Anda di halaman 1dari 1

Cerpen Hei namaku Radit dan aku seorang pejantan tangguh. Kenapa?

Karena di usia ku yang masuk 24 tahun oktober ini, aku telah menjadi tulang punggung keluargaku. Seorang malaikat untukku dan dan ketiga adikku yang sedang mengejar impiannya masing masing di bangku perkuliahan. Aku adalah pencipta rumah, bangunan tinggi pencakar langit, pejuang yang melawan gravitasi. Ya, aku adalah seorang arsitek. Ayahku meninggal 2134 hari yang lalu, kira kira ketika aku baru beranjak memasuki usia 18 tahun. Usia di mana biasanya para muda mudi sedang menikmati indahnya dunia, indahnya menjalin cinta dan mengukir kisah kasih di sekolah. Namun usia 18 tahun bagiku adalah usia dimana aku mengalami salah satu momen terpenting dalam hidupku, yang merubah hidupku entah lebih baik atau lebih berat karena mulai saat itu aku resmi menjadi seorang ayah. Meskipun ibu bilang aku tidak perlu memikirkan biaya sekolahku, tetap saja ku tak bisa memalingkan mata. Ayahku wafat dan itu lah kenyataannya. Sekarang aku lah anak tertua dan mulai saat itu aku sadar akan kewajiban baruku, memikul beban yang ditinggalkan ayah atau paling tidak meringankan beban ibuku.. Yah aku tau itu tidak mudah, namun paling tidak aku telah menjalankannya dengan segenap kemampuanku. Dit tolong bantu adikmu Dit tolong bayar listrik Dit ini Dit itu. Dit Dit . Ya begitulah hidupku sekarang, entah kenapa aku tidak pernah dihargai. Aku bagaikan mesin atm yang hanya diam menunggu perintah. Bodoh. Statis. Seperti sapi yang dicongek hidungnya. Hingga suatu hari.. Selamat ya Dan, ibu bangga sama kamu kata Ibu, dan kamu Dit, tiru adikmu Dana!! Jangan nyusahin ibu aja tambahnya. Apa yang kurang?? batinku. Semua telah kuberi demi keluargaku. Waktu, tenaga bahkan kehidupan masa mudaku telah kukorbankan demi mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi apa yang kudapat?? Ibuku tak pernah hargai pengorbananku, adik adikku tak lagi menghormati dan menyayangi ku. Hati ini perih, rasanya ingin pergi tinggalkan dunia fana dan segera nikmati hidup kedua bersama Nya. haruskah ku pergi agar mereka mengakuiku, menyadari jerih payahku? namun ku memilih untuk diam, menyimpan perih ini sendiri. Entah sampai kapan, mungkin hingga nanti hingga ku mati.

Beri Nilai