P. 1
Profil Perempuan dan Anak Indonesia Tahun 2007

Profil Perempuan dan Anak Indonesia Tahun 2007

|Views: 5,940|Likes:
Dipublikasikan oleh Parjoko MD
GAMBARAN CAPAIAN BEIJING PLATFORM FOR ACTION 1995 YANG DIKAITKAN DENGAN PENCAPAIAN MDGs 2000.
GAMBARAN CAPAIAN BEIJING PLATFORM FOR ACTION 1995 YANG DIKAITKAN DENGAN PENCAPAIAN MDGs 2000.

More info:

Published by: Parjoko MD on Sep 28, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2013

pdf

text

original

Sections

No.

Jalur Satuan PAUD

2004

2005

2006

1. PAUD Jalur Formal :
TK/RA/BA

2.215.932

3.087.145

2.178.875

2.

PAUD Jalur Non Formal :
a. Kelompok Bermain
b. Taman Penitipan Anak
c. Satuan PAUD sejenisnya *)
d. Taman Pendidikan Al-quran

94.076
15.308
2.847.603
-

1.106.456
20.206
2.391.797
-

1.117.629
20.206
1.546.407
5.651.066

Jumlah

5.172.919

6.605.604 10.514.183

Ket : *) Termasuk POS PAUD (BKB/Posyandu terintegrasi PAUD)
Sumber : Departemen Pendidikan Nasional, 2006

Anak-anak Putus Sekolah atau yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan
lebih tinggi masih cukup besar. Menurut BPS (2006), jumlah anak putus sekolah tahun 2005
sebanyak 1.712.413 anak, yang sebagian besar (54,3 %) disebabkan oleh ketidakmampuan
ekonomi, bahkan dilaporkan ada 16 kasus anak yang bunuh diri karena menunggak biaya
sekolah.

Landasan Aksi Beijing berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan perempuan adalah:
(a) Menjamin adanya kesamaan kesempatan mendapatkan pendidikan (b) Menghapuskan
tuna aksara di kalangan perempuan (c) Meningkatkan akses perempuan atas pelatihan-
pelatihan kejuruan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pendidikan berkelanjutan (d)
Mengembangkan pendidikan dan pelatihan yang non diskriminatif (e) Menyediakan
sumberdaya-sumberdaya yang mencukupi untuk memantau penerapan perbaikan-
perbaikan di bidang pendidikan (f) Memajukan pendidikan seumur hidup dan pelatihan-
pelatihan bagi para remaja puteri dan perempuan.
Tujuan kedua dari MDGs yaitu “mencapai pendidikan dasar untuk semua” yang
diindikasikan dari: (1) Angka partisipasi murni di sekolah dasar (2) Angka partisipasi murni
di sekolah lanjutan pertama (3) Proporsi murid yang berhasil mencapai kelas lima (4)
Proporsi murid kelas satu yang berhasil menamatkan sekolah dasar (5) Proporsi murid di
kelas satu yang berhasil menyelesaikan sembilan tahun pendidikan dasar (6) Angka melek
huruf usia 15-24 tahun.

Landasan Aksi Beijing Bidang Pendidikan dan Pelatihan Perempuan juga sejalan
dengan tujuan ketiga MDGs yaitu: “mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan
perempuan”, dengan indikator: (1) rasio anak perempuan terhadap anak laki-laki di tingkat
pendidikan dasar, lanjutan dan tinggi yang diukur melalui angka partisipasi murni anak
perempuan terhadap anak laki-laki (2) rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki usia
15-24 tahun, yang diukur melalui angka melek huruf perempuan dibanding laki-laki (indeks
paritas melek huruf perempuan).

38

Tabel 20. Jumlah Siswa Putus Sekolah Menurut Jenjang
Pendidikan, 1971-2007.

Jenjang Pendidikan

SD

SLTP

SLTA

Tahun

Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

%

1971/1972

1.360.576

10,5

166.157

11,8

828.843

12,7

1980/1981

1.143.678

5,0

203.348

5,9

123.253

7,8

1990/1991

1.056.196

4,0

417.683

7,3

329.214

8,1

1999/2000

778.457

3,0

313.282

4,1

159.902

3,4

2000/2001

671.656

2,62

334.017

4,39

79.892

2,76

2001/2002

683.056

2,66

264.591

3,54

64.714

2,20

2002/2003

767.835

2,97

264.591

3,54

64.477

2,13

2003/2004

767.068

2,96

154.553

2,08

62.089

1,48

2004/2005

1.446.763

Dta

178.961

Dta

86.749

Dta

2006/2007

635.683

2,45

403.358

5,00

208.527

3,64

Dta: Data tidak tersedia.
Sumber : Balitbang Depdiknas, 1970-2004, Komnas PA, 2005, Diknas 2008

Untuk meningkatkan APS, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah seperti
pemberlakuan pola penuntasan wajib belajar 9 tahun dengan didukung program Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) untuk sekolah tingkat SD dan SMP di seluruh Indonesia dengan
maksud untuk meringankan beban biaya sekolah.
APS menurut kelompok umur dan jenis kelamin pada tahun 2001-2007, persentasenya
fluktuatif hampir di semua kelompok umur. Secara umum angka putus sekolah pada setiap
kelompok umur menurut jenis kelamin, laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. APS
pada tahun 2004 – 2005 mengalami penurunan untuk semua kelompok umur, dan laki-laki
umumnya lebih besar dibandingkan perempuan. Perbedaan mencolok pada kelompok umur 16
– 18 tahun, yang mana pada tahun 2005 persentase putus sekolah anak laki-laki sekitar 9,41
persen, sementara perempuan hanya 5,6 persen. Dilihat dari angka persentase putus sekolah
menurut kelompok umur dan jenis kelamin tahun 2001-2007, menunjukkan adanya
kecenderungan semakin tinggi kelompok umur semakin tinggi pula angka putus sekolahnya.

39

Tabel 21. Persentase Siswa Putus Sekolah, Usia 7-18 Tahun
Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun
2001-2007.

Jenjang Pendidikan

Tahun

SD

SLTP

SLTA

2001

1,16

6,13

10,46

• Laki-laki

1,37

7,28

12,68

• Perempuan

0,94

4,92

7,85

2002

1,43

5,71

8,83

• Laki-laki

1,59

6,54

10,51

• Perempuan

1,27

4,84

6,89

2003

1,16

5,08

8,72

• Laki-laki

1,35

5,84

10,65

• Perempuan

0,96

4,25

6,49

2004

1,02

4,36

7,93

• Laki-laki

1,09

5,06

9,32

• Perempuan

0,94

3,60

6,28

2005

0,81

4,33

7,62

• Laki-laki

0,91

5,24

9,41

• Perempuan

0,71

3,36

5,60

2007

2,45

5,00

3,64

• Laki-laki

2,77

5,21

4,09

• Perempuan

2,10

4,77

3,14

Sumber: BPS, Indikator Kesejahteraan Anak 2005. Diknas 2008

Laporan Pencapaian MDGs bidang pendidikan dari Bappenas mencatat bahwa tingkat
partisipasi pendidikan dilihat dari rasio anak perempuan terhadap laki-laki, baik jenjang SD,
SLTP, SLTA maupun Perguruan Tinggi menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Jenjang
pendidikan SLTA dan perguruan tinggi mencapai 100 persen dan 102,5 persen. Demikian pula
untuk angka melek huruf, bagi penduduk yang berusia 15-24 tahun meningkat menjadi 99,9
persen. Angka Partisipasi Murni (APM) di tingkat SMP, proporsi murid yang berksekolah hingga
kelas 5, dan proporsi murid yang tamat SD menurut status Pencapaian MDGs Indonesia Tahun
2007 juga mengalami kenaikan.

Kualitas pendidikan yang dilihat dari tingkat literasi matematika, membaca dan sains,
sejak tahun 1995, Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) memberi
skor antara 0 - 1000 untuk pelajar tahun kedelapan (survey TIMSS dibeberapa negara), posisi
Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut.

40

Tabel 22. Perkembangan Prestasi Siswa Tahun Kedelapan (SLTP) di
Beberapa Negara Asean, 1995-2003.

1995

1999

2003

Negara

Mate-
matika

Sains

Mate-
matika

Sains

Mate-
matika

Sains

Singapura

609

580

604

568

605

578

Malaysia

-

-

519

492

508

510

Indonesia

-

-

403

435

411

420

Filipina

-

-

345

345

378

377

Catatan: Skala nila 0-1.000, semakin besar semakin baik.
Sumber: NCES, US Dept. of Education, 2005.

Mulai tahun 2000, The Programme for International Student Assessment (PISA) dari
Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengadakan asesmen
setiap triwarsa kepada anak-anak sekolah usia 15 tahun ke atas di beberapa negara, untuk
mengetahui prestasi murid di bidang matematika, membaca dan sains.

Tabel 23. Perkembangan Prestasi Siswa Usia 15 Tahun Keatas (SLTA) di
Beberapa Negara Asean, 2000, 2003 dan 2006

2000

2003

2006

Negara/
Jenis Kelamin

Mem-
baca

Mate-
matika

Sains

Mem-
Baca

Mate-
matika

Sains

Mem-
Baca

Mate-
matika

Sains

Indonesia

371

367

393

382

360

395

401

401

399

• Laki-laki

360

369

396

369

362

396

-

-

-

• Perempuan

380

364

391

394

358

394

-

-

-

Thailand

431

432

436

420

417

429

431

426

429

• Laki-laki

406

429

429

396

415

425

-

- -

• Perempuan

448

435

442

439

419

433

-

-

-

Catatan: Skala nilai 0-1.000, semakin besar semakin baik.
Sumber: PISA 2000, 2003, 2006.

Olimpiade Fisika Internasional (Internasional Physics Olympiad/IPhO) merupakan ajang
kompetisi dalam bidang fisika bagi pelajar SLTA yang berusia di bawah 20 tahun. Kompetisi ini
pertama kali diselenggarakan di Polandia pada tahun 1967 dan Indonesia pertama kali
mengikuti pada tahun 1993 di Williamburg Amerika Serikat, dengan sederatan prestasi
sebagaimana terlihat pada tabel di bawah.

41

Tabel 24. Perkembangan Prestasi Internasional Ilmu Fisika Siswa SLTA
Indonesia, Tahun 2000-2006.

Perolehan Medali

Tahun

Tempat Penyeleng-
garaan

Emas

Perak

Perunggu

Trophy

2000

Indonesia

-

1

2

1

2001

Taipei

1

1

-

3

2002

Singapore

1

-

5

-

2002

Indonesia

3

1

1

-

2003

Thailand

6

-

-

2

2005

Indonesia

4

1

3

3

2006

Kazakhstan

2

1

3

-

Sumber: Depdiknas, Profil Prestasi Siswa, 2006.

Tabel 25. Perkembangan Prestasi Internasional Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA) Siswa SMP Indonesia Tahun 2000-2007.

Perolehan Medali

Tahun

Tempat Penyeleng-
garaan

Emas

Perak

Perunggu

Trophy

2004

Indonesia

8

4

-

-

2005

Indonesia

6

4

2

-

2006

Brazil

2

3

2

-

2007

Taiwan

1

2

3

-

Sumber: Depdiknas, Profil Prestasi Siswa, 2007.

Tabel 26.

Perkembangan Prestasi Internasional Siswa SD Indonesia
Tahun 2000-2008.

Perolehan Medali

Tahun

Tempat
penyeleng-
garaan

Pelajaran

Emas

Perak

Perunggu

Trophy

Matematika

1

2

6

-

2004

Indonesia

IPA

2

2

5

-

Matematika

1

4

4

1

2005

Indonesia

IPA

2

3

-

1

2006

Indonesia

Matematika dan IPA

1

6

19

-

2007

Indonesia

Matematika dan IPA

-

-

-

-

2008

Hongkong

Matematika dan IPA

5

2

1

-

Sumber: Depdiknas, Profil Prestasi Siswa, 2008.

Kualitas pendidik dan guru sekolah sangat berpengaruh pada prestasi siswa Indonesia.
Menurut Direktur Pembinaan Diklat Depdiknas, dari total guru PNS yang ada di Indonesia,
sebanyak 45,2 persen (558.675 orang) guru SD dan 23,3 persen (108.811 orang) guru SMP
berada pada kategori tidak layak mengajar. Sedangkan untuk guru PNS SMA, yang layak
mengajar sebanyak 87.374 orang (71,1 %), dan sisanya 35.424 orang tidak layak mengajar.

42

Menurut Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sebanyak 63.961 guru atau 43,3
persen dari Guru SMK tidak layak mengajar (Pikiran Rakyat, 20 Januari 2006).
Walaupun dengan kondisi pendidik dan guru sekolah sebagaimana diuraikan di atas,
ternyata program pendidikan yang dilaksanakan selama kurun waktu 1945-2006, telah dapat
menurunkan proporsi penduduk buta huruf dari 57,1 persen tahun 1961 menjadi 8,07 persen
(12,88 juta) pada tahun 2006. Namun proporsi perempuan yang buta huruf pada tahun 2006
masih lebih besar (10,73) dibandingkan laki-laki yang hanya 5,40 persen (BPS, Susenas
2006).

Tabel 27. Prosentase Penduduk Berusia 10 Tahun Keatas
yang Buta Huruf, Tahun 1961-2000.

Jenis Kelamin

1961

1971

1980

1990

2000

• Laki-laki

44,3

27,9

20,2

10,4

6,3

• Perempuan

69,3

49,7

37,2

21,3

14,2

Penduduk

57,1

39,1

28,9

16,0

10,2

Sumber: SP 1961, 1971, 1980, 1990; Susenas 2000.

Gambar 12.

6.8

14.5

10.7

5.85

12.69

9.3

5.84

12.28

9.1

5.96

13.2

9.6

5.7

12.5

8.1

5.4

10.73

8.1

5.04

9.36

7.2

0

2

4

6

8

10

12

14

16

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

Sumber: Susenas 2001-2007

Prosentase Penduduk Buta Huruf Usia > 10 Tahun 2001-2007

Laki-laki
Perempuan
Penduduk

Menurut National Human Development Report 2004, rata-rata lama sekolah penduduk
Indonesia tahun 1999 hanya 6,7 tahun dan meningkat menjadi 7,1 tahun pada 2002. Data ini
menunjukkan, bahwa walaupun pendidikan meningkat, namun secara umum untuk tingkat
SLTP Klas 1. Pada tahun 2002, rata-rata lama sekolah laki-laki adalah 7,6 tahun (SLTP Klas
2), lebih tinggi dibandingkan perempuan yang hanya mencapai 6,5 tahun (setingkat SLTP Klas
1). Pada tahun 2004 dan 2005, rata-rata lama sekolah meningkat menjadi 7,2 tahun dan 7,3
tahun. Pada masa tersebut, rata-rata lama sekolah laki-laki adalah 7,8 tahun, lebih tinggi dari
pada perempuan yang hanya 6,8 tahun (BPS, Inkesra 2005).

43

Berdasarkan ijazah tertinggi yang dimiliki, persentase penduduk Indonesia yang tamat
SLTA maupun yang lulus pendidikan diploma dan sarjana relatif masih kecil, baik jika dihitung
berdasarkan jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas maupun atas dasar jumlah penduduk usia
15 tahun ke atas (metode ini dipakai BPS sejak tahun 2005).

Sampai dengan tingkat SD/MI, terlihat bahwa persentase perempuan yang memiliki
ijazah/STTB lebih tinggi, tetapi mulai dari SLTP/MTs, SLTA/MA/SMK sampai perguruan tinggi,
persentase laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan.

Tabel 28. Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Ijazah/STTB
Tertinggi yang Dimiliki, Tahun 1971-2007.

Ijazah/STTB Tertinggi yang Dimiliki

Jenis Kelamin/
Tahun

Tidak/ Belum
Tamat SD

SD/
MI

SLTP/ MTs

SLTA/
MA/SMK

DIPLO-MA/
AKA-DEMI

DIP. IV, S1-3

Laki-laki
1971

66,9

24,0

5,7

2,8

Dta

0,3

1980

53,2

29,6

9,0

7,1

Dta

0,4

1990

35,6

35,6

13,5

5,9

1,0

0,2

2000

30,3

32,3

16,1

17,5

1,6

2,2

2001

30,36

33,11

15,77

16,97

1,29

2,27

2002

27,60

33,27

16,89

17,76

1,83

2,67

2003

26,73

33,41

17,57

18,38

1,59

2,33

2004

25,79

31,92

18,57

19,62

1,59

2,51

2005 *)

7,80

25,53

22,01

34,70

3,16

6,81

2007

24,59

31,13

18,27

14,25

6,12

5,65

Perempuan
1971

80,0

15,4

3,2

1,3

Dta

0,1

1980

58,9

28,7

7,4

4,6

Dta

0,1

1990

39,8

37,0

12,0

6,2

0,8

0,6

2000

38,9

31,8

13,9

12,8

1,4

1,3

2001

38,31

32,50

13,93

12,44

1,40

1,40

2002

34,90

33,33

14,49

13,49

1,71

1,59

2003

34,00

33,42

15,74

13,96

1,49

1,38

2004

32,99

32,61

16,68

14,65

1,55

1.51

2005 *)

12,92

28,22

19,07

27,07

5,53

7,19

2007

31,25

31,25

16,73

11,90

3,97

5,23

Dta: Data tidak ada. *) Tahun 2005 untuk penduduk 15 tahun keatas.
Sumber : Baknas 2002, BPS, Susenas 2001-2004, Inkesra 2005, Susenas 2007.

4. Kekerasan terhadap Perempuan

Deklarasi penghapusan kekerasan terhadap perempuan pada Konferensi Sedunia Ke-4
tentang Perempuan di Beijing (1995) menyatakan bahwa kekerasan terhadap
perempuanadalah “setiap perbuatan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang
mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual dan
psikologis. Termasuk di dalamnya adalah ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan atau
perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di tempat umum
maupun di dalam kehidupan pribadi seseorang”.

44

Undang-undang No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan CEDAW, Pasal 6 mewajibkan
negara untuk memberantas segala bentuk perdagangan perempuan dan eksploitasi
pelacuran. Perdagangan perempuan dan eksploitasi pelacuran merupakan salah satu
bentuk kekerasan terhadap perempuan.
Landasan Aksi Beijing berkaitan dengan penghapusan kekerasan terhadap perempuan
adalah: (a) Melakukan langkah-langkah terpadu untuk mencegah dan menghapuskan
tindak kekerasan terhadap perempuan (b) Mempelajari tentang sebab-sebab dan akibat-
akibat kekerasan terhadap perempuan dan mempelajari efektivitas langkah-langkah
pencegahan (c) Menghapuskan perdagangan perempuan dan membantu para korban
kekerasan yang berkaitan dengan pelacuran dan perdagangan perempuan.
Masalah kekerasan terhadap perempuan ini tidak terdapat dalam MDGs.

Catatan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)
pada tahun 2001, telah terjadi 3.169 kasus kekerasan terhadap perempuan dan meningkat
menjadi 5.163 kasus pada tahun 2002, kemudian meningkat lagi menjadi 7.787 kasus pada
tahun 2003. Pada tahun 2004, kasusnya meningkat hampir 100 persen menjadi 14.020 kasus,
dan pada tahun 2005 tercatat sebanyak 20.391 kasus. Kekerasan terhadap perempuan
didominasi oleh kekerasan dalam rumah tangga (82 % atau 16.615 kasus), selanjutnya
kekerasan dalam komunitas (15 % atau 3.129 kasus), dan sisanya kekerasan oleh negara (0,3
% atau 61 kasus) dan lain-lain (2,7 % atau 558 kasus). Pada tahun 2006, jumlah kasus
kekerasan terhadap perempuan meningkat lagi menjadi 22.512 kasus, dan ditangani oleh 258
lembaga di 32 provinsi. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menduduki peringkat tertinggi,
yakni sebanyak 16.709 kasus (74 %), kekerasan di ranah komunitas 5.240 kasus (23 %), dan
sisanya kekerasan di ranah Negara 43 kasus (1 %). Dari kasus KDRT yang terjadi, umumnya
adalah penelantaran ekonomi dan ditangani oleh Pengadilan Agama, sedangkan pelaku KDRT
terbanyak (557 kasus) adalah pejabat publik dan aparat Negara. Terdapat 499 kasus
kekerasan terhadap perempuan yang pelakunya adalah anak (di bawah 18 tahun).

Dengan adanya UU P-KDRT, isu kekerasan di dalam rumah tangga menjadi isu publik,
hal ini dapat dilihat dengan peningkatan jumlah kasus KDRT yang dilaporkan. Catatan tahunan
Komnas Perempuan sejak tahun 2001 sd 2007 menunjukkan peningkatan pelaporan sebanyak
5 kali lipat. Sebelum UU P-KDRT, yaitu dalam rentang 2001 – 2004, jumlah yang dilaporkan
sebanyak 9.662 kasus. Sejak diberlakukannya P-KDRT 2005 – 2007, terhimpun sebanyak
53.704 kasus KDRT yang dilaporkan. Korban terbanyak dalam kasus KDRT adalah isteri (85%)
dari total korban. Anak perempuan adalah korban terbanyak ketiga, setelah pacar. Pada kasus
kekerasan dengan korban anak, ada juga kasus dimana pelakunya adalah perempuan dalam
statusnya sebagai ibu. Menurut pengamatan Komnas perlindungan anak, sebagian besar ibu
yang menjadi pelaku KDRT adalah sudah terlebih dahulu menjadi korban kekerasan oleh
suaminya, atau berada dalam tekanan ekonomi yang luar biasa akibat pemiskinan yang
dialami oleh kebanyakan anggota masyarakat tempat ia tinggal.
Jumlah kasus KDRT yang dilaporkan sebelum UU PKDRT (2001-2004) dan Pasca UU
P-KDRT (2004 – 2007 ) sebagaimana grafik berikut :

45

Gambar 13.

4,310

2,703

1,396

1,293

01,000

2,000

3,000

4,000

5,000

Kasus

Sumber : Komnas Perempuan, 2008

Pelaporan Kasus KDRT Sebelum UU KDRT

2001
2002
2003
2004

Gambar 14.

20,380

16,709

16,615

05,000

10,000

15,000

20,000

25,000

Kasus

Sumber : Komnas Perempuan, 2008

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->