Anda di halaman 1dari 87

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Penyakit Tb Paru merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya dan berdampak pada kesehatan masyarakat secara nasional maupun internasional yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis.Penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit pernapasan yang mudah menular dimana dalam tahun-tahun terakhir memperlihatkan peningkatan dalam jumlah kasus baru maupun jumlah angka kematian yang disebabkan oleh TB (Depkes RI, !!")# Penyakit TB paru erat kaitannya dengan sanitasi lingkungan rumah, perilaku, tingkat pendidikan dan jumlah penghasilan keluarga# $anitasi lingkungan rumah sangat mempengaruhi keberadaan

Mycobacterium tuberculosis, dimana bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat hidup selama %- jam bahkan sampai beberapa hari hingga berminggu minggu tergantung ada tidaknya sinar matahari, &entilasi, kelembapan, suhu, lantai dan kepadatan penghuni rumah (suryo, !%!)#

Pada tahun %''(, )*+ mencanangkan kedaruratan global penyakit TB, karena di sebagian besar negara di dunia, penyakit TB tidak dapat dikendalikan#*al ini disebabkan banyaknya penderita TB yang tidak %

berhasil disembuhkan# )*+ melaporkan adanya ( juta orang meninggal akibat TB tiap tahun dan diperkirakan "!!! orang tiap harinya# Tiap tahun ada ' juta penderita TB baru dan ,"- kasus kematian dan kesakitan di masyarakat diderita oleh orang-orang pada umur produkti. dari %" sampai "/ tahun# Dinegara-negara miskin kematian TB0 merupakan "- dari seluruh kematian yang sebenarnya dapat dicegah# Di ka1asan 2sia Tenggara, data )orld *ealth +rgani3ation ()*+) menunjukan bah1a TB membunuh sekitar #!!! ji1a tiap hari# Dan sekitar /!- dari kasus TB di dunia berada di ka1asan 2sia Tenggara# Indonesia merupakan 4egara dengan pasien TB terbanyak ke 5 " di dunia setelah India, 0ina, 2.rika $elatan dan 4igeria ()*+# !!')# Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar ",6- dari total jumlah pasien TB di dunia# $etiap tahun ada / '#,(! kasus baru dan

kematian 7 # /7 orang# *asil sur&ey pre&alensi TB di Indonesia tahun !!/ menunjukan bah1a angka pre&alensi TB BT2 positi. secara 4asional %%! per %!!#!!! penduduk# $ecara regional pre&alensi TB BT2 positi. Indonesia dikelompokan dalam ( 1ilayah, yaitu 8 %) 1ilayah $umatra angka pre&alensi TB adalah %7! per %!!#!!! penduduk9 ) 1ilayah :a1a dan Bali angka pre&alensi TB adalah %%! per %!!#!!! penduduk9 () 1ilayah Indonesia Timur angka pre&alensi TB adalah %! per %!!#!!! penduduk

(;emenkes, !!')# <enurut <enkes, angka pre&alensi TB di Indonesia pada tahun %''! adalah //( per %!!#!!! penduduk dan pada tahun !%"

ditargetkan harus menurun menjadi

per %!!#!!! penduduk# Pada tahun

!!, angka tersebut telah mencapai // per %!!#!!! penduduk yang berarti telah terjadi penurunan pre&alensi secara nasional sebesar /"-# $ementara angka kematian TB pada tahun %''! adalah sebesar ' penduduk dan pada tahun per %!!#!!!

!!, telah turun menjadi (' per %!!#!!!

penduduk# 2ngka ini menunjukan terjadi penurunan angka kematian secara nasional sebesar ",-# Pencapaian penurunan angka kematian dan kesakitan TB ini masih pada tingkat atau skala nasional karena bila dicermati data 5 data tiap pro&insi dan kabupaten=kota maka masih terlihat adanya disparitas atau kesenjangan yang besar antar pro&insi dan kabupaten=kota

(Depkes, !%!)# ;ementrian ;esehatan mencapai target 0DR minimal pada tahun !!' sebesar ,!- sementara 0DR (0ase Detection Rate) 4usa Tenggara Barat pada tahun !!' (/-, hal ini belum mencapai target yang diharapkan# $uspect >&aluation Rate TB di pro&insi 4TB tahun !!' mencapai

"''=%!!#!!! penduduk (Depkes, !!')# Di lihat dari jumlah pre&alensi Tb Paru di pro&insi 4usa Tenggara Barat pada tahun !!, sebesar %! per %!!#!!! penduduk jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional# $edangkan angka kesembuhan Tb Paru sebesar 7 ,'"-(Dinkes Pro&insi 4TB, !!,)# :umlah kejadian Tb Paru di kabupaten ?ombok Tengah masih tinggi yaitu %#7'( kasus dan target penemuan penderita Tb Paru %#%6" (

kasus(Dikes ?ombok Tengah, !!')# Pada tahun !!' terdapat 66 kasus Tb paru dengan ",( kasus baru dan ,7 rontgen positi. (Puskesmas @bung, !!')# Berdasarkan data puskesmas @bung tahun !% menunjukkan bah1a jumlah kejadian Tb paru tertinggi di desa :elantik dengan jumlah % kasus, %% BT2 (A) dan %! hasil rontgen# Penyakit TB paru tidak hanya merupakan persoalan indi&idu tapi sudah merupakan persoalan masyarakat# ;esakitan dan kematian akibat TB0 mempunyai konsekuensi yang signi.ikan terhadap permasalahan ekonomi baik indi&idu, keluarga, masyarakat, perusahaan dan negara (Depkes RI, !!")# Berdasarkan permasalahan diatas, maka penelitian tentang .aktor risiko kondisi rumah dengan kejadian penyakit tuberkulosis paru

diharapkan dapat dilakukan, apakah ada hubungan kejadian .aktor risiko kondisi rumah dengan kejaadian tuberkulosis paru di 1ilayah kerja ?ombok

Puskesmas @bung ;ecamatan ;ecamatan :onggat ;abupaten tengah#

1.2.

Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dari latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana .aktor risiko kondisi rumah terhadap tuberkulosis paru di 1ilayah kerja Puskesmas@bung;ecamatan :onggat ;abupaten ?ombok Tengah tahun !%( dengan bentuk pertanyaan sebagai berikut 8 %# Bagaimana besarnya risiko suhu rumahterhadap tuberkulosis paru di

1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat kabupaten ?ombok Tengah B # Bagaimana besarnya risiko kelembaban rumahterhadap tuberkulosis paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat kabupaten ?ombok Tengah B (# Bagaimana besarnya risiko kamarisasi rumahterhadap tuberkulosis paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung kecamatan :onggat kabupaten ?ombok Tengah B 1.3. Tujuan Penel t an %#(#% Tujuan @mum @ntuk mengetahui besarnya risiko kondisi rumahterhadap tuberkulosis paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat ;abupaten ?ombok Tengah tahun !%(#

"

%#(# Tujuan ;husus %# @ntuk menganalisis besarnya risiko suhu rumah terhadap

Tuberkulosis paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung kecamatan :onggat ;abupaten ?ombok TengahB # @ntuk menganalisis besarnya risiko kelembaban rumah terhadap Tuberkulosis paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung kecamatan :onggat ;abupaten ?ombok TengahB (# @ntuk menganalisis besarnya risiko kamarisasi rumah terhadap Tuberkulosis paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung kecamatan :onggat ;abupaten ?ombok TengahB 1.!. %#/#%# Man"aat Penel t an <an.aat Praktis *asil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan dan bahan in.ormasi bagi dinas kesehatan ;abupaten ?ombok Tengah 4TB dalam pengelolaan rumah sehat# %#/# # <an.aat Ilmiah *asil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan peneliti lainnya# merupakan salah satu bahan bacaan bagi

%#/#(# <an.aat bagi peneliti <erupakan 1ahana belajar dan pengalaman berharga dalam memperluas cakra1ala berpikir terutama yang berkaitan dengan Tuberkulosis paru#

BAB II TIN#AUAN PU$TA%A 2.1 T njauan Umum Tentang Tu&erkul's s 2.1.1. De" n s Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberkulosis), sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya# ;uman Tuberkulosis berbentuk batang, mempunyai si.at khusus yaitu tahan terhadap asam pada pe1arnaan, +leh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan 2sam (BT2), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab# Dalam jaringan tubuh kuman ini tertidur lama selama beberapa tahun# <ikobakrterium tuberkulosis dapat berbentuk kokobasil atau berbentuk lurus panjang terkadang sedikit bengkok dengan ukuran panjang berkisar antara !,( 5 !,7 Cm dan tebalnya % - / Cm (Buchanan dan Dibbons)# ;uman Tuberkulosis kuman penyebab Tuberkulosis ini berbentuk batang ramping lurus atau sedikit bengkok dengan

kedua ujungnya membulat#;oloninya yang kering dengan permukaan berbentuk bunga kol danber1arna kuning tumbuh secara lambat 1alaupun dalam kondisinormal# Diketahu ibah1a p* optimal untuk 6

pertumbuhannya

adalah

antara

7,6

sampai

dengan

6,!#

@ntuk memelihara &irulensinyaharus dipertahankan kondisi pertumbuhan nya pada p* 7,6#$edangkan untuk merangsang pertumbuhannya dibutuhk ankarbondoksida dengan kadar " 5 %! -# @mumnya koloni baru

4ampak setelah kultur berumur %/- 6 hari, tetapi biasanya harus ditunggu sampai berumur 6 minggu# $alah satu .aktor yang menentukan kualitas udara dalam rumah adalah suhu dan kelembapan# Di katakan nyaman apabila suhu udara berkisar antara %6 o0 -(!o0, dan suhu tersebut di pengaruhi oleh suhu udara luar, pergerakan udara dan kelembaban udara di kisaran /! - Rh 5 7!- Rh# Bakteri <ycobacterium tuberculosis hidup dan tumbuh baik pada kisaran suhu (%o0 -(,o0 dengan kelembapan kisaran 7" - Rh 5 6!- Rh karena air membentuk lebih dari 6! - &olume sel bakteri dan merupakan hal yang essensial untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel bakteri, sedangkan pada kelembapan rendah di ba1ah /!- Rh mikrobakterium tuberkulosis akan mudah mati, namun berpengaruh pada keseahatn dalam rumah (2yuunah, !!6)# Mycobacterium Tuberculosis memproduksi katalase, tetapi akan berhenti memproduksi bila dipanaskan pada suhu 7"! 0 selama ! menit dalam kadar .os.at# <icobakterium Tuberkulosis yang resisten terhadap obat anti Tuberkulosis I4*, tidak memproduksi katalase# ;uman ini

'

tahan asam pada pe1arnaan dan berukuran kira-kira !,"-/ mikron E !,(!,7 mikron(<isnadiarly, !!7)# Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit in.eksi kronik yang sudah sangat lama dikenal pada manusia, misalnya dia dihubungkan dengan tempat tinggal di daerah urban, lingkungan yang padat, dibuktikan dengan adanya penemuan kerusakan tulang &ertebra torak yang khas TB dari kerangka yang digali di *eidelberg dari kuburan 3aman neolitikum, begitu juga penemuan yang berasal dari mumi dan ukiran dinding piramid di <esir kuno pada tahun !!! 5 /!!! $<# *ipokrates telah memperkenalkan terminologi phthisis yang diangkat dari bahasa Funani yang menggambarkan tampilan TB ini (2min dkk, !!')#

2.1.2. E( )em 'l'g Tuberkulosis merupakan masalah besar kesehatan

dunia#Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terin.eksi oleh <ycobacterium tuberculosis#Pada tahun %''", diperkirakan ada ' juta pasien TB baru dan ( juta kematian akibat TB di seluruh dunia# Diperkirakan '"- kasus TB dan '6- kematian akibat TB di dunia terjadi pada 4egara 4egara berkembang# Demikian juga kematian 1anita akibat TB lebih banyak daripada kematian karena kehamilan, persalinan dan ni.as (;ementrian ;esehatan RI, !%%)#

%!

Pada tahun !%! diperkirakan 6,6 juta (rentang8 6," juta 5 ', juta) insidensi kasus TB diseluruh dunia, yang artinya setara dengan % 6 kasus per %!!#!!! populasi# ;ebanyakan dari kasus ini terjadi di 2sia ("'-) dan 2.rika ( 7-), sedangkan sebagian kecil kasus terjadi di1ilayah Timur Tengah ( ,- ) 1ilayah eropa ("-) dan 1ilayah 2merika ((-) ( )*+, !%%)# " negara pada tahun !%! dengan angka insidensi kasus TB

terbesar didunia adalah India ( ,! juta sampai ," juta ), 0ina ( !,' juta sampai %, juta ) 2.rika selatan ( !,/ juta sampai !,"' juta ) Indonesia ( !,(, juta sampai !,"/ juta ) dan Pakistan ( !,(( juta sampai !,/6 juta ) ( )*+ !% )# 2sia merupakan regional terbesar penyumbang kasus TB didunia# )*+ regional asia tenggara mencatat dan memperkirakan pada tahun !%! terdapat pre&alensi " juta kasus dan insidensi sebanyak (," juta kasus# " dari %% negara anggota 2$>24 merupakan bagian dari negara

dengan angka kejadian TB tertinggi didunia dan india menyumbang lebih dari ,"- dari seluruh insidensi TB di seluruh dunia ()*+ , !% )# ;ematian akibat TB pada tahun !%! diperkirakan sebesar %,% juta kematian ( rentang 8 !,' juta sampai %, juta ) , termasuk !,( juta

kematian ( rentang 8 !, ! juta sampai !,// juta ) adalah 1anita# 2ngka ini setara dengan %" kematian per %!!#!!! populasi# $ebagai tambahan deperkirakan !,(" juta kematian ( rentang 8 !,( juta sampai !,(' juta ) terkait kasus TB pada pasien *IG 5 positi. , kematian ini diklasi.ikasikan %%

sebagai kematian karena *IG pada I0D 5 %! # jadi total kematian diperkirakan setidaknya %,/ juta orang ( rentang 8 %, juta sampai %," juta ) meninggal karena TB pada tahun !%! ( )*+ !%% )# 2.1.3. Et 'l'g Tuberkulosis adalah in.eksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ( dan kadang oleh <# Bosis dan <# a.ricanum)# +rganisme ini disebut juga sebagai basil tahan asam ()ibisiono et al, !%!)#Micobacterium tuberculosis adalah satu diantara lebih daro (! anggota genus mycobacterium yang dikenali dengan baik dari lipid permukaannya yang membuatnya tahan asam sehingga 1arnanya tidak dapat dihilangkan dengan alcohol asam setelah di1arnai#;arena adanya lipid ini, panas atau deterjen biasanya diperlukan pe1arnaan primer (Hauci et al, !!")# Mycobacterium tuberculosis mengandung banyak 3at

imunoreakti.#?ipid permukaan pada mycobacterium dan komponen peptidoglikan sel yang larut air merupakan tambahan yang penting yang dapat menimbulkan e.eknya melalui kerja primernya pada makro.ag penjamu#Mycobacterium mengandung suatu kesatuan antigen polisakarida dan protein, sebagian mungkin spesi.ik spesies tetapi yang lainnya secara nyata meliki epitop yang diseluruh genus# (.auci et al, !!")#

2.1.!. Pat'genes s Penyakit TB0 biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri <ikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TB0 batuk, dan pada anak-anak sumber in.eksi umumnya berasal dari penderita TB0 de1asa# Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening# +leh sebab itulah in.eksi TB0 dapat mengin.eksi hampir seluruh organ tubuh seperti8 paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru ($melt3er I Bare, !!%)# $aat Micobacterium tuberkulosa berhasil mengin.eksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular(bulat)# Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TB0 ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru# <ekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri

%(

TB0 akanmenjadi dormant (istirahat)#Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan .oto rontgen# Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya# $edangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak# Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru#Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak)#$eseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positi. terin.eksi TB0#<eningkatnya penularan in.eksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya .asilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari in.eksi *IG# Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah=menurun, &irulensi dan jumlah kuman merupakan .aktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya in.eksi TB0#Indi&idu rentan yang menghirup basil tuberculosis dan terin.eksi# Bakteri dipindahkan melalui jalan na.as ke al&eoli untuk memperbanyak diri, basil juga dipindahkan melalui sistem lim.e dan pembuluh darah ke area paru lain dan bagian tubuh lainnya# $istem imun tubuh berespon dengan melakukan reaksi in.lamasi#Hagosit menelan %/

banyak bakteri, lim.osit speci.ik tuberculosis melisis basil dan jaringan normal, sehingga mengakibatkan penumpukkan eksudat dalam al&eoli dan menyebabkan bronkopnemonia# <assa jaringan paru = granuloma (gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah mati) dikelilingi makro.ag membentuk dinding protekti.# Dranuloma diubah menjadi massa jaringan .ibrosa, yang bagiansentralnya disebut komplek Ghon# Bahan (bakteri dan makro.ag) menjadinekrotik, membentuk massa seperti keju# <assa ini dapat mengalamikalsi.ikasi, memebentuk skar kolagenosa#Bakteri menjadi dorman, tanpa

perkembangan penyakit akti.#Indi&idu dapat mengalami penyakit akti. karena gangguan atau respon inadekuat sistem imun, maupun karena in.eksi ulang dan akti&asi bakteri dorman#Dalam kasus ini tuberkel ghon memecah, melepaskan bahan seperti keju ke bronki#Bakteri kemudian menyebar di udara, mengakibatkan penyebaran lebih lanjut#Paru yangnterin.eksi menjadi lebih membengkak mengakibatkan

bronkopneumonia lebih lanjut ($melt3er I Bare, !!%)#

2.1.*. R +a,at Terja) n,a Pen,ak t 2.1.*.1 In"eks Pr mer In.eksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB# Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat

%"

mele1ati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di al&eolus dan menetap disana# In.eksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran lim.e akan memba1a kuman TB ke kelenjar lim.e disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer# )aktu antara terjadinya in.eksi sampai pembentukan kompleks primer adalah /-7 minggu# 2danya in.eksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negati. menjadi

positi.#;elanjutan setelah in.eksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler)# Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB# <eskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur)# ;adang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis# <asa inkubasi, yaitu 1aktu yang diperlukan mulai terin.eksi sampai menjadi sakit, masa inkubasi bisa bertahun-tahun tergantung imunitas orang yang terin.eksi, sedangkan untuk kasus di Indonesia menurut Pusat In.ormasi Penyakit In.eksi diperkirakan sekitar 7 bulan# 2.1.*.2 Tu&erkul's s Pas-a Pr mer .P'st Pr mar, TB)

%7

Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah in.eksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terin.eksi *IG atau status gi3i yang buruk# 0iri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya ka&itas atau e.usi pleura# ;omplikasi berikut sering terjadi pada penderita yang berada pada stadium lanjut 8 %# *emoptisis berat (perdarahan dari saluran napas ba1ah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipo&olemik atau tersumbatnya jalan napas# # ;olaps dari lobus akibat retraksi bronkial# (# Bronkiectasis dan Hibrosis pada paru# /# Pneumotoraks spontan8 kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru# "# Penyebaran in.eksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya# Insu.isiensi ;ardio Pulmoner (0ardio Pulmonary Insu..iciency)# Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dira1at inap di rumah sakit# Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BT2 negati.) masih bisa mengalami batuk darah# ;eadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh# Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan +2T tidak diperlukan, tapi cukup diberikan %,

pengobatan simptomatis# Bila perdarahan berat, penderita harus dirujuk ke unit spesialistik# Perjalanan alamiah TB jika tidak dilakukan pengobatan, setelah lima tahun, "! - dari penderita TB akan meninggal, " - akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan " - sebagai kasus ;ronik yang tetap menular ()*+ %''7)#In.eksi *IG mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (0ellular Immunity), sehingga jika terjadi in.eksi oportunistik, seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan mengakibatkan kematian# Bila jumlah orang terin.eksi *IG meningkat, maka jumlah penderita TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula# 2.1./. Man "estas %l n s Dejala @mum 8 Batuk terus menerus dan berdahak selama ( (tiga) minggu atau lebih# Dejala lain yang sering dijumpai 8 %# Batuk darah Dejala ini banyak ditemukan karena terjadi iritasi pada bronkus# Batuk ini diperlukan umtuk membuang produk radang keluar# ;arena terlibatnya bronkus pada setiap penyakit tidak sama, mungkin saja batuk baru ada setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu minggu atau berbulan bulan peradangan bermula# $i.at batu %6

dimulai dari batuk kering (non produkti.) kemudian peradangan menjadi produkti. (menghasilkan sputum)# ;eadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah pada tuberkulosis terjadi pada ka&itas, tapi dapat juga pada ulkus dinding bronkus#

$esak napas dan rasa nyeri dada 4yeri dada timbul bila in.iltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis# Terjadi gesekan kedua pleura se1aktu pasien menarik= melepaskan napasnya#

(#

Badan lemah, na.su makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise)# Dejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia, nyeri otot, berkeringat malam 1alaupun tanpa kegiatan,

demam meriang lebih dari sebulan# /# Demam Biasanya sub.ebril menyerupai demam in.luen3a# Tetapi kadang kadang panas badan dapat mencapai /! 5 /% !0# $erangan demam pertama dapat sembuh sebentar, tetapi kemudian timbul kembali# Begitulah seterusnya hingga timbulnya demam in.luen3a ini sehingga pasien merasa tidak pernah bebas dari serangan in.luen3a# ;eadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya in.eksi kuman tuberkulosis yang masuk#

%'

2.1.0. Penemuan Pen)er ta Tu&erkul's s Penemuan penderita TB dilakukan secara pasi., artinya penjaringan tersangka penderita dilaksanakan pada mereka yang datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan# Penemuan secara pasi. tersebut didukung dengan penyuluhan secara akti., baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka penderita# 0ara ini biasa dikenal dengan sebutan Passive Promotive Case Finding $elain itu, semua kontak penderita TB paru BT2 positi. dengan gejala sama, harus diperiksa dahaknya# $eorang petugas kesehatan diharapkan menemukan tersangka penderita sedini mungkin, mengingat tuberkulosis adalah penyakit menular yang dapat mengakibatkan kematian#$emua tersangka penderita harus diperiksa ( spesimen dahak dalam 1aktu hari berturut-turut, yaitu $e1aktu Pagi se1aktu ($P$)#

$ (se1aktu) 8 dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali# Pada saat pulang, suspek memba1a sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua# P (pagi) 8 dahak dikumpulkan ddi rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur# Pot dahak diba1a dan diserahkan sendiri ke petugas Hasyenkes# $ (se1aktu) 8 dahak dikumpulkan di .asyankes pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi#

Pengambilan ( spesimen dahak masih diutamakan dibanding dengan spesimen dahak mengingat masih belum optimalnya .ungsi

sistem dan hasil jaminan mutu eksternal pemeriksaan laboratorium# (;emenkes, !!')# Penemuan penderita tuberkulosis pada anak

merupakan hal yang sulit# $ebagian besar diagnosis tuberkulosis anak didasarkan atas gambaran klinis, gambaran radiologis dan uji tuberkulin#

2.1.1. D agn's s Tu&erkul's s .TB2 Diagnosis TB paru pada orang de1asa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BT2 pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis# Berdasarkan in.ormasi dari Pusat In.ormasi Penyakit In.eksi ( !!") menyatakan hasil pemeriksaan dinyatakan positi. apabila sedikitnya dua dari tiga $P$ BT2 hasilnya positi.#Bila hanya % spesimen yang positi. perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu .oto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen $P$ diulang# ;alau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita diidagnosis sebagai penderita TB BT2 positi.# ;alau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan lain, misalnya biakan# 2pabila .asilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain, misalnya biakan#Bila tiga spesimen dahak negati., diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya kotrimoksasol atau amoksisilin) selama % minggu# Bila tidak ada perubahan, namun gejala

klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan dahak $P$ 8 ;alau %

hasil $P$ positi., didiagnosis sebagai penderita TB BT2 positi.# ;alau hasil $P$ tetap negati., lakukan pemeriksaan .oto rontgen dada, untuk mendukung diagnosis TB# Bila hasil rontgen mendukung TB, diagnosis sebagai penderita TB BT2 negati. rontgen positi.# Bila hasil rontgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB# @P; yang tidak memiliki .asilitas rontgen, penderita dapat dirujuk untuk di.oto rontgen# 2lur diagnosis tuberkulosis paru di Indonesia tidak mempunyai arti dalam menentukan diagnosis TB pada orang de1asa, sebab sebagian besar masyarakat sudah terin.eksi dengan Mycobacterium tuberkulosis karena tingginya pre&alensi TB# $uatu uji tuberkulin positi. hanya menunjukkan bah1a yang bersangkutan pernah terpapar dengan Mycobacterium tuberkulosis # Dilain pihak, hasil uji tuberkulin dapat negati. meskipun orang tersebut menderita tuberkulosis# <isalnya pada penderita *IG = 2ID$, malnutrisi berat, TB milier dan <orbili (PIPI, !!")#

$uspek TB Paru

Pemeriksaan dahak mikroskopis 5 $e1aktu, Pagi, $e1aktu ($P$)

*asil BT2 AAA AA-

*asil BT2 A--

*asil BT2 - -

2ntibiotik non-+2T

Tidak 2da Perbaikan

2da Perbaikan

Hoto Toraks dan Pertimbangan dokter

Pemeriksaan dahak mikroskopis *asil BT2 AAA AAA--

*asil BT2 - -

Hoto Toraks dan Pertimbangan dokter

TB

BU%AN TB 3am&ar 2.1 Alur D agn's s TB Paru .%emenkes4 25562

2.2 . 7akt'r Res k' %# @mur Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di 4e1 Fork pada panti penampungan orang 5 orang gelandangan, menunjukkan bah1a kemungkinan mendapat in.eksi tuberkulosis akti. meningkat secara bermakna sesuai dengan umur# Insiden tertinggi tuberkulosis paru biasanya mengenai usia de1asa muda# Di Indonesia diperkirakan ,"- penderita TB paru adalah kelompok usia produkti., yaitu %"-"! tahun ($uryo, !%!)# # :enis ;elamin Di benua 2.rika banyak tuberkulosis, terutama menyerang laki 5 laki# Pada %''7 jumlah penderita TB paru laki 5 laki hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah penderita TB Paru pada 1anita, yaitu / ,(/- pada laki 5 laki dan 6,'- pada 1anita# 2ntara tahun %'6" 5 %'6, penderita TB paru laki 5 laki cenderung meningkat sebanyak ,"- sedangkan penderita TB paru pada 1anita menurun !,,-# TB paru lebih banyak terjadi pada laki 5laki dibandingkan dengan 1anita karena laki 5 laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB paru ($uryo, !%!)# (# Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang, diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan penyakit TB paru sehingga dengan pengetahuan yang cukup, maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat# $elain itu tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaannya ($uryo, !%!)# /# $tatus ekonomi Pendapatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat sebagai hasil pembangunan# Perubahan pendapatan akan mempengaruhi pengeluaran# Di negara berkembang tingkat pendapatan penduduk masih rendah dan pengeluaran untuk makan merupakan bagian terbesar dari seluruh pengeluaran rumah tangga#2kan tetapi untuk negara yang sudah maju pengeluaran terbesar bukan untuk makan, melainkan untuk biaya kesehatan, pendidikan, olah raga, pajak dan jasa-jasa atau pengeluaran non makan lainnya# ;eadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan, keadaan sanitasi lingkungan, gi3i dan akses terhadap pelayanan kesehatan# Penurunan pendapatan dapat menyebabkan kurangnya kemampuan daya beli dalam memenuhi konsumsi makanan sehingga akan berpengaruh terhadap status gi3i# 2pabila status gi3i buruk akan menyebabkan kekebalan tubuh menurun sehingga memudahkan terkena in.eksi TB Paru ($uryo, !%!)# "# $tatus gi3i "

Terjadi hubungan timbal balik antara penyakit in.eksi dengan keadaan gi3i kurang#Penyakit in.eksi dapat memperburuk keadaan gi3i, dan keadaan gi3i yang jelek dapat mempermudah terkena in.eksi# Penyakit yang umum terkait dengan masalah gi3i antara lain diare, tuberkulosis, campak dan batuk rejan (<illier, !! )# 7# Perilaku Perilaku dapat terdiri atas pengetahuan, sikap dan tindakan# Pengetahuan penderita TB paru yang kurang tentang cara penularan, bahaya dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku sebagai orang sakit dan akhirnya berakibat menjadi sumber penular bagi orang sekelilingnya ($uryo, !%!)# ,# ;ebiasaan <erokok <erokok diketahui mempunyai hubungan dengan meningkatkan resiko untuk mendapatkan kanker paru 5 paru, penyakit jantung koroner, bronchitis kronis, dan kanker kandung kemih# ;ebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB Paru sebanyak , kali# Pada %',( konsumsi rokok di Indonesia per orang per tahun adalah (! batang, relati. lebih rendah dengan /(! batang=orang=tahun di $ierra ?eon, /6! batang=orang=tahun di Dhana dan ,7! batang=orang=tahun di Pakistan# Pre&alensi merokok pada hamper semua 4egara berkembang lebih dari "!terjadi pada laki 5 laki de1asa, sedangkan 1anita perokok kurang dari "-#

Dengan adanya kebiasaan merokok akan mempermudah untuk terjadinya in.eksi TB Paru ($uryo, !%!)#

6# ;ondisi sanitasi rumah Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar atau pokok manusia yang ber.ungsi sebagai tempat tinggal atau tempat hunian yang digunakan untuk berlindung dari gangguan iklim dan makhluk hidup lainnya ( ;emenkes, %''')# ;ondisi rumah yang baik penting untuk me1ujudkan masyarakat yang sehat# Rumah dikatakan sehat apabila memenuhi persyaratan empat hal pokok berikut 8 a# <emenuhi kebutuhan .isiologis seperti pencahayaan, pengha1aan, ruang gerak yang cukup dan terhindar dari kebisingan yang mengganggu# b# <emenuhi kebutuhan Psikologis seperti JPrivaceK yang cukup dan komunikasi yang baik antar penghuni rumah c# <emenuhi persyaratan pencegahan penyakit menular yang meliputi penyediaan air bersih, pembuangan tinja dan air limbah rumah tangga, bebas dari &ektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, sinar matahari yang cukup, makanan dan minuman yang terlindung dan pencemaran serta pencahayaan dan pengha1aan yang cukup#

d# <emenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang berasal dari dalam maupun dari luar rumah (;emenkes, %''')# Dari beberapa penelitian yang dilakukan terdapat beberapa parameter .isik rumah yang ada kaitannya dengan kejadian penularan penyakit TB Paru, dan parameter .isik yang peneliti teliti disesuaikan dengan kerangka konsep antara lain 8 a# ;elembaban @dara ;elembaban udara adalah prosentase jumlah kandungan air dalam udara#;elembaban terdiri dari jenis, yaitu (;eman, !!")8

%) ;elembaban absolut, yaitu berat uap air per unit &olume udara ) ;elembaban nisbi (relati.), yaitu banyaknya uap air dalam udarapada suatu temperatur terhadap banyaknya uap air pada saat udara jenuh dengan uap air pada temperatur tersebut# $ecara umum penilaian kelembaban dalam rumah dengan menggunakan hygrometer.<enurut indikator penga1asan

perumahan, kelembaban udara yang memenuhi syarat kesehatan dalam rumah adalah /!-7! - dan kelembaban udara yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah L /! - atau M 7! -# Rumah yang tidak memiliki kelembaban yang memenuhi syarat kesehatan akan memba1a pengaruh bagi penghuninya# Rumah yang lembab merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme, antara lain bakteri, spiroket, ricketsia dan 6

&irus#<ikroorganisme tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara#$elain itu kelembaban yang tinggi dapat

menyebabkan membran mukosa hidung menjadi kering sehingga kurang e.ekti. dalam menghadang mikroorganisme# Bila kondisi suhu ruangan tidak optimal, misalnya terlalu panas akan berdampak pada cepat lelahnya saat bekerja dan tidak cocoknya untuk istirahat# $ebaliknya, bila kondisinya terlalu dingin akan tidak menyenangkan dan pada orang-orang tertentu dapat menimbulkan alergi# *al ini perlu diperhatikan karena kelembaban dalam rumah akan mempermudah

berkembangbiaknya mikroorganisme antara lain bakteri spiroket, ricketsia dan &irus# <ikroorganisme tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara ,selain itu kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan membran mukosa hidung menjadi kering seingga kurang e.ekti. dalam menghadang mikroorganisme# ;elembaban udara yang meningkat merupakan media yang baik untuk bakteri-baktri termasuk bakteri tuberkulosis# Bakteri mycobacterium tuberculosa seperti halnya bakteri lain, akan tumbuh dengan subur pada lingkungan dengan kelembaban tinggi karena air membentuk lebih dari 6! - &olume sel bakteri dan merupakan hal yang essensial untuk pertumbuhan dan

kelangsungan hidup sel bakteri (;eman, !!")# '

b# Gentilasi Rumah Gentilasi adalah usaha untuk memenuhi kondisi atmos.er yang menyenangkan dan menyehatkan manusia (?ubis, !! )#

Berdasarkan kejadiannya, maka &entilasi dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu8 %)# Gentilasi alam# Gentilasi alam berdasarkan pada tiga kekuatan, yaitu8 daya di.usi dari gas-gas, gerakan angin dan gerakan massa di udara karena perubahan temperatur# Gentilasi alam ini

mengandalkan pergerakan udara bebas (angin), temperatur udara dan kelembabannya#$elain melalui jendela, pintu dan lubang angin,maka &entilasi pun dapat diperoleh dari pergerakan udara sebagai hasil si.at porous dinding ruangan, atap dan lantai# )# Gentilasi buatan Pada suatu 1aktu, diperlukan juga &entilasi buatan dengan menggunakan alat mekanis maupun elektrik#2lat-alat tersebut diantarana adalah kipas angin, exhauster dan 20 (air conditioner)# Persyaratan &entilasi yang baik menurut ?ubis ( !! ) adalah 8 (!

%) ?uas lubang &entilasi tetap minimal " - dari luas lantai ruangan, sedangkan luas lubang &entilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimal " - dari luas lantai# :umlah keduanya menjadi %!- dari luas lantai ruangan# ) @dara yang masuk harus bersih, tidak dicemari asap dari sampah tau pabrik, knalpot kendaraan, debu dan lain-lain# ()2liran udara diusahakan cross ventilation dengan

menempatkan lubang &entilasi berhadapan antar dua dinding# 2liran udara ini jangan sampai terhalang oleh barang-barang besar, misalnya , dinding, sekat dan lainlain# ?uas &entilasi rumah yangL %! - dari luas lantai (tidak memenuhi syarat kesehatan) akan mengakibatkan berkurangnya konsentrasi oksigen dan bertambahnya konsentrasi karbondioksida yang bersi.at racun bagi penghuninya# Disamping itu, tidak cukupnya &entilasi akan menyebabkan peningkatan kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan# ;elembaban ruangan yang tinggi akan menjadi media yang baik untuk tumbuh dan berkembang biaknya bakteri-bakteri patogen termasuk kuman tuberkulosis (4otoatmodjo, !!()# $elain itu, .ungsi kedua &entilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen (%

seperti tuberkulosis, karena di situ selalu terjadi aliran udara yang terus menerus# Bakteri yang terba1a oleh udara akan selalu mengalir# ?uas &entilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan mengakibatkan terhalangngya proses pertukaran aliran udara dan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah, akibatnya kuman tuberkulosis yang ada di dalam rumah tidak dapat keluar dan ikut terhisap bersama udara perna.asan (4otoatmodjo, !!()# c# $uhu Rumah $uhu adalah panas atau dinginnya udara yang dinyatakan dengan satuan derajat tertentu# $uhu udara dibedakan menurut )alton ( !!%), dibedakan menjdi8 %) $uhu kering, yaitu suhu yang ditunjukkan oleh termometer suhu ruangan setelah diadaptasikan selama kurang lebih sepuluh menit, umumnya suhu kering antara / 5 (/ N0# ) $uhu basah, yaitu suhu yang menunjukkan bah1a udara telahjenuh oleh uap air, umumnya lebih rendah daripada suhu kering,yaitu antara !- " N0# $ecara umum, penilaian suhu rumah dengan menggunakan termometer ruangan#Berdasarkan indikator penga1asan

perumahan, suhu rumah yang memenuhi syarat kesehatan adalah antara !- " N0, dan suhu rumah yang tidak memenuhi syarat

kesehatan adalah L ! N0 atau M " N0#$uhu dalam rumah akan memba1a pengaruh bagi penguninya# <enurut )alton ( !!%), suhu berperan penting dalam metabolisme tubuh, konsumsi oksigen dan tekanan darah# $uhu rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan meningkatkan kehilangan panas tubuh dan tubuh akan berusaha

menyeimbangkan dengan suhu lingkungan melalui proses e&aporasi# ;ehilangan panas tubuh ini akanmenurunkan &italitas tubuh dan merupakan predisposisi untuk terkena in.eksi terutama in.eksi saluran na.as oleh agen yang menular# $edangkan menurut Doul I Brooker ( !!(), bakteri mycobacterium tuberculosa memiliki rentang suhu yang disukai, tetapi di dalam rentang ini terdapat suatu suhu optimum saat mereka tumbuh pesat#Mycobacterium tuberculosa merupakan bakteri meso.ilik yang tumbuh subur dalam rentang "-/! N 0, akan tetapi akan tumbuh secara optimal pada suhu (%-(, N 0# d# Pencahayaan Rumah Pencahayaan alami ruangan rumah adalah penerangan yang bersumber dari sinar matahari (alami), yaitu semua jalan yang memungkinkan untuk masuknya cahaya matahari alamiah, misalnya melalui jendela atau genting kaca (4otoatmodjo, !!()#

((

0ahaya berdasarkan sumbernya dibedakan menjadi dua jenis, yaitu8 %) 0ahaya 2lamiah 0ahaya alamiah yakni matahari#0ahaya ini sangat penting, karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah, misalnya kuman TB0#+leh karena itu, rumah yang cukup sehat seyogyanya harus mempunyai jalan masuk yang cukup jendela), luasnya sekurang-kurangnya %"-- !-# Perlu diperhatikan agar sinar matahari dapat langsung ke dalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain# Hungsi jendela disini selain sebagai &entilasi, juga sebagai jalan masuk cahaya#$elain itu jalan masuknya cahaya alamiah juga diusahakan dengan genteng kaca (4otoatmodjo, !!()# ) 0ahaya Buatan 0ahaya buatan yaitu cahaya yang menggunakan sumber cahaya yang bukan alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan lain-lain# ;ualitas dari cahaya buatan tergantung dari terangnya sumber cahaya (brightness o the source!.Pencahayaan buatan bisa terjadi dengan ( cara, yaitu direct, indirect, semi direct atau general di..using# $ecara umum pengukuran pencahayaan terhadap sinar matahari adalah dengan menggunakan luE meter, yang diukur ditengah-tengah ruangan, pada tempat setinggi L 6/ (/

cm dari lantai, dengan ketentuan tidak memenuhi syarat kesehatan bila L "! luE atau M (!! luE, dan memenuhi syarat kesehatan bila pencahayaan rumah antara "!-(!! luE# <enurut 4otoatmodjo ( !!(), cahaya matahari mempunyaisi.at membunuh bakteri, terutama kuman mycobacterium tuberculosa# ;uman tuberkulosa hanya dapat mati oleh sinar matahari langsung#+leh sebab itu, rumah dengan standar pencahayaan yang buruk sangat berpengaruh terhadap kejadian tuberkulosis# ;uman tuberkulosis dapat bertahan hidup pada tempat yang sejuk, lembab dan gelap tanpa sinar matahari sampai bertahun-tahun lamanua, dan mati bila terkena sinar matahari, sabun, lisol, karbol dan panas api# ;uman mycobacterium tuberculosa akan mati dalam 1aktu jam oleh sinar matahari9 oleh tinctura iodii selama " menit dan juga oleh ethanol 6!- dalam 1aktu -%! menit serta mati oleh .enol "- dalam 1aktu / jam# Rumah yang tidak masuk sinar matahari mempunyai resiko menderita tuberkulosis (-, kali dibandingkan dengan rumah yang dimasuki sinar matahari# e# ;epadatan Penghuni Rumah ;epadatan penghuni adalah perbandingan antara luas lantai rumah dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tinggal#Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh perumahan biasa dinyatakan dalam mO per orang#?uas minimum per orang ("

sangat relati., tergantung dari kualitas bangunan dan .asilitas yang tersedia# @ntuk perumahan sederhana, minimum 6 mO=orang# @ntuk kamar tidur diperlukan minimum ( mO=orang#;amar tidur sebaiknya tidak dihuni M orang, kecuali untuk suami istri dan

anak diba1ah dua tahun#2pabila ada anggota keluarga yang menjadi penderita penyakit tuberkulosis sebaiknya tidak tidur dengan anggota keluarga lainnya (?ubis, !! )# $ecara umum penilaian kepadatan penghuni dengan

menggunakan ketentuan standar minimum, yaitu kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni 6 mO=orang dan kepadatan penghuni tidak memenuhi syarat kesehatan bila diperoleh hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni 6 mO=orang (?ubis, !! )# ;epadatan penghuni dalam satu rumah tinggal

akanmemberikan pengaruh bagi penghuninya# ?uas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan perjubelan (overcro"ded)# *al ini tidak sehat karena disamping menyebabakan kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit in.eksi, terutama tuberkulosis

(7

akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain (4otoatmodjo, !!()# <enurut penelitian 2tmosukarto ( !!!), didapatkan data bah1a 8 %) Rumah tangga yang penderita mempunyai kebiasaan tidur dengan balita mempunyai resiko terkena TB ,6 kali dibanding dengan yang tidur terpisah# ) Tingkat penularan TB di lingkungan keluarga penderita cukup tinggi, dimana seorang penderita rata-rata dapat menularkan kepada -( orang di dalam rumahnya9 () besar resiko terjadinya penularan untuk tangga dengan penderita lebih dari % orang adalah / kali dibanding rumah tangga dengan hanya % orang

(,

2.3 . Peng'&atan TB (aru $umber penyebaran TB0 adalah penderita TB0 itu sendiri, pengontrolan e.ekti. TB0 mengurangi pasien TB0 tersebut# 2da dua cara yang tengah dilakukan untuk mengurangi penderita TB0 saat ini, yaitu terapi dan imunisasi# @ntuk terapi, )*+ merekomendasikan strategi penyembuhan TB0 jangka pendek dengan penga1asan langsung atau dikenal dengan istilah D+T$ (#irectly $bserved Treatment %hortcourse Chemotherapy)# Dalam strategi ini ada tiga tahapan penting, yaitu mendeteksi pasien, melakukan pengobatan, dan melakukan penga1asan langsung# Deteksi atau diagnosa pasien sangat penting karena pasien yang lepas dari deteksi akan menjadi sumber penyebaran TB0 berikutnya# $eseorang yang batuk lebih dari ( minggu bisa diduga mengidap TB0# +rang ini kemudian harus didiagnosa dan dikon.irmasikan terin.eksi kuman TB0 atau tidak# $ampai saat ini, diagnosa yang akurat adalah dengan menggunakan mikroskop# Diagnosa dengan sinar-P kurang spesi.ik, sedangkan diagnosa secara molekular seperti Polymerase Chain &eaction (P0R) belum bisa diterapkan (PIPI, !!")# :ika pasien telah diidenti.ikasi mengidap TB0, dokter akan memberikan obat dengan komposisi dan dosis sesuai dengan kondisi pasien tersebut# 2dapun obat TB0 yang biasanya digunakan adalah (6

isonia3id, ri.ampicin, pyra3inamide, streptomycin, dan ethambutol# @ntuk menghindari munculnya bakteri TB0 yang resisten, biasanya diberikan obat yang terdiri dari kombinasi (-/ macam obat ini# Dokter atau tenaga kesehatan kemudian menga1asi proses peminuman obat serta perkembangan pasien# Ini sangat penting karena ada kecendrungan pasien berhenti minum obat karena gejalanya telah hilang# $etelah minum obat TB0 biasanya gejala TB0 bisa hilang dalam 1aktu -/ minggu# )alaupun demikian, untuk benar-benar sembuh dari TB0 diharuskan untuk mengkonsumsi obat minimal selama 7 bulan# >.ek negati. yang muncul jika kita berhenti minum obat adalah munculnya kuman TB0 yang resisten terhadap obat# :ika ini terjadi, dan kuman tersebut menyebar, pengendalian TB0 akan semakin sulit dilaksanakan# D+T$ adalah strategi yang paling e.ekti. untuk menangani pasien TB0 saat ini, dengan tingkat kesembuhan bahkan sampai '" persen# D+T$ diperkenalkan sejak tahun %''% dan sekitar %! juta pasien telah menerima perlakuan D+T$ ini# Di Indonesia sendiri D+T$ diperkenalkan pada tahun %''" dengan tingkat kesembuhan 6, persen pada tahun !!! #2ngka ini melebihi target )*+, yaitu 6" persen, tapi sangat disayangkan bah1a tingkat deteksi kasus baru di Indonesia masih rendah# Berdasarkan data )*+, untuk tahun !!%, tingkat deteksi hanya %

persen, jauh di ba1ah target )*+, ,! persen# ;arena itu, usaha untuk medeteksi kasus baru perlu lebih ditingkatkan lagi# ('

$trateg D8T$ )an Im(lementas n,a D+T$ atau kependekan dari #irectly $bserved Treatment, %hort' course adalah strategi penyembuhan TB0 jangka pendek dengan penga1asan secara langsung#Dengan menggunakan startegi D+T$, maka proses penyembuhan TB0 dapat secara cepat# D+T$ menekankan pentingnya penga1asan terhadap penderita TB0 agar menelan obatnya secara teratur sesuai ketentuan sampai dinyatakan sembuh# $trategi D+T$ memberikan angka kesembuhan yang tinggi, bisa sampai '" -# $tartegi D+T$ direkomendasikan oleh )*+ secara global untuk menanggulangi TB0# $trategi D+T$ terdiri dari " komponen, yaitu 8 %# 2danya komitmen politis dari pemerintah untuk bersungguh-sungguh menanggulangi TB paru# # Diagnosis mikroskopis (# Pengobatan TB0 dengan paduan obat anti-TB0 jangka pendek, ia1asi secara langsung oleh P<+ (Penga1as <enelan +bat)# /# Tersedianya paduan obat anti-TB0 jangka pendek penyakit TB0 melalui pemeriksaan dahak secara

secara konsisten# "# Pencatatan dan pelaporan mengenai penderita TB0 sesuai standar#

/!

2.!.# %erangka Te'r Dari teori yang didapat dari hasil kepustakaan yang ada dan hasil dari beberapa penelitian didapatkan berbagai .aktor yang mempengaruhi kejadian TB0 Paru, yaitu 8 Pelayanan ;esehatan Puskesmas Rumah $akit Denetik=;eturunan Ras @sia :enis ;elamin Perilaku Pengetahuan $ikap ?ingkungan ;ondisi .isik=sanitasi lingkungan rumah 3am&ar 2.2 %erangka Te'r H.L. Blum DERA#AT %E$EHATAN TB PARU

/%

2gen Mycobacterium tubercolousis *ost @sia :enis kelamin $tatus gi3i Perilaku Ras >n&ironment ;ondisi lingkungan rumah $tatus ekonomi Iklim dan geogra.i %E#ADIAN TB PARU

3am&ar 2.3 %erangka Te'r $eg t ga E( )em 'l'g 2.*. %erangka %'nse( Berdasarkan dari teori *endrik ?# Blum dan $egitiga >pidemiologi diatas dapat digambarkan bah1a Penyakit TB Paru memiliki banyak .aktor resiko yang mempengaruhi yaitu, lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan, host, agent, dan en&ironment# $tatus kesehatan akan tercapai secara optimal bilamana semua .aktor tersebut secara bersama-sama dalam kondisi yang

optimal pula# Bila salah satu .aktor saja terganggu maka akan berpengaruh terhadap kejadianTB Paru itu sendiri# $esuai dengan tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan .akor resiko kondisi rumah terhadap kejadian Tb paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan jonggat ;abupaten ?ombok Tengah tahun kerangka konsep penelitian ini adalah sebagai berikut 8 !%(, maka

/(

3am&ar 2.! %erangka %'nse( Penel t an Mycobacterium tuberkulosis

Tu&erkul's s Paru

$uhu rumah

;elembaban rumah

;amarisasi rumah

- Pencahayaan - ;ondisi Dapur - Gentilasi - ;epadatan penghuni - ?antai rumah - 2tap rumah $tatus Di3i Imunisasi Pendidikan <usim Dambar %# Pola pikir &ariabel yang diteliti ;eterangan 8 Gariabel yang diteliti Gariabel yang tidak diteliti

//

2./. H ('tes s *! 8 Tidak ada hubungan antara kondisi .isik rumah yang meliputi kelembapan, suhu, dan kamarisasi dengan kejadian TB paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat ;abupaten ?ombok Tengah tahun !%( *% 8 2da *ubungan antara kondisi .isik rumah yang meliputi kelembapan, suhu, dan kamarisasi dengan kejadian TB paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat ;abupaten ?ombok Tengah !%(#

/"

BAB III MET8DE PENELITIAN 3.1. #en s Penel t an :enis penelitian yang digunakan adalah peneltian analitik obser&asional dengan desain studi cross sectional studi dimana keseluruhan &ariabel(paparan dan penyakit) diamati secara serentak pada satu saat atau periode# 3.2. 9aktu )an L'kas Penel t an )aktu penelitian adalah insya2llah selama bulan yaitu mulai

bulan 2pril-<ei tahun !%(# ?okasi dalam penelitian ini adalah 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat kabupaten ?ombok Tengah dengan alasan8 %# :umlah angka pre&alensi Tb paru yang tinggi di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat ;abupaten ?ombok Tengah# # Pada umumnya masyarakat di 1ilayah kerja Puskesmas @bung masih memiliki rumah yang kurang memenuhi syarat kesehatan# 3.3. :ar a&el )an De" n s 8(eras 'nal 3.3.1 :ar a&el Penel t an

/7

a# Gariabel Independen 8 ;ondisi .isik lingkungan rumah yang terdiri dari tiga hal yaitu suhu, kamarisasi, dan kelembaban# b# Gariabel dependent 8 ;ejadian Tuberkulosis Paru 3.3.2. De" n s 8(eras 'nal a# $uhu 2dalah nilai suhu dalam suatu ruangan# 2lat @kur 8 Termometer Ruangan 0ara @kur 8 mengukur suhu ruangan *asil @kur 8 %# Baik bila suatu ruangan memiliki suhu !! 0 5 "! 0 (skor Q %)

# ;urang baik bila suatu ruangan memiliki M !! 0 atau L "! 0(skor Q !) $kala 8 nominal b# ;elembaban adalah persetase nilai kelembaban suatu ruangan 2lat @kur 8 *igrometer 0ara @kur 8 mengambil nilai berdasarkan hasil pengukuran *igrometer yang di simpan didalam rumah *asil @kur 8 %# <emenuhi syarat kesehatan bila dalam suatu ruangan mencapai /!- Rh 5 7!- Rh (skor Q % )

/,

# Tidak memenuhi syarat bila ruangan mencapai M /!-Rh atau L7!- Rh ( skor Q ! )

c# ;amarisasi adalah adanya skat skat kamar di dalam rumah dan sesuai dengan penghuni kamar# 2lat @kur 8 Rolmeter 0ara @kur 8 +bser&asi *asil @kur 8 %# <emenuhi syarat kesehatan bila memeliki kamaryang termasuk katagori kamar rumah sehat (skor Q %) # Tidak memenuhi syarat bila tidak memilki kamar yang termasuk katagori kamar rumah sehat ( skorQ!) d# ;ejadian Tuberkulosis Paru %# BT2 positi. 8 kasus

# BT2 negati&e 8 kontrol $kala 8 nominal

3.!. $u&jek Penel t an 3.!.1 P'(ulas

/6

Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang yang pemeriksaan sputumnya ditemukan BT2 dan tercatat sebagai pasien di Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat ;abupaten ?ombok Tengah !%( sampai dengan 2pril !%(,dan bertempat tinggal di kecamatan :onggat# Populasi berjumlah (/ orang# 3.!.2. $am(el a# $ampel penelitian $ampel penelitian terdiri dari kasus dan kontrol dengan perbandingan jumlah %8%# Pemilihan sampel dilakukan secara simple random sampling# Pada cara ini, terlebih dahulu dihitung jumlah populasi yang akan dipilih sampelnya# ;emudian diambil sebagian secara acak ($astroasmoro, %''")# @ntuk dapat menentukan jumlah sampel dapat dihitung dengan menggunakan rumus studi kasus control berpasangan sebagai berikut ($ubagyo, !!/) 8

;eterangan8 n 3R 3S P Q sampel Q tingkat kemaknaan (ditetapkan peneliti) Q po1er (ditetapkan peneliti) Q perkiraan proporsi /'

R T

Q +dds Ratio (+R) (ditetapkan peneliti) Q %-P

n Q (3R= A 3SUPT) (P5V) Q (%,'7= A %, 6 U =( W %=() ( =( 5 V ) Q (!,'6 A %, 6 U!, %=7 Q (!,'6 A !,7) Q %" orang $ampel dalam penelitian ini terdiri dari kasus dan kontrol dengan perbandingan jumlah %8%# Pemilihan sampel dilakukan secar simple random sample. b# ;riteria kasus dan kontrol %# ;riteria ;asus a) ;riteria Inklusi Bersedia berpartisipasi dalam penelitian Berusia %" tahun atau lebih (usia produkti.) Bertempat tinggal di kecamatan :onggat minimal b) ;riteria >ksklusi tahun E7 )

"!

Tidak berada ditempat pada 1aktu pengumpulan data selama tiga kali berturut 5 turut Dalam keadaan tidak bisa di1a1ancarai # ;riteria ;ontrol a) ;riteria Inklusi Berdomisili di kecamatan :onggat <emiliki usia dan jenis kelamin yang sama dengan kelompok kasus atau kriteria kontrol matching dengan kasus Bersedia berpartisipasi dalam penelitian b) ;riteria >ksklusi Tidak berada ditempat pada 1aktu pengumpulan data selama tiga kali berturut 5 turut Dalam keadaan tidak bisa di1a1ancarai

3.*. Instrumen Penel t an Instrumen penelitian adalah alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data# Instrumen dalam penelitian ini adalah8 (igrotermometer Termometer $uhu Ruangan Rolmeter

"%

2lat Tulis

3./. ;ara Penel t an .Alur Penel t an2 2dapun langkah 5 langkah penelitian adalah sebagai berikut 8 %# <enghitung jumlah populasi # Pengambilan sampel kasus dengan cara simple random sampling (# Penentuan sampel kontrol dengan metode matching indi&idual /# $koring kondisi kepadatan hunian, &entilasi dan pencahayaan kasus "# $koring kondisi kelembapan, suhu, dan kamarisasi kontrol 7# <elakukan analisa korelasi

Pengambilan sampel di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat

;2$@$ <aching Indi&idual

;+4TR+?

$koring kondisi .isik lingkungan rumah 8 ;elembapan $uhu ;amarisasi

$koring kondisi .isik lingkungan rumah 8 ;elembapan $uhu ;amarisasi

242?I$2 ;+R>?2$I "

3am&ar 3.1 Alur Penel t an

3.0. ;ara Pengum(ulan Data 3.0.1. Data Pr mer Data primer dikumpulkan dengan melakukan 1a1ancara dan obser&asi langsung terhadap penderita Tuberkulosis paru dan pada bukan penderita Tuberkulosis paru dengan menggunakan instrumen kuesioner dan lembar obser&asi# 3.0.2. Data $kun)er Data skunder diperoleh dari hasil pencatatan dan pelaporan di Dinkes Pro&insi 4TB, Dinkes ;abupaten ?ombok Tengah dan Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat # 3.1. Peng'lahan )an Anal s s Data 3.1.1. Peng'lahan Data Pengolahan data dilakukan dengan beberapa tahap dengan maksud untuk mendapatkan data yang akurat# a# >diting(Penyuntingan Data)

"(

Penyuntingan

data

dimulai

dilapangan(pada

saat

penelitian)menyusun &ariabel penelitian dan diperiksa datanya sekali lagi, terutama memeriksa sampel sesuai dengan kriteria sampel# b# 0oding(Pengkodean data) Pada tahapan ini kegiata yang dilakukan untuk mengisi da.tar kode pada data yang telah dikumpulkan selanjutnya dibuat da.tar tabel untuk mempermudah pemasukan data maka dibuat .ormat koding# kemudian hasil koding dipindahkan kedalam da.tar koding dan pada keadaan ini data siap untuk dimasukkan ke dalam komputer# c# >ntry Data $ebelum dimasukkan kedalam komputer terlebih dahulu dibuatkan program entri data yang berbasis 0$ Pro #" lengkap dengan aturan &alidasinya# 2turan &alidasi ini dibuat untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam melakukan entri data sejak dini# sehingga data yang dihasilkan dapat terjaga tingkat akurasi# d# >Eport Data $etelah entri data selesai maka tahapan berikutnya adalah melakukan eEport data ke .ormat 2$0II agar dapat dibaca oleh so.1are program $P$$ .or 1indo1s &ersi %%, " untuk dilakukan pengolahan data dalam menghasilkan tabulasi maupun statistik yang dibutuhkan dalam penelitian ini# "/

3.1.2. Anal s s Data a# 2nalisa uni&ariat 2nalisa uni&ariat dimaksudkan untuk melihat gambaran

distribusi .rekuensi dari tiap &ariable#

b# 2nalisa bi&ariat Gariabel independen dan &ariabel dependen menggunakan uji statistic ;ai kuadrat (E ) dengan derajat kepercayaan '"- (RQ!,!")# @ji E yang digunakan adalah uji E untuk kelompok berpasangan, dimana uji ini digunakan untuk membandingkan proporsi kejadian dengan subyek penelitian yang sama atau yang berpasangan (matching individual)# @ji E untuk kelompok berpasangan ini

dikenal dengan nama uji <c 4emar# Penyusunan nilai dalam tabel E harus dibuat secara berpasangan, seperti dalam menyusun nilai pada uji diagnostik#( 231ar dkk, !!() *ubungan dikatakan

bermakna apabila PL!,!" dan melihat nilai +dds Ratio (+R) untuk memperkirakan resiko masing-masing &ariabel yang diselidiki# Data diambil berdasarkan kunjungan langsung peneliti dengan

menggunakan lembar obser&asi dan 1a1ancara serta pengamatan langsung# Interpretasi nilai +dds Ratio (+R) menurut *astano ( !!%) adalah 8 ""

+R M% 8 <erupakan .aktor resiko +R Q% 8 Bukan merupakan .aktor resiko# +R L% 8 <erupakan .aktor resiko protekti. Data hubungan kedua &ariabel ditabelkan dengan menggunakan tabel silang E sebagai berikut8 Ta&el 3.1 Ta&el 2<2 $tu) %asus %'ntr'l )engan Mat-h ng In) = )ual ;ontrol beresiko (A) ;asus Beresiko (A) ;asus tidak beresiko (-) Total ;eterangan 8 $el 2 8 kasus mengalami pajanan, kontrol mengalami pajanan $el B 8 kasus mengalami pajanan, kontrol tidak mengalami pajanan $el 0 8 kasus tidak mengalami pajanan, kontrol mengalami pajanan $el D8 kasus tidak mengalami pajanan, kontrol tidak mengalami pajanan Pada studi kasus kontrol dengan matching indi&idual maka harus dilakukan analisis dengan menjadikan kasus dan kontrol sebagai pasangan 5 pasangan# Rasio +dds pada studi kasus control dengan 2 0 2A0 0ontrol tidak beresiko (-) B D BAD

Total 2AB 0AD 2ABA0AD

"7

matching ini dihitung dengan mengabaikan sel 2 karena baik kasus maupun kontrol terpajan dan sel D, karena baik kasus maupun kontrol tidak terpajan# Dengan demikian maka rumus +dds Ratio adalah sebagai berikut 8 ($astroasmoro, %''") R8 > B?; @ntuk analisis pada penelitian ini akan menggunakan program %tatistical Product and %ervice %olution ($P$$) or )indo"s versi %,# ?angkah- langkah analisis <c 4emar dengan $P$$ 8 %# <asukan data di bagian XData Gie1X # Gariabel dapat di rubah di bagian XGariable Gie1X @ntuk keterangan &ariabel bisa diisi di bagian label @ntuk masing-masing nilai penyebutan dalam &ariabel dimasukan selanjutnya (# <emilih pengolahan data dengan crosstab, klik menu 2naly3e M 4onParametric tests M Related $ampels dalam &alues setelah pengaturan langkah

/# Pilih pasangan kasus control kemudian masukan ke bagian Test Pair *ist "# Pada bagian Test Type pilih Mc +emar 7# ?angkah selanjutnya setelah selesai tekan tombol ok <aka muncul hasil dari pengolahan data spss#

",

;riteria hubungan berdasarkan p value (probabilitas) yang dihasilkan dengan nilai kemaknaan yang dipilih, dengan kriteria sebagai berikut8 :ika p value M !,!" maka *o diterima (tidak ada hubungan) :ika p value L !,!" maka *o ditolak (ada hubungan) c# 2nalisis <ulti&ariat 2nalisis multi&ariat dimaksudkan untuk menilai

pengaruh masing-masing &ariabel independent terhadap &ariabel dependent# 2nalisis yang digunakan adalah regresi logistik dengan parameter penilaian kemaknaan adalah pL!,!"# 3.6. Et ka Penel t an Dalam melakukan penelitian, peneliti memperhatikan masalah etika penelitian# >tika penelitian meliputi8 a# In.ormd consent (lembar persetujuan) $ebelum dilaksanakan penelitian, peneliti memberikan

in.ormasi tentang tujuan dan man.aat penelitian#$ampel penelitian yang setuju berpartisipasi dalam penelitian dimohon untuk

menandatangani lembar persetujuan penelitian# b# 2nonimity (tanpa nama) @ntuk menjaga kerahasiaan responden dalam penelitian maka peneliti tidak mencantumkan nama pada lembar penelitian cukup "6

dengan memberi nomor kode pada masing-masing lembar yang hanya diketahui oleh peneliti# c# 0on.identiality (kerahasiaan) Peneliti menyimpan data penelitian pada dokumen pribadi penelitian dan data-data penelitian dilaporkan dalam bentuk kelompok bukan sebagai data-data yang me1akili pribadi sampel penelitian ($astroasmoro, %''")#

"'

BAB I: HA$IL PENELITIAN DAN PEMBAHA$AN

!.1. 3am&aran Umum L'kas Penel t an ;ecamatan :onggat terletak di ujung barat kabupaten ?ombok Tengah#<ata pencaharian sebagian besar penduduk secara umum adalah bertani, berladang dan beternak# Dimana batas 1ilayah kerja untuk Puskesmas @bung sebagai berikut 8 $ebelah Barat $ebelah @tara $ebelah Timur 8 Desa Bagu 8 Desa Bonjeruk 8 Desa Puyung

)ilayah kerja Puskesmas @bung terdiri atas " desa yaitu desa 4yerot, desa @bung, desa ?abulia, desa Batu Tulis, desa :elantik# Berikut jumlah penduduk di masing 5 masing " desa tersebut 8 Desa 4yerot Desa @bung Desa ?abulia Desa Batu Tulis Desa :elantik 8 /#(6% ji1a 8 '#(7% ji1a 8 '#"/% ji1a 8 (# 7/ ji1a 8 ,#',7 ji1a

7!

2dapun jumlah penduduk yang menjadi cakupan puskesmas sebanyak (/#" ( ji1a (Puskesmas @bung, !% )# !.2. Deskr (s Res('n)en :umlah penderita TB Paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat ;abupaten ?ombok Tengah tahun !%( adalah sebanyak (/ orang

setelah dicari dengan menggunakan rumus didapatkan jumlah sampel sebanyak %" orang, pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling, jumlah kontrol diambil dengan perbandingan %8% jadi didapatkan jumlah kontrol sebanyak %" atau total dari jumlah kasus dan kontrol sebanyak (! orang, antara kasus dan kontrol sampelnya dicocokkan atau matching berdasarkan umur dan jenis kelamin# @sia responden termuda adalah %" tahun sedangkan usia tertuanya adalah 7, tahun# Rata-rata usia responden adalah /',/ tahun# !.3. %arakter st k Res('n)en /#(#%# :enis ;elamin $ebaran .rekuensi jenis kelamin pada Penderita Tuberkulosis Paru BT2 Positi. dengan yang bukan penderita TB Paru sama karena dalam penelitian ini dilakukan proses matching menurut umur dan jenis kelamin# $ebaran jenis kelamin dari (! responden yang diteliti dapat dilihat pada tabel dan gambar gra.ik berikut 8

7%

Ta&el !.1 D str &us 7rekuens Res('n)en Menurut #en s %elam n D 9 la,ah %erja Puskesmas U&ung %e-amatan #'nggat %a&u(aten L'm&'k Tengah #en s kelam n res('n)en Res('n)en %asus Lk (! , @ (, ( Pr 6 @ 7, , Lk , %'ntr'l @ (, ( Pr 6 @ 7, , Lk %" T'tal

@ "!

Pr %"

@ "!

Dari tabel diatas terlihat jenis kelamin laki-laki dan perempuan antara kasus dan kontrol memiliki jumlah yang sama atau matching. :umlah responden yang berjenis kelamin laki-laki pada kasus dan kontrol adalah %" responden ("!-), sama banyak dengan perempuan yaitu %" responden ("!-)#

3am&ar !.1 3ra" k D str &us 7rekuens Res('n)en Menurut #en s %elam n D 9 la,ah %erja Puskesmas U&ung %e-amatan #'nggat %a&u(aten L'm&'k Tengah 2513 Dari gambar gra.ik diatas dapat dilihat ternyata jenis kelamin perempuan lebih banyak menderita TB paru dibandingkan jenis kelamin laki-laki di )ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat ;abupaten ?ombok Tengah !%(# /#(# # @mur Pada penelitian ini juga dilakukan proses matching berdasarkan umur antara penderita TB Paru BT2 Positi. dengan yang bukan penderita TB Paru# Rata-rata umur responden kasus dan kontrol TB Paru adalah /' tahun Y/ bulan#@mur termuda adalah %" tahun dan umur tertua adalah 7,

7(

tahun# $ebaran umur responden dapat dilihat pada tabel dan gambar gra.ik berikut 8 Ta&el !.2 D str &us 7rekuens Res('n)en Menurut Us a D 9 la,ah %erja Puskesmas U&ung %e-amatan #'nggat %a&u(aten L'm&'k Tengah 2513. %asus Umur %" 5 ( /5( (( 5 /% / 5 "! "% 5 "' 7! - 76 :umlah / ( / %" 7 % % @ 7,, 7,, %(,( 7,, ! 7,, %!! / ( / %" %'ntr'l " % % @ 7,, 7,, %(,( 7,, ! 7,, %!! / 6 7 6 (! " T'tal @ 7,, 7,, %(,( 7,, ! 7,, %!!

Dari tabel /# dapat dilihat distribusi .rekuensi responden kasus dan kontrol menurut umur di ;ecamatan :onggat, jumlah responden yang terbanyak berkisar pada umur / -"! tahun dan 7!-76 tahun yaitu 6 responden dan yang paling sedikit berkisar antara %"- ( tahun dan /-( tahun yaitu responden#

7/

3am&ar !.2 3ra" k D str &us 7rekuens Res('n)en Menurut Us a D 9 la,ah %erja Puskesmas U&ung %e-amatan #'nggat %a&u(aten L'm&'k Tengah 2513 Dari gambar /# dapat dilihat bah1a gra.ik distribusi .rekuensi

responden menurut umur di kecamatan :onggat tahun !%( lebih banyak terdapat pada usia / -"! tahun dan 7!-76 tahun# !.!. Anal sa Un =ar at /#/#%# ;amarisasi $ebaran distribusi .rekuensi responden menurut kamarisasi dapat dilihat pada tabel berikut ini 8

7"

Ta&el !.3 D str &us 7rekuens %'n) s %amar sas D 9 la,ah %erja Puskesmas U&ung %e-amatan #'nggat %a&u(aten L'm&'k Tengah 2513 %asus %amar sas Baik ;urang Baik :umlah " " %! %" @ ((,( 77,, %!! %" " %( %'ntr'l @ 67,, %(,( %!!

Dari tabel dan gambar /#( terlihat bah1a kamarisasi rumah TB Paru pada kontrol yang banyak terdapat pada kepadatan hunian rumah yang baik yaitu %( responden (67,,-) dan pada kondisi hunian yang kurang baik responden (%(,(-), sedangkan pada kasus kondisi hunian rumah

yang terbanyak pada kondisi hunian rumah yang kurang baik yaitu " responden (((,(-) dan yang kondisi hunian yang kurang baik %! responden (77,,-)#

77

3am&ar !.3 3ra" k D str &us 7rekuens %'n) s %amar sas Res('n)en D 9 la,ah %erja Puskesmas U&ung %e-amatan #'nggat %a&u(aten L'm&'k Tengah 2513 Dari gambar /#( terlihat gra.ik distribusi .rekuensi kamarisasi responden pada kasus yang paling banyak adalah kamarisasi yang kurang sedangkan pada kontrol adalah kamarisasi yang baik# /#/# # ;elembapan $ebaran distribusi .rekuensi responden menurut kondisi kelembapan rumah dapat dilihat pada tabel berikut ini 8

7,

Ta&el !.! D str &us 7rekuens %'n) s %elem&a(an Rumah Res('n)en D 9 la,ah %erja Puskesmas U&ung %e-amatan #'nggat %a&u(aten L'm&'k Tengah 2513 %elem&a(an 7 Baik ;urang Baik :umlah / %% %" %asus @ 7,, ,(,( %!! " % ( %" %'ntr'l @ 6! ! %!!

Pada tabel dan gambar /#/ dapat dilihat bah1a kondisi rumah rumah pada kasus yang terbanyak terdapat pada kondisi yang kurang baik yaitu %% responden (,(,(-) dan yang kondisi yang baik hanya / responden ( 7,,-) sedangkan pada kontrol kondisi kelembapan yang terbanyak yaitu pada kondisi yang baik % (6!-) dan yang kurang baik hanya ( responden ( !-)#

76

3am&ar !.! 3ra" k D str &us 7rekuens %'n) s %elem&a(an Rumah D 9 la,ah %erja Puskesmas U&ung %e-amatan #'nggat %a&u(aten L'm&'k Tengah 2513 Dari gambar /#/ terlihat gra.ik distribusi .rekuensi kelembapan rumah responden pada kasus yang paling banyak adalah kelembapan yang kurang baik sedangkan pada kontrol adalah kelembapan yang baik# /#/#(# $uhu $ebaran distribusi .rekuensi responden menurut kondisi suhu dapat dilihat pada tabel berikut ini 8

7'

Ta&el !.* D str &us 7rekuens %'n) s $uhu Res('n)en D 9 la,ah %erja Puskesmas U&ung %e-amatan #'nggat %a&u(aten L'm&'k Tengah 2513 %asus $uhu Baik ;urang Baik :umlah " / %% %" @ 7,, ,(,( %!! %" " %( %'ntr'l @ 67,, %(,( %!!

Pada tabel /#' dapat dilihat bah1a kondisi suhu rumah pada kasus yang terbanyak terdapat pada kondisi yang kurang baik yaitu %% responden (,(,(-) dan yang kondisi yang baik hanya / responden ( 7,,-), sedangkan pada kontrol kondisi suhu yang terbanyak yaitu pada kondisi yang baik %( (67,,-) dan yang kurang baik hanya (%(,(-)# responden

,!

3am&ar !.* 3ra" k ) str &us 7rekuens %'n) s $uhu Res('n)en D 9 la,ah %erja Puskesmas U&ung %a&u(aten L'm&'k Tengah 2513 Dari gambar /#" terlihat gra.ik distribusi .rekuensi kondisi suhu responden pada kasus yang paling banyak adalah kondisi suhu yang kurang baik sedangkan pada kontrol adalah kondisi suhu yang baik# !.*. Anal sa B =ar at 2nalisa bi&ariat dilakukan dengan menampilkan tabel E untuk studi

kasus kontrol dengan matching indi&idual dan dianalisis dengan menggunakan uji kai kuadrat untuk sampel dengan matching indi&idual atau yang biasa disebut uji <c 4emar# /#"#%# ;amarissasi 2nalisa bi&ariat untuk hubungan kepadatan hunian dengan kejadian TB Paru adalah sebagai berikut 8

,%

Ta&el !./ Ta&ulas $ lang $tu) %asus %'ntr'l )engan Mat-h ng In) = )ual (a)a k'n) s %amar sas Res('n)en %'ntr'l &eres k' .A2 %asus Beres k' .A2 %asus t )ak &eres k' .B2 %'ntr'l t )ak &eres k' .B2

T'tal

%!

%!

"

Total 4ilai +dds Ratio sebagai berikut 8 +R Q B=0 Q %!= Q "

%(

%"

Ta&el

!.0 D str &us Hu&ungan %amar sas )engan %eja) an Tu&erkul's s Paru ) + la,ah kerja Puskesmas U&ung%e-amatan #'nggat %a&u(aten L'm&'k Tengah 2513

%eja) an TB Paru %amar sas " Baik ;urang baik Total " %! %" %asus @ ((,( 77,, %!! %" %'ntr'l " %( @ 67,, %(,( %!! 7 %6 % (! T'tal @ 7! /! %!! ",!! !,!(' 8R P :alue

Dari hasil penelitian tentang ;amarisasi terdapat total kamarisasi yang baik adalah 7!- dan yang kurangnya yaitu /!-# Dalam kamarisasi yang kurang, paling banyak terdapat pada kasus yaitu 77,,- sedangkan pada kontrol hanya %(,(-# *asil uji statistik diperoleh nilai p L!,!" (pQ!,!('), maka terdapat hubungan yang bermakna antara kondisi kamarisasi rumah dengan kejadian TB Paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan ;abupaten ?ombok Tengah# $dds ratio " yang berarti responden yang memiliki kondisi kamarisasi rumah yang kurang baik, beresiko " kali tertular TB Paru dibandingkan responden yang mempunyai kondisi kamarisasi yang baik#

,(

<enurut Putra Prabu dalam buku ;esehatan ?ingkungan $oemirat, !!! luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan overload.*al ini tidak sehat, sebab disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit in.eksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain# Persyaratan kamarisasi untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan dalam

m =orang#?uas minimum per orang sangat relati. tergantung dari kualitas bangunan dan .asilitas yang tersedia#@ntuk rumah sederhana luasnya minimum %! m =orang, untuk kamar tidur diperlukan luas lantai minimum ( m =orang(Putra Prabu, !!6)# Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Toni ?umban Tobing tentang Pengaruh Perilaku Penderita TB Paru dan ;ondisi $anitasi terhadap Pencegahan Potensi Penularan TB Paru Pada ;eluarga di ;abupaten Tapanuli @tara, dari hasil penelitian tersebut ditemukan kondisi kamarisasi memiliki hubungan yang signi.ikan terhadap penyakit TB# Dapat dilihat dari $ds &atio sebesar (,( artinya yaitu kamarisasi yang kurang mempunyai resiko tertular TB Paru sebesar (,( kali lebih banyak dari yang kondisi kepadatan huniannya baik (Tobing, !!6)# ;amarisasi sangat mempengaruhi penularan penyakit TB Paru, karena kuman TB Paru dapat ditularkan le1at media udara sehingga jika ,/

rumah padat penghuni kuman ini mudah sekali menular# :ika rumah tidak padat maka sirkulasi udara menjadi lancar sehingga pasien dan anggota keluarga yang lain bisa menjaga penularan TB Paru# /#"# # ;elembapan 2nalisa bi&ariat untuk hubungan kondisi kelembapan dengan kejadian TB Paru adalah sebagai berikut 8 Ta&el !.1 Ta&ulas $ lang $tu) %asus %'ntr'l )engan Mat-h ng In) = )ual (a)a k'n) s %elem&a(an Rumah Res('n)en %'ntr'l &eres k' .A2 %asus Beres k' .A2 %asus t )ak &eres k' .B2 Total ( % %" %'ntr'l t )ak &eres k' .B2

T'tal

%!

%%

4ilai +dds Ratio sebagai berikut 8 +R Q B=0 Q %!= Q ",!!

,"

Ta&el !.6 D str &us Hu&ungan %elem&a(an )engan %eja) an Tu&erkul's s Paru ) + la,ah kerja Puskesmas U&ung %a&u(aten L'm&'k Tengah 2513 %eja) an TB Paru %elem&a(an " Baik ;urang baik Total / %% %" %asus @ 7,, ,(,( %!! %'ntr'l " % ( %" @ 6! ! %!! " %7 %/ (! T'tal @ "(,( /7,, %!! ",!! !,!(' 8R P :alue

*asil penelitian hubungan kondisi kelembapan dengan kejadian TB Paru yaitu total kelembapan yang baik adalah "(,(- dan yang kurang baik adalah /7,,-# Responden yang paling banyak memiliki kelembapan yang kurang baik adalah pada kasus sebanyak ,(,(- sedangkan pada kontrol hanya /7,,-# *asil uji statistic diperoleh nilai p L!,!" (pQ!,!('), maka terdapat hubungan yang bermakna antara kondisi kelembapan rumah dengan kejadian TB Paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat# $dds ratio " yang berarti responden yang memiliki kondisi kelembapan rumah yang kurang baik, beresiko " kali tertular TB Paru dibandingkan responden yang mempunyai kelembapan yang baik# *al ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Toni ?umban Tobing tentang Pengaruh Perilaku Penderita TB Paru dan

,7

;ondisi $anitasi Terhadap Pencegahan Potensi Penularan TB Paru, dari penelitian tersebut didapatkan bah1a kondisi kelembapan rumah yang tidak memenuhi syarat mempunyai resiko ,/ kali terkena TB Paru bila dibandingkan dengan rumah yang kondisi kelembapan yang baik (Tobing, !!6)# *al yang sama juga terdapat pada penelitian yang dilakukan oleh *elda $uarni tentang .aktor resiko yang berhubungan dengan kejadian penderita TB Paru di kecamatan Pancoran <as Depok tahun !!',

didapatkan hasil penelitian bah1a kondisi kelembapan rumah merupakan .aktor resiko dengan +R Q %/,%6 , ini berarti kondisi kelembapan yang kurang memiliki resiko penularan %/,%6 kali dari kelembapan yang baik ($uarni, !!')# /#"#(# $uhu 2nalisa bi&ariat untuk hubungan kondisi suhu rumah dengan kejadian TB Paru adalah sebagai berikut 8

,,

Ta&el !.15 Ta&ulas $ lang $tu) %asus %'ntr'l )engan Mat-h ng In) = )ual (a)a k'n) s $uhu Rumah Res('n)en %'ntr'l &eres k' .A2 %asus Beres k' .A2 %asus t )ak &eres k' .B2 Total %( 4ilai +dds Ratio sebagai berikut 8 +R Q B=0 Q %%= Q ","! %" %'ntr'l t )ak &eres k' .B2

T'tal

%%

%%

,6

Ta&el !.11 D str &us Hu&ungan %'n) s $uhu Rumah )engan %eja) an Tu&erkul's s Paru ) + la,ah kerja Puskesmas U&ung %e-amatan #'nggat %a&u(aten L'm&'k Tengah 2513 %eja) an TB Paru $uhu " Baik ;urang baik Total / %% %" %asus @ 7,, ,(,( %!! %" %'ntr'l " %( @ 67,, %(,( %!! " %, %( (! T'tal @ "7,, /(,( %!! ","! !,! 8R P :alue

Dari hasil penelitian dapat dilihat bah1a total dari kondisi suhu baik "7,,- sedangkan kondisi suhu yang kurang baik /(,(-# Pada kondisi suhu kurang terdapat pada kasus ,(,(- sedangkan pada control %(,(-# *asil uji statistik diperoleh nilai p L!,!" (pQ!,! ), maka terdapat

hubungan yang bermakna antara kondisi suhu dengan kejadian TB Paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat ?ombok Tengah# $dds ratio ","! yang berarti responden yang memiliki kondisi suhu yang kurang baik, beresiko ","! kali tertular TB Paru dibandingkan responden yang mempuyai suhu yang baik# *al ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh <usadad ( !!%) yang melakukan penelitian hubungan .aktor lingkungan rumah dengan kejadian penularan TB Paru di rumah tangga, dari penelitian

,'

tersebut didapatkan bah1a kondisi suhu yang kurang mempunyai resiko (,, kali terkena TB Paru bila dibandingkan dengan rumah yang memiliki suhu baik# ($uyono, !!") *al ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Toni ?umban Tobing tentang Pengaruh Prilaku Penderita TB Paru dan ;ondisi $anitasi terhadap Pencegahan Potensi Penularan TB Paru, hasil penelitiannya didapatkan pQ!,!!! berarti ada hubungan antara kondisi suhu rumah dengan penularan TB Paru# *asil statistik odds &atio ,,dengan 0I '"- (%,' 6-%6, !%) jadi kondisi suhu rumah yang kurang mempunyai resiko penularan sebanyak ",' kali dari kondisi suhu rumah yang baik# (Tobing, !!6) ;ondisi suhu rumah merupakan .aktor resiko yang cukup signi.ikan hal ini dapat dilihat dari penelitian diatas, dengan suhu yang kurang maka perkembangan kuman TB Paru akan meningkat karena suhu optimal merupakan salah satu .aktor yang dapat membunuh kuman TB Paru, sehingga jika suhu bagus maka penularan dan perkembangbiakan kuman bisa dicegah# !./. %eter&atasan Penel t an /#7#%# Peneliti mengabaikan beberapa .aktor yang dapat mempengaruhi TB Paru, dalam penelitian ini seperti .aktor tingkat pendidikan, status ekonomi, status gi3i, perilaku, kelembaban, dan kebiasaan merokok# *al

6!

ini dikarenakan terbatasnya jumlah 1aktu, biaya dan instrumen penelitian# /#7# # @ji $tatistika non-parametrik (Mc +emar) yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai kelemahan antara lain 8 a# *asil pengujian tidak setajam statistika parametric# 4amun karena skala datanya adalah nominal (kedua &ariabel) maka hanya uji nonparametrik yang bisa dipakai# b# $tatistika non-parametrik mengabaikan beberapa in.ormasi tertentu, misalnya nilai utuh dari hasil suatu pengamatan#

6%

BAB : $IMPULAN *.1. $ m(ulan Berdasarkan tujuan dan hasil penelitian mengenai .aktor resiko kondisi rumah yang berhubungan dengan kejadian Tuberkulosis paru, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut 8 "#%#%# Distribusi .rekuensi TB Paru berdasarkan kondisi kelembapan yang paling banyak pada kasus adalah kondisi kelembapan yang kurang baik (,(,(-) sementara pada kontrol adalah kondisi kelembapan yang baik (6!-)# "#%# # Dari hasil uji statistik <c 4emar pada &ariabel kondisi kelembapan maka diperoleh nilai p L!,!" (pQ!,!('), sehingga * ! ditolak dan dapat disimpulkan bah1a terdapat hubungan yang bermakna antara kondisi kelembapan dengan kejadian TB Paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat ;abupaten ?ombok Tengah !%(# "#%#(# Dari hasil perhitungan odds ratio &ariabel kondisi kelembapan, diperoleh nilai",!! yang berarti responden yang memiliki kondisi kelembapan yang kurang baik, beresiko ",!! kali tertular TB Paru dibandingkan responden yang mempunyai kondisi kelembapan yang baik#

"#%#/# Distribusi .rekuensi TB Paru berdasarkan kondisi suhu, yang paling banyak pada kasus adalah kondisi suhu yang kurang baik (,(,(-) sementara pada kontrol adalah kondisi suhu yang baik (67,,-)# "#%#"# Dari hasil uji statistik <c 4emar pada &ariabel kondisi suhu maka diperoleh nilai p L!,!" (pQ!,! ), sehingga *! ditolak dan dapat

disimpulkan bah1a terdapat hubungan yang bermakna antara kondisi suhu dengan kejadian TB Paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat ;abupaten ?ombok Tengah# "#%#7# Dari hasil perhitungan odds ratio &ariabel kondisi suhu, diperoleh nilai","! yang berarti responden yang memiliki kondisi suhu yang kurang baik, beresiko ","! kali tertular TB Paru dibandingkan responden yang mempunyai suhu yang baik# "#%#,# Distribusi .rekuensi TB Paru berdasarkan kamarisasi yang paling banyak pada kasus adalah kondisi kamarisasi yang kurang baik (77,,-) sementara pada kontrol adalah kondisi kamarisasi yang baik (67,,-)# "#%#6# Dari hasil uji statistik <c 4emar pada &ariabel kepadatan hunian maka diperoleh nilai p L!,!" (pQ!,!('), sehingga *! ditolak dan dapat disimpulkan bah1a terdapat hubungan yang bermakna antara kamarisasi dengan kejadian TB Paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat ;abupaten ?ombok Tengah# "#%#'# Dari hasil perhitungan odds ratio &ariabel kamarisasi, diperoleh nilai ",!! yang berarti responden yang memiliki kamarisasi yang kurang baik, 6(

beresiko ",!! kali tertular TB Paru dibandingkan responden yang mempunyai kamarisasi yang baik#

*.2. $aran Berdasarkan kesimpulan atas penelitian yang telah dilakukan di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat, peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut 8 "# #%# @ntuk Pemerintah ;abupaten ?ombok Tengah a# $ebaiknya lebih meningkatkan perencanaan program rumah sehat seperti perencanaan perbaikan rumah masyarakat yang tidak mampu khususnya bagi penderita TB Paru (A) b# $ebaiknya meningkatkan program pemberantassan penyakit menular berbasis lingkungan khususnya tuberkulosis "# # # @ntuk Dinas ;esehatan ?ombok Tengah a# $ebaiknya program pemberantasan penyakit tuberkulosis tidak hanya melakukan pengobatan terhadap penderita tetapi lebih meningkatkan kegiatan perbaikan lingkungan .isik rumah terutama pada rumah rumah yang mempunyai risiko terhadap terjadinya tuberkulosis# b# <eningkatkan pembinaan penga1asan dan pemantauan pelaksanaan program kesehatan lingkungan misalnya dengan mengadakan pelatihan terhdap tenaga kesehatan lingkungan yang ada di 6/

puskesmas, monitoring pelaksaan kegiatan sanitasi klinik di puskesmas "# #(# @ntuk Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat sabaiknya a# Bagi Puskesmas agar mengikuti pemantapan mutu laboratorium dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat dengan melatih kader untuk meningkatkan sur&eilans penemuan kasus, dan membantu mencegah penularan penyakit TB# b# Bagi petugas kesehatan diharapkan agar meningkatkan program sur&ei TB paru kelapangan dalam pelacakan kasus, serta lebih giat mengontrol pasien TB paru agar tidak terjadi penularan penyakit dengan melakukan pemantauan sanitasi dan penataan lingkungan secara berkala# "# #/# @ntuk <asyarakat ;ecamatan :onggat di 1ilayah kerja Puskesmas @bung a# @ntuk menjaga suhu rumah agar tetap kondusip masyarat di anjurkan untuk melakukan penghijauan dengan cara menanam tanaman dihalaman rumah dan menggunakan kipas angin atau exhaust un. b# Turut berperan akti. dalam pencegahan dan penanggulangan Tuberkulosis, misalnya dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari hari dengan menjagam kondisi rumah agar tetap sehat#

6"

"# #"# Bagi peneliti selanjutnya agar dapat meneliti .aktor-.aktor atau &ariabel lain yang mempengaruhi kejadian Tuberkulosis Paru di 1ilayah kerja Puskesmas @bung ;ecamatan :onggat ;abupaten ?ombok Tengah#

67

6,