Anda di halaman 1dari 8

BAB II DISKRIPSI PP NO 55 TAHUN 2007 TENTANG PENDIDIKAN AGAMA DAN KEAGAMAAN

A. Isu Pokok PP No 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan Sekarang ini banyak bermunculan sekolah berbasis keagamaan dan menjamur di segala penjuru daerah di Indonesia, baik itu sekolah berbasis Islam ataupun non-Islam. Dan dapat kita liat sekolah-sekolah swasta yang dibuka adalah sekolah yang berbasis keagamaan, baik itu di kompleks-kompleks perumahan mewah maupun di daerah-daerah. Seperti halnya banyak berdiri SDIT/SMPIT dimana-mana, hampir setiap daerah ada. Seolah tak mau kalah, sekolah-sekolah negeri dan swasta umum mulai menekankan pentingnya peran agama dalam kurikulum mereka terutama setelah adanya pendidikan karakter. Pesantren-pesantren tradisional maupun yang berlabel modern menjadi laku keras. Dalam rangka merespon aspirasi masyarakat tersebut dan untuk memposisikan pendidikan agama dan keagamaan yang sangat penting itu dalam keseluruhan rancang bangun jati diri bangsa Indonesia ini, serta sebagai penjabaran UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU SISDIKNAS) atau dalam rangka memenuhi

ketentuan beberapa pasal yang ada dalam undang-undang tersebut, maka pada tanga l5 Oktober 2007 pemerintah mengeluarkan PP No. 55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan. Kaidah-kaidah hukum di dalam PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan mengatur pengertian, fungsi, jenis dan jenjang pendidikan agama dan keagamaan, pengelolaan dan penyelenggaraan, kurikulum dan sistem penilaian sebagainorma-norma yang harus ditaati dalam proses pelaksanaan pendidikanagama dan penyelenggaraan pendidikan keagamaan.

Dalam laporan ini akan dibahas PP No. 55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan dan kemudian akan dianalisa dampak dari produk kebijakan itu, khususnya dalam tahap implementasi.

B. Isu-Isu Strategis PP No 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan Pemerintah dalam upayanya meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan di Indonesia mulai terlihat tegas dengan mengeluarkan UU NO. 20 TAHUN 2003. Dimana UU No.20 Tahun 2003adalah UU yang dibuat dalam rangka menegaskan religiusitas adalah aspek penting bagi SDM Indonesia. Diantaranya tercantum di: Tujuan Pendidikan Hak setiap siswa mendapatkan pendidikan agama sesuai agama yang dianutnya, dimanapun siswa itu bersekolah. MI setingkat SD, MTs setingkat SMP, MA setingkat SMA, dan Madrasah Aliyah Kejurusan (MAK) setingkat SMK. Poin 3 ini semakin diteguhkan oleh PP No. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. PP No. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. PP ini mengatur Pendidikan Agama di sekolah umum dan Pendidikan Keagamaan (Islam, Protestan, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu). Dan menjadikan MI, MTs, dan MA bukan lagi kategori Pendidikan Keagamaan, tetapi PENDIDIKAN UMUM dibawah DEPAG.

Analisi Teoritis Agama memberikan motifasi hidup dan kehidupan serta merupakan alat pengembangan dan pengendalian diri yang amat penting . Oleh karena itu agama perlu diketahui, dipahami, diyakini, dan diamalkan oleh manusia Indonesia agar dapat menjadi dasar kepribadian sehingga dapat menjadi manusia yang utuh. Dari segi etimologi atau bahasa, kata pendidikan berasal kata "didik" yang mendapat awalan pe- dan akhiran -an

sehingga pengertian pendidikan adalah sistem cara mendidik atau memberikan pengajaran dan peranan yang baik dalam akhlak dan kecerdasan berpikir. Kemudian ditinjau dari segi terminology, banyak batasan dan pandangan yang dikemukakan para ahli untuk merumuskan pengertian pendidikan, namun belum juga menemukan formulasi yang tepat dan mencakup semua aspek, walaupun begitu pendidikan berjalan terus tanpa menantikan keseragaman dalam arti pendidikan itu sendiri. Diantaranya ada yang mengemukakan pengertian pendidikan sebagai berikut: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1. Kata pendidikan berasal dari kata didik yang berarti menjaga, dan meningkatkan. (Webster's Third Digtionary), yang dapat didefinisikan sebagai berikut: a. Mengembangkan dan memberikan bantuan untuk berbagai tingkat pertumbuhan atau mengembangkan pengetahuan, kebijaksanaan, kualitas jiwa, kesehatan fisik dan kompetensi. b. Memberikan pelatihan formal dan praktek yang di supervisi. c. Menyediakan informasi.

d. Meningkatkan dan memperbaiki. Dari pengertian di atas, pendidikan merupakan sistem untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan. Dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya. Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang. Upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa memiliki hubungan yang signifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang.

Dengan demikian, "pendidikan merupakan sarana terbaik untuk menciptakan suatu generasi baru pemuda-pemudi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka sendiri tapi juga sekaligus tidak menjadi bodoh secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan-perkembangan disetiap cabang pengetahuan manusia" Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan selalu berkembang, dan selalu dihadapkan pada perubahan zaman. Untuk itu, mau tak mau pendidikan harus didisain mengikuti irama perubahan tersebut, apabila pendidikan tidak didisain mengikuti irama perubahan, maka pendidikan akan ketinggalan dengan lajunya perkembangan zaman itu sendiri. Siklus perubahan pendidikan pada diagram di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut: Pendidikan dari masyarakat, didisain mengikuti irama perubahan dan kebutuhan masyarakat. Misalnya; pada peradaban masyarakat agraris, pendidikan didisain relevan dengan irama perkembangan peradaban masyarakat agraris dan kebutuhan masyarakat pada era tersebut. Begitu juga pada peradaban masyarakat industrial dan informasi, pendidikan didisain mengikuti irama perubahan dan kebutuhan masyarakat pada era industri dan informasi, dan seterusnya. Demikian siklus perkembangan perubahan pendidikan, kalau tidak pendidikan akan ketinggalan dari perubahan zaman yang begitu cepat. Untuk itu perubahan pendidikan harus relevan dengan perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat pada era tersebut, baik pada konsep, materi dan kurikulum, proses, fungsi serta tujuan lembaga-lembaga pendidikan. Sementara Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, pemahaman berarti Memahamkan maksudnya mempelajari baik-baik supaya paham. Sedangkan Keagamaan berasal dari kata agama, yang artinya Segenap kepercayaan (kepada Tuhan, dewa dsb) serta dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu. Harun Nasition menjelaskan bahwa Agama berasal dari kata Al din, religi dan agama. Al din

berarti undang-undang atau hukum. Kemudian dalam bahasa arab kata ini mengandung pengertian menguasai menundukkan, patuh, utang, balasan dan kebiasaan. Dari kata religi (latihan, relegere) berati mengumpulkan dan membaca dan relege berati mengikat. PP. No. 55 tahun 2007 menjelaskan bahwa pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Sedangkan Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya. Analisi Empiris UU Sisdiknas nomor 2 tahun 1989, memposisikan pendidikan keagamaan sebagai pendidikan luar sekolah yang sama dengan pendidikan umum, pendidikan jabatan kerja, pendidikan kedinasan dan pendidikan kejuruan. Konsekuensi dari kebijakan itu, jelas menjadikan lembaga keagamaan tidak dapat perlakuan sejajar dari pemerintah, terutama dalam hal hak untuk mendapatkan anggaran. Kondisi itu berubah seiring disahkannya UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003. Isi Pasal 12 ayat (4), Pasal 30 ayat (5), dan Pasal 37 ayat (3), UU Sisdiknas20 2003, mengamanatkan perlunya menetapkan Peraturan Pemerintahtentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Karena mengingat pentingnya penjabaran lebih rinci, untuk mempermudah pelaksanaan secara tekhnis sebagai panduan di lapangan, maka tepatnya pada tanggal 5 Oktober 2007, Produk Hukum yang berupa PP No.55 Tahun 2007, ditetapkan oleh pemerintah yang dalam pengelolaannya sesuai dengan PP No.55 Tahun 2007, Pasal 9 ayat 3,dilakukan oleh Menteri Agama.UU 1945 menjamin setiap penduduk mendapatkan

pendidikan. Negara berkewajiban memberikan pelayanan pendidikan, termasuk pendidikan keagamaan. Pendidikan keagamaan sebagaimana diatur dalamUU No 20 tahun 2003 merupakan salah satu jenis pendidikan. Sebagai jenis pendidikan, pendidikan keagamaan diatur lebih lanjut dalamPeraturan Pemerintah No 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama danPendidikan Keagamaan. Dalam PP tersebut pasal (1) menyebutkan: pendidikan

keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan pesertadidik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya. Pada penghujung 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyonomenetapkan Peraturan Pemerintah No 55 tahun 2007 tentang PendidikanAgama dan Pendidikan Keagamaan. Namun pada kenyataan kebijakan apapun yang keluar dari pemerintah tidak bisa dilepaskan dari agenda dan kepentingan penguasa. Biasanya hubungan antara pendidikan dan politik bukan sekadar hubungan saling mempengaruhi, tetapi juga hubungan fungsional. Lembaga-lembaga dan proses pendidikan menjalankan sejumlah fungsi politik yang signifikan.Pendidikan keagamaan dalam hal ini pesantren mempunyai potensi besar untuk menjadi rebutan penguasa dan atau kelompok elit yang ingin berkuasa. Selain simbol Islam yang melekat pada diri pesantren, jugakarena kuantitas pesantren yang begitu banyak bertebaran di nusantara inidengan basis masanya yang mudah diarahkan hanya dengan kekuatan pengaruh dan kharisma kiyainya. Dengan lahirnyaPP 55 tahun 2007 ini minimal memunculkan opini di tengahtengah masyarakat bahwa pemerintah saat ini peduli terhadap pendidikan keagamaan untuk mengambil hati warga pesantren. Dengan kata lain dikeluarkannya PP 55 tahun 2007 ini adalah upaya pemerintah untuk melakukan pendekatan dan menjalin hubungan yang harmonis dengan warga pesantren.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama Republik Indonesia. 2004. Modul Orientasi Pembekalan Calon PNS, Basic Kompetensi Guru. Jakarta Dirjen Bimbaga Islam.1986. Depag R I Kamus umum bahasa Indonesia. 2008. Pendidikan agama dan keagamaan PP. No. 55 Pasal 1 & 2. Jakarta: Pusat Bahasa Poerwadarminto. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka PP No.5 Tahun 2003 tentang pendidikan agama dan keagamaan

UUD 1945. 2004. Undang-Undang Republik Indonesia dan Perubahannya. Jakarta: Penabur Ilmu Diposkan oleh munir nurhayati di 20.41

Anda mungkin juga menyukai