Anda di halaman 1dari 205

PENINGKA TAN KEMAMPUAN MENYIMAK

CERITA

MENGGU NAKAN MEDIA BULLETIN BOAR D PADA

ANAK

KELOMPOK B TK NEGERI PEM BINA YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan g una Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

PENINGKA TAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA MENGGU NAKAN MEDIA BULLETIN BOAR D PADA ANAK KELOMPOK B TK

Oleh Nurlayli Hasanah NIM 08111241009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN A NAK USIA DINI JURUSAN PEN DIDIKAN PRASEKOLAH DAN SEKOL AH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN U NIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA OKTOBER 2012

ii

ii

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Nurlayli Hasanah NIM : 08111241009

Program Studi

: PG PAUD

Fakultas : Ilmu Pendidikan Judul Penelitian : Peningkatan Kemampuan Menyimak Cerita Menggunakan Media Bulletin Board pada Anak Kelompok B TK Negeri Pembina Yogyakarta Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya sendiri. Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis dan diterbitkan orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang berlaku. Tanda tangan yang tertera dalam lembar pengesahan, adalah asli. Apabila tanda tangan Dosen Penguji tersebut adalah palsu, maka saya bersedia memperbaiki dan mengikuti yudisium pada periode berikutnya.

Yogyakarta, 3 Oktober 2012 Yang menyatakan,

Nurlayli Hasanah NIM. 0811241009

iii

iv

iv

MOTTO

Kemudian, Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur. (QS. As Sajdah: 9)

“Kita dianugrahi dua mata dan dua telinga, serta hanya satu mulut. Itu menandakan bahwa kita dianjurkan untuk lebih banyak melihat dan mendengar dibandingkan berbicara” _Imam Rahmanto_

v

PERSEMBAHAN

Skripsi ini ku persembahkan kepada:

Ibu dan ayahku tercinta yang telah banyak memberikan bantuan, tidak

pernah berhenti memberikan dukungan dan motivasi kepadaku serta

doanya yang tulus.

Almamaterku yang telah banyak memberiku kesempatan dalam belajar.

vi

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA MENGGUNAKAN MEDIA BULLETIN BOARD PADA ANAK KELOMPOK B TK NEGERI PEMBINA YOGYAKARTA

Oleh:

Nurlayli Hasanah NIM. 08111241009

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk peningkatan kemampuan menyimak cerita pada anak TK kelompok B menggunakan media bulletin board TK Negeri Pembina Yogyakarta. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas secara kolaborasi antara peneliti dan guru kelas. Model penelitian yang digunakan model Kemmis dan Mc. Taggart. Subjek penelitian ini yaitu anak kelompok B3 di TK Negeri Pembina Yogyakarta, sejumlah 25 anak. Metode pengumpulan data dilakukan melalui tes berbicara, observasi, dan dokumentasi. Data penelitian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Kemampuan menyimak dikatakan berhasil apabila 80% dari 25 jumlah anak telah mencapai indikator kemampuan menyimak pada kriteria baik dengan hasil nilai rata-rata mencapai ≥ 8,50. Penggunaan media bulletin board dapat meningkatkan kemampuan menyimak cerita pada anak kelompok B di TK Negeri Pembina Yogyakarta. Hal ini ditunjukkan dari rerata kemampuan menyimak cerita pada siklus I meningkat sebesar 1,36 dari kondisi awal 6,88 meningkat menjadi 8,24. Kemampuan menyimak cerita pada siklus II meningkat sebesar 2,30 dari kondisi awal 6,88 meningkat menjadi 9,18.

Kata kunci: kemampuan menyimak cerita, media bulletin board

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga skripsi yang berjudul

Peningkatan Kemampuan Menyimak Cerita Menggunakan Media Bulletin

Board pada Anak Kelompok B TK Negeri Pembina Yogyakarta” sebagai tugas

akhir guna memperoleh gelar sarjana dalam bidang pendidikan ini dapat

terselesaikan dengan baik.

Sehubungan dengan selesainya penelitian dan terwujudnya skripsi ini,

tentu tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu perkenankanlah dalam

kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan yang setulus-tulusnya dengan

ucapan terimakasih kepada Bapak/ibu tersebut di bawah ini.

  • 1. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat menuntut ilmu di Universitas Negeri Yogyakarta.

  • 2. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan ijin penelitian demi terselesaikannya tugas akhir ini.

  • 3. Koordinator Prodi PG PAUD, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan ijin penelitian, pengarahan, dan bimbingan yang bermanfaat demi terselesaikannya skripsi ini.

  • 4. Dr. Ishartiwi, selaku Dosen Pembimbing 1 yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan selama proses penelitian hingga penulisan skripsi ini.

viii

5.

Nur Hayati, M.Pd, selaku Dosen Pembimbing 2 yang telah meluangkan

waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan selama proses penelitian

hingga penulisan skripsi ini.

  • 6. Bapak dan ibu dosen PG PAUD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan ilmu dan bimbingannya

  • 7. Kepala TK Negeri Pembina Yogyakarta yang telah memberikan izin untuk penelitian ini.

  • 8. Guru kelas B3 (Ibu Surip dan Ibu Ayu) dan anak-anak kelas B3 yang telah membantu peneliti melakukan penelitian ini.

  • 9. Keluarga besar guru dan karyawan TK Negeri Pembina Yogyakarta.

10. Bapak, Ibuku dan semua keluargaku tercinta yang telah memberikan

dukungan dan doanya.

11. Semua teman-temanku yang selalu memberikan bantuan dan dukungannya

agar terselesaikannya penelitian dan penulisan skripsi ini.

Semoga Allah SWT memberikan imbalan yang setimpal dengan jerih

payah bapak atau ibu dan semua teman-temanku dalam membantu menyelesaikan

penelitian ini dari awal sampai akhir. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi

ini masih jauh dari kesempurnaan, hal ini dikarenakan keterbatasan kemampuan

penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun yang datang

dari semua pihak sangat diharapkan dan diterima dengan senang hati. Penulis

mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis, penelitian

selanjutnya dan pembaca. Amin.

ix

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .....................................................................................

i

HALAMAN PERSETUJUAN .....................................................................

ii

HALAMAN

PERNYATAAN .......................................................................

iii

HALAMAN

PENGESAHAN .......................................................................

iv

HALAMAN MOTTO ...................................................................................

v

HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................

vi

ABSTRAK .....................................................................................................

vii

KATA PENGANTAR ...................................................................................

viii

DAFTAR

ISI ..................................................................................................

x

DAFTAR

GAMBAR .....................................................................................

xii

DAFTAR TABEL .........................................................................................

xiii

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................

xiv

BAB I PENDAHULUAN

  • A. Latar Belakang Masalah

...........................................................................

1

  • B. Identifikasi Masalah .................................................................................

7

  • C. Pembatasan Masalah ................................................................................

7

  • D. Rumusan Masalah ....................................................................................

7

  • E. Tujuan Penelitian .....................................................................................

8

  • F. Manfaat Penelitian ...................................................................................

8

  • G. Definisi Operasional ................................................................................

9

BAB II KAJIAN TEORI

  • A. Kajian Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini

........................................

12

  • 1. Pengertian Perkembangan Bahasa ......................................................

12

  • 2. Tahap Perkembangan Anak Usia Dini ................................................

13

  • 3. Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini .............................................

15

  • B. Kajian Kemampuan Menyimak ...............................................................

15

  • 1. Pengertian Kemampuan Menyimak ....................................................

15

  • 2. Tahapan Menyimak .............................................................................

17

  • 3. Jenis-jenis Menyimak ..........................................................................

18

  • 4. Faktor yang Mempengaruhi Menyimak ..............................................

22

  • 5. Tujuan Menyimak ...............................................................................

24

  • 6. Manfaat Menyimak .............................................................................

24

x

7.

Kemampuan Menyimak Anak Usia Taman Kanak-kanak .................

25

  • 8. Metode untuk Mengembangkan Kemampuan Menyimak pada Anak TK .....................................................................................

28

  • C. Kajian Cerita untuk Anak TK .................................................................

29

  • 1. Pengertian Cerita .................................................................................

29

  • 2. Jenis Cerita untuk TK ..........................................................................

30

  • 3. Manfaat Cerita untuk Anak TK ...........................................................

31

  • 4. Karakteristik Cerita untuk Anak TK ...................................................

32

  • 5. Teknik Penyajian Cerita untuk Anak ..................................................

35

  • D. Pembelajaran Menggunakan Media Bulletin Board ................................

37

  • 1. Pengertian Media Bulletin Board ........................................................

37

  • 2. Petunjuk Penggunaan Media Bulletin Board ......................................

39

  • 3. Manfaat Media Bulletin Board ............................................................

42

  • 4. Penerapan Media Bulletin Board untuk Pembelajaran .......................

44

  • E. Kajian Anak Usia Dini .............................................................................

49

  • 1. Pengertian Anak Usia Dini ..................................................................

49

  • 2. Karakteristik Anak Usia Dini ..............................................................

50

  • 3. Prinsip-prinsip Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini .................

51

  • 4. Karakteristik Anak Usia 5-6 Tahun (TK Kelompok B) ......................

52

  • F. Penelitian yang Relevan ...........................................................................

55

  • G. Kerangka Berpikir ....................................................................................

56

  • H. Hipotesis ..................................................................................................

60

BAB III METODE PENELITIAN

  • A. Jenis Penelitian .........................................................................................

61

  • B. Subjek Penelitian .....................................................................................

62

  • C. Setting Penelitian .....................................................................................

62

  • D. Profil Kelas Sebelum dilakukan Tindakan (Kemampuan Awal) .............

65

  • E. Desain Penelitian .....................................................................................

66

  • F. Tahap Penelitian .......................................................................................

67

  • G. Metode Pengumpulan Data ......................................................................

70

  • H. Instrumen Penelitian ...............................................................................

73

  • I. Metode Analisis Data ..............................................................................

74

  • J. Indikator Keberhasilan .............................................................................

75

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  • A. Hasil Penelitian .......................................................................................

77

  • B. Pembahasan Hasil Penelitian ...................................................................

97

  • C. Keterbatasan Penelitian ............................................................................

99

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  • A. Kesimpulan ..............................................................................................

101

  • B. Saran ........................................................................................................

102

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

104

LAMPIRAN ...................................................................................................

107

xi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Hubungan Akuisisi Bahasa ...........................................................

26

Gambar 2. Kerangka Pikir dalam Penelitian Tindakan Kelas Peningkatan Kemampuan Menyimak Cerita ....................................................

59

Gambar 3. Siklus PTK Menurut Kemmis & Mc Taggart ..............................

66

Gambar 4. Gambar untuk Bercerita Guru pada Siklus I Pertemuan 1 ...........

77

Gambar 5. Gambar untuk Bercerita Guru pada Siklus I Pertemuan 2 ............

79

Gambar 6. Diagram Batang Perbandingan Hasil Rerata Kemampuan Menyimak Cerita pada Kemampuan Awal dan Siklus I ..............

86

Gambar 7. Gambar untuk Bercerita Guru pada Siklus II Pertemuan 1 ..........

88

Gambar 8. Gambar untuk Bercerita Guru pada Siklus II Pertemuan 2 ...........

90

Gambar 9. Diagram

Batang Perbandingan

Hasil

Rerata Kemampuan

Menyimak Cerita pada Kemampuan Awal, Siklus I dan

 

Siklus II

96

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Empat Kemampuan Berbahasa Anak

15

65

65

72

72

86

86

96

96

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Kisi-kisi Observasi

....................................................................

Lampiran 2. Pedoman Tes Berbicara

.............................................................

Lampiran 3. Lembar Observasi

......................................................................

Lampiran 4. Lembar Observasi dan Penilaian

............................................... Lampiran 5. Rangkuman Hasil Observasi Kemampuan Menyimak Cerita

... Lampiran 6. Langkah-langkah Penggunaan Media Bulletin Board untuk

Menyimak Cerita Media ......................................................................................... Dokumentasi Foto

.......................................................................

Lampiran 7.

Lampiran 8.

...................................................................... Lampiran 9. Contoh Hasil Pekerjaan Anak

...............................................

Lampiran 9. Cerita

......................................................................................... Lampiran 10. Rencana Kegiatan Harian (RKH) Lampiran 11. Ijin Penelitian dan Surat-surat

............................................

.................................................

107

108

109

118

148

152

155

160

165

166

174

187

xiv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemerintah mencanangkan wajib belajar 9 tahun yang baru dimulai pada

usia SD (6 tahun), sebenarnya masa-masa sebelum itu (usia baru lahir hingga 6

tahun) merupakan masa emas dalam pertumbuhan anak. Perkembangan otak

dapat mencapai 80% pada masa ini. Karena itu, pentingnya pendidikan anak

usia dini perlu orang tua sadari agar orang tua dapat memanfaatkan masa emas

dalam pertumbuhan anak. Pendidikan anak usia dini terutama menekankan

pada kemampuan anak untuk membangun hubungan emosional yang terdiri

atas tiga pilar utama. Hubungan dengan sesama (interpersonal), hubungan

dengan diri sendiri (intrapersonal), serta hubungan dengan Tuhan

(transendental). Segitiga tersebut akan membentuk karakter anak yang

tercermin dari cara ia berperilaku dan berpikir hingga dewasa kelak (Ibu dan

balita, 2011). Pendidikan anak usia dini juga meliputi tahap perkembangan

fisik, yaitu pelatihan koordinasi motorik kasar maupun halus, serta pengasahan

kecerdasan, seperti daya pikir dan kreativitas. Dengan pendidikan usia dini,

anak-anak juga akan belajar mengembangkan kemampuan berbahasa dan

berkomunikasi. Begitu pentingnya pendidikan anak usia dini, kini semakin

banyak negara di berbagai belahan dunia yang menerapkannya demi

melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh dan pemberian

kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik yang dimiliki setiap

1

tahapan perkembangan anak usia dini adalah adanya pendidikan anak usia dini

(PAUD) yang diselenggarakan oleh pemerintah dan diatur dalam Undang-

undang RI No. 20 Tahun 2003. Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu

upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak usia 0-6 tahun. Pendidikan anak

usia dini (PAUD) jalur pendidikan formal yaitu Taman Kanak-kanak (TK)/

Raudatul Atfal (RA) untuk anak usia 4-6 tahun. Sedangkan jalur pendidikan

nonformal berbentuk Taman Penitipan Anak (TPA) untuk anak usia 0-2 tahun

dan Kelompok Bermain untuk anak usia 2-4 tahun (Kementrian Pendidikan

Nasional, 2010: 1). Penelitian ini akan meneliti anak usia 5-6 tahun, seperti

yang telah dijelaskan di atas, usia tersebut termasuk anak yang memperoleh

pendidikan di Taman Kanak-kanak.

Kurikulum Taman Kanak-kanak (Pedoman Pengembangan Program

pembelajaran di Taman Kanak-kanak) yang berdasarkan peraturan menteri

pendidikan nasional RI No. 58 tahun 2009 menjelaskan bahwa struktur

program pembelajaran di TK mencakup bidang pengembangan pembentukan

perilaku dan pengembangan kemampuan dasar. Bidang pengembangan

pembentukan perilaku meliputi nilai-nilai moral dan agama serta sosial

emosional. Sedangkan bidang pengembangan kemampuan dasar meliputi

Bahasa, kognitif dan fisik (Kementrian Pendidikan Nasional, 2010: 11).

Berkaitan dengan masalah, bidang pengembangan yang akan dikembangkan

dalam penelitian ini adalah bidang pengembangan bahasa.

Kita harus ingat bahwa belajar itu melibatkan dua proses: menyerap dan

mengolah. Ketika anak mempelajari informasi baru, kata-kata baru, ide-ide

2

baru dan konsep-konsep baru inilah proses penyerapan. Biasanya ini terjadi

ketika anak-anak mengikuti kelas di Taman Kanak-kanak, atau di kelas bahasa

dan musik. Untuk menyatukan informasi baru, otak memerlukan waktu untuk

memproses informasi dan biasanya anak-anak perlahan akan mengerti ketika

mereka bermain dan bersosialisasi dengan teman dan keluarga (Goh, 2009).

Contohnya, ketika anak mempelajari kata-kata baru di sekolah, mereka akan

menerapkannya dalam permainan dan percakapan mereka di hari itu.

Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (Benny N

Joewono, 2008) mengatakan, calon siswa sekolah dasar (SD) harus bisa

membaca dan menulis merupakan kebijakan yang salah dan syarat ini tidak

boleh diberlakukan. Bentuk kesiapan belajar seorang anak dapat diketahui dari

kemampuan yang mereka miliki, seperti dari menggambar atau berbicara, tidak

harus dari kemampuan membaca dan menulis. Contoh, anak yang sudah siap

mengikuti pendidikan kemampuan membedakan siang atau malam hanya dari

gambar yang mengilustrasikan kedua kondisi itu, bukan dari susunan huruf

yang membentuk kata "siang" ataupun "malam". Dalam pendidikan anak usia

dini, pengembangan yang perlu ditekankan adalah kemampuan motorik,

berbicara, dan berkomunikasi, termasuk cara untuk mengekspresikan diri

sehingga memacu sisi kreativitas.

Bidang pengembangan bahasa yang harus di kembangkan di Taman

Kanak-kanak, yaitu kemampuan anak dalam berbicara dan berkomunikasi.

Untuk menstimulasi anak agar dapat berbicara dan berkomunikasi dengan baik

maka perlu adanya pematangan kemampuan awal sebelum dapat berbicara dan

3

berkomunikasi dengan baik, kemampuan tersebut yaitu kemampuan

menyimak. Sebelum anak dapat berbicara dan berkomunikasi dengan baik,

anak sebelumnya melakukan aktifitas menyimak.

Menyimak harus dilatih karena merupakan salah satu bagian

pengembangan bahasa yang sangat penting. Di Taman Kanak-kanak untuk

mengambangkan kemampuan menyimak anak dapat dilakukan dengan cara

anak menyimak cerita yang disampaikan guru. Cerita sangat bermanfaat bagi

anak, dengan cerita anak dapat menambah wawasan, informasi baru dan

kosakata anak. Akan tetapi perkembangan kemampuan menyimak cerita pada

anak kelompok B3 di TK Negeri Pembina masih belum maksimal dan

berkembang dengan baik. Faktor penyebab dari masalah tersebut adalah anak

lebih tertarik bermain sendiri dari pada mendengarkan dan memperhatikan

caerita yang disampaikan guru kepada mereka, penggunaan media yang kurang

menarik dan selalu sama pada saat kegiatan bercerita.

Berdasarkan observasi di TK Negeri Pembina Yogyakarta pada kelompok

B3 ditemukan adanya masalah pada kegiatan menyimak cerita. Masalah

tersebut meliputi kurangnya perhatian anak saat mendengarkan cerita sehingga

anak belum mampu memahami cerita dengan baik. Padahal cerita sangat

penting bagi anak-anak, dengan cerita anak dapat banyak belajar tentang nilai-

nilai moral dan pengetahuan. Apabila anak mendengarkan dan memahami

dengan baik, maka makna dan pengetahuan dalam cerita tersebut akan

tersampaikan pada anak.

4

Bercerita juga bertujuan agar anak mampu mendengarkan dengan seksama

terhadap apa yang disampaikan orang lain, dapat bertanya apabila anak tidak

memahaminya, anak dapat menjawab pertanyaan, selanjutnya anak dapat

menceritakan kembali apa yang didengarnya, sehingga makna dari cerita dapat

dipahami dan dilaksanakan oleh anak. Selain itu, cerita juga dapat menambah

wawasan, informasi baru dan kosakata pada anak sehingga anak dapat

berbicara dan berkomunikasi dengan baik. Namun masih banyak anak

kelompok B3 di TK Negeri Pembina Yogyakarta yang belum dapat menyimak

cerita dengan baik.

Anak lebih tertarik bermain sendiri dari pada mendengarkan dan

memperrhatikan cerita yang disampaikan guru kepada mereka, penggunaan

media yang kurang menarik dan selalu sama pada saat kegiatan bercerita. Itu

terbukti dari hasil observasi pada kemampuan awal yaitu anak memilih

bermain sendiri saat mendengarkan cerita, masih banyak anak yang sering

melihat ke arah lain, pada saat observasi guru selalu menggunakan media buku

dan bahkan secara langsung tanpa media, dan kurangnya ekspresi guru saat

bercerita. Saat dilakukan tanya jawab sebagian besar anak belum dapat

menjawab pertanyaan dan saat mengulang kembali cerita, sebagian besar anak

belum mampu menceritakannya kembali.

Berdasarkan masalah yang telah ditemukan pada saat observasi dan telah

dikemukakan di atas, maka dari itu guru sebagai kolaborator dan peneliti

melakukan diskusi untuk pemecahan masalah tersebut. Guru dan peneliti

menentukan cara untuk meningkatkan kemampuan menyimak cerita tersebut

5

dengan menggunakan media. Guru dan peneliti berharap media dapat

memudahkan anak dalam memahami isi cerita yang disampaikan. Media

memiliki peran penting dalam kegiatan pembelajaran. Mengingat

pengembangan yang ditingkatkan adalah kemampuan menyimak cerita maka

dalam penelitian ini akan menggunakan media bulletin board sebagai media

pembelajaran untuk menyimak cerita.

Bulletin board adalah suatu tempat atau halaman papan yang khusus

digunakan mempertunjukkan gambar-gambar dan tulisan-tulisan. Bulletin

board dalam penelitian ini adalah papan bulletin yang berisi tampilan gambar-

gambar yang diterima langsung oleh anak sebagai media untuk bercerita guru.

Bulletin Board ini harus disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan

anak usia Taman Kanak-kanak.

Saat ini belum banyak Taman Kanak-kanak yang memanfaatkan media

bulletin board sebagai media bercerita pada anak usia Taman Kanak-kanak

khususnya anak usia 5-6 tahun (TK kelompok B). Manfaat yang dapat

diperoleh dari penggunaan media ini adalah memudahkan pemahaman anak,

menambah informasi-informasi untuk anak tentang cerita yang akan

disampaikan dan juga dapat meningkatkan kegembiraan dan motivasi anak

dalam mendengarkan cerita. Dari berbagai manfaat bulletin board di atas maka

diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menyimak cerita pada anak usia

5-6 tahun (TK kelompok B) di TK Negeri Pembina Yogyakarta.

6

  • B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi

permasalahan di TK Negeri Pembina Yogyakarta tersebut. Adapun masalah-

masalah tersebut dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1) pengembangan bahasa anak belum optimal khususnya pada kemampuan

menyimak cerita anak masih kurang,

2) saat kegiatan bercerita anak lebih tertarik untuk bermain sendiri daripada

mendengarkan guru bercerita sehingga anak belum dapat memahami isi

cerita, dan

3) penggunaan media yang kurang bervariasi.

  • C. Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini lebih efektif, efisien, terarah, dan dapat dikaji lebih

mendalam maka diperlukan pembatasan masalah. Dalam penelitian ini maka

peneliti membatasi masalah peningkatan kemampuan menyimak cerita

menggunakan media bulletin board pada anak kelompok B TK Negeri

Pembina Yogyakarta.

  • D. Rumusan masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka terdapat permasalahan yang

dapat dirumuskan yaitu: bagaimana peningkatan kemampuan menyimak cerita

menggunakan media bulletin board pada anak kelompok B TK Negeri

Pembina Yogyakarta?”

7

  • E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ada, maka tujuan yang ingin

dicapai dalam penelitian ini adalah untuk peningkatan kemampuan menyimak

cerita menggunakan media bulletin board pada anak kelompok B TK Negeri

Pembina Yogyakarta.

  • F. Manfaat Penelitian

1. Secara teoritik, hasil penelitian ini bermanfaat bagi penelitian lebih lanjut

mengenai media bulletin board dalam meningkatkan kemampuan

menyimak cerita.

2. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat memberi manfaat bagi guru dan

 

sekolah.

a.

Guru

1) Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk memeperbaiki dan

menyempurnakan proses belajar megajar khususnya kegiatan

pembelajaran di TK tentang kegiatan menyimak cerita.

2) Penelitian ini dapat menambah wawasan guru mengenai media atau

alat peraga yang tepat untuk pembelajaran di TK pada kegiatan

menyimak cerita.

b.

Sekolah

Memberi masukan bagi sekolah atau Taman Kanak-kanak dalam

penyediaan media dan alat peraga khususnya dalam kegiatan bercerita.

8

G. Definisi Operasional

1. Kemampuan menyimak cerita adalah suatu kemampuan dalam proses

mendengarkan cerita dengan penuh perhatian serta mampu memahami

makna cerita yang telah disampaikan si pencerita. Indikator yang diamati

yaitu dapat mengulang kembali cerita secara berurutan ke dalam beberapa

kalimat sederhana. Indikator kemampuan menyimak cerita yang diamati

terdiri dari: aspek alur cerita, tokoh cerita, latar cerita, kelancaran dan

keberanian. Pengambilan data dilakukan dengan menskor hasil tes

berbicara. Tes berbicara dilakukan dengan cara mengamati dan mengisi

lembar observasi saat anak mengulang kembali cerita.

2. Media bulletin board merupakan papan yang digunakan untuk

mempertunjukkan gambar-gambar dan tulisan-tulisan. Bulletin board yang

akan digunakan untuk kegiatan menyimak cerita pada anak kelompok B3 di

TK Negeri Pembina Yogyakarta ini yaitu ada 2, bulletin board yang

digunakan untuk guru bercerita dan digunakan untuk hasil karya anak.

Adapun bulletin board yang digunakan dapat diuraikan sebagai berikut.

a. Bulletin board untuk guru bercerita.

1) Ukuran bulletin board untuk media bercerita guru ini ± 60x80 cm dari

papan melamin biru yang diberi bingkai, dan terdapat kayu sebagai

penyangga yang berguna untuk memajang bulletin board di depan

anak-anak pada saat kegiatan bercerita. Tinggi disesuaikan dengan

anak Taman Kanak-kanak ± 150 cm.

9

2) Warna bulletin board berwarna menarik misal biru sebagai dasar dan

merah, kuning, hijau, jingga sebagai warna penghias.

3) Sebagai isi dari bulletin board yaitu seperti sebuah buku cerita yang

biasa dibacakan oleh guru yang ketentuannya maksimal 12 halaman.

Tetapi dalam bulletin board ini gambar yang dipajang ke dalam

bentuk bulletin board terdapat beberapa potongan gambar/adegan,

jumlah gambar dalam penelitian ini yaitu 8 potongan gambar

berukuran minimal 15x20 cm dibuat menggunakan kertas yang

dilapisi karton dan dilaminating. Gambar diberi warna yang menarik.

Potongan gambar satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan

menunjukkan satu kesatuan cerita. Gambar tersebut disesuaikan

dengan tema, sub tema dan judul cerita yang akan disampaikan. Tema

yang digunakan pada siklus I pekerjaan dan sub tema mengenal

pekerjaan. Tema yang digunakan pada siklus II pekerjaan dan sub

tema fungsi pekerjaan.

4) Potongan gambar satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan

menunjukkan satu kesatuan cerita.

5) Cara penggunaan gambar ditempel satu per satu pada papan bulletin

sesuai dengan bagian cerita yang telah ditentukan.

b. Bulletin board untuk hasil karya anak

Bulletin board yang digunakan untuk hasil karya anak berupa gabus yang

berwarna warni dan diberi bingkai dan ditempel pada dinding kelas.

10

Gambar yang di tempel di bulletin board hasil karya anak tersebut

merupakan hasil dari mengulang kembali cerita yang telah didengar.

11

BAB II KAJIAN TEORI

A. Kajian Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini

1. Pengertian Perkembangan Bahasa

“Perkembangan merupakan suatu proses yang bersifat kumulatif, artinya

perkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya”

(Martini Jamaris, 2006: 19). Soetjiningsih (1995: 1) mendefinisikan

perkembangan (development) sebagai berikut.

Bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.

Rita Eka Izzaty. et. al. (2008: 3) menjelaskan bahwa perkembangan

(development) bersifat kualitatif, berkaitan dengan pematangan fungsi organ

tubuh. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa

perkembangan adalah bertambahnya fungsi atau kemampuan organ tubuh

seseorang. Perkembangan merupakan bertambahnya keterampilan dan

kemampuan seseorang sepanjang hidup yang didapatkan dari proses belajar.

Selanjutnya Badudu (Nurbiana Dhieni. et. al., 2005: 1.8) mendefinisikan

pengertian bahasa sendiri yaitu “bahasa adalah alat penghubung atau

komunikasi antara anggota masyarakat yang terdiri dari indivudu-individu

yang menyatakan pikiran, perasaan dan keinginannya”. Wade, Carole dan

Carol Tavris (2008: 83) mendefinisikan “bahasa adalah seperangkat aturan

12

untuk menggabungkan unsur-unsur yang tak bermakna menjadi suatu

rangkaian kata yang mengandung arti”. Santrock (2007: 353) mendefinisikan

“bahasa adalah suatu bentuk komunikasi yang diucapkan, ditulis, atau

dilambangkan, berdasarkan sistem simbol”.

Menurut pengertian bahasa di atas bahasa adalah simbol-simbol

pengungkapan secara lisan yang digunakan untuk berinteraksi,

mengungkapkan perasaan dan pikiran kepada orang lain. Melalui bahasa kita

dapat berekspresi dan berinteraksi sosial di lingkungan masyarakat.

Berdasarkan pengertian perkembangan dan bahasa di atas dapat

disimpulkan pengertian perkembangan bahasa adalah bertambahnya

keterampilan dan kemampuan seseorang dalam pengungkapan secara lisan dan

berkomunikasi dengan orang lain. Perkembangan bahasa adalah salah satu

kemampuan dasar yang harus dimiliki anak.

2. Tahap Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini

Guntur (Ahmad Susanto, 2011: 75) menjelaskan tahapan perkembangan

bahasa anak usia dini adalah sebagai berikut.

a. Tahap I (pralinguistik), yaitu antara 0-1 tahun. Tahap I ini terdiri dari: 1)

tahap meraban 1, dan 2) tahap meraban 2.

1) Tahap meraban 1 (pralinguistik pertama) dimulai usia 1-6 bulan, anak

akan mulai menangis, tertawa dan menjerit.

2) Tahap meraban 2 (Pralinguistik kedua). Tahap kata tanpa makna mulai

bulan ke 6-1 tahun.

13

  • b. Tahap II (linguistik). Tahap ini terdiri dari: 1) tahap 1 holafrastik (1 tahun), dan 2) tahap 2 frasa (1-2 tahun).

1) Tahap 1 holafrastik (1 tahun), mulai menyatakan makna keseluruhan

frasa atau kalimat dalam satu kata dan perbendaharaan kata kurang lebih

50 kosakata.

2) Tahap 2 frasa (1-2 tahun), mampu mengucapkan dua kata dan

perbendaharaan kata rentang 50 hingga 100 kata.

  • c. Tahap III (pengembangan tata bahasa, yaitu prasekolah 3,4,5 tahun). Tahap ini anak sudah dapat membuat kalimat seperti telegram. Dilihat dari aspek pengembangan bahasa seperti S-P-O, anak dapat memperpanjang kata menjadi satu kalimat.

  • d. Tahap IV (tata bahasa menjelang dewasa, yaitu 6-8 tahun). Tahap ini ditandai dengan kemampuan menggabungkan kalimat sederhana dan kalimat kompleks.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa anak usia

5-6 tahun atau TK kelompok B termasuk pada tahap III dan IV, dimana tahap

ke III anak sudah dapat membuat kalimat seperti S-P-O dan tahap ke VI anak

sudah mampu untuk menggabungkan kalimat yang sederhana dan kalimat

kompleks. Maka dari itu anak sudah mampu untuk berbicara dan

mendengarkan orang dewasa berbicara serta dapat memahami pembicaraan

orang yang lebih dewasa dari mereka. Begitu juga ketika anak mendengarkan

cerita anak seharusnya sudah mampu untuk memahami isi cerita.

14

3.

Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini

Anak usia dini memiliki empat kemampuan berbahasa. Nurbiana Dhieni.

et. al. (2007: 4.5) menjelaskan empat kemampuan berbahasa tersebut yaitu

seperti yang diuraikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 1. Empat Kemampuan Berbahasa Anak

No.

Keterampilan Berbahasa

Lisan dan

Tertulis dan

Langsung

Tidak Langsung

 
  • 1. (menerima

Aktif

reseptif

Menyimak

Membaca

pesan)

 
  • 2. produktif

Aktif

Berbicara

Menulis

(menyampaikan pesan)

Berdasarkan pendapat di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa

kemampuan berbahasa anak usia dini memiliki empat komponen yaitu

menyimak dan membaca adalah kemampuan anak untuk menerima pesan dan

informasi. Sedangkan bebicara dan menulis adalah kemampuan anak untuk

menyampaikan pesan atau pendapat mereka. Untuk menyimak adalah

kemampuan dasar anak untuk dapat berbicara dengan baik.

B. Kajian Kemampuan Menyimak

  • 1. Pengertian Kemampuan Menyimak

Kemampuan menyimak terdiri dari dua kata yaitu kemampuan dan

menyimak, keduanya memiliki makna masing-masing yang jika digabungkan

akan menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami. Utami Munandar (1999:

17) menjelaskan “kemampuan merupakan daya untuk melakukan suatu

15

tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan

bahwa suatu tindakan (performance) dapat dilakukan sekarang”.

Henry Guntur Tarigan (1983: 19) mendefinisikan pengertian menyimak

sendiri adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan

dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk

memperoleh informasi, menangkap isi, atau pesan serta memahami makna

komunikasi yang telah disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau

bahasa lisan”. Saleh Abbas (2006: 63) mendefinisikan menyimak merupakan

proses untuk mengorganisasikan apa yang didengar dan menempatkan pesan

suara-suara yang didengar, ditangkap menjadi makna yang dapat diterima”.

Sedangkan Sabarti Akhadiah. et. al. (1991/1992: 148) mendefinisikan

“menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi

bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mereaksi atas makna yang

terkandung di dalamnya”.

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan pengertian

kemampuan menyimak adalah kemampuan dalam proses kegiatan

mendengarkan pembicaraan dengan penuh perhatian, serta memahami makna

pembicaraan yang telah disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau

bahasa lisan. Jadi, menurut kesimpulan di atas kemampuan dalam menyimak

cerita adalah suatu kemampuan dalam proses mendengarkan cerita dengan

penuh perhatian serta mampu memahami makna cerita yang telah disampaikan

si pencerita.

16

2. Tahapan Menyimak

Herry Hermawan (2011: 36-42) menjelaskan bahwa tahapan menyimak

terdiri dari 5 tahap. Adapun tahapan menyimak tersebut, yaitu penerimaan,

pemahaman, pengingatan, pengevaluasian dan penanggapan.

Tahap pertama, yaitu penerimaan pesan-pesan yang dikirim pembicara

baik yang bersifat verbal maupun non verbal, apa yang dikatakan dan apa yang

tidak diucapkan. Tahapan ini dibentuk oleh dua elemen pokok yakni

pendengaran dan perhatian. Tahap berikutnya yaitu pemahaman yang disusun

dari dua elemen pokok pembelajaran dan pemberian makna. Tahap ke tiga

yaitu pengingatan, dalam proses menyimak kita perlu mengingat berbagai

pesan. Tahap ke empat yaitu pengevaluasian yang terdiri dari penilaian dan

pengkritisan pesan. Tahap terakhir yaitu penanggapan, penanggapan terjadi

dalam fase I tanggapan yang kita buat sementara pembicara berbicara, dan fase

ke II tanggapan yang kita buat setelah pembicara berhenti berbicara.

Faris (Yeti Mulyati. et. al., 2008: 2.4) menguraikan proses menyimak

dalam tiga tahapan.

a. Menerima masukan auditori (auditoty input). Penyimak menerima pesan secara lisan. Mendengar pesan saja tidak menjamin berlangsungnya pemahaman. b. Memperhatikan masukan auditori. Penyimak berkonsentrasi (secara fisik dan mental) pada apa yang disampaikan penutur. c. Menafsirkan dan berinteraksi dengan masukan auditori. Penyimak tidak sekedar mengumpulkan dan menyimpan pesan, tetapi juga mengklasifikasikan, membandingkan dan menghubungkan pesan dengan pengetahuan awal (previous knowledge). Penyimak juga menggunakan strategi prediksi- konfirmasi secara cepat.

17

Saleh Abbas (2006: 63) menjelaskan proses menyimak terdiri dari tiga

langkah, yaitu menerima masukan yang didengar, melibatkan diri terhadap

masukan yang didengar dan menginterpretasikan dan berinteraksi dengan

masukan yang didengar.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diambil kesimpulan seorang anak

dikatakan dapat menyimak cerita dengan baik jika anak dapat melakukan

tahap-tahap sebagai berikut: menerima pesan dari pembicara, memahami

pesan, mengingat pesan dan menanggapi. Anak dikatakan dapat menyimak

apabila anak mampu menerima pesan dari pembicara, dapat memahami isi dari

pembicaraan, dapat mengingat dan menanggapi isi pembicaraan.

3. Jenis-jenis Menyimak

Herry Hermawan (2012: 43-47) mengemukakan jenis-jenis menyimak

diklasifikasikan dalam tiga kelompok besar. Jenis-jenis menyimak tersebut

terdiri dari: a) menyimak secara pasif, b) menyimak secara kritis dan c)

menyimak secara aktif.

  • a. Menyimak secara pasif Menyimak pasif yaitu penyimak tidak melakukan evaluasi terhadap pesan- pesan yang disampaikan pembicara.

  • b. Menyimak secara kritis Menyimak kritis yaitu penyimak berupaya untuk mencari kesalahan, kekeliruan dan kekurangan dari pesan-pesan yang disampaikan pembicara.

18

  • c. Menyimak secara aktif Menyimak aktif yaitu penyimak menunjukkan kepedulian terhadap pembicara, berusaha untuk memahami dan mengingat apa yang didengar, dan memberikan tanggapan terhadap apa yang dikatakan pembicara.

Bromley (Nurbiana Dhieni. et. al., 2007: 4.14) menjelaskan bahwa jenis-

jenis menyimak yang dapat dikembangkan di Taman Kanak-kanak yaitu: a)

menyimak informatif, b) menyimak kritis dan c) menyimak apresiatif.

  • a. Menyimak informatif Menyimak atau mendengarkan informasi untuk mengidentifikasi dan mengingat fakta-fakta, ide-ide, dan hubungan-hubungan.

  • b. Menyimak kritis Mendengarkan kritis lebih dari sekedar mengidentifikasi dan mengingat fakta, ide, dan hubungan-hubungan. Kemampuan ini membutuhkan kemampuan untuk menganalisis apa yang didengar dan membuat sebuah keterangan tentang hal tersebut dan membuat kesimpulan berdasarkan apa yang didengar.

  • c. Menyimak apresiatif Menyimak apresiatif adalah kemampuan untuk menikmati dan merasakan apa yang didengar. Secara imajinatif anak seolah-olah ikut mengalami, merasakan, melakukan karakter dari perilaku cerita yang dilisankan.

Mehrmann (Herry Hermawan, 2012: 78-79) menjelaskan “secara umum

teknik atau keterampilan menyimak aktif dapat dibagi ke dalam tiga kategori,

yaitu keterampilan dalam menerima pembicara (attending skills), keterampilan

19

dalam menafsir ulang pesan pembicara (reflecting skills), dan keterampilan

berempati (Emphatic skill).

Broomley (Nurbiana Dhieni. et. al., 2007: 3.19) mengemukakan bahwa

“proses menyimak aktif terjadi ketika anak sebagai penyimak menggunakan

auditory discrimation dan acuity dalam mengidentifikasi suara-suara dan

berbagai kata, kemudian menterjemahkannya menjadi kata yang bermakna

melalui auding atau pemahaman”. Menyimak aktif tidaklah hanya

menerjemahkan pesan pembicara akan tetapi menjadi peserta aktif dengan

mendengarkan, mengidentifikasi dan mengasosiasi arti dengan suara bahasa

yang disampaikan.

Penyimak yang aktif dapat memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan

oleh lawan bicaranya, memperhatikan bahasa tubuh dan ekspresi wajah

pembicara, dan memonitor tentang kesesuaian apa yang mereka dengar dengan

yang mereka pikirkan. Penyimak aktif memproses informasi yang datang dan

berusaha mengkontruksi arti suara tersebut (Nurbiana Dhieni. et. al., 2007:

3.19).

Nurbiana Dhieni (2005: 3.5) mengemukakan ada beberapa aspek

kebahasaan dan non kebahasaan. Adapun aspek kebahasaan meliputi:

  • b) ketepatan ucapan,

  • c) penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai,

  • d) pilihan kata, dan

  • e) ketepatan sasaran pembicaraan.

20

Aspek non kebahasaan meliputi:

  • a. sikap tubuh, pandangan, bahasa tubuh, dan mimik yang tepat,

  • b. kesediaan menghargai pembicaraan maupun gagasan orang lain,

  • c. kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara, dan

  • d. relevansi, penalaran dan penguasaan terhadap topik tertentu.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diambil kesimpulan jenis-jenis

menyimak anak yaitu menyimak pasif adalah mendengarkan informasi dan

mengingat informasi-informasi yang didengar. Menyimak kritis adalah

mendengarkan informasi, menganalisis dan membuat kesimpulan tentang apa

yang didengar. Sedangkan menyimak aktif gabungan antara keduanya.

Kemampuan menyimak cerita anak merupakan jenis menyimak aktif.

Berdasarkan kategori tersebut di atas dapat disimpulkan keterampilan dalam

menyimak cerita secara aktif untuk anak Taman Kanak-kanak yaitu anak

sebagai penyimak yang aktif dapat memusatkan perhatian pada apa yang

dikatakan oleh lawan bicaranya, memperhatikan bahasa tubuh dan ekspresi

wajah pembicara, dan memonitor tentang kesesuaian apa yang mereka dengar

dengan yang mereka pikirkan. Anak sebagai penyimak aktif dapat memproses

informasi yang datang dan berusaha mengkontruksi arti suara tersebut lalu

meringkasnya ke dalam kalimat sederhana.

Pada penelitian ini kemampuan yang dikembangkan adalah kemampuan

menyimak cerita pada anak kelompok B. Adapun indikator yang diamati

diambil dari menyimak aktif yaitu dapat menghentikan kesibukannya sendiri

saat mendengarkan cerita, wajah dan pandangan tertuju pada guru dan

21

peragaan cerita, menjawab pertanyaan tentang isi cerita yang telah didengarnya

dan mengulang kembali cerita secara berurutan ke dalam beberapa kalimat

sederhana. Pada saat mengulang kembali cerita anak akan di tes pada

kemampuan mengulang kembali cerita menggunakan kalimat sederhana.

Aspek-aspek yang akan dinilai, yaitu kelancaran, keberanian, tokoh cerita dan

alur cerita.

Berdasarkan aspek-aspek yang telah disebutkan di atas dapat dikaitkan

dengan kemampuan anak dalam mengulang kembali cerita dalam penelitian

ini, yaitu aspek kelancaran dalam menyampaikan cerita; keberanian; relevansi,

penalaran dan penguasaan terhadap topik tetentu yaitu anak dapat mengetahui

tokoh cerita dan bercerita sesuai dengan alur cerita.

4. Faktor yang Mempengaruhi Menyimak

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keefektifan menyimak. Herry

Hermawan (2012: 49-53) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi

menyimak yaitu: a) faktor internal, dan b) faktor eksternal.

  • a. Faktor internal Faktor internal adalah faktor yang mempengaruhi kondisi fisik yaitu kondisi pendengaran pada si penyimak.

  • b. Faktor eksternal Faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhi menyimak yang berasal dari kondisi lingkungan dan pembicara.

22

Henry Guntur Tarigan (1983: 44-47) mengemukakan faktor-faktor yang

mempengaruhi menyimak yaitu: a) faktor fisik, b) faktor psikologis, dan c)

faktor pengalaman.

  • a. Faktor fisik Kesehatan serta kesejahteraan fisik merupakan suatu modal yang turut menentukan bagi setiap penyimak. Lingkungan fisik juga mungkin sekali turut bertanggungjawab atas ketidak efektifan menyimak seseorang. Ruang belajar haruslah tenang, tidak mudah mendatangkan gangguan dan selingan terhadap kegiatan menyimak.

  • b. Faktor psikologis Faktor-faktor psikologis tediri dari masalah-masalah prasangka dan kurangnya simpati terhadap si pembicara beserta sebab-musebabnya, keegosentrisan dan keasyikan terhadap minat-minat pribadi serta masalah- masalah pribadi, kurang luas pandangan, kebosanan, sikap yang tidak layak terhadap sekolah, terhadap guru, terhadap subyek, atau terhadap si pembicara.

  • c. Faktor pengalaman Kurangnya atau tiadanya minat pun agaknya merupakan akibat dari pengalaman yang miskin atau tiadanya sama sekali pengalaman dalam bidang yang akan disimak itu.

23

5.

Tujuan Menyimak

Nurbiana Dhieni. et. al. (2007: 4.9) mengemukakan tujuan menyimak bagi

anak yaitu: a) untuk belajar, b) untuk mengapresiasi, c) untuk menghibur diri,

dan d) untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

  • a. Untuk belajar Menyimak pada umumnya adalah untuk belajar bagi anak TK. Anak TK melakukan kegiatan menyimak cenderung bukan karena keinginan anak itu sendiri tetapi karena ditugaskan sehubungan dengan kegiatan dalam pembelajaran.

  • b. Untuk mengapresiasi Bagi anak menyimak bertujuan untuk dapat memahami, menghayati, dan menilai bahan yang disimak.

  • c. Untuk menghibur diri Menyimak yang bertujuan untuk menghibur diri artinya dengan menyimak anak akan merasa senang dan gembira.

  • e. Untuk memecahkan masalah yang dihadapi Orang yang sedang mempunyai permasalahan bisa mencari permasalahannya melalui kegiatan menyimak.

  • 6. Manfaat Menyimak

Menyimak memiliki manfaat bagi anak karena menyimak merupakan

bagian

dari

keterampilan

berbahasa

anak.

Sabarti

Akhadiah

(1992:

149)

mengemukakan peranan menyimak yaitu: sebagai dasar belajar berbahasa,

24

penunjang keterampilan berbicara, membaca dan menulis, pelancar komunikasi

lisan dan menambah informasi atau pengetahuan. Herry Hermawan (2012: 54-

56) menjelaskan fungsi menyimak, yaitu: sebagai cara untuk memahami orang

lain, berempati, mempengaruhi orang lain, menghibur diri, mengkritisi orang

lain dan menolong orang lain. Nurbiana Dhieni. et. al. (2007: 4.7) menjelaskan

fungsi menyimak, yaitu: sebagai dasar belajar bahasa, baik bahasa pertama

maupun bahasa kedua, dasar pengembangan bahasa tulis (membaca dan

menulis), penunjang keterampilan berbahasa lainnya, pelancar komunikasi

lisan dan penambah informasi atau pengetahuan.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan manfaat menyimak untuk

anak, yaitu: sebagai dasar belajar bahasa, baik bahasa pertama maupun bahasa

kedua, menjadi dasar pengembangan membaca dan menulis, memperlancar

komunikasi lisan dan menambah informasi atau pengetahuan.

7. Kemampuan Menyimak Anak Usia Taman Kanak-kanak

Sejak dilahirkan anak langsung mendengarkan kata-kata yang diucapkan

oleh orang-orang disekelilingnya. Noam Chomsky (Santrock, 2007: 370)

berpendapat bahwa sejak dilahirkan dalam diri anak terdapat perangkat

perolehan bahasa Language Acquisition Devices (LAD) yang dipergunakan

sebagai sarana memperoleh bahasa. Language Acquisition Devices (LAD)

yaitu suatu warisan biologis yang memampukan anak mendeteksi gambaran

dan aturan bahasa. Anak-anak dipersiapkan oleh alam dengan kemampuan

mendeteksi bunyi-bunyi bahasa, dan megikuti aturan-aturan seperti bagaimana

membentuk kata benda jamak dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan.

25

Chomsky (Nur Mustakim, 2005: 136) membuat suatu model LAD untuk

menunjukkan bagaimana anak belajar bahasa. Model LAD seperti yang terlihat

pada bagan di bawah ini. Data LAD linguistik Pengolahan
pada bagan di bawah ini.
Data
LAD
linguistik
Pengolahan

Kemampuan tatabahasa

(kemampuan) membentuk dan

mengerti kalimat.

Gambar 1. Hubungan Akuisisi Bahasa

Hubungan akuisisi bahasa di atas menunjukkan bahwa data kebahasaan dari

lingkungan terutama ibu dan bapak, serta keluarga lain di rumah sebagai bahan

baku masukan (input) diolah LAD untuk memperoleh kaidah-kaidah

kebahasaan di dalamnya (output). Kaidah-kaidah kebahasaan tersebut berupa

tataran bahasa meliputi fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik.

Kemampuan menyimak sebagai salah satu kemampuan berbahasa awal

yang harus dikembangkan, memerlukan kemampuan bahasa reseptif dan

pengalaman, dimana anak sebagai penyimak secara aktif memproses dan

memahami apa yang didengar (Nurbiana Dhieni. et. al, 2007: 3.18).

Perkembangan kemampuan menyimak pada anak erat kaitannya satu sama lain

dengan kemampuan berbahasa khususnya berbicara.

Tulare County School (Henry Guntur Tarigan, 1983: 40) telah menyusun

sebuah buku petunjuk mengenai Keterampilan Berbahasa yang disebut “Tulare

Countty Cooperative Language Arts Guide”. Khusus mengenai keterampilan

berbahasa menyimak dari anak-anak Taman Kanak-kanak sampai sekolah

dasar. Anderson (Henry Guntur Tarigan, 1983: 40) menjelaskan bahwa

26

kemampuan menyimak untuk usia anak Taman Kanak-kanak pada umumnya

meliputi:

a) menyimak pada teman-teman sebaya dalam kelompok- kelompok permainan, b) mengembangkan waktu perhatian yang amat panjang terhadap cerita-cerita, dan c) dapat mengingat petunjuk-petunjuk dan pesan-pesan sederhana.

Menurut teori di atas dapat disimpulkan bahwa anak sejak dilahirkan

mempunyai kemampuan untuk memperoleh bahasa dari lingkungan sekitarnya.

Di Taman Kanak-kanak sering dilakukan kegiatan bercerita dalam proses

pemahaman bahasa cerita yang diperoleh anak dari guru (input) tersebut akan

diproses dalam otak kecil dan hasilnya berupa pemahaman cerita (output).

Kemampuan tersebut merupakan kemampuan dalam menyimak cerita.

Berdasarkan uraian di atas kemampuan menyimak anak usia Taman

Kanak-kanak merupakan kemampuan berbahasa awal yang harus

dikembangkan, karena akan berpengaruh terhadap kemampuan berbicaranya.

Kemampuan menyimak anak Taman Kanak-kanak yaitu anak dapat menyimak

pembicaraan teman sebayanya, memberikan perhatian pada saat mendengarkan

cerita dan dapat mengingat pesan-pesan sederhana. Di Taman Kanak-kanak

untuk mengembangkan kemampuan menyimak biasanya dilakukan pada saat

kegiatan bercerita. Selain itu kegiatan bercerita juga dapat membentuk

kepribadian anak dan agar nilai-nilai luhur dapat ditanamkan pada diri anak

melalui penghayatan terhadap makna dan maksud cerita. Maka dari itu bulletin

board dalam penelitian ini digunakan sebagai media untuk membantu anak

27

dalam menyimak cerita. Melalui media bulletin board anak akan aktif dan

lebih mudah dalam menyimak cerita.

8. Metode

untuk

Mengembangkan

Taman Kanak-kanak

Kemampuan Menyimak pada Anak

Terdapat beberapa metode yang dapat mengembangkan kemampuan

menyimak pada anak Taman Kanak-kanak. Metode-metode yang dapat

digunakan untuk mengembangkan kemampuan menyimak pada anak Taman

Kanak-kanak yaitu simak-ulang ucap, simak-kerjakan, simak-terka, menjawab

pertanyaan, parafrase, merangkum dan bisik berantai (Nurbiana Dhieni. et. al.,

2007: 4.18-4.20).

Simak-ulang ucap biasanya digunakan dalam memperkenalkan bunyi-

bunyi tertentu. Simak-kerjakan yaitu ucapan guru berisi kalimat perintah dan

anak mereaksi atas perintah guru. Simak-terka biasanya dilakukan untuk

menerka benda yang tidak diperlihatkan. Menjawab pertanyaan yaitu guru

menyiapkan bahan simakan berupa cerita kemudian guru mengajukan

pertanyaan-pertanyaan yang sehubungan dengan cerita. Parafrase yaitu anak

menyimak puisi yang dibacakan oleh guru dan menceritakan kembali isi puisi

tersebut dengan kata-kata sendiri. Merangkum yaitu guru menyiapkan bahan

simakan berupa cerita kemudian anak ditugaskan untuk menceritakan kembali

ke dalam kalimatnya sendiri. Bisik berantai yaitu guru membisikkan beberapa

kata pada anak, anak pertama membisikkan kepada anak kedua dan seterusnya.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode yang

digunakan pada penelitian ini adalah simak-kerjakan, menjawab pertanyaan

28

dan merangkum. Simak-kerjakan yaitu reaksi anak dalam bentuk perbuatan.

Kegiatan ini juga sangat cocok diterapkan di Taman Kanak-kanak seperti

mencapai hasil belajar anak mampu melakukan 3-5 perintah secara berurutan

dengan benar. Menjawab pertanyaan dapat dilakukan setelah mendengarkan

cerita. Merangkum yaitu anak ditugaskan untuk menceritakan kembali isi

cerita ke dalam kalimatnya sendiri.

C. Kajian Cerita untuk Anak Taman Kanak-kanak

1. Pengertian Cerita

Nur Mustakim (2005: 12) mendefinisikan cerita adalah kejadian suatu

tempat, kehidupan binatang sebagai perlambang kehidupan manusia,

kehidupan manusia dalam masyarakat, dan cerita tentang mite yang hidup

dalam masyarakat kapan dan dimana cerita itu terjadi. Bachtiar S. Bachri

(2005: 17) mendefinisikan cerita merupakan sarana meyampaikan ide/pesan

melalui serangkaian penataan yang baik dengan tujuan agar pesan menjadi

lebih mudah diterima dan memberikan dampak yang lebih luas dan banyak

pada sasaran.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan pengertian cerita adalah

sarana meyampaikan pesan tentang kejadian dalam kehidupan manusia dan

alam sekitar melalui serangkaian penataan yang baik dan bertujuan agar pesan

menjadi lebih mudah diterima. Cerita dapat disampaikan secara lisan maupun

berbentuk tulisan.

29

2. Jenis Cerita untuk Taman Kanak-kanak

Tadkiroatun Musfiroh (2008: 69-80) mengemukakan ada tiga jenis cerita

yang sesuai untuk Taman Kanak-kanak yaitu: a) cerita rakyat, b) cerita fiksi

modern, dan c) cerita faktual.

  • a. Cerita rakyat Cerita rakyat adalah cerita yang tersebar dari mulut ke mulut yang berkaitan dengan cerminan kebudayaan di lingkungan masyarakat tertentu sehingga mempengaruhi tingkah laku mereka.

  • b. Cerita fiksi modern Cerita fiksi modern merupakan cerita imajinatif yang diciptakan oleh seseorang mengenai kehidupan sehari-hari. Terdapat 2 bentuk cerita fiksi modern yaitu: 1) cerita fiksi populer dan 2) cerita fiksi ilmiah.

1) Cerita fiksi populer adalah cerita yang menampilkan peri kehidupan

sehari-hari melalui tokoh manusia maupun rekaan (binatang dan tokoh

khayali dengan bentuk tertentu).

2) Cerita fiksi ilmiah adalah cerita yang mengandung unsur-unsur

keilmiahan walaupun dalam kadar yang disesuaikan dengan pendengar

yang dibidik. Cerita fiksi ilmiah mengandung nilai kebenaran yang

dapat dibuktikan di alam nyata.

  • c. Cerita faktual Cerita faktual merupakan cerita yang didasarkan pada peristiwa fakta yang dialami seseorang atau sekelompok orang. Cerita ini biasanya berbentuk buku sejarah dan berisi tentang peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh.

30

Cerita yang disampaikan dalam penelitian ini yaitu menyadur dari cerita yang

berjudul “Minum Obat” (Tadkiroatun Musfiroh, 2008: 198) dan buku cerita

seri mengenal profesi yang berjudul “Berkunjung ke Dokter Gigi” (Eve

Marleau dan Michael Garton, 2010).

Berdasarkan penjelasan di atas jenis cerita yang akan digunakan dalam

penelitian ini adalah cerita fiksi modern dalam bentuk cerita fiksi ilmiah. Cerita

fiksi modern tersebut didalamnya merupakan cerita yang mengenai kehidupan

sehari-hari yang berdasarkan imajinasi seseorang. Cerita fiksi ilmiah

merupakan cerita yang mengandung nilai kebenaran yang dapat dibuktikan di

alam nyata. Cerita dalam penelitian ini adalah cerita yang menceritakan

kehidupan sehari-hari dan kebenarannya dapat dibuktikan. Misal: cerita

tersebut menceritakan tentang dokter yang sedang menangani pasien yang

bermasalah dengan kesehatan tubuhnya. Cerita tersebut juga menjelaskan

tentang penyakit yang biasanya dialami anak-anak. Konflik cerita dikaitkan

dengan masalah-masalah yang biasa terjadi pada anak. Cerita tersebut

mengenalkan pada anak apabila mereka mempunyai masalah dengan kesehatan

maka sebaiknya memeriksakannya ke dokter dan selalu menjaga kesehatan

agar tidak sakit.

3. Manfaat Cerita untuk Anak Taman Kanak-kanak

Cerita merupakan suatu hal yang tidak dapat terpisahkan dari anak usia

dini. Tadkiroatun Musfiroh (2008: 81-97) mengemukakan manfaat cerita bagi

anak yang dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu:

31

  • a) membantu pembentukan pribadi dan moral anak,

  • b) menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi,

  • c) memacu kemampuan verbal anak,

  • d) merangsang minat menulis anak,

  • e) merangsang minat baca anak dan

  • f) membuka cakrawala pengetahuan anak.

Berdasarkan pendapat di atas manfaat cerita untuk Taman Kanak-kanak

yaitu dapat membentuk pribadi anak, menyalurkan kebutuhan imajinasi dan

fantasi, mendorong kemampuan verbal anak, dapat merangsang minat menulis

anak, dapat merangsang minat baca anak dan dapat membuka dan menambah

cakrawala pengetahuan anak.

4. Karakteristik Cerita untuk Anak Taman Kanak-kanak

Cerita yang sesuai untuk anak memiliki karakteristik tertentu. Tadkirotun

Musfiroh (2008: 33) menjelaskan karakteristik cerita untuk anak meliputi: a)

tema, b) amanat, c) alur certa, d) tokoh dan penokohan, c) sudut pandang, f)

latar, dan g) sarana kebahasaan.

a. Tema

Tema adalah makna yang terkandung dalam sebuah cerita. Tema yang

sesuai untuk anak TK sebaiknya memiliki tema tunggal, berupa tema sosial

maupun tema ketuhanan.

32

  • b. Amanat

Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh

pengarang dalam cerita. Amanat untuk anak TK seharusnya ada didalam

cerita atau dongeng, baik ditampilkan secara (akplisit) jelas dan dapat

dimengerti maupun secara (implisit) terkandung di dalamnya, baik

dinyatakan oleh para tokohnya maupun oleh penceritanya.

  • c. Alur cerita

Alur adalah peristiwa-peristiwa naratif yang disusun dalam serangkaian

waktu. Cerita untuk anak TK memiliki alur yang sederhana, tidak terlalu

rumit atau alur maju dari hal yang tidak baik ke arah perbaikan (progresif).

Alur mundur (regresif) maupun campuran cenderung dihindari agar anak

tidak berkutat pada alur cerita. Bagian awal pada cerita anak pada

umumnya berisi perkenalan tentang tokoh. Pada klimaks cerita anak

biasanya memberikan reaksi tertentu seperti menjerit, menutup mata, dan

tertegun. Akhir cerita berisi kondisi yang kembali stabil karena tokoh yang

jahat menyadari kesalahannya.

  • d. Tokoh dan penokohan

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami berbagai peristiwa dalam

cerita. Anak TK memerlukan tokoh cerita yang jelas dan sederhana (flat

character). Tokoh-tokoh sederhana membantu anak-anak dalam

mengidentifikasi tokoh jahat dan tokoh baik. Tokoh sederhana hanya

memiliki satu sifat saja, baik saja atau buruk saja. Anak TK masih memiliki

sifat egosentrisme sehingga mereka baru mampu melihat permasalahan dari

33

sudut pandang tunggal. Anak mengenal tokoh cerita dari sudut pandang

positif dan negatif, baik dan buruk, pahlawan dan penjahat, jahat dan baik

hati.

  • e. Sudut pandang

Secara garis besar, sudut pandang dapat dikategorikan menjadi dua yaitu

sudut pandang person pertama dan sudut pandang orang ketiga. Sudut

pandang orang ketiga memudahkan anak mengidentifikasi,

menginterpretasi, dan memahami cerita, karena mereka terbantu oleh

pencerita yang memberitahukan hal-hal yang melatarbelakanginya.

  • f. Latar

Latar adalah unsur cerita yang menunjukkan kepada penikmatnya di

mana dan kapan kejadian-kejadian dalam cerita berlangsung. Cerita anak

boleh terjadi dalam latar atau setting apa pun, asal sesuai dengan

perkembangan kognisi dan moral anak-anak. Setting budaya dalam cerita

anak umumnya ditampilkan secara sekilas bahkan lebih baik tidak

ditampilkan agar memudahkan anak untuk menangkap pesan-pesan moral

dalam berbagai konteks tanpa harus terikat setting budaya tertentu.

  • g. Sarana kebahasaan

Bahasa yang digunakan dalam cerita untuk anak TK ditandai sifat-sifat

sebagai berikut.

1) Kosakata sesuai tahap perkembangan bahasa anak

Berisi kata-kata yang meskipun berbentuk sederhana tetapi tepat, mudah

dicerna dan diingat anak.

34

2) Struktur kalimat sesuai tingkat perolehan anak

Cerita untuk anak yang berumur 5 tahun 5 kata dalam satu kalimat dan anak

yang berumur 6 tahun 6 kata dalam satu kalimat. Cerita berisi kalimat aktif

dari pada kalimat pasif. Cerita berisi kalimat majemuk bertingkat serta berisi

kalimat literal dan langsung.

Cerita yang digunakan pada penelitian ini adalah cerita yang memiliki

tema tentang pekerjaan, amanatnya yaitu pekerjaan dokter mengajarkan anak

tentang merawat kesehatan, pemadam kebakaran mengajarkan anak agar tidak

bermain api tidak disembarangan, dan tidak bermain di jalanan sehingga

menyebabkan kecelakaan yang nantinya berhubungan dengan polisi. Alur yang

digunakan pada penelitian ini yaitu alur maju. Sudut pandang dalam penelitian

ini, sudut pandang orang pertama dan orang ketiga.

5. Teknik Penyajian Cerita untuk Anak

Untuk menyajikan cerita secara menarik, diperlukan beberapa persiapan,

mulai dari penyiapan tempat, penyiapan alat peraga hingga penyajian cerita.

Tadkiroatun Musfiroh (2008: 119) mengemukakan persiapan cerita terkait erat

dengan teknik penyajian cerita, yakni cara-cara dan alat-alat yang digunakan

guru dalam menyampaikan cerita. Teknik penyajian cerita, yaitu: memilih dan

mempersiapkan tempat, bercerita dengan alat peraga, bercerita tanpa alat

peraga, mengekspresikan karakter tokoh, menirukan bunyi dan karakter suara,

menghidupkan suasana cerita serta memilih diksi dan struktur kalimat.

35

Berdasarkan pendapat di atas ada beberapa teknik penyajian cerita yang

digunakan pada penelitian ini yaitu: a) mempersiapkan tempat, b) bercerita

dengan alat peraga, c) mengoptimalkan dialog tokoh dan klimaks cerita, d)

improvisasi dan adaptasi, e) mengoptimalkan alat peraga, dan f) berolah vokal

dan mimik.

  • a. Mempersiapkan tempat Apabila jumlah anak relatif banyak sebaiknya dipilih tempat yang lebih luas. Ruang kelas merupakan tempat yang paling representatif (memenuhi persyaratan). Apabila ruangan yang disediakan relatif besar dan jumlah anak relatif banyak, tempat ditata semi melingkar, setengah oval, separuh empat persegi panjang. Penataan berlapis tingkat ini membuat anak leluasa menyimak cerita, meskipun mereka duduk dibagian belakang.

  • b. Bercerita dengan alat peraga Cerita dapat dilakukan dengan berbagai alat bantu yang disebut sebagai bercerita dengan alat peraga. Semua alat peraga membutuhkan keterampilan tersendiri yang memungkinkan penggunaan alat peraga itu berfungsi optimal.

  • c. Mengoptimalkan dialog tokoh dan klimaks cerita Dialog dalam cerita anak merupakan unsur penentu menarik tidaknya dan hidup matinya sebuah cerita. Dialog dalam cerita anak memiliki daya tarik paling besar. Percakapan tokoh memicu imajinasi anak akan tingkah laku dan karakter tokoh.

36

  • d. Improvisasi dan adaptasi Improvisasi yang dapat dilakukan guru antara lain menciptakan humor, menegur dan menyapa anak. Improvisasi sebaiknya tidak dipersiapkan, tetapi melihat pada kebutuhan pendengar.

  • e. Mengoptimalkan alat peraga Kehadiran alat peraga akan sangat membantu guru dan anak dalam proses bercerita. Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu media bulletin board.

  • f. Berolah vokal dan mimik Berolah vokal dalam cerita adalah suara karakter tokoh. Mimik adalah deskripsi perasaan tokoh.

D. Pembelajaran Menggunakan Media Bulletin Board

1. Pengertian Media Bulletin Board

Kehadiran media akan sangat membantu guru dan anak dalam proses

kegiatan bercerita. Tadkiroatun Musfiroh (2008: 157) mengemukakan peranan

media bagi anak adalah sebagai berikut.

Bagi anak-anak yang belum memiliki pengetahuan tentang dunia (knowledge of the world) yang memadai, kehadiran alat bantu menjadi sangat berarti untuk mengkontruksi kembali jalan cerita yang mereka simak. Kehadiran alat bantu menjadi sumber kedua bagi anak untuk menganalisis fakta-fakta cerita. Alat bantu berfungsi sebagai pengait antara bentuk dan makna cerita, antara kata-kata dan makna yang tersimpan di dalamnnya.

Arief S. Sadiman. et. al. (2006: 7) mendefinisikan media adalah segala

sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke

37

penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat

serta perhatian anak sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Heinich,

Molenda dan Russel (Cucu Eliyawati, 2005: 104) menjelaskan bahwa media

merupakan saluran komunikasi. Media berasal dari bahasa latin dan merupakan

bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara, yaitu

perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver).

Sedangkan Azhar Arshad (2002:4) mendefinisikan media adalah komponen

sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di

lingkungan anak yang dapat merangsang anak untuk belajar.

Berdasarkan dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan pengertian

media adalah alat bantu yang digunakan pendidik untuk menyampaikan materi

pembelajaran agar dapat disampaikan dan dipahami anak dengan mudah.

Dalam penelitian ini media yang digunakan adalah bulletin board.

Berbeda dengan papan flanel, papan bulletin (bulletin board) ini tidak

dilapisi kain flanel tetapi langsung ditempel gambar-gambar atau tulisan-

tulisan. Fungsinya selain menerangkan sesuatu, papan bulletin berfungsi juga

untuk memberitahukan kejadian dalam waktu tertentu (Nurbiana Dhieni. et. al.

2007: 11.21). Oemar Hamalik (1982: 73) mendefinisikan bulletin board adalah

fasilitas yang diperlukan dalam kelas. Alat ini adalah suatu tempat atau

halaman papan yang khusus digunakan mempertunjukkan contoh-contoh dari

pekerjaan anak, gambar-gambar, chart, poster dan objek-objek 3 dimensi yang

kecil atau material belajar lainnya. Azhar Arshad (2002: 40-41) mendefinisikan

38

bulletin board adalah papan pajang yang objeknya ditempel di atas karton lalu

karton tersebut ditempelkan pada papan pajang.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat diambil kesimpulan

pengertian bulletin board merupakan papan yang digunakan untuk

mempertunjukkan contoh-contoh dari pekerjaan anak, tulisan-tulisan, gambar-

gambar, chart, poster dan objek-objek 3 dimensi yang kecil atau material

belajar lainnya. Bulletin board merupakan papan pajang yang dapat digunakan

untuk media pembelajaran di Taman Kanak-kanak. Dalam penelitian ini

bulletin board digunakan guru sebagai media untuk menyampaikan cerita pada

anak-anak di depan kelas dan bulletin board sebagai media tempat memajang

hasil karya anak.

Media sangat berperan penting sebagai alat bantu bagi anak untuk

menganalisis fakta-fakta cerita. Media dapat menghidupkan suasana cerita

karena media memiliki pesona di hadapan anak. Maka dari itu media yang

akan digunakan untuk menyimak cerita dalam penelitian ini yaitu bulletin

board. Bulletin board yang digunakan untuk guru menyampaikan cerita dan

bulletin board hasil karya anak sebagai media untuk menyampaikan cerita

kembali.

2. Petunjuk Penggunaan Media Bulletin Board

Oemar Hamalik (1982: 78) mengemukakan penggunaan bulletin board

sebaiknya memperhatikan persyaratan-persyaratan khusus di bawah ini.

39

  • a. Menempatkan bulletin board. Penempatan suatu bulletin board hendaknya disesuaikan dengan fungsinya, terang tidaknya pemasangan dan sesuai dengan tingkat penglihatan anak.

  • b. Kontruksi. Bulletin board terbuat dari bahan-bahan, misalnya: cork, linoleum, soft wood, composition board, dan dari coarse-texture cloth. Ada

juga yang terbuat dari flanel mounted atau flannel backed. Tetapi dapat juga

dibuat dari bahan-bahan yang sederhana yang mudah didapat dilingkungan

sekolah itu.

  • c. Cahaya. Bulletin board, harus terlihat terang. Karena itu perlu mendapat cahaya yang cukup baik dari sinar matahari atau lampu sorot.

  • d. Luas bulletin board. Ukuran dan luas bulletin board pada dasarnya tidak ada ketentuan yang khusus tetapi senantiasa disesuaikan dengan kebutuhan dan kemungkinan bahannya.

  • e. Alat-alat dan perlengkapan.

  • f. Improvisasi. Pada suatu waktu bilamana diperlukan, guru dapat membuat bulletin board dengan bahan apa saja. Manfaatkanlah bahan-bahan yang ada sebaik-baiknya.

Untuk isi bulletin board dalam penelitian ini yaitu gambar-gambar adegan

yang digunakan untuk bercerita. Nurbiana Dhieni (2005: 6.46) menjelaskan

ketentuan membacakan cerita menggunakan buku gambar yaitu:

a) buku cerita ukuran 20x15 cm,

b) cerita singkat dan sarat dengan nilai-nilai kehidupan, sosialisasi dan

lingkungan anak,

40

  • c) buku cerita terdiri dari beberapa halaman maksimal 12 halaman dibuat pada karton sesuai dengan isi cerita,

  • d) gambar di buat dan dibentuk sesuai dengan tokoh atau suasana cerita,

  • e) gambar diberi warna menarik dan tidak mengaburkan imajinasi anak,

  • f) gambar dapat berupa 1 gambar tanpa suasana yang mendukung, dapat pula dilengkapi dengan suasana yang mendukung,

  • g) gambar satu dengan yang lainnya berkaitan dan menunjukkan satu kesatuan cerita dan

  • h) menggunakan gaya bahasa anak.

Berdasarkan dari teori-teori di atas dapat diambil kesimpulan penggunaan

bulletin board yang sesuai untuk Taman-Kanak-kanak dan akan digunakan

pada penelitian ini sebagai berikut.

  • a) Penempatan bulletin board disesuaikan dengan fungsi, tingkat penglihatan anak dan diletakkan di depan kelas.

  • b) Ukuran bulletin board untuk media bercerita guru ini ± 60x80 cm dari papan melamin biru yang diberi bingkai, dan terdapat kayu sebagai penyangga yang berguna untuk memajang bulletin board di depan anak- anak pada saat kegiatan bercerita. Tinggi disesuaikan dengan anak Taman Kanak-kanak ± 150 cm.

  • c) Warna bulletin board berwarna menarik misal biru sebagai dasar dan merah, kuning, hijau, jingga sebagai warna penghias.

  • d) Sebagai isi dari bulletin board yaitu seperti sebuah buku cerita yang biasa dibacakan oleh guru yang ketentuannya maksimal 12 halaman. Tetapi dalam

41

bulletin board ini gambar yang dipajang ke dalam bentuk bulletin board

terdapat beberapa potongan gambar/adegan, jumlah gambar dalam

penelitian ini yaitu 8 potongan gambar berukuran minimal 15x20 cm dibuat

menggunakan kertas yang dilapisi karton dan dilaminating

..

Gambar diberi

warna yang menarik. Potongan gambar satu dengan yang lainnya saling

berkaitan dan menunjukkan satu kesatuan cerita.

e) Terdapat juga bulletin board yang digunakan untuk memajang hasil karya

anak. Dalam penelitian ini anak juga diberi kesempatan untuk membuat

bulletin board sesuai kreativitas anak. Media ini digunakan untuk kegiatan

mengulang kembali cerita yang telah didengar anak. Bulletin board sebagai

pemajang hasil karya anak berupa gabus yang berwarna warni dan diberi

bingkai dan ditempel pada dinding kelas, gambar yang merupakan hasil dari

mengulang kembali cerita yang telah didengar akan ditempelkan sendiri

oleh anak di bulletin board tersebut. Ukuran disesuaikan dengan anak

Taman Kanak-kanak agar dapat terlihat oleh seluruh anak dalam satu kelas

dan mudah dijangkau oleh anak.

3. Manfaat Media Bulletin Board

Penggunaan media bulletin board di semua tingkatan sekolah baik

dilakukan, karena mengandung nilai-nilai pendidikan. Oemar Hamalik (1983:

74-75) menjelaskan bahwa media bulletin board digunakan karena

mengandung nilai-nilai pendidikan. Adapun nilai-nilai pendidikan tersebut

adalah sebagai berikut ini.

42

  • a) dapat dipergunakan untuk mempertunjukkan hasil karya anak atau pekerjaan anak, merupakan ruang yang khusus untuk mempertunjukkan benda, gambar-gambar, poster-poster, dan karya kelas lainnya,

  • b) sebagai tempat untuk memberitahukan pengumuman dan tugas-tugas untuk anak,

  • c) menciptakan minat dan memperluas minat anak,

  • d) mempersatukan semangat kelas dengan rasa milik bersama dan tanggung jawab bersama,

  • e) melengkapi pengalaman sosial,

  • f) memperkembang kecakapan artistik dan daya mencipta dikalangan anak- anak dan

  • g) merangsang anak untuk bekerja, inisiatif dan melatih cara memecahkan masalah.

Berdasarkan pendapat di atas dapat di ambil manfaat dari bulletin board

untuk Taman Kanak-kanak yaitu bulletin board dapat digunakan guru sebagai

sarana menyampaikan bagaimana cara menyelesaikan tugas-tugas yang akan

diberikan pada anak, menciptakan minat anak dan memperluas minat anak,

menambah semangat kelas, mengembangkan daya mencipta pada anak dan

merangsang anak untuk bekerja, inisiatif dan melatih cara untuk memecahkan

masalah.

Dalam penelitian ini pemanfaatan media bulletin board yaitu untuk

menyimak cerita. Adapun manfaat dari bulletin board yang dapat diambil dari

uraian yang telah dijelaskan di atas.

43

  • a. Bulletin board dapat digunakan sebagai sarana menyampaikan cerita sehingga anak dapat memberikan perhatiannya saat mendengarkan cerita yang disampaikan oleh guru.

  • b. Bulletin board dapat digunakan untuk menciptakan minat anak ketika menyimak cerita.

  • c. Sebagai sarana mendorong anak untuk bekerja.

  • d. Bulletin board dapat dipergunakan untuk sarana mempertunjukkan hasil pekerjaan anak, sebagai sarana untuk mengungkapkan kembali isi cerita yang telah didengar dengan cara menggambar isi cerita, hasil yang telah dibuat akan dipajang setelah anak menyampaikan isi gambar yang dibuat.

4. Penerapan Media Bulletin Board untuk Pembelajaran

Sesuai dengan teori yang telah dijelaskan pada subbab sebelumnya

mengenai pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan menyimak cerita,

yaitu dengan menggunakan media bulletin board. Sebaiknya penggunaan

media ini memperhatikan langkah-langkah umum dalam penggunaan media

agar pencapaian tujuan pembelajaran dapat optimal. Nurbiana (2007: 10.23)

menjelaskan bahwa secara umum ada tiga tahap/langkah penggunaan media,

yaitu persiapan/perencanaan, pelaksanaan (penyajian dan penerimaan), dan

follow up (tindak lanjut dan evaluasi).

Berikut adalah penjelasan mengenai langkah-langkah penggunaan media

bulletin board untuk menyimak cerita. Adapun langkah-langkah tersebut,

yaitu: a) perencanaan, b) pelaksanaan, dan c) evaluasi.

44

  • a. Perencanaan

Pada kegiatan perencanaan guru bersama peneliti mempersiapkan

segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran, yaitu:

1) siapkan peralatan yang diperlukan untuk penggunaan media,

2) atur tatanan/susunan agar peserta/audience agar dapat melihat,

mendengar dan memperhatikan dengan jelas, dan

3) tetapkan media yang digunakan untuk sistem klasikal, kelompok atau

individual.

  • b. Pelaksanaan

1) Pergunakan media sesuai dengann prosedur yang berlaku dari masing-

masing media (tiap-tiap media mempunyai cara-cara yang berbeda).

2) Hindari hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi anak didik dalam

menggunakan media, seperti penerangan kurang, suara bising dan

kerusakan media.

  • c. Follow up (tindak lanjut dan evaluasi)

1) Adakan berbagai kegiatan yang dapat memantapkan pemahaman anak

didik terhadap pokok-pokok materi pelajaran.

2) Lakukanlah evaluasi terhadap media. Misalnya: resitasi/pemberian tugas,

tanya jawab dan karya wisata.

Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan mengenai langkah-langkah

pembelajaran kemampuan menyimak cerita menggunakan media bulletin

board dalam penelitian ini, yaitu: a) perencanaan, b) pelaksanaan, dan c)

evaluasi/penilaian.

45

  • a. Perencanaan

Pada kegiatan perencanaan guru bersama peneliti mempersiapkan segala

sesuatu yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran, yaitu:

1) menentukan waktu pelaksanaan pembelajaran, baik hari/tanggal maupun

alokasi waktu pembelajaran,

2) menentukan tempat pelaksanaan pembelajaran, dilaksanakan di dalam

atau di luar ruang kelas,

3) menentukan tema dalam pembelajaran,

4) menyiapkan rencana kegiatan harian (RKH),

5) siapkan peralatan yang diperlukan untuk penggunaan media bulletin

board (misal: gambar),

4) atur tatanan/susunan agar peserta/ audience agar dapat melihat,

mendengar dan memperhatikan dengan jelas,

6) siapkan media bulletin board yang digunakan untuk guru bercerita dan

hasil karya anak, dan

7) menyiapkan instrumen penilaian yang akan digunakan.

  • b. Pelaksanaan

Sesuai dengan Peraturan Menteri No. 58 Tahun 2009, pada tahap

pelaksanaan dilakukan dengan penataan lingkungan main, dan

pengorganisasian kegiatan.

1) Penataan lingkungan main

a) Pergunakan media bulletin board sesuai dengan langkah-langkah yang

telah ditentukan.

46

  • b) Hindari hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi anak didik dalam menggunakan media, seperti penerangan kurang, suara bising dan kerusakan media.

  • c) Menciptakan suasana tempat bermain atau belajar yang aman nyaman, bersih, sehat, dan menarik.

  • d) Memanfaatkan lingkungan, yaitu cerita yang akan disampaikan menggunakan bulletin board sesuai dengan keadaan lingkungan sekitar anak.

2) Pengorganisasian kegiatan

Pengelolaan kegiatan pembelajaran pada usia 4-6 tahun (anak usia TK)

dilakukan dalam individu, kelompok kecil, dan kelompok besar meliputi

3 kegiatan pokok, yaitu kegiatan pembukaan (kegiatan awal), kegiatan

inti, dan kegiatan penutup (kegiatan akhir).

  • a) Kegiatan pembukaan (kegiatan awal) (1) guru bersama anak melakukan kegiatan pemanasan atau kegiatan

fisik/motorik di luar kelas (in door), berdoa dan menyanyi,

(2) apersepsi dengan menyebutkan tema pada hari itu dan

mengenalkan apa saja yang berkaitan dengan tema melalui tanya

jawab atau percakapan, dan

(3) guru menjelaskan tentang kegiatan pembelajaran yang akan

dilakukan dengan memberi contoh cara bermain/melakukan

kegiatan tersebut.

47

b) Kegiatan inti

Kegiatan inti terdiri dari tiga kegiatan pembelajaran yang

mengembangkan kemampuan dasar maupun pengembangan

perilaku/pembiasaan. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan pada

kegiatan inti, yaitu dengan menggunakan media bulletin board.

Adapun langkah-langkah dalam kegiatan inti yaitu sebagai berikut:

mendengarkan cerita, menjawab pertanyaan, dan mengulang kembali.

(1) Mendengarkan cerita

Anak-anak dikondisikan duduk menjadi setengah lingkaran, guru

dan media berada tepat dihadapan anak-anak, dan anak-anak

mendengarkan cerita yang diceritakan oleh guru.

(2) Menjawab pertanyaan

Setelah mendengarkan cerita anak menjawab pertanyaan tentang

isi cerita secara lisan, hal itu untuk mengetahui kemampuan anak

dalam memahami cerita.

(3)

Mengulang kembali

Memahami cerita dengan cara menyampaikan kembali cerita

kedalam kalimat sederhana di kegiatan inti selanjutnya. Adapun

kegiatan inti tersebut yaitu: anak-anak mendengarkan penjelasan

guru cara mengerjakannya, anak-anak mengambil alat dan bahan

kegiatan yang telah disediakan, anak-anak menggambarkan cerita

pada alat dan bahan yang telah disediakan dengan maksud

membuat bulletin board dengan kreasi mereka sendiri, gambar

48

tersebur merupakan cerita yang telah didengar, anak-anak

menceritakannya kembali pada saat mereka mengerjakan atau

selesai mengerjakan, setelah semua selesai anak-anak duduk dan

berkumpul kembali di karpet, anak-anak akan diberikan

kesempatan untuk maju dan menceritakan hasilnya di depan anak-

anak yang lain dan setelah anak menceritakan hasilnya anak-anak

menempelkan sendiri di bulletin board hasil karya mereka.

c) Kegiatan penutup (kegiatan akhir)

Kegiatan penutup merupakan kegiatan recalling atau mendiskusikan

kembali dan evaluasi tentang kegiatan pembelajaran yang telah

dilaksanakan selama satu hari dengan bercakap-cakap ataupun tanya

jawab. Guru mengaitkan kegiatan pembelajaran dengan pembelajaran

moral yang berguna bagi anak. Guru menutup pembelajaran dengan

bernyanyi, berdoa dan salam.

c. Evaluasi/penilaian

Guru melakukan evaluasi tentang kegiatan yang telah dilaksanakan

dengan memberikan penilaian perkembangan yang telah dicapai pada

masing-masing anak.

E. Kajian Anak Usia Dini

1. Pengertian Anak Usia Dini

“Anak

usia

dini

adalah

sosok

individu

yang berada pada proses

perkembangan yang pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya”

(Yuliani, 2009:6). “Definisi yang umum digunakan adalah yang dikemukakan

49

oleh NAECY (National Assosiation Education for Young Children) anak usia

dini adalah sekelompok individu yang berada pada rentang usia 0-8 tahun”

(Sofia Hartati, 2005: 7). Anak usia dini disebut juga anak yang berada pada

usia emas atau golden age, hal itu dikarenakan pertumbuhan dan

perkembangan fisik motorik, perkembangan moral (kepribadian, watak, dan

akhlak), sosial, emosional, intelektual, dan bahasa juga berlangsung sangat

pesat (Slamet Suyanto, 2005:6). Sedangkan menurut Kementrian Pendidikan

Nasional (2009: 1) anak usia dini adalah anak yang mendapatkan layanan

pendidikan anak usia dini dan berada pada rentang usia 0-6 tahun.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan anak usia dini adalah

anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat

pesat sehingga disebut masa golden age. Di Indonesia anak usia dini adalah

anak yang berada pada usia 0-6 tahun dan program PAUD adalah upaya

pembinaan serta pemberian rangsangan pada anak usia 0-6 tahun tersebut.

2. Karakteristik Anak Usia Dini

Anak usia dini memiliki ciri khas atau karakteristik yang berbeda dengan

usia di atasnya. Richard D. Kellough (Sofia Hartati, 2005: 8-11)

mengemukakan karakteristik anak usia dini, meliputi:

  • a) anak itu bersifat egosentris,

  • b) anak memiliki rasa ingin tahu yang besar,

  • c) anak adalah makhluk sosial,

  • d) anak bersifat unik,

50

  • e) anak umumnya kaya dengan fantasi,

  • f) anak memiliki daya konsentrasi yang pendek, dan

  • g) anak merupakan masa belajar yang paling potensial.

Berdasarkan pernyataan di atas karakteristik anak usia dini adalah anak

bersifat egosentris karena anak selalu ingin melakukan sesuatu sesuai dengan

apa yang diinginkannya. Memiliki rasa ingin tahu yang besar, rasa ingin tahu

anak sangatlah bervariasi tergantung dengan apa yang menarik perhatiannya.

Makhluk sosial karena anak selalu ingin bergaul dengan teman sebayanya.

Bersifat unik, anak merupakan individu yang masing-masing memiliki bawaan,

minat kapabilitas, dan latar belakang kehidupan yang berbeda satu sama lain.

Kaya dengan fantasi karena anak selalu mempunyai imajinasi yang tinggi.

Memiliki daya konsentrasi yang pendek karena anak mudah bosan dan tidak

dapat berlama-lama untuk menyelesaikan sesuatu kecuali memang kegiatan

tersebut menyenangkan juga bervariasi dan tidak membosankan. Anak

merupakan masa belajar yang paling potensial karena anak usia dini adalah

anak yang memiliki masa emas atau golden age dimana anak dalam masa

pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada berbagai aspek.

3. Prinsip-prinsip Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini

Yuliani (2009: 90-92) mengemukakan terdapat prinsip pembelajaran pada

anak usia dini, beberapa prinsip tersebut menurut yaitu:

  • a) anak sebagai pembelajar aktif,

  • b) anak belajar melalui sensori dan panca indera,

51

  • c) anak membangun pengetahuannya sendiri,

  • d) anak berpikir melalui benda konkret, dan

  • e) anak belajar dari lingkungan.

Berdasarkan dari pendapat di atas prinsip-prinsip pembelajaran pendidikan

anak usia dini adalah anak belajar dengan aktif dengan itu anak-anak akan

terbiasa belajar dan mempelajari berbagai aspek pengetahuan, keterampilan

dan kemampuan melalui berbagai aktivitas mengamati, mencari, menemukan,

mendiskusikan, menyimpulkan dan menemukan sendiri hal yang ditemukan

pada lingkungan sekitar. Anak belajar melalui sensori dan panca indra yaitu

anak belajar melalui sensori dan panca indranya baik penciuman, perasa,

peraba, penglihatan dan pendengaran. Anak membangun pengetahuannya

sendiri yaitu anak dirangsang untuk menambah pengetahuannya yang telah

diberikan melalui materi-materi yang disampaikan oleh guru dengan caranya

sendiri. Anak berpikir melalui benda konkret, dalam konsep ini anak harus

diberikan pembelajaran dengan benda-benda yang nyata agar anak tidak

menerawang dan bingung. Anak belajar dari lingkungan, pendidikan

merupakan usaha sadar yang dilakukan sengaja untuk membantu anak

mengembangkan potensi secara optimal sehingga anak mampu beradaptasi

dengan lingkungannya.

4. Karakteristik Anak Usia 5-6 Tahun (TK Kelompok B)

Setiap

anak

mengalami

tahapan

perubahan

sesuai

dengan

periode

perkembangan.

Setiap

periode

perkembangan

menunjukkan

ciri-ciri

atau

52

karakteristik perilaku tertentu. Karakteristik anak usia 5-6 tahun (TK kelompok

B) memiliki karakteristik berbeda dengan usia sebelumnya.

Theo Riyanto dan Martin Handoko (2004: 15) menjelaskan bahwa anak

TK kelompok B pada umumnya anak-anak telah mengalami perkembangan

dan kecakapan bermacam-macam keterampilan fisik. Mereka sudah dapat

melakukan gerakan-gerakan seperti meloncat, melompat, menangkap,

melempar, dan menghindar. Pada umumnya mereka juga sudah dapat naik

sepeda mini atau sepeda roda tiga.

Martini Jamaris (2006: 26) menjelaskan kemampuan kognitif anak usia 5-

6 tahun (TK kelompok B), yaitu: anak sudah dapat memahami jumlah dan

ukuran, tertarik dengan huruf dan angka, telah mengenal sebagian besar warna,

mulai mengerti tentang waktu, mengerti nama-nama hari dalam satu minggu,

dan pada usia 6 tahun anak sudah mulai mampu membaca, menulis dan

berhitung. Piaget (Santrock, 2007: 246) berpendapat terdapat empat tahapan

perkembangan kognitif, yaitu: a) sensorimotor, b) praoperasional, c)

operasional konkret, dan d) operasional formal.

  • a. Sensorimotor (0 - 2 tahun) Perkembangan skema melalui refleks refleks untuk mengetahui dunianya. Mencapai kemampuan dalam memersepsikan ketetapan dalam objek.

  • b. Praoperasional (2 - 7 tahun) Anak-anak berfikir menggunakan simbol dan bayangan internal, tetapi berfikir mereka tidak sistematis dan tidak logis. Amat berbeda dengan berfikirnya orang dewasa.

53

  • c. Konkret Operasional (7 - 11 tahun) Mencapai kemampuan berfikir sistematik tapi hanya apabila mereka dapat mengacu pada objek dan aktivitas konkret. Mencapai kemampuan mengkonservasikan.

  • d. Formal Operasional (11 – Dewasa) Mencapai kemampuan untuk berfikir sistematis terhadap hal-hal yang abstrak dan hipotesis.

Kemampuan bahasa anak kemompok B pada umumnya dapat

mengucapkan lebih dari 2.500 kosakata, anak sudah dapat menjadi pendengar

yang baik, anak dapat mendengarkan orang lain berbicara dan menanggapi

pembicaraan tersebut, dan anak sudah dapat melakukan ekspresi diri, menulis,

membaca dan bahkan berpuisi (Martini Jamaris, 2006: 33).

Berdasarkan dari pendapat-pendapat di atas tahap perkembangan anak

kelompok B termasuk ke dalam tahap praoperasional yaitu 2 hingga 7 tahun

anak mulai menggunakan gambaran-gambaran mental untuk memahami

dunianya. Pemikiran-pemikiran simbolik, yang direfleksikan dalam

penggunaan kata-kata dan gambar-gambar mulai digunakan dalam

penggambaran mental, yang melampaui hubungan informasi sensorik dengan

tindakan fisik. Anak usia 5-6 tahun sudah dapat menjadi pendengar yang baik,

dapat mendengar orang lain bicara dan menanggapi pembicaraan tersebut maka

dari itu anak usia 5-6 tahun (TK kelompok B) pada saat pembelajaran sudah

dapat mendengarkan guru berbicara di depan kelas dengan baik. Menjadi

pendengar yang baik dari pembicaraan orang lain dan menanggapi

54

pembicaraan tersebut merupakan kemampuan menyimak anak. Maka dari itu

kemampuan menyimak anak harus dikembangkan karena merupakan dasar

bagi anak untuk belajar berbicara dengan baik.

F. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan berjudul “Upaya Meningkatkan Kemampuan

Menyimak pada Anak Kelompok B Melalui Metode Bercerita Di TK Aisyiyah

Bustanul Athfal Punggawan Surakarta Tahun Pelajaran 2010/ 2011” oleh Deny

Dwi Kartika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas

Muhammadiyah Surakarta tahun 2011. Penelitian bertujuan untuk mengetahui

peningkatan kemampuan menyimak melalui metode bercerita di TK Aisyiyah

Punggawan Surakarta, peningkatan kemampuan menyimak dengan cerita

bergambar di TK Aisyiyah Punggawan Surakarta, seberapa besar peningkatan

kemampuan menyimak dengan metode bercerita di TK Aisyiyah Punggawan

Surakarta. Penelitian ini dilaksanakan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal

Punggawan Surakarta. Penelitian ini dilakukan dengan metode bercerita,

dengan jumlah anak 18 anak. Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas

(PTK), Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi.

Angket dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang perkembangan

menyimak sedangkan dokumentasi digunakan untuk melihat keaktifan anak

untuk maju kedepan dan untuk melihat anak yang menyimak cerita yang

disampaikan serta mengumpulkan gambar-gambar cerita. Data yang digunakan

55

adalah data kualitatif yaitu perbandingan melalui prosentasi melalui siklus–

siklus.

Berdasarkan hasil perhitungan per siklus tentang menyimak dengan

metode Bercerita di dapat pra siklus 50,59%, siklus I 68,39%, siklus II 75,22%,

siklus III 90,92%. Dengan demikian upaya meningkatkan kemampuan

menyimak pada anak kelompok B melalui metode bercerita di TK Aisyiyah

Bustanul Athfal Punggawan Surakarta tahun pelajaran 2010 / 2011 dikatakan

berhasil karena keberhasilan yang diperkirakan 85% ternyata pada siklus III

sudah melebihi dari perkiraan yaitu 90,92%.

Penelitian yang dilakukan oleh Deny Dwi Kartika tersebut memiliki

relevansi dengan penelitian ini. Relevansi tersebut diantaranya adalah:

memiliki kesamaan tujuan untuk meningkatkan kemampuan menyimak,

memiliki kesamaan menggunakan desain tindakan kelas yang terdiri siklus-

siklus, dan dilakukan di TK pada anak kelompok B.

G. Kerangka Pikir

Kemampuan menyimak adalah kemampuan untuk memahami makna suatu

bentuk penggunaan bahasa yang diungkapkan secara lisan. Kemampuan

bagaimana proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan

penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh

informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang

disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Tujuan

meningkatkan kemampuan menyimak anak adalah agar anak dapat

56

berkembang dengan baik kemampuan berbahasanya. Hal itu dikarenakan

dalam proses berkomunikasi dengan orang lain tidak hanya mampu

mengungkapkan saja namun juga harus memiliki kemampuan menyimak agar

dapat berkomunikasi dengan baik. Selain untuk dapat berkomunikasi dengan

baik, menyimak merupakan kegiatan anak untuk belajar tentang berbagai

pengetahuan. Di Taman Kanak-kanak kegiatan yang paling mudah untuk di

terima dalam proses belajar anak yaitu cerita.

Cerita adalah sarana meyampaikan pesan tentang kejadian dalam

kehidupan manusia dan alam sekitar melalui serangkaian penataan yang baik

dan bertujuan agar pesan menjadi lebih mudah diterima. Cerita dapat

disampaikan secara lisan maupun berbentuk tulisan. Cerita merupakan sarana

pembelajaran yang paling mudah diterima anak. Cerita bermanfaat untuk

membantu pembentukan pribadi dan moral anak, memacu kemampuan verbal

anak, merangsang minat menulis anak, merangsang minat baca anak dan

membuka cakrawala pengetahuan anak. Maka dari itu agar cerita dapat

tersampaikan dengan baik maka anak harus dapat menyimak cerita dengan baik

pula.

Menyimak cerita dikatakan baik apabila anak telah dapat memahami isi

dan makna dari cerita yang disampaikan dan berniat untuk melakukannya.

Anak-anak akan lebih mudah menerima isi dan makna cerita jika terdapat

media yang menarik dan menyenangkan bagi mereka. Bagi anak-anak yang

belum memiliki pengetahuan tentang dunia (knowledge of the world) yang

memadai, kehadiran alat bantu menjadi sangat berarti untuk mengkontruksi

57

kembali jalan cerita yang mereka simak. Kehadiran alat bantu menjadi sumber

kedua bagi anak untuk menganalisis fakta-fakta cerita. Alat bantu berfungsi

sebagai pengait antara bentuk dan makna cerita, antara kata-kata dan makna

yang tersimpan di dalamnya. Anak usia dini belajar melalui sensori dan panca

indra dan berpikir melalui benda konkrit. Maka dari itu salah satu media yang

akan digunakan yaitu bulletin board sebagai media untuk kegiatan menyimak

cerita.

Media bulletin board merupakan papan yang digunakan untuk

mempertunjukkan contoh-contoh dari pekerjaan anak, tulisan-tulisan, gambar-

gambar, chart, poster dan obyek-obyek 3 dimensi yang kecil atau material

belajar lainnya. Mengingat kemampuan menyimak cerita sangat penting untuk

anak maka perlu adanya upaya untuk mengembangkannya. Adanya media juga

sangat berarti bagi anak agar dapat dengan mudah dalam proses menyimak

cerita. Maka dari itu salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan

menyimak cerita anak yaitu dengan menggunakan media bulletin board.

Diharapkan media bulletin board ini dapat meningkatkan kemampuan

menyimak cerita pada anak.

Anak usia dini adalah anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan

perkembangan yang sangat pesat sehingga disebut masa golden age. Di

indonesia anak usia dini adalah anak yang berada pada usia 0-6 tahun dan

program PAUD adalah upaya pembinaan serta pemberian rangsangan pada

anak usia 0-6 tahun. Anak usia dini disebut dalam masa pertumbuhan dan

perkembangan fisik motorik, perkembangan moral (kepribadian, watak, dan

58

akhlak), sosial, emosional, intelektual, dan bahasa juga berlangsung sangat

pesat. Anak usia dini memiliki perkembangan bahasa yang sangat pesat.

Perkembangan bahasa adalah bertambahnya keterampilan dan kemampuan

seseorang dalam pengungkapan secara lisan dan berkomunikasi dengan orang

lain. Perkembangan bahasa adalah salah satu kemampuan dasar yang harus

dimiliki anak. Penelitian ini akan meningkatkan salah satu dari empat

kemampuan berbahasa anak yaitu kemampuan menyimak anak, khususnya

kemampuan menyimak cerita. Kemampuan menyimak cerita pada anak belum

berkembang secara optimal hal itu dikarenakan anak lebih tertarik berbicara

sendiri dari pada mendengarkan cerita yang disampaikan guru kepada mereka,

anak lebih sering tidak memperhatikan guru bercerita dan penggunaan media

yang kurang menarik dan selalu sama pada saat kegiatan bercerita.

Berdasarkan uraian di atas, maka kerangka alur berpikir dalam penelitian

ini dapat dilihat pada gambar bagan seperti di bawah ini.

Kemampuan Awal
Kemampuan
Awal
Tindakan
Tindakan
akhlak), sosial, emosional, intelektual, dan bahasa juga berlangsung sangat pesat. Anak usia dini memiliki perkembangan bahasa
Hasil
Hasil
akhlak), sosial, emosional, intelektual, dan bahasa juga berlangsung sangat pesat. Anak usia dini memiliki perkembangan bahasa

Kemampuan menyimak cerita anak kurang optimal.

Penggunaan media bulletin board dalam kegiatan pembelajaran.

Meningkatkan kemampuan menyimak cerita anak.

Gambar 2. Kerangka Pikir dalam Penelitian Tindakan Kelas Peningkatan Kemampuan Menyimak Cerita

59

H. Hipotesis

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, peneliti

mengajukan hipotesis sebagai berikut : penggunaan media bulletin board dapat

meningkatkan kemampuan menyimak cerita pada anak kelompok B TK Negeri

Pembina Yogyakarta.

60

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas (classroom action

research) secara kolaborasi. Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama (2010: 9)

mendefinisikan penelitian tindakan kelas atau Classroom Action Research

(CAR) adalah penelitian tindakan (action research) yang dilaksanakn oleh guru

di dalam kelas. Penelitian tindakan hakikatnya merupakan rangkaian “riset-

tindakan-tindakan-riset-tindakan

...

”,

yang dilakukan dalam rangkaian guna

memecahkan masalah.

Dalam penelitian ini peneliti menemukan permasalahan dalam kemampuan

menyimak cerita anak usia 5-6 tahun (kelompok B) di TK Negeri Pembina

Yogyakarta. Peneliti bermaksud untuk memecahkan masalah tersebut dengan

menggunakan media bulletin board dalam upaya meningkatkan kemampuan

menyimak cerita anak usia 5-6 tahun (kelompok B) di TK Negeri Pembina

Yogyakarta.

Penelitian ini merupakan kolaborasi antara peneliti dan guru kelas

kelompok B3 di TK Negeri Pembina Yogyakarta. Kolaborasi ini dilakukan

sejak dari penentuan masalah sampai dilakukannya refleksi. Peneliti berada

pada posisi sebagai pengamat dan dibantu oleh 1 orang teman sejawat peneliti

yang bertugas sebagai pengamat, sedangkan yang melaksanakan tindakan yaitu

guru kelas.

61

  • B. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah anak usia 5-6 tahun (kelompok B) di

TK Negeri Pembina Yogyakarta. Jumlah anak 25, laki-laki 12 anak dan

perempuan 13 anak. Subjek penelitian ini dipilih berdasarkan permasalahan

yang terjadi pada anak kelompok B3 di TK Negeri Pembina Yogyakarta yaitu

masih rendahnya kemampuan menyimak cerita yang dimiliki anak.

Perkembangan kemampuan menyimak pada anak erat kaitannya satu sama lain

dengan kemampuan berbahasa khususnya berbicara. Kemampuan anak

kelompok B seharusnya sudah dapat menjadi pendengar yang baik, dapat

mendengarkan orang lain berbicara dan menanggapi pembicaraan tersebut.

Kemampuan menyimak anak Taman Kanak-kanak yaitu anak dapat menyimak

pembicaraan teman sebayanya, memberikan perhatian pada saat mendengarkan

cerita dan dapat mengingat pesan-pesan sederhana. Namun anak di kelompok

B3 TK Negeri Pembina Yogyakarta masih rendah kemampuan menyimak

ceritanya. Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk memecahkan masalah

tersebut dengan menggunakan media bulletin board dalam upaya

meningkatkan kemampuan menyimak cerita anak usia 5-6 tahun (kelompok B)

di TK Negeri Pembina Yogyakarta.

  • C. Setting Penelitian

TK Negeri Pembina Yogyakarta berlokasi di Jl. Kemiri, Glagahsari,

Umbulharjo, Yogyakarta. TK Pembina Yogyakarta adalah salah satu TK

Negeri yang ada di daerah Yogyakarta. TK Negeri Pembina ini terletak di

62

tengah pemukiman warga. Letaknya strategis, mudah dijangkau. Meskipun

berada di tengah kota, dalam proses pembelajarannya tidak terganggu dengan

suara lalu lalang kendaraan, karena jarak yang cukup jauh dari jalan raya. TK

Negeri Pembina ini mempunyai wilayah dan letak yang luas, ini akan

memberikan ruang gerak yang luas pula bagi anak dalam bermain dan belajar.

Sarana dan prasarana di TK Negeri Pembina Yogyakarta yaitu terdiri dari

7 kelas, 2 kelas kelompok A dan 5 kelas kelompok B. Terdapat halaman

bermain, 3 kamar mandi anak, 1 kamar mandi guru, ruang tata usaha, ruang

guru, ruang kepala sekolah, perpustakaan sederhana, UKS, ruang pertemuan,

mushola, dapur, permainan edukatif dalam dan luar ruangan. Jumlah guru 15

orang dan 5 orang karyawan, 1 orang sebagai kepala sekolah dan 14 orang

sebagai guru. Setiap kelasnya terdiri dari 2 orang guru kelas. Jumlah anak

keseluruhan terdiri dari 176 anak. Ruangan kelas di TK Negeri Pembina

Yogyakarta telah disetting dengan menarik seperti hiasan yang ditempel dan

roncean yang digantung. Kelas juga telah dilengkapi dengan karpet, meja kursi

anak, papan tulis dan rak penyimpanan alat-alat permainan dalam ruangan.

Hanya saja masih ada yang harus ditata ulang yaitu tempat penyimpanan tas

yang tidak diletakkan diloker tempat penyimpanan tas, sehingga terkesan

kurang menarik saat pembelajaran karena tidak tertata dengan baik.

Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2011/2012 di

kelompok B3 TK Negeri Pembina Yogyakarta. Jumlah anak kelompok B3

adalah 25 anak. Anak-anak di kelompok B3 berusia rata-rata 5-6 tahun.

Berdasarkan hasil pengamatan yang peneliti lakukan terkait dengan bidang

63

pengembangan anak khususnya di Taman Kanak-kanak. Anak di kelompok B3

tersebut memiliki permasalahan yang bervariasi dalam perkembangannya.

Tetapi permasalahan yang mendominasi yaitu permasalahan pada

perkembangan bahasa yaitu kemampuan menyimak terutama kemampuan

menyimak cerita. Menyimak adalah kemampuan dasar anak untuk dapat

bebicara. Kemampuan menyimak anak masih perlu dilatih dan dibimbing

karena hanya beberapa anak saja yang sudah dapat menyimak cerita dengan

baik.

Di kelompok B3 masih banyak anak yang masih belum dapat menyimak

cerita dengan baik. Itu terlihat ketika anak-anak mendengarkan cerita masih

banyak yang tidak dapat memeberikan perhatiannya pada guru. Saat proses

kegiatan bercerita sebagian anak masih banyak yang berbicara sendiri dan

sibuk sendiri. Anak terlihat kurang memberikan perhatiannya pada guru ketika

guru menyampaikan cerita. Hal ini karena didominasi oleh guru, kurangnya

memberikan kesempatan pada anak agar anak lebih aktif. Jadi penyampaian

cerita tersebut hanya sekedarnya saja tanpa ada kesan yang berarti pada anak-

anak. Setelah mendengarkan cerita selanjutnya anak-anak diajak untuk

melakukan kegiatan berikutnya yang tidak ada kaitannya dengan cerita.

Cerita yang disampaikan oleh guru selalu menggunakan media yang sama

misalnya buku cerita, atau bercerita secara langsung tanpa menggunakan media

sehingga membuat anak sulit untuk memahaminya. Hal itu juga karena kondisi

sarana dan pra sarana yang sering digunakan kurang bervariasi sehingga anak

terlihat jenuh. Ketika menceritakan kembali isi cerita anak belum mampu

64

menceritakannya kembali menggunakan kalimat sederhana dan masih banyak

yang dibantu guru.

D. Profil Kelas Sebelum Dilakukan Tindakan (Kemampuan Awal)

Penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2012. Kegiatan awal penelitian

adalah melakukan pengamatan untuk mengetahui kemampuan awal menyimak

cerita anak sebelum dilakukan tindakan pada hari Sabtu tanggal 5 Mei 2012.

Rendahnya kemampuan menyimak cerita dikarenakan cerita yang

disampaikan oleh guru tidak menggunakan media bercerita, guru bercerita

secara langsung tanpa menggunakan media sehingga membuat anak sulit untuk

memahaminya. Ketika menceritakan kembali isi cerita anak belum mampu

menceritakan kembali menggunakan kalimat sederhana dan masih banyak yang

dibantu guru. Hal itu terlihat dari hasil pengamatan pada kegiatan menyimak

cerita sebelum dilakukan tindakan, untuk lebih jelas lihat tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Hasil Rerata Kemampuan Menyimak Cerita pada Kemampuan Awal

Kelas

Nilai Rerata

Kemampuan Awal

B3

6,88

Tabel 3. Interpretasi Kemampuan Awal Menyimak Cerita pada Kemampuan Awal

Kelas

Kriteria

Hasil

Persentase

(%)

 

Baik

 
  • 7 28%

B 3

Cukup

 
  • 3 12%

Kurang

15

60%

 

Sangat kurang

-

-

 

Jumlah

25

100%

65

Dari data kemampuan awal anak dapat dilihat bahwa kemampuan

menyimak cerita kelompok B TK Negeri Pembina Yogyakarta termasuk dalam

kategori sangat kurang. Hal tersebut ditunjukkan dari 25 anak baru sebanyak

28% atau 7 anak yang berhasil mencapai kemampuan menyimak cerita pada

kriteria baik.

E. Desain Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas model Kemmis &

Mc Taggart. Model yang dikemukakan oleh Kemmis & Mc Taggart (Wijaya

Kusumah dan Dedi Dwitagama, 2010: 21) yaitu terdiri dari empat komponen,

yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi, komponen tersebut

merupakan rangkaian dalam satu siklus dan jumlah siklus tergantung

permasalahan yang akan diselesaikan. Adapun skema alur tindakan model

kemmis & Mc Taggat dapat dilihat seperti berikut ini.

Dari data kemampuan awal anak dapat dilihat bahwa kemampuan menyimak cerita kelompok B TK Negeri Pembina

Gambar 3. Siklus PTK Menurut Kemmis & Mc Taggart (Wijaya Kusumah & Dedi Dwitagama, 2010: 21)

66

Keterangan

  • 2. Plan (Perencanaan)

  • 3. Action (Tindakan)

  • 4. Observe (Pengamatan)

  • 5. Reflect (Refleksi)

  • 6. Revised Plan(Perencanaan revisi)

  • 7. Action II (Tindakan II)

  • 8. Observe II (Pengamatan II)

  • 9. Reflect II (Refleksi II)

F. Tahap Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 2 siklus, setiap 1 siklus terdapat 4 tahapan.

Tahapan dalam penelitian ini, yaitu: 1) tahap perencanaan (plan), 2)

pelaksanaan tindakan (action), 3) pengamatan (observe) dan 4) refleksi

(reflect).

1. Tahap Perencanaan (Plan)

Tahap perencanaan merupakan proses merencanakan tindakan yang akan

dilakukan untuk meningkatkan kemampuan menyimak cerita anak usia 5-6

tahun (TK kelompok B). Proses perencanaan penelitian ini meliputi hal-hal

seperti di bawah ini.

  • a. Menentukan masalah yang hendak diteliti.

  • b. Penentuan tema, sub tema pembelajaran. Pada siklus I tema yang digunakan yaitu tema pekerjaan dan sub tema mengenal pekerjaan. Pada siklus II tema yang digunakan masih pekerjaan dan sub tema fungsi pekerjaan.

  • c. Pembuatan Rencana Kegiatan Harian (RKH).

  • d. Pembuatan perangkat pembelajaran atau media pembelajaran berupa bulletin board (langkah-langkah dan cara penggunaan terlampir hal. 160) serta persiapan alat dan bahan yang digunakan untuk kegiatan anak.

67

2.

Tahap Pelaksanaan Tindakan (Action)

Pelaksanaan tindakan dalam I siklus terdiri dari 2 pertemuan. Tindakan

dalam penelitian ini, menyimak cerita menggunakan bulletin board yang

dilakukan oleh guru. Perincian proses tindakan tersebut adalah sebagai berikut.

  • a. Anak-anak mendengarkan guru bercerita.

  • b. Anak-anak menjawab pertanyaan tentang isi cerita secara lisan setelah mendengarkan cerita.

  • c. Anak-anak memahami cerita dengan cara mengulang kembali cerita secara berurutan ke dalam beberapa kalimat sederhana, dilakukan dengan menggambarkan cerita yang telah didengar pada alat dan bahan yang telah disediakan. Anak-anak menceritakan kembali gambar tersebut secara lisan.

  • d. Anak-anak akan diberikan kesempatan untuk maju dan menceritakan hasilnya di depan anak-anak yang lain.

  • e. Anak-anak menempelkan sendiri di bulletin board hasil karya mereka. Bulletin board untuk menempel hasil karya anak terbuat dari gabus yang telah di tempel di dinding.

  • 3. Tahap Pengamatan (Observe)

Tahapan pengamatan meliputi pengumpulan data menggunakan lembar

observasi. Dalam tahap ini, dilakukan pengamatan terhadap semua proses

tindakan, hasil tindakan, situasi tindakan dan kendala-kendala tindakan.

Pengamatan dilakukan pada saat anak mendengarkan cerita dan kegiatan anak

68

lalu peneliti dan pengamat yang merupakan teman sejawat peneliti mengisi

lembar observasi sesuai dengan indikator yang telah ditentukan.

Cara pengamatan dalam pengambilan data yang dilakukan oleh peneliti

dan pengamat yang merupakan teman sejawat peneliti adalah berikut.

a) Melakukan pengamatan terhadap kemampuan anak dalam memahami cerita.

Pengamatan ini bermaksud untuk mengetahui hasil belajar anak tentang

kemampuan menyimak cerita. Pengamatan ini dilakukan dengan tes

berbicara, yaitu dengan cara mengamati anak saat menceritakan kembali

cerita yang telah didengarnya. Pengamaan tersebut dilakukan dengan cara

mengisi lembar observasi yang terdiri dari: aspek alur cerita, tokoh cerita,

latar cerita, kelancaran dan keberanian.

b) Melakukan pengamatan terhadap tindakan yang dilakukan guru dengan

mengisi lembar observasi tindakan guru.

4. Tahap Refleksi (Reflect)

Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama (2010: 40) mendefinisikan refleksi

adalah perbuatan merenung atau memikirkan sesuatu upaya evaluasi yang

dilakukan oleh para kolaborator atau partisipan yang terkait dengan suatu PTK

yang dilaksanakan. Pada tahap refleksi ini peneliti menggunakan semua data

yang telah diperoleh selama kegiatan berlangsung. Refleksi dilakukan melalui

diskusi dengan guru kelas. Peneliti bersama guru kelas melakukan perbaikan

pelaksanaan tindakan pada siklus I yang digunakan sebagai perencanaan untuk

siklus ke II.

69

G. Metode Pengumpulan Data

Suharsimi Arikunto (2010: 100) mendefinisikan metode pengumpulan data

adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan

data. Metode pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu: 1)

tes berbicara, 2) observasi, dan 3) dokumentasi.

1. Tes Berbicara

Tes berbicara merupakan tes berbahasa untuk mengukur kemampuan testi

dalam berkomunikasi dengan bahasa lisan (Susilo, 2011). Tes berbicara bukan

hanya tes lisan melainkan juga tes perilaku/penampilan, yakni tes nonverbal.

Tes nonverbal tersebut merupakan penilaian terhadap proses/prilaku anak

ketika berbicara. Tes berbicara dilakukan saat guru melakukan pengamatan

(observasi) terhadap anak yang sedang menceritakan kembali isi cerita. Tes

berbicara yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan menyimak yaitu:

a) menceritakan kembali cerita dan b) bercerita melalui gambar (Muhammad

Fakhruddin, 2011).

  • a. Menceritakan kembali cerita Bentuk tes ini, yaitu anak menceritakan kembali cerita yang telah didengar ke dalam beberapa kalimat sederhana. Tes ini bermaksud untuk mengetahui kemampuan anak dalam menyimak cerita.

  • b. Bercerita melalui gambar Bercerita melalui gambar dalam penelitian ini merupakan bercerita melalui gambar yang dibuatnya sendiri. Cara ini untuk mempermudah anak dalam menceritakan kembali cerita ke dalam beberapa kalimat sederhana.

70

2. Observasi

Wina Sanjaya (2010: 86) menjelaskan observasi adalah teknik

pengumpulan data dengan cara mengamati setiap kejadian yang sedang

berlangsung dan mencatatnya dengan alat observasi tentang hal-hal yang akan

diamati atau diteliti.

Masnur Muslich (2011: 59) mengemukakan bahwa ada empat metode

observasi yang dapat diterapkan, yaitu terbuka, terfokus, terstruktur, dan

sistematis. Metode observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah

observasi terfokus. Observasi terfokus adalah observasi yang dilakukan secara

spesifik, yaitu observasi yang diarahkan kepada aspek tertentu dalam tindakan

guru atau aktivitas anak dalam proses pembelajaran.

Pardjono (2007: 43) mengemukakan bahwa teknik observasi merupakan

teknik monitoring dengan melakukan observasi atau pengamatan terhadap

sasaran pengukuran, dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah

dipersiapkan dengan membubuhkan tanda check (√) atau kata “Ya” jika hal

yang diamati muncul.

Data observasi dalam penelitian ini berupa pengamatan yang berisi tentang

kemampuan anak dalam menyimak cerita. Indikator kemampuan menyimak

cerita dalam penelitian ini, yaitu: mengulang kembali cerita secara berurutan ke

dalam beberapa kalimat sederhana. Indikator tersebut meliputi aspek-aspek

yang berkaitan dengan hal-hal yang akan diobservasi. Kisi-kisi observasi

terhadap kemampuan menyimak cerita anak dapat dilihat pada tabel 4 di bawah

ini.

71

Tabel 4. Kisi-kisi Observasi

No

Aspek yang diamati

Skor Maksimum

1.

Alur cerita

2

2.

Tokoh cerita

2

3.

Latar

2

4.

Kelancaran

2

5.

Keberanian

2

Jumlah Skor Maksimum

10

Tabel 5. Deskripsi Aspek yang diamati pada Indikator Kemampuan Menyimak Cerita

No

Aspek

Deskripsi

Skor

   

Anak mampu menceritakan kembali cerita ke dalam beberapa kalimat sedehana secara urut dan sampai selesai

2

1.

Alur cerita

Anak mampu menceritakan kembali cerita ke dalam beberapa kalimat sedehana tetapi belum urut dan

1

belum sampai selesai

Anak belum mampu menceritakan kembali

0

   

Anak mampu menceritakan kembali dan dapat

2

menyebutkan tokoh sesuai dengan tokoh dalam cerita

Anak mampu menceritakan kembali tetapi belum

 

2.

Tokoh cerita

dapat menyebutkan tokoh cerita

1

Anak belum mampu menceritakan kembali dan belum dapat menyebutkan tokoh cerita

0

   

Anak mampu menceritakan kembali dan dapat

2

menyebutkan latar yang sesuai dalam cerita

3.

Latar

Anak mampu menceritakan kembali tetapi belum

1

dapat menyebutkan latar yang sesuai dalam cerita

   

Anak belum mampu menceritakan kembali dan belum dapat menyebutkan latar yang ada dalam cerita

0

   

Anak mampu menceritakan kembali dan dapat bercerita dengan lancar, jeda tepat, dengan bahasa

2

yang dapat dipahami

Anak mampu menceritakan kembali tetapi belum

 

4.

Kelancaran

dapat bercerita dengan lancar, jeda tepat, dengan bahasa yang dapat dipahami

1

Anak belum mampu menceritakan kembali dan belum dapat bercerita dengan lancar, jeda tepat, dengan bahasa yang dapat dipahami

0

   

Anak dapat bercerita dengan berani, pandangan anak

2

terlihat ke lawan bicara, tidak malu-malu

5.

Keberanian

Anak dapat bercerita tetapi masih terlihat takut dan

1

malu-malu

   

Anak belum mampu dan belum berani menceritakan kembali

0

 

Jumlah skor maksimum

10

72

3.

Dokumentasi

Sugiyono (2010: 329) mendefinisikan dokumen adalah catatan peristiwa

yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya

monumental seseorang. Suharsimi Arikunto (2002: 135) mendefinisikan

dokumentasi adalah menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku,

majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan

sebagainya. Menurut pendapat di atas dokumentasi adalah pengumpulan data-

data atau informasi yang diperoleh dari penelitian berupa tulisan-tulisan dan

gambar-gambar. Penelitian ini menggunakan kamera digital yang hasilnya

berupa foto sebagai pendukung dalam pengumpulan data. Kamera digital

digunakan peneliti untuk mendokumentasi peristiwa pembelajaran saat

dilakukan tindakan.

H. Instrumen Penelitian

Wina Sanjaya (2010: 86) mendefinisikan instrumen adalah alat yang

dapat digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Instrumen penelitian

merupakan alat yang digunakan peneliti secara kolaborasi untuk

mengumpulkan data atau informasi dari hasil pelaksanaan tindakan. Adapun

instrumen yang dipergunakan yaitu sebagai berikut.

  • 1. Pedoman Tes Berbicara

Pedoman tes berbicara disusun guna mengetahui beberapa hal mengenai

pemahaman anak tentang cerita. Adapun pedoman tes berbicara anak terlampir

pada lampiran halaman 108.

73

2. Lembar Observasi

Lembar observasi (pengamatan) merupakan panduan dalam melakukan

penilaian pada aspek-aspek yang diamati. Aspek-aspek tersebut sudah didaftar

secara sistematis dan sudah diatur menurut kategorinya. Bentuk lembar

observasi (pengamatan) dimaksud adalah berbentuk daftar chek dengan

memberi tanda chek (√) pada kategori penilaian.

Adapun objek atau sasaran yang diamati dari observasi tersebut adalah

kemampuan menyimak cerita anak. Penilaian terhadap aktivitas proses belajar

anak difokuskan pada indikator yang diamati sesuai dengan ruang lingkup

penelitian. Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini terlampir

pada lampiran halaman 109.

  • I. Metode Analisis Data

Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis data

deskriptif kuantitatif. Analisis data deskriptif kuantitatif adalah

mendeskripsikan dan memaparkan gejala hasil penelitian tanpa bermaksud

membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi. Data yang akan

dianalisis menggunakan analisis data deskriptif kuantitatif berupa hasil dari

pengamatan kemampuan menyimak cerita anak yang terdiri dari empat aspek.

Penghitungan data kuantitatif adalah dengan menghitung rata-rata dari keempat

aspek kemampuan menyimak cerita anak berdasarkan skor yang diperoleh dari

lembar observasi kemampuan menyimak cerita anak. Dari rata-rata yang

diperoleh dapat diketahui persentase ketuntasan belajar pada kemampuan

74

menyimak cerita anak. Adapun rumus mean atau rerata nilai menurut

Suharsimi Arikunto (2010: 284-285) yaitu sebagai berikut.

menyimak cerita anak. Adapun rumus mean atau rerata nilai menurut Suharsimi Arikunto (2010: 284-285) yaitu sebagai

Keterangan :

= Mean (rata-rata)

= Mean (rata-rata)

∑x = Jumlah nilai

N

= Jumlah yang akan dirata-rata

Rumus menentukan tingkat keberhasilan anak dengan mempersentase data

yang diperoleh yaitu sebagai berikut.

menyimak cerita anak. Adapun rumus mean atau rerata nilai menurut Suharsimi Arikunto (2010: 284-285) yaitu sebagai

Keterangan :

 

f

= frekuensi yang sedang dicari presentasenya

N

= Number of cases (jumlah frekuensi/banyaknya individu seluruhnya)

p

= angka presentase (Anas Sudijono, 2011 : 43)

 

Suharsimi

Arikunto

(1992:

208)

menyatakan

bahwa

data

kemudian

diinterpretasikan ke dalam 4 tingkatan yaitu:

  • a. kriteria baik, yaitu 76% - 100%,

  • b. kriteria cukup, yaitu 56% - 75%,

  • c. kriteria kurang baik, yaitu 45% -55%, dan

  • d. kriteria Sangat kurang, yaitu kurang dari 40%.

J. Indikator Keberhasilan

Untuk mengetahui berhasil tidaknya tindakan yang telah dilaksanakan

berdasarkan pada rencana tindakan yang ditetapkan, maka kriteria yang

digunakan adalah bersumber dari tujuan dilakukannya tindakan. Adapun tujuan

75

pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini adalah meninngkatkan kemampuan

menyimak cerita anak menggunakan bulletin board pada anak kelompok B di

TK Negeri Pembina Yogyakarta.

Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini dinyatakan berhasil apabila hasil

nilai rata-rata mencapai ≥8,50 dengan memperlihatkan persentase 80% (20

anak) dari jumlah anak keseluruhan (25 anak) dapat memenuhi indikator

kemampuan menyimak cerita pada kriteria baik. Indikator kemampuan

menyimak cerita yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: mengulang

kembali cerita secara berurutan ke dalam beberapa kalimat sederhana.

Indikator tersebut terdiri dari empat aspek, yaitu: aspek alur cerita, tokoh cerita,

kelancaran dan keberanian.

76

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Pelaksanaan Tindakan Siklus I

a. Perencanaa Tindakan Siklus I

Peneliti bersama kolaborator atau guru menentukan tema dan sub tema

yang digunakan pada saat pelaksanaan tindakan siklus I, adapun tema yang

digunakan pada pertemuan I dan II siklus I yaitu tema pekerjaan dan sub

tema mengenal pekerjaan. Pembuatan cerita untuk pertemuan I dan II pada

siklus I, adapun judul cerita yang digunakan pada pertemuan I yaitu

“Periksa ke Dokter Gigi” dan pada pertemuan II yaitu “Periksa ke Dokter

Lagi”. Cerita yang disampaikan yaitu menyadur dari cerita yang berjudul

“Minum Obat” (Tadkiroatun Musfiroh, 2008: 198) dan buku cerita seri

mengenal profesi yang berjudul “Berkunjung ke Dokter Gigi” (Eve Marleau

dan Michael Garton, 2010). Adapun gambar yang digunakan pada siklus I

beserta penjelasan secara singkat yaitu seperti berikut ini.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Pelaksanaan Tindakan Siklus I a.

Gambar 4.1. Seorang anak mengeluh giginya ngilu

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Pelaksanaan Tindakan Siklus I a.

Gambar 4.2. Dokter gigi mulai memeriksa anak tersebut

77

Gambar 4.3. Dokter membersihkan karang gigi yang akan menyebabkan gigi berlubang. Dokter juga memberi saran untuk