P. 1
Profil Perempuan dan Anak Indonesia Tahun 2007

Profil Perempuan dan Anak Indonesia Tahun 2007

|Views: 5,944|Likes:
Dipublikasikan oleh Parjoko MD
GAMBARAN CAPAIAN BEIJING PLATFORM FOR ACTION 1995 YANG DIKAITKAN DENGAN PENCAPAIAN MDGs 2000.
GAMBARAN CAPAIAN BEIJING PLATFORM FOR ACTION 1995 YANG DIKAITKAN DENGAN PENCAPAIAN MDGs 2000.

More info:

Published by: Parjoko MD on Sep 28, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2013

pdf

text

original

Angka Kematian Bayi (AKB)

Tahun

Laki-laki

Perempuan

Laki-laki dan
perempuan

1971

158

134

145

1980

118

100

109

1990

79

64

71

1994

-

-

57

1997

-

-

46

2000

46

35

41

2001

44

34

39

2002

42

32

37

2003

40

30

36

2004

39

29

34

2005

37

28

32

2006

-

-

34

Sumber : Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka 2005. SDKI 2002–2003, Susenas 2004, BPS, 2006, 2008,
SDKI 2007 (laporan pendahuluan )

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia, walaupun telah berhasil diturunkan dari 450
kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 390 (SDKI 1994), 334
(SDKI 1997), dan turun menjadi 307 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-
2003), namun masih merupakan angka tertinggi di Asean. Di negara-negara yang mayoritas
penduduknya muslim, angka kematian ibu di Indonesia tertinggi kedua setelah Afganistan
(1.700 per 100.000 kelahiran hidup), dan setingkat di bawah Indonesia adalah Pakistan
(Kompas 15 Desember 2003). Dari laporan Menteri Kesehatan RI kepada Presiden (Febr,
2008), dari tahun ke tahun menunjukkan penurunan, yakni pada tahun 2004 berada pada
angka 270 per 100.000 kelahiran hidup, 262 tahun 2005, 255 tahun 2006, dan 248 per 100.000
kelahiran hidup pada tahun 2007.
Kesehatan ibu dan ibu hamil juga masih perlu mendapat perhatian, karena pada tahun
2001 sekitar 40,1 persen ibu hamil dan 26,4 persen perempuan usia subur menderita anemia

26

(Depkes, 2004). Pada tahun 1997, proporsi Kurang Energi Kronis Ibu Hamil sebesar 41
persen, sementara untuk prevalensi Kurang Energi Kronis Wanita Usia Subur sebesar 24
persen. Sedangkan persentase perempuan yang mempunyai keluhan tentang kesehatan pada
tahun 2001 mencapai 25,92 persen dan meningkat menjadi 26,80 persen pada tahun 2002,
kemudian menurun menjadi 25,12 persen pada tahun 2003, dan meningkat lagi pada tahun
2004 menjadi 26,51 persen. Menurut Susenas 2005, keluhan perempuan atas kesehatannya
kembali menurun menjadi 22,52 persen pada tahun 2005, dengan lebih banyak perempuan
pedesaan yang sakit (23,34 %) dari pada perkotaan (21,57%). Menurut Susenas 2007,
keluhan perempuan terhadap kesehatan meningkat menjadi 31,09 persen, namun tetap lebih
banyak perempuan perdesaan yang sakit (32,46%) dibandingkan perkotaan (29,34%). Ibu-ibu
yang sakit-sakitan, menderita kekurangan gizi dan anemia sangat mempengaruhi kesehatan
fisik dan intelegensia bayi yang dikandungnya, kesehatan dan keselamatan ibu yang
bersangkutan.

Perilaku sadar akan kesehatan, diindikasikan dari pemeriksaan kesehatan ketika hamil,
kondisinya masih perlu ditingkatkan. Pada tahun 1991 hanya 79,8 persen ibu hamil yang
memeriksakan kandungannya, tetapi pada tahun 1994 meningkat menjadi 82,3 persen,
kemudian meningkat lagi menjadi 89,4 persen pada tahun 1997, dan menjadi 92 persen pada
tahun 2002-2003, selanjutnya terjadi penurunan pada tahun 2005 menjadi 87,01 persen.
Menurut Susenas 2005, penolong kelahiran balita oleh tenaga medis sebesar 70,47 persen
pada tahun 2005, akan tetapi masih terdapat 26,28 persen ibu-ibu yang memeriksakan
kehamilan dan menolong persalinannya oleh dukun bersalin. Pada tahun 2007, penolong
kelahiran pertama balita oleh dukun justru meningkat menjadi 30,27 persen, sementara yang
dotolong tenaga kesehatan menurun menjadi 66,80 persen. Penolong kelahiran terakhir (balita)
pada tahun 2007 oleh tenaga kesehatan 72,53 persen dan dukun 25,31 persen. Penolong
kelahiran terakhir oleh dukun di perkotaan (10, 51%) lebih rendah dibanding perdesaan 36,27
persen ( Susenas 2007)

Sementara imunisasi tetanus toxoid (TT), bagi ibu-ibu yang melahirkan bayi hidup yang
mendapatkan suntikan TT dua kali atau lebih, mengalami penurunan dari 53,4 persen (1997)
menjadi 50,7 persen, tetapi pada tahun 2004 mengalami kenaikan lagi menjadi 63,9 persen
(Depkes, Profil Kesehatan Indonesia 2004). Sedangkan perbandingan desa-kota, ibu-ibu yang
mendapatkan imunisasi TT di perkotaan lebih tinggi (62 %) dibandingkan perdesaan (49 %).
Pada tahun 2007 ibu-ibu selama hamil yang menerima imunisasi TT paling sedikit satu kali
meningkat menjadi 73 persen, dan zat besi 77,3 persen. Untuk kelahiran anak terakhir, ibu
umur 20-34 tahun, ibu dengan urutan anak terendah adalah yang tinggal di perkotaan dan ibu
dengan pendidikan lebih baik cenderung lebih mendapatkan suntikan TT selama kehamilan
bayinya (SDKI, 2007).

Menurut SDKI 1991, anak Indonesia berumur 12-23 bulan yang mendapat imunisasi
lengkap (BCG, campak, dan masing-masing tiga dosis DPT dan Polio) mencapai 48 persen,
kemudian meningkat menjadi 50 persen (SDKI 1994) dan 55 persen (SDKI 1997). Khusus
untuk imunisasi polio ulangan yang keempat hanya mencapai 46,2 persen, sementara
imunisasi campak baru mencapai 71,6 persen (SDKI 2002-2003). Menurut Susenas 2007,
tingkat imunisasi campak mengalami peningkatan, usia 12 bulan sebanyak 71,6 persen dan
usia 12 – 23 bulan mencapai 82,2 persen.
Dari publikasi UNICEF (WHO Health Report, 2007), pada tahun 2003 Brunei
merupakan negara dengan cakupan imunisasi (BCG, DPT, Polio, Hepatitis B dan Campak)
paling tinggi, yakni mencapai 99 persen dan Laos menduduki peringkat paling rendah.

27

Indonesia, cakupan imunisasi BCG berada di urutan keempat terendah (82 %), dan berada di
urutan ketiga terendah untuk imunisasi DPT, Polio, dan Campak. Cakupan imunisasi untuk
DPT dan Polio mencapai 70 persen dan imunisasi Campak mencapai 72 persen. Susenas
2005 mencatat, bahwa jumlah Balita yang pernah mendapatkan imunisasi meningkat mencapai
88,5 persen, yaitu BCG 87,3 persen, DPT 84,6 persen, Polio 89,1 persen, Campak/morbili 72,5
persen, dan Hepatitis B mencapai 74,8 persen. Data Susenas 2007, menunjukkan bahwa
persentase balita yang mendapatkan imunisasi meningkat dibanding pada tahun sebelumnya
yaitu di atas 75 persen untuk semua jenis imunisasi : BCG (89,4%), DPT (86,44%), Polio
(89,67%), campak (75,90%), Hepatitis (80,57%). Balita yang mendapatkan imunisasi DPT,
Polio, Hepatitis dengan minimal 3 (triga) kali masing-masing sebesar 65,8 persen; 70,39
persen`dan 57,71 persen. Dari lima jenis imunisasi tersebut, persentase paling besar berada di
daerah perkotaan.

Kesehatan reproduksi, diartikan sebagai suatu keadaan utuh secara fisik, mental, dan
sosial dari penyakit dan kecacatan dalam semua hal yang behubungan dengan sistem, fungsi
dan proses produksi. Dalam kaitan ini, remaja memiliki resiko yang cukup tinggi terhadap
kesehatan karena anemia. Departemen kesehatan mencatat, bahwa kaum remaja penderita
anemia mencapai 45,8 persen untuk remaja laki-laki usia 10-14 tahun dan 57,1 persen remaja
perempuan atau sejumlah 5-6 juta orang menderita anemia (Profil Kesehatan Indonesia 2000).
Dari sisi fertilitas remaja (ASFR 15-19 tahun) di Indonesia terlihat masih tinggi, walaupun telah
mengalami penurunan dari 155 per seribu perempuan (1991) menjadi 62 (SDKI 1997), dan
Menurut SDKI (2007), ASFR 15-19 tahun menurun lagi menjadi 51 per seribu perempuan
(2007) namun besaran tersebut mempunyai kontribusi sebesar 10,16 persen terhadap fertilitas
total, dan di negara-negara Asean hanya berkisar 5 persen.
Usia kawin pertama, merupakan variabel yang berpengaruh terhadap tingkat fertilitas
wanita usia subur (15-49 tahun). Berdasarkan Susenas (2002-2005, 2007), modus usia saat
perkawinan pertama adalah 19-24 tahun (2002: 41,50 %; 2003: 42,65 %; 2004: 42,94 %; 2005:
41,98 %; 2007 : 41,49%) yang berarti semakin meningkat kesadaran perempuan untuk tidak
kawin pada usia muda yang memiliki resiko tinggi saat hamil dan melahirkan, karena belum
matangnya rahim wanita muda bagi proses berkembangnya janin, atau karena belum siapnya
mental menghadapi masa kehamilan/melahirkan. Namun, persentase wanita pernah kawin
dengan usia perkawinan pertamanya kurang dari 16 tahun masih cukup tinggi, baik di
perdesaan maupun di perkotaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut.

28

Gambar 7.
Persentase Wanita Pernah Kawin dengan Usia Kawin Pertama < 16 Tahun
(di perdesaan)

14.58

13.96

13.34

15

13.49

0000

4444

8888

12
12
12

12

16
16
16

16

20
20
20

20

Prosentase

2002
2003
2004
2005
2007

Gambar 8
Persentase Wanita Pernah Kawin dengan Usia Kawin Pertama < 16 Tahun
(di perkotaan)

000044448888

12
12
12

12

16
16
16

16

20
20
20

20

Prosentase

9.98

9.14

8.86

9.4

8.13

2002

2003

2004

2005

2007

Gambar 9
Persentase Wanita Pernah Kawin dengan Usia Kawin Pertama < 16 Tahun
(di perdesaan dan perkotaan)

12.42

11.98

11.47

12.62

11.23

0000

4444

8888

12
12
12

12

16
16
16

16

20
20
20

20

2002

2003

2004

2005

2007

Prosentase

Aborsi di Indonesia cukup tinggi, setiap tahun terdapat 2,3 juta orang melakukan aborsi
(penghentian kehamilan) yang disebabkan kehamilan usia muda dan seks di luar nikah.
Menurut Dr. Boyke Dian Nugraha, banyaknya kasus aborsi antara lain karena pergaulan bebas
yang mengarah kepada kebebasan seks, sehingga terjadi kehamilan di luar nikah. Tindakan
aborsi sangat dilarang oleh agama dan bertentangan dengan hukum di negara yang mayoritas

29

warganya memeluk agama Islam. Aborsi sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa dan
kesehatan mental, seperti kematian, kanker rahim dan cacat pada janin. Masalah aborsi dalam
Rancangan Undang-undang Kesehatan yang diusulkan DPR, dimasukkan satu pasal baru
yang menyebutkan kewajiban pemerintah untuk melindungi perempuan dari penghentian
kehamilan yang tidak aman dan tidak memenuhi standar kesehatan. Di samping itu,
pemerintah juga mempunyai kewajiban untuk menyelamatkan perempuan dari ancaman
kematian akibat aborsi yang tidak aman.
Kesehatan Reproduksi Remaja berdasarkan survei tahun 2002 di empat propinsi,
menunjukkan bahwa 54,4 persen remaja perempuan (12-14 tahun) telah mengalami
menarche pertama pada usia 12,4 tahun, sementara untuk remaja laki-laki mengalami mimpi
basah pertama pada usia 12,1 tahun. Remaja yang pernah mendengar arti reproduksi masih
berkisar 12,8 persen, dan 54 persen di antaranya mengetahui dengan benar arti reproduksi.
Remaja usia 20-24 tahun diindikasikan sekitar 4 persen telah melakukan hubungan seks pra-
nikah. Kemudian wanita remaja (15-19 tahun), cenderung lebih jarang dikunjungi oleh petugas
KB, kurang mendapatkan informasi tentang KB, dan jarang membahas tentang KB. Menurut
SDKI 2002-2003, data yang menggambarkan kondisi diatas adalah sebagaimana terlihat pada
gambar berikut.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->