Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS WEBSITE PEMDA KABUPATEN ACEH UTARA A. INFORMASI YANG DIJELASKAN DALAM WEBSITE INI ANTARA LAIN : 1.

PENGENALAN A. VISI & MISI Visi Kabupaten Aceh Utara untuk tahun 2007-2012 : Terwujudnya Masyarakat Aceh Utara yang Bertaqwa, Adil, Makmur, Aman, Sejahtera, dan Produktif Dibawah Lindungan Ridha Allah Swt. Adapun maksud yang terkandung dalam Visi di atas adalah sebagai berikut: 1. Masyarakat Aceh Utara yang Bertaqwa. Dimaksudkan, bahwa masyarakat Aceh Utara yang islami, taat dalam melaksanakan ibadah kepada Allah, berakhlak mulia dan luhur, beramal shalih, dan bersaudara, serta hidup dalam keluarga yang mawaddah warahmah. 2. Adil Makmur. Dimaksudkan, bahwa masyarakat Kabupaten Aceh Utara yang hidup dalam keadilan dan kemakmuran dalam semua aspek kehidupan. Adil, dimaksudkan berlakunya peraturan, hukum, dan ketentuan-ketentuan lainnya yang sama tanpa pengecualian bagi seluruh anggota masyarakat. Hasil dan manfaat pembangunan dirasakan dan dinikmati seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan hak dan kewajibannya. Makmur, dimaksudkan bahwa penduduk Aceh Utara hidup dalam kecukupan, baik pangan, sandang dan papan, bahkan mampu memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi. 3. Aman. Dimaksudkan, bahwa masyarakat Aceh Utara yang aman, damai, tenteram, bersatu, dan rukun dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan berbangsa. 4. Sejahtera. Dimaksudkan, bahwa masyarakat Aceh Utara yang bebas dari pengangguran, bebas dari kemiskinan, cukup secara ekonomi, baik kualitas, sumberdaya manusianya, baik derajat kesehatannya, tinggi tingkat pendidikannya, maju ekonomi daerahnya, dan harmonis jalinan hubungan sosialnya. 5. Produktif. Dimaksudkan, bahwa masyarakat Aceh Utara yang memiliki lapangan kerja dan lapangan usaha yang berkembang, berproduktivitas tinggi, inovatif, serta berdaya saing. 6. Ridha Allah SWT. Dimaksudkan, bahwa masyarakat Aceh Utara yang dalam kegiatan dan kehidupan sehari-harinya baldatun thaibah atas Ridha Allah SWT. Misi Berdasarkan Visi di atas, ditetapkan Misi pembangunan Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2012, yaitu sebagai berikut : 1. Mewujudkan pelaksanaan dan pengamalan syariat Islam dalam semua aspek dan dimensi kehidupan masyarakat secara menyeluruh serta penegakan hukum positif lainnya; 2. Mewujudkan pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh; 3. Mewujudkan perdamaian, keamanan dan ketertiban dalam segala aspek kehidupan serta membangun hubungan dan kerjasama yang harmonis dan konstruktif dengan semua pihak; 4. Mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih (good governance and clean government), meningkatkan kualitas sumberdaya aparatur, dan memperbaiki kesejahteraan aparatur; 5. Merekonstruksi, merevitalisasi dan mengembangkan semua sektor ekonomi dengan titik berat pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan, kelautan dan perikanan secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan; 6. Mewujudkan pembangunan kawasan perkotaan dan kota-kota pusat pertumbuhan di kawasan barat, tengah dan timur dalam rangka menjaga keseimbangan pembangunan kawasan

pedesaan/kawasan pedalaman dengan mengembangkan agropolitan sebagai pusat pertumbuhan pedesaan; 7. Mewujudkan pemerataan, perluasan, dan peningkatan kualitas pendidikan pada semua jenjang dan jalur pendidikan disertai perbaikan kesejahteraan tenaga kependidikan, baik pada sekolah umum maupun sekolah agama (madrasah) dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang menguasai iptek, imtaq, handal, profesional, dan berdaya saing; 8. Mewujudkan peranan perempuan yang lebih luas dan efektif dalam proses dan pelaksanaan pembangunan; dan 9. Mewujudkan kerjasama bidang bisnis, hubungan dagang, dan membuka pasar internasional yang lebih luas dengan negara lain. B. SEJARAH Sejarah Aceh Utara tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan Kerajaan Islam di pesisir Sumatera yaitu Samudera Pasai yang terletak di Kecamatan Samudera Geudong yang merupakan tempat pertama kehadiran Agama Islam di kawasan Asia Tenggara. Kerajaankerajaan Islam di Aceh mengalami pasang surut, mulai dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, kedatangan Portugis ke Malaka pada tahun 1511 sehingga 10 tahun kemudian Samudera Pasai turut diduduki, hingga masa penjajahan Belanda. Secara de facto Belanda menguasai Aceh pada tahun 1904, yaitu ketika Belanda dapat menguasai benteng pertahanan terakhir pejuang Aceh Kuta Glee di Batee Iliek di Samalanga. Dengan surat Keputusan Vander Geuvemement General Van Nederland Indie tanggal 7 September 1934, Pemerintah Hindia Belanda membagi Daerah Aceh atas 6 (enam) Afdeeling (Kabupaten) yang dipimpin seorang Asistent Resident, salah satunya adalah Affleefing Noord Kust Van Aceh (Kabupaten Aceh Utara) yang meliputi Aceh Utara sekarang ditambah Kecamatan Bandar Dua yang kini telah termasuk Kabupaten Pidie (Monografi Aceh Utara tahun 1986, BPS dan BAPPEDA Aceh Utara ). Afdeeling Noord Kust Aceh dibagi dalam 3 (tiga) Onder Afdeeling (Kewedanaan) yang dikepalai seorang Countroleur (Wedana) yaitu : 1. Onder Afdeeling Bireuen 2. Onder Afdeeling Lhokseumawe 3. Onder Afdeeling Lhoksukon Selain Onder Afdeeling tersebut terdapat juga beberapa Daerah Ulee Balang (Zelf Bestuur) yang dapat memerintah sendiri terhadap daerah dan rakyatnya yaitu Wee Balang Keuretoe, Geurogok, Jeumpa, dan Peusangan yang diketuai oleh Ampon Chik.Pada masa pendudukan Jepang istilah Afdeeling diganti dengan Bun, Onder Afdeeling disebut Gun, Zelf Bestuur disebut Sun, Mukim disebut Kun dan Gampong disebut Kumi. Sesudah Indonesia diproklamirkan sebagai Negara Merdeka, Aceh Utara disebut Luhak yang dikepalai oleh seorang Kepala Luhak sampai dengan tahun 1949. Melalui Konfrensi Meja Bundar, pada 27 Desember 1949 Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dalam bentuk Negara Republik Indonesia Serikat yang terdiri dari beberapa negara bagian. Salah satunya adalah Negara Bagian Sumatera Timur. Tokoh-tokoh Aceh saat itu tidak mengakui dan tidak tunduk pada RIS tetapi tetap tunduk pada Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Republik Indonesia Serikat kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berlaku Undang Undang Sementara 1950 seluruh negara bagian bergabung dan statusnya berubah menjadi propinsi. Aceh yang pada saat itu bukan negara bagian, digabungkan dengan Propinsi Sumatera Utara. Dengan Undang Undang Darurat Nomor 7 tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom setingkat Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara, terbentuklah Daerah Tingkat II Aceh Utara yang juga termasuk dalam wilayah Propinsi

Sumatera Utara.Keberadaan Aceh di bawah Propinsi Sumatera Utara menimbulkan rasa tidak puas pada para tokoh Aceh yang menuntut agar Aceh tetap berdiri sendiri sebagai propinsi dan tidak berada di bawah Sumatera Utara. Tetapi ide ini kurang didukung oleh sebagian masyarakat Aceh terutama yang berada di luar Aceh. Keadaan ini menimbulkan kemarahan tokoh Aceh dan memicu terjadinya pemberontakan DIMI pada tahun 1953. Pemberontakan ini baru padam setelah datang Wakil Perdana Menteri Mr Hardi ke Aceh yang dikenal dengan Missi Hardi dan kemudian menghasilkan Daerah Istimewa Aceh. Dengan Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor I/ Missi / 1957, lahirlah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Dengan sendirinya Kabupaten Aceh Utara masuk dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Berdasarkan Undang Undang Nomor I tahun 1957 dan Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 1959. Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Utara terbagi dalam 3 (tiga) Kewedanaan yaitu : 1. Kewedanaan Bireuen terdiri atas 7 kecamatan 2. Kewedanan Lhokseumawe terdiri atas 8 Kecamatan 3. Kewedanaan Lhoksukon terdiri atas 8 kecamatan Dua tahun kemudian keluar Undang Undang Nomor 18 tahun 1959 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Berdasarkan UU tersebut wilayah kewedanaan dihapuskan dan wilayah kecamatan langsung di bawah Kabupaten Daerah Tingkat II. Dengan surat keputusan Gubemur Kepala Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh Nomor: 07 / SK / 11 / Des/ 1969 tanggal 6 Juni 1969, wilayah bekas kewedanaan Bireuen ditetapkan menjadi daerah perwakilan Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Utara yang dikepalai seorang kepala perwakilan yang kini sudah menjadi Kabupaten Bireun.Hampir dua dasawarsa kemudian dikeluarkan Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, sebutan Kepala Perwakilan diganti dengan Pembantu Bupati Kepala Daerah Tingkat II, sehingga daerah perwakilan Bireuen berubah menjadi Pembantu Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Utara di Bireuen. Dengan berkembangnya Kabupaten Aceh Utara yang makin pesat, pada tahun 1986 dibentuklah Kotif (Kota Administratif) Lhokseumawe dengan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1986 yang membawahi 5 kecamatan. Dan berdasarkan Kep Mendagri Nomor 136.21-526 tanggal 24 Juni 1988 tentang pembentukan wilayah kerja pembantu Bupati Pidie dan Pembantu Bupati Aceh Utara dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, maka terbentuklah Pembantu Bupati Aceh Utara di Lhoksukon, sehingga pada saat ini Kabupaten Aceh Utara terdiri dari 2 Pembantu Bupati, 1 kota administratip, 26 wilayah kecamatan yaitu 23 kecamatan yang sudah ada ditambah dengan 3 kecamatan pemekaran baru.Sebagai penjabaran dari UU nomor 5 tahun 1974 pasal 11 yang menegaskan bahwa titik berat otonomi daerah diletakkan pada daerah tingkat II maka pernerintah melaksanakan proyek percontohan otonomi daerah. Aceh Utara ditunjuk sebagai daerah tingkat II percontohan otonomi daerah.Pada tahun 1999 Kabupaten Aceh Utara yang terdiri dari 26 Kecamatan dimekarkan lagi menjadi 30 kecamatan dengan menambah empat kecamatan baru berdasarkan PP Republik Indonesia Nomor 44 tahun 1999.Seiring dengan pemekaran kecamatan baru tersebut, Aceh Utara harus merelakan hampir sepertiga wilayahnya untuk menjadi kabupaten baru, yaitu Kabuparten Bireuen berdasarkan Undang Undang nomor 48 tahun 1999. Wilayahnya mencakup bekas wilayah Pembantu Bupati di Bireuen.Kemudian pada Oktober 2001, tiga kecamatan dalam wilayah Aceh Utara, yaitu Kecamatan Banda Sakti, Kecamatan Muara Dua, dan Kecamatan Blang Mangat dijadikan Kota Lhokseumawe. Saat ini Kabupaten Aceh Utara dengan luas wilayah sebesar 3.296,86 Km2 dan berpenduduk sebanyak 477.745 jiwa membawahi 27 kecamatan.

C.

KEPALA DAERAH Bupati & Wakil Bupati

Nama Tpt/Tgl. Lahir Jabatan Eselon Alamat Kantor Rumah

: Ilyas A.Hamid : Bate Pila, 27 Oktober 1967 : Bupati :: Jl.Mayjen T.Hamzah Bendahara (0645) 43955 : Pendopo Bupati Aceh Utara (0645) 43052/45854

Nama Tpt/ Tgl. Lahir Jabatan Eselon Alamat Kantor Rumah

: Syarifuddin, SE : Blang Pulo , 15 Agustus 1968 : Wakil Bupati :: Jl.Mayjen T.Hamzah Bendahara (0645) 43955 : Pendopo Bupati Aceh Utara (0645) 43052/45854

E.

GEOGRAFI

Kabupaten Aceh Utara sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang terletak di bagian pantai pesisir utara pada 96.52.00o - 97.31.00o Bujur Timur dan 04.46.00o - 05.00.40o Lintang Utara. Kabupaten Aceh Utara memiliki wilayah seluas 3.296,86 Km 2 dengan batas-batas sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Sebelah Sebelah Sebelah Sebelah Utara dengan Kota Lhokseumawe dan Selat Malaka; Selatan dengan Kabupaten Bener Meriah; Timur dengan Kabupaten Aceh Timur; Barat dengan Kabupaten Bireuen.

Kabupaten Aceh Utara memiliki curah hujan rata-rata 86,9 mm per tahun dengan hari hujan rata-rata sebanyak 14 hari per bulan. Curah hujan tertinggi rata-rata terjadi setiap tahunnya pada bulan Mei. Kecepatan angin rata-rata 5 knots, dan maksimum 14,66 knots dengan arah angin terbanyak dari Timur Laut dengan temperatur maksimum 34,0oC dan minimum 19,6oC. Temperatur maksimum terjadi pada bulan Juli dan April, sementara temperatur minimum terjadi pada bulan Januari setiap tahunnya.

2. POTENSI A. PERKEBUNAN Daerah Aceh Utara memiliki potensi besar di bidang perkebunan dan kehutanan. Perkebunan di daerah Aceh Utara meng-hasilkan kelapa sawit sebagai komoditi unggulan, karet, kelapa dalam, kelapa hybrida, karet, kakao dan pinang sebagai komoditi andalan.

B. PETERNAKAN Wilayah Aceh Utara merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan yang sangat luas untuk melakukan pembangunan di bidang peternakan, hal tersebut didukung oleh ketersediaan pakan cukup besar dibandingkan populasi ternak yang ada saat ini serta hampir semua desa sudah di hubungkan dengan jalan aspal, baik hubungan antar desa maupun antar kecamatan

a. Sapi b. Kerbau
c. Kambing d. Domba e. Ayam

C. PERIKANAN Investasi dibidang perikanan salah satunya melalui pengembangan budidaya, memiliki potensi dan nilai ekonomis yang tinggi. Namun perlu mendapat penanganan secara intensif khususnya untuk kawasan-kawasan yang potensial. Pengembangan budidaya ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan ekspor serta pemenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Kabupaten Aceh Utara mempunyai sumberdaya yang cukup besar sehingga dapat merupakan modal dasar bagi usaha untuk meningkatkan produksi perikanan. Sumber daya tersebut terdapat hampir di semua kecamatan yang memiliki perairan laut, tambak dan kolam yang dapat mendukung peningkatan usaha budidaya. Dari luas daerah penangkapan di perairan laut, tambak dan kolam tersebut yang dapat digali atau diimanfaatkan secara lestari sebagai berikut : 1. Udang Windu 2. Ikan Teri 3. Ikan Tuna 4. Ikan Bandeng 5. Ikan Kerapu 6. Kepiting

D. PERINDUSTRIAN Daerah Aceh Utara memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan berbagai jenis industri karena didukung oleh perguruan tinggi (universitas) dan lembaga penelitian yang banyak terdapat di sana. Berikut ini adalah jenis industri yang ada di Kabupaten Aceh Utara : 1. Pengasinan Ikan. 2. Perabot Rumah Tangga 3. Kopiah Khas Aceh 4. Bordir, Tas Kerawang dan pakaian koko 5. Tahu Tempe 6. Anyaman Tikar/ Pandan 7. 8. Kue Kering & Roti Kering Anyaman Rotan & Ukiran Jepara.

9.

Batu Akik.

10. Jamu Tradisional. 11. F. Tas Serat Pisang. PERTAMBANGAN 1. BENTONITE 2. ANDESITE 3. BATU GAMPING

G. KOPERASI Guna mengatasi kondisi koperasi yang seperti itu, pemerintah kabupaten Aceh Utara dalam hal ini Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi telah memberikan bantuan pelatihan kepada pengurus koperasi, pendidikan manajerial yang baik serta memberi dukungan permodalan. Pada Tahun Anggaran 2007 Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi telah memfasilitasi 20 orang wirausaha baru yang bergerak dibidang jualan kelontong, penyalur voucher, pedagang ponsel, jualan sembako, jualan pakaian, penjahit pakaian, penjahit bordir, anyaman tikar, perbengkelan, pengrajin peci, cincin sumur, es krim, photocopi/ ATK untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan kewirausahan bagi usaha mikro. Pada tahun yang sama Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Aceh Utara juga telah melatih 30 orang tenaga pembukuan dengan Sistem Akuntansi berdasarkan Standar Akuntansi Indonesia (SAI). Selain itu, mengirim pengurus/ menager KSP/ USP KOP/ LKM ke yokyakarta dalam rangka magang bagi koperasi simpan pinjam yang ada di wilayah Aceh Utara. 2. STANDAR KELENGKAPAN E GOV YANG DIJADIKAN SEBAGAI ACUAN : A. Blue Print E-Gov 1. Teknologi Informasi 2. Infrastruktur Teknologi InformasI. 3. Interoperabilitas 4. Keamanan Informasi. 5. Audit. 6. Rencana Induk.

Secara garis besar,, website Pemda Kabupaten Aceh Utara ini sudah memenuhi criteria Blue-Print dari E-Gov dikarenakan sudah memiliki standar kelengkapan yang harus dimiliki oleh sebuah Pusat

Informasi. Misalnya data statistic dari Daerah tersebut, Data Geografis serta Data-data lain yan bias digunakan sebagai acuan informasi. Secara Infrastruktur pun sudah terlihat siap serta memadai jika digunakan sebagai acuan, karena berdasarkan data dan fakta yang ada dilapangan. B. TAHAPAN PENGEMBANGAN WEBSITE INI pengembangan Website ini sudah memasuki tahap Pemeliharaan system, dikarenakan Sistem informs yng ada sudah baik dan hanya diperlukan pemeliharaan atau Update Sisten dan Isi. Hal ini adalah syarat mutlak yang harus dimiliki Sumber informasi, karena dijadikan acuan sebagai Data Sekunder. Beberapa hal yang harus dilakukan: 1. Pemantauan pengoperasian melibatkan tim pengembang untuk memantau secara langsung pada waktuwaktu tertentu mengenai bagaimana pihak-pihak pengguna mengoperasikan sistem yang dibuat. 2. Antisipasi gangguan kecil (bug) yang biasanya selalu ada gangguan kecil dalam suatu aplikasi yang baru dikembangkan. 3. Lakukan penyempurnaan 4. Antisipasi faktor-faktor luar, misalnya Virus, kerusakan/kehilangan data, atau sistem diakses oleh pihak luar

3. DATA-DATA YANG DIMILIKI WEBSITE TERSEBUT Data yang ada didalam Website tersebut sudah akurat dan bias dijadikan sebagai data sekunder, dikarenakan data-data tersebu berdasarkan data yang dimiliki oleh BPS setempat. Selain itu, data tersebut juga tergolong Update, dikarenakan dilakukan system pemantauan dan pengecekan. Hal itu bias dilihat dari pemberitahuan yang terakhir tertanggal 5 April 2011.