Anda di halaman 1dari 2

PERCOBAAN DIPLOPIA

I.

Tujuan 1. Memahami mekanisme timbulnya diplopia 2. Mendemonstrasikan peristiwa diplopia

II.

Tinjauan Pustaka Bagian sentral dari lapang pandang kedua mata menyatu; oleh karena itu, semua benda yang terletak di bagian sentral ini akan terlihat sebagai penglihatan binocular. Impuls cahaya dari suatu objek yang sampai ke kedua retina bersatu di tingkat kortikal menghasilkan sebuah bayangan benda. Sebuah titik pada retina, yang merupakan tempat jatuhnya bayangan benda sebagai sebuah bayangan disebut sebagai corresponding points. Jika sebuah mata ditekan dari lateral secara hati-hati ketika sedang memfokuskan kedua pandangan bola mata ke objek tertentu, maka akan terjadi diplopia; hal ini dikarenakan bayangan benda tidak jatuh pada corresponding point mata yang di tekan dari lateral tersebut (Barrett KE, et al, 2010).

III.

Cara Kerja

1. Pandang suatu benda dengan kedua mata 2. Tekan bola mata kiri dari lateral untuk menimbulkan pergeseran sumbu bola mata ke medial. 3. Perhatikan terjadinya penglihatan rangkap.

IV. Hasil Orang percobaan: V. Pembahasan Bagian tengah lapangan pandang kedua mata menyatu; dengan demikian, segala sesuatu yang terletak di bagian lapangan pandang ini dilihat dengan penglihatan binokular. Impuls yang terbentuk di kedua retina oleh berkas cahaya dari benda disatukan di tingkat korteks menjadi bayangan tunggal (fusi). Titik-titik di retina tempat bayangan benda harus jatuh, bila dilihat secara binokular sebagai satu benda disebut titik-titik persesuaian. Apabila satu mata secara lembut didorong keluar garis saat sedang menatap terfiksasi ke benda yang ada di bagian tengah lapangan pandang, akan terjadi diplopia

timbul penglihatan ganda (diplopia); bayangan di retina dari mata yang terdorong tersebut tidak lagi jatuh di titik persesuaian (Ganong, 2008). Penglihatan binokular memegang peran yang penting dalam persepsi kedalaman. Namun, persepsi kedalaman juga memiliki banyak komponen monokular seperti ukuran relatif benda, derajat kita melihat ke bawah benda tersebut, bayangannya, dan, untuk benda bergerak, gerakan relatif terhadap satu sama lain (paralaks gerakan) (Ganong, 2008). Jadi, pada orang percobaan, diplopia timbul karena bayangan benda yang dilihat tidak lagi jatuh pada titik-titik persesuaian bayangan benda tersebut di dalam mata. Apabila bayangan visual secara terus-menerus tidak jatuh di titik-titik persesuaian di kedua retina pada anak yang berusia kurang dari enam tahun, salah satu bayangan penglihatan akhirnya akan mengalami supresi (skotoma supresi) dan diplopia menjadi menghilang. Penekanan ini adalah fenomena korteks, dan biasanya tidak terjadi pada orang dewasa. Jika penekanan tersebut menetap, hilangnya ketajaman penglihatan di mata yang tertekan akan bersifat menetap (Ganong, 2008).

VI. Kesimpulan Diplopia terjadi jika sumbu bola mata bergeser sehingga bayangan tidak tepat jatuh di titik identik retina.

VII. Jawaban Pertanyaan P-PII.4. Bagaimana mekanisme terjadinya penglihatan rangkap pada percobaan diplopia? Ketika salah satu bola mata ditekan dari lateral, terjadi pergeseran sumbu bola mata ke medial, sehingga bayangan yang ditangkap retina tidak tepat jatuh di titik identik dimana jika jatuh di titik ini akan memberi kesan satu benda.