Anda di halaman 1dari 43

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Perkembangan dunia industri yang semakin pesat pada kenyataannya memberikan banyak dampak positif berupa peningkatan lapangan pekerjaan, pemenuhan kebutuhan masayarakat dan peningkatan devisa negara. Belakangan kita ketahui bahwa seiring dengan kemajuan dan perkembangan dunia industri yang memberikan banyak manfaat, ternyata juga dapat menimbulkan dampak negatif yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan lingkungan.

Ketidakseimbangan lingkungan juga disebabkan oleh buangan limbah, baik limbah pertanian, limbah rumah tangga maupun limbah industri. Limbah cair sebagai hasil samping dari aktivitas industri sering menimbulkan permasalahan bagi lingkungan. Limbah cair tersebut mengandung komponen-komponen berbahaya dan beracun yang keberadaaannya dalam perairan dapat menghalangi sinar matahari menembus lingkungan akuatik, sehingga mengganggu proses-proses biologi yang terjadi di dalamnya. Komponen- komponen yang berbahaya diantaranya adalah fenol yang terdapat dalam limbah cair sebagai hasil buangan dari industri penyulingan minyak bumi, gas, farmasi, tekstil, dan industri rumah tangga. Limbah fenol berbahaya karena merupakan limbah organik yang termasuk dalam kategori limbah B3 (Bahan Berbahaya Beracun). Di lingkungan industri migas, fenol banyak ditemukan di dalam air buangan kilang. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep.42/MENLH/10/1996, disebutkan bahwa kandungan fenol total di

dalam limbah cair bagi kegiatan eksplorasi dan produksi dibatasi hingga 2 mg/L untuk pembuangan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengurangi kadar pencemar pada perairan biasanya dilakukan melalui proses adsorpsi. Adsorpsi dapat dilakukan dengan menggunakan tanah diatomiae, karbon aktif, lempung, batu cadas dan zeolit. Zeolit merupakan senyawa alummunio-silikat yang membentuk kerangka tiga dimensi, mempunyai rongga (pori atau celah) dengan permukaan bagian dalam kristal yang luas. Penanganan pencemaran dengan serbuk gergaji kayu telah banyak dilakukan, akan tetapi serbuk gergaji kayu yang berasal dari kayu yang berbeda memiliki daya serap yang berbeda pula. Dalam penelitian ini penulis mencoba mempelajari perbandingan kapasitas adsorpsi serbuk gergaji kayu jati, kayu bayam (merbau) dan kayu meranti terhadap ion logam krom (Cr3+) melalui studi laboratorium. Kapasitas adsorpsi dapat diketahui dari variasi waktu kontak dengan mencari waktu optimumnya dan dilanjutkan dengan variasi konsentrasi. Waktu kontak merupakan variasi lamanya interaksi adsorben dengan adsorbatyakni 15, 30, 45, 60, 75 dan 90 menit, sedangkan konsentrasi banyaknya kandungan adsorbat dalam satuan ppm dengan variasi konsentrasi yakni 6, 8, 9, 10, 11 dan 12 ppm (Alva, 2008). Penggunaan ketiga jenis serbuk gergaji kayu sebagai sampel dalam penelitian ini sebagai salah satu langkah alternatif untuk mengurangi limbah penggergajian kayu mengingat kayu jati, kayu bayam dan kayu meranti merupakan kayu yang paling banyak digunakan masyarakat. Serbuk gergaji kayu

yang digunakan dalam penelitian ini merupakan serbuk gergaji kayu yang berasal dari limbah penggergajian kayu. Dari uraian di atas, maka peneliti akan membandingkan kapasitas adsorpsi dari serbuk gergaji kayu yang bahan bakunya berasal dari serbuk gergaji dengan kayu yang berbeda. Sehingga judul yang diangkat peneliti adalah Perbandingan Kapasitas Adsorpsi Berbagai Jenis Serbuk Gergaji Kayu terhadap Logam Cr3+. B. Rumusan Masalah Dari uraian di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1. Berapa waktu kontak optimum dan konsentrasi optimum adsorpsi serbuk gergaji kayu jati, kayu merbau dan kayu meranti terhadap logam Cr3+? 2. Berapa kapasitas adsorpsi serbuk gergaji kayu jati, kayu merbau dan kayu meranti terhadap logam Cr3+? C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu: 1. Mengetahui waktu kontak optimum dan konsentrasi optimum adsorpsi serbuk gergaji kau jati, kayu merbau dan kayu meranti terhadap logam Cr3+. 2. Mengetahui kapasitas adsorpsi serbuk gergaji kayu jati, kayu merbau dan kayu meranti terhadap logam Cr3+. D. Manfaat penelitian Manfaat yang dapat dibeikan dari penelitian ini yaitu: 1. Memberikan informasi tentang daya adsorpsi Cr3+ oleh berbagai jenis serbuk gergaji kayu.

2. Dapat memperkaya sumber-sumber bahan penyerap yang dapat dipakai untuk menangani limbah-limbah cair yang mengandung logam-logam berat yang sering menjadi permasalahan bagi lingkungan. 3. Dapat menambah referensi bagi mahasiswa yang akan mengembangkan penelitian mengenai adsorpsi limbah pencemar khusunya limbah senyawa organik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Kayu 1. Komponen Kimia Kayu Komponen kimia kayu di dalam kayu mempunyai arti yang penting, karena menentukan kegunaan sesuatu jenis kayu. Juga dengan mengetahuinya, kita dapat membedakan jenis-jenis kayu. Susunan kimia kayu digunakan sebagai pengenal ketahanan kayu terhadap serangan makhluk perusak kayu. Selain itu dapat pula menentukan pengerjaan dan pengolahan kayu, sehingga didapat hasil yang maksimal (Anto, 2009). Kayu sebagian besar tersusun atas tiga unsur yaitu, C, H dan O. Unsurunsur tersebut berasal dari udara berupa CO2 dan dari tanah berupa H2O. Namun,

dalam kayu juga terdapat unsur-unsur lain seperti N, P, K, Ca, Mg, Si, Al dan Na. Unsur-unsur tersebut tergabung dalam sejumlah senyawa organik, secara umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu: 1. Komponen lapisan luar yang terdiri atas fraksi-fraksi yan dihasilkan oleh kayu selama pertumbuhannya. Komponen ini sering disebut dengan zat ekstraktif. Zat ekstraktif ini adalah senyawa lemak, lilin, resin dan lain-lain. 2. Komponen lapisan dalam terbagi menjadi dua fraksi yaitu fraksi karbohidrat yang terdiri atas selulosa dan hemiselulosa, fraksi nonkarbohidrat yang terdiri dari lignin. Selulosa ialah polimer tak bercabang dari sejumlah glukosa yang bergabung lewat ikatan 1,4,-glikosidik. Pemeriksaan selulosa dengan terdiri atas rantai linear dari unit selobiosa, yang oksigen cincinnya berselang-seling dengan posisi ke depan dan ke belakang. Molekul linear ini yang mengandung ratarata 5000 unit glukosa, beragregasi menghasilkan fibril yang terikat bersama oleh ikatan hidrogen di antara hidroksil-hidroksil pada rantai yang bersebelahan. Serat selulosa yang memiliki kekuatan fisis tinggi ini dibangun dari fibril-fibril tersebut, melilit seperti spiral dengan arah berlawanan pada sumbu pusatnya. Kayu, kapas, serat batang pisang, jerami dan tongkol jagung terutama terdiri dari selulosa. Selulosa pada kayu umumnya berkisar 40 50 %, sedangkan pada kapas hampir mencapai 98% (Hart, 2003).

Gambar 2.1 Selulsa (http://selulosa-malayversion.blogspot.com)

Hemiselulosa adalah polimer polisakarida heterogen tersusun dari unit Dglukosa, D-manosa, L-araboisa dan D-xilosa. Hemiselulosa pada kayu berkisar antara 20-30%. Dilihat dari strukturnya selulosa dan hemiselulosa mempunyai potensi yang cukup besar untuk dijadikan sebagai penyerap karena gugus OH yang terikat dapat berinteraksi dengan komponen adsorbat. Adanya gugus OH, pada selulosa dan hemiselulosa menyebabkan terjadinya sifat polar pada adsorben tersebut. Dengan demikian selulosa dan hemiselulosa menyebabkan terjadinya terjadinya sifat polar pada adsorben tersebut. Hal ini mengakibatkan selulosa dan hemilselulosa lebih kuat menyerap zat yang bersifat polar dari zat yang kurang polar. Mekanisme serapan yang terjadi antara gugus OH yang terikat pada permukaan dengan ion logam yang bermuatan positif (kation) merupakan mekanisme pertukaran ion sebagai berikut (Yatri,1998) -Y-OH + M+ -YO-M + H+ -YO -Y-OH + M+ -YO M+ dan M2+ adalah ion logam, -OH adalah gugus hidroksil dan Y adalah matriks tempat gugus OH terikat. Interaksi antara gugus OH dengan ion logam juga memungkinkan melalui mekanisme pembentuksn kompleks koordinasi karena M + 2H+

atam oksigen (O) pada gugus -OH mempunyai pasangan elektron bebas, sedangkan ion logam mempunyai orbital d kosong. Pasangan elektron bebas tersebut akan menempati orbital kosong yang dimiliki oleh ion logam, sehingga terbentuk suatu senyawa atau ion kompleks. Menurut Terada (1983) ikatan kimia yang terjadi antara gugus aktif pada zat organik dengan molekul dapat dijelaskan sebagai perilaku interaksi asam basa Lewis yang menghasilkan kompleks pada permukaan padatan. Pada sistem adsorpsi larutan ion logam, interaksi tersebut dalam bentuk umum ditulis [GH] + Mz+ 2[GH] + Mz+ [GM(z-1)]+ + H+ [G2M(z-2)]+ + 2H+

Dengan OH adalah gugus fungsional yang terdapat pada zat organik dan M adalah ion bervalensi z.

2. Jenis Kayu Kayu adalah bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan yang mengeras karena mengalami lignifikasi (pengayuan). Kayu digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari memasak, membuat perabot (meja, kursi), bahan bangunan (pintu, jendela, rangka atap), bahan kertas, dan banyak lagi. Kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan-hiasan rumah tangga dan sebagainya. Penyebab terbentuknya kayu adalah akibat akumulasi selulosa dan lignin pada dinding sel berbagai jaringan di batang (Wikipedia, 2011).

Terdapat berbagai jenis kayu, namun dalam penelitian ini kayu yang digunakan adalah kayu jati, kayu merbau dan kayu meranti. a. Kayu Jati Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau. Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1 500 2 000 mm/tahun dan suhu 27 36 C baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Tempat yang paling baik untuk pertumbuhan jati adalah tanah dengan pH 4.5 7 dan tidak dibanjiri dengan air. Jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat mencapai 30 60 cm saat dewasa. Jati memiliki pertumbuhan yang lambat dengan germinasi rendah (biasanya kurang dari 50%) yang membuat proses propagasi secara alami menjadi sulit sehingga tidak cukup untuk menutupi permintaan atas kayu jati. Jati biasanya diproduksi secara konvensional dengan menggunakan biji. Akan tetapi produksi bibit dengan jumlah besar dalam waktu tertentu menjadi terbatas karena adanya lapisan luar biji yang keras. Beberapa alternatif telah dilakukan untuk mengatasi lapisan ini seperti merendam biji dalam air, memanaskan biji dengan api kecil atau pasir panas, serta menambahkan asam, basa, atau bakteri. Akan tetapi alternatif tersebut masih belum optimal untuk menghasilkan jati dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak (Wikipedia, 2011). Kayu jati sering dianggap sebagai kayu dengan serat dan tekstur paling indah. Karakteristiknya yang stabil, kuat dan tahan lama membuat kayu ini menjadi pilihan utama sebagai material bahan bangunan. Termasuk kayu dengan

Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Kayu jati juga terbukti tahan terhadap jamur, rayap dan serangga lainnya karena kandungan minyak di dalam kayu itu sendiri. Tidak ada kayu lain yang memberikan kualitas dan penampilan sebanding dengan kayu jati (Sari, 2009). Adapun klasifikasi dari kayu jati (Wikipedia, 2011) adalah: Kingdom Devisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies Nama binomial : Plantae : Magnoliophyta : Liliopsida : Lamiales : Lamiaceae : Tectona : T. grandis : Tectona grandis Linn f.

Meskipun keras dan kuat, kayu jati mudah dipotong dan dikerjakan, sehingga disukai untuk membuat furniture dan ukir-ukiran. Kayu yang diampelas halus memiliki permukaan yang licin dan seperti berminyak. Pola-pola lingkaran tahun pada kayu teras nampak jelas, sehingga menghasilkan gambaran yang indah. Dengan kehalusan tekstur dan keindahan warna kayunya, jati digolongkan sebagai kayu mewah. Oleh karena itu, jati banyak diolah menjadi mebel taman, mebel interior, kerajinan, panel, dan anak tangga yang berkelas. b. Kayu Merbau Merbau atau ipil adalah nama sejenis pohon penghasil kayu keras berkualitas tinggi anggota suku Fabaceae (Leguminosae). Karena kekerasannya,

10

di wilayah Maluku dan Papua barat kayu ini juga dinamai kayu besi. Di Papua Nugini, kayu ini dikenal sebagai kwila; sedangkan nama-namanya dalam bahasa Inggris mirabow, Moluccan ironwood, Malacca teak, dan lain-lain (Wikipedia, 2011). Pohon berperawakan sedang hingga besar, dapat mencapai tinggi 50 m,dengan batang bebas cabang sekitar 20m dan gemang hingga 160(-250) cm. Dengan banir (akar papan) yang tinggi dan tebal. Pepagan berwarna abu-abu terang atau coklat pucat, halus dengan bintil-bintil kecil lentisel, mengelupas serupa sisik bulat-bulat. Daun majemuk dengan 2 pasang anak daun, terkecuali daun-daun di ujung yang hanya memiliki sepasang anak daun. Anak daun bundar telur miring tak simetris, 2,5-16,5 1,8-11 cm, dengan ujung tumpul atau melekuk dan pangkal membundar, permukaannya gundul dan licin, tulang daun utama berambut panjang di sisi bawah. Bunga - Bunga terkumpul dalam karangan di ujung (terminal), panjang hingga 10 cm, berambut halus. Mahkota berwarna putih, yang berubah menjadi jambon atau merah; benangsari seluruhnya merah atau ungu. Buah polong, 10-28 2-4 cm, berbiji 1-8 butir, hitam dan besar, 2-3,5 1,5-3 0,7-0,8 cm. Intsia bijuga kebanyakan tumbuh di daerah pantai, seringkali pada zona di belakang hutan bakau (Entri, 2010). Kayu mebau atau lebih dikenal dengan kayu bayam berwarna kelabu coklat atau kuning coklat sampai coklat merah cerah atau hampir hitam. Kayu gubal berwarna kuning pucat sampai kuning muda, jelas dibedakan dari kayu teras. Merbau memiliki tekstur kayu yang kasar dan merata, dengan arah serat yang kebanyakan lurus. Kayu yang telah diolah memiliki permukaan yang licin

11

dan mengkilap indah. Kayu merbau termasuk ke dalam golongan kayu berat (BJ 0,63-1,04 pada kadar air 15%) dan kuat (kelas kuat I-II). Kayu ini memiliki penyusutan yang sangat rendah, sehingga tidak mudah menimbulkan cacat apabila dikeringkan. Merbau juga awet: daya tahannya terhadap jamur pelapuk kayu termasuk kelas I dan terhadap rayap kayu kering termasuk kelas II. Kayu merbau termasuk tahan terhadap penggerek laut (teredo), sehingga acap digunakan pula dalam pekerjaan konstruksi perairan. Merbau termasuk tidak sulit digergaji, dapat diserut dengan mesin sampai halus, diamplas dan dipelitur dengan memuaskan, namun kurang baik untuk dibubut. Kayu ini juga biasanya pecah apabila dipaku, dan dapat menimbulkan noda hitam apabila berhubungan dengan besi atau terkena air. Merbau terutama dimanfaatkan kayunya, yang biasa digunakan dalam konstruksi berat seperti balok-balok, tiang dan bantalan, di bangunan rumah maupun jembatan. Oleh karena kekuatan, keawetan dan penampilannya yang menarik, sekarang kayu merbau juga dimanfaatkan secara luas untuk pembuatan kusen, pintu dan jendela, lantai parket (parquet flooring), papan-papan dan panel, mebel, badan truk, ukiran dan lain-lain. Bahan pewarna coklat dan kuning dapat diekstrak dari substansi berminyak yang dikandung oleh kayu dan pepagannya. Pepagan dan daun juga digunakan sebagai bahan obat tradisional. Adapun klasifikasi dari kayu merbau (Wikipedia, 2011) adalah: Kingdom Devisio Kelas : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida

12

Ordo Famili Genus Spesies Nama binomial c. Kayu Meranti

: Fabales : Fabaceae : Intsia : I. Bijuga : Intsia bijuga (Colebr.) O. Kuntze

Meranti merah adalah nama sejenis kayu pertukangan yang populer dalam perdagangan. Berbagai jenis kayu meranti dihasilkan oleh marga Shorea dari suku Dipterocarpaceae. Meranti merah tergolong kayu keras berbobot ringan sampai berat-sedang. Berat jenisnya berkisar antara 0,3 0,86 pada kandungan air 15%. Kayu terasnya berwarna merah muda pucat, merah muda kecoklatan, hingga merah tua atau bahkan merah tua kecoklatan. Berdasarkan BJnya, kayu ini dibedakan lebih lanjut atas meranti merah muda yang lebih ringan dan meranti merah tua yang lebih berat. Namun terdapat tumpang tindih di antara kedua kelompok ini, sementara jenis-jenis Shorea tertentu kadang-kadang menghasilkan kedua macam kayu itu. Menurut kekuatannya, jenis-jenis meranti merah dapat digolongkan dalam kelas kuat II-IV; sedangkan keawetannya tergolong dalam kelas III-IV. Kayu ini tidak begitu tahan terhadap pengaruh cuaca, sehingga tidak dianjurkan untuk penggunaan di luar ruangan dan yang bersentuhan dengan tanah. Namun kayu meranti merah cukup mudah diawetkan dengan menggunakan campuran minyak diesel dengan kreosot(Wikipedia, 2011).

13

Kayu meranti gampang di olah menjadi produk pertukangan berupa kusen pintu jendela dan lain-lain ,kayu meranti sebagai kayu yang dapat dikerjakan sangat mudah dan halus serat texturnya. Sebagian kayu meranti yang sudah diperdagangkan tidak sesuai dengan standar baku ukurannya, biasanya kami sering mendapatkan ukuran panjang (misal 4 m) tak ada sessuai dengan ukurannya, sehingga menyulitkan bagi pertukangan untuk mengatur kayu dalm pembuatan seperti kusen, pintu dan jendela.Harga kayu meranti yang tak begitu mahal menjadikan pilihan bagi bahan pembuatan matrial kusen, pintu, jendela. Kayu ini lazim dipakai sebagai kayu konstruksi, panil kayu untuk dinding, loteng, sekat ruangan, bahan mebel dan perabot rumahtangga, mainan, peti mati dan lain-lain. Kayu meranti merah-tua yang lebih berat biasa digunakan untuk konstruksi sedang sampai berat, balok, kasau, kusen pintu-pintu dan jendela, papan lantai, geladak jembatan, serta untuk membuat perahu Meranti merah baik pula untuk membuat kayu olahan seperti papan partikel, harbor, dan untuk venir kayu lapis. Selain itu, kayu ini cocok untuk dijadikan bubur kayu, bahan pembuatan kertas. Di samping menghasilkan kayu, hampir semua meranti merah menghasilkan damar, yakni sejenis resin, yang keluar dari batang atau pepagan yang dilukai. Damar keluar dalam bentuk cairan kental berwarna kelabu, yang pada akhirnya akan mengeras dalam warna kekuningan, kemerahan atau kecoklatan, atau lebih gelap lagi (Entri, 2010). Adapun klasifikasi dari kayu meranti (Wikipedia, 2011) adalah: Kingdom Ordo : Plantae : Malvales

14

Famili Genus Spesies Nama binomial B. Adsorpsi

: Dipterocarpaceae : Shorea : leprosula : Shorea leprosula M.

1. Tinjauan Umum Adsorpsi Penyerapan secara umum adalah proses pengumpulan benda-benda terlarut yang terdapat dalam larutan antara dua permukaan. Antara permukaan itu bisa antara cairan dan gas, zat padat atau lain cairan bahkan penyerapan digunakan pada permukaan zat padat dan zat yang kental, walaupun proses tersebut terjadi pada seluruh permukaan benda, maka yang sering terjadi adalah bahan padat yang mengadsorpsi partikel yang berada dalam air limbah. Bahan yang akan diserap disebut adsorbate (solute) sedangkan bahan pengadsorpsi disebut sebagai adsorbent. Bahan adsorpsi yang baik umumnya mempunyai permukaan yang lebih luas tiap unitnya (Sukardjo, 1985). Peristiwa adsorpsi disebabkan oleh adanya gaya tarik molekul-molekul pada permukaan adsorben. Adsorben pada umumnya berstruktur mikrokristal yang mempunyai pori-pori atau berupa serbuk, misalnya karbon aktif, silika, zeolit dan lain-lain. 2. Jenis dan Karateristik Adsorpsi Berdasarkan besarnya interaksi yang terjadi antara adsornen dengan adsorbat, adsorpsi dibedakan menjadi dua macam, yaitu adsorpsi fisika (physisorption) dan adsorpsi kimia (chemisorption).

15

a. Adsorpsi Fisika Adsorpsi fisika terjadi bila gaya intermolekular lebih besar dari gaya tarik antarmolekul atau gaya tarik menarik yang relatif lebih lemah antara adsorbat dengan permukaan adsorben, gaya ini disebut gaya Van der Walls sehingga adsorbat banyak bergerak dari satu bagian permukaan ke bagian permukaan lain dari adsorben. Gaya antarmolekul adalah gaya tarik antara molekul-molekul fluida dengan permukaan padat, sedangkan gaya intermolekular adalah gaya tarik antar molekul-molekul fluida itu sendiri. Adsorpsi ini berlangsung cepat, dapat membentuk lapisan jamak (multilayer) dan dapat bereaksi balik (reversibel), karena energi yang dibutuhkan relatif rendah. Energi aktivas untuk terjadinya adsorpsi fisik biasanya adalah tidak lebih dari 1 kkal/g-mol, sehingga gaya yang terjadi pada adsorpsi fisik termasuk lemah. Adsorpsi fisik dapat berlangsung dibawah temperatur kritis adsorbat yang relatif rendah sehingga panas adsorpsi yang dilepaskan juga rendah yaitu sekitar 5-10 kkal/g-mol gas, lebih rendah dari panas adsorpsi kimia. Energi aktivasi (Ea) suatu reaksi adalah jumlah energi minimum ang dibutuhkan agar reaksi dapat berlangsung. Jika ikatan-ikatan baru terbentuk, sejumlah kalor dilepaskan (reaksi eksoterm), sedangkan jika ikatanikatan baru lebih lemah dibandingkan dengan ikatan yang lama, sistem akan menyerap kalor dan reaksinya adalah endoterm. b. Adsorpsi Kimia Adsorpsi kimia terjadi karena adanya reaksi antara molekul-molekul adsorbat dengan adsorben. Adsorpsi kimia banyak terjadi pada fase antar muka

16

padatan dengan cairan dan antar padatan dengan gas.gaya ikat adsorpsi ini bervariasi tergantung pada zat yang bereaksi. Adsorpsi jenis ini bersifat tidak reversibel dan hanya dapat membentuk lapisan tunggal (monolayer). Umumnya terjadi pada temperatur tinggi di atas temperatur kritis adsorbat, sehingga panas adsorpsi yang dilepaskan juga tinggi, yaitu sekitar 10-100 kkal/g-mol. Untuk dapat terjadinya peristiwa desorpsi dibutuhkan energi lebih tinggi untuk memutuskan ikatan yang terjadi antara adsorbat dan adsorben. Energi aktivasi pada adsorpsi kimia berkisar antara 10-60 kkal/g-mol. Ikatan kimia yang terjadi pada adsorpsi kimia sangat kuat mengikat molekul gas atau cairan dengan permukaan padatan, akibatnya sangat sukat untuk dilepaskan kembali. 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adsorpsi Banyaknya absorbat yang teradsorpsi pada permukaan adsorben dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: 1. Jenis absorbat, dapat ditinjau dari: a. Ukuran molekul adsorbat: dimana rongga terjadinya adsorpsi dapat dicapai melalui ukuran yang sesuai, sehingga molekul yang biasa diadsorpsi adalah molekul-molekul yang berdiameter sama atau lebih kecil dari diameter pori adsorpsi. b. Polaritas molekul adsorbat: apabila diameter sama, molekul-molekul polar lebih kuat diadsorpsidaripada molekul-molekul yang kurang polar, sehingga molekul-molekul yang lebih polar bisa menggantikan molekul-molekul yang kurang polar yang telah diserap. 2. Sifat adsorben, dapat ditinjau dari:

17

a. Kemurnian adsorben: adsorben yang lebih murni memiliki daya adsorpsi yang lebih baik. b. Luas permukaan adsorben: semakin luas permukaan jumlah adsorbat yang terserap akan semakin banyak pula. 3. Temperatur: adsorpsi merupakan proses eksotermis sehingga jumlah adsorbat akan bertambah dengan berkurangnya temperatur adsorbat. 4. Tekanan: untuk adsorpsi fisika, kenaikan tekanan adsorbat mengakibatkan kenaikan jumlah zat yang diadsorpsi. Sebaliknya pada adsorpsi kimia, jumlah yang diadsorpsi berkuraang dengan naiknya temperatur adsorbat. Kekuatan interaksi adsorbat dengan adsoben dipengaruhi oleh sifat adsorbat maupun adsorbennya. Gejala yang umum untuk meramalkan komponen mana yang diadsorsi lebih kuat adalah kepolaran adsorben dan adsorben. Adapun adsorbennya bersifat polar, maka komponen yang bersifat polar,akan terikat dibandingkan dengan komponen-kompenen yang kurang polar. Kekuatan interaksi yang dipengaruhi oleh sifat keras lemahnya dari adsorbatnya maupun adsorben. Sifat keras untuk kation dihubungkan dengan istilah polarizing power cation, yaitu kemampuan suatu kation untuk adsorben maka

mempolarisasi anion dalam suatu ikatan. Kation yang mempunyai polarizing power cation besar cenderung bersifat keras. Sifat polarizing power cation yang besar dimiliki oleh ion-ion logam yang dengan ukuran (jari-jari) kecil dan muatan yang besar. Sebaliknya sifat polarizing power cation yang rendah dimiliki oleh ion-ion logam dengan ukuran besar namun muatannya kecil sehingga diklasifikasikan ion lemah. Sedangkan pengertian keras untuk anion dihubungkan

18

denga istilah polarisabilitas anion yaitu, kemampuan suatu anion untuk mengalami polarisasi akibat medan listrik dari kation. Anion bersifat keras adalah anion berukuran kecil, muatan besar dan elektronegativitas tinggi, sebaliknya anion lemah dimiliki oleh anion yang berukuran besar, muatan kecil dan elektronegativitas rendah. Ion logam keras berikatan kuat dengan anion keras dan ion logam lemah berikatan kuat dengan anion lemah (Atkins, 1990). Pearson (1963) mengklasifikasikan asam basa Lewis menurut sifat keras dan lemahnya. Menurut Pearson, situs aktif pada permukaan padatan dapat dianggap sebagai ligan yang dapat mengikat logam secara selektif. Logam dan ligan dikelompokkan menurut sifat keras dan lemahnya berdasarkan pada polarisabilitas unsur. Pearson mengemukakan suatu prinsip yang disebut Hard and Soft Acid Base (HSAB). Ligan-ligan dengan atom yang sangat elektronegatif dan berukuran kecil merupakan basa keras, sedangkan ligan-ligan dengan atom yang electron terluarnya mudah terpolarisasi akibat pengaruh ion dari luar merupakan basa lemah sedangkan ion-ion yang berukuran kecil namun bermuatan positif besar, electron terluarnya tidak mudah dipengaruhi oleh ion dari luar, ini dikelompokkan ke dalam asam keras. Sementara ion-ion logam yang berukuran besar dan bermuatan kecil atau nol, elektron terluarnya mudah dipengaruhi oleh ion lain, dikelompokkan ke dalam asam lemah. Konsep HSAB dapat menjelaskan kesetabilan senyawa. Konsep ini juga digunakan dalam konteks kualitatif daripada kuantitatif yang membantu untuk mengetahui faktor utama terjadinya reaksi kimia, terutama pada logam transisi. Asam lunak bereaksi lebih cepat dengan basa lunak dan membentuk ikatan yang

19

kuat, sedangkan asam keras bereaksi lebih cepat dan membentuk ikatan kuat dengan basa kuat. Asam keras dan basa keras cenderung mempunyai atom yang kecil/radius ionik, oksidasi tinggi, kepolaran rendah, dan keelektronegatifan tinggi. Sedangkan asam dan basa lunak cenderung mempunyai:atom yang besar, tingkat oksidasi rendah, dan elektronegatifan rendah. Asam basa keras biasanya membentuk ikatan ionik, sedangkan asam basa lunak membentuk ikatan kovalen. Kekerasan suatu asam basa diukur untuk mengetahui kecenderungan terjadinya perubahan formasi atau bentuk (Krisnadi, 2009). Tabel 2.1 Pengelompokan Asam Basa Beberapa Senyawa dan Ion menurut prinsip HSAB dari Pearson. Asam Basa Keras Madya Lemah Keras Mady Lemah a H+, Li+, Na+, Fe2+, Co2+, Cu+, Ag+, H2O, OH-, C6H2 R2S, RSH, Mg2+, Ca2+, Ni2+, Pb2+, Au+, Ti+, F-, CH3, NH2, RS-, SCN-, Al3+, Cr3+, Zn2+, Cu2+, Cd2+, CO2-, PO43- NO2-, I-, R3P, 3+ + 4+ 2+ + Co , Si , Ti , Sn , Hg , , Cl-, ClO4-, SO32-, R3As, RCO+, CO2, B(CH3)3, CH3Hg+, ROH, RO-, Br-, (RO)3P, CN+ 2+ + 2 NC , HX SO , NO , Co(CN)5 SO4 , NO3 , C5H5 , RCN, CO, + + (molekul R3C+, , I , Br+, NH3, N, C2H4, S2O32+ + 3dengan ikatan C6H5 HO RNH2, N , , C6H6, H-, hidrogen) N2H4 N2 R-

Menurut prinsip HSAB asam keras akan berinteraksi dengan basa keras untuk membentuk kompleks, begitu juga dengan asam lemah dengan basa lemah. Interaksi asam keras dengan basa keras merupakan interaksi ionik, sedangkan interaksi antara basa lemah dengan asam lemah, interaksinya lebih bersifat kovalen. Ion krom (Cr3+) merupakan kation yang ersifat asam keras, sehingga akan berinteraksi secara kuat dengan anion-anion yang bersifat basa keras seperti

20

OH. Selulosa mempunyai banyak gugus OH, dengan demikian selulosa akan mengikat ion krom secara kuat. Ikatan antara ion Cr3+ dengan - OH pada selulosa melalui pembentukan ikatan koordinasi, dimana pasangan electron bebas dari O pada OH akan menempati orbital kosong yang dimiliki oleh Cr3+ sehingga terbentuk kompleks terkoordinsi. C. Logam Berat Kromium 1. Tinjauan Umum Logam Kromium Lebih dari 60 unsur logam yang mempunyai kerapatan (densitas) lebih besar dari 5mg/L digolongkan ke dalam logam berat (Gadd, 2000). Logam berat masih termasuk golongan logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan logam-logam lainnya. Perbedaan terletak pada pengaruh yang ditimbulkan bila berikatan atau masuk ke dalam tubuh organisme. Logam-logam tersebut memiliki sifat-sifat fisik, kimia dan biologi bermacam-macam serta memberi efek toksin terhadap sel. Logam berat kromium (Cr) merupakan logam berat dengan berat atom 51,996 g/mol; berwarna abu-abu, tahan terhadap oksidasi meskipun pada suhu tinggi, mengkilat, keras, memiliki titik cair 1.8570 C dan titik didih 2.6720 C, bersifat paramagnetik (sedikit tertarik oleh magnet), membentuk senyawasenyawa berwarna, memiliki beberapa bilangan oksidasi, yaitu +2, +3, dan +6, dan stabil pada bilangan oksidasi +3. Bilangan oksidasi +4 dan +5 jarang ditemukan pada logam ini. Senyawa kromium pada bilangan oksidasi +6 merupakan oksidan yang kuat. Kromium bisa membentuk berbagai macam ion kompleks yang berfungsi sebagai katalisator (Widowati dkk, 2008).

21

Kromium (Cr) merupakan unsur yang melimpah yang terdapat di alam dengan berbagai bentuk oksida, yaitu Cr(0), Cr (III) atau Cr trivalent, Cr(VI) atau Cr heksavalen. Kromium ssecara alami dapat ditemukan di batuan, tumbuhan, hewan, tanah dan gas serta debu gunung berapi. Kromium Cr (III) secara alami terjadi di alam, sedangkan Cr (0) dan Cr (VI) pada umumnya berasal dari proses industri. 2. Penggunaan Logam Krom Kromium (Cr) yang digali berasal dari kromit (FeCr2O4) inti bumi. Cr diperoleh dari pemanasan inti bumi yang menghasilkan Cr bercampur Al dan Si. Kromium (Cr) digunakan untuk tiga industri dasar, yaitu: a. Industri metalurgi b. Industri bahan kimia c. Industri bahan penahan panas Berikut berbagai kegunaan kromium: a. Bidang metalurgi unuk mencegah korosi, mengkilatkan logam. Dalam bidang kesehatan, Cr digunakan sebagai alat pembuat alat ortopedi, sebagai radio isotop kromium Cr yang bisa menghasilkan sinar gamma untuk penandaan sel darah merah, serta sebagi penjinak sel tumor. b. Sebagai bahan dasar pewarna, pencelup dan cat karena Cr mengandung komponen merah, kuning, orange dan hijau. c. Sebagai katalisator. d. Garam kromium untuk penyamakan kulit.

22

e. Potasium

dikromat

sebagai

chemical

reagent

untuk

mencuci

atau

membersihkan alat gelas laboratorium dan titrating agent. f. Sebagai anti korosi pada alat pengeboran sumur berlumpur. g. Cr digunakan pada pembuatan berbagai macam steel. Cr (IV) dan Cr (III) digunakan untuk chrome plating, dyes, pigmen dan pengawetan kayu, pengeboran lumpur, tekstil dan toner for copying machines. Cr (III) merupakan mikonutrien bagi makhluk hidup, tetapi bersifat toksik dalam dosis tinggi. Cr (III) dibutuhkan untuk metabolisme hormon insulin dan pengaturan kadar glukosa darah. Menurut State of Ohio Environmental Protection Agency, kromium (Cr) terlibat dalam produksi insulin dan menghasilkan energi dari glukosa, Cr (III) dibutuhkan untuk metabolisme karbohidrat pada mamalia, dan Cr (III) merupakan kofaktor insulin. Kebutuhan Cr pada manusia dipengaruhi oleh umur dan kondisi wanita (hamil dan menyusui).

Tabel 2.2 Kebutuhan Cr per hari Berdasarkan Umur (Widowati, 2008)) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Umur 0 6 bulan 7 12 bulan 1 3 tahun 4 8 tahun 9 13 tahun 14 50 tahun Wanita hamil Wanita menyusui Kebutuhan Cr per hari (g) 0,2 5,5 11 15 21 25 24 35 29 30 44 - 45

3. Dampak Logam Krom

23

Logam krom adalah bahan kimia yang bersifat persisten, biokumulatif dan toksik yang tinggi serta tidak mampu terurai di dalam lingkungan, sulit diuraikan dan akhirnya diakumulasi di dalam tubuh manusia melalui rantai makanan. Kestabilan kromium akan mempengaruhi toksisitasnya terhadap manusia secara beruutan, mulai dari toksisitas terendah, yakni Cr (0), Cr (III), Cr (VI). Senyawa Cr (III) lebih toksik pada ikan dan binatang air lainnya dibandingkan Cr (VI) Efek toksik Cr sebagian besar terjadi karena kecelakaan paparan Cr. Paparan Cr berasal dari alam maupun dari industri. Manusia setiap hari bisa terpapar Cr melalui aktivitasnya, yaitu saat bernapas, minum, makan dan kontak kulit dengan senyawa yang mengandung Cr. Toksisitas Cr ditentukan oleh bilangan oksida Cr, paparan Cr (VI) bersifat karsinogenik dan bisa menyebabkan kanker paru-paru. Cr (III) memiliki potensi yang sama dengan Cr (VI) dalam menimbulkan kanker dikarenakan oleh intake Cr (III) yang secara aktif akan dimetabolisme dan berikatan dengan asam nukleat inti sel. Ikatan Cr (III) akan mempengaruhi materi ginetis sehingga menyebabkan mutagenesis. Mencerna makanan yang mengandung kadar Cr tinggi bisa menyebabkan gangguan pencernaan, berupa sakit lambung, muntah, pendarahan, luka pada lambung, kerusakan ginjal bahkan dapat menyebabkan kematian. D. Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) SSA yang juga lazim disebut atomic absorption spectroscopy (AAS) adalah suatu teknik analisis untuk menetapkan konsentrasi suatu unsur logam dalam sampel. Dewasa ini analisis untuk SSA sangat luas dalam berbagai bidang karena prosedurnya paling selektif, spesifik, sensitivitas tinggi yaitu dalam kisaran

24

ppm sampai ppb, waktu analisis yang diperlukan cepat serta mudah dilakukan. Umumnya analisis unsur dilakukan pada daerah ultraviolet (UV) dan sinar tampak (VIS), untuk mendapatkan spektrum atom (spektrum garis) ini sampel perlu diatomisasi. Dalam hal ini molekul (sampel) diuraikan dan diubah menjadi partikel atom berbentuk gas. Spektrum serapan atom suatu unsur terdiri dari sejumlah garis dengan panjang gelombang tertentu yang merupakan sifat khas atau karakterisasi dari unsur. Umumnya analisis unsur dengan panjang gelombang pada daerah sinar tampak seperti Ca, Na, K dan sebagainya dapat dilakukan baik dengan SSA (dengan menggunakan lampu katoda cekung) maupun dengan spektroskopi emisi nyala (tanpa lampu katoda cekung). Analisis unsur dengan panjang gelombang pada daerah ultraviolet seperti Cr, Cd, Fe, Pb dan sebagainya hanya dapat dilakukan dangan cara SSA. 1. Prinsip dan Cara kerja Prinsip dari SSA adalah sampel yang diduga mengandung logam, diberikan energi panas maka akan mengalami eksitasi lalu elektron kembali ke keadaan dasar dengan melepaskan energi. Energi itulah yang dihitung oleh detektor. Jumlah energi sebanding dengan jumlah atom-atomnya. Bila suatu larutan sampel diaspirasikan ke dalam nyala api maka dalam nyala api akan terbentuk suatu larutan berbentuk gas yang disebut plasma. Plasma ini berisi partikel-partikel atom, jadi nyala api tedapat sampel yang teratomisasi atau direduksi menjadi atom-atomnya.

25

Atom dari suatu unsur pada keadaan dasar (ground state) bila diberi radiasi (misalnya nyala api) akan menyerap energi dan mengakibatkan elektron pada kulit terluar naik ketingkat energi yang lebih tinggi disebut tereksitasi (excited state). Perbedaan energi antara keadaan dasar dan keadaan tereksitasi sama dengan besarnya energi yang diserap. Dalam bentuk gas spektrum gas, spektrum absorbsi atom terdiri dari sejumlah garis yang sempit dan terpisah satu sama lain karena adanya transisi elektron ini akan terlihat pada daerah ultraviolet dan daerah sinar tampak. Peralatan SSA yang lebih modern (computerized) mempunyai sistem pembacaan secara langsung dinyatakan dalam berbagai konsentrasi. 2. Komponen Utama SSA Berbagai jenis dan model atau tipe alat SSA telah dikembangkan mulai dari yang sederhana sampai kepada yang modern, tetapi komponen utama alat ini secara garis besar terdiri dari (1) lampu katoda cekung sebagi sumber radiasi, (2) sistem pembakaran untuk atomisasi nyala (3) monokromator untuk mengukur panjang gelombang (4) detektor untuk mendeteksi nyala, dan (5) meter/rekorder untuk pembacaan. Bagian alat spektrofotometer serapan atom dapat dilihat pada gambar berikut :

Lampu katoda

burner

monokromator

detektor

meter/rekorder

Gambar 2. 2. Komponen Utama SSA

26

Prinsip kerja metode ini mirip dengan metode fotometri nyala tetapi sumber energinya berupa lampu katoda berlubang (hallow cathode lamp). Sedangkan nyala pembakar berguna untuk mengaktifkan atom-atom logam sebelum menyerap energi. Metode ini hampir semua logam yang terdaftar dalam sistem periodik dapat ditentukan konsentrasinya. Cuplikan yang diukur dengan oleh SSA adalah berupa larutan, biasanya air sebagai pelarut. Larutan cuplikan mengalir keruang pengkabutan, karena terhisap oleh aliran gas bahan bakar dan oksigen yang cepat. Berbeda dengan spektroskopi sinar tampak metode ini tidak memperhatikan warna larutan. SSA nyala berguna untuk pembentukan atom. Setiap pengukuran dengan SSA kita harus menggunakan hallow katoda khusus, misalnya akan menentukan konsentrasi timbal dari suatu cuplikan, maka kita harus menggunakan hallow katoda khusus. Hallow katoda akan memancarkan energi radiasi yang sesuai dengan energi yang diperlukan untuk transisi elektron atom (Handayana, 1994). Cara kerja SSA berdasarkan penguapan sampel, kemudian logam yang terkandung didalamnya diubah menjadi atom bebas. Atom tersebut mengabsorbsi radiasi dari sumber cahaya yang dipancarkan dari lampu katoda yang mengandung unsur yang akan ditentukan. Banyaknya penyebaran radiasi kemudian diukur dengan penjang gelombang tertentu menurut jenis logamnya (Darmono, 1995). Dalam analisis logam dengan menggunakan sistem ini, sampel diatomisasi pada alat atomizer melalui nyala api dengan bahan bakar asetilen murni. Proses dalam SSA melibatkan 2 langkah, yaitu :

27

a. b.

Atomisasi sampel Absorbsi radiasi dari sumber sinar oleh atom bebas

Sampel biasanya berupa cairan atau padatan terlebih dahulu diubah menjadi atom lebih dulu oleh perangkat atomisasi berupa nyala. Selama proses absorpsi, atom bebas akan mengalami transisi elektron dari ground state ke excited state. Banyaknya atom yang mengalami transisi elektron tergantung pada temperatur. 3. Kegunaan SSA Menurut (Darmono, 1995) kegunaan SSA adalah : a. Analisis klinik : analisis logam dalam cairan biologis (darah dan urine) juga pada rambut. b. Analisis lingkungan : monotoring lingkungan, memantau berbagai keadaan sungai, perairan laut, air minum, udara, minyak, dan minuman (anggur/wine, bir, jus buah). c. Farmasi : dalam proses industri sering digunakan katalis (biasanya logam), yang seringkali terikat dalam produk akhir, dengan SSA unsur tersebut dapat ditetapkan. d. Industri : melakukan pengecekan apakah bahan baku mengandung logam berat yang bersifat toksik. e. Pertambangan : menetapkan kandungan logam dalam batuan. f. Menetapkan logam berat dalam perairan

28

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Variabel Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Data-data yang diperoleh dari hasil eksperimen, selanjutnya digunakan dalam menentukan kapasitas adsorpsi serbuk gergaji kayu dari kayu jati, kayu merbau dan kayu meranti. Terdapat dua variabel dalam penelitian ini yaitu variabel terikat dan variabel bebas. Kapasitas adsorpsi merupakan variabel terikat, sedangkan yang merupakan variabel bebas yaitu serbuk gergaji dari berbagi jenis kayu, yaitu serbuk gergaji kayu jati, kayu merbau dan kayu meranti.

29

X1 X2 X3 Ket: X = Variabel bebas (jenis bahan baku serbuk gergaji) Y = Variabel terikat (Kapasita adsorpsi) 1 = Serbuk gergaji kayu jati 2 = Serbuk gergaji kayu merbau 3 = Serbuk gergaji kayu meranti Kapasitas adsorpsi dapat diketahui dari variasi waktu kontak dengan mencari waktu optimumnya dan dilanjutkan pada variasi konsentrasi. Waktu kontak merupakan variasi lamanya interaksi antara berbagai jenis serbuk gergaji kayu dengan logam Cr3+, yakni 0, 15, 30, 45, 60, 75 dan 90 menit. Sedangkan konsentrasi kromium sebagai banyaknya kandungan Cr3+ dalam satuan ppm yang dibuat dari CrCl3.6H2O, dengan variasi konsentrasi yakni 6, 8, 9, 10, 11 dan 12 ppm. A. Desain penelitian Tabel 3.1 Penentuan Waktu Kontak Optimum Adsorpsi Serbuk Gergaji dari Berbagai Jenis Kayu Terhadap Cr3+
Waktu kontak (menit)

No.

Jenis serbuk gergaji

15

30

45

60

75

90

1. 2.

Serbuk gergaji kayu jati Serbuk gergaji kayu merbau

A1a B1a

A1b B1b

A1c B1c

A1d B1d

A1e B1e

A1f B1f

A1g B1g

30

3.

Serbuk gergaji kayu meranti

C1 a

C1 b

C1 c

C1 d

C1 e

C1 f

C1 g

Tabel 3.2 Penentuan Kapasitas Adsorpsi Berbagai Jenis Serbuk Gergaji Kayu Terhadap Cr3+ No.
Konsentrasi (ppm)

Jenis serbuk gergaji ((

10

11

12

1. 2. 3.

Serbuk gergaji kayu jati Serbuk gergaji kayu merbau Serbuk gergaji kayu meranti

A2a B2a C2 a

A2b B2b C2 b

A2c B2c C2 c

A2d B2d C2 d

A2e B2e C2 e

A2f B2f C2 f

B. Objek Penelitian Dalam penelitian ini, yang menjadi objek penelitian yaitu perbandingan kapasitas adsorpsi serbuk gergaji terhadap logam kromium (III). Serbuk gergaji yang digunakan merupakan serbuk gergaji berasal dari proses penggergajian kayu yang jenisnya berbeda diantaranya kayu serbuk gergaji kayu jati, kayu merbau dan kayu meranti. C. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dimulai pada bulan April 2011 meliputi penyusunan proposal, penyiapan sampel penelian dan pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan

31

Alam Universitas Negeri Makassar dan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Makassar Provinsi Sulawesi Selatan. D. Alat dan Bahan 1. Alat Alat-alat yang akan digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah SSA model, oven, seperangkat alat Soxhlet, neraca, pipet volume, labu erlenmeyer, batang pengaduk, gelas kimia, labu ukur, pengocok (shaker) dan ayakan ukuran 40 mesh. 2. Bahan Bahan-bahan yang akan digunakan diantaranya serbuk gergaji kayu jati, serbuk gergaji kayu merbau, serbuk gergaji kayu meranti, CrCl3.6H2O, toluena, etanol dan kertas saring.

E. Prosedur Kerja 1. Pencucian Serbuk Gergaji Serbuk gergaji ditimbang 50 gram ukuran 40 mesh, dimasukkan ke dalam gelas kimia 1000 mL, kemudin ditambahkan aquades sebanyak 500 mL. Campuran tersebut diaduk menggunakan pengocok (shaker) selama 3 jam, aquades yang dipakai untuk mencuci diganti setiap satu jam pengadukan. Campuran didekantasi dan selanjutnya serbuk gergaji dikeringkan dalam oven pada suhu 50oC selama kurang lebih 2 jam. 2. Aktivasi Serbuk Gergaji

32

Serbuk gergaji yang sudah dicuci dan dikeringkan, ditimbang sebanyak 25 gram. Serbuk gergaji tersebut selanjutnya diekstraksi dengan cara soxhlet menggunakan campuran etanol-toluena (1:1). Ekstraksi dihentikan apabila warna pelarut pada sirkulasi tidk berubah lagi. Serbuk gergaji yang telah diekstraksi dikeringkan kembali dalam oven pada suhu 50oC selama 2 jam. 3. Pembuatan Larutan Standar a. Pembuatan larutan standar Cr3+ 1000 ppm Ditimbang dengan teliti 0,489 g CrCl3.6H2O kemudian dilarutkan dengan aquades sedikit demi sedikit lalu ditambahkan 10 ml HNO3(p) kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan ditambahkan aquades sampai tanda batas. b. Pembuatan larutan standar 100 ppm 10 ml larutan standar Cr 1000 ppm ditambahkan 5 ml HNO3(p) dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan ditambahkan aquades hingga tanda batas. c. Pembuatan Larutan Seri Dari hasil pembuatan larutan standar 100 ppm, kemudian dibuat deret larutan seri Cr3+ dengan konsentrasi 6 ppm, 8 ppm, 9 ppm, 10 ppm, 11 ppm dan 12 ppm dengan mengambil berturut-turut: 6 ml, 8 ml, 9 ml, 10 ml, 11 ml dan 12 mL dari larutan baku 100 ppm kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan diencerkan dengan aquades sampai tanda batas. 4. Penentuan Waktu Kontak Optimum Adsorpsi Kromium (III) dengan Serbuk Gergaji

33

a. Mengambil 50 mL larutan CrCl3.6H2O 8 ppm dan memasukkan ke dalam 6 buah erlenmeyer bertutup, diberi tanda yang berbeda untuk masing-masing erlenmeyer. b. Menambahkan serbuk gergaji ke dalam erlenmeyer masing-masing sebanyak 0,5 gram. c. Menvariasikan waktu kontak serbuk gergaji sesuai perlakuan yaitu 0 sampai 90 menit dengan rentang waktu 15 menit. Larutan dikocok selama 1 menit secara teratur tiap 5 menit d. Menyaring larutan dengan menggunakan kertas saring untuk memperoleh filtrat. e. Filtrat yang diperoleh selanjutnya diberikan perlakuan 6. 5. Penentuan Daya Adsorpsi Berbagi Jenis Serbuk Gergaji Terhadap Kromium (III) a. Masukkan sebanyak 50 mL larutan kromium 6 ppm, 8 ppm, 9 ppm, 10 ppm,11 ppm dan 12 ppm ke dalam erlenmeyer tertutup yang berbeda. Beri tanda tiap erlenmeyer. b. Menambahkan serbuk gergaji ke dalam erlenmeyer yang berisi larutan kromium masing-masing sebanyak 0,5 gram. c. Pada waktu kontak optimum, larutan dikocok selama 1 menit secara teratur tiap 5 menit. d. Menyaring laritan dengan menggunakan kertas saring untuk memperoleh filtrat. e. Filtrat yang diperoleh selanjutnya diberi perlakuan 6. 6. Analisis Kromium (III) dengan Spektrofotometri Serapan Atom

34

a. Mengoptimalkan alat SSA sesuai petunjuk penggunaan alat. b. Mengukur masing-masing larutan standar yang telah dibuat pada panjang gelombang tertentu. c. Membuat kurva kalibrasi untuk mendapatkan persamaan garis regresi. d. Melanjutkan dengan pengukuran contoh uji yang sudah dipersiapkan.
e. Kadar Pb serta absorbansinya langsung terbaca pada alat.

F. Teknik Analisis Data Dari hasil pengukuran serapan larutan baku dengan panjang golombang

tertentu, dibuat grafik antara serapan dengan konsentrasi larutan baku, dimana nilai absorban pada sumbu y dan konsentrasi pada sumbu x. Kemudian ditarik masing-masing titik tersebut sehingga diperoleh persamaan garis lurus.

y = a + bx

dimana,

x = konsentrasi (ppm) y = absorbansi (serapan)

Untuk memperoleh nilai a dan b digunakan rumus: n (XY) (X) (Y) b = n (X2) (X) 2

Y b(X) a = n dimana: a = intersep b = slope

35

n = jumlah data X = konsentrasi (mg/100 g) Y = absorbansi (serapan) y = y regresi Dari persamaan di atas maka konsentrasi Cr3+ dapat dihitung: x= Untuk larutan kromium yang telah diencerkan, konsentrasi kromiumnya dapat dihitung: x= x fp

dimana fp adalah faktor pengenceran Banyaknya kadar kromium (III) yang teradsorpsi mg/g adsorben yang disebut sebagi daya serap, ditentukan dengan menggunakan persamaan: W= Dimana: W Co Ce Wa = Jumlah zat yang teradsopsi (mg/g) = Konsentrasi kromium awal (ppm) = Konsentrasi kromium sisa = Berat adsorben (gr)
( )

V= Volume larutan (L) Penentuan kapasitas adsorpsi serbuk gergaji kayu jati, serbuk gergaji kayu merbau dan kayu meranti menggunakan persamaan isotherm freunlich dan Langmuir. Dari hasil analisis, dibuat grafik antara adsorben dengan konsentrasi kromium (III). Untuk data yang memenuhi persamaan Freundlich, kapasitas adsorpsinya dihitung dengan persamaan :

36

log c

Kapasitas adsorpsi (k) = Intersep (perpotongan) Log k = Intersep k = inv. Log intersep (mg/g)

Untuk data yang memenuhi persamaan Langmuir, kapasitas adsorpsi dihitung dengan persamaan:

Kapasitas adsorpsi (b) = slope (kemiringan)

b =

(mg/g)

DAFTAR PUSTAKA

Alva, Oktavia. 2008. Perbandingan Kapasitas Adsorpsi Arang Aktif Tempurung Berbagai Jenis Kelapa Terhadap Formaldehida. Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Makassar. Anto. 2009. Sifat Kimia Kayu. Http://noviantoblog.blogspot.com/2009/06. Diakses 13 Juni 2011. Atkins, P.W. Kimia Fisika Edisi Kedua. Terjemahan dari Phsical Chemistry. Erlangga. Jakarta. Darmono. 1995. Logam dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. UI-Press. Jakarta.

37

Entri.

2010. Sifat Kayu. Diakses 13 Juni 2011.

Http://m_nizat_blogspot.com/p/lihat_kayu,html.

Handayana, S. 1994. Kimia Analitik Instrumen. IKIP Semarang Press. Semarang. Hart, Harold. 2003. Kimia Organik Edisi XI. Erlangga. Jakarta. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 507/MENKES/SK/VII/2002. Persyaratan Kualitas Air Minum. Jakarta. Khasani, Iman. 2001. Material Safety Data Sheet (MSDS) Volume III. Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Khopkar, S. M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-Press. Jakarta. Krisnadi, Yuni. 2009. Asam Basa Lunak Keras. Http://chyanime.blogspot.com/2009/09/asam_basa_lunak_keras.html. Diakses 11 Mei 2011. Nurhasybi. 2009. Kayu Bayam/Merbau (Intsia, Spp.). Http://bpthbalinusa.net. Diakses 13 Juni 2011. Palar, Heryando. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. PT Rineka Cipta. Jakarta. Redhana, I.W. 1994. Penentuan Isoterm Adsorpsi Amonia dalam Larutan Air oleh Karbon Aktif pada Suhu Kamar. Program Pra-S2 Kimia Pascasarjana. ITB. Rosyuliana. 2006. Adsorpsi Ion Cd2+ pada Karbon Aktif Kayu Petai Cina (Leucaena Leucocephala Link. De Nit) yang Diaktivasi dengan NaOH. Skripsi Jurusan Kimia FMIPA UNM. Makassar. Sari. 2008. Jenis Kayu. Http://www.sari_jati.com. Diakses 5 Mei 2011. Sukardjo. 1985. Kimia Anorganik. Penerbit Bina Aksara. Yogyakarta. Sutrisno, T. 2002. Teknologi Penyediaan Air Bersih. PT Rineka Cipta. Jakarta. Syamsupriadi. 2009. Kapasitas Adsorpsi Lempung Aktif Terhadap Ion Fospat. Skripsi. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar. Vogel. 1990. Analisis AnorganikKualitatif Makro dan Semimikro. PT Kalman Media Pustaka. Jakarta.

38

Widowati, Wahyu dkk. 2008. Efek Toksik Logam (Pencegahan Penanggulangan Pencemaran). Penerbit Andi. Yogyakarta.

dan

Wikipedia. 2011. Jati (Pohon). Http://wikipedia.org/wiki/Jati. Diakses 5 Mei 2011. . 2011. Meranti Merah. Http://wikipedia.org/wiki.Meranti_Merah. Diakses 5 Mei 2011.

39

LAMPIRAN
Preparasi Sampel

Serbuk gergaji kayu ukuran 40 mesh - Dicuci dengan aquades - Dikeringkan dalam oven pada suhu 50oC 2 jam Serbuk gergaji bersih - Diekstraksi dengan etanol-toluena (1:1) - Dikeringkan pada suhu 50oC selama 2 jam Hasil ekstraksi (Sampel serbuk gergaji)

40

Pembuatan Larutan Standar

0,489 gr CrCl3.6H2O -

Dilarutkan dengan aquadest Ditambahkan 10 mL HNO3(p) Dimasukkan dalam labu takar 100 mL Diencerkan sampai tanda batas

Larutan kromium 1000 ppm Diambil 10 ml Ditambahkan 5 mL HNO3(p) Dimasukkan dalam labu takar 100 mL Diencerkan sampai tanda batas

Larutan kromium 100 ppm Diambil berturut-turut 4 mL, 6 mL, 8 mL, 10 mL, 12 mL dan 14 mL Dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL Diencerkan sampai tanda batas

Larutan kromium 6 ppm, 8 ppm, 9ppm, 10 ppm, 11 ppm, 12 ppm

41

Penentuan Waktu Kontak Optimum Adsorpsi Kromium (III)

50 ml CrCl3.6H2O8 ppm Dimasukkan ke dalam 6 buah erlenmeyer yang berbeda Ditambahkan serbuk gergaji masingmasing 0,5 gram Waktu kontak divariasikan 0 menit,15 menit, 30 menit, 45 menit, 60 menit, 75 menit, 90 menit Dikocok selama 1 menit secara teratur tiap 5 menit Disaring

Filtrat

Analisis SSA

42

Penentuan Kapasitas Adsorpsi Serbuk Gergaji Terhadap Logam Kromium (III)

50 mL kromium 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, 12 ppm, 14 ppm Filtrat Dimasukkan ke dalam 6 buah erlenmeyer yang berbeda Ditambahkan serbuk gergaji masingmasing 0,5 gram Dikocok selama 1 menit secara teratur tiap 5 menit Disaring

Analisis SSA

43