Anda di halaman 1dari 5

DIAGNOSIS

Diagnosis CD dapat ditegakkan melalui pertanyaan anamnesa mengenai riwayat menyelam penderita sebelumnya (dalam waktu 24 jam terakhir) dan dari pemeriksaan fisis, didapatkan gejala-gejala CD. Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan untuk menentukan diagnosis CD adalah : 1. Pemeriksaan Laboratorium i) Darah rutin -Pada pasien yang datang gejala neurologik yang persisten dalam beberapa minggu setelah cederabisa didapatkan hematokrit (Hct) sebanyak 48% atau lebih. ii) Analisis gas darah -Menentukan alveolar-arterial gradient pada pasien dengan suspek emboli. iii) Creatinine Phosphokinase (CPK) -Peningkatan CPK menunjukkan kerusakan jaringan yang disebabkan oleh mikroemboli. 2. Pemeriksaan radiologi (mis: Radiografi, USG Doppler,) 3. Elektrokardiogram (EKG). Catatan: Penyakit dekompresi hanya terjadi setelah seseorang mendapat tekanan 2 ATA/lebih, atau setelah melakukan selam repetitif dalam waktu 12 jam tanpa memperhatikan tabel penyelaman. Diagnosis kerja: Penyakit dekompresi Manifestasi Klinis - Timbul saat dekompresi atau dipermukaan (paling lama 24 jam setelah menyelam). - Mula-mula rasa kaku kemudian rasa nyeri - Kekuatan otot menurun - Bengkak kemerahan Peau dorange - Banyak pada penyelam ulung dan singkat - Anggota atas 2-3x lebih banyak dari bawah. kasus pada bahu kemudian siku, pergelangan tangan, tangan, sendi paha, lutut dan kaki. - Asimetri - Kasus ringan, tidak rekompresi, nyeri hilang 3-7 hari. Penyakit dekompresi dapat dibagi menjadi dua tipe / golongan : A. Tipe I Disebut juga Pain only bends karena gejala utama adalah nyeri terutama pada otot dan sendi. Gejala 0 gejala lain dapat berupa : 1. Kelelahan 2. Mengantuk / pusing ringan 3. Gatal gatal pada kulit

4. Bercak-bercak pada kulit B. Tipe II Dengan gejala-gejala yang serius, yang terdiri dari : 1. Gejala-gejala neurologis : a. Rasa tebal b. Kelemahan c. Perasaan seperti ditusuk-tusuk dengan jarum d. Kelumpuhan e. Buta 2. Vestibular bends : a. Nistagmus b. Mual c. Muntah d. Vertigo 3. Gejala-gejala paru-paru (chokes) : a. Dispneu b. Nyeri substernal c. Batuk non produktif d. Sianosis 4. Bend shock Meskipun jarang terjadi, tetapi merupakan kasus yang serius 5. Panas badan dan leukosit meningkat DCS (Decompression Sickness) Type I Disebut juga pain only bends karena gejala utamanya adalah nyeri, terutama di daerah perendian dan otot-otot di sekitarnya. Bisa timbul mendadak atau berangsur-angsur. Nyeri periartikuler ini mulanya hanya berupa rasa kaku dan tidak enak yang sukar dilukiskan. Gerakangerakan anggota tubuh mungkin saja bisa meringankan sakitnya pada fase permulaan, namun pada jam-jam berikutnya akan berdenyut-denyut dan akan terasa sakit kembali. Rasa sakit sering bertambah-tambah setelah 24 jam tanpa terapi, biasanya akan reda selama 3-7 hari dan berubah jadi rasa nyeri tumpul. Bisa tampak hiperemi dan pembengkakan di sekitar sendi yang biasa disebut dengan penyakit radang sendi DCS I juga dapat memberikan gejala-gejala lain seperti: a. Kelelahan yang berlebihan setelah menyelam b. Mengantuk atau pusing ringan c. Gatal-gatal dan terjadi bintik-bintik pada kulit yang disebut Cutismamorata. DCS (Decompression Sickness) Type II Tipe ini ialah tipe penyakit dekompresi yang serius, di mana yang terserang ialah sistem saraf pusat atau sistem kardiopulmoner. Gejala-gejala klinis dapat berupa:

a. Gejala-gejala neurologis 1) Lesi pada otak Biasanya karena emboli arterial atau timbul gelembung gas langsung dalam jaringan otak. Efeknya sama dengan gejala stroke, tergantung pada pembuluh darah mana yang mengalami sumbatan. Gejala yang ditimbulkan akibat lesi pada otak ialah penglihatan kabur, titik-titik buta, Hemiplegia/ hemiparesis, Apaksia motorik/ sensorik dan Confusion (hilangnya kesadaran). 2) Lesi pada sereblum Lesi di sini memberikan gejala penyelam jalannya terhuyung-huyung (staggering), bisa juga terjadi kesulitan berbiacara atau termor. 3) Lesi pada medulla spinalis Yang sering ialah daerah lumbal. Gangguan bisa berupa gannguan sensorik atau motorik yang menyerang bagian bawah tubuh dan kedua ekstremitas inferior. Gejala lain bisa berupa gangguan buang air kecil, nyeri di kolumna vertebralis dan gangguan buang air besar. 4) Lesi pada organ vestibular Gejala-gejala klinis bisa berupa vertigo, tinitus, gangguan pendengaran atau staggering dan bisa juga terjadi mual atau muntah yang berlebihan. b. Gejala-gejala dari paru-paru dan jantung Sumbatan gelembung-gelembung gas dalam jumlah besar pada sirkulasi pulmoner akan memberikan gejala gangguan pernafasan berupa sesak nafas. Gejala yang ditimbulkan ialah gejala payah jantung kanan dan gejala iskemia otot jantung. c. Gejala-gejala gastrointestinal Usus dapat dirusak oleh gelembung-gelembung gas dalam dinding usus atau pembuluh darah sehingga menyebabkan rasa mual, kehilangan nafsu makan, kejang susu dan diare. Kasus yang lebih berat dapat menimbulkan muntah darah atau berak darah. d. Bend Shock Syok karena penyakit dekompresi jarang terjadi. Faktor-faktor yang berperan pada Bend Shock ialah kehilangan plasma volume, kegagalan jantung kanan akut, Decompensatio cordis dan skin bends. (Frustus: 1979). Gejala-gejala DCS baik yang tipe I atau tipe II biasanya dipengaruhi oleh kedalaman menyelam dan waktu dasar menyelam, gas lembam bernapas dan kecukupan dekompresi. Angkatan Laut AS mencatat manual bahwa kasus DCS biasanya diakibatkan oleh kurang disiplinnya penyelam dalam menaati peraturan penyelaman (Arthur, dkk., 16: 1987). Diagnosis banding: 1. Keracunan oksigen Paparan yang lama pada tekanan oksigen partial diatas normal dapat menyebabkan terjadinya keracunan oksigen.

Gejala awal yang harus diwaspadai adalah kesemutan, mual, penglihatan dan pendengaran abnormal, sesak nafas, cemas dan kebingungan, kelelahan, kurangnya koordinasi, dan kejang. Walaupun efek ini tidak permanen, hal ini sangat berbahaya dalam air karena dapat menyebabkan emboli udara dan tenggelam. Udara memasuki aliran darah (arteri). Gelembung dapat ditemukan dimana saja, tapi yang paling sering ditemukan adalah pada arteri karotis dan menyebabkan emboli serebral, 2. Embolis udara Tanda dan gejala (mirip dengan stroke), yaitu: Pusing Kebingungan Syok Paralysis (wajah, lengan atau kaki, biasanya satu-sisi) Perubahan kepribadian Ketidaksadaran dan kematian Kesulitan berbicara atau memahami orang lain sensasi aneh seperti kesemutan atau mati rasa Gangguan visual 3. Pneumothorax Udara masuk ke dalam ruang pleura antara dinding paru-paru dan dada menyebabkan paru-paru (atau bagiannya) rkolaps. Tanda dan gejala Nyeri dada (terutama pada pernapasan dalam) Sesak napas meningkat (ini adalah tanda-tanda kardinal) Pasien mungkin batuk darah 4. 5. 6. 7. Pneumonia Pneumomediastinum Stroke Hemoragik Penyebab kardiogenik seperti cardiac arrest

Terbang setelah penyelaman: - Naik menjauhi permukaan laut molekul gas semakin kecil dan bertambah volumenya tetapi tekanan serta kadar 02 akan semakin turun - Berkurangnya kadar 02 dapat menyebabkan hipoksia

Orang normal tidak akan merasakan gejala bila terbang dengan pesawat komersial karena memiliki kabin bertekanan setinggi 7500-8000 kaki (2500-3000 m)