Anda di halaman 1dari 26

Lembaga Kepresidenan

Pengisian Jabatan Presiden

Pemilihan Pergantian Perwakilan Pemangkuan Sementara

Dasar Pergantian (teoretis)

Meninggal Dunia Mengundurkan Diri Dilepas dari jabatan Menderita gangguan kesehatan

Kasus Pergantian Presiden di Amerika Serikat


Dalam sejarah ketatanegaran AS telah terjadi pergantian Presiden sebanyak sembilan kali dalam jangka waktu dua abad lebih (1789-2004) Delapan kali pergantian karena kematian (empat kali dibunuh dan empat kali karena sakit) sedangkan karena pengunduran diri hanya terjadi sekali yaitu Richard Nixon (Presiden ke- 37 (1969 1974). Dilepas dari jabatannya belum pernah terjadi.

Konstitusi AS ttg Pergantian Presiden

Dalam artikel II Seksi 1 Paragraf ke 6 disebutkan Presiden AS diganti karena:


Removal from office (dilepas dari jabatannya) Death (meninggal dunia) Resignation (berhenti) Inability (tidak mampu menjalankan kekuasaan )

Namun kemudian pada 10 Februari 1967 dalam amandemen XXV, inability tidak lagi menjadi dasar pergantian

UUD 1945 tentang Pergantian Presiden


Jika Presiden mangkat, berhenti atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh wakil presiden sampai habis waktu (Pasal 8 naskah asli) Jika Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden sampai habis masa jabatannya (Pasal 8 ayat (1) Perubahan Ketiga)

Berhenti (Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie)

Berhenti karena pengunduran diri secara sepihak Berhenti dengan mengajukan permintaan atau permohonan berhenti Berhenti karena diberhentikan

PEMILIHAN

Azas Suara Terbanyak

Suara terbanyak relatif, yaitu cukup kalau seorang calon mendapat suara lebih banyak dari setiap calon lainnya tanpa harus mencapai jumlah suara minimal tertentu Suara terbanyak mutlak, yaitu minimal harus mendapat suara setengah tambah satu Suara terbanyak khusus, yaitu minimal harus mendapat suara 2/3, atau atau 4/5

Pencalonan Presiden Dan Wakil Presiden


Partai atau gabungan partai hanya dapat mengajukan 1 pasangan calon sesuai dengan mekanisme internal partai secara demokratis dan terbuka. Pencalonan pasangan presiden/wakil presiden dapat diajukan secara berpasangan oleh partai atau gabungan parpol yang memperoleh kursi sekurang kurangnya 15% dari jumlah kursi DPR atau 20% dari perolehan suara sah secara nasional dalam pemilu anggota DPR. Khusus pemilu 2004 pasangan calon Presiden/Wapres dapat diajukan oleh partai atau gabungan partai yang memenuhi persyaratan perolehan suara pada Pemilu anggota DPR sekurang-kurangnya 3% dari jumlah kursi DPR atau 5% dari perolehan suara sah secara nasional hasil pemilu anggota DPR tahun 2004.

Bagaimana menentukan Presiden/Wakil Presiden pemenang pemilihan?

Pasangan Calon yang memperoleh suara terbanyak dan merata, terpilih sebagai Presiden/Wakil Presiden. Yang dimaksud dengan suara terbanyak dan merata adalah suara yang diperoleh pasangan calon Presiden/Wakil Presiden tersebut jumlahnya lebih dari 50% dari keseluruhan jumlah suara di tingkat nasional serta tersebar secara merata (diatas 20%) di sekurangnya separo dari jumlah provinsi di Indonesia (16 provinsi) Jika tidak ada pasangan calon yg memperoleh 50% lebih suara dan tersebar merata minimal 20% disekurangnya separo dari jumlah propinsi di Indonesia, maka dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dipilih kembali oleh rakyat secara langsung.

Pemilihan Kembali Presiden


Sistem Pembatasan Mutlak, yaitu seorang mntan presiden hanya boleh dipilih kembali untuk satu masa jabatan lagi. Jadi maksimal dua masa jabatan Sistem pembatasan relatif yaitu seorang mantan presiden boleh dipilih kembali lebih dari dua kali, tetapi tidak boleh tiga masa jabatan berturut-turut. Jadi harus diselingi oleh orang lain Sistem bebas atau tanpa pembatasan, yaitu seorang mantan presiden boleh dipilih kembali berulang-ulang selama dia mencalonkan diri. Jadi tidak menutup kemungkinan seseorang untuk menjadi Presiden seumur hidup namun tetap melalui proses pemilihan

Kasus Franklin D. Roosevelt


Pembuat UUD Amerika Serikat pada mulanya memakai sistem bebas. Namun setelah terjadi peristiwa kematian Franklin D. Roosevelt karena pendarahan otak (cerebral hemorrhage) tatkala sedang menjalani masa jabatan yang keempat kalinya (1945 1949) barulah sistem bebas ditinjau kembali. Dengan perubahan UUD XXII (berlaku 6 Feb 1951) ditetapkan seseorang tidak boleh dipilih kembali sebagai presiden lebih dari dua kali

Anti-third term tradition


Dalam sejarah ketatanegaraan AS sebelum adanya pembatasan masa jabatan presiden suadah ada preseden tentang dua kali masa jabatan yang dirintis oleh George Washington (1789-1797) yang kemungkinan besar dapat menjadi presiden seumur hidup jika mencalonkan diri kembali untuk pemilihan berikutnya. Preseden ini diteruskan oleh Thomas Jefferson (1801-1809), James Madison (1809-1917) dan Andrew Jackson (1829-1837)

Perwakilan

Berhalangan
(menurut Pasal 1 Ketetapan MPR No. VII/MPR/1973)

Ayat (1) Yang dimaksud dengan berhalangan dalam Ketetapan ini adalah berhalangan tetap dan berhalangan sementara Ayat (2) Yang dimaksud dengan berhalangan tetap dalam Ketetapan ini adalah mangkat, berhenti atau tidak dapat melaksanakan kewajiban dalam masa jabatan Ayat (3) Yang dimaksud dengan berhalangan sementara dalam Ketetapan ini adalah keadaan yang tidak termasuk dalam ayat 2 pasal ini

Berhalangan
menurut Pasal 6 RUU Lembaga Kepresidenan

Ayat (1) Dalam hal Presiden berhalangan sementara, Wakil Presiden menjalankan tugas Presiden Ayat (2) Berhalangan sementara sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah
a. berpergian ke luar negeri b. Sakit dan/atau c. Tidak diketahui keberadaannya karena berbagai sebab di luar kehendaknya

Berhalangan Sementara

Sakit Berkunjung ke daerah Berkinjung ke luar negeri Cuti (istirahat) Sibuk (pada acara) Dan lain-lain

Alasan Pemangkuan Sementara


Dalam Konstitusi AS Artikel II Seksi I Paragraf 6

Dilepas dari jabatan Meninggal dunia Berhenti Ketidakmampuan

Dalam Perubahan Keempat UUD 1945


Mangkat Berhenti Diberhentikan Tidak dapat melakukan kewajibannya

Pemangku Jabatan Presiden Sementara


Menurut Presidensial Succession Act 1947 Ketua DPR (speaker of the House) Ketua Sementara Senat Menlu Menkeu Menhan Jaksa Agung Penjabat Utama Pos Mendagri Menteri Pertanian Menteri Perdagangan Menaker Menurut Pasal 8 ayat (3) Perubahan Keempat UUD 1945 Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertahanan secara bersama-sama

Kekuasaan Presiden

Kekuasaan Penyelenggaraan Pemerintahan


Pasal 4 ayat (1) UUD 1945 Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut UndangUndang Dasar

Kekuasaan di Bidang Perundangundangan

Kekuasaan Membentuk Undang-Undang Kekuasaan Membentuk Peraturan Pemerintah Kewenangan Menetapkan Peraturan Presiden Kewenangan Menetapkan Perpu

Kewenangan di Bidang Yustisial

Grasi adalah kewenangan Presiden memberi pengampunan dengan cara meniadakan atau mengubah atau mengurangi pidana bagi seorang yang dijatuhi pidana dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Grasi tidak meniadakan kesalahan tetapi mengampuni kesalahan Amnesti adalah kewenangan presiden meniadakan sifat pidana atas perbuatan seseorang atau kelompok orang. Mereka yang terkena amnesti dipandang tidak pernah melakukan suatu perbuatan pidana.

Kewenangan di Bidang Yustisial (2)

Abolisi adalah kewenangan Presiden meniadakan penuntutan. Abolisi tidak menghapuskan sifat pidana suatu perbuatan, tetapi Presiden dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu menetapkan agar tidak diadakan penuntutan atas perbuatan pidana tersebut Rehabilitasi adalah pengembalian pada kedudukan atau keadaan semula seperti sebelum seseorang dijatuhi pidana atau dikenai pidana

Kekuasaan Presiden dalam Hubungan Luar Negeri

Perjanjian dengan negara lain Menyatakan Perang dengan negara lain Mengadakan perdamaian dengan negara lain Mengangkat duta dan konsul dan menerima duta dan konsul