Anda di halaman 1dari 86

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Kesehatan merupakan keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Kesehatan adalah hak asasi manusia yang merupakan hak fundamental bagi setiap warga yang sudah selayaknya diwujudkan oleh negara. Dalam upaya pembangunan kesehatan, terdapat berbagai tantangan yang merintangi hal tersebut, seperti masalah demografi, masalah upaya peningkatan derajat kesehatan, masalah beban ganda penyakit secara regional maupun global. Permasalahan yang terjadi perlu mendapat dukungan dari tenaga kesehatan yang profesional serta kemandirian masyarakat sebagai basis utama yang dapat memberikan kontribusi yang bermakna bagi penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah semata tanpa adanya bantuan atau pertolongan dari pihak lain, atau bahkan sasaran yakni masyarakat itu sendiri. Masyarakat sebagai sasaran dari program perencanaan promosi kesehatan pun harus dilibatkan aktif dalam program tersebut. Tanpa adanya dukungan dari masyarakat yang berperan sebagai sasaran, program perencanaan promosi kesehatan tidak akan sukses. Status kesehatan masyarakat merupakan hal penting yang harus selalu ditingkatkan untuk tercapainya MDGs 2015. Terkait dalam hal ini masyarakat yang sedang diidentifikasi adalah masyarakat Desa Temenggungan Kecamatan

Krejengan Kabupaten Probolinggo. Berdasarkan data riskesdas, Kabupaten Probolinggo mempunyai tingkat IPM yang rendah di jawa timur maupun nasional, oleh karena itu perlu dilakukan intervensi terhadap masyarakat yang bertempat tinggal di Kabupaten Probolinggo. Dalam melakukan intervensi, perlu dilakukan identifikasi masalah di masing-masing desa yang ada di Kabupaten Probolinggo. Sehingga masalah yang ada di Kabupaten Probolinggo dapat terselesaikan. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana keadaan masyarakat Desa Temenggungan Kecamatan

Krejengan Kabupaten Probolinggo ? 2. Masalah apa yang ada di masyarakat Desa Temenggungan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo ? 3. Program apa yang tepat untuk mengatasi masalah yang di masyarakat Desa Temenggungan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo ? 1.3 Tujuan 1. Tujuan Umum Mempelajari karakterisitik masyarakat, mengidentifikasi,

memprioritaskan masalah kesehatan masyarakat serta memberikan rencana intervensi masalah kesehatan di Desa Temenggungan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. 2. Tujuan Khusus 1. Mempelajari dan mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat di desa Temenggungan, kecamatan Krejengan, kabupaten Probolinggo. 2. Memprioritaskan masalah kesehatan masyarakat di desa

Temenggungan, kecamatan Krejengan, kabupaten Probolinggo.

3.

Menyusun kesehatan

rencana di Desa

intervensi

berdasarkan

prioritas

masalah

Temenggungan,

Kecamatan

Krejengan,

Kabupaten Probolinggo. 1.4 Manfaat 1. Manfaat untuk penyusun Dalam penulisan tugas ini, manfaat yang didapat bagi penyusun adalah untuk lebih memahami tentang bagaimana calon sarjana kesehatan masyarakat dalam menambah wawasan dan keterampilan dalam menganalisa kebutuhan masyarakat Indonesia dalam bidang kesehatan dengan melakukan perencanaan promosi kesehatan menggunakan pendekatan PRECEDE-PROCEED. Penulisan tugas ini juga menambah ketrampilan penulis untuk menyusun sebuah makalah dan mencari serta mengakses informasi. 2. Manfaat untuk pembaca Dalam penyusunan makalah ini penulis berharap pembaca mampu menangkap isi dari makalah guna menambah pengetahuannya atau

pembaca dapat menilai makalah yang telah disusun untuk memberi penilaian dan masukan yang membangun bagi penulis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Model precede-prooced Model Precede-Prooced merupakan model yang dikembangkan oleh Green dan Kreuter (1991) pada tahun 1980. Model preceed-prooced adalah model yang sesuai diterapkan dengan perencanaan dan evaluasi promosi kesehatan. Precede merupakan kerangka untuk membantu perencana mengidentifikasi masalah, mulai dari kebutuhan pendidikan sampai pengembangan program. Dalam aplikasinya, Precede-Proceed dilakukan bersama-sama dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Precede digunakan pada fase diagnosis masalah, penetapan prioritas dan tujuan program, sedangkan Proceed digunakan untuk menetapkan sasaran dan kriteria kebijakan, pelaksanaan, dan evaluasi. Langkah langkah perencanaan promosi kesehatan yaitu fase pertama adalah diagnosis sosial, fase kedua diagnosis epidemiologi fase ketiga diagnosis perilaku dan lingkungan, fase keempat diagnosis pendidikan dan organisasional, fase kelima diagnosis kebijakan dan administrasi, fase keenam implementasi, fase ketujuh evaluasi proses, fase kedelapan evaluasi dampak, dan yang terakhir adalah fase sembilan yaitu evaluasi hasil. Berikut kerangka Precede-Proceed dalam menentukan kebutuhan promosi kesehatan

Gambar 2.1 kerangka Precede-Proceed Kemudian gambar selanjutnya adalah indikator, dimensi, dan hubungan diantara faktor-faktor yang diidentifikasi pada fase 1,2, dan 3 pada kerangka Precede Proceed.

Gambar 2.2 indikator, dimensi, dan hubungan Precede-Proceed


5

2.1.1 Fase 1 (Diagnosis Sosial) Diagnosis sosial adalah proses menentukan persepsi masyarakat terhadap kebutuhannya dan aspirasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya, melalui partisipasi dan penerapan berbagai informasi yang didesain sebelumnya. Untuk mengetahui masalah sosial, digunakan indikator sosial seperti pada gambar 2. Penilaian dapat dilakukan atas dasar data sensus, vital statistik yang ada seperti angka kematian ibu, atau pengumpulan data secara langsung ke masyarakat. Apabila data langsung dikumpulkan dari masyarakat, cara pengumpulan data yang dapat dilakukan adalah wawancara dengan informasi kunci, forum yang ada di masyarakat, FGD (Focus Group Discussion), NGT (Nominal Group Technique), dan survey. 2.1.2 Fase 2 (Diagnosis Epidemiologi) Pada fase ini, siapa atau kelompok mana yang terkena masalah kesehatan (umur, jenis kelamin, lokasi, dan suku) diidentifikasi. Disamping itu, dicari pula bagaimana pengaruh atau akibat dari masalah kesehatan tersebut (mortalitas, morbiditas, disabilitas, tanda dan gejala yang timbul) dan cara menanggulangi masalah tersebut (imunisasi, perawatan atau pengobatan, modifikasi lingkungan atau perilaku). Informasi ini sangat penting untuk menetapkan prioritas masalah, yang didasarkan pada pertimbangan besarnya masalah dan akibat yang ditimbulkan serta kemungkinan untuk diubah. Prioritas masalah harus tergambar pada tujuan program. 2.1.3 Fase 3 (Diagnosis Perilaku dan Lingkungan)

Pada fase ini, masalah perilaku dan lingkungan yang mempengaruhi perilaku dan status kesehatan masyarakat yang diidentifikasi. Penting bagi promotor kesehatan untuk membedakan masalah yang dapat dikontrol oleh individu atau harus dikontrol oleh institusi. Promotor kesehatan juga perlu membedakan antara masalah perilaku dan masalah nonperilaku yaitu lingkungan. Indikator masalah perilaku dan lingkungan dapat dilihat pada gambar 2. Langkah langkah dalam melakukan diagnosis perilaku dan lingkungan, yaitu 1) memisahkan faktor perilaku dan nonperilaku (lingkungan) sebagai penyebab masalah kesehatan, 2) mengidentifikasi perilaku yang dapat dicegah dan perilaku yang berhubungan dengan tindakan perawatan atau pengobatan. Untuk faktor lingkungan, melakukan eliminasi terhadap faktor lingkungan yang tidak dapat diubah (misalnya, faktor genetik dan demografi), 3) mengurutkan masalah perilaku dan lingkungan berdasarkan pengaruh terhadap kesehatan, 4) mengurutkan masalah perilaku dan lingkungan berdasarkan kemungkinan untuk diubah, 5) menetapkan masalah perilaku dan lingkungan yang menjadi sasaran program. Setelah itu, tetapkan tujuan perubahan perilaku dan lingkungan yang ingin dicapai program. 2.1.4 Fase 4 (Diagnosis Pendidikan dan Organisasional) Diagnosis pendidikan dan organisasional dilakukan berdasarkan determinal perilaku yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat, yaitu 1) faktor predisposisi (predisposing factor), meliputi pengetahuan, sikap, motivasi persepsi, kepercayaan, dan nilai yang diyakini seseorang 2) faktor pendorong (enabling factor), yaitu faktor lingkungan yang

memfasilitasi perilaku seseorang, dan 3) faktor penguat (reinforcing factor), yaitu perilaku orang lain yang berpengaruh (toma, toga, guru, petugas kesehatan, orang tua, pemegang kekuasaan) yang dapat menjadi pendorong seseorang untuk berperilaku. Langkah selanjutnya adalah menetapkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai berdasarkan faktor predisposisi yang telah diidentifikasi, dan menetapkan tujuan organisasional berdasarkan faktor penguat dan faktor pendorong yang telah diidentifikasi melalui upaya pengembangan organisasi dan sumber daya. 2.1.5 Fase 5 (Diagnosis Administrasi dan Kebijakan) Pada fase ini dilakukan analisis kebijakan, sumber daya, dan peraturan yang berlaku yang dapat memfasilitasi atau menghambat pengembangan program promosi kesehatan. Pada diagnosis administrasi dilakukan tiga penilaian, yaitu sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan pelaksanaan program, sumber daya yang terdapat di organisasi dan masyarakat, serta hambatan pelaksanaan program. Sedangkan pada diagnosis kebijakan dilakukan identifikasi dukungan dan hambatan politis, peraturan dan organisasional yang memfasilitasi program serta pemgembangan lingkungan yang dapat mendukung kegiatan masyarakat yang kondusif bagi kesehatan. Pada fase ini, promotor melangkah dari perencanaan dengan Precede ke implementasi dan evaluasi dengan Proceed. Precede digunakan untuk meyakinkan bahwa program akan sesuai dengan kebutuhan dan keadaan individu atau masyarakat sasaran. Sebaliknya Proceed untuk meyakinkan

bahwa program akan tersedia, dapat dijangkau, dapat diterima, dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, penilaian sumber daya dibutuhkan untuk meyakinkan keberadaan program, perubahan

organisasional untuk meyakinkan program dapat dijangkau, perubahan politis dan peraturan untuk meyakinkan program dapat diterima oleh masyarakat, dan evaluasi untuk meyakinkan program dapat

dipertanggungjawabkan

kepada

penentu

kebijakan,

administrator,

konsumen atau klien, stakeholder terkait. Hal ini dilakukan untuk menilai kesesuaian program dengan standar yang telah ditetapkan. Data yang dibutuhkan untuk perencanaan promosi kesehatan dapat diperoleh dari berbagai sumber berikut : a. b. c. d. Dokumen yang ada Langsung dari masyarakat Petugas kesehatan di lapangan Tokoh masyarakat

2.1.6 Fase 6 (Implementasi) 1. Pengertian Implementasi Menurut Implementasi Hanifah Kebijakan Harsono dan dalam bukunya yang berjudul

Politik

mengemukakan

pendapatnya

mengenai implementasi atau pelaksanaan sebagai berikut : Implementasi adalah suatu proses untuk melaksanakan kebijakan menjadi tindakan kebijakan dari politik ke dalam administrasi. Pengembangan kebijakan dalam rangka penyempurnaan suatu program (Harsono, 2002:67).

Berkaitan

dengan

faktor

yang

mempengaruhi

implementasi

kebijakan suatu program, Subarsono dalam bukunya yang berjudul Analisis Kebijakan Publik (Konsep, Teori dan Aplikasi), mengutip pendapat G. Shabbir Cheema dan Dennis A. Rondinelli mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan program-program pemerintah yang bersifat desentralistis. Faktor- faktor tersebut diantaranya: 1) Kondisi lingkungan Lingkungan sangat mempengaruhi implementasi kebijakan, yang dimaksud lingkungan ini mencakup lingkungan sosio kultural serta keterlibatan penerima program. 2) Hubungan antar organisasi Dalam banyak program, implementasi sebuah program perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lain. Untuk itu diperlukan koordinasi dan kerjasama antar instansi bagi keberhasilan suatu program. 3) Sumberdaya organisasi untuk implementasi program Implementasi kebijakan perlu didukung sumberdaya baik

sumberdaya manusia (human resources) maupun sumberdaya nonmanusia (non human resources). 4) Karakteristik dan kemampuan agen pelaksana Yang dimaksud karakteristik dan kemampuan agen pelaksana adalah mencakup struktur birokrasi, norma-norma, dan pola-pola hubungan yang terjadi dalam birokrasi, yang semuanya itu akan mempengaruhi implementasi suatu program. ( Subarsono, 2005:101).

10

Berdasarkan pendapat dari G. Shabbir Cheema dan Dennis A. Rondinelli tersebut terdapat faktor yang menentukan keberhasilan suatu implementasi kebijakan yang diterapkan. Apabila kita ingin mengetahui kebijakan yang diterapkan, kegagalan atau keberhasilannya bisa diukur oleh faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kebijakan. Pemerintah pusat dalam melaksanakan kebijakan dapat melakukan upaya untuk mendorong pemerintahan daerah dalam program-program pembangunan dan

pelayanan yang sejalan dengan kebijaksanaan nasional. Khususnya untuk membantu pembiayaannya, pemerintah pusat bisa memberi bantuan berbentuk subsidi yaitu transfer dana dari anggaran dan pembukuan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Alokasi oleh pemerintah pusat kepada pemerintahan daerah mengandung tujuan yang berbedabeda yang mempengaruhi bentuk dan lingkupannya. Pengertian subsidi dikemukakan oleh Subarsono dalam bukunya yang berjudul Analisis Kebijakan Publik (Konsep, Teori dan Aplikasi). Yang dimaksud subsidi adalah semua bantuan finansial pemerintah kepada individu, perusahaan, dan organisasi. Maksud dari subsidi adalah untuk memberikan bantuan pembiayaan terhadap berbagai aktivitas (Subarsono, 2005:109). 2. Teori Dignan Program perencanaan promosi kesehatan yang lain yaitu menurut teori Dignan adalah : a. Community Analysis

11

Menganalisis bagaimana keadaan komunitas tersebut. Meliputi pendidikan, pekerjaan, umur, keadaan geografis, yang nantinya akan difokuskan pada satu masalah kesehatan. b. Targeted Assessment Target yang akna dicapai dalam program ini sebagai bentuk berhasil atau tidaknya program yang dijalankan ini. c. Program Plan Development Fase ini yaitu program plan development akan disusun melalui tahap : 1) Mengambil perencanaan anggota group (recruit planning group members) 2) Mengembangkan tujuan program (develop program goals) 3) Mengembangkan objektif untuk tujuan (develop objectives for goals) 4) Menggali sumber dan hambatan (select method and activities) 5) Memilih etode dan kegiatan (select methods and activities) 6) Rencana untuk pelaksanaan (plan for imlemantation) 7) Rencana untuk evaluasi (plan for evaluation) d. Implementation Fase berikutnya adalah implementasi (yang juga merupakan fase keenam dari kerangka procede disusun melalui tahap : 1) Gain acceptance for the program 2) Specify task and estimate resource needs 3) Develop specific plans for program activities

12

4) Establish mechanism for program management 5) Put plans into actions e. Evaluation Tahap evaluasi ini menyatakan berhasil atau tidak target terpenuhi. 2.1.7 Fase 7 (Evaluasi) Evaluasi merupakan suatu proses untuk menentukan relevansi, efisiensi, efektivitas dan dampak kegiatan program atau proyek yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai serta sistematis dan objektif. Soekartawi (1999) dalam Fauziah (2007) mengemukakan bahwa dalam menilai keefektifan suatu program atau proyek maka harus melihat pencapaian hasil kegiatan program atau proyek yang sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Evaluasi adalh suatu proses kontinyu didalam memperoleh dan menginterpretasikan informasi untuk menentukan kualitas dan kuantitas kemajuan peserta didik mencapai tujuan pendidikan yaitu perubahan perilaku Klausmeier dan Goodwin dalam Pangkaurian (2008). Evaluasi juga diartikan sebagai pengukuran dari konsekuensi yang dikehendaki dan tidak dikehendaki dari suatu tindakan yang telah dilakukan dalam rangka mencapai beberapa tujuan yang akan dinilai. Nilai (value) dapat diartikan sebagai setiap aspek situasi, peristiwa/kejadian, atau objek yang dikategorikan oleh suatu preferensi minat ke dalam kriteria: baik, buruk, dikehendaki dan tidak dikehendaki. Departemen Pertanian (1990) mengemukakan jenis evaluasi untuk mengevaluasi suatu program menjadi beberapa macam, antara lain :

13

1. Evaluasi Input Evaluasi input adalah penilaian terhadap kesesuaian antara inputinput program dengan tujuan program. Input adalah semua jenis barang, jasa, dana, tenaga manusia, teknologi dan sumberdaya lainnya, yang bertujuan untuk : Pembentukan Nilai Penentuan Tujuan (Tujuan-Tujuan) Pengukuran Tujuan (Kriteria) Mengidentifikasi Aktivitas Tujuan (Perencanaan Program) Menempatkan Aktivitas Tujuan ke dalam Pelaksanaan (Pelaksanaan Program) Penilaian Pengaruh Pelaksanaan Tujuan (Program Evaluasi) perlu tersedia untuk terlaksananya suatu kegiatan dalam rangka menghasilkan Output dan tujuan suatu proyek atau program. 2. Evaluasi Output Evaluasi Output adalah penilaian terhadap Output-Output yang dihasilkan oleh program. Output adalah produk atau jasa tertentu yang diharapkan dapat dihasilkan oleh suatu kegiatan dari input yang tersedia, untuk mencapai tujuan proyek atau program. Contoh Output adalah perubahan pengetahuan (aras kognitif), perubahan sikap (aras afektif), kesediaan berprilaku (aras konatif) dan perubahan berprilaku (aras psikomotorik). Aras kognitif adalah tingkat pengetahuan seseorang. Aras afektif adalah kecenderungan sikap seseorang yang dipengaruhi oleh

14

perasaanya terhadap suatu hal. Aras konatif adalah kesediaan seseorang berprilaku tertentu yang dipengaruhi oleh sikapnya terhadap suatu hal. Aras tindakan adalah perilaku seseorang yang secara nyata diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari sehingga dapat diwujudkan menjadi suatu pola. 3. Evaluasi Effect (Efek) Evaluasi efek adalah penilaian terhadap hasil yang di peroleh dari penggunaan Output-Output program. Sebagai contoh adalah efek yang dihasilkan dari perubahan perilaku peserta suatu penyuluhan. Efek biasanya sudah mulai muncul pada waktu pelaksanaan program namun efek penuhnya baru tampak setelah program selesai. 4. Evaluasi Impact (Dampak) Evaluasi Impact adalah penilaian terhadap hasil yang diperoleh dari efek proyek yang merupakan kenyataan sesungguhnya yang dihasilkan oleh proyek pada tingkat yang lebih luas dan menjadikan proyek jangka panjang. Evaluasi dapat dipergunakan dengan penggunaan penilaian yang kualitatif.

15

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Gambaran Umum Desa Kecamatan Kabupaten : Temenggungan : Krejengan : Probolinggo

Jumlah penduduk Desa Temenggungan sebanyak 2479 jiwa, yang terbagi menjadi 927 KK. Jumlah penduduk laki-laki yanga ada di Desa Temenggungan sebanyak 1182 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 1297 jiwa. Adapun tingkat pendidikan masyarakat Desa Temenggungan mulai dari yang belum sekolah hingga perguruan tinggi. Kebanyakan dari masyarakat tersebut hanya sampai tingkat SD yaitu sebesar 38%.Rata-rata jenis pekerjaan masyarakat Desa Temenggungan adalah buruh tani. Iklim di Desa Temenggungan sebagaimana Desa lainnya di Kabupaten Probolinggo beriklim tropis, dimana terdapat dua musim yaitu, musim penghujan yang biasanya terjadi pada bulan Oktober hingga bulan April dan musim kemarau yang biasanya terjadi pada bulan April hingga bulan Oktober (Sumber : Kecamatan Krejengan Dalam Angka 2011). Adanya dua iklim ini memberi pengaruh yang signifikan terhadap berbagai pola kehidupan masyarakat yanga ada di Desa Temenggungan seperti, pola penyakit dan pola pertanian. Pada musim penghujan terjadi peningkatan kasus Demam Berdarah dan pola pertanian lebih banyak petani yang menanam padi. Sedangkan pada musim kemarau terdapat peningkatan kasus penyakit dengan gejala batuk pilek dan pola pertanian lebih

16

banyak petani yang menanam tanaman yang tidak membutuhkan banyak air, seperti tebu, singkong, dan kacang-kacangan. 3.2 Pengambilan Data Data yang digunakan adalah data yang diambil dari data yang dikumpulkan, diperoleh dari sumber data primer dan sekunder dari laporan PKL tahun 2012. Pengumpulan data sekunder dilaksanakan pada tanggal 13 Juni 2012 meliputi data dari balai Desa, kecamatan dan Puskesmas. Sedangkan untuk pengumpula data primer dilaksanakan mulai tanggal 13 Juni 2012 hingga 26 Juni 2012

meliputi indepth interview, Kuesioner, Focus Group Discussion, dan Nominal Group Technique. Pengambilan data sekunder dengan cara indepth interview dengan bidan desa, kader posyandu, dan dengan kepala desa. Didapatkan hasil desa Temenggungan memiliki Posyandu dengan persyaratan apabila terdapat minimal 100 balita yang berkunjung untuk memeriksakan kesehatan, perbedaan posyandu dan pos penimbangan, perbedaan kunjungan neonatal murni dengan kunjungan neonatal lengkap, tingkat keberhasilan program KB, cakupan konsumsi vitamin A dan kendalanya, jumlah tenaga kesehatan formal dan informal, kader PMO, peran masyarakat dalam pelaksanaan desa siaga, dan tingkat BGM yang masih rendah. Indepth interview di puskesmas untuk mengetahui pandangan mereka terhadap program yang telah dijalankan dan bagaimana pelaksanaan program tersebut. Tokoh masyarakat dilakukan indepth interview untuk melihat pandangan dan dukungan dari tokoh masyarakat terhadap program-program terkait kesehatan di Desa Temenggungan.

17

BAB IV DIAGNOSIS MASALAH 4.1 Diagnosis Sosial Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada masyarakat Desa Temenggungan diperoleh prioritas permasalahan yang harus segera diselesaikan, yaitu tentang sampah. Permasalahan ini didapatkan dari proses FGD dan NGT yang dimana telah dilakukan penyebaran kuisioner terlebih dahulu kepada masyarakat Desa Temenggungan yang dilakukan secara acak pada setiap KK. Berikut merupakan hasil diagnosis sosial dengan menggunakan indikatorindikator, yaitu: 1. Tingkat Pendidikan Diagram 4.1 Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Temenggungan

Tingkat Pendidikan
Belum Sekolah SLTP Belum Tamat SD SMA 7% 1% 9% 12% 21% 38% 12% Tamat SD Perguruan Tinggi Tidak Tamat SD

Melalui diagram 4.1 dapat diketahui bahwa Sekitar 59% mayoritas tingkat pendidikan masyarakat Desa Temenggungan adalah tamat SD maupun tidak tamat SD. Hal ini tentu berhubungan dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat yang cenderung lebih rendah, sehingga dapat

18

mempengaruhi terhadap status informasi kesehatan yang diterima oleh masyarakat tersebut. Tingkat pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan tergolong rendah karena tingkat pendidikan masyarakat rendah. Tingkat pendidikan yang rendah tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya penduduk yang hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SD. Masyarakat tidak menyadari bahwa permasalahan sampah yang ada sebagai permasalahan utama di Desa Temenggungan, dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan lain, seperti penularan penyakit, gangguan pernapasan, dan lainnya. Rendahnya tingkat pendidikan dapat sebagai pemicu kesadaran

masyarakat dalam pemanfaatan tempat sampah yang ada dan perlakauan terhadap sampah. Berikut adalah diagram perlakuan terhadap sampah di Desa Temenggungan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Diagram 4.2 Perlakuan Terhadap Sampah Organik dan Anorganik

Perlakuan Terhadap Sampah


Perlakuan terhadap sampah organik Perlakuan terhadap sampah anorganik 172 123 76 67 16 Dibiarkan Dibakar 0 1 0 0 Dijual 75

Ditimbun

Diolah

Masyarakat menyatakan bahwa mereka akan membakar sampah, baik sampah organik maupun sampah anorganik. Pembakaran terhadap sampah merupakan tindakan yang sangat tidak disarankan karena dapat menimbulkan

19

pencemaran udara dan gangguan pernapasan. Perlakuan yang salah tersebut sebagai akibat dari tingkat pendidikan yang rendah. 2. Status Ekonomi atau Kesejahteraan Mayoritas mata pencahariaan masyarakat Desa Temenggungan adalah buruh tani yakni sebesar 54,8%, sehingga pendapatan yang diperoleh masyarakat tergolong rendah. Hal ini menyebabkan kebutuhan terhadap kesehatan tidak dapat terpenuhi dengan baik, sehingga kualitas kesehatan pun rendah. Industri yang terdapat di Desa Temenggungan hanya terdiri dari dua jenis, yaitu industri kecil dan industri pada skala rumah tangga. Jumlah industri kecil yaitu 1 industri, sedangkan jumlah industri pada skala rumah tangga yaitu sejumlah 11 industri. Sarana perekonomian yang terdapat di Desa

Temenggungan hanya berjumlah satu unit, yakni KSP (Kopersai Simpan Pinjam). Diagram 4.3 Presentase Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Desa Temenggungan Tahun 2012

Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian


500 400 300 200 100 0 54,8% 9,6% 13,3% 13,3% 2,8%

0,3% 3,6% 1,2% 0,3% 0,8%

Sumber : Data Monografi Desa

20

Berdasarkan diagram dapat diketahui bahwa jumlah penduduk menurut pekerjaan sebagian besar adalah buruh tani 473 jiwa, sedangkan buruh bangunan 114 jiwa, pedagang 115 jiwa, petani 83 jiwa, buruh industri 24 jiwa, pegawai PNS 10 jiwa, pensiunan 7 jiwa, TNI 3 jiwa, pengrajin 3 jiwa, dan peternak 31 jiwa. 3. Budaya Beberapa masyarakat Desa Temenggungan masih memegang teguh kebudayaan yang telah diwariskan dari nenek moyang dahulu atau berasal dari kebiasaan yang telah dilakukan dari dahulu sehingga telah menjadi budaya. Seperti halnya membakar sampah dan membuang sampah di lahan kosong, karena tidak tersedia TPS. 4.2 Diagnosis Epidemiologi Berdasarkan data-data yang ada pada laporan PKL Desa Temenggungan, Kecamatatan Krejengan, Probolinggo masalah kesehatan yang ada yaitu : mengenai perilaku hidup yang tidak sehat seperti membuang sampah sembarangan, buang air besar dan mandi di sungai, minimnya pengetahuan mengenai nikah dini dan ASI Eksklusif serta kurangnya pengenalan terhadap penyakir TBC dan Kusta. 1. Permasalahan Mengenai Sampah Masalah kesehatan mengenai sampah yaitu masyarakat Desa

Temenggungan dalam membuang sampah masih di sungai, pekarangan, dan lahan kosong. Adanya lahan TPS sendiri tidak digunakan secara maksimal dikarenakan tidak ada truk pengangkut sampah. Selain itu juga, masyarakat juga masih kurang memahamai cara pengolahan sampah dan dampak negatif

21

akibat membuang sampah sembarangan. Kebanyakan cara pengolahan sampah yaitu dengan membakar sampah. Penyebab hal tersebut adalah masih rendahnya pengetahuan masyarakat Desa Temenggungan karena rata rata tingkat pendidikan masyarakat adalah tamat SD dan tidak tamat SD. Permasalahan sampah ini bisa berdampak bagi seluruh masyarakat Desa Temenggungan. Dampak negatif yang bisa timbul adalah sampah menumpuk dan bisa menyebabkan timbulnya penyakit, adanya penyakit menyangkut ISPA akibat pembakaran sampah serta dampak menyebabkan banjir jika sampah terus menerus dibuang ke sungai. Solusi untuk permasalahan sampah ini antara lain melakukan pelatihan dan pemberian informasi mengenai pengolahan sampah mulai dari komposting untuk sampah organik dan kerajinan tangan untuk sampah anorganik serta pengadaan truk sampah untuk memaksimalkan penggunaan TPS. 2. Permasalahan Mengenai Jamban Masalah kesehatan mengenai jamban yaitu kebiasaan masyarakat Desa Temenggungan yang masih suka buang air, cuci baju dan mandi di sungai. Adanya jamban tidak digunakan secara maksimal karena mereka

menganggap bahwa buang air di sungai lebih nyaman. Penyebab hal ini adalah kurangnya pengetahuan mengenai buang air di sungai dan dampak yang akan timbul jika buang air di sungai. Dampak dari perilaku buang air di sungai dan tidak menggunakan jamban akan berdampak bagi seluruh masyarakat Desa Temenggungan. Perilaku ini dapat menimbulkan banyak penyakit dan penularan penyakit semakin cepat menular. Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan edukasi

22

mengenai dampak buang air sembarang dan pembuatan jamban yang lebih banyak dan nyaman seta pengadaan air bersih yang mencukupi untuk mandi dan cuci baju. 3. Permasalah Mengenai TBC dan Kusta Masalah yang berkaitan dengan TBC dan Kusta adalah ada beberapa masyarakat yang terkena TBC namun malu dan gengsi untuk berobat sehingga sulit untuk menemukan penderita TBC serta masyarakat lebih takut terhadap penyakit kusta daripada TBC. Dampak dari gengsi dan malu untuk berobat adalah membuat penularan penyakit TBC bisa semakin meluas. Penyebab hal ini adalah kurangnya pengetahuan mengenai penyakit TBC. Solusi yang bisa dilakukan adalah menggalakan Program PMO, sosialisasi di Posyandu dan pelayanan kesehatan lainnya mengenai TBC dan Kusta 4. Permasalahan Mengenai ASI Eksklusif Yang terjadi mengenai ASI Eksklusif ini adalah pemberian makanan dan minuman selain ASI sebelum 6 bulan. Kebanyakan masyarakat Desa Temenggungan khususnya ibu ibu memberikan pisang dan susu formula kepada bayinya pada usia kurang dari 6 bulan. Meskipun cakupan pemberian ASI Eksklusif sudah baik namun beberapa ibu ibu masih melakukan hal tersebut karena pengaruh budaya yang masih ada. Dalam masalah ini yang menjadi sasaran risiko adalah bayi yang ada di Desa Temenggungan. Dampak negatif yang bisa terjadi adalah adanya bayi dengan gizi kurang atau gizi buruk yang berdampak pada kematian. Solusi yang bisa dilakukan adalah sosialisasi mengenai pengetahuan pemberian ASI Eksklusif serta Panduan informasi mengenai MP-ASI yang tepat dan benar.

23

5. Permasalahan Mengenai Nikah Dini Masalah yang berkaitan dengan nikah dini adalah mayoritas masyarakat Desa Temenggungan memiliki tingkat pendidikan tamat SD dan tidak tamat SD. Kebanyakan anak yang putus sekolah akan dinikahkan dengan tujuan untuk membantu perekonomian keluarga yang dimana mayoritas pekerjaan masyarakatnya adalah sebagai buruh tani. Selain itu juga, pengetahuan dari akibat nikah dini juga masih rendah. Sasaran risiko dari pernikahan dini adalah anak anak di bawah umur dan rentan untuk putus sekolah. Solusi yang bisa dilakukan adalah pemberian edukasi kepada masyarakat Desa Temenggungan mengenai pernikahan dini dan dampak dari pernikahan dini, peningkatan ekonomi masyarakat dengan berbagai latihan kerja dan tentunya harus ada bantuan dari pemerintah, serta peningkatan taraf pendidikan dengan wajib belajar 12 tahun.

Berdasarkan analisis diatas yang menjadi prioritas utama dalam penanganan masalah yang ada di Desa Temenggungan adalah permasalahan sampah. Karena berdasarkan pernyataan warga permasalahan yang memang perlu diatasi adalah sampah. Selain itu berdasarkan data data yang ada juga menunjukan bahwa permasalahan sampah di Desa Temenggungan harus diatasi. 4.3 Diagnosis Perilaku dan Lingkungan Berdasarkan data laporan PKL Desa Temenggungan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo dapat dianalisis faktor perilau, non perilaku, dan faktor lingkungan dari Desa Temnggungan yaitu sebagai berikut :

24

Tahap pertama yang dilakukan dalam melakukan diagnosis perilaku dan lingkungan yaitu mengidentifikasi faktor perilaku dan faktor non perilaku penyebab timbulnya masalah kesehatan, antara lain : Faktor Perilaku : 1. Masyarakat membuang sampah di sungai, pekarangan dan lahan kosong 2. Masyarakat tidak memilah dan mengolah sampah 3. Masyarakat membakar sampah yang telah tertumpuk Faktor Lingkungan (Non Perilaku) : 1. Tersedia TPS di Desa Temenggungan, namun penggunaannya belum maksimal 2. Belum tersedia mobil pengangkutan sampah dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Probolinggo Tahap kedua yaitu mengidentifikasi perilaku yang dapat mencegah timbulnya masalah kesehatan dan mengeliminasi faktor non perilaku yang tidak dapat diubah. Berikut adalah perilaku yang dapat mencegah timbulnya masalah kesehatan : 1. Membuang sampah di sungai, pekarangan dan lahan kosong 2. Membakar sampah yang telah tertumpuk Faktor non perilaku yang tidak dapat diubah yaitu belum tersedia mobil pengangkutan sampah dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Probolinggo Tahap ketiga dari diagnosis perilaku dan lingkungan adalah mengurutkan faktor perilaku dan lingkungan berdasarkan besarnya pengaruh terhadap masalah kesehatan. Urutan nya adalah sebagai berikut : 1. Membuang sampah di sungai, pekarangan dan lahan kosong

25

2. Membakar sampah yang telah tertumpuk 3. Tidak memilah dan mengolah sampah 4. Tersedia TPS di Desa Temenggungan, namun penggunaannya belum maksimal 5. Belum tersedia mobil pengangkutan sampah dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Probolinggo Tahap keempat yaitu mengurutkan faktor perilaku dan lingkungan berdasarkan kemungkinan untuk dirubah, yang terdiri dari : 1. Tidak memilah dan mengolah sampah 2. Membuang sampah di sungai, pekarangan dan lahan kosong 3. Membakar sampah yang telah tertumpuk 4. Tersedia TPS di Desa Temenggungan, namun penggunaannya belum maksimal 5. Belum tersedia mobil pengangkutan sampah dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Probolinggo Tahap terakhir dari diagnosis perilaku dan lingkungan yaitu menetapkan perilaku dan lingkungan yang menjadi sasaran program. Setelah menentukan sasaran program nya, ditetapkan tujuan perubahan perilaku dan lingkungan yang ingin dicapai oleh program yang telah dibuat. Faktor perilaku dan lingkungan yang menjadi sasarn program yaitu tidak memilah dan mengolah sampah dan belum tersedianya TPS di Desa Temenggungan. Tujuan perubahan perilaku dan lingkungan yang ingin dicapai oleh program yaitu : 1. Masyarakat mampu memilah dan mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai

26

2. Pemanfaatan maksimal dari TPS di Desa Temenggungan 4.4 Diagnosis Pendidikan dan Organisasi Dalam fase diagnosis Pendidikan dan organisasional diidentifikasi 3 faktor yang mempengaruhi timbulnya penyebab masalah di desa Temenggungan, yaitu : 1. Faktor Predisposing Pada faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial dan tingkat ekonomi. Dalam faktor ini, meliputi pemicu yang menyebabkan timbulnya perilaku yang berdampak pada timbulnya masalah di desa Temenggungan yaitu kurangnya pengetahuan tentang sampah yang telah teridentifikasi. Berdasarkan diagram dapat diketahui bahwa jumlah penduduk menurut pendidikan lebih banyak pada tamat SD. Sekitar 59% mayoritas masyarakat tingkat pendidikan desa Temengungan rata-rata adalah tamat SD maupun tidak tamat SD. Hal ini tentu berhubungan dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat yang cenderung lebih rendah, sehingga hal ini dapat

mempengaruhi terhadap status informasi kesehatan yang diterima oleh masyarakat tersebut.

27

Diagram 4.4 Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Temenggungan

Tingkat Pendidikan
Belum Sekolah SLTP Belum Tamat SD SMA 7% 1% 9% 12% 21% 38% 12% Tamat SD Perguruan Tinggi Tidak Tamat SD

2. Faktor Enabling Merupakan faktor lingkungan yang memfasilitasi masyarakat untuk berperilaku. Dalam hal ini adalah tidak adanya tempat pembuangan sampah dan kebiasaan membuang sampah, namun tidak diilah-pilah antara sampah organic dan anorganik. Diagram 4.5 Sarana Pendidikan Desa Temenggungan

Sarana Pendidikan
PAUD TK SD MI SMP PONPES

20% 20%

20% 20%

10% 10%

Pendidikan Desa Temenggungan memiliki tingkat pendidikan rendah dilihat dari banyaknya jumlah masyarakat yang belum memenuhi program wajib belajar 9 tahun. Hal ini dapat menggambarkan tingkat ekonomi masyarakat

28

yang rendah dan kondisi kesehatan masyarakat yang buruk karena rendahnya pengetahun tentang kesehatan. 3. Faktor Reinforcing Faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama,sikap dan perilaku petugas termasuk petugas kesehatan, termasuk juga disini undang-undang dan peraturan baik dari pusat maupun daerah setempat terkait dengan kesehatan. Dalam hal ini, faktor penguat terjadinya masalah sampah adalah kurang tegasnya para tokoh masyarakat untuk menanggulangi sampah yang ada di desa Temenggungan ini. 4.5 Diagnosis Kebijakan dan Administratif A. Sumber daya yang ada 1. Manusia a. Tenaga kesehatan Formal : 1 bidan Informal : 1 dokter swasta, 10 kader Posyandu, 2 kader BAGAS (pembantu petugas), b. Ibu ibu PKK c. Karang Taruna d. Kelompok Pengajian e. Kelompok PKL 2. Fasilitas a. Lahan kosong b. Balai desa c. Tempat Ibadah (Masjid dan Musholla)

29

d. Komputer e. Tempat penempelan poster 3. Dana / Uang kegiatan program B. Sumber daya yang dibutuhkan 1. Program Bank Sampah : a. pengarah (mahasiswa PKL) b. pengelola (Ibu PKK) c. partisipan (masyarakat) 2. Program Pelatihan Takakura : a. pelaksana pelatihan (mahasiswa PKL) b. partisipan (masyarakat) 3. Program Advokasi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah : a. pelaksana dan koordinator (mahasiswa PKL) b. partisipan (masyarakat) c. kepala desa, Dinas Kebersihan dan Pertamanan C. Identifikasi Dukungan dan Hambatan Politis 1. Dukungan politis a. Masyarakat mendukung setiap program PKL yang dilaksanakan untuk kemajuan dan pemberdayaan masyarakat sendiri. b. Pemerintah desa mengizinkan setiap kegiatan PKL dan

memfasilitasi dari segi tempat pelaksaan program dan media publikasi. 2. Hambatan Politis a. Dukungan lintas sektor yang masih kurang

30

b. Dukungan pemerintah untuk keberlanjutan program pengelolaan sampah D. Peraturan dan Organisasional yang Memfasilitasi Program 1. Peraturan : a. Perda Jatim-4-2010 Pengelolaan Sampah Regional Jawa Timur 2. Organisasional : a. Karang Taruna b. Ibu ibu PKK

31

BAB V IMPLEMENTASI PROGRAM 5.1 Program Plan Development 5.1.1 Recruit Planning Group Members Keseluruhan Program Plan Development untuk Desa Temenggungan ini diberi nama Desa Bebas Sampah. Terdapat 3 program yang harus dijalankan dan memerlukan pelaksana program serta kontribusi dari banyak pihak. Berikut adalah yang perlu ada dalam mengelola program antara lain : 4. Program Bank Sampah : pengarah (mahasiswa PKL) pengelola (Ibu PKK) partisipan (masyarakat)

5. Program Pelatihan Takakura : pelaksana pelatihan (mahasiswa PKL) partisipan (masyarakat)

6. Program Advokasi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah : pelaksana dan koordinator (mahasiswa PKL) partisipan (masyarakat) kepala desa, Dinas Kebersihan dan Pertamanan

5.1.2 Develop Program Goals Tujuan jangka panjang dari program intervesi yang akan dilakukan yaitu meningkatkan derajat kesehatan warga Desa Temenggungan khususnnya dengan pengendalian dan pengurangan sampah organik dan anorganik di Desa

32

Temenggungan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo pada tahun 2013. 5.1.3 Develop Objective for Goals Tujuan jangka pendek yang dirumuskan berbeda beda antar program. Berikut ini merupakan tujuan secara objektif pada setiap program : 1. Program Bank Sampah Tujuan : Mengurangi jumlah sampah anorganik, meningkatkan perhatian warga akan sampah, meningkatkan kreativitas masyarakat, serta meningkatkan tingkat ekonomi dan interaksi masyarakat secara tidak langsung di Desa Temenggungan pada tahun 2013. 2. Program Pelatihan Takakura Tujuan : Mengurangi jumlah sampah organik, meningkatkan perhatian warga akan sampah, meningkatkan kreativitas masyarakat, serta meningkatkan tingkat ekonomi dan interaksi masyarakat secara tidak langsung di Desa Temenggungan pada tahun 2013. 3. Program Advokasi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah Tujuan : Mengadvokasi masalah pengangkutan dan pengadaan alat angkut samapah kepada instansi terkait (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) bersama dengan aspirasi masyarakat Desa Temenggungan pada tahun 2013. 5.1.4 Explore Resources and Constrains Sumber daya yang diperlukan dalam menjalankan program di atas yaitu:

33

1. Program Bank Sampah Desa Temenggungan: SDM, tempat untuk mengumpulkan sampah (ruangan di sebelah balai desa), buku rekening untuk bank sampah. 2. Program Pelatihan Takakura : SDM, tempat untuk pelaksanaan program, wadah untuk membuat takakura, sampah organik, pupuk. 3. Program Advokasi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah : SDM, proposal dan surat-surat terkait pengadaan alat pengangkut sampah. Sedangkan hambatan yang mungkin ditemui yaitu: 1. Program Bank Sampah Desa Temenggungan : tingkat partisipasi masyarakat yang belum tentu tinggi, kurangnya SDM dalam mengelola bank sampah, tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah dari penduduk 2. Program Pelatihan Takakura : kurangnya dana dalam menyediakan alatalat yang dibutuhkan, perlu keterampilan dalam membuat takakura, membutuhkan tutor untuk memberikan pengetahuan tentang membuat takakura 3. Program Advokasi Pengadaan Alat Pengangkutan Sampah : kurangnya koordinasi dengan instansi terkait lain, berbelitnya birokrasi advokasi pengadaan alat pengangkutan sampah. 5.1.5 Select Methods and Activities 1. Bank Sampah Desa Temenggungan Bank sampah merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengelola berbagai sampah anorganik seperti botol plastik, kertas bekas dan juga kardus dengan menggunakan konsep bank. Tujuan dari program

34

ini adalah mengurangi jumlah sampah anorganik di Desa Temenggungan. Pengumpulan sampah diadakan pada setiap 3 kali seminggu. Sampah tersebut akan dijual terlebih dahulu ke pengepul sesuai dengan harga standar, kemudian sejumlah nominal rupiah yang didapat dari hasil penjualan akan dimasukkan dalam rekening nasabah sesuai dengan jumlah sampah yang disetorkan. 2. Pelatihan Takakura Program ini dilakukan dengan cara penyuluhan kepada masyarakat dan diberikan pelatihan agar masyarakat desa temenggungan mengerti bagaimana cara membuat keranjang takakura. Keranjang ini dirakit dari bahan-bahan sederhana di sekitar kita yang mampu mempercepat proses pembuatan kompos. Pelatihan takakura dilakukan 2 kali seminggu di Balai Desa. Jenis-jenis sampah yang diolah: 1) sisa sayuran. Idealnya sisa sayuran tersebut belum basi. Namun bila telah basi, cuci sayuran tersebut terlebih dahulu, peras, lantas buang airnya. 2) sisa nasi. 3) sisa ikan, ayam, kulit telur dll. 3. Advokasi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah Program ini dilaksanakan pada saat hari kerja, karena program ini diperlukan pertemuan antara petugas dan perwakilan warga dengan pihak instansi terkait yang hanya dapat dilakukan saat hari kerja dan jam kerja. Program ini bertujuan agar warga tidak hanya membuang dan menumpuk

35

sampah di lahan kosong yang dapat menyebabkan penyakit menular maupun tidak menular karena tidak ada nya alat pengangkut sampah sehingga warga hanya bisa membuang dan menumpuk sampah di lahan yang kosong. 5.2 Plan for Evaluation 5.2.1 Process Evaluation Object of Interest PREDISPOSING 1. Pengetahuan masyarakat Desa Temenggungan tentang pengolahan sampah anorganik dan sampah organik meningkat melalui program bank sampah dan takakura. ENABLING 1. Adanya pelatihan tentang cara mengolah sampah anorganik dan organik. 2. Adanya advokasi terhadap instansi terkait memungkinkan masyarakat Desa Temenggungan tidak membuang sampah sembarangan,

mendapat penghasilan dari hasil mengumpulkan sampah dan pengangkutan sampah anorganik berjalan lancar. REINFORCING 1. Adanya kemudahan dalam pengolahan sampah. 2. Keluarga dan tetangga saling mengingatkan untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat. 3. Adanya campur tangan instansi terkait dalam mensukseskan dan memperlancar kegiatan pengangkutan sampah anorganik.

36

1. Bank Sampah Desa Temenggungan a. Evaluasi Pengarahan Pengadaan Bank Sampah Evaluasi ini dilakukan untuk memantau berjalannya pengarahan Bank Sampah kepada ibu-ibu PKK di Balai Desa Temenggungan. Indikator keberhasilan dengan melihat kehadiran peserta sebesar 60% dan partisipasi ibu-ibu PKK setiap 2 kali seminggu pada minggu pertama PKL, pada hari Senin dan Kamis pada pukul 09.00-11.00 WIB di Balai Desa Temenggungan. b. Evaluasi Terbentuknya Bank Sampah Beserta Sumber Daya Manusia Pendukungnya Evaluasi ini dilakukan untuk melihat terbentuknya bank sampah beserta sumber daya pendukungnya. Indikator

keberhasilannya adalah pada minggu ketiga setelah pengarahan, Bank Sampah beserta struktur sumber daya manusianya sudah terbentuk. Lokasi Bank Sampah terletak di rumah ketua pengelola Bank Sampah. c. Evaluasi Partisipasi Dan Keaktifan Masyarakat Terhadap Bank Sampah Evaluasi ini dilakukan untuk melihat partisipasi dan keaktifan masyarakat dalam menabung sampah anorganik mereka pada Bank Sampah. Indikator keberhasilan adalah masyarakat aktif menabungkan sampah anorganik mereka setiap 3 kali seminggu pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu dimulai pada pukul 16.00. 2. Pelatihan Takakura

37

a.

Evaluasi Pelatihan Takakura Evaluasi pelatihan dilakukan untuk memantau di terlaksananya Balai Desa

Takakura

kepada

masyarakat

Temenggungan. Indikator keberhasilan adalah dengan melihat kehadiran peserta sebesar 60% dan partisipasi aktif masyarakat dalam mengikuti pelatihan Takakura setiap 2 kali seminggu pada minggu kedua PKL, yaitu hari Senin dan Kamis pada pukul 09.00-11.00 WIB di Balai Desa Temenggungan. b. Evaluasi Partisipasi Masyarakat Dalam Pengadaan Takakura Evaluasi ini dilakukan untuk menilai partisipasi masyarakat Desa Temenggungan dalam membuat keranjang Takakura. Indikator keberhasilannya adalah pada minggu ketiga setelah pelatihan Takakura telah tersedia keranjang Takakura hasil karya masyarakat Desa Temenggungan. c. Evaluasi Pemanfaatan Keranjang Takakura Oleh Masyarakat Evaluasi ini dilakukan untuk menilai tingkat partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan keranjang Takakura dalam pembuatan pupuk kompos, baik untuk dijual maupun digunakan sendiri. Indikator keberhasilannya adalah setelah 40 hari pembuatan keranjang Takakura, pupuk kompos yang dibuat di keranjang Takakura telah dimanfaatkan oleh masyarakat. 3. Advokasi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah a. Evaluasi Diskusi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah

38

Evaluasi dilaksanakan untuk memantau berjalannya diskusi di Balai Desa Temenggungan. Indikator keberhasilan dengan melihat keaktifan masyarakat dalam menghadiri dan

menyampaikan aspirasi dalam diskusi pada hari Sabtu mulai pukul 19.00 hingga selesai. b. Evaluasi Tersedianya Alat Pengangkut Sampah. Evaluasi ini dilakukan untuk memantau pengadaan alat pengangkut sampah (truk sampah) dari Dinas Kebersihan dan Dinas Pertanian dan sumber daya yang mendukung. Indikator keberhasilan adalah tersedianya alat pengangkut sampah yang memadai dan secara rutin mengangkut sampah di Desa Temenggungan. c. Evaluasi Pemanfaatan Alat Pegangkut Sampah Oleh Masyarakat Evaluasi ini dilakukan untuk menilai tingkat partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan alat pengangkut sampah yang telah disediakan. Indikator keberhasilannya adalah alat pengangkut sampah yang disediakan telah dimanfaatkan oleh masyarakat, sehingga masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.

39

5.2.2 Impact Evaluation Object of Interest PERILAKU 1. Masyarakat desa Temenggungan dapat mengolah sampah mereka sendiri. 2. Melalui dukungan pemerintah dalam hal pengadaan alat transportasi pengangkutan sampah, diharapkan pengangkutan sampah terutama sampah anorganik bisa berjalan optimal. 5.3 Plan for Implementation 5.3.1 Tingkat Penerimaan Program Oleh Masyarakat Program kegiatan yang diusulkan adalah Program Bank Sampah Desa Temenggungan, Program Takakura, dan Program Advokasi Pengadaan Alat Pengangkutan Sampah. Program tersebut ditujukan untuk semua masyarakat dengan dibantu oleh beberapa instansi terkait lain untuk mendukung terlaksananya program. Adanya program tersebut diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang ada pada masyarakat desa Temenggungan. Sebagai langkah untuk mendukung terlaksananya program maka perlu menciptakan kondisi yang kondusif untuk dilakukannya perubahan dengan memastikan bahwa seluruh target program yang akan diimplementasikan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan. Perubahan ini diadopsi berdasarkan kesepakatan bersama dengan pendekatan observasional dan pendekatan interpersonal. Namun apabila terjadi penolakan oleh masyarakat maka langkah yang perlu dilakukan adalah dengan mengadakan pendekatan baik kepada

40

masyarakat maupun tokoh yang ada seperti perangkat desa setempat, kepala desa atau tokoh agama setempat yang memiliki power dan authority untuk mengajak dan mempengaruhi masyarakat agar mau berpartisipasi sebelum pelaksanaan program. Melalui pendekatan yang dilakukan diharapkan masyarakat akan memahami tujuan dan manfaat diadakannya program tersebut bagi masyarakat desa Temenggungan. 5.3.2 Spesifikasi Detil Program dan Rencana Kebutuhan Sumber Daya Berdasarkan analisis PRECEDE yang telah dilakukan, timbulah suatu masalah. Dimana permasalahan yang nampak yaitu kurang diperdulikannya sampah di tempat tersebut. Terabaikannya sampah tersebut mendasari dibuatnya beberapa program yang dapat mengurangi sampah. Melihat dari potensi masyarakat perlu adanya pengembangan kreativitas warga. Selain itu, kurangnya pertukaran uang maka dilakukan pemberdayaan berupa bank sampah. Program yang telah dirancang yaitu Bank Sampah, Takakura, dan Advokasi terhadap instansi terkait mengenai pengangkutan sampah. Program I a. Nama program : Bank sampah b. Latar belakang : Kurang diperdulikannya masalah penampungan dan pengolahan sampah di tempat PKL menjadi prioritas untuk melakukan intervensi. c. Tujuan umum : Meningkatkan kesehatan masyarakat salah satunya dengan memperhatikan masalah sampah yang masih belum teratasi dengan baik.

41

d. Tujuan khusus : Mengurangi jumlah sampah anorganik, meningkatkan perhatian warga akan sampah, meningkatkan kreativitas masyarakat, serta meningkatkan tingkat ekonomi dan interaksi masyarakat secara tidak langsung. e. Deskripsi Program : Kegiatan ini merupakan kegiatan mengoptimalkan sampah dengan cara bank sampah. Kegiatan ini tidak hanya sebagai saran berkumpul warga tetapi juga secara tidak langsung

meningkatkan ekonomi dan kreativitas warga. f. Sasaran : Ibu-ibu desa. g. Pelaksanaan : 2 kali seminggu pada minggu pertama. Lokasi bank sampah di rumah ketua pengelola. h. Evaluasi : Partisipasi ibu-ibu 60% Program II a. Nama program : Pelatihan TAKAKURA b. Latar belakang : Kurang diperdulikannya masalah penampungan dan pengolahan sampah di tempat PKL menjadi prioritas kami untuk melakukan intervensi. c. Tujuan umum : Meningkatkan kesehatan masyarakat salah satunya dengan memperhatikan masalah sampah yang masih belum teratasi dengan baik. d. Tujuan khusus : Mengurangi jumlah sampah organik, meningkatkan perhatian warga akan sampah, meningkatkan kreativitas masyarakat, serta meningkatkan tingkat ekonomi dan interaksi masyarakat secara tidak langsung.

42

e. Deskripsi Program : Kegiatan ini merupakan kegiatan mengoptimalkan sampah dengan cara membuat keranjang sampah TAKAKURA. Menjadikan sampah organik yang dulunya dibuang percuma menjadi pupuk yang bisa digunakan kembali. f. Sasaran : Warga g. Pelaksanaan : Pelatihan dilakukan 2 kali seminggu, minggu kedua PKL, di balai desa. h. Evaluasi : Partisipasi warga 60% Program III Nama program : Advokasi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah. a. Latar belakang : Kurang diperdulikannya masalah penampungan dan pengolahan sampah di tempat PKL menjadi prioritas kami untuk melakukan intervensi. b. Tujuan umum : Meningkatkan kesehatan masayarakat salah satunya dengan memperhatikan masalah sampah yang masih belum teratasi dengan baik. c. Tujuan khusus : Mengadvokasi masalah pengangkutan kepada instansi terkait bersama dengan aspirasi masyarakat. d. Deskripsi Program : kegiatan ini merupakan kegiatan advokasi kepada instansi terkait agar mau melakukan pengangkutan sampah dan menyediakan truk sampah dalam waktu dekat, sehingga sedikit banyak sampah mulai teratasi. e. Sasaran : instansi terkait (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) dan warga

43

f. Pelaksanaan : Diskusi di balai desa, 1 kali pertemuan dan hari H advokasi pada hari rabu minggu ketiga di balai desa. g. Evaluasi : Terciptanya kebijakan tentang pengangkutan sampah. Sumber Daya Manusia 1. Tenaga Kesehatan Dibutuhkan tenaga kesehatan sebagai fasilitastor dalam program bank sampah, takakura, dan advokasi yang berasal dari dinas kesehatan setempat dan puskesmas. 2. Promotor Kesehatan dan Pihak Pihak Lain yang Terlibat Dalam hal ini terdiri beberapa sasaran program, antara lain warga desa temenggungan, Dinas Kesehatan, puskesmas, dan Dinas Kebersihan dan Pertamanan. 3. Tokoh Masyarakat Sebagai Key Person, tokoh masyarakat baik kepala desa, tokoh agama, dan perangkat desa setempat. Diharapkan untuk mampu menarik minat sasaran dan meyakinkannya melalui pendekatan secara langsung. 4. Ibu ibu PKK Dengan adanya dan keaktifan ibu ibu PKK dapat dilakukan pemberdayaan untuk melakukan dan melanjutkan program yang dilaksanakan. Tentunya dengan adanya pelatihan dan pengarahan mengenai program yang akan berjalan. Dengan bantuan dan partisipasi dari ibu ibu PKK ini diharapkan program dapat berjalan dengan baik dan lancar.

44

5.

Karang Taruna Melalui pendekatan yang dilakukan bersama sama pemuda, diharapkan mampu menarik minat para pemuda setempat dan membantu proses berjalannya acara dalam pelaksanaan program.

6.

Mahasiswa PKL Dalam hal ini mahasiswa PKL UNAIR menjadi fasilitator dalam berjalannya kegiatan program dan melalui beberapa

pendekatan terhadap warga sekitar diharapkan mampu menarik minat dan kemauan warga untuk mengikuti dan mengimplementasikan program yang telah diberikan sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan sasaran. Sumber Daya Lain 1. Peralatan dan perlengkapan Peralatan dan perlengkapan dapat menunjang jalan acara dalam susunan program, sehingga di butukan beberapa dari peralatan dan program diatas dapat di peroleh dengan cara membeli atau menyewa. a. Kamera b. Banner c. Poster d. Alat tulis e. LCD Proyektor f. Sound system g. Timbangan

45

h. Alat Takakura (Tempat sampah/keranjang, Kardus bekas, Bantalan sekam, Kompos matang, Pengaduk, Kain, Bata) 2. Dana Dana sebagai salah satu komponen penting dalam

pelaksanaan suatu program. Semua program yang sudah dijelaskan diatas menggunakan dana dari iuran fakultas, donator, dan dana mahasiswa. 3. Media Komunikasi a. Poster b. Baleho c. Iklan 4. Anggaran Anggaran merupakan sumber dana terpenting penentu terselenggaranya sebuah program. Dan sumber dana program ini di dapatkan dari iuran kampus, dan sponsor, iuran Mahasiawa dan dalam anggaran ini juga dipersiapkan dana tak terduga yang digunakan untuk antisipasi apabila terjadi pembengkakan biaya. PEMASUKAN Bantuan dari Dekanat Iuran Mahasiswa Sponsor Total Rp. 500.000 Rp. 1.000.000 Rp. 825.000 Rp. 2.325.000

PENGELUARAN KESEKRETARIATAN Biaya Administrative dan Rp. 50.000

46

Perizinan Pengadaan Propossal dan Surat ATK Total Pengeluaran Rp. 50.000 Rp. 300.000 Rp. 400.000

PUBLIKASI DAN DOKUMENTASI Poster Publikasi Banner Total Pengeluaran Rp. 100.000 Rp. 100.000 Rp. 200.000

ACARA Sewa LCD Alat Takakura Biaya Training Total Pengeluaran Jumlah Pengeluaran Tabel 5.1 Anggaran Dana 5.3.3 Pengembangan Rencana Spesifik dan Aktivitas Program 1. Product Program menyelesaikan kegiatan yang kami tawarkan yang berfokus pada untuk desa Rp. 100.000 Rp. 1.225.000 Rp. 100.000 Rp. 1.425.000 Rp. 2.325.000

permasalahan

utama

terdapat

Temenggungan. Permasalahan utama tersebut ditentukan sesuai dengan hasil pengamatan sebelumnya yang telah kami laksanakan. Sesuai dengan hasil pengamatan kami permasalahan utama di desa temenggungan adalah permasalahan sampah. Terdapat tiga program yang kami ajukan untuk menyelesaikan permasalahan sampah tersebut yaitu pembuatan bank sampah, takakura dan advokasi kepada pemerintah untuk pengadaan alat pengangkutan

47

sampah.

Ketiga program tersebut saling berkesinambungan untuk

menyelesaikan permasalahan sampah secara menyeluruh di desa Temenggungan, dari mengelola sampah yang tidak dapat dihancurkan hingga mengelola sampah organik untuk dijadikan kompos. Selanjutnya kami mengadakan advokasi kepada pemerintah, sehingga diharapkan kami mendapatkan dukungan dalam penyelenggaraan program dan pengadaan alat pengangkut sampah untuk memaksimalkan pengelolaan sampah yang ada di desa Temenggungan. 2. Price Pemasukan program ini sejumlah Rp 5.100.000,00 yang

didapatkan dari dana fakultas kesehatan masyarkat (dekanat) dan sponsor perusahaan yang berminat bekerjasama untuk pelaksanaan program ini. Pengeluaran kegiatan ini diperkirakan sebesar Rp 5.100.000,00. 3. Place Lokasi pelaksanaan untuk masing masing program : 1) Pengarahan pelaksanaan pengelolaan bank sampah untuk ibu ibu PKK dan maswayarakat : Balai Desa 2) Pengumpulan sampah ke Bank Sampah oleh masyarakat : Rumah Ketua Pengelola yaitu Ibu Ketua PKK 3) Sosialisasi dan praktek pembuatan Takakura : Balai Desa 4) Advokasi pengadaan alat pengangkut sampah : Balai Desa dengan mengundang Kepala desa, Kepala RW, Kepala RT, Tokoh Masyarakat dan Pemerintahan terkait (Dinas Kebersihan dan Pertamanan)

48

4. Promotion Promosi kami lakukan secara door to door dengan memberikan brosur/poster dan undangan bagi masyarakat untuk menghadiri setiap kegiatan yang kami adakan. Selain itu kami memberikan pengumuman melalui pengeras suara desa sehari sebelum pelaksanaan untuk mengingatkan kembali masyarakat desa Temenggungan. Kamipun bekerja sama dengan Tokoh Masyarakat, Kepala desa, Kepala RW dan Kepala RT untuk membantu men-sosialisasikan kepada masyarakat kegiatan yang akan kami adakan. 5.3.4 Penetapan Mekanisme Manajemen Program 1. Identifikasi Indikator 1) Waktu Program yang akan di implementasikan ke warga Desa Temenggungan ada 3 program yaitu Bank Sampah, Takakura, dan Advokasi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah. Program Bank Sampah dan Takakura perlu dilakukan sosialisasi terlebih dahulu oleh petugas untuk warga Desa Temenggungan. Warga Desa Temenggungan diberi pengetahuan tentang apa itu Bank Sampah dan Takakura, bagaimana pelaksanaan nya, bagaimana mekanisme nya dan berbagai hal yang menyangkut Bank Sampah dan Takakura. Selain itu warga juga dilatih dan diarahkan untuk memilah sampah guna untuk membedakan sampah organik dan anorganik.

49

Sosialisasi untuk warga dilakukan saat hari senin dan kamis disaat ibu-ibu warga Desa Temenggungan saling bertemu karena ada kegiatan rutin (PKK) masyarakat setempat. Sosialisasi untuk kegiatan Bank sampah dilakukan pada minggu pertama PKL yang dimulai pukul 09.00 sampai selesai. Kegiatan ini dilaksanakan di balai desa Temenggungan. Pada pertemuan pertama sosialisasi ini akan dibentuk beberapa pengurus untuk Bank Sampah dan penentuan lokasi pengumpulan sampah untuk Bank Sampah. Pengumpulan sampah dilakukan di rumah ketua pengelola Bank Sampah. Jadwal penyetoran Bank Sampah dilakukan pada hari selasa, kamis, dan sabtu dari pukul 16.00 sampai malam hari. Pada sosialisasi ini, warga diajarkan bagaimana cara memilah sampah dan cara memilah-milah sampah. Warga harus bisa secara mandiri dalam pemilahan sampah agar program bank sampah ini dapat berlangsung dan secara mandiri tanpa dampingan dari petugas. Sosialisasi Takakura dilaksanakan pada minggu kedua setelah sosialisasi Bank Sampah selesai. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari senin dan kamis pukul 09.00 sampai selesai yang bertempat di blai desa. Pada kegiatan ini warga diajarkan tentang bagaimana cara pembuatan keranjang takakura dan bagaimana mekanisme membuat kompos dari keranjang takakura. Selain itu, dalam program ini perlu dilakukan pengawasan selama 40 hari untuk menilai keberhasilan dari program, karena sampah yang telah

50

dimasukkan ke dalam keranjang takakura akan membuusuk menjadi kompos setelah 40 hari. Program ketiga yaitu Advokasi pengadaan alat

pengangkutan sampah. Program ini dilaksanakan pada saat hari kerja, karena program ini diperlukan pertemuan antara petugas dan tokoh masyarakat desa Temenggungan dengan pihak instansi terkait yang hanya dapat dilakukan saat hari kerja dan jam kerja. Program ini bertujuan agar warga tidak hanya membuang dan menumpuk sampah di lahan kosong yang dapat menyebabkan penyakit menular maupun tidak menular karena tidak ada nya alat pengangkut sampah sehingga warga hanya bisa membuang dan menumpuk sampah di lahan yang kosong. Dengan adanya program ini diharapkan Desa Temenggungan mempunyai alat pengangkut sampah sendiri yang dapat mengangkut sampah ke tempat penampungan sampah. 2) Biaya Biaya yang dibutuhkan untuk program tersebut bisa dibilang cukup besar. Anggaran dana dibutuhkan untuk membeli alat dan menyewa peralatan yang dibutuhkan saaat acara sedang berlansung. Selain itu, dibutuhkan juga anggaran dana untuk publikasi acara ini agara warga tertarik dan berminat untuk mengikuti dan datang pada kegiatan program ini. Oleh karena program ini merupakan wujud pengembangan masyarakat sehingga biaya yang dibutuhkan tersebut diperoleh dari iuran mahasiswa pelaksan PKL dengan bantuan dari fakultas serta perusahaan terkait

51

yang mau untuk mensponsori kegiatan ini. Untuk peralatan seperti sound system didapatkan dengan meminjam dari warga setempat sedangkan tempat pelaksanaan program dengan menggunakan balai Desa Temenggungan sehingga hanya dibutuhkan perijinan saja. 3) Performa Program Bank Sampah, dan Takakura akan dikemas sedemikian rupa agar masyarakat tertarik dalam program yang akan dilaksanakan. Mulai dari publikasi yang dilakukan melalui poster yang akan ditempel pada tempat yang mudah terllihat dan dilalui oleh warga sampai mendatangi rumah satu per satu (door to door) untuk mengundang warga secara langsung agar warga lebih simpatik dan mau untuk mengikuti program yang akan

dilaksanakan. Selain itu, tempat pelaksanaan yang mudah dicapai oleh warga dan tidak menyusahkan akses warga menjadi salah satu faktor penarik agar warga mau untuk hadir dan turut berpartisipasi pada program ini. Tak hanya itu, pembicara untuk program sosialisasi disiapkan secara khusus agar dapat berinteraksi secara maksimal kepada warga. Tidak perlu materi yang berat dan terlalu serius dalam penyampaian nya, karena hal tersebut dapat membuat bosan warga dan terjadi sekat antara petugas dan warga. Oleh karena itu, pembicara di setiap program harus dapat membaur secara langsung dengan warga setempat dan dapat mengikuti alur komunikasi yang biasa dipakai oleh warga setempat. Selain itu, ada pembagian konsumsi yang dapat menjadi daya tarik tersendiri untuk

52

menarik partisipasi warga. Dan apabila memungkinkan adanya anggaran yang berlebih dapat diadakan bingkisan untuk warga berupa sembako atau keperluan rumah tangga sehingga

memunculkan minat warga untuk berpartisipasi dan ikut dalam pelaksanaan program. Program ini ditujukan bagi warga Desa Temenggungan untuk mengatasi masalah utama yang ada di Desa Temenggungan. Partisipasi aktif dibutuhkan dalam setiap program yang akan dijalankan, karena sebagian besar yang menjalankan program adalah masyarakat Desa Temnggungan, dan petugas hanya sebagai fasilitator untuk memenuhi kebutuhan dan mencari solusi atas masalah yang ada di desa tersebut. Program Advokasi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah dilaksanakan secara formal dengan memperhatikan sopan santun, serta aturan yang sudah ada dalam masyarakat setempat. Petugas dan tokoh masyarakat setempat secara bersamaan mencari masalah dan menyelesaikan nya untuk mencapai munfakat dan keputusan akhir mengenai apa yang harus disampaikan kepada instansi terkait. Selain itu, warga dan tokoh masyarakat membuat segala kebutuhan yang diperlukan untuk advokasi ke instansi terkait dan memenuhi prosedur apa saja yang dibutuhkan guna proses advokasi dapat berjalan lancar dan dapat mencapai tujuan secara bersama. 2. Identifikasi Sumber Informasi

53

Sumber informasi diperoleh dari pendapat sebagian warga Desa Temenggungan pada saat dilakukan Focus Group Discussion, Nominal Group Technique, Indepth Interview, dan Kuisioner. Hampir seluruh sumber informasi mengatakan bahwa permasalahan yang ada di Desa Temenggungan mengenai sampah dan tidak ada solusi untuk penumpukan sampah yang sudah terjadi di kawasan desa tersebut. Akibat dari kondisi masyarakat tersebut ada beberapa yang menganggap bahwa hal tersebut bukanlah suatu masalah karena sebagian dari mereka merasa tumpukan sampah adalah hal yang biasa, selain itu letak tumpukan sampah yang letaknya lumayan jauh dari kawasan tempat tinggal mereka. Sehingga, warga tidak merasa terganggu karena adanya tumpukan yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, dan bau yang menyengat. Hal ini berdampak negatif bagi potensi yang ada di desa tersebut. 3. Penerapan Program Dari adanya beberapa program untuk masyarakat Desa

Temenggungan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo dalam Program Plan Development, keseluruhan program kami beri nama Desa Bebas Sampah. 1) Program Bank Sampah Program yang pertama adalah program Bank Sampah. Program ini diperuntukan bagi seluruh masyarakat Desa Temenggungan dan untuk pengelola dan pengurusnya Ibu-Ibu PKK Desa Temenggungan. Karena menurut data yang ada ibu ibu PKK merupakan SDM yang

54

rutin dan giat dalam melakukan kegiatan di desa. Program ini bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah khususnya sampah anorganik di Desa Temenggungan yang kemudian dapat dijual dan digunakan untuk kerajinan tangan yang bernilai jual. Program Bank Sampah ini memiliki agenda pengarahan ibu ibu di balai desa sebanyak dua kali dalam seminggu pada minggu pertama yaitu hari senin dan kamis pukul 09.00 11.00. Pengumpulan atau kegiatan transaksi/menabung dilakukan tiga kali seminggu yaitu selasa, kamis, dan sabtu pukul 16.00 20.00. Lokasi bank sampah terletak di rumah ketua pengelola yaitu ibu ketua PKK. Kegiatan program bank sampah ini prosesnya hampir sama dengan proses transaksi di bank pada umumnya, hanya saja yang ditabungkan berupa sampah anorganik. Dimana sampah tersebut akan dijual ke pengepul sampah. Kemudian dari hasil menabung sampah ini, warga mendapatkan rupiah sesuai harga standard dan masuk ke buku rekening mereka. Hal yang harus dilakukan setelah program berjalan dan terimplementasikan adalah adanya evaluasi untuk menilai apakah program berjalan, berhasil dan dapat mewujudkan tujuan program ini. Jadi diperlukan indikator keberhasilan untuk menilai keberhasilan, mempertahankan, memodifikasi, atau memperbaiki program.

Indikator keberhasilan program Bank Sampah ini adalah : a. Partisipasi masyarakat untuk menabung sampah anorganik minimal 60%.

55

b. Terbentuknya bank sampah beserta sumber daya pendukungnya. c. Masyarakat aktif menabungkan sampah anorganik setiap 3 kali seminggu. d. Keaktifan Ibu PKK untuk melakukan pengelolaan dan manajemen Bank Sampah . 2) Pelatihan Takakura Program Pelatihan Takakura ini bertujuan untuk mengurangi sampah organik bisa dari sisa buah, sayur, dan bahan organik di dapur. Sasaran program ini adalah warga Desa Temenggungan. Pelatihan Takakura ini dilakukan di Balai Desa. Dalam program ini dibutuhkan keranjang, sekam, kardus bekas, kompos matang, pengaduk, kain, bata. Pelatihan ini dilakukan sebanyak 2 kali seminggu pada minggu kedua yaitu hari senin dan kamis pukul 09.00 11.00 di Balai Desa Temenggungan. Indikator keberhasilan perlu ada untuk menilai keberhasilan, mempertahankan, memodifikasi, atau memperbaiki program.

Indikator keberhasilan dari program Pelatihan Takakura adalah : a. Partisipasi masyarakat dalam mengikuti pelatihan sebanyak 60%. b. Ketepatan waktu dan keseriusan dalam mengikuti pelatihan Takakura. c. Telah tersedianya keranjang takakura hasil karya masyarakat Desa Temenggungan. d. Setelah 40 hari pembuatan keranjang takakura pupuk kompos yang dibuat telah dimanfaatkan oleh masyarakat.

56

3) Program Advokasi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah Program advokasi pengadaan alat angkut sampah bertujuan untuk melakukan advokasi ke instansi terkait yaitu Dinas Kebersihan dan Pertamanan agar disediakan truk sampah untuk mengangkut sampah di TPS agar tidak menumpuk. Selain itu agar sampah yang dihasilkan oleh warga tidak dibakar begitu saja. Sampah yang dapat diolah akan didaur ulang, sedangkan sampah yang tidak bisa diolah akan dibuang ke TPS dan akan diangkut jika volumenya sudah banyak. Oleh karena itu diperlukan truk pengangkut sampah karena selama ini tidak ada truk pengangkut sampah. Kegiatan dalam program ini adalah yang pertama mengadakan diskusi bersama dengan masyarakat, tokoh masyarakat, kepala desa, dan perangkat desa lainnya di balai desa pada hari sabtu minggu pertama pukul 19.00 selesai. Dalam kegiatan tersebut koordinator advokasi melakukan rapat dan pengambilan keputusan, dimana setelah dicapai mufakat dibuat proposal dan pada hari H advokasi dilaksanakan pada hari rabu minggu ketiga pukul 10.00 di balai desa dengan mendatangkan pihak instansi terkait yaitu Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Pada Program ini diharapkan keberhasilan yang dapat mengurangi jumlah sampah yang ada di TPS Desa Temenggungan. Indikator keberhasilan dari program pengadaan alat pengangkut sampah adalah : a. Partisipasi aktif dalam diskusi dan pengambilan keputusan,

57

b. Disetujuinya advokasi oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan dan disediakannya truk sampah serta jadwal frekuensi pengambilan sampah, c. Alat angkut yang disediakan dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat dan tidak membuang sampah sembarangan, d. Terciptanya kebijakan tentang pengangkutan sampah. Dari adanya implementasi, evaluasi, dan indikator keberhasilan yang jelas diharapkan program yang dibuat dapat direalisasikan dengan baik dan lancar serta dapat selalu direvisi apabila ada indikasi ketidakberhasilan. Sehingga program program tersebut dapat membawa perubahan yang lebih baik untuk menangani permasalahan sampah dan meningkatkan kesehatan masyarakat Desa Temenggungan.

58

BAB VI EVALUASI PROGRAM 6.1 RENCANA EVALUASI PROGRAM Program : Program Bank Sampah Process Evaluation: a. Melihat antusias warga yang ikut serta dalam pelaksanaan Pengarahan Program Bank Sampah dengan melihat kehadiran peserta sebesar 60 %. b. Terbentuknya struktur sumber daya dalam pengelolaan sampah pada saat pengarahan dilaksanakan c. Warga desa Temenggungan aktif dalam menabungkan sampah anorganik Impact Evaluation: a. Meningkatkan pengetahuan warga dalam memilah sampah anorganik dengan organik. b. Warga mulai peduli terhadap kesehatan lingkungannya terutama dalam mengurangi jumlah sampah desa Temenggungan c. Warga dapat mengurangi kebiasaan untuk membakar sampah yang dapat mengakibatkan penyakit saluran pernafasan atau membuang sampah ke sungai yang dapat menimbulkan banjir di Desa Temenggungan. d. Antar warga dapat mengingatkan satu sama lain untuk tidak membuang sampah sembarangan. Outcome Evaluation: a. Volume Sampah anorganik di Desa Temenggungan dapat dikurangi b. Warga Desa Temenggungan dapat mengurangi risiko terjadinya penyakit yang dapat ditimbulkan oleh adanya sampah seperti ISPA dan Diare.
59

c. Warga dapat memilah sampah non organik dan organik, dan dapat meningkatkan tingkat ekonomi di desa Temenggungan. Program : Pelatihan Takakura Process Evaluation: a. Lebih dari 60% masyarakat hadir dalam pelatihan takakura b. Pada minggu ketiga sudah tersedia keranjang Takakura hasil karya masyarakat desa Temenggungan c. Setelah 40 hari pembuatan takakura, masyarakat dapat memanfaatan pupuk kompos tersebut. Impact Evaluation: a. Memotivasi warga untuk memanfaatkan hasil dari pembuatan Takakura b. Secara tidak langsung dapat membantu warga desa Temenggungan untuk membuat Takakura Outcome Evaluation: a. Volume sampah organik di Desa Temenggungan dapat dikurangi. b. Mengurangi risiko penularan penyakit oleh adanya sampah organik c. Kualitas kesehatan warga Desa Temenggungan menjadi lebih baik. Program : Advokasi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah Process Evaluation: a. Lebih dari 60% masyarakat hadir dalam diskusi Pengadaan Alat angkut Sampah b. Tersedianya alat pengangkut sampah yang memadai dan secara rutin mengangkut sampah di Desa Temenggungan

60

c. Warga Desa Temenggungan memanfaatkan alat pengangkut sampah yang telah disediakan Impact Evaluation: a. Memotivasi warga untuk berpartisipasi aktif dalam advokasi pengadaan alat pengangkut sampah b. Secara tidak langsung dapat membantu warga desa Temenggungan dalam mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan Outcome Evaluation: a. Sampah yang tertumpuk di Tempat Pembuangan Sementara dapat dikurangi dengan pengangkutan yang rutin b. Mengurangi risiko penularan penyakit oleh karena tertumpuknya sampah di TPS c. Kualitas kesehatan warga Desa Temenggungan menjadi lebih baik. 6.2 EVALUASI Program Bank Sampah 1. Evaluasi terhadap Input: a. Sumber daya manusia terdiri dari Mahasiswa PKL, tokoh masyarakat atau pemerintahan setempat, warga desa Temenggungan khusunya ibuibu PKK. b. Waktu yang dibutuhkan saat pelaksanaan pengarahan program adalah 2 kali seminggu pada minggu pertama PKL. Sedangkan untuk pelaksanaan program dilakukan setiap 3 kali dalam seminggu. c. Dana yang dibutuhkan sebesar: Rp 2.325.000,2. Evaluasi terhadap Proses:

61

a. Terdapat 60% partisipasi aktif dari ibu-ibu di Desa Temenggungan. b. Warga mendapatkan pengetahuan dan informasi mengenai Bank Sampah pada saat awal pengarahan Program Bank sampah. c. Terbentuknya struktur sumber daya dalam pengelolaan sampah pada saat pengarahan dilaksanakan d. Program Bank Sampah dilakukan di rumah ketua Pengelola Bank Sampah dengan sasaran ibu-ibu desa Temenggungan. e. Promosi yang dilakukan adalah dengan door to door yaitu dengan brosur/poster dan undangan bagi masyarakat untuk menghadiri kegiatan. Selain itu dapat dilakukan melalui pengeras suara desa sehari sebelum pelaksanaan. 3. Evaluasi terhadap hasil dari kegiatan a. Warga mendapatkan pengetahuan dan informasi tentang Bank Sampah b. Lebih dari 60% warga berperan aktif dalam melaksanakan Program Bank Sampah c. Warga tidak lagi membuang sampah dengan cara dibakar maupun dibuang ke sungai. d. Program dapat mengurangi jumlah sampah anorganik yang ada di Desa Temenggungan ditabungkan. e. Warga memiliki kepedulian terhadap sampah di lingkungannya. f. Warga dapat meningkatkan tingkat ekonomi dan kesehatannya menjadi lebih baik. 4. Impact Evaluation terbukti dari setoran sampah anorganik yang

62

a. Pelaksanaan Program Bank Sampah dapat berjalan efektif sesuai dengan awal rencana program. b. Warga Desa Temenggungan dapat memanfaatkan program Bank Sampah untuk meningkatkan ekonomi dan kesehatannya. c. Warga mulai peduli terhadap kesehatan lingkungannya terutama dalam mengurangi jumlah sampah desa Temenggungan d. Warga dapat mengurangi kebiasaan untuk membakar sampah yang dapat mengakibatkan penyakit saluran pernafasan atau membuang sampah ke sungai yang dapat menimbulkan banjir di Desa Temenggungan. Tindakan evaluasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1. Evaluasi Formatif a. Penilaian pada saat warga melaksanakan Program Bank Sampah dua kali seminggu pada minggu pertama PKL, terbentuknya bank sampah setelah pengarahan pada minggu ketiga, dan setiap pengumpulan sampah anorganik. Dimana pada penilaian selama kegiatan berlangsung dilakukan untuk melihat apakah program tersebut dapat berjalan sesuai rencana, jika terdapat kekurangan maka dapat dilakukan perbaikan segera. b. Pada saat Pengarahan Program Bank Sampah, warga diberikan pengetahuan dan informasi tentang pengelolaan Program Bank Sampah. Penilaian dilakukan secara kuantitatif dengan melakukan pre-test dan post-test. Sedangkan dalam pelaksanaannya penilaian dapat dilakukan dengan menilai berkurangnya sampah anorganik yang ada di Desa

63

Temenggungan ditabungkan. 2. Evaluasi sumatif

terbukti

dari

setoran

sampah

anorganik

yang

a. Penilaian dilakukan setelah program terlaksana pada pengumpulan terakhir pada minggu pertama PKL. Apakah program berjalan sesuai rencana atau tidak. Penilaian dapat dilakukan dengan mengisi ceklist maupun kuisioner. Bisa juga dilaukan pengukuran terhadap jumlah sampah anorganik yang telah dikumpulkan oleh masyarakat. Provider menentukan apakah hasilnya bersifat positif (sesuai tujuan) maka program dapat dilanjutkan, namun apabila hasilnya atau negatif (masalah tidak terpecahkan atau ada potensial masalah yang belum diketahui) maka program tidak dapat dilakukan dan kemudian harus menganalisis potensial masalah yang mungkin masih belum diketahui. Pelatihan Takakura 1. Evaluasi terhadap Input: a. Sumber daya manusia terdiri dari Mahasiswa PKL, tokoh masyarakat atau pemerintahan setempat, warga desa Temenggungan. b. Waktu yang dibutuhkan saat pelaksanaan pengarahan program adalah 2 kali seminggu pada minggu kedua PKL. Sedangkan untuk pelaksanaan program, tersedia keranjang Takakura pada minggu ketiga setelah pelatihan. c. Dana yang dibutuhkan sebesar: Rp 2.325.000,2. Evaluasi terhadap Proses: a. Terdapat 60% partisipasi aktif masyarakat di Desa Temenggungan.
64

b. Warga mendapatkan pengetahuan dan pelatihan tentang pembuatan Takakura pada saat Pelatihan dilakukan\. c. Ada pemanfaatan kompos yang sudah terbentuk dari Takakura d. Promosi yang dilakukan adalah dengan door to door yaitu dengan brosur/poster dan undangan bagi masyarakat untuk menghadiri kegiatan. Selain itu dapat dilakukan melalui pengeras suara desa sehari sebelum pelaksanaan. 3. Evaluasi terhadap hasil dari kegiatan a. Warga mendapatkan pengetahuan dan pelatihan pembuatan keranjang Takakura b. Lebih dari 60% warga berperan aktif dalam melaksanakan Program Pelatihan Takakura c. Warga tidak lagi membuang sampah dengan cara dibakar maupun dibuang ke sungai. d. Program dapat mengurangi jumlah sampah organik yang ada di Desa Temenggungan terbukti dari banyaknya warga yang membuat Takakura setelah adanya pelatihan. Warga memiliki kepedulian terhadap sampah di lingkungannya. e. Warga dapat meningkatkan tingkat ekonomi dan kesehatannya menjadi lebih baik. 4. Impact Evaluation a. Pelaksanaan Program Pelatihan Takakura dapat berjalan efektif sesuai dengan rencana awal program.

65

b. Warga Desa Temenggungan dapat memanfaatkan program Pelatihan Takakura untuk mengurangi sampah organik sehingga dapat

mengurangi risiko terjadinya peularan penyakit yang dapat ditimbulkan oleh sampah organik Tindakan evaluasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1. Evaluasi Formatif a. Penilaian pada saat warga melaksanakan Program Pelatihan Takakura dua kali seminggu pada minggu kedua PKL. Dimana pada penilaian selama kegiatan berlangsung dilakukan untuk melihat apakah program tersebut dapat berjalan sesuai rencana, sehingga warga dapat memanfaatkan pengetahuan dan keterampilannya lebih lanjut. Jika tidak sesuai dengan rencana atau terdapat kekurangan maka dapat dilakukan perbaikan segera. b. Pada saat Pengarahan Program Pelatihan Takakura, warga diberikan pengetahuan dan Pelatihan tentang Keranjang Takakura. Penilaian dilakukan secara kuantitatif dengan melakukan pre-test dan post-test atau secara kualitatif yaitu dengan praktek pembuatan keranjang Takakura. 2. Evaluasi sumatif a. Penilaian dilakukan pada minggu ketiga PKL setelah pelatihan terlaksana. Apakah warga sudah memiliki keranjang Takakura atau belum. Penilaian dapat dilakukan dengan menghitung keranjang Takakura yang sudah terssedia. Provider menentukan apakah hasilnya bersifat positif (sesuai tujuan) maka program pembuatan Takakura

66

dapat dilanjutkan, namun apabila hasilnya atau negatif (masalah tidak terpecahkan atau ada potensial masalah yang belum diketahui) maka program Takakura tidak dapat dilakukan dan kemudian harus menganalisis potensial masalah sampah lain yang mungkin masih belum diketahui. Advokasi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah 1. Evaluasi terhadap Input: a. Sumber daya manusia terdiri dari Mahasiswa PKL, tokoh masyarakat atau pemerintahan setempat, warga desa Temenggungan, Perwakilan dari Dinas Kebersihan dan Dinas Pertanian. b. Waktu yang dibutuhkan saat pelaksanaan program advokasi adalah pada hari rabu minggu ketiga PKL. c. Dana yang dibutuhkan sebesar: Rp 2.325.000,2. Evaluasi terhadap Proses: a. Terdapat kebijakan tentang pengangkutan sampah secara rutin b. Ada pemenuhan kebutuhan masyarakat desa Temenggungan terhadap alat pengangkutan sampah c. Adanya pemanfaatan alat angkut sampah sehingga masyarakat tidak lagi membuang sampah secara sembarangan d. Promosi yang dilakukan adalah dengan door to door yaitu dengan undangan bagi masyarakat dan Dinas terkait untuk menghadiri kegiatan. 3. Evaluasi terhadap hasil dari kegiatan a. Terpenuhinya permintaan alat pengangkut sampah
67

b. Warga mendapatkan fasilitas pengangkutan sampah c. Warga tidak lagi membuang sampah secara sembarangan, tidak lagi membuang sampah dengan cara dibakar maupun dibuang ke sungai. d. Dapat mengurangi jumlah sampah yang ada di Desa Temenggungan. Warga memiliki kepedulian terhadap sampah di lingkungannya. e. Warga dapat meningkatkan tingkat ekonomi dan kesehatannya menjadi lebih baik. 4. Impact Evaluation a. Pelaksanaan Advokasi Pengadaan Alat Pengangkutan Sampah dapat berjalan efektif sesuai dengan rencana awal program. b. Warga Desa Temenggungan dapat memanfaatkan Alat angkut sampah untuk mengurangi sampah lainnya yang tidak dapat dimanfaatan kembali sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya penularan penyakit yang dapat ditimbulkan. Tindakan evaluasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1. Evaluasi Formatif a. Penilaian pada saat warga melaksanakan Diskusi Advokasi Pengadaan Alat Pengangkut Sampah pada hari Rabu minggu ketiga PKL/ Dimana pada penilaian selama kegiatan berlangsung dilakukan untuk melihat apakah program advokasi tersebut dapat berjalan sesuai rencana, sehingga warga mendapatkan kebijakan dari dinas terkait untuk penganggkutan sampah. Jika tidak sesuai dengan rencana atau terdapat kekurangan maka dapat dilakukan perbaikan atau mencari cara lain dengan segera.
68

b. Pada saat Advokasi dilaksanakan, warga ditutut berperan aktif untuk menyamoaikan aspirasinya. Penilaian dilakukan secara kualitatif yaitu dengan menilai keaktifan masyarakat dalam menyampaikan

aspirasinya. 2. Evaluasi sumatif a. Penilaian dilakukan pada Rabu pada minggu ketiga PKL. Apakah

warga dapat menyampaikan aspiranya atau belum dan apakah terbentuk kebijakan mengenai pengangkutan sampah dari dinas terkait. Penilaian dapat dilakukan dengan memastikan terbentuknya kebijakan tentang pengangkutan sampah dan pemenuhan alat angkut sampah dari dinas terkait.

69

BAB VII PENUTUP 7.1 Kesimpulan Model precede proceed adalah pendekatan yang digunakan untuk kegiatan perencanaan promosi kesehatan yang mengarah pada perubahan perilaku baik individu keluarga, maupun masyarakat. Ada 9 fase dalam model precede proceed yaitu fase diagnosis sosial, diagnosis epidemiologi, diagnosis perilaku dan lingkungan, diagnosis pendidikan dan organisasi, diagnosis administrasi dan kebijakan, implementasi, evaluasi proses, evaluasi dampak, dan evaluasi outcome. Berdasarkan analisis dengan model precede proceed yang dilakukan terhadap masyarakat Desa Temenggungan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo, didapatkan hasil bahwa kualitas hidup masyarakat Desa Temenggungan masih belum baik. Pernyataan di atas dibuktikan dengan tingkat pendidikan masyarakat rendah, status ekonomi rendah, dan status kesehatan yang tidak baik. Status kesehatan yang tidak baik disebabkan oleh permasalahan sampah yakni perilaku masyarakat terhadap sampah seperti membakar sampah, membuang sampah di sungai. Setelah dilakukan analisis dibentuk 3 program untuk mengatasi permasalahan sampah di masyarakat Desa Temenggungan, diantaranya yaitu program bank sampah, pelatihan takakura, dan advokasi pengadaan alat pengangkut sampah.

70

DAFTAR PUSTAKA Maulana Heri. Promosi Kesehatan. Cetakan I. Jakarta: ECG, 20009 Green, Lawrence & Kreuter, Marshall, W: Health Promotion Planning, An Educational and Enviromental Approach, Second Edition, Mayfield Publishing Company, 1991. Lina, dkk. 2012. Laporan Praktik Kerja Lapangan I Desa Temenggungan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo. Universitas Airlangga: Surabaya.

71

LAMPIRAN

Departemen Pendidikan Nasional Universitas Airlangga

LAPORAN PKL 1

Oleh : KELOMPOK XIII Desa Kecamatan Kabupaten : Temenggungan : Krejengan : Probolinggo

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya 2012

72

FORM PENILAIAN KELOMPOK 7 PEP2KM IKM A 2011 Nama Penilai : Faradina Permatasari NIM : 101111002

PENILAIAN KUANTITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Wuri Emira Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. Sovranita Liesti Jati Rizqi Arini Dosnita NIM Faradina Permatasari 101111004 101111013 101111024 101111059 101111063 101111065 101111075 101111078 101111101 101211123116 Nilai 86 89 88 87 88 86 89 89 86 70

PENILAIAN KUALITATIF : No. 1. 2. 3. Nama Wuri Emira Fanny Oktavia Komentar Faradina Permatasari Rajin sekali, selalu mengerjakan tugas dengan baik dan tepat waktu, agak pendiam Rajin sekali, selalu mengkoordinir temanteman untuk kerja kelompok, teliti, cekatan, mengumpulkan tugas tepat waktu Rajin sekali, sabar, sering mengingatkan kalau ada tugas, mengumpulkan tugas tepat waktu Rajin sekali, pintar dalam menganalisis, mengumpulkan tugas tepat pada waktunya Rajin sekali, mengerjakan tugas dengan cepat, cekatan Rajin tapi tidak kelihatan karena pembawaan nya yang terlalu santai, tetapi dalam mengumpulkan tugas tepat waktu Rajin sekali, paling tepat waktu dalam mengerjakan tugas, inisiator untuk kumpul kelompok, cekatan Rajin sekali, selalu tepat dalam mngerjakan tugas, interaktif, cekatan

4. 5. 6. 7.

Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhaan U.

8. 9.

Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C.

73

10. 11.

Sovranita Liesti Jati Rizqi Arini Dosnita

Rajin, pendiam, kurang interaktif, mengerjakan tugas tepat waktu Tidak bisa menilai karena tidak tau yang mana orangnya

74

FORM PENILAIAN KELOMPOK 7 PEP2KM IKM A 2011 Nama Penilai : Wuri Emira NIM : 101111004

PENILAIAN KUANTITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. Sovranita Liesti Jati Rizqi Arini Dosnita NIM 101111002 Wuri Emira 101111013 101111024 101111059 101111063 101111065 101111075 101111078 101111101 101211123116 Nilai 85 85 84 85 82 82 85 84 83 65

PENILAIAN KUALITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Nama Faradina Permatasari Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. Sovranita Liesti Jati Komentar Rajin, kritis dan cepat dalam mengeerjakan tugas Wuri Emira Rajin, aktif, mengawali pengerjaan tugas Rajin, selalu mengingatkan, tapi kurang bisa menjadi koordinator Rajin, pintar, selalu mudah menganalisis, susah dihubungi Rajin, cepat mengerjakan tapi kadang telat setor pekerjaan Rajin, pandai presentasi, tapi kalau mengumpulkan pekerjaan suka telat Rajin, paling tepat waktu mengumpulkan pekerjaan Rajin, tanggap tugas, interaktif Rajin, mengumpulkan tugas tepat waktu, kurang interaktif Maaf sebelumnya, tidak pernah ikut kelompokan, tidak pernah ikut presentasi, pernah kontak tapi setelah itu jarang komunikasi

11.

Rizqi Arini Dosnita

75

FORM PENILAIAN KELOMPOK 7 PEP2KM IKM A 2011 Nama Penilai : Fanny Oktavia NIM : 101111013

PENILAIANKUANTITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. Sovranita Liesti Jati Rizqi Arini Dosnita NIM 101111002 101111004 Fanny Oktavia 101111024 101111059 101111063 101111065 101111075 101111078 101111101 101211123116 Nilai 86 85 84 85 83 82 85 83 83 65

PENILAIAN KUALITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. Sovranita Liesti Jati Rizqi Arini Dosnita Komentar Rajin, kritis dan cepat dalam mengeerjakan tugas Rajin, pendiam, kurang interaktif Fanny Oktavia Rajin, selalu mengingatkan, tapi kurang bisa menjadi koordinator Rajin, pintar, selalu mudah menganalisis, tapi kalau kelompok susah dicari Rajin, cepat mengerjakan tapi kadang telat setor pekerjaan Rajin, pandai presentasi, tapi kalau mengumpulkan pekerjaan suka telat Rajin, paling tepat waktu mengumpulkan pekerjaan Rajin, tanggap tugas, interaktif Rajin, tapi kurang interkatif, kurang berpendapat Maaf sebelumnya, tidak pernah ikut kelompokan dan presentasi, pernah kontak tapi setelah itu jarang komunikasi

76

FORM PENILAIAN KELOMPOK 7 PEP2KM IKM A 2011 Nama Penilai : Charisma Arianti NIM : 101111024

PENILAIANKUANTITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. Sovranita Liesti Jati Rizqi Arini Dosnita NIM 101111002 101111004 101111013 Charisma Arianti 101111059 101111063 101111065 101111075 101111078 101111101 101211123116 Nilai 86 86 86 87 85 85 87 86 85 75

PENILAIAN KUALITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. Sovranita Liesti Jati Rizqi Arini Dosnita Komentar Rajin, cepat dalam mengeerjakan tugas Rajin, pendiam, tanggung jawab Rajin, selalu mengingatkan, tanggung jawab Charisma Arianti Rajin, pintar, selalu mudah menganalisis Rajin, telat namun kadang telat mengumpulkan pekerjaan Rajin, tanggung jawab, interaktif Rajin, paling tepat waktu mengumpulkan pekerjaan Rajin, pintar presentasi, cakap Rajin, tanggap tugas Kurang berkontribusi dalam kelompok, tidak pernah ikut presentasi

77

FORM PENILAIAN KELOMPOK 7 PEP2KM IKM A 2011 Nama Penilai : Asri Hikmatuz Zahroh NIM : 101111059

PENILAIANKUANTITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Charisma Arianti NIM 101111002 101111004 101111013 101111024 Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika 101111063 Syahru Ramadhaan U. 101111065 Imaculata Tinneke T. 101111075 Stefana Danty Putri C. 101111078 Sovranita Liesti Jati 101111101 Rizqi Arini Dosnita 101211123116 Nilai 86 86 86 86 85 85 87 86 85 75

PENILAIAN KUALITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Charisma Arianti Komentar Rajin, cepat dalam mengeerjakan tugas Rajin, pendiam, tanggung jawab Rajin, selalu mengingatkan, tanggung jawab Rajin, pintar, tepat waktu Asri Hikmatuz Zahroh Rajin, telat namun kadang telat Aig Baladhika mengumpulkan pekerjaan Syahru Ramadhaan U. Rajin, tanggung jawab, interaktif Rajin, paling tepat waktu mengumpulkan Imaculata Tinneke T. pekerjaan Stefana Danty Putri C. Rajin, pintar presentasi, cakap Sovranita Liesti Jati Rajin, tanggap tugas Kurang berkontribusi dalam kelompok, Rizqi Arini Dosnita tidak pernah ikut presentasi

78

FORM PENILAIAN KELOMPOK 7 PEP2KM IKM A 2011 Nama Penilai : Aig Baladhika NIM : 101111063

PENILAIANKUANTITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. Sovranita Liesti Jati Rizqi Arini Dosnita NIM 101111002 101111004 101111013 101111024 101111059 Aig Baladhika 101111065 101111075 101111078 101111101 101211123116 Nilai 85 83 86 82 83 82 85 83 82 60

PENILAIAN KUALITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. Sovranita Liesti Jati Rizqi Arini Dosnita Komentar Rajin, mengerjakan pekerjaan sesegera mungkin Rajin namun agak sedikit diam, mengerjakan pekerjaan dengan baik Rajin, aktif, mengawali pengerjaan tugas Rajin, cepat mengerjakan, inisiator yang baik Rajin, mengumpulkan tugas tepat waktu Rajin, analisisnya baik, idenya bagus Aig Baladhika Rajin, bekerja dengan baik, tetap tenang dalam kondisi apapun Rajin, tepat waktu dalam mengumpulkan tugas, pekerjaannya rapi Rajin, mudah berinteraksi dan tidak pernah mengeluh dalam mengerjakan tugas. Rajin, kurang berpendapat, agak sedikit diam Belum tahu orangnya yang mana.

79

FORM PENILAIAN KELOMPOK 7 PEP2KM IKM A 2011 Nama Penilai : Syahru Ramadhan Unzila NIM : 101111065

PENILAIANKUANTITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika NIM 101111002 101111004 101111013 101111024 101111059 101111063 Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. 101111075 Stefana Danty Putri C. 101111078 Sovranita Liesti Jati 101111101 Rizqi Arini Dosnita 101211123116 Nilai 86 86 86 85 87 85 87 86 85 75

PENILAIAN KUALITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Komentar Rajin, cepat dalam mengeerjakan tugas Rajin, pendiam, tanggung jawab Rajin, selalu mengingatkan, tanggung jawab Rajin, tepat waktu Rajin, pintar, selalu mudah menganalisis Rajin, telat namun kadang telat Aig Baladhika mengumpulkan pekerjaan Syahru Ramadhaan U. Rajin, paling tepat waktu mengumpulkan Imaculata Tinneke T. pekerjaan Stefana Danty Putri C. Rajin, pintar presentasi, cakap Sovranita Liesti Jati Rajin, tanggap tugas Kurang berkontribusi dalam kelompok, Rizqi Arini Dosnita tidak pernah ikut presentasi

80

FORM PENILAIAN KELOMPOK 7 PEP2KM IKM A 2011 Nama Penilai : Imaculata Tinneke Tandiono NIM : 101111075

PENILAIAN KUANTITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhan U. NIM 101111002 101111004 101111013 101111024 101111059 101111063 101111065 Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. 101111078 Sovranita Liesti Jati 101111101 Rizqi Arini Dosnita 101211123116 Nilai 84 82 85 81 82 82 81 83 83 65

PENILAIAN KUALITATIF : No. 1. 2. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Komentar Tanggap, rajin, tepat waktu dalam pengumpulan tugas, cekatan. Agak pendiam, tidak berani menyampaikan pendapat, rajin, kreatif, tepat waktu dalam pengumpulan tugas. Selalu mengkoordinasi untuk kerja kelompok, tanggap, rajin, tepat waktu dalam pengumpulan tugas, teliti. Rajin, tepat waktu dalam pengumpulan tugas Rajin, pandai menganalisis, tapi jarang kumpul kelompok Pengerjaan tugas cepat, tapi pengumpulan tugas terkadang terlambat Pengumpulan tugas terkadang terlambat, pembawaan santai tapi tugasnya selesai Imaculata Tinneke T. Selalu datang saat kerja kelompok, mengumpulkan tugas tepat waktu, hasil pekerjaan cukup baik.

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhaan U.

Stefana Danty Putri C.

81

10.

Sovranita Liesti Jati

11.

Rizqi Arini Dosnita

Pendiam, kurang berpendapat, jarang kumpul, tapi rajin dan tepat waktu dalam mengumpulkan tugas. Maaf sebelumnya, Mbak Rizqi tidak pernah ikut kerja kelompok maupun kumpul kelompok, tidak pernah hadir saat presentasi, pernah satu kali menghubungi kelompok kami dan hadir saat akan maju presentasi. Setelah itu, tidak ada kelanjutannya

82

FORM PENILAIAN KELOMPOK 7 PEP2KM IKM A 2011 Nama Penilai : Stefana Danty Putri Caesandri NIM : 101111078

PENILAIAN KUANTITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhan U. Imaculata Tinneke T. Sovranita Liesti Jati Rizqi Arini Dosnita NIM 101111002 101111004 101111013 101111024 101111059 101111063 101111065 101111075 Stefana Danty Putri C. 101111101 101211123116 Nilai 86 84 86 85 85 83 83 86 83 65

PENILAIAN KUALITATIF : No. 1. 2. Komentar Tanggap, rajin, tepat waktu dalam Faradina Permatasari pengumpulan tugas, cekatan. Agak pendiam, tidak berani menyampaikan Wuri Emira pendapat, rajin, kreatif, tepat waktu dalam pengumpulan tugas. Selalu mengkoordinasi untuk kerja Fanny Oktavia kelompok, tanggap, rajin, tepat waktu dalam pengumpulan tugas, teliti Rajin, tepat waktu dalam pengumpulan Charisma Arianti tugas Rajin, pandai menganalisis tapi jarang Asri Hikmatuz Zahroh kumpul kelompok Pengerjaan tugas cepat, tapi pengumpulan Aig Baladhika tugas terkadang terlambat Pengumpulan tugas terkadang terlambat, Syahru Ramadhaan U. pembawaan santai tapi tugasnya selesai Rajin, tekun, tanggap, mengkoordinasi kerja Imaculata Tinneke T. kelompok, tepat waktu mengumpulkan tugas, cekatan. Stefana Danty Putri C. Nama

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

83

Sovranita Liesti Jati 10.

11.

Rizqi Arini Dosnita

Pendiam, kurang berpendapat, jarang kumpul, tapi rajin dan tepat waktu dalam mengumpulkan tugas. Maaf sebelumnya, Mbak Rizqi tidak pernah ikut kerja kelompok maupun kumpul kelompok, tidak pernah hadir saat presentasi, pernah satu kali menghubungi kelompok kami dan hadir saat akan maju presentasi. Setelah itu, tidak ada kelanjutannya

84

FORM PENILAIAN KELOMPOK 7 PEP2KM IKM A 2011 Nama Penilai : Sovranita Liesti Jati NIM : 101111101

PENILAIANKUANTITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. Rizqi Arini Dosnita NIM 101111002 101111004 101111013 101111024 101111059 101111063 101111065 101111075 101111078 Sovranita Liesti Jati 101211123116 Nilai 85 85 85 84 85 82 82 85 84 60

PENILAIAN KUALITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. Komentar Rajin, kritis dan cepat dalam mengeerjakan tugas Rajin, pendiam, kurang interaktif Rajin, aktif, mengawali pekerjaan tugas Rajin, selalu mengingatkan, tapi kurang bisa menjadi koordinator Rajin, pintar, selalu mudah menganalisis, tapi kalau kelompok susah dicari Rajin, cepat mengerjakan tapi kadang telat setor pekerjaan Rajin, pandai presentasi, tapi kalau mengumpulkan pekerjaan suka telat Rajin, paling tepat waktu mengumpulkan pekerjaan Rajin, tanggap tugas, interaktif Sovranita Liesti Jati Maaf sebelumnya, tidak pernah ikut kelompokan dan presentasi, pernah kontak tapi setelah itu jarang komunikasi

Rizqi Arini Dosnita

85

FORM PENILAIAN KELOMPOK 7 PEP2KM IKM A 2011 Nama Penilai : Rizqi Arini Dosnita NIM : 1011211123116

PENILAIANKUANTITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. Sovranita Liesti Jati NIM 101111002 101111004 101111013 101111024 101111059 101111063 101111065 101111075 101111078 101111101 Rizqi Arini Dosnita Nilai 90 90 90 90 90 90 90 90 90 90

PENILAIAN KUALITATIF : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Faradina Permatasari Wuri Emira Fanny Oktavia Charisma Arianti Asri Hikmatuz Zahroh Aig Baladhika Syahru Ramadhaan U. Imaculata Tinneke T. Stefana Danty Putri C. Sovranita Liesti Jati Komentar Rajin, kritis dan cepat dalam mengeerjakan tugas Rajin, interaktif Rajin, pintar Rajin, selalu mengingatkan Rajin, pintar, selalu mudah menganalisis Rajin, cepat mengerjakan Rajin, pandai presentas Rajin, paling tepat waktu mengumpulkan pekerjaan Rajin, tanggap tugas, interaktif Rajin, interaktif Rizqi Arini Dosnita

86