Anda di halaman 1dari 18

PERENCANAAN STRATEGIS DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN (MENEJEMEN PENDIDIKAN)

MAKALAH Disampaikan dalam Forum Seminar Mata Kuliah Menejemen Pendidikan Semester II Tahun Akademik 2013 Oleh; ISMAYANTI NIM. 80100212178 Dosen Pemandu: Prof. Dr. H. Abd. Rahman Halim, M.Ag Drs. Muhammad Wayong, M.Ed.M, Ph.D

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2013

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hampir setiap orang atau organisasi memiliki perencanaan. Apakah perencanaan tersebut menyangkut kehidupan pribadinya, maupun yang terkait dengan tujuan organisasi yang ingin dicapai. Perencanaan merupakan fungsi pertama dan yang utama dalam kegiatan manajemen. Oleh karenanya berbagai faktor yang terkait dengan perencanaan perlu untuk dipahami sebelum kegiatan dijalankan. Hal ini disebabkan karena perencanaan akan menentukan ke mana Organisasi akan diarahkan. Pada intinya, perencanaan dibuat sebagai upaya untuk merumuskan apa yang sesungguhnya ingin dicapai oleh sebuah organisasi atau perusahaan serta bagaimana sesuatu yang ingin dicapai tersebut dapat diwujudkan melalui serangkaian rumusan rencana kegiatan tertentu. Perencanaaan yang baik adalah ketika apa yang dirumuskan dapat direalisasikan dan mencapai tujuan yang diharapkan. Sebaliknya, perencanaan yang buruk adalah ketika apa yang dirumuskan dan ditetapkan ternyata tidak bisa diimplementasikan, sehingga tujuan organisasi tidak terwujud. Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan.1 Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur urusan Rumah Tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah negara semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam
Didin Hafhiduddin dan Hendri Tanjung, Manajemen Syariah, (Cet. 1; Jakarta: Gema Insani Press, 2003), h. 1
1

bingkai sebuah manajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien dan efektif. Pendidikan Agama Islam dengan berbagai jalur, jenjang, dan bentuk yang ada seperti pada jalur pendidikan formal ada jenjang pendidikan dasar yang berbentuk Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), jenjang pendidikan menengah ada yang berbentuk Madrasah Alyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), dan pada jenjang pendidikan tinggi terdapat begitu banyak Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) dengan berbagai bentuknya ada yang berbentuk Akademi, Sekolah Tinggi, Institut, dan Universitas. Pada jalur pendidikan non formal seperti Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak (TPA), Majelis Talim, Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jalur Pendidikan Informal seperti pendidikan yang diselenggarakan di dalam kelurarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. Kesemuanya itu perlu pengelolaan atau manajemen yang sebaik-baiknya, sebab jika tidak bukan hanya gambaran negatif tentang pendidikan Islam yang ada pada masyarakat akan tetap melekat dan sulit dihilangkan bahkan mungkin Pendidikan Islam yang hak itu akan hancur oleh kebathilan yang dikelola dan tersusun rapi yang berada di sekelilingnya, sebagaimana dikemukakan Ali bin Abi Thalib: kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dihancurkan oleh kebathilan yang tersusun rapi. Oleh sebab itu, Dalam mengembangkan strategi dibutuhkan perencanaan, pandangan umum mengatakan bahwa strategi dikembangkan dan diterapkan dengan cara linear, dan bahwa strategi yang diinginkan oleh organisasi akan diterapkan secara keseluruhan untuk menjadi kenyataan sebagai strategi yang aktual. Akan

tetapi tidak setiap strategi yang diinginkan selalu menjadi kenyataan. Hal ini disebabkan oleh adanya pergeseran keadaan lingkungan yang tidak diharapkan, sehingga masalah-masalah dalam pencapaian yang tidak terlihat sebelumnya, sering muncul dan membatasi efisiensi dan formulasi dari strategi yang telah direncanakan. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa organisasi tersebut menjadi tidak memiliki strategi sama sekali. Dalam kaitan ini, strategi yang dikejar organisasi tidak perlu didukung oleh organisasi atau tokoh-tokoh seniornya. Tetapi harus ditempatkan pada konteks tujuan yang dikejar oleh organisasi. Dengan demikian strategi itu dapat berkembang secara berkesinambungan, mudah menyesuaikan diri dan sekaligus meningkatkan diri. B. Rumusan Masalah Dari uraian-uraian di atas, maka penulis akan merumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana perencanaan yang strategis? 2. Bagaimana Pendidikan? implementasi perencanaan strategis dalam Lembaga

II. PEMBAHASAN A. Pengertian Perencanaan Strategis Perencanaan atau rencana (planning) dewasa ini telah dikenal oleh hamper setiap orang, kita mengenal rencana pembangunan, perencanaan pendidikan, perncanaan produksi suatu perusahaan. Bahkan keluarhga yang pada waktu dulu dipandang sebagai sesuatu yang berjalan menurut alam sekarang direncanakan juga yang dikenal dengan sebutan keluarga berencana.2 Perencanaan adalah pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang aharus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa. Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi diwaktu yang akan datang dalam perencanaan dan kegiatan yang diputuskan akan dilaksanakan.3 Perencanaan Strategis adalah suatu kerangka berpikir logis yang menetapkan di mana Anda berada, ke mana Anda akan pergi, bagaimana Anda bisa sampai di sana. Ia juga merupakan proses yang mengarahkan para pemimpin mengembangkan visi dalam menggambarkan masa depan yang dikehendaki. Ia mengubah cara managemen berpikir, mengalokasikan, dan merealokasikan berbagai sumber daya, sementara pelaksanaan program berlangsung. Dengan kata lain, perencanaan berhubungan dengan dampak masa depan dari keputusan yang dibuat sekarang, atau disebut sebagai futuarity of current decisions. Ia mencakup pilihanpilihan yang berkaitan dengan tujuan organisasi secara keseluruhan. Ia juga merangkul kekuatan-kekuatan eksternal yang tidak dapat dikendalikan. Bahkan

2 3

Harjanto, Perencanaan Pembelajaran, (cet. 1, Jakarta 1997), h. 1 T. Hani Handoko, Manajemen Edisi 2, (Yogyakarta, 2003), h. 77

perencanaan strategis adalah falsafah, yaitu suatu sikap, a way of life, suatu proses berpikir, suatu aktivitas intelektual.4 Perencanaan strategis adalah instrument kepemimpinan dan suatu proses. Sebagai suatu proses, ia menentukan apa dan bagaimana usaha mencapainya, suatu proses yang menjelaskan sasaran-sasaran. Perencanaan strategis sebagai komponen dari manajemen strategis bertugas untuk memperjelas tujuan dan sasaran, memilih berbagai kebijaksanaan, terutama dalam memperoleh dan mengalokasikan sumber daya, serta menciptakan suatu pedoman dalam menerjemahkan kebijaksanaan organisasi. Bahkan dipandang sebagai metode untuk mengelola perubahanperubahan yang tidak dapat dihindari sehingga dapat juga disebut sebagai metode untuk berurusan dengan kompleksitas lingkungan yang sering kali erat hubungannya dengan kepentingan organisasi.5 Dalam buku management, Richard menyebutkan bahwa perencanaan merupakan tindakan untuk menentukan tujuan organisasi dan apa yang dibutuhkan untuk mencapainya6. Wikipedia menjelaskan Rencana atau plan adalah dokumen yang digunakan sebagai skema untuk mencapai tujuan. Rencana biasanya mencakup alokasi sumber daya, jadwal, dan tindakan-tindakan penting lainnya. Rencana dibagi berdasarkan cakupan, jangka waktu, kekhususan, dan frekuensi penggunaannya. Berdasarkan cakupannya, rencana dapat dibagi menjadi rencana strategis dan rencana operasional. Rencana strategis adalah rencana umum yang berlaku di seluruh lapisan organisasi

4 5

George A.Stainer, Strategic Planning (New York: The Free Press, 2006) h. 152 J. Salusu, Pengambilan Keputusan Strategik (Cet. II; Jakarta: PT. Grasindo, 1998) h. 500 6 Lihat Richard L. Daft, Management (edisi enam; Jakarta: Salemba Empat, 2006) h. 315

sedangkan rencana operasional adalah rencana yang mengatur kegiatan sehari-hari anggota organisasi. Berdasarkan jangka waktunya, rencana dapat dibagi menjadi rencana jangka panjang dan rencana jangka pendek. Rencana jangka panjang umumnya didefinisikan sebagai rencana dengan jangka waktu tiga tahun, rencana jangka pendek adalah rencana yang memiliki jangka waktu satu tahun. Sementara rencana yang berada di antara keduanya dikatakan memiliki intermediate time frame. Menurut kekhususannya, rencana dibagi menjadi rencana direksional dan rencana spesifik. Rencana direksional adalah rencana yang hanya memberikan guidelines secara umum, tidak mendetail. Misalnya seorang manajer menyuruh karyawannya untuk "meningkatkan profit 15%." Manajer tidak memberi tahu apa yang harus dilakukan untuk mencapai 15% itu. Rencana seperti ini sangat fleksibel, namun tingkat ambiguitasnya tinggi. Sedangkan rencana spesifik adalah rencana yang secara detail menentukan cara-cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Selain menyuruh karyawan untuk "meningkatkan profit 15%," ia juga memberikan perintah mendetail, misalnya dengan memperluas pasar, mengurangi biaya, dan lain-lain. Terakhir, rencana dibagi berdasarkan frekuensi penggunannya, yaitu single use atau standing. Single-use plans adalah rencana yang didesain untuk dilaksanakan satu kali saja. Contohnya adalah "membangun 6 buah pabrik di China atau "mencapai penjualan 1.000.000 unit pada tahun 2006." Sedangkan standing plans

adalah rencana yang berjalan selama perusahaan tersebut berdiri, yang termasuk di dalamnya adalah prosedur, peraturan, kebijakan, dan lain-lain.7 Dari pengertian di atas, disimpulkan bahwa perencanaan sebagai sebuah proses yang dimulai dari penetapan tujuan organisasi, menentukan strategi untuk pencapaian tujuan organisasi tersebut secara menyeluruh, serta merumuskan system pencernaan yang menyeluruh untuk mengordinasikan seluruh pekerjaan organisasi hingga tercapainya tujuan organisasi karena perencanaan merupakan suatu kegiatan strategi untuk mencapai tujuan dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Dalam perencanaan, ada dua elemen penting yang selalu ada yaitu tujuan dan rencana. Ada tiga alasan yang menunjukkan pentingnya perencanaan strategis. Pertama, memberikan kerangka dasar dalam semua bentuk-bentuk perncanaan lainnya harus diambil. Kedua, pemahaman terhadap perencanaan setrategis dan mempermudah pemahaman bentuk-bentuk perencanaan lainnya. Ketiga, perencanaan strategic sering merupakan titik permulaan bagi pemahaman dan penilaian kegiatankegiatan manajer dan organisasi8 B. Implementasi perencanaan strategis dalam lembaga pendidikan Standar pengelolaan pendidikan pada sekolah yang ditetapkan oleh pemerintah, salah satu bagiannya adalah perencanaan. Dalam perencanaan ini meliputi visi, misi, tujuan, dan rencana kerja sekolah/madrasah. Artinya setiap sekolah wajib merumuskan dan menetapkan serta mengembangkan visi, misi, tujuan, dan rencana kerja di sekolahnya sesuai dengan kriteria dan ketentuan membuat: 1)
7 8

lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Perencanaan. T. Hani Handoko, Op. Cit, h. 92

rencana kerja jangka menengah yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu empat tahun yang berkaitan dengan yang telah ditetapkan tersebut. Dalam hal rencana kerja, sekolah dituntut mutu lulusan yang ingin dicapai dan perbaikan komponen yang mendukung peningkatan mutu lulusan; 2) rencana kerja tahunan yang dinyatakan dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah/Madrasah (RKA-S/M) dilaksanakan berdasarkan rencana jangka

menengah.9 Melihat konteks ketentuan pemerintah yang berupa peraturan menteri pendidikan nasional tentang perencanaan tersebut, maka pada hakekatnya sekolah dituntut untuk merumuskan dan memiliki perencanaan strategis meliputi: pertama, formulasi strategis memuat visi, misi, tujuan dan rumusan program strategis empat tahunan dalam bentuk rencana kerja jangka menengah; kedua, implementasi strategis memuat program strategis tahunan berupa rencana kegiatan dan anggaran berdasarkan berdasarkan rencana jangka menengah. Dalam mengimplementasikan perencanaan strategis di sekolah, maka tiap sekolah menjalankan proses yang berupa langkah-langkah atau cara-cara tertentu agar perencanaan strategis dapat disusun secara efektif dan efisien. Tiap sekolah tentu memiliki langkah-langkah yang berbeda-beda disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada disekolahnya. Sekolah akan menghasilkan sebuah perencanaan strategis yang baik apabila dalam penyusunannya menggunakan metode yang baik pula. Perencanaan strategis di sekolah dibutuhkan sebagai bentuk usaha antisipasi terhadap perubahan atau masalah di sekolah yang perlu diselesaikan. Antisipasi
9

Depdiknas, Permendiknas RI No 19 Th. 2007 Tentang Standar Pengelolaan Oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (Jakarta, 2007), h. 3-5

masalah itu bisa sederhana dan bisa juga kompleks. Apapun masalah itu apakah sederhana atau kompleks, membutuhkan penyelesaian yang tuntas, artinya penyelesaian itu tidak setengah-setengah sehingga masalah itu tidak muncul lagi dalam waktu yang lama atau untuk selamanya. Untuk menyelesaikan antisipasi masalah ini membutuhkan pikiran-pikiran, analisis-analisis melalui pendekatan tertentu. Dalam melakukan analisis-analisis tersebut sekolah dapat menggunakan salah satu pendekatan analisis atau beberapa model analisis. Dalam hal ini tiap sekolah juga berbeda dalam menggunakan pendekatan analisisnya. Dalam perencanaan membutuhkan pendekatan rasional kearah tujuan yang telah ditetapkan. Namun demikian, pada prinsipnya dalam perencanaan strategis harus menghasilkan sebuah analisis lingkungan strategis baik ekstenal maupun internal. Analisis dilakukan melalui proses intelektual yang menentukan secara sadar tindakan yang akan dilakukan dan mendasarkan keputusan-keputusan pada tujuan yang hendak dicapai, informasi yang tepat waktu dan dapat dipercaya, serta memperhatikan perkiraan keadaan yang akan datang, sehingga tergambar dengan jelas apa yang menjadi tantangan nyata bagi sekolah ke depan. Dengan adanya tantangan masa depan sekolah, maka dilahirkankan visi, misi, tujuan, dan programprogram strategis yang merupakan wujud dari antisipasi dan solusi masalah yang akan datang. Selain visi, misi, dan tujuan yang harus dijelaskan dalam perencanaan strategis, ia juga diminta memberi alasan yang rasional mengenai program yang dipilih untuk menyongsong perubahan dan menyelesaikan masalah atau mengapa suatu misi harus dipikul. Perencanaan ini dengan misinya harus juga menjelaskan

kondisi tempat perencanaan itu akan dilaksanakan yaitu apa yang akan dikerjakan, siapa yang akan dilibatkan dalam pekerjaan itu, bagaimana persyaratan fasilitasnya, dan kriteria hasil yang bagaimana yang diinginkan. Dalam manajemen strategis perencana sekaligus manajer berusaha

memadukan formulasi dengan implementasi atau pikiran dengan tindakan. Perencanaan belum dianggap cukup hanya merupakan dokumentasi hasil pikiran, melainkan bagaimana proses penciptaan dokumen itu, implementasinya, pelaksanaan hasilnya di lapangan dapat diamankan dari gangguan-gangguan baik yang bersumber dari dalam lembaga pendidikan itu sendiri maupun dari luar lembaga. Implementasi perencanaan strategis dapat dilaksanakan secara efektif atau tidak bisa dilihat dengan melihat tingkat capaian dari target dan sasaran program yang telah ditetapkan. Untuk melihat efektivitas implementasi perencanaan strategis di sekolah dapat dilakukan dengan melakukan monitoring dan evaluasi. Oleh karena itu perencanaan strategis dalam implementasinya akan tergambar faktornya adalah komitmen manajemen. Komitmen itu terutama berupa efektivitasnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas implementasi perencanaan strategis perlu diketahui dan di analisis oleh sekolah. Salah satu kemauan untuk membangun dan mempertahankan disiplin perencanaan, terlibat secara total dalam segala waktu, berbicara tentang rencana sesering mungkin, dan kemudian secara konstan memfokuskan perhatian pada isu-isu perencanaan. Syarafuddin menjelaskan bahwa untuk saat sekarang ini, setiap lembaga pendidikan memerlukan adanya perencanaan strategis dengan menyusun misi, visi, tujuan, sasaran, metode, program dan kegiatan. Ia menegaskan bahwa sebagai salah

10

satu jenis perencanaan, maka keberadaan perencanaan strategis mencakup spektrum kegiatan yang luas dan memerlukan waktu yang lama dalam mewujudkannya dan harus didukung sumber daya yang baik. Hal itu dimaksudkan sebagai perencanaan jangka panjang untuk menjawab tantangan eksternal sekolah yang semakin dinamis dan kompleks. Di sini diperlukan analisis kekuatan, kelemahan (faktor internal organisasi sekolah), dan peluang serta ancaman/tantangan (faktor ekstenal organisasi sekolah). Akhirnya akan diketahui dimana posisi sekolah, mau ke mana sekolah, dan apa masalah krusial yang dihadapi , lalu dibuatlah perencanaan strategis menjangkau masa depan yang lebih baik.10 Ditegaskan juga oleh Bryson bahwa perencanaan strategis telah didefinisikan sebagai upaya yang didisiplinkan untuk membuat keputusan dan tindakan penting yang membentuk dan mengarahkan bagaimana suatu organisasi, apa yang dikerjakan organisasi, dan mengapa melakukan apa yang dikerjakannya itu. Menurutnya arti penting perencanaan strategis berasal dari kemampuannya membangun organisasi secara efektif merespon lingkungan yang telah berubah secara dramatis dan kini di depannya. Ditegaskannya pula bahwa perencanaan strategis dapat membantu orgasnisasi dan komunitas untuk merumuskan dan memecahkan masalah terpenting yang mereka hadapi. Perencanaan strategis dapat membantu organisasi membangun kekuatan dan mengambil keuntungan dari peluang penting, sembari organisasi mengatasi kelemahan dan ancaman serius. Perencanaan strategis dapat membantu organisasi menjadi lebih efektif dalam dunia yang sangat bermusuhan.11

10

129-131.11

Syafaruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2005) hlm.

John M. Bryson,Strategic Planning For Public And Non Profit Organizations, terj. M. Miftahuddin (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 23-24

11

Dalam Manajemen pendidikan Islam perencanaan itu meliputi: a. Penentuan prioritas agar pelaksanaan pendidikan berjalan efektif, prioritas kebutuhan agar melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam proses pendidikan, masyarakat dan bahkan murid. b. Penetapan tujuan sebagai garis pengarahan dan sebagai evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil pendidikan. c. Formulasi prosedur sebagai tahap-tahap rencana tindakan. d. Penyerahan tanggung jawab kepada individu dan kelompok-kelompok kerja.12 Jika dilihat dari posisi pembangunan kelembagaan, maka perencanaan dapat dibedakan kedalam dua kategori, yaitu: a. Perencanaan strategis (strategic planning) Perencanaan strategis dilakukan oleh para perencana yang memperhatikan visi dan misi lembaga yang dikaitkan dengan kepentingan stakeholders serta lingkungan internal dan eksternal lembaga, yang diikuti kajian isu-isu strategis bagi pengembangan prioritas lembaga di masa depan. Perencanaan strategis ini biasanya dilakukan untuk jangka waktu minimum tiga tahun. Perencanaan strategik akhir-akhir ini menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan lingkungan yang sangat pesat dan sangat sulit diprediksikan, seperti perkembangan teknologi yang sangat pesat, pekerjaan manajerial yang semakin kompleks, dan percepatan perubahan lingkungan eksternal lainnya.

12

Ramayulius, Ilmu Pendidikan Islam, (Cet. 1; Jakarta: Kalam Mulia, 2007) h. 271

12

b. Perencanaan operasional (operational planning) Perencanaan operasional merupakan perencanaan internal organisasi yang biasanya terbatas pada mengendalikan proses terjadinya transformasi sistem (input, proses, dan output).13 Apabila perencanaan strategis diimplementasikan secara benar dan komprehensif, tentu sebuah sekolah akan mudah meraih keberhasilannya. Tidak sedikit contoh keberhasilan dan kesuksesan dari lembaga pendidikan karena visi besar dari organisasi maupun pemimpinnya. Namun visi besar tersebut tetap realistis dengan indikator pencapaian yang jelas. Perencanaan strategis

mengarahkan organisasi dan para pemimpin mengembangkan visi dalam menggambarkan masa depan yang dikehendaki. Selain visi, kemudian sekolah memiliki rumusan misi, melakukan analisis lingkungan strategis yang

komprehensif, merumuskan isu-isu strategis, memiliki tujuan jangka panjang dan strategi utama, memiliki tujuan tahunan dan strategi jangka pendek sesuai dengan tujuan jangka panjang dan strategi utama yang telah ditentukan,

mengimplementasikan strategi yang telah dipilih melalui alokasi sumber daya yang dianggarkan, dan mengevaluasi keberhasilan proses strategi sebagai masukan pengambilan keputusan di masa datang. Kesemuanya merupakan tahapan implementasi perencanaan strategis yang menuntun sekolah akan dapat menjawab tantangan perubahan yang begitu cepat dan kompleks serta akan meraih kemenangan dalam persaingan yang semakin ketat.

Syaiful Sagala, Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat Strategi Memenangkan Persaingan Mutu, (Cet. 1; Jakarta: Nimas Multima, 2006) h. 21

13

13

Mahdi bin Ibrahim (l997:63) mengemukakan bahwa ada lima perkara penting untuk diperhatikan demi keberhasilan sebuah perencanaan, yaitu: a. Ketelitian dan kejelasan dalam membentuk tujuan b. Ketepatan waktu dengan tujuan yang hendak dicapai c. Keterkaitan antara fase-fase operasional rencana dengan penanggung jawab operasional, agar mereka mengetahui fase-fase tersebut dengan tujuan yang hendak dicapai d. Perhatian terhadap aspek-aspek amaliah ditinjau dari sisi penerimaan masyarakat, mempertimbangkan perencanaa, kesesuaian perencanaan dengan tim yang bertanggung jawab terhadap operasionalnya atau dengan mitra kerjanya, kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicapai, dan kesiapan perencanaan melakukan evaluasi secara terus menerus dalam merealisasikan tujuan. e. Kemampuan organisatoris penanggungjawab operasional. Dari uraian diatas dapat kita fahami bersama bahwa dalam upaya mencapai keberhasilan dalam perencanaan memerlukan kerjasama, komitmen disertai dengan pengawasan yang berkelanjutan. Namun kenyataannya, unsur perencanaan pendidikan bagi sebagian sekolah masih lebih banyak dijadikan faktor pelengkap, sehingga sering kali tujuan yang telah ditetapkan tidak tercapai secara maksimal. Penyebabnya adalah karena para perencana pendidikan kurang memahami proses dan mekanisme perencanaan dalam konteks yang lebih komprehensif. Selain itu, posisi bidang perencanaan belum merupakan key factor keberadaan suatu lembaga pendidikan, baik pada tingkat

14

makro maupun mikro. Karena itu, sumbangan perencanaan pendidikan terhadap pencapaian visi, misi, dan tujuan lembaga pendidikan belum dirasakan secara optimal.

15

III. PENUTUP A. Kesimpulan Perencanaan memiliki peranan yang amat penting dalam pengelolaan sebuah institusi atau lembaga terutama pada lembaga pendidikan, karena lembaga pendidikan bukanlah menghailkan barang dan jasa tetapi lembaga penidikan merupakan sebuah pabrik yang akan memproduksi generasi-generai yang unggul dalam pretasi dan anggun dalam akhlak, apalagi dengan lembaga yang berlabelkan Islam sebagai pandangan dan pedoman dalam membina dan mengembangkan peserta didik. Perencanaan ini meliputi perencanaan strategis yang diukur dari berbagai sudut pandang baik itu lembaga, lingkungan eksternal, peluang dan sebagainya yang bertujuan mampu mengelola organisasi atau lembaga pendidikan Islam sesuai target dan mencapai sasaran. Sedangkan perencanaan operasional merupakan langkahlangkah nyata dalam pengoperasionalan sebuah lembaga pendidikan Islam. B. Implikasi Perencanaan Strategis bukanlah salah satu yang harus dipelajari secara tekstual belaka, akan tetapi adalah untuk direalisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan semoga dengan semangat dan tekad yang kuat untuk mencari ilmu akan menjadi motivator untuk perubahan terhadap berbagai problematika yang terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia.

16

DAFTAR PUSTAKA Depdiknas, Permendiknas RI No 19 Th. 2007 Tentang Standar Pengelolaan Oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, 2007 Hafhiduddin, Didin dan Tanjung, Hendri, Manajemen Syariah, Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 2003 Handoko, T. Hani, Manajemen Edisi 2, Yogyakarta, 2003 Harjanto, Perencanaan Pembelajaran, cet. 1, Jakarta 1997 http://id.wikipedia.org/wiki/Perencanaan. J. Salusu, Pengambilan Keputusan Strategik, Cet. II; Jakarta: PT. Grasindo, 1998 M. Bryson, John, Strategic Planning For Public And Non Profit Organizations, terj. M. Miftahuddin, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001 Mahdi bin Ibrahim, Amanah dalam Manajemen, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1997 Ramayulius, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. 1; Jakarta: Kalam Mulia, 2007 Richard L. Daft, Management, Cet. 6; Jakarta: Salemba Empat, 2006 Sagala, Syaiful, Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat Strategi Memenangkan Persaingan Mutu, Cet. 1; Jakarta: Nimas Multima, 2006 Stainer, George A., Strategic Planning, New York: The Free Press, 2006 Syafaruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2005

17