Anda di halaman 1dari 33

PERBEDAAN BANK KONVENSIONAL

DENGAN BANK SYARIAH

2009

1
BAB I BANK INDONESIA

Bank Indonesia (BI) adalah Bank Sentral Republik Indonesia yang merupakan lembaga
negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur
tangan pemerintah dan atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal lain yang secara tegas diatur dalam
Undang-Undang tentang Bank Indonesia.

1.1 Visi dan Misi Bank Indonesia

1. Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga Bank Sentral yang dipercaya secara nasional maupun
internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi
yang rendah dan stabil.
2. Misi Bank Indonesia Mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah melalui
pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk
pembangunan nasional jangka panjang yang berkesinambungan.

1.2 Sasaran Strategis Bank Indonesia

1.Terpeliharanya kestabilan moneter


2.Terpeliharanya stabilitas sistem keuangan
3.Terpeliharanya kondisi keuangan BI yang sehat dan akuntabel
4.Meningkatkan efektivitas dan efisiensi manajemen moneter
5.Memelihara SSK melalui efektivitas pengaturan dan pengawasan bank, surveillance sektor
Keuangan, dan manajemen krisis serta mendorong fungsi intermediasi
6.Memelihara keamanan dan efisiensi sistem pembayaran
7.Meningkatkan kapabilitas organisasi, SDM, dan sistem informasi
8.Memperkuat institusi melalui good governance, efektivitas komunikasi dan kerangka hukum
9.Mengoptimalkan pencapaian dan manfaat inisiatif BI.

2
1.3 Rincian Tugas Bank Indonesia

Rincian tugas Bank Indonesia antara lain:


1. Menetapkan sasaran moneter dengan memperhatikan sasaran laju inflasi, melakukan
pengendalian moneter, memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah
kepada bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek, memberikan fasilitas
pembiayaan darurat yang pendanaannya menjadi beban Pemerintah dalam hal suatu bank
mengalami kesulitan keuangan yang berdampak sistemik dan berpotensi mengakibatkan
krisis yang membahayakan sistem keuangan, melaksanakan kebijakan nilai tukar, dan
mengelola cadangan devisa.
2. Menetapkan penggunaan alat pembayaran, mengatur sistem kliring antar bank,
menyelenggarakan kegiatan kliring, menyelenggarakan penyelesaian akhir transaksi
pembayaran antar bank, mengeluarkan dan mengedarkan uang Rupiah serta mencabut,
menarik dan memusnahkan uang dimaksud dari peredaran.
3. Memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan usaha tertentu dari bank,
menetapkan peraturan, melaksanakan pengawasan bank dan mengenakan sanksi terhadap
bank sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

1.4 Organisasi Bank Indonesia

BI dipimpin oleh Dewan Gubernur yang terdiri dari seorang Gubernur, seorang Deputi
Gubernur Senior dan sekurang-kurangnya 4 orang atau sebanyak-banyaknya 7 orang Deputi
Gubernur yang diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan
Rakyat. Untuk membantu DPR dalam melaksanakan fungsi pengawasan di bidang tertentu
terhadap BI, dibentuk Badan Supervisi dalam upaya meningkatkan akuntabilitas, independensi,
transparansi dan kredibilitas Bank Indonesia. Yang dimaksud dengan pengawasan di bidang
tertentu adalah melaksanakan tugas :
• Telaahan atas laporan keuangan tahunan BI;
• Telaahan atas anggaran operasional dan investasi BI;
• Telaahan atas prosedur pengambilan keputusan kegiatan operasional di luar kebijakan

3
moneter dan pengelolaan aset BI.
Secara garis besar, tugas BI dilaksanakan melalui 4 sektor satuan kerja (sektor moneter,
sektor perbankan, sektor sistem pembayaran dan sistem manajemen intern), KBI dan KPW
yang kesemuanya bertanggung jawab kepada Dewan Gubernur.

STRUKTUR ORGANISASI BANK INDONESIA

DKM = Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter


DSM = Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter
DPM = Direktorat Pengelolaan Moneter
DPB1 = Direktorat Pengawasan Bank 1 DHk Direktorat Hukum dan Moneter
DPD = Direktorat Pengelolaan Devisa
Dint = Direktorat Internasional
DPNB = Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan
DPIP = Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan
DPB1 = Direktorat Pengawasan Bank1
DPB2 = Direktorat Pengawasan Bank 2
DPB3 = Direktorat Pengawasan Bank 3
DKBU = Direktorat Kredit, BPR dan UMKM

4
DIMP = Direktorat Investigasi dan Mediasi Perbankan
DPbS = Direktorat Perbankan Syariah
DPU = Direktorat Pengedaran Uang
DASP = Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran
DLP = Direktorat Logistik dan Pengamanan
DTI = Direktorat Teknologi Informasi
DSDM = Direktorat Sumber Daya Manusia
DKI = Direktorat Keuangan Intern
DPI = Direktorat Pengawasan Intern
DHk = Direktorat Hukum dan Moneter
PPSK = Pusat Pendidikan Studi dan Kebanksetralan
UKMI = Unit Khusus Manajemen Informasi
PSHM = Direktorat Perencanaan strategis dan hubungan Masyarakat
BSk = Biro Sekretariat

1.5 Arsitektur Perbankan Indonesia

Arsitektur Perbankan Indonesia (API) merupakan suatu kerangka dasar sistem perbankan
Indonesia yang bersifat menyeluruh dan memberikan arah, bentuk, dan tatanan industri
perbankan untuk rentang waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. Arah kebijakan
pengembangan industri perbankan di masa datang yang dirumuskan dalam API dilandasi oleh
visi mencapai suatu sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien guna menciptakan kestabilan
sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Berpijak dari adanya kebutuhan blue print perbankan nasional dan sebagai kelanjutan dari
program restrukturisasi perbankan yang sudah berjalan sejak tahun 1998, maka Bank Indonesia
pada tanggal 9 Januari 2004 telah meluncurkan API sebagai suatu kerangka menyeluruh arah
kebijakan pengembangan industri perbankan Indonesia ke depan. Peluncuran API tersebut tidak
terlepas pula dari upaya Pemerintah dan Bank Indonesia untuk membangun kembali
perekonomian Indonesia melalui penerbitan buku putih Pemerintah sesuai dengan Inpres No. 5
Tahun 2003, dimana API menjadi salah satu program utama dalam buku putih tersebut.

5
Bertitik tolak dari keinginan untuk memiliki fundamental perbankan yang lebih kuat dan
dengan memperhatikan masukan-masukan yang diperoleh dalam mengimplementasikan API
selama dua tahun terakhir, maka Bank Indonesia merasa perlu untuk menyempurnakan program-
program kegiatan yang tercantum dalam API. Penyempurnaan program-program kegiatan API
tersebut tidak terlepas pula dari perkembangan-perkembangan yang terjadi pada perekonomian
nasional maupun internasional. Penyempurnaan terhadap program-program API tersebut antara
lain mencakup strategi-strategi yang lebih spesifik mengenai pengembangan perbankan syariah,
BPR, dan UMKM ke depan sehingga API diharapkan memiliki program kegiatan yang lebih
lengkap dan komprehensif yang mencakup sistem perbankan secara menyeluruh terkait Bank
umum dan BPR, baik konvensional maupun syariah, serta pengembangan UMKM.

Gambar Arsitektur Perbankan Indonesia

6
1.6 Indikator Perbankan Nasional
dalam Triliunan Rupiah
No Items Sep 2008 Oct 2008 Nov 2008 Dec 2008 Jan 2009 Graph
1 Penghimpunan 1,791.30 1,893.10 1,926.50 1,939.20 1,926.70
Dana
1 Pinjaman 14.30 13.50 13.80 12.90 13.20
yang Diterima
2 Surat 14.40 14.10 14.10 14.30 14.40
Berharga yang
Diterbitkan
3 Dana Pihak 1,601.50 1,674.20 1,707.90 1,753.30 1,745.60
Ketiga (DPK)
a dalam 1,345.00 1,380.00 1,397.30 1,460.40 1,451.60
Rupiah
b dalam Valas 256.50 294.20 310.60 292.80 294.00
4 Antar Bank 161.00 191.30 190.70 158.60 153.50
Pasiva
2 Penyaluran 1,620.10 1,773.60 1,852.40 1,824.30 1,833.90
Dana
1 Sertifikat 87.70 124.40 152.30 166.50 208.50
Bank
Indonesia
2 Surat 75.20 93.40 101.60 83.70 81.00
Berharga
Lainnya **)
3 Antar Bank 163.50 206.00 220.00 213.80 212.30
Aktiva
4 Penyertaan 6.30 6.40 6.50 6.60 6.80
5 Kredit *) 1,287.40 1,343.50 1,371.90 1,353.60 1,325.30
a dalam 1,022.90 1,039.90 1,052.80 1,071.10 1,049.10
Rupiah
b dalam 264.50 303.60 319.10 282.50 276.10
Valuta

7
Asing
3 Asset 2,122.80 2,235.00 2,303.40 2,310.60 2,307.10
4 Permodalan 207.20 205.40 223.80 219.20 224.70
5 Kinerja
1 Non
Performing
Loan
a Nilai 50.00 52.40 55.40 50.90 55.40
b Ratio 3.90 3.90 4.00 3.80 4.20
terhadap
total kredit
(%)
2 Laba/Rugi 39.50 45.90 48.70 48.10 5.20
a Operasional 29.50 32.20 32.70 29.90 -0.30
b Non 10.00 13.60 16.00 18.20 5.50
Operasional
3 Net Interest 9.30 10.60 10.10 10.80 10.40
Margin
6 Catatan
1 Jumlah Bank 126.00 126.00 126.00 124.00 122.00
2 Jumlah 10,556.00 10,556.00 10,661.00 10,936.00 11,134.00
Kantor Bank

*) Termasuk kredit penerusan


**) Tidak termasuk obligasi pemerintah dalam rangka rekapitalisasi

BAB II PERBANKAN

2.1 Bank

Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang mempunyai peranan penting di dalam

8
perekonomian suatu negara sebagai lembaga perantara keuangan. Bank dalam Pasal 1 ayat (2)
UU No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan adalah
badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lain dalam
rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Jenis bank di Indonesia dibedakan menjadi dua
jenis bank, yang dibedakan berdasarkan pembayaran bunga atau bagi hasil usaha:
1. Bank yang melakukan usaha secara konvensional.
2. Bank yang melakukan usaha secara syariah.
Bank konvensional dan bank syariah dalam beberapa hal memiliki persamaan, terutama
dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan,
syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan,
dan sebagainya. Perbedaan mendasar diantara keduanya yaitu menyangkut aspek legal, stuktur
organisasi, usaha yang dibiayai dan lingkungan kerja (Syafi’I Antonio, 2001). Perkembangan
industri keuangan syariah secara informal telah dimulai sebelum dikeluarkannya kerangka
hukum formal sebagai landasan perkembangan keuangan syariah secara informal telah dimulai
sebelum dikeluarkannya hokum formal sebagai landasan operasional perbankan di Indonesia.
Kebutuhan masyarakat tersebut telah terjawab dengan terwujudnya sistem perbankan yang sesuai
syariah. Pemerintah telah memasukkan kemungkinan tersebut dalam undang-undang yang baru.
Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan secara implisit telah membuka peluang
kegiatan usaha perbankan yang memiliki dasar operasional bagi hasil yang secara rinci
dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip
Bagi Hasil. Ketentuan tersebut telah dijadikan sebagai dasar hukum beroperasinya bank syariah
di Indonesia.
Periode 1992 sampai 1998, hanya terdapat satu Bank Umum Syariah dan 78 Bank
Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang telah beroperasi. Tahun 1998 muncul UU No. 10 tahun
1998 tentang perubahan UU No 7 Tahun 1992 tentang perbankan. Perubahan UU tersebut
menimbulkan beberapa perubahan yang memberikan peluang yang lebih besar bagi
pengembangan bank syariah. Undang-undang tesebut telah mengatur secara rinci landasan
hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah.
Undang-undang tersebut juga memberikan arahan bagi bank-bank konvensional untuk membuka
cabang syariah atau mengkonversi diri secara total menjadi bank syariah.

9
Akhir tahun 1999, bersamaan dengan dikeluarkannya UU perbankan maka munculah bank-
bank syariah umum dan bank umum yang membuka unit usaha syariah. Sejak beroperasinya
Bank Muamalat Indonesia (BMI), sebagai bank syariah yang pertama pada tahun 1992, dengan
satu kantor layanan dengan asset awal sekitar Rp. 100 Milyar, maka data Bank Indonesia per 30
Mei 2007 menunjukkan bahwa saat ini perbankan syariah nasional telah tumbuh cepat, ketika
pelakunya terdiri atas 3 Bank Umum Syariah (BUS), 23 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 106
Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), sedangkan asset kelolaan perbankan syariah nasional
per Mei 2007 telah berjumlah Rp. 29 triliyun.
Perkembangan bank umum syariah dan bank konvensional yang membuka cabang syariah juga
didukung dengan tetap bertahannya bank syariah pada saat perbankan nasional mengalami krisis
cukup parah pada tahun 1998. Sistem bagi hasil perbankan syariah yang diterapkan dalam
produk-produk Bank Muamalat menyebabkan bank tersebut relatif mempertahankan kinerjanya
dan tidak hanyut oleh tingkat suku bunga simpanan yang melonjak sehingga beban operasional
lebih rendah dari bank konvensional (Novita Wulandari, 2004).
Hal mendasar yang membedakan antara lembaga keuangan konvensional dengan syariah
adalah terletak pada pengembalian dan pembagian keuntungan yang diberikan oleh nasabah
kepada lembaga keuangan dan/atau yang diberikan oleh lembaga keuangan kepada nasabah
(Muhammad, 2005). Kegiatan operasional bank syariah menggunakan prinsip bagi hasil (profit
and loss sharing). Bank syariah tidak menggunakan bunga sebagai alat untuk memperoleh
pendapatan maupun membebankan bunga atas penggunaan dana dan pinjaman karena bunga
merupakan riba yang diharamkan. Pola bagi hasil ini memungkinkan nasabah untuk mengawasi
langsung kinerja bank syariah melalui monitoring atas jumlah bagi hasil yang diperoleh. Jumlah
keuntungan bank semakin besar maka semakin besar pula bagi hasil yang diterima nasabah,
demikian juga sebaliknya. Jumlah bagi hasil yang kecil atau mengecil dalam waktu cukup lama
menjadi indikator bahwa pengelolaan bank merosot. Keadaan itu merupakan peringatan dini
yang transfaran dan mudah bagi nasabah. Berbeda Sebagai salah satu lembaga keuangan, bank
perlu menjaga kinerjanya agar dapat beroperasi secara optimal. Terlebih lagi bank syariah harus
bersaing dengan bank konvensional yang dominan dan telah berkembang pesat di Indonesia.
Persaingan yang semakin tajam ini harus dibarengi dengan manajemen yang baik untuk bisa
bertahan di industri perbankan. Salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh bank untuk bisa
terus bartahan hidup adalah kinerja (kondisi keuangan) bank.

10
2.2 Institusi Perbankan di Indonesia

Perbankan Indonesia dalam menjalankan fungsinya berasaskan prinsip kehati-hatian.


Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat
serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka
meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas
nasional, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Berdasarkan undang-undang, struktur
perbankan di Indonesia, terdiri atas bank umum dan BPR. Perbedaan utama bank umum dan
BPR adalah dalam hal kegiatan operasionalnya. BPR tidak dapat menciptakan uang giral, dan
memiliki jangkauan dan kegiatan operasional yang terbatas. Selanjutnya, dalam kegiatan
usahanya dianut dual bank system, yaitu bank umum dapat melaksanakan kegiatan usaha bank
konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah. Sementara prinsip kegiatan BPR dibatasi
pada hanya dapat melakukan kegiatan usaha bank konvensional atau berdasarkan prinsip syariah.

Gambar Rekapitulasi Institusi Perbankan di Indonesia Desember 2008

2.3 Bank Umum / Konvensional


Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau
berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran. Bank Umum merupakan bagian dari perbankan nasional yang memiliki fungsi

11
utama sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat serta pemberi jasa dalam lalu lintas
pembayaran. Dengan fungsi utama yang demikian, Bank Umum memiliki peranan yang strategis
dalam menyelaraskan dan menyeimbangkan unsur-unsur pemerataan pembangunan dan hasil-
hasil pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional guna menunjang pelaksanaan
pembangunan nasional. Memperhatikan peranan Bank Umum yang demikian strategis,
perkembangan Bank Umum yang semakin pesat dan tantangan-tantangan, yang dihadapi Bank
Umum yang semakin luas dan bersifat internasional, maka landasan hukum Bank Umum perlu
diperkokoh melalui penyempurnaan ketentuan-ketentuan yang mengatur Bank Umum dan
penerapan prinsip kehati-hatian. Dengan landasan hukum yang semain kokoh tersebut, maka
Bank Umum diharapkan akan lebih mampu melindungi kepentingan masyarakat dan mampu
melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu yang memiliki peran strategis dalam menunjang
pelaksanaanpembangunannasional.

Usaha Bank Umum meliputi :


a. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka,
sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu;
b. memberikan kredit;
c. menerbitkan surat pengakuan hutang;
d. membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas
perintah nasabahnya:
1. surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank yang masa berlakunya tidak l
lebih lama daripada kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud;
2. surat pengakuan hutang dan kertas dagang lainnya yang masa berlakunya tidak lebih lama
dari kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud;
3. kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah;
4. Sertifikat Bank Indonesia (SBI);
5. obligasi;
6. surat dagang berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun;
7. instrumen surat berharga lain yang berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun;
e. memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah;
f. menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik

12
dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana
lainnya;
g. menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan
atau antar pihak ketiga;
h. menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga;
i. melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak;
j. melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga
yang tidak tercatat di bursa efek;
k. membeli melalui pelelangan agunan baik semua maupun sebagian dalam hal debitur tidak
memenuhi kewajibannya kepada bank, dengan ketentuan agunan yang dibeli tersebut wajib
dicairkan secepatnya;
l. melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat;
m. menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah;
n. melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan
Undang-undang ini dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selain melakukan kegiatan usaha tersebut diatas, Bank Umum dapat pula:
a. melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh
Bank Indonesia;
b. melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank atau perusahaan lain di bidang keuangan,
seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, asuransi, serta lembaga kliring
penyelesaian dan penyimpanan, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia;
c. melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit,
dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia; dan
d. bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun sesuai dengan ketentuan
dalam peraturan perundang-undangan dana pensiun yang berlaku.
Yang termasuk Bank Umum adalah semua jenis bank, seperti bank pemerintah, bank swasta,
bank asing dan bank campuran baik bank devisa maupun non devisa. Bank Umum yang ada di

13
Indonesia antara lain:
Bank Persero (BUMN)
Bank persero adalah bank yang sebagian atau seluruh sahamnya dimiliki oleh Pemerintah
Republik Indonesia.
- PT Bank Ekspor Indonesia (Persero)
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
- PT Bank Tabungan Negara (Persero)
- PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk
Bank Swasta
Bank Umum Swasta Nasional Devisa:
- PT Bank Agroniaga Tbk
- PT Bank Antardaerah (Surabaya)
- PT Bank Arta Niaga Kencana (Surabaya)
- PT Bank Artha Graha Internasional Tbk
- PT Bank Buana Indonesia Tbk
- PT Bank Bukopin
- PT Bank Bumi Arta
- PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk
- PT Bank Central Asia Tbk
- PT Bank Century Tbk
- PT Bank Danamon Indonesia Tbk
- PT Bank Ekonomi Raharja
- PT Bank Ganesha
- PT Bank Haga
- PT Bank Hagakita (Surabaya)
- PT Bank Halim Indonesia (Surabaya)
- Bank IFI
- PT Bank Internasional Indonesia Tbk
- PT Bank Kesawan Tbk
- PT Bank Lippo Tbk (Tangerang)

14
- PT Bank Maspion Indonesia (Surabaya)
- PT Bank Mayapada International Tbk
- PT Bank Mega Tbk
- PT Bank Mestika Dharma (Medan)
- PT Bank Metro Express
- PT Bank Muamalat Indonesia
- PT Bank Niaga Tbk
- PT Bank NISP Tbk (Bandung)
- PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (Bandung)
- PT Bank Permata Tbk
- PT Bank Shinta Indonesia
- PT Bank Swadesi Tbk
- PT Bank Syariah Mandiri
- PT Bank Windu Kentjana
- PT Pan Indonesia Bank Tbk
Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa:
- PT Anglomas Internasional Bank (Surabaya)
- PT Bank Akita
- PT Bank Alfindo
- PT Bank Artos Indonesia (Bandung)
- PT Bank Bintang Manunggal
- PT Bank Bisnis Internasional (Bandung)
- PT Bank Dipo International
- PT Bank Eksekutif Internasional
- PT Bank Fama Internasional (Bandung)
- PT Bank Harda Internasional
- PT Bank Harfa
- PT Bank Harmoni International
- PT Bank Himpunan Saudara 1906 (Bandung)
- PT Bank Ina Perdana
- PT Bank Index Selindo

15
- PT Bank Indomonex
- PT Bank Jasa Arta
- PT Bank Jasa Jakarta
- PT Bank Kesejahteraan Ekonomi
- PT Bank Mayora
- PT Bank Mitraniaga
- PT Bank Multi Arta Sentosa
- PT Bank Persyarikatan Indonesia
- PT Bank Purba Danarta (Semarang)
- PT Bank Royal Indonesia
- PT Bank Sinar Harapan Bali (Denpasar)
- PT Bank Sri Partha (Denpasar)
- PT Bank Swaguna
- PT Bank Syariah Mega Indonesia
- PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (Bandung)
- PT Bank UIB
- PT Bank Victoria International Tbk
- PT Bank Yudha Bhakti
- PT Centratama Nasional Bank (Surabaya)
- PT Liman International Bank
- PT Prima Master Bank (Surabaya)
Bank Campuran
Bank Campuran adalah Bank Umum yang didirikan bersama oleh satu atau lebih Bank Umum
yang berkedudukan di Indonesia dan didirikan oleh WNI (dan/atau badan hukum Indonesia yang
dimiliki sepenuhnya oleh WNI), dengan satu atau lebih bank yang berkedudukan di luar negeri.
- PT ANZ Panin Bank
- PT Bank Commonwealth
- PT Bank BNP Paribas Indonesia
- PT Bank Capital Indonesia
- PT Bank DBS Indonesia
- PT Bank Finconesia

16
- PT Bank KEB Indonesia
- PT Bank Maybank Indocorp
- PT Bank Mizuho Indonesia
- PT Bank Multicor
- PT Bank OCBC Indonesia
- PT Bank Rabobank Internasional Indonesia
- PT Bank Resona Perdania
- PT Bank UOB Indonesia
- PT Bank Woori Indonesia
- PT Bank China Trust Indonesia
- PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia
- PT Bank UFJ Indonesia
Bank Asing
- ABN Amro Bank
- American Express Bank Ltd.
- Bank of America, N.A.
- Bank of China Limited
- Citibank N.A.
- Deutsche Bank Ag.
- JP. Morgan Chase Bank, N.A.
- Standard Chartered Bank
- The Bangkok Bank Comp. Ltd.
- The Bank of Tokyo Mitsubishi Ufj Ltd.
- The Hongkong & Shanghai B.C.

2.4 Bank Syariah

Perbankan syariah atau Perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang
dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh
larangan dalam agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang

17
disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram (misal:
usaha yang berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram, usaha media yang tidak islami
dll), dimana hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional.
2.4.1 Sejarah

Perbankan syariah pertama kali muncul di Mesir tanpa menggunakan embel-embel islam,
karena adanya kekhawatiran rezim yang berkuasa saat itu akan melihatnya sebagai gerakan
fundamentalis. Pemimpin perintis usaha ini Ahmad El Najjar, mengambil bentuk sebuah bank
simpanan yang berbasis profit sharing (pembagian laba) di kota Mit Ghamr pada tahun 1963.
Eksperimen ini berlangsung hingga tahun 1967, dan saat itu sudah berdiri 9 bank dengan konsep
serupa di Mesir. Bank-bank ini, yang tidak memungut maupun menerima bunga, sebagian besar
berinvestasi pada usaha-usaha perdagangan dan industri secara langsung dalam bentuk
partnership dan membagi keuntungan yang didapat dengan para penabung.Masih di negara yang
sama, pada tahun 1971, Nasir Social bank didirikan dan mendeklarasikan diri sebagai bank
komersial bebas bunga. Walaupun dalam akta pendiriannya tidak disebutkan rujukan kepada
agama maupun syariat islam.Islamic Development Bank (IDB) kemudian berdiri pada tahun
1974 disponsori oleh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam,
walaupun utamanya bank tersebut adalah bank antar pemerintah yang bertujuan untuk
menyediakan dana untuk proyek pembangunan di negara-negara anggotanya. IDB menyediakan
jasa finansial berbasis fee dan profit sharing untuk negara-negara tersebut dan secara eksplisit
menyatakan diri berdasar pada syariah islam.Dibelahan negara lain pada kurun 1970-an,
sejumlah bank berbasis islam kemudian muncul. Di Timur Tengah antara lain berdiri Dubai
Islamic Bank (1975), Faisal Islamic Bank of Sudan (1977), Faisal Islamic Bank of Egypt (1977)
serta Bahrain Islamic Bank (1979). Dia Asia-Pasifik, Phillipine Amanah Bank didirikan tahun
1973 berdasarkan dekrit presiden, dan di Malaysia tahun 1983 berdiri Muslim Pilgrims Savings
Corporation yang bertujuan membantu mereka yang ingin menabung untuk menunaikan ibadah
haji.

Di Indonesia pelopor perbankan syariah adalah Bank Muamalat Indonesia. Berdiri tahun 1991,
bank ini diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah serta dukungan dari
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha muslim. Bank ini
sempat terimbas oleh krisis moneter pada akhir tahun 90-an sehingga ekuitasnya hanya tersisa

18
sepertiga dari modal awal. IDB kemudian memberikan suntikan dana kepada bank ini dan pada
periode 1999-2002 dapat bangkit dan menghasilkan laba. [1].Saat ini keberadaan bank syariah di
Indonesia telah di atur dalam Undang-undang yaitu UU No. 10 tahun 1998 tentang Perubahan
UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan.Hingga tahun 2007 terdapat 3 institusi bank syariah di
Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri dan Bank Mega Syariah.
Sementara itu bank umum yang telah memiliki unit usaha syariah adalah 19 bank diantaranya
merupakan bank besar seperti Bank Negara Indonesia (Persero) dan Bank Rakyat Indonesia
(Persero). Sistem syariah juga telah digunakan oleh Bank Perkreditan Rakyat, saat ini telah
berkembang 104 BPR Syariah.

2.4.2 Prinsip Perbankan Syariah

Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain
untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai
dengan syariah.

Beberapa prinsip/ hukum yang dianut oleh sistem perbankan syariah antara lain:

• Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman dengan
nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.
• Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil usaha
institusi yang meminjam dana.
• Islam tidak memperbolehkan "menghasilkan uang dari uang". Uang hanya merupakan
media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai intrinsik.
• Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua belah pihak harus
mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.
• Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan dalam islam.
Usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan syariah.

19
2.4.3 Produk Perbankan Syariah

Dibedakan dalam 3 (tiga) kategori yang dibedakan berdasar tujuan penggunaannya;

• transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang, dilakukan dengan prinsip
jual beli
• transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip
sewa
• transaksi pembiayaan untuk usaha kerja sama yang ditujukan guna mendapat sekaligus
barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.

1.Prinsip Jual beli

Prinsip jual beli, berhubungan dengan adanya perpindahan kepemilikan barang atau benda.
Tingkat keuntungan Bank ditentukan di depan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual.
Transaksi jual beli dibedakan atas bentuk pembayaran dan penyerahan barang sebagai berikut:

a. Pembiayaan Murabahah

Bank bertindak sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. Harga jual adalah harga beli Bank
dari pemasok ditambah keuntungan. Kedua pihak harus sepakat atas harga jual dan jangka waktu
pembayaran. Harga jual dicantumkan dalam akad jual beli, dan tak berubah selama berlakunya
akad. Dalam transaksi ini barang diserahkan setelah akad, sedangkan pembayaran dilakukan
secara tangguh.

b. Salam

Transaksi jual beli dimana barang yang diperjualbelikan belum ada. Oleh karena itu barang
diserahkan secara tangguh, sedang pembayaran secara tunai. Bank bertindak sebagai pembeli,
nasabah sebagai penjual. Sekilas transaksi ini mirip jual beli ijon, namun dalam salam, kuantitas,
kualitas, harga dan waktu penyerahan barang ditentukan secara pasti. Dalam praktek, barang

20
yang telah diserahkan kepada Bank, maka Bank dapat menjual kembali barang tersebut secara
tunai atau cicilan. Harga jual yang ditetapkan adalah harga beli ditambah keuntungan.

Umumnya transaksi ini diterapkan dalam pembiayaan barang yang belum ada, seperti pembelian
komoditi pertanian oleh bank, untuk kemudian dijual kembali secara tunai atau cicilan.

Ketentuan umum salam:

• Pembelian hasil produksi harus diketahui spesifikasinya secara jelas: jenis,


macam/bentuk, ukuran, mutu dan jumlahnya.
• Bila hasil produksi yang diterima tidak sesuai, maka nasabah harus bertanggung jawab,
antara lain mengembalikan dana yang telah diterima atau mengganti barang sesuai
pesanan.
• Karena Bank tak menjadikan barang yang dibeli/dipesan sebagai persediaan (inventory),
maka Bank dimungkinkan untuk melakukan akad salam pada pihak ketiga. Mekanisme
seperti ini disebut dengan paralel salam.

c. Istishna

Menyerupai salam, namun pembayaran dapat dilakukan oleh bank dalam beberapa termin
pembayaran. Skim istishna dalam Bank Syariah, umum dilakukan untuk pembiayaan manufaktur
dan konstruksi. Spesifikasi barang pesanan harus jelas, seperti: jenis, ukuran, mutu dan jumlah.
Harga jual dicantumkan dalam akad istishna dan tak boleh berubah selama berlakunya akad.

2. Prinsip sewa (Ijarah)

Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat. Bila pada jual beli obyek transaksi
adalah barang, maka pada ijarah obyeknya jasa. Pada akhir masa sewa, bank dapat menjual
barang yang disewakannya kepada nasabah. Harga jual dan harga sewa disepakati pada awal
perjanjian.

3.Prinsip Bagi Hasil

Prinsip bagi hasil dibagi dua, yaitu:

21
a. Musyarakah

Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerja sama untuk
meningkatkan nilai aset yang mereka miliki secara bersama-sama.

Ketentuan umum: Semua modal disatukan untuk dijadikan modal proyek musyarakah dan
dikelola bersama-sama. Setiap pemilik modal berhak turut serta dalam menentukan kebijakan
usaha yang dijalankan oleh pelaksana proyek.

b. Mudharabah

Adalah bentuk kerja sama antara 2 (dua) atau lebih pihak dimana pemilik modal mempercayakan
sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan.

Ketentuan umum:

• Jumlah modal yang diserahkan kepada nasabah selaku pengelola modal, harus secara
tunai, dapat berupa uang tunai atau barang yang dinyatakan nilainya dalam satuan uang.
Jika modal diserahkan secara bertahap, harus jelas tahapannya dan disepakati bersama
• Hasil pengelolaan diperhitungkan dengan 2 (dua) cara: 1) revenue sharing, yang berasal
dari pendapatan proyek, dan 2) profit sharing, dari keuntungan proyek.
• Bank berhak melakukan pengawasan terhadap pekerjaan, namun tak berhak mencampuri
urusan pekerjaan/usaha nasabah.

4. Akad Pelengkap

Untuk mempermudah pelaku pembiayaan, diperlukan akad pelengkap. Meski tak ditujukan
mencari keuntungan, dalam akad pelengkap dibolehkan untuk meminta pengganti biaya-biaya
yang dikeluarkan untuk melaksanakan akad ini. Besar pengganti biaya sekedar untuk menutupi
biaya yang benar-benar timbul.

a. Hiwalah (alih piutang)

22
Fasilitas ini lazim untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan
produksi. Bank mendapat ganti biaya atas jasa pemindahan piutang.

b. Rahn (gadai)

Untuk memberi jaminan pembayaran kembali kepada Bank dalam memberikan pembiayaan.
Barang yang digadaikan wajib memenuhi kriteria:a) Milik nasabah sendiri, b)Jelas ukuran, sifat
dan nilainya, ditentukan berdasar nilai riil pasar, c) Dapat dikuasai, tapi tak boleh dimanfaatkan
oleh bank.

c. Qard

Adalah pinjaman uang.

Aplikasi Qard dalam perbankan, antara lain:

• Sebagai pinjaman talangan haji, dimana nasabah calon haji diberi pinjaman talangan
untuk memenuhi syarat penyetoran biaya perjalanan haji. Pinjaman dilunasi sebelum
berangkat haji.
• Sebagai pinjaman tunai (cash advance) dari produk kartu kredit syariah.

d. Wakalah (perwakilan)

Terjadi bila nasabah memberi kuasa kepada Bank untuk mewakili dirinya melaksanakan
pekerjaan jasa tertentu, seperti pembukuan L/C (Letter of Credit), inkaso dan transfer uang.

e. Kafalah (Bank Garnsi)

Diberikan dengan tujuan untuk menjamin pembayaran suatu kewajiban pembayaran. Bank dapat
mensyaratkan nasabah untuk menempatkan sejumlah dana untuk fasilitas ini sebagai rahn
(gadai), serta Bank dapat pula menerima dana tersebut dengan prinsip wadiah. Bank
diperkenankan mendapat ganti biaya atas jasa yang diberikan.

23
Prinsip operasional syariah yang diterapkan dalam penghimpunan dana masyarakat adalah
prinsip wadiah dan mudharabah.

1. Prinsip Wadiah

Ketentuan umum:

• Keuntungan atau kerugian dari penyaluran dana menjadi hak milik atau ditanggung Bank,
sedang pemilik dana tidak dijanjikan imbalan dan tidak menanggung kerugian. Bank
dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik dana sebagai suatu insentif untuk
menarik dana masyarakat, namun tidak boleh diperjanjikan dimuka.
• Bank harus membuat akad pembukaan rekening yang isinya mencakup izin penyaluran
dana yang disimpan dan persyaratan lain yang disepakati selama tidak bertentangan
dengan prinsip syariah. Khusus bagi pemilik rekening giro, Bank dapat memberikan buku
cek, bilyet giro, dan debit card.
• Terhadap pembukaan rekening ini Bank dapat mengenakan pengganti biaya administrasi
sekedar untuk menutupi biaya yang benar-benar terjadi
• Ketentuan-ketentuan lain yang berkaitan dengan rekening giro dan tabungan tetap
berlaku selama tidak bertentangan dengan prinsip syariah

2. Prinsip Mudharabah

Dalam mengaplikasikan prinsip mudharabah, penyimpan atau deposan bertindak sebagai pemilik
modal, dan bank sebagai mudharib (pengelola). Dana tersebut digunakan Bank untuk melakukan
pembiayaan murabahah atau ijarah seperti yang dijelaskan terdahulu. Dapat pula dana tersebut
digunakan oleh bank untuk melakukan pembiayaan mudharabah. Hasil usaha ini akan dibagi
hasilkan berdasarkan nisbah yang disepakati.

3. Akad pelengkap

Untuk mempermudah pelaksanaan penghimpunan dana, biasanya diperlukan juga akad


pelengkap. Akad pelengkap ini tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, namun ditujukan
untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan. Meskipun tidak ditujukan untuk mencari

24
keuntungan, dalam akad pelengkap ini dibolehkan meminta pengganti biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk melaksanakan akad ini. Besarnya pengganti biaya sekedar untuk menutupi
biaya yang benar-benar timbul.

a. Wakalah (perwakilan)

Terjadi apabila nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan
pekerjaan jasa tertentu, seperti inkaso dan transfer uang.

b.Jasa perbankan

Bank Syariah dapat melakukan berbagai pelayanan jasa perbankan kepada nasabah dengan
mendapat imbalan berupa sewa atau keuntungan. Jasa perbankan tersebut, antara lain:

• Sharf (jual beli valuta asing) : Jual beli valas yang tidak sejenis, penyerahannya harus
dilakukan pada waktu yang sama (spot). Bank mengambil keuntungan dari jual beli valas
ini.
• Ijarah (sewa): Jenis kegiatan ijarah, antara lain penyewaan kotak simpanan (safe deposit
box) dan jasa tata-laksana administrasi dokumen (custodian). Bank dapat imbalan sewa
atas jasa tersebut.

2.4.4 Pengelolaan Dana Bank Syariah

Laju pertumbuhan perbankan syariah di tingkat global tak diragukan lagi. Aset lembaga
keuangan syariah di dunia diperkirakan mencapai 250 miliar dollar AS, tumbuh rata-rata lebih
dari 15 persen per tahun. Di Indonesia, volume usaha perbankan syariah selama lima tahun
terakhir rata-rata tumbuh 60 persen per tahun. Tahun 2005, perbankan syariah Indonesia
membukukan laba Rp 238,6 miliar, meningkat 47 persen dari tahun sebelumnya. Meski begitu,
Indonesia yang memiliki potensi pasar sangat luas untuk perbankan syariah, masih tertinggal
jauh di belakang Malaysia. Tahun lalu, perbankan syariah Malaysia mencetak profit lebih dari
satu miliar ringgit (272 juta dollar AS). Akhir Maret 2006, aset perbankan syariah di negeri jiran
ini hampir mencapai 12 persen dari total aset perbankan nasional. Sedangkan di Indonesia, aset

25
perbankan syariah periode Maret 2006 baru tercatat 1,40 persen dari total aset perbankan. Bank
Indonesia memprediksi, akselerasi pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia baru akan
dimulai tahun ini. Implementasi kebijakan office channeling, dukungan akseleratif pemerintah
berupa pengelolaan rekening haji yang akan dipercayakan pada perbankan syariah, serta
hadirnya investor-investor baru akan mendorong pertumbuhan bisnis syariah. Konsultan
perbankan syariah, Adiwarman Azwar Karim, berpendapat, perkembangan perbankan syariah
antara lain akan ditandai penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk yang dipersiapkan
pemerintah. Sejumlah bank asing di Indonesia, seperti Citibank dan HSBC, bahkan bersiap
menyambut penerbitan sukuk dengan membuka unit usaha syariah. Sementara itu sejumlah
investor dari negara Teluk juga tengah bersiap membeli bank-bank di Indonesia untuk dikonversi
menjadi bank syariah. Kriteria bank yang dipilih umumnya beraset relatif kecil, antara Rp 500
miliar dan Rp 2 triliun. Setelah dikonversi, bank-bank tersebut diupayakan melakukan sindikasi
pembiayaan proyek besar, melibatkan lembaga keuangan global.

Gambar FDR dan LDR

FDR = Financing to Deposit Ratio


LDR = Loan to Deposit

26
Gambar NPF Syariah dan NPL Konvensional.

2.4.5 Penghimpunan Dana Bank Syariah

Selain investor asing, penghimpunan dana perbankan syariah dari dalam negeri akan
didongkrak penerapan office-channeling yang didasari Peraturan BI Nomor 8/3/PBI/2006.
Aturan ini memungkinkan cabang bank umum yang mempunyai unit usaha syariah melayani
produk dan layanan syariah, khususnya pembukaan rekening, setor, dan tarik tunai.Sampai saat
ini, office channeling baru digunakan BNI Syariah dan Permata Bank Syariah. Sejumlah 212
kantor cabang Bank Permata di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, dan
Surabaya sudah dapat melayani produk dan layanan syariah sejak awal Maret lalu. Sementara
tahap awal office channeling BNI Syariah dimulai 21 April 2006 pada 29 kantor cabang utama
BNI di wilayah Jabotabek. Ditargetkan 151 kantor cabang utama BNI di seluruh Indonesia akan
menyusul. General Manager BNI Syariah Suhardi beberapa pekan lalu menjelaskan, untuk
memudahkan masyarakat mengakses layanan syariah, diluncurkan pula BNI Syariah Card. Kartu
ini memungkinkan nasabah syariah menggunakan seluruh delivery channel yang dipunyai BNI,
seluruh ATM BNI, ATM Link, ATM Bersama, dan jaringan ATM Cirrus International di seluruh
dunia. Hasil penelitian dan permodelan potensi serta preferensi masyarakat terhadap bank
syariah yang dilakukan BI tahun lalu menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap

27
perbankan syariah. Namun, sebagian besar responden mengeluhkan kualitas pelayanan, termasuk
keterjangkauan jaringan yang rendah. Kelemahan inilah yang coba diatasi dengan office
channeling. Dana terhimpun juga akan meningkat terkait rencana pemerintah menyimpan biaya
ibadah haji pada perbankan syariah. Dengan kuota 200.000 calon jemaah haji, jika masing-
masing calon jemaah haji menyimpan Rp 20 juta, akan terhimpun dana Rp 4 triliun yang hanya
dititipkan ke bank syariah selama sekitar empat bulan. Dana haji yang terhimpun dalam jumlah
besar dalam waktu relatif pendek akan mendorong munculnya instrumen investasi syariah. Dana
terhimpun itu bahkan cukup menarik bagi pebisnis keuangan global untuk meluncurkan produk
investasi syariah. Di sisi lain, suku bunga perbankan konvensional diperkirakan akan turun.
Menurut Adiwarman, bagi hasil perbankan syariah yang saat ini berkisar 8-10 persen, membuat
perbankan syariah cukup kompetitif terhadap bank konvensional. "Dengan selisih sekitar dua
persen (dari tingkat bunga bank konvensional), orang masih tahan di bank syariah, tetapi lebih
dari itu, iman bisa juga tergoda untuk pindah ke bank konvensional," kata Adiwarman
menjelaskan pola perilaku nasabah yang tidak terlalu loyal syariah. Berdasarkan analisis BI, tren
meningkatnya suku bunga pada triwulan ketiga tahun 2005 juga sempat membuat perbankan
syariah menghadapi risiko pengalihan dana (dari bank syariah ke bank konvensional).
Diperkirakan lebih dari Rp 1 triliun dana nasabah dialihkan pada triwulan ketiga tahun lalu.
Namun, kepercayaan deposan pada perbankan syariah terbukti dapat dipulihkan dengan
pertumbuhan dana pihak ketiga yang mencapai Rp 2,2 triliun pada akhir tahun. Kenaikan
akumulasi dana pihak ketiga perbankan syariah merupakan peluang, sekaligus tantangan, karena
tanpa pengelolaan yang tepat justru masalah akan datang. Perbankan syariah sempat dituding
"kurang gaul" dalam lingkungan pembiayaan karena sejumlah nasabah yang dianggap
bermasalah pada bank konvensional justru memperoleh pembiayaan dari bank syariah. Akan
tetapi, Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia Wahyu Dwi Agung meyakini, dengan
sistem informasi biro kredit BI yang memuat data seluruh debitor, tudingan seperti itu tidak akan
terjadi lagi. Posisi rasio pembiayaan yang bermasalah (non-performing financings) pada
perbankan syariah tercatat naik dari 2,82 persen pada Desember 2005 menjadi 4,27 persen Maret
lalu. Rasio ini dinilai masih terkendali. Kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses layanan
perbankan syariah dan ketersediaan produk investasi syariah tidak akan optimal tanpa promosi
dan edukasi yang memadai tentang lembaga keuangan syariah. Amat dibutuhkan pula jaminan
produk yang ditawarkan patuh terhadap prinsip syariah. Peluang dan potensi perbankan syariah

28
yang besar memang menuntut kerja keras untuk kemaslahatan.

Gambar 1. Jumlah dan Pertumbuhan Dana Perbankan Syariah Indonesia

Gambar Pertumbuhan Aset Bank Syariah.

29
Gambar 6. Peta Posisi bank-bank syariah berdasarkan ROA-ROE.

ROA = Return on Asset


ROE = Return on Equity

Bank konvensional dan bank syariah dalam beberapa hal memiliki persamaan, terutama dalam
sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan,
persyaratan umum pembiayaan, dan lain sebagainya. Perbedaan antara bank konvensional dan
bank syariah menyangkut aspek legal, struktur organisasi, usaha yang dibiayai, dan lingkungan
kerja.

30
BAB III KESIMPULAN

Perbedaan Bank Syariah dan Bank Perbedaan Bank Syariah Bank Konvensional
Konvensional No
1 Falsafah Tidak berdasarkan Berdasarkan bunga
bunga, spekulasi, dan
ketidakjelasan

2 Operasionalisasi
• Dana masyarakat • Dana masyarakat
berupa titipan dan berupa simpanan
investasi yang baru yang harus dibayar
akan mendapatkan bunganya pada saat
hasil jika jatuh tempo.
’diusahakan’ terlebih • Penyaluran pada
dahulu. sektor yang
• Penyaluran pada menguntungkan,
usaha yang halal dan aspek halal tidak
menguntungkan. menjadi
pertimbangan utama.

3 Aspek Sosial Dinyatakan secara Tidak diketahui


eksplisit dan tegas secara tegas
yang tertuang dalam
misi dan visi
organisasi
4 Organisasi Harus memiliki Tidak memiliki
Dewan Pengawas Dewan Pengawas
Syariah Syariah

Tabel perbedaan-perbedaan mendasar antara bank syariah dan bank konvensional

31
1. Akad dan Aspek Legalitas
Akad yang dilakukan dalam bank syariah memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi
karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum Islam. Nasabah seringkali berani
melanggar kesepakatan/perjanjian yang telah dilakukan bila hukum itu hanya
berdasarkan hukum positif belaka, tapi tidak demikian bila perjanjian tersebut
memiliki pertanggungjawaban hingga yaumil qiyamah nanti.
Setiap akad dalam perbankan syariah, baik dalam hal barang, pelaku transaksi, maupun
ketentuan lainnya harus memenuhi ketentuan akad.
2. Lembaga Penyelesai Sengketa
Penyelesaian perbedaan atau perselisihan antara bank dan nasabah pada perbankan
syariah berbeda dengan perbankan konvensional. Kedua belah pihak pada perbankan
syariah tidak menyelesaikannya di peradilan negeri, tetapi menyelesaikannya sesuai
tata cara dan hukum materi syariah.
Lembaga yang mengatur hukum materi dan atau berdasarkan prinsip syariah di
Indonesia dikenal dengan nama Badan Arbitrase Muamalah Indonesia atau BAMUI
yang didirikan secara bersama oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan Majelis
Ulama Indonesia.
3. Struktur Organisasi
Bank syariah dapat memiliki struktur yang sama dengan bank konvensional, misalnya
dalam hal komisaris dan direksi, tetapi unsur yang amat membedakan antara bank
syariah dan bank konvensional adalah keharusan adanya Dewan Pengawas Syariah
yang berfungsi mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan
garis-garis syariah Dewan Pengawas Syariah biasanya diletakkan pada posisi setingkat
Dewan Komisaris pada setiap bank. Hal ini untuk menjamin efektivitas dari setiap
opini yang diberikan oleh Dewan Pengawas Syariah. Karena itu biasanya penetapan
anggota Dewan Pengawas Syariah dilakukan oleh Rapat Umum Pemegang Saham,
setelah para anggota Dewan Pengawas Syariah itu mendapat rekomendasi dari Dewan
Syariah Nasional.
4. Bisnis dan Usaha yang Dibiayai
Bisnis dan usaha yang dilaksanakan bank syariah, tidak terlepas dari kriteria syariah.
Hal tersebut menyebabkan bank syariah tidak akan mungkin membiayai usaha yang

32
mengandung unsur-unsur yang diharamkan. Terdapat sejumlah batasan dalam hal
pembiayaan. Tidak semua proyek atau objek pembiayaan dapat didanai melalui dana
bank syariah, namun harus sesuai dengan kaidah-kaidah syariah.
5. Lingkungan dan Budaya Kerja
Sebuah bank syariah selayaknya memiliki lingkungan kerja yang sesuai dengan
syariah. Dalam hal etika, misalnya sifat amanah dan shiddiq, harus melandasi setiap
karyawan sehingga tercermin integritas eksekutif muslim yang baik, selain itu
karyawan bank syariah harus profesional (fathanah), dan mampu melakukan tugas
secara team-work dimana informasi merata diseluruh fungsional organisasi (tabligh).
Dalam hal reward dan punishment, diperlukan prinsip keadilan yang sesuai dengan
syariah.

33