Anda di halaman 1dari 82

Pemicu 2 Demam dan Rash

Refky Juliandri 405090149

Learning Objectives
1.

2.
3. 4. 5. 6.

7.
8.

Definisi, struktur dan klasifikasi virus Patogenesis infeksi virus Penyebaran infeksi virus Faktor predisposisi infeksi virus Respon imun terhadap virus Prosedur diagnosis Penatalaksanaan Penggunaan antivirus

LO 1. Definisi, struktur dan klasifikasi virus


Definisi

Terdiri dari Satu tipe asam nukleat DNA / RNA Tidak memiliki nukleus, sitoplasma, mitokondria atau ribosom
Mempunyai protein ( Glycoprotein, Hemaglutinin, Enzym) Parasitisme intrasel obligat Mempunyai struktur tertentu: nacked capsid envelope

Struktur Ukuran virus 20-300 nm (diameter) bentuk= spheres, rod, bullet, brick

1.

2. 3. 4. 5.

Virion = Partikel virus lengkap atau badan elementer yang merupakan sistem partikel virus yang infektif Genom = Inti,bahan genetik,terdiri dari As Nukleat sebagai DNA / RNA. Capsid = Lapisan protein yang terdiri dari bahan genetik Envelop/ Peplos/ Pembungkus = Selubung yang membungkus kapsid Nukleokapsid = Kapsid bersama genom

Macam-macam bentuk virus DNA

Macam-macam bentuk virus RNA

VIRUS RNA

Paramyxoviridae

Orthomyxoviridae

Coronaviridae

Arenaviridae

Retroviridae

Reoviridae

Picornaviridae

Rhabdoviridae

Togaviridae

Orbivirus

Bunyaviridae

Arboviruses

Property Type of nucleic acid Protein Lipoprotein membran

Viruses DNA or RNA (but not both) Few Envelope presents in some viruses

cells DNA & RNA many Cells membrane presents in all cells

Ribosomes
Mitochondria Enzymes Mitosis

Absent
Absent None or few No

present
Present in eukariotik cells Many Yes

Klasifikasi virus

Klasifikasi virus DNA


Envelop e present No No No Yes Capsid symmettry Icosahedral Icosahedral Icosahedral Icosahedral Particle size (nm) 22 55 75 42 DNA MW (x 106) 2 3-5 23 1.5 DNA structure Ss, linear Ds, circular Ds, linear Ds, incomplet e Ds, linear Medically important B19 virus Papiloma virus Adenovirus Hepatitis B virus HSV, CMV, Varicellazoster virus Smallpox, vaccina

Virus family

Parvovirus

Papovavirus Adenovirus

Hepadnaviru s

Herpesvirus

Yes

Icosahedral

1002

100-150

Poxvirus

Yes

Complex

200x400

125-185

Ds, linear

Virus family

Envelop e present
No

Klasifikasi virus CapsidRNA Particle DNA


symmettry Icosahedral size (nm) MW (x 106) 28 2.5

RNA structure

Medical importa

Picornavirus

Ss, linear

Polioviru rhinoviru hepatitis A

Calicivirus Reovirus Flavivirus

No No Yes

Icosahedral Icosahedral Icosahedral

38 75 45

2.7 15 4

Ss, linear Ds, linear Ss,linear

Norwalk vi hepatitis

Reoviru rotaviru

Yellow fever dengue vi hepatitis C HIV, human

Togavirus Retrovirus

Yes Yes

Icosahedral Complex

60 10

4 7

Ss, linear Ss, linear

Rubella vi

Virus family

Envelop e present
Yes Yes

Capsid symmettry
Helical Helical

Particle DNA size (nm) MW (x 106)


80-120 150 4 6

RNA structure

Medic impo

Orthomyxovirus

Ss, linear Ss, linear

Influenz

Paramyxovirus

Measles mumps respir syncytia

Rhabdovirus Filovirus Coronavirus Arenavirus

Yes Yes Yes Yes

Helical Helical Helical Helical

75 80 100 80

4 4 5 5

Ss, linear Ss,linear Ss, linear Ss, circular

Rabies

Ebola marbur

Corona

Lymph choriome viru

Virus family

Envelop e present
Yes

Capsid symmettry
Helical

Particle DNA size (nm) MW (x 106)


100 5

RNA structure

Medic impo

Bunyavirus

Ss, circular

Califo enchepal hanta

Deltavirus

Yes

uncertain

37

0.5

Ss, circular

Hepatiti viru

Penggolongan Atas Dasar Tropisma dan Cara Penularan


Kelompok
Virus Enterik

Uraian Singkat
Penularan terjadi secara fekal-oral Replikasi terjadi di saluran cerna dan biasanya tidak menimbulkan infeksi sistemik Termasuk di antaranya ialah : rotavirus, reovirus, enterovirus, coronavirus, calicivirus, adenovirus

Virus Hepatotropik

Penularan dapat terjadi dengan berbagai cara infeksi virus menimbulkan gejala utama kelainan fungsi hati Dapat digolongkan di sini : virus hepatitis dan virus demam kuning Virus hepatotropik dan enterik sering disebut virus viserotropik
Penularan terjadi melalui inhalasi bahan terkontaminasi Replikasi terjadi di saluran pernafasan dan tidak menyebabkan infeksi sistemik Termasuk : orthomyxovirus, paramyxovirus, pneumovirus, rhinovirus, adenovirus Penularan terjadi melalui cara kontak fisik yang erat, per injectionum / dengan cara lain Virus menyerang jenis sel tertentu dan sering menimbulkan infeksi persisten Suatu saat sel terinfeksi mengalami transformasi dan mungkin berubah jadi karsinoma

Virus Pernafasan

Virus Tumorigenik

Penggolongan Atas Dasar Tropisma dan Cara Penularan

Kelompok

Uraian Singkat Virus yang punya kemampuan tumorigenik sekalipun diantaranya hanya terbukti pada biantang : papovavirus, Epstein-Barr virus, human T cell lymphotrophic virus I dan II, virus hepatitis B dan C, virus herpes, adenovirus

Virus Neurotropik

Penularan terjadi melalui berbagai cara Replikasi virus terjadi tidak hanya di jaringan saraf tetapi manifestasi klinik utama terjadi pada fungsi susunan saraf Termasuk dalam golongan ini : virus poliomyelitis, virus ensefalitis B Jepang Penularan terjadi melalui cara kontak / cara lain Replikasi virus dapat terjadi di berbagai tempat tapi manifestasi klinik utama terjadi di jaringan mukokutan Termasuk kelompok ini : herpes virus, papovavirus, adenovirus, poxvirus

Virus Dermatotropik

Herpes Simplex

Adeno Virus

AIDS HIV

Rhino Virus

Mumps Virus

Polio Virus

Vaccinia Virus

LO 2. Patogenesis infeksi virus PORT ENTRY VIRUS


1.

TRACTUS, RESPIRATORIUS : - INHALASI : Rhinovirus, Adenovirus, Influenza, ParaInf, RSV, Corona Variola, Varicella, Morbili, Rubella, Parotitis Infeksi General

2.

TRACTUS DIGESTIVUS - Lokal : Rotavirus, Norwalk. **Enterovirus : HAV Infeksi General


KULIT - Lokal : HPV, VZV, molluscum contagiosum, HSV - General : Arbovirus (serangga); HBV, CMV(Trancutaneus), Rabies, B Virus (gigitan binatang) CONJUNCTIVA TRACTUS GENITALIS : Adenovirus 8, HSV 1, Enterovirus 70. : HSV 1 HSV 2, HPV, CMV, HBV, HIV

3.

4. 5. 6.

INFEKSI FOETUS * Transplacenta : Rubella, CMV, HIV, VZV, Parvovirus B 19

Patogenesis Virus
Masuknya virus ke dalam pejamu

Replikasi virus primer

Penyebaran virus

Respons imun pejamu Sistem imun menang Pembersihan virus

Sistem imun kalah


Infeksi virus presisten

Pelepasan virus

1. Translokasi :virus menembus membran sel yang utuh 2. Insersi genom, virus yang menempel menginjeksikan material genetik direk dalam sitoplasma

3.

Fusi membran, isi genom virus dimasukkan ke dalam sitoplasma sel pejamu Endositosis yang diatur oleh resptor permukaan yang mengikat dan transpor melalui klatrin, kadang menimbulkan fusi ke dalam endosom intraselular.

4.

Reproduksi virus dalam sel 1. Penempelan virus infektif pada reseptor yang ada dipermukaan sel 2. Virus masuk ke dalam sel pejamu 3. Dengan bantuan organel-organel sel, genom virus membentuk komponen-komponen nya 4. Perakitan komponen-komponen struktural 5. Virus dilepaskan dari dalam sel

Mekanisme virus menghindari respon imun


1. Virus mengubah antigen Adanya variasi antigen menjadikan virus dapat menjadi resisten terhadap respon imun yang dinimbulkan oleh infeksi terdahulu Ex: pandemi influenza, epitop virus rino, HIV-I 2. Menghambat presentasi antigen protein sitosolik yang berhubungan dgn molekul MHC I Virus tidak dapat dikenal dan dibunuh oleh sel CD 8+ namun sel NK masih dapat membunuhnya 3. Memproduksi molekul yang m,encegah imunitas spesifik dan non spesifik Virus pox Molekul dapat mengikat IFN-, IL-1, IL-18, kemokin yang molekul ini dilepaskan oleh sel yang terinfeksi protein yang mengikat sitokin berfungsi sbg antagonis sitokin

Virus dapat menginfeksi, membunuh atau mengaktifkan sel imunokompeten 5. HIV dapat tetap hidup dengan menginfeksi dan mengeliminasi sel T CD4 yang merupakan sel kunci regulator respons imun terhadap antigen protein
4.

EKSRESI VIRUS Tractus Respiratorius Saliva Kulit Tractus Digestifus : Tinja Urine Sperma ASI : CMV, Retrovirus : HTLV 1, HIV

MASA INKUBASI - PENDEK ( 1-5 HARI) Penyakit Lokal ( Infeksi Respiratorius) Kecuali : WART / KUTIL - LAMA / PANJANG (10-20 HARI) Virus harus diseminasi dan mencapai target organ (VARICELLA, RUBELLA, MORBILI) Kecuali : ARBOVIRUS

Inaktivasi Virus :
Enzym : Nukleat,Proteinase,phospholipase

Reagen Kimia : Detergen, Protein Solven, Formaldehida, PH, Eter, Oksidans, Surfaktan
Physical Agent :- Pemanasan - Radiasi - Inaktifasi Fotodinamik

Stabilisasi Virus : - Pendinginan - PH - Garam - Liofilisasi

LO 3. Penyebaran infeksi virus


1. Penularan langsung dari orang ke orang melalui kontak: Infeksi droplet atau aerosol (mis: influenza, campak, smallpox) anal-oral (mis: enterovirus, rotavirus, virus hepatitis A infeksiosa) Kontak seksual (mis: hepatitis B, herpes simpleks-2, HIV)

2. Penularan dari binatang ke binatang dengan manusia sebagai inang kebetulan: Gigitan (rabies) atau infeksis droplet atau aerosol dari tempat tinggal yang tercemar binatang pengerat (mis: arenavirus, hantavirus)

3. Penularan dengan dasar vektor arthropoda (mis: arbovirus, sekarang digolongkan terutama sebagai togavirus, flavivirus, dan bunyavirus).

LO 4. Faktor predisposisi infeksi virus


Usia Genetik Jenis Kelamin Sistem Imun Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Infeksi Virus

Jumlah Virulensi

HOST

AGENT

ENVIRON MENT
Vektor Cara Penularan

Faktor HOST

Umur Jenis kelamin Jumlah anggota keluarga Status perkawinan Jenis pekerjaan Ras Kebiasaaan hidup Daya tahan tubuh

Faktor AGENT
Pathogenicity kemampuan menimbulkan reaksi pada jaringan tubuh Virulensi - derajat kerusakan yang ditimbulkan kuman - ukuran keganasan kuman Antigenicity kemampuan merangsang mekanisme pertahanan tubuh penjamu Infectivity kemampuan mengadakan invasi, adaptasi, & berkembang biak dalam tubuh penjamu

Faktor ENVIRONMENT
Lingkungan Fisik Lingkungan Biologi Lingkungan Sosial-Ekonomi

Beberapa faktor yang mempengaruhi pertahanan tubuh : 1. Usia Contoh : - influenza lebih parah diderita pada older people dari pada young adults - infeksi herpes simplex virus lebih parah diderita pada neonatus dari pada orang dewasa

Kortikosteroid Peningkatan kortikosteroid merupakan faktor predisposisi infeksi beberapa virus Contoh : - varicella zoster virus, penggunaan topikal kortisone pada penyakit herpetic keratitis
2.

3.

Malnutrisi malnutrisi menyebabkan penurunan produksi imunoglobulin

LO 5. Respon imun terhadap virus

Virus masuk ke sel


Sel pertama yang dimasuki Oleh virus Sel mengeluarkan Interferon Interferon berikatan dengan Reseptor di sel yang Belum terinfeksi Sel yang belum terinfeksi Menghasilkan enzim-enzim inaktif Yang mampu memutuskan RNA messenger virus dan menghambat Sintesis protein Enzim penghambat Virus diaktifkan

Sel berikutnya Dimasuki oleh virus

Virus masuk kedalam sel yang sudah Dipengaruhi oleh interferon

Virus tidak mampu membelah diri Di sel-sel yang baru dimasukinya

Virus masuk ke dalam tubuh melalui reseptor yang terdapat di permukaan sel tertentu dalam tubuh, setelah masuk kedalam sel menyebabkan kerusakan jaringan, virus semacam ini dikenal sebagai virus sitopatik infeksinya dinamakan litik. Virus non sitopatik menyebabkan infeksi laten, virus tetap berada didalam sel tubuh dan memproduksi protein yang dianggap asing oleh tubuh sehingga menstimulasi imunitas spesifik

Respon imun alami terhadap virus


Infeksi merangsang produksi IFN tipe 1untuk menghambat replikasi virus dan merangasang pelepasan sitokin 2. NK cell melisis sel yang terinfeksi. IFN tipe 1 meningkatkan sitotoksisitas NK cell. 3. Setelah sel terinfeksi virus mengalami lisis berarti virus berada dalam ekstraselular yang akan diatasi oleh sistem komplemen dan fagosit
1.

Respon imun spesifik terhadap virus


Dilaksanakan oleh gabungan mekanisme imun selular dan humoral. Antibodi spesifik merupakan komponen terpenting dalam pertahanan terhadap virus di awal terjadinya infeksi : 1. Ab neutralisasi : berikatan dengan protein envelope untuk mencegah perlekatan dan masuknya virus kedalam sel tubuh 2. Ab opsonisasi : meningkatkan pembersihan

Ab belum cukup untuk mengeliminasi infeksi virus secara keseluruhan. Mekanisme dari imunitas spesifik yang telah berkembang adalah limfosit Tsitotoksik (CD8) yang hanya mengenali antigen virus yang disintesis secara endogenus dan dipresentasikan bersama molekul MHC kelas 1. Efek antiviral dari CD8 disebabkan oleh lisis dari sel yang terinfeksi sehingga virus menjadi ekstraselular dan di eliminasi oleh fagosit dan komplemen

LO 6. Prosedur diagnosis
Ada 5 cara diagnosis virus dengan menggunakan spesimen : 1. Identifikasi virus dalam biakan sel 2. Identifikasi mikroskopik langsung di spesimen 3. Prosedur serologik 4. Identifikasi antigen virus di darah cairan tubuh 5. Deteksi asam nukleik virus di darah atau sel pasien

1. Identifikasi virus dalam biakan sel

Pertumbuhan virus dalam biakan sel menghasilkan cytopathic effect (CPE)

Jika virus tidak menghasilkan CPE , virus dapat dideteksi dengan beberapa teknik : 1. Hemadsorption 2. Interference 3. decreased acid production by infected dying cell

2.Identifikasi mikroskopik Virus dapat dideteksi dan diidentifikasi dengan cara pemeriksaan mikroskopik dari spesimen seperti biopsi dan lesi kulit. Ada 3 prosedur yang dapat digunakan : 1. Mikroskop cahaya dapat menyatakan karakteristik badan inklusi atau multinucleated giant cells. Pada Tzanck smear, herpesvirus menginduksi multinucleated giant cells pada vesicular skin lesions.

Mikroskopik UV digunakan pada pewarnaan fluoresent antibodi pada sel yang terinfeksi virus 3. Mikroskop elektron dapat mendeteksi partikel virus (ukuran dan morfologi virus)
2.

3. Prosedur serologik Pada pemeriksaan ketiga, antibodi terhadap virus dapat digunakan untuk mendiagnosa infeksi. Didalam serum sampel terdapat virus penyebab yang menginfeksi sel Pada penyakit virus tertentu, adanya antibodi IgM dapat digunakan untuk mendiagnosa infeksi. Contohnya : keberadaan IgM pada inti antigen mengindikasikan infeksi oleh virus hepatitis B.

4. Identifikasi antigen virus di darah cairan tubuh


Antigen virus dapat dideteksi pada darah ataupun cairan tubuh melalui berbagai macam tes tetapi yang paling sering adalah ELISA (Enzyme linked immunosorbent assay) Deteksi komplek Ag-AbE dengan substrat yang akan dihidrolisis oleh enzim dan menimbulkan warna Warna dibaca dengan menggunakan spektrofotometer

Syarat enzim yang digunakan : a. Tidak boleh mengurai sifat imunologik Ag/Ab b. Dapat diperoleh dalam keadaan murni serta stabil untuk disimpan selama jangka waktu tertent c. Enzim yang banyak dipakai : peroksidase, fosfatase lindi, glukosa oksidase, beta galaktose

5. Deteksi asam nukleik virus di darah atau sel pasien


mRNA virus dapat dideteksi pada darah ataupun jaringan dengan komplementer DNA atau RNA Jika hanya sedikit jumlah dari asam nukleotida virus pada pasien dapat digunakan PCR (polimerase chain reaction) untuk memperjelas asam nukleotida virus

Kelas virus Papovirus Retrovirus Arbovirus

Agen viral Virus papiloma manusia HIV-1 dan HIV-2 HTLV Virus Dengue Virus yellow fever Japanese encephalitis Virus West Nile Prion Ebola Hantavirus Rabies Lyssavirus

Manifestasi klinis Lesi kutan atau mukosa AIDS, leukemia Demam berdarah Ensefalitis dan meningitis

Prion Agen viral baru Rabdovirus

Ensefalopati bentuk spon Demam berdarah Gangguan paru Infeksi SSP akut

Kelas virus Virus respiratori

Agen viral Parainfluenza Rinovirus SARS RSV Parotitis Rubela dan rubeola Eritema infeksiosum Cacar air Virus cacar variola

Manifestasi klinis Faringitis dan koriza Tonsilitis dan inflamasi virus Demam dan mialgia Eksantem Makula seperti ruam

Aksantem anak

poksvirus

Lesi papulovesikular

Enterovirus
Hepatitis

Virus polio Koksaki


Hepatitis A-E

Meningitis Eksantem dan miokarditis


Difungsi hati, karsinoma Hepatoselular

Virus Herpes

HSV-1, HSV-2, CMV, EBV, varisela zoster

Lepuh, sariawan Mononukleosis Limfoma

Spesimen-spesimen yg dapat digunakan untuk mendiagnosa virus


Respiratory Nasopharyngeal secretions Endotracheal secretions Lung biopsy Throat swab Skin Vesicles Pustules Biopsy HSV VZV Vaccinia Respiratory syncytial virus Adenovirus, and Parainfluenza Measles

Eye
Tears Tissue Genitourinary Urine Cervical/Vaginal/Urethral Secretions HSV CMV HSV VZV, and Adenovirus

LO 7. Penatalaksanaan
Site of action Early event (entry or uncoating of the virus) Effective drugs Amantadine, rimantadine

Nucleic acid synthesis by viral DNA and RNA polymerases

Acyclovir, ganciclovir, valacyclovir, penciclovir, famciclovir, cidofovir, vidarabine, idoxuridine, trifluridine, foscarnet, zidovudine (azidothymidine), didanosine (dideoxyinosine), zalcitabine (dideoxycytidine), stavudin (d4T), lamivudin (3TC), abacavir, adefovir, nevirapine, delavudine, efavirenz, ribavirin
Saquinavir, indinavir, ritonavir, nelfinavir Interferon, fomiversin, methisazone Zanamivir, oseltamivir

Cleavage of precursor polypeptides Protein synthesis directed by viral mRNA Release of the virus

Antivirus

Anti-nonretrovirus

Antiretrovirus

Antivirus untuk influenza

Antivirus untuk herpes

Antivirus untuk HBV & HCV

NRTI

NtRTI

NNRTI

PI

Viral entry inhibitor

Amantadin Oseltamivir Asiklovir Gansiklovir Foskarnet

Lamivudin Interferon

Zidofudin Didanosin

Nevirapin Efavirenz Sakuinavir Ritonavir

Enfuvirtid

Tenofovir

NRTI : Nucleoside reverse transcriptase inhibitor NtRTI : Nucleotide reverse transcriptase inhibitor NNRTI: Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor PI : Protease inhibitor

Pencegahan

Ada 3 cara pendekatan untuk melakukannya :


Kemoterapi Imunisasi Pemakaian zat-zat yang menginduksi pembentukan IFN / mekanisme pertahanan tubuh

Cara lain : pengaturan perilaku manusia dan lingkungannya

ANALOG NUKLEOSIDA

ANALOG NUKLEOTIDA

KEMOTERAPI ANTIVIRUS

INHIBITOR REVERSE TRANSCRIPTASE NON NUKLEOSIDA

INHIBITOR PROTEASE

INHIBITOR FUSI

Analog Nukleosida
Kerjameghambat replikasi asam nukleat inhibisi polimerase replikasi asam nukleat. Beberapa analog dpt digabungkan ke dlm asam nukleat dan menghambat sintesis selanjutnya atau mengubah fungsinya. Analog dpt menghambat enzim selular serta enzim-enzim yg disandi virus.

Analog yg paling efektifmampu secara spesifik melakukan inhibisi enzim yg disandi virus,melalui inhibisi minimal terhadap enzim sel pejamu analog. Contoh analog nukleosida:

Asiklovir (acycloguanosine) Lamivudin (3 TC) Ribavirin Vidarabin (Adenin Arabinose) Zidovudin ( Azidothymidine AZT)

Analog Nukleotida
Analog nukleotida = analog nukleosida memiliki gugus fosfat yg menempel. Kemampuan utk tetap berada dalam sel waktu lama meningkatkan potensinya. Contoh Cidofovir (HPMPC)

Inhibitor Reverse Transcriptase Non Nukleosida


Nevirapinanggota pertama gol.inhibitor reverse transcriptase non nukleosida. Tidak memerlukan fosforilasi utk aktivitas dan tidak bersaing dgn nukleosida trifosfat. Bekerja dgn mengikat secara langsung ke reverse transcriptase dan mengganggu tempat katalisasi enzim.

Inhibitor Protease
Saquinavirinhibitor protease pertama yg disepakati utk pengobatan infeksi HIV. Obat tsbagen peptidomimetik yg dirancang dgn menggunakan model komputer sbg molekul yg pas utk tempat aktif enzim protease HIV. Kerjamenghambat protease virus yg diperlukan pada stadium lanjut siklus replikasi.

Inhibitor Fusi

Fuzeonpeptida besar yg menghambat virus dan langkah fusi membran selular yg terlibat pada masuknya HIV-I ke dlm sel.

Karakteristik Durasi imunitas Efektif proteksi Produksi imunoglobulin Produksi cell-mediated immunity Reversion to virulence Stability at room temperature Excretion of vaccine virus and transmision to nonimmune contacs Interruption of transmision of virulent virus

Live vaccine Lebih lama Lebih baik IgA dan IgG Yes Possible Low Possible

Killed vaccine Lebih cepat Rendah IgG Weakly or none No High No

More effective

Less efecctive

LO 8. Penggunaan antivirus
Imunisasi pasif Terjadi bila seseorang menerima antibodi dari org lain yg telah mendapat imunisasi aktif. Transfer sel yang kompeten imun kepada pejamu yg sebelumnya imun inkompeten disebut transfer adoptif. Imunisasi aktif Menginduksi respon imun Dapat diberikan vaksin hidup/dilemahkan atau yg dimatikan.