Anda di halaman 1dari 17

HADIS-HADIS TENTANG TOLERANSI ANTARA SUAMI

DAN ISTRI DALAM MASALAH RANJANG


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Maanil Hadis
Dosen Pengampu : Indal Abror
Disusun Oleh :
FAUZAN AZIMA (05530005)
JURUSAN TAFSIR HADIS
FAKULTAS USHULUDIN
UNIVESITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2008
HADIS-HADIS TENTANG TOLERANSI ANTARA SUAMI
DAN ISTRI DALAM MASALAH RANJANG
A. Takhrij Hadis
Dalam mencari hadis-hadis tentang laknat malaikat pada perempuan yang pergi
dari tempat tidur suaminya, seperti yang telah diberikan oleh dosen pengampu, penulis
menggunakan metode takhrij hadis bi alfazh, yaitu mencari hadis dengan mengguaka
beberapa kata yang terdapat didalam matan hadis.
Setelah melakukan takhrij dengan menggunakan software Maktabah Syamilah
dengan kata kunci daa ar rajulu ( ), hajiratan firasy ( ), dan
laanatuha al malaikah ( ) ditemukan 16 hadis dalam Kutubu at Tisah.
Adapun hadis-hadis tersebut adalah :
1. Hadis riwayat Bukhari, kitab ( ), bab ( :
) no 3065 :
:
:

2. Hadis Riwayat Bukhari, kitab ) ( , bab ) ( no 4897 :

:

3. Hadis Riwayat Bukhari, kitab ) ( , bab ) ( no 4898 :
:
:
4. Hadis riwayat Muslim, kitab () bab ( ) no 1433 :

:

5. Hadis riwayat Muslim, kitab () bab ( ) no 1434 :

:

6. Hadis riwayat Muslim, kitab () bab ( ) no 1435 :

:

7. Hadis riwayat Muslim, kitab () bab ( ) no 1436 :


:

8. Hadis riwayat Abu Daud, kitab () bab ( ) no 2141 :
:
:

9. Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal, kitab ( ) bab ( ) no 8526
:

:
10. Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal, kitab ( ) bab ( ) no 9001
:

:

11. Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal, kitab ( ) bab ( ) no 9669
:

:

12. Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal, kitab ( ) bab ( ) no
10046 :


:
13. Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal, kitab ( ) bab ( ) no
10230 :

:

14. Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal, kitab ( ) bab ( ) no
10742 :

:

15. Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal, kitab ( ) bab ( ) no
10959 :

:
16. Hadis riwayat ad Darimiy, kitab () bab ( ) no 2288 :

:
B. Klasifikasi Matan Hadis
Setelah mengumpulkan (takhrij) hadis dari berbagai kitab hadis dengan lafazh yang
berbeda-beda, maka penulis akan memetakan lafazh-lafazh yang berbeda tersebut dalam
tabel berikut :
1. Hadis yang menggunakan syarat marah dan tidak ridhanya suami adalah :
No Lafazh Riwayat
1

Bukhari, no 7065
Muslim, no 1436
Abu Daud, no 2141
Ahmad bin Hanbal, no 9669
2

Ahmad bin Hanbal, no 10230


3

Muslim, no 1435
2. Hadis yang menggunakan kata yang menunjukkan waktu sampai subuh, sampai ia
kembali / pulang adalah :
No Lafazh Riwayat
1

Bukhari, no 3065 dan 4897
Muslim, no 1433 dan 1436
Abu Daud, no 2141
Ahmad bin Hanbal, no 9669 dan
10230
2

Bukhari, no 4898
Muslim, no 1434
Ahmad bin Hanbal, no 9001, 10046,
10742 dan 10959
Ad Darimiy, no 2288
Selain itu, jika diteliti dengan jelas dan seksama maka akan kelihatan sekali metode
gramatikal dan susunan kalimat yang digunakan Nabi saw sangat singkat tetapi padat
dan kaya akan makna. Hal itu terbukti dengan hadirnya beberapa makna dan nilai-nilai
universal yang bisa ditangkap. Dan di dalam lafadz hadits-hadits diatas Nabi saw
mempergunakan lafadz tamsil, mengajak ke tempat tidur. Dan ini mengindikasikan
bahwa bahasa Nabi sangat simbolik dan sangat bernilai estetika. Nabi saw tidak vulgar
dalam menyebutkan hal-hal yang bersifat hubungan suami istri, bahkan membawanya ke
dalam bahasa yang sangat indah, mudah dipahami dan mudah dicerna.
C. Klasifikasi Sanad Hadis
Setelah melihat rangkaian sanad Hadis-hadis tentang laknat malaikat kepada
perempuan yang pergi dari suaminya dengan menggunakan software Maushuah al
Hadis al Syarif, didapati bahwa seluruh riwayat berakhir kepada Abu Hurairah yang
kemudian bersambung kepada Nabi saw. Adapun rangkaian sanad pada hadis-hadis
tersebut akan penulis kelompokkan dalam tabel berikut :
Nomor Tingkatan Rawi Nama Perawi
1 Abdurrahman bin Shakhar
2 Salman Maula Izzah, Zurarah bin Aufiy
3 Sulaiman bin Mahran, Qatadah bin Diamah, Yazid bin
Kaysan.
4
Wadhah bin Abdullah, Syubah bin al Hajjaj, Abdullah
bin Numair, Waki bin al Jarrah, Muhammad bin
Khazim, Abdullah bin Daud, Muhammad bin Maymun,
Jarir bin Abdul Hamid, Hamam bin Yahya, Marwan
bin Muawiyah.
5
Musaddad bin Musarhad, Muhammad bin Ibrahim,
Muhammad bin Amru, Muhammad bin Jafar, Khalid
bin al Harits, Abdul Shamad bin Abdul Warits,
Sulaiman bin Daud, Hasyim bin Al Qasim, Muhammad
bin Ararah, Bahaz bin Asad, Yazid bin Harun, Hajjaj
bin Muhammad, Affan bin Muslim, Muhammad bin
Yahya.
6 Muhammad bin Basyar, Muhammad bin al Mutsanna,
Yahya bin Habib.
D. Analisa Matan Hadis
Setelah mengetahui lafazh-lafazh yang berbeda dalm hadis-hadis diatas dan
memetakannya ke dalam dua kelompok, maka penulis mendapatkan kata-kata dalam
matan hadis-hadis tersebut untuk dianalisa. Adapun matan-matan itu antara lain : marah
(), jengkel (), dan ridha () dalam kategori marah dan ridhanya suami. Dan
kata-kata : sampai subuh ( ) dan sampai ia kembali / pulang ( ) dalam
kategori waktu berlangsungnya laknat malaikat.
1) Marah dan Tidak Ridhanya Suami
Dalam Lisanul Arab dijelaskan bahwa ghadhbaan adalah kebalikan dari ridha, yaitu
marah atau tidak senang terhadap sesuatu atau perbuatan tertentu. Dan marahnya
langsung terjadi begitu saja secara spontan ketika sesuatu yang tidak disukainya terjadi.
1
Sedangkan kata saakhitun adalah isim fail dari kata sakhatha yang berarti lawan
kata dari ridha yaitu marah atau jengkel, benci kepada sesuatu atau perbuatan tertentu.
Jadi saakhithun artinya adalah orang marah atau jengkel terhadap suatu perbuatan yng
tidak disukainya. Saakhtaha juga bisa berarti marah terhadap sesuatu yang melanggar
peraturan tertentu sehingga bisa dijatuhi hukuman.
2
Kata yardha merupkan fiil mudhari dari kata ridha yang artinya perbuatan tersebut
sedang atau akan terjadi. Ridha artinya adalah lawannya marah dan jengkel. Yaitu
menerima dan memaafkan perbuatan yang tidak disenangi atau melanggar aturan yang
terjadi kepada dirinya agar orang yang melakukannya terlepas dari hukuman.
3
Abu Awanah mengatakan dari al Amasy dengan adanya penambahan kata-kata
sehingga timbullah rasa marah kepada istrinya menjadi syarat terjadinya laknat. Karena
bisa saja sang istri menolak ajakan suaminya itu karena ada uzur tertentu dan suaminya
1
Al Mishriy, Muhammad bin Mukarram bin Munzur, Lisanul Arab, Dar Shadr, Beirut, 1996, juz 1, hal.
648
2
Ibid, juz 7 hal. 314
3
Ibid, juz 14 hal. 323
bisa memahami keadaan istrinya sehingga sang suami tidak menjadi marah, sehingga
laknat malaikat tidak jatuh kepada wanita tersebut. Dan adapun tentang hadis dari
Zurarah : Apabila seorang istri dengan sengaja meninggalkan tempat tidur suaminya,
tidaklah dimaksudkan sesuai dengan arti zahirnya yaitu meninggalkan. Tetapi yang
dimaksudkan hadis ini adalah memutuskan hubungan dengan suami lalu
meninggalkannya. Akan tetapi jika si istri minggat karena dianiaya oleh suaminya, maka
ia tidak mendapatkan dosa.
4
2) Hingga Shubuh atau Hingga Istri Kembali / Pulang kepada Suaminya
Kata tushbih diambil dari kata shubhu yang berarti terbitnya fajar sebagai awalnya
hari. Shubhu atau subuh adalah lawan dari sore, yaitu pagi hari. Bisa juga berarti
munculnya cahaya.
5
Kata-kata seperti ini sering digunakan untuk menunjukkan waktu
bagi orang Arab dan juga sudah diadopsi oleh orang-orang Indonesia. Subuh biasanya
adalah waktu untuk memulai suatu pekerjaan dan kebaliknnya yaitu sore adalah waktu
untuk mengakhiri sebuah pekerjaan.
Dalam bahasa Arab, kata tarjiu adalah bentuk fiil mudhari dari kata rajaa
sebagai kata ganti orang ketiga perempuan yang berarti pulang. Kata rajaa bisa juga
berarti kembali. Misalnya dalam suatu riwayat ada orang yang ingin pulang dari maut,
yaitu kembali ke dunia yang sudah ditinggalkannya.
6
Ibnu Abi Jamrah berkata : Tempat tidur adalah sebuah ungkapan untuk melakuka
jima. Hadis tersebut menjelaskan kekhususan pada laknat malaikat yang terjadi hanya
4
Al Asqalaniy, Ahmad bin Ali bin Hajar. FathulBari, Darul Marifah, Beirut, 1968, juz 9, hal. 294
5
Al Mishriy, Muhammad bin Mukarram bin Munzur, Lisanul Arab, Dar Shadr, Beirut, 1996 , juz 2 hal.
502
6
Ibid, juz 8 hal. 114
pada malam hari sesuai dengan sabda Nabi sampai subuh. Sudah menjadi adat pada
malam hari suami-istri melakukan jima karena kesunyian malam sangat mendukung
untuk melakukannya. Dan tidaklah lazim bagi seorang istri diperbolehkan untuk enggan
melakukannya pada siang hari sedangkan pada malam harinya ia gunakan untuk berzikir
sesuai sangkaannya.
7
Sedangkan penggunaan kata pulang atau kembali tidak terbatas pada waktu-waktu
tertentu dan bisa terjadi kapan saja. Jikalau pada kata tushbiha kesalahan yang dilakukan
oleh istri dikhususkan pada malam hari dan malaikat melaknatnya hingga subuh. Dan
pada kata tarjiu, kesalahan itu bisa terjadi pada siang atau malam hari, tidak dikhususkan
pada satu waktu tertentu. Begitu juga laknat malaikat akan terus ditimpakan kepadanya
sampai ia kembali lagi kepada suaminya, bisa dengan memenuhi ajakannya atau kembali
ke kamar suaminya apabila sudah pisah ranjang. Dan penggunaan kata ini sama dengan
penggunaan kata ridha yang tidak berkaitan dengan waktu secara khusus, akan tetapi
lebih berkaitan pada kesadaran dan kedewasaan antara suami dan istri tentang hak dan
kewajibannya serta saling memahami antara yang satu dengan yang lainnya.
E. Konteks Turunnya Hadis
Sebab turunnya hadis (asbab al wurud al hadis) bisa dilihat secara makro dan
mikro. Mikro adalah sebab langsung yang membuat Nabi saw mengeluarkan sebuah
perkataaan, perbuatan atau taqrir; baik hal itu disebabkan oleh pertanyaan shahabah
ataupun karena wahyu serta karena Nabi melihat sesuatu. Dan sebab makro adalah
7
Opcit.
kondisi masyarakat pada saat Nabi mengeluarkan hadis, baik kebudayaan, adat istiadat
ataupun prilaku masyarakat pada saat itu.
Hadis tentang laknat malaikat kepada isteri yang menolak ajakan suaminya untuk
melakukan jima ini tidak ditemukan sebab mikronya. Akan tetapi besar
kemungkinannya hal ini terjadi karena adanya sebuah budaya masyarakat pada sat itu
yang disebut dengan Pantang Ghilah. Ghilah adalah berhubungan dengan isteri yang
sedang hamil dan menyusui.
8
Mereka beranggapan bahwa ghilah adalah sesuatu yang
tabu untuk dilakukan, padahal Islam membolehkan untuk bercumbu dengan istri ketika
sedang hamil dan menyusui (masa nifas) kecuali jima (intercourse).
Ketika Islam datang pada masyarakat jahiliah, poligami diperketat dengan syarat-
syarat tertentu sehingga apabila hanya beristri satu sedangkan ghilah masih
dipertahankan, hal ini tentu akan sangat menyulitkan bagi para suami.
9
Oleh karena itu,
Nabi saw sebagai penyampai risalah dan teladan yang baik bagi umatnya ingin merubah
kebiasaan ini dengan mengeluarkan hadis seperti diatas agar wanita Arab bisa
memberikan toleransi kepada suaminya dengan tidak memakai budaya pantang ghilah
lagi.
8
Ilyas, Hamim Dkk, Perempuan Tertindas (kajian hadis-hadis misoginis), PSW IAIN Suka dan The Ford
Foundation, Yogyakarta, 2003, hal. 223
9
Ibid, lihat juga M. Amin Abdullah, Studi Agama (normativitas atau historisitas), Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 1996.
Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat ditarik beberapa tema komprehensif dari hadits-
hadits yang telah disebutkan, yaitu :
a. Saling pengertian dan memahami antara suami istri.
b. Larangan bersikap marah dan membenci, karena hanya akan merusak kehidupan.
c. Kecendrungan laki-laki untuk terlebih dahulu mengajak istrinya berhubungan.
d. Suami menguasai dan pemilik harta dan rumah.
e. Ketaatan seorang istri terhadap suami.
Dan penulis menarik beberapa kesimpulan untuk mengetahui makna yang jelas dari
hadis-hadis diatas. Kesimpulan itu meliputi kesimpulan bahasa, kaedah pengggunaan
hadis tersebut (konteks hadis), problem masyarakat sekarang yang berkaitan dengan
hadis tersebut, serta kritik dari penulis terhadap pemakaian makna hadis tersebut.
Secara bahasa, hadis diatas menggunakan beberapa kata yang berbeda didalam
menyampaikan maksud yang sama. Yang pertama adalah dengan menggunakan kata
ajakan ( ), yaitu mengajak dengan penuh sopan santun dan bijak serta mengetahui
kondisi orang yang diajak, seperti firman Allah dalam surah an Nahl ayat 125. Yang
kedua adalah kata enggan (), yaitu menolak dengan kasar dan penuh rasa tidak senang
kepada orang yang ditolak, seperti firman Allah dalam surah al Baqarah ayat 34.
10
Yang
ketiga adalah kata marah (), yaitu suami merasa tidak senang dan sakit hati kepada
istrinya karena istrinya tidak mau menuruti keinginannya. Yang terakhir adalah waktu
terjadinya laknat ( / ), yaitu peristiwa laknat tersebut hanya terjadi dalam
10
Ibid, hal. 228-229
jangka waktu tertentu dan tidak selamanya. Dari penjelasan kata-kata diatas dapat
diketahui bahwasanya laknat malaikat akan jatuh kepada seorang istri apabila istri
tersebut menolak ajakan suaminya untuk berhubungan badan dengan kasar dan rasa tidak
senang kepada suaminya, padahal suaminya sudah mengajak istrinya dengan baik dan
sopan dan mengetahui bahwa si isteri tidak mempunyai udzur syari dan kondisinya juga
bagus untuk melakukan hubungan tersebut serta laknat tersebut terjadi dalam waktu yang
tidak lama.
Dari penjelasan tentang konteks hadis diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya
hadis ini ingin menyadarkan kaum wanita agar tidak melarang suami yang ingin
bercumbu dengannya sekalipun dia dalam kondisi hamil dan menyusui. Selama apa yang
dinginkan oleh sang suami tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka sang isteri
harus menurutinya. Tetapi dengan catatan bahwa sang suami telah mengajaknya dengan
sopan dan mengerti kondisi istrinya.
Adapun keadaan masyarakat sekarang khususnya di Indonesia, sering terjadi
tindakan-tindakan kriminal yang disebabkan oleh kurangnya pengertian antara suami dan
isteri dalam hubungan seks. Banyak istri yang dianiaya oleh suaminya karena mereka
menolak ajakan suaminya untuk melakukan hubungan badan, dan tidak sedikit istri-istri
yang selingkuh dengan lelaki lain hanya karena hasratnya tidak terpuaskan. Hal ini
tentunya bertentangan dengan Islam yang mengajarkan untuk berbuat baik dan saling
menghormati antara suami dan istri. Apalagi dengan adanya hadis diatas yang berbentuk
khabariyah (berita), ini tentunya menjadi sebuah pedoman antara muslim dan muslimah
yang sudah menikah didalam bergaul dengan pasangannya. Dan keadaan-keadaan buruk
diatas tidak akan terjadi seandainya orang-orang yang sudah menikah bisa memahami
pikiran dan perasaan antara yang satu dengan yang lainnya. Selain itu Islam juga telah
mengajarkan tentang adab-adab dalam berhubungan suami istri. Dan juga banyak sekali
buku-buku dan kitab-kitab yang memuat pedoman seperti itu, seperti kitab Uqud al
Lujjain yang khusus membahas tentang masalah pernikahan.
Dari pembahasan diatas, penulis dapat memahami bahwasanya maksud dari hadis
tersebut tidaklah cukup dipahami secara tekstual saja yang mana terkesan seperti
mendiskreditkan wanita karena secara teks hadis tersebut tertuju kepada wanita. Akan
tetapi setelah dilakukan analisis secara bahasa dan konteks serta melihat realitas yang
ada, penulis ingin menyampaikan bahwasanya hadis tersebut tertuju kepada suami dan
istri. Hal ini terlihat dari analisis bahasa yang mana sang suami didalam mengajak
istrinya untuk berhubungan, hendaklah dengan cara yang halus dan sopan serta paham
bahwa istrinya tidak mengalami kondisi-kondisi yang tidak memungkinkannya untuk
memenuhi ajakan suaminya. Kondisi itu bisa berupa kelelahan, sakit, mempunyai
masalah pribadi, haid dan nifas, serta kondisi mental yang tidak stabil. Dan sang istri juga
dituntut untuk bersikap baik dengan suaminya. Jikalau ada hal-hal yang menyebabkan ia
tidak bisa memenuhi ajakan suaminya, hendaklah disampaikan dengan cara yang sopan
dan menyenangkan hati agar suaminya tidak merasa jengkel atau marah kepadanya dan
bisa memahami keadaan istrinya pada saat itu. Sedangkan dengan melihat realitas yang
ada, penulis memahami bahwasanya salah satu penyebab tidak harmonisnya rumah
tangga adalah faktor kepuasan lahir (fisik). Hal ini bisa saja terjadi karena kurangnya
keterbukaan antara suami dan istri didalam mengutarakan kekurangan dan masalah yang
terdapat dalam hubungan mereka berdua. Oleh karena itu, hendaklah diantara suami dan
istri tidak ada rahasia pribadi sehingga apabila terdapat suatu masalah dalam rumah
tangga mereka, bisa diselesaikan dengan cara yang baik dan menyenangkan. Sikap
toleransi antara suami dan istri bisa menambah erat ikatan yang sudah ada sehingga
timbullah keharmonisan keluarga yang nantinya bisa membawa pernikahan tersebut
menuju pernikahan yang sakinah, mawaddah wa rahmah.
DAFTAR PUSTAKA
Software Maktabah Syamilah
Software Maushuah al Hadis al Syarif
E Book Shahih Bukhari
E Book Shahih Muslim
Terjemahan Shahih Muslim, Pustaka al Husna, Jakarta, 1980, jilid 2, cetakan 1
Kamus Arab-Indonesia, Kashiko, Surabaya, 2000, cetakan 1
Ilyas, Hamim Dkk, Perempuan Tertindas (kajian hadis-hadis misoginis), PSW IAIN
Suka dan The Ford Foundation, Yogyakarta, 2003