Anda di halaman 1dari 116

PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI JAMBO AYE WILAYAH SUNGAI WOYLA

SEUNAGAN

POLA POLA

TAHUN 2012 TAHUN 2011

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL BAB-1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Maksud, Tujuan dan Sasaran 1.2.1 Maksud 1.2.2 Tujuan 1.2.3 Sasaran i iii iv

1.3. Isu-isu Strategis


1.3.1. Isu Strategis Nasional 1.3.2. Isu Strategis Lokal BAB-2 KONDISI PADA WILAYAH SUNGAI JAMBO AYE 2.1. Peraturan Perudangan dan Peraturan Pemerintah Yang Terkait

11 15 1-5 1-5 1-5 16 16 19

21 2-1 2-2 2-4 2-6 2-6 27 27 27 27 212 213 214 216 217 219 219 221 222 223 225 229

2.1.1 2.1.2 2.1.3

Undang Undang Peraturan Terkait Peraturan Presiden dan Peraturan Menteri

2.2. Kebijakan Pengelolaan SDA


2.2.1. Kebijakan Nasional Pengelolaan SDA 2.2.2. Kebijakan Provinsi Aceh Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air 2.3. Inventarisasi Data 2.3.1. Data Umum 2.3.1.1. Rencana Tata Ruang Wilayah 2.3.1.2. Penggunaan Lahan 2.3.1.3. Penduduk 2.3.1.4. Laju Pertumbuhan Ekonomi 2.3.1.5. Topografi 2.3.1.6. Geologi 2.3.2. Data Sumber Daya Air 2.3.2.1.Hidrologi 2.3.2.2.Air Tanah 2.3.2.3. Erosi dan Sedimentasi 2.3.2.4.Kualitas Air 2.3.2.5.Sarana & Prasarana di WS Jambo Aye 2.3.3. Data Kebutuhan Air

Halaman 2.3.3.1. Kebutuhan Air Domestik WS Jambo Aye 2.3.3.2. Kebutuhan Air Irigasi WS.Jambo Aye 2.3.3.3. Neraca Air 2.4. Identifikasi Kondisi Lingkungan dan Permasalahan 2.4.1. Aspek Konservasi Sumber Daya Air 2.4.2. Aspek Pendayagunaan Sumber Daya Air 2.4.3. Aspek Pengendalian Daya Rusak Air 2.4.4. Aspek Sistem Informasi SDA 2.4.5. Aspek Peran Serta Masyarakat dan Sistem Koordinasi 2.5. Identifikasi Terhadap Potensi Yang Bisa Dikembangkan 2.5.1. Aspek Konservasi SDA 2.5.2. Aspek Pendayagunaan SDA 2.5.3. Aspek Pengendalian Daya Rusak Air 2.5.4. Aspek Sistem Informasi Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air 2.5.5. Aspek Peran Serta Masyarakat dan Dunia Usaha Dalam Pengelolaan SDA 2.5.6. Resume Potensi Yang dapat dikembangkan pada WS Jambo Aye BAB-3 ANALISA DATA 3.1. Asumsi, Kriteria dan Standar 3.2. Skenario Kondisi Ekonomi, Politik, Perubahan Iklim pada WS Jambo Aye 3.2.1. Asumsi Skenario Pertumbuhan Ekonomi 3.2.2. Skenario Pengelolaan SDA WS Jambo Aye 3.3. Alternatif Pilihan Strategi Pengelolaan SDA KEBIJAKAN OPERASIONAL PENGELOLAAN SDA 228 230 229 233 235 236 239 240 241 242 242 244 245 245 245 2-45

31 31 32 3-5 310 41

BAB-4

ii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. 2.6. 2.7. 2.8. 2.9. 2.10. 2.11. 2.12. 2.13. 2.14. 2.15. 2.16. 2.16. 2.17. 2.18. 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 4.1 4.2 4.1. 4.4. 4.5. Peta Pembagian Wilayah Sungai Provinsi Aceh Peta Wilayah Administrasi WS Jambo Aye Peta Pembagian DAS WS Jambo Aye Peta Wilayah KEL pada Wilayah Sungai Jambo Aye Peta Rencana Pola Ruang WS Jambo Aye Peta Penutupan Lahan Tahun 2009 Luas Panen dan Produksi 2009-2010 Laju Pertumbuhan dan PDRB Provinsi Aceh Peta Digital Elevation Model Peta Kemiringan Lereng WS Jambo Aye Peta Geologi WS Jambo Aye Peta Morfologi WS Jambo Aye Peta Erosivitas WS Jambo Aye Distribusi Curah Hujan & Iklim Bulanan Peta Cekungan Air Tanah (CAT) pada WS Jambo Aye Peta Kelas Erosi pada WS Jambo Aye Peta Lokasi Sampel Kualitas Air pada WS Jambo Aye Skematik Daerah Aliran Sungai (DAS) pada WS Jambo Aye Potensi dan Kebutuhan Air WS Jambo Aye Prosentase Pemanfaatan Air WS Jambo Aye (2010) Peta Arahan Kegiatan Sipil Teknis WS Jambo Aye Peta Arahan Kegiatan Vegetatif pada WS Jambo Aye Peta Potensi Pengambangan SDA dan Potensi Rawan Bencana WS Jambo Aye Skenario Kebutuhan Air WS Jambo Aye (2010-2031) Neraca Air WS Jambo Aye Skenario 1 (Perekonomian Rendah) Neraca Air WS Jambo Aye Skenario 2 (Perekonomian Sedang) Neraca Air WS Jambo Aye Skenario 3 (Perekonomian Tinggi) Peta Tematik Aspek Konservasi SDA Peta Tematik Aspek Pendayagunaan SDA Peta Tematik Aspek Pengendalian Daya Rusak Air Peta Tematik Aspek Sistem Informasi Sumber Daya Air Peta Tematik Aspek Pemberdayaan Masyarakat dan Dunia Usaha

Halaman 11 13 14 19 211 213 215 216 216 217 218 219 220 221 222 223 225 227 232 2-32 243 243 247 3-4 3-7 3-8 3-9 4-33 4-34 435 436 437

iii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. 1.2. 1.3. 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. 2.6. 2.7. 2.8. 2.9. 2.10. 2.11. 2.12. 2.13. 2.14. 2.15. 2.16. 2.17. 2.18. 2.19. 2.20. 2.21. 2.22. 2.23. 2.24. 2.25. 3.1. Kode dan Nama DAS dan Luas DAS WS Jambo Aye Luas berdasarkan Wilayah Admnistrasi pada WS Jambo Aye Posisi Koordinat masing masing DAS pada WS Jambo Aye Sinergi Tata Ruang Terhadap WS Jambo Aye Indikasi Program RTRW Provinsi Aceh pada S Jambo Aye Penggunaan Lahan di Kawasan WS Jambo Aye Tahun 2009 Penggunan Lahan pada Wilayah Kabupaten di WS Jambo Aye Jenis Tanah pada Wilayah Kabupaten di WS Jambo Aye Jumlah Penduduk pada WS Jambo Aye Jumlah Penduduk per DAS pada WS Jambo Aye Kemiringan Lereng WS Jambo Aye Erosivitas pada Wilayah Sungai Laju Erosi per DAS di Wilayah Sungai Jambo Aye Kelas Erosi per Daerah Aliran Sungai Existing Rangkuman Hasil Uji Laboratorium terhadap Komponen Air Permukaan di WS Jambo Aye Data Sungai di Wilayah Sungai Jambo Aye Data Debit Banjir per DAS di Wilayah Sungai Jambo Aye Data Irigasi Pada Kabupaten Terkait Data Irigasi di Wilayah Sungai Jambo Aye Data Irigasi Rawa di Wilayah Sungai Jambo Aye Proyeksi Jumlah Penduduk per DAS di WS Jambo Aye Proyeksi Jumlah Penduduk di WS Jambo Aye Kebutuhan Air Penduduk per DAS di WS Jambo Aye Kebutuhan Air Untuk Irigasi pada WS Jambo Aye Kebutuhan Air pada WS Jambo Aye Potensi, Kebutuhan dan Ketersediaan Air pada WS Jambo Aye Neraca Ketersediaan Air dan Kebutuhan WS Jambo Aye 2010 Permasalahan di WS Jambo Aye Parameter Skenario Dalam Pengelolaan SDA WS Jambo Aye

Halaman 12 12 12 28 29 212 212 213 214 214 217 220 222 223 224 226 2-26 228 2-28 2-28 2-29 2-29 2-30 2-30 2-31 2-32 2-30 2-31 3-2

iv

3.2. 4.1.

4.2.

4.3.

Asumsi Skenario Dalam Pengelolaan SDA WS Jambo Aye Kebijakan Operasional Pola Pengelolaan Wilayah Sungai Jambo Aye Skenario (Pertumbuhan Ekonomi Rendah) Kebijakan Operasional Pola Pengelolaan Wilayah Sungai Jambo Aye Skenario (Pertumbuhan Ekonomi Sedang) Kebijakan Operasional Pola Pengelolaan Wilayah Sungai Jambo Aye Skenario (Pertumbuhan Ekonomi Timggi)

3-4 42

412

422

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Wilayah Sungai Jambo Aye merupakan salah satu Wilayah Sungai di Provinsi Aceh berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No 12 Tahun 2012 tentang Penetapan Wilayah Sungai (Kode WS 01.05 A3). Wilayah Sungai Jambo Aye merupakan Wilayah Sungai Strategis Nasional dengan luas 776.383,40 Ha yang meliputi beberapa wilayah Kabupaten antara lain Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah, dan Kabupaten Gayo Luwes. Wilayah Sungai Jambo Aye mempunyai sejumlah DAS yang meliputi 13 (tiga belas) DAS dengan salah satunya DAS yang terbesar adalah DAS Jambo Aye dimana pada DAS Jambo Aye ini direncanakan waduk untuk memenuhi kebutuhan air dan enersi listrik di wilayah Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur.

Gambar 1.1. Peta Pembagian Wilayah Sungai di Provinsi Aceh


(Sumber Keppres No 12 Tahun 2012)

Bab 1 - 1

Tabel 1.1.
KODE

Kode & Nama DAS dan Luas DAS WS Jambo Aye


NAMA_DAS LUAS (ha)

001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013

DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS

A. Geuruntang Reunget Rusa Arakundo Jambo Aye Bugeng A. Gading Idi Peundawa Puntong Peundawa Rayeuk Peureulak Leungo Rayeuk

4134,17 696,17 21.819,38 7.715,43 541.032,40 15.184,16 7.302,04 23.988,53 3.983,58 6.003,72 129.518,93 4.058,82

DAS Babah 10.945,72 Grand Total 776.383.04 Sumber : Analisis PT Aditya EC 2012 & Pembagian DAS Keppres No 12 Tahun 2012

Wilayah Jambo Aye meliputi beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh dan dengan luas masing masing sebagai berikut : Tabel 1.2. Luas Berdasarkan Wilayah Administrasi pada WS Jambo Aye
No 1 2 3 4 5 WS pada Kabupaten/Kota Luas (Ha) % Luas Thd WS Kabupaten Aceh Tengah 220.770,41 28,44 Kabupaten Aceh Timur 361.508,31 46,56 Kabupaten Aceh Utara 63.808,53 8,22 Kabupaten Gayo Lues 3.573,14 0,46 Kabupaten Bener Meriah 126.722,64 16,32 Jumlah 776.383,04 100 Sumber : Analisis PT Aditya EC 2012 & Pembagian DAS Keppres No 12 Tahun 2012

Tabel 1.3. Posisi Koordinat masing masing DAS pada WS Jambo Aye
Kode 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 Nama_DAS DAS A. Geuruntang DAS Reunget DAS Rusa DAS Arakundo DAS Jambo Aye DAS Bugeng DAS A. Gading DAS Idi DAS Peundawa Puntong DAS Peundawa Rayeuk DAS Peureulak DAS Leungo Rayeuk DAS Babah BT 97 30' 10,386" E 97 32' 30,171" E 97 27' 56,661" E 97 32' 13,600" E 97 15' 0,134" E 97 38' 29,971" E 97 42' 16,853" E 97 40' 30,128" E 97 46' 24,337" E 97 48' 26,923" E 97 38' 44,233" E 97 55' 5,982" E 97 52' 27,278" E LS 5 13' 22,199" N 5 11' 29,816" N 5 10' 12,304" N 5 07' 3,920" N 4 38' 53,015" N 4 59' 8,981" N 4 58' 24,617" N 4 50' 37,064" N 4 54' 27,463" N 4 52' 54,357" N 4 38' 55,761" N 4 47' 26,016" N 4 43' 49,798" N

Sumber : Analisis PT Aditya EC 2012, Pembagian DAS berdasarkan KEPPRES No 12 Tahun 2012

Bab 1 - 2

Gambar 1.2. Peta Wilayah Administrasi WS Jambo Aye Bab 1 - 3

Gambar 1.3. Peta Pembagian DAS WS Jambo Aye

Bab 1 - 4

1.2

Maksud, Tujuan dan Sasaran

1.2.1 Maksud. Maksud dari penyusunan pola pengelolaan sumber daya air adalah untuk membuat kerangka dasar dalam pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Jambo Aye dalam melaksanakan kegiatan konservasi, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air, sistem informasi sumber daya air dan pemberdayaan pengelolaan masyarakat, sumber daya sehingga air dapat menjamin terpadu, terselenggaranya dan secara terkoordinasi

berkesinambungan dalam kurun waktu 20 tahun mendatang. 1.2.2 Tujuan Tujuan dari penyusunan pola pengelolaan sumber daya air adalah untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat memberikan manfaat yang sebesar besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang antara lain : a. Memenuhi kepentingan dan kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Aceh dan seluruh Kabupaten dalam WS Jamno Aye (Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Utara, Bener Meriah dan Gayo Luwes) b. Memenuhi kebutuhan SDA bagi semua pemanfaat sumber daya air di WS Jambo Aye. c. Mengupayakan sumber daya air yang terkonsentrasi, berdaya dan berhasil guna, dimana daya rusak air dapat dikendalikan, dikelola secara menyeluruh, terpadu, dalam satu kesatuan sistem tata air WS Jambo Aye. d. Melakukan pengelolaan SDA yang berkelanjutan dengan selalu memenuhi fungsi lingkungan hidup dan ekonomi secara selaras serta menjaga keseimbangan antara ekosistem dan daya dukung lingkungan. 1.2.3 Sasaran Sasaran dari penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air WS Jambo Aye adalah Memberikan arahan pengembangan kawasan pembangunan antara lain kawasan budidaya, sistem pusat-pusat pemukiman, sistem sarana prasarana wilayah dan kawasan yang perlu diprioritaskan berkaitan dengan sumber daya air. Memberikan arahan pengembangan pembangunan pada kawasan yang berkaitan dengan sumber daya air Bab 1 - 5

Memberikan arahan kebijakan yang menyangkut tata guna air, tata guna sumber daya alam, tata guna tanah serta kebijakan penataan ruang. Memberikan arahan terjaminnya ketersediaan air untuk kepentingan masa kini dan masa yang akan datang.

1.3

Isu-isu Strategis Millennium Development Goals (MDG) 2015

1.3.1 Isu Strategis Nasional Dalam rangka menyongsong MDG tahun 2015, air sungai di WS Jambo Aye dimanfaatkan juga untuk memenuhi kebutuhan air baku untuk air minum. Dengan berkembangnya Kota Kabupaten/Kecamatan yang dilalui aliran Sungai Jambo Aye sebagai sungai terbesar pada WS ini mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan air baku untuk air minum, dimana tingkat kebutuhan air tersebut sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan penduduk. Di samping itu, semakin tingginya konsentrasi penduduk dan di daerah perkotaan menimbulkan masalah antara lain menurunnya kualitas air. Cakupan pelayanan air minum pada daerah perkotaan di Provinsi Aceh baru mencapai 50% dari seluruh penduduk perkotaan, sedang pada daerah perdesaan baru mencapai 30%. Sedangkan sasaran pelayanan air minum menurut Millennium Development Goals (MDGs) 2010 2015, pelayanan air minum perkotaan 80% dan perdesaan 65%. Untuk mencapai target MDGs tersebut salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan sistem penyediaan air minum di beberapa kabupaten di Provinsi Aceh. Potensi air yang ada di WS Jambo Aye dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan air tersebut terutama pada musim kemarau dan dapat meningkatkan pelayanan memenuhi kebutuhan air penduduk pada masa yang akan datang serta kebutuhan enersi listrik yang meningkat seiring pertambahan penduduk. Ketahanan Pangan

Pertanian merupakan salah satu sektor andalan di Provinsi Aceh, sehingga daerah tersebut sebagai salah satu lumbung beras nasional. Provinsi Aceh dari tahun ke tahun selalu mengalami surplus padi. Pada 2009, Pemprov Aceh akan terus tetap menjadi lumbung beras nasional dalam rangka mendukung swasembada pangan nasional. Untuk mendukung program tersebut telah

Bab 1 - 6

dilakukan berbagai langkah baik ekstensifikasi maupun intensifikasi lahan serta bantuan kepada petani berupa sarana produksi. Produksi padi di Aceh tahun 2008 mengalami penurunan 9,94 persen menjadi 1,386 juta ton dengan luas areal sawah 326,5 ribu hektare, penurunan tersebut akibat perubahan iklim, sehingga terjadi pergeseran musim tanam, disamping adanya kerusakan irigasi. Namun, dengan turunnya produksi tersebut, Aceh tetap surplus, sehingga bisa menjadi cadangan pangan nasional. Selain itu, akan dilakukan perluasan areal sawah pada tahun melalui crash program dari pemerintah pusat. Pada tahun 2008 Aceh mendapat jatah pengembangan tanaman padi seluas 74.320 ha. Upaya tersebut dilakukan berupa upaya perluasan areal tanam, dalam rangka mempertahankan ketersediaan pangan di Aceh. Perubahan Iklim

REDD (Reducing Emissions From Deforestation And Forest Degradation) adalah menyangkut upaya pengurangan emisi akibat kerusakan hutan. Dengan demikian, dana REDD bukan dana pelestarian atau menjaga hutan. Termasuk diantaranya, bukan termasuk berapa luas hutan, tetapi seberapa jauh kemampuan atau usaha untuk mengurangi pemanasan global. Pemerintah Aceh telah memanfaatkan kesempatan perdagangan karbon dengan mekanisme REDD sebagai bagian upaya melibatkan diri aksi bersama untuk mitigasi pemanasan global. Melalui pertemuan Convention on PartiesCOP-13 di NusaDua Bali 2007, Gubernur Aceh, menandatangani komitmen bersama dan usaha penanggulangan perubahan iklim dan pemanasan global. Degradasi Lingkungan

Kerusakan lingkungan yang terjadi akibat pertumbuhan jumlah penduduk dan perilaku masyarakat yang belum sadar akan konservasi lingkungan semakin nyata. Degradasi lingkungan itu terjadi selain karena rusaknya sumber daya air akibat penebangan liar, pertambangan, dan kebakaran hutan, juga karena pemanfaatan air tak sesuai dengan peruntukannya. Dampak terburuk kerusakan lingkungan bagi penduduk adalah krisis air bersih untuk bahan baku air minum. Krisis itu telah terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Saat ini tercatat 62 daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia dalam kondisi kritis. termasuk DAS pada WS Jambo Aye yang terindikasi kritis antara lain DAS Jambo Aye dan DAS Arakundo. Bab 1 - 7

Kerusakan DAS menjadikan kualitas air sungai yang bisa digunakan untuk air minum terancam hilang. Kerusakan terutama terjadi karena penggunaan lahan yang tidak sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Selain itu pengawasan dan penegakan hukum masih lemah. Tercatat 70 persen pencemaran sungai yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh penduduk, sementara 30 persen sisanya oleh industri. Kawasan Taman Nasional / Kawasan Lindung

Kawasan Ekosistem Leuser : Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional. Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia (Pasal 1 ayat 17 & Lamp X Peraturan Pemerintah No.26 /2008 tanggal 10 Maret 2008). Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di wilayah Aceh adalah wilayah yang secara alami terintegrasikan oleh faktor-faktor bentangan alam, karakteristik khas dari flora dan fauna, keseimbangan habitat dalam mendukung keseimbangan hidup keanekaragaman hayati, dan faktor-faktor khas lainnya sehingga membentuk satu kesatuan ekosistem tersendiri yang disebut Ekosistem Leuser. Luas areal KEL berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No. 227/Kpts-II/1995 adalah 1.790.000 ha yang kemudian setelah dilakukan penataan tapal batas, luas KEL untuk wilayah Aceh adalah 2.255.577 ha. Hal ini dipertegas melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 190/KptsII/2001 dengan hak pengelolaan pelestarian dipercayakan kepada Yayasan Leuser Internasional (YLI) sebagai sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat. Kemudian dikukuhkan oleh Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) No.33 Tahun 1998. Peta Tata Letak Kawasan Ekosistem Leuser skala 1:50.000 yang meliputi kabupaten (sebelum dimekarkan) : Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur dan Aceh Utara di Provinsi Aceh, Langkat, Deli Serdang dan Karo di Provinsi Sumatera Utara. Wilayah Kawasan Ekosistem Leuser merupakan kawasan yang mempunyai fungsi kawasan hutan lindung, hutan produksi dan Taman Baru yang terdiri dari kawasan dimana sebagian wilayah ini masuk dalam wilayah sungai Jambo Bab 1 - 8

Aye dengan luasan mencapai 473.540,45 Ha dari seluruh luas wilayah sungai Jambo Aye 776.383,04 Ha Peraturan yang terkait dengan perlindungan kawasan adalah UU No.11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang telah mengamanatkan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) menjadi kawasan yang dilindungi dan pemanfaatannya mengacu pada aturan-aturan yang ditentukan berdasarkan pasal 150 dan pasal 147 tentang pedoman pembangunan berkelanjutan, pelestarian fungsi lingkungan hidup, kemanfaatan, dan keadilan, UU No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut dan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan serta Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 2004, tentang Perlindungan Hutan.

Gambar 1.4

Peta Wilayah KEL pada Wilayah Sungai Jambo Aye

1.3.2 Isu Strategis Lokal Degradasi Lingkungan Perubahan tutupan lahan di Wilayah Sungai Jambo Aye mengakibatkan sering terjadi kekurangan air dimusim kemarau dan banjir dimusim hujan, perubahan Bab 1 - 9

ini disebabkan perubahan tutupan lahan peride 10 tahun terakhir yang menyebabkan erosi dan sedimentasi. Degradasi lingkungan akibat adanya penebangan liar, pertambangan, dan kebakaran hutan dan pemanfaatan air tak sesuai dengan peruntukannya (DAS Sangat kritis adalah DAS Jambo Aye DI WS Jambo Aye adalah DAS DAS Jambo Aye Kritis yang berada di wilayah Kabupaten Aceh Timur, Utara dan Bener Meriah serta Aceh Tengah mancapai lebih dari 30%) Banjir Di beberapa DAS Beberapa DAS yang melintasi pemukiman mengalami banjir antara lain DAS Arakundo, DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak, banjir ini disebabkan adanya perubahan tutupan lahan dan akibat sedimentasi di daerah muara akibar Tsunami yang mengakibatkan perubahan geometri tampungan sungai ke muara. Didaerah hilir setiap tahunnya mengalami banjir yang menerima limpasan debit banjir dari bagian hulu DAS Jambo Aye. Kerusakan Jaringan Irigasi dan Tambak adanya kerusakan jaringan irigasi, sebagian penduduk beralih Dengan

mengusahakan lahan pertanian karena saluran irigasi tidak berfungsi normal. Perlu upaya perbaikan jaringan irigasi yang ada agar tidak terjadi alih fungsi lahan menjadi lahan sawit. Di bagian hilir yang merupakan daerah rawa, telah berkembang menjadi lahan tambak yang secara geografis layak dimanfaatkan untuk tambak. Pasca Tsunami kegiatan masyarakat didaerah ini aktif kembali dimana di wilayah Aceh Utara dan Aceh Timur mendominasi lahan pesisir ini dengan luas masing masing mencapai 6.351,70 Ha dan 14.337,85 Ha. Kerusakan Pantai Kerusakan wilayah pesisir akibat stunami merubah fungsi wilayah pantai dan pesisir yang tidak sesuai dengan peruntukannya, perlu upaya rehabilitasi wilayah pemukiman di pesisir, daerah konservasi mangrove dan penanganan abrasi pantai sesuai dengan RUTRW Pesisir Provinsi Aceh. Hal ini juga mempengaruhi aktivitas masyarakat dalam budidaya tambak akibat kerusakan daerah pesisir. Kebutuhan Air Minum dan Energi : Belum terpenuhinya kebutuhan air minum di beberapa desa dan energi listrik dapat diupayakan dari potensi debit yang ada dengan membangun waduk skala kecil dan besar untuk pemenuhan air minum dan listrik, dan hasil studi terdahulu sudah direncanakan membangun Waduk Jambo Aye dan Waduk Idi Rayeuk serta Waduk Kerto. Bab 1 - 10

BAB 2 KONDISI PADA WILAYAH SUNGAI JAMBO AYE

2.1 Peraturan Perundangan dan Peraturan Lainnya Terkait SDA Beberapa Undang Undang dan Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah dan Peraturan Menteri yang terkait dengan penyusunan Pola Pengelolaan SDA WS Jambo Aye adalah : 2.1.1 Undang Undang Beberapa Undang Undang terkait dengan pengelolaan SDA adalah :
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Jenis Peraturan UU Dasar Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Nomor Pasal 33 Nomor 5 Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor 41 34 7 18 25 Tahun 1945 1990 1990 2000 2004 2004 2004 2004 2004 2007 2007 2007 2008 2009 2009 2009 2009 2009 2008 2012 2011 2009 2011 2012 2005 Tentang Kesejahteraan Rakyat Konservasi SDA Hayati Dan Ekosistemnya Kehutanan Pajak Daerah dan Restribusi Daerah. Sumber Daya Air. Perkebunan. Sistem Perencanaan Pemba-ngunan Nasional Pemerintahan Daerah. Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah. Penanggulangan Bencana Penataan Ruang. Pengelolaan Wilayah Pesisir & PulauPulau Kecil Keterbukaan Informasi Publik Pertambangan Mineral dan Batubara. Pariwisata Perlindungan & Pengelolaan Lingkungan Hidup. Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan Pengelolaan Sampah Pengadaan Tanah bagi Kepentingan Umum Perumahan dan Pemukiman Pertambangan Mineral dan Batubara Informasi Geospasial Penanganan Konflik Sosial Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2005 Tentang Badan

Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang

Nomor 32 Nomor 25 Nomor 24 Nomor 26 Nomor 27 Nomor Nomor Nomor Nomor 14 4 10 32

Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang

Nomor 41 Nomor 45 Nomor 18 Nomor 12 Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor 1 4 4 7 10

Bab II - 1

No

Jenis Peraturan

Nomor

Tahun

Tentang Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Wilayah Dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara Menjadi Undang-Undang Pemerintah Aceh Kesejahteraan Sosial Cagar Budaya Hortikultura Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Dan Kehutanan Rencana pembangunan jangka panjang nasional tahun 2005 s/d 2025 Peternakan & kesehatan hewan Ketenaganlistrikan Pelayanan Publik Energi Jalan Kawasan Ekonomi Khusus Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan

23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35

Undang Undang Undang Undang Undang

Undang Undang Undang Undang Undang

Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor

11 11 11 13 16

2006 2009 2010 2010 2006 2007 2009 2002 2009 2007 2004 2009 2009

Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang

Nomor 17 Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor 18 20 25 30 38 39 45

Sumber : SetNeg RI

2.1.2 Peraturan Terkait Peraturan Pemerintah (PP) terkait Pola Pengelolaan SDA WS Jambo Aye antara lain adalah sebagai berikut:
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jenis Peraturan Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 1 Nomor 12 Nomor 14 Nomor 17 Nomor 25 Nomor 27 Nomor 30 Nomor 37 Nomor 39 Nomor 24 Tahun 2004 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan Insentif Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Kegiatan Usaha Penyediaan Listrik Insentif Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Sistem Informasi Pertanian berkelanjutan Izin Lingkungan Pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Pengeloaan Daerah Aliran Sungai Pengelolaan Kesejahteraan Sosial Perubahan atas peraturan pemerintah nomor 23 tahun 2010 tentang pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara Penyelenggaraan pengamatan dan pengelolaan data meteorologi, klimatologi, dan geofisika Jenis dan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak yang berlaku pada kementerian pertanian Bab II - 2

11 12

Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah

Nomor 46 Nomor 48

2012 2012

No

Jenis Peraturan

Nomor

Tahun

Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan Dan Fungsi Kawasan Hutan Perubahan atas peraturan pemerintah nomor 24 tahun 2010 tentang penggunaan kawasan hutan Usaha jasa penunjang tenaga listrik Penetapan dan alih fungsi lahan pertanian pangan berkelanjutan Penyelenggaraan kawasan ekonomi khusus Perubahan atas peraturan pemerintah nomor 20 tahun 2010 tentang angkutan di perairan Sungai Rencana Kerja Pemerintah 2012 Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 Kebijakan Nasional Pengelolaan SDA Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2005 Tentang Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur Penggunaan Kawasan Hutan Lindung Untuk Penambangan Bawah Tanah Kenavigasian Tata Cara Perubahan Peruntuk-an Dan Fungsi Kawasan Hutan Penyelenggaraan Pennataan Ruang Usaha Budidaya Tanaman Angkutan Perairan Wilayah Pertambangan Penggunaan Kawasan Hutan Bendungan Tata Cara Penetapan Kawasan Khusus Pemanfaatan Pulau Pulau Kecil Terluar Mitigasi Bencana di wilayah pesisir dan Pulau Pulau Kecil Pedoman Pengelolaan Kawasan Perkotaan perubahan atas peraturan pemerintah nomor 45 tahun 2004 tentang perlindungan hutan kepelabuhan Dewan Sumber Daya Air Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana

13

Peraturan Pemerintah

Nomor 60

2012

14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Presiden Peraturan Presiden Peraturan Presiden Peraturan Presiden

Nomor 51 Nomor 62 Nomor 1 Nomor 2 Nomor 22 Nomor 38 Nomor 29 Nomor 32 Nomor 33 Nomor 56

2012 2012 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011

24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

Peraturan Presiden Peraturan Pemerintah Peraturan Peraturan Peraturan Peraturan Peraturan Peraturan Pemerintah Pemerintah Pemerintah Pemerintah Pemerintah Pemerintah

Nomor 28 Nomor 5 Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor 15 18 20 22 24 37

2011 2010 2010 2010 2010 2010 2010 2010 2010 2010 2010 2009 2009 2009 2008 2008

Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Presiden Peraturan Presiden

Nomor 43 Nomor 62 Nomor 64 Nomor 34 Nomor 60 Nomor 61 Nomor 12 Nomor 21

Sumber : SetNeg RI

Bab II - 3

2.1.3 Keputusan Presiden dan Keputusan Menteri KeputusanPeraturan/Instruksi Presiden, Keputusan Menteri terkait Pola Pengelolaan SDA WS Jambo Aye antara lain adalah sebagai berikut :
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Peraturan Keputusan Presiden Keputusan Presiden Peraturan Presiden Peraturan Presiden Instruksi Presiden Peraturan Presiden Peraturan Presiden Peraturan Presiden Peraturan Presiden Peraturan Presiden Peraturan Presiden Peraturan Presiden Peraturan Presiden Peraturan Presiden Pedoman Teknis Pengembangan Konservasi Air Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia keputusan Menteri Kehutanan Nomor Nomor 12 Nomor 12 Nomor 33 Nomor 28 Nomor 13 Nomor 3 Nomor 42 Nomor 43 Nomor 26 Nomor 6 Nomor 38 Nomor 83 Nomor 20 Nomor 16 Nomor PTPSPC33 2012 No 17/ PRT/M/2 011 No 06/ PRT/M/2 011 Nomor 05 Tahun 2012 2011 2011 2011 2011 2008 2008 2008 2008 2007 2007 2006 2006 2005 2012 Tentang Pembagian Wilayah Sungai Penetapan Cekungan Air Tanah Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air Penggunaan kawasan hutan lindung untuk penambangan bawah tanah Penghematan Energi Dan Air Perubahan atas peraturan pemerintah nomor 6 tahun 2007 Tentang tata hutan dan penyusunan Pola Pengelolaan hutan, serta pemanfaatan hutan Pengelolaan SDA Air Tanah Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional Tata Hutan Dan Penyusunan Pola Pengelolaan Hutan, Serta Pemanfaatan Hutan Pembagian Tugas Pemerintah Dewan Ketahanan Pangan. Irigasi Pengembangan Sistem Penyedia-an Air Minum. Antisipasi Anomali Iklim, 2012 Direktorat Pengelolaan Irigasi Dirjen Sarana dan Prasarana Pertanian Kementerian Pertanian Pedoman Penggunaan Sumber Daya Air Tentang Garis Sempadan Irigasi 2011 Tentang Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Penetapan peta indikatif pemberian izin baru pemanfaatan hutan, penggunaan kawasan hutan dan perubahan peruntukan kawasan hutan dan areal penggunaan lain Dokumen Lingkungan Hidup Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan yang Telah Memiliki Izin Usaha Dan/Atau Kegiatan Tetapi Belum Memiliki Dokumen Lingkungan Hidup Tata Laksana Pengendalian

16 17

2011

18

2012

19

No 323/ MENHUTII/2011

2011

20

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Peraturan Menteri

Nomor 14

2010

21

Nomor 01

2010

Bab II - 4

No

Jenis Peraturan Negara Lingkungan Hidup Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup

Nomor

Tahun

Tentang Pencemaran Air Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup Dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup Dan Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Hidup Tata Cara Penyerahan Kembali Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu sebelum Jangka Waktu Izin Berakhir. Pedoman Penyusunan Pola Pengelolaan DAS Terpadu. Tentang Pendaftaran Ulang Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu. Perubahan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. 31/MENHUTII/2005 tentang Pelepasan Kawasan Hutan Dalam Rangka Pengembangan Usaha Budidaya Perkebunan. Perubahan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor p.35/menhutII/2008 tentang Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Pembentukan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Daya Tampung Pencemaran Air Danau dan atau Waduk Tentang Dokumen Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup bagi Usaha dan/atau Kegiatan yang tidak memiliki Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pedoman Penyusunan Rancang-an Penetapan Cekungan Air Tanah Perlindungan, Pemeliharaan, dan Rehabilitasi Kawasan Sumber Air Perlindungan, Pemeliharaan, dan Rehabilitasi Kawasan Sumber Air. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2007-2012 Pemberdayaan Masyarakat Bidang Teknologi Informasi Sistem Informasi di dan

22

Nomor 13

2010

23

Peraturan Menteri Kehutanan Peraturan Menteri Kehutanan Peraturan Menteri Kehutanan

24 25

Nomor P. 23/MENH UTII/2009 No. P. 39/ MENHUTII 2009 No.P. 24/ MENHUTII/2009 Nomor : P.22/MEN HUTII/2009 Nomor P. 9/Menhut -II/2009 No P. 6/ MENHUTII/2009 No 28

2009

2009 2009

26

Peraturan Menteri Kehutanan

2009

27

Peraturan Menteri Kehutanan Peraturan Menteri Kehutanan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Peraturan Daerah Provinsi Aceh Peraturan Daerah Provinsi Aceh Peraturan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Peraturan Daerah Provinsi Aceh

2009

28 29

2009 2009

30

Nomor 12

2007

31 32 33 34 35

Nomor 13 No. 8 No. 8 No. 21 No. 2

2009 2008 2004 2007 2006

Sumber : SetNeg RI

Bab II - 5

2.2

Kebijakan Pengelolaan SDA

2.2.1 Kebijakan Nasional Pengelolaan SDA Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air (periode 2011-2030) diatur dalam Peraturan Presiden No 33/2011 yang secara ringkas menjelaskan permasalahan dan tantangan sebagai berikut : Permasalahan yang perlu mendapat perhatian adalah (a) Konflik penggunaan air, (b) Keterbatasan peran masyarakat dan dan dunia usaha, (c) Tumpang tindih peran Lembaga pengelolaan SDA, (d) Keterbatasan data dan informasi SDA yang benar dan akurat. Sedangkan tantangan kedepan adalah terkait dengan (a) Millinium Development Goals, (b) Pengembangan ilmu pengentahuan & teknologi serta Budaya Terkait Air. Visi dari Kebijakan Nasional Pengelolaan SDA adalah Sumber Daya Air Nasional yang dikelola secara Menyeluruh, Terpadu dan Berwawasan Lingkungan untuk Keadilan dan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia dan berpedoman pada 7 (tujuh) azas pengelolaan sebagaimana diamanatkan dalam UU No 7 tahun 2004. Untuk mewujudkan visi tersebut beberapa Misi yang harus dilaksanakan adalah (1) Meningkatkan Konservasi SDA secara terus menerus, (2) Mandayagunakan SDA untuk keadilan & kesejahteraan masyarakat, (3) Mengendalikan & mengurangi daya rusak air, (4) Meningkatkan peran masyarakat & dunia usaha dalam pengelolaan SDA (5) Membangun jaringan sistem informasi SDA Nasional yang terpadu antarsektor dan antarwilayah. Kebijakan Umum terdiri dari (c) Peningkatan koordinasi dan keterpaduan pengelolaan SDA, (d) Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya terkait air, (e) Peningkatan pembiayaan pengelolaan SDA, (f) Peningkatan pengawasan dan penegakan hukum. Kebijakan khusus adalah terkait dengan (a) Kebijakan peningkatan konservasi SDA terus menerus, (b) Kebijakan pendayagunaan SDA untuk keadilan & kesejahteraan masyarakat, (c) Kebijakan pengendalian daya rusak air dan pengurangan dampak, (d) Kebijakan peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan SDA dan

Bab II - 6

(e) Kebijakan pengembangan jaringan sistem informasi SDA (SISDA) dalam pengelolaan SDA Nasional terpadu. 2.2.2. Kebijakan Provinsi Aceh Dalam Pengelolaan Sumber Daya air Arah kebijakan dan strategi Pembangunan Bidang Sumber Daya air (SDA) Provinsi Aceh berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Aceh Tahun 2007 -2012 (Peraturan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 21 tahun 2007) yaitu : 1) Membuat pola pengelolaan sumber daya air sebagai kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air 2) Membangun waduk dan embung beserta sarana dan prasarana yang berfungsi sebagai pengawetan air, sumber daya air, dan pengendali daya rusak air, yang dibarengi dengan kegiatan konservasi DAS. 3) 4) 5) 6) 7) 8) Memelihara & meningkatkan fungsi jaringan irigasi yang telah ada. Membangun irigasi teknis pada lahan potensial. Membangun sarana dan prasarana pemanfaatan air tanah secara terkendali. Memelihara dan meningkatkan fungsi konstruksi sungai, muara, dan pantai yang berfungsi sebagai pengendali daya rusak air. Membangun konstruksi pengendali DRA di sungai, muara, dan pantai. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup secara merata dengan melibatkan partisipasi semua stakeholders dan penegakan hukum dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. (Bidang Lingkungan Hidup) 2.3 Inventarisasi Data Rencana Tata Ruang Wilayah

2.3.1 Data Umum 2.3.1.1 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Aceh maupun RTRW Kabupaten yang masuk dalam wilayah WS Jambo Aye saat ini masih dalam proses penetapan sehingga dalam penyusunan Pola Pengelolaan SDA WS Jambo Aye digunakan Draft RTRW sebagai rujukan baik RTRW Kabupaten maupun RTRW Provinsi dan RTRW Pulau Sumatera.

Bab II - 7

Berdasarkan Peraturan Presiden No 13 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera paragraf 5 pasal 38 yang menjelaskan tentang sistem jaringan sumber daya air dapat diuraikan sebagai berikut : (Khusus WS Jambo Aye) Tabel 2.1.Sinergi Tata Ruang Terhadap WS Jambo Aye.
Item I. Sumber Air Status WS Wilayah Sungai Strategis Nasional Mendayagunakan sumber air pada WS Jambo Aye untuk melayani PKW Takengon serta Kawasan Andalan Lhokseumawe dan sekitarnya. Memanfaatkan ruang pada kawasan di sekitar WS Jambo Aye dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan lindung kawasan Mengendalikan pemanfaatan ruang pada sempadan sungai yang dapat menggagu fungsi sungai pada WS Jambo Aye. Merehabilitasi DAS Jambo Aye pada WS Jambo Aye yang sudah kritis. Memanfaatkan ruang pada kawasan di sekitar DAS Jambo Aye dan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi kawasan Mengendalikan pemanfaatan ruang pada DAS Jambo Aye Mengendalikan pemanfatan ruang di kawasan imbuhan air tanah pada CAT Langsa Mengendalikan pendayagunaan sumber air tanah di kawasan pelepasan air tanah pada CAT Langsa yang berada di Kota Langsa, Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Langkat. DI Datar Diana yang melayani kawasan peruntukan pertanian di Kabupaten Bener Meriah; DI Alue Ubay dan DI Krueng Pasa yang melayani kawasan peruntukan pertanian di Kabupaten Aceh Utara; DI Jambo Aye Langkahan yang melayani kawasan peruntukan pertanian di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur; Sempadan pantai yang berada di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Aceh Timur Rehabilitasi & pemantapan fungsi kawasan pantai berhutan bakau untuk perlindungan pantai dari abrasi dan pelestarian biota laut dilakukan pada kawasan pantai berhutan bakau di Kab. Pidie, Kab. Bireuen, Kab. Aceh Timur Sungai Geuruntang, Sungai Reunget, Sungai Rusa, Sungai Arakundo, Sungai Jambo Aye, Sungai Bugeng, Sungai Gading, Sungai Idi, Sungai Peureulak, Sungai Babah, Sungai Peundawa Puntong, Sungai Peundawa Rayeuk, dan Sungai Leungo Rayeuk di WS Jambo Aye (Aceh); alam Beserta ketentuan mengenai standar bangunan gedung yang sesuai dengan karateristik, jenis, dan ancaman bencana, pengendalian perkembangan kawasan budi daya terbangun di kawasan rawan bencana alam, dan penyelenggaraan upaya mitigasi dan adaptasi bencana melalui penetapan lokasi dan jalur evakuasi bencana serta pembangunan sarana pemantauan bencana dilakukan pada : Sinergi Tata Ruang

Wilayah Sungai

Daerah Aliran Sungai (DAS)

Cekungan Air Tanah (CAT) CAT Langsa

II. Prasarana Sumber Air Bendungan Daerah Irigasi

III. Pengendalian Pemanfaatan Ruang Sempadan Pantai

Sempadan Sungai

IV. Penetapan zona-zona rawan bencana

Bab II - 8

Item Kawasan Rawan Tanah

Sinergi Tata Ruang

kawasan rawan tanah longsor di Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Gayo Lues, kawasan rawan banjir kawasan rawan banjir di Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bireuen, Kota Banda Aceh, Kota Langsa, Kota Lhokseumawe, Pengendalian perubahan sebagai upaya untuk mewujudkan kawasan berfungsi peruntukan & atau fungsi lindung yang bervegetasi hutan tetap paling sedikit 40% (empat kawasan hutan puluh persen) dari luas Pulau Sumatera Sesuai dengan ekosistemnya dilakukan pada kawasan hutan di Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Timur, Sumber : RTRW Pulau Sumatera, PP 13 Tahun 2012

Tabel 2.2. Indikasi Program RTRW Prov. Aceh Pada WS Jambo Aye
No A 1 Program Utama Wilayah Sungai WS Strategis Nasioanl Konservasi, Pendayagunan dan Pengendalian Daya Rusak Air 2 Irigasi / Pengairan Pemantapan dan pengembangan prasarana irigasi pada DI Lintas Kabupaten Lokasi Sumber Daya Air Wilayah Sungai Jambo Aye (Kab. Aceh Utara, Lhokseumawe, Kab Aceh Timur, Kab Benr Meriah dan Kab Aceh Tengah) DI Paya Ketangga / Alue Merbo : 2.200 Ha (Langsa - Aceh Timur) DI Jamuan 1.000 Ha (Aceh Utara) DI Kr Tuan 2.226 Ha (Aceh Utara) DI Alue Tumeureu 2.500 Ha (Aceh Tmur) DI Jambo Reuhat 2.625Ha (Aceh Timur) DI Uteun Dama 1.300Ha ( Aceh Timur) DI Weih Sejuk 2.175Ha (Gayo Luwes) DI Weih Tillis 2.500Ha (Gayo Luwes) DI Jambo Aye dan DI lainnya > 3000 Ha Bendungan Jambo Aye (Kab Aceh Utara) Lintas Kab Kota PKN Lhokseumawe dan sekitarnya (Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Ach Utara) Dinas BMCK /Kab Kota Instansi Pelaksana

Kementerian PU, Dinas PSDA Dinas PSDA / Pem Kab Kota

Pemantapan dan pengembangan prasarana irigasi pada DI Utuh Kabupaten / Provinsi / Pusat

Dinas PSDA / Pem Kab Kota/BWSS I

3 B 1

C 1 2 -

Waduk Pengembangan, Peningkatan, dan/atau Pemantapan Waduk untuk Irigasi dan PLTA Prasarana Permukiman Perkotaan Prasarana Air Bersih Perpipaan Pemantapan, Peningkatan dan pengembangan Prasarana Air Bersih Perpipaan Lintas Kab Kota Perwujudan Kawasan Lindung Kawasan Hutan Lindung (HL) Pemantapan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Hutan Lindung Pegunungan Pemantapan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Hutan Lindung pesisir (Hutan Bakau) Kawasan Perlindungan Setempat Sempadan Pantai Pemantapan dan Peningkatan

Kementerian PU/BWSS I

Luas ; 1. 558.802 Ha tersebar di Kab/Kota di Aceh, kecuali Koa Banda Aceh dan Kota Lhokseumawe Pesisir Timur Aceh (Kab Aceh Timur, Langsa, dan Kab Aceh Tamian)

KemHut, Dishutbun, PemKab/Kot KemHut, Dishutbun, PemKab/Kot

Tersebar di seluruh Kab/Kota

KemHut,

Bab II - 9

No

Program Utama Kualitas Sempadan Pantai

Lokasi

Instansi Pelaksana Dishutbun, PemKab/Kot KemHut, Dishutbun, PemKab/Kot

Sempadan Sungai Pemantapan dan Peningkatan Kualitas Sempadan sungai Tersebar di seluruh Kab/Kota

3 -

Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya Cagar Alam Pemantapan dan Peningkatan Kualitas Cagar Alam Cagar Alam Serba Jadi 311 Ha (Kab Aceh Timur) KemHut, Dishutbun, PemKab/Kot KemHut, Dishutbun, PemKab/Kot

Taman Nasional Pemantapan dan Peningkatan Kualitas Taman Nasional TN Gunung Leuser 880.910 Ha

4 -

D -

Kawasan Rawan Bencana Alam Kawasan Rawan Tanah Longsor Penataan Ruang Berbasis Mitigasi Bencana Tanah Longsor Kawasan Rawan Gelombang Pasang Penataan Ruang Berbasis Mitigasi Bencana Gelombang Pasang Kawasan Rawan Banjir Penataan Ruang Berbasis Mitigasi Bencana Banjir Kawasan Rawan Kekeringan Penataan Ruang Berbasis Mitigasi Bencana Kekeringan Kawasan Rawan Kekeringan Penataan Ruang Berbasis Mitigasi Bencana Kekeringan Kawasan Rawan Abrasi Penataan Ruang Berbasis Mitigasi Abrasi Kawasan Rawan Tsunami Penataan Ruang Berbasis Mitigasi Tsunami Perwujudan Kawasan Budidaya Kawasan Budidaya Strategis Aceh Penataan Kembali (Redesign) Pengusahaan Hutan Produksi Peningkatan Kualitas Hutan Produksi dalam Pola Pengelolaan dan Pengusahaan aspek produksi dan dukungannya terhadap kualitas lingkungan

Kawasan yang dilalui sesar aktif di bagian tengah/pegunungan wil. aceh

Pem. Aceh, Kab / Kota Pem. Aceh, Kab / Kota Pem. Aceh, Kab / Kota Pem. Aceh, Kab / Kota Pem. Aceh, Kab / Kota Pem. Aceh, Kab / Kota Pem. Aceh, Kab/Kota

Sepanjang pesisir wilayah Aceh Tersebar di Wilayah Aceh Tersebar di Wilayah Aceh Aceh Timur dan Aceh Utara Aceh Timur dan Aceh Utara Kawasan sepanjang pesisir wilayah Aceh

Hutan Produksi (HPT) 88.017ha (Bireun, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Gayo Luwes, Aceh Tengah, Simeuleu) Hutan Produksi Tetap (HP) 580.178 Ha (Aceh besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireun, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Subbusalam, Gayo Luwes, Aceh Tengah, Bener Meriah, Simeuleu) Hutan Produksi Konversi (HPK) 112.834 Ha (Aceh besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireun, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Gayo Luwes, Aceh Tengah, Simeuleu)

KemHut, Dishutbun,

KemHut, Dishutbun,

KemHut, Dishutbun,

Sumber : RTRW Provinsi Aceh 2010 (Draft)

Bab II - 10

Gambar 2.1

Peta Rencana Pola Ruang WS Jambo Aye (Sumber Draft RTRW Prov Aceh)

Bab II - 11

2.3.1.2

Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di WS Jambo Aye berdasarkan interpretasi citralandsat tahun 2009 adalah sebagai berikut : Tabel 2.3. Penggunaan Lahan di Kawasan WS Jambo Aye Tahun 2009
Jenis Penutupan Lahan Daerah Aliran Sungai Belukar Rawa Danau/ Tubuh Air Hutan Lahan Kering Primer Hutan Lahan Kering Sekunder Hutan Mangrove Sekunder 458,08 218,83 221,72 109,34 2.149,22 200,83 155,76 15.039,13 Perkebunan Permukiman Pertambangan Pertanian Lahan Kering Pertanian Lahan Kering Bercampur Semak 0,03 1.894,49 3.998,28 6.688,38 9.695,47 45.838,61 3.054,76 227,30 2.866,44 1.908,60 11.612,91 91.751,81 Savana Sawah Semak / Belukar 490,42 79,13 345,44 4,59 8.555,60 12.998,29 607,56 142,95 252,47 322,26 15.245,14 39.144,18 Tambak/ Rawa 2.885,51 3.593,47 2.291,64 2.935,58 260,76 2.692,14 13.298,51 2.358,28 155,31 302,37 1.405,73 541,74 33.553,81 Tanah Terbuka 134,25 13,53 29,23 24,49 32,47 221,64 122,21 19,60 12,38 Total 4.134,17 7.715,43 10.945,72 15.184,16 23.988,53 541.032,40 21.819,38 4.058,82 3.983,58 6.003,72 129.518,93 696,17 776.383,04

DAS A. Geuruntang 165,88 DAS Arakundo 229,21 DAS Babah 240,54 78,52 DAS Bugeng 33,59 DAS Idi DAS Jambo Aye 2.021,90 56.272,70 DAS Kr. Rusa 265,05 DAS Leungo Rayeuk 289,72 101,28 DAS Peundawa Puntong DAS Peundawa Rayeuk 32,49 DAS Peureulak 775,51 153,49 DAS Reunget 10,45 Grand Total 530,25 3.713,87 56.426,19 Sumber : Hasil Interpretasi Citralandsat 2009

30,47 39,64 133,61 1.037,75 281,89 2,25 10,05 450,67 1.986,34 146,98 613,14 172,62 264,27 35.031,69 42,33 48,62 2.831,97 14.487,47 54.269,58

2.387,51 1.132,01 3.909,48 224.291,81

146,98

138.328,17

79.450,03 311.170,85

586,85 143,98 4.311,98

511,99 15.551,12

1.656,31 739,71 4.043,91 1.136,86 4.962,38 3.988,57 719,34 650,68 593,64 4.839,15 24.879,99

138.328,17

617,93

Prosentase penggunaan lahan dapat dijabarkan seperti tabel dibawah ini dan peta penggunaan lahan seperti gambar berikut : Tabel 2.4.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Penggunaan Lahan pada Wilayah Kabupaten di WS Jambo Aye


Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) 530,25 3.713,87 56.426,19 311.170,85 4.311,98 15.551,12 1.986,34 146,98 54.269,58 91.751,81 138.328,17 24.879,99 39.144,18 33.553,81 617,93 776.383,04 % Thd WS 0,07 0,48 7,27 40,08 0,56 2,00 0,26 0,02 6,99 11,82 17,82 3,20 5,04 4,32 0,08 100 Aceh Tengah 274,91 33.485,78 47.005,44 470,61 138.328,17 1.146,79 58,72 220770,41 Aceh Timur 530,25 2.904,65 16.339,41 154.076,17 4.287,49 6.520,25 1.604,10 146,98 32.383,91 67.971,77 20.050,79 32.277,41 22.080,10 335,02 361508,30 Aceh Utara 240,48 27.867,79 24,49 9.030,87 375,40 997,17 5.473,31 4.687,15 3.444,93 11.473,70 193,24 63.808,53 Bener Meriah 293,84 3.051,10 82.221,45 Gayo Luwes 3.549,90 23,24 3573,14

Belukar Rawa Danau / Tubu Air (Sungai) Hutan Lahan Kering Primer Hutan Lahan Kering Sek Hutan Mangrove Sekunder Perkebunan Permukiman Pertambangan Pertanian Lahan Kering Pertanian Lahan Kering bercampur semak Savana Sawah Semak / belukar Tambak Tanah Terbuka Total

6,83 20.888,50 17.836,12 142,06 2.251,82 30,94 126.722,64

Sumber : Hasil Interpretasi Citralansat 2009

Bab II - 12

Tabel 2.5. Jenis Tanah pada wilayah Kabupaten di WS Jambo Aye


Kabupaten/ Kecamatan DAS A. Gading DAS A. Geuruntang DAS Arakundo DAS Babah DAS Bugeng DAS Idi DAS Jambo Aye DAS Kr. Rusa DAS Leungo Rayeuk DAS Peundawa Puntong DAS Peundawa Rayeuk DAS Peureulak DAS Reunget Grand Total JENIS TANAH Aluvial 832,76 2.885,51 3.593,47 1.895,35 2.935,58 260,76 2.673,38 13.298,51 2.358,28 155,31 302,37 1.405,73 541,74 33.138,75 11.200,08 154,43 47.355,39 596.409,61 5.919,61 227,18 45.817,44 6.518,91 40.996,15 Gley 779,15 976,93 4.121,96 1.587,40 2.438,78 1.771,71 16.161,49 7.199,41 964,06 126,92 3.298,10 4.373,50 100.425,09 227,18 6.620,30 6.990,05 6.736,14 21.239,50 450.132,13 2.919,06 242,39 808,19 39.197,14 1.321,46 609,56 530,16 1.327,85 704,48 8.936,07 472,92 154,60 474,17 32.060,08 Latosol 2.884,55 203,63 Mediteran 1.949,97 Organosol Podsolik Regosol 855,61 68,11 Renzina Grand Total 7.302,04 4.134,17 7.715,43 10.945,72 15.184,16 23.988,53 541.032,40 21.819,38 4.058,82 3.983,58 6.003,72 129.518,93 696,17 776.383,04

Sumber : Hasil Interpretasi Citralansat 2009

Gambar 2.2 2.3.1.3 Penduduk

Peta Penutupan Lahan Tahun 2009

Jumlah penduduk pada WS Jambo Aye berdasarkan data BPS 2010 (sensus 2010) diperoleh jumlah 744.844 Jiwa dengan kepadatan rata rata 0,99 jiwa per km2. adapun jumlah penduduk masing masing Kabupaten adalah :

Bab II - 13

Tabel 2.6. Jumlah Penduduk pada WS Jambo Aye (BPS 2010)


No 1 2 3 4 5 Nama Kabupaten Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Luas Wilayah Kabupaten (Km2) 604.090.00 389.636,00 329.800,00 187.683,99 571.991,98 1.479.111,97 Luas Wilayah Dalam WS (Ha) 361.508.31 220.770.41 63.808.53 126.722.64 3.573.14 776.383,03 % Luas 59,84 56,66 19,35 67,52 0,62 52,49 Jumlah Penduduk (Jiwa) 351.580 58.590 224.679 101.937 8.058 744.844 Kepadatan Jiwa/km2 0,973 0,265 3,521 0,804 2,255 0,959

Aceh Timur Aceh Tengah Aceh Utara Bener Meriah Gayo Luwes Jumlah Sumber : Sensus 2010

Tabel 2.7. Jumlah Penduduk per DAS pada WS Jambo Aye (BPS 2010)
Kode 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS Nama_DAS Luas DAS (ha) 4134,17 696,17 21.819,38 7.715,43 541.032,40 15.184,16 7.302,04 23.988,53 3.983,58 6.003,72 129.518,93 4.058,82 10.945,72 776.383.03 Jumlah Penduduk (Jiwa) 15.770 2.304 110.488 9.926 352.262 23.159 12.625 36.131 17.902 12.085 95.699 14.246 42.247 744.844 Kepadatan Jiwa/km2 3,81 3,31 5,06 1,29 0,65 1,53 1,73 1,51 4,49 2,01 0,74 3,51 3,86 0,96

A. Geuruntang Reunget Rusa Arakundo Jambo Aye Bugeng A. Gading Idi Peundawa Puntong Peundawa Rayeuk Peureulak Leungo Rayeuk Babah Jumlah Sumber : Sensus 2010

2.3.1.4

Laju Pertumbuhan Ekonomi peningkatan setelah pada tahun 2007-2008 mengalami

Laju pertumbuhan ekonomi Aceh tanpa migas selalu positif dan terus menunjukkan penurunan. Pada tahun 2010 laju pertumbuhan PDRB tanpa migas sebesar 5,32 persen, meningkat dibanding dengan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 dan 2009 sebesar 1,92 persen dan 3,97 persen. Sedangkan bila melihat laju pertumbuhan PDRB dengan migas tahun 20072010, maka terlihat bahwa hanya pada tahun 2010 terjadi pertumbuhan yang positif sebesar 2,64 persen. Pada periode tahun 2007-2009 laju pertumbuhan PDRB dengan migas selalu negatif dan terus melemah. Hal ini tak lepas dari produksi migas yang terus turun dari tahun ke tahun. (Sumber : BPS & BI 2011) Pendapatan regional per kapita secara umum terus mengalami kenaikan sejak tahun 2007 hingga tahun 2010, hanya pada tahun 2009 sedikit mengalami penurunan. Pada tahun 2010 pendapatan regional per kapita PDRB ADHB dengan migas sebesar 16,19 juta dan tanpa migas sebesar 13,30 juta. Artinya

Bab II - 14

bahwa sektor migas mempunyai kontribusi pendapatan perkapita sebesar 2,89 juta dalam setahun. Sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar PDRB aceh pada tahun 2010, yaitu sebesar 28,34 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa ekonomi Provinsi Aceh masih bergantung pada sektor pertanian. Penyumbang terbesar kedua adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 15,52 persen. Sedangkan sektor jasa mempunyai peran paling kecil dalam pembentukan PDRB Aceh yaitu hanya sebesar 0,43 persen. Kontribusi sektor jasa menunjukkan kemajuan suatu daerah, dimana semakin besar share sektor jasa terhadap PDRB hal itu menjadi indikasi majunya suatu daerah. Produksi padi sawah dan padi ladang Aceh mengalami pasang surut seiring dengan luas panen. Namun, demikian produktivitasnya meningkat dari 4,33 ton/ha pada tahun 2009 menjadi 4,49 ton/ha pada tahun 2010. Luas panen Aceh pada tahun 2010 mencapai 352,28 ribu hektar dengan produksi sebanyak 1,58 juta ton. Sentra produksi padi Aceh berada di Kab. Aceh Utara, Aceh Timur, Bireuen dan Aceh Besar. (Sumber : BPS & Bank Indonesi 2011)

(Ha)

(Juta Ton)

Gambar 2.3

Luas Panen dan Produksi Padi 2009-2010.


(Sumber : BPS & Bank Indonesi 2011)

Sektor migas mempunyai kontribusi cukup penting dalam pembentukan PDRB. Akan tetapi dengan sifatnya yang tidak bisa diperbaharui, maka dari tahun ke tahun kontribusi sektor migas semakin kecil. membuat suatu daerah harus menggenjot Pada tahun 2010 kontribusi sektor non migas untuk sektor migas sebesar 17,78 persen. Produksi migas yang semakin sedikit meningkatkan pertumbuhan ekonomi

Bab II - 15

Gambar 2.4 Laju Pertumbuhan (yoy) dan PDRB Provimsi Aceh


(Atas Dasar Konstan (DHK)) (Sumber : BPS & Bank Indonesi 2011)

2.3.1.5

Topografi.

kondisi topografi di Wilayah Sungai Jambo Aye adalah dataran pantai yang terletak sepanjang tepi pantai, dataran alluvial yang terletak relatif memanjang dibelakang pantai dan zona lipatan yang terletak relatif memanjang dibelakang dataran alluvial serta zona volkanik yang merupakan kaki/kereng sampai punggungan pegunungan.

Bab II - 16

Gambar 2.5 Peta Digital Elevation Model

Gambar 2.6 Peta Kemiringan Lereng WS Jambo Aye Tabel 2.8.


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Kemiringan Lereng WS Jambo Aye Per DAS


Kelas Lereng DAS 0-8% 7.302,04 4.134,17 7.715,43 10.945,72 15.184,16 23.988,53 140.364,64 21.819,38 4.058,82 3.983,58 6.003,72 99.733,73 696,17 345.930,08 8 - 15 % 15 - 25 % 25 - 40 % Grand Total 7.302,04 4.134,17 7.715,43 10.945,72 15.184,16 23.988,53 541.032,40 21.819,38 4.058,82 3.983,58 6.003,72 129.518,93 696,17 776.383,04

DAS A. Gading DAS A. Geuruntang DAS Arakundo DAS Babah DAS Bugeng DAS Idi DAS Jambo Aye DAS Kr. Rusa DAS Leungo Rayeuk DAS Peundawa Puntong DAS Peundawa Rayeuk DAS Peureulak DAS Reunget Jumlah

90.080,40

193.892,08

115.691,50

23.021,03 113.101,43

4.681,19 198.573,28

2.082,98 117.774,48

Sumber : Hasil Analisis, 2011

2.3.1.6

Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Takengon (P3G, 1981), geologi daerah Jambo Aye dan sekitarnya ditempati oleh beberapa satuan batuan yang ditampilkan dalam kolom stratigrafi. Berdasarkan Bemmelen, RW Van (1949) membagi Aceh dalam 5 zona fisiografi, yaitu (a) Zona Pengunungan Blok, (b) Zona Dataran

Bab II - 17

Teluk Meulaboh dan Singkil, (c) Zona Depresi/graben, (d) Zona Dataran Rendah dan Kaki Pegunungan dan (e) Zona/ Komplek Gunungapi Muda Sungai Jambo Aye merupakan sungai permanen, yang airnya mengalir sepanjang tahun dan tidak pernah kering. Lembah sungai Jambo Aye relatif berbentuk huruf U yang mengindikasikan erosi lateral lebih intensif. Fisiografi Di wilayah Aceh, Barisan Range dipecah menjadi beberapa struktur blok pegunungan yang dibatasi oleh sabuk depresi atau graben. Fisiografi daerah Aceh (Sumatera Utara) menurut Van Bemmelen (1949) di bagi menjadi lima (5) zona yaitu ; (i) Zona pegunungan blok, (ii) zona depresi/graben, (iii) zona dataran Teluk Meulaboh dan Singkil, (iv) Zona dataran rendah dan kaki pegunungan di bagian utara dan pantai timur dan (v) komplek volkanik muda. Batuan dasar tertua di lokasi DAS Kr. Jambo Aye adalah Formasi Batugamping Ujeuen, penyebarannya dibagian hulu, merupakan singkapan batuan paling bawah dan merupakan sumbu antiklin. Pada bagian atasnya secara tidak selaras terendapkan Formasi Bampo, merupakan singkapan batuan di sayap kiri dan kanan dari sistem antiklin dengan penyebaran batuan memanjang dari barat laut-tenggara. Diatas Formasi Bampo secara selaras diendapkan Formasi Peuto yang penyebarannya arah barat laut-tenggara, kemudian diatasnya lagi ditutupi oleh Formasi Baong, Formasi Keutapang, Formasi Seureula dan Formasi Juluraye.

Gambar 2.7

Peta Geologi WS Jambo Aye


Bab II - 18

Struktur Geologi Struktur geologi regional daerah aliran Kr. Jambo Aye berupa perlipatan antiklin dan sinklin, sesar (patahan) normal dan sesar geser. Secara umum arah sumbu perlipatan adalah barat laut tenggara. Sedangkan pola dari sesar (patahan) relatif mempunyai arah timur laut barat daya. Struktur pelipatan secara regional umumnya mempunyai arah baratlaut-tenggara, dan mempengaruhi Formasi Julu Rayeu dan satuan batuan yang lebih tua. Struktur ini dapat diketahui dengan jelas pada Formasi Keutapang dan Formasi Sereula yang tersingkap di sepanjang sungai Kr. Jambo Aye. Struktur sesar aktif dijumpai di sebelah tenggara dari lokasi rencana bendungan Jambo Aye jaraknya kurang lebih 40 km. Sesar ini disebut dengan sesar Lokop-Kutacane dengan arah timur laut-barat daya.

Gambar 2.8 2.3.2 2.3.2.1

Peta Morfologi Wilayah Sungai Jambo Aye

Data Sumber Daya Air Hidrologi

Iklim di WS Jambo Aye dan sekitarnya termasuk iklim tropis. musim kemarau berlangsung antara bulan Februari sampai Agustus dan musim penghujan antara bulan September sampai Januari.

Bab II - 19

Suhu dimusim kemarau rata-rata 32.8 oC dan pada musim penghujan ratarata 21.7 oC. Dengan puncak suhu pada bulan April sampai Juni. Periode penyinaran matahari bervariasi antara 40 96%. Tingkat kelembaban udara bervariasi antara 80 90 %, dengan kelembaban terbesar terjadi pada bulan Oktober sampai Februari. Sedangkan kecepatan angin berkisar 5,5 km/jam hingga 7,5 km/jam. Kecepatan angin terbesar yang pernah tercatat adalah 37 km/jam. Tabel 2.9. Erosivitas pada Wilayah Sungai
1187,75 ( mm ) 3.921,07 4.305,25 1625,2 ( mm ) 7.297,51 3.410,18 12.053,95 2.228,75 177.547,76 15.681,12 10.945,72 3.130,21 21.759,78 361.559,32 4.058,82 3.983,58 6.003,72 129.518,93 696,17 15.329,56 218.219,27 541.177,70 1.656,50 Erosvitas 2072,71 ( mm ) 4,53 213,11 2528,4 ( mm ) Grand Total 7.302,04 4.134,17 7.715,43 10.945,72 15.184,16 23.988,53 541.032,40 21.819,38 4.058,82 3.983,58 6.003,72 129.518,93 696,17 776.383,04

DAS DAS A. Gading DAS A. Geuruntang DAS Arakundo DAS Babah DAS Bugeng DAS Idi DAS Jambo Aye DAS Kr. Rusa DAS Leungo Rayeuk DAS Peundawa Puntong DAS Peundawa Rayeuk DAS Peureulak DAS Reunget Grand Total sumber : hasil analisis, 2010

268,82 6.138,26

1.656,50

Gambar 2.9 Peta Erosivitas Wilayah Sungai Jambo Aye

Bab II - 20

Pada Peta Isohyet diketahui bahwa curah hujan rata-rata di daerah studi bervariasi antara 1.000 hingga 5.000 mm per tahun. Data curah hujan Kabupaten Aceh Utara diperoleh dari data Stasiun Meteorologi Lhokseumawe yang terletak di Lapangan Udara Malikulsaleh. Berdasarkan data curah hujan harian selama 23 tahun dari tahun 1986 hingga Mei 2010, jumlah curah hujan rata-rata bulanan sebesar 129,42 mm, dengan jumlah curah hujan rata-rata per bulan terbesar pada bulan November yaitu 247,32 mm. Dalam 20 tahun terakhir, kecenderungan bulan kering (Curah Hujan < 90 mm)
250
90 80

200

70

60

150

50

40

100

30

20

50

10

0 Suhu (oC)

1990 26.27 80.47 1.81 64.99

1991 26.22 80.78 2.01 57.01

1992 26.19 81.88 1.98 63.67

1993 26.1 82.28 2.15 61.37

1994 26.01 81.65 2.02 63.15

1995 26.25 83.43 2.06 58.66

1996 26.13 82.26 2.31 57.41

1997 26.14 81.85 1.91 62.02

1998 26.91 81.9 1.72 59.76

1999 26.32 81.81 1.7 56.21

0 Rainfall (mm)

Jan 132.11

Feb 101.48

Mar 62.17

Apr 138.82

May 159.1

Jun 89.29

Jul 115.93

Aug 110.45

Sep 121.5

Oct 154.56

Nov 204.81

Dec 204.12

Kelembaban (%) Kec. Angin (m/dt) Pentinaran Matahari (%)

Gambar 2.10

Distribusi Curah Hujan & Iklim Bulanan


(Sumber: Analisis PT Aditya 2010)

Curah Hujan yang terjadi di sekitar WS Jambo Aye dicatat oleh 4 Stasiun Hujan, yaitu Lampahan, Bidin, Cot Girek dan Takengon. 2.3.2.2 Air Tanah peta CAT (Cekungan Air Tanah) (PerMen ESDM 2009)

bersumber dari

memperlihatkan bahwa di WS Jambo Aye hanya terdapat dua CAT yaitu CAT Langsa dan CAT Lhokseumawe. keduanya berlokasi di bagian hilir WS. sedangkan dibagian hulu bukan merupakan CAT. Hasil Analisis Potensi Cadangan Air Tanah di WS Jambo Aye diperoleh Volume Cadangan Air Tanah adalah 2.588.362.391,79 m3/tahun dengan volume terbesar di DAS Jambo Aye 1.888.709.557,84 m3/tahun atau 72,91% dikuti DAS Peureulak 462.907.377,94 m3/detik atau 17,88%, sedangkan DAS lainnya potensi cadangan air tanah dibawah 3,5%.

Bab II - 21

Gambar 2.11 Peta Cekungan Air Tanah (CAT) pada WS Jambo Aye 2.3.2.3 Erosi dan Sedimentasi

Erosi akan menyebabkan hilangnya lapisan permukaan tanah yang subur dan mengakibatkan kerusakan lahan. Jika proses ini terus berlangsung, dapat mengakibatkan menurunnya produktivitas lahan dan perubahan lingkungan. Hasil analisis erosi dan sedimentasi yang terjadi di WS Jambo Aye : Tabel 2.10. Laju Erosi per DAS di Wilayah Sungai Jambo Aye
Daerah Aliran Sungai DAS A. Gading DAS A. Geuruntang DAS Arakundo DAS Babah DAS Bugeng DAS Idi DAS Jambo Aye DAS Kr. Rusa DAS Leungo Rayeuk DAS Peundawa Puntong DAS Peundawa Rayeuk DAS Peureulak DAS Reunget Total Luas (ha) Jumlah Erosi (Ton/Thn) 53.364,66 11.621,74 31.333,49 67.028,70 82.042,61 242.538,11 20.482.773,39 63.898,54 11.690,43 42.084,61 47.614,62 531.957,66 19,84 21.667.968,39 Erosi Rata-Rata (ton/ha/th) 7,31 2,81 4,06 6,12 5,40 10,11 37,86 2,93 2,88 10,56 7,93 4,11 0,03 Rata-rata Ketebalan TanahHilang (mm/thn) 0,61 0,23 0,34 0,51 0,45 0,84 3,15 0,24 0,24 0,88 0,66 0,34 0,00 Sediment Delivery Ratio n (SDR %) 4,94 5,33 4,92 4,80 4,77 4,84 9,03 4,81 5,35 5,36 5,05 6,30 7,93 Potensi Sedimentasi di Sungai (ton/thn) 2.638,41 619,33 1.541,08 3.218,51 3.910,54 11.731,58 1.850.084,15 3.074,11 624,87 2.256,44 2.405,60 33.529,76 1,57 1.915.635,95

7.302,04 4.134,17 7.715,43 10.945,72 15.184,16 23.988,53 541.032,40 21.819,38 4.058,82 3.983,58 6.003,72 129.518,93 696,17 776.383,04 sumber : hasil analisis 2010

Bab II - 22

Adapun kelas erosi dapat digolongkan sebagai berikut Tabel 2.11. Kelas Erosi per Daerah Aliran Sungai Existing
Kelas Bahaya Erosi DAS DAS A. Gading DAS A. Geuruntang DAS Arakundo DAS Babah DAS Bugeng DAS Idi DAS Jambo Aye DAS Kr. Rusa DAS Leungo Rayeuk DAS Peundawa Puntong DAS Peundawa Rayeuk DAS Peureulak DAS Reunget Grand Total I (sangat ringan ) 1.009,03 3.229,87 4.041,36 2.765,11 3.648,64 643,87 9.592,08 14.201,74 2.566,06 206,49 366,05 6.524,96 696,17 49.491,42 II (Ringan) 645,37 284,57 628,65 1.455,89 1.284,38 1.120,96 14.536,90 668,55 304,74 222,85 197,26 12.937,32 34.287,44 III (Sedang) 1.068,46 6,19 938,80 1.238,38 1.143,60 1.878,96 23.109,08 1.311,78 196,73 301,81 480,19 24.779,54 56.453,51 IV (Berat) 609,59 59,84 583,08 512,59 1.843,78 2.920,94 53.481,37 2.691,60 485,59 531,65 759,40 27.957,32 92.436,74 V (Sangat Berat ) 3.969,59 553,71 1.523,54 4.973,76 7.263,77 17.423,80 440.312,97 2.945,71 505,70 2.720,78 4.200,82 57.319,79 543.713,93 Total 7.302,04 4.134,17 7.715,43 10.945,72 15.184,16 23.988,53 541.032,40 21.819,38 4.058,82 3.983,58 6.003,72 129.518,93 696,17 776.383,04

Sumber : Hasi analisis 2010

Gambar 2.12 2.3.2.4 Merujuk Kualitas Air pada Peraturan

Peta Kelas Erosi pada WS Jambo Aye

Menteri

Kesehatan

492/MENKES/PER/IV/2010

tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, pada WS Jambo Aye telah dilakukan penelitas kualitas air sebagai berikut :

Bab II - 23

Tabel 2.12. Rangkuman Hasil Uji Laboratorium Terhadap Komponen Air Permukaan di WS Jambo Aye
NO 1 2 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 PARAMETER Temperatur Residu Terlarut (TDS) Zat Padat Tersuspensi (TSS) Amoniak Bebas (NH3-N) BOD COD Detergen (MBAS) Mangan (Mn) * Nitrat (NO3-,N) Nitrit (NO2-,N) Oksigen Terlarut (DO) pH Tembaga (Cu) * Timbal (Pb) * Minyak dan Lemak Coliform E. Coli SATUAN C mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L jml/100 mL jml/100 mL BAKU MUTU Normal 1000 50 3 25 0,002 10 0,06 >4 6 s/d 9 0,02 0,03 0,001 5000 1000
a)

S1 25,7 6080^ 36 6,48 90^ 118,5^ 0,5^ < 0,05 0,82 0,35^ 3,1^ 7,1 0,06^ < 0,01
tt

S2 FISIKA 26,7 25800^ 1094^

S3 25,8 25800^ 984^

S4 25,9 25800^ 1030^ 9,6 100^ 155,6^ 0,3^ < 0,05 0,81 0,15^ 3,1^ 7,37 0,44^ 0,2^
tt

HASIL PENGUJIAN S5 S6 27,6 389 30 0,21 8 25 0,003 0,0023 18,35 0,044 7,6 6,05 0,0006 0,0003 25,9 25700^ 1136^ 8,1 120^ 165,6^ 0,8^ < 0,05 0,85 0,12^ 2,8^ 7,44 0,06^ 0,01
tt

S7 25,9 124,1 230^ 1 50^ 82,26^ 0,2^ 3,39 0,4 0,13^ 2,1^ 7,03 < 0,02 0,03
tt

S8 26 148,4 110^ 2,64 30^ 66,71^ 0,43^ 3,42 0,39 0,15^ 0,1 7,95 < 0,02 0,01
tt

S9 26,1 55,7 68^ 2,73 150^ 196,14^ 0,4^ 3,15 0,4 0,17^ 2,2^ 7,97 < 0,02 0,03
tt

S10 27 325 23 0,23 10,6 23 0,004 0,0036 22,71 0,023 8,2 6,49 0,001
tt

KIMIA 9,4 9,2 120^ 100^ 166,5^ 130,9^ 0,1^ 0,2^ < 0,05 < 0,05 0,77 0,8 0,16^ 0,18^ 3,1^ 3,2^ 7,37 7,2 0,08^ 0,06^ < 0,01 0,02
tt tt

23 23

MIKROBIOLOGI 9 43 9 43

15 15

88 22

35 35

3 3

9 9

15 15

77 45

Sumber : Hasil Analisis 2010 Keterangan : * : Nilai Hasil Uji parameter tersebut merupakan nilai total kandungan ** : Standar Methode Tahun 2005 tt : Tidak terdeteksi ^ : Tidak memenuhi Baku Mutu Sn : Titik Sampling ke - n dan koordinat lokasi a) : PPRI No 82 tahun 2001 Kelas II tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air disetarakan dengan Permen 492 Tahun 2010

Bab II - 24

Gambar 2.13 2.3.2.5

Peta Lokasi Sampel Kualitas Air pada WS Jambo Aye

Sarana dan Prasarana di WS Jambo Aye

Data sungai yang ada di WS Jambo Aye pada DAS masing masing terdiri sungai sungai mulai dari ordo 1 sampai dengan ordo 4. adapun skematik dan daftar tabel sungai di WS Jambo Aye adalah seperti gambar dan tabel, sedangkan infrastruktur yang ada antara lain jaringan irigasi, tambak dan bangunan lainnya seperti tabel. Dari sejumlah DAS yang mempunyai sungai sampai dengan ordo ke 4 hanya DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak.

Bab II - 25

Tabel 2.13. Data Sungai di Wilayah Sungai Jambo Aye


Kode DAS Nama Sungai Dalam SWS Panjang (Km) Lebar Sungai Hilir (M) Tengah (M) Hulu (M) Debit Maks Min Rerata Max M3/Det Min M3/Det Rerata M3/Det Potensi Air M3/Tahun Kemiringan (I) Hilir (M) Tengah (M) Hulu (M) Luas DAS (Ha)

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12

Krueng Geurentang Krueng Rengat Kreung Rusa Krueng Arakundo Krueng Jambo Aye Krueng Bugeng Krueng Gading Krueng Idi Rayeuk Krueng Peudawa Puntong Krueng Peudawa Rayeuk Krueng Peureulak Krueng Leungoh Rayeuk

8,00 12,50 13,76 22,00 103,00 8,40 12,00 42,00 82,00 10,00 165,50 15,00 13,76

60,00 64,00 100,00 160,00 64,00 12,20 8,00 40,00 16,00 15,00 62,00 10,00 100,00

52,80 56,32 88,00 140,80 56,32 10,74 7,04 35,20 14,08 13,20 54,56 8,80 88,00

49,20 52,48 82,00 131,20 52,48 10,00 6,56 32,80 13,12 12,30 50,84 8,20 82,00

11,32 4,12 51,12 272,00 427,60 28,00 23,02 142,00 21,62 21,58 338,94 16,54 51,12

0,11 0,04 0,81 23,72 60,42 0,30 0,23 0,59 0,41 0,46 6,32 0,31 0,81

4,46 0,17 4,28 237,24 115,12 5,34 2,30 10,46 2,16 2,16 43,89 1,65 4,28

140.650.560,00 5.361.120,00 134.974.080,00 7.481.600.640,00 3.630.424.320,00 168.402.240,00 72.532.800,00 329.866.560,00 68.117.760,00 68.117.760,00 1.384.115.040,00 52.034.400,00 134.974.080,00

0,00534 0,00109 0,00018 0,00266 0,00082 0,0107 0,00442 0,00422 0,00668 0,00254 0,00034 0,00046 0,00018

0,00545 0,00111 0,00018 0,00271 0,0084 0,01091 0,00451 0,0043 0,00681 0,00259 0,00035 0,00047 0,00018

0,00561 0,00114 0,00019 0,00279 0,00086 0,01124 0,00464 0,00443 0,00701 0,00267 0,00036 0,00048 0,00019

4134,17 696,17 21.819,38 7.715,43 541.032,40 15.184,16 7.302,04 23.988,53 3.983,58 6.003,72 129.518,93 4.058,82 10.945,72

13 Krueng Babah Sumber : Hasil identifikasi 2009

Tabel 2.14. Data Debit Banjir per DAS di Wilayah Sungai Jambo Aye
No. 1 2 3 4 5 6 7 Kala Ulang Q2 Q5 Q10 Q20 Q25 Q50 Q100 DAS A. Geuruntang 1,23 1,56 1,76 1,92 2,01 2,19 2,37 DAS Reunget 2,07 2,62 2,97 3,24 3,38 3,69 3,99 DAS Rusa 64,97 82,07 92,92 101,40 105,97 115,76 125,10 DAS Arakundo 23,05 29,12 32,97 35,98 37,60 41,08 44,39 DAS Jambo Aye 1612,17 2036,47 2305,73 2516,10 2629,42 2872,43 3104,16 DAS Bugeng 45,30 57,22 64,79 70,70 73,89 80,72 87,23 DAS A. Gading 21,76 27,49 31,13 33,97 35,50 38,78 41,91 DAS Idi 71,42 90,22 102,14 111,46 116,48 127,25 137,51 DAS Peundawa Puntong 11,87 14,99 16,97 18,52 19,35 21,14 22,85 DAS Peundawa Rayeuk 17,90 22,60 25,59 27,93 29,19 31,88 34,46 DAS Peureulak 385,95 487,53 551,99 602,35 629,48 687,66 743,14 DAS Leungo Rayeuk 12,09 15,27 17,29 18,87 19,72 21,54 23,28 DAS Babah 32,57 41,14 46,58 50,83 53,11 58,02 62,70

Bab II - 26

DAS GERUNTANG

DAS REUNGAT

DAS KRUENG RUSA

DAS ARAKUNDO

DAS JAMBOAYE

DAS BUGENG

DAS GADING

DAS IDI

DAS PEUNDAWA PUNTONG

Gambar 2.14 Skematik Daerah Aliran Sungai (DAS) pada WS Jambo Aye
DAS PEUNDAWA RAYEUK DAS PEURLAK DAS LEUNGO RAYEUK DAS BABAH

Bab II - 27

Tabel 2.15. Data Irigasi Pada Kabupaten Terkait


No A Nama DI Kabupaten Luas (Ha) Keterangan Lintas kabupaten [Aceh Utara (15.993 ha)/Aceh Timur (34.80 Ha)] utuh kabupaten utuh kabupaten utuh kabupaten lintas kabupaten [Kota Langsa] utuh kabupaten utuh kabupaten utuh kabupaten utuh kabupaten utuh kabupaten utuh kabupaten 129 DI Desa 33 DI Desa 87 DI Desa 58 DI Desa 44 DI Desa Pengembangan Areal 5.000 Ha Hasil PAI menjadi 19.473 Ha Rencana Perluasan Menjadi 26.937

Pusat Lintas Kabupaten Jambo Aye Langkahan Lintas Kab 19.360

Pusat Utuh Kabupaten Alue Ubay Krueng Pase Aceh Utara Aceh Utara 4.144 8.791 3.200 2.200 2.625 1.300 1.550 2.000 1.000 2.226 23.628 9.015 11.861 10.392 9.854

Datar Diana Bener Meriah Propinsi Lintas Kabupaten Paya Ketengga / Aceh Timur Alue Merbo Propinsi Utuh Kabupaten Jambo Reuhat Uteun Dama Peunaron Bebesaan Jamur Barat Jamuan Krueng Tuan Aceh Timur Aceh Timur Aceh Timur Aceh Tengah Aceh Utara Aceh Utara Aceh Utara Aceh Timur Aceh Tengah Bener Meriah Gayo Luwes

Kabupaten Utuh Kabupaten Irigasi Desa Irigasi Desa Irigasi Desa Irigasi Desa Irigasi Desa

Jumlah 113.259 Sumber : Hasil Inventarisasi 2010 (Data untuk seluruh Kabupaten)

Tabel 2.16. Data Irigasi di Wilayah Sungai Jambo Aye


Luas DI Pada WS Luas DI Pada Kabupaten Jambo Aye (Ha) *) Terkait (Ha) 1 Aceh Tengah 4.587 13.861 2 Aceh Timur 11.995 20.170 3 Aceh Utara 19.777 55.782 4 Bener Meriah 2.573 13.592 5 Gayo Luwes 352 9.854 Jumlah 39.284 113.259 Sumber : Hasil Inventarisasi 2010, *) Data DI Irigasi Teknis, Sederhana dan Semi Teknis No Kabupaten

Tabel 2.17. Data Irigasi Rawa di Wilayah Sungai Jambo Aye


No Nama DI Kabupaten Luas (Ha) 3000 2000 3000 Luas (Ha) *) 7000 4000 4500 Keterangan *) Pengembangan *) Pengembangan *) Pengembangan 1 Simpang Ulim Aceh Timur 2 Julok Aceh Timur 3 Seunodon Aceh Timur Sumber : Hasil Inventarisasi 2010,

Bab II - 28

2.3.3. Data Kebutuhan Air Kebutuhan air untuk nerac air dihitung untuk berbagai keperluan antara lain untuk domestik, irigasi, perikanan, peternakan, dan Industri. - Untuk domestik/DMI berdasarkan populasi penduduk tahun 2011 sampai dengan tahun 2031 dengan asumsi 120 liter/hari/jiwa. - Untuk irigasi dihitung berdasarkan luas irigasi dan rencana pengembangan areal baru (KP Irigasi 2010) - Keperluan Industri 2000 liter/kap/hari (Pedoman Konstruksi & Bangunan Dep PU, 2002) - Keperluan Ternak 40 liter/ekor/hari - Untuk Air Untuk perikanan 7-10 liter/detik/ha - Untuk perkebunan kelapa sawit 800 liter/hari = 0,0093 liter/dt/ha - Untuk Penggelontoran +/- 300 liter/kapita/hari (IWRD) 2.3.3.1 Kebutuhan Air Domestik WS Jambo Aye Kebutuhan air Domestik adalah berdasarkan populasi penduduk 2011 - 2031 Tabel 2.18. Proyeksi Jumlah Penduduk per DAS di WS Jambo Aye
Kode 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS DAS Nama_DAS Jumlah Penduduk (Jiwa) 2010 15.770 2.304 110.488 9.926 352.262 23.159 12.625 36.131 17.902 12.085 95.699 14.246 42.247 744.844 2011 16.136 2.357 113.051 10.156 360.434 23.696 12.918 36.969 18.317 12.365 97.919 14.577 43.227 762.124 2016 18.097 2.644 126.788 11.390 404.230 26.576 14.488 41.461 20.543 13.868 109.817 16.348 48.480 854.729 2021 20.295 2.965 142.194 12.774 453.348 29.805 16.248 46.499 23.039 15.553 123.161 18.334 54.370 958.586 2026 22.761 3.325 159.472 14.327 508.434 33.426 18.222 52.149 25.839 17.443 138.126 20.562 60.977 1.075.063 2031 25.527 3.730 178.849 16.067 570.213 37.488 20.436 58.486 28.978 19.562 154.910 23.060 68.386 1.205.692

A. Geuruntang Reunget Rusa Arakundo Jambo Aye Bugeng A. Gading Idi Peundawa Puntong Peundawa Rayeuk Peureulak Leungo Rayeuk Babah Jumlah Sumber : Hasil Analisis, 2011

Tabel 2.19. Proyeksi Jumlah Penduduk pada WS Jambo Aye (BPS 2010)
No 1 2 3 4 5 Nama Kabupaten 2010 351.580 58.590 224.679 101.937 8.058 744.844 2011 359.737 59.949 229.892 104.302 8.245 762.124 Jumlah Penduduk (Jiwa) 2016 2021 2026 403.448 452.470 507.449 67.234 75.403 84.565 257.825 289.153 324.288 116.976 131.189 147.130 9.247 10.370 11.630 854.729 958.586 1.075.063 2031 569.109 94.841 363.692 165.007 13.044 1.205.692

Kab. Aceh Timur Kab. Aceh Tengah Kab. Aceh Utara Kab. Bener Meriah Kab. Gayo Luwes Jumlah Sumber : Hasil Analisis, 2011

Bab II - 29

Tabel 2.20. Kebutuhan Air Penduduk per DAS di WS Jambo Aye


Kode 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 Nama_DAS 2010 21,90 3,20 153,46 13,79 489,25 32,17 17,53 50,18 24,86 16,78 132,92 19,79 58,68 1.035 kebutuhan air liter/detik 2011 2016 2021 2026 22,41 25,13 28,19 31,61 3,27 3,67 4,12 4,62 157,02 176,09 197,49 221,49 14,11 15,82 17,74 19,90 500,60 561,43 629,65 706,16 32,91 36,91 41,40 46,43 17,94 20,12 22,57 25,31 51,35 57,59 64,58 72,43 25,44 28,53 32,00 35,89 17,17 19,26 21,60 24,23 136,00 152,52 171,06 191,84 20,25 22,71 25,46 28,56 60,04 67,33 75,51 84,69 1.059 1.187 1.331 1.493 2031 35,45 5,18 248,40 22,32 791,96 52,07 28,38 81,23 40,25 27,17 215,15 32,03 94,98 1.675

DAS A. Geuruntang DAS Reunget DAS Rusa DAS Arakundo DAS Jambo Aye DAS Bugeng DAS A. Gading DAS Idi DAS Peundawa Puntong DAS Peundawa Rayeuk DAS Peureulak DAS Leungo Rayeuk DAS Babah Jumlah Sumber : Hasil Analisis, 2011

2.3.3.2 Kebutuhan Air Irigasi pada WS Jambo Aye jumlah areal irigasi di WS Jambo Aye existing meliputi irigasi teknis yang dikelola oleh Pemerintah Pusat dan Daerah sedangkan untuk pengembangan di prediksi dari ketersediaan lahan (Tadah Hujan) dan ketersediaan penggarap (petani) dengan rincian sebagai berikut : Tabel 2.21. Kebutuhan Air Untuk Irigasi pada WS Jambo Aye
Kode 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 Nama_DAS DAS A. Geuruntang DAS Reunget DAS Rusa DAS Arakundo DAS Jambo Aye DAS Bugeng DAS A. Gading DAS Idi DAS Peundawa Puntong DAS Peundawa Rayeuk DAS Peureulak DAS Leungo Rayeuk DAS Babah Luas Areal Irigasi (Ha) 320 25 200 1.425 19.473 1.215 1.322 6.565 224 1.451 5.000 830 1.234 39.284 2010 0,42 0,03 0,26 1,88 25,64 1,60 1,74 8,64 0,29 1,91 6,58 1,09 1,62 51,72 Kebutuhan Air m3/dt 2016 2021 2026 0,42 0,03 0,26 1,88 34,75 1,60 1,74 8,64 0,29 1,91 6,58 1,09 1,62 60,83 0,53 0,13 0,49 1,88 34,75 1,60 1,74 8,64 0,29 1,91 6,58 1,09 1,62 61,26 0,53 0,13 0,49 1,88 34,75 1,60 1,74 8,64 0,29 1,91 6,58 1,09 1,62 61,26 2031 0,53 0,13 0,49 1,88 34,75 1,60 1,74 8,64 0,29 1,91 6,58 1,09 1,62 61,26

Sumber : Hasil Analisis, 2011

2.3.3.3 Neraca Air Ketersediaan Air WS Jambo Aye mencapai 6,32 milliard m3/tahun atau setara dengan 200,37 m3/detik. Sedangkan untuk tahun 2010 kebutuhan air ideal untuk berbagai keperluan total mencapai 63,418 m3/detik. Rincian masing masing keperluan dalam DAS pada WS Jambo Aye adalah sebagai berikut :

Bab II - 30

Tabel 2.22. Kebutuhan Air Untuk Irigasi pada WS Jambo Aye Tahun 2010 (m3/detik)
Kode 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 Nama_das DAS A. Geuruntang DAS Reunget DAS Rusa DAS Arakundo DAS Jambo Aye DAS Bugeng DAS A. Gading DAS Idi DAS Peundawa Puntong DAS Peundawa Rayeuk DAS Peureulak DAS Leungo Rayeuk DAS Babah Jumlah Luas ( ha ) 4134,17 696,17 21.819,38 7.715,43 541.032,40 15.184,16 7.302,04 23.988,53 3.983,58 6.003,72 129.518,93 4.058,82 10.945,72 776.383,05 Irigasi 0,42 0,03 0,26 1,88 25,64 1,60 1,74 8,64 0,29 1,91 6,58 1,09 1,62 51,715 RKI / DMI Industri Penduduk 0,057 0,022 0,008 0,003 0,400 0,153 0,036 0,014 1,274 0,489 0,084 0,032 0,046 0,018 0,131 0,050 0,065 0,025 0,044 0,017 0,346 0,133 0,052 0,020 0,153 0,059 2,694 1,035 Perkebunan 0,00073 0,00012 0,00385 0,00136 0,09547 0,00268 0,00129 0,00423 0,00070 0,00106 0,02285 0,00072 0,00193 0,137 Ternak 0,00011 0,00002 0,00058 0,00020 0,01436 0,00040 0,00019 0,00064 0,00011 0,00016 0,00344 0,00011 0,00029 0,021 Tambak/ Kolam 0,078 0,044 0,082 0,116 0,161 0,255 2,733 0,231 0,043 0,042 0,064 1,375 0,007 5,230 Penggelontoran 0,055 0,008 0,384 0,034 1,223 0,080 0,044 0,125 0,062 0,042 0,332 0,049 0,147 2,586 Jumlah 0,633 0,096 1,286 2,078 28,893 2,054 4,582 9,185 0,491 2,056 7,484 2,589 1,992 63,418

Sumber : Hasil Analisis 2011 Kebutuhan air terbesar adalah untuk irigasi mencapai 51,715 m3/detik, selain keperluan irigasi juga untuk keperluan DMI 3,729 M3/detik, perikanan 5,230 m3/detik, perkebunan 0,137 m3/detik, peternakan 0,021 m3/detik, dan penggelontoran 2,686 m3/detik Total kebutuhan untuk tahun 2010 adalah 63,418 m3/detik. Ketersediaan air tahun 2010 yang dapat memenuhi kebutuhan air adalah 54,90 m3/detik. Kondisi demikian perlu diantisipasi dengan perbaikan infrastruktur jaringan irigasi agar dapat memenuhi seluruh kebutuhan dan dengan adanya potensi yang besar pada DAS Jambo Aye, pembangunan bendungan Jambo Aye dapat menghasilkan debit untuk energi listrik, suplai irigasi dan pengembangan irigasi baru. Kebutuhan air ini akan dipenuhi sesuai dengan skenario pengelolaan yang direncanakan yaitu kebutuhan air untuk skenario perekonomian rendah, sedang dan tinggi.

Bab II - 31

Gambar 2.15 Potensi dan Kebutuhan Air WS Jambo Aye Tabel 2.23. Potensi, Kebutuhan & Ketersediaan Air pada WS Jambo Aye
No A B Uraian Tahun 2010 (m3/detik) 200,368 63,418 1,035 51,715 5,230 0,137 0,021 2,694 2,586 53,718 Volume per Tahun (m3/tahun) 6,32 Milliard 2,00 Milliard 3,26 Juta 1,63 Milliard 165 Juta 4,32 Juta 0,65 Juta 85,0 Juta 81,6 Juta 1,69 Milliard

Potensi Air WS Jambo Aye (Q80%) Kebutuhan Air WS jambo aye 1. Penduduk 2. Irigasi 3. Tambak 4. Perkebunan 5. Ternak 6. Industri 7. Penggelontoran Ketersediaan Air yang dapat dipenuhi tahun C 2010 pada WS jambo aye Sumber : Hasil Analisis 2011

Gambar 2.16 Prosentase Pemanfaatan Air WS Jambo Aye (2010)

Bab II - 32

Tabel 2.24. Neraca Ketersediaan dan Kebutuhan WS Jambo Aye (2010)


Nama DAS DAS A. Geuruntang DAS Reunget DAS Rusa DAS Arakundo DAS Jambo Aye DAS Bugeng DAS A. Gading DAS Idi DAS Peundawa Puntong DAS Peundawa Rayeuk DAS Peureulak DAS Leungo Rayeuk DAS Babah WS jambo aye Ketersediaan Air (m3/s) Rata rata 1,68 0,28 8,87 3,13 219,82 6,17 2,96 9,75 1,62 2,44 52,62 1,65 4,45 315,44 Q80% 1,07 0,18 5,63 1,99 139,63 3,92 1,88 6,19 1,03 1,55 33,43 1,05 2,82 200,37 Q90% 0,91 0,15 4,8 1,7 118,95 3,34 1,61 5,27 0,87 1,32 28,47 0,89 2,41 170,69 Irigasi 0,53 0,13 0,49 1,88 34,75 1,60 1,74 8,64 0,29 1,91 6,58 1,09 1,62 61,26 Kebutuhan Air 2010 (m3/s) DMI/RKI 0,04 0,01 0,25 0,02 0,79 0,05 0,03 0,08 0,04 0,03 0,22 0,03 0,09 1,67 Lain Lain 0,190 0,060 0,870 0,188 2,768 0,422 2,824 0,492 0,171 0,129 0,768 1,476 0,309 10,668 Total 0,633 0,096 1,286 2,078 28,893 2,054 4,582 9,185 0,491 2,056 7,484 2,589 1,992 63,418 Neraca Q90 0,277 0,054 3,514 -0,378 90,057 1,286 -2,972 -3,915 0,379 -0,736 20,986 -1,699 0,418 107,272

Sumber : Hasil Analisis, 2011

2.4.

Identifikasi Kondisi Lingkungan dan Permasalahan

Identifikasi kondisi lingkungan dan permasalahan ditinjau menurut hasil rumusan PKM 1 dalam 5 aspek pengelolaan sumber daya air yaitu konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air, sistem informasi dan pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha. Permasalahan dan usulan pemecahannya yang dikumpulkan pada saar PKM adalah sebagai berikut : Tabel 2.25. Permasalahan di WS Jambo Aye
No
1

Permasalahan
Kerusakan DAS akibat Penebangan Hutan

Lokasi
Terjadinya lahan kritis di seluruh wilayah DAS khususnya DAS Jambo Aye.

Pemecahan
- Konservasi wilayah hulu perlu ditingkatkan - Memperbanyak tampungan air dengan membuat embung, waduk, dan bendungan lagi dengan dilaksanakan konservasi dengan cara penghijauan di sekitar embung - Penegakan hukum - Mekanisme hubungan antara hulu - hilir di DAS - Rehabilitasi DAS - Upaya penghijauan / reboisasi melibatkan masyarakat - Perlu penanganan yang sama terhadap pengelolaan di tanah milik / luar kawasan hutan / aturan dan kebijakan sehingga kawasan lindung 45 % bisa dicapai - Daerah tangkapan air / resapan air agar dijaga kelestariannya - Menyusun rencana tata ruang dengan mengutamakan perhatian ke arah konservasi - Memperbaiki kerusakan sumber air - Adanya pengembangan usaha dalam

Luas Kawasan hutan lindung kawasan, suaka alam dan pelestarian alam belum sesuai dengan RTRW

Seluruh DAS pada WS Jambo Aye meliputi Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Luwes

Bab II - 33

No
3

Permasalahan
Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Akibat dari Penambangan

Lokasi
Terjadi diseluruh ruang sungai bagian hulu dari 13 DAS di WS Jambo Aye

Pemecahan
skala ekonomis - Pembatasan galian / tambang - Penyuluhan, pembinaan kegiatan penambangan yang berwawasan lingkungan - Konservasi wilayah hulu ditingkatkan - Penegakan hukum - Mekanisme hubungan antara hulu - hilir di DAS - Rehabilitasi DAS - Upaya penghijauan / reboisasi melibatkan masyarakat - Menata kawasan disekitar sumber air (bantaran sungai, danau, mata air) menjadi kawasan yang berfungsi ganda (ekowisata) - Perlu diterbitkannya Perda tentang sempadan air dan dibuatkan batas sempadan sungai serta Pantai - Mencegah terjadinya pencemaran air sungai terutama dari limbah pertanian, rumah tangga dan industri - Setiap pabrik agar dihimbau untuk membuat kolam limbah dan dilakukan kajian Amdal terlebih dahulu - Setiap rumah tangga agar dihimbau untuk membuat septitank - Pembatasan dan himbauan agar para petani tidak memakai pestisida (zat kimia yang berbahaya) - Adanya pemantauan rutin terhadap kualitas air sungai minimal 2 x dalam 1 tahun - Penegakan hukum dengan perda-perda yang ada di wilayah konservasi - Perijinan dalam pemanfaatan lahan agar memperhatikan masalah lahan untuk pertanian

Sulitnya pengaturan daerah sempadan air dan bantaran sungai

Seluruh DAS di WS Jambo Aye

Pencemaran air

Di bagian hilir DAS akibat pemukiman sepanjang bantaran sungai

Tingginya laju konversi lahan irigasi menjadi lahan perkebunan dan permukiman Kurangnya Air baku untuk air minum

Terjadi dibagian hulu meliputi Kabupaten Bener Meriah, Aceh Timur dan Aceh Tengah SeLuruh DAS didaerah pemukiman desa belum terpenuhi secara merata Di Seluruh Kabupaten pada ws Jambo Aye Termasuk sedimentasi yang masuk ke jaringan irigasi. Diseluruh DI yang ada di WS Jambo Aye karena infrastruktur yang rusak Dibagian hilir seluruh DAS pada WS Jambo Aye

- Perlu kebijakan dan program penyediaan air baku air minum untuk kabupaten - Menjaga ketersediaan air di sungai dengan mempertahankan debit andalan 95% (PP 38/2011) - Penanaman pohon bambu Iwaru, bambu ampers - Menanam kembali dengan tanaman keras yang punya nilai ekonomi yang lebih tinggi misal rotan, kulit manis, alpukat dll - OP Jaringan Irigasi - Rehabilitasi dan Upgrading jaringan irigasi baik irigasi desa maupun irigasi teknis - Rehabilitasi sistem drainase dan alur sungai yang kritis akibat luapan banjir dengan perkuatan tebing

Tingginya erosi lahan

10

Tingginya kebocoran pada saluran distribusi air irigasi

11

Terjadinya banjir yang menggenangi daerah pemukiman & persawahan & tambak

Bab II - 34

No
12

Permasalahan
Kekurangan Energi Listrik Tenaga Air

Lokasi
Seluruh wilayah pada WS Jambo Aye

Pemecahan
- mengupayakan pembangunan energi listrik dengan tenaga air baik PLTM di daerah hulu maupun PLTA yaitu Bendungan Jambo Aye di WS Jambo Aye

Sumber : Hasil Resume PKM

2.4.1. Aspek Konservasi Sumber Daya Air Pada Wilayah Sungai Jambo Aye aspek erosi dan sedimentasi akibat perubahan tutupan lahan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan kelestarian fungsi setiap DAS. Permasalahan pada masing masing Kabupaten adalah : Pada wilayah Kabupaten Aceh Timur : 1. Wilayah yang kritis terjadi di daerah Terdapat banyak lahan kritis yaitu di daerah Kec. Peureulak Barat (500 Ha), Kec. Serbajadi (500-1000 Ha), Kec. Bireun Bayeun (400 Ha), Kec. Simpang Jernih (400 - 500 Ha) Kec. Peunaron (500 Ha), Permasalahan lahan kritis dan hutan di daerah hulu dan Ada sebagian wilayah di Kabupaten Aceh Timur yang dijadikan kawasan hutan lindung. Kawasan hutan lindung berada di daerah Kec. Bireun Bayeun, Kec. Simpang Jernih dan Kec. Serbajadi, Kec. Pantai Bidari. 2. Ada aktivitas penggunaan sempadan sungai untuk pemukiman ataupun kegiatan usaha, untuk penertibannya dengan sosialisasi penegakkan aturan, pemberlakukan sangsi, dan pencabutan izin penggunaannya. Terdapat aktivitas penambangan galian C di wilayah Kec. Jamur Labu, Kec. Lokop, Kec. Arakundo, Kec. Pendawa Kec. Simpang Jernih, Kec. Bireun Bayeun, Kec. Peunaron, Kec. Serbajadi dan Kec. Alurteh. Kegiatan yang dilakukan berdampak terhadap penurunan kualitas SDA sehingga perlu ditertibkan. Pada Wilayah Kabupaten Aceh Utara : 1. Masalah yang teridentifikasi adalah illegal logging, upaya penanganan yang sudah dilakukan adalah dengan penugasan Polisi Hutan untuk pengawasan, reboisasi dan rehabilitasi hutan serta sosialisasi pentingnya fungsi hutan kepada masyarakat. Permasalahan lainnya yang terjadi terkait SDA adalah pemukiman dan perumahan yang dibangun di sempadan sungai. Berkenaan dengan hal tersebut, telah dilakukan sosialisasi informasi mengenai kerusakan lingkungan khususnya di daerah Kecamatan Tanah Jambo Aye Panton Labu. 2. Terdapat lahan kritis dan penanganannya bisa dilakukan melalui MPTS dengan berpedoman pada peraturan Kementrian Kehutanan. Kawasan hutan

Bab II - 35

lindung berada di Kec. Langkahan, Kec. Merah Mulia, Kecamatan Cot Girek, Kec. Syam Lira Bayu dan Kec. Pay Bakong dengan luas 7879 Ha. 3. Terdapat kegiatan penambangan galian C, perlu ditertibkan dengan pemberitahuan ataupun teguran serta diberikan sosialisasi UU LH 32 Tahun 2009 dan pemberian sangsi juga disesuaikan dengan UU serta Permen (Pertambangan dan Energi). 4. Ada masyarakat yang menempati lokasi sempadan sungai yaitu di Kecamatan Tanah Jambo Aye Panton Labu. Hal ini perlu ditertibkan dengan mengalihkan (relokasi) ke wilayah pemukiman lainnya (sekitar 200 Kepala Keluarga) dan jika masih terjadi pelanggaran harus dikenai sangsi. Pada Wilayah Kabupaten Aceh Tengah : 1. Perlu dilakukan rehabilitasi lahan kritis dan hutan, terdapat lahan kritis di daerah Kp. Jamat Kecamatan Linge sekitar 4000 Ha. Kawasan hutan lindung berada di daerah Kec. Burliuntan dengan luas sekitar 2000 Ha.Penanganan dengan metode MPTS (Multi Purpose Tree Species) juga sangat dibutuhkan. 2. Perlu dilakukan penertiban dan pengaturan penggunaan air dengan perbaikan dan pengaturan sistem alokasi air Pada Wilayah Kabupaten Bener Meriah : 1. Perlu dilakukan rehabilitasi lahan kritis dan hutan dalam bentuk reboisasi serta sosialisasi kepada masyarakat setempat. Terdapat lahan kritis Kab. Bener Meriah, daerah yang termasuk lahan kritis ada di daerah Kec. Tambolon (400 Ha), Kec. Rusip (300 Ha) dan Kec. Saman Kilang (600 Ha). 2. Terdapat kawasan hutan lindung yang luasnya sekitar 64.493 Ha. Berada di lokasi Kec. Pintu Rame Gayo, Kec. Timang Gajah, Kec. Gajah Putih, Kec. Wih Pisam, Kec. Bukit, Kec. Bandar, Kec. Permata Sema, Kec. Bener Kelipah, Kec. Messidah, Kec. Syiah Utama dan Kec. Budat. 2.4.2. Aspek Pendayagunaan Sumber Daya Air Pada aspek pendayagunaan SDA di WS Jambo Aye ini sudah banyak dimanfaatkan dengan dibangunnya lahan pertanian lahan basah di seluruh wilayah Kabupaten, namun dalam Operasi dan Pemeliharaan masih sangat minim sehingga pemnafaatan air secara efisien belum dapat dilaksanakan selain itu rusaknya jaringan irigasi akibat OP yang lemah mengakibatkan penurunan produksi pertanian. Adanya alih fungsi lahan sawah dan hutan menjadi perkebunan sawit menjadi kendala dalam pemanfaatan air.
Bab II - 36

selain itu belum termanfaatkannya sumber air untuk keperluan air minum dan enersi listrik memerlukan perhatian khusus dikemudian hari. Permasalahan pada masing masing Kabupaten adalah : Pada Wilayah Kabupaten Aceh Timur : 1. Rehabilitasi sarana prasarana pengairan perlu dilakukan sehubungan banyaknya saluran tersier yang rusak. Peningkatan secara teknis jaringan irigasi juga diperlukan oleh masyarakat karena sebagian besar lahan pertanian masih yang aliran merupakan telah lahan irigsi oleh tadah hujan. Rehabilitasi yaitu tersier infrastruktur pemeliharaan dilakukan Pemerintah Daerah saluran

pembangunan lIning tersier, pembuatan bronjong dan gorong-gorong untuk sungai sedangkan pemeliharaan dilakukan secara swadaya oleh petani. Kinerja jaringan irigasi yang ada belum difungsikan secara optimal serta diperlukan jaringan-jaringan irigasi baru di Kec. Perlak. Kec. Idi Rayeuk dan Kec. Kuta Binjai. 2. Terdapat potensi tambak terutama di daerah Kec. Kuta Bijai, Kec. Madat, Kec. Bagok, Kec. Idi Rayeuk dan Kec. Idi Cut. Diwilayah ini banyak kolam ikan dan tambak, dan perlu dikembangkan terutama di lahan masyarakat yang terlantar dan tidak dimanfaatkan lagi oleh pemiliknya. 3. Di wilayah Kecamatan Pantai Bidari terdapat potensi rawa yang belum secara maksimal dikembangkan. Saat ini sebatas budidaya perikanan dan belum ada upaya maksimal mengenai hal ini. 4. Perkebunan di beberapa wilayah berkembang dan perlu diatur sesuai dengan tata ruang wilayah yaitu di kawasan Kec. Simpang Jernih, Kec. Jamur Labu Kec.Peunaron dan Kec.Indramakmur. Secara umum pengembangan kawasan pertanian dan perkebunan terus dilakukan. Rencana pengembangan perkebunan juga dilakukan di daerah Kec. Blang Seunong dan Kec. Pantu Labu. Sebagian besar wilayah adalah daerah gambut dan rawa yang cocok untuk budidaya jenis tanaman palm (kelapa sawit dan sejenisnya).Terdapat wilayah yang bisa dikembangkan untuk usaha perkebunan karet di wilayah Kec. Bireun, kec. Jolok dan Kec. Serbajadi. Pada Wilayah Kabupaten Aceh Utara : 1. Pengembangan lahan pertanian dan perkebunan dengan pembukaan lahan baru di kawasan hutan harus disesuaikan dengan luas kawasan hutan beserta fungsinya. Pengembangan kawasan pertanian baru memungkinkan dilakukan di Kec. Soweng, Kec. Kuta Makmur, Kec. Geurodong Pase, Kec.

Bab II - 37

Tanah Luas, Kec. Raya Bakong, Kec. Cot Girek, Kec. Langkahan, Kec. Baktiya dan Kec. Murah Mulia. 2. Belum terpenuhinya kebutuhan air minum bagi masyarakat karena instansi PDAM belum melakukan untuk seluruh Kecamatan. 3. Perlunya perbaikan infrastruktur jaringan irigasi Desa dan Teknis yang mengalami penurunan fungsinya. Pada Wilayah Kabupaten Aceh Tengah: 1. Perlunya perbaikan infrastruktur jaringan irigasi Desa dan Teknis yang mengalami penurunan fungsinya. 2. Masih terbatasnya biaya pembangunan dan OP jaringan irigasi di wilayah ini 3. Kebutuhan air minum masyarakat masih belum merata untuk seluruh Kecamatan Pada Wilayah Kabupaten Bener Meriah : 1. Perlu dilakukan rehabilitasi sarana dan prasarana irigasi serta peningkatan SDM dengan pelatihan dan pemberian insentif dapat mengembangkan kinerja operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi. 2. Pembangunan jaringan irigasi baru masih diperlukan untuk daerah Wih Ni Pelung Kec. Bukit. Masyarakat bersedia untuk diikutsertakan dalam kegiatan rehabilitasi sarana dan prasarana dalam bentuk tenaga kerja maupun pembebasan lahan jika dibutuhkan. 3. Ada potensi rawa dan tambak yang perlu diinventarisasi dan dikembangkan. Terdapat kolam ikan dan tambak yang masih bisa dikembangkan di Kec. Wih Pesam, Kec. Kenawat dan Desa Pante Raya Kec. Bukit. 4. Ketersediaan air bersih tidak selalu tersedia terus menerus. Usaha untuk penambahan jaringan pipa air bersih perlu dilakukan oleh PDAM. Air baku yang layak dikonsumsi belum mencukupi kebutuhan sehari-hari untuk sebagian masyarakat. Program yang telah dilaksanakan oleh instansi terkait yaitu perbaikan jaringan instalasi air bersih. Terdapat kelompok/individu yang bergerak di bidang pengusahaan air (memiliki ijin usaha) dalam bentuk penyediaan air minum metode RO (Reverse Osmosis). Pengembangan yang diharapkan dilakukan yaitu penambahan jaringan baru di Kec. Simpang Tritit dan Kec. Blang Ara.

Bab II - 38

2.4.3. Aspek Pengendalian Daya Rusak Air Pada aspek pengendalian daya rusak air yang terutama adalah masalah daerag genangan banjir akibat sistem drainase dan sungai utama yang mengalami pendangkalan. adapun permasalahan pada masing masing Kabupaten adalah : Pada Wilayah Kabupaten Aceh Timur : 1. Banjir sering terjadi di wilayah Kec. Simpang Jernih, Kec. Serbajadi, Kec. Peureulak, Kec. Blang Seunong, Kec. Julok, Kec. Madat, Kec. Idi, Kec. Banda Alam, Kec. Simpang Ulim, Kec. Peunaron dan Kec. Pantai Bidari. Pengendaliannya sudah dibuatkan tanggul serta dilakukan pembersihan dua s.d tiga kali dalam setahun dengan lama genangan 10 s.d 15 hari, membanjiri 11 desa dengan tinggi genangan antara 0.5-2 meter. 2. Sebagai usulan yaitu pembuatan krib di lokasi tepi sungai di wilayah Kec. Pantai Bidari dan bangunan cek dam di Kota Binjai serta penataan sistem drainase di kec. Idi Rayeuk. 2. Penyuluhan tentang metode pengendalian banjir perlu dilakukan dengan mengikutsertakan instansi dan masyarakat. Sosialisasi tata cara evakuasi menghadapi bencana banjir perlu dilakukan dengan membuat tim yang melibatkan masyarakat. 3. Daerah rawan longsor berada di Kec. Peunaron, Kec. Serbajadi, Kec. Simpang Jernih, Kec. Peureulak (Kota), Kec. Arakundo dan Kec. Pante Bidari. Kerusakan yang pernah terjadi sebelumnya yaitu merusak lahan pertanian dan rumah penduduk. Pada Wilayah Kabupaten Aceh Utara : 1. Masyarakat juga perlu diberikan penyuluhan mengenai hal ini sehingga dapat turut serta dalam menanggulangi permasalahan banjir khususnya Daerah rawan banjir berada di Kec. Tanah Luas, Kec. Lhoksukon, Kec. Matang Kuli, Kec. Paya Bakong dan Kec. Langkahan dengan tingkat frekuensi kejadian 2 kali dalam setahun dan lama genangan 2 4 minggu. Kedalaman genangan 0.5 s.d 1 meter dan merusak fasilitas umum serta lahan sawah pertanian. 2. Bangunan pengendali berupa revetment di daerah Kec. Lhoksukon dan checkdam di Kec. Pirak Tanggul dan saluran drainase yang kurang berfungsi perlu dinormalisasikan. Usulan untuk menanggulangi banjir adalah dengan membuat waduk besar yang direncanakan dari waduk Jambo Aye 3. Adanya daerah rawan longsor di Kec. Langkahan. Pada Wilayah Kabupaten Aceh Tengah :

Bab II - 39

1. Daerah rawan banjir ada di Kec. Isaq, Kec. Jamar dan Kec. Lelumu, sedangkan untuk daerah longsor di daerah Kec. Burlintang. Bangunan pengendali yang sudah dibuat yaitu bangunan tanggul dari bronjong, belum dapat mengatasi banjir. Pada Wilayah Kabupaten Bener Meriah : 1. Kawasan banjir di daerah Syiah Utama. Untuk kawasan longsor ada di beberapa lokasi di Kabupaten Bener Meriah. Daerah rawan bencana banjir yaitu di Pondok Gresek dan Kec. Syiah Utama yang biasanya terjadi lima tahun sekali. Lama genangan 2 hari dengan luas genangan sekitar 20 ha dan kedalaman genangan 2 m dengan tingkat kerusakan parah. 2. Daerah rawan longsor berada di Kec. Arul Gading dan Kec. Samar Kilang yang yang sudah memiliki check dam dan krib. Pengerukkan sedimen dan normalisasi sungai juga pernah dilakukan di daerah Kec. Dataran Diana. Umumnya setiap daerah sudah memiliki saluran drainase. Perlu dikaji kembali untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur atau bangunan pengendali banjir agar dapat mengatasi banjir 2.4.4. Aspek Sistem Informasi Sumber Daya Air Data dan informasi bidang SDA masih sangat terbatas penyebarannya. Masih sebatas antar dinas-dinas terkait saja, belum disebarkan secara luas dimasyarakat. Kedepan masyarakat perlu diberi informasi seluas-luasnya mengenai SDA agar mereka menyadari akan pentingnya pelestarian SDA untuk kepentingan mereka juga. Agar masyarakat juga tergerak untuk berinfestasi dibidang SDA dengan pengetahuan yang cukup tentang SDA itu sendiri. Permasalahan yang dihadapi dalam kaitannya dengan penggunaan informasi SDA antara lain : 1) Data/informasi sumber daya air belum sepenuhnya dapat diakses dan belum tersedia. 2) Kurangnya sumber daya manusia yang mengelola data dan informasi SDA 3) Peralatan yang kurang memadai 4) Jumlah stasiun hidroklimatologi belum memenuhi persyaratan dan stasiun hidroklimatologi yang sudah ada kondisinya banyak yang sudah rusak dan tidak terawat 5) Jumlah pos duga muka air masih belum mencukupi dan belum tersedianya stasiun pengamatan banjir.
Bab II - 40

6) Belum tersedianya stasiun pengamatan kualitas air pada sumber air dan badan air 2.4.1. Aspek Peran Serta Masyarakat dan Sistem Koordinasi Pemberdayaan masyarakat dalam masalah SDA di WS Jambo Aye masih sangat terbatas kegiatannya. Kegiatan dari Dinas-Dinas terkait masih sebatas penyuluhan-penyuluhan tentang perlunya pelestarian SDA untuk kepentingan kita dan anak cucu kita yang akan datang. Masyarakat jangan melakukan pengrusakan terhadap daerah-daerah tangkapan air agar mereka yang tinggal dihilir tidak terkena akibatnya. Apabila datang banjir dihimbau untuk melakukan pengungsian kedaerahdaerah yang aman dari banjir, atau kedaerah yang lebih tinggi. Bagaimana bercocok tanam yang baik yang senafas dengan pelestarian lingkungan, agar permukaan tanah tidak mudah tererosi oleh air hujan. Masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai atau saluran irigasi didekat tempat tinggalnya. Hal ini memerlukan usaha yang terus menerus untuk menyadarkan masyarakat tentang budaya buang sampah ketempattempat yang telah disediakan oleh pemerintah atau oleh kelompok masyarakat yang ada. Permasalahan utama pengelola SDA dalam aspek peran serta masyarakat adalah sebagai berikut : 1) Kurangnya pemahaman serta kepedulian masyarakat dan dunia usaha mengenai pentingnya keselarasan fungsi sosial, ekonomi dan lingkungan hidup dari sumber daya air. 2) Kurangnya keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya air. 3) Kurangnya keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air di tingkat wilayah sungai. 4) Belum adanya pendidikan dan pelatihan serta pendampingan dari masyarakat agar mampu berperan dalam pengelolaan sumber daya air. 5) Dalam pengambilan keputusan terkait .dengan pengelolaan SDA, peran masyarakat masih kurang dilibatkan. 6) Masyarakat kurang dilibatkan pada tahap pelaksanaan konstruksi dalam pengelolaan SDA. 7) Wadah untuk mengkoordinasi masyarakat dalam upaya pengelolaan SDA belum terbentuk
Bab II - 41

2.5.

Identifikasi Terhadap Potensi Yang Bisa Dikembangkan

Potensi yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan sumber daya air adalah sebagai berikut: 2.5.1. Aspek Konservasi Sumber Daya Air Potensi pada aspek konservasi yang dapat dikembangkan adalah 1) Potensi perlindungan dan pelestarian sumber air antara lain : a) Pengendalian budidaya pertanian terutama di daerah hulu (seperti jagung) agar sesuai dengan kemiringan lahan dan kaidah konservasi tanah dan air. hal ini sudah direncanakan oleh Instansi terkait Dinas Kehutanan dan BPDAS dengan menyiapkan program 20 tahunan seperti terlampir. b) Adanya potensi tampungan air dengan membangun waduk, embung, sumur resapan, menambah ruang terbuka hijau serta mengendalikan alih fungsi lahan untuk pembangunan permukiman, perkotaan dan industri. c) Tersedianya cekungan air tanah untuk menentukan zona imbuhan dan zona pengambilan air tanah, yang hasilnya dapat diakses oleh masyarakat. d) Tersedianya lahan untuk keperluan rehabilitasi hutan dan lahan pada daerah aliran sungai prioritas yang dilakukan secara partisipasif dan terpadu. 2) Potensi peningkatan pengawetan air antara lain : a) Ada beberapa potensi untuk penampungan air melalui pembangunan seperti waduk Jambo Aye yang sedang dalam tahap Detail Desain. b) Air tanah yang tersedia belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. 3) Potensi Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air : a) Masih dimungkinkannya pengendalian pestisida di tingkat usaha tani dan perkebunan. b) Masih dimungkinkannya pengendalian erosi dari daerah aliran sungai dengan upaya rehabilitasi hutan dan konservasi tanah

Bab II - 42

Gambar 2.17.

Peta Arahan Kegiatan Sipil Teknis WS Jambo Aye

Gambar 2.18. Peta Arahan Kegiatan Vegetatif pada WS Jambo Aye

Bab II - 43

2.5.2. Aspek Pendayagunaan SDA Potensi pendayagunaan sumber air yang dapat dikembangkan adalah : 1) Potensi penatagunaan sumber air antara lain : a) Masih memungkinkan dilakukan penyesuaian penataan kembali terhadap zona pemanfaatan sumber air untuk dijadikan acuan bagi penyusunan atau perubahan rencana tata ruang wilayah dan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai. b) Kawasan permukiman dan kawasan industri masih terbatas 2) Potensi ketersediaan air antara lain Jumlah air yang tersedia masih mencukupi untuk memenuhi seluruh pengguna air di seluruh WS Jambo Aye khususnya di DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak.. 3) Potensi pengembangan sumber daya air Sumber daya air yang ada dan topografi serta kondisi geologi sangat mendukung untuk dilakukan pengembangan sumber daya air guna memenuhi kebutuhan air bagi seluruh pengguna melalui pembangunan waduk, bendung, embung, dan lain sebagainya. Hal ini dapat menambah areal lahan irigasi baru yang masih tersedia dengan adanya waduk Jambo Aye dan dapat memenuhi air baku serta PLTA. 2.5.3. Aspek Pengendalian Daya Rusak Air Potensi yang dapat dikembangkan dalam rangka pengendalian daya rusak air adalah : 1) Potensi upaya pencegahan antara lain : a) Masih dimungkinkannya dilakukan penataan daerah yang rawan bencana banjir dengan memaksimalkan sistem drainase di bagian hilir khususnya did aerah pemukiman. b) Sumber daya material tersedia untuk kegiatan pengendalian banjir dan pengendalian erosi c) Tersedianya daerah yang cukup aman untuk keperluan evakuasi apabila terjadi bencana banjir. d) Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir sudah beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. e) Masih tersedianya tempat / lokasi untuk keperluan pembangunan prasarana pengendalian banjir.

Bab II - 44

2) Potensi upaya penanggulangan daya rusak air antara lain : a) Masih dimungkinkan pembuatan sistem prakiraan dan peringatan dini untuk mengurangi dampak daya rusak air. b) Peningkatan pengetahuan, kesiap siagaan, dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana akibat daya rusak air, antara lain dengan melakukan simulasi dan peragaan mengenai cara-cara penanggulangan bencana oleh para pemilik kepentingan. 3) Dengan adanya pembangunan Waduk/Bendungan Jambo Aye diharapkan daerah rawan banjir dapat diatasi seperti gambar berikut : 2.5.4. Aspek Sistem Informasi Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Potensi sistem informasi dalam pengelolaan sumber daya air 1) Sebagian data sumber daya air sudah tersedia 2) Perangkat lunak untuk data base sumber daya air mudah diperoleh 3) Pengembangan sistem informasi sumber daya air 4) Tersedia sumber daya manusia yang mampu untuk mengelola data base sumber daya air 5) Sudah tersedia wadah organisasi yang mengelola data base sumber daya air di Balai Wilayah Sungai Sumatera I 6) Melakukan koordinasi dengan Instansi terkait dari Pemerintah Daerah terkait dalam pengelolaan SISDA

2.5.5. Aspek Peran Serta Masyarakat & Dunia Usaha Dalam Pengelolaan SDA Potensi peran serta masyarakat daya air antara lain : 1) Keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan kebijakan, pelaksanaan dan pengawasan dalam pengelolaan sumber daya air 2) Keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air di tingkat wilayah sungai. 3) Koordinasi dengan Pemerintah Daerah dalam pengelolaan SDA. 2.5.6. Resume Potensi Yang dapat Dikembangkan pada WS Jambo Aye Resume potensi yang masih dapat dikembangkan di Wilayah Sungai Jambo Aye : a. Potensi Pertambangan dan dunia usaha dalam pengelolaan sumber

Bab II - 45

- Penambangan galian C di wilayah Kec. Jamur Labu, Kec. Lokop, Kec. Arakundo, Kec. Pendawa Kec. Simpang Jernih, Kec. Bireun Bayeun, Kec. Peunaron, Kec. Serbajadi dan Kec. Alurteh. Kabupaten Aceh Timur. - Penambangan Emas di Kec. Lokop Kabupaten Aceh Timur b. Potensi Hutan Rakyat Tersebar di beberapa kawasan di 4 (empat) Kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. c. Potensi Pertanian dan Perkebunan Pengembangan kawasan pertanian baru di wilayah kawasan Kec. Simpang Jernih, Kec. Jamur Labu Kec. Peunaron dan Kec. Indramakmur, Kabupaten Aceh Timur. Perkebunan karet di wilayah Kec. Bireun, kec. Jolok dan Kec. Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur Pengembangan kawasan pertanian baru memungkinkan dilakukan di Kec. Soweng, Kec. Kuta Makmur, Kec. Geurodong Pase, Kec. Tanah Luas, Kec. Raya Bakong, Kec. Cot Girek, Kec. Langkahan, Kec. Baktiya dan Kec. Murah Mulia, Kabupaten Aceh Utara. d. Potensi Rawa/Perikanan/Tambak Terdapat potensi tambak terutama di daerah Kec. Kuta Bijai, Kec. Madat, Kec. Bagok, Kec. Idi Rayeuk dan Kec. Idi Cut, Kabupaten Aceh Timur. Potensi rawa yang belum secara maksimal dikembangkan di Kec. Pantai Bidari Kab. Aceh Timur Terdapat kolam ikan dan tambak yang masih bisa dikembangkan di Kec. Wih Pesam, Kec. Kenawat dan Desa Pante Raya Kec. Bukit, Kabupaten Bener Meriah e. Potensi Pembangunan Infrastruktur (Waduk/Embung) Pembangunan waduk besar bisa dilakukan di daerah Jambo Reuhat-Idi, Uteun Dama-Peureulak, Blan Seunong Pantai Bidari Kabupaten Aceh Timur. Potensi pembangunan waduk di Sungai Jambo Aye. Potensi pembangunan waduk besar juga bisa dilakukan di Kec. Langkahan, Kec. Cot Girek, Kec. Raya bakong, Kec. Tanah Luas dan Kec. Geurundong Pase Kabupaten Aceh Utara. Pembangunan waduk besar dapat dilakukan di Sungai Wihni Delung Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah.

Bab II - 46

Gambar 2.19.

Peta Potensi Pengembangan SDA dan Potensi Rawan Bencana WS Jambo

Bab II - 47

BAB 3 ANALISA DATA

3.1.

Asumsi, Kriteria dan Standar

Dasar yang digunakan dalam melakukan pengelolaan sumber daya air, antara lain mencakup analisis kondisi yang ada, asumsi, standar, dan kriteria. Asumsi, standar dan kriteria tersebut perlu ditetapkan secara jelas. Kejelasan tersebut diperlukan dalam penyusunan skenario, strategi dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. Asumsi dan kriteria dan standar yang digunakan dalam analisis data antara lain yang termuat didalam: Pedoman Perencanaan Wilayah Sungai, Ditjen Sumber Daya Air, 2004 Standar Kriteria Perencanaan Irigasi KP-01 Pedoman Penyusunan Pola Pengelolaan DAS terpadu (Lahan Kritis) P39.MenHut-II/2009 Kriteria Kelas Mutu Air sesuai dengan PP No.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas air dan Pengendalian Pencemaran Air dan Peraturan Daerah terkait Perhitungan Erosi dengan menggunakan Model USLE (Universal Soil Loss Equation) Metode, analisis dan perhitungan sesuai dengan SNI Skenario Kondisi Ekonomi, Politik, Perubahan Iklim pada WS Jambo Aye Skenario kondisi wilayah sungai merupakan asumsi tentang kondisi pada masa yang akan datang yang mungkin terjadi, misalnya : kondisi perekonomian, perubahan iklim atau perubahan politik dan lain sebagainya. Skenario kondisi wilayah sungai ditinjau pada setiap atau masing aspek pengelolaan sumber daya air, yaitu konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air, sistem informasi sumber daya air serta pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha yang menggambarkan kondisi wilayah sungai yang ada (eksisting) serta kondisi wilayah sungai masa mendatang yang akan diharapkan.

3.2.

Bab III - 1

Penyusunan skenario kondisi wilayah sungai disusun secara prioritas mulai dari aspek-aspek yang paling dominan di masing-masing wilayah sungai. Dari ke 5 (lima) aspek pengelolaan sumber daya air akan terdapat 1 (satu) ataupun lebih permasalahan yang diprioritaskan serta potensi yang akan dikembangkan. Halhal tersebutlah yang dapat diterjemahkan kedalam skenario kondisi wilayah sungai, sebagai contoh skenario kondisi wilayah sungai berdasarkan (a) kebijakan yang berlaku pada wilayah sungai, (b) kondisi alam, (c) kondisi ekonomi, (d) kondisi politik 3.2.1. Asumsi Skenario Pertumbuhan Ekonomi Skenario yang diasumsikan dalam
Pola Pengelolaan SDA WS Jambo Aye

berdasarkan pada Permen No. 22/2009 yang memuat parameter utama untuk

dipertimbangkan, yakni (a) Tatakelola Pemerintahan (Perubahan Politik), (b)


Pertumbuhan Ekonomi, (c) Perubahan Iklim dan (d) Pertumbuhan Penduduk

Tabel 3.1.

Parameter Skenario Dalam Pengelolaan SDA WS Jambo Aye


Penjelasan Current Trend (CT); Mengasumsikan bahwa situasi tatakelola pemerintahan saat ini kurang lebih sama atau status quo. Kebijakan yang berorientasi pada masalah yang mendesak dan solusi jangka pendek, mengikuti kecenderungan saat ini dan melanjutkan pembangunan yang sudah berjalan

Parameter

Tatakelola Pemerintahan (Perubahan Politik)

Good Governance (GG); Tatakelola pemerintahan dan pengelola SDA WS Jambo Aye mampu melaksanakan Tatakelola Pemerintahan yang baik dan mampu meyakinkan semua stakeholders untuk melaksanakan rencana yang telah diberikan. Pelaksanaan secara proaktif dari kebijakan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan dengan penegakan hukum dan dukungan stakeholders yang memadai. (Permen No. 44/2007 tentang Pedoman Umum Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Menerapkan Prinsip-Prinsip Tatakelola Pemerintahan yang Baik dalam lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum) Kisaran Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Aceh antara 6,0 6,5% (Sedang ke Tinggi),

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan variasi pada masa lalu, tapi dengan kecenderungan stabil antara (5,5 dan 6,2) % per tahun. Sehingga dalam skenario in digunakan 3 (tiga) tingkat pertumbuhan ekonomi: Pertumbuhan Ekonomi Rendah, Pertumbuhan Ekonomi Sedang, dan Pertumbuhan Ekonomi Tinggi. Diasumsikan terjadi perubahan anomali Iklim dengan kenaikan dan/atau penurunan curah hujan 0.3 mm/hari) Diasumsikan pertumbuhan penduduk stabil pada kisaran 1,4% per tahun dan menurun.

Perubahan iklim Pertumbuhan penduduk

Sumber : PerMen 22/PRT/M/2009

Bab III - 2

Berdasarkan analisis pertumbuhan ekonomi dikategorikan kedalam skenario pertumbuhan ekonomi rendah, sedang dan tinggi dengan kriteria sebagai berikut : Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 : : : Pertumbuhan ekonomi rendah apabila pertumbuhan ekonomi < 5,0 % Pertumbuhan ekonomi sedang apabila pertumbuhan ekonomi 5,0 % - 6,0 % Pertumbuhan ekonomi tinggi apabila pertumbuhan ekonomi > 6,0 % Dari uraian diatas skenario pengelolan SDA wilayah Sungai Jambo Aya disusun secara prioritas mulai dari aspek-aspek yang memiliki pengaruh signifikan dalam pengelolaan sumber daya air. Dalam penyusunan Skenario WS Jambo Aye pengaruh yang significant adalah masalah banjir dan konservasi kemudian prioritas lainnya pendayagunaan SDA terkait kebutuhan air serta aspek pendukung yaiitu kelembagaan dan system informasi SDA. Skenario dari masing-masing aspek selanjutnya dilakukan peninjauan terhadap kondisi perekonomian suatu daerah yang berada Wilayah Sungai Jambo Aye yang terdiri dari beberapa Kabupaten/kota. Dari masing masing aspek pengelolaan SDA tersebut ditinjau terhadap perekonomian Wilayah Sungai Jambo Aye yang menghasilkan kegiatan untuk masing-masing skenario perekonomian yaitu kuat, sedang dan rendah. Dibawah ini dijelaskan secara ringkas skenario yang diusulkan berdasarkan analisis dengan mempertimbangkan kondisi WS Jambo Aye. Berdasarkan hasil analisis untuk seluruh aspek terkait yaitu konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air serta arahan yang ada dalam Peraturan Pemerintah No 42/2008 tentang pengelolaan SDA akan ditetapkan beberapa skenario pengelolaan SDA WS Jambo Aye meliputi skenario Konservasi SDA, Skenario Pendayagunaan SDA dan Skenario Pengendalian DRA. Sebagai asumsi skenario pengelolaan SDA ditinjau terhadap perkembangan substansi pokok dan pertambahan kebutuhan air dijabarkan dalam matriks dibawah ini.

Bab III - 3

Untuk pengelolaan SDA WS Jambo Aye dilakukan dengan beberapa skenario sebagai berikut : Tabel 3.2.
No A. 1 2 3 4 B. 1.

Asumsi Skenario Dalam Pnegelolaan SDA WS Jambo Aye


Aspek Satuan Skenario Tahun 2011 - 2031 Optimis Normal Pesimis (Kuat) (Sedang) (Rendah) baik 7,0 Naik 0,3 mm/hari 2,0 6,0 Normal 1,7 5,0 Turun 0,3 mm/hari 1,4

Substansi Pokok dalam Skenario Tata Kelola Pemerintahan Pertumbuhan Ekonomi Perubahan Iklim (Curah Hujan) Pertumbuhan Penduduk Infrastrutur Upaya Pendayagunaan SDA a. Air RKI dan Lainnya b. Air Irigasi / Tambak c. PLTA / PLTM Infrastruktur untuk upaya Konservasi SDA Infrastruktur untuk upaya penanggulangan Daya Rusak Air % % % % % Normal (+ 20%) Normal (+ 20%) Normal (+ 20%) Normal (+ 20%) Normal (+ 20%) Normal Normal Normal Normal Normal Normal (-15%) Normal (-15%) Normal (-15%) Normal (-15%) Normal (-15%) % tahun mm/hari % tahun

Indikasi Pertambahan Kebutuhan Air atau Infrastruktur Akibat Skenario

2. 3.

Sumber : Analisis Dari uraian diatas, dalam menentukan Pengelolaan SDA WS Jambo Aye khususnya penyediaan air kurun waktu 2011-2031 menggunakan skenario perekonomian rendah, sedang dan tinggi sesuai kemampuan yang dapat dilakukan dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan minimal terpenuhi.. Gambar 3.1 memperlihatkan Grafik kebutuhan air per skenario pengelolaan

Gambar 3.1. Skenario Kebutuhan Air WS Jambo Aye (2010-2031)

Bab III - 4

3.2.2. Skenario Pengelolaan SDA WS Jambo Aye A. Skenario Pertumbuhan Ekonomi Rendah Skenario pertumbuhan ekonomi rendah menitik beratkan kepada : Mempertahankan kebutuhan air irigasi yang ada dan kebutuhan air lainnya khusus keadaan saat ini sampai dengan yang akan datang. Meningkatkan ketersediaan air dengan merehabiltasi jaringan irigasi dan pengelolaan air secara efektif dalam rangka efisiensi air irigasi. Melaksanakan pemantapan konservasi sesuai upaya saat ini. Pengembangan Daerah Irigasi Jambo Aye Kanan (Extension) sebesar 3000 Ha (Tahap I) dari 6.924 Ha dan Daerah Irigasi Peureulak seluas 5000 Ha. Pengembangan Irigasi Desa seluas 4000 Ha tersebar di beberapa DAS. B. Skenario Pertumbuhan Ekonomi Sedang Skenario pertumbuhan ekonomi menengah menitik beratkan kepada : Pengembangan pemanfaatan air dan sumber air beserta operasi dan pemeliharaannya untuk kepentingan berbagai sektor pada saat ini dan masa yang akan datang seperti membangun jaringan irigasi yang belum berfungsi. Meningkatkan ketersediaan air dengan merehabiltasi jaringan irigasi dan pengelolaan air secara efektif dalam rangka efisiensi air irigasi. Melaksanakan pemantapan dan pengoperasiannya upaya konservasi saat ini dan yang akan datang seperti rehabilitasi hutan, penghutanan kembali. untuk dapat menjaga kawasan lindung, kawasan resapan air, Membangun Daerah Irigasi Jambo Aye Kanan (Extension) seluas 3.000 Ha menjadi 22.473 Ha dan Daerah Irigasi Peureulak seluas 5.000 Ha. Membangun Waduk/Bendungan Jambo Aye untuk memenuhi kebutuhan air irigasi suplesi DI Alu Bay 4.200 Ha, air baku, Pengendalian Banjir, Konservasi, air baku dan PLTA serta pengembangan irigasi Jambo Aye mencapai 26.397 Ha. Pengembangan Irigasi Desa seluas 4000 Ha tersebar di beberapa DAS Rehabilitasi Jaringan Irigasi Teknis, Semi teknis dan Irigasi Desa yang meliputi seluas 39.284 Ha. C. Skenario Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Skenario pertumbuhan ekonomi tinggi menitik beratkan kepada :

Bab III - 5

Pengembangan pemanfaatan air dan sumber air beserta operasi dan pemeliharaannya untuk kepentingan berbagai sektor pada saat ini dan masa yang akan datang seperti membangun jaringan irigasi baru dengan memanfaatkan air waduk-waduk baru, membangun sarana pelayanan air minum untuk daerah pedesaan/perkotaan yang belum terjangkau PDAM. Meningkatkan ketersediaan air dengan merehabiltasi jaringan irigasi dan pengelolaan air secara efektif dalam rangka efisiensi air irigasi. Mengembangkan upaya konservasi untuk saat ini dan yang akan datang seperti rehabilitasi hutan, reboisasi, penghijauan, penghutanan kembali, audit lingkungan dan lain-lain untuk dapat menjaga kawasan lindung dan kawasan resapan air . Membangun Daerah Irigasi Jambo Aye Kanan (Extension) seluas 6.924 Ha menjadi 26.397 Ha dan Daerah Irigasi Peureulak seluas 5.000 Ha serta irigasi desa 4.000 Ha. Membangun Waduk/Bendungan Jambo Aye untuk memenuhi kebutuhan air irigasi suplesi DI Alue Bay 4.200 Ha, air baku 4,2 m3/dt, Pengendalian Banjir, Konservasi, dan PLTA serta pengembangan irigasi Jambo Aye mencapai 26.397 Ha. Rehabilitasi Jaringan Irigasi Teknis, Semi teknis dan Irigasi Desa yang meliputi seluas 39.284 Ha Neraca air Wilayah Sungai Jambo Aye dari masing-masing skenario ditampilkan pada gambar berikut :

Bab III - 6

Gambar 3.2. Neraca Air WS Jambo Aye Skenario 1 (Pertumbuhan Ekonomi Rendah) Pada skenario pertumbuhan ekonomi rendah ini Potensi Air WS Jambo Aye adalah masih surplus, tetapi perlu upaya pemanfaatan air untuk memenuhi kebutuhan air di WS Jambo Aye. Hanya di beberapa DAS perlu peningkatan Jaringan untuk memenuhi kebutuhan air akibat kehilangan air.

Bab III - 7

Gambar 3.3. Neraca Air WS Jambo Aye Skenario 2 (Pertumbuhan Ekonomi Sedang) Pada skenario pertumbuhan ekonomi sedang ini Potensi air WS Jambo Aye adalah masih surplus, maka perlu pengembangan daerah irigasi yang belum berfungsi di Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara. Namun adanya pengembangan daerah irigasi perlu upaya untuk memenuhi kebutuhan air dengan cara Pembangunan Waduk/Bendungan Jambo Aye dan masih dapat dikembangkan untuk areal baru dengan adanya debit suplai dari waduk Jambo Aye.

Bab III - 8

Gambar 3.4. Neraca Air WS Jambo Aye Skenario 3 (Pertumbuhan Ekonomi Tinggi) Pada skenario pertumbuhan ekonomi tinggi ini Potensi air WS Jambo Aye adalah masih surplus, Dengan adanya pengembangan daerah irigasi yang baru di dua kabupaten perlu upaya membangun sarana pelayanan air minum dan, membangun Waduk/Bendungan Jambo Aye untuk memenuhi kebutuhan air irigasi suplesi DI Alue Bay 4.200 Ha, air baku 4,2 m3/dt, Pengendalian Banjir, Konservasi, dan PLTA 110 MW serta pengembangan irigasi Jambo Aye mencapai 26.397 Ha.

Bab III - 9

3.3.

Alternatif Pilihan Strategi Pengelolaan SDA pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) WS Jambo Aye disusun

Strategi

berdasarkan arah kebijakan Nasional Pengelolaan SDA, Kebijakan Provinsi Aceh, permasalahan SDA yang ada di WS Jambo Aye, masukan dan usulan dari Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM), dan analisis konsultan yang didasarkan analisa SWOT dan rasionalisasi program (analisis Hymos dan Ribasim) serta penentuan prioritas program berdasarkan pada kebutuhan mendesak. Arah kebijakan pengelolaan SDA WS Jambo Aye mengacu pada arah kebijakan nasional yang telah diatur dalam Undang-undang No. 7 tahun 2004 tentang SDA yang meliputi Konservasi SDA, Pendayagunaan SDA dan Pengendalian Daya Rusak Air. Langkah-langkah dalam Perumusan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air ditetapkan sebagai berikut : 1. Tinjauan atas Lingkup Kebijakan Nasional dan Provinsi serta Kebijakan Pengelolaan Wilayah Sungai Jambo Aye 2. Kajian Strategi Yang diusulkan dengan Prioritas yang sesuai dengan Kondisi Wilayah Sungai Jambo Aye. 3. Analisa Kecenderungan Masa Lalu, Sekarang dan Mendatang, dalam Aspek Sumber Daya Air (Mencakup Sosial Ekonomi, Kelembagaan, Fisik DAS, Wilayah Sungai, Ketersediaan dan Kebutuhan Air ) dan Sektor Terkait. 4. Tinjauan Atas Permasalahan yang diidentifikasi dalam Potensi dan Tantangan untuk Menjamin bahwa Strategi yang dirumuskan, tanggap terhadap berbagai permasalahan tersebut. 5. Perumusan Strategi dan Komponennya yang mengacu pada Isu Pokok 1. Aspek Strategi Konservasi Strategi Pengelolaan SDA untuk aspek konservasi SDA WS Jambo Aye diarahkan untuk dapat: (a) Menetapkan dan mengelola daerah resepan air dalam rangka penyediaan air bagi kemanfaatan umum secara berkelanjutan dan pengurangan daya rusak air.

Bab III - 10

(b) Meningkatkan, memulihkan dan mempertahankan daya dukung, daya tampung dan fungsi DAS untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. (c) Memulihkan dan mempertahankan kualitas air guna memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan. Dari tiga butir strategi pokok tersebut, beberapa kegiatan di WS Jambo Aye dapat diuraikan berupa: 1) Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air. a) Rehabilitasi dan perlindungan hutan. b) Reboisasi kawasan hutan yang rusak. c) Penatagunaan lahan sesuai dengan kaidah-kadiah konservasi tanah. d) Pelestarian dan perlindungan sumber air serta inventarisasi sumber daya air secara menyeluruh sehingga kerusakan ekosistem sumber daya air dapat dicegah. e) Penertiban penambangan galian. f) Pemutihan perijinan penambangan di lokasi Kawasan Pertambangan

2) Pengawetan Air a) Peningkatan pemanfaatan air permukaan dengan cara antara lain: Pengendalian aliran permukaan untuk memperpanjang waktu air tertahan di atas permukaan tanah dan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah melalui: pengolahan tanah untuk setiap aktivitas budidaya pertanian, penanaman tanaman menurut garis kontur (contour cultivation), atau penanaman dalam strip (system penanaman berselang seling antara tanaman yang tumbuh rapat (misal rumput leguminosa) dan strip tanaman semusim, pembuatan teras yang dapat menyimpan air, misalnya teras bangku konservasi, pembangunan waduk dan embung. Penyadapan air (water harvesting) Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah dengan cara memperbaiki struktur tanah.. Pengolahan tanah minimum (minimum tillage) b) Pengelolaan air tanah, dilakukan antara lain dengan: perbaikan drainase yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman melalui fasilitas drainase permukaan, drainase dalam, atau kombinasi keduanya.

Bab III - 11

c) Peningkatan

efisiensi

penggunaan

air

irigasi

antara

lain

dengan:

pengurangan tinggi penggenangan atau pembenian air, mengurangi kebocoran saluran irigasi dan galengan, pergiliran pemberian air, dan pemberian air secara terputus. Dua aktivitas terakhir ini harus disertai dengan peraturan dan pengawasan yang ketat dan tegas. 3) Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air a) Penetapan kelas air dan baku mutu air pada sumber air (peruntukan air pada sumber air) di Prov/Kab./Kota terkait b) Pengendalian dan Pengawasan Kualitas Air c) Pengendalian dan pengawasan penggunaan pupuk dan pestisida d) Pengelolaan kali bersih dengan kontrol yang ketat terhadap pembuangan limbah domestik e) Pengendalian (monitoring dan evaluasi) serta Pengawasan Pembuangan Limbah Cair f) Pelaksanaan audit lingkungan Jambo Aye h) Pembuatan sistem pengolahan pada sumber air, khususnya pada sumber air permukaan, seperti : aerasi, bio-remediasi, ecotech 2. Aspek Strategi Pendayagunaan SDA Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pendayagunaan SDA di WS Jambo Aye di arahkan untuk dapat: 1) Mengupayakan penyediaan Air untuk berbagai kepentingan secara proporsional dan berkelanjutan. 2) Mengupayakan penataan sumber air secara layak. 3) Memanfaatkan sumber daya air dan prasarananya sebagai media/materi sesuai prinsip penghematan penggunaan, ketertiban dan keadian, ketepatan penggunaan, keberlanjutan penggunaan, dan saling menunjang antara sumber air dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan 4) Meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air, dan atau peningkatan ketersediaan dan kualitas air 5) Mendayagunakan potensi sumber daya air secara berkelanjutan 6) Meningkatkan efisiensi alokasi air dan distribusi kemanfaatan sumber air g) Pengendalian dan pengawasan sumber pencemar pada DAS - DAS di WS

Bab III - 12

Dari beberapa butir strategi pokok tersebut beberapa kegiatan di Wilayah Sungai Jambo Aye dapat diuraikan berupa: 1) Penetapan zona pemanfaatan sumber air (1) Penetapan zona pemanfaatan sumber air ke dalam peta tata ruang wilayah Kabupaten di Wilayah Sungai Jambo Aye (Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah) (2) Penetapan zona pemanfaatan sumber air yang sudah dikoordinasikan melalui TKPSDA/ Dewan SDA Wilayah Sungai Jambo Aye 2) Peruntukan, Penyediaan, Penggunaan dan Pengembangan SDA (1) Penetapan peruntukan air untuk berbagai kepentingan. (2) Penyediaan air sesuai prioritas yaitu untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat. (3) Penetapan ijin penggunaan air berkaitan dengan hak guna air. (4) Pengembangan (AMDAL) (5) Pengembangan terhadap modifikasi cuaca untuk menambah volume sumber air (6) Pemenuhan ketersediaan air dan pengembangan sumber daya air untuk memenuhi berbagai kepentingan (air baku , irigasi, pengendalian banjir, PLTA dan pemeliharaan lingkungan) (7) Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang baru khususnya di daerah yang belum terjangkau oleh sistem PDAM 3) Pengusahaan SDA (1) Pengusahaan SDA tanpa mengabaikan fungsi sosial SDA. (2) Pemenuhan kebutuhan air bersih untuk rumah tangga, industri dan perkotaan (3) Optimasi pemanfaatan daya air untuk pembangkit listrik tenaga air / PLTA melalui tahapan studi, perencanaan dan pembangunan dilengkapi dengan studi Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 3. Aspek Strategi Pengendalian Daya Rusak Air Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air pada aspek Pengendalian Daya Rusak Air di WS Jambo Aye di arahkan untuk dapat: a) Mengupayakan sistem pencegahan bencana akibat daya rusak air SDA dilakukan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan dan dilengkapi dengan studi Analisis Dampak Lingkungan

Bab III - 13

b) Meningkatkan

peran

masyarakat

dalam

pencegahan

dan

penanggulangan daya rusak air Dari dua butir strategi pokok tersebut, beberapa kegiatan di WS Jambo Aye dapat diuraikan antara lain: a) Pencegahan daya rusak air (1) Penetapan zona rawan banjir, kekeringan, erosi, sedimentasi, tanah longsor, banjir lahar dingin, amblesan tanah, perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi dan fisikan air, kepunahan flora dan fauna serta wabah penyakit. (2) Pengendalian Banjir dan Pengembangan Sumber Daya Air di : Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah (3) Pengerukan muara sungai yang mengalami pendangkalan yaitu muara Sungai Jambo Aye dan muara sungai lainnya yang mengalami pendangkalan/ penyempitan (4) Pengendalian pemanfaatan kawasan rawan bencana dengan melibatkan masyarakat (5) Membuat sistem peringatan dini di lokasi rawan bencana (6) Pelaksanaan sistem peringatan dini bahaya banjir termasuk sistem evakuasi (7) Monitoring dan evaluasi sistem peringatan dini b) Penanggulangan daya rusak air (1) Pelaksanaan tindakan penanggulangan kerusakan dan atau bencana akibat daya rusak air. (2) Penetapan prosedur operasi standar penanggulangan bencana alam. (3) Penyampaian berita tentang kejadian bencana alam. (4) Penyaluran bantuan dan melakukan penanggulangan darurat c) Pemulihan daya rusak air Pemulihan sarana dan prasarana merupakan penanganan pasca bencana, baik berupa bencana banjir, bencana kekeringan maupun bencana tanah longsor sebagai berikut . 1) Rehabilitasi kerusakan sarana dan prasarana pengendalian banjir maupun bangunan pengamanan pantai. Rehabilitasi bangunan pengendali banjir yang telah ada pada sungai Jambo Aye Rehabilitasi bangunan pengaman pantai

Bab III - 14

2) Rehabilitasi / pengamanan tebing kritis dan muara sungai Pengamanan/ perkuatan tebing kritis Sungai Jambo Aye Pembuatan krib pengarah arus pada lokasi alur sungai di muara Sungai Jambo Aye 3) Menumbuh kembangkan peran masyarakat dalam kegiatan pemulihan akibat bencana. 4) Revitalisasi wadah-wadah air pada daerah aliran sungai termasuk kawasan pantai. 4. Aspek Strategi Sistem Informasi Data Strategi sistem informasi data di WS Jambo Aye dapat diuraikan berupa : a) Menyediakan data dan infromasi sumber daya air yang akurat, tepat waktu, berkelanjutan dan mudah. b) Memudahkan pengaksesan data dan infromasi oleh masyarakat, swasta dan dunia usaha. c) Pembangunan sistem informasi (hardware dan software) Sumber Daya Air di tingkat provinsi/BWS Sumatera I dan tingkat kabupaten. d) Pengembangan sistem informasi Sumber Daya Air. e) Penyusunan data base Pengelolaan WS Jambo Aye secara terintegrasi mencakup seluruh DAS (mulai dari pengumpulan data dari sumber sampai dengan pusat data) f) Pemutakhiran data base (termasuk data spasial) Pengelolaan WS Jambo Aye. g) Evaluasi Sistem Informasi Sumber Daya Air termasuk pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dinas instansi yang terkait dalam Pengelolaan Sumber Daya Air. h) Evaluasi pelaksanaan nota kesepahaman dalam pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai dan forum koordinasi di WS Jambo Aye. 5. Aspek Strategi Peran Serta Masyarakat Strategi peran serta masyarakat di WS Jambo Aye dapat diuraikan berupa : a) Pelibatan masyarakat dalam tahap perencanaan pengelolaan Sumber Daya Air b) Pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan, pengawasan dan pemeliharaan Sumber Daya Air.

Bab III - 15

c) Meningkatkan kinerja lembaga pemerintah dalam pengelolaan sumber daya air d) Meningkatkan e) Pembinaan f) koordinasi ditingkat lintas kabupaten/kota pemanfaatan dalam dan pengelolaan sumber daya air dan pengawasan pembangunan, pemeliharaan sarana dan prasarana Sumber Daya Air di WS Jambo Aye Pelatihan tentang pelaksanaan, pemanfaatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana Sumber Daya Air yang bisa dikelola oleh masyarakat di WS Jambo Aye

Bab III - 16

BAB 4 KEBIJAKAN OPERASIONAL PENGELOLAAN SDA

Kebijakan operasional untuk melaksanakan strategi pengelolaan sumber daya air merupakan Arahan Pokok untuk melaksanakan strategi pengelolaan sumber daya air yang telah ditentukan. Kebijakan operasional dalam pengelolaan sumber daya air mencakup lima aspek pengelolaan sumber daya air, yaitu: aspek konservasi sumber daya air, aspek pendayagunaan sumber daya air, aspek pengendalian daya rusak, aspek sistem informasi sumber daya air serta aspek kelembagaan dan peran serta masyarakat. Kebijakan Operasional tersebut disusun untuk setiap alternatif pilihan strategi berdasarkan skenario pertumbuhan ekonomi yaitu kondisi skenario pertumbuhan ekonomi baik rendah, sedang, maupun tinggi. Kebijakan Operasional dalam pengelolaan sumber daya air menurut skenario dan alternatif strategi jangka pendek, menengah dan panjang ditampilkan pada Tabel 4.1 sampai dengan Tabel 4.3 dan Gambar 4.1 sampai dengan Gambar 4.5 berikut yang berisi: 1. 2. 3. Strategi untuk masing-masing skenario (jangka pendek, menengah dan jangka panjang) Kebijakan operasional untuk melaksanakan strategi Instansi/lembaga yang terkait dalam pelaksanaan kebijakan operasional

Bab IV - 1

KEBIJAKAN OPERASIONAL PENGELOLAAN WILAYAH SUNGAI JAMBO AYE SKENARIO (PERTUMBUHAN EKONOMI RENDAH)

Bab IV - 2

Tabel 4.1. KEBIJAKAN OPERASIONAL POLA PENGELOLAAN WILAYAH SUNGAI JAMBO AYE SKENARIO (PERTUMBUHAN EKONOMI RENDAH)

ASPEK KONSERVASI SUMBER DAYA AIR No I Sub Aspek 1 PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER DAYA AIR Hasil Analisa Kerusakan hutan lindung dan hutan konservasi Kondisi Lahan pada WS Jambo Aye adalah Lahan kritis 112.563 ha (14,50%); agak kritis 229.467 Ha (29,56%), potensial kritis 359.726 ha (46,33%), Sangat kritis 29.249 (3,77%) dan Tidak Kritis 45.376 ha (5,84% ) Sasaran/Target yang ingin dicapai Kelestarian hutan lindung dan hutan konservasi dapat terjaga dengan target : 1. penghijauan /agroforestry/hutan rakyat seluas 115.304,58 Ha 2. Reboisasi seluas 62.852,64 Ha Total 178.157,22 Ha Strategi Jangka Pendek (2011-2016) Rehabilitasi hutan lindung dan hutan konservasi dengan luas 10 % dari luasan hutan yang rusak disertai peningkatan upaya perlindungan kawasan dengan sasaran bagian hulu yang mempunyai lereng antara 2540% 1) Kabupaten Bener Meriah seluas 37,560 Ha meliputi reboisasi 16,845 Ha dan agroforestry 20,715 Ha 2) Kabupaten Aceh Utara seluas 606,07 Ha meliputi 51,64 Ha Reboisasi dan Agroforestry 20,715 Ha 3) Kabupaten Aceh Timur 91,642 Ha meliputi reboisasi 9,971Ha dan agroforetry 81,670 Ha. 4) Kabupaten Aceh Tengah 48,347 Ha meliputi 35,984 Ha dan agroforestry 12,363 Ha Pembinaan peladang disertai upaya rehabilitasi areal bekas perladangan dengan luas 25 % dari luasan areal bekas perladangan. Jangka Menengah (2011-2021) Rehabilitasi hutan lindung dan hutan konservasi dengan luas 30 % dari luasan hutan yang rusak disertai peningkatan upaya perlindungan kawasan dengan sasaran bagian hulu yang mempunyai lereng antara 25-40% 1) Kabupaten Bener Meriah seluas 37,560 Ha meliputi reboisasi 16,845 Ha dan agroforestry 20,715 Ha 2) Kabupaten Aceh Utara seluas 606,07 Ha meliputi 51,64 Ha Reboisasi dan Agroforestry 20,715 Ha 3) Kabupaten Aceh Timur 91,642 Ha meliputi reboisasi 9,971Ha dan agroforetry 81,670 Ha. 4) Kabupaten Aceh Tengah 48,347 Ha meliputi 35,984 Ha dan agroforestry 12,363 Ha Pembinaan peladang disertai upaya rehabilitasi areal bekas perladangan dengan luas 50 % dari luasan areal bekas perladangan. Jangka Panjang (2011-2031) Rehabilitasi hutan lindung dan hutan konservasi dengan luas 50 % dari luasan hutan yang rusak disertai peningkatan upaya perlindungan kawasan dengan sasaran bagian hulu yang mempunyai lereng antara 25-40% 1) Kabupaten Bener Meriah seluas 37,560 Ha meliputi reboisasi 16,845 Ha dan agroforestry 20,715 Ha 2) Kabupaten Aceh Utara seluas 606,07 Ha meliputi 51,64 Ha Reboisasi dan Agroforestry 20,715 Ha 3) Kabupaten Aceh Timur 91,642 Ha meliputi reboisasi 9,971Ha dan agroforetry 81,670 Ha. 4) Kabupaten Aceh Tengah 48,347 Ha meliputi 35,984 Ha dan agroforestry 12,363 Ha Pembinaan peladang disertai upaya rehabilitasi areal bekas perladangan dengan luas 100 % dari luasan areal bekas perladangan. Kebijakan Operasional Melakukan pengawasan, penyuluhan dan pelibatan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi hutan lindung dan hutan konservasi Lembaga/ Instansi Terkait Bappeda Propinsi , Kabupaten , Dinas Kehutanan, BKSDA, BPDAS, BWS.Sumatera I

Terjadinya perladangan berpindah tersebar di kawasan hutan DAS Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara (Kec. Langkahan) Kabupaten Aceh Timur (Kec. Pante Bidari) Kerusakan daerah sempadan sungai Kab. Aceh Timur

Perubahan pola perladangan menjadi menetap

Melakukan penyuluhan dan pendampingan terhadap para peladang serta melibatkan mereka dalam program rehabilitasi hutan bekas perladangan.

Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, BPDAS, BWS Sumatera I

DAS Jambo Aye bagian hilir

DAS Peureulak Hilir DAS Idi Kab. Aceh Utara DAS Jambo Aye bagian hilir

- Kawasan sempadan sungai memiliki penutupan vegetasi yang baik - Penetapan Perda Sempadan Sungai

1. Penataan dengan penanaman areal sempadan sungai terutama di wilayah Kabupaten Aceh Timur DAS Jambo Aye bagian hilir Aceh Utara - DAS Jambo Aye bagian hilir 2. Pembuatan dan Penetapan Perda sempadan sungai 3. Pemberlakukan Perda Sempadan Sungai

1. Penataan Penanaman areal sempadan sungai terutama di wilayah Kabupaten Aceh Timur DAS Peureulak Hilir Aceh Utara - DAS Jambo Aye bagian hilir 2. Pembuatan dan Penetapan Perda sempadan sungai 3. Pemberlakukan Perda Sempadan Sungai Di Seluruh Wilayah Sungai Jambo Aye

1. Penanaman areal sempadan sungai terutama di wilayah Kabupaten Aceh Timur

Penertiban Perda Sempadan Sungai Penetapan Batas Sempadan Sungai Melakukan penyuluhan pada masyarakat sekitar sungai serta melakukan penanaman areal sempadan sungai

DAS Jambo Aye bagian hilir

DaS Idi Aceh Utara

DAS Jambo Aye bagian hilir DAS Peureulak Hilir

Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, BPDAS, BWS Sumatera I

Penyiapan kawasan hulu untuk fungsi konservasi dengan ketentuan 30-45% tiap DAS terutama DAS Jambo Aye & DAS Peureulak Upaya perlindungan untuk kawasan perkotaan Terutama Kota Panton Labu, Idirayek dan Peureulak 2 PENGAWETAN AIR Terbuangnya air pada saat hujan dan kekeringan di musim kemarau Saat musim hujan air ditampung dan saat musim kemarau air dapat dimanfaatkan . Ada potensi waduk dan Embung pada DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak.(sub Das)

Untuk menghindari Sedimentasi di wilayah Hilir dan menjaga bencana longsor

Di seluruh Wilayah Sungai terutama di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah

- DAS Jambo Aye bagian hilir 2. Pembuatan dan Penetapan Perda sempadan sungai 3. Pemberlakukan Perda Sempadan Sungai Di Seluruh Wilayah Sungai Jambo Aye

Melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk penyiapan kawasan Hulu untuk fungsi Konservasi

Upaya perlindungan untuk kawasan perkotaan

Pemberian Batasan Kawasan Yang Dipilih Untuk Disiapkan Sebagai Kawasan Terbangun dan pembatasan Intensitas kawasan terbangun dengan pemberian ketentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan penyiapan Koefisien Dasar Hijau (KDH) Perlindungan daerah resapan air, peningkatkan kapasitas tampungan yang ada melalui studi kelayakan Waduk dan embung. Melanjutkan Detail Desain Waduk Jambo Aye. Pembuatan embungembung di WS Jambo Aye sejumlah 8 Embung berlokasi : 1). DAS Jambo Aye 5 unit 2). DAS Peuruelak 3 unit Tahap Survey & Desain 8 Embung

Pemberian Batasan Kawasan Yang Dipilih Untuk Disiapkan Sebagai Kawasan Terbangun dan pembatasan Intensitas kawasan terbangun dengan pemberian ketentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan penyiapan Koefisien Dasar Hijau (KDH) Perlindungan daerah resapan air, perlindungan, peningkatkan kapasitas tampungan yang ada melalui pmbuatan dan pengelolaan embung Finalisasi Kelayakan Waduk Jambu Aye Pembangunan Embung Embung pada DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak bagian hulu.

Pemberian Batasan Kawasan Yang Dipilih Untuk Disiapkan Sebagai Kawasan Terbangun dan pembatasan Intensitas kawasan terbangun dengan pemberian ketentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan penyiapan Koefisien Dasar Hijau (KDH) Perlindungan daerah resapan air, peningkatkan kapasitas tampungan yang ada melalui pembuatan dan pengelolaan embung Finalisasi Kelayakan Waduk Jambu Aye Pembangunan Embung Embung pada DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak bagian hulu.

Melibatkan instansi terkait untuk upaya perlindungan untuk kawasan perkotaan

Bappeda Prov, Bappeda Kab/Kota Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Dinas Pertanian, BPDAS, BWS Sumatera I, Bappeda Kab/Kota, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Dinas Pertanian, BPDAS, BWS

Tersimpannya air yang berlebih pada saat hujan & tersedianya air di musim kemarau (Rasio Qmax/ Qmin tidak terlalu besar)

Merehabilitasi kawasan tangkapan air yang rusak dan pengawetan air.

Dinas Kehutanan, Dinas Pengairan, BPDAS, BWS Sumatera I,

Bab IV - 3

ASPEK KONSERVASI SUMBER DAYA AIR No Sub Aspek Hasil Analisa Sasaran/Target yang ingin dicapai Strategi Jangka Pendek (2011-2016) Pembuatan regulasi penggunaan air tanah disertai dengan pengendalian dan pengawasan pemanfaatannya Jangka Menengah (2011-2021) Pengendalian dan pengawasan penggunaan air tanah sesuai dengan ketentuan yang berlaku Jangka Panjang (2011-2031) Pengendalian dan pengawasan penggunaan air tanah sesuai dengan ketentuan yang berlaku Kebijakan Operasional Lembaga/ Instansi Terkait

Penggunaan air tanah belum terkendali dengan baik di WS jambo Aye Pemakaian air belum efektif dan efisien

Penggunaan air tanah dapat diatur dan dikendalikan dengan baik sesuai wilayah CAT Pemakaian air dapat dilakukan secara efektif dan efisien

Perioritas pemanfaatan air di WS Jambo Aye

Meningkatkan kinerja sarana dan prasarana sumber daya air yang ada (termasuk jaringan irigasi) disertai penghematan pemakaian air baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian dan industri Air yang dimanfaatkan di Jambo Aye disiapkan untuk perkotaan untuk kegiatan pertanian/perkebunan dan perkotaan

Meningkatkan kinerja sarana dan prasarana sumber daya air yang ada (termasuk jaringan irigasi) disertai penghematan pemakaian air baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian dan industri Air yang dimanfaatkan di Jambo Aye disiapkan untuk kegiatan pertanian/perkebunan dan perkotaan

Meningkatkan kinerja sarana dan prasarana sumber daya air yang ada (termasuk jaringan irigasi) disertai penghematan pemakaian air baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian dan industri Air yang dimanfaatkan di Jambo Aye untuk kegiatan pertanian/perkebunan dan perkotaan

Membuat dan mengimplementasikan peraturan tentang penggunaan air tanah disertai koordinasi dan sosialisasi pada masyarakat Memelihara sarana dan prasarana penyimpan air disertai sosialisasi pada masyarakat tentang penghematan pemanfaatan air

Dinas Pengairan, Bappeda, Dinas Pertanian, Pertambangan, PDAM, BWS Sumatera I. Dinas Pengairan, Bappeda, Dinas Pertanian, PDAM, BWS Sumatera I.

3 PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

Penurunan kualitas air akibat pencemaran pada DAS- DAS di WS Jambo Aye Terutama DAS Jambo Aye, DAS Idi dan DAS Peureulak

Kualitas air dan sumber air sesuai dengan peruntukannya dan memenuhi baku mutu kualitas air yang disyaratkan

Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang ke dalam sungai Monitoring dan evaluasi kualitas air WS Jambo Aye dan sumber pencemar yang masuk ke sungai secara periodik Pengelolaan sampah domestik secara terpadu. Pengelolaan limbah cair domestik secara terpadu Pengelolaan sampah domestik secara terpadu termasuk pemilahan pada sumbernya dan daur ulang untuk kompos, dsb Audit lingkungan Pengelolaan limbah industri secara terpadu Kali bersih/pengolahan limbah domestik secara individu atau terpusat Menetapkan dan menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya kepada perencana Pemetaan lokasi dan identifikasi sumber serta potensi beban pencemaran pada DAS - DAS di WS Jambo Aye Pengelolaan & Pengawasan Pembuangan Limbah Cair Domestik & Non Domestik Pembangunan IPAL Terpusat tingkat kota/kabupaten

Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang ke dalam sungai Monitoring dan evaluasi kualitas air WS Jambo Aye dan sumber pencemar yang masuk ke sungai secara periodik Pengelolaan sampah domestik secara terpadu Pengelolaan limbah cair domestik secara terpadu Pengelolaan sampah domestik secara terpadu termasuk pemilahan pada sumbernya dan daur ulang untuk kompos, dsb Audit lingkungan Pengelolaan limbah industri secara terpadu. Kali bersih/pengolahan limbah domestik secara individu atau terpusat Menetapkan dan menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya kepada perencana Pemetaan lokasi dan identifikasi sumber serta potensi beban pencemaran pada DAS - DAS di WS Jambo Aye Pengelolaan & Pengawasan Pembuangan Limbah Cair Domestik & Non Domestik Pembangunan IPAL Komunal untuk tingkat desa/kelurahan/kelompok permukiman

Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang ke dalam sungai Monitoring dan evaluasi kualitas air WS Jambo Aye dan sumber pencemar yang masuk ke sungai secara periodik Pengelolaan sampah domestik secara terpadu Pengelolaan limbah cair domestik secara terpadu Pengelolaan sampah domestik secara terpadu termasuk pemilahan pada sumbernya dan daur ulang untuk kompos, dsb Audit lingkungan Pengelolaan limbah industri secara terpadu Kali bersih/pengolahan limbah domestik secara individu atau terpusat Menetapkan dan menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya kepada perencana Pemetaan lokasi dan identifikasi sumber serta potensi beban pencemaran pada DAS - DAS di WS Jambo Aye Pengelolaan & Pengawasan Pembuangan Limbah Cair Domestik & Non Domestik Pembuatan sistem pengolahan pada sumber air, khususnya pada sumber air permukaan, seperti : aerasi, bioremediasi, ecotech

Penerbitan Perda Baku Mutu Air dan limbah cair di kabupaten dalam WS Jambo Aye Melakukan koordinasi dan pendekatan kepada pabrik / industri untuk tidak membuang limbah pabrik / industri langsung ke badan air tanpa pengolahan terlebih dahulu

BWS, Dinas Pengairan, BAPEDALDA, Pemda BWS, Dinas Pengairan, BAPEDALDA, Pemda

Limbah cair dan padat domestik dari perumahan dan permukiman dibuang langsung ke badan air Pada seluruh DAS pada WS Jambo Aye

Pengendalian pencemaran kualitas air pada badan air di WS Jambo Aye

Penerbitan Perda tentang pemulihan kualitas air, akibat dari pencemaran limbah cair

BWS, Dinas Tata Kota/Dinas Tata Ruang, Perguruan Tinggi, Bapedalda

Bab IV - 4

ASPEK PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR No II Sub Aspek 1. PENATAGUNAAN SUMBER DAYA AIR Hasil Analisa Adanya pengajuan Perubahan Kawasan untuk alih fungsi pemanfaatan dari hutan menjadi kegiatan permukiman dan pertanian holtikultura dengan langkah penyiapan permukiman enclave pada kawasan tertentu Sasaran/Target yang ingin dicapai Mempertahankan Luas kawasan hutan lindung rencanan tidak berada dibatas minimal (30% ) Strategi Jangka Pendek (2011-2016) 1. Penerapan Pelaksanaan Rencana Tata Ruang Propinsi dan seluruh Kabupaten dalam WS jambo Aye dengan mempehatikan kebutuhan Kawan Lindung DAS 2. Penyiapan rencana rinci Kabupaten dalam WS Jambo Aye Jangka Menengah (2011-2021) 1. Pengendalian Pemanfaatan ruang . 2. Monitoring & Evaluasi pelaksanaan RTRW dan RDTR kabupaten dalam WS Jambo Aye Jangka Panjang (2011-2031) 1. Pengendalian Pemanfaatan ruang . 2. Monitoring & Evaluasi pelaksanaan RTRW dan RDTR kabupaten dalam WS Jambo Aye Kebijakan Operasional Penyiapan , perencanaan dan pengendalian Pengaturan tata ruang yang harmonis dengan pengelolaan Sumber daya air Lembaga/ Instansi Terkait Bappeda, Dinas PU, BWS Sumatera I, Dinas Kehutanan, Perkebunan, BPDAS, Pertanian, Bapedalda Propinsi, Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengan, Bener Meriah & Gayo Leues Bappeda, Pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perkebunan, BPDAS, BPKH

Kondisi Penataan Ruang di WS Jambo Aye untuk Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Luwes belum mengikuti aturan UU No. 26 tahun 2007 sehingga kegiatan pemanfaatan lahan dapat menyesuaikan dengan Hasil peninjauan PSDA WS Jambo Aye

Berkurangnya lahan hutan menjadi kebun kelapa sawit di beberapa daerah Kabupaten

- Pemanfaatan Kawasan Lindung harus mengikuti PP 26 tahun 2008 tentang RTRWN - Pemanfaatan ruang menurut RTRW Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah dan Bener Meriah serta Gayo Luwes sesuai dengan pemanfaatan yang disiapkan oleh PSDA untuk kegiatan Pertanian,Perkebunan, Perikanan dan Kawasan Lindung Berfungsinya kembali lahan hutan sebagai kawasan resapan

Pengembangan Pemanfaatan Lahan lainnya disiapkan pada kawasan pendukung WS Jambo Aye sebagai Kawasan Kegiatan Pertanian Lahan Basah, Lahan Kering dan Perkebunan.

Penyiapan Pemanfaatan Lahan lainnya disiapkan pada kawasan pendukung WS Jambo Aye sebagai Kawasan Kegiatan Pertanian Lahan Basah, Lahan Kering dan Perkebunan untuk 20 tahun

Pengaturan dan pengembangan kegiatan pemanfaatan lahan dengan melibatkan sektorsektor terkait dan masyarakat Lokal

2 PENYEDIAAN SUMBER DAYA AIR

Belum terpenuhinya kebutuhan air (Air bersih) untuk masyarakat

Pemenuhan Kebutuhan air pokok sehari-hari Meningkatkan pelayanan air bersih

1. Pendataan hutan lindung yang menjadi kebun kelapa sawit sesuai peruntukan dalam RTRW penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman yang berada di Kawasan Hutan lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Kota Panton Labu, Idi Rayek penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman perkotaan yang berada di sempadan sungai/sumber air lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Kota Panton Labu, Idi Rayek Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang baru khususnya di daerah yang belum terjangkau oleh sistem PDAM yang telah ada sekarang

penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman yang berada di Kawasan Hutan lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Kota Panton Labu, Idi Rayek penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman perkotaan yang berada di sempadan sungai/sumber air lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Panton Labu, Idi Rayek Identifikasi sumber air baru yang berpotensi sebagai air baku untuk menambah kapasitas produksi

penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman yang berada di Kawasan Hutan lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Kota Panton Labu, Idi Rayek penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman perkotaan yang berada di sempadan sungai/sumber air lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Panton Labu, Idi Rayek

Bappeda, Dinas Pengairan, Dinas Perkebunan dan BWS Sumatera I Bappeda, Dinas Pengairan, BWS Sumatera I dan PemDA terkait

Bappeda, Dinas Pengairan, BWS Sumatera I dan PemDA terkait

Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang baru khususnya di daerah yang belum terjangkau oleh sistem PDAM yang telah ada sekarang Identifikasi sumber air baru yang berpotensi sebagai air baku untuk menambah kapasitas produksi

Melibatkan instansi terkait dan melibatkan masyarakat dalam rangka pelayanan air bersih dengan pembangunan instalasi air bersih dan alokasi dana O & P memadai

PDAM, Dinas Pengairan, BWS Sumatera I, PemDa terkait

Belum terpenuhinya kebutuhan air irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada Peningkatan Produksi pangan melalui peningkatan suplai air untuk pengembangan Daerah Irigasi yang sudah ada Pengembangan irigasi kecil / Desa diseluruh DAS seluas 4000 Ha. Pengembangan irigasi kecil / Desa diseluruh DAS seluas 4000 Ha.

Peningkatan kapasitas Instalasi Pengolahan Air Minum yang sudah ada Pengembangan irigasi kecil / Desa diseluruh DAS seluas 4000 Ha.

Pembangunan Rehabilitasi dan Upgrading Jaringan Irigasi Desa Melibatkan instansi terkait dan melibatkan masyarakat dalam rangka pemenuhan Kebutuhan air Irigasi

Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian,

Bab IV - 5

ASPEK PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR No Sub Aspek Hasil Analisa Adanya Potensi Areal irigasi di beberapa DAS antara lain DI Jambo Aye kanan seluas 6000 Ha DI Peureulak seluas 5000 Ha DI desa bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi teknis (yang Belum Berfungsi) Tidak semua rencana daerah irigasi dapat dipenuhi kebutuhan airnya dengan standar yang telah ditetapkan (1.3 liter/dt/ha) Sasaran/Target yang ingin dicapai Mengembangkan produksi pangan melalui pengembangan D.I. baru (yang belum berfungsi) Strategi Jangka Pendek (2011-2016) Untuk Daerah Irigasi Jambo Aye Kanan seluas 3000 Ha dan Jambo Aye Kiri ketersediaan airnya terpenuhi Jangka Menengah (2011-2021) Pengembangan Irigasi DI Peureulak seluas 5000 Ha Jangka Panjang (2011-2031) Pengambangan irigasi kecil /Desa yang dapat dikembangkan Kebijakan Operasional Melibatkan instansi terkait dan melibatkan masyarakat dalam rangka pemenuhan Kebutuhan Irigasi Peningkatan Jaringan Irigasi dengan melibatkan instansi terkait dan melibatkan masyarakat dalam rangka pelayanan air bersih serta Alokasi dana O & P memadai Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam pengalokasian air secara tepat waktu Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam pengalokasian air secara tepat waktu Lembaga/ Instansi Terkait Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian,

Untuk memenuhi swasembada pangan di WS Jambo Aye

3 PENGGUNAAN SUMBER DAYA AIR

Pemanfaatan sumber daya air yang ada belum optimal Minimnya biaya Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Belum memanfaatkan air dengan cara daur isi ulang Belum terpenuhinya kebutuhan air untuk perikanan dan tambak disepanjang pantai WS Jambo Aye Adanya potensi tambak yang dapat dikembangkan seluas 5000Ha didaerah pesisir. Belum terpenuhinya energi listrik skala mikro untuk Desa

Memenuhi penggunaan air dengan berbagai cara Memenuhi penggunaan air dengan berbagai cara Memenuhi penggunan air untuk perikanan air tawar dan tambak

Khusus untuk rencana daerah irigasi yang ketersediaan airnya tidak mencukupi, perlu dilakukan strategi pengembangan irigasi dengan sistem pemberian air sistem rise intesification/SRI Optimasi penggunaan air yang ada Optimasi penggunaan air yang ada Identifikasi dan pengembangan irigasi tambak dan perikanan kolam air tawar Pembangunan jaringan irigasi tambak seluas 5000 Ha Identifikasi dan Pembangunan PLTHM diseluruh DAS dan Sub DAS Dengan membuat embung sebagai tampungan di DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang baru khususnya di daerah yang belum terjangkau oleh sistem PDAM yang telah ada sekarang

Khusus untuk rencana daerah irigasi yang ketersediaan airnya tidak mencukupi, perlu dilakukan strategi pengembangan irigasi dengan sistem pemberian air sistem rise intesification/SRI Optimasi penggunaan air yang ada Optimasi penggunaan air yang ada Identifikasi dan pengembangan irigasi tambak dan perikanan kolam air tawar Pembangunan jaringan irigasi tambak seluas 5000 Ha Identifikasi dan Pembangunan PLTHM diseluruh DAS dan Sub DAS Dengan membuat embung sebagai tampungan di DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak Identifikasi sumber air baru yang berpotensi sebagai air baku untuk menambah kapasitas produks

Khusus untuk rencana daearh irigasi yang ketersediaan airnya tidak mencukupi, perlu dilakukan strategi pengembangan irigasi dengan sistem pemberian air sistem rise intesification/SRI Optimasi penggunaan air yang ada Optimasi penggunaan air yang ada Identifikasi dan pengembangan irigasi tambak dan perikanan kolam air tawar Pembangunan jaringan irigasi tambak seluas 5000 Ha Identifikasi dan Pembangunan PLTHM diseluruh DAS dan Sub DAS Dengan membuat embung sebagai tampungan di DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak Peningkatan kapasitas Instalasi Pengolahan Air Minum yang sudah ada

Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian,

Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian,

4 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR 5 PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR

Kekurangan air pada musim kemarau

Pemanfaatan sumber mata air belum optimal

Terpenuhinya energi listrik dengan pembuatan PLTMH Meningkatkan ketersediaan air permukaan untuk berbagai kepentingan Pemenuhan kebutuhan air bersih untuk rumah tangga, industri dan perkotaan dan penerapan sistem yang melibatkan masyarakat

Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam pembangunan Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam pembuatan Embung Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam Operasi dan Pemeliharaan

Dinas Pengairan, BWS, Bappeda dan Dinas ESDM Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian BWS, Dinas Pengairan, PDAM dan Pemerintah Daerah

Bab IV - 6

PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR No III 1 Sub Aspek PENCEGAHAN Hasil Analisa Terjadi genangan akibat banjir Penyebab : Kapasitas prasarana berupa sistem drainase dan sungai utama sebagai penampung banjir terlampaui. Lokasi : 1). Kab. Aceh Utara 2) Kab. Aceh Timur 3) Kab. Aceh Tengah 4). Kab. Bener Meriah 5). Kab. Gayo Leus Sasaran/Target yang ingin dicapai Mengurangi akibat bencana banjir Jangka Pendek (2011-2016) Studi, Detail desain, dan pelaksanaan Pengendalian Banjir dan pengembangan SDA. Strategi Jangka Menengah (2011-2021) 1) Lanjutan Pelaksanaan Pengendalian banjir termasuk resettlement plan & pengembangan SDA. 2) Operasi & Pemeliharaan 3) Monitoring Evaluasi Jangka Panjang (2011-2031) 1) Operasi & Pemeliharaan 2) Monitoring Evaluasi Kebijakan Operasional 1. Menyiapkan dan membebaskan lahan untuk pembanguan prasarana Pengendali banjir 2. Pemerintah dan pemerintah daerah mempunyai komitment untuk mengurangi kerugian banjir . Lembaga/ Instansi Terkait Bappeda , Dinas Pengairan, Bapedalda, BPBD, Propinsi, kabupaten Aceh Utara, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah, Kab. BenerMeriah dan Kab. Gayo Leus BWS Sumatera I

DAS Peureulak di Kabupaten Aceh Timur DAS Jambo Aye di Kab . Aceh Utara dan Aceh Timur Kr. Pase Kab. Aceh Utara Kr.Simpan Barat Kab. Aceh Utara Kr. Arakundo dengan Sub DAS nya di Kabupaten Aceh Timur Kr . Julok di Kabupaten Aceh Timur DAS. A. Ramong di Kabupaten Aceh Timur

DAS Peureulak di Kabupaten Aceh Timur DAS Jambo Aye di Kab Aceh Utara & Aceh Timur Kr. Pase Kab. Aceh Utara Kr.Simpan Barat Kab. Aceh Utara Kr. Arakundo dengan Sub DAS nya di Kabupaten Aceh Timur Kr . Julok di Kab. Aceh Timur Sub DAS. A. Ramong di Kabupaten Aceh Timur

DAS Peureulak di Kab. Aceh Timur DAS Jambo Aye di Kab Aceh Utara dan Aceh Timur Kr. Pase Kab. Aceh Utara Kr.Simpan Barat Kab. Aceh Utara Kr. Arakundo dengan Sub DAS nya di Kabupaten Aceh Timur Kr. Julok di Kab Aceh Timur

Rusaknya beberapa perlindungan pemukiman dan jalan nasional dan longsornya tebing sungai Kerusakan wilayah pesisir di sepanjang pantai timur Penyebab Abrasi pantai

Terlindungnya pemukiman dan jalan nasional dari bahaya longsor akibat erosi tebing Memelihara penutupan lahan alami di bantaran sungai Terlindunginya pantai dari pengaruh abrasi yang mengancam sarana dan prasarana

Studi, DED pelaksanaan Perbaikan dan pemeliharaa bangunan Perkuatan dan perlindungan tebing sungai a. Pembangunan pengamanan pantai

Sub DAS. A. Ramong di Kab. Aceh Timur 1) Pemeliharaan Banguan Perkuatan dan perlindungan tebing sungai Jambo Aye dan sungai lainnya . 2) Monitoring dan Evaluasi a. Pembangunan pengamanan pantai

1) Pemeliharaan Banguan Perkuatan dan perlindungan tebing sungai Jambo Aye & sungai lainnya 2) Monitoring dan Evaluasi 1) Monitoring & Evaluasi pengamanan pantai 2) Pemeliharaan hutan bakau

Kabupaten Aceh Utara di beberapa kecamatan (1) Kec. Muara Batu (2) Kec. Dewantara (3) Kec. Syamtalira Bayu (4) Kec. Samudra (5) Kec. Tanah Pasi (6) Kec. Batiya Barat (7) Kec Seunudon

(1) (2) (3) (4)

Kabupaten Aceh Utara Kec. Muara Batu Kec. Dewantara Kec. Syamtalira Bayu Kec. Samudra

Kabupaten Aceh Utara (1) Kec. Tanah Pasi (2) Kec. Batiya Barat (3) Kec Seunudon

Kabupaten Aceh Timur (1) Kec.Birem Bayeun (2) Kec.Rantau Selamat (3) Kec.Sungai Raya (4) Kec.Peurelak (5) Kec.Peurelak Timur (6) Kec.Peurelak Barat (7) Kec.Peurelak Timur (8) Kec.Peudawa (9) Kec.Idi Rayeuk (10) Kec.Darul Aman (11) Kec. Nurulsalam (12) Kec. Julok (13) Kec. Simpang Ulin (14) Kec. Madat Terjadi penyempitan alur sungai penyebab Sedimentasi muara Tingkat kerugian akibat bencana banjir relatif besar Penyebab : Banjir menggenangi daerah pemukiman, jalan raya dan lahan pertanian serta masyarakat terlambat mengetahui datangnya bencana banjir Lokasi : 1) Kab. Aceh Utara

Kabupaten Aceh Timur (1) Kec. Birem Bayeun (2) Kec. Rantau Selamat (3) Kec. Sungai Raya (4) Kec. Peurelak (5) Kec. Peurelak Timur (6) Kec. Peurelak Barat (7) Kec. Peurelak Timur (8) Kec. Peudawa b. Rebilitasi hutan bakau sepanjang pantai

Kab. Aceh Timur (1) Kec. Idi Rayeuk (2) Kec. Darul Aman (3) Kec. Nurulsalam (4) Kec. Julok (5) Kec. Simpang Ulin (6) Kec. Madat a. Rebilitasi hutan bakau sepanjang pantai b. Monitoring & Evaluasi pengamanan pantai c. Pemeliharaan huatan bakau

Melibatkan instansi terkait dan stake holder terutama didalam pembangunan sarana dan prasarana SDA untuk pengendalian DRA 1. Menetapkan jenis Bakau 2. Melibatkan instansi terkait dan stake holder terutama didalam melestarikan bakau sepanjang pantai 3. Pemerintah dan pemerintah daerah mempunyai komitment untuk melindungi pantai dari abrasi khususnya yang mengancam sarana dan prasarana

Dinas Pengairan, BWS Pemda

Dinas Pengairan, BWS Pemda, Dinas terkait

Aliran air dimuara lancar Masyarakat dapat mengantisipasi bencana yang ditimbulkan oleh daya rusak air

1.

Pemeliharaan alur sungai di kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara

1. Monitoring Evaluasi 2. Pemeliharaan alur sungai di kabupaten Aceh Timur Utara 1. Melaksanakan studi dan pelaksanaan pembangunan pengendalian banjir 2. Operasi dan pemeiharaan 3. Membuat sistim peringatan dini bahaya banjir 4. Pelaksanaan sistim peringatan dini bahaya banjir termasuk evakuasi 5. Monitoring & evaluasi sistim peringatan dini

Pemeliharaan alur sungai di kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara 1. Melaksanakan studi dan pelaksanaan pembangunan pengendalian banjir 2. Operasi dan pemeiharaan 3. Membuat sistim peringatan dini bahaya banjir 4. Pelaksanaan sistim peringatan dini bahaya banjir termasuk evakuasi 5. Monitoring & evaluasi sistim peringatan dini

Mengalokasikan dana dan kegioatan pemeliharaan alur sungai dan muara Meningkatkan peran Pemerintah Daerah, Lembaga Adat dan masyarakat dalam sistim peringatan dini

1. Melaksanakan studi dan pelaksanaan pembangunan pengendalian banjir 2. Operasi dan Pemeiharaan 3. Membuat sistim peringatan dini bahaya banjir 4. Pelaksanaan sistim peringatan dini bahaya banjir termasuk evakuasi 5. Monitoring & evaluasi sistim peringatan dini

Bappeda, Dinas PU, Dinas Kelautan & Perikanan Provinsi , Kab. Aceh Timur dan Utara Bappeda , Dinas Pengairan, BLH, BPBD , Propinsi ,kabupaten Aceh Utara, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah, Kab. BenerMeriah dan Kab. Gayo Leus BWS Sumatera I

Bab IV - 7

PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR No Sub Aspek 2) 3) 4) 5) Kab. Kab. Kab. Kab. Hasil Analisa Aceh Timur Aceh Tengah Bener Meriah Gayo Leus Masyarakat terhindar dari penyakit akibat banjir Penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana kesehatan di daeah rawan banjir Lanjutan penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana kesehatan di daeah rawan banjir Lanjutan penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana kesehatan di daeah rawan banjir Distribusi Leaflet tentang kesehatan dan pembuatan posko bencana keshatan akibat banjir BLH, Dinas Keshatan , LSM yang bergerak dibidang kesehatan Lingkungan : 1). Kab. Aceh Utara 2) Kab. Aceh Timur 3) Kab. Aceh Tengah 4). Kab.Bener Meriah 5). Kab. Gayo Leus Sasaran/Target yang ingin dicapai Jangka Pendek (2011-2016) Strategi Jangka Menengah (2011-2021) Jangka Panjang (2011-2031) Kebijakan Operasional Lembaga/ Instansi Terkait

PENANGGULANGAN

Terjadi berbagai peningkatan kasus penyakit pada saat banjir. Penyebab : Sarana dan prasarana kesehatan di daerah rawan banjir kurang memadai . Lokasi Kabupaten : 1) Aceh Utara 2) Aceh Timur 3) Aceh Tengah 4) Bener Meriah 5) Gayo Leus Mitigasi bencana, kegiatan yang bersifat meringankan penderitaan akibat bencana

Menyalurkan bantuan dan melakukan penanggulangan darurat

Setiap terjadi bencana : Menyiapkan alat-alat berat yang akan digunakan dalam penanggulangan bencana seperti buldozer, back hoe, karungplastik , bronjong Menentukan tempat yang aman untuk keperluan evakuasi 1. Evaluasi kerusakan dan membuat rencana perbaikan secara menyeluruh 2. Perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat bencana

Setiap terjadi bencana : Menyiapkan alat-alat berat yang akan digunakan dalam penanggulangan bencana seperti buldozer, back hoe, karungplastik , bronjong Menentukan tempat yang aman untuk keperluan evakuasi 1. Lanjutan Perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat bencana 2. Monitoring dan evaluasi

PEMULIHAN

Banjir tiap tahun merusak bangunan pengendali banjir

Memperbaiki dan merehabilitasi fungsi lingkungan hidup dan sistem prasarana SDA

Setiap terjadi bencana : Menyiapkan alat-alat berat yang akan digunakan dalam penanggulangan bencana seperti buldozer, back hoe, karungplastik , bronjong Menentukan tempat yang aman untuk keperluan evakuasi 1. Lanjutan Perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat bencana 2. Monitoring dan evaluasi

Menggalang dan mengkoordinasikan berbagai bantuan dan kegiatan yang bersifat meringankan penderitaan akibat bencana

Dinas PU Pengairan, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, BPBD Propinsi Aceh BWS Sumatera I BPBD Kabupaten Aceh Utara dan Timur

Membuat pedoman petunjuk petujuk teknis dan petunjuk pelaksanaan untuk keperluan perbaikan , rehabilitasi prasarana dan sarana SDA serta pemukiman

Bappeda , Dinas PU/ Pengairan, Dinas Perhubungan, Dinas Kehutanan Dinas Pertanian, BPBD Propinsi BPBD : Kab Aceh Utara, Aceh Tmur, Aceh Tengah, Bener Meriah&Gayo Leus BWS Sumatera I

Bab IV - 8

ASPEK KETERBUKAAN DAN KETERSEDIAAN DATA INFORMASI SDA No IV Sub Aspek PEMERINTAH DAN PEMDA MENYELENGGARAKAN PENGELOLAAN SISTEM INFORMASI SDA SESUAI DENGAN KEWENANGANNYA Hasil Analisa 1. Ketersediaan informasi sumber daya air tidak berkesinambungan. 2. Alat pemantau sebagian rusak, 3. O & P tidak berjalan dengan baik 4. SDM kurang memadai Sasaran/Target yang ingin dicapai 1. Sistem basis data yang 1. berkualitas dan berkesinambungan di Jambo Aye 2. Sistim informasi sumber Daya Air dapat diperoleh dengan 2. mudah melalui papan pengumuman, media massa dan media 3. elektronik Jangka Pendek (2011-2016) Rasionalisasi Pos-Pos Hidrometeorologi yang ada di DAS Jambo Aye, DAS Peureulak, DAS Idi, DAS Arakundo, DAS Geuruntang, DAS Bugeng, Rehabilitasi Pos-pos Hidrometri yang sudah ada disetiap DAS di WS Jambo Aye Pembangunan Pos-Pos Hidrometri pada DAS Rusa, DAS Leungo Rayeuk, DAS Reungat, DAS Babah dan DAS Gading O & P pos Hidrometri Strategi Jangka Menengah (2011-2021) 1. Pembangunan Pos-Pos Hidrometerologi di WS Jambo Aye 2. O & P pos Hidrometri Jangka Panjang (2011-2031) 1. O & P pos Hidrometri 2. Rehabilitasi Pos hidrometri Kebijakan Operasional Lembaga/ Instansi Terkait Ditjen Sumber Daya Air, Kem. PU, Wadah Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air, Bappeda, Dinas PU Pengairan, Balai Pengelolaan Sumber Daya Air, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Perhubungan BPDAS Jambo Aye BWS Sumatera I

4.

1. Pembangunan sistim Informasi (hardware dan software) SDA di tingkat propinsi/BWS Sumatera I dan tingkat Kabupaten 2. O & P sistim informasi SDA 1. 2. O & P sistim informasi data Pengembangan sistim informasi data 1. O & P sistim informasi data 2. Pengembangan sistim informa SDA

Pembangunan Pos Hidrometri, Pos Duga Air di Wilayah Sungai Jambo Aye Pembangunan sistem informasi (hardware dan software) Sumber Daya Air di tingkat provinsi/BWS Sumatera I dan tingkat kabupaten Berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera I tentang O & P sistem informasi Sumber Daya Air Penyediaan Dana untuk Pembangunan sistem informasi

1. Melaksanakan O & P sistem informasi SDA 2. Pembagian langsung tanggung jawab masing masing intansi sesuai Undang Umdang

Penyusunan data base Pengelolaan Ws Jambo Aye secara terintegrasi mencakup seluruh DAS (dari mengumpulkan data dari sumber sampai pusat data) Penyebaranluasan Sistim informasi SDA belum memadai Kerebukaan dan penyebarluasan sistim infornasi Sumber Daya Air (SISDA ) Sosialisasi sistim Informasi SDA termasuk tugas pokok dan fungsi Dinas Instansiyang terkait dalam Pengelolaan SDA ( BWS Sumatera I dan BPDAS dll ).

Pemukthiran data base (termasuk data spasial) Pengeliolaaan WS Jambo Aye

Pemukthiran data base (termasuk data spasial) Pengelolaaan WS Jambo Aye

1. Evaluasi sistmi informasi SDA termasuk pelaksanaan Tugas pokok dinas instansi yang terkait dalam pengelolaan SDA (BWS, BPDAS dll). 2. Pengendalian dan pengawasan perizinan usaha terkait dengan pemanfaatan lahan di DAS yang mengacu pada Poa Pengelolaan WS Jambo Aye

1. Evaluasi sistmi informasi SDA termasuk pelaksanaan Tugas pokok dinas instansi yang terkait dalam pengelolaan SDA (BWS, BPDAS dll ). 2. Pengendalian dan pengawasan perizinan usaha terkait dengan pemanfaatan lahan di DAS yang mengacu pada Poa Pengelolaan WS Jambo Aye

Ditjen SDA, KeMen. PU, Wadah Koordinasi Pengelolaan SDA, Balai Besar/Balai WS, BPDAS, Bappeda, Dinas Pengairan, Balai PSDA, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Perhubungan, Dinas yang terkait dengan SDA Ditjen SDA, KeMen PU, Wadah Koordinasi Pengelolaan SDA, Balai Besar/Balai WS, BPDAS, Bappeda, Dinas Pengairan, Balai PSDA, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Perhubungan, Dinas yang terkait dengan SDA

Program-program yang terkait dengan pengelolaan SDA yang dilaksanakan oleh setiap sektor belum sikron, sinergidan terpadu

Program- program terkait dengan Pengelolaan SDA yang dilaksanakan oleh stiap sektor sinkron, sinergi dan terpadu

Penyusunan nota kesepahaman dalam pengelolaan SDA wilayah sungai dan forum koordinasi. WS Jmbo Aye

Evaluasi pelaksanaan nota kesepahaman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai dan Forum Koordinasi di WS Jambo Aye.

Evaluasi pelaksanaan nota kesepahaman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai dan Forum Koordinasi di WS Jambo Aye.

Bab IV - 9

PEMBERDAYAAN DAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT, SWASTA, DAN PEMERINTAH No V Sub Aspek PEMERINTAH DAN PEMDA MENYELENGGARAKAN PEMBERDAYAAN PARA PEMILIK KEPENTINGAN KELEMBAGAAN SDA SECARA TERENCANA DAN SISTEMATIS Hasil Analisa 1. Masyarakat belum terlibat secara aktif atau perlu dilibatkan sejak dari tahap perencanaan (perencanaan partisipatif) dalam pengelolaan SDA WS Jambo Aye 2. TKPSDA WS Jambo Aye belum diwakili oleh Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Luwes Sasaran/Target yang ingin dicapai Masyarakat berperan secara aktif dalam Pengelolaan sumber daya air WS Jambo Aye Jangka Pendek (2011-2016) 1. Sosialisasi masyarakat dalam tahap perencanaan pengelolaan SDA WS Jambo Aye 2. Pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan pengawasan dan pemeliharaan SDA WS Jambo Aye 3. Keanggotaan TKPSDA WS Jambo Aye perlu direvisi dengan menyerap seluruh wakil dari Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Luwes. Strategi Jangka Menengah (2011-2021) 1. Monitoring dan Evaluasi 2. Sosialisai masyarakat dalam tahap perencanaan pengelolaan SDA WS Jambo Aye 3. Pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan pengawasan dan pemeliharaan SDA WS Jambo Aye Jangka Panjang (2011-2031) 1. Monitoring dan Evaluasi 2. Sosialisai masyarakat dalam tahap perencanaan pengelolaan SDA WS Jambo Aye 3. Pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan pengawasan dan pemeliharaan SDA WS Jambo Aye Kebijakan Operasional 1. Pemerintah mempunyai Komitmen melalui Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) yang sudah terbentuk bersama masyarakat untuk berperan secara aktif dalam pengelolaan SDA 2. Membuat petunjuk pelaksanaan sistim peran aktif masyarakat dalam pengelolaan SDA Lembaga/ Instansi Terkait Pemda, Lembaga Adat, Masyarakat, LSM : Proprinsi Aceh Pemda, Lembaga Adat, Masyarakat, LSM : kabupaten Aceh Utara ,Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah , Kab. Bener Meriah Dan Kab. Gayo Leus

Perlu penyiapan pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Penyangga untuk alokasi Masyarakat yang bermukim di kawasan tertentu dengan penyiapan permukiman enclave

Perlu penyiapan pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Penyangga untuk alokasi Masyarakat yang bermukim di kawasan tertentu dengan penyiapan permukiman enclave

Perlu pelibatan dan pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Penyangga untuk alokasi Masyarakat dalam pengelolaan SDA

Perlu pelibatan dan pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Penyangga untuk alokasi Masyarakat yang bermukim di kawasan tertentu dengan penyiapan permukiman enclave Tahun Perencanaan 20 Tahun

Penyiapan Alokasi Budidaya berupa kegiatan pertanian dan perkebunan

Penyiapan Alokasi kegiatan budidaya berupa kegiatan pertanian dan perkebunan untuk pemberdayaan Masyarakat dikawasan penyangga dengan memerhatikan dan komoditi yang direncanakan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan daya dukung lahan Sosialisasi penggunaan dan pembuatan bangunan SDA terhadap masyarakat WS Jambo Aye Masyarakat paham terhadap ketentuan PerUU tentang Sumber Daya Air

1.

2.

Sosialisasi/Menyebarluaskan komoditas pertanian dan perkebunan yang cocok dikembangkann di masingmasing DAS di WS Jambo Aye Mengembangkan komoditas pertanian dan perkebunan yang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Aye

1.

Pembinaan dan pengawasan pengembangan komoditas perkebunan dan pertanian yang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Aye

Pembinaan dan pengawasan pengembangan komoditas perkebunan dan pertanian yang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Ayeyang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Aye

Keterlibatan masyarakat belum dioptimalkan Pemahaman masyarakat terhadap ketentuan Per-UU masih kurang

Mensosialisasikan penggunaan dan pembuatan bangunan SDA terhadap masyarakat WS Jambo Aye Sosialisasi/Menyebarluaskan informasi ke seluruh stakeholder tentang pentingnya kelestarian SDA baik itu dari tingkat masyarakat bawah sampai tingkat masyarakat atas

Mensosialisasikan penggunaan dan pembuatan bangunan SDA terhadap masyarakat WS Jambo Aye Sosialisasi/Menyebarluaskan informasi ke seluruh stakeholder tentang pentingnya kelestarian SDA baik itu dari tingkat masyarakat bawah sampai tingkat masyarakat atas

Mensosialisasikan penggunaan dan pembuatan bangunan SDA terhadap masyarakat WS Jambo Aye Sosialisasi/Menyebarluaskan informasi ke seluruh stakeholder tentang pentingnya kelestarian SDA baik itu dari tingkat masyarakat bawah sampai tingkat masyarakat atas

1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen melalui TKPSDA yang sudah terbentuk agar masyarakat yang bermukim di kawasan penyangga berperan aktif dalam pengelolaan SDA 2. Membuat petunjuk sitim pelaksanaan sistim peran aktif masyarakat dalam pengelolaan SDA 1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen agar perkebunan dan pertanian yang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Aye 2. Membuat petunjuk sitim pelaksanaan agar perkebunan dan pertanian yang sesuai dengan daya dukung lahan masing-masing DAS Melibatkan instansi terkait dan stakeholder terutama di dalam OP Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam pemahamanan Peraturan dan Per UU tentang Sumber Daya Air Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen untuk melaksanakan penegakan hukum, pemberian penghargaan dan pemberlakukan sansi sesuai Peraturan dan Per UU ketententuan yang berlaku

Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan kabupaten Aceh Utara ,Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah , Kab. Bener Meriah Dan Kab. Gayo Leus BWS Sumatera I

Departemen PU dan Pemda

Departemen PU, Pemda, dan BWS

Pelaksanaan penegakan hukum dan pengenaan sanksi sesuai ketentuan per-UU yang berlaku masih belum optimal

Penegakan hukum dan pemberlakuan sanksi sesuai ketentuan Peraturan dan Per UU yang berlaku

1. Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA ke seluruh Stake Holder 2. Pengawasan Pelaksanaan Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA 3. Penegakan hukum dan sansi yang berlaku

1. Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA ke seluruh Stake Holder 2. Pengawasan Pelaksanaan Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA 3. Penegakan hukum dan sansi yang berlaku

1. Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA ke seluruh Stake Holder 2. Pengawasan Pelaksanaan Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA 3. Penegakan hukum dan sansi yang berlaku

Departemen PU, Dinas Pertanian Dinas Kehutanan Kabupaten kabupaten Aceh Utara ,Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah , Bener Meriah Dan Gayo Leus. BWS Sumatera I

Bab IV - 10

PEMBERDAYAAN DAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT, SWASTA, DAN PEMERINTAH No Sub Aspek Hasil Analisa Kemampuan SDM di Kelompok Masyarakat tentang SDA masih kurang Sasaran/Target yang ingin dicapai Masyarakat ditingkatkan kemampuannya dalam bidang pengelolaan SDA Jangka Pendek (2011-2016) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan SDM dalam rangka memenuhi standar kompetensi SDA Strategi Jangka Menengah (2011-2021) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan SDM tentang pelaksanaan, pemanfaatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana SDA yang bisa dikelola oleh masyarakat di WS Jambo Aye, Jangka Panjang (2011-2031) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan tentang pelaksanaan, pemanfaatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana SDA yang bisa dikelola oleh masyarakat di WS Jambo Aye, Pembinaan dan Evaluasi Pelaksanaan pemanfaatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana SDA yang bisa dikelola oleh masyarakat di WS Jambo Aye Program pelaksanaan GNKPA dan GERHAN Pembinaan dan Pengawasan Program-progran GERHAN dan GNKPA Kebijakan Operasional 1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen untuk meningkatkan pengetahuan masyarakatterhadap Pengelolaan SDA WS Jambo Aye Lembaga/ Instansi Terkait Departemen PU, Dinas Pertanian Dinas Kehutanan Kabupaten kabupaten Aceh Utara, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah, Bener Meriah Dan Gayo Leus. BWS Sumatera I

1.

2.

Masyarakat masih belum mengenal GNKPA

Meningkatnya kesadaran masyarakat mengenal Program GNKPA

1. Mensosialisasikan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) di tingkat propinsi, kabupaten, kecamatan dan desa yang termasuk dalam WS Jambo Aye 2. Program pelaksanaan GNKPA dan GERHAN

1. Program pelaksanaan GNKPA dan GERHAN 2. Pembinaan dan Pengawasan Program-progran GERHAN dan GNKPA

1. 2.

1. Membuat buku Petunjuk Pelaksanaan di tingkat Propinsi / Kabupaten tentang Pedoman Penyelamatan Air sebagai acuan dalam Sosialisai GNKPA dan GERHAN

Departemen PU, Dinas Pertanian Dinas Kehutanan Kabupaten kabupaten Aceh Utara, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah, Bener Meriah Dan Gayo Leus. BWS Sumatera I

Bab IV - 11

KEBIJAKAN OPERASIONAL PENGELOLAAN WILAYAH SUNGAI JAMBO AYE SKENARIO (PERTUMBUHAN EKONOMI SEDANG)

Bab IV - 12

Tabel 4.2. KEBIJAKAN OPERASIONAL POLA PENGELOLAAN WILAYAH SUNGAI JAMBO AYE SKENARIO (PERTUMBUHAN EKONOMI SEDANG)

ASPEK KONSERVASI SUMBER DAYA AIR No I Sub Aspek 1 PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER DAYA AIR Hasil Analisa Kerusakan hutan lindung dan hutan konservasi Kondisi Lahan pada WS Jambo Aye adalah Lahan kritis 112.563 ha (14,50%); agak kritis 229.467 Ha (29,56%), potensial kritis 359.726 ha (46,33%), Sangat kritis 29.249 (3,77%) dan Tidak Kritis 45.376 ha (5,84% ) Sasaran/Target yang ingin dicapai Kelestarian hutan lindung dan hutan konservasi dapat terjaga dengan target : 1. penghijauan /agroforestry/hutan rakyat seluas 115.304,58 Ha 2. Reboisasi seluas 62.852,64 Ha Total 178.157,22 Ha Strategi Jangka Pendek (2011-2016) Rehabilitasi hutan lindung dan hutan konservasi dengan luas 10 % dari luasan hutan yang rusak disertai peningkatan upaya perlindungan kawasan dengan sasaran bagian hulu yang mempunyai lereng antara 2540% 1) Kabupaten Bener Meriah seluas 37,560 Ha meliputi reboisasi 16,845 Ha dan agroforestry 20,715 Ha 2) Kabupaten Aceh Utara seluas 606,07 Ha meliputi 51,64 Ha Reboisasi dan Agroforestry 20,715 Ha 3) Kabupaten Aceh Timur 91,642 Ha meliputi reboisasi 9,971Ha dan agroforetry 81,670 Ha. 4) Kabupaten Aceh Tengah 48,347 Ha meliputi 35,984 Ha dan agroforestry 12,363 Ha Pembinaan peladang disertai upaya rehabilitasi areal bekas perladangan dengan luas 25 % dari luasan areal bekas perladangan. Jangka Menengah (2011-2021) Rehabilitasi hutan lindung dan hutan konservasi dengan luas 30 % dari luasan hutan yang rusak disertai peningkatan upaya perlindungan kawasan dengan sasaran bagian hulu yang mempunyai lereng antara 25-40% 1) Kabupaten Bener Meriah seluas 37,560 Ha meliputi reboisasi 16,845 Ha dan agroforestry 20,715 Ha 2) Kabupaten Aceh Utara seluas 606,07 Ha meliputi 51,64 Ha Reboisasi dan Agroforestry 20,715 Ha 3) Kabupaten Aceh Timur 91,642 Ha meliputi reboisasi 9,971Ha dan agroforetry 81,670 Ha. 4) Kabupaten Aceh Tengah 48,347 Ha meliputi 35,984 Ha dan agroforestry 12,363 Ha Pembinaan peladang disertai upaya rehabilitasi areal bekas perladangan dengan luas 50 % dari luasan areal bekas perladangan. Jangka Panjang (2011-2031) Rehabilitasi hutan lindung dan hutan konservasi dengan luas 50 % dari luasan hutan yang rusak disertai peningkatan upaya perlindungan kawasan dengan sasaran bagian hulu yang mempunyai lereng antara 25-40% 1) Kabupaten Bener Meriah seluas 37,560 Ha meliputi reboisasi 16,845 Ha dan agroforestry 20,715 Ha 2) Kabupaten Aceh Utara seluas 606,07 Ha meliputi 51,64 Ha Reboisasi dan Agroforestry 20,715 Ha 3) Kabupaten Aceh Timur 91,642 Ha meliputi reboisasi 9,971Ha dan agroforetry 81,670 Ha. 4) Kabupaten Aceh Tengah 48,347 Ha meliputi 35,984 Ha dan agroforestry 12,363 Ha Pembinaan peladang disertai upaya rehabilitasi areal bekas perladangan dengan luas 100 % dari luasan areal bekas perladangan. Kebijakan Operasional Melakukan pengawasan, penyuluhan dan pelibatan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi hutan lindung dan hutan konservasi Lembaga/ Instansi Terkait Bappeda Propinsi , Kabupaten , Dinas Kehutanan, BKSDA, BPDAS, BWS.Sumatera I

Terjadinya perladangan berpindah tersebar di kawasan hutan DAS Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara (Kec. Langkahan) Kabupaten Aceh Timur (Kec. Pante Bidari) Kerusakan daerah sempadan sungai Kab. Aceh Timur

Perubahan pola perladangan menjadi menetap

Melakukan penyuluhan dan pendampingan terhadap para peladang serta melibatkan mereka dalam program rehabilitasi hutan bekas perladangan.

Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, BPDAS, BWS Sumatera I

DAS Jambo Aye bagian hilir

DAS Peureulak Hilir DAS Idi Kab. Aceh Utara DAS Jambo Aye bagian hilir

- Kawasan sempadan sungai memiliki penutupan vegetasi yang baik - Penetapan Perda Sempadan Sungai

1. Penataan dengan penanaman areal sempadan sungai terutama di wilayah Kabupaten Aceh Timur DAS Jambo Aye bagian hilir Aceh Utara - DAS Jambo Aye bagian hilir 2. Pembuatan dan Penetapan Perda sempadan sungai 3. Pemberlakukan Perda Sempadan Sungai

1. Penataan Penanaman areal sempadan sungai terutama di wilayah Kabupaten Aceh Timur DAS Peureulak Hilir Aceh Utara - DAS Jambo Aye bagian hilir 2. Pembuatan dan Penetapan Perda sempadan sungai 3. Pemberlakukan Perda Sempadan Sungai Di Seluruh Wilayah Sungai Jambo Aye

1. Penanaman areal sempadan sungai terutama di wilayah Kabupaten Aceh Timur

Penertiban Perda Sempadan Sungai Penetapan Batas Sempadan Sungai Melakukan penyuluhan pada masyarakat sekitar sungai serta melakukan penanaman areal sempadan sungai

DAS Jambo Aye bagian hilir

DaS Idi Aceh Utara

DAS Jambo Aye bagian hilir DAS Peureulak Hilir

Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, BPDAS, BWS Sumatera I

Penyiapan kawasan hulu untuk fungsi konservasi dengan ketentuan 30-45% tiap DAS terutama DAS Jambo Aye & DAS Peureulak Upaya perlindungan untuk kawasan perkotaan Terutama Kota Panton Labu, Idirayek dan Peureulak 2 PENGAWETAN AIR Terbuangnya air pada saat hujan dan kekeringan di musim kemarau Saat musim hujan air ditampung dan saat musim kemarau air dapat dimanfaatkan . Ada potensi waduk dan Embung pada DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak.(sub Das)

Untuk menghindari Sedimentasi di wilayah Hilir dan menjaga bencana longsor

Di seluruh Wilayah Sungai terutama di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah

- DAS Jambo Aye bagian hilir 2. Pembuatan dan Penetapan Perda sempadan sungai 3. Pemberlakukan Perda Sempadan Sungai Di Seluruh Wilayah Sungai Jambo Aye

Melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk penyiapan kawasan Hulu untuk fungsi Konservasi

Upaya perlindungan untuk kawasan perkotaan

Pemberian Batasan Kawasan Yang Dipilih Untuk Disiapkan Sebagai Kawasan Terbangun dan pembatasan Intensitas kawasan terbangun dengan pemberian ketentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan penyiapan Koefisien Dasar Hijau (KDH) Perlindungan daerah resapan air, peningkatkan kapasitas tampungan yang ada melalui studi kelayakan Waduk dan embung. Melanjutkan Detail Desain Waduk Jambo Aye. Pembuatan embungembung di WS Jambo Aye sejumlah 8 Embung berlokasi : 1). DAS Jambo Aye 5 unit 2). DAS Peuruelak 3 unit Tahap Survey & Desain 8 Embung

Pemberian Batasan Kawasan Yang Dipilih Untuk Disiapkan Sebagai Kawasan Terbangun dan pembatasan Intensitas kawasan terbangun dengan pemberian ketentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan penyiapan Koefisien Dasar Hijau (KDH) Perlindungan daerah resapan air, perlindungan, peningkatkan kapasitas tampungan yang ada melalui pmbuatan dan pengelolaan embung Persiapan Pembangunan Waduk Jambo Aye Pembangunan Embung Embung pada DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak bagian hulu.

Pemberian Batasan Kawasan Yang Dipilih Untuk Disiapkan Sebagai Kawasan Terbangun dan pembatasan Intensitas kawasan terbangun dengan pemberian ketentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan penyiapan Koefisien Dasar Hijau (KDH) Perlindungan daerah resapan air, peningkatkan kapasitas tampungan yang ada melalui pembuatan dan pengelolaan embung Pembangunan Waduk Jambo Aye untuk Konservasi, Pendayagunaan dan Pengendalian Banjir Pembangunan Embung Embung pada DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak bagian hulu.

Melibatkan instansi terkait untuk upaya perlindungan untuk kawasan perkotaan

Bappeda Prov, Bappeda Kab/Kota Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Dinas Pertanian, BPDAS, BWS Sumatera I, Bappeda Kab/Kota, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Dinas Pertanian, BPDAS, BWS

Tersimpannya air yang berlebih pada saat hujan & tersedianya air di musim kemarau (Rasio Qmax/ Qmin tidak terlalu besar)

Merehabilitasi kawasan tangkapan air yang rusak dan pengawetan air.

Dinas Kehutanan, Dinas Pengairan, BPDAS, BWS Sumatera I,

Bab IV - 13

ASPEK KONSERVASI SUMBER DAYA AIR No Sub Aspek Hasil Analisa Penggunaan air tanah belum terkendali dengan baik di WS jambo Aye Pemakaian air belum efektif dan efisien Sasaran/Target yang ingin dicapai Penggunaan air tanah dapat diatur dan dikendalikan dengan baik sesuai wilayah CAT Pemakaian air dapat dilakukan secara efektif dan efisien Strategi Jangka Pendek (2011-2016) Pembuatan regulasi penggunaan air tanah disertai dengan pengendalian dan pengawasan pemanfaatannya Jangka Menengah (2011-2021) Pengendalian dan pengawasan penggunaan air tanah sesuai dengan ketentuan yang berlaku Jangka Panjang (2011-2031) Pengendalian dan pengawasan penggunaan air tanah sesuai dengan ketentuan yang berlaku Kebijakan Operasional Membuat dan mengimplementasikan peraturan tentang penggunaan air tanah disertai koordinasi dan sosialisasi pada masyarakat Memelihara sarana dan prasarana penyimpan air disertai sosialisasi pada masyarakat tentang penghematan pemanfaatan air Lembaga/ Instansi Terkait Dinas Pengairan, Bappeda, Dinas Pertanian, Pertambangan, PDAM, BWS Sumatera I. Dinas Pengairan, Bappeda, Dinas Pertanian, PDAM, BWS Sumatera I.

Perioritas pemanfaatan air di WS Jambo Aye 3 PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR Penurunan kualitas air akibat pencemaran pada DAS- DAS di WS Jambo Aye Terutama DAS Jambo Aye, DAS Idi dan DAS Peureulak Kualitas air dan sumber air sesuai dengan peruntukannya dan memenuhi baku mutu kualitas air yang disyaratkan

Meningkatkan kinerja sarana dan prasarana sumber daya air yang ada (termasuk jaringan irigasi) disertai penghematan pemakaian air baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian dan industri Air yang dimanfaatkan di Jambo Aye disiapkan untuk perkotaan untuk kegiatan pertanian/perkebunan dan perkotaan Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang ke dalam sungai Monitoring dan evaluasi kualitas air WS Jambo Aye dan sumber pencemar yang masuk ke sungai secara periodik Pengelolaan sampah domestik secara terpadu. Pengelolaan limbah cair domestik secara terpadu Pengelolaan sampah domestik secara terpadu termasuk pemilahan pada sumbernya dan daur ulang untuk kompos, dsb Audit lingkungan Pengelolaan limbah industri secara terpadu Kali bersih/pengolahan limbah domestik secara individu atau terpusat Menetapkan dan menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya kepada perencana Pemetaan lokasi dan identifikasi sumber serta potensi beban pencemaran pada DAS - DAS di WS Jambo Aye Pengelolaan & Pengawasan Pembuangan Limbah Cair Domestik & Non Domestik Pembangunan IPAL Terpusat tingkat kota/kabupaten

Meningkatkan kinerja sarana dan prasarana sumber daya air yang ada (termasuk jaringan irigasi) disertai penghematan pemakaian air baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian dan industri Air yang dimanfaatkan di Jambo Aye disiapkan untuk kegiatan pertanian/perkebunan dan perkotaan Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang ke dalam sungai Monitoring dan evaluasi kualitas air WS Jambo Aye dan sumber pencemar yang masuk ke sungai secara periodik Pengelolaan sampah domestik secara terpadu Pengelolaan limbah cair domestik secara terpadu Pengelolaan sampah domestik secara terpadu termasuk pemilahan pada sumbernya dan daur ulang untuk kompos, dsb Audit lingkungan Pengelolaan limbah industri secara terpadu. Kali bersih/pengolahan limbah domestik secara individu atau terpusat Menetapkan dan menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya kepada perencana Pemetaan lokasi dan identifikasi sumber serta potensi beban pencemaran pada DAS - DAS di WS Jambo Aye Pengelolaan & Pengawasan Pembuangan Limbah Cair Domestik & Non Domestik Pembangunan IPAL Komunal untuk tingkat desa/kelurahan/kelompok permukiman

Meningkatkan kinerja sarana dan prasarana sumber daya air yang ada (termasuk jaringan irigasi) disertai penghematan pemakaian air baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian dan industri Air yang dimanfaatkan di Jambo Aye untuk kegiatan pertanian/perkebunan dan perkotaan Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang ke dalam sungai Monitoring dan evaluasi kualitas air WS Jambo Aye dan sumber pencemar yang masuk ke sungai secara periodik Pengelolaan sampah domestik secara terpadu Pengelolaan limbah cair domestik secara terpadu Pengelolaan sampah domestik secara terpadu termasuk pemilahan pada sumbernya dan daur ulang untuk kompos, dsb Audit lingkungan Pengelolaan limbah industri secara terpadu Kali bersih/pengolahan limbah domestik secara individu atau terpusat Menetapkan dan menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya kepada perencana Pemetaan lokasi dan identifikasi sumber serta potensi beban pencemaran pada DAS - DAS di WS Jambo Aye Pengelolaan & Pengawasan Pembuangan Limbah Cair Domestik & Non Domestik Pembuatan sistem pengolahan pada sumber air, khususnya pada sumber air permukaan, seperti : aerasi, bioremediasi, ecotech

Penerbitan Perda Baku Mutu Air dan limbah cair di kabupaten dalam WS Jambo Aye Melakukan koordinasi dan pendekatan kepada pabrik / industri untuk tidak membuang limbah pabrik / industri langsung ke badan air tanpa pengolahan terlebih dahulu

BWS, Dinas Pengairan, BAPEDALDA, Pemda BWS, Dinas Pengairan, BAPEDALDA, Pemda

Limbah cair dan padat domestik dari perumahan dan permukiman dibuang langsung ke badan air Pada seluruh DAS pada WS Jambo Aye

Pengendalian pencemaran kualitas air pada badan air di WS Jambo Aye

Penerbitan Perda tentang pemulihan kualitas air, akibat dari pencemaran limbah cair

BWS, Dinas Tata Kota/Dinas Tata Ruang, Perguruan Tinggi, Bapedalda

Bab IV - 14

ASPEK PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR No II Sub Aspek 2. PENATAGUNAAN SUMBER DAYA AIR Hasil Analisa Adanya pengajuan Perubahan Kawasan untuk alih fungsi pemanfaatan dari hutan menjadi kegiatan permukiman dan pertanian holtikultura dengan langkah penyiapan permukiman enclave pada kawasan tertentu Sasaran/Target yang ingin dicapai Mempertahankan Luas kawasan hutan lindung rencanan tidak berada dibatas minimal (30% ) Strategi Jangka Pendek (2011-2016) 1. Penerapan Pelaksanaan Rencana Tata Ruang Propinsi dan seluruh Kabupaten dalam WS jambo Aye dengan mempehatikan kebutuhan Kawan Lindung DAS 2. Penyiapan rencana rinci Kabupaten dalam WS Jambo Aye Jangka Menengah (2011-2021) 1. Pengendalian Pemanfaatan ruang . 2. Monitoring & Evaluasi pelaksanaan RTRW dan RDTR kabupaten dalam WS Jambo Aye Jangka Panjang (2011-2031) 1. Pengendalian Pemanfaatan ruang . 2. Monitoring & Evaluasi pelaksanaan RTRW dan RDTR kabupaten dalam WS Jambo Aye Kebijakan Operasional Penyiapan , perencanaan dan pengendalian Pengaturan tata ruang yang harmonis dengan pengelolaan Sumber daya air Lembaga/ Instansi Terkait Bappeda, Dinas PU, BWS Sumatera I, Dinas Kehutanan, Perkebunan, BPDAS, Pertanian, Bapedalda Propinsi, Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengan, Bener Meriah & Gayo Leues Bappeda, Pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perkebunan, BPDAS, BPKH

Kondisi Penataan Ruang di WS Jambo Aye untuk Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Luwes belum mengikuti aturan UU No. 26 tahun 2007 sehingga kegiatan pemanfaatan lahan dapat menyesuaikan dengan Hasil peninjauan PSDA WS Jambo Aye

Berkurangnya lahan hutan menjadi kebun kelapa sawit di beberapa daerah Kabupaten

- Pemanfaatan Kawasan Lindung harus mengikuti PP 26 tahun 2008 tentang RTRWN - Pemanfaatan ruang menurut RTRW Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah dan Bener Meriah serta Gayo Luwes sesuai dengan pemanfaatan yang disiapkan oleh PSDA untuk kegiatan Pertanian,Perkebunan, Perikanan dan Kawasan Lindung Berfungsinya kembali lahan hutan sebagai kawasan resapan

Pengembangan Pemanfaatan Lahan lainnya disiapkan pada kawasan pendukung WS Jambo Aye sebagai Kawasan Kegiatan Pertanian Lahan Basah, Lahan Kering dan Perkebunan.

Penyiapan Pemanfaatan Lahan lainnya disiapkan pada kawasan pendukung WS Jambo Aye sebagai Kawasan Kegiatan Pertanian Lahan Basah, Lahan Kering dan Perkebunan untuk 20 tahun

Pengaturan dan pengembangan kegiatan pemanfaatan lahan dengan melibatkan sektorsektor terkait dan masyarakat Lokal

2 PENYEDIAAN SUMBER DAYA AIR

Belum terpenuhinya kebutuhan air (Air bersih) untuk masyarakat

Pemenuhan Kebutuhan air pokok sehari-hari Meningkatkan pelayanan air bersih

1. Pendataan hutan lindung yang menjadi kebun kelapa sawit sesuai peruntukan dalam RTRW penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman yang berada di Kawasan Hutan lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Kota Panton Labu, Idi Rayek penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman perkotaan yang berada di sempadan sungai/sumber air lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Kota Panton Labu, Idi Rayek Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang baru khususnya di daerah yang belum terjangkau oleh sistem PDAM yang telah ada sekarang

penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman yang berada di Kawasan Hutan lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Kota Panton Labu, Idi Rayek penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman perkotaan yang berada di sempadan sungai/sumber air lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Panton Labu, Idi Rayek Identifikasi sumber air baru yang berpotensi sebagai air baku untuk menambah kapasitas produksi

penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman yang berada di Kawasan Hutan lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Kota Panton Labu, Idi Rayek penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman perkotaan yang berada di sempadan sungai/sumber air lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Panton Labu, Idi Rayek

Bappeda, Dinas Pengairan, Dinas Perkebunan dan BWS Sumatera I Bappeda, Dinas Pengairan, BWS Sumatera I dan PemDA terkait

Bappeda, Dinas Pengairan, BWS Sumatera I dan PemDA terkait

Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang baru khususnya di daerah yang belum terjangkau oleh sistem PDAM yang telah ada sekarang Identifikasi sumber air baru yang berpotensi sebagai air baku untuk menambah kapasitas produksi

Melibatkan instansi terkait dan melibatkan masyarakat dalam rangka pelayanan air bersih dengan pembangunan instalasi air bersih dan alokasi dana O & P memadai

PDAM, Dinas Pengairan, BWS Sumatera I, PemDa terkait

Belum terpenuhinya kebutuhan air irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada Peningkatan Produksi pangan melalui peningkatan suplai air untuk pengembangan Daerah Irigasi yang sudah ada Pengembangan irigasi kecil / Desa diseluruh DAS seluas 4000 Ha. Pengembangan irigasi kecil / Desa diseluruh DAS seluas 4000 Ha.

Peningkatan kapasitas Instalasi Pengolahan Air Minum yang sudah ada Pengembangan irigasi kecil / Desa diseluruh DAS seluas 4000 Ha.

Pembangunan Rehabilitasi dan Upgrading Jaringan Irigasi Desa Melibatkan instansi terkait dan melibatkan masyarakat dalam rangka pemenuhan Kebutuhan air Irigasi

Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian,

Bab IV - 15

ASPEK PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR No Sub Aspek Hasil Analisa Adanya Potensi Areal irigasi di beberapa DAS antara lain DI Jambo Aye kanan seluas 6000 Ha DI Peureulak seluas 5000 Ha DI desa bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi teknis (yang Belum Berfungsi) Tidak semua rencana daerah irigasi dapat dipenuhi kebutuhan airnya dengan standar yang telah ditetapkan (1.3 liter/dt/ha) Sasaran/Target yang ingin dicapai Mengembangkan produksi pangan melalui pengembangan D.I. baru (yang belum berfungsi) Strategi Jangka Pendek (2011-2016) Untuk Daerah Irigasi Jambo Aye Kanan seluas 3000 Ha dan Jambo Aye Kiri ketersediaan airnya terpenuhi Jangka Menengah (2011-2021) Pengembangan Irigasi DI Peureulak seluas 5000 Ha Jangka Panjang (2011-2031) Pengembangan irigasi kecil /Desa yang dapat dikembangkan Kebijakan Operasional Melibatkan instansi terkait dan melibatkan masyarakat dalam rangka pemenuhan Kebutuhan Irigasi Peningkatan Jaringan Irigasi dengan melibatkan instansi terkait dan melibatkan masyarakat dalam rangka pelayanan air bersih serta Alokasi dana O & P memadai Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam pengalokasian air secara tepat waktu Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam pengalokasian air secara tepat waktu Lembaga/ Instansi Terkait Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian,

Untuk memenuhi swasembada pangan di WS Jambo Aye

3 PENGGUNAAN SUMBER DAYA AIR

Pemanfaatan sumber daya air yang ada belum optimal Minimnya biaya Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Belum memanfaatkan air dengan cara daur isi ulang Belum terpenuhinya kebutuhan air untuk perikanan dan tambak disepanjang pantai WS Jambo Aye Adanya potensi tambak yang dapat dikembangkan seluas 5000Ha didaerah pesisir. Belum terpenuhinya energi listrik skala mikro untuk Desa

Memenuhi penggunaan air dengan berbagai cara Memenuhi penggunaan air dengan berbagai cara Memenuhi penggunan air untuk perikanan air tawar dan tambak

Khusus untuk rencana daerah irigasi yang ketersediaan airnya tidak mencukupi, perlu dilakukan strategi pengembangan irigasi dengan sistem pemberian air sistem rise intesification/SRI Optimasi penggunaan air yang ada Optimasi penggunaan air yang ada Identifikasi dan pengembangan irigasi tambak dan perikanan kolam air tawar Pembangunan jaringan irigasi tambak seluas 5000 Ha Identifikasi dan Pembangunan PLTHM diseluruh DAS dan Sub DAS Dengan membuat embung sebagai tampungan di DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak. Persiapan Pembangunan Waduk Jambo Aye

Khusus untuk rencana daerah irigasi yang ketersediaan airnya tidak mencukupi, perlu dilakukan strategi pengembangan irigasi dengan sistem pemberian air sistem rise intesification/SRI Optimasi penggunaan air yang ada Optimasi penggunaan air yang ada Identifikasi dan pengembangan irigasi tambak dan perikanan kolam air tawar Pembangunan jaringan irigasi tambak seluas 5000 Ha Identifikasi dan Pembangunan PLTHM diseluruh DAS dan Sub DAS Dengan membuat embung sebagai tampungan di DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak. Persiapan Pembangunan Waduk Jambo Aye

Khusus untuk rencana daearh irigasi yang ketersediaan airnya tidak mencukupi, perlu dilakukan strategi pengembangan irigasi dengan sistem pemberian air sistem rise intesification/SRI Optimasi penggunaan air yang ada Optimasi penggunaan air yang ada Identifikasi dan pengembangan irigasi tambak dan perikanan kolam air tawar Pembangunan jaringan irigasi tambak seluas 5000 Ha Identifikasi dan Pembangunan PLTHM diseluruh DAS dan Sub DAS Dengan membuat embung sebagai tampungan di DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak. Pembangunan Waduk Jambo Aye & Pengembangan Irigasi total 54.306 Ha dari waduk Jambo Aye dan Suplesi DI Alue Bay 4500 Ha serta Air Baku 4,2 m3/detik Peningkatan kapasitas Instalasi Pengolahan Air Minum yang sudah ada

Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian,

Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian,

4 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR

Kekurangan air pada musim kemarau Potensi Waduk di DAS Jambo Aye

Terpenuhinya energi listrik dengan pembuatan PLTMH Meningkatkan ketersediaan air permukaan untuk berbagai kepentingan

Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam pembangunan Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam pembuatan Embung

Dinas Pengairan, BWS, Bappeda dan Dinas ESDM Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian

5 PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR

Pemanfaatan sumber mata air belum optimal

Pemenuhan kebutuhan air bersih untuk rumah tangga, industri dan perkotaan dan penerapan sistem yang melibatkan masyarakat

Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang baru khususnya di daerah yang belum terjangkau oleh sistem PDAM yang telah ada sekarang

Identifikasi sumber air baru yang berpotensi sebagai air baku untuk menambah kapasitas produks

Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam Operasi dan Pemeliharaan

BWS, Dinas Pengairan, PDAM dan Pemerintah Daerah

Bab IV - 16

PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR No III 1 Sub Aspek PENCEGAHAN Hasil Analisa Terjadi genangan akibat banjir Penyebab : Kapasitas prasarana berupa sistem drainase dan sungai utama sebagai penampung banjir terlampaui. Lokasi : 1). Kab. Aceh Utara 2) Kab. Aceh Timur 3) Kab. Aceh Tengah 4). Kab. Bener Meriah 5). Kab. Gayo Leus Sasaran/Target yang ingin dicapai Mengurangi akibat bencana banjir Jangka Pendek (2011-2016) Studi, Detail desain, dan pelaksanaan Pengendalian Banjir dan pengembangan SDA. Strategi Jangka Menengah (2011-2021) 1) Lanjutan Pelaksanaan Pengendalian banjir termasuk resettlement plan & pengembangan SDA. 2) Operasi & Pemeliharaan 3) Monitoring Evaluasi Jangka Panjang (2011-2031) 1) Operasi & Pemeliharaan 2) Monitoring Evaluasi Kebijakan Operasional 1. Menyiapkan dan membebaskan lahan untuk pembanguan prasarana Pengendali banjir 2. Pemerintah dan pemerintah daerah mempunyai komitment untuk mengurangi kerugian banjir . Lembaga/ Instansi Terkait Bappeda , Dinas Pengairan, Bapedalda, BPBD, Propinsi, kabupaten Aceh Utara, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah, Kab. BenerMeriah dan Kab. Gayo Leus BWS Sumatera I

DAS Peureulak di Kabupaten Aceh Timur DAS Jambo Aye di Kab . Aceh Utara dan Aceh Timur Kr. Pase Kab. Aceh Utara Kr.Simpan Barat Kab. Aceh Utara Kr. Arakundo dengan Sub DAS nya di Kabupaten Aceh Timur Kr . Julok di Kabupaten Aceh Timur DAS. A. Ramong di Kabupaten Aceh Timur

DAS Peureulak di Kabupaten Aceh Timur DAS Jambo Aye di Kab Aceh Utara & Aceh Timur Kr. Pase Kab. Aceh Utara Kr.Simpan Barat Kab. Aceh Utara Kr. Arakundo dengan Sub DAS nya di Kabupaten Aceh Timur Kr . Julok di Kab. Aceh Timur Sub DAS. A. Ramong di Kabupaten Aceh Timur

DAS Peureulak di Kab. Aceh Timur DAS Jambo Aye di Kab Aceh Utara dan Aceh Timur Kr. Pase Kab. Aceh Utara Kr.Simpan Barat Kab. Aceh Utara Kr. Arakundo dengan Sub DAS nya di Kabupaten Aceh Timur Kr. Julok di Kab Aceh Timur

Rusaknya beberapa perlindungan pemukiman dan jalan nasional dan longsornya tebing sungai Kerusakan wilayah pesisir di sepanjang pantai timur Penyebab Abrasi pantai

Terlindungnya pemukiman dan jalan nasional dari bahaya longsor akibat erosi tebing Memelihara penutupan lahan alami di bantaran sungai Terlindunginya pantai dari pengaruh abrasi yang mengancam sarana dan prasarana

Studi, DED pelaksanaan Perbaikan dan pemeliharaa bangunan Perkuatan dan perlindungan tebing sungai a. Pembangunan pengamanan pantai

Sub DAS. A. Ramong di Kab. Aceh Timur 1) Pemeliharaan Banguan Perkuatan dan perlindungan tebing sungai Jambo Aye dan sungai lainnya . 2) Monitoring dan Evaluasi a. Pembangunan pengamanan pantai

1) Pemeliharaan Banguan Perkuatan dan perlindungan tebing sungai Jambo Aye & sungai lainnya 2) Monitoring dan Evaluasi 1) Monitoring & Evaluasi pengamanan pantai 2) Pemeliharaan hutan bakau

Kabupaten Aceh Utara di beberapa kecamatan (1) Kec. Muara Batu (2) Kec. Dewantara (3) Kec. Syamtalira Bayu (4) Kec. Samudra (5) Kec. Tanah Pasi (6) Kec. Batiya Barat (7) Kec Seunudon

(1) (2) (3) (4)

Kabupaten Aceh Utara Kec. Muara Batu Kec. Dewantara Kec. Syamtalira Bayu Kec. Samudra

Kabupaten Aceh Utara (1) Kec. Tanah Pasi (2) Kec. Batiya Barat (3) Kec Seunudon

Kabupaten Aceh Timur (1) Kec.Birem Bayeun (2) Kec.Rantau Selamat (3) Kec.Sungai Raya (4) Kec.Peurelak (5) Kec.Peurelak Timur (6) Kec.Peurelak Barat (7) Kec.Peurelak Timur (8) Kec.Peudawa (9) Kec.Idi Rayeuk (10) Kec.Darul Aman (11) Kec. Nurulsalam (12) Kec. Julok (13) Kec. Simpang Ulin (14) Kec. Madat Terjadi penyempitan alur sungai penyebab Sedimentasi muara Tingkat kerugian akibat bencana banjir relatif besar Penyebab : Banjir menggenangi daerah pemukiman, jalan raya dan lahan pertanian serta masyarakat terlambat mengetahui datangnya bencana banjir Lokasi : 1) Kab. Aceh Utara

Kabupaten Aceh Timur (1) Kec. Birem Bayeun (2) Kec. Rantau Selamat (3) Kec. Sungai Raya (4) Kec. Peurelak (5) Kec. Peurelak Timur (6) Kec. Peurelak Barat (7) Kec. Peurelak Timur (8) Kec. Peudawa b. Rebilitasi hutan bakau sepanjang pantai

Kab. Aceh Timur (1) Kec. Idi Rayeuk (2) Kec. Darul Aman (3) Kec. Nurulsalam (4) Kec. Julok (5) Kec. Simpang Ulin (6) Kec. Madat b. Rebilitasi hutan bakau sepanjang pantai c. Monitoring & Evaluasi pengamanan pantai d. Pemeliharaan huatan bakau

Melibatkan instansi terkait dan stake holder terutama didalam pembangunan sarana dan prasarana SDA untuk pengendalian DRA a. Menetapkan jenis Bakau b. Melibatkan instansi terkait dan stake holder terutama didalam melestarikan bakau sepanjang pantai c. Pemerintah dan pemerintah daerah mempunyai komitment untuk melindungi pantai dari abrasi khususnya yang mengancam sarana dan prasarana

Dinas Pengairan, BWS Pemda

Dinas Pengairan, BWS Pemda, Dinas terkait

Aliran air dimuara lancar Masyarakat dapat mengantisipasi bencana yang ditimbulkan oleh daya rusak air

1.

Pemeliharaan alur sungai di kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara

1. Monitoring Evaluasi 2. Pemeliharaan alur sungai di kabupaten Aceh Timur Utara 1. Melaksanakan studi dan pelaksanaan pembangunan pengendalian banjir 2. Operasi dan pemeiharaan 3. Membuat sistim peringatan dini bahaya banjir 4. Pelaksanaan sistim peringatan dini bahaya banjir termasuk evakuasi 5. Monitoring & evaluasi sistim peringatan dini

Pemeliharaan alur sungai di kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara 1. Melaksanakan studi dan pelaksanaan pembangunan pengendalian banjir 2. Operasi dan pemeiharaan 3. Membuat sistim peringatan dini bahaya banjir 4. Pelaksanaan sistim peringatan dini bahaya banjir termasuk evakuasi 5. Monitoring & evaluasi sistim peringatan dini

Mengalokasikan dana dan kegioatan pemeliharaan alur sungai dan muara Meningkatkan peran Pemerintah Daerah, Lembaga Adat dan masyarakat dalam sistim peringatan dini

1. Melaksanakan studi dan pelaksanaan pembangunan pengendalian banjir 2. Operasi dan Pemeiharaan 3. Membuat sistim peringatan dini bahaya banjir 4. Pelaksanaan sistim peringatan dini bahaya banjir termasuk evakuasi 5. Monitoring & evaluasi sistim peringatan dini

Bappeda, Dinas PU, Dinas Kelautan & Perikanan Provinsi , Kab. Aceh Timur dan Utara Bappeda , Dinas Pengairan, BLH, BPBD , Propinsi ,kabupaten Aceh Utara, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah, Kab. BenerMeriah dan Kab. Gayo Leus BWS Sumatera I

Bab IV - 17

PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR No Sub Aspek 2) 3) 4) 5) Kab. Kab. Kab. Kab. Hasil Analisa Aceh Timur Aceh Tengah Bener Meriah Gayo Leus Masyarakat terhindar dari penyakit akibat banjir Penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana kesehatan di daeah rawan banjir Lanjutan penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana kesehatan di daeah rawan banjir Lanjutan penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana kesehatan di daeah rawan banjir Distribusi Leaflet tentang kesehatan dan pembuatan posko bencana keshatan akibat banjir BLH, Dinas Keshatan , LSM yang bergerak dibidang kesehatan Lingkungan : 1). Kab. Aceh Utara 2) Kab. Aceh Timur 3) Kab. Aceh Tengah 4). Kab.Bener Meriah 5). Kab. Gayo Leus Sasaran/Target yang ingin dicapai Jangka Pendek (2011-2016) Strategi Jangka Menengah (2011-2021) Jangka Panjang (2011-2031) Kebijakan Operasional Lembaga/ Instansi Terkait

PENANGGULANGAN

Terjadi berbagai peningkatan kasus penyakit pada saat banjir. Penyebab : Sarana dan prasarana kesehatan di daerah rawan banjir kurang memadai . Lokasi Kabupaten : 1) Aceh Utara 2) Aceh Timur 3) Aceh Tengah 4) Bener Meriah 5) Gayo Leus Mitigasi bencana, kegiatan yang bersifat meringankan penderitaan akibat bencana

Menyalurkan bantuan dan melakukan penanggulangan darurat

Setiap terjadi bencana : Menyiapkan alat-alat berat yang akan digunakan dalam penanggulangan bencana seperti buldozer, back hoe, karungplastik , bronjong Menentukan tempat yang aman untuk keperluan evakuasi 1. Evaluasi kerusakan dan membuat rencana perbaikan secara menyeluruh 2. Perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat bencana

Setiap terjadi bencana : Menyiapkan alat-alat berat yang akan digunakan dalam penanggulangan bencana seperti buldozer, back hoe, karungplastik , bronjong Menentukan tempat yang aman untuk keperluan evakuasi 1. Lanjutan Perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat bencana 2. Monitoring dan evaluasi

PEMULIHAN

Banjir tiap tahun merusak bangunan pengendali banjir

Memperbaiki dan merehabilitasi fungsi lingkungan hidup dan sistem prasarana SDA

Setiap terjadi bencana : Menyiapkan alat-alat berat yang akan digunakan dalam penanggulangan bencana seperti buldozer, back hoe, karungplastik , bronjong Menentukan tempat yang aman untuk keperluan evakuasi 1. Lanjutan Perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat bencana 2. Monitoring dan evaluasi

Menggalang dan mengkoordinasikan berbagai bantuan dan kegiatan yang bersifat meringankan penderitaan akibat bencana

Dinas PU Pengairan, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, BPBD Propinsi Aceh BWS Sumatera I BPBD Kabupaten Aceh Utara dan Timur

Membuat pedoman petunjuk petujuk teknis dan petunjuk pelaksanaan untuk keperluan perbaikan , rehabilitasi prasarana dan sarana SDA serta pemukiman

Bappeda , Dinas PU/ Pengairan, Dinas Perhubungan, Dinas Kehutanan Dinas Pertanian, BPBD Propinsi BPBD : Kab Aceh Utara, Aceh Tmur, Aceh Tengah, Bener Meriah&Gayo Leus BWS Sumatera I

Bab IV - 18

ASPEK KETERBUKAAN DAN KETERSEDIAAN DATA INFORMASI SDA No IV Sub Aspek PEMERINTAH DAN PEMDA MENYELENGGARAKAN PENGELOLAAN SISTEM INFORMASI SDA SESUAI DENGAN KEWENANGANNYA Hasil Analisa 1. Ketersediaan informasi sumber daya air tidak berkesinambungan. 2. Alat pemantau sebagian rusak, 3. O & P tidak berjalan dengan baik 4. SDM kurang memadai Sasaran/Target yang ingin dicapai 1. Sistem basis data yang 1. berkualitas dan berkesinambungan di Jambo Aye 2. Sistim informasi sumber Daya Air dapat diperoleh dengan 2. mudah melalui papan pengumuman, media massa dan media 3. elektronik Jangka Pendek (2011-2016) Rasionalisasi Pos-Pos Hidrometeorologi yang ada di DAS Jambo Aye, DAS Peureulak, DAS Idi, DAS Arakundo, DAS Geuruntang, DAS Bugeng, Rehabilitasi Pos-pos Hidrometri yang sudah ada disetiap DAS di WS Jambo Aye Pembangunan Pos-Pos Hidrometri pada DAS Rusa, DAS Leungo Rayeuk, DAS Reungat, DAS Babah dan DAS Gading O & P pos Hidrometri Strategi Jangka Menengah (2011-2021) 1. Pembangunan Pos-Pos Hidrometerologi di WS Jambo Aye 2. O & P pos Hidrometri Jangka Panjang (2011-2031) 1. O & P pos Hidrometri 2. Rehabilitasi Pos hidrometri Kebijakan Operasional Lembaga/ Instansi Terkait Ditjen Sumber Daya Air, Kem. PU, Wadah Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air, Bappeda, Dinas PU Pengairan, Balai Pengelolaan Sumber Daya Air, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Perhubungan BPDAS Jambo Aye BWS Sumatera I

4.

1. Pembangunan sistim Informasi (hardware dan software) SDA di tingkat propinsi/BWS Sumatera I dan tingkat Kabupaten 2. O & P sistim informasi SDA 1. O & P sistim informasi data 2. Pengembangan sistim informasi data 1. O & P sistim informasi data 2. Pengembangan sistim informa SDA

Pembangunan Pos Hidrometri, Pos Duga Air di Wilayah Sungai Jambo Aye Pembangunan sistem informasi (hardware dan software) Sumber Daya Air di tingkat provinsi/BWS Sumatera I dan tingkat kabupaten Berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera I tentang O & P sistem informasi Sumber Daya Air Penyediaan Dana untuk Pembangunan sistem informasi

1. Melaksanakan O & P sistem informasi SDA 2. Pembagian langsung tanggung jawab masing masing intansi sesuai Undang Umdang

Penyusunan data base Pengelolaan Ws Jambo Aye secara terintegrasi mencakup seluruh DAS (dari mengumpulkan data dari sumber sampai pusat data) Penyebaranluasan Sistim informasi SDA belum memadai Kerebukaan dan penyebarluasan sistim infornasi Sumber Daya Air (SISDA ) Sosialisasi sistim Informasi SDA termasuk tugas pokok dan fungsi Dinas Instansiyang terkait dalam Pengelolaan SDA ( BWS Sumatera I dan BPDAS dll ).

Pemukthiran data base (termasuk data spasial) Pengeliolaaan WS Jambo Aye

Pemukthiran data base (termasuk data spasial) Pengelolaaan WS Jambo Aye

1. Evaluasi sistmi informasi SDA termasuk pelaksanaan Tugas pokok dinas instansi yang terkait dalam pengelolaan SDA (BWS, BPDAS dll). 2. Pengendalian dan pengawasan perizinan usaha terkait dengan pemanfaatan lahan di DAS yang mengacu pada Poa Pengelolaan WS Jambo Aye

1. Evaluasi sistmi informasi SDA termasuk pelaksanaan Tugas pokok dinas instansi yang terkait dalam pengelolaan SDA (BWS, BPDAS dll ). 2. Pengendalian dan pengawasan perizinan usaha terkait dengan pemanfaatan lahan di DAS yang mengacu pada Poa Pengelolaan WS Jambo Aye

Ditjen SDA, KeMen. PU, Wadah Koordinasi Pengelolaan SDA, Balai Besar/Balai WS, BPDAS, Bappeda, Dinas Pengairan, Balai PSDA, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Perhubungan, Dinas yang terkait dengan SDA Ditjen SDA, KeMen PU, Wadah Koordinasi Pengelolaan SDA, Balai Besar/Balai WS, BPDAS, Bappeda, Dinas Pengairan, Balai PSDA, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Perhubungan, Dinas yang terkait dengan SDA

Program-program yang terkait dengan pengelolaan SDA yang dilaksanakan oleh setiap sektor belum sikron, sinergidan terpadu

Program- program terkait dengan Pengelolaan SDA yang dilaksanakan oleh stiap sektor sinkron, sinergi dan terpadu

Penyusunan nota kesepahaman dalam pengelolaan SDA wilayah sungai dan forum koordinasi. WS Jmbo Aye

Evaluasi pelaksanaan nota kesepahaman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai dan Forum Koordinasi di WS Jambo Aye.

Evaluasi pelaksanaan nota kesepahaman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai dan Forum Koordinasi di WS Jambo Aye.

Bab IV - 19

PEMBERDAYAAN DAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT, SWASTA, DAN PEMERINTAH No V Sub Aspek PEMERINTAH DAN PEMDA MENYELENGGARAKAN PEMBERDAYAAN PARA PEMILIK KEPENTINGAN KELEMBAGAAN SDA SECARA TERENCANA DAN SISTEMATIS Hasil Analisa 1. Masyarakat belum terlibat secara aktif atau perlu dilibatkan sejak dari tahap perencanaan (perencanaan partisipatif) dalam pengelolaan SDA WS Jambo Aye 2. TKPSDA WS Jambo Aye belum diwakili oleh Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Luwes Sasaran/Target yang ingin dicapai Masyarakat berperan secara aktif dalam Pengelolaan sumber daya air WS Jambo Aye Jangka Pendek (2011-2016) 1. Sosialisasi masyarakat dalam tahap perencanaan pengelolaan SDA WS Jambo Aye 2. Pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan pengawasan dan pemeliharaan SDA WS Jambo Aye 3. Keanggotaan TKPSDA WS Jambo Aye perlu direvisi dengan menyerap seluruh wakil dari Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Luwes. Strategi Jangka Menengah (2011-2021) 1. Monitoring dan Evaluasi 2. Sosialisai masyarakat dalam tahap perencanaan pengelolaan SDA WS Jambo Aye 3. Pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan pengawasan dan pemeliharaan SDA WS Jambo Aye Jangka Panjang (2011-2031) 1. Monitoring dan Evaluasi 2. Sosialisai masyarakat dalam tahap perencanaan pengelolaan SDA WS Jambo Aye 3. Pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan pengawasan dan pemeliharaan SDA WS Jambo Aye Kebijakan Operasional 1. Pemerintah mempunyai Komitmen melalui Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) yang sudah terbentuk bersama masyarakat untuk berperan secara aktif dalam pengelolaan SDA 2. Membuat petunjuk pelaksanaan sistim peran aktif masyarakat dalam pengelolaan SDA Lembaga/ Instansi Terkait Pemda, Lembaga Adat, Masyarakat, LSM : Proprinsi Aceh Pemda, Lembaga Adat, Masyarakat, LSM : kabupaten Aceh Utara ,Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah , Kab. Bener Meriah Dan Kab. Gayo Leus

Perlu penyiapan pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Penyangga untuk alokasi Masyarakat yang bermukim di kawasan tertentu dengan penyiapan permukiman enclave

Perlu penyiapan pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Penyangga untuk alokasi Masyarakat yang bermukim di kawasan tertentu dengan penyiapan permukiman enclave

Perlu pelibatan dan pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Penyangga untuk alokasi Masyarakat dalam pengelolaan SDA

Perlu pelibatan dan pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Penyangga untuk alokasi Masyarakat yang bermukim di kawasan tertentu dengan penyiapan permukiman enclave Tahun Perencanaan 20 Tahun

Penyiapan Alokasi Budidaya berupa kegiatan pertanian dan perkebunan

Penyiapan Alokasi kegiatan budidaya berupa kegiatan pertanian dan perkebunan untuk pemberdayaan Masyarakat dikawasan penyangga dengan memerhatikan dan komoditi yang direncanakan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan daya dukung lahan Sosialisasi penggunaan dan pembuatan bangunan SDA terhadap masyarakat WS Jambo Aye Masyarakat paham terhadap ketentuan PerUU tentang Sumber Daya Air

1.

2.

Sosialisasi/Menyebarluaskan komoditas pertanian dan perkebunan yang cocok dikembangkann di masingmasing DAS di WS Jambo Aye Mengembangkan komoditas pertanian dan perkebunan yang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Aye

1.

Pembinaan dan pengawasan pengembangan komoditas perkebunan dan pertanian yang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Aye

Pembinaan dan pengawasan pengembangan komoditas perkebunan dan pertanian yang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Ayeyang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Aye

Keterlibatan masyarakat belum dioptimalkan Pemahaman masyarakat terhadap ketentuan Per-UU masih kurang

Mensosialisasikan penggunaan dan pembuatan bangunan SDA terhadap masyarakat WS Jambo Aye Sosialisasi/Menyebarluaskan informasi ke seluruh stakeholder tentang pentingnya kelestarian SDA baik itu dari tingkat masyarakat bawah sampai tingkat masyarakat atas

Mensosialisasikan penggunaan dan pembuatan bangunan SDA terhadap masyarakat WS Jambo Aye Sosialisasi/Menyebarluaskan informasi ke seluruh stakeholder tentang pentingnya kelestarian SDA baik itu dari tingkat masyarakat bawah sampai tingkat masyarakat atas

Mensosialisasikan penggunaan dan pembuatan bangunan SDA terhadap masyarakat WS Jambo Aye Sosialisasi/Menyebarluaskan informasi ke seluruh stakeholder tentang pentingnya kelestarian SDA baik itu dari tingkat masyarakat bawah sampai tingkat masyarakat atas

1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen melalui TKPSDA yang sudah terbentuk agar masyarakat yang bermukim di kawasan penyangga berperan aktif dalam pengelolaan SDA 2. Membuat petunjuk sitim pelaksanaan sistim peran aktif masyarakat dalam pengelolaan SDA 1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen agar perkebunan dan pertanian yang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Aye 3. Membuat petunjuk sitim pelaksanaan agar perkebunan dan pertanian yang sesuai dengan daya dukung lahan masing-masing DAS Melibatkan instansi terkait dan stakeholder terutama di dalam OP Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam pemahamanan Peraturan dan Per UU tentang Sumber Daya Air Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen untuk melaksanakan penegakan hukum, pemberian penghargaan dan pemberlakukan sansi sesuai Peraturan dan Per UU ketententuan yang berlaku

Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan kabupaten Aceh Utara ,Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah , Kab. Bener Meriah Dan Kab. Gayo Leus BWS Sumatera I

Departemen PU dan Pemda

Departemen PU, Pemda, dan BWS

Pelaksanaan penegakan hukum dan pengenaan sanksi sesuai ketentuan per-UU yang berlaku masih belum optimal

Penegakan hukum dan pemberlakuan sanksi sesuai ketentuan Peraturan dan Per UU yang berlaku

1. Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA ke seluruh Stake Holder 2. Pengawasan Pelaksanaan Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA 3. Penegakan hukum dan sansi yang berlaku

1. Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA ke seluruh Stake Holder 2. Pengawasan Pelaksanaan Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA 3. Penegakan hukum dan sansi yang berlaku

1. Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA ke seluruh Stake Holder 2. Pengawasan Pelaksanaan Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA 3. Penegakan hukum dan sansi yang berlaku

Departemen PU, Dinas Pertanian Dinas Kehutanan Kabupaten kabupaten Aceh Utara ,Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah , Bener Meriah Dan Gayo Leus. BWS Sumatera I

Bab IV - 20

PEMBERDAYAAN DAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT, SWASTA, DAN PEMERINTAH No Sub Aspek Hasil Analisa Kemampuan SDM di Kelompok Masyarakat tentang SDA masih kurang Sasaran/Target yang ingin dicapai Masyarakat ditingkatkan kemampuannya dalam bidang pengelolaan SDA Jangka Pendek (2011-2016) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan SDM dalam rangka memenuhi standar kompetensi SDA Strategi Jangka Menengah (2011-2021) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan SDM tentang pelaksanaan, pemanfaatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana SDA yang bisa dikelola oleh masyarakat di WS Jambo Aye, Jangka Panjang (2011-2031) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan tentang pelaksanaan, pemanfaatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana SDA yang bisa dikelola oleh masyarakat di WS Jambo Aye, Pembinaan dan Evaluasi Pelaksanaan pemanfaatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana SDA yang bisa dikelola oleh masyarakat di WS Jambo Aye Program pelaksanaan GNKPA dan GERHAN Pembinaan dan Pengawasan Program-progran GERHAN dan GNKPA Kebijakan Operasional 1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen untuk meningkatkan pengetahuan masyarakatterhadap Pengelolaan SDA WS Jambo Aye Lembaga/ Instansi Terkait Departemen PU, Dinas Pertanian Dinas Kehutanan Kabupaten kabupaten Aceh Utara, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah, Bener Meriah Dan Gayo Leus. BWS Sumatera I

1.

2.

Masyarakat masih belum mengenal GNKPA

Meningkatnya kesadaran masyarakat mengenal Program GNKPA

1. Mensosialisasikan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) di tingkat propinsi, kabupaten, kecamatan dan desa yang termasuk dalam WS Jambo Aye 2. Program pelaksanaan GNKPA dan GERHAN

1. Program pelaksanaan GNKPA dan GERHAN 2. Pembinaan dan Pengawasan Program-progran GERHAN dan GNKPA

1. 2.

1. Membuat buku Petunjuk Pelaksanaan di tingkat Propinsi / Kabupaten tentang Pedoman Penyelamatan Air sebagai acuan dalam Sosialisai GNKPA dan GERHAN

Departemen PU, Dinas Pertanian Dinas Kehutanan Kabupaten kabupaten Aceh Utara, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah, Bener Meriah Dan Gayo Leus. BWS Sumatera I

Bab IV - 21

KEBIJAKAN OPERASIONAL PENGELOLAAN WILAYAH SUNGAI JAMBO AYE SKENARIO (PERTUMBUHAN EKONOMI TINGGI)

Bab IV - 22

Tabel 4.3. KEBIJAKAN OPERASIONAL POLA PENGELOLAAN WILAYAH SUNGAI JAMBO AYE SKENARIO (PERTUMBUHAN EKONOMI TIMGGI)

ASPEK KONSERVASI SUMBER DAYA AIR No I Sub Aspek 1 PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER DAYA AIR Hasil Analisa Kerusakan hutan lindung dan hutan konservasi Kondisi Lahan pada WS Jambo Aye adalah Lahan kritis 112.563 ha (14,50%); agak kritis 229.467 Ha (29,56%), potensial kritis 359.726 ha (46,33%), Sangat kritis 29.249 (3,77%) dan Tidak Kritis 45.376 ha (5,84% ) Sasaran/Target yang ingin dicapai Kelestarian hutan lindung dan hutan konservasi dapat terjaga dengan target : 1. penghijauan /agroforestry/hutan rakyat seluas 115.304,58 Ha 2. Reboisasi seluas 62.852,64 Ha Total 178.157,22 Ha Strategi Jangka Pendek (2011-2016) Rehabilitasi hutan lindung dan hutan konservasi dengan luas 10 % dari luasan hutan yang rusak disertai peningkatan upaya perlindungan kawasan dengan sasaran bagian hulu yang mempunyai lereng antara 2540% 1) Kabupaten Bener Meriah seluas 37,560 Ha meliputi reboisasi 16,845 Ha dan agroforestry 20,715 Ha 2) Kabupaten Aceh Utara seluas 606,07 Ha meliputi 51,64 Ha Reboisasi dan Agroforestry 20,715 Ha 3) Kabupaten Aceh Timur 91,642 Ha meliputi reboisasi 9,971Ha dan agroforetry 81,670 Ha. 4) Kabupaten Aceh Tengah 48,347 Ha meliputi 35,984 Ha dan agroforestry 12,363 Ha Pembinaan peladang disertai upaya rehabilitasi areal bekas perladangan dengan luas 25 % dari luasan areal bekas perladangan. Jangka Menengah (2011-2021) Rehabilitasi hutan lindung dan hutan konservasi dengan luas 30 % dari luasan hutan yang rusak disertai peningkatan upaya perlindungan kawasan dengan sasaran bagian hulu yang mempunyai lereng antara 25-40% 1) Kabupaten Bener Meriah seluas 37,560 Ha meliputi reboisasi 16,845 Ha dan agroforestry 20,715 Ha 2) Kabupaten Aceh Utara seluas 606,07 Ha meliputi 51,64 Ha Reboisasi dan Agroforestry 20,715 Ha 3) Kabupaten Aceh Timur 91,642 Ha meliputi reboisasi 9,971Ha dan agroforetry 81,670 Ha. 4) Kabupaten Aceh Tengah 48,347 Ha meliputi 35,984 Ha dan agroforestry 12,363 Ha Pembinaan peladang disertai upaya rehabilitasi areal bekas perladangan dengan luas 50 % dari luasan areal bekas perladangan. Jangka Panjang (2011-2031) Rehabilitasi hutan lindung dan hutan konservasi dengan luas 50 % dari luasan hutan yang rusak disertai peningkatan upaya perlindungan kawasan dengan sasaran bagian hulu yang mempunyai lereng antara 25-40% 1) Kabupaten Bener Meriah seluas 37,560 Ha meliputi reboisasi 16,845 Ha dan agroforestry 20,715 Ha 2) Kabupaten Aceh Utara seluas 606,07 Ha meliputi 51,64 Ha Reboisasi dan Agroforestry 20,715 Ha 3) Kabupaten Aceh Timur 91,642 Ha meliputi reboisasi 9,971Ha dan agroforetry 81,670 Ha. 4) Kabupaten Aceh Tengah 48,347 Ha meliputi 35,984 Ha dan agroforestry 12,363 Ha Pembinaan peladang disertai upaya rehabilitasi areal bekas perladangan dengan luas 100 % dari luasan areal bekas perladangan. Kebijakan Operasional Melakukan pengawasan, penyuluhan dan pelibatan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi hutan lindung dan hutan konservasi Lembaga/ Instansi Terkait Bappeda Propinsi , Kabupaten , Dinas Kehutanan, BKSDA, BPDAS, BWS.Sumatera I

Terjadinya perladangan berpindah tersebar di kawasan hutan DAS Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara (Kec. Langkahan) Kabupaten Aceh Timur (Kec. Pante Bidari) Kerusakan daerah sempadan sungai Kab. Aceh Timur

Perubahan pola perladangan menjadi menetap

Melakukan penyuluhan dan pendampingan terhadap para peladang serta melibatkan mereka dalam program rehabilitasi hutan bekas perladangan.

Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, BPDAS, BWS Sumatera I

DAS Jambo Aye bagian hilir

DAS Peureulak Hilir DAS Idi Kab. Aceh Utara DAS Jambo Aye bagian hilir

- Kawasan sempadan sungai memiliki penutupan vegetasi yang baik - Penetapan Perda Sempadan Sungai

1. Penataan dengan penanaman areal sempadan sungai terutama di wilayah Kabupaten Aceh Timur DAS Jambo Aye bagian hilir Aceh Utara - DAS Jambo Aye bagian hilir 2. Pembuatan dan Penetapan Perda sempadan sungai 3. Pemberlakukan Perda Sempadan Sungai

1. Penataan Penanaman areal sempadan sungai terutama di wilayah Kabupaten Aceh Timur DAS Peureulak Hilir Aceh Utara

1. Penanaman areal sempadan sungai terutama di wilayah Kabupaten Aceh Timur DAS Peureulak Hilir DaS Idi Aceh Utara

Penertiban Perda Sempadan Sungai Penetapan Batas Sempadan Sungai Melakukan penyuluhan pada masyarakat sekitar sungai serta melakukan penanaman areal sempadan sungai

DAS Jambo Aye bagian hilir

- DAS Jambo Aye bagian hilir 2. Pembuatan dan Penetapan Perda sempadan sungai 3. Pemberlakukan Perda Sempadan Sungai
Di Seluruh Wilayah Sungai Jambo Aye

DAS Jambo Aye bagian hilir

Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, BPDAS, BWS Sumatera I

Penyiapan kawasan hulu untuk fungsi konservasi dengan ketentuan 30-45% tiap DAS terutama DAS Jambo Aye & DAS Peureulak Upaya perlindungan untuk kawasan perkotaan Terutama Kota Panton Labu, Idirayek dan Peureulak 2 PENGAWETAN AIR Terbuangnya air pada saat hujan dan kekeringan di musim kemarau Saat musim hujan air ditampung dan saat musim kemarau air dapat dimanfaatkan . Ada potensi waduk dan Embung pada DAS

Untuk menghindari Sedimentasi di wilayah Hilir dan menjaga bencana longsor

Di seluruh Wilayah Sungai terutama di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah

- DAS Jambo Aye bagian hilir 2. Pembuatan dan Penetapan Perda sempadan sungai 3. Pemberlakukan Perda Sempadan Sungai Di Seluruh Wilayah Sungai Jambo Aye

Melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk penyiapan kawasan Hulu untuk fungsi Konservasi

Upaya perlindungan untuk kawasan perkotaan

Pemberian Batasan Kawasan Yang Dipilih Untuk Disiapkan Sebagai Kawasan Terbangun dan pembatasan Intensitas kawasan terbangun dengan pemberian ketentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan penyiapan Koefisien Dasar Hijau (KDH) Perlindungan daerah resapan air, peningkatkan kapasitas tampungan yang ada melalui studi kelayakan Waduk dan embung. Persiapan Pembangunan Waduk Jambo Aye. Pembuatan embungembung di WS Jambo Aye sejumlah 8 Embung lokasi 1). DAS Jambo Aye 5 unit 2). DAS Peuruelak 3 unit

Pemberian Batasan Kawasan Yang Dipilih Untuk Disiapkan Sebagai Kawasan Terbangun dan pembatasan Intensitas kawasan terbangun dengan pemberian ketentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan penyiapan Koefisien Dasar Hijau (KDH) Perlindungan daerah resapan air, perlindungan, peningkatkan kapasitas tampungan yang ada melalui pmbuatan dan pengelolaan embung Pembangunan Waduk Jambo Aye. Pembangunan Embung Embung pada DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak bagian hulu.

Pemberian Batasan Kawasan Yang Dipilih Untuk Disiapkan Sebagai Kawasan Terbangun dan pembatasan Intensitas kawasan terbangun dengan pemberian ketentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan penyiapan Koefisien Dasar Hijau (KDH) Perlindungan daerah resapan air, peningkatkan kapasitas tampungan yang ada melalui pembuatan dan pengelolaan embung Operasi & Pemeliharaan Waduk Jambo Aye. Pembangunan Embung Embung pada DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak bagian hulu.

Melibatkan instansi terkait untuk upaya perlindungan untuk kawasan perkotaan

Bappeda Prov, Bappeda Kab/Kota Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Dinas Pertanian, BPDAS, BWS Sumatera I, Bappeda Kab/Kota, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Dinas Pertanian, BPDAS, BWS

Tersimpannya air yang berlebih pada saat hujan & tersedianya air di musim kemarau (Rasio Qmax/ Qmin tidak terlalu besar)

Merehabilitasi kawasan tangkapan air yang rusak dan pengawetan air.

Dinas Kehutanan, Dinas Pengairan, BPDAS, BWS Sumatera I,

Bab IV - 23

ASPEK KONSERVASI SUMBER DAYA AIR No Sub Aspek Hasil Analisa Jambo Aye dan DAS Peureulak.(sub Das) Penggunaan air tanah belum terkendali dengan baik di WS jambo Aye Pemakaian air belum efektif dan efisien Sasaran/Target yang ingin dicapai Strategi Jangka Pendek (2011-2016) Tahap Survey & Desain 8 Embung Pembuatan regulasi penggunaan air tanah disertai dengan pengendalian dan pengawasan pemanfaatannya Jangka Menengah (2011-2021) Pengendalian dan pengawasan penggunaan air tanah sesuai dengan ketentuan yang berlaku Jangka Panjang (2011-2031) Pengendalian dan pengawasan penggunaan air tanah sesuai dengan ketentuan yang berlaku Kebijakan Operasional Lembaga/ Instansi Terkait

Penggunaan air tanah dapat diatur dan dikendalikan dengan baik sesuai wilayah CAT Pemakaian air dapat dilakukan secara efektif dan efisien

Perioritas pemanfaatan air di WS Jambo Aye

Meningkatkan kinerja sarana dan prasarana sumber daya air yang ada (termasuk jaringan irigasi) disertai penghematan pemakaian air baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian dan industri Air yang dimanfaatkan di Jambo Aye disiapkan untuk perkotaan untuk kegiatan pertanian/perkebunan dan perkotaan

Meningkatkan kinerja sarana dan prasarana sumber daya air yang ada (termasuk jaringan irigasi) disertai penghematan pemakaian air baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian dan industri Air yang dimanfaatkan di Jambo Aye disiapkan untuk kegiatan pertanian/perkebunan dan perkotaan

Meningkatkan kinerja sarana dan prasarana sumber daya air yang ada (termasuk jaringan irigasi) disertai penghematan pemakaian air baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian dan industri Air yang dimanfaatkan di Jambo Aye untuk kegiatan pertanian/perkebunan dan perkotaan

Membuat dan mengimplementasikan peraturan tentang penggunaan air tanah disertai koordinasi dan sosialisasi pada masyarakat Memelihara sarana dan prasarana penyimpan air disertai sosialisasi pada masyarakat tentang penghematan pemanfaatan air

Dinas Pengairan, Bappeda, Dinas Pertanian, Pertambangan, PDAM, BWS Sumatera I. Dinas Pengairan, Bappeda, Dinas Pertanian, PDAM, BWS Sumatera I.

3 PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

Penurunan kualitas air akibat pencemaran pada DAS- DAS di WS Jambo Aye Terutama DAS Jambo Aye, DAS Idi dan DAS Peureulak

Kualitas air dan sumber air sesuai dengan peruntukannya dan memenuhi baku mutu kualitas air yang disyaratkan

Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang ke dalam sungai Monitoring dan evaluasi kualitas air WS Jambo Aye dan sumber pencemar yang masuk ke sungai secara periodik Pengelolaan sampah domestik secara terpadu. Pengelolaan limbah cair domestik secara terpadu Pengelolaan sampah domestik secara terpadu termasuk pemilahan pada sumbernya dan daur ulang untuk kompos, dsb Audit lingkungan Pengelolaan limbah industri secara terpadu Kali bersih/pengolahan limbah domestik secara individu atau terpusat Menetapkan dan menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya kepada perencana Pemetaan lokasi dan identifikasi sumber serta potensi beban pencemaran pada DAS - DAS di WS Jambo Aye Pengelolaan & Pengawasan Pembuangan Limbah Cair Domestik & Non Domestik Pembangunan IPAL Terpusat tingkat kota/kabupaten

Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang ke dalam sungai Monitoring dan evaluasi kualitas air WS Jambo Aye dan sumber pencemar yang masuk ke sungai secara periodik Pengelolaan sampah domestik secara terpadu Pengelolaan limbah cair domestik secara terpadu Pengelolaan sampah domestik secara terpadu termasuk pemilahan pada sumbernya dan daur ulang untuk kompos, dsb Audit lingkungan Pengelolaan limbah industri secara terpadu. Kali bersih/pengolahan limbah domestik secara individu atau terpusat Menetapkan dan menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya kepada perencana Pemetaan lokasi dan identifikasi sumber serta potensi beban pencemaran pada DAS - DAS di WS Jambo Aye Pengelolaan & Pengawasan Pembuangan Limbah Cair Domestik & Non Domestik Pembangunan IPAL Komunal untuk tingkat desa/kelurahan/kelompok permukiman

Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang ke dalam sungai Monitoring dan evaluasi kualitas air WS Jambo Aye dan sumber pencemar yang masuk ke sungai secara periodik Pengelolaan sampah domestik secara terpadu Pengelolaan limbah cair domestik secara terpadu Pengelolaan sampah domestik secara terpadu termasuk pemilahan pada sumbernya dan daur ulang untuk kompos, dsb Audit lingkungan Pengelolaan limbah industri secara terpadu Kali bersih/pengolahan limbah domestik secara individu atau terpusat Menetapkan dan menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya kepada perencana Pemetaan lokasi dan identifikasi sumber serta potensi beban pencemaran pada DAS - DAS di WS Jambo Aye Pengelolaan & Pengawasan Pembuangan Limbah Cair Domestik & Non Domestik Pembuatan sistem pengolahan pada sumber air, khususnya pada sumber air permukaan, seperti : aerasi, bioremediasi, ecotech

Penerbitan Perda Baku Mutu Air dan limbah cair di kabupaten dalam WS Jambo Aye Melakukan koordinasi dan pendekatan kepada pabrik / industri untuk tidak membuang limbah pabrik / industri langsung ke badan air tanpa pengolahan terlebih dahulu

BWS, Dinas Pengairan, BAPEDALDA, Pemda BWS, Dinas Pengairan, BAPEDALDA, Pemda

Limbah cair dan padat domestik dari perumahan dan permukiman dibuang langsung ke badan air Pada seluruh DAS pada WS Jambo Aye

Pengendalian pencemaran kualitas air pada badan air di WS Jambo Aye

Penerbitan Perda tentang pemulihan kualitas air, akibat dari pencemaran limbah cair

BWS, Dinas Tata Kota/Dinas Tata Ruang, Perguruan Tinggi, Bapedalda

Bab IV - 24

ASPEK PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR No II Sub Aspek 3. PENATAGUNAAN SUMBER DAYA AIR Hasil Analisa Adanya pengajuan Perubahan Kawasan untuk alih fungsi pemanfaatan dari hutan menjadi kegiatan permukiman dan pertanian holtikultura dengan langkah penyiapan permukiman enclave pada kawasan tertentu Sasaran/Target yang ingin dicapai Mempertahankan Luas kawasan hutan lindung rencanan tidak berada dibatas minimal (30% ) Strategi Jangka Pendek (2011-2016) 1. Penerapan Pelaksanaan Rencana Tata Ruang Propinsi dan seluruh Kabupaten dalam WS jambo Aye dengan mempehatikan kebutuhan Kawan Lindung DAS 2. Penyiapan rencana rinci Kabupaten dalam WS Jambo Aye Jangka Menengah (2011-2021) 1. Pengendalian Pemanfaatan ruang . 2. Monitoring & Evaluasi pelaksanaan RTRW dan RDTR kabupaten dalam WS Jambo Aye Jangka Panjang (2011-2031) 1. Pengendalian Pemanfaatan ruang . 2. Monitoring & Evaluasi pelaksanaan RTRW dan RDTR kabupaten dalam WS Jambo Aye Kebijakan Operasional Penyiapan , perencanaan dan pengendalian Pengaturan tata ruang yang harmonis dengan pengelolaan Sumber daya air Lembaga/ Instansi Terkait Bappeda, Dinas PU, BWS Sumatera I, Dinas Kehutanan, Perkebunan, BPDAS, Pertanian, Bapedalda Propinsi, Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengan, Bener Meriah & Gayo Leues Bappeda, Pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perkebunan, BPDAS, BPKH

Kondisi Penataan Ruang di WS Jambo Aye untuk Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Luwes belum mengikuti aturan UU No. 26 tahun 2007 sehingga kegiatan pemanfaatan lahan dapat menyesuaikan dengan Hasil peninjauan PSDA WS Jambo Aye

Berkurangnya lahan hutan menjadi kebun kelapa sawit di beberapa daerah Kabupaten

- Pemanfaatan Kawasan Lindung harus mengikuti PP 26 tahun 2008 tentang RTRWN - Pemanfaatan ruang menurut RTRW Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah dan Bener Meriah serta Gayo Luwes sesuai dengan pemanfaatan yang disiapkan oleh PSDA untuk kegiatan Pertanian,Perkebunan, Perikanan dan Kawasan Lindung Berfungsinya kembali lahan hutan sebagai kawasan resapan

Pengembangan Pemanfaatan Lahan lainnya disiapkan pada kawasan pendukung WS Jambo Aye sebagai Kawasan Kegiatan Pertanian Lahan Basah, Lahan Kering dan Perkebunan.

Penyiapan Pemanfaatan Lahan lainnya disiapkan pada kawasan pendukung WS Jambo Aye sebagai Kawasan Kegiatan Pertanian Lahan Basah, Lahan Kering dan Perkebunan untuk 20 tahun

Pengaturan dan pengembangan kegiatan pemanfaatan lahan dengan melibatkan sektorsektor terkait dan masyarakat Lokal

2 PENYEDIAAN SUMBER DAYA AIR

Belum terpenuhinya kebutuhan air (Air bersih) untuk masyarakat

Pemenuhan Kebutuhan air pokok sehari-hari Meningkatkan pelayanan air bersih

1. Pendataan hutan lindung yang menjadi kebun kelapa sawit sesuai peruntukan dalam RTRW penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman yang berada di Kawasan Hutan lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Kota Panton Labu, Idi Rayek penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman perkotaan yang berada di sempadan sungai/sumber air lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Kota Panton Labu, Idi Rayek Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang baru khususnya di daerah yang belum terjangkau oleh sistem PDAM yang telah ada sekarang

penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman yang berada di Kawasan Hutan lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Kota Panton Labu, Idi Rayek penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman perkotaan yang berada di sempadan sungai/sumber air lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Panton Labu, Idi Rayek Identifikasi sumber air baru yang berpotensi sebagai air baku untuk menambah kapasitas produksi

penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman yang berada di Kawasan Hutan lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Kota Panton Labu, Idi Rayek penyiapan kebijakan relokasi kegiatan permukiman perkotaan yang berada di sempadan sungai/sumber air lainnya terutama untuk daerah perkotaan pada Panton Labu, Idi Rayek

Bappeda, Dinas Pengairan, Dinas Perkebunan dan BWS Sumatera I Bappeda, Dinas Pengairan, BWS Sumatera I dan PemDA terkait

Bappeda, Dinas Pengairan, BWS Sumatera I dan PemDA terkait

Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang baru khususnya di daerah yang belum terjangkau oleh sistem PDAM yang telah ada sekarang Identifikasi sumber air baru yang berpotensi sebagai air baku untuk menambah kapasitas produksi

Melibatkan instansi terkait dan melibatkan masyarakat dalam rangka pelayanan air bersih dengan pembangunan instalasi air bersih dan alokasi dana O & P memadai

PDAM, Dinas Pengairan, BWS Sumatera I, PemDa terkait

Belum terpenuhinya kebutuhan air irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada Peningkatan Produksi pangan melalui peningkatan suplai air untuk pengembangan Daerah Irigasi yang sudah ada Pengembangan irigasi kecil / Desa diseluruh DAS seluas 4000 Ha. Pengembangan irigasi kecil / Desa diseluruh DAS seluas 4000 Ha.

Peningkatan kapasitas Instalasi Pengolahan Air Minum yang sudah ada Pengembangan irigasi kecil / Desa diseluruh DAS seluas 4000 Ha.

Pembangunan Rehabilitasi dan Upgrading Jaringan Irigasi Desa Melibatkan instansi terkait dan melibatkan masyarakat dalam rangka pemenuhan Kebutuhan air Irigasi

Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian,

Bab IV - 25

ASPEK PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR No Sub Aspek Hasil Analisa Adanya Potensi Areal irigasi di beberapa DAS antara lain DI Jambo Aye kanan seluas 6000 Ha DI Peureulak seluas 5000 Ha DI desa bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi teknis (yang Belum Berfungsi) Tidak semua rencana daerah irigasi dapat dipenuhi kebutuhan airnya dengan standar yang telah ditetapkan (1.3 liter/dt/ha) Sasaran/Target yang ingin dicapai Mengembangkan produksi pangan melalui pengembangan D.I. baru (yang belum berfungsi) Strategi Jangka Pendek (2011-2016) Untuk Daerah Irigasi Jambo Aye Kanan seluas 6000 Ha dan Jambo Aye Kiri ketersediaan airnya terpenuhi Pengembangan Irigasi DI Peureulak seluas 5000 Ha Pengambangan irigasi Desa seluas 4000 Ha Khusus untuk rencana daerah irigasi yang ketersediaan airnya tidak mencukupi, perlu dilakukan strategi pengembangan irigasi dengan sistem pemberian air sistem rise intesification/SRI Optimasi penggunaan air yang ada Optimasi penggunaan air yang ada Identifikasi dan pengembangan irigasi tambak dan perikanan kolam air tawar Pembangunan jaringan irigasi tambak seluas 5000 Ha Identifikasi dan Pembangunan PLTHM diseluruh DAS dan Sub DAS Dengan membuat embung sebagai tampungan di DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak Persiapan Pembangunan Waduk Jambo Aye Jangka Menengah (2011-2021) Operasi dan Pemeliharaan Daerah Irigasi Teknis Jangka Panjang (2011-2031) Operasi dan Pemeliharaan Daerah Irigasi Teknis Kebijakan Operasional Melibatkan instansi terkait dan melibatkan masyarakat dalam rangka pemenuhan Kebutuhan Irigasi Lembaga/ Instansi Terkait Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian,

Untuk memenuhi swasembada pangan di WS Jambo Aye

Khusus untuk rencana daerah irigasi yang ketersediaan airnya tidak mencukupi, perlu dilakukan strategi pengembangan irigasi dengan sistem pemberian air sistem rise intesification/SRI Optimasi penggunaan air yang ada Optimasi penggunaan air yang ada Identifikasi dan pengembangan irigasi tambak dan perikanan kolam air tawar Pembangunan jaringan irigasi tambak seluas 5000 Ha Identifikasi dan Pembangunan PLTHM diseluruh DAS dan Sub DAS Dengan membuat embung sebagai tampungan di DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak Pembangunan Waduk Jambo Aye & Pengembangan Irigasi total 54.306 Ha dari waduk Jambo Aye dan Suplesi DI Alue Bay 4500 Ha serta Air Baku 4,2 m3/detik Identifikasi sumber air baru yang berpotensi sebagai air baku untuk menambah kapasitas produks

3 PENGGUNAAN SUMBER DAYA AIR

Pemanfaatan sumber daya air yang ada belum optimal Minimnya biaya Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Belum memanfaatkan air dengan cara daur isi ulang Belum terpenuhinya kebutuhan air untuk perikanan dan tambak disepanjang pantai WS Jambo Aye Adanya potensi tambak yang dapat dikembangkan seluas 3000Ha didaerah pesisir. Belum terpenuhinya energi listrik skala mikro untuk Desa Potensi Waduk Jambo Aye untuk PLTA 110 MW Kekurangan air pada musim kemarau Adanya Potensi Untuk Waduk di DAS Jambo Aye

Memenuhi penggunaan air dengan berbagai cara Memenuhi penggunaan air dengan berbagai cara Memenuhi penggunan air untuk perikanan air tawar dan tambak

Khusus untuk rencana daearh irigasi yang ketersediaan airnya tidak mencukupi, perlu dilakukan strategi pengembangan irigasi dengan sistem pemberian air sistem rise intesification/SRI Optimasi penggunaan air yang ada Optimasi penggunaan air yang ada Identifikasi dan pengembangan irigasi tambak dan perikanan kolam air tawar Pembangunan jaringan irigasi tambak seluas 5000 Ha Identifikasi dan Pembangunan PLTHM diseluruh DAS dan Sub DAS Dengan membuat embung sebagai tampungan di DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak Operasi dan Pemeliharaan Pembangunan Waduk Jambo Aye

Peningkatan Jaringan Irigasi dengan melibatkan instansi terkait dan melibatkan masyarakat dalam rangka pelayanan air bersih serta Alokasi dana O & P memadai Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam pengalokasian air secara tepat waktu Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam pengalokasian air secara tepat waktu

Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian,

Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian,

Terpenuhinya energi listrik dengan pembuatan PLTMH Meningkatkan ketersediaan air permukaan untuk berbagai kepentingan

Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam pembangunan Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam pembuatan Embung

Dinas Pengairan, BWS, Bappeda dan Dinas ESDM Dinas Pengairan, BWS, Bappeda, Dinas Pertanian

4 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR

5 PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR

Pemanfaatan sumber mata air belum optimal

Pemenuhan kebutuhan air bersih untuk rumah tangga, industri dan perkotaan dan penerapan sistem yang melibatkan masyarakat

Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang baru khususnya di daerah yang belum terjangkau oleh sistem PDAM yang telah ada sekarang

Peningkatan kapasitas Instalasi Pengolahan Air Minum yang sudah ada

Melibatkan instansi terkait dan masyarakat dalam Operasi dan Pemeliharaan

BWS, Dinas Pengairan, PDAM dan Pemerintah Daerah

Bab IV - 26

PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR No III 1 Sub Aspek PENCEGAHAN Hasil Analisa Terjadi genangan akibat banjir Penyebab : Kapasitas prasarana berupa sistem drainase dan sungai utama sebagai penampung banjir terlampaui. Lokasi : 1). Kab. Aceh Utara 2) Kab. Aceh Timur 3) Kab. Aceh Tengah 4). Kab. Bener Meriah 5). Kab. Gayo Leus Sasaran/Target yang ingin dicapai Mengurangi akibat bencana banjir Jangka Pendek (2011-2016) Studi, Detail desain, dan pelaksanaan Pengendalian Banjir dan pengembangan SDA. Strategi Jangka Menengah (2011-2021) 1) Lanjutan Pelaksanaan Pengendalian banjir termasuk resettlement plan & pengembangan SDA. 2) Operasi & Pemeliharaan 3) Monitoring Evaluasi Jangka Panjang (2011-2031) 1) Operasi & Pemeliharaan 2) Monitoring Evaluasi Kebijakan Operasional 1. Menyiapkan dan membebaskan lahan untuk pembanguan prasarana Pengendali banjir 2. Pemerintah dan pemerintah daerah mempunyai komitment untuk mengurangi kerugian banjir . Lembaga/ Instansi Terkait Bappeda , Dinas Pengairan, Bapedalda, BPBD, Propinsi, kabupaten Aceh Utara, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah, Kab. BenerMeriah dan Kab. Gayo Leus BWS Sumatera I

DAS Peureulak di Kabupaten Aceh Timur DAS Jambo Aye di Kab . Aceh Utara dan Aceh Timur Kr. Pase Kab. Aceh Utara Kr.Simpan Barat Kab. Aceh Utara Kr. Arakundo dengan Sub DAS nya di Kabupaten Aceh Timur Kr . Julok di Kabupaten Aceh Timur DAS. A. Ramong di Kabupaten Aceh Timur

DAS Peureulak di Kabupaten Aceh Timur DAS Jambo Aye di Kab Aceh Utara & Aceh Timur Kr. Pase Kab. Aceh Utara Kr.Simpan Barat Kab. Aceh Utara Kr. Arakundo dengan Sub DAS nya di Kabupaten Aceh Timur Kr . Julok di Kab. Aceh Timur Sub DAS. A. Ramong di Kabupaten Aceh Timur

DAS Peureulak di Kab. Aceh Timur DAS Jambo Aye di Kab Aceh Utara dan Aceh Timur Kr. Pase Kab. Aceh Utara Kr.Simpan Barat Kab. Aceh Utara Kr. Arakundo dengan Sub DAS nya di Kabupaten Aceh Timur Kr. Julok di Kab Aceh Timur

Rusaknya beberapa perlindungan pemukiman dan jalan nasional dan longsornya tebing sungai Kerusakan wilayah pesisir di sepanjang pantai timur Penyebab Abrasi pantai

Terlindungnya pemukiman dan jalan nasional dari bahaya longsor akibat erosi tebing Memelihara penutupan lahan alami di bantaran sungai Terlindunginya pantai dari pengaruh abrasi yang mengancam sarana dan prasarana

Studi, DED pelaksanaan Perbaikan dan pemeliharaa bangunan Perkuatan dan perlindungan tebing sungai a. Pembangunan pengamanan pantai

Sub DAS. A. Ramong di Kab. Aceh Timur 1) Pemeliharaan Banguan Perkuatan dan perlindungan tebing sungai Jambo Aye dan sungai lainnya . 2) Monitoring dan Evaluasi a. Pembangunan pengamanan pantai

1) Pemeliharaan Banguan Perkuatan dan perlindungan tebing sungai Jambo Aye & sungai lainnya 2) Monitoring dan Evaluasi 1) Monitoring & Evaluasi pengamanan pantai 2) Pemeliharaan hutan bakau

Kabupaten Aceh Utara di beberapa kecamatan (1) Kec. Muara Batu (2) Kec. Dewantara (3) Kec. Syamtalira Bayu (4) Kec. Samudra (5) Kec. Tanah Pasi (6) Kec. Batiya Barat (7) Kec Seunudon

(1) (2) (3) (4)

Kabupaten Aceh Utara Kec. Muara Batu Kec. Dewantara Kec. Syamtalira Bayu Kec. Samudra

Kabupaten Aceh Utara (1) Kec. Tanah Pasi (2) Kec. Batiya Barat (3) Kec Seunudon

Kabupaten Aceh Timur (1) Kec.Birem Bayeun (2) Kec.Rantau Selamat (3) Kec.Sungai Raya (4) Kec.Peurelak (5) Kec.Peurelak Timur (6) Kec.Peurelak Barat (7) Kec.Peurelak Timur (8) Kec.Peudawa (9) Kec.Idi Rayeuk (10) Kec.Darul Aman (11) Kec. Nurulsalam (12) Kec. Julok (13) Kec. Simpang Ulin (14) Kec. Madat Terjadi penyempitan alur sungai penyebab Sedimentasi muara Tingkat kerugian akibat bencana banjir relatif besar Penyebab : Banjir menggenangi daerah pemukiman, jalan raya dan lahan pertanian serta masyarakat terlambat mengetahui datangnya bencana banjir Lokasi : 1) Kab. Aceh Utara

Kabupaten Aceh Timur (1) Kec. Birem Bayeun (2) Kec. Rantau Selamat (3) Kec. Sungai Raya (4) Kec. Peurelak (5) Kec. Peurelak Timur (6) Kec. Peurelak Barat (7) Kec. Peurelak Timur (8) Kec. Peudawa b. Rebilitasi hutan bakau sepanjang pantai

Kab. Aceh Timur (1) Kec. Idi Rayeuk (2) Kec. Darul Aman (3) Kec. Nurulsalam (4) Kec. Julok (5) Kec. Simpang Ulin (6) Kec. Madat b. Rebilitasi hutan bakau sepanjang pantai c. Monitoring & Evaluasi pengamanan pantai d. Pemeliharaan huatan bakau

Melibatkan instansi terkait dan stake holder terutama didalam pembangunan sarana dan prasarana SDA untuk pengendalian DRA a. Menetapkan jenis Bakau b. Melibatkan instansi terkait dan stake holder terutama didalam melestarikan bakau sepanjang pantai c. Pemerintah dan pemerintah daerah mempunyai komitment untuk melindungi pantai dari abrasi khususnya yang mengancam sarana dan prasarana

Dinas Pengairan, BWS Pemda

Dinas Pengairan, BWS Pemda, Dinas terkait

Aliran air dimuara lancar Masyarakat dapat mengantisipasi bencana yang ditimbulkan oleh daya rusak air

1.

Pemeliharaan alur sungai di kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara

1. Monitoring Evaluasi 2. Pemeliharaan alur sungai di kabupaten Aceh Timur Utara 1. Melaksanakan studi dan pelaksanaan pembangunan pengendalian banjir 2. Operasi dan pemeiharaan 3. Membuat sistim peringatan dini bahaya banjir 4. Pelaksanaan sistim peringatan dini bahaya banjir termasuk evakuasi 5. Monitoring & evaluasi sistim peringatan dini

Pemeliharaan alur sungai di kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara 1. Melaksanakan studi dan pelaksanaan pembangunan pengendalian banjir 2. Operasi dan pemeiharaan 3. Membuat sistim peringatan dini bahaya banjir 4. Pelaksanaan sistim peringatan dini bahaya banjir termasuk evakuasi 5. Monitoring & evaluasi sistim peringatan dini

Mengalokasikan dana dan kegioatan pemeliharaan alur sungai dan muara Meningkatkan peran Pemerintah Daerah, Lembaga Adat dan masyarakat dalam sistim peringatan dini

1. Melaksanakan studi dan pelaksanaan pembangunan pengendalian banjir 2. Operasi dan Pemeiharaan 3. Membuat sistim peringatan dini bahaya banjir 4. Pelaksanaan sistim peringatan dini bahaya banjir termasuk evakuasi 5. Monitoring & evaluasi sistim peringatan dini

Bappeda, Dinas PU, Dinas Kelautan & Perikanan Provinsi , Kab. Aceh Timur dan Utara Bappeda , Dinas Pengairan, BLH, BPBD , Propinsi ,kabupaten Aceh Utara, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah, Kab. BenerMeriah dan Kab. Gayo Leus BWS Sumatera I

Bab IV - 27

PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR No Sub Aspek 2) 3) 4) 5) Kab. Kab. Kab. Kab. Hasil Analisa Aceh Timur Aceh Tengah Bener Meriah Gayo Leus Masyarakat terhindar dari penyakit akibat banjir Penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana kesehatan di daeah rawan banjir Lanjutan penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana kesehatan di daeah rawan banjir Lanjutan penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana kesehatan di daeah rawan banjir Distribusi Leaflet tentang kesehatan dan pembuatan posko bencana keshatan akibat banjir BLH, Dinas Keshatan , LSM yang bergerak dibidang kesehatan Lingkungan : 1). Kab. Aceh Utara 2) Kab. Aceh Timur 3) Kab. Aceh Tengah 4). Kab.Bener Meriah 5). Kab. Gayo Leus Sasaran/Target yang ingin dicapai Jangka Pendek (2011-2016) Strategi Jangka Menengah (2011-2021) Jangka Panjang (2011-2031) Kebijakan Operasional Lembaga/ Instansi Terkait

PENANGGULANGAN

Terjadi berbagai peningkatan kasus penyakit pada saat banjir. Penyebab : Sarana dan prasarana kesehatan di daerah rawan banjir kurang memadai . Lokasi Kabupaten : 1) Aceh Utara 2) Aceh Timur 3) Aceh Tengah 4) Bener Meriah 5) Gayo Leus Mitigasi bencana, kegiatan yang bersifat meringankan penderitaan akibat bencana

Menyalurkan bantuan dan melakukan penanggulangan darurat

Setiap terjadi bencana : Menyiapkan alat-alat berat yang akan digunakan dalam penanggulangan bencana seperti buldozer, back hoe, karungplastik , bronjong Menentukan tempat yang aman untuk keperluan evakuasi 1. Evaluasi kerusakan dan membuat rencana perbaikan secara menyeluruh 2. Perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat bencana

Setiap terjadi bencana : Menyiapkan alat-alat berat yang akan digunakan dalam penanggulangan bencana seperti buldozer, back hoe, karungplastik , bronjong Menentukan tempat yang aman untuk keperluan evakuasi 1. Lanjutan Perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat bencana 2. Monitoring dan evaluasi

PEMULIHAN

Banjir tiap tahun merusak bangunan pengendali banjir

Memperbaiki dan merehabilitasi fungsi lingkungan hidup dan sistem prasarana SDA

Setiap terjadi bencana : Menyiapkan alat-alat berat yang akan digunakan dalam penanggulangan bencana seperti buldozer, back hoe, karungplastik , bronjong Menentukan tempat yang aman untuk keperluan evakuasi 1. Lanjutan Perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat bencana 2. Monitoring dan evaluasi

Menggalang dan mengkoordinasikan berbagai bantuan dan kegiatan yang bersifat meringankan penderitaan akibat bencana

Dinas PU Pengairan, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, BPBD Propinsi Aceh BWS Sumatera I BPBD Kabupaten Aceh Utara dan Timur

Membuat pedoman petunjuk petujuk teknis dan petunjuk pelaksanaan untuk keperluan perbaikan , rehabilitasi prasarana dan sarana SDA serta pemukiman

Bappeda , Dinas PU/ Pengairan, Dinas Perhubungan, Dinas Kehutanan Dinas Pertanian, BPBD Propinsi BPBD : Kab Aceh Utara, Aceh Tmur, Aceh Tengah, Bener Meriah&Gayo Leus BWS Sumatera I

Bab IV - 28

ASPEK KETERBUKAAN DAN KETERSEDIAAN DATA INFORMASI SDA No IV Sub Aspek PEMERINTAH DAN PEMDA MENYELENGGARAKAN PENGELOLAAN SISTEM INFORMASI SDA SESUAI DENGAN KEWENANGANNYA Hasil Analisa 1. Ketersediaan informasi sumber daya air tidak berkesinambungan. 2. Alat pemantau sebagian rusak, 3. O & P tidak berjalan dengan baik 4. SDM kurang memadai Sasaran/Target yang ingin dicapai 1. Sistem basis data yang 1. berkualitas dan berkesinambungan di Jambo Aye 2. Sistim informasi sumber Daya Air dapat diperoleh dengan 2. mudah melalui papan pengumuman, media massa dan media 3. elektronik Jangka Pendek (2011-2016) Rasionalisasi Pos-Pos Hidrometeorologi yang ada di DAS Jambo Aye, DAS Peureulak, DAS Idi, DAS Arakundo, DAS Geuruntang, DAS Bugeng, Rehabilitasi Pos-pos Hidrometri yang sudah ada disetiap DAS di WS Jambo Aye Pembangunan Pos-Pos Hidrometri pada DAS Rusa, DAS Leungo Rayeuk, DAS Reungat, DAS Babah dan DAS Gading O & P pos Hidrometri Strategi Jangka Menengah (2011-2021) 1. Pembangunan Pos-Pos Hidrometerologi di WS Jambo Aye 2. O & P pos Hidrometri Jangka Panjang (2011-2031) 1. O & P pos Hidrometri 2. Rehabilitasi Pos hidrometri Kebijakan Operasional Lembaga/ Instansi Terkait Ditjen Sumber Daya Air, Kem. PU, Wadah Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air, Bappeda, Dinas PU Pengairan, Balai Pengelolaan Sumber Daya Air, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Perhubungan BPDAS Jambo Aye BWS Sumatera I

4.

1. Pembangunan sistim Informasi (hardware dan software) SDA di tingkat propinsi/BWS Sumatera I dan tingkat Kabupaten 2. O & P sistim informasi SDA 1. O & P sistim informasi data 2. Pengembangan sistim informasi data 1. O & P sistim informasi data 2. Pengembangan sistim informa SDA

Pembangunan Pos Hidrometri, Pos Duga Air di Wilayah Sungai Jambo Aye Pembangunan sistem informasi (hardware dan software) Sumber Daya Air di tingkat provinsi/BWS Sumatera I dan tingkat kabupaten Berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera I tentang O & P sistem informasi Sumber Daya Air Penyediaan Dana untuk Pembangunan sistem informasi

1. Melaksanakan O & P sistem informasi SDA 2. Pembagian langsung tanggung jawab masing masing intansi sesuai Undang Umdang

Penyusunan data base Pengelolaan Ws Jambo Aye secara terintegrasi mencakup seluruh DAS (dari mengumpulkan data dari sumber sampai pusat data) Penyebaranluasan Sistim informasi SDA belum memadai Kerebukaan dan penyebarluasan sistim infornasi Sumber Daya Air (SISDA ) Sosialisasi sistim Informasi SDA termasuk tugas pokok dan fungsi Dinas Instansiyang terkait dalam Pengelolaan SDA ( BWS Sumatera I dan BPDAS dll ).

Pemukthiran data base (termasuk data spasial) Pengeliolaaan WS Jambo Aye

Pemukthiran data base (termasuk data spasial) Pengelolaaan WS Jambo Aye

1. Evaluasi sistmi informasi SDA termasuk pelaksanaan Tugas pokok dinas instansi yang terkait dalam pengelolaan SDA (BWS, BPDAS dll). 2. Pengendalian dan pengawasan perizinan usaha terkait dengan pemanfaatan lahan di DAS yang mengacu pada Poa Pengelolaan WS Jambo Aye

1. Evaluasi sistmi informasi SDA termasuk pelaksanaan Tugas pokok dinas instansi yang terkait dalam pengelolaan SDA (BWS, BPDAS dll ). 2. Pengendalian dan pengawasan perizinan usaha terkait dengan pemanfaatan lahan di DAS yang mengacu pada Poa Pengelolaan WS Jambo Aye

Ditjen SDA, KeMen. PU, Wadah Koordinasi Pengelolaan SDA, Balai Besar/Balai WS, BPDAS, Bappeda, Dinas Pengairan, Balai PSDA, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Perhubungan, Dinas yang terkait dengan SDA Ditjen SDA, KeMen PU, Wadah Koordinasi Pengelolaan SDA, Balai Besar/Balai WS, BPDAS, Bappeda, Dinas Pengairan, Balai PSDA, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Perhubungan, Dinas yang terkait dengan SDA

Program-program yang terkait dengan pengelolaan SDA yang dilaksanakan oleh setiap sektor belum sikron, sinergidan terpadu

Program- program terkait dengan Pengelolaan SDA yang dilaksanakan oleh stiap sektor sinkron, sinergi dan terpadu

Penyusunan nota kesepahaman dalam pengelolaan SDA wilayah sungai dan forum koordinasi. WS Jmbo Aye

Evaluasi pelaksanaan nota kesepahaman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai dan Forum Koordinasi di WS Jambo Aye.

Evaluasi pelaksanaan nota kesepahaman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai dan Forum Koordinasi di WS Jambo Aye.

Bab IV - 29

PEMBERDAYAAN DAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT, SWASTA, DAN PEMERINTAH No V Sub Aspek PEMERINTAH DAN PEMDA MENYELENGGARAKAN PEMBERDAYAAN PARA PEMILIK KEPENTINGAN KELEMBAGAAN SDA SECARA TERENCANA DAN SISTEMATIS Hasil Analisa 1. Masyarakat belum terlibat secara aktif atau perlu dilibatkan sejak dari tahap perencanaan (perencanaan partisipatif) dalam pengelolaan SDA WS Jambo Aye 2. TKPSDA WS Jambo Aye belum diwakili oleh Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Luwes Sasaran/Target yang ingin dicapai Masyarakat berperan secara aktif dalam Pengelolaan sumber daya air WS Jambo Aye Jangka Pendek (2011-2016) 1. Sosialisasi masyarakat dalam tahap perencanaan pengelolaan SDA WS Jambo Aye 2. Pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan pengawasan dan pemeliharaan SDA WS Jambo Aye 3. Keanggotaan TKPSDA WS Jambo Aye perlu direvisi dengan menyerap seluruh wakil dari Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Luwes. Strategi Jangka Menengah (2011-2021) 1. Monitoring dan Evaluasi 2. Sosialisai masyarakat dalam tahap perencanaan pengelolaan SDA WS Jambo Aye 3. Pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan pengawasan dan pemeliharaan SDA WS Jambo Aye Jangka Panjang (2011-2031) 1. Monitoring dan Evaluasi 2. Sosialisai masyarakat dalam tahap perencanaan pengelolaan SDA WS Jambo Aye 3. Pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan pengawasan dan pemeliharaan SDA WS Jambo Aye Kebijakan Operasional 1. Pemerintah mempunyai Komitmen melalui Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) yang sudah terbentuk bersama masyarakat untuk berperan secara aktif dalam pengelolaan SDA 2. Membuat petunjuk pelaksanaan sistim peran aktif masyarakat dalam pengelolaan SDA Lembaga/ Instansi Terkait Pemda, Lembaga Adat, Masyarakat, LSM : Proprinsi Aceh Pemda, Lembaga Adat, Masyarakat, LSM : kabupaten Aceh Utara ,Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah , Kab. Bener Meriah Dan Kab. Gayo Leus

Perlu penyiapan pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Penyangga untuk alokasi Masyarakat yang bermukim di kawasan tertentu dengan penyiapan permukiman enclave

Perlu penyiapan pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Penyangga untuk alokasi Masyarakat yang bermukim di kawasan tertentu dengan penyiapan permukiman enclave

Perlu pelibatan dan pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Penyangga untuk alokasi Masyarakat dalam pengelolaan SDA

Perlu pelibatan dan pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Penyangga untuk alokasi Masyarakat yang bermukim di kawasan tertentu dengan penyiapan permukiman enclave Tahun Perencanaan 20 Tahun

Penyiapan Alokasi Budidaya berupa kegiatan pertanian dan perkebunan

Penyiapan Alokasi kegiatan budidaya berupa kegiatan pertanian dan perkebunan untuk pemberdayaan Masyarakat dikawasan penyangga dengan memerhatikan dan komoditi yang direncanakan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan daya dukung lahan Sosialisasi penggunaan dan pembuatan bangunan SDA terhadap masyarakat WS Jambo Aye Masyarakat paham terhadap ketentuan PerUU tentang Sumber Daya Air

1.

2.

Sosialisasi/Menyebarluaskan komoditas pertanian dan perkebunan yang cocok dikembangkann di masingmasing DAS di WS Jambo Aye Mengembangkan komoditas pertanian dan perkebunan yang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Aye

1.

Pembinaan dan pengawasan pengembangan komoditas perkebunan dan pertanian yang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Aye

Pembinaan dan pengawasan pengembangan komoditas perkebunan dan pertanian yang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Ayeyang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Aye

Keterlibatan masyarakat belum dioptimalkan Pemahaman masyarakat terhadap ketentuan Per-UU masih kurang

Mensosialisasikan penggunaan dan pembuatan bangunan SDA terhadap masyarakat WS Jambo Aye Sosialisasi/Menyebarluaskan informasi ke seluruh stakeholder tentang pentingnya kelestarian SDA baik itu dari tingkat masyarakat bawah sampai tingkat masyarakat atas

Mensosialisasikan penggunaan dan pembuatan bangunan SDA terhadap masyarakat WS Jambo Aye Sosialisasi/Menyebarluaskan informasi ke seluruh stakeholder tentang pentingnya kelestarian SDA baik itu dari tingkat masyarakat bawah sampai tingkat masyarakat atas

Mensosialisasikan penggunaan dan pembuatan bangunan SDA terhadap masyarakat WS Jambo Aye Sosialisasi/Menyebarluaskan informasi ke seluruh stakeholder tentang pentingnya kelestarian SDA baik itu dari tingkat masyarakat bawah sampai tingkat masyarakat atas

1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen melalui TKPSDA yang sudah terbentuk agar masyarakat yang bermukim di kawasan penyangga berperan aktif dalam pengelolaan SDA 2. Membuat petunjuk sitim pelaksanaan sistim peran aktif masyarakat dalam pengelolaan SDA 2. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen agar perkebunan dan pertanian yang sesuai dengan daya dukung di masing-masin DAS di WS Jambo Aye 4. Membuat petunjuk sitim pelaksanaan agar perkebunan dan pertanian yang sesuai dengan daya dukung lahan masing-masing DAS Melibatkan instansi terkait dan stakeholder terutama di dalam OP Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam pemahamanan Peraturan dan Per UU tentang Sumber Daya Air

Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan kabupaten Aceh Utara ,Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah , Kab. Bener Meriah Dan Kab. Gayo Leus BWS Sumatera I

Departemen PU dan Pemda

Departemen PU, Pemda, dan BWS

Bab IV - 30

PEMBERDAYAAN DAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT, SWASTA, DAN PEMERINTAH No Sub Aspek Hasil Analisa Pelaksanaan penegakan hukum dan pengenaan sanksi sesuai ketentuan per-UU yang berlaku masih belum optimal Sasaran/Target yang ingin dicapai Penegakan hukum dan pemberlakuan sanksi sesuai ketentuan Peraturan dan Per UU yang berlaku Jangka Pendek (2011-2016) 1. Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA ke seluruh Stake Holder 2. Pengawasan Pelaksanaan Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA 3. Penegakan hukum dan sansi yang berlaku Strategi Jangka Menengah (2011-2021) 1. Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA ke seluruh Stake Holder 2. Pengawasan Pelaksanaan Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA 3. Penegakan hukum dan sansi yang berlaku Jangka Panjang (2011-2031) 1. Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA ke seluruh Stake Holder 2. Pengawasan Pelaksanaan Sosialisai Peraturan Per UU yang terkait dengan pengelolaan SDA 3. Penegakan hukum dan sansi yang berlaku 1. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan tentang pelaksanaan, pemanfaatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana SDA yang bisa dikelola oleh masyarakat di WS Jambo Aye, 2. Pembinaan dan Evaluasi Pelaksanaan pemanfaatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana SDA yang bisa dikelola oleh masyarakat di WS Jambo Aye 1. Program pelaksanaan GNKPA dan GERHAN 2. Pembinaan dan Pengawasan Program-progran GERHAN dan GNKPA Kebijakan Operasional Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen untuk melaksanakan penegakan hukum, pemberian penghargaan dan pemberlakukan sansi sesuai Peraturan dan Per UU ketententuan yang berlaku Lembaga/ Instansi Terkait Departemen PU, Dinas Pertanian Dinas Kehutanan Kabupaten kabupaten Aceh Utara ,Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah , Bener Meriah Dan Gayo Leus. BWS Sumatera I Departemen PU, Dinas Pertanian Dinas Kehutanan Kabupaten kabupaten Aceh Utara, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah, Bener Meriah Dan Gayo Leus. BWS Sumatera I

Kemampuan SDM di Kelompok Masyarakat tentang SDA masih kurang

Masyarakat ditingkatkan kemampuannya dalam bidang pengelolaan SDA

Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan SDM dalam rangka memenuhi standar kompetensi SDA

Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan SDM tentang pelaksanaan, pemanfaatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana SDA yang bisa dikelola oleh masyarakat di WS Jambo Aye,

2. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai komitmen untuk meningkatkan pengetahuan masyarakatterhadap Pengelolaan SDA WS Jambo Aye

Masyarakat masih belum mengenal GNKPA

Meningkatnya kesadaran masyarakat mengenal Program GNKPA

1. Mensosialisasikan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) di tingkat propinsi, kabupaten, kecamatan dan desa yang termasuk dalam WS Jambo Aye 2. Program pelaksanaan GNKPA dan GERHAN

1. Program pelaksanaan GNKPA dan GERHAN 2. Pembinaan dan Pengawasan Program-progran GERHAN dan GNKPA

2. Membuat buku Petunjuk Pelaksanaan di tingkat Propinsi / Kabupaten tentang Pedoman Penyelamatan Air sebagai acuan dalam Sosialisai GNKPA dan GERHAN

Departemen PU, Dinas Pertanian Dinas Kehutanan Kabupaten kabupaten Aceh Utara, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Tengah, Bener Meriah Dan Gayo Leus. BWS Sumatera I

Bab IV - 31

PETA TEMATIK PENGELOLAAN WILAYAH SUNGAI JAMBO AYE SKENARIO (PERTUMBUHAN EKONOMI TINGGI)

Bab IV - 32

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SDA WS JAMBO AYE ASPEK KONSERVASI SUMBER DAYA AIR
KAB ACEH UTARA
o Rehabilitasi Hutan dengan Agroferstry dan Reboisasi Hutan di DAS Jambo Aye o Pembangunan Sipil Teknis pada DAS sesuai arahan Konservasi DAS o Pembangunan Embung di DAS Jambo Aye o Sosialisasi Pelaksanaan Perda Sempadan Sungai dan teknik Konservasi Tanah dan Air o Monitoring dan Evaluasi Kawasan DAS Hulu o Pengendalian dan Pengawasan Limbah domestik dan cair o Rehabilitasi Hutan Mangrove

(SKENARIO PERTUMBUHAN EKONOMI TINGGI)

KAB ACEH TIMUR


o Rehabilitasi Hutan dengan Agroferstry dan Reboisasi Hutan di seluruh DAS pada WS Jambo Aye o Pembangunan Sipil Teknis pada DAS sesuai arahan Konservasi DAS o Pembangunan Embung di DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak o Pembangungan Check Dam dihulu DAS o Sosialisasi Pelaksanaan Perda Sempadan Sungai dan teknik Konservasi Tanah dan Air o Monitoring dan Evaluasi Kawasan DAS Hulu o Pembangunan Bendungan Multifungsi termasuk untuk Konservasi DAS Jambo Aye o Pengendalian dan Pengawasan Limbah domestik dan cair o Rehabilitasi Hutan Mangrove
KAB ACEH TIMUR

WS JAMBO AYE
o Sinergi terhadap Rencana Tata Ruang dalam pengelolaan DAS o Rehabilitasi Hutan dengan Agroferstry dan Reboisasi Hutan di seluruh DAS pada WS Jambo Aye o Pembangunan Sipil Teknis pada DAS sesuai arahan Konservasi DAS o Pembangunan Embung di DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak o Pembangungan Check Dam dihulu DAS o Sosialisasi Pelaksanaan Perda Sempadan Sungai dan teknik Konservasi Tanah dan Air o Monitoring dan Evaluasi Kawasan DAS Hulu o Pembangunan Bendungan Multifungsi termasuk untuk Konservasi DAS Jambo Aye o Pengendalian dan Pengawasan Limbah domestik dan cair

KAB ACEH UTARA

KAB BENER MERIAH

KAB ACEH TENGAH


o Rehabilitasi Hutan dengan Agroferstry dan Reboisasi Hutan di DAS Jambo Aye o Pembangunan Sipil Teknis pada DAS sesuai arahan Konservasi DAS o Pembangunan Embung di DAS Jambo Aye o Pembangungan Check Dam dihulu DAS o Sosialisasi Konservasi Tanah dan Air o Monitoring dan Evaluasi Kawasan DAS Hulu o Pengendalian dan Pengawasan Limbah domestik dan cair

KAB BENER MERIAH


o Rehabilitasi Hutan dengan Agroferstry dan Reboisasi Hutan di DAS pada WS Jambo Aye o Pembangunan Sipil Teknis pada DAS sesuai arahan Konservasi DAS o Pembangunan Embung di DAS Jambo Aye o Pembangungan Check Dam dihulu DAS o Sosialisasi Pelaksanaan Perda Sempadan Sungai dan teknik Konservasi Tanah dan Air o Monitoring dan Evaluasi Kawasan DAS Hulu o Pengendalian dan Pengawasan Limbah domestik dan cair
KAB ACEH TENGAH

KAB GAYO LUES


o Rehabilitasi Hutan dengan Agroferstry dan Reboisasi Hutan o Monitoring dan Evaluasi Kawasan DAS Hulu o Pengendalian dan Pengawasan Limbah domestik dan cair

KAB GAYO LUES

Bab IV - 33

PETA PETA TEMATIK TEMATIK POLA PENGELOLAAN PENGELOLAAN SDA SDA WSWS JAMBO JAMBO AYE AYE
(SKENARIO PERTUMBUHAN EKONOMI TINGGI)

ASPEK ASPEK PENDAYAGUNAAN KONSERVASI SUMBER SUMBER DAYA DAYA AIR AIR
WS JAMBO AYE
o Penerapan sinegitas terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah. o Rehabilitasi Jaringan Irigasi Teknis dan Jaringan Irigasi Desa o Pengembangan Irigasi Baru o Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang belum terjangkau oleh PDAM o Pembangunan Bendungan Multifungsi untuk suplai air irigasi, air baku dan PLTA serta Pengendalian banjir o Pembangunan Embung Embung Dihulu DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak o Penerapan teknologi Pertanian SRI o Pembangunan Energi Listrik Skala Mikro PLTMH

KAB. ACEH UTARA


o Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang belum terjangkau oleh PDAM o Pembangunan Energi Listrik Skala Mikro PLTMH o Rehabilitasi Jaringan Irigasi

PEMBANGUNAN BENDUNGAN JAMBO AYE

KAB. ACEH TIMUR


KAB ACEH UTARA

KAB ACEH TIMUR KAB BENER MERIAH

KAB BENER MERIAH


o Rehabilitasi Jaringan Irigasi Teknis dan Jaringan Irigasi Desa o Pengembangan Irigasi Baru o Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang belum terjangkau oleh PDAM o Pembangunan Embung Embung Dihulu DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak o Penerapan teknologi Pertanian SRI o Pembangunan Energi Listrik Skala Mikro PLTMH

o Pengembangan Irigasi Teknis DI Jambo Aye seluas 6.924 Ha o Pengembangan Irigasi Teknis DI Peureulak 5.000 Ha o Pengembangan dan Rehabilitasi Tambak dan dan Daerah Rawa seluas 5000 Ha o Rehabilitasi Irigasi Teknis 4.000 Ha o Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang belum terjangkau oleh PDAM o Pembangunan Bendungan Multifungsi untuk suplai air irigasi, air baku dan PLTA serta Pengendalian banjir o Pembangunan Embung Embung Dihulu DAS Jambo Aye dan DAS Peureulak o Penerapan teknologi Pertanian SRI o Pembangunan Energi Listrik Skala Mikro PLTMH

KAB. ACEH TENGAH


KAB ACEH TENGAH

KAB. ACEH GAYO LUES


o Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang belum terjangkau oleh PDAM o Pembangunan Energi Listrik Skala Mikro PLTMH

o Rehabilitasi Irigasi Desa 750 Ha o Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum yang belum terjangkau oleh PDAM o Pembangunan Embung Embung Dihulu DAS Jambo Aye o Penerapan teknologi Pertanian SRI o Pembangunan Energi Listrik Skala Mikro PLTMH
KAB GAYO LUES

Bab IV - 34

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SDA WS JAMBO AYE


(SKENARIO PERTUMBUHAN EKONOMI TINGGI)

ASPEK PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR


WS JAMBO AYE
o Pengendalian Banjir dengan Perkuatan Tebing, Pembangunan Sistem Drainase, Pembangunan Checkdam dan Pembangunan Tanggul Banjir o Rehabilitasi Wilayah Pantai dan Muara Sungai o Pembangunan Bendungan Multifungsi termasuk untuk Pengendalian Banjir dihilir Bendungan Jambo Aye. o Pembuatan Retarding Basin di Bagian Hilir DAS DAS yang terindikasi mengalami genangan. o Rehabilitasi sarana dan prasarana Pemukiman yang rusak akibat banjir o Pemasangan Flood Warning System

KAB. ACEH UTARA


o Rehabilitasi Wilayah Pantai dan Muara Sungai o Pembangunan Pengendali Banjir dan Sistem Drainase o Rehabilitasi sarana dan prasarana Pemukiman yang rusak akibat banjir o
KAB ACEH UTARA

DAERAH RAWAN BANJIR

ABRASI PANTAI WILAYAH PESISIR & PENUTUPAN MUARA

KAB. ACEH TIMUR


KAB ACEH TIMUR KAB BENER MERIAH

KAB. BENER MERIAH


o Pembangunan Pengendali Banjir dan Sistem Drainase o Pembangunan Check Dam dan Bottom Controller di hulu sungai. o Rehabilitasi sarana dan prasarana Pemukiman yang rusak akibat banjir

KAB ACEH TENGAH

o Rehabilitasi Wilayah Pantai dan Muara Sungai o Pembangunan Bendungan Multifungsi termasuk untuk Pengendalian Banjir dihilir Bendungan Jambo Aye. o Pembuatan Retarding Basin di Bagian Hilir DAS DAS yang terindikasi mengalami genangan. o Rehabilitasi sarana dan prasarana Pemukiman yang rusak akibat banjir o Pemasangan Flood Warning System o Pembangunan Pengendali Banjir dan Sistem Drainase

KAB. ACEH TENGAH


o Pembangunan Pengendali Banjir dan Sistem Drainase o Pembangunan Check Dam dan Bottom Controller di hulu sungai. o Rehabilitasi sarana dan prasarana Pemukiman yang rusak akibat banjir

KAB GAYO LUES

DAERAH GENANGAN BENDUNGAN JAMBO AYE

Bab IV - 35

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SDA WS JAMBO AYE ASPEK SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR
KAB ACEH UTARA
o Pembangunan Pos Pos Hidrometri pada DAS di wilayah Administrasi Kabupaten Aceh Utara dalam WS Jambo Aye o Operasi dan Pemeliharaan Pos Hidrometri o Pembangunan Pos Duga Air o Rasionalisasi Pos Hidrometri o Pengembangan SISDA o Koordinasi Lintas Kabupaten Dalam Penyediaan Data melalui TKPSDA WS o Monitoring dan Evaluasi secara kontinyu antar Kabupaten

(SKENARIO PERTUMBUHAN EKONOMI TINGGI)

WS JAMBO AYE
o Pembangunan Pos Pos Hidrometri pada DAS di wilayah Administrasi Kabupaten dalam WS Jambo Aye o Operasi dan Pemeliharaan Pos Hidrometri o Pembangunan Pos Duga Air o Rasionalisasi Pos Hidrometri o Pengembangan SISDA o Koordinasi dengan Lintas Sektoral Dalam Penyediaan Data o Monitoring dan Evaluasi secara kontinyu antar sektoral o Pembangunan Flood Warning System

KAB ACEH UTARA

KAB BENER MERIAH


o Pembangunan Pos Pos Hidrometri pada DAS di wilayah Administrasi Kabupaten Bener Meriah dalam WS Jambo Aye o Operasi dan Pemeliharaan Pos Hidrometri o Pembangunan Pos Duga Air o Rasionalisasi Pos Hidrometri o Pengembangan SISDA o Koordinasi Lintas Kabupaten Dalam Penyediaan Data melalui TKPSDA WS o Monitoring dan Evaluasi secara kontinyu antar Kabupaten

KAB ACEH TIMUR


o Pembangunan Pos Pos Hidrometri pada DAS di wilayah Administrasi Kabupaten Aceh Timur dalam WS Jambo Aye o Operasi dan Pemeliharaan Pos Hidrometri o Pembangunan Pos Duga Air o Rasionalisasi Pos Hidrometri o Pengembangan SISDA o Koordinasi Lintas Kabupaten Dalam Penyediaan Data melalui TKPSDA WS o Monitoring dan Evaluasi secara kontinyu antar Kabupaten

KAB ACEH TIMUR KAB BENER MERIAH

KAB ACEH TENGAH


KAB ACEH TENGAH

KAB GAYO LUES


o Koordinasi Lintas Kabupaten Dalam Penyediaan Data melalui TKPSDA WS o Monitoring dan Evaluasi secara kontinyu antar Kabupaten

o Pembangunan Pos Pos Hidrometri pada DAS di wilayah Administrasi Kabupaten Aceh Tengah dalam WS Jambo Aye o Operasi dan Pemeliharaan Pos Hidrometri o Pembangunan Pos Duga Air o Rasionalisasi Pos Hidrometri o Pengembangan SISDA o Koordinasi Lintas Kabupaten Dalam Penyediaan Data melalui TKPSDA WS o Monitoring dan Evaluasi secara kontinyu antar Kabupaten

KAB GAYO LUES

Bab IV - 36

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SDA WS JAMBO AYE


(SKENARIO PERTUMBUHAN EKONOMI TINGGI)

ASPEK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DUNIA USAHA


WS JAMBO AYE
Pelibatan Masyarakat dalam tahap pereccanaan Pengelolaan Sumber Daya Air Pemberdayaan Masyarakat dalam pelaksanaan, pengawasan dan pemeliharaan Sumber Daya Air Penataan Pemukiman di Kawasan Penyanggah Hutan Pelibatan dan pemberdayaan masyarakat di kawasan Penyangga Hutan dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Sosialisasi dan pengembangan komoditas pertanian dan perkebunan yang sesuai dengan daya dukung lahan di masing masing DAS di WS Jambo Aye serta sinergi dengan RTRW Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan pengembangan komoditas pertanian dan perkebunan yang sesuai dengan daya dukung lahan Sosialisasi pembangunan, pemanfaatan, dan pemeliharaan sarana dan prasarana SDA di WS Jambo Aye Sosialisasi peraturan dan Per-UU yang terkait dengan pengelolaan SDA ke seluruh stakeholder dan TKPSDA WS Jambo Aye Pengawasan pelaksanaan peraturan dan per -UU yang terkait dengan pengelolaan SDA Penegakan Hukum Dan Pemberlakukan Sanksi Pelatihan tentang pelaksanaan, pemanfaatan dan pemeliharaan saana dan prasarana SDA yang isa dikelola oleh masayarakat di WS Jambo Aye bersama TKPSDA Sosialisasi tugas pokok dan fungsi GNKPA dan GERHAN di tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kecamatan serta Desa yang termasuk dalam WS Jambo Aye Pembinaan dan pengawasan program program GNKPA dan GERHAN Reorganisasi TKPSDA sesuai wilayah Administrasi WS Jambo Aye

TKPSDA WS JAMBO AYE

TEAM KOORDINASI PENGELOLAAN SDA

KAB ACEH UTARA

TKPSDA WS JAMBO AYE KAB ACEH TIMUR KAB ACEH UTARA KAB BENER MERIAH KAB ACEH TENGAH KAB GAYO LUES

DUNIA USAHA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR KAB ACEH TIMUR KAB BENER MERIAH

KSP
(KERJA SAMA PEMERINTAH & SWASTA

KAB ACEH TENGAH

KAB GAYO LUES

Bab IV - 37