Anda di halaman 1dari 21

PENDAHULUAN Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologis yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang

progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya, gagal ginjal adalah suatu keadaan klinik yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversible, pada suatu darejat yang memerlukan terapi atau transplantasi ginjal. Uremia adala suatu sindrom klinik dan laboratorik yang terjadi pada semua organ, akibat penurunan fungsi ginjal pada penyakit ginjal kronik.1 kriteria penyakit ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi lebih dari 3 bulan, berupa kelainan structural atau fungsionalm dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG), dengan manifestasi pada kelainan patalogis dan terdapat tanda kelainan ginjal termasuk kelainan dalam komposisi darah atau urin, atau kelainan dalam tes pencitraan. Selain itu, criteria penyakit ginjal kronik bisa dilihat dari laju filtrasi glomerulus (LFG) yang kurang dari 69 ml/ menit/ 1,73 m2 selama 3 bulan, dengan atau tanpa kerusakan ginjal.1

1|Chronic Kidney Disease

KASUS Nama lengkap: Tn. I Jenis kelamin: laki-laki Suku bangsa: Jawa Tanggal lahir: 27/ 03/1990 Alamat: Blimbing Rejo Agama: Islam Pekerjaan: mahasiswa Pendidikan terakhir: universitas Tanggal masuk: 25/ 12/ 13, jam 10 malam Dokter yang memeriksa: Dr. Bambang SpPD Status perkahwinan: belum berkahwin

Masuk ke rumah sakit Ruang Dikasuskan tanggal Diperiksa tanggal

: 25 Disember 2013 : betani B :25 Disember 2013 : 26-30 Disember 2013

ANAMNESIS Diambil dari : autoanamnesis dan Alloanamnesis Jam: 2200 Keluhan utama Muntah 5 kali malam SMRS Riwayat penyakit sekarang Sejak 1 bulan yang lalu, OS merasa perutnya semakin membesar dan terasa mengencang seperti tertarik perutnya, kedua kelopak matanya, wajah, perut dan kedua kakinya menjadi bengkak. 1 minggu terakhir, pasien merasa sesak nafas. BAK OS menjadi tidak lancar, warna kuning keruh. Nafsu makan os juga berkurang. 4 hari SMRS. Os berasa mual sesudah makan dan memuntahkan isi makanan. Muntah sampai 3-4 kali berisi makanan, tanpa darah. Os telah mengambil obat tahan muntah, tetapi tiada perbaikan. Kepala pasien berasa pusing, disertai rasa lemas seluruh badan. Kelopak matam wajah dan kaki masih bengkak. tanggal: 25 Disember 2013

2|Chronic Kidney Disease

3 hari SMRS, nyeri perut os tidak kunjung sembuh. Keluhan sakit lebih terasa di bahagian abdomen atas kiri. Muntah tidak ada tetapi rasa mual. Badan masih berasa lemas. Kepala terasa pusing dan rasa kencang di bahagian kepala belakang. Os mengadu mencret keluar air,lender tidak ada, darah tidak ada. Os sakit tidak mengadu adanya panas badan. 2 hari SMRS, nyeri perut kiri tetap ada tetapi berkurang. Os mencret 3 kali mengeluarkan isi air tanpa darah. Lender tidak ada, ampas tidak ada. Os berasa mual dan muntah sebanyak 5 kali mengeluarkan isi makanan.Pusing kepala masih terasa. BAB normal tetapi BAK tidak lancar, mengeluhkan kencing kurang. 1 hari SMRS, os sakit muntah 5 kali mengeluarkan isi air dan makanan yang dimakan. Perut terasa krem, nyeri sekali di bahagian kiri atas. Badan terasa lemas disertai pusing kepala bahagian kepala belakang. Mencret sudah membaik. BAK os tetap tidak lancar. Riwayat penyakit dahulu Pasien mempunyai riwayat penyakit hipertensi dan dikesan sejak 3 tahun lalu. Riwayat penyakit keluarga Ibu os pernah di rawat di RS kerana sakit jantung serta darah tinggi. RIWAYAT HIDUP Riwayat kelahiran Tempat lahir Ditolong oleh Persalinan : : : Rumah sakit Dokter Spontan

Riwayat Imunisasi Hepatitis BCG Campak DPT : tidak diketahui : tidak diketahui : tidak diketahui : tidak diketahui

3|Chronic Kidney Disease

Polio

: tidak diketahui

Tetanus: tidak diketahui

Riwayat Makanan Frekuensi / Hari Jumlah / Hari Variasi/ Hari Pagi Sore Nafsu makan :2 kali : 1 porsi : : nasi, sayur dan ikan goring : nasi, tempe, sayur bening : kurang baik

Gangguan pencernaan : tidak ada

Pekerjaan Jenis: Mahasiswa

Kebiasaan (+) Merokok (- ) Kopi (-) Teh (-) Jamu (-) Obat (-) Alkohol

Keadaan social ekonomi Keuangan Pekerjaan Keluarga : tidak ada masalah : belum bekerja : tidak ada masalah

4|Chronic Kidney Disease

Lain-lain

: tidak ada

PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan umum Keadaan umum Kesadaran Tinggi Badan Berat badan Tekanan Darah Nadi Suhu Pernapasan Mobilisasi : sakit sedang : Compos mentis :168cm : 58 kg :134/100 mmHg :114 / menit, regular, cukup isi : 37.0 o C, aksila : 24 kali/ menit : pasif

Pemeriksaan fisik Kulit Warna sawo matang, tidak ada lesi, tidak ada lesi bekas operasi, turgor kulit normal.

Kepala Normosefali, tidak ada benjolan maupun lesi, distribusi rambut merata, warna rumbit hitam, tidak mudah rontok Mata Pupil isokor diameter 3mm, reflex cahaya langsung (+/+), reflex cahaya tidak langsung (+/+), konjungtiva anemis (+/+), sclera ikterik (-/-), edema palpebra (+/+)

5|Chronic Kidney Disease

Hidung Septum tidak deviasi, napas cuping hidung (-), secret (-), darah (-), nyeri tekan paranasal (-) Telinga Nyeri tekan tragus dan mastoid (-), liang lapang, secret (+) sedikit Mulut Simetris, bibir kering (-), bibir sianosis (-), deviasi lidah (-), faring hiperemis (-), tonsil T1-T1 tenang Leher Trakea di tengah, KGB tidak membesar, tiroid tidak membesar, JVP 5+2 cmH2O Thoraks Bentuk Pembuluh darah : simetris, sela iga tidak melebar,tidak ada retraksi sela iga : spider nevi (-)

Pemeriksaan Inspeksi

Paru Kanan

Depan

Belakang

simetris saat statis dan saat simetris saat statis dan saat dinamis dinamis

Kiri

Simetris dinamis

saat

statis

dan Simetris saat statis dan dinamis

Palpasi

Kanan

Tidak ada benjolan Fremitus taktil normal. Nyeri tekan ( - )

Tidak ada benjolan Fremitus taktil normal Nyeri tekan ( - )

Kiri

Tidak ada benjolan Fremitus normal. taktil

(+/+) -

Tidak ada benjolan Fremitus normal. taktil (+/+)

Perkusi Kanan -

Nyeri tekan ( - )

Nyeri tekan ( - )

sonor di seluruh lapang sonor di seluruh lapang paru

6|Chronic Kidney Disease

paru Batas paru-hati : ICS V linea midclavicula dekstra

sonor di seluruh lapang paru Kiri Auskultasi Kanan Suara dasar vesikuler Wheezing ( - ) Ronkhi basah ( - ) sonor di seluruh lapang paru Suara dasar vesikuler Wheezing ( - ) Ronkhi ( - )

Kiri -

Suara dasar vesikuler Wheezing ( - ) Ronkhi basah ( - )

Suara dasar vesikuler Wheezing ( - ) Ronkhi basah( - )

Pemeriksaan Inspeksi Palpasi Perkusi

Hasil Ictus cordis terlihat di ICS V Ictus cordis teraba di mid clavicula ICS 5 Batas atas Pinggang Batas kiri : ICS II linea parasternal sinistra : ICS III linea midclavicula sinistra : ICS V 1 cm medial linea midklavikula sinistra

Batas kanan : ICS IV linea parasternal dekstra Auskultasi Bunyi jantung I II murni reguler. Murmur ( - ), gallop ( - )

Abdomen Inspeksi : membuncit, simetris, tidak ada bekas operasi, dilatasi vena ( - ), tidak ada benjolan

Auskultasi : Bising usus ( + ), tidak meningkat Perkusi Palpasi : Timpani +/+, shifting dullness ( + ), undulasi ( - ) : Nyeri tekan (+) di epigastrium dan hipokandrium kiri.

7|Chronic Kidney Disease

Dinding perut : Nyeri tekan ( + ), nyeri lepas ( - ), massa ( - ), Murphy sign ( - ), Hati : sulit dinilai

Perkusi hati : batas paru hari di ICS V midklavikular kanan, peranjakan hati 2 jari. Limpa Ginjal : tidak membesar . : Ballotement ( - ), nyeri ketuk CVA ( + )

Punggung Inspeksi : bentuk tulang belakang normal , tidak terlihat adanya masa, retraksi sela iga pada

tulang belakang, dan tidak terlihat adanya bekas luka. Colok dubur : tidak dilakukan Alat kelamin : tidak dilakukan Anggota gerak Lengan Otot Tonus Massa Sendi Gerakan Kekuatan Oedem Tangan Warna Tremor Clubbing finger : : : Sawo matang Tidak ada Tidak ada Sawo matang Tidak ada Tidak ada : : : : : : Normotonus Eutrofi Tidak ada kelainan Aktif 4+++ Tidak ada Normotonus Eutrofi Tidak ada kelainan Aktif 4+++ Tidak ada Kanan Kiri

8|Chronic Kidney Disease

Kuku Jari

: :

Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan

Tungkai dan Kaki

Kanan

Kiri

Luka Otot Tonus Massa Sendi Gerakan Kekuatan Oedema

Tidak ada

Tidak ada

: : : : : :

Normotonus Eutrofi Normal Pasif 3+++ ada

Normotonus Eutrofi Normal Pasif 3+++ ada

Reflex Kanan Refleks Tendon Bisep Trisep Patela Achiles Kremaster + + + + + + Kiri + + + + + +

9|Chronic Kidney Disease

Reflekskulit Reflekspatologis

+ -

+ -

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Jenis / Tanggal Darah rutin Hb Leukosit Basofil % Monosit % Eusinofil % Netrofil % Limfosit % LUC % MCV MCH MCHC Hematokrit Trombosit Eritrosit RDW PDW 8,9 () 14,32 () 0,1 4,1 0,9 () 83,7 () 10,1 () 1,1 81 21,9 () 27 32,9 () 272 4,06 () 10,1 () 49,2 13,2 -17,3 g/dl 3,8- 10,6 ribu/ul 0-1% 2-8% 1-3% 50-70% 25-40% 1-4 80-100 26-34 32-36 40-52 % 150-400 ribu/ul 4,4-5,9 (juta) 11,5-14,5 10-18 ( sysmex) 25 -65 (advia) MPV LED GDS 8,8 20,5 () 120 () 6,8-10micro m3 0-10 mm/jam 75-110 mg/dl 26 Disember 2013 Nilai Normal

Kimia darah (26 disember 2013) Ureum Creatinin darah 213 () 21,5 () 15-40 mg/dL 0,6-1,1 mg/dL

10 | C h r o n i c K i d n e y D i s e a s e

Natrium Kalium Calcium

130,3() 5,36 () 8,5

135-147 mmol/L 3,5-5 mmol/L 8,5-10,2 mg/dL

Immunoserologi (28 disember 2013) Anti HCV 0,108 Negative Anti HIV 0,602 Negative VDRL/ RPR Hbs Ag Negative Negative

Pemeriksaan USG abdomen (28 Disember 2013) Hepar: ukuran tak membesar, parenkim homogeny tak tampak nodul. Ekoginisitas parenkim normal, tak tampak dilatasi duktus biliaris, v. porta dan v. hepatica. IVC melebar. Gall bladder: bentuk dan ukuran normal, tak tampak batu maupun sludge. Pancreas: ukuran normal, parenkim homogeny, tak tampak dilatasi duktus pankreatikus Lien: ukuran tak membesar, tak tampak dilatasi v. lienalis Kedua ginjal: bentuk dan ukuran normal, parenkim ekoginisitas meningkat, batas kortikomeduler tak jelas, tak tampak dilatasi PCS maupun batu. Vesika urinaria: tak terisi cukup. Prostat: ukuran tak membesar, nodul/ kalsifikasi tidak ada. Tampak efusi pleura kanan dengan cairan pada kavum pelvis kesan: gambaran kongestif liver awal dengan efusi pleura kanan dan acsites (para vesika) mendukun gambaran proses kronis kedua ginjal (peningkatan ekogenisitas) tak tampak gambaran nefrolith dan vesikolith saat ini 11 | C h r o n i c K i d n e y D i s e a s e

x-foto toraks (26 Disember 2013) cor: tampak membesar ringan pulmo: tak tampak kesuraman pada paru, corakan bronkovaskuler normal diafragma dan sinus kanan dan kiri normal kesan: cor: kesan membesar ringan pulmo: tak tampak kelainan. ANALISA MASALAH Daftar abnormalitas 1. Mual dan muntah 2. Nafsu makan berkurang 3. Badan terasa lemah dan lemas 4. Nyeri tekan pada epigastrium dan hipokondrium kiri 5. Wajah dan kedua palpebra oedema 6. BAK sulit dan berwarna kuning keruh 7. Perut agak membuncit 8. Tes shifting dullness (+) 9. Kedua tungkai bawah oedema 10. Sesak napas 11. Ada riwayat hipertensi. 12. Hb 8,9 g/dl, leukosit 14,32, neutrofil 83,7, MCH 21,9, hematokrit 32,9, eritrosit 4,06 13. Ureum 21,3, creatinin 21,15, natrium 130,3, Kalium 5,36. 14. Pada USG, tampak kongestif liver awal dengan efusi pleura kanan dan acsites di paravesika, mendukung gambaran proses kronis kedua ginjal (peningkatan ekogenisitas). 15. Pada x- foto toraks, tampak ventrikel kiri sedikit membesar kea rah latero kaudal.

12 | C h r o n i c K i d n e y D i s e a s e

WORKING DIAGNOSIS Gagal ginjal kronis darejat 5

Dasar diagnosis Gagal ginjal kronis darejat 5 Pasien laki-laki berusia 23 tahun dengan keluhan mual, muntah, badan terasa lemah, kurang nafsu makan, palpebra, perut dan tungkai dirasakan bengkak sejak sebulan lalu, diperkirakan sebagai gejala dari sindrom uremik.1 Pada pemeriksaan fisik, terdapat kesan oedema pada daerah wajah dan kedua tungkai bawah. Pada abdomen, terlihat sedikit membuncit dan pabila dilakukan perkusi, shifting dullness nya positif. Ini menjelaskan akan bengkak di bahagian muka dan kaki os memastikan adanya volume overload yang sering terjadi pada sindrom uremik dalam penyakit ginjal kronik. Dari hasil lab darah, didapatkan ureum dan kreatinin meningkat masing-masing sebanyak 21,3 dan 21,5. Dari hasil creatinin darah ini, bisa dihitung LFG pasien ini. Didapatkan pada pasien ini hasil hitung LFG nya kurang dari 15 mL/ min/ 1,73m2 yaitu 4,38 mL/ min/ 1,73m2 . Ini menunjukkan penyakit ginjal kronik darejat 5. Didapakan juga nilai natrium rendah (130,5 ) dan kalium yang tinggi( 5,36) menunjukkan kegagalan perfusi ginjal. Selain itu, didapatkan penurunan Hb dan eritrosit pada pasien ini. Anaemia terjadi pada 80-90% pasien penyakit ginjal kronik.1 Ia terjadi pada penyakit ginjal kronik terutama disebabkan oleh defisiensi eritropoitin.2 PROBLEM Assessement: penyakit ginjal kronik darejat 5 IPDx (planning) Biopsi ginjal Histopatologi ginjal Tes darah rutin :Hb, hematokrit, eritrosit, MCHC Tes kimia darah: ureum, kreatinin darah Tes urin rutin: albumin, protein dalam urin

13 | C h r o n i c K i d n e y D i s e a s e

IPTx (therapy) Non farmakologis: Tirah baring Pembatasan asupan protein (0,6-0,8/ kgBB/ hari). Diet rendah garam. Terapi hemodilisa/ transplantasi ginjal Farmakologis: Infuse NaCl 10 tpm Amlodipin 1x 5 g Prosogan 30 mg 1 x 1 Vometa ft 3 x 1 Catapress 3 x 75 mg IPMx: lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital hitung balance cairan (dibataskan cairan masuk: iws + urine output) pemeriksaan albumin, kreatinin, ureum, natrium, kalsium, klorida, kalium, uric acid, Hb, Ht, eritrosit, LED, MCV, MCH berkala IPEx: Menjelaskan tentang fungsi ginjal pasien yang menurun Mengajarkan kepada pasien untuk membatasi asupan cairan untuk mengatasi udem yang dialami pasien Menjelaskan terapi yang selanjutnya untuk kondisi pasien- hemodilisa darah

DIAGNOSIS DIFERENSIAL Sirosis hepatis

Dipikirkan sirosis hepatis karena terdapat gejala asites Yang tidak mendukung : tidak ada ikterik, peningkatan JVP, atrofi m.pectoralis(-), spider nevi (-), palmar eritem(-), tidak ada riwayat hepatitis sebelumnya, tidak ada riwayat minum jamu-jamuan, alkohol.

Pada immunoserologis, anti HCV negatif, Hbs Ag negatif.

14 | C h r o n i c K i d n e y D i s e a s e

Sehingga kemungkinan ini dapat disingkirkan.

Prognosis

a. Ad vitam b. Ad functionam

: dubia ad malam : dubia ad malam : dubia ad malam

c. Ad sanationam
FOLLOW UP Tanggal 26/12/2013

1.penyakit ginjal kronik darejat 5 S: perut terasa keram, BAK masih tidak lancar, BAB mencret, kepala rasa pusing, mual muntah habis makan. Napas masih sesak. O: tekanan darah: 160/100 Nadi: 86 RR: 24 Suhu: 37o C Kepala: oedema pada wajah, oedem palpebra (+/+), CA -/-, SI -/-, reflex cahaya +/+, terpasang NGT pada hidung. Abdomen : bentuk perut buncit, shifting dullness (+), undulasi (-), striae (-), dilatasi vena (-), Nyeri tekan (+) di epigastrium dan hipokondrium kiri, BU (+) Extremitas : kaki oedema +/+ (pitting), sianosis (-) A : Dari hasil laboratorium didapatkan hiponatremi, hipokalsemi, hipoklorida, dislipidemia, hiperurisemia, MCV dan MCH menurun mendukung diagnosis uremia pada pemeriksaan kimia darah didapatkan ureum 213 mg/dl, kretinin darah 21,15 mg/dl P: Tirah baring Infus cairan NaCl 10 tpm Vometa ft 3 x 1 Catapress 3x 75 Pembatasan asupan cairan perhari 500 cc Monitor kadar Hb, Ht, kreatinin, ureum, albumin urin.

15 | C h r o n i c K i d n e y D i s e a s e

FOLLOW UP Tanggal : 28/12/ 2013 1. Gagal ginjal kronis S : Perutnya terasa kencang dan nyeri di perut kiri atas, mual muntah masih ada, rasa gatal di

tangan dan abdomen, O : Tekanan darah : 170/100 mmHg Suhu : 36,70C Nadi : 104x/menit teratur Nafas : 24x/menit Kepala: oedema pada wajah, oedem palpebra +/+, CA -/-, SI -/-, Refleks cahaya +/+ Abdomen : bentuk perut buncit, shifting dullness (+), undulasi (-), striae (-), dilatasi vena (-), Nyeri tekan (+) di epigastrium dan hipokondrium kiri, BU (+) Extremitas : kaki oedema +/+ (pitting), sianosis (-) A : Dari hasil laboratorium didapatkan Hb 8,1mg/dL, Ht 22,7%, ureum 115,3 mg/dl, kretinin darah 15,6 mg/dl. P: Tirah baring Infus cairan NaCl 10 tpm Vometa ft 3 x 1 Catapress 3x 75 Pembatasan asupan cairan perhari 500 cc Monitor kadar kalsium, natrium, kalium FOLLOW UP Tanggal 29/12/2013 1.Gagal ginjal kronis S: Perutnya masih terasa kencang dan nyeri di perut kiri atas, wajah, kedua kelopak mata dan kaki masih bengkak. O : Suhu : 36,70C Nadi : 116x/menit teratur Tekanan darah : 190/120 mmHg Nafas : 24x/menit Kepala: oedema pada wajah, oedem palpebra +/+, CA -/-, SI -/-, Refleks cahaya +/+

16 | C h r o n i c K i d n e y D i s e a s e

Abdomen : bentuk perut buncit, shifting dullness (+), undulasi (-), striae (-), dilatasi vena (-), Nyeri tekan (+) di epigastrium dan hipokondrium kiri, BU (+) Extremitas : kaki oedema +/+ (pitting), sianosis (-) A : dari hasil lab didapatkan Hb 8,9 mg/dl, trombosit 226,000, ureum darah 168 mg/dl, creatinin darah 26,13 mg/dl P: Tirah baring Infus cairan NaCl 10 tpm Vometa ft 3 x 1 Prosogan 30 mg 1x 1 Catapress 3x 75

FOLLOW UP 30/12/2013 1.Gagal ginjal kronis S: pasien masih rasa sesak, mual muntah masih ada. Bengkak di mata dan kaki sedikit menurun. O: Tekanan darah : 180/100 mmHg Suhu : 36,40C Nadi : 110x/menit teratur Nafas : 22x/menit Kepala: oedema pada wajah, oedem palpebra +/+, CA -/-, SI -/-, Refleks cahaya +/+ Abdomen : bentuk perut buncit, shifting dullness (+), undulasi (-), striae (-), dilatasi vena (-), Nyeri tekan (+) di epigastrium dan hipokondrium kiri, BU (+) Extremitas : kaki oedema +/+ (pitting), sianosis (-) A: pada pemeriksaan lab ditemukan Hb 8,7 mg/dl, ureum 280 mg/dl, kreatinin darah 26,13 mg/dl P: rencana hemodialisis.

17 | C h r o n i c K i d n e y D i s e a s e

PEMBAHASAN Os berumur 23 tahun diduga mengalami penyakit ginjal kronis darejat 5 dengan diambil dari criteria penegakan diagnosis gagal ginjal kronis. Penyakit ginjal kronis itu sendiri diklasifikasikan berdasarkan etiologinya, kategori LFG nya dan dari kategori albuminuria nya.1 Pada pasien ini, didapatkan hitung LFG nya kurang dari 15 ml/ min/ 1,73m2 di mana menunjukkan fungsi ginjal yang buruk. kockcroft- gault.2 Pada pasien ini, dicari penyebab terjadinya penyakit ginjal kronis, sama ada dari riwayat hipertensinya, ataupun ada penyebab yang lain. Maka, direncanakan tes biopsy ginjal untuk melihat ada penyebab lain dari penyakit ini seperti gromerulonefritis. Selain itu, biopsy dan pemeriksaan histopatologi ginjal dapat menentukan indikasi yang tepat terhadap terapi spesifik. Namun begitu, biopsy hanya diindikasikan pada ginjal yang ukurannya masih normal pada pemeriksaan ultrasonografi.2 Pada prinsip pengobatan, ditelusuri terlebih dahulu penyakit ginjal kronis pada pasien ini pada darejat yang keberapa dengan melihat fungsi ginjal seperti pada LFG. Menurut teori, hasil hitung LFG pada pasien ini mengindikasikan untuk terapi hemodilisa ataupun transplantasi ginjal. Dalam masa yang sama, sebelum di berikan terapi hemodilisa, diberikan terapi untuk gejala-gejala yang dialami pasien. 2 Gejala- gejala pada pasien ini amat jelas menunjukkan sindrom uremik dimana pasien mengalami mual muntah terus menerus, kepala pusing, penurunan nafsu makan dan kelebihan volume cairan. Jadi, perkara terpenting pada terapi pasien ini adalah pembatasan asupan protein. Protein diberikan sekitar 0,6-0,8/kgBB/hari,yang 0,35-0,50gr diantaranya merupakan protein nilai biologi tinggi. Jumlah kalori yang diberikan sebesar 30-35 kkal/kgBB/hari. Dibutuhkan pemantauan yang teratur terhadap status nutrisi pasien. Bila terjadi malnutrisi, jumlah asupan protein dan kalori dapat ditingkatkan. Tidak seperti kabohidrat dan lemak, kelebihan protein tidak dapat disimpan di dalam tubuh tapi dipecah menjadi urea dan substensi nitrogen lain, yang terutama disekresikan oleh ginjal. Pada pasien dengan penyakit ginjal kronis dengan fungsi ginjal menurun, ini memburukkan kondisi pasien. Dengan demikian, pembatasan asupan protein menurunkan gejala uremia yang dihadapi pasien.1 Pada pemeriksaan darah juga didapati Hb dan eritrosit yang menurun pada pasien ini. Hal ini bisa terjadi kerana banyak hal, antaranya defisiensi asam folat, penekanan sumsum tulang karena substansi uremik dan lain-lain. Evaluasi terhadap anemia dimulai saat kadar Hb <10g% atau 18 | C h r o n i c K i d n e y D i s e a s e Hitung LFG dihitung dengan mempergunakan rumus

hematokrit < 30%, meliputi evaluasi terhadap status besi (kadar besi serum/ serum ion, kapasitas ikat besi total/ total iron binding capacity, feritin serum), mencari sumber perdarahan jika ada, morfologi eritrosit, kemungkinan adanya hemolisi dan lain sebagainya.3

19 | C h r o n i c K i d n e y D i s e a s e

KESIMPULAN

Sejak 1 bulan yang lalu, OS merasa perutnya semakin membesar dan terasa mengencang seperti tertarik perutnya, kedua kelopak matanya, wajah, perut dan kedua kakinya menjadi bengkak. 1 minggu terakhir, pasien merasa sesak nafas. BAK OS menjadi tidak lancar, warna kuning keruh. 1 hari SMRS pasien muntah sebanyak 5 kali, muntah berisi cairan berwarna kuning berisi isi makanan saja. Os juga mengadu nafsu makan nya menurun Riwayat kejang sebelumnya disangkal, ada riwayat darah tinggi, kencing manis disangkal. Riwayat penyakit ginjal tidak diketahui. Riwayat penyakit hati, transfusi darah disangkal. Riwayat penyakit jantung dan paru-paru disangkal. Riwayat jantung dari ibu pasien, darah tinggi ada, penyakit hati, ginjal tidak diketahui. Pada pemeriksaan fisik ditemukan pasien tampak lemas, kesadaran compos mentis, tekanan darah 130/100 mmHg, suhu aksila 37,2C, nadi 114 kali/menit reguler, dan frekuensi napas 24 kali/menit dengan IMT 20,55. Pada pemeriksaan fisik kulit didapatkan warna kulit kuning langsat tidak ikterik. Pemeriksaan fisik kepala didapatkan wajah pasien tampak bengkak. Pada pemeriksaan mata terdapat oedem ke-2 palpebra. pemeriksaan hidung, telinga, mulut dan leher dalam batas normal. Pada thoraks tidak tampak, paru-paru dan jantung dalam batas normal. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan tampak perut membuncit disertai dengan tes shifting dullness positif dan undulasi negatif disertai dengan nyeri tekan pada regio epigastrium dan hipokondium kiri. Hati, limpa dan ginjal sulit dinilai. Punggung dalam batas normal. Pada ekstremitas terdapat penurunan kekuatan pada anggota gerak atas dan bawah kanan menjadi +4. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan Hemoglobin 8,9 g/dl, MCH 27 pg, hematokrit 32,9%, eritrosit 4,06 juta,GDS 120mg/dl, Ureum 213 mg/dl, kretinin darah 21,5 mg/dl, natrium 130,3 mmol/l, kalium 5,36 mmol/l. Dari data-data diatas dapat dibuktikan bahwa pasien mengalami penyakit ginjal kronik darejat 5 dan dianjurkan untuk hemodilisis darah atau transplantasi ginjal.

20 | C h r o n i c K i d n e y D i s e a s e

DAFTAR PUSTAKA 1. Garabed E, Norbert L et, KDIGO 2012 Clinical practise guideline for the evaluation and management of Chronic Kidney Disease.2012; United States of America. 2. Ketut S, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Penyakit Ginjal Kronik.18th Edition Vol II. Jakarta: Terbitan FK UI: 2009. P. 1307-40. 3. Anna F, Jerry K et al. Harrisons Principles of Internal Medicine: Chronic Kidney Disease. 18th edition Vol II. New York: McGraw-Hill: 2012. P. 1287-95.

21 | C h r o n i c K i d n e y D i s e a s e