari hasil uji PBI71, semen Tonasa 0,813 atau 2,029 lebih kecil dan semen Tiga Roda 0,770 atau 7,189% lebih kecil dari hasil uji PBI71. Jika dibandingkan dengan nilai korelasi yang didapat dari penelitian Tiga Roda paling kecil dari merek semen yang lain, hal ini disebabkan oleh besarnya selisih kuat tekan kubus dan silinder yang didapat dengan menggunakan semen

tersebut, semakin besar selisih kuat tekan yang dihasilkan maka semakin kecil pula nilai korelasi yang didapat. 2. Nilai korelasi berdasarkan PB89 Menurut PB89 faktor korelasi kuat tekan dari berbagai bentuk benda uji ke silinder 15 cm 30 cm adalah

berdasarkan rumus pada persamaan (4) di atas. Korelasinya untuk berbagai bentuk benda uji dalam PB89 dan hasil uji seperti pada Tabel 8.

terdahulu, nilai korelasi kuat tekan ketiga merek semen hasil uji lebih kecil daripada hasil penelitian terdahulu. Selain itu dari Tabel di atas juga dapat dilihat nilai korelasi yang diperoleh dari merek semen

Tabel 8. Nilai korelasi kuat tekan beton antara benda uji kubus dan benda uji silinder berdasarkan PB89 dan penelitian terdahulu Nilai korelasi kuat tekan Bentuk Bosowa Tonasa Tiga Roda benda Hasil Penelitian Hasil Penelitian Hasil Penelitian uji PB89 PB89 PB89 Terdahulu Terdahulu Terdahulu Uji Uji Uji Silinder 1,202 1,227 1,186 1,200 1,230 1,180 1,190 1,298 1,184 Kubus nilai korelasi kubus ke silinder hasil uji Dari Tabel 8 di atas dapat dilihat semen Bosowa 1,35% lebih besar, semen bahwa nilai korelasi kuat tekan beton dari Tonasa 1,7 % lebih besar dan Tiga Roda berbagai bentuk benda uji dan merek 0,5% lebih besar daripada penelitian semen berdasarkan PB89 untuk kubus terdahulu. Adanya perbedaan nilai tersebut yang menggunakan semen Bosowa adalah dapat disebabkan oleh banyak faktor, 1,202 atau 2,08% lebih tinggi dari hasil uji antara lain dapat berupa bentuk benda uji daripada PB89, semen Tonasa 1,230 atau itu sendiri, faktor air semen, komposisi 2,5% lebih tinggi hasil uji daripada PB89 campuran, komposisi kimia dan fisika dan semen Tiga Roda 1,298 atau 9,08% bahan dasar semen yang bervariasi dan lain lebih tinggi hasil uji daripada PB89. sebagainya. Sedangkan terhadap penelitian terdahulu,

Gambar 4. Grafik nilai korelasi kuat tekan berdasarkan rumus empiris PB89, hasil uji dan penelitian terdahulu.

3.

Nilai korelasi berdasarkan umur dan mutu beton Nilai korelasi yang diperoleh dari

lebih besar dari pada umur 7 hari.

Hal

serupa dapat juga dilihat pada Tabel 2 di atas, dimana rasio kuat tekan silinder dan kubus mengalami peningkatan setiap kuat tekannya. Sedangkan mutu beton yang

hasil uji berbagai mutu dan umur beton cukup bervariasi. Berdasarkan hasil

pengujian, nilai korelasi kuat tekan beton juga meningkat seiring dengan peningkatan kuat tekan beton yang terjadi seturut dengan bertambahnya umur beton.

direncanakan juga cukup mempengaruhi nilai korelasi, hal ini disebabkan oleh perbedaan proporsi campuran beton.

Secara keseluruhan nilai korelasi berbagai umur dan mutu benda uji disajikan dalam Tabel 9 berikut.

Peningkatan ini dibuktikan dengan hasil yang diperoleh dimana pada umur 28 hari

Tabel 9. Nilai korelasi kuat tekan silinder terhadap kubus dengan berbagai variasi.
Mutu Beton (Mpa) Benda Uji Kuat tekan hasil uji Tiga Bosowa Tonasa Roda (MPa) (MPa) (MPa) Nilai Korelasi Bosowa Tonasa Tiga Roda

No

Umur

20

25

30

Silinder Kubus Silinder Kubus Silinder Kubus Silinder Kubus Silinder Kubus Silinder Kubus

7 7 28 28 7 7 28 28 7 7 28 28

14,607 18,400 24,572 30,622 15,060 21,289 28,025 34,400 23,892 28,978 33,347 40,133

14,890 19,422 24,855 31,156 15,626 21,556 28,478 35,022 24,062 29,778 33,517 40,489

15,287 20,133 25,761 32,578 16,249 23,467 29,101 37,778 25,874 33,778 35,952 43,911

0,794 0,802 0,707 0,815 0,825 0,831

0,767 0,798 0,725 0,813 0,808 0,828

0,759 0,791 0,692 0,770 0,766 0,819

KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian di 2.

dari benda uji kubus ke silinder dan juga sebaliknya. Semen PCC menghasilkan kuat tekan yang relatif lebih kecil dari semen OPC Tipe I dengan nilai selisih kuat tekan yang cukup besar antara kedua jenis benda uji, sehingga nilai korelasi yang diperoleh lebih kecil

Laboratorium Beton dan Bahan Bangunan Fakultas Teknik Untad yang menggunakan semen Bosowa, semen Tonasa dan semen Tiga Roda dengan fc rencana 20 MPa, 25 MPa dan 30 MPa dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Hasil korelasi kuat tekan benda uji silinder 15 cm x 30 cm terhadap benda uji kubus, untuk merk semen Bosowa, Tonasa dan Tiga Roda dengan fcr 25 MPa secara berturutturut adalah: 0,815; 0,813; 0,770. Nilai tersebut lebih kecil PBI71 hasil dan ujinya hasil dibandingkan

dibandingkan dengan nilai korelasi yang didapat dengan menggunakan semen OPC Tipe I. Ada beberapa hal yang dapat

peneliti sarankan dari penelitian ini adalah: 1. Pengujian kuat tekan perlu dilakukan pada umur 90 hari karena semen PCC lebih banyak mengandung pozzolan dibandingkan semen OPC, sehingga nilai kuat tekannya lebih representatif. 2. Komposisi kimia semen PCC perlu diteliti lebih lanjut untuk melihat persentase kandungan pozzolannya

penelitian terdahulu. Sedangkan nilai korelasi kuat tekan kubus terhadap silinder yang didapat dari rumus empiris Peraturan Beton 1989, untuk merk semen Bosowa, Tonasa dan Tiga Roda secara berturut-turut adalah: 1,202; 1,200 dan 1,190. Nilai tersebut lebih besar dari nilai yang didapat pada penelitian terdahulu dan lebih kecil daripada nilai yang diperoleh dari perbandingan hasil uji. Manfaat dari nilai korelasi tersebut adalah sebagai faktor konversi nilai kuat tekan beton

sehingga dapat diketahui bagaimana perbandingannya dengan semen OPC. DAFTAR PUSTAKA Amaliah, A, 2006, Studi Korelasi Kuat Tekan Beton Antara Benda Uji Silinder dan Benda Uji Kubus Terhadap Beberapa Merk Semen (Semen Bosowa, Semen Tiga Roda, Semen Tonasa), Skripsi Fakultas Teknik Sipil Untad, Palu

Ardiansyah, Rony, 2011, Beda Semen Portland Tipe I, PCC & SCC, (http://ronymedia.wordpress.com/2011 /04/07/apa-beda-semen-portland tipe-ipcc-scc, diakses tanggal 7 Desember 2012). Badan Penelitian dan Pengembangan PU, 1989, Pedoman Beton 1989, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta. Badan Standardisasi Nasional, 2003, Semen Portland Komposit (SK SNI 15-2049-2004), Panitia Teknis 33 S, Kimia Anorganik. Jakarta. Badan Standardisasi Nasional, 2004, Semen Portland Komposit (SK SNI 15-7064-2004), Panitia Teknis 33 S, Kimia Anorganik. Jakarta. Badan Standardisasi Nasional. 2002. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SNI 032847-2002). Day, K.W. 1995. Concrete Mix Design, Quality Control and Specification. E&N FN Spon, 2rd Edition, London, UK Departemen Pekerjaan Umum, 1990, Metoda Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton Di Laboratorium, (SK SNI M-62-1990-03), Yayasan Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung. Departemen Pekerjaan Umum, 1992, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal, (SNI 03-2834-1992), Yayasan LPMB, Bandung Departemen Pekerjaan Umum, 1993, Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan (SK SNI T-09-1993-03), Yayasan LPMB, Bandung. Departemen Pekerjaan Umum, 1993, Standar Tata Cara Perhitungan Sturktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-1991-03), Yayasan LPMB, Bandung.

Dipohusodo, I., 1994, Struktur Beton Bertulang, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan, 1971, Peraturan Beton Betulang Indonesia 1971 N.I. 2, Yayasan Dana Normalisasi Indonesia, Bandung. Mulyono, Tri, 2004, Teknologi Beton, edisi I, ANDI, Yogyakarta. Murdock, L.J., dan Brook, K. M., 1986, Bahan dan Praktek Beton, edisi ke-4, Erlangga, Jakarta Nawy, E. G, 1998, Beton Bertulang Suatu Pendekatan Dasar, Cetakan II, P.T, Refika Aditama, Bandung Neville, AM., 1975, Properties of Concrete, 2nd ed, The English Language Book Society and Pitman Publishing, London. Nugraha, Paul, dan Antoni, 2007, Teknologi Beton, Andi, Yogyakarta. Pranata, Eka., 2010, Studi Pengaruh Penambahan Slag dan Fly Ash Sebagai Bahan Aditif di Finish Mill Pabrik Semen Komposit, Skripsi fakultas teknologi industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Pontoh, Sulbiyanti. 2009. Analisis Kuat Tekan Beton dengan Aditif Kapur dan Fly Ash ex. PLTU Mpanau. Skripsi Fakultas Teknik Sipil Universitas Tadulako, Palu. Tjokrodimuldjo, K., 1996, Teknologi Beton, Nafiri, Yogyakarta.