Anda di halaman 1dari 52

PERFEKTIF HUKUM PERBURUHAN DAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERBURUHAN SERTA ANALISANYA By Timur Abimanyu, SH.

MH Hukum Perburu an1 adalah seperangkat aturan dan norma baik tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur pola hubungan Industrial antara Pengusaha, disatu sisi, dan Pekerja atau buruh disisi yang lain. Tidak ada definisi baku mengenai hukum perburuhan di Indonesia. Buku-buku hukum Perburuhan di dominasi oleh karya-karya Prof. Imam Soepomo. Guru besar hukum perburuhan di Uni ersitas Indonesia. karyanya antara lain ! Pengantar Hukum Perburuhan" Hukum Perburuhan Bidang Hubungan Kerja dan Hukum Perburuhan, Undang-undang dan Peraturan-peraturan. Pas#a $eformasi %ukum Perburuhan karya-karya Prof. Imam &oepomo dianggap oleh sebagian kalangan sudah tidak rele an lagi. hal ini terutama oleh akti is &erikat Buruh dan ad okat perburuhan. meskipun di perguruan tinggi yang ada 'akultas %ukumnya di seluruh Indonesia, masih menggunakan buku-buku karya Imam &oepomo sebagai rujukan (ajib. %ukum perburuhan mengalami perubahan luar biasa radikal, baik se#ara regulatif, politik, ideologis bahkan ekonomi Global, dan proses industrialisasi sebagai bagian dari gerak historis ekonomi politik suatu bangsa dalam perkembanganya mulai menuai momentumnya dan hukum perburuhan, setidaknya menjadi peredam konflik kepentingan antara pekerja dan pengusaha sekaligus. Untuk meredam )onflik, dimana pada faktanya, berbagai hak normatif perburuhan yang mustinya tidak perlu lagi jadi perdebatan, namun kenyataanya Undangundang memberi peluang besar untuk memperselisihkan hak-hak normatif tersebut. memang Undang-undang perburuhan juga mengatur aturan pidanaya namun hal tersebut masih dirasa sulit oleh penegak hukumnya. disamping seabrek kelemahan lain yang kedepan musti segera di#arikan jalan keluarnya. *asa +rde baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto benar-benar membatasi Gerakan &erikat Buruh dan &erikat Pekerja. saat itu +rganisasi Buruh dibatasi hanya satu organisasi &P&I ,&erikat Pekerja &eluruh Indonesia-. .an pola penyelesaia hubungan Industrialpun dianggap tidak adil dan #enderung represif. T/I saat itu, misalnya, terlibat langsung bahkan diberikan (e(enang untuk turut serta menjadi bagian dari Pola Penyelesaian hubungan Industrial. &aat itu, sejarah men#atat kasus-kasus buruh yang terkenal di 0a(a Timur misalnya Marsinah dan lain-lain. Pada 1ra $eformasi benar-benar membuka lebar arus demokrasi. &e#ara regulatif, dan Gradual hukum perburuhan kemudian menemukan momentumnya. hal tersebut terepresentasi dalam tiga paket Undang-Undang perburuhan antara lain! Undang-undang /o. 21 tahun 2333 Tentang &erikat Buruh, Undang-undang /o.14 Tahun 2334 Tentang )etenagakerjaan, dan Undang-Undang /o.2 Tahun 2335 Tentang Penyelesaian Perselisihan %ubungan Industrial ,PP%I-.

.UU. 1657.Bab 8I9, )esejahteraan &osial, Pasal 44! ,1- Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan,,2- :abang-#abang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara, ,4- Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Unsur-Unsur dari hukum perburuhan diantaranya adalah ! serangkaian peraturan, peraturan mengenai suatu kejadian, adanya orang yang bekerja pada orang lain, adanya balas jasa yang berupa upah. Pen!er"ian u#a adalah %ak pekerja;buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha;pemberi kerja kepada pekerja;buruh yang ditetapkan dengan perjanjian kerja. Hubun!an ker$a terjadi karena adanya perjanjian kerja antara majikan dengan pekerja;buruhnya ,biasanya dalam bentuk kontrak tertulis-. Da%ar #er$an$ian ker$a adalah adanya kesepakatan, ke#akapan melakukan perbuatan hokum, adanya pekerjaan yang diperjanjikan dan pekerjaan yang diberikan tidak bertentangan dengan UU, ketertiban umum < kesusilaan. Per$an$ian Ker$a adalah =danya sebuah Perjanjian kerja yang ditanda-tangani oleh kedua belah pihak baik oleh bos atau pemimpin perusahaan dan juga oleh buruh;karya(an. .alam perjanjian kerja tersebut memuat !nama, alamat perusahaan dan jenis usaha, identitas pekerja, jabatan dan jenis pekerjaan,tempat pekerjaan, besarnya upah dan tanda tangan para pihak. $uang >ingkup Hukum Perburuhan terdiri dari 4 lingkup laku hukum yaitu : 1. >ingkup >aku Pribadi ,Personengebied- adalah yang termasuk dalam lingkup ini adalah Buruh, Pengusaha dan pengusaha ,pemerintah-. 2. >ingkup >aku *enurut ?aktu ,Tijdsgebied- ! di dalam %ukum Perburuhan, ada peristi(a -peristi(a tertentu yang timbul pada (aktu berbeda yaitu ! sebelum %ubungan )erja terjadi, pada saat hubugnan kerja terjadi dan sesudah hubungan kerja terjadi 4. >ingkup >aku menurut ?ilayah ,$uimtegebied- ! pembatas (ilayah berlakunya kaedah %ukum Perburuhan men#akup hal @ hal sebagai berikut ! - $egional ! dalam hal ini dapat dibedakan dua (ilayah, yaitu non-sektoral regional dan sektoral regional. - /asional ! dalam hal ini juga men#akup dua (ilayah berlakunya hukum perburuhan, yaitu /on @ &ektoral /asional dan &ektor /asional. >ingkup (aktu menurut hal Ikh(al dapat dilihat dari materi muatan %ukum Perburuhan, maka dapat di golongkan kedalam beberapa hal, diantaranya ! - Permasalahan yang berkaitan dengan %ubungan )erja atau %ubungan Perburuhan. - Permasalahan yang berkaitan dengan Perlindungan 0aminan &osial dan =suransi Tenaga )erja. - Permasalahan yang berkaitan dengan )eselamatan )erja dan )esehatan )erja. - Permasalahan yang berkaitan dengan masalah penyelesaian perselisihan perburuhan dan pemutusan hubungan kerja. - Permasalahan yang berkaitan dengan masalah pengerahan Tenaga )erja dan $ekrutmen. &umber hukum )etenagakerjaan ialah! 1. &umber %ukum ketenagakerjaan dalam artian materiil ,tempat dari mana materi hukum itu diambil-, yang dimaksud dengan sumber hukum materiil atau laAim disebut sumber isi hukum ,karena sumber yang menentukan isi hukum- ialah kesadaran hukum masyarakat yakni kesadaran hukum yang ada dalam masyarakat mengenai sesuatu yang seyogyanya atau seharusnya. Profe or Soedikno !ertoku umo menyatakan bah(a sumber hukum

materiil merupakan faktor yang membantu pembentukan hokum. &umber %ukum *ateriil %ukum )etenagakerjaan ialah Pan#asila sebagai sumber dari segala sumber hukum dimana setiap pembentukan peraturan perundang-undangan bidang ketenagakerjaan harus merupakan pengeja(antahan dari nilai-nilai Pan#asila. 2. &umber %ukum Perburuhan dalam artian formil ,tempat atau sumber dari mana suatu peraturan itu memperoleh kekuatan hukum-. &umber hukum formil merupakan tempat atau sumber dimana suatu peraturan memperoleh kekuatan hukum. 4. &umber formil hukum perburuhan yaitu! a. Perundang-undangan ! Undang-undang merupakan peraturan yang dibuat oleh Pemerintah dengan persetujuan .P$. Berdasarkan ketentuan Pasal II =turan Peralihan UU. 57 maka beberapa peraturan yang lama yang masih berlaku karena dalam kenyataannya belum banyak peraturan yang dibuat setelah kemerdekaan, yaitu!1- ?et, 2- =lgemeen *aatregal an Bestuur, 4- +rdonantie-ordonantie, 5- $egeerings erordening, 7- $egeeringsbesluit, B%oofd an afdeling an arbeid.,Imam &oepomo, 16C2!21-22-. &etelah Indonesia merdeka ada hal yang perlu di#atat bah(a politik hukum kodifikasi sudah ditinggalkan diganti dengan politik hukum yang menga#u pada unifikasi hukum.,=bdul $ahman Budiyono, 1667!15b. Peraturan lainnya ! 1-. Peraturan Pemerintah ! aturan yang dibuat untuk melaksanakan UU, 2-. )eputusan Presiden ! keputusan yang bersifat khusus ,einmalig- untuk melaksanakan peraturan yang ada di atasnya dan 4-. Peraturan atau keputusan instansi lainnya. #. )ebiasaan ! faham yang mengatakan bah(a satu-satunya sumber hukum hanyalah undang-undang sudah banyak ditinggalkan sebab dalam kenyataannya tidak mungkin mengatur kehidupan bermasyarakat yang begitu komplek dalam suatu undang-undang. .isamping itu undang-undang yang bersifat statis itu mengikuti perubahan kehidupan masyarakat yang begitu #epat. )ebiasaan merupakan kebiasaan manusia yang dilakukan berulang-ulang dalam hal yang sama dan diterima oleh masyarakat, sehingga bilamana ada tindakan yang dirasakan berla(anan dengan kebiasaan tersebut dianggap sebagai pelanggaran perasaan hukum. Berkembangnya hukum kebiasaan dalam bidang ketenagakerjaan disebabkan antara lain! 1- Perkembangan masalah-masalah perburuhan jauh lebih #epat dari perindangundangan yang ada. 2- Banyak peraturan yang dibuat jaman %B yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan ketenagakerjaan sedudah Indonesia merdeka. ,=bdul $ahman Budiyono, 1667!17-. d. Putusan adalah putusan yang dikeluarkan oleh sebuah panitia yang menangani sengketasengketa perburuhan, yaitu! 1- Putusan P5P ,Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat-. 2- Putusan P5. ,Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan .aerahPanitia penyelesaian perburuhan sebagai suatu #ompulsory arbitration ,arbitrase (ajib- mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan hukum ketenagakerjaan karena peraturan yang ada kurang lengkap atau tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang. Panitia ini tidak jarang melakukan interpretation ,penafsiran- hukum, atau bahkan melakukan re#ht inding ,menemukan- hukum. *engingat bah(a Undang-undang /omor 22 Tahun 167C tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan dan Undang-undang /omor 12 Tahun 16B5 tentang Pemutusan %ubungan )erja di Perusahaan &(asta sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam rangka untuk memperoleh keadilan dan kepastian hukum maka dikeluarkanlah U/.=/G-U/.=/G $1PUB>I) I/.+/1&I=

/+*+$ 2 T=%U/ 2335 T1/T=/G P1/D1>1&=I=/ P1$&1>I&I%=/ %UBU/G=/ I/.U&T$I=> 2yang menggantikan peraturan sebelumnya. &ebelum terbentuk Pengadilan %ubungan Industrial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76, Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan .aerah dan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat tetap melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. .alam UU /o. 2 Tahun 2335 dimungkinkan penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui jalur yuridis ,litigasi- maupun jalur non yuridis ,non litigasi- seperti perundingan bipartite, arbitrase, konsiliasi serta mediasi. e. Perjanjian ! merupakan peristi(a di mana pihak yang satu berjanji kepada pihak yang lainnya untuk melaksanakan sesuatu hal, akibatnya pihak-pihak yang bersangkutan terikat oleh isi perjanjian yang mereka adakan. )aitannya dengan masalah perburuhan, perjanjian yang merupakan sumber hukum perburuhan ialah perjanjian perburuhan dan perjanjian kerja. Prof. Imam &oepomo menegaskan, karena kadang-kadang perjanjian perburuhan mempunyai kekuatan hukum seperti undang-undang.,Imam &oepomo, 16C2!25f. Traktat adalah perjanjian yang diadakan oleh dua negara atau lebih. >aAimnya perjanjian internasional memuat peraturan-peraturan hukum yang mengikat se#ara umum. &esuai dengan asas Epa#ta sunt ser andaF maka masing-masing negara sebagai re#htpersoon ,publik- terikat oleh perjanjian yang dibuatnya. %ingga saat ini Indonesia belum pernah mengadakan perjanjian dengan negara lain yang berkaitan dengan perburuhan.,&oetikno, 16CC! 25- *eskipun demikian dalam hukum internasional ada suatu pranata seperti traktat yaitu #on ention. Pada hakikatnya #on ention ini merupakan ren#ana perjanjian internasional di bidang perburuhan yang ditetapkan oleh )onperensi Internasional I>+ ,International >abour +rganisation-., &oetikno,16CC! 13-. *eskipun Indonesia sebagai anggota I>+ tetapi tidak se#ara otomatis #on ention tersebut mengikat. &upaya #on ention mengikat maka harus diratifikasi terlebih dahulu. Beberapa #on ention yang telah diratifikasi oleh Indonesia! a. :on ention /o. 6G tentang berlakunya dasar-dasar hak untuk berorganisasi dan untuk berunding yakni dalam UU /o. 1G Tahun 167B. b. :on ention /o. 133 tentang pengupahan yang sama bagi buruh laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan yang sama nilainya, yakni dalam UU /o. G3 Tahun 167C. #. :on ention /o. 123 tentang higyene dalam perniagaan dan kantor-kantor yakni dalam UU /o. 4 Tahun 16B6. .engan berlakunya UU /o. 27 Tahun 166C maka ada beberapa peraturan yang dinyatakan tidak berlaku! 1. +rdonansi Tentang Pengesahan +rang Indonesia Untuk *elakukan Pekerjaan .i >uar /egeri, 2.+rdonansi Tentang Pembatasan )erja =nak .an )erja *alam %ari Bagi ?anita, 4. +rdonansi Tentang )erja =nak .an +rang *uda .i =tas )apal, 5.+rdonansi Untuk *engatur )egiatan-)egiatan *en#ari :alon Pekerja, 7. +rdonansi Tentang Pemulangan Buruh Dang .iterima =tau .iarahkan )e >uar /egeri, B. +rdonansi Tentang Pembatasan )erja =nak-=nak, C. UU /o. 1 Tahun 1671 Tentang Pernyataan . Undang-Undang $epublik Indonesia, /omor 21 Tahun 2333 tentang &erikat Pekerja ; &erikat Buruh, Pasal 5 !,1- &erikat pekerja;serikat buruh, federasi dan konfederasi serikat pekerja;serikat buruh bertujuan memberikan perlindungan, pembelaan hak dan kepentingan, serta meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi pekerja;buruh dan keluarganya, ,2- Untuk men#apai tujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1- serikat pekerja;serikat buruh, federasi dan konfederasi serikat pekerja;serikat buruh mempunyai fungsi ! a. sebagai pihak dalam pembuatan perjanjian kerja bersama dan penyelesaian perselisihan industrial, b. sebagai (akil pekerja;buruh dalam lembaga kerja sama di bidang ketenagakerjaan sesuai dengan tingkatannya, #. sebagai sarana men#iptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, d. sebagai sarana penyalur aspirasi dalam memperjuangkan hak dan kepentingan anggotanya, e. sebagai peren#ana, pelaksana, dan penanggung ja(ab pemogokan pekerja;buruh sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, f. sebagai (akil pekerja;buruh dalam memperjuangkan kepemilikan saham di perusahaan.
2

Berlakunya UU )erja /o. 12 Tahun 165G, G. UU /o. 21 Tahun 1675 Tentang Perjanjian Perburuhan =ntara &erikat Buruh .an *ajikan, 6. UU /o. 4 Tahun 16G7 Tentang Penempatan Tenaga =sing, 13. UU /o. C Tahun 16B4 Tentang Pen#egahan Pemogokan .an =tau Penutupan .i Perusahaan, 0a(atan .an Badan Dang 9ital dan 11. UU /o. 15 Tahun 16B6 Tentang )etentuan Pokok *engenai Tenaga )erja..engan dikeluarkannya UU /o. 24 Tahun 2334 tentang )etenagakerjaan maka UU /o. 27 Tahun 166C tentang )etenagakerjaan dinyatakan tidak berlaku lagi. Pe&ak%anaan Kebi$akan Perburu an 'i In'(ne%ia ) )erugian terhadap lapangan kerja akibat krisis finansial dan ekonomi telah menyebabkan kesulitan hidup bagi pekerja perempuan dan laki-laki, keluarga dan komunitas, dan kian memperparah kemiskinan mereka. *enyadari bah(a pemulihan apapun tidak akan berkelanjutan ke#uali ter#iptanya serta dipertahankannya pekerjaan yang layak dan produktif melalui Pakta >apangan )erja Global ,Global 0obs Pa#t- yang telah diadopsi oleh )onferensi Perburuhan Internasional pada bulan 0uni 2336. 'akta >apangan )erja Global ini berisi portofolio kebijakan untuk mempromosikan pekerjaan, perlindungan sosial yang luas, penghormatan terhadap standard-standar perburuhan internasional, mempromosikan dialog sosial, dan menyeimbangkan ulang kebijakankebijakan seiring dengan masa depan yang lebih berkelanjutkan dan inklusif berdasarkan agenda kerja yang layak serta model yang adil untuk globalisasi. Pelaksanaan dari Pakta >apangan )erja ini adalah merupakan komitment tripartit, yaitu pemerintah, pengusaha dan pekerja;buruh. +leh karena itu, Pakta >apangan )erja Indonesia ,P>)I- juga telah disepakati bersama oleh ketiga unsur tripartit tersebut sebagai bukti komitmen ketiga unsur tripartit untuk melaksanakannya dengan penuh tanggung ja(ab. .ari (akil pekerja;buruh, empat )onfederasi /asional, yaitu! )onfederasi &erikat Pekerja &eluruh Indonesia ,)&P&I-" )onfederasi &erikat Pekerja &eluruh Indonesia ,)&P&I-" )onfederasi &erikat Buruh &ejahtera Indonesia ,)&B&I-,dan" )onfederasi &erikat Pekerja Indonesia ,)&PI-, menjadi penandatangan akta kesepakatan kerja untuk pelaksanaan Pakta >apangan )erja di Indonesia ini di Istana /egara pada tanggal 14 =pril 2311.4 *enindaklanjuti kesepakatan kerja tersebut, empat )onfederasi diatas yang me(akili para pekerja;buruh di Indonesia juga telah sepakat untuk membentuk &ekretariat Bersama ,&ekberguna mengkokohkan kerja dan usaha demi mengembangkan agenda bersama untuk kesuksesan pelaksanaan Pakta >apangan )erja Indonesia ,P>)I-. *enyadari tantangan ekonomi nasional pada khususnya dan dunia pada umumnya, seperti ke#enderungan fleksibilitas pasar kerja, maraknya tenaga kerja paruh (aktu, ke#enderungan menggunakan tenaga kerja perempuan, peningkatan bentuk-bentuk pekerjaan non-standar, pemborongan pekerjaan dan kerja kontrak yang tidak sesuai dengan aturan dan penempatan pekerja;buruh pada tempat kerja yang berbahaya tanpa perlindungan yang layak, semakin mendorong empat )onfederasi untuk mengambil tindakan-tindakan yang lebih strategis se#ara bersama-sama untuk melindungi kepentingan pekerja;buruh. .isamping itu juga, melalui &ekretariat Bersama empat )onfederasi ini, kita bisa memberikan desakan dan . Undang-Undang $epublik Indonesia, /omor 21 Tahun 2333 tentang &erikat Pekerja ; &erikat Buruh, Pasal 27! ,1- &erikat pekerja;serikat buruh, federasi dan konfederasi serikat pekerja;serikat buruh yang telah mempunyai nomor bukti pen#atatan berhak! a. membuat perjanjian kerja bersama dengan pengusaha, b. me(akili pekerja;buruh dalam menyelesaikan perselisihan industrial, #. me(akili pekerja;buruh dalam lembaga ketenagakerjaan, d. membentuk lembaga atau melakukan kegiatan yang berkaitan dengan usaha peningkatan kesejahteraan pekerja;buruh, e. melakukan kegiatan lainnya di bidang ketenagakerjaan yang tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang berlaku, ,2- Pelaksanaan hak-hak sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1- dilakukan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. .an Pasal 2B ! &erikat pekerja;serikat buruh, federasi dan konfederasi serikat pekerja;serikat buruh dapat berafiliasi dan;atau bekerja sama dengan serikat pekerja;serikat buruh internasional dan;atau organisasi internasional lainnya dengan ketentuan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4

pengaruh kuat pada kebijakan ekonomi makro dan sosial pemerintah demi me(akili kepentingan pekerja;buruh se#ara kuat dan satu. .an melalui &ekretariat Bersama ini akan memudahkan empat )onfederasi dalam mengembangkan kebijakan dan aksi bersama khususnya untuk pelaksanaan 'akta >apangan )erja Indonesia dengan mempromosikan satu suara pekerja;buruh dan serikat pekerja;serikat buruh dalam lembaga tripartit. Pada prinsipnya &ekretariat Bersama ini adalah komitmen dan konsensus dari empat )onfederasi untuk bersama-sama melakukan sinkronisasi kebijakan dan aksi bersama yang terkait dengan perlindungan terhadap hak dan kepentingan pekerja;buruh di Indonesia dengan mengambil peran penting se#ara nasional maupun internasional. *aka empat )onfederasi ini melalui &ekretariat Bersama menetapkan kebijakan dan Program =ksinya! 1. )ebijakan *empromosikan Pekerjaaan. 1mpat )onfederasi menegaskan bah(a akibat krisis finansial dan ekonomi telah menyebabkan defisit globalisasi! meningkatnya pekerja;buruh informal dan pekerjaan berbahaya, rendahnya perlindungan terhadap pekerja;buruh pada kontrak kerja fleksibel dan pekerjaan non-standar, tingginya angka ke#elakaan dan kematian ditempat kerja, rendahnya keamanan dan kepastian pekerjaan dengan penyalahgunaan kontrak kerja yang dilakukan dengan menggunakan agen tenaga kerja atau melalui outsour#ing yang mana prinsip ini adalah sebagai keputusan sadar pengusaha untuk membatasi jumlah angkatan kerja permanen. 1mpat )onfederasi ini memahami bah(a kondisi-kondisi kerja tersebut diatas se#ara sadar diakui oleh pengusaha guna memaksimalkan flesibilitas untuk mendapatkan alternatif paling murah sebagai bagian dari desakan pasar untuk memperoleh keuntungan yang maksimal. +leh karenanya, empat )onfederasi dan serikat pekerja;serikat buruh anggotanya sering mendapatkan hambatan dalam mengidentifikasikan siapa yang harus bertanggung ja(ab ketika mun#ul persoalan perburuhan, karena persoalan besar disini adalah ketika hubungan antara pengusaha dan pekerja;buruh tidak jelas ataupun tidak ada karena kondisi yang telah dibuat tadi. .an juga pada kondisi ini pekerja;buruh pada pekerjaan diatas biasanya tidak dilindungi oleh undang-undang perburuhan ataupun perlindungan jaminan sosial, dan juga hambatan bagi mereka untuk bergabung dengan serikat pekerja;serikat buruh. +leh karena itu empat )onfederasi berkomitment untuk program aksinya! a- *empromosikan pekerjaan yang layak karena penting untuk kesejahteraan manusia. .isamping itu pekerjaan yang layak memberikan penghasilan dan membuka jalan menuju perbaikan ekonomi. b- *elakukan pengornisasian dan penguatan bagi para pekerja;buruh untuk kampanye perlindungan dan kepastiaan pekerjaan melalui peraturan perundangundangan. #- *enguatkan kapasitas serikat pekerja;serikat buruh dalam memperbaiki kondisi dan syarat @ syarat kerja melalui perjanjian kerja bersama yang berkualitas. d- *enguatkan suara pekerja;buruh dalam lembaga tripartit nasional dan daerah dengan mendorong pengusaha dan pemerintah dalam agenda keamanan dan kepastian pekerjaan demi perbaikan status hubungan kerja pekerja;buruh. e- *endorong pemerintah dan pengusaha untuk perbaikan standar- standard ketenagakerjaan, termasuk kebebasan berserikat dan hak atas perundingan bersama. 2. )ebijakan Perlindungan &osial Dang >uas Bagi &emua Pekerja;Buruh Pengesahan Undang-Undang ,UU- &istem 0aminan &osial /asional /o. 53 tahun 2335 dan )eputusan *enteri /o. 25 Tahun 233B, maka 0aminan &osial Tenaga )erja ,0amsostek- telah memberikan manfaat komprehensif dengan menambah jumlah manfaat yang dita(arkan oleh program 0amsosnas, dan memperluas jangkauan pelayanan 0amsosnas kepada lebih

banyak pekerja;buruh Indonesia, baik di sektor formal maupun informal. .an juga pengesahaan Undang-Undang Badan Penyelenggara 0aminan &osial ,UU BP0&- /o. 25;23115 pada bulan /o ember 2311 lalu telah membuktikan bah(a strategi memperbaiki kesejahteraan pekerja;buruh adalah juga upaya perbaikan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia yang merupakan suatu amanat konstitusi dan pen#apaian mandat keadilan dan perlindungan sosial yang layak dan memadai bagi semua. .i samping itu, sistem-sistem jaminan sosial yang sudah diren#anakan tidak menimbulkan beban ekonomi baru bagi pengusaha dan pemerintah tetapi justru akan meningkatkan kinerja ekonomi sehingga dapat membantu meningkatkan daya saing mereka. +leh karena itu empat )onfederasi berkomitment untuk program aksinya. a- memperluas jangkauan perlindungan sosial bagi semua kelompok masyarakat dan para pekerja;buruh dalam memperbaiki kondisi kerja dan keselamatan di tempat kerja. b- mendorong pelaksanaan undang-undang yang berlaku dan monitoring dengan melakukan ad okasi kampanye se#ara nasional dan daerah. #- menguatkan kapasitas pekerja;buruh dan serikat pekerja;serikat buruh se#ara nasional dan daerah dalam memahami kebijakan perlindungan sosial sebagai mekanisme komprehensif bagi perlindungan pekerja;buruh yang meliputi manfaat asuransi bagi pekerja;buruh yang sedang mengganggur, manfaat pensiun dan jaminan hari tua, manfaat tunjangan jaminan kesehatan dan juga manfaat perlindungan )4 ,)eselamatan dan )esehatan )erja-, manfaat program pelatihan dan training bagi peningkatan ketrampilan kerja, manfaat perlindungan upah, dan lainnya" d- *enguatkan kapasitas perundingan dengan memasukkan klausal kebijakan perlindungan sosial dalam perjanjian kerja bersama. 4. Pelaksanaan &tandar @&tandar Perburuhan Internasional, Terutama )ebebasan Berserikat dan %ak Untuk Berunding Bersama *elindungi dan membela hak pekerja;buruh adalah menjadi komitmen utama empat )onfederasi ini bah(a semua pekerja;buruh tanpa pembedaan apapun untuk menikmati dan mendapatkan perlindungan atas hak dan kepentingan mereka sebagai pekerja;buruh. Tetapi tidak dipungkiri bah(a kondisi pelaksanaan pasar bebas di Indonesia telah menghilangkan sebagian atau seluruh hak dan kepentingan pekerja;buruh ini. %al ini dapat diidentifikasi melalui tidak dilaksanakan standarstandar minimum perburuhan yang berlaku dan berdampak pada rendahnya kondisikondisi kerja dan perlindungan terhadap para pekerja;buruh ditempat kerja. &ehingga memun#ulkan kasus pelanggaran hak pekerja;buruh karena banyak pengusaha mengabaikan peraturan yang ada dan tidak menaati untuk menjalankannya, disamping itu juga sistem penga(asan pemerintah dalam hal ini dinas tenaga kerja dan transmigrasi sangatlah lemah. %al ini tentunya menghambat serikat pekerja;serikat buruh dalam menegakkan hak dan kepentingan pekerja;buruh ditempat kerja. Banyak kasus perburuhan terkait dengan pelanggaran hak untuk kebebasan berserikat dan hak untuk berunding bersama. Pemerintah dan pengusaha semakin tidak bertoleransi terhadap serikat pekerja;serikat buruh. Tantangan ini terkait dengan pengakuan kebebasan berserikat yang di#erminkan melalui kurangnya perlindungan terhadap diskriminasi serikat . Undang-Undang $epublik Indonesia, /omor 21 Tahun 2333 tentang &erikat Pekerja ; &erikat Buruh, Pasal 2G ! &iapapun dilarang menghalang-halangi atau memaksa pekerja;buruh untuk membentuk atau tidak membentuk, menjadi pengurus atau tidak menjadi pengurus, menjadi anggota atau tidak menjadi anggota dan;atau menjalankan atau tidak menjalankan kegiatan serikat pekerja;serikat buruh dengan #ara! a. melakukan pemutusan hubungan kerja, memberhentikan sementara, menurunkan jabatan, atau melakukan *utasi, b. tidak membayar atau mengurangi upah pekerja;buruh, #. melakukan intimidasi dalam bentuk apapun, d. melakukan kampanye anti pembentukan serikat pekerja;serikat buruh. dan Pasal 26 ! ,1- Pengusaha harus memberi kesempatan kepada pengurus dan;atau anggota serikat pekerja;serikat buruh untuk menjalankan kegiatan serikat pekerja;serikat buruh dalam jam kerja yang disepakati oleh kedua belah pihak dan;atau yang diatur dalam perjanjian kerja bersama, ,2- .alam kesepakatan kedua belah pihak dan;atau perjanjian kerja bersama sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1- harus diatur mengenai! a. jenis kegiatan yang diberikan kesempatan, b. tata #ara pemberian kesempatan, #. pemberian kesempatan yang mendapat upah dan yang tidak mendapat upah.
5

pekerja;serikat buruh dan kesulitan yang dihadapi oleh pekerja;buruh dalam mendirikan serikat pekerja;serikat buruhnya dan hak mereka untuk melaksanakan perundingan kerja bersama khususnya bagi pekerja;buruh dalam relasi kerja yang tidak pasti atau pekerja;buruh sub-kontrak;outsour#ing. Indonesia adalah negara di =sia yang pertama kali meratifikasi semua )on ensi Inti I>+, namun demikian, pengakuan pada ketentuan dari )on ensi seringkali terhalang oleh hambatan serius dimana peraturan perundang-undangan tidak mampu menjamin se#ara memuaskan jaminan yang ditetapkan )on ensi yang menyangkut langkahlangkah perlindungan terhadap pelanggaran hak pekerja;buruh dan serikat pekerja;serikat buruh. +leh karenanya, kondisi ini menjadi perhatian serius keempat )onfederasi untuk pen#apaian hakhak pekerja;buruh sebagai legitimasi akan martabatnya sebagai manusia yang dilindungi oleh hukum, undang-undang dan standard perburuhan internasional. +leh karena itu empat )onfederasi berkomitment untuk program aksinya! a- *elakukan ad okasi kampanye pelaksanaan hak berserikat dan hak berunding bersama khususnya bagi pekerja;buruh kontrak;outsour#ing dan pekerjaan nonstandard. b- *elakukan pengorganisasi dan rekruitmen pekerja;buruh yang belum berserikat. #- *embangun kapasitas pengetahuan dan ketrampilan para pekerja;buruh agar mereka mampu menyuarakan dan berjuang atas hak dan kepentingan mereka ditempat kerja. d- *emastikan pelaksanaan undang-undang dan aturan perburuhan nasional dan juga standard perburuhan internasional, serta mengambil langkah yang tepat bilamana terjadi pelanggaran. e- *elakukan kerjasama dengan serikat pekerja;serikat buruh baik nasional dan internasional dalam membangun institusi kerjasama multilateral guna memastikan dan memasukkan standar perburuhan nasional dan internasional diterapkan dalam kebijakan ekonomi dan perdagangan. 5. *empromosikan Upah Dang >ayak ! 1mpat )onfederasi mengakui bah(a upah yang layak bagi pekerja;buruh adalah perjuangan utama serikat pekerja;serikat buruh untuk memperbaiki kehidupan mereka. +leh karenanya, setiap pekerja;buruh setidaknya mendapatkan bayaran sesuai dengan standar upah minimum yang ditetapkan ,dimana upah tersebut hendaknya bisa men#ukupi kebutuhan dasar pekerja;buruh tersebut bersama keluarga-, atau sesuai dengan upah kelayakan hidup yang mana upah tersebut dapat menjamin standar minimum kehidupan mereka bersama keluarga. )etidak #ukupan upah pekerja;buruh mendorong mereka untuk bekerja lebih lama dengan lembur demi menambah penghasilan tambahan, tetapi tetap tidak men#ukup untuk memenuhi kehidupan layak mereka. .isamping itu juga tren terkini pengurangan giliran ,shift- harian kerja pabrik, memotong jam kerja dan membatasi (aktu lembur mengakibatkan pekerja;buruh mengalami EkekuranganF penghasilan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh empat )onfederasi bersama serikat pekerja;serikat buruh anggotanya untuk mendorong kenaikan upah pekerja;buruh melalui penetapan upah minimum baik se#ara nasional maupun daerah setiap tahunnya. Tetapi juga disadari bah(a rendahnya paradigma pengupahan dan kemampuan berunding (akil pekerja;buruh dalam lembaga tripartit pengupahan mengakibatkan penetapan upah minimum tidak berkembang se#epat kebutuhan hidup. +leh karena itu empat )onfederasi berkomitment untuk program aksinya! a- *empersiapkan kertas posisi serikat pekerja;serikat buruh tentang paradigma pengupahan dan penetapan upah kehidupan layak.

b- *enguatkan posisi perundingan dengan membangun kapasitas serikat pekerja;serikat buruh untuk memperbaiki upah melalui perundingan kerja bersama. #- *enguatkan kemampuan berunding dan pengetahuan para (akil pekerja;buruh dalam lembaga tripartit pengupahan. d- *elakukan lobi nasional dan daerah tentang mengapa pekerja;buruh harus mendapatkan upah yang layak bagi kehidupan mereka dan keluarganya. Men!ua"kan Dia&(! S(%ia& Un"uk Men!ua"kan Pen!aru Na%i(na& .7 Berbasis kepada kebijakan dan program aksi dalam pelaksanaan Pakta >apangan )erja Indonesia ,P>)I- ini, empat )onfederasi telah melakukan identifikasi bah(a strategi membangun perjanjian nasional dengan pemerintah dan pengusaha melalui dialog sosial tripartit menjadi agenda utama untuk perbaikan kebijakan dan aturan perburuhan yang adil dan demi pen#apaian portofolio Pakta >apangan )erja Indonesia ,P>)I- yang telah disepakati se#ara bersama oleh unsur tripartit ini. )arena empat )onfederasi ini per#aya bah(a sosial dialog adalah sebagai unsur penting dalam pen#apaian agenda kerja layak. )emitraan dan dialog sosial adalah komponen yang fundamental, karena melalui dialog sosial yang efektif dan adil antara unsur tripartit ini pada setiap le el pengambilan kebijakan tentunya akan menjamin bagi keberlanjutkan usaha dan tentunya bermanfaat bagi kehidupan pekerja;buruh dan ekonomi nasional se#ara umum. +leh karenanya, empat )onfederasi melalui &ekretariat .Undang-Undang $epublik Indonesia /omor 14 Tahun 2334 tentang )etenagakerjaan ! Pasal 1! .alam undang-undang ini yang dimaksud dengan ! 1. )etenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada (aktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja. 2. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan;atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. 4. Pekerja;buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. 5. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. 7. Pengusaha adalah ! a. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri" b. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang se#ara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya" #. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia me(akili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b yang berkedudukan di luar (ilayah Indonesia. B. Perusahaan adalah ! a. setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik s(asta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja;buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain" b. usahausaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. C. Peren#anaan tenaga kerja adalah proses penyusunan ren#ana ketenagakerjaan se#ara sistematis yang dijadikan dasar dan a#uan dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan. G. Informasi ketenagakerjaan adalah gabungan, rangkaian, dan analisis data yang berbentuk angka yang telah diolah, naskah dan dokumen yang mempunyai arti, nilai dan makna tertentu mengenai ketenagakerjaan. 6. Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produkti itas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan atau pekerjaan. 13. )ompetensi kerja adalah kemampuan kerja setiap indi idu yang men#akup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. 11. Pemagangan adalah bagian dari sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan se#ara terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja se#ara langsung di ba(ah bimbingan dan penga(asan instruktur atau pekerja;buruh yang lebih berpengalaman, dalam proses produksi barang dan;atau jasa di perusahaan, dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu. 12. Pelayanan penempatan tenaga kerja adalah kegiatan untuk mempertemukan tenaga kerja dengan pemberi kerja, sehingga tenaga kerja dapat memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya, dan pemberi kerja dapat memperoleh tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhannya. 14. Tenaga kerja asing adalah (arga negara asing pemegang isa dengan maksud bekerja di (ilayah Indonesia. 15. Perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja;buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat syarat kerja, hak, dan ke(ajiban para pihak. 17. %ubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja;buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah. 1B. %ubungan industrial adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan;atau jasa yang terdiri dari unsur pengusaha, pekerja;buruh, dan pemerintah yang didasarkan pada nilai nilai Pan#asila dan Undang Undang .asar /egara $epublik Indonesia Tahun 1657. 1C. &erikat pekerja;serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja;buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung ja(ab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja;buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja;buruh dan keluarganya.1G. >embaga kerja sama bipartit adalah forum komunikasi dan konsultasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan industrial di satu perusahaan yang anggotanya terdiri dari pengusaha dan serikat pekerja; serikat buruh yang sudah ter#atat instansi yang bertanggung ja(ab di bidang ketenagakerjaan atau unsur pekerja;buruh. 16. >embaga kerja sama tripartit adalah forum komunikasi, konsultasi dan musya(arah tentang masalah ketenagakerjaan yang anggotanya terdiri dari unsur organisasi pengusaha, serikat pekerja;serikat buruh, dan pemerintah. 23. Peraturan perusahaan adalah peraturan yang dibuat se#ara tertulis oleh pengusaha yang memuat syarat syarat kerja dan tata tertib perusahaan. 21. Perjanjian kerja bersama adalah perjanjian yang merupakan hasil perundingan antara serikat pekerja;serikat buruh atau beberapa serikat pekerja;serikat buruh yang ter#atat pada instansi yang bertanggung ja(ab di bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha yang memuat syarat syarat kerja, hak dan ke(ajiban kedua belah pihak. 22. Perselisihan hubungan industrial adalah perbedaan pendapat yang mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja;buruh atau serikat pekerja;serikat buruh karena adanya perselisihan mengenai hak, perselisihan kepentingan, dan perselisihan pemutusan hubungan kerja serta perselisihan antar serikat pekerja;serikat buruh hanya dalam satu perusahaan. 24. *ogok kerja adalah tindakan pekerja;buruh yang diren#anakan dan dilaksanakan se#ara bersama-sama dan;atau oleh serikat pekerja;serikat buruh untuk menghentikan atau memperlambat pekerjaan..........dst
7

Bersama berkomitmen untuk menjalankan kebijakan dan program aksi yang telah disepakati bersama dengan bekerja bersama dengan &erikat Pekerja;&erikat Buruh anggotanya dan organisasi lainnya demi pen#apaian pelaksanaan P>)I se#ara efektif dan konkret. 0ika kita tarik mulai dari jaman orde lama, orde baru sampai kepada jaman 1ra $eformasi, dimana buruh dan kelompoknya dalam lintasan sejarah kekuasaan selalu mempunyai #erita sendiri yang tidak pernah terputus. Perpindahan kekuasaan dari satu reAim kepada reAim lainnya tidak menghilangkan kekhasannya sebagai satu kelompok yang selalu mela(an. Gugatan terhadap ketidakadilan selalu mereka suarakan. 0umlah aksi mereka tidak sependek kata HburuhI, aksi-aksi mereka selalu membuat rekor massa aksi yang banyak. $atusan sampai ribuan buruh tumpah di jalanan. Buruh sebagai satu kelas sosial mempunyai solidaritas dan soliditas yang kuat dalam memperjuangkan hak-hak mereka. 1ksistensi kaum buruh tidak mun#ul se#ara tiba-tiba. )eberadaannya mempunyai historisitas yang panjang. )arl *arJ misalkan menjelaskan bah(a keberadaan kelas pekerja a(alnya lahir dari sistem kapitalisme yang sangat terbatas di era .unia )uno, sistem itu berlanjut pada sistem feodalisme yang berkembang di Aaman pertengahan, dimana seseorang hamba harus menyerahkan sebagian pendapatannya kepada raja-raja. &istem kapitalisme kemudian berpindah lagi pada Industrialisme yang dia(ali oleh re olusi borjuis sekitar akhir abad 1G yang terjadi di beberapa negara 1ropa sebagai dampak tirani raja-raja. In'u%"ria&i%me 'i%ebu" bebera#a #en!ama" %(%ia& %eba!ai #un*ak ka#i"a&i%me k(n"em#(rer. .imana strata sosial hanya akan terbangun menjadi dua kutub yaitu kelas borjuis dan kelas proletariat. )elas borjuis dengan kekuatan produksi, jaringan dan akumulasi modal yang dimilikinya akan mempermudah perampasan hak-hak milik rakyat. Tanah dan sumber penghidupan rakyat akan terbeli dan terkuasai se#ara hukum dan politik oleh kelompok borjuis. &umber penghidupan rakyat akan banyak yang hilang. Pada akhirnya rakyat akan tergantung pada satu satu sumber penghidupan yaitu menjadi pekerja di dunia industri. )elompok ketergantungan inilah yang disebut buruh. &atu kelompok yang rata-rata hidupnya di dunia perkotaan dan tidak mempunyai banyak pilihan dalam sumber pendapatan. %idup mereka sangat tergantung pada dunia industri (alaupun ada sumber pendapatan yang lain tapi kondisi itupun akan tergerus oleh laju persaingan pasar yang tidak seimbang. *enurut )arl *arJ, memang masih akan ada tuan-tuan tanah, kaum borjuis ke#il dan para petani, namun imprealisme industri kontemporer akan menghan#urkan posisi mereka sehingga akhirnya mereka akan tergerus memasuki dua kutub kekuatan kelas yaitu kelas borjuis dan kelas proletariat. &ebagai satu kelas yang mengalami ketergantungan, posisi mereka akan #enderung mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dan tidak manusia(i. &ejarah telah membuktikan betapa penguasaan tanah, akumulasi uang dan modal menjadi historisitas tumbuh suburnya sistem perbudakan. +rang menjadi sangat tidak berharga dalam kuasa uang dan modal. .emikian juga nasib para buruh, mereka akan sangat rentan oleh tindakan-tindakan diskriminatif dan tidak dimanusia(ikan. *ulai pemberian upah yang tidak layak, jaminan kesehatan, hak #uti, hak berpendapat, sampai pada kese(enang-(enangan pemutusan kerja sepihak oleh pengusaha. .alam konteks di ini pemegang modal dan pemangku kebijakan menjadi aktor yang sangat menentukan bagaimana hak-hak buruh diberikan dan diberlakukan. Tulisan ini hendak menguraikan bagaimana sebenarnya pemenuhan dan perlindungan %=* dalam instrumen-instrumen hukum perburuhan di Indonesia. Te(ri 'an Hi%"(ri%i"a% In%"rumen Hukum Perburu an.

)alangan gerakan kaum kritis menegaskan bah(a suatu produk hukum atau perundangundangan tidak akan bisa dilepaskan dari konfigurasi ideologi dan politik yang ada dibelakangnya. Bagi mereka, tidak mungkin eksistensi hukum diisolasi dan ditutupi dari konteks dimana ia berada. )onfigurasi politik dan ideologi pasti sangat mempengaruhi terhadap substansi satu produk hukum dan perundang-undangan. Pendapat ini menegaskan bah(a keberadaan hukum pasti tidak bebas nilai karena pasti dilatari oleh berbagai kepentingan yang bermain di belakangnya. )onfigurasi politik dan ideologi yang bermain dalam proses pembuatan hukum tidak menyurutkan legalitas dan legitimasi satu hukum. )etika satu produk hukum sudah disahkan oleh pemegang otoritas maka produk hukum tersebut menjadi sah. .alam hal ini, hukum akan menjadi tatanan dan aturan sosial yang baku, alaupun penyalahgunaan kekuasaan dimungkinkan terjadi. 9an =peldorn mengatakan, penyalahgunaan hak dianggap terjadi bila seseorang menggunakan haknya dengan #ara bertentangan dengan dengan tujuan untuk mana hak itu diberikan. )eberadaan hukum adalah untuk melindungi kepentingan kepatutan masyarakat. .ialektika politik dan ideologi yang bermain dibalik pembuatan hukum sangat dimungkinkan terjadi penyalahgunaan (e(enang dan melahirkan pelanggaran %=*. .emikian juga dengan hukum perburuhan. )ita tahu keberadaan politik dan hukum perburuhan tidak bisa dilepaskan sama sekali dari ideologi dan politik besar dunia. %ukum perburuhan mempunyai kaitan kuat dengan re olusi borjuis sekitar abad 1G akhir. .imana re olusi saat itu melahirkan satu sistem mikanisasi yang mengubah struktur dan relasi antara majikan dan buruh. &truktur sosial berubah ditandai semakin tersingkirnya produksi ke#il dan semakin membesarnya industri-industri besar. )ondisi ini berakibat pada pembesaran buruh di pabrik-pabrik tetapi tidak sebanding dengan tanggungja(ab pengusaha terhadap pemenuhan hak-hak para buruh. )ondisi pabrik yang tidak sehat, perempuan yang terdiskriminasi, anak-anak yang dipekerjakan, jam kerja yang sangat panjang, upah yang rendah, dan perumahan yang sangat buruk.)ondisi para buruh yang sangat memprihantikan itu, mendorong perla(anan para pekerja yang sangat massif. /egara sebagai pemangku otoritas digugat karena terlihat hanya sekedar menjadi penjaga malam yang menjadi (asit. Tanggungja(ab aktif negara sangat lemah terutama kaitannya dengan semakin membesarnya kekuatan para pemodal. )uatnya gugatan kelas buruh pada akhirnya melahirkan beberapa aturan yang melindungi nasib para buruh. Undang-Undang Perburuhan mun#ul pertama di 1ropa Barat yaitu di Inggris tahun 1G32, 0erman dan Pran#is tahun 1G53, sedangkan di Belanda sudah mun#ul tahun 1GC3. Undang-Undang ini memberikan perlindungan atas kesehatan kerja ,healty- dan keselamatan kerja ,safety-. Pengaturan perburuhan pada (aktu itu tidaklah berjalan mulus. )alaupun ada aturan-aturan perlindungan perburuhan itupun sangat minimalis. /egara pada (aktu itu terkondisikan dalam satu sistem yang pasif yang lebih dikenal sebagai negara penjaga malam ,the night(at#hmam state-. Pengaturan perburuhan dengan eskalasi tuntutan kaum buruh yang membesar pada (aktu itu dianggap para pengusaha sebagai tindakan yang bertentangan dengan hak kebebasan ,liberalisme-. Banyak intelektual pada (aktu itu, salah satunya =dam &mith yang menentang tindakan inter ensi pemerintah dalam melindungi buruh. Pemerintah dike#am =dam &mith karena dianggap telah melanggar terhadap hukum perdangangan dan asas-asas kebebasan berkontrak.&istem falasafah negara yang berkembang pada (aktu ialah laiAeA-faire. &istem ini mengajarkan tentang kebebasan yang tanpa batas atau kebebasan indi idualisme. &alah satu manifestasi kebebasan itu ialah dalam dunia kerja. %ubungan buruh dan majikan harus dibebaskan dari pembatasan-pembatasan siapapun termasuk oleh pemegang otoritas negara. Buruh dan majikan harus bebas menentukan perjanjiannya sendiri, sehingga hubungan kerja yang dibangun dapat diakhiri kapanpun saja oleh salah satu pihak.

'alsafah dan teori laiAeA-faire berkembang #ukup lama dan mendominasi sistem pemerintahan di 1ropa pada (aktu itu.&ampai pada akhirnya, falsafah, teori dan doktrin laiAeA-faire diimbangi oleh teori-teori sosial yang juga berkembang pada (aktu itu. &alah satunya teori oleh *. G. $ood yang berpendapat bah(a undang-undang perlindungan buruh merupakan #ontoh yang memperlihatkan #iri utama hukum sosial yang didasarkan pada teori ketidakseimbangan kompensasi. Teori ini berpijak pada pemikiran bah(a antara pemberi kerja dan penerima kerja ada ketidaksamaan kedudukan se#ara sosial-ekonomis. Penerima kerja sangat tergantung kepada pemberi kerja. %ukum perburuhan selayaknya memberi hak lebih banyak kepada yang lemah daripada pihak yang kuat. %ukum semestinya tidak bertindak sama diantara kedua belah pihak dengan maksud akan terjadi keseimbangan yang sesuai dan menjadi ja(aban atas keadilan umum.Banyak intelektual lainnya yang mendukung pendapat *. G. $ood, diantaranya >e enba#h yang dikenal bapak hukum perburuhan. >abenba#h menyebutkan bah(a hukum perburuhan sebagai penge#ualian darurat karena memuat #ampur tangan negara dalam hubungan kontraktual. &. *ok juga mengatakan bah(a posisi buruh dan pemberi kerja tidak sederajat sehingga negara harus melakukan inter ensi untuk melindungi buruh sebagak kelompok yang lemah. :ommons dan =ndre(s juga mengatakan bah(a jika ada satu persoalan yang tidak sederajat dan terdapat kepentingan umumnya maka negara yang menolak melindungi yang lemah maka negara itu sesungguhnya telah tidak adil, masih ada beberapa intelektual lainnya yang sepakat dengan pandangan di atas. .ialektika teoritik dan falasah hukum perburuhan di atas sangat mempengaruhi terhadap (ajah politik hukum perburuhan di dunia. >ahirnya kesadaran intelektual pembaharu di 1ropa yang menggugat se#ara kritis teori kebebasan tanpa batas dalam laiAeA-faire. )ehadiran para intelektual itu memberikan sumbangsih perlindungan hak-hak kelompok buruh. .i beberapa negara eropa dan jajahannya mun#ul aturan-aturan perburuhan. Termasuk diskriminasi terhadap buruh, pemerintah Belanda tahun 1GC2 menghapuskan larangan berserikat dan berorganisasi ,#oalitie erbod- kaum buruh. Perlindungan dan pemenuhan hak-hak kaum buruh juga tidak bisa dilepaskan dari eksisistensi dan perkembangan teori %=* generasi kedua. *anfred /o(ak mengatakan pen#apaian terbesar dari abad pen#erahan di 1ropa dan bersama dengan doktrin rasionalistik dari hukum kodrat adalah mengakui bah(a setiap indi idu manusia ialah sebagai subyek yang dikaruniai dengan hak-hak yang bertentangan dengan masyarakat dan harus menempatkannya sebagai pusat sistem hukum dan sosial. Pemikiran tentang %=* bersifat kodrati, inheren dan tidak bisa di#abut telah memba(a pergeseran paradigma dalam pemahaman menyeluruh tentang negara dan fungsinya. &e#ara historis, perlindungan buruh oleh negara sesungguhnya diinspirasi oleh kritik aliran sosialisme terhadap pemikiran %=* klasik yang berdimensi sipil dan politik. *enurut )arl *arJ, per(ujudan %=* berdimensi sipil dan politik merupakan lahan persemaian untuk melajunya kapitalisme tanpa tekanan, dan oleh karenanya menjadi penghalang bagi pemenuhan %=* lainnya, terutama sekali berkaitan dengan hak atas kesetaraan. Para filusuf aliran sosialis menolak postulat liberal tentang pemisahan negara dan masyarakat seperti negara yang hanya menjadi penjaga malam. )ritik *arJ dan filusuf sosialis lainnya se#ara definitif bersifat kompatible baik dalam praktek maupun premis filosofisnya dengan gagasan-gagasan tentang perbudakan, kolonialisme, penindasan perempuan dan kelas pekerja. )onsep %=* yang diusung oleh *arJ dan filusuf sosialis lainnya disisi lain bermaksud menerapkan keseteraan nyata melalui inter ensi negara.

&e#ara umum gagasan %=* yang diusung oleh gerakan sosialis ini menjadi generasi %=* kedua yang termaktub dalam instrumen I:&1:$ dan kon ensi-kon ensi I>+ yang diantara muatannya ialah jaminan hak atas pekerjaan dengan upah yang layak, hak atas jaminan sosial, hak atas kesehatan, hak atas tempat kerja yang sehat, hak non diskriminasi laki-laki dan perempuan dan banyak lainnya, dimana negara dalam konteks hak positif ini dituntut untuk bertindak aktif agar hak-hak tersebut dapat terpenuhi dan tersedia. Pemenuhan hak-hak positif negara dalam konteks di atas juga berarti bah(a pemenuhan %=* dalam sektor struktural dan kebijakan-kebijakan, proses implementatif dan dapat terukur dampak sosial perlindungannya. Era K(&(nia& ) In'u%"ria&i%a%i 'an Pe&an!!aran HAM Ter a'a# Buru . Pada abad 16 se#ara resmi bangsa Belanda menjajah /usantara. Belanda menyebut bangsa jajahannya sebagai %india Belanda. Belanda menyebut dirinya sebagai kolonial dan menyebut masyarakat jajahannya sebagai Inlander. &truktur sosial nusantara mereka politisasi dan dibagi menjadi tiga tingkatan etnik" etnik eropa, etnik timur asing, dan etnik inlanders ,pribumi-. )edudukan kelompok-kelompok ini berbeda-beda se#ara hukum, tempat ibadah, ka(asan hunian, makan dan termasuk tempat kuburan. Pendapatan kerja dan gaji kelompok pribumi lebih rendah dibandingkan dengan kelompok 1ropa dan Timur =sing. 1ra kolonialisme Indonesia merupakan masa keterpurukan rakyat Indonesia. *ereka dtindas dan diberlakukan se#ara se(enang-(enang oleh Belanda. &turuktur sosial masyarakat dan penghasilan rakyat pribumi sangatlah tidak manusia(i. &edangkan di sisi yang lain, kolonial belanda bertindak membabi buta dengan mempekerjakan rakyat dengan sistem tanam paksa dan menghapuskan nilai tata asli ekonomi Indonesia. Belanda di a(al kolonialisme memberlakukan sistem kapitalisme industrial khususnya di daerah 0a(a. 0ohn Ingleson mengatakan, pada abad ke-16 ialah abad kun#i dalam sejarah pembangunan Indonesia. Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda bertindak sebagai enterprener dan berusaha mengembangkan industri perkebunan di 0a(a, khususnya industri gula. Pemerintah kolonial memaksa petani di 0a(a untuk menanam tebu guna menghasilkan gula buat kepentingan ekspor dunia. Bumi dan rakyat Indonesia dijadikan proyek oleh kolonial Belanda untuk membangun kekuatan ekonomi raksasa mereka. *odel pembangunan kapitalisme industrial yang dipaksakan oleh kolonial Belanda pada rakyat Indonesia berpangaruh sangat besar terhadap (ajah tatanan sosial masyarakat khususnya di pulau 0a(a. 0ohn Ingleson mengungkapkan bah(a perubahan pesat masyarakat di Pulau 0a(a terlihat dari berkembangnya jumlah penduduk di kota-kota 0a(a. )ota di 0a(a, khususnya Bata ia, &emarang dan &urabaya mengalami perubahan besar baik dari segi penduduk, tata ruang, maupun akumulasi ekonomi. )ota menjadi sumber pendapatan yang begitu menggiurkan dibandingkan dengan sumber pendapatan daerah yang sangat ke#il. Tiga kota" Bata ia, &emarang dan &urabaya mun#ul usaha-usaha baru, seperti bank diantaranya /ederlan#he %andels *aats#hapij ,/%*-, 0a asjhe Bank ,0*- dan perusahaan-perusahaan perkereta apian yang keberadaannya memang sangat menunjang kelan#aran ekspor gula yang menjadi tulang punggung perekonomian %india Belanda. &edangkan disisi yang lain bersamaan dengan laju penanaman modal s(asta Belanda dalam sektor perkebunan, jumlah petani 0a(a tuna(isma juga semakin bertambah. Perkebunan s(asta mengambil tanah-tanah yang belum dibuka rakyat sehingga tanah pertanian yang ada tidak dapat lagi menampung surplus penduduk pedesaan. Para tuna(isma pada saat itu membanjiri kota-kota di 0a(a, khususnya di tiga kota di atas untuk men#ari pekerjaan. *embanjirnya perpindahan penduduk ke kota terjadi pada tahun 1GC3-an dimana perkembangan perkebunan s(asta menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan dan sangat

berkembang pesat. *enurut Ingleson, kota-kota di Pulau 0a(a, pada masa itu, hidup tiga jenis buruh pribumi, meliputi pekerja pribumi tetap, golongan pekerja harian tetap, dan buruh harian lepas. Golongan pekerja tetap terdiri dari para pribumi yang memiliki keterampilan, dan mereka relatif hidup lebih baik dari golongan pekerja harian tetap serta buruh harian yang merupakan mayoritas buruh pribumi di kota. Penggolongan kelas pekerja terkait kekuasaan dikskriminatif reAim kolonial. Para majikan Belanda memberlakukan pembedaan perlakuan yang ketat antara komunitas buruh pribumi dan buruh yang berasal dari para pekerja ,pega(ai- yang berkebangsaan Belanda. Pembedaan itu berimplikasi pada sistem penggajian dan sistem kesejahteraan pekerja. Buruh yang berasal dari pribumi mendapatkan gaji yang lebih ke#il dibandingkan dengan gaji pekerja dari kebangasaan eropa. &e#ara terotik hukum %=* tindakan reAim kolonial ini adalah diskriminatif, rasis dan melanggar %=*. &istem kapitalisme industri Belanda di Indonesia menjadi malapetaka yang maha dahsyat bagi perekonomian Indonesia. Belanda berhasil men#iptakan mikanisme pembangunan sentralistik dan men#iptakan sistem akumulatif pada bangsa-bangsa eropa. &umber pendapatan rakyat yang tergerus oleh persaingan usaha dan memberlakukan para pekerja pribumi yang tidak manusia(i. .alam kenyataannya, kaum buruh sekedar dikondisikan untuk memproduksi se#ara massif usaha-usaha kolonial demi kepentingan pasar internasional, sedangkan praktek pelanggaran %=* terus menerus terjadi seperti pemberian upah yang tidak layak, jam kerja yang tidak sehat, jaminan kesehatan kerja yang tidak terpenuhi sama sekali dan lainnya. &ituasi inilah yang mendorong lahirnya serikat-serikat buruh diantaranya tahun 1637 lahir &erikat Pekerja Pos ,Pos Bond-, tahun 163B lahir &erikat Pekerja Perkebunan ,:ultuur Bonddan &erikat Pekerja Gula ,Kuiker Bond-. 1ksistensi serikat buruh berkembang pesat pada tahun 1G13-1G23-an dan melakukan perla(anan-perla(anan terhadap kese(enang-(enangan kolonial Belanda. &erikat buruh sering sekali melakukan aksi-aksi dan mogok menuntut terhadap perbaikan nasib dan hak para anggota buruh. Tuntutan-tuntatan sarekat buruh ada yang berhasil diantaranya perkebunan yang a(alnya dimonopoli oleh pemerintah kolonial berubah boleh diusahakan oleh modal-modal s(asta, dan sistem kerja paksa berubah menjadi sistem upah kerja bebas. &arikat-sarikat buruh lahir sebagai dampak penindasan dan terbangun untuk mengkritik dan mela(an berbagai kesenjangan yang berlangsung, perla(anan itu kemudian berlanjut pada kesadaran baru tentang pentingnya sebuah kemerdekaan. &istem industrialisme dan sistem kerja paksa yang telah mengalirkan akumulasi ekonomi total pada pemerintahan kolonial, perkebunan-perkebunan yang telah dikuasai, pabrik-pabrik yang menjadi media penyedot sumber daya alam Indonesia, sedangkan rakyat pribumi sekedar menjadi buruh dengan upah yang tidak layak semakin menguatkan kesadaran besar tentang arti sebuah kemerdekaan. =ksi-aksi sarekat buruh berlangsung eskalatif dan meluas. Tidak hanya gugatan terhadap sistem upah yang tidak layak tetapi lebih dari itu ialah ingin membangun kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 162B tokoh-tokoh buruh yang tergabung dalam organisasi P)I seperti =limin, .arsono dan &emaun melakukan pemberontakan. P)I yang dipimpin *uso melakukan pemberontakan bahkan pengrusakanpengrusakan di berbagai daerah dan kota. )ondisi-kondisi itu sengaja di#iptakan untuk men#iptakan membanguan suasana re olusioner yang mereka inginkan untuk mengusir Belanda dari Indonesia. /amun perjuangan mereka mengalami kegagalan karena pemerintah kolonial Belanda bertindak se#ara #epat dengan melakukan penangkapan-penangkapan terhadap aktor-aktor yang dituduh sebagai pemberontak. Pa%*a #eri%"i+a ,-./ ke&(m#(k buru men!a&ami "ekanan 'an in"imi'a%i / yang sangat kuat dari reAim kolonial. Tetapi semangat perla(anan itu tidak pernah padam, kaum buruh
B

.>.0. 9an =peldoorn, Pengantar Ilmu %ukum, PT Pradnya Paramita, 0akarta,

2331, hlm 72.

dan kaum bumiputera bersatu padu mela(an imprealisme dan menuntut kemerdekaan. Bahkan pas#a peristi(a 162B saat itu bermu#ulan tokoh-tokoh seperti &yahrir, .r. &utomo, &uryopranoto, %. =gus &alim dan beberapa lainnya yang terus mengobarkan semangat perla(anan. &ampai pada akhirnya sekitar tahun 1643-an reAim kolonial belanda bisa mengendalikan hiruk pikuk perla(anan kaum buruh, termasuk reAim sesudahnya 0epang. Pas#a menyerahnya Belanda kepada 0epang pada G *aret 1652, 0epang tidak tanggungtanggung memberlakukan kembali diskriminasi terhadap para buruh. 0epang memberlakukan mereka apa yang kita kenal sebagai sistem romusha, satu sistem kerja paksa yang diberlakukan kepada rakyat pribumi. Para pekerja romusha dimanfaatkan oleh pemerintah 0epang untuk membangun berbagai sarana untuk kepentingan perang. $akyat dipekerjakan dengan sangat kasar. *ereka bekerja dari pagi buta sampai petang tanpa makanan dan pera(atan yang memadai. )ekejaman itu tidak berhenti karena di era kolonialisme 0epang, semua kegiatan organisasi politik, sosial dan ekonomi dilarang. Pengkondisian se#ara sistemik ini se#ara tidak langsung menghambat terhadap konsolidasi perla(anan serikat buruh. .iskriminasi dan pelanggaran-pelanggaran %=* terhadap kaum buruh dan pejuang kemerdekaan sangat telanjang di era kolonial. Dia&ek"ika Pen!a"uran Hukum Perburu an 'i Era 0r'e Lama Pada era orde lama, serikat-serikat buruh berkembang dan mempunyai kekuatan yang #ukup besar. &erikat buruh dan orientasinya di a(al kemerdekaan sangatlah ber ariasi, tetapi ariasi itu tetap dalam satu semangat yaitu menjaga api re olusi dan kemerdekaan Indonesia. +rganisasi buruh yang besar dia(ali oleh organisasi buruh yang bernama Barisan Buruh Indonesia ,BBI- yang berdiri 17 &eptember 1657. &e#ara umum pemikiran mereka pada (aktu itu terpe#ah menjadi dua, pertama, pemikiran yang menginginkan sarekat buruh harus berorientasi kepada kepentingan kesejahteraan ekonomi saja. )edua, pemikiran yang menghendaki bah(a tidak #ukup sekedar berorentasi pada kepentingan ekonomi tapi harus bergerak lebih jauh yaitu membangun kekuatan politik. .ua kubu pemikiran mayoritas serikat buruh memilih pilihan kedua dan berdampak pada perpe#ahan afiliasi politik serikat pekerja. .alam kongres mereka akhirnya diputuskan untuk membentuk Partai Buruh Indonesia ,'BIdan mengamanahkan penuntasan re olusi nasional. Pada (aktu itu, serikat buruh yang sangat besar ialah &entral +rganisasi Buruh &eluruh Indonesia ,&+B&I-, eksistensi mereka mendapatkan perhatian serius oleh pemerintahan &oekarno-%atta. %al ini terlihat dari instrumen hukum perburuhan yang sangat menjamin atas hak-hak mereka seperti hak kebebasan berserikat dan berpendapat, hak atas upeti yang layak, hak #uti bagi kaum perempuan, hak ke#elakaan kerja, hak istirahat dan jam kerja, hak tidak di P%) se(enang(enang dan lainnya. Berikut tabel instrumen-instrumen hukum perburuhan di era reAim orde lama, yaitu ! Tabel instrumen-instrumen hukum perburuhan di era reAim orde lama ! 1. UU /o 1 Tahun 1671 tentang pernyataan berlakunya UU /o 12 tahun 165G tentang )erja. Ma"eri ! >arangan mempekerjakan anak, Pembatasan (aktu kerja C jam sehari, 53 jam dalam seminggu, ?aktu istirahat bagi buruh, >arangan mempekerjakan buruh pada hari libur, %ak #uti haid, %ak #uti melahirkan;keguguran dan &anksi pidana pelanggaran terhadap UU ini. 2. UU /o. 2 tahun 1671 tentang pernyataan berlakunya UU /o 44 tahun 165C tentang )e#elakaan )erja. Ma"eri ! 0aminan atas keselamatan kerja, %ak pega(ai penga(as untuk menjamin untuk menjamin pelaksanaan keselamatan kerja, &anksi pidana dalam pelanggaran terhadap UU ini.

4. UU /o. 4 tahun 1671 tentang pernyataan berlakunya UU /o 24 tahun 165G tentang Penga(asan Perburuhan. Ma"eri ! )e(ajiban negara untuk melakukan penga(asan pelaksanaan UU dan peraturan perburuhan, %ak pega(ai penga(as memasuki dan memeriksa tempat usaha, )e(ajiban majikan untuk memberikan keterangan lisan dan tertulis kepada pega(ai penga(as dan &anksi pidana dalam pelanggaran terhadap UU ini. 5. UU /o 21 tahun 1675 tentang Perjanjian Perburuhan antara serikat buruh dan majikan. Ma"eri ! 0aminan perjanjian perburuhan tetap berlaku (alau serikat buruh kehilangan anggotanya, 0aminan perjanjian perburuhan tetap berlaku (alaupun serikat buruh bubar, =turan tentang perjanjian perburuhan lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan perjanjian kerja antara seorang buruh dan majikan, Pembatasan untuk majikan tidak boleh membuat perjanjian perburuhan dengan &erikat Buruh lain yang lebih rendah syarat kerjanya dengan perjanjian perburuhan yang sudah pernah dibuatnya 7. UU /o. 1G tahun 167B tentang Persetujuan )on ensi I>+ /o 6G mengenai berlakunya dasar-dasar dari hak untuk berorganisasi dan untuk berunding bersama. Ma"eri ! Perlindungan hak berserikat ! 1. >arangan diskriminasi karena menjadi anggota serikat buruh dan melakukan aktifitas sebagai buruh, 2. >arangan mendominasi atau melakukan kontrol terhadap serikat buruh. B. UU /o 22 tahun 167C tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan. Ma"eri ! .efinisi mogok yang #ukup luas, meliputi, pertam, tindakan kolektif menghentikan ataupun memperlambat jalannya pekerjaan. )edua, akibat dari perselisihan perburuhan. )etiga, bermaksud untuk menekan majikan atau membantu golongan buruh lain menekan majikan. )eempat, agar menerima hubungan kerja, syarat-syarat kerja dan; atau keadaan perburuhan, Pembentukan P5.;P yang terdiri dari tiga pihak se#ara berimbang jumlahnya ,pemerintah, (akil buruh dan (akil pengusaha-, )etentuan putusan P5.;P bersifat mengikat dan dapat dimintakan eksekusinya ke Pengadilan /egeri, =rbitrase se#ara oluntary, &anksi pelanggaran terhadap UU ini. C. UU /o. 4 tahun 167G tentang Penempatan Tenaga =sing. Ma"eri ) Pengaturan dan pembatasan mempekerjakan tenaga kerja asing yang berarti perlindungan terhadap jaminan pekerjaan bagi (arga negara. 1. UU /o. 12 tahun 16B5 tentang Pemutusan )erja di Perusahaan &(asta. Ma"eri ) Pengusaha harus mengusahakan tidak terjadi P%), >arangan P%) karena sakit selamat tidak melebihi 12 bulan se#ara terus menerus dan karena menjalankan ke(ajiban negara dan ibadah agama, )e(ajiban pengusaha merundingkan P%) kepada &erikat Buruh;Buruh, P%) hanya dengan idAin dari P5.;P, P%) tanpa idAin batal karena hukum dan &elama belum ada idAin pengusaha dan buruh tetap melaksanakan ke(ajibannya. Instrumentasi hukum perburuhan di era orde lama #ukup memberikan jaminan pemenuhan %=* terhadap kaum buruh. /egara sangat melindungi kaum buruh ketika menghadapi berbagai konflik dengan perusahaan. &erikat buruh diberikan peran strategis untuk menyelesaikan dengan baik kasus-kasus buruh dan pengusaha. /egara sebagaimana aturanaturan di atas telah mengikatkan dirinya untuk menga(asi pelaksanaan aturan perburuhan di perusahaan-perusahaan. &ebagai komitmen terhadap pemenuhan %=* di era orde lama, beberapa kon ensi I>+ telah diratifikasi.

Dia&ek"ika Pen!a"uran Hukum Perburu an 'i Era 0r'e Baru Pas#a peristi(a pemberontakan G43&;P)I dan dikeluarkannya &urat Perintah 11 *aret 16BB ,&uper &emar- kepada &oeharto akhirnya &oekarno betul-betul jatuh. &oekarno dijatuhkan oleh *P$& karena dinilai gagal mempertanggungja(abkan amanat pemerintahannya. &oeharto dipilih oleh *P$& menjadi presiden menggantikan &oekarno dan menyebut kekuasaannya sebagai orde baru. &oeharto mengganti jargon-jargon dan sikap politik reAim orde lama yang #enderung pada politik. )ata-kata re olusi dan perla(anan terhadap imprealisme &oekarno diganti dengan janji &oeharto untuk kembali kepada UU. 1657 se#ara murni, konsek(en dan akan melaksanakan politik pembangunan dalam kepemimpinannya. Berangkat dari sistem orde lama yang dianggap gagal, &oeharto pertama-tama melakukan konsolidasi kekuatan militernya, mempersiapkan para intelektual pendukungnya dan melakukan pemantauan terhadap prilaku organisasi rakyat dan substansi produk-produk politik yang dihasilkan oleh orde lama. &alah satu yang mendapat perhatian serius oleh reAim &eoharto ialah memantau dan menge aluasi keberadaan organisasi serikat buruh dan mere ie( terhadap instrumen hukum perburuhan yang dianggap #enderung bergerak pada kehidupan politik. &erikat buruh yang ketika orde lama yang dituduh bergerak pada ranah politik distigmakan reAim +rde Baru sebagai organisasi yang menjadi basis gerakan komunisme di Indonesia. )arena itu, buruh dan organisasinya harus dia(asi, dirombak dan diganti dengan organisasi baru. .i a(al orde baru, dibentuklah *ajelis Permusya(aratan Buruh Indonesia ,*PBI- yang menyatukan seluruh organisasi buruh di Indonesia. Pada 'ebruari 16C4, *PBI berubah nama menjadi 'ederasi Buruh &eluruh Indonesia ,'B&I- sebagai satu-satunya organisasi buruh yang diakui pemerintah. )emudian berubah lagi tahun 16G7 menjadi )onfederasi &erikat Pekerja &eluruh Indonesia ,)&P&I-, dimana seluruh serikat buruh di Indonesia harus berafiliasi dengan )&P&I. &erikat buruh rekayasa +rde Baru tersebut akhirnya tidak lepas dari inter ensi dan tekanan pemerintah. Inter ensi itu salah satunya terlihat dari dibangunnya sistem %ubungan Industrial Pan#asila ,%IP-, larangan berserikat selain organisasi bentukan pemerintah dan larangan aksi mogok karena bertentangan dengan pan#asila. .alam paradigma hubungan industrial pan#asila ,%IP- dinyatakan bah(a pemerintah mempunyai peran untuk mengatur penyebaran dan penggunaan tenaga kerja dengan tekanan pada produktifitas dan pen#apaian manfaat yang sebesar-besarnya. In estasi asing besarbesaran dibuka di Indonesia, sedangkan pada sisi yang lain terjadi pengkerdilan terhadap hakhak sipil dan sosial para buruh dan organisasinya. )ebebasan berpendapat dibatasi, posisi buruh dan organisasisanya dikuasai, hak upah buruh ditekan minimalis, perlindungan buruh tidak terjamin bahkan seringkali terjadi penangkapan dan pembunuhan terhadap anggota buruh yang bersikap kritis, salah satunya adalah buruh *arsinah yang dibunuh karena menjadi aktor demonstrasi menuntut kenaikan U*$. .alam konteks instrumen hukum perburuhan, se#ara umum reAim orde baru membagi aturan perburuhan menjadi dua, aturan yang terkait dengan hak politik kaum buruh dan aturan yang terkait hak ekonomi kaum buruh. &e#ara keseluruhan aturan-aturan tersebut tidak berbentuk Undang-Undang tetapi substansinya sangat diskriminatif terhadap para buruh dan organisasinya. =turan-aturan perburuhan di era orde baru #enderung bertentangan dengan Undang-Undang di atasnya, bertentangan dengan instrumen-instrumen tentang %=* dan kon ensi-kon ensi I>+. Berikut tabel instrumen hak politik kaum buruh di era orde baru, yaitu "

1. =turan dan )ebijakan P1$*1/=)1$ 1;*1/;16C7 ! Ma"eri ) Pembatasan serikat buruh yang dapat didaftarkan di .epartemen Tenaga )erja, Transmigrasi dan koperasi yaitu gabungan serikat buruh yang mempunyai pengurus di daerah minimal di 23 daerah tingkat I dan beranggotakan 17 serikat buruh. 2. =turan dan )ebijakan P1$*1/=)1$ 1;*1/; 16CC! Ma"eri2) Iuran serikat buruh dipungut melalui pengusaha, &erikat buruh (ajib mempertanggungja(abkan keuangan organisasi tingkat basis pabrik kepada *enteri Tenaga )erja, Transmigrasi dan )operasi. 4. =turan dan )ebijakan P1$*1/=)1$ 7;*1/;16G5 ! Ma"eri ) Iuran buruh dipungut se#ara kolektif oleh perusahaan. 5. =turan dan )ebijakan P1$*1/=)1$ 1;*1/;16G7! Ma"eri ) Penyeragaman Pola ))B, &yarat yang membatasi serikat buruh dapat membuat ))B yaitu memilik anggota sekurang-kurangnya 73L dari jumlah buruh di perusahaan. 7. =turan dan )ebijakan P1$*1/=)1$ 7;*1/; 16GC ! Ma"eri ) Persyaratan organisasi yang bisa didaftarkan ke .epnaker. B. =turan dan )ebijakan )1P*1/=)1$ 17 =;*1/;1665 ! Ma"eri ! Pengakuan tunggal negara pada '&P&I untuk perundingan perselisihan perburuhan. C. =turan dan )ebijakan P1$*1/=)1$ 7;*1/;166G ! Ma"eri ! Pendaftaran serikat pekerja yang sebenarnya bentuk peridAinan, Penyeragaman asas organisasi. &elain instrumen-instrumen di atas, masih ada sekitar 14 ,tiga belas- keputusan yang dibuat oleh *enteri" G ,delapan- keputusan itu berisi soal #ampur tangan pemerintah untuk menghegemoni kaum buruh, dan 7 ,lima- selebihnya berisi penegasan tentang pembatasan, pelarangan dan tekanan terhadap buruh. &alah satu dari )eputusan itu ialah )epmen /o. B57;*en;16G7 tentang Pelaksanaan %ubungan Industrial Pan#asila ,%IP-, materi yang terkandung dalam %IP ialah larangan untuk melakukan konflik dan melakukan aksi mogok karena dianggap tidak sesuai dengan prinsip kekeluargaan seperti yang ada dalam Pan#asila. )eputusan yang tegas membatasi ialah )epmen 5;*en;16GB yang menekan hak mogok dan hak pembentukan serikat buruh, dan yang paling diskriminatif diantara )eputusan-keputusan itu ialah )epmen 452;*en;16GB yang menentukan bah(a aparat keamanan ,)orem, )odim dan )ores- ikut #ampur dalam menangani perselisihan perburuhan. Instrumen-instrumen hak politik dengan berbagai keputusan yang ada di atas menegaskan betapa reAim orde baru sangat aktif melakukan pelanggaran %=* terkait hak-hak politik para kaum buruh. *ereka dipersulit bahkan tidak segan-segan dipidana ketika melakukan protes dan aksi-aksi perla(anan terhadap pemegang modal. &ehingga reAim orde baru dengan berbagai peraturan dan kebijakannya tidak bisa disangsikan lagi persekongkolannya dengan para pengusaha. $eAim orde baru mengamankan dengan sungguh-sungguh para in estor yang menjadi Hpartner and #lienI kekuasaanya semisal Bob %asan, &udono &alim ,>iem &iolong-, Tutut, Tommy dan lainnya, dan para pemodal asing seperti :GI, IB$., in estor =&, Tai(an, %ongkong dan lainnya. .iskriminasi dan pelanggaran %=* terhadap kaum buruh tidak hanya tampak dalam hak-hak politik di atas, tetapi juga dalam aturan-aturan buruh yang berkaitan dengan hak-hak ekonominya. Berikut tabel instrumen hukum hak-hak ekonomi kaum buruh yang diproduksi di era orde baru, yaitu !

1. PP. /o. G tahun 16G1 tentang Perlindungan Upah. Ma"eri ) Perlindungan Pembayaran Upah, =sas /o ?ork /o Pay, .alu(arsa tuntutan yang berkaitan dengan hubungan kerja selama 2 tahun. 2. =turan dan )ebijakan Permenaker;*en;16G7! Ma"eri2 ) =turan tentang pekerja harian lepas. 4. =turan dan )ebijakan Permenaker 7;*en;16GB diganti dengan Permenaker 2;*en;1664! Ma"eri ) =turan mengenai kesepakatan kerja (aktu tertentu ,pekerja kontrak-. 5. =turan dan )ebijakan Permenaker 5;*en;16GB diganti dengan Permenaker 4;*en;166B akhirnya menjadi )epmenaker 173;*en;2333 tentang Penyelesaian P%) dan Penetapan Pasangon, Uang 0asa dan Ganti )erugian di Perusahaan s(asta ! Ma"eri ) )etentuan tentang mangkir bagi buruh, $eduksi ke(ajiban untuk menjalankan, hak dan ke(ajiban buruh majikan selama proses P%) dalam UU dengan adanya skorsing terhadap buruh, =turan P%) karena kesalahan berat, tidak akan mendapatkan pasangon, =turan pemberian surat peringatan bagi buruh, *engatur tentang besarnya uang pasangon. 7. =turan dan )ebijakan Permenaker 7;*en;16G6 diganti dengan Permenaker 1;*en;166B akhirnya menjadi Permenaker 4;*en;166C ! Ma"eri ) =turan tentang Upah *inimum. Beberapa muatan instrumen tentang hak ekonomi di atas dianggap para buruh tidak melindungi posisi dan hak-hak mereka. Beberapa aturan tersebut telah mengurangi dengan sedemikian rupa hak-hak ekonomi kaum buruh, salah satunya aturan tentang pekerja harian lepas. Tidak hanya melegitimasi hubungan pekerja harian lepas tapi juga ada ketentuan jumlah bulan dan hari dalam sebulan untuk bekerja harian lepas ,tidak boleh melebihi 4 bulan berturut-turut dan 23 hari bekerja dalam setiap bulannya-. )etentuan ini membuka terhadap praktek eksploitasi pengusaha terhadap kaum buruh pekerja harian lepas. )asus terkait pekerjaan harian lepas pernah ditangani oleh &erikat Buruh 0abotabek Perjuangan. Perusahaan mempekerjakan buruh selama bertahun-tahun pada tempat dan jenis pekerjaan yang sama, tetapi tidak pernah selama 4 bulan berturut-turut. =khirnya buruh harian lepas yang telah bekerja bertahun-tahun itu tetap dalam status yang lama dan mendapatkan hak-hak yang lebih rendah dibandingkan dengan buruh tetap. >ebih parah lagi putusan P5P mengalahkan buruh dengan alasan yang sangat prosedural. )asus-kasus lain masih terjadi seperti aturan kesepakatan kerja (aktu tertentu ,))?T- yang bersifat rigit dan kontraktual, ketentuan tentang uang pasangon dimana pihak perusahaan mempunyai otoritas melakukan skorsing tanpa permintaan idAin P%), dan termasuk aturan tentang upah minimum yang ternyata dalam prakteknya menjadi upah maksimum. Dia&e"ika Pen!a"uran Hukum Perburu an 'i Era Re3(rma%i ) Instrumentasi hukum perburuhan era +rde Baru yang diskriminatif dan penuh dengan pelanggaran %=* akhirnya berujung banyak gugatan. Para buruh menjelang kejatuhan &oeharto terlihat memadati ruas jalan menggugat terhadap ketidakadilan yang menimpa mereka. .alam kondisi terjepit dan krisis finansial yang parah pemerintah +rde Baru akhirnya menyiapkan aturan baru yaitu UU /o. 27 tahun 166C tentang )etenagakerjaan sebagai pengganti seluruh kompilasi aturan buruh. /amun, kaum buruh kembali menolak materi pengaturan UU. /o. 27 tahun 166C, karena organisasi buruh sudah memastikan bah(a aturan baru itu tidak di#iptakan karena tuntutan kaum buruh tetapi lebih dilatarbelakangi oleh syarat dan tekanan lembaga keuangan internasional untuk menjaga stabilitas pasar dan rekayasa ideologisasi neoliberal dalam berbagai Undang-Undang di Indonesia. Tepatnya aturan UU

/o. 27 tahun 166C dibuat sebagai prasyarat pen#airan dana talangan dari I*' sebagaimana terdapat dalam perjanjian >+I ,>etter +f Intent-.Penolakan kaum buruh yang massif berujung pada janji pemerintah untuk membuat aturan baru ,$UU- sebagai turunan dari UU /o. 27 tahun 166C, yang kemudian ber(ujud pada UU /o. 21 tahun 2333 tentang &erikat Pekerja;&erikat Buruh, UU. /o. 14 tahun 2334 tentang )etenagakerjaan, Undang-Undang tentang Penyelesaian Perselisihan %ubungan Industrial ,PP%I- serta UU. /o. 46 tahun 2335 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga )erja Indonesia ,PPT)I-. /amun demikian, materi turunan dari UU /o. 27 tahun 166C tetaplah bernuansa neoliberal dan memberikan ke(enangan besar kepada pemegang modal. )e(enangan pemerintah sangatlah minimalis, #enderung administratif dan tidak inter ensionis terhadap perusahaan-perusahaan. Pengaturan tentang perburuhan pas#a reformasi berbeda sama sekali dengan pengaturan ketika reAim +rde Baru. 1ra +rba sangat inter ensionis, mengatur buruh se#ara ketat dan melindungi pengusaha sebagai #lien bisnisnya sedangkan pengaturan buruh pas#a reformasi perlindungan %=* para buruh dan organisasinya lemah dan memberikan keleluasaan yang kuat kepada pemegang modal dan s(asta. *ateri UU /o. 21 tahun 2333 tentang &erikat Pekerja;Buruh memang mengatur adanya kebebasan untuk berserikat tetapi Undang-Undang ini masih sangat membatasi terhadap keberadaan serikat pekerja ataupun buruh. Beberapa pasal dalam aturan ini sangat ketat mengatur administrasi dan pen#atatan keberadaan organisasi kepada pemerintah. Pembatasan itu dapat diba#a dari bunyi pasal 23 dan seterusnya yang menegaskan soal pen#atatan, nomor bukti, pemberitahuan dan lain sebagainya yang sangat administratif dan mempersulit eksistensi satu serikat buruh. )arena itu, ketika ada problem, persoalan administratif inilah yang kemudian menghambat penyelesaian perkara karena pihak .epartemen Tenaga )erja dan >embaga Penyelesaian Perselisihan Perburuhan ,P5.;P- selalu menjadikan administrasi sebagai persyaratan. &erikat pekerja akhirnya tidak bisa berbuat banyak untuk membela hakhak mereka yang dilanggar oleh pihak perusahaan karena banyak serikat buruh di Indonesia yang dianggap illegal. .itambah lagi, ketika ada kasus pelanggaran aturan seperti P%) massal dan se(enang-(enang, skorsing, dan lainnya yang dilakukan oleh perusahaan dan semestinya negara bertindak aktif sebagaimana dasar hukum pemenuhan %=* I:1&:$ tetapi realitasnya negara pasif dan membiarkan pelanggaran %=* berlarut-larut. /egara se#ara tidak langsung telah melakukan pelanggaran %=* berupa tindakan pembiaran ,by ommision- pelanggaran %=* terjadi. Instrumen hukum kedua ialah UU /o. 14 tahun 2334C tentang )etenagakerjaan. Pembuatan Undang-Undang ini penuh dengan kontro ersi karena pemerintah mempermainkan serikat pekerja dan terjadi politisasi materi di dalamnya. Undang-Undang ini memperlihatkan se#ara jelas bagaimana pemerintah menghilangkan tanggungja(abnya untuk melindungi kaum buruh. Berikut tabel perbandingannya dengan aturan sebelumnya, yaitu ! ,. Perma%a&a an ) Hubun!an Ker$a. =turan >ama ! .efinisi buruh terdiri 4 unsur ! bekerja, pada majikan dan menerima upah ,UU /o. 22 tahun 167C-, Tidak ada pembedaan, ini terkait dengan aturan outsor#ing, +utsor#ing;subkontrak ilegal, Tidak ada.

.Undang-Undang $epublik Indonesia /omor 14 Tahun 2334 tentang )etenagakerjaan, Penempatan Tenaga )erja, Pasal 41! &etiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih, mendapatkan, atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau di luar negeri. .an Pasal 42 ! ,1- Penempatan tenaga kerja dilaksanakan berdasarkan asas terbuka, bebas, obyektif, serta adil, dan setara tanpa diskriminasi. ,2- Penempatan tenaga kerja diarahkan untuk menempatkan tenaga kerja pada jabatan yang tepat sesuai dengan keahlian, keterampilan, bakat, minat, dan kemampuan dengan memperhatikan harkat, martabat, hak asasi, dan perlindungan hukum. ,4- Penempatan tenaga kerja dilaksanakan dengan memperhatikan pemerataan kesempatan kerja dan penye diaan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan program nasional dan daerah.

Se"e&a UU N(. ,4 Ta un .554 G! .efinisi buruh terdiiri dari 2 unsur" bekerja dan menerima upah;imbalan dalam bentuk lain ,Psl 1 ayat 4-, *embedakan pemberi kerja ,Psl 5- dan pengusaha ,pasal 7-, +utsor#ing;&ubkontrak diperbolehkan ,Psl B5-, Perjanjian kerja untuk (aktu tertentu didasarkan atas jangka (aktu atau selesainya pekerjaan tertentu. 2. Perma%a&a an ) Hak M(!(k. =turan >ama ! .efinisi mogok sangat luas meliputi akibat perselisihan perburuhan, bisa untuk menekan majikan lain, agar majikan menerima hubungan kerja, syarat-syarat kerja dan keadaan perburuhan ,,UU /o. 22 tahun 167C-, Tidak ada ketentuan sah, tertib dan damai, Pemberitahuan hanya harus memasukkan telah melakukan perundingan tentang pokok perselisihan atau permintaan berunding ditolak oleh pihak lain atau telah 28 dalam (aktu 2 minggu gagal mengajak berunding pihak lain, Tidak ada ketentuan eksplisit hak mogok tidak sesuai prosedur atau mogok tidak sah, *ogok yang tidak sesuai prosedur dian#am hukuman kurungan maksimal 4 bulan atau denda 13. 333. Se"e&a UU N(. ,4 Ta un .554 ! .efinisi mogok dibatasi sebagai akibat dari gagalnya perundingan ,Psl 14C-, %arus dilakukan se#ara sah, tertib dan damai ,Psl 14C-, Pembakuan isi pemberitahuan mogok meliputi" (aktu dimulai dan diakhiri, tempat mogok, alasan mogok, tanda tangan ketua &erikat Buruh dan &ekretarisnya sebagai Penanggungja(ab ,Psl 153 ayat 2-, *ogok yang tidak prosedural tidak sah, *ogok tidak sesuai prosedur berdampak pada, pertama, perusahaan dapat mengambil tindakan sementara seperti melarang buruh yang berada di lokasi kegiatan proses produksi atau dilokasi perusahaan. )edua, =kibat hukum diatur dalam )eputusan *enteri. 4. Perma%a&a an ) L(*k 0u". =turan >ama ! .efinisi lo#k out lebih luas meliputi sebagai akibat perselisihan perburuhan, dapat untuk membantu majikan yang lain, agar buruh menerima hubungan kerja, syarat kerja dan atau keadaan perburuhan ,UU /o. 22 tahun 167C-, Pemberitahuan hanya harus memasukkan telah melakukan perundingan tentang pokok perselisihan atau permintaan berunding ditolak oleh pihak lain atau telah 28 dalam (aktu 2 minggu gagal mengajak berunding pihak lain, >o#k out tidak sesuai prosedur dian#am hukuman kuruangan

.Undang-Undang $epublik Indonesia /omor 14 Tahun 2334 tentang )etenagakerjaan, Pengupahan, Pasal GG !,1- &etiap pekerja;buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. ,2- Untuk me(ujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1-, pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja;buruh. ,4- )ebijakan pengupahan yang melindungi pekerja;buruh sebagaimana dimaksud dalam ayat ,2- meliputi ! a. upah minimum" b. upah kerja lembur" #. upah tidak masuk kerja karena berhalangan" d. upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya" e. upah karena menjalankan hak (aktu istirahat kerjanya" f. bentuk dan #ara pembayaran upah" g. denda dan potongan upah" h. hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah" i. struktur dan skala pengupahan yang proporsional" j. upah untuk pembayaran pesangon" dan k. upah untuk perhitungan pajak penghasilan. ,5- Pemerintah menetapkan upah minimum sebagaimana dimaksud dalam ayat ,4- huruf a berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan mem-perhatikan produkti itas dan pertumbuhan ekonomi. .an Pasal G6, ,1- Upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal GG ayat ,4- huruf a dapat terdiri atas! a. upah minimum berdasarkan (ilayah pro insi atau kabupaten;kota" b. upah minimum berdasarkan sektor pada (ilayah pro insi atau kabupaten;kota. ,2- Upah minimum sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1- diarahkan kepada pen#apaian kebutuhan hidup layak. ,4- Upah minimum sebagaimana dimaksud alam ayat ,1- ditetapkan oleh Gubernur dengan memperhatikan rekomendasi dari .e(an Pengupahan Pro insi dan;atau Bupati;?alikota. ,5- )omponen serta pelaksanaan tahapan pen#apaian kebutuhan hidup layak sebagaimana dimaksud dalam ayat ,2- diatur dengan )eputusan *enteri. Pasal 63!,1- Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal G6!,2- Bagi pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal G6 dapat dilakukan penangguhan. ,4- Tata #ara penangguhan sebagaimana dimaksud dalam ayat ,2- diatur dengan )eputusan *enteri. Pasal 61!,1- Pengaturan pengupahan yang ditetapkan atas kesepakatan antara pengusaha dan pekerja;buruh atau serikat pekerja;serikat buruh tidak boleh lebih rendah dari ketentuan pengupahan yang ditetapkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. ,2- .alam hal kesepakatan sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1- lebih rendah atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, kesepakatan tersebut batal demi hukum, dan pengusaha (ajib membayar upah pekerja;buruh menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

maksimal 4 bulan atau denda 13. 333, Tidak ada ketentuan diskriminatif lo#k out boleh tidak sesuai prosedur karena sesuatu alasan. Se"e&a UU N(. ,4 Ta un .554 ! .efinisi lo#k out dibatasi hanya sebagai akibat dari gagalnya perundingan ,Psl 15B ,1-, Pembakuan isi pemberitahuan lo#k out, meliputi (aktu dimulai dan akan diakhiri, alasan lo#k out, tanda tangan pengusaha atau pimpinan perusahaan ,Psl 153 ayat 2-, Tidak ada akibat hukum bagi lo#k out yan g tidak sesuai prosedur, >o#k out boleh tidak sesuai prosedur ! a. Buruh mogok tidak sesuai prosedur b.Buruh melanggar ketentuan normatif. 6. Perma%a&a an ) Pemu"u%an Hubun!an Ker$a 7PHK8.=turan >ama ! &elama idAin P%) dari lembaga Penyelesaian Perselisihan belum ada, buruh dan pengusaha (ajib menjalankan ke(ajibannya tanpa ke#uali ,UU /o. 12 tahun 16B5 Psl 11-, =turan skorsing ada pada )eputusan *enteri Tenaga )erja, dan aturan ini bertentangan dengan UU di atasnya, P%) alasan berat tetap harus le(at iAin, Pembuktian tidak sesedeha UU /o 14 tahun 2334 yang #enderung melibas praduga tidak bersalah Se"e&a UU N(. ,4 Ta un .554 ! )eharusan menjalankan ke(ajiban selama iAin P%)dari >embaga Penyelesaian Perselisihan belum ada, disimpangi dengan aturan skorsing ,Psl 177 ayat 2 dan 4-, P%) boleh tanpa idAin bila buruh melakukan kesalahan berat ,Psl 17G 0o 1C1, )esalahan berat #ukup dibuktikan dengan, pertama, tertangkap tangan atau, kedua, pengakuan buruh yang bersangkutan atau, ketiga, laporan kejadian yang dibuat oleh pihak ber(enang di perusahaan dan didukung minimal 2 saksi. *emba#a UU /o. 14 tahun 2334 di atas menjelaskan betapa posisi buruh sangat dilemahkan dari mulai tuntutan le(at mogok yang dibatasi se#ara administratif, pengesahan sistem outsour#ing, perjanjian kerja yang sesuai (aktu, pemutusan hubungan kerja yang #enderung diskriminasi, pembatasan dan proseduralisasi hak lo#k out dan lainnya. &elain itu, kalau kita membandingkan terhadap Undang-Undang sebelumnya maka sangat jelas betapa pemerintah saat ini semakin menghilangkan tanggungja(abnya untuk melindungi hak-hak kaum buruh. Instrumen hukum ketiga ialah UU /o. 2 tahun 2335 tentang Penyelesaian Perselisihan %ubungan Industrial ,PP%I-. Problem dari instrumen ini diantaranya ialah pemberian ke(enangan arbiter yang bisa menjatuhkan putusan tanpa dihadiri pihak berperkara ,Pasal 52-, aturan ini juga menghilangkan identitas perselisihan perburuhan yang istime(a yang kasus-kasusnya diselesaikan se#ara kolektif;tidak indi idual seperti P2.;P2P. Instrumen .Undang-Undang $epublik Indonesia /omor 14 Tahun 2334 tentang )etenagakerjaan, Pasal 6C! )etentuan mengenai penghasilan yang layak, kebijakan pengupahan, kebutuhan hidup layak, dan perlindungan pengupahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal GG, penetapan upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal G6, dan pengenaan denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 ayat ,1-, ayat ,2- dan ayat ,4- diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 6G! ,1- Untuk memberikan saran, pertimbangan, dan merumuskan kebijakan pengupahan yang akan ditetapkan oleh pemerintah, serta untuk pengembangan sistem pengupahan nasional dibentuk .e(an Pengupahan /asional, Pro insi, dan )abupaten;)ota. ,2- )eanggotaan .e(an Pengupahan sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1- terdiri dari unsur pemerintah, organisasi pengusaha, serikat pekerja;-serikat buruh, perguruan tinggi, dan pakar. ,4- )eanggotaan .e(an Pengupahan tingkat /asional diangkat dan diberhentikan oleh Presiden, sedangkan keanggotaan .e(an Pengupahan Pro insi, )abupaten;)ota diangkat dan diberhentikan oleh Gubenur; Bupati;?alikota ,5- )etentuan mengenai tata #ara pembentukan, komposisi keanggotaan, tata #ara pengangkatan dan pemberhentian keanggotaan, serta tugas dan tata kerja .e(an Pengupahan sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1- dan ayat ,2-, diatur dengan )eputusan Presiden. Bagian )etiga, )esejahteraan. Pasal 66 !,1- &etiap pekerja;buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja. ,2- 0aminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1-, dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 133 ! ,1- Untuk meningkatkan kesejahteraan bagi pekerja;buruh dan keluarganya, pengusaha (ajib menyediakan fasilitas kesejahteraan. ,2- Penyediaan fasilitas kesejahteraan sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1-, dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan pekerja;buruh dan ukuran kemampuan perusahaan. ,4- )etentuan mengenai jenis dan kriteria fasilitas kesejahteraan sesuai dengan kebutuhan pekerja;buruh dan ukuran kemampuan perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1- dan ayat ,2-, diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 131!,1- Untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja;buruh, dibentuk koperasi pekerja;buruh dan usaha-usaha produktif di perusahaan. ,2- Pemerintah, pengusaha, dan pekerja;buruh atau serikat pekerja;serikat buruh berupaya menumbuhkembangkan koperasi pekerja;buruh, dan mengembangkan usaha produktif sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1-. ,4- Pembentukan koperasi sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1-, dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. ,5- Upaya-upaya untuk menumbuhkembangkan koperasi pekerja;buruh sebagaimana dimaksud dalam ayat ,2-, diatur dengan Peraturan Pemerintah.
6

hukum terbaru ini selain melalui media penyelesaian bipartit, mediasi, konsiliasi dan arbitrase juga menghendaki penyelesaian kasus le(at pengadilan hubungan industrial yang akan dibentuk di P/ menggantikan ke(engan P5.;P5P. Penyelesaian jalur Pengadilan %ubungan Industrial ialah pun#ak penyelesaian konflik buruh, serikat buruh dan majikan. Perubahan di atas akan berimplikasi besar" pengadilan yang masih bi#ara legalistik, biaya perkara yang tidak sedikit dan praktek di dalamnya yang masih penuh dengan permainan kotor. )ondisi ini tidak ramah dengan situasi dan kondisi buruh yang mayoritas miskin dan dilemahkan se#ara aturan. &alah satu yang juga dikritik dalam aturan PP%I ini ialah ke(enangan pengadilan hubungan industrial untuk menangani kasus perselisihan serikat pekerja;buruh. &ebagaimana pengalaman dalam sejarah terutama di era reAim orde baru dan masih sering terjadi di saat ini, sudah biasa pengusaha dan pemerintah membuat serikat buruh tandingan dan mengadu domba internal para buruh. Instrumen hukum keempat ialah UU. /o. 46 tahun 2335 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga )erja Indonesia ,PPT)I-.13 Instrumen ini banyak dikritik oleh elemen serikat buruh migran dan >&*. =turan ini dinilai menghilangkan sama sekali perlindungan, penghormatan dan pensejahteraan tenaga kerja luar negeri, pemerintah sekedar berorentasi pada kepentingan in estasi. &erikat pekerja migran bahkan menilai bah(a aturan UU. /o. 46 tahun 2335 ini menjadi alat legalisasi pemerasan dan penindasan terhadap buruh migran. *enurut mereka, Undang-Undang tersebut hanya memuat pengaturan pengiriman buruh migran ke luar negeri tapi kemudian tanggungja(abnya diserahkan kepada pihak s(asta yaitu Perusahaan 0asa T)I ,P0T)I- dan atau Pelaksana Penempatan Tenaga )erja Indonesia &(asta ,PPT))I&-. Undang-Undang ini menempatkan P0T)I sebagai penguasa dalam urusan pengerahan buruh ke luar negeri dan sangat kebal hukum, karena di dalamnya tidak ter#antum yang memuat tentang sangsi bagi P0T)I yang melakukan pelanggaran terhadap hak-hak buruh dalam bentuk pemerasan dan penindasan. )e(enangan P0T)I yang luas dan hilangnya tanggungja(ab negara dalam instrumeninstrumen hukum berdampak pada tindakan P0T)I yang se(enang-(enang dan memberlakukan buruh migran se#ara tidak manusia(i seperti pemberian informasi yang tidak transparan, training #entre yang lebih mirip penjara, biaya penempatan yang sangat tinggi, upah yang jauh diba(ah standar, potongan gaji yang kadang tidak masuk akal, penahanan dokumen dan pele#ehan seksual bagi kaum perempuan. &aat ini buruh migran Indonesia yang bekerja di luar negeri diperkirakan sekitar B ribu ji(a dan G3L dari mereka ialah perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga ,P$T-, mereka sangat sering menjadi obyek pele#ehan seksual. Buruh migran juga seringkali menjadi obyek pungutan liar baik di terminal ataupun di bandara. UU /o. 46 tahun 2335 ini juga penuh dengan dikte I*' dan ?orld bank sehingga kepentingan in estasi dan bisnis #ukup kental dalam hal pengiriman buruh ke luar negeri. Pernyataan ini sesuai dengan dua dokumen, pertama, Inpres /o. 7 tahun 2337 tentang Post Program *onitoring I*'. .okumen ini menegaskan bah(a pengiriman buruh migran demi .Undang-Undang $epublik Indonesia, /omor 46 Tahun 2335 tentang Penempatan .an Perlindungan Tenaga )erja Indonesia .i >uar /egeri. Tugas, Tanggung 0a(ab, .an )e(ajiban Pemerintah, Pasal 7!,1- Pemerintah bertugas mengatur, membina, melaksanakan, dan menga(asi penyelenggaraan penempatan dan perlindungan T)I di luar negeri. ,2- .alam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat ,1-, Pemerintah dapat melimpahkan sebagi (e(enangnya dan;atau tugas perbantuan kepada pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal B!Pemerintah bertanggungja(ab untuk meningkatkan upaya perlindungan T)I di luar negeri. Pasal C! .alam melaksanakan tugas dan tanggung ja(ab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal B Pemerintah berke(ajiban! a. menjamin terpenuhinya hak-hak #alon T)I;T)I, baik yang bersangkutan berangkat melalui pelaksana penempatan T)I, maupun yang berangkat se#ara mandiri! b. menga(asi pelaksanaan penempatan #alon T)I" #. membentuk dan mengembangkan sistem informasi penempatan #alon T)I di luar negeri" d. melakukan upaya diplomatik untuk menjamin pemenuhan hak dan perlindungan T)I se#ara optimal di negara tujuan" dan e. memberikan perlindungankepada T)I selama masa sebelumnya pemberangkatan, masa penempatan, dan masa purna penempatan.
13

mendorong intensifikasi mobilisasi de isa. Pemasukan de isa dari buruh migran harapannya dapat memantapkan pembayaran dan mendorong ke#ukupan de isa. )edua, dokumen Inpres /o. 4 tahun 233B tentang Paket )ebijakan Perbaikan Iklim In estasi. .okumen ini terkait dengan ren#ana amandemen UU /o. 46 tahun 2335, pada bagian I9 point B dari kebijakan ketenagakerjaan pemerintah akan menyusun draft perubahan UU 46;2335 PPT)>/, terutama menghilangkan syarat PPT)I& yang (ajib memiliki unit pelatihan kerja untuk mendapatkan &urat IAin PPT)I&. Instrumen ini merupakan desakan ?orld Bank sebagaimana yang disampaikan dalam dua kali forum :GI ,tahun 2337 dan 233B-. &e#ara umum, instrumentasi hukum perburuhan pas#a reformasi mempunyai problem substantif karena pemerintah membuat aturan yang melegalisasi sistem neoliberal yang penuh dengan dikte I*' dan ?orld Bank Pengaturan tersebut melahirkan dampak berbagai pelanggaran %=*. &e#ara substantif instrumen-instrumen hukum perburuhan pas#a reformasi bertentangan dengan UU. 1657, instrumen-instrumen hukum tentang %=* dan kon ensikon ensi I>+. Hak9 ak Buru Da&am In%"rumen9In%"rumen HAM 'an IL0.,, Gejolak sosial dan politik menjelang kejatuhan reAim +rde Baru mengantarkan pada perubahan beberapa instrumen hukum di Indonesia. &alah satu yang menjadi desakan publik terkait perlunya instrumentasi perlindungan, penghormatan dan pemenuhan %=* di Indonesia. .engan kondisi seperti itu, pas#a reformasi dibuatlah beberapa instrumen hukum yang se#ara spesifik mengatur tentang %=* yang di dalamnya mengatur pemenuhan %=* kaum buruh. &e#ara umum instrumen hukum %=* terkait dengan hak-hak kaum buruh meliputi dua hal, pertama, hak-hak yang berdimensi sipil dan politik, kedua, hak-hak yang berdimensi ekonomi, sosial dan budaya. Pemenuhan hak-hak tersebut menjadi tanggungja(ab negara sebagai pemangku ke(ajiban. %ak-hak yang berdimensi sipil dan politik, negara mempunyai tanggungja(ab untuk tidak aktif mengatur keberadaan kaum buruh tetapi tetap mempunyai tangungja(ab untuk melindungi mereka dari segala potensi pelanggaran %=*. &edangkan hak-hak yang berdimensi ekonomi, sosial dan budaya, negara mempunyai tanggungja(ab pemenuhannya se#ara segera dan bertahap, (alaupun kedua hak tersebut tidak dapat dibagi ,indi isibility-, saling bergantung dan berkaitan ,interdependen#e and interrelation-. %ak-hak yang berdimensi sipil dan politik se#ara umum telah diatur dalam UU. 1657, UU /o. 46 tahun 1666, UU /o. 11 tahun 2337 tentang %ak 1konomi, &osial dan Budaya, serta UU /o. 12 tahun 2337 tentang %ak &ipil dan Politik. Berikut adalah tabel hak-hak yang terkait dengan dimensi sipil dan Politik, yaitu ! .Undang-Undang $epublik Indonesia, /omor 46 Tahun 2335 tentang Penempatan .an Perlindungan Tenaga )erja Indonesia .i >uar /egeri. Tugas, P1$>I/.U/G=/ T)I, Pasal CC!,1- &etiap #alon T)I;T)I mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. ,2- Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat ,1- dilaksanakan mulai dari pra penempatan, masa penempatan, sampai dengan purna penempatan. Pasal CG!,1- Per(akilan $epublik Indonesia memberikan perlindungan terhadap T)I di luar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan serta hukum dan kebiasaan intemasional. ,2- .alam rangka perlindungan T)I di luar negeri, Pemerintah dapat menetapkan jabatan =tase )etenagakerjaan pada Per(akilan $epublik Indonesia tertentu. ,4- Penugasan =tase )etenagakerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat ,2- dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal C6!.alam rangka pemberian perlindungan selama masa penempatan T)I di luar negeri, Per(akilan $epublik Indonesia melakukan pembinaan dan penga(asan terhadap per(akilan pelaksana penempatan T)I s(asta dan T)I yang ditempatkan di luar negeri. Pasal G3!,1- .engan pertimbangan selama masa penempatan T)I di luar negeri dilaksanakan antara lain! a. pemberian bantuan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di negara tujuan serta hukum dan kebiasaan internasional" b. pembelaan atas pemenuhan hak-hak sesuai dengan perjanjian kerja dan;atau peraturan perundang-undangan di negara T)I ditempatkan. ,2- )etentuan mengenai pemberian perlindungan selama masa penempatan T)I di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat ,1- diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal G1!,1- .engan pertimbangan untuk melindungi #alon T)I;T)I, pemerataan kesempatan kerja dan;atau untuk kepentingan ketersediaan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan nasional, Pemerintah dapat menghentikan dan;atau melarang penempatan T)I di luar negeri untuk negara tertentu atau penempatan T)I pada jabatan-jabatan tertentu di luar negeri. ,2- .alam menghentikan dan;atau melarang penempatan T)I sebagaimana dimaksud pada ayat ,1-, Pemerintah memperhatikan saran dan pertimbangan Badan /asional Penempatan dan Perlindungan T)I. ,4- )etentuan mengenai penghentian dan pelarangan penempatan T)I sebagaimana dimaksud pada ayat ,1-, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
11

/o Instrumen *uatan 1 Pasal 2G 1 ayat 2 dan 4 UU. -"Setiap orang berhak ata kebeba an meyakini keper#ayaan$ menyatakan 1657 pikiran dan ikap$ e uai dengan hati nuraninya% -"Setiap orang berhak ata kebeba an ber erikat$ berkumpul$ dan mengeluarkan pendapat% 2 Pasal 2G 0 ayat 2 UU. 1657 "&alam menjalankan hak dan kebeba annya$ etiap orang 'ajib tunduk kepada pembata an yang ditetapkan dengan undang-undang dengan mak ud emata-mata untuk menjamin pengakuan erta penghormatan ata hak dan kebeba an orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil e uai dengan pertimbangan moral$ nilai-nilai agama$ keamanan$ dan ketertiban umum dalam uatu ma yarakat demokrati % 2 Pasal 24 ayat 2 UU /o. 46; "Setiap orang beba untuk mempunyai$ mengeluarkan dan 1666 tentang %=* menyebarlua kan pendapat e uai hati nuraninya$ e#ara li an dan atau tuli an melalui media #etak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama$ ke u ilaan$ ketertiban$ kepentingan umum$ dan keutuhan bang a% 4 Pasal 25 ayat 1 UU /o. "Setiap orang berhak untuk berkumpul$ berapat$ dan ber erikat untuk 46;1666 tentang %=* mak ud-mak ud damai% 5 Pasal 27 UU /o 46;1666 "Setiap orang berhak untuk menyampaikan pendapat di muka umum$ tentang %=* terma uk hak untuk mogok e uai dengan ketentuan peraturan perundangundangan% 7 Pasal 4G ayat 2 UU /o. "Setiap orang berhak dengan beba memilih pekerjaan yang di ukainya 46;1666 tentang %=* dan berhak pula ata yarat- yarat ketenagakerjaan yang adil% B Pasal 46 UU /o. 46;1666 "Setiap orang berhak untuk mendirikan erikat pekerja dan tidak boleh tentang %=* dihambat untuk menjadi anggotanya demi melindungi dan memperjuangkan kepentingannya erta e uai dengan ketentuan peraturan perundangundangan% C Pasal G UU /o. 11;2337 - (a) "Hak etiap orang untuk dapat membentuk erikat pekerja dan tentang %ak 1konomi, &osial bergabung dalam erikat pekerja pilihannya endiri$ hanya tunduk*taat dan Budaya pada peraturan organi a i yang ber angkutan$ untuk peningkatan dan perlindungan kepentingan ekonomi dan o ialnya. +idak ada pembata an yang boleh dikenakan dalam pelak anaan hak ini$ ke#uali yang telah ditetapkan oleh hukum dan yang diperlukan dalam uatu ma yarakat demokrati demi kepentingan keamanan na ional maupun ketertiban umum$ atau untuk perlindungan hak,hak a a i dan kebeba ankebeba an orang lain-% - (#) "Hak erikat pekerja untuk bertindak*berfung i e#ara beba $ tanpa adanya pembata an ke#uali yang telah ditentukan oleh hukum$ dan yang diperlukan dalam uatu ma yarakat demokrati demi kepentingan keamanan na ional atau ketertiban umum$ atau demi untuk perlindungan hak-hak a a i dan kebeba an orang lain% - (d)"Hak untuk melakukan pemogokan dapat dipergunakan*dilak anakan namun haru e uai dengan hukum negara yang ber angkutan% G Pasal 16 ayat 1, 2 dan 4 UU - "Setiap orang berhak untuk berpendapat tanpa #ampur tangan% /o. 12;1666 tentang %ak - "Setiap orang berhak ata kebeba an untuk menyatakan pendapat- hak ini &ipil dan Politik terma uk kebeba an untuk men#ari$ menerima dan memberikan

13

informa i dan pemikiran apapun$ terlepa dari pembata an-pembata an e#ara li an$ tertuli $ atau dalam bentuk #etakan$ karya eni atau melalui media lain e uai dengan pilihannya% - "Pelak anaan hak-hak yang dii#antumkan dalam ayat . pa al ini menimbulkan ke'ajiban dan tanggung ja'ab khu u . /leh karenanya dapat dikenai pembata an tertentu$ tetapi hal ini hanya dapat dilakukan ee uai dengan hukum dan epanjang diperlukan untuk (a) !enghormati hak atau nama baik orang lain- (b) !elindungi keamanan na ional atau ketertiban umum atau ke ehatan atau moral umum% Pasal 21 UU /o. 12;2337 "Hak untuk berkumpul e#ara damai haru diakui. +idak ada pembata an tentang %ak &ipil dan Politik yang dapat dikenakan terhadap pelak anaan hak ini ke#uali yang ditentukan e uai dengan hukum$ dan yang diperlukan dalam uatu ma yarakat demokrati untuk kepentingan keamanan na ional dan ke elamatan publik$ atau ketertiban umum$ perlindungan terhadap ke ehatan atau moral umum$ atau perlindungan ata hak-hak dan kebeba an-kebeba an orang lain% Pasal 22 ayat 1 dan 2 UU /o.- "Setiap orang berhak ata kebebeba an untuk ber erikat dengan orang 12;2337 tentang %ak &ipil lain$ terma uk hak untuk membentuk dan bergabung dalam erikat dan Politik pekerja untuk melindungi kepentingannya% - "+idak diperkenankan untuk membata i pelak anaan hak ini$ ke#uali yang telah diatur oleh hukum$ dan yang diperlukan dalam ma yarakat demokrati untuk kepentingan keamanan na ional dan ke elamatan publik$ ketertiban umum$ perlindungan ke ehatan dan moral umum$ atau perlindungan ata hak dan kebeba an dari orang lain. Pa al ini tidak boleh men#egah diberikannya pembata an yang ah bagi anggota angkatan ber enjata dan kepoli ian dalam melak anakan hak ini%

*uatan-muatan beberapa Undang-Undang di atas menegaskan bah(a pemenuhan %=* kaum buruh dalam dimensi sipil dan politik sudah dijamin sedemikian rupa di Indonesia. /amun demikian, pemenuhan %=* berdimensi sipil dan politik di atas masih sangat rentan oleh inter ensi dan penyalahgunaan kekuasaan. Berbagai instrumen %=* diatas masih memberlakukan batasan-batasan terhadap %=* berdimensi sipil dan politik, baik dengan alasan moral, hukum, nilai-nilai agama, ketertiban umum, keamanan nasional dan lainnya.Pembatasan-pembatasan %=* dalam instrumen %=* di atas berpotensi melanggar %=* karena terlalu luas memberikan keleluasaan pada kekuasaan, apalagi se#ara tertulis instrumen hukum perburuhan dalam konteks sipil dan politik yang lahir pas#a reformasi mempunyai kelemahan material yang mendasar. %ak-hak kaum buruh yang berdimensi ekonomi, sosial dan budaya juga diatur dalam UU. 1657, UU /o. 46 tahun 1666 tentang %=*, UU /o. 11 tahun 2337 tentang %ak 1konomi, &osial dan Budaya. Berikut adalah tabel instrumen yang menjamin hak-hak tersebut, yaitu ! /o Instrumen 1 Pasal 2G . ayat 2 UU. 1657 2 pasal 2G % ayat 4 UU. 1657 4 *uatan "Setiap orang berhak untuk bekerja erta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja% "Setiap orang berhak ata jaminan o ial yang memungkinkan pengembangan dirinya e#ara utuh ebagai manu ia yang bermartabat% Pasal 4G ayat 4 dan 5 UU - "Setiap orang$ baik pria maupun 'anita yang melakukan /o. 46;1666 tentang %=* pekerjaan yang ama$ ebanding$ etara atau erupa$ berhak ata upah erta yarat- yarat perjanjian kerja yang ama% - "Setiap orang$ baik pria maupun 'anita$ dalam

5 7

melakukan pekerjaan yang epadan dengan martabat kemanu iaannya berhak ata upah yang adil e uai dengan pre ta inya dan dapat menjamin kelang ungan kehidupan keluarganya%. Pasal 51 ayat 1 UU /o. 46 "Setiap 'arga negara berhak ata jaminan o ial yang tahun 1666 tentang %=* dibutuhkan untuk hidup layak erta untuk perkembangan pribadinya e#ara utuh% Pasal B ayat 1 dan 2 UU - "0egara Pihak dari Ko1enan ini mengakui hak ata /o. 11;2337 tentang %ak pekerjaan$ terma uk hak etiap orang ata ke empatan 1konomi, &osial dan untuk men#ari nafkah melalui pekerjaan yang dipilih atau Budaya diterimanya e#ara beba $ dan akan mengambil langkahlangkah yang tepat guna melindungi hak ini% - "2angkah-langkah yang akan diambil oleh 0egara Pihak pada Ko1enan ini untuk men#apai reali a i epenuhnya hak ini haru meliputi juga pedoman tekni dan kejuruan errta program pelatihan$ kebijakan$ dan teknik-teknik untuk men#apai perkembangan ekonomi$ o ial dan budaya yang mantap erta lapangan kerja yang memadai dan produktif dengan kondi i-kondi i yang menjamin kebeba an politik dan ekonomi menda ar bagi perorangan% Pasal C UU /o. 11;2337 - "0egara Pihak pada Ko1enan ini mengakui hak etiap tentang %ak 1konomi, orang untuk menikmati kondi i-kondi i kerja yang adil

&osial dan Budaya

Pasal 6 UU /o. 11;2337 tentang %ak 1konomi, &osial dan Budaya

dan menguntungkan$ dan menjamin khu u nya: (a) Imbalan yang memberikan emua pekerja$ ekurangkurangnya dengan: (i) Upah yang adil dan imbalan yang ama untuk pekerjaan yang enilai tanpa pembedaan apapun$ khu u nya kepada perempuan yang dijamin kondi i kerja yang tidak lebih rendah daripada yang dinikmati laki-laki dengan upah yang ama untuk pekerjaan yang ama. (ii) Kehidupan yang layak bagi mereka dan keluarga mereka$ e uai dengan ketentuan-ketentuan Ko1enan ini(b) Kondi i kerja yang aman dan ehat(#) Ke empatan yang ama bagi etiap orang untuk dipromo ikan ke tingkat yang lebih tinggi yang tepat tanpa pertimbangan-pertimbangan apapun elain eniorita dan kemampuan (d) I tirahat$ hiburan dan pembata an jam kerja yang 'ajar$ dan liburan berkala dengan gaji maupun imbalan-imbalan lain pada hari libur umum% "0egara Pihak dalam Ko1enan ini mengakui hak etiap orang ata jaminan o ial$ terma uk a uran i o ial%

*ateri instrumen %=* di atas menjelaskan bah(a perlindungan dan pemenuhan %=* kaum buruh sudah bagus. Imbalan dan upah yang layak, perlakuan yang adil dalam hubungan kerja, non diskriminasi laki-laki dan perempuan, jaminan sosial untuk hidup layak, hak menikmati kondisi kerja yang adil dan menguntungkan, kondisi kerja yang aman dan sehat, hak istirahat dan hiburan, pembatasan jam kerja yang (ajar dan hak liburan, telah diatur dalam instrumeninstrumen %=* di atas. &edangkan dalam konteks I>+ ,International >abour +rganiAation-, negara Indonesia telah menjadi anggota organisasi buruh dunia itu pada tahun 1673. )etika reAim +rde >ama berkuasa beberapa kon ensi I>+ telah diratifikasi di Indonesia, demikian juga menjelang era reformasi beberapa )on ensi I>+ juga telah dirafitikasi dan diberlakukan di Indonesia. Tindakan ratifikasi kon ensi-kon ensi I>+ merupakan pertanda bah(a pemerintah sedikit banyak telah berkomitmen pada perlindungan dan pemenuhan hak-hak kaum buruh, (alaupun dalam instrumen hukum serupa terkait perbururuhan yang diproduksi di le el nasional masih banyak bermasalah sangat serius. Berikut adalah tabel instrumeninstrumen I>+ yang diratifikasi di Indonesia, yaitu !
/o )on ensi Tanggal $atifikasi 1 I2/ 3on1ention 0o. 45 #on#erning 67uality of 12 0uni 1673 +reatment for 0ational and 8oreign 9orker a ,ratifikasiregard to 9orkmen: 3ompe ation for ;##ident (< =uni 45.<* > September 45.?) 2 I2/ 3on1ention 0o. .5 #on#erning 8or#ed or 12 0uni 1673 3ompul ary 2abour (.> =uni 45@A* 4 !ei 45@.) ,ratifikasi4 I2/ 3on1ention 0o. 4< #on#erning the 12 0uni 1673 6mployment of 9omen on Underground 9ork in ,ratifikasi!ine of ;ll Kind (.4 =uni 45@<* @A !ei 45@B) 5 I2/ 3on1ention 0o. 5> #on#erning Cight to 1G 0uli 1671 /rganiDe and 3olle#ti1e Bargaining (4 =uli 4545* ,ratifikasi4> =uli 45<4) %ukum /asional -

UU 0o. 4> +ahun 45<? tentang Per etujuan Konperen i /rgani a i Perburuhan Interna ional 0o. 5> !engenai

I2/ 3on1ention 0o. 4AA #on#erning 67ual 27 'ebruari 16B1 Cenumeration for !en and 9omen 9orker for ,ratifikasi9ork of 67ual Ealue (.5 =uni 45<4* .@ !ei 45<@)

B C

I2/ 3on1ention 0o. 4.A #on#erning Hygiene in 14 0uni 16B6 3ommer#e and /ffi#e (> =uli 45?4* .5 !aret ,ratifikasi45??) I2/ 3on1ention 0o. >B #on#erning 8reedom of 6 0uni 166G ,ratifikasi- Keppre 0o. >@ +ahun 455> ; o#iation and Prote#tion of the Cight to tentang Penge ahan Kon1en i /rganiDe (5 =uli 454>* 4 =uli 45<A) 0o. >B tentang Kebeba an Ber erikat dan Perlindungan Hak untuk Berorgani a i (.. =uni 455>) I2/ 3on1ention 0o. 4A< #on#erning the C 0uni 1666 ,ratifikasi- UU 0o. 45 +ahun 4555 tentang ;bolition of 8or#ed 2abor (.< =uni 45<B* 4B Penge ahan Kon1en i I2/ =anuari 45<5) !engenai Penghapu an Kerja Pak a (B !ei 4555) I2/ 3on1ention 0o. 4@> 3on#erning !inimum C 0uni 1666 ,ratifikasi- UU 0o. .A +ahun 4555 tentang ;ge for ;dmi ion to 6mployment (.? =uni 45B@* Penge ahan Kon1en i I2/ 45 =uni 45B?) mengenai U ia !inimum untuk

Berlakunya &a ar-&a ar &aripada Hak untuk Berorgani a i dan Untuk Berunding Ber ama (4B September 45<?) !emori Penjela an UU 0o. @ +ahun 45?4 tentang Per etujuan Kon pen i /rgani a i Perburuhan 0o. 4A? mengenai I tirahat !ingguan dalam Perdagangan dan KantorKantor (.< 8ebruari 45?4) -

13

11

12

&iperbolehkan Bekerja (B !ei 4555) I2/ 3on1ention 0o. 444 3on#erning C 0uni 1666 ,ratifikasi- UU 0o. .4 +ahun 4555 tentang &i #rimination in Ce pe#t of 6mployment and Penge ahan Kon1en i I2/ /##upation (.< =uni 45<>* 4< =uni 45?A) mengenai &i krimina i dalam Pekerjaan dan =abatan (B !ei 4555) I2/ 3on1ention 0o. 4>. 3on#erning the 2G *aret 2333 UU 0o. 4 +ahun .AAA tentang Prohibition and Immediate ;#tion for the ,ratifikasiPenge ahan II Kon1en i 0o. 4>@ 6limination of the 9or t 8orm of 3hild 2abor mengenai Pelarangan dan (4B =uni 4555* 45 0o1ember .AAA) +indakan Segera Penghapu an Bentuk-Bentuk Pekerjaan +erburuk untuk ;nak (> !aret .AAA) I2/ 3on1ention 0o. >4 #on#erning 2abor 26 0anuari 2335 UU 0o. .4 +ahun .AA@ tentang In pe#tion in Indu try and 3ommer#e (44 =uli ,ratifikasiPenge ahan Kon1en i I2/ 0o. 454B* B ;pril 45<A) >4 mengenai Penga'a an Ketenagakerjaan dalam Indu tri dan Perdagangan (.< =uli .AA@)

$atifikasi beberapa instrumen I>+ di atas menunjukkan komitmen pemerintah terhadap perlindungan dan pemenuhan %=*12 kaum buruh dan organisasinya yang selalu mendapatkan diskriminasi dan kekerasan. $atifikasi I>+ berarti pemerintah telah mengikatkan diri untuk bertanggungja(ab terhadap pemenuhan hak-hak kaum buruh sesuai dengan materi konn ensi yang telah diratifikasi. /amun demikian, masih ada beberapa instrumen I>+ yang masih belum diratifikasi pemerintah Indonesia dan fakta dilapangan, ternyata masih banyak terjadi bentuk-bentuk pelanggaran %=* yang menimpa terhadap para buruh karena pemerintah lepas tanggungja(ab, bahkan sebagian pemerintah terlibat dalam praktek ekploitasi dan pelanggaran %=* terhadap kaum buruh tersebut. >aporan studi I>+ pada tahun 2336 dinyatakan bah(a biaya peluang dari pekerja yang tereksploitasi men#apai lebih dari 23 milyar dolar pertahun. &elain itu, terlihat adanya peningkatan praktik-praktik penipuan dan kriminal yang mengarahkan orang ke dalam situasi kerja paksa. &tudi ini menemukan bah(a kerja paksa umumnya masih ditemukan di negaranegara berkembang, salah satunya Indonesia. )erapkali terjadi di ekonomi informal dan (ilayah-(ilayah terpen#il dengan kondisi infrastruktur, penga(asan ketenagakerjaan dan penegakan hukum yang buruk. %ebatnya, laporan ini juga menyoroti praktik-praktik yang dilakukan agen penyalur, pengusaha dan pejabat di Indonesia. Praktek mereka mendorong pekerja migran Indonesia terjebak ke dalam hutan ijon, kerja paksa dan perdagangan manusia. A&an B(u&"(n %a&a %e(ran! #en!uru% IL0 In'(ne%ia menyatakan bah(a masalah buruh migran menjadi hal yang sangat berpengaruh bagi kondisi ekonomi di Indonesia. )eadaan di .Undang-Undang $epublik Indonesia /omor 46 Tahun 1666 Tentang %ak =sasi *anusia, Pasal 7! ,1- &etiap orang diakui sebagai manusia pribadi yang berhak menuntut dan memperoleh perlakuan serta perlindungan yang sama sesuai dengan martabat kemanusiaannya di depan hukum. ,2- &etiap orang berhak mendapat bantuan dan perlindungan yang adil dari pengadilan yang objektif dan tidak berpihak. ,4- &etiap orang yang termasuk kelompk masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya. Pasal B! ,1- .alam rangka penegakan hak asasi manusia, perbedaan dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi oleh hukum, masyarakat, dan Pemerintah. ,2- Identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan Aaman. Pasal C!,1- &etiap orang berhak untuk menggunakan semua upaya hukum nasional dan forum internasional atas semua pelanggaran hak asasi manusia yang dijamin oleh hukum Indonesia dan hukum internasional mengenai hak asasi manusia yang telah diterima negara $epublik Indonesia. ,2- )etentuan hukum internsional yang telah diterima negara $epublik Indonesia yang menyangkut hak asasi manusia menjadi hukum nasional.
12

Indonesia membuat banyak orang memutuskan untuk memilih bekerja di luar negeri. Pendapatan yang masuk bagi buruh akan mengurangi tingkat kemiskinan di Indonesia. Tetapi menurut =lan, perlindungan terhadap buruh migran masih sangat lemah di Indonesia sehingga praktek-praktek pelanggaran %=* masih terus terjadi. >aporan I>+ lainnya menyebutkan bah(a aksesibilitas buruh migran terutama buruh migran perempuan masih sering mengalami kendala terutama akses terhadap pelatihan-pelatihan. Termasuk pada saat ini menurut laporan I>+ telah terjadi pelanggaran berupa pengabaian hak-hak anak buruh migran. =nak-anak pekerja migran rentan terhadap eksploitasi, penyalahgunaan narkotika, hingga tertular penyakit menular seksual. Problemnya menurut I>+, ternyata pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga sosial, termasuk masyarakat mengabaikan terhadap nasib mereka. Si"ua%i "ra!i% &ainnya yan! 'i&a#(rkan IL0 ialah tentang perlindungan14 terhadap P$T di Indonesia yang masih sangat buruk, bahkan jauh di ba(ah negara )enya. Pekerja domestik di negara miskin di ka(asan =frika itu masih lebih dilindungi hukum dan mendapatkan upah yang layak. Pembantu rumah tangga di Indonesia sebagaimana diungkap )oordinator I>+ 0atim *o#hamad /oer, tidak memiliki jam kerja dan standar gaji, bahkan ada yang mengalami penundaan gaji. .alam kasus perlindungan hukum, pemerintah masih bertindak diskriminatif 15terhadap P$T. )ondisi serupa dialami P$T asal Indonesia yang bekerja di luar negeri. Penyebabnya tidak adanya Undang-Undang yang mengatur se#ara tegas tentang perlindungan buruh migran, terutama P$T. I>+ men#atat sejak tahun 2337 sampai saat ini terdapat 12,4 juta orang di seluruh dunia mengalami kerja paksa. .i =sia Pa#ifik rata-rata men#apai 6,7 juta orang yang mengalami kerja paksa dan tereksploitasi se#ara ekonomi. 1ksploitasi seksual pada perempuan muda dan de(asa 6GL dan anak-anak 53L hingga 73L. .ata-data I>+ di atas menegaskan bah(a ada problem serius dengan tanggungja(ab pemerintah terhadap perlindungan dan pemenuhan hak-hak buruh. $atifikasi beberapa instrumen I>+ jelas tidak berarti apa-apa karena di lapangan pemerintah ternyata lepas tanggungja(ab untuk melindungi para buruh. =palagi se#ara instrumentalis dalam beberapa Undang-Undang yang diproduksi pemerintah sendiri telah bermasalah, dimana pemerintah sengaja melepaskan tanggungja(abnya dan menyerahkannya kepada perusahaan-perusahaan s(asta. &ituasi dan kondisi ini jelas menjadi indikator telah terjadi pelanggaran %=* oleh negara.

. Undang-Undang $epublik Indonesia /omor 46 Tahun 1666 Tentang %ak =sasi *anusia, %ak *emperoleh )eadilan Pasal 1C !&etiap orang. tanpa diskiriminasi, berhak untuk memperoleh keadilan dengan mengajukan permohonan. pengaduan, dan gugatan, baik dalam perkara pidana, perdata, maupun administrasi serta diadili melalui proses peradilan yang bebas dan tidak memihak, sesuai dengan hukum a#ara yang menjamin pemeriksaan yang objektif oleh hakim yang jujur dan adil untuk memperoleh putusan yang adil dan benar. Pasal 1G !,1- &etiap orang yang ditangkap, ditahan, dan dituntut karena disangka melakukan sesuatu tindak pidana berhak dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya se#ara sah dalam suatu sidang pengadilan dan diberikan segala jaminan hukum yang diperlukan untuk pembelaannya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. ,2- &etiap orang tidak boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi pidana, ke#uali berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan yang sudah ada sebelum tindak pidana itu dilakukannya. ,4- &etiap ada perubahan dalam peraturan perundang-undangan, maka berlaku ketentuan yang paling menguntungkan bagi tersangka. ,5- &etiap orang yang diperiksa berhak mendapatkan bantuan hukum sejak saat penyidikan sampai adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. ,7- &etiap orang tidak dapat dituntut untuk kedua kalinya dalam perkara yang sama atas suatu perbuatan yang telah memperoleh putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Pasal 16!,1- Tiada suatu pelanggaran atau kejahatan apapun dian#am dengan hukuman berupa perampasan seluruh harta kekayaan milik yang bersalah. ,2- Tidak seorangpun atas putusan pengadilan boleh dipidana penjara atau kurungan berdasarkan atas alasan ketidakmampuan untuk memenuhi suatu ke(ajiban dalam perjanjian utang-iutang.

14

.Undang-Undang $epublik Indonesia /omor 46 Tahun 1666 Tentang %ak =sasi *anusia ,)e(ajiban .an Tanggung 0a(ab Pemerintah, Pasal C1! Pemerintah (ajib dan bertanggung ja(ab menghormati, melindungi, menegakan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam Undang-undang ini, peraturan perundang-undangan lain, dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang.diterima oleh negara $epublik Indonesia.Pasal C2! )e(ajibandan tanggungja(ab pemerintah sebagaimana dimaksud dalam pasal C1,meliputi langkah implementasi yang efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan keamanan negara, dan bidang lain. B=B 9I ! Pembatasan .an >arangan, Pasal C4! %ak dan kebebasan yang diatur dalam Undang-undang ini hanya dapat dibatasi oleh dan berdasarkan undang-undang, semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia serta kebebasan dasar orang lain, kesusilaan, ketertiban umum, dan kepentingan bangsa. Pasal C5!Tidak satu ketentuanpun dalam Undang-undang ini boleh diartikan bah(a Pemerintah. partai, golongan atau pihak manapun dibenarkan mengurangi, merusak. =tau menghapuskan hak asasi manusia atau kebebasan dasar yang diatur dalam undang-undang ini.

15

Ana&i%a %e*ara 3ak"(r in"erna& terhadap permasalahan perburuhan adalah disebabkan karena adanya kesenjangan komunikasi antara Perusahaan dengan Pekerja atau buruh, hal ini hampir selalu memi#u kerusuhan di sebuah Perusahaan diantaranya adalah ketidak puasan para Pekerja terhadap langkah, keputusan;kebijakan-kebijakan yang diambil atau dikeluarkan oleh Perusahaan dalam menjalankan roda usahanya. Pada dasarnya mungkin, Perusahaan sudah menjelaskan;menerangkan sedetail-detailnya akan maksud dan tujuan langkah langkah yang diambil Perusahaan dan bahkan sudah saling disetujui hitam diatas putih, antara Pekerja dan Perusahaan. =kan tetapi begitu semua keputusan Perusahaan tersebut dijalankan, timbul gejolak atau pertentangan. Pada permasalahan tersebut menimbulkan kebingung semua pihak dan untuk mengatasi gejolak atau demo tersebut diadakan musya(arah, akan tetapi pada umumnya suasana tidak bertambah dingin, melainkan bertambah panas dan menjadi merebah kemana mana. .an tuntutannyapun berubah menjadi berma#am-ma#am, kesempatan ma#am itulah yang dipakai oleh pihak luar untuk masuk, memperkeruh suasana. &epanjang pengalaman saya sebagai pekerja pabrik, jarang sekali rekan kerja memikirkan dirinya untuk bisa lebih berkualitas. Banyak dari mereka hanya mengandalkan lamanya pengalaman kerja, tapi lupa bah(a tehnologi dan ilmu pengetahuan selalu bergerak maju dan berubah. )alau dulu mesin mesin hanya mengandalkan kemampuan mekanis, sedang ele#trik hanya merupakan pelengkap dalan pengoperasian mesin. &ekarang terbalik, sekarang sistim ele#trik yang mengendalikan mekanis. .engan mun#ulnya P>: ,Programable >ogi# :ontrol-, maka kesalahan dari operasional mesin bisa dire#ord ,di#atat ; direkam- dan dikontrol oleh P>:, untuk kemudian ditampilkan dalam layar monitor pada mesin tersebut. Banyak dari rekan ele#tri# mati langkah dengan kemajuan tersebut, karena mereka tidak mau mengupgrade pengetahuannya, maka perusahaan dengan sangat terpaksa men#ari karya(an baru dengan kemampuan baru sesuai dengan tuntutan tehnologi mesin. &aat @ saat seperti inilah yang ditakutkan karya(an lama, maka karya(an baru akan dimusuhi. +rganisasi perburuhan karya(an di setiap perusahaan pasti ada. Tapi ke#enderungan perusahaan memilih (akil-(akil karya(an sedemikian rupa agar bisa dengan mudah dikendalikan. Perusahaan sepertinya alergi dengan per(akilan organisasi karya(an yang kritis. *asalahnya, seperti yang sudah-sudah, tuntutannya selalu keluar dari normatipnya, berlagak bagai pahla(an. Banyak karya(an menuntut agar perusahaan sepenuhnya menanggung kehidupannya dan keluarganya, hal tersebut adalah tidak mungkin. =lasan yang sering kita dengar adalah " E Kitakan bekerja untuk peru ahaan$ kita udah berja a pada peru ahaan$ maka eharu nya peru ahaan menanggung egala keperluan kita E. .isisi lain banyak perusahaan yang hanya mengambil untung dari karya(annya, tanpa imbalan yang memadahi. :elakanya banyak karya(an tidak punya keberanian unrtuk hengkang dari tempatnya bekerja. Begitu tengantungnya mereka terhadap pekerjaan yang sedang dipegangnya saat itu. )alau mungkin pekerjaan itu akan diba(a kemana saja dia pergi, asal tidak diambil perusahaan lagi untuk diberikan pada orang lain. .engan sikap dan #ara berpikir seperti itu, dengan mudahnya manajemen perusahaan memainkan apa yang dia inginkan. )arena perusahaan punya banyak pilihan, sedang karya(an tidak, %al itu terjadi karena kebodohan karya(an itu sendiri, yang tidak mau belajar agar posisinya sebanding dengan manajemen perusahaan. =gar dia menjadi orang yang dibutuhkan, menjadi asset perusahaan, bukan menjadi beban perusahaan. Dang lebih membuat hati saya miris, seorang menuntut jabatan di perusahaan. )alau tidak kesampaian, dia akan berlagak o#al disetiap pertemuan. Pada saat perusahaan memberi yang dia inginkan, tiba-tiba saja si okalis tak

terdengar lagi suaranya. 0alannyapun berubah, dari yang dulu menengadahkan kepala sekarang lebih banyak menunduk. )arya(an yang tidak mau belajar dan membuat dirinya bertambah pintar akan menjadi beban berat bagi perusahaan. &emakin lama gaji karya(an semakin besar sedang kinerjanya tidak meningkat, inilah yang akan menjadi dilema bagi perusahaan. Pada akhirnya komunikasipun tidak akan efektip, karena #ara berpikir karya(an tersebut tidak berubah, tidak berubah menjadi professional. )arya(an masih berpikir ala BURUH. Inilah yang banyak terjadi pada karya(an kita, mereka hanya #ukup puas dengan apa yang mereka dapatkan, sampai pada akhirnya mereka tersadar, bah(a dunia sekelilingnya sudah berubah pesat. &edang dia tetap seperti itu. *ulailah tuntutan mengikuti gaya hidup mun#ul, disinilah mun#ul tuntutantuntutan tidak normatip, bahkan #enderung tidak masuk akal. Perjanjian kerja yang tiap tahun sudah disetujui, bisa tidak diakui lagi. Bukan ku(ajiban perusahaan untuk membuat karya(annya menjadi orang yang professional, tapi kalau perusahaan itu merekrut anggota manajemen yang professional dan mempunyai skill baik, maka kesenjangan komunikasipun akan semakin tidak terjadi, sebab pimpinannya mampu mendidik dan mengajari, memberi #ontohg dan memba(a ba(aannya untuk sadar akan ilmu pengetahuan dan harga diri. .ia terjun langsung memberi #ontoh #ara kerja yang baik dan benar. &usahnya kalau dikalangan manajemen banyak dihuni oleh orang-orang okalis, orientasi manajer sema#am itu tidak mungkin mengajari ba(ahannya menjadi pandai dan karena sebenarnya tidak pandai, hanya menginginkan status buat diri sendiri dan di beberapa perusahaan, ji(a feodal itu masih kental, dimana ji(a entepreneurnya hampir tidak ada. *akanya, masih banyak karya(an kita yang hanya mengejar status dan materi tanpa memikirkan kualitas dirinya. Bargaining po(er ,daya ta(ar mena(ar dengan perusahaanmereka menjadi rendah. Ana&i%a %e*ara 3ak"(r in"erna& terhadap kebijakan pengupahan, melihat hasil regresi yang dilakukan dimana menunjukkan bah(a P.$B, )%* dan I%) se#ara bersama-sama mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap U*P, namun bila dianalisis se#ara parsial ternyata ariabel P.$B tidak signifikan mempengaruhi U*P, dan tidak pula sejalan dengan hipotesis dia(al yang menyebutkan bah(a terdapat pengaruh yang positif antara P.$B dengan U*P. &e#ara perhitungan ekonomi, hal tersebut bisa saja terjadi karena ketiga ariabel independen tersebut terhadap U*P bukanlah merupakan hubungan kausalitas atau sebab akibat, akan tetapi menjadi faktor pertimbang bukan penentu yang mutlak. )etika ketiga ariabel tersebut bukan faktor penentu yang mutlak maka faktor lain apakah yang menjadi penentu dalam pengambilan kebijakan pengupahan di Indonesia selama iniM .ari (a(an#ara mendalam yang dilakukan kepada anggota .e(an Pengupahan 0akarta, akademisi, per(akilan serikat buruh, lembaga ad okasi perburuhan dan hasil-hasil penelitian dan tulisan serupa maka dalam bab ini akan dibahas mengenai bagaimana penentuan kebijakan pengupahan yang terjadi selama ini di Indonesia sehingga melahirkan baik U*P, U*) maupun U* )abupaten dan bagaimana strateginya agar terjadi perubahan dalam penentuan kebijakan pengupahan menuju upah layak di Indonesia. De+an Pen!u#a an ) =dalah penetapan upah minimum, institusi yang paling berperan adalah .e(an Pengupahan yang berfungsi merumuskan besaran upah minimum yang menjadi dasar penetapan upah minimum oleh )epala .aerah. .e(an Pengupahan adalah sebuah lembaga nonstruktural yang bersifat tripartit yang bertugas untuk memberikan saran dan pertimbangan kepada

)epala .aerah dalam menetapkan upah minimum dan menerapkan sistem pengupahan serta menyiapkan bahan perumusan sistem pengupahan. .e(an ini terdiri atas tripartit dengan model keter(akilan berimbang yang melakukan perundingan setiap tahun untuk menetapkan besaran nilai upah minimum. .asar utama untuk mendapatkan angka usulan kenaikan upah minimum adalah sur ei harga pasar )ebutuhan %idup *inimum ,)%*-. Pada tahun 2333, .e(an Pengupahan mengalami perubahan yang #ukup signifikan, baik dari komposisi keanggotaan maupun mekanisme penetapan upahnya. %al tersebut berkaitan dengan diterapkannya kebijakan otonomi daerah dan kebebasan berserikat. )eanggotaan .e(an ,Penelitian- Pengupahan terdahulu ,.PP/;.PP.- didominasi oleh unsur pemerintah yang berasal dari berbagai instansi. Buruh hanya di(akili oleh satu serikat buruh, yaitu &P&I, sedangkan asosiasi pengusaha di(akili oleh =PI/.+. *odel komposisi yang didominasi oleh unsur pemerintah itu membuat .e(an Pengupahan tidak lebih sebagai alat kontrol pemerintah terhadap ketentuan upah minimum agar sesuai dengan kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia, terutama yang berkaitan dengan kebijakan upah rendah untuk menarik in estor. .ampak hal tersebut adalah besaran upah minimum yang dihasilkan oleh .PP/;. lebih mendukung kebijakan tersebut daripada memperhatikan perbaikan kondisi buruh. .ominasi pemerintah dalam .PP/;. semakin diperkuat oleh ke(enangan penetapan upah minimum yang dilakukan oleh *enteri Tenaga )erja sehingga pembentukan .PP/;. merupakan legalisasi inter ensi pemerintah terhadap ketentuan upah minimum agar sesuai dengan kepentingannya. =kan tetapi (alaupun se#ara komposisi .e(an Pengupahan telah mengalami perubahan, tetapi mengenai #ara kerjanya tidak terlalu mengalami perubahan mendasar, masih menggunakan paradigma lama. &ekarang ini .e(an Pengupahan menggunakan model komposisi keter(akilan se#ara berimbang. *asing-masing unsur tripartit mempunyai jumlah (akil yang sama dalam .e(an Pengupahan. Bertambahnya jumlah per(akilan serikat buruh dalam .e(an Pengupahan berkaitan dengan diratifikasinya )on ensi I>+ GC;6G tentang )ebebasan Berserikat. %anya serikat buruh yang terdaftar di .inas Tenaga )erja Pro insi yang bisa menjadi anggota .e(an Pengupahan" semakin banyak jumlah serikat buruh yang terdaftar akan semakin banyak pula jumlah per(akilan serikat buruh di .e(an Pengupahan. Bertambahnya jumlah per(akilan serikat buruh tersebut akan diiringi dengan bertambahnya jumlah per(akilan pengusaha dan pemerintah sehingga komposisi keter(akilan yang ada tetap berimbang. Perubahan ini memberikan peluang bagi buruh untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan di .e(an Pengupahan sehingga buruh bisa memanfaatkan .e(an Pengupahan untuk memperjuangkan perbaikan kondisinya. Peruba an &ainnya "er$a'i #a'a mekani%me #ene"a#an u#a . Berdasarkan )eputusan *enteri /o. 22B;2333, *enteri Tenaga )erja ,*enakermelimpahkan ke(enangan penetapan upah minimum pro insi dan kabupaten;kota kepada gubernur. Pelimpahan tersebut merupakan aktualisasi dari kebijakan otonomi daerah. 0ika dilihat dari dimensi pelayanan publik yang terdesentralisasi pada tingkat lokal, pemerintah sebagai pelayan publik akan semakin dekat dengan masyarakat sekaligus mampu memahami dan menyerap aspirasi serta kepentingan masyarakat lokal sebagai subyek layanan. %al itu sebenarnya bisa memberikan peluang bagi pemerintah daerah untuk membuat suatu kebijakan tanpa bergantung pada pemerintah pusat dan lebih berorientasi pada kepentingan masyarakat lokal ,Ida, 2333-. .engan kata lain, gubernur dapat menetapkan upah sesuai dengan aspirasi masyarakat setempat yang hasilnya diharapkan lebih sesuai dengan kondisi riil yang ada. )ondisi saat ini, buruh masih merasa tidak puas terhadap rumusan yang dihasilkan oleh .e(an Pengupahan karena kriteria upah minimum yang diberlakukan dianggap tidak sesuai

dengan kondisi riil buruh. .emikian pula halnya dengan pengusaha yang merasa keberatan dengan kenaikan upah saat ini. Permasalahan tersebut seharusnya tidak perlu mun#ul jika proses pembahasan upah minimum di .e(an Pengupahan yang melibatkan pengusaha, pekerja, dan pemerintah diran#ang untuk mengatasi masalah pengupahan, bukan untuk mengakomodasi kepentingan tertentu. Mekani%me 'an Pr(%e% La irnya U#a Minimum 'i De+an Pen!u#a an. Proses pembahasan upah minimum di .e(an Pengupahan tingkat pro insi menunjukkan bah(a semua proses yang berjalan tampaknya berlangsung se#ara EdemokratisF dan sesuai dengan tata laksana kerja .e(an Pengupahan. &emua unsur yang tergabung dalam .e(an Pengupahan mempunyai kesempatan yang sama dalam menyampaikan aspirasi. ?akil serikat buruh menggunakan kesempatan tersebut untuk bernegosiasi mengenai besaran upah minimum yang dikehendakinya dengan (akil pengusaha dan pemerintah. /amun, pada akhirnya buruh tetap merasa tidak puas dengan keputusan yang dihasilkan oleh .e(an Pengupahan karena meskipun (akil serikat buruh dapat menyampaikan aspirasinya se#ara terbuka, ternyata aspirasi tersebut tidak terakomodasikan ke dalam hasil keputusan .e(an Pengupahan. Buruh harus menghadapi suatu strategi yang dapat menghambat keikutsertaannya dalam pengambilan keputusan. *ekanisme oting, di satu sisi, dapat menjadi salah satu alat perjuangan buruh untuk memasukkan kepentingannya tetapi, di sisi lain, dapat merugikan buruh. 0ika semua pihak yang ada di .e(an Pengupahan memainkan perannya masingmasing, sementara pemerintah berfungsi sebagai fasilitator dan mediator antara buruh dan pengusaha, maka buruh dihadapkan pada sesuatu yang adil. %al ini pun harus ditunjang dengan kemampuan negosiasi yang baik agar buruh dapat mengimbangi kapasitas yang dimiliki oleh pihak pengusaha. /amun, jika pemerintah berkepentingan untuk lebih berpihak kepada pemegang modal, yaitu pengusaha, maka buruh akan sulit memperjuangkan kepentingannya karena harus berhadapan dengan aliansi antara pengusaha dan pemerintah. )eberpihakan pemerintah kepada kepentingan in estasi ternyata masih membayangi pengambilan keputusan di .e(an Pengupahan .aerah ,.P.-. %al ini tampak dari besaran rumusan upah minimum yang dihasilkan oleh .P. yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup buruh. &elain itu, peran buruh dalam menempati posisi kun#i juga amat rendah. %al tersebut tampak dari struktur organisasi .P., yang terdiri dari beberapa komisi, di antaranya adalah komisi sur ei upah dan kebutuhan hidup minimum yang diketuai oleh unsur pemerintah dan komisi penetapan upah yang diketuai oleh unsur pengusaha. )edua komisi tersebut mempunyai peran yang sangat penting dalam merumuskan besaran upah minimum. Posisi kun#i hanya diduduki oleh pelaku yang mempunyai sumber daya manusia yang kuat, baik dari segi kemampuan negosiasi maupun pengetahuan. Posisi kun#i juga bisa dimanfaatkan untuk memasukkan kepentingan-kepentingan tertentu. .imana (akil serikat buruh tidak dapat menduduki posisi kun#i karena mereka tidak memenuhi kualifikasi tersebut. )emampuan negosiasi dan pengetahuan tentang keadaan perekonomian se#ara makro dan tentang kemampuan perusahaan yang dimiliki buruh masih rendah. +leh sebab itu, argumen yang dibangun seringkali dengan mudah dipatahkan oleh pihak lain, baik pengusaha maupun pemerintah. &elain itu, kurangnya koordinasi di antara (akil serikat buruh dan kurangnya kemampuan buruh dalam melakukan koordinasi dengan pihak lain semakin mendorong terjadinya hal tersebut. /amun, masih ada hal lain, meskipun kemampuan negosiasi dan pengetahuan buruh sudah #ukup baik dan mampu mengimbangi

unsur lainnya, jika masih saja terjadi aliansi antara pihak pemerintah dan pengusaha, maka posisi buruh akan tetap lemah. Tran%#aran%i 'ari #i ak #en!u%a a mengenai kemampuan perusahaannya sangat diperlukan. =pabila buruh mengetahui kondisi perusahaannya, maka tuntutan kenaikan upah akan disesuaikan dengan keadaan perusahaannya. &elain itu, pihak buruh harus dapat memberikan insentif yang menguntungkan bagi perusahaan, misalnya melalui peningkatan produkti itas. )enaikan upah yang tidak diimbangi dengan peningkatan produkti itas malah akan membuat daya saing semakin lemah dan merugikan buruh karena akan membuka peluang pengurangan tenaga kerja. )esadaran tersebut harus dibangun oleh kedua belah pihak agar ter#ipta hubungan yang sinergis antara pengusaha dan buruh. Di era ("(n(mi 'aera ini gubernur atau bupati;(alikota sebenarnya mempunyai peluang untuk memperbaiki kondisi buruh yang ada di (ilayahnya karena mereka bisa lebih mengetahui kemampuan daerah dan juga kemampuan perusahaannya dan dengan demikian dapat menetapkan upah minimum sesuai dengan kemampuan yang ada. Ke&ema an #a'a #r(%e% #emba a%an mau#un #e&ak%anaan %ur:ei (&e De+an Pen!u#a an dapat diimbangi oleh peran 7uality #ontrol dari gubernur atau bupati;(alikota. *ereka mempunyai ke(enangan untuk menyetujui atau pun tidak menyetujui rumusan yang dihasilkan oleh .e(an Pengupahan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Gubernur atau bupati;(alikota dapat menggunakan ke(enangannya untuk mengembalikan usulan upah minimum yang diajukan oleh .e(an Pengupahan untuk dirumuskan kembali. =pabila dalam jangka (aktu 15 hari tidak mendapat tanggapan, maka gubernur atau bupati;(alikota mempunyai ke(enangan untuk menetapkan upah minimum. Pada kenyataannya peran tersebut tidak dimanfaatkan se#ara maksimal. Dang terjadi adalah gubernur atau bupati;(alikota malah menjadi legalisator dari kelemahan-kelemahan yang ada dan hal yang paling dikha(atirkan terbukti bah(a eksekutif bisa membuat perjuangan buruh terhadang. .engan demikian, meskipun (akil serikat buruh telah mengerahkan kemampuannya dalam proses penambahan upah minimum di .e(an Pengupahan, jika yang menjadi pengambil keputusan lebih aspiratif terhadap kepentingan modal, maka perjuangan buruh tetap tidak sesuai dengan harapan buruh. %al ini sangat tergantung pada siapa yang menjadi gubernur atau bupati;(alikota dan apa kepentingan yang dimilikinya. =pabila eksekutif tidak mempunyai good 'ill untuk memperbaiki kondisi buruh yang ada, maka dengan adanya kebijakan ini malah semakin mempersulit posisi buruh. Men! a'a#i ka%u% 'i De+an Pen!u#a an Daera , .P$. seharusnya mampu menjalankan peran penga(asan terhadap eksekutif se#ara optimal. .P$. seharusnya dapat menjalankan fungsinya sejak a(al proses penetapan upah minimum dan bukan pada akhir masa pertanggungja(aban eksekutif saja. .P$. selaku penga(as kinerja eksekutif sejauh ini tidak dapat terlalu diharapkan karena perjuangan .P$. sendiri tampaknya hanya sebatas memberikan rekomendasi kepada eksekutif dan tidak dapat menginter ensi terlalu jauh terhadap kebijakan pengupahan yang ada, karena ke(enangannya ada di tangan eksekutif. Ka%u% 'i De+an Pen!u#a an DKI Jakar"a "a un .55, adalah sesuatu yang berbeda. Buruh mendapatkan dukungan yang #ukup besar dari pemerintah, terlepas dari kepentingan yang dimiliki oleh pemerintah sendiri. Gubernur bersikukuh menetapkan U*P .)I 0akarta sebesar $p 761.333,33. *enghadapi hal tersebut, pihak pengusaha melakukan berbagai upaya untuk menangguhkan keputusan U*P melalui PTU/ karena kenaikan upah yang terlalu

tinggi dapat menyebabkan pembengkakan biaya produksi, yang kemudian dapat memperke#il marjin keuntungan. )enaikan upah ini juga seringkali menjadi alasan pengusaha untuk melakukan rasionalisasi. Pada akhirnya yang terkena dampaknya adalah buruh juga ,)ompas, 21 0anuari 2332-. Gugatan penangguhan tersebut dihadapi oleh buruh dengan mengerahkan massanya untuk menuntut diberlakukannya U*P .)I 0akarta 2332. =khirnya, Pengadilan Tata Usaha /egara ,PTU/- tidak mengabulkan permohonan pengusaha untuk menunda kenaikan upah sehingga U*P .)I 0akarta tetap diberlakukan. %al ini memperlihatkan bah(a inter ensi pemerintah dalam penentuan upah minimum demikian kuat dan keputusan penetapan upah sendiri lebih bersifat politis daripada perhitungan ekonomi, baik dari segi kebutuhan buruhnya maupun kemampuan perusahaannya. Meman3aa"kan Pe&uan! 'i De+an Pen!u#a an Seba!ai S"ra"e!i. Mem#er$uan!kan U#a Layak ) &e#ara prinsip keberadaan .e(an Pengupahan yang merupakan lembaga triprtit tetap masih diperlukan, akan tetapi sebaiknya .e(an Pengupahan lebih diarahkan kepada hal-hal yang menyangkut kebijakan ketenagakerjaan se#ara makro, yakni upah minimum sebagai jaring pengaman , afety net- guna memberikan perlindungan dan jaminan minimal bagi para pekerja terhadap kemungkinan se(enang-(enang dari kalangan pengusaha. .imana keberadaan lembaga tripartit juga merupakan sebuah forum komunikasi dan konsultasi antara &P;&B, pemerintah, dan asosiasi pengusaha dalam rangka meme#ahkan masalah ketenagakerjaan;perburuhan yang termasuk dalam penga(asannya, agar ter#ipta ketenangan berusaha dan ketenangan bekerja. =tas dasar tersebutlah penamaan .e(an Pengupahan diganti menjadi .e(an Pengkajian dan Penetapan Upah *inimum. Peranan dan fungsinya sebetas menetapkan kebijakan upah minimum berdasarkan sektor jenis industri se#ara makro guna men#erminkan rasa keadilan dan objekti itas. 0adi akan ter(ujud kebijakan upah minimum sebagai jaring pengaman dan memberikan perlindungan bagi tenaga kerja baru, kemudian lanjutnya sebaiknya upah minimum hanya diberlakukan pada perusahaan yang belum;tidak memiliki organisasi &B;&P, sedangkan bagi yang telah ada &P;&B-nya, besarnya upah minimum sebagai upah terendah ditentukan berdasarkan kesepakatan bipartit dan kemudian dituangkan dalam Perjanjian )erja Bersama ,P)B-. .an pastinya tidak boleh lebih rendah dari upah minimum yang ditetapkan pemerintah. Ini akan juga membantu untuk mengatur sistem pengupahan diperusahaan yang selama ini bermasalah dengan adanya upah sundulan. .engan demikian akan men#iptakan sebuah sistem;struktur pengupahan yang adil dan mendorong produkti itas tenaga kerja, karena pekerja;buruh yang mempunyai masa kerja lebih lama, apalagi telah berkeluarga, harus se#ara proporsional mendapatkan upah dan kesejahteraan yang lebih baik demi masa depannya dan keluarganya. Usulan mekanisme pengupahan yang baru, yakni dengan tiga #ara, pertama upah minimum sebagai jaring pengaman ,ditetapkan tripartit-. Ini adalah upah terendah yang diterima buruh lajang, bekerja kurang dari satu tahun. Ini merupakan bentuk upah proteksi, tanggung ja(ab negara terhadap (arganya, yang ditetapkan ditiap propinsi;kota;kabupaten. Kedua, penetapan upah se#ara bipartit ,dirundingkan antara &B dan pengusaha- yang dituangkan dalam P)B. Mi%a&) - Bila margin keuntungan 13 L maka upah naik 13 L. - Bila rugi 13 L, maka upah bisa tidak naik, atau bisa turun. Tetapi tidak boleh di ba(ah Upah *inimum yang ditetapkan .e(an Pengupahan $egional. a. .e(an Pengupahan $egional ,bertugas merumuskan upah sebagai jaring pengaman di tingkat propinsi, melakukan sur ey- )omposisi de(an pengupahan ! bisa unsur tripartit

atau tripartit plus, atau lembaga pengupahan independen. Upah ini meliputi untuk " sektor informal, buruh lepas, P$T, perusahaan dengan buruh diatas 13 ,sepuluh- orang. b. .e(an Pengupahan /asional ,merumuskan kebijakan dan sistem pengupahan nasional, perubahan komponen upah, skala upah, mengumumkan upah jaring pengaman yang dibuat propinsi-.)omposisi de(an pengupahannya, yakni kelembagaan tripartit plus #. Periode Penetapan Upah dilakukan 2 tahun sekali ,sesuai dengan periode P)B-. Ketiga, upah se#ara indi idual ,khusus untuk profesional atau konsultan-. Dakni, pengupahan indi idual ditetapkan sendiri antara seorang buruh dengan managemen . Se'an!kan 'ari %i%i #en!u%a a menyatakan bah(a selama ini ketentuan upah minimum memberatkan mereka, sebab disaat yang sama penentuan upah minimum menyamaratakan produkti itas semua perusahaan yang berada di satu kabupaten;kota. Padahal kemampuan satu perusahaan berbeda dengan perusahaan lain. )etua =PI/.+, .jimanto, dikutip dari Tabloid >embur, menyatakan bah(a U*P memberatkan =PI/.+, karena U*P dapat menjadi dampak berganda ,multiplier effe#t- se#ara ertikal maupun horisontal bahkan sampai ke pos ke(ajiban ,liability- dalam nera#a perusahaan untuk pen#adangan kompensasi P%) berdasarkan besaran upah terakhir. .isisi lain hal ini mendorong maraknya pekerja P)?T dan outsour#ing yang keamanan kerjanya amat rentan. &olusi yang dia ,=PI/.+ta(arkan yaitu melalui konsep upah yang adil, yang mengakomodasi keseimbangan kepastian kerja ,job e#urity-, kepastian pendapatan (in#ome e#urity) dan jaminan sosial ( o#ial e#urity) bagi semua manusia yang terlibat dalam perusahaan baik yang berstatus buruh, pengusaha maupun pemilik perusahaan. Ha%anu''in Ra* man, Ke"ua APIND0 untuk %ubungan Industrial dan =d okasi, menyatakan, peranan dasar dari upah minimum, yakni! pertama, memberikan perlindungan bagi sejumlah ke#il pekerja dan buruh berpenghasilan rendah yang dianggap rentan dalam pasar kerja, kedua, *enjamin pembayaran upah yang dianggap (ajar, yang tidak terbatas pada kategori pembayaran upah terendah, ketiga, memberikan perlindungan dasar pada struktur upah sehingga merupakan jaring pengaman terhadap upah yang terlalu rendah, dan keempat, sebagai instrumen kebijakan makro ekonomis untuk men#apai tujuan nasional berupa pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, serta pemerataan penghasilan. $a#hman ,2337-, melanjutkan bah(a U*P .)I 0akarta dijadikan sebagai barometer dalam menetapkan U*P daerah lain, dan ia mengemukakan bah(a kenaikan U*$;U*P rata-rata 7 tahun terakhir lebih kurang 47 L, dan itu telah melampaui kenaikan produkti itas. )enaikan U*$;U*P .)I 0akarta 7 tahun terakhir sebesar 4G,1 L, dengan tingkat inflasi rata-rata G,C L dan pertumbuhan ekonomi 5,1 L. %al ini sangat berpotensi mengurangi kesempatan kerja dan memperburuk kondisi ekonomi makro, serta skan memperlambat perbaikan ; pemulihan ekonomi. 0ika dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja, maka kenaikan U*P yang tinggi pada beberapa tahun terakhir justru terjadi saat pertumbuhan ekonomi lambat. %al ini juga tidak diiringi dengan perbaikan yang berarti terhadap tingkat produkti itas. &ehingga akan mun#ul dampak negatif terhadap pen#iptaan lapangan kerja dan daya saing Indonesia terutama pada sektor industri padat karya. Un"uk i"u APIND0 merek(men'a%ikan dalam hal kebijakan penetapan besaran upah, yakni! pertama, besar upah harus selalu dikaitkan dengan produkti itas. Kedua, besarnya kenaikan upah disesuaikan dengan laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Ketiga, semestinya Upah *inimum adalah batas ba(ah upah di pasar tenaga kerja. Idealnya Upah *inimum dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak. =pabila terjadi ketidaksesuaian tingkat hidup layak dengan pertumbuhan ekonomi maka diperlukan fleksibilitas untuk menjamin perluasan

lapangan kerja. Keempat, Upah *inimum ditentukan oleh perundingan Bipartit di Plant-le el. .ata menunjukkan bah(a kemampuan perusahaan membayar U*P berbeda. %arus dihindari bah(a penetapan U*P menguntungkan perusahaan besar dan merugikan perusahaan skala ke#il dan sektor informal. Kelima, Upah *inimum ditentukan dalam kurun (aktu tidak terlalu pendek ,2 N 4 tahunan-, dan keenam, reformasi .e(an Pengupahan. .alam menangani kebijakan pengupahan, perlu diseimbangkannya dengan pertimbangan kepentingan umum yang lebih luas, disamping tetap harus memperhatikan semua kepentingan pekerja dan pemberi kerja. )arena Upah *inimum ditentukan di le el Plant maka .e(an Pengupahan tugasnya memberikan kriteria pokok yang (ajib dijadikan a#uan dalam menentukan Upah *inimum. Pemerin"a &ebi banyak meny(r("i ma%a&a #en!a+a%an . Penga(asan atas pelaksanaan upah minimum ini dilakukan oleh pega(ai penga(as ketenagakerjaan yang berada di .inas Tenaga )erja dan Transmigrasi di )abupaten;)ota maupun Propinsi. Penga(asan ketenagakerjaan dilaksanakan untuk menga(asi dan menegakkan hukum ketenagakerjaan. Penga(asan dilakukan terkait pelaksanaan upah minimum termasuk juga struktur skala upah. &ebagaimana yang diungkapkan oleh *uji %andaya, .irektur Penga(asan dan /orma )4 .epnakertrans, seperti yang di kutip di Tabloid >embur, edisi .esember 2336, menurutnya akar permasalahan upah minimum adalah kebijakan upah minimum yang tidak bisa diimplementasikan di lapangan, maksudnya! aturan yang terkait tentang upah minimum bertentangan antara satu dengan yang lainnya, sehingga sulit melakukan penegakan hukum. &esuai aturan, upah minimum ditetapkan oleh Gubernur melalui surat keputusan, otomatis pengusaha harus mengikuti, bahkan pelanggaran terhadap aturan ini merupakan kejahatan, namun anehnya adalagi peraturan yang menyatakan jika perusahaan tidak mampu, boleh mengajukan penangguhan, inikan aneh, udah minimum, kok boleh tidak mampu. 0adi menurutnya, pemerintah juga memberikan andil dalam kejahatan upah ini, ini menyulitkan karena kita terjebak dalam regulasi upah minimum yang nyatanya kebijakan itu tidak bisa dijalankan dilapangan. Ke%u&i"an #en!a+a%an 'a&am me&akukan #ene!akan ukum "erkai" u#a minimum adalah kebijakan otonomi daerah. Penga(as terkadang sulit melakukan penegakan hukum di daerah karena menjadi persoalan politis, sementara itu penga(asan di tingkat pusat tidak bisa banyak berperan langsung, sementara tidak semua penga(as di daerah memperoleh pendidikan yang sama. &alah satu upaya mengatasi lemahnya peran penga(as ini, sejak tahun 233B .epnakertrans mendorong lahirnya Peraturan Presiden ,Perpres- terkait penga(asan ketenagakerjaan, Perpres ini bertujuan untuk mengkoordinasikan kembali penga(as di daerah dengan pusat, sehingga penga(as pusat bisa mendampingi penga(as daerah menjalankan tugasnya, ini akan membangun kembali fondasi sistem penga(asan yang lemah terkait personil, proses kerja, budaya kerja dan sistem informasi. U#a Layak yan! Di#er$uan!kan )onsep upah layak mun#ul untuk menjembatani perdebatan yang selalu mun#ul terkait persoalan upah minimum buruh di Indonesia, jika dari buruh, permasalahannya adalah upah minimum tidak #ukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sedangkan dari pengusaha menyatakan bah(a kenaikan upah minimum setiap tahun #ukup memberatkan. .efenisi upah layak menga#u pada upah untuk seorang pekerja dengan jam kerja standar yang dapat memenuhi kebutuhan hidup layak dan memberikan kemampuan menabung. Untuk Indonesia, jam kerja standar adalah 53 jam per minggu.

&edangkan defenisi kebutuhan hidup layak ersi Permenaker 1C;9III;2337 adalah standar kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seorang pekerja;buruh lajang untuk dapat hidup layak, baik se#ara fisik, non fisik, dan sosial untuk kebutuhan 1 ,satu- bulan. 9ersi sebuah penelitian yang dilakukan =)=TIG=, defenisi kebutuhan hidup layak menga#u pada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi agar seorang pekerja dan keluarganya dapat hidup layak dan mampu mereproduksi kembali tenaganya sehingga menjadi lebih produktif. %asil penelitian ini menyebutkan bah(a upah pokok dan tunjangan tetap ,upah riil- dan upah riil ditambah tunjangan tidak tetap dan lembur ,upah total-, adalah! Upah pokok rata-rata $p. G44.5C7,Upah riil rata-rata $p. GG4.433,Upah total rata-rata $p. 1.363.274,Tun$an!an "i'ak "e"a# #&u% &embur menyumbang rata-rata 25,1L terhadap rata-rata upah total. Penelitian ini juga menyebutkan bah(a pengeluaran rill buruh di kabupaten selalu lebih tinggi bagi buruh dengan atau tanpa tanggungan dibandingkan dengan upah riil dan U*) ,Upah *inimum )abupaten-. $ata-rata upah total hanya mampu membayar C5,4L rata-rata pengeluaran riil dan U*) hanya mampu membayar B2,5L rata-rata pengeluaran riil buruh. Ra"a9ra"a u#a #(k(k yang diterima buruh lebih rendah dari U*). U*) terpenuhi setelah ditambah dengan berbagai tunjangan dan lembur. &ekalipun demikian, nilai rata-rata upah total yang diterima oleh buruh masih lebih rendah daripada nilai rata-rata pengeluaran riil perbulan, yakni sebesar $p. 1.5BC.G6B,-. Penelitian ini juga telah menghitung bah(a nilai rata-rata nasional )ebutuhan %idup >ayak untuk buruh lajang ,membiayai diri sendiri- adalah $p. 2.571.5B3,- dan nilai rata-rata nasional )ebutuhan %idup >ayak adalah $p. 5.3BB.544,-. %asil penelitian ini juga membuktikan bah(a penghasilan total buruh dan upah minimum tidak akan pernah dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. )arena itu, buruh melakukan beberapa strategi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, antara lain dengan melakukan pekerjaan sampingan, menggabungkan upah yang diterimanya dengan pendapatan anggota keluarga lainnya sebagai pendapatan rumah tangga, melakukan pembelian barantg-barang dengan sistem kredit, dan melakukan penghematan dengan mengurangi kualitas dan atau kuantitas barang yang dikonsumsi, atau tidak membelinya sama sekali, berhemat, lingkaran hutang yang tak putus, menanti T%$, mengandalkan bantuan keluarga, koperasi, mengandalkan solidaritas teman. %asil penelitian ini kemudian menunjukkan tingkat upah minimum tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup layak buruh dan masih jauh dari pengeluaran riil buruh yang disesuaikan dengan tingkat upah yang diterima. &elain rendahnya daya beli upah minimum terhadap kebutuhan hidup, sur ei ini juga membuktikan bah(a upah minimum memang dijadikan patokan pengupahan oleh pengusaha atau telah dijadikan upah maksimum. Upah minimum tidak lagi diberikan kepada buruh dengan masa kerja di ba(ah satu tahun akan tetapi diberikan kepada semua buruh dengan masa kerja hingga belasan tahun. Persoalan ini perlu di#ermati baik oleh serikat, pengusaha, maupun pemerintah karena memba(a implikasi luas terhadap kinerja industri dan tenaga kerja se#ara keseluruhan. Ke"i'ak mam#uan u#a minimum untuk memenuhi kebutuhan hidup layak menyiratkan beberapa hal yang se#ara langsung menyentuh kepentingan buruh, pengusaha, dan pemerintah sekaligus. .ari sisi buruh, rendahnya daya beli upah minimum terhadap kebutuhan hidup menyebabkan buruh harus melakukan penghematan dan hidup dalam lingkaran hutang. Buruh

yang hidup dalam kondisi sedemikian dapat dipastikan akan berpengaruh terhadap kinerja dan produkti asnya. )inerja dan produkti itas buruh yang rendah adalah kepentingan langsung pengusaha yang akan mempengaruhi juga kinerja dan produkti itas perusahaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi daya saing perusahaan. &e#ara agregat produkti itas dan daya saing perusahaan yang rendah men#erminkan daya saing nasional yang juga rendah. .alam kerangka itu maka peningkatan produkti itas buruh perlu dilakukan melalui perbaikan upah, dan konsep upah layak merupakan gagasan untuk memperbaiki upah yang dapat meningkatkan produkti itas. &alah satu komponen untuk memenuhi kebutuhan hidup layak adalah upah. )omponen lainnya adalah jaminan sosial yang merupakan tugas dan tanggung ja(ab pemerintah untuk menyediakan dan menjamin aksesnya bagi pekerja. Ini berarti pemenuhan kebutuhan hidup layak bukan hanya tanggung ja(ab pengusaha melainkan memerlukan pelaksanaan ke(ajiban dan tanggung ja(ab pemerintah. .i dalam kaitannya dengan konsep upah layak maka nilai kebutuhan hidup layak bukanlah nilai upah layak. .alam konsep upah layak, yang dita(arkan adalah sebuah konsep upah yang memperhatikan kepentingan buruh dan pengusaha serta membagi tanggung ja(ab antara pemerintah dan pengusaha. .i dalam konsep ini peran serikat buruh adalah mempertahankan dan meningkatkan kinerja anggota sehingga dapat memiliki argumen yang kuat apabila terjadi penyimpangan terhadap pelaksanaan upah layak. Indonesia sebenarnya sudah memiliki gagasan a(al konsepsi upah layak melalui Peraturan *enteri Tenaga )erja dan Transmigrasi /o.1C Tahun 2337 yang menetapkan komponen kebutuhan hidup layak yang akan dipenuhi se#ara bertahap. Penahapan yang dinyatakan dalam peraturan tersebut dapat diper#epat dan dijadikan dasar untuk mematangkan pengonsepan upah layak. Indonesia juga telah memiliki Undang-Undang &istem 0aminan &osial /asional @ &0&/ yang akan efektif berlaku bulan +ktober 2336. Undang-undang ini merupakan per(ujudan dari ke(ajiban pemerintah terhadap (arga negaranya. .alam dua tahun terakhir beberapa serikat buruh di Indonesia aktif terlibat dalam penyempurnaan undang-undang tersebut serta mengusulkan berbagai langkah untuk mendorong pelaksanaan undang-undang yang efektif. )edua peraturan tersebut dapat saling melengkapi untuk dijadikan dasar dalam me(ujudkan konsep upah layak. Dari %i%i #eker$a me&i a" meman! "in!ka" ke%e$a "eraan tidak semata-mata diukur dari besarnya upah;gaji yang mereka terima, namun juga harus memperhatikan misalnya asrama dan transportasi, jaminan kesehatan, pendidikan bagi anak, serta jaminan hari tua. )esejmpatan untuk mengikuti pelatihan juga harus semakin dibuka karena hal ini dapat menambah (a(asan atau ilmu yang tentunya akan meningkatkan kemampuan para pekerja. *emang dirasakan dalam membuat kebijakan yang terkait dengan kesejahteraan pekerja, pihak perusahaan jarang atau bahkan tidak melibatkan pekerja, akibatnya, kebijakan tersebut tidak terlalu dirasakan manfaatnya bagi para pekerja. .alam meningkatkan kesejahteraan pekerja, kebijakan yang diambil perusahaan dan dibenarkan oleh para pekerja yakni besarnya upah memperhatikan U*P yang berlaku, kenaikan upah setiap tahun dan pemberian jaminan kesehatan. Bagi para pekerja, pemberian berbagai fasilitas dari perusahaan akan mema#u mereka untuk lebih berprestasi agar insentif yang diterima akan semakin besar. Me%ki#un kenaikan u#a 'iberikan %e"ia# "a un, namun besarnya kenaikan tidak sepadan dengan kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok, sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap kesejahteraan pekerja. /amun se#ara umum kondisi sosial ekonomi para pekerja pada umumnya ditingkat menengah ke ba(ah. %al ini disebabkan karena pendapatan yang mereka peroleh tidak sepenuhnya mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dimana harga-harga barang semakin mahal. )etidak#ukupan upah;gaji yang diterima guna

memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari diatasi dengan men#ari penghasilan tambahan ,seperti ojek-, men#ari pinjaman uang ke perusahaan tempat bekerja atau dibantu oleh anggota rumah tangga yang lain yang bekerja ,seperti istri menjadi buruh #u#i-setrika-. Menuru" #en!u%a a, un"uk menin!ka"kan ke%e$a "eraan buru , mereka telah pula melakukan pemberikan fasilitas kepada pekerjanya, tapi memang diakui masih berbeda-beda, tergantung pada kemampuan perusahaan. 0enis fasilitas yang diberikan dapat berupa tunjangan;jaminan kesehatan, asuransi tenaga kerja, transportasi, perumahan;asrama, Tunjangan %ari $aya ,T%$-, dan lain-lain. &e#ara umum, tunjangan yang diberikan oleh perusahaan terhadap seluruh pekerja adalah T%$ yang berupa gaji satu bulan, dan 0amsostek. &edangkan untuk tunjangan penggantian biaya berobat ra(at jalan;inap, asrama atau bantuan se(a rumah, transportasi antar jemput, pemberian fasilitas pendidikan beasis(a bagi anak, pelatihan peningkatan skill bagi pekerja dll semuanya tergantung dari kemampuan perusahaan. Berbagai fasilitas yang diberikan perusahaan terhadap pekerjanya bertujuan untuk meningkatkan produksti itas kerja para pekerjanya yang nantinya diharapkan berimbas pada peningkatan kinerja perusahaan. &elain itu pemberian berbagai fasilitas pada para pekerja juga diharapkan akan berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan pekerja. .engan meningkatnya kesejahteraan pekerja, diharapkan tidak ada atau akan mengurangi tuntutan pekerja kepada perusahaan terkait dengan tuntutan kenaikan Upah *inimum Propinsi ,U*P- yang sering dilakukan dalam bentuk demonstrasi. Peru%a aan ka"e!(ri menen!a be%ar 7UMB8 sudah lebih memperhatikan kesejahteraan pekerja dalam bentuk kenaikan upah setiap, memperhatikan besaran U*P sebagai standar pemberian upah, memberikan berbagai fasilitas serta memberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pekerja, namun berbagai fasilitas tersebut tidak dapat diberikan oleh pengusaha kategori menengah ke#il, kondisi keuangan yang naik turun menyebabkan terkadang mereka lebih fokus pada bagaimana perusahaannya ataupun usahanya bisa bertahan. =da juga perusahaan yang memberikan upah;gaji berdasarkan sistem *erit atau sistem prestasi kerja, besarnya upah berkorelasi positif dengan besarnya tanggungja(ab pekerja. Untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, pengusaha melakukan beberapa #ara, antara lain! menaikkan upah;gaji, memberikan jaminan dan tunjangan seperti 0amsostek serta memberikan insentif atau bonus atas pen#apaian kinerja mereka. Bagi perusahaan, pemberian segala fasilitas tersebut akan mema#u tingkat efisiensi dan efekti itas kegiatan produksi perusahaan, sementara bagi pekerja akan memoti asi mereka untuk berkompetisi se#ara sehat dalam men#etak prestasi kerja. Pengurus Pusat &P/ ,&erikat Pekerja /asional- yang juga anggota .e(an Pengupahan Pro insi .)I 0akarta menyebutkan! Permenakertrans tahun 2337 harus sudah die aluasi dan disesuaikan dengan kenyataan di lapangan. )arena hasil penelitian kami menemukan ada 1B4 jenis kebutuhan riil yang harus dikonsumsi tiap bulan oleh buruh. .an menurut 1ndang &unarto ,yang dikutip dari Tabloid >embur edisi &eptember 2336-, hasil ini sekaligus juga rekomendasi untuk mere isi Permenakertrans 2337, kami menambahkan komponen aneka kebutuhan, didalamnya dimasukkan kebutuhan sosial kemasyarakatan buruh yakni untuk pembayaran pulsa telepon, iuran kampung, sumbangan hajatan, iuran serikat buruh, iuran sampah, dll.

Ak%i Un$uk Ra%a 'an Di&ema Perburu an Ki"a.,; =ksi unjuk rasa dan mogok kerja nampaknya sudah menjadi fenomena yang biasa di masa sekarang. .ari aksi yang dilaksanakan se#ara damai sampai pada aksi yang berakhir dengan tindakan anarkis berupa pengrusakan fasilitas perusahaan atau penganiayaan terhadap orangorang tertentu. &elain itu unjuk rasa seringkali OdisusupiO pihak-pihak luar yang dengan tidak segan-segan melakukan tindakan kekerasan terhadap para pelaku unjuk rasa, seperti yang dialami PT. )adera =$ Indonesia pada akhir *aret 2331 dan PT. Batam TeJtile Industry di a(al *ei 2333. &ituasi ini tidak urung men#iutkan niat in estor untuk menanamkan modalnya di tanah air kita ter#inta, dan bahkan para in estor yang sudah masuk pun banyak yang sudah
17

.U/.=/G-U/.=/G $1PUB>I) I/.+/1&I=, /+*+$ 2 T=%U/ 2335 T1/T=/G P1/D1>1&=I=/ P1$&1>I&I%=/ %UBU/G=/ I/.U&T$I=>, Pasal 1 ! .alam Undang-undang ini yang dimaksud dengan ! 1. Perselisihan %ubungan Industrial adalah perbedaan pendapat yang mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja;buruh atau serikat pekerja;serikat buruh karena adanya perselisihan mengenai hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja dan perselisihan antar serikat pekerja;serikat buruh dalam satu perusahaan. 2.Perselisihan hak adalah perselisihan yang timbul karena tidak dipenuhinya hak, akibat adanya perbedaan pelaksanaan atau penafsiran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan, perjanjian kerja, peraturan perusa-haan, atau perjanjian kerja bersama. 4.Perselisihan kepentingan adalah perselisihan yang timbul dalam hubungan kerja karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pembuatan, dan;atau perubahan syarat-syarat kerja yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, atau peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. 5.Perselisihan pemutusan hubungan kerja adalah perselisihan yang timbul karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pengakhiran hubungan kerja yang dilakukan oleh salah satu pihak.7.Perselisihan antar serikat pekerja;serikat buruh adalah perselisihan antara serikat pekerja;serikat buruh dengan serikat pekerja;serikat buruh lain hanya dalam satu perusahaan, karena tidak adanya persesuaian paham mengenai keanggotaan, pelaksanaan hak, dan ke(ajiban keserikatpekerjaan. B.Pengusaha adalah !a.orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri"b. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang se#ara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya" #. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia me(akili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b yang berkedudukan di luar (ilayah Indonesia. C. Perusahaan adalah !a. setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik s(asta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja;buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain"b. usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. G. &erikat pekerja;serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja;buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung ja(ab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja;buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja;buruh dan keluarganya.6.Pekerja;buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. 13.Perundingan bipartit adalah perundingan antara pekerja; buruh atau serikat pekerja;serikat buruh dengan pengusaha untuk menyelesaikan perselisihan hubungan industrial. 11. *ediasi %ubungan Industrial yang selanjutnya disebut mediasi adalah penyelesaian perselisihan hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja, dan perselisihan antar serikat pekerja;serikat buruh hanya dalam satu perusahaan melalui musya(arah yang ditengahi oleh seorang atau lebih mediator yang netral. 12. *ediator %ubungan Industrial yang selanjutnya disebut mediator adalah pega(ai instansi pemerintah yang bertanggung ja(ab di bidang ketenagakerjaan yang memenuhi syarat-syarat sebagai mediator yang ditetapkan oleh *enteri untuk bertugas melakukan mediasi dan mempunyai ke(ajiban memberikan anjuran tertulis kepada para pihak yang berselisih untuk menyelesaikan perselisihan hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja, dan perselisihan antar serikat pekerja; serikat buruh hanya dalam satu perusahaan. 14.)onsiliasi %ubungan Industrial yang selanjutnya disebut konsiliasi adalah penyelesaian perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja atau perselisihan antar serikat pekerja;serikat buruh hanya dalam satu perusahaan melalui musya(arah yang ditengahi oleh seorang atau lebih konsiliator yang netral. 15. )onsiliator %ubungan Industrial yang selanjutnya disebut konsiliator adalah seorang atau lebih yang memenuhi syarat-syarat sebagai konsiliator ditetapkan oleh *enteri, yang bertugas melakukan konsiliasi dan (ajib memberikan anjuran tertulis kepada para pihak yang berselisih untuk menyelesaikan perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja atau perselisihan antar serikat pekerja;serikat buruh hanya dalam satu perusahaan. 17.=rbitrase %ubungan Industrial yang selanjutnya disebut arbitrase adalah penyelesaian suatu perselisihan kepentingan, dan perselisihan antar serikat pekerja;serikat buruh hanya dalam satu perusahaan, di luar Pengadilan %ubungan Industrial melalui kesepakatan tertulis dari para pihak yang berselisih untuk menyerahkan penyelesaian perselisihan kepada arbiter yang putusannya mengikat para pihak dan bersifat final.1B.=rbiter %ubungan Industrial yang selanjutnya disebut arbiter adalah seorang atau lebih yang dipilih oleh para pihak yang berselisih dari daftar arbiter yang ditetapkan oleh *enteri untuk memberikan putusan mengenai perselisihan kepentingan, dan perselisihan antar serikat pekerja;serikat buruh hanya dalam satu perusahaan yang diserahkan penyelesaiannya melalui arbitrase yang putusannya mengikat para pihak dan bersifat final. 1C.Pengadilan %ubungan Industrial adalah pengadilan khusus yang dibentuk di lingkungan pengadilan negeri yang ber(enang memeriksa, mengadili dan memberi putusan terhadap perselisihan hubungan industrial. 1G. %akim adalah %akim )arier Pengadilan /egeri yang ditugasi pada Pengadilan %ubungan Industrial.16.%akim =d-%o# adalah %akim =d-%o# pada Pengadilan %ubungan Industrial dan %akim =d-%o# pada *ahkamah =gung yang pengangkatannya atas usul serikat pekerja; serikat buruh dan organisasi pengusaha. 23.%akim )asasi adalah %akim =gung dan %akim =d-%o# pada *ahkamah =gung yang ber(enang memeriksa, mengadili dan memberi putusan terhadap perselisihan hubungan industrial. 21.*enteri adalah *enteri yang bertanggung ja(ab di bidang ketenagakerjaan. Pasal 2! 0enis Perselisihan %ubungan Industrial meliputi ! a. perselisihan hak" b. perselisihan kepentingan" #.perselisihan pemutusan hubungan kerja" dan d. perselisihan antar serikat pekerja;serikat buruh hanya dalam satu perusahaan. Pasal 4! ,1- Perselisihan hubungan industrial (ajib diupayakan penyelesaiannya terlebih dahulu melalui perundingan bipartit se#ara musya(arah untuk men#apai mufakat.,2- Penyelesaian perselisihan melalui bipartit sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1-, harus diselesaikan paling lama 43 ,tiga puluh- hari kerja sejak tanggal dimulainya perundingan.,4=pabila dalam jangka (aktu 43 ,tiga puluh- hari sebagaimana dimaksud dalam ayat ,2- salah satu pihak menolak untuk berunding atau telah dilakukan perundingan tetapi tidak men#apai kesepakatan, maka perundingan bipartit dianggap gagal. Pasal 5!,1- .alam hal perundingan bipartit gagal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat ,4-, maka salah satu atau kedua belah pihak men#atatkan perselisihannya kepada instansi yang bertanggung ja(ab di bidang ketenagakerjaan setempat dengan melampirkan bukti bah(a upaya-upaya penyelesaian melalui perundingan bipartit telah dilakukan. ,2- =pabila bukti-bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat ,1- tidak dilampirkan, maka instansi yang bertanggung ja(ab di bidang ketenagakerjaan mengembalikan berkas untuk dilengkapi paling lambat dalam (aktu C ,tujuh- hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya pengembalian berkas. ,4- &etelah menerima pen#atatan dari salah satu atau para pihak, instansi yang

hengkang ke :ina, 9ietnam atau negara-negara lain yang dinilai aman bagi usaha in estasi mereka. .ari kenyataan tersebut akan timbul pertanyaan, apa yang sedang terjadi dan mengapa pemerintah tidak juga berhasil meredakan situasi tersebut atau paling tidak men#egah tindakan anarkis, sehingga ter#ipta kestabilan dan kenyamanan dalam bekerja. Untuk menja(ab pertanyaan tersebut perlu maka dilihat tiga faktor utama yang dapat dianggap sebagai pemi#u. )etiga faktor tersebut juga melibatkan tiga pihak penting dalam hubungan industrial yaitu karya(an ; buruh, pengusaha yang di(akili pihak management, dan pemerintah yang di(akili oleh .epnakertrans. =da pun ketiga faktor tersebut adalah adanya tuntutan kesejahteraan dari karya(an.1B Tanggapan dari pengusaha ; management yang tidak bersedia berunding dengan karya(an Peran .epartemen Tenaga )erja selaku lembaga yang diberi keper#ayaan untuk menjembatani perselisihan antara buruh dengan pengusaha tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. *engapa Buruh *elakukan Unjuk $asa dan *ogok )erjaM *asalah mogok kerja di Indonesia sejak bergulirnya era reformasi sudah menjadi suatu hal yang OumumO. *eskipun prosedur untuk melakukan Omogok kerjaO menurut UU Perburuhan no. 22 th 167C harus terlebih dahulu mendapatkan tanda penerimaan pemberitahuan mogok dari ketua Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan tingkat .aerah ,P5.-, dalam kenyataan para buruh tetap saja mogok tanpa menunggu adanya tanda terima tersebut 0ika dilihat se#ara garis besar, unjuk rasa atau pemogokan pada dasarnya terjadi karena adanya ganjalan atau ketidakharmonisan hubungan antara pekerja dan pengusaha. =danya tuntutan yang diajukan pekerja, yang tidak ditanggapi atau tidak dapat dipenuhi oleh pengusaha, seringkali menimbulkan gejolak dan konflik 1C yang diikuti unjuk rasa dan pemogokan. *enurut Indra Ibrahim ,2331- dalam makalah OPengatasan Unjuk $asa di Industri TekstilO tuntutan para pengunjuk rasa dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu tuntutan normatif dan tuntutan non normatif. Tuntutan /ormatif !
/o. 1. 2. 4. 5. 7. B. C. G. 6. 13. Tuntutan U*$ %ak #uti 0amsostek P%) %ak lembur &erikat Pekerja %ak T%$ Uang jasa ))B Pelaksanaan pesangon 0umlah )asus 53 45 27 25 1G 14 12 B 7 7 Prosentase 21.6G 1G.BG 14.C5 14.16 6.G6 C.15 B.76 4.43 2.C7 2.C7

Total

1G2

133.33

bertanggung ja(ab di bidang ketenagakerjaan setempat (ajib mena(arkan kepada para pihak untuk menyepakati memilih penyelesaian melalui konsiliasi atau melalui arbitrase. ,5- .alam hal para pihak tidak menetapkan pilihan penyelesaian melalui konsiliasi atau arbitrase dalam (aktu C ,tujuh- hari kerja, maka instansi yang bertanggung ja(ab di bidang ketenagakerjaan melimpahkan penyelesaian perselisihan kepada mediator.,7- Penyelesaian melalui konsiliasi dilakukan untuk penye-lesaian perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja, atau perselisihan antar serikat pekerja; serikat buruh. ,B- Penyelesaian melalui arbitrase dilakukan untuk penyelesaian perselisihan kepentingan atau perselisihan antar serikat pekerja;serikat buruh. Pasal 7! .alam hal penyelesaian melalui konsiliasi atau mediasi tidak men#apai kesepakatan, maka salah satu pihak dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan %ubungan Industrial.

.=nthony Giddens, )apitalisme dan Teori &osial *odern ,terjemahan &oeheba )ramadibrata-, Penerbit Uni ersitas Indonesia, 0akarta, 16GB, hlm 26-52.
1C

1B

.$oberto *. Unger, Gerakan &tudi %ukum )ritis ,terjemahan Ifdhal )ashim-, 1lsam, 0akarta, 1666, hlm J

ii

Tuntutan /on /ormatif !


/o. 1. 2. 4. 5. 7. B. C. G. 6. 13. 11. 12. 14. 15. 17. 1B. 1C. 1G. 16. 23. Tuntutan )enaikan Upah ;T%$ *enu ; Uang makan Transport Insentif ; )esejahteraan &olidaritas Bonus Tunjangan &embako Intimidasi ; &korsing )ontrak )erja *anager &.* mundur Pesangon :atering Pakaian kerja Premi )ehadiran )erja kembali Uang shift &arana ibadah Pengangkatan &urat sakit &lip gaji Total 0umlah )asus Prosentase G6 24.BC 74 15.13 44 G.CG 42 G.71 24 B.12 1G 5.C6 1C 5.72 1B 5.2B 1B 5.2B 15 4.C2 13 2.BB 6 2.46 6 2.46 G 2.14 C 1.GB C 1.GB B 1.B3 5 1.3B 4 3.G 2 3.74 4CB 133.33

Da"a "a un .555 ) 0ika dilihat dari kedua tabel diatas maka faktor gaji;upah tampaknya masih mendominasi tuntutan para pekerja..alam kasus PT )adera =$ Indonesia, aksi mogok dipi#u oleh rendahnya gaji karya(an serta seringnya pimpinan perusahaan bertindak se(enang-(enang. /amun jika dilihat lebih lanjut akar masalahnya adalah gaji ,tingkat kesejahteraan- karya(an yang dirasa sudah sangat tidak men#ukupi biaya hidup ,)ompas, 41 *aret 2331-. %al tersebut dapat dimengerti mengingat situasi perekonomian yang sangat parah sehingga para pekerja masih jauh dari sejahtera. *eskipun pemerintah telah menetapkan U*$ di setiap daerah, namun U*$ tersebut selalu dirasakan kurang akibat kenaikan harga kebutuhan pokok yang selalu lebih tinggi dibanding kenaikan upah. Tuntutan untuk memperbaiki kesejahteraan hidup tampaknya akan terus menjadi tuntutan para buruh, mengingat bah(a hal tersebut merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi agar para pekerja dapat termoti asi untuk bekerja dengan baik, seperti yang dikemukakan oleh =braham *aslo( dalam teori %irarki )ebutuhan ,%ierar#hy of /eeds Theory-. 0ika mengambil teori %irarki )ebutuhan dari =braham *aslo( maka faktor-faktor yang dapat mempengaruhi moti asi dan produkti itas pekerja adalah! - Physiologi#al ,kebutuhan fisik-! adalah upah, rumah, sandang. - &afety ,kebutuhan akan rasa aman-! adalah jabatan, kepastian karir, status kerja yang jelas. - &o#ial ,kebutuhan akan hubungan sosial ; kasih sayang-! adalah hubungan interpersonal antar rekan kerja, atasan dan ba(ahan, dan iklim kerja. - 1steem ,kebutuhan akan pengakuan ; dihargai-! adalah penghargaan perusahaan terhadap indi idu atas kinerja atau hasil usahanya, pemberian otonomi. - &elf-a#tualiAation ,kebutuhan aktualisasi diri-! kesempatan untuk mengembangkan kreati itas dan per(ujudan diri ; professionalisme.

Berdasarkan hirarki kebutuhan tersebut di atas maka jika kebutuhan dasar ; fisik dari para buruh masih belum terpenuhi maka gejolak dan konflik dalam hubungan industrial dipastikan masih akan marak dikemudian hari. %ampir senada dengan pendapat *aslo(, seorang psikolog lain bernama 'rederi#k %erAberg mengemukakan sebuah teori yang disebut *oti ation-%ygiene Theory. %erAberg membagi kebutuhan pekerja menjadi dua bagian yaitu! %ygiene 'a#tors dan *oti ational 'a#tors. %ygiene fa#tors berhubungan dengan kebutuhan fisik ; biologis seperti makanan, pakaian dan perumahan. %ygiene fa#tors ini dalam perusahaan dapat berupa kebijakan perusahaan, system administrasi, gaji, iklim kerja, lingkungan kerja, hubungan interpersonal dan super isi. *enurut %erberg jika faktor ini telah dipenuhi oleh perusahaan maka dapat meningkatkan moti asi meskipun belum menjamin bah(a pekerja akan puas. )epuasan kerja dalam hal ini sangat tergantung pada situasi atau kondisi yang ada pada saat itu. &ebaliknya, *oti ator fa#tors, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan a#hie ement ,prestasi-, proses men#apai suatu prestasi, dan kesempatan untuk mengembangkan diri se#ara psikologis. .alam perusahaan faktor ini dapat berupa jenis atau nilai suatu pekerjaan bagi si pemegang jabatan, tanggung ja(ab, pengakuan atas prestasi kerja, atau pun prestasi yang dapat diraih oleh si pekerja. *enurut %erAberg faktor ini lebih dapat memoti asi si pekerja jika kebutuhan ini dapat dipenuhi. &e#ara singkat kedua faktor tersebut dapat dibedakan dari dua pertanyaan! *engapa =nda harus bekerjaM ,%ygiene fa#tor-, dan =pakah yang membuat =nda bekerja dengan baikM ,*oti ator fa#tors-. *engapa Pengusaha *enolak untuk Berunding M $atifikasi kon ensi I>+ no.GC pada 7 0uni 166G dan gerakan reformasi di segala bidang yang terjadi di Indonesia telah mengubah nuansa hubungan industrial. 0ika pada era sebelumnya hanya dikenal satu-satunya serikat pekerja yaitu &P&I, maka saat ini jumlah serikat pekerja ,&P- atau serikat buruh ,&B- mungkin sudah men#apai ratusan &P;&B. Permasalahan menjadi bertambah dengan kurangnya kesadaran para pekerja;buruh untuk mematuhi rambu-rambu peraturan ketenagakerjaan atau undang-undang perburuhan sehingga banyak terjadi gejolak hubungan industrial akibat adanya unsur pemaksaan kehendak yang #enderung mengarah pada tindakan anarkis oleh pekerja pada saat mereka menuntut haknya. .isisi lain para pengusaha sedang menghadapi dilema akibat krisis multidimensi. 0angankan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja sebagaimana yang dituntut oleh para pekerja, untuk dapat mempertahankan eksistensi usahanya saja sudah sangat sulit. *eskipun tidak diingkari bah(a ada juga beberapa pengusaha yang tidak ; belum mau mengakomodir keinginan para pekerjanya agar diperlakukan sebagai mitra sejajar dalam kegiatan produksi perusahaannya. 0ika diperhatikan se#ara #ermat ada beberapa alasan mengapa para pengusaha tidak mau berunding dengan para buruh jika terjadi tuntutan! )etida kmampuan pengusaha ,dalam hal ini di(akili oleh pihak manajemen- dalam memenuhi tuntutan pekerja sebagai akibat dari rendahnya produkti itas atau defisit keuangan yang dialami perusahaan. =danya fakta-fakta yang ditemukan oleh pengusaha bah(a aksi unjuk rasa atau pemogokan bukan murni merupakan aspirasi seluruh pekerja di perusahaan tersebut tetapi merupakan pro okasi pihak lain. %al ini dapat dibuktikan dengan adanya kasus para buruh yang berunjuk

rasa atau mogok kerja tidak tahu apa yang menjadi tuntutan dalam aksi tersebut, mereka ikut dalam aksi tersebut karena dipaksa. Pengusaha sengaja tidak merespons keinginan para pekerja karena pengusaha menganggap seandainya terjadi mogok dan unjuk rasa, maka perusahaan dapat ditutup untuk sementara sampai keadaan menjadi reda" selanjutnya perusahaan dibuka kembali dengan merekrut pekerja baru. Pengusaha membiarkan unjuk rasa dan mogok kerja terjadi untuk kemudian dilakukan P%). .alam banyak kasus pengusaha yang melakukan hal tersebut tidak mendapatkan sanksi apapun dari pihak terkait ,.epnakertrans- sebagai akibat dari lemahnya penegakan hukum ,la( enfor#ement- di Indonesia. Tuntutan pekerja se#ara baik-baik tanpa disertai unjuk rasa dan mogok kerja seringkali diabaikan atau tidak direspons oleh pengusaha karena pengusaha beranggapan bah(a nantinya tuntutan tersebut akan hilang dengan sendirinya. .alam hal ini pengusaha seringkali terlalu per#aya diri atau terlalu yakin bah(a sistem yang dijalankan di perusahaannya adalah yang terbaik sehingga tidak perlu lagi mendengarkan tuntutan pekerja. Bagaimana Peran Pemerintah M Da&am ubun!an in'u%"ria& 'ikena& un%ur "ri#ar"i" yai"u Pen!u%a a, Serika" Peker$a<Buru ,yang me(akili tenaga kerja- serta Pemerintah ,dalam hal ini .epnakertrans-. Unsur Pemerintah diharapkan bertindak sebagai fasilitator yang tidak memihak diantara dua unsur pertama. /amun dalam kenyataannya Pemerintah ternyata tidak dapat menjalankan peran tersebut dengan baik. %al ini terbukti dari lahirnya peraturan-peraturan atau kebijakankebijakan yang #enderung kontro ersial, seperti UU no. 21;2333 dan )epmen /o. 173;2333. &elain itu perangkat peraturan perundangan ketenagakerjaan yang ada seringkali berubahubah dan banyak yang sudah ketinggalan jaman ,out of date-. Da&am ka%u%9ka%u% m(!(k ker$a dan unjuk rasa yang berakhir dengan tindakan-tindakan anarkis peran Pemerintah ,.epnakertrans dan termasuk juga )epolisian- memang sangat dinantikan. %al ini dipandang krusial mengingat bah(a kasus unjuk rasa telah melibatkan banyak pihak dan menjadi sorotan bagi pengusaha asing yang mau menanamkan modalnya di Indonesia untuk melihat sejauhmana hukum dapat ditegakkan di $epublik ini. Ana&i%a Fak"(r In"erna& 'an Ek%"erna&. Ber'a%arkan Ani&a%a Fak"(r In"erna& ) 1. Bah(a dimensi pemenuhan %=* dalam pengaturan hukum perburuhan di Indonesia dalam sejarahnya selalu memerankan tiga sumbu kekuatan" pemegang modal, buruh dan pemangku kebijakan. Berbagai kekuatan ini berdialektika mengikuti arus Aaman dan pemangku kebijakannya. &e#ara historis, di era kolonial Belanda terlihat diskriminasi dan pelanggaran %=* terhadap kaum buruh1G sangat nampak, upah yang tidak layak, sistem tanam paksa, hak berpendapat dan berserikat yang dikekang, penangkapan-penangkapan, jam kerja dan jaminan kesehatan yang terlanggar dengan sedemikian rupa. )ekerasan itu berlanjut di penjajahan 0epang yang mempraktekkan sistem romusha dan menutup hak berpendapat dan berserikat. 16 2. Bah(a pengaruh +rde >ama, nasib buruh dan serikatnya mengalami masa-masa keemasan. =turan-aturan tentang perburuhan sangat kuat dimensi hak asasi manusianya. =turanaturan itu menjamin hak kebebasan berserikat dan berpendapat, tetapi hak ini mengalami kema#etan setelah .ekrit 7 0uli 1676, tetapi hak-hak yang lain seperti hak atas upah yang
1G

. Tim Pengajar %ukum Perburuhan, %ukum Perburuhan, 'akultas %ukum UI, .epok, 2333, hlm GC.
.Imam &oepomo, Pengantar %ukum Perburuhan, Penerbit .jambatan, 0akarta, 1666, hlm 4-5.

16

layak, hak #uti bagi kaum perempuan, hak ke#elakaan kerja, hak istirahat dan jam kerja dan hak tidak di P%) se(enang-(enang tetap terjamin. /egara aktif melindungi bahkan mengikatkan dirinya untuk menga(asi bagaimana aturan-aturan perburuhan dijalankan se#ara serius oleh para pengusaha. Posisi serikat buruh juga sangat strategis ketika ada konflik dengan perusahaan. .i era +rde >ama juga Indonesia telah menjadi anggota I>+ dan meratifikasi beberapa instrumen I>+. 4. Pada +rde Baru, instrumen-instrumen hukum perburuhan pada umumnya berada di ba(ah Undang-Undang, dan se#ara substansi muatannya sangatlah diskriminasi terhadap buruh dan organisasinya. )ebebasan berpendapat dan berserikat dibelenggu, organisasi buruh dihegemoni, upah ditekan, in estasi asing dibuka se#ara bebas, P%) dipermudah dan posisi pengusaha yang sangat kuat. 1ra +rde Baru merupakan reAim yang sangat ketat, keras dan otoriter terhadap buruh tetapi sangat ramah terhadap para in estor asing, keluarga dan kroninya. $elasi penguasa dan dan pengusaha bersifat #lientis dan saling menguntungkan. Untuk menjamin keberlangsungan kepentingan #lientis dan otoritarian, reAim +rde Baru memberlakukan sistem hubungan industrial pan#asila ,%IP- yang kemudian berdampak pada berbagai pelanggaran %=*. 5. &edangkan instumen hukum perburuhan pas#a reformasi penuh dengan dekte I*' dan lembaga-lembaga keuangan internasional sehingga sangat terlihat (atak pelepasan tanggungja(ab negara terhadap pemenuhan %=*. .i sisi yang lain, instrumen-instrumen hukum perburuhan yang ada mengekang kebebasan berpendapat dan berserikat dengan landasan yang sangat administratif dan prosedural sehingga sangat mengganggu terhadap perjuangan hak-hak kaum buruh dan organisasinya. 7. Perlindungan dan pemenuhan hak-hak kaum buruh diatur dengan jelas dalam beberapa instrumen hukum %=* di Indonesia. Instrumen-instrumen itu meliputi UU. 1657, UU /o. 46 tahun 1666 tentang %=*, UU /o. 11 tahun 2337 tentang %ak 1konomi, &osial dan Budaya dan UU /o. 12 tahun 2337 tentang %ak &ipil dan Politik. &e#ara umum pemenuhan hak-hak kaum buruh terbagi menjadi dua, pertama, pemenuhan yang berdimensi hak sipil dan politik. Pemenuhan %=* 23 dalam dimensi ini masih bermasalah karena instrumen-instrumen %=* masih memberlakukan pembatasan-pembatasan baik dengan alasan moral, hukum yang berlaku, nilai-nilai agama, ketertiban umum, keamanan nasional dan lainnya yang malah berpotensi terhadap pelanggaran %=* baru. &edangkan yang kedua ialah pemenuhan yang berdimensi hak ekonomi, sosial dan budaya. .imensi pemenuhan %=* dalam instrumen21 ini terlihat sudah ideal. B. Upaya melakukan komunikasi dua arah dan terus-menerus antara pengusaha dan pekerja untuk men#egah prasangka dari kedua belah pihak sehingga ter#apai hubungan industrial yang baik, dimana Pihak pengusaha sebaiknya merespon tuntutan buruh se#ara #epat dengan melakukan pendekatan-pendekatan pada per(akilan serikat buruh;pekerja, sehingga unjuk rasa dan mogok kerja dapat di#egah atau paling sedikit unjuk rasa atau mogok tidak menimbulkan kerugian yang besar bagi perusahaan dan pekerja. C. )e(enangan dari Pemerintah perlu bertindak #epat dan proaktif dalam menyelesaikan perselisihan buruh;pekerja dengan pengusaha sehingga tindakan anarkis dapat di#egah dan pemerintah perlu segera menyusun perangkat perundangan ketenagakerjaan terutama yang menyangkut unjuk rasa dan mogok22 kerja sehingga tidak merusak #itra Indonesia di mata
23

.*anfred /o(ak, Pengantar pada $eAim %=* Internasional, Pustaka %ak =sasi *anusia ?allenberg Institute, 2334,

hlm

6-13.
21

. )nut .. =splund, &uparman *arAuki dan 1ko $iyadi ,1d-, %ukum %ak =sasi *anusia, PU&%=* UII, Dogyakarta, 233G,

hlm17-1B.

.&ri Palupi, *erumuskan Indikator Pemenuhan dan Perlindungan %ak 1konomi, &osial dan Budaya, makalah dalam E&eminar dan >okakarya %ak-%ak 1konomi, &osial, dan BudayaF, yang diselenggarakan PU&%=*-UII, Dogyakarta 1B-1G =pril 233C.

22

in estor serta adanya tindakan tegas dan adil dalam menindak para pelaku unjuk rasa < mogok kerja maupun pihak lain yang bertindak anarkis, akan tetapi sangat perlu juga memperhatikan kesejahteraan hajat hidup orang banyak sesuai dengan amanat dari Undang-Undang .asar $epublik Indonesia 1657. Ber'a%arkan Ani&a%a Fak"(r Ek%"erna& ) 1. Pada abad 16 se#ara resmi bangsa Belanda menjajah /usantara. Belanda menyebut bangsa jajahannya sebagai %india Belanda. Belanda menyebut dirinya sebagai kolonial dan menyebut masyarakat jajahannya sebagai Inlander. &truktur sosial nusantara mereka politisasi dan dibagi menjadi tiga tingkatan etnik" etnik eropa, etnik timur asing, dan etnik inlanders ,pribumi-. )edudukan kelompok-kelompok ini berbeda-beda se#ara hukum, tempat ibadah, ka(asan hunian, makan dan termasuk tempat kuburan. Pendapatan kerja dan gaji kelompok pribumi lebih rendah dibandingkan dengan kelompok 1ropa dan Timur =sing. 1ra kolonialisme24 Indonesia merupakan masa keterpurukan rakyat Indonesia. *ereka dtindas dan diberlakukan se#ara se(enang-(enang oleh Belanda. &turuktur sosial masyarakat dan penghasilan rakyat pribumi sangatlah tidak manusia(i. &edangkan di sisi yang lain, kolonial belanda bertindak membabi buta dengan mempekerjakan rakyat dengan sistem tanam paksa dan menghapuskan nilai tata asli ekonomi Indonesia. 25 Belanda di a(al kolonialisme memberlakukan sistem kapitalisme industrial khususnya di daerah 0a(a. 0ohn Ingleson mengatakan, pada abad ke-16 ialah abad kun#i dalam sejarah pembangunan Indonesia. Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda bertindak sebagai enterprener dan berusaha mengembangkan industri perkebunan di 0a(a, khususnya industri gula. Pemerintah kolonial memaksa petani di 0a(a untuk menanam tebu guna menghasilkan gula buat kepentingan ekspor dunia. Bumi dan rakyat Indonesia dijadikan proyek oleh kolonial Belanda untuk membangun kekuatan ekonomi raksasa mereka. 2. Instrumen hukum internasional yang se#ara spesifik mengatur tentang hak-hak kaum buruh ialah kon ensi-kon ensi I>+. Indonesia sejak era +rde >ama sampai dengan era reformasi telah meratifikasi beberapa kon ensi I>+. /amun demikian, ratifikasi kon ensi-kon ensi I>+ masih belum berdampak pada perlindungan dan pemenuhan hak-hak kaum buruh di Indonesia. Penelitian I>+ masih menemukan fakta-fakta pelanggaran %=* yang menimpa kaum buruh di Indonesia seperti kerja paksa, praktek eksploitasi, pele#ehan seksual (anita27 dan anak-anak, pekerja anak diba(ah umur, upah P$T yang tidak layak, dan beberapa lainnya. I>+ men#atat bah(a berbagai pelanggaran %=* tersebut terjadi salah satunya disebabkan telah hilangnya tanggungja(ab pemerintah baik pusat ataupun daerah terhadap perlindungan dan pemenuhan hak-hak kaum buruh. 4. =nalisa se#ara faktor internal dimana kebijakan dan ke(enangan Pemerintah terhadap masalah perburuhan sangat lemah dan tidak berdaya, melihat dari kasus-kasus T)I yang terjadi di )uala >umpur, *alaysia, penanganan kasus pembunuhan T)? di )u(ait, yang seakan tidak ada koordinasi antar negara.

. 0ohn Ingleson, In &ea#h +f 0usti#e, +Jford Uni ersity Press, &ingapura, 16GB dalam E*en#ari )eadilan di Kaman )olonialF di http!;;(((.tempointeraktif.#om;, diakses 7 0uli 2313 jam 14.17 ?IB.
25

24

.&oe %ok Gie, .i Ba(ah >entera *erah, $i(ayat &arekat Islam &emarang 161C-1623, 'rantA 'anon 'oundation, 0akarta, . Tongam Panggabean, Gerakan &erikat Buruh di *edan 16C1-1663, .epartemen Ilmu &ejarah 'akultas &astra U&U, *edan,

1663, hlm B.
27

2336, hlm 27.

Da3"ar Pu%"aka
=nthony Giddens, )apitalisme dan Teori &osial *odern ,terjemahan &oeheba )ramadibrata-, Penerbit Uni ersitas Indonesia, 0akarta, 16GB =(alil $iAky dan /asyith *ajidi, /eoliberalisme *en#engkram Indonesia, 1-Publishing :ompany, 0akarta, 233G

=llen, >inda. E :apital *arkets =nd Institutions E! = Global 9ie(./e( Dork, Brisbane, &ingapore ! 0hon ?iley < &onsIs, In#., 166C. Baskara T ?ardaya, *enelusuri =kar +toritarianisme di Indonesia, Penerbit 1lsam, 0akarta, 233C. Bagir *anan, Perkembangan Pemikiran .an Pengaturan %ak =sasi *anusia .i Indonesia, Dayasan %ak =sasi *anusia, .emokrasi dan &upremasi %ukum, Bandung, 2331. Bea er, ?illiam %. E The /ature of *andated .is#losureF, dalam $i#hard =. Posner dan )enneth 1.&#ott, ed, 6#onomi# of 3orporation 2a' and Se#uritie Cegulation.Boston, Toronto ! >ittle Bro(n < :ompany, 16G3. Bla#k, %enry :ampbell.Bla#k: 2a' &i#tionary, &iJt 1dition.&T.Paul. *inn! ?est Publishing :o, 1663. Bromberg, =lan $.F 3orporate Information! TeJas Gulf &ulphur and Its Impli#ationsF. &outh?estern >a( 0ournal, ol 22, 16BG. Bun#h, Gary.F :hiarella ! +he 0eed 8or 67ual ;##e Under Se#tion 4A(b) F. &an .iego >a( $e ie(, ol 1C, 16G3. BP& Pro insi )alimantan Tengah. "Pemerintah =anji 6nta kan 4$< juta Pengangguran%. :yber/e(s. Dogyakarta. Bronkhorst,:" F>Iatat de ne#essite.In ! /etherlands $eport, et#.Pes#ara 16C3 ,&ee Bibl./o. B4-pp.451-472.+n /e#essity.P Bla#k and .aniel, E *oney and BangkokF, :ontemporary Pran#ti#es, Politik and Isues Business Publi#ation I/:.Plano, TeJas 1661. Bea er, ?illiam %. E The /ature of *andated .is#losureF, dalam $i#hard =. Posner dan )enneth 1.&#ott, ed, 1#onomi# of :orporation >a( and &e#urities $egulation.Boston, Toronto ! >ittle Bro(n < :ompany, 16G3. Bla#k, %enry :ampbell.Bla#kIs >a( .i#tionary, &iJt 1dition.&T.Paul. *inn! ?est Publishing :o, 1663. ---------------- Bungin, *. Burhan. ,2337-. *etode Penelitian )uantitatif. 0akarta! Prenada *edia. 1ep &aefullah 'atah, :atatan atas Gagalnya Politik +rde Baru, Pustaka Pelajar, Dogyakarta, 166G. -------------- 1ko Prasetyo, dkk, Buku =jar %ak =sasi *anusia, Dogyakarta, PU&%=* UII, 233G. Gregorius &ahdan, 0alan Transisional .emokrasi Pas#a &oeharto, Pondok 1dukasi, Dogyakarta, 2335. %enry 0. &teiner and Philp =lston, International %uman $ights In :onteJt ,>a(, Politi#s, *orals-, +Jford Uni ersity Press Book, /e( Dork, 2333. -------------- Imam &oepomo, Pengantar %ukum Perburuhan, Penerbit .jambatan, 0akarta, 1666. -------------- Imam &oepomo, %ukum Perburuhan, Penerbit .jambatan, 0akarta, 2331. )nut .. =splund, &uparman *arAuki dan 1ko $iyadi ,1d-, %ukum %ak =sasi *anusia, PU&%=* UII, Dogyakarta, 233G. -------------- >.0. 9an =peldoorn, Pengantar Ilmu %ukum, PT Pradnya Paramita, 0akarta, 2331. *ajda 1l-*uhtaj, %ak =sasi *anusia dalam )onstitusi Indonesia, Prenada *edia, 0akarta, 2337. *uhammad &yafari 'irdaus, dkk, Pembangunan Berbasis %ak =sasi *anusia ! &ebuah Panduan, )omnas %=*, 0akarta, 233C. *uladi ,editor-, %ak =sasi *anusia ! %akekat, )onsep dan Implikasinya dalam Perspektif %ukum dan *asyarakat, PT $afika =ditama,Bandung, 2337. *anfred /o(ak, Pengantar pada $eAim %=* Internasional, Pustaka %ak =sasi *anusia ?allenberg Institute, 2334.

$ieke .iah Pitaloka, )ekerasan /egara *enular ke *asyarakat, Galang Press, Dogyakarta, 2335. $usdi *arpaung dkk, ,1d-, Perlindungan terhadap Pembela %ak =sasi *anusia, 0akarta, I*P=$&I=>, 2337. $oberto * Unger, Gerakan &tudi %ukum )ritis ,Terjemahan Ifdhal )ashim-, Penerbit 1lsam, 0akarta, 1666. &oe %ok Gie, .i Ba(ah >entera *erah, $i(ayat &arekat Islam &emarang 161C-1623, 'rantA 'anon 'oundation, 0akarta, 1663. &entanoe )ertonegoro, Gerakan serikat Pekerja ,Trade Unionism- &tudi kasus Indonesia dan negara-negara Industri, Dayasan Tenaga )erja Indonesia, DT)I-, 0akarta, 1666. Tim Pengajar %ukum Perburuhan, %ukum Perburuhan ,Buku =jar -, 'akultas %ukum UI, .epok, 2333. Tongam Panggabean, Gerakan &erikat Buruh di *edan 16C1-1663, .epartemen Ilmu &ejarah 'akultas &astra U&U, *edan, 2336. 0urnal dan *akalah ! - =gung %erma(an, Quo 9adis Politik Perburuhan Indonesia, tanpa tahun ,*akalah-. - Indrasari Tjandraningsih dan $ina %era(ati, .inamika 0aringan Perburuhan Indonesia ! =ngin &egar Gerakan Buruh, 233G ,*akalah- &ri Palupi, *erumuskan Indikator Pemenuhan dan Perlindungan %ak 1konomi, &osial dan Budaya, makalah dalam E&eminar dan >okakarya %ak-%ak 1konomi, &osial, dan BudayaF, yang diselenggarakan PU&%=*-UII, Dogyakarta 1B-1G =pril 233C. - &ri %astuti P&, Perlindungan %=* dalam 1mpat )onstitusi .i Indonesia, 0urnal *agister %ukum /o. 1 9ol. 1 0anuari 2337, Uni ersitas Islam Indonesia ,0urnal-.

Anda mungkin juga menyukai