P. 1
Profil Perempuan dan Anak Indonesia Tahun 2007

Profil Perempuan dan Anak Indonesia Tahun 2007

|Views: 5,937|Likes:
Dipublikasikan oleh Parjoko MD
GAMBARAN CAPAIAN BEIJING PLATFORM FOR ACTION 1995 YANG DIKAITKAN DENGAN PENCAPAIAN MDGs 2000.
GAMBARAN CAPAIAN BEIJING PLATFORM FOR ACTION 1995 YANG DIKAITKAN DENGAN PENCAPAIAN MDGs 2000.

More info:

Published by: Parjoko MD on Sep 28, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2013

pdf

text

original

Sections

No.

Provinsi

2001

2002

2005

1.

Nangroe Aceh Darusslam

28.673

14.351

-

2.

Sumatera Utara

48.536

48.489

28.335

3.

Sumatera Barat

609

-

-

4.

Riau

5.797

3.135

-

5.

Jambi

2.131

1.183

-

6.

Bengkulu

363

-

-

7.

Sumatera Selatan

455

1.789

-

8.

Lampung

1.619

1.735

-

9.

Banten

3.724

-

2.945

10.

DKI Jakarta

1.160

-

-

11.

Jawa Barat

9.204

-

-

12.

Jawa Tengah

13.062

-

10.540

13.

DI Yogyakarta

411

-

2.265

14.

Jawa Timur

164.525

-

10.561

15.

Bali

2.334

1.974

-

16.

Nusa Tenggara Barat

16.394

14.366

-

17.

Nusa Tenggara Timur

277.095

132.721

19.910

18.

Kalimantan Barat

27.369

-

-

19.

Kalimantan Timur

622

-

-

20.

Sulawesi Selatan

30.123

36.304

15.585

21.

Sulawesi Tengah

71.238

78.879

15.755

22.

Sulawesi Tenggara

197.921

186.367

40.455

23.

Sulawesi Utara

44.780

46.383

-

24.

Maluku

168.547

340.091

90.625

25.

Maluku Utara

161.729

197.185

13.910

26.

Papua

16.860

16.870

15.990

Jumlah

1.330.271

1.121.828

266.876

Sumber: Baknas 2002, Dit. Kes. Jiwa Depkes 2005, Dit. Bansos KBS Depsos, 2005.

Bagi perempuan yang tidak kehilangan suami, berpotensi untuk bertindak selaku
penyuara dan pembawa perdamaian dalam keluarganya maupun dalam komunitasnya. Melalui
kegiatan ekonomi kelompok dan trauma konseling baik secara individual, berkelompok maupun
antar komunitas akan menjadi jembatan persahabatan antar berbagai kelompok yang tadinya
tidak sepaham. Dan sejak tahun 2006 sudah tidak ada lagi pengungsi akibat kerusuhan sosial.
Data Bakornas PB, jumlah pengungsi akibat bencana alam (Angin Topan, Banjir, Tanah
Longsor, Gelombang Laut, Gempa Bumi, Tsunami, Kebakaran, Kekeringan, Kegagalan
Teknologi, Letusan Gunung Berapi ) sejak tahun 2002 sd 2006 sangat berfluktuasi dari
963.914 jiwa (2002) menjadi.462.299 jiwa (2003) meningkat lagi menjadi 862.754 jiwa (2004)
menurun menjadi 293.314 jiwa (2005 ) dan pada tahun 2006 jumlah pengungsi melonjak
sangat tinggi mencapai 2.486.588 jiwa. Namun pada tahun 2007 jumlahnya sedikit menurun

55

menjadi 1.941.597 jiwa, yang melanda di seluruh provinsi di Indonesia kecuali 4 provinsi
(Kepulauan Riau.Bangka Belitung, Papua, Papua Barat) dan data 2007 tidak terinci menurut
provinsi.

Tabel 37. Jumlah Pengungsi Akibat Bencana Alam Menurut Provinsi di
Indonesia, Tahun 2002- 2007.

No.

Provinsi

2002

2003

2004

2005

2006

2007

1. NAD

8.750 21.294 542.582 104.500

70.385 √

2. Sumatera Utara

47.720

7.618

10.125 22.602

41.309

3. Sumatera Barat

16.950

1.470

796 41.236

15

4. Riau

1.440 92.174

235

-

-

5

Kepulauan Riau

-

-

-

-

-

-

6. Jambi

6.230 78.480

-

-

-

7. Bengkulu

-

-

-

-

-

8. Sumatera Selatan

-

5.198

8.909

832

-

9. Lampung

-

700

-

300

-

10 Bangka Belitung

-

-

-

-

-

-

11 Banten

-

-

8.235

-

100

12. DKI Jakarta

164.608 26.924

33.986 17.843

2.659

13. Jawa Barat

15.663 30.163

6.358 28.281

9.807

14. Jawa Tengah

43.518 33.804

48.002 23.348

797.464

15. DI Yogyakarta

-

421

-

100 1.362.675

16. Jawa Timur

-

1.529

12.396

100

25.903

17. Bali

-

50

640

-

-

18. Nusa Tenggara Barat

317

3.954

4.902 9.940

14.774

19. Nusa Tenggara Timur

-

149

14.669 14.658

1.337

20. Kalimantan Barat

448.905 126.288

6.387

279

1.000

21. Kalimantan Timur

-

156

100

-

130.971

22 Kalimantan Tengah

89.353

1.728

-

-

600

23 Kalimantan Selatan

-

25 112.825 26.501

24. Sulawesi Selatan

56.213

101

220 2.749

148

25. Sulawesi Tengah

11.001

2.371

-

-

2.000

26. Sulawesi Tenggara

6.735

-

-

-

250

27. Sulawesi Utara

10.612

100

32.003

-

-

28 Gorontalo

15.722

-

1.281

-

-

29 Sulawesi Barat

606

1.168

1.800

-

-

30. Maluku

-

-

11.585

-

5.758

31. Maluku Utara

-

-

1.218

-

847

32. Papua

17.176 26.420

3500

45

4.364 -

33 Papua Barat

2.395

14

-

-

- -

Jumlah

963.914 462.299 862.754 293.314 2.486.588 1.941.597

Bencana : Angin Topan, Banjir, Tanah Longsor, Gelombang Laut, Gempa Bumi, Tsunami, Kebakaran,
Kekeringan, Kegagalan Teknologi, Letusan Gunung Berapi,

Sumber : Bakornas PB 2007 dan 2008

56

6. Ekonomi

Partisipasi perempuan di bidang ekonomi, terlihat dari kontribusi perempuan
Indonesia yang hanya 38 persen terhadap penghasilan rumah tangga (NHDR, 2004). Sejauh
ini peran perempuan dalam bidang ekonomi masih banyak mengalami hambatan. Kaum
perempuan umumnya bergerak pada usaha ekonomi dengan skala kecil, sehingga akan
kesulitan untuk mendapatkan formalitas usaha, termasuk keterbatasan aksesibiltas dalam
mendapatkan kredit. Di lain pihak posisi perempuan mempunyai peranan penting dalam
kegiatan perekonomian, baik sebagai pelaku tunggal maupun sebagai bagian dari unit kegiatan
ekonomi. Namun, secara statistik keterlibatan perempuan dalam kegiatan usaha kecil masih
lebih rendah dibandingkan kaum laki-laki, baik sebagai pelaku usaha maupun sebagai pekerja.
Menurut BPS, pada tahun 2000 dari sekitar 2 juta unit usaha mikro dan 194.564 unit usaha
kecil di sektor pengolahan, jumlah pelaku usaha laki-laki 1,3 juta orang (59,21 %), sedang
perempuan hanya 896.047 orang (40,79 %). Demikian halnya dengan jumlah pekerja pada
sektor industri kecil dan kerajinan rumah tangga yang mencapai 5,3 juta orang, sementara
jumlah pekerja perempuan sebesar 44,45 persen.
Data Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menunjukkan, bahwa jumlah
usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tahun 2007 bertambah dari 40,55 juta menjadi 47
juta, dan semua jenis usaha tersebut mempunyai potensi menyerap tenaga kerja sebanyak 67
persen dari jumlah pekerja. Namun, hanya 0,15 persen UMKM yang mendapat akses kredit
perbankan, sedang lainnya mendapatkan pinjaman dari koperasi (0,28 %) dan dari modal
sendiri, pinjaman teman dan atau keluarga (0,16 %). Anggota Hipmi saat ini (2007) berjumlah
30.000 pengusaha, dan hanya 17 persen yang mendapatkan kredit perbankan. Persyaratan
perbankan mengenai agunan dan rekam jejak keuangan selama minimal dua tahun menjadi
hambatan bagi UMKM untuk mengakses kredit perbankan (Warta Kesra, 15 Juni 2007).
Sedangkan IWAPI (2007) mencatat, bahwa jumlah anggota IWAPI adalah 40.000 orang
yang tersebar di 256 DPC. Data ini mengindikasikan bahwa terdapat peningkatan sebesar 150
persen dibandingkan dengan kondisi tahun 2006. Peningkatan ini antara lain disebabkan oleh
upaya IWAPI untuk lebih memperhatikan dan memberdayakan usaha skala mikro yang
dikerjakan oleh kaum perempuan. Dan saat ini, anggota IWAPI terdapat di semua propinsi di
Indonesia, kepengurusan formal diwadahi oleh DPP di 30 propinsi. Tiga propinsi lainnya yang
akan membentuk DPP adalah Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur dan Maluku Utara.
Kemudian menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan, dari 42 juta UMKM di Indonesia
terdapat 60 persen yang dikelola oleh kaum perempuan.
Secara sosio-kultural, hambatan usaha bagi perempuan yang bergerak pada skala
usaha kecil sebagian besar beranjak dari pandangan masyarakat yang masih melihat bahwa
kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perempuan adalah sebatas kegiatan tambahan, sebagai
pengisi waktu luang, dan belum dilakukan secara profesional. Pandangan semacam itu
kemudian berimbas pada aspek struktural, dalam hal ini kebijakan atau implementasi kebijakan
yang tidak terlalu berpihak pada perempuan, karena pembuat dan pelaksana kebijakan masih
bias gender. Padahal sebenarnya tidak ada peraturan yang melarang perempuan untuk
memiliki aset. Namun, pada kenyataannya kepemilikan aset secara formal, baik aset rumah
tangga maupun aset usaha formal umumnya dimiliki oleh kaum laki-laki.
Misalnya, seorang perempuan pengusaha akan mengalami kesulitan ketika akan
mendaftarkan merek dagang atas nama pribadi, karena petugas mensyaratkan adanya Nomor
Pokok Wajib Pajak (NPWP) atas nama pribadi. Namun, ketika akan mengurus NPWP atas
nama pribadi, petugas mensyaratkan NPWP atas nama suami. Demikian, kira-kira praktik di

57

lapangan yang menunjukkan adanya hambatan struktural, yang secara spesifik dialami oleh
kaum perempuan. Oleh karena itu, diperlukan adanya kesetaraan kesempatan usaha antara
laki-laki dan perempuan untuk mengembangkan usaha, yang pada gilirannya nanti akan
memberikan kontribusi dalam menggairahkan ekonomi di daerah. Dengan demikian,
pemerintah perlu membuka informasi seluas-luasnya pada para pelaku usaha, dan memberi
kesempatan yang seluas-luasnya agar perempuan pengusaha dapat maju.
Ekonomi perempuan erat kaitannya dengan status ketenaga-kerjaan perempuan yang
masih banyak mengalami diskriminasi. Sementara, penetapan perempuan sebagai mitra
sejajar laki-laki mengisyaratkan, bahwa perempuan mempunyai kesempatan yang sama
dengan laki-laki termasuk kesempatan dalam bekerja. Angkatan kerja perempuan mempunyai
fenomena tersendiri, terkait dengan historis tradisional perempuan Indonesia. Untuk itu
pemajuan perempuan perlu dilakukan secara gradual dan terus menerus, karena diyakini
bahwa keterlibatan perempuan dalam bidang ekonomi mempunyai arti yang besar bagi
berhasilnya pembangunan sebuah bangsa.

Tabel 38. Jumlah Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin dan
Tingkat Pendidikan, Tahun 1986 - 2002.

TAHUN

Jenis Kelamin/
Pendidikan

1986

1990

1996

1998

2002

Laki-laki
• SD

31.599.553

33.392.613

33.669.019

33.719.077

34.940.228

• SLTP

4.246.484

5.591.113

7.965.276

9.037.862

11.966.406

• SLTA

4.456.698

6.079.872

10.375.801

11.550.956

13.425.271

• PT

715.926

1.052.886

2.187.271

2.453.716

2.979.065

• Total

41.018.661

46.116.484

54.197.367

56.761.611

63.310.970

Perempuan
• SD

22.017.157

24.201.241

24.373.524

24.900.306

24.116.809

• SLTP

1.460.242

2.005.278

3.467.287

4.144.576

5.522.539

• SLTA

1.740.907

2.584.642

4.972.021

5.472.889

5.907.221

• PT

237.279

443.978

1.176.573

1.455.550

1.921.711

• Total

26.455.585

29.235.139

33.989.405

35.973.321

37.468.300

Laki-laki + Perempuan
• SD

54.616.710

57.593.584

58.042.543

58.619.283

59.057.037

• SLTP

5.706.726

7.596.391

11.432.563

13.182.438

17.488.965

• SLTA

6.197.605

8.664.514

15.347.822

17.023.845

19.332.492

• PT

953.205

1.496.864

3.363.844

3.909.266

4.900.776

• Total

67.474.246

75.351.623 88.186.772

92.734.932 100.779.270

Sumber : Sakernas 1986–2002.

58

Tabel 39. Jumlah Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin dan
Tingkat Pendidikan, Tahun 2003 - 2007.

Sumber: Sakernas 2003–2006. BPS Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia, 2005, 2006, 2007
Catatan : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Pperempuan tahun 2007 adalah 49,5, sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka Perempuan 11,8%.
Kontribusi perempuan dari pekerejaan uoahan 33,0%. Kesenjangan upah 74,8%.

Pengangguran terbuka bagi perempuan terus bertambah dari tahun ke tahun, kondisi ini
perlu disikapi agar perempuan juga mempunyai kesempatan kerja yang sama dengan laki-laki.
Tabel berikut ini menggambarkan kondisi jumlah penganggur terbuka di Indonesia.

Tabel 40. Jumlah Pengangguran Terbuka Di Indonesia Menurut Jenis
Kelamin, Tahun 1980-2000.

1980

1990

2000

Kategori

Jumlah
(ribu)

%

Jumlah
(ribu)

%

Jumlah
(ribu)

%

Pengangguran Terbuka

807,5

100

2.152,0 100

5.813,2

100

• Laki-laki

450,4 55,8

1.205,0 56,0

3.340,6 57,5

• Perempuan

357,1 44,2

947,0 44,0

2.472,6 42,5

Tingkat Pengangguran
Terbuka

1,6

3,0

6,1

Sumber: BPS, SP 1980, 1990, Sakernas 2000.

TAHUN

Jenis Kelamin/
Pendidikan

2003

2004

2005

2006

2007

Laki-laki
• SD

33.063.795 33.315.720 33.197.417 33.774.483 33.954.137

• SLTP

14.349.714 14.625.212 14.494.839 15.176.492 14.914.910

• SLTA

14.297.957 14.654.390 15.106.860 15.202.375 15.265.838

• PT

2.888.354

3.331.842

3.422.768

3.519.208

3.809.810

• Total

64.599.820 65.927.164 66.221.884 67.672.558 67.944.695

Perempuan
• SD

23.510.966 22.932.014 23.747.469 22.695.435 22.745.998

• SLTP

6.682.204

6.638.585

6.744.609

6.727.064

7.519.919

• SLTA

6.204.933

6.329.695

6.653.140

6.730.368

7.081.191

• PT

1.752.169

2.145.929

2.435.270

2.456.370

2.839.255

• Total

38.150.272 38.046.223 39.580.488 38.609.370 40.186.363

Laki-laki + Perempuan
• SD

56.574.761 56.247.734 56.944.886 56.489.918 56.700.135

• SLTP

21.031.918 21.263.797 21.239.4448 21.903.556 21.903.556

• SLTA

20.502.890 20.984.085 21.760.000 21.932.743 22.347.029

• PT

4.640.523

5.477.771

5.858.038

5.975.578

6.649.065

• Total

102.750.092 103.973.387 105.802.372 106.281.795 108.131.058

59

Tabel 41. Jumlah Pengangguran Terbuka Di Indonesia Menurut Jenis
Kelamin, Tahun 2004-2007.

2004

2005

2006

2007

Kategori

Jumlah
(ribu)

%

Jumlah
(ribu)

%

Jumlah
(ribu)

%

Jumlah
(ribu)

%

Pengangguran Terbuka

10.251,3

100 11.899,3 100 11.104,7

100 10.547,
9

100

• Laki-laki

5.345,6 52,1 6.292,4 52,9 5.808,2

52,3 5.793,4

54,5

• Perempuan

4.905,7 47,9 5.606,8 47,1 5.296,5

47,7 4.754,5

45,1

Tingkat Pengangguran
Terbuka

9,9

10,3

10,5

9,8

Sumber: BPS, Sakernas 2004-2006, Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia 2007.

Berdasarkan perkembangan tingkat pengangguran terbuka periode 2001-2007, terlihat
bahwa jumlah penganggur tebuka perempuan relatif masih tinggi meskipun secara prosentase
lebih rendah dibandingkan laki-laki namun apabila dilihat dari jumlah penduduk secara
keseluruhan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Sehingga
jumlah pengangguran terbuka perempuan dapat dikatakan masih relatif tinggi.

Menurut BPS, jumlah penduduk yang bekerja pada tahun 2005, 2006 dan 2007 terus
meningkat dari 93,9 juta (2005) menjadi 95,1 juta (2006) dan 118.7 juta pekerja (2007) . Pada
tahun 2005 terdapat sekitar 36,0 persen pekerja perempuan meningkat menjadi 36,3 persen
pada tahun 2006 tetapi menurun lagi menjadi 30,1 persen pada tahun 2007. Namun, dari
jumlah pekerja perempuan tersebut, sekitar 70,25 persen bekerja di sektor informal dan rentan
terhadap ketidakpastian upah, pendapatan, dan jaminan sosial. Misalnya para tenaga kerja
Indonesia (TKI) perempuan yang bekerja di luar negeri, umumnya bekerja di sektor informal
dan banyak menghadapi masalah khususnya yang berkaitan dengan rekrutmen, penempatan
dan perlindungan selama yang bersangkutan bekerja di luar negeri.

Kesempatan kerja bagi perempuan terbuka melalui penciptaan lapangan kerja baru dan
atau dengan meningkatkan kompetensi perempuan sehingga mampu masuk ke pasar kerja
dengan persyaratan kerja yang tadinya tidak bisa dimasukinya. Kesempatan kerja bagi
perempuan saat ini merupakan kebutuhan yang mendesak, bukan hanya bagi kepala keluarga,
tetapi juga bagi istri dan anak dewasa. Hal ini diperlukan karena bekerja bukan saja untuk
mendapatkan penghasilan tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan harga diri.

60

Tabel 42. Tingkat Pendidikan Penganggur Terbuka Di Indonesia
Menurut Jenis Kelamin, 2000-2003.

2000

2001

2002

2003

Pendidikan

Laki-laki Prpuan

Laki-laki

Prpuan

Laki-laki

Prpuan Laki-laki

Prpuan

< SD *)

837

601

1.246 1.499 1.484 1.738 1.556

1.788

Tamat SLTP

821

547

922

864 1.166

980 1.249

1.096

Tamat SLTA

1.462 1.084

1.612 1.321 1.838 1.406 1.913

1.484

Akademi/Diploma

85

99

106

146

105

145 101

99

Sarjana

135

142

146

143

135

135 109

136

Jumlah

3.341 2.473

4.032 3.973 4.728 4.404 4.928

4.603

*) Tidak tamat SD dan Tamat SD
Sumber: Sakernas 2000-2006.

Tabel 43. Tingkat Pendidikan Penganggur Terbuka Di Indonesia
Menurut Jenis Kelamin, 2004-2007.

2004

2005

2006

2007

Pendidikan

Laki-laki Prpuan Laki-laki

Prpuan

Laki-laki

Prpuan Laki-laki

Prpuan

< SD *)

1.620 1.659

1.856 1.812

1.694 1.831 1.881

1.537

Tamat SLTP

1.416 1.275

1.722 1.429

1.550 1.310 1.501

1.141

Tamat SLTA

2.022 1.641

2.401 1.975

2.241 1.805 2.108

1.636

Akademi/Diploma

105

132

135

174

133

164

121

208

Sarjana

150

198

179

217

190

186

179

230

Jumlah

5.346 4.905

6.293 5.607

5.808 5.296 5.793

4.754

*) Tidak tamat SD dan Tamat SD
Sumber: Sakernas 2000-2006. Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia 2007.

Tabel di atas memberi gambaran, bahwa semakin banyak penganggur lulusan SLTA ke
bawah yang mencari pekerjaan, dan semakin banyak perempuan yang mencari pekerjaan. Jika
kesempatan kerja di dalam negeri belum menampung, maka kesempatan kerja di luar negeri
menjadi alternatif. Dengan meningkatkan pendidikan para pencari kerja, diharapkan dapat
mengisi lapangan pekerjaan dengan kualifikasi pendidikan lebih tinggi sehingga akan semakin
besar penghasilan yang diperoleh beserta dengan jaminan keselamatan kerja yang lebih baik.

61

Tabel 44. Jumlah Kebutuhan Tenaga Kerja Indonesia di Luar
Negeri, Tahun 2004–2006.

2004

2005

2006

No. Kawasan/Negara

Formal Informal Formal Informal Formal Informal

I. ASIA PASIFIK

193.028 183.260 192.859

104.432

171.463

155.327

Malaysia

165.082 104.311 183.695 18.192 161.936 108.163

Singapura

3.373 14.981

- 25.087

536

8.539

Brunei Darussalam

4.417 7.802

7

4.971

1.957

823

Hongkong

5.238 26.067

6 12.137

152 13.461

Taiwan

1.631 29.985 4.533 44.043

3.756 24.334

Korea Selatan

12.725

114 4.504

2

3.100

-

Jepang

-

-

114

-

-

-

Lainnya

562

0

-

- 26

7

II. TIMUR TENGAH &
AFRIKA

36.714 473.020 4.015 173.004

6.105 347.084

Saudi Arabia

16.707 446.448 2.724 147.511

4.110 303.317

Uni Emirat Arab

4.267

138

110

5.512

181 15.313

Kuwait

12.629 13.449

- 16.842

49 14.676

Bahrain

322

19

5

16

59

426

Qatar

913 3.640

165

837

1.685

3.359

Oman

315

357 1.011

205

4

3.523

Yordan

1.526 8.969

-

2.081

-

6.468

Yaman

12

0

-

-

-

Cyprus

23

0

-

-

-

Lain-lain

-

-

-

-

17

2

III. AMERIKA

204

0

-

-

-

-

Amerika Serikat

204

0

-

-

-

-

IV. EROPA

211

0

-

-

-

-

Belanda

96

0

-

-

-

-

Italia

115

0

-

-

-

-

Sub Total

230.157 656.280 196.874 277.436 177.568 502.411

TOTAL

886.437

474.310

679.979

Sumber: Depnakertrans 2007.

62

Tabel 45. Perkembangan Promosi TKI ke Luar Negeri
Tahun 2007

Sumber : BNP2TKI Tahun 2007

Dari data pengembangan promosi tahun 2007 diketahui, bahwa kebutuhan tenaga kerja
Indonesia di beberapa negara tujuan penempatan, seperti negara-negara di Asia-Pacific
masih terbuka luas. Kualifikasi tenaga kerja yang banyak dibutuhkan adalah tenaga kerja di
bidang perkebunan dan konstruksi, dan juga tenaga perawat dan perhotelan. Di negara-negara
di Timur Tengah tenaga keja yang dibutuhkan, selain tenaga perhotelan dan perawat juga
dibutuhkan adanya tenaga ahli perminyakan, demikian halnya dengan negara-negara di Eropa
dibutuhkan tenaga untuk awak kapal pesiar .
Melihat peluang tersebut dan dengan memperhatikan sumber daya manusia yang
tersedia dan sumber daya alam kepulauan yang tersedia di dalam negeri, maka dimungkinkan
pemerintah Indonesia dapat memanfaatkan peluang untuk promosi TKI di beberapa negara
tujuan tersebut.

Kebutuhan TKI ke luar negeri pernah mengalami penurunan pada tahun 2005, tetapi
meningkat kembali pada tahun 2006, terutama di sektor informal. Menteri Sumberdaya
Manusia Malaysia (2007) menyatakan bahwa negaranya sangat membutuhkan TKI minimal
450.000 orang, untuk dipekerjakan di berbagai sektor formal seperti konstruksi, perkebunan,
dan industri, serta di sektor informal sebagai penata laksana rumah tangga (PLRT). Pemerintah
melalui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) yang dibentuk sesuai
dengan mandat Undang-undang No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan
PerlindunganTKI di Luar Negeri, berupaya meningkatkan pelayanan dan perlindungan kepada
pekerja migran Indonesia sehingga penempatan TKI yang tidak sesuai prosedur dapat
dihapuskan.

7. Perempuan sebagai Pemegang Kekuasaan dan Pengambilan
Keputusan

Keterwakilan perempuan di lembaga legislatif sejak Pemilihan Umum Tahun 1997,
1999 dan 2004 jumlahnya relatif masih sangat kecil (8-11 %) dibanding dengan laki-laki (89-91
%), sementara lebih dari 50 persen penduduk Indonesia berjenis kelamin perempuan. Pada
Pemilihan Umum tahun 2004 dan 2009 nanti, dikeluarkan ketentuan mengenai kuota
keterwakilan perempuan sebesar 30 persen, namun dalam kenyataannya keterwakilan

No.

Negara tujuan

Jenis promosi

Profil TKI

Keterangan

1

Asia-Pasifik

Market intelejen

-

Perawat

-

perhotelan

-

Konstruksi
- Perkebunan

-72.000 orang
- 3.070 orang

2

Timur Tengah

EPA

-

Perminyakan

-

Perhotelan

-

Perawat

-

5000 org
perawat

-

2000 org operator
otomotif

3

Amerika

Kunj. Kerja

-

Perhotelan

-.800 perawat

4.

Eropa

Kunj. Kerja

-

Perawat

-

Perhotelan

-

Pelaut

63

perempuan Indonesia masih rendah (2004) dibandingkan negara-negara di Asian Tenggara
seperti Malaysia (13 %) dan Filipina (19 %).

Tabel 46. Jumlah dan Prosentase Anggota DPR, DPRD dan MPR,
Periode 1997-1999, 1999-2004, 2004-2009.

Laki-laki

Perempuan

Legislatif

Orang

%

Orang

%

Jumlah

DPR
• 1997-1999

444

88,8

56

11,2

500

• 1999-2004

456

91,2

44

8,8

500

• 2004-2009

489

88,9

61

11,1

550

DPD
• 2004-2009

101

78,9

27

21,1

128

DPRD
• 2004-2009

1.662

90,0

188

10,0

1.849

MPR
• 1997-1999

882

88,2

118

11,8

1.000

• 1999-2004

631

90,7

64

8,3

695

• 2004-2009

590

87,0

88

12,9

678

Sumber: Setjen MPR RI, 2004; Cetro, 2004.

Di lingkungan birokrasi/eksekutif, partisipasi perempuan sebagai Pegawai Negeri Sipil
(PNS) dapat dikatakan hampir sejajar dengan partisipasi laki-laki di PNS, yakni mencapai 43,6

Undang-undang No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan CEDAW, Pasal 7 mewajibkan
negara untuk menjamin kehidupan politik perempuan dan kehidupan kemasyarakatan
negaranya, khususnya menjamin hak-hak perempuan untuk: (a) hak untuk memilih dan
dipilih (b) hak untuk berpartisipasi dalam perumusan kebijaksanaan pemerintah dan
impelemntasinya, memegang jabatan dalam pemerintahan dan melaksanakan segala
fungsi pemerintahan di semua tingkat (c) hak untuk berpartisipasi dalam organisasi-
organisasi dan perkumpulan non-pemerintah yang berhubungan dengan kehidupan
masyarakat dan politik negara. Selanjutnya pada Pasal 11, nega negara diwajibkan untuk
menghapus diskriminasi dan menjamin hak-hak perempuan (i) hak untuk bekerja, dan (ii)
hak atas kesempatan kerja yang sama termasuk penerapan kriteria seleksi yang sama
dalam penerimaan pegawai.
Landasan Aksi Beijing berkaitan dengan kedudukan perempuan sebagai pemegang
kekuasaan dan pengambilan keputusan adalah: (a) Mengambil langkah-langkah untuk
menjamin akses dan partisipasi penuh perempuan dalam struktur-struktur kekuasaan dan
partisipasi penuh perempuan dalam struktur-struktur kekuasaan dan pengambilan
keputusan (b) Meningkatkan kapasitas perempuan untuk berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan dan kepemimpinan.
Dalam MDGs, aksi tersebut termasuk dalam tujuan ketiga yaitu “mendorong
kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan” dengan indikator: proporsi perempuan
yang duduk di DPR.

64

persen meskipun mengalami penurunan dibandingkat tahun 2006 akan tetapi secara kuantitatif
mengalami peningkatan dan diperkirakan semakin tahun akan semakin naik. Sedangkan
jumlah PNS perempuan yang menduduki jabatan relatif masih sedikit, meskipun demikian ada
kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun..

Tabel 47. Jumlah dan Prosentase Pegawai Negeri Sipil (PNS)
Di Indonesia Menurut Jenis Kelamin, Tahun 1997-2007.

Laki-laki

Perempuan

Tahun

Orang

%

Orang

%

Jumlah

1997

2.650.010

64,7

1.444.336

35,3

4.094.346

1998

2.643.645

64,6

1.446.792

35,4

4.090.437

1999

2.528.752

63,1

1.477.109

36,9

4.005.861

2000

2.461.014

62,4

1.484.764

37,6

3.945.778

2002

2.350.330

61,3

1.481.756

38,7

3.832.086

2004

2.130.299

59,4

1.457.038

40,6

3.587.337

2005

2.191.401

58,6

1.549.984

41,4

3.741.385

2006

2.109.216

58,1

1.549.984

47,9

3.633.261

2007

2.292.555

56,4

1.771.646

43,6

4.067.201

Sumber: BKN 2002, 2005, 2006, 2007,2008

Tabel 48. Jumlah dan Prosentase Pegawai Negeri Sipil Di Indonesia Menurut Tingkat
Pendidikan dan Jenis Kelamin, Tahun 2005-2007.

Jenis Kelamin

No.

Tingkat Pendidikan

Laki-laki

%

Perempuan

%

Jumlah

%

1.

SD
• 2005

108.324

94,8

5.934

5,2

114.258

3,1

• 2006

97.863

94,9

5.256

5,1

103.119

2,8

• 2007

103.182

94,7

5.784

5,3

108.966

2,7

2.

SLTP
• 2005

105.112

86,6

16.223

13,4

121..335

3,2

• 2006

98.192

86,8

14.954

13,2

113.146

3,1

• 2007

112.536

87,6

15.949

12,4

128.485

3,2

3.

SLTA
• 2005

804.793

58,5

569.516

41,5

1.374.309

36,7

• 2006

768.619

58,1

555.006

41,9

1.323.625

36,4

• 2007

871.269

57,3

649.668

42,7

1.520.937

37,4

4.

Diploma I
• 2005

26.365

43,4

34.352

56,6

60.717

1,6

• 2006

25.634

43,1

33.862

56,9

59.496

1,6

• 2007

28.163

36,6

48.736

63,4

76.901

1,9

5.

Diploma II
• 2005

257.648

42,1

354.447

57,9

612.095

16,4

• 2006

250.881

41,7

351.006

58,3

601.887

16,6

• 2007

258.259

40,6

378.565

59,4

636.824

15,7

65

6.

Diploma III
• 2005

161.454

53,7

139.162

46,3

300.616

8,0

• 2006

153.782

53,0

136.553

47,0

290.335

8,0

• 2007

167.043

49,3

171.729

50,7

338.772

8,3

7.

Diploma IV
• 2005

7.078

72,7

2.660

27,3

9.738

0,3

• 2006

7.141

72,6

2.693

27,4

9.834

0,3

• 2007

6.577

70,9

2.653

29,1

9.280

0,2

8.

Strata I/S1
• 2005

645.044

61,6

402.455

38,4

1.047.499

28,0

• 2006

632.496

61,3

399.601

38,7

1.032.097

28,4

• 2007

669.590

58,5

473.384

41,5

1.143.974

28,1

9.

Strata II/S2
• 2005

68.357

74,4

23.564

25,6

91.921

2,5

• 2006

67.506

74,2

23.467

25,8

90.973

2,5

• 2007

69.205

73,0

25.572

27,0

94.777

2,3

10. Strata III/S3
• 2005

7.226

81,2

1.671

18,8

8.897

0,2

• 2006

7.102

81,2

1.647

18,8

8.749

0,2

• 2007

6.731

80,8

1.604

19,2

8.335

0,2

TOTAL
• 2005

2.191.410

58,6

1.549.984

41,4

3.741.385

100

• 2006

2.109.216

58,1

1.524.045

41,9

3.633.261

100

• 2007

2.292.555

56,4

1.774.646

43,6

4.067.201

100

Sumber: BKN, 2006, 2007,.2008

Tabel 49. Jumlah dan Prosentase Jabatan Struktural PNS Di Indonesia
Menurut Jenis Kelamin, Tahun 1997-2007.

Laki-laki

Perempuan

Tahun

Orang

%

Orang

%

Jumlah

1997

231.115

86,0

37.679

14,0

268.794

1998

229.992

85,9

37.849

14,1

267.767

1999

194.024

84,8

34.691

15,2

228.715

2000

176.319

84,2

33.016

15,8

209.335

2002

145.541

83,4

28.912

16,6

174.453

2004

235.970

80,1

58.682

19,9

294.652

2005

236.420

80,1

58.682

19,8

295.102

2006

224.322

79,7

57.235

20,3

281.557

• Eselon I

580

89,9

65

10,1

645

• Eselon II

10.108

93,3

727

6,7

10.835

• Eselon III

46.290

86,3

7.351

13,7

53.641

• Eselon IV

156.821

77,3

45.965

22,7

202.786

66

Laki-laki

Perempuan

Tahun

Orang

%

Orang

%

Jumlah

• Eselon V

10.523

77,1

3.127

22,9

13.650

2007

201.601

79,0

53.737

21,0

255.338

• Eselon I

619

89,9

62

10,1

681

• Eselon II

8.430

93,1

622

6,9

9.052

• Eselon III

38.251

85,7

6.378

14,3

44.629

• Eselon IV

144.307

76,8

43.649

23,2

187.956

• Eselon V

9.994

76,8

3.026

23,2

13.020

Sumber: BKN (Maret, 2008)

Tabel 50. Jumlah dan Prosentase Profesi PNS Di Indonesia Menurut
Jenis Kelamin, Tahun 2002.

Laki-laki

Perempuan

Profesi

Orang

%

Orang

%

Laki-laki +
Perempuan

Jumlah

2.350.330

100

1.481.756 100

3.832.086

• Pendidik

724.229 30,8

761.858 51,4

1.486.087

• Peneliti

2.827

0,1

1.155

0,1

3.982

• Struktural

145.541

6,2

28.912

2,0

174.453

• Petugas Kesehatan

120.004

5,1

172.053 11,6

292.057

• Lainnya

1.357.729 57,8

517.778 34,9

1.875.507

Sumber: BKN 2002.

Menurut Potensi Desa (Podes) 2006 jumlah perempuan yang menjabat sebagai Kepala
Desa/Kelurahan sebanyak 1.839 orang, yang berarti hanya 2,62 persen dari 69.957 jabatan
Kepala Desa/Kelurahan/ Nagari/lainnya yang ada di Indonesia.

Angka tersebut ternyata lebih baik jika dibandingkan kondisi tahun 2000 dan 1996.
Pada tahun 2000, jumlah perempuan yang menjabat sebagai Kepala Desa sebanyak 1.559
orang atau 2,28 persen dari 68.347 desa yang ada di Indonesia, sedang pada tahun 1996,
perempuan yang menjabat Kepala Desa hanya berjumlah 1.306 orang atau 1,97 persen dari
66.045 desa yang ada di Indonesia.

67

Tabel 51. Jumlah dan Prosentase Pejabat (Hakim) Di Instansi Peradilan
Menurut Jenis Kelamin, Tahun 1997-2005.

Laki-laki

Perempuan

Tahun

Orang

%

Orang

%

Jumlah

1997

102

76,1

32

23,9

134

• Hakim Agung

44

86,3

7

13,7

51

• Hakim Yustisi

58

69,9

25

30,1

83

1998

102

73,9

36

26,1

138

• Hakim Agung

41

85,4

7

19,6

48

• Hakim Yustisi

61

67,8

29

32,2

90

1999

96

73,8

34

26,2

130

• Hakim Agung

40

87,0

6

13,0

46

• Hakim Yustisi

56

66,7

28

33,3

84

2002

84

75,0

28

25,0

112

• Hakim Agung

33

80,5

8

19,5

41

• Hakim Yustisi

51

71,8

20

28,2

71

2005

9.426

75,91

2.991

24,09

12.417

• Mahkamah Agung

41

83,7

8

16,3

49

• Pengadilan Tinggi (PT)

292

80,0

98

20,0

490

• Pengadilan Negeri

2.064

82,23

446

17,77

2.510

• PT Tata Usaha Negara (TUN)

30

90,91

3

9,09

33

• Pengadilan TUN

140

79,70

37

20,90

177

• Pengadilan Tinggi Agama

654

76,04

196

23,06

850

• Pengadilan Agama

6.042

73,34

2.196

26,66

8.238

• Pengadilan Militer Tinggi

3

75,0

1

25,0

4

• Pengadilan Militer

60

90,91

6

9.09

66

Sumber: Mahkamah Agung (Januari 2005).

Posisi perempuan di lembaga eksekutif dan yudikatif tidak jauh berbeda dengan posisi
perempuan di lembaga legislatif (DPR, DPRD). Dari tahun ke tahun, keterwakilan perempuan
dalam lembaga eksekutif, yudikatif dan lesgislatif belum menampakkan kemajuan yang berarti.

8. Mekanisme Institusional Pemajuan Perempuan

Badan-badan pemerintahan yang menangani perempuan mulai dibentuk sejak tahun
1978, ketika Kementerian Peranan Wanita didirikan. Lembaga ini terus dipertahankan hingga
kini, dan dalam kabinet Indonesia Bersatu bernama Kementerian Negara Pemberdayaan
Perempuan.

Seiring dengan desentralisasi, pembentukan kelembagaan perempuan di daerah
diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing kepala pemerintahan di tingkat provinsi
maupun kabupaten/kota, sehingga nama lembaga dan eseloneringnyapun tidak sama. Di
beberapa daerah menempatkan unit kerja Pemberdayaan Perempuan sebagai unit pelaksana

68

di Badan Pemberdayaan Masyarakat, atau sebagai unit koordinatif berbentuk Biro di
Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota.
Meskipun sangat variatif lembaga perempuan di daerah, pemerintah melalui Instruksi
Presiden No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional,
mengupayakan agar pemberdayaan perempuan masuk dalam setiap kebijakan dan program
pembangunan baik dalam pembangunan nasional maupun dalam pembangunan daerah.
Untuk itu, dibentuk focal point pemberdayaan perempuan di beberapa lembaga pemerintah
yang strategis. Misalnya Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, Departemen Hukum dan HAM, Departemen Pertanian, Kementerian Negara
Koperasi dan UKM, Departemen Dalam Negeri, dan lain sebagainya.

Tabel 52. Institusi Pemberdayaan Perempuan Menurut
Eselonisasi Provinsi Di Indonesia, Tahun 2007.

No.

Rovinsi

Eselon

Institusi Pemberdayaan Perempuan dan Anak

1. Nangroe Aceh Darussalam

II

Biro Pemberdayaan Perempuan.

2. Sumatera Utara

II

Biro Pemberdayaan Perempuan.

3. Sumatera Barat

II

Biro Pemberdayaan Perempuan.

4. Riau

III

Bagian Pemberdayaan Perempuan, Badan
Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat.

5. Kepulauan Riau

II

Biro Pemberdayaan Perempuan.

6. Jambi

II

Biro Pemberdayaan Perempuan.

7. Bengkulu

II

Biro Kesra dan Pemberdayaan Perempuan.

8. Sumatera Selatan

III

Biro Pemberdayaan Perempuan .

9. Lampung

II

Biro Pemberdayaan Perempuan.

10. Bangka Belitung

IV

Sub Bagian Pemberdayaan Perempuan, Bagian
Kesehatan dan Pemberdayaan Perempuan, Biro
Kesejahteraan Sosial.

11. Banten

III

Bagian Kesehatan dan Pemberdayaan Perempuan,

Undang-undang No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan CEDAW, Pasal 2 menyatakan
bahwa negara sepakat untuk menjalankan kebijakan menghapus diskriminasi terhadap
perempuan dan berusaha: (i) menegakkan perlindungan hukum terhadap hak-hak
perempuan dan menjamin perlindungan tersebut melalui pengadilan nasional yang
kompeten dan badan-badan pemerintah lainnya (ii) menjamin bahwa pejabat-pejabat
pemerintah dan lembaga-lembaga negara akan bertindak sesuai dengan kewajibannya
untuk tidak melakukan tindakan atau praktek diskriminasi terhadap perempuan (iii)
membuat peraturan untuk menghapus perlakukan diskriminasi terhadap perempuan oleh
tiap orang, organisasi atau perusahaan.
Landasan Aksi Beijing berkaitan dengan mekanisme institusional untuk kemajuan
perempuan, adalah: (a) Membentuk atau memperkuat mekanisme-mekanisme nasional dan
badan-badan pemerintahan lainnya (b) Mengintegrasikan perspektif gender ke dalam
perundang-undangan, kebijakan-kebijakan pemerintah, serta semua program dan proyek
(c) Menyusun dan menyebarluaskan data yang telah dipilah-pilah menurut gender dan
informasi untuk perencanaan dan evaluasi.
Dalam MDGs, tujuan berkaitan dengan masalah mekanisme institusional untuk
kemajuan perempuan ini tidak ada.

69

No.

Rovinsi

Eselon

Institusi Pemberdayaan Perempuan dan Anak
Biro Kesejahteraan Sosial.

12. DKI Jakarta

III

Bidang Pemberdayaan Perempuan, Badan
Pemberdayaan Masyarakat.

13. Jawa Barat

III

Bagian Pemberdayaan Perempuan, Biro
Pengembangan Sosial.

14. Jawa Tengah

II

Biro Pemberdayaan Perempuan.

15. DI Yogyakarta

II

Kantor Pemberdayaan Perempuan.

16. Jawa Timur

III

Bidang Pemberdayaan Perempuan, Badan
Pemberdayaan Masyarakat.

17. Bali

II

Biro Kesejahteraan dan Pemberdayaan Perempuan.

18.

Nusa Tenggara Barat

IV

Sub Bagian Pemberdayaan Perempuan, Biro
Kesejahteraan Sosial.

19. Nusa Tenggara Timur

II

Biro Pemberdayaan Perempuan.

20.

Kalimantan Barat

III

Badan Pemuda, Olah raga dan Pemberdayaan
Perempuan

21. Kalimantan Timur

IV

Biro Sosial dan Pemberdayaan Perempuan.

22. Kalimantan Tengah

II

Biro Pemberdayaan Perempuan.

23. Kalimantan Selatan

III

Bidang Pemberdayaan Perempuan, Badan
Pemberdayaan Masyarakat .

24. Sulawesi Utara

II

Biro Pemberdayaan Perempuan.

25. Gorontalo

III

Bagian Pemberdayaan Perempuan, Biro Sosial.

26. Sulawesi Tengah

III

Bagian Pemberdayaan Perempuan, Badan
Pemberdayaan Masyarakat.

27. Sulawesi Barat

II

Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan
Rakyat.

28. Sulawesi Tenggara

IV

Sub Bagian Pemberdayaan Perempuan, Bagian
Perempuan dan Kesejahteraan Rakyat, Badan
Pemberdayaan Masyarakat.

29. Sulawesi Selatan

II

Biro Pemberdayaan Perempuan.

30 Maluku

IV

Sub Bagian Pemberdayaan Perempuan, Bagian
Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga
Berencana, Biro Kesejahteraan.

31. Maluku Utara

III

Bagian Pemberdayaan Perempuan, Biro
Kesejahteraan Rakyat dan Pemberdayaan
Perempuan.

32. Papua

II

Badan Pemberdayaan Perempuan.

33. Papua Barat

II

Biro Pemberdayaan Perempuan.

Sumber : Website Pemprov (Juni 2007).

Pusat Studi Wanita (PSW) didirikan oleh perguruan tinggi di Indonesia baik perguruan
tinggi negeri maupun swasta, yang tahun 2005 jumlahnya mencapai 132 unit di 29 provinsi.
Mereka melakukan berbagai penelitian tentang kesetaraan gender termasuk penyusunan data
terpilah, sebagai masukan kepada Pemerintah setempat. PSW diharapkan dapat menjadi
katalisator terhadap percepatan pemberdayaan perempuan melalui kerjasama dengan
kelembagaan pemerintah pusat dan daerah, swasta dan masyarakat.

70

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->