Anda di halaman 1dari 42

IDENTITAS NASIONAL DAN IDENTITAS NASIONAL INDONESIA 1.

Pengertian IDENTITAS NASIONAL

Identitas nasional secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa yang lain. Maka dari itu setiap bangsa didunia ini memiliki identitas sendiri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, cirri-ciri serta karakter bangsa tersebut. Berdasarkan hakikat pengertian identitas nasional yang dijelaskan di atas maka dapat disumpulkan identitas nasional suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dengan jati diri suatu bangsa atau lebih popular disebut sebagai kepribadian suatu bangsa. Secara mendalam pengertian identitas nasional yaitu: Identitas berasal dari bahasa Inggris identity, yang berarti ciri, tanda, atau jati diri, yang melekat pada seseorang, kelompok, atau sesuatu, yang membedakannya dengan yang lain. Nasional yaitu merujuk pada konsep kebangsaan. Jadi, identitas nasional adalah ciri, tanda, atau jatidiri bangsa yang berbeda dengan bangsa lai n. Identitas nasional lebih merujuk pada identitas bangsa dalam pengertian politik (political unity) . Identitas nasional Indonesia yang Membedakannya dengan bangsa-bangsa lain salah satu di antaranya adalah adanya Ideology Pancasila sebagai dasar filsafat, pandangan hidup, kepribadian,dan dasar negara. Dalam pembentukan Identitas Nasional factor menjadi salah satu penting dalam terciptanya Identitas Nasional. Berikut merupakan factor-faktor yang membentuk Identitas Nasional Menurut Srijanti (2009:35) : 1.Suku bangsa, yaitu golongan sosial yang khusus dan bersifat askriptif (ada sejak lahir) yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang terdiri dari banyak suku bangsa (lk. 300) dan setiap suku bangsa mempu nyai adat-istiadat, tata kelakuan, dan norma yang berbeda-beda, akan tetapi trintegrasi dalam suatu negara Indonesia. 2.Kebudayaan, yang menurut ilmu sosiologi termasuk di dalamnya adalah ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, kesenian, mata pencarian, peralatan/perkakas, kesenian, sistem kepercayaan, adat-istiadat, dll. Kebudayaan sebagai parameter identitas nasional harus yang merupakan milik bersama (bukan individu/pribadi).

3.Bahasa, yang merupakan kesitimewaan manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Bahasa memiliki simbol yang menjadikan suatu perkataan mampu melambangkan arti apa pun. 4.Kondisi geografis, yang menunjukkan lokasi negara dalam kerangka ruang, tempat, dan waktu, sehingga menjadi jelas batas-batas wilayah di suatu Negara dalam muka bumi ini. Contoh dari indentitas nasional sendiri yaitu terbentuknya suatu Negara, misalkan Negara Indonesia yang telah menjadi Negara kepulauan dan telah merdeka pada tahun 1945 memiliki sejarah yang bertujuan agar Indonesia bisa merdeka dari penjajahan. Selain itu Indonesia memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya Berbeda-beda tetapi satu jua

2. Pengertian Identitas Nasional Indonesia Identitas kebangsaan (political unity) merujuk pada bangsa dalam pengertian politik, yaitu bangsanegara.Bisa saja dalam negara hanya ada satu bangsa (homogen), tetapi umumnya terdiri dari banyak bangsa (heterogen). Karena itu negara perlu menciptakan identitas kebangsaan atau identitas nasional, yang merupakan kesepakatan dari banyak bangsa di dalamnya. Identitas nasional dapat berasal dari identitas satu bangsa yang kemudian disepakati oleh bangsa-bangsa lainnya yang ada dalam negara itu, atau juga dari identitas beberapa bangsa yang ada kemudian disepakati untu k dijadikan identitas bersama sebagai identitas bangsa-negara. Kesediaan dan kesetiaan warga bangsa/negara untuk mendukung identitas nasional perlu ditanamk an, dipupuk, dan dikembangkan terus-menerus. Warga lebih dulu memiliki identitas kelompoknya, sehingga jangan sampai melunturkan identitas nasional. Di sini perlu ditekankan bahwa kesetiaan pada identitas nasional akan mempersatukan warga bangsa itu sebagai satu bangsa dalam negara. Bentuk identitas kebangsaan bisa berupa adat istiadat, bahasa nasional, lambang nasional, bendera nasional, termasuk juga ideologi nasional. Proses pembentukan identitas nasional di Indonesia cukup panjang, dimulai dengan kesadaran adan ya

perasaan senasib sepenanggungan bangsa Indonesia akibat kekejaman penjajah Belanda, kemu dian memunculkan komitmen bangsa (tekad, dan kemudian menjadi kesepakatan bersama) untuk berj uang dengan upaya yang lebih teratur melalui organisasiorganisasi perjuangan (pergerakan) Kemerdekaan mengusir penjajah sampai akhirnya Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 dan membentuk negara. Contoh Identitas Nasional Indonesia yaitu Identitas Nasional merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang sudah tumbuh dan berkembang sebelum masuknya agama-agama besar di bumi nusantara ini dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang kemudian dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan Nasional dengan acuan Pancasila dan roh Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan arah pengembangannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan identitas nasional juga bisa dikatakan sebagai jati diri yang menjadi slogan-slogan kibaran bendera kehidupan.

Sumber : http://wwwmaulana.blogspot.com/2011/10/identitas-nasional.html http://identitasnasional-fitk.blogspot.com/ http://id.shvoong.com/social-sciences/1747413-identitas-nasional-indonesia/ http://makalah-staid.blogspot.com/2012/11/pengertian-identitas-nasional.html http://itsmerjr.blogspot.com/2009/05/review-mata-kuliah-pkn.html

http://blogciuu.blogspot.com/2013/04/identitas-nasional-dan-identitas.html

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pada hakikatnya manusia tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, manusia senantiasa membutuhkan orang lain. Aristoteles mengatakan manusia adalah zoon politicon, yang artinya manusia adalah makhluk yang berkelompok. Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai sifat yang

tidak bisa hidup sendiri dan juga sebagaisebagai makhluk politik memiliki naluri untuk berkuasa, maka dari itu manusia membutuhkan orang lain untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Berawal dari itulah kemudian timbuk suatu hubungan-hubungan kerjasama antarmanusia yang dari hubungan tersebut membentuk sebuah masyarakat. terbentuknya masyarakat antara yang satu dengan yang lainnya tentu berbeda, sehinngga dalam berinteraksi mereka memerlukan suatu organisasi kekuasaan yang disebut negara. Dalam negara itulah masyarakat ada dan mempertahankan eksistensinya untuk saling bekerja sama. Terkadang Sebagai anggota masyarakat yang juga hidup dalam suatu negara kita bingung anatara negara dan bangsa. Negara adalah organisasi kekuasaan dari persekutuan hidup manusia, sedangkan bangsa lebih menunjuk pada persekutuan hidup manusia itu sendiri. Baik bangsa maupun negara memiliki identitas yang membedakan bangsa atau negara tersebut dengan bangsa atau negara lain. Identitas-identitas yang disepakati dan diterima oleh bangsa menjadi identitas nasional bangsa. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai identitas nasional Indonesia. Kami menulis makalah ini dengan harapan pembaca dapat mengetahui apa itu identitas nasional Indonesia? sehingga ke depan pembaca dapat menghargai dan juga menjunjung tinggi identitas nasional yang pada hakekatnya membedakan negara Indonesia dengan negara lain.

1.2 Rumusan Masalah Apa yang dimaksud dengan identitas nasional? Apa saja yang menjadi identitas nasional Indonesia? Bagaimana sikap masyarakat Indonesia terhadap identitas nasional Indonesia?

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Identitas Nasional Secara etimologis, identitas nasional berasal dari kata identitas dan nasional. Kata identitas berasal dari bahasa Inggris identity yang memiliki pengertian harfiah; ciri, tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang, kelompok atau sesuatu sehingga membedakan dengan yang lain. Kata nasional merujuk pada konsep kebangsaan. Nasional menunjuk pada kelompok-kelompok persekutuan hidup manusia yang lebih besar dari sekedar pengelompokan berdasarkan ras, agama, budaya, bahasa dan sebagainya. Jadi, identitas nasional adalah ciri, tanda atau jati diri yang melekat pada suatu negara sehingga membedakan dengan negara lain. Istilah identitas nasional secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa yang lain. Berdasarkan pengertian tersebut maka setiap bangsa di dunia ini akan memiliki identitas sendiri-sendiri sesuai dengan

keunikan, sifat, ciri-ciri serta karakter dari bangsa tersebut. Demikian pula dengan hal ini sangat ditentukan oleh proses bagaimana bangsa tersebut terbentuk secara historis. Identitas nasional tersebut pada dasarnya menunjuk pada identitas-identitas yang sifatnya nasional. Identitas nasional bersifat buatan dan sekunder. Bersifat buatan karena identitas nasional itu dibuat, dibentuk dan disepakati oleh warga bangsa sebagai identitasnya setelah mereka bernegara. Bersifat sekunder karena identitas nasional lahir belakangan bila dibandingkan dengan identitas kesukubangsaan yang memang telah dimiliki warga bangsa itu secara askriptif. Sebelum memiliki identitas nasional, warga bangsa telah memiliki identitas primer yaitu identitas kesukubangsaan.

Unsur-unsur pembentuk identitas yaitu: Suku bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif (ada sejak lahir), yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang 300 dialeg bangsa. Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama-agama yan tumbuh dan berkembang di nusantara adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Agama Kong H Cu pada masa orde baru tidak diakui sebagai agama resmi negara. Namun sejak pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara dihapuskan. Kebudayaan: adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk social yang isinya adalah perangkatperangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh pendukungpendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan digunakan sebagi rujukan dan pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi. Bahasa: merupakan unsure pendukung Identitas Nasonal yang lain. Bahsa dipahami sebagai system perlambang yang secara arbiter dientuk atas unsure-unsur ucapan manusia dan yang digunakan sebgai sarana berinteraksi antar manusia. Dari unsur-unsur Identitas Nasional tersebut dapat dirumuskan pembagiannya menjadi 3 bagian sebagai berikut : Identitas Fundamental, yaitu pancasila merupakan falsafah bangsa, Dasar Negara, dan Ideologi Negara Identitas Instrumental yang berisi UUD 1945 dan tata perundangannya, Bahasa Indonesia, Lambang Negara, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Identitas Alamiah, yang meliputi Negara kepulauan (Archipelago) dan pluralisme dalam suku, bahasa, budaya, dan agama, sertakepercayaan. 2.2 Identitas Nasional Indonesia Identitas nasional Indonesia merupakan ciri-ciri yang dapat membedakan negara Indonesia dengan negara lain. Identitas nasional Indonesia dibuat dan disepakati oleh para pendiri negara Indonesia. Identitas nasional Indonesia tercantum dalam konstitusi Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar 1945 dalam pasal 35-36C. Identitas nasional yang menunjukkan jati diri Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut: Identitas Nasional Indonesia :

Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia Bendera negara yaitu Sang Merah Putih Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya Lambang Negara yaitu Pancasila Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika Dasar Falsafah negara yaitu Pancasila Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945 Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat Konsepsi Wawasan Nusantara Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional Penjelasan dari identitas nasional Indonesia akan dijabarkan dalam paragraf dibawah ini. 1) Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia

Bahasa merupakan unsur pendukung Identitas Nasonal yang lain. Bahasa dipahami sebagai system perlambang yang secara arbiter dibentuk atas unsur-unsur ucapan manusia dan yang digunakan sebagai sarana berinteraksi antar manusia. Dan di Indonesia menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Karena di Indonesia ada berbagai macam bahasa daerah dan memiliki ragam bahasa yang unik sebagai bagian dari khas daerah masing-masing. 2) Bendera negara yaitu Sang Merah Putih

Bendera adalah sebagai salah satu identitas nasional, karena bendera merupakan simbol suatu negara agar berbeda dengan negara lain. Seperti yang sudah tertera dalam UUD 1945 pasal 35 yang menyebutkan bahwa Bendera Negara Indonesia adalah Sang Merah Putih. Warna merah dan putih juga memiliki arti sebagai berikut, merah yang artinya berani dan putih artinya suci. 3) Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya

Lagu Indonesia Raya (diciptakan tahun 1924) pertama kali dimainkan pada kongres pemuda (Sumpah pemuda) tanggal 28 Oktober 1928. Setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, lagu yang dikarang oleh Wage Rudolf Soepratman ini dijadikan lagu kebangsaan. Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan lagu kebangsaan di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh surat kabar Sin Po. Setelah dikumandangkan tahun 1928, pemerintah colonial Hindia Belanda segera melarang penyebutkan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya. Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka ganti lagu itu dengan mengucapkan Mulai, Mulai !, bukan Merdeka, Merdeka! pada refrain. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan. Sekanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat

partai-partai politik. Setelah indeonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu kebangsaan perlambang persatuan bangsa. Namun pada saat menjelaskan hasil Festival Film Indonesia (FFI) 2006 yang kontroversional pada kompas tahun 1990-an, Remy sylado, seorang budayawan dan seniman senior Indonesia mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya merupakan jiplakan dari sebuah lagu yang diciptakan tahun 1600-an berjudul Lekka Lekka panda panda, Kaye A. solapung seorang pengamat musik, menanggapi tulisan remi dalam kompas tahun 1991. Ia mengatakan bahwa Remy hanya sekedar mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada tahun 1950-an. Ia juga mengatakan dengan mengutip Amir Pasaribu bahwa dalam literature music, ada lagu Lekka Lekka Pinda Pinda Belanda, begitu pula Boola-Boola dan Lekka Lekka tidak sama persis dengan Indonesia Raya, dengan hanya delapan ketuk yang sama. Begitu juga dengan penggunaan chord yang jelas berbeda. Sehingga, ia menyimpulkan bahwa Indonesia Raya tidak menjiplak. Dari susunan liriknya, merupakan soneta atau sajak14 baris yang terdiri dari satu oktaf (atau dua kuatren) dan satu sekstet. Penggunaan bentuk ini dilihat sebagai mendahului zaman (avant gerde), meskipun soneta sendiri sudah popular di eropa semenjak era renaisans. Rupanya penggunaan soneta tersebut mengilhami karena lima tahun setelah dia dikumandangkan, para seniman Angkatan Pujangga Baru mulai banyak menggunakan soneta sebagai bentuk ekspresi puitis. Lirik Indonesia Raya merupakan saloka atau pantun berangkai, merupakan cara empu Walmiki ketika menulis epic Ramayana. Dengan kekuatan liriknya itulah Indonesia Raya segera menjadi saloka sakti pemersatu bangsa, dan dengan semakin dilarang oleh belanda, semakin kuatlah ia menjadi penyemangat dan perekat bangsa Indonesia. Cornel Simanjutak dalam majalah Arena telah menulis bahwa ada tekanan kata dan tekanan music yang bertentangan dalam kata berseru dalam kalimat Marilah kita berseru. Seharusnya kata ini diucapkan berseru (tekanan pada suku ru). Tetapi karena tekanan melodinya, kata itu terpaksa dinyanyikan berseru (tekanan pada se). Selain itu, rentang nada pada Indonesia Raya secara umum terlalu besar untuk lagu yang ditujukan bagi banyak orang. Dibandingkan sengan lagu-lagu kebangsaan lain yang umumnya berdurasi setengah menit bahkan ada yang hanya 19 detik, Indonesia Raya memang jauh lebih panjang. Secara musical, lagu ini telah dimuliakan-justru-oleh orang Belanda (atau Belgia) bernama jos Cleber yang tutup usia tahun 1999. Setelah menerima permintaan kepada studio RRI Jakarta Jusuf Rono dipuro pada tahun 1950, Jos Cleber pun menyusun arasemen baru, yang menyempurnakannya ia lakukan setelah juga menerima masukan dari presiden Soekarno. Indonesia Raya menjadi lagu kebangsaan yang agung, namun gagah berani (maestoso can bravura). 4) Lambang Negara yaitu Pancasila

Seperti yang dijelaskan pada Undang-Undang Dasar 1945 dalam pasal 36A bahwa lambang negara Indonesia adalah Garuda Pancasila. garuda Pancasila disini yang dimaksud adalah burung garuda yang melambangkan kekuatan bangsa Indonesia. Burung garuda sebagai lambang negara Indonesia memiliki warna emas yang melambangkan kejayaan Indonesia. sedangkan perisai di tengah melambangkan pertahanan bangsa Indonesia. Simbol di dalam perisai masing-masing melambangkan sila-sila dalam pancasila,yaitu:

Bintang melambangkan sila ketuhanan Yang Maha Esa (sila ke-1) Rantai melmbangkan sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab (sila ke-2) Pohon Beringin melambangkan Sila Persatuan Indonesia (Sila ke-3) Kepala Banteng melambangkan Sila Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan (Sila ke-4) Padi dan Kapas melambangkan sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (sila ke-5) Warna merah-putih melambangkan warna bendera nasional Indonesia. Merah berarti berani dan Putih berarti suci. Garis hitam tebal yang melintang di dalam perisai melambangkan wilayah Indonesia yang dilintasi Garis Khatulistiwa. Jumlah bulu melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945), antara lain: Jumlah Bulu pada masing-masing sayap berjumlah 17 Jumlah Bulu pada ekor berjumlah 8 Jumlah Bulu pada di bawah perisai/pangkal ekor berjumlah 19 Jumlah bulu di leher berjumlah 45 Pita yang dicengkeram oleh burung garuda bertuliskan semboyan Negara Indonesia, yaitu Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda, tetapi tetap satu jua. 5) Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika

Bhineka Tnggal Ika berisi konsep pluralistik dan multikulturalistik dalam kehidupan yang terikat dalam suatu kesatuan. Pluralistik bukan pluralisme, suatu paham yang membiarkan keanekaragaman seperti apa adanya. Dengan paham pluralisme tidak perlu adanya konsep yang mensubtitusi keanekaragaman demikian pula halnya dengan faham multikulturalisme. Bhineka Tunggal Ika tidak bersifat sektarian dan eksklusif, hal ini bermakna bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dibenarkan merasa dirinya yang paling benar, paling hebat, dan tidak mengakui harkat dan martabat pihak lain. Pandangan sektarian dan eksklusif ini akan memicu terbentuknya kekakuan yang berlebihan dengan tidak atau kurang memperhatikan pihak lain, memupuk kecurigaan, kecemburuan, dan persaingan yang tidak sehat. Bhineka Tunggal Ika bersifat inklusif. Golongan mayoritas dalam hidup berbangsa dan bernegara tidak memaksakan kehendaknya pada golongan minoritas. Bhineka Tunggal Ika tidak bersifat eormalitas yang hanya menunjukkan perilaku semu. Bhineka Tunggal Ika dilandasi oleh sikap saling percaya mempercayai, saling hormat menghormati, saling cinta mencintai dan rukun. Hanya dengan cara demikian maka keanekaragaman ini dapat dipersatukan.

Bhineka Tunggal Ika bersifat konvergen tidak divergen, yang bermakna pebedaan yang terjadi dalam keanekaragaman tidak untuk dibesar-besarkan, tetapi dicari titik temu, dalam bentuk kesepakatan bersama. Hal ini akan terwujud apabila dilandasi oleh sikap toleran, non sektarian, inklusif, dan rukun. Dalam menerapkan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu dilandasi oleh rasa kasih sayang. Saling curiga mencurigai harus dibuang jauh-jauh. Saling percaya mempercayai harus dikembangkan, iri hati, dengki harus dibuang dari kamus Bhineka Tunggal Ika. 6) Dasar Falsafah negara yaitu Pancasila

Pancasila adalah kumpulan nilai atau norma yang meliputi sila-sila Pancasila sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, alenia IV yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Pada hakikatnya pengertian Pancasila dapat dikembalikan kepada dua pengertian, yakni Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia dan Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia sering disebut juga dengan way of life, welstanshauung, wereldbershouwing, wereld en levens beschouwing ( pandangangan dunia, pandangan hidup, pedoman hidup, petunjuk hidup). Dalam hal ini Pancasila digunakan sebagai pancaran dari sila Pancasila karena Pancasila sebagai weltanschauung merupakan kesatuan, tidak bisa dipisah-pisahkan, keseluruhan sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan organis. Pancasila sebagai norma fundamental sehingga berfungsi sebagai cita-cita atau ide. Oleh karena itu, dapat dikemukakan bahwa Pancasila sebagai pegangan hidup yang merupakan pandangan hidup bangsa, dalam pelaksanaan hidup sehari-hari tidak boleh bertentangan denagn norma-norma agama, norma-norma sopan santun, dan tidak bertentangan dengan norma-norma hukum yang berlaku. Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia, dalam hal ini Pancasila mempunyai kedudukan istimewa dalam hidup kenegaraan dan hukum bangsa Indonesia. fungsi pokok Pancasila adalah sebagai dasar negara, sesuai dengan pembukaan UUD 1945,, sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber dari tertib hukum, sebagaimana tertuang dalam Ketetapan MPRS No.XX/MPRS/1966 (Darji, 1991:16) Pancasila merupakan dasar negara yang dibentuk oleh para pendiri bangsa Indonesia. sebagai dasar negara, Pancasila mengandung nilai-nilai yang sejatinya sudah ada dalam bangsa Indonesia sendiri. Sehingga Pancasila mampu menjadi wadah bagi masyarakat Indonesia yang beragam. Dengan adanaya nilai-nilai dalam Pancasila tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai yang ada di Indonesia berbeda dengan nilai-nilai yang ada di negara lain. Dengan kata lain, Pancasila menunjukkan identitas nasional Indonesia. 7) Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945

Undang-Undang Dasar adalah peraturan perundang-undangan yang tetinggi dalam negara dan merupakan hukum dasar tertulis yang mengikat berisi aturan yang harus ditaati. Hukum dasar negara meliputi keseluruhan sistem ketatanegaraan yang berupa kumpulan peraturan yang membentuk negara dan mengatur pemerintahannya. UUD merupakan dasar tertulis. Oleh karena itu, UUD menurut sifat dan fungsinya adalah suatu naskah yang memaparkan karangan dan tugastugas pokok cara kerja badan tersebut, UUD menentukan cara-cara bagaimana pusat kekuasaan itu

bekerja sama dan menyesuaikan diri satu sama lainnya. UUD merekam hubungan-hubungan kekuasaan dalam suatu negara. Undang-Undang Dasar nmerupakan suatu hal yang sangat penting dan vital dalam suatu pemerintahan yang telah merdeka. Dengan adanya konstitusi dalam suatu negara yang merdeka menandakan bahwa negara ini sebagai negara konstitusional yang menjamin kebebasan rakyat Indonesia untuk memerintah diri sendiri. Sebagai bangsa Indonesia Indonesia yang merdeka dan berdaulat untuk membentuk pemerintah sendiri ynag sah serta usahamenjamin hak-haknya disertai menentang penyalahgunaan kekuasaan. Hal ini hanya dapat dilakukan dalam kerangka negara konstitusional, pembentukan negara konstitusional merupakan bagian dari upaya mencapai kemerdekaan, karena hanya dalam kerangka kelembagaan ini dapat dibangun masyarakat yang demokratis. 8) Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat

9)

Konsepsi Wawasan Nusantara

Wawasan artinya pandanagan, tinjauan, penglihatan atau tanggap indrawi. Selain menunjukkan kegiatan untuk mengetahui arti pengaruh-pengaruhnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, wawasan juga mempunyai pengertian menggambarkan cara pandang, cara tinjau, cara melihat atau cara tangggap indrawi. Kata nasional menunjukkan kata sifat atau ruang lingkup. Bentuk kata yang berasal dari istilah nation itu berarti bangsa yang telah mengidentifikasikan diri ke dalam kehidupan berneegara atau secara singkat dapat dikatakan sebagai bangsa yang telah menegara. Nusantara perairan dan gugusan pulau-pulau yang terletak di antara Samudra Pasifik dan Samudra Indonesia, serta di antara Benua Asia dan Benua Australia. Wawasan nasional merupakan cara pandang suatu bangsa tentang diri dan lingkungannya. Wawasan merupakan penjabaran dari filsafat bangsa Indonesia sesuai dengan keadaan geografis suatu bangsa, serta sejarah yang pernah dialaminya. Esensinya, ialah bagaimana bangsa itu memanfaatkan kondisi geografis, sejarahnya, serta kondisi sosial budayanya dalam mencapai citacita dan tujuan nasionalnya. Dengan demikian wawasan nusantara dapat diartikan sebagai cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya berdasarkan ide nasionalnya yang dilandasi Pancasila dan UUD 1945, yang merupakan aspirasi bangsa yang merdeka, berdaulat, berrmartabat, serta menjiwai tata hidup dan tindak kebijaksanaannya dalam mencapai tujuan nasional. Wawasan nusantara adalah cara pandang, cara memahami, cara menghayati, cara bersikap, cara bersikap, cara berpikir, cara bertingkah laku bangsa Indonesia sebagai interaksi proses psikologis, sosiokultural, dengan aspek astagatra (kondisi geografis, kekayaan alam, dan kemampuan alam serta ipoleksosbud hankam) 10) Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional Kebudayaan adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk social yang isinya adalah perangkatperangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh pendukungpendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan digunakan sebagi

rujukan dan pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi. Kebudayaan dapat dimaknai sebagai suatu budi dan daya manusia yang tidak ternilai harganya dan mempunyai manfaat bagi kehidupan umat manusia, baik pada masa lampau, masa kini, maupun pada masa yang akan datang. Kebudayaan dapat pula berbentuk kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Kebudayaan daerah yaitu suatu budaya asli setiap suku atau daerah yang diwarisi dari nenek moyang secara turun-temurun. Kebudayaan daerah kita pelihara dan kita kembangkan menjadi kebudayaan nasional yang dinikmati oleh seluruh bangsa. Jadi, kebudayaan nasional yaitu suatu perpaduan dan pengembangan berbagai macam kebudayaan daerah yang terus menerus dibina dan dilestarikan keberadaannya, sehingga menjadi milik bersama. 2.3 Sikap Masyarakat Indonesia Terhadap Identitas Nasional Indonesia Implementasi atau penerapan tentang identitas nasional harus tercermin pada pola pikir, pola sikap, dan pola tindak yang senantiasa mendahulukan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan kata lain, identitas nasional menjadi pola yang mendasari cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam rangka menghadapi berbagai masalah menyangkut kehidupan bermayarakat, berbangsa dan bernegara. Contoh sederhana dari implementasi identitas nasional yaitu kewajiban diadakanya upacara bendera setiap hari senin pada seluruh instansi sekolah maupun non sekolah. Dalam upacara bendera, terdapat banyak sekali unsur identitas negara. Seperti pengibaran sang saka merah putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, menyanyikan lagu nasional lain, pembacaan UUD 1945, pembacaan Pancasila, dan pada penutup di akhiri dengan doa (agama). Kegiatan upacara ini dilaksanakan dari tingkat SD hingga SMA, bahkan ada Perguruan Tinggi yang melaksanakan Upacara Bendera. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat sudah dijarkan bagaimana mengimplementasikan identitas nasional sejak dini. Namun, masih banyak yang tak acuh dalam kegiatan semacam ini. Kebanyakan dari mereka menganggap kegiatan upacara hanya sebagai kewajiban agar terbebas dari hukuman yang sudah diterapkan. Dan juga kurangnya penjelasan tentang makna dari kegiatan upacara itu sendiri. Sehingga mereka tak acuh dengan makna dibalik upacara bendera ini. Implementasi identitas nasional senantiasa berorientasi pada kepentingan rakyat dan wilayah tanah air secara utuh dan menyeluruh. Impementasi identitas nasional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yamg mencakup kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya,dan pertahanan keamanan harus tercemin dalam pola pikir, pola sikap, dan pola tindak senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia diatas kepentingan pribadi dan golongan.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Sebagai sebuah istilah identitas nasional dibentuk oleh dua kata yaitu identitas dan nasional. Identitas dapat diartikan sebagai ciri, tanda atau jati diri; sedangkan nasional dalam konteks

pembicaraan ini berarti kebangsaan. Dengan demikian, identitas nasional dapat diartikan sebagai jati diri nasional. Identitas nasional Indonesia tercantum dalam konstitusi Indonesia yaitu UndangUndang Dasar 1945 dalam pasal 35-36C. Identitas nasional yang menunjukkan jati diri Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut: Identitas Nasional Indonesia : Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia Bendera negara yaitu Sang Merah Putih Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya Lambang Negara yaitu Pancasila Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika Dasar Falsafah negara yaitu Pancasila Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945 Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat Konsepsi Wawasan Nusantara Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional Implementasi atau penerapan tentang identitas nasional harus tercermin pada pola pikir, pola sikap, dan pola tindak yang senantiasa mendahulukan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan kata lain, identitas nasional menjadi pola yang mendasari cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam rangka menghadapi berbagai masalah menyangkut kehidupan bermayarakat, berbangsa dan bernegara. Implementasi identitas nasional senantiasa berorientasi pada kepentingan rakyat dan wilayah tanah air secara utuh dan menyeluruh. Impementasi identitas nasional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yamg mencakup kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya,dan pertahanan keamanan harus tercemin dalam pola pikir, pola sikap, dan pola tindak senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia diatas kepentingan pribadi dan golongan.

DAFTAR PUSTAKA Hendarsah, Amir. 2009. Sejarah Pemerintahan dan Ketatanegaraan. Yogyakarta: Great Publisher Darji Darmodiharjo, dkk. 1991. Santiaji Pancasila. Surabaya: Usana Offset Sunarso,dkk.2006. pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: UNY Press Winarno. 2007. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: PT. Bumi Aksara

http://id.shvoong.com/social-sciences/2199547-pengertian-kebudayaan-unsur-unsurkebudayaan/ diakses pada tanggal 22 Oktober 2012 http://mukhliscaniago.wordpress.com/2012/06/28/pkn/ diakses pada tanggal 22 Oltober 2012

http://asriatisetya.wordpress.com/2012/11/13/identitas-nasional/

PENGERTIAN IDENTITAS NASIONAL INDONESIA Identitas kebangsaan (political unity) merujuk pada bangsa dalam pengertian politik, yaitu bangsanegara.Bisa saja dalam negara hanya ada satu bangsa (homogen), tetapi umumnya terdiri dari banyak bangsa (heterogen). Karena itu negara perlu menciptakan identitas kebangsaan atau identitas nasional, yang merupakan kesepakatan dari banyak bangsa di dalamnya. Identitas nasional dapat berasal dari identitas satu bangsa yang kemudian disepakati oleh bangsa-bangsa lainnya yang ada dalam negara itu, atau juga dari identitas beberapa bangsa yang ada kemudian disepakati untu k dijadikan identitas bersama sebagai identitas bangsa-negara. Kesediaan dan kesetiaan warga bangsa/negara untuk mendukung identitas nasional perlu ditanamk an, dipupuk, dan dikembangkan terus-menerus. Warga lebih dulu memiliki identitas kelompoknya, sehingga jangan sampai melunturkan identitas nasional. Di sini perlu ditekankan bahwa kesetiaan pada identitas nasional akan mempersatukan warga bangsa itu sebagai satu bangsa dalam negara. Bentuk identitas kebangsaan bisa berupa adat istiadat, bahasa nasional, lambang nasional, bendera nasional, termasuk juga ideologi nasional. Proses pembentukan identitas nasional di Indonesia cukup panjang, dimulai dengan kesadaran ad anya perasaan senasib sepenanggungan bangsa Indonesia akibat kekejaman penjajah Belanda, kemu dian memunculkan komitmen bangsa (tekad, dan kemudian menjadi kesepakatan bersama) untuk berj uang dengan upaya yang lebih teratur melalui organisasiorganisasi perjuangan (pergerakan) Kemerdekaan mengusir penjajah sampai akhirnya

Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 dan membentuk negara.

Contoh Identitas Nasional Indonesia yaitu Identitas Nasional merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang sudah tumbuh dan berkembang sebelum masuknya agama-agama besar di bumi nusantara ini dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang kemudian dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan Nasional dengan acuan Pancasila dan roh Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan arah pengembangannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan identitas nasional juga bisa dikatakan sebagai jati diri yang menjadi slogan-slogan kibaran bendera kehidupan. SUMBER :

http://wwwmaulana.blogspot.com/2011/10/identitas-nasional.html http://identitasnasional-fitk.blogspot.com/ http://makalah-staid.blogspot.com/2012/11/pengertian-identitas-nasional.html http://itsmerjr.blogspot.com/2009/05/review-mata-kuliah-pkn.html


http://blogciuu.blogspot.com/2013/04/identitas-nasional-dan-identitas.html Konstitusi Indonesia

Pengklasifikasian fungsi Konstitusi di Dalam UUD 1945 1. Konstitusi Sebagai dokumen nasional
Konstitusi mengandung perjanjian luhur, berisi kesepakatan. Kesepakatan tentang politik, hukum, pendidikan, kebudayaan, ekonomi, aspek fundamental yang menjadi tujuan negara. Jika kita lihat pada UUD 1945 fungsi konstitusi yang pertama ini dapat dikategorikan tercantum dalam Pembukaan . Pasalnyadalam pembukaan itu sendiri termuat jaminan kemerdekaan setiap negara, pernyataan kemerdekaan Indonesia, tujuan negara, landasan Negara yaitu Pancasila. Dan ini semua merupakan wujud dari konstitusi sebagai dokumen nasional. Halayaknya sebuah dokumen yang tidak bisa diganti, pembukaan ini juga tidak mengalami pergantian dari mulai dulu pertama kali dibentuk sampai sekarang ini Andai ada perubahan atau amandemen, yang dirubah hanya pasal-pasalnya saja/batang tubuh.

Pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945 lah yang menciptakan pasal-pasal UUD 1945( pancasila yang termuat didalamnya ), sehingga Pancasila berkedudukan sebagai dasar negara. Jadi bila dasar Negara ini diubah maka peraturan lain juga harus berubah.

2. Konstitusi Sebagai Piagam Kelahiran Baru (Bukti Adanya Pengakuan Masyarakat Internasional).
Terkandung dalam Pembukaan UUD Republik Indonesia tahun 1945; 1.Alinea ke-3 Atas berkata rahamat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan kuhur supaya berkehidupan bekebangsaan yang bebas ,maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaanya *Maksud dari alenia 3 adalah rakyat sudah mengakui bahawa Negara Indonesia sudah merdeka tanpa tanpa ada penjajahan lagi,dan sudah mempunyai kebebasan walaupun ada batasan-batasan agar tidak melanggar peraturan-peraturan yang berlaku. 2. Alinea ke-4 Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melakasakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadailan social maka disusunlah kemerdekaan dan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UUD Negara yang terbentuk dalam suatu susunan Negara republic Indonesia yang berkedaualatan rakayat dengan berdasarkan kepada KeTuhanan Yang Maha Esa ,kemanusiaan yang adil dan berdab,Persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaaan dalam permusawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan social bagi seluruh rakayat Indonesia *maksud dari alinea ke-4 adalah Adanya lindungan dari pemerintah dan masayarakat selal sejahtera karana adanya fungsi pemerintahan. Mencerdasakan kehidupan bangsa agar pendidikan di Indonesia bagus adan memenuhi standar.Dan setiap warga Negara Indonesia berhak menganut keyakinan agama karena Indonesia terbentuk dalam susunan Negara yang berdaulat rakyat dengan berdasar kepada KETUHANAN YANG MAHA ESA. Dan pastinya masyarakat saling membutuhkan satu sama lain dan menginginkan rakyat untuk bersatu hal ini terkandung dalam persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakialan serta dengan mewujudakn suatu keadilan social bagi seluruh rakyat indonesia

3. Konstitusi Sebagai Sumber Hukum Tertinggi.


UUD berbeda dengan undang-undang biasa. Hal terindikasikan dari mulai cara pembentukan yang istimewa, kemudian badan yang membuatnya pun berbeda dengan badan yang membuat undangundang biasa. Hal ini menimbulkan gagasan bahwa UUD adalah hukum tertinggi (supreme law)yang

memiliki posisi lebih tinggi dari UU biasa dan harus ditaati baik oleh rakyat maupun oleh alat-alat perlengkapan negara. Pasal 24 C tentang fungsi MK, Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertamadan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, Pasal 37, perubahan UUD 1945 bersifat rigid, hal ini mengindikasikan bahwa isi dari UUD 1945 bersifat mendasar dan perubahannya ikut mempengaruhi tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Aturan Peralihan Pasal 1, Segala peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.

4. Sebagai identitas dan lambang persatuan.


Salah satu fungsi dan kedudukan konstitusi yaitu sebagai identitas bangsa. Begitu pula dengan konstitusi di Indonesia di jelaskan dalam undang-undang dasar 1945 kekhasan yang fundamental yang di miliki oleh negara. Dikatakan fundamental karena merupakan identitas yang mendasar yang tidak dapat secara serta merta di ubah, karena dalam pembentukanya melalui proses sejarah yang cukup panjang yang mencerminkan bangunan dasar kenegaraan. Konstitusi sebagai identitas nasiaonal dan lambang pemersatu juga merupakan jembatan untuk mencapai tujuan negara. Adapun konstitusi yang memuat identitas nasional indonesia termaktub dalam asal 35 Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih, pasal 36 Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia, pasal 36 A Lambang negara ialah Garuda pancasila dengan semboyan Bhineka tunggal ika, pasal 36 B Lagu kebangsaan ilah lagu Indonesia R aya. Dari pasal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa konstitusi indonesia merupakan identitas dan lambang pemersatu, dari simbol, lambang, dan bahasa di tiap daerah mempunyai ragam yang berbeda, dan negara juga menberikan apresiasi terhadap budaya daerah tersebut seperti yang tercantum dalam pasal 32 (2) Negara menghormati dan memlihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya Nasional , akan tetapi dalam praktek kenegaraan digunakan lambang, simbol, bendera dan bahasa yang diatur dalam pasal pada bab XV. Jadi dikatakan sebagai lambang persatuan karena seluruh masyarakat indonesia merasa memiliki terhadap lambang, lagu, bahasa dan simbul sehingga masyarakat turut menjaga nilai- nilai yang terkandung didalamnya karena didalam lagu, bahasa, bebera dan simbol terdapat jati dan harga diri suatu bangsa. Dan keberagaman yang ada di tiap daerah disatukan sebagai unsur pembentuk budaya nasional.

5. Konstitusi Sebagai Alat Pembatas Kekuasaan


Konstitusi sebagai alat pembatas kekuasaan ditujukan dalam rangka membatasi tugas dan wewenang penguasa maupun para petinggi negara, agar tidak bertindak sewenang-wenang. Dengan adanya konstitusi sebagai alat pembatas kekuasaan, maka tugas dan wewenang penguasa maupun para petinggi negara jelas dan dijalankan sesuai dengan aturan di dalam konstitusi. Berikut ini adalah pasal-pasal dalam UUD 1945 yang berkaitan dengan fungsi konstitusi sebagai alat pembatas kekuasaan:

Mengenai batasan kekuasaan MPR


Terdapat dalam pasal 2 dan 3, di mana diketahui bahwa MPR terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui pemilu dan diatur lebih lanjut dengan undang-undang. MPR memiliki wewenang mengubah dan menetapkan UUD, melantik Presiden/Wakil Presiden, memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang Dasar.

Kekuasaan Pemerintahan Negara


Terdapat dalam pasal 4-16, dimana Kekuasaan pemerintahan menurut UUD dipegang oleh presiden. Dalam menjalankan kewajibannyanya presiden dibantu oleh Wakil Presiden. Presiden dan/atau Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan. Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat iberhentikan dalam masa jabatannya oleh MPR atau atas usul DPR, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.Presiden mempunyai hak untuk mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR dan menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undangundang sebagimana mestinya. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara, maka atas persetujuan DPR, Presiden mempunyai werwenang untuk menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. (Pasal 10 dan 11 ayat 1). Pasal 13, Presiden mengangkat duta dan konsul. Dalam hal mengangkat duta, Presiden memperhatikan DPR. Presiden menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR. Pasal 14, Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan pertimbangan MA, sementara dalam memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR. Pasal 15, Presiden memberi gelar, tanda jasa, dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan undang-undang. Pasal 16, Presiden membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden, yang selanjutnya diatur dalam undang-undang.

Mengenai batasan Kekuasaan DPR


Pasal 19-22, di mana Anggota DPR dipilih melalui pemilihan umum. DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undan dan memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Dalam melaksanakan fungsinya, selain hak yang diatur dalam pasal-pasal UUD ini, DPR mempunyai hak interpelasi, hak angket, dan hak menyatakan pendapat. Selainitu DPR juga mempunyai hak mengajukan pertanyaan, menyampaikan usul dan pendapat serta hak imunitas.

Mengenai batasan Kekuasaan Kehakiman


Pasal 24-25, di mana Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam

lingkungan peradilan umum,lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh Mahkamah Konstitusi. Pasal 24A MA berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang. Pasal 24B Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Pasal 24C Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap UUD, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilu.

6. Konstitusi Sebagai Pelindung HAM dan Kebebasan WN.


Dalam fungsi ini bahwa konstitusi memberikan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia dan hakhak kebebasan warga negara. Rumusan HAM ke dalam UUD 1945 Indonesia bukan semata-mata karena kehendak untuk mengakomodasikan perkembanagan pandangan mengenai HAM melainkan karena hal itu merupakan salah satu syarat negara hukum. Dengan adanya rumusan HAM dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, maka secara konstitusional hak asasi setiap warga negara dan penduduk Indonesia telah dijamin. Pasal-passal yang mengatur tentang HAM yaitu: Pasal 27 : hak jaminan dalam bidang hukum dan ekonomi Pasal 28 : Pasal ini memberikan jaminan dalam bidang politik berupa hak untuk mengadakan perserikatan, berkumpul dan menyatakan pendapat baik lisan maupun tulisan. Pasal 28 A : Pasal ini memberikan jaminan akan hak hidup dan mempertahankan kehidupan.

Pasal 28 B : Pasal ini memberikan jaminan untuk membentuk keluarga, melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah, jaminan atas hak anak untuk hidup, tumbuh dan berkembang serta perlindungan anak dari kekerasan dan diskriminasi. Pasal 28 C : Pasal ini memberikan jaminan setiap orang untuk mengembangkan diri, mendapatkan pendidikan, memperoleh manfaat iptek, seni dan budaya, hak kolektif dalam bermasyarakat. Pasal 28 D : Pasal ini mengakui jaminan, perlindungan, perlakuan dan kepastian hukum yang adil, hak untuk bekerja dan mendapatkan imbalan yang layak, kesempatan dalam pemerintahan dan hak atas kewarganegaraan.

Pasal 28 E : Pasal ini mengakui kebebasan memeluk agama, memilih pendidikan, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal. Juga mengakui kebebasan untuk berkumpul dan mengelurkan pendapat. Pasal 28 F : Pasal ini mengakui hak untuk bekomunikasi dan memperoleh informasi dengan melalui segala jenis saluran yang ada. Pasal 28 G : Pasal ini mengakui hak perlindungan diri, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda, rasa aman serta perlindungan dari ancaman. Juga mengakui hak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan martabat manusia, serta suaka politik dari Negara lain. Pasal 28 H : Pasal ini mengakui hak hidup sejahtera lahir batin, hak bertempat tinggal dan hak akan lingkungan hidup yang baik dan sehat, hak pelayanan kesehatan, hak jaminan social, hak milik pibadi. Pasal 28 I : Pasal ini mengakui hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun yaitu; hak hidup, hak untuk tidak disiksa, hak beragama, hak tidak diperbudak, hak diakui sebagai pribadi di depan hukum, hak tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut. Pasal ini juga mengakui hak masyarakat tradisional dan identitas budaya. Perlindungan, pemajuan dan penegakan hak asasi adalah tanggung jawab Negara, terutama peemerintah. Pasal 28 J : Pasal ini menegaskan perlunya setiap orang menghormati hak asasi orang lain. Juga penegasan bahwa pelaksanaan hak asasi manusia harus tunduk pada pembatsan-pembatasan sesuai dengan pertimabangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam negara demokratis. Dalam pasal ini memberikan pembatasan yang ditetapkan undang-undang dan untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil. Pasal 29 : Pasal ini mengakui kebebasan dalam menjalankan peerintah agama sesuai kepercayaan masing-masing. Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, keinsyafan batin, dan agama. Hak ini mencakup kebebasan untuk memeluk atau menerima agama atau keprcayaan pilihannya, serta kebebasan untuk baik secara pribadi ataupun bersama anggota masyarakat lingkungannya serta secara terbuka atau tertutup, menyatakan agama atau keprcayaannya melalui ibadah, ketaatan, tindakan dan ajaran. Pasal 31 : Pasal ini mengakui hak setiap warga negara akan pengajaran. Bahwa dalam pasal ini negara-negara peserta dalam perjanjiannya mengakui hak setiap orang atas pendidikannya. Bahwa pendidikan akan mengarahkan pada pengembangan penuh dari kepribadian orang serta kesadaran akan harga dirinya, serta memperkuat rasa hormat terhadap hak-hak manusia serta kebebasankebebasan dasar. Pasal 32 : Pasal ini mengakui adanya jaminan dan perlindungan budaya. Pasal 33 : Pasal ini mengandung pengakuan hak-hak ekonomi berupa hak memiliki dan menikmati hasil kekayaan alam Indonesia.

Pasal 34 : Pasal ini mengatur hak-hak asasi dibidang kesejahteraan sosial. Negara berkewajiban menjamin dan melindungi fakir miskin, anak-anak yatim, orang terlantar dan jompo untuk dapat hidup secara manusiawi. Kewenangan-kewenangan yang ditetapkan dalam Pasal-pasal 10, 11, 12, 13, 14, dan Pasal 15 UUD 1945 biasanya dikaitkan dengan kedudukan Presiden sebagai Kepala Negara. Pasal 11 mengatur mengenai kewenangan Presiden untuk menyatakan perang dan damai serta kewenangan untuk membuat perjanjian dengan negara lain. Pasal 12 berkenaan dengan kewenangan menyatakan keadaan bahaya, Pasal 13 berkenaan dengan pengangkatan dan penerimaan Duta Besar dan Konsul. Pasal 14 mengenai pemberian grasi dan rehabilitasi, serta pemberian amnesti dan abolisi; dan Pasal 15 mengenai pemberian gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan lainnya. Sesuai hasil Perubahan Pertama UUD 1945, pelaksanaan kewenangan Presiden tersebut di atas secara berturut dipersyaratkan diperhatikannya pertimbangan DPR, pertimbangan MA, ataupun diharuskan adanya persetujuan DPR, dan bahkan diharuskan adanya UU terlebih dahulu yang mengatur hal itu. Pelaksanaan kewenangan yang diatur dalam Pasal 11 memerlukan persetujuan DPR. Pelaksanaan kewenangan yang diatur dalam Pasal 12 dan Pasal 15 mempersyaratkan adanya UU mengenai hal itu lebih dahulu. Pelaksanaan kewenangan dalam Pasal 13 memerlukan pertimbangan DPR yang harus diperhatikan oleh Presiden. Sedangkan pelaksanaan kewenangan dalam Pasal 14 dibagi dua, yaitu untuk pemberian grasi dan rehabilitasi diperlukan pertimbangan MA, sedangkan pemberian amnesti dan abolisi diperlukan pertimbangan DPR. Memang banyak yang dapat dipersoalkan mengenai materi perubahan UUD 1945 yang menyangkut pelaksanaan Pasal 10 sampai dengan Pasal 15 tersebut. Misalnya, untuk apa DPD atau kepada DPR ditumpukkan tambahan-tambahan kewenangan yang justru akan sangat merepotkan DPR secara teknis. Misalnya, untuk apa DPR memerlukan keterlibatan untuk memberikan pertimbangan dalam pengangkatan Duta Besar dan Konsul serta penerimaan Duta Besar dan Konsul negara sahabat seperti di tentukan dalam Pasal 13 baru. Perubahan seperti ini justru akan menyulitkan baik bagi pemerintah maupun bagi DPR sendiri dalam pelaksanaan prakteknya. Demikian pula mengenai pertimbangan terhadap pemberian amnesti dan abolisi yang diatur dalam Pasal 14 ayat (2) baru yang selama ini ditentukan perlu dimintakan kepada Mahkamah Agung, untuk apa dialihkan ke DPR. Namun demikian, terlepas dari kelemahan atau kritik-kritik di atas, semua kewenangan yang diatur dalam pasal-pasal tersebut biasanya dipahami berkaitan dengan kedudukan Presiden sebagai Kepala Negara. Ada yang berhubungan dengan pelaksanaan fungsi judikatif seperti pemberian grasi dan rehabilitasi, dan ada pula yang berhubungan dengan pelaksanaan fungsi legislatif seperti misalnya pernyataan keadaan bahaya yang berkait erat dengan kewenangan Presiden untuk menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perpu).

http://rumahpkn.wordpress.com/2011/01/21/170/
ATRIBUT KENEGARAAN a. Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih (Pasal 35 UUD 1945). b. Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia (Pasal 36 UUD 1945). c. Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Pasal 36A UUD 1945).

d. Lagu Kebangsaan ialah Indonesia Raya (Pasal 36B UUD 1945). BAHASA INDONESIA ADALAH IDENTITAS NASIONAL. Menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1975, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai: 1. Lambang kebanggaan nasional, 2. Lambang Identitas Nasional, 3. Pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya bahasa, dan 4. Alat perhubungan antar budaya dan antar daerah. Dalam pergaulan internasional, Bahasa Indonesia mewujudkan identitas bangsa sebagai identitas fonik, disamping identitas fisik, yakni Bendera Merah Putih dan Garuda Pancasila, serta identitas lagu Indonesia Raya. GLOBALIZATION ODYSSES: Identitas nasional digantikan oleh identitas kontinental. Mulai tahun 2025, aspek kebudayan lokal atau nasional mulai menghilang, dan hanya sekedar sebagai obyek pariwisata dan komoditi perdagangan

IDENTITAS NASIONAL sebagai Salah Satu Faktor Penting dalam Membangun Bangsa. TIGA KONSEP yang harus dibangun agar negara lebih stabil dalam arti keseluruhannya, menurutDrs. H.Subrata, M.H. dalam Tiga Konsep Pembangunan Seutuhnya: a. Identitas Nasional (National Identity) b. Integritas Nasional (National Integrity) c. Kredibilitas Nasional (National Credibility) BAHMUELLER, C. F. (1997) dalam A Framework For Teaching Democratic Citizenship : An International Project In The International Journal of Social Education, mengidentifikasi sejumlah faktor yg berpengaruh terhadap perkembangan demokrasi suatu negara, yaitu: the degree of economic development; a sense of national identity; historical experience and elements of civic culture. Maksudnya: tingkat perkembangan ekonomi, kesadaran identitas nasional, dan

pengalaman sejarah serta budaya kewarganegaraan merupakan faktor-faktor yangg mempengaruhi perkembangan demokrasi suatu negara. APAKAH NATIONALITY? Berdasarkan Microsoft Encarta Reference Library 2003. 1993-2002 Microsoft Corporation: 1. Citizenship of particular nation : the status of belonging to a specific nation by origin, birth, or naturalization. 2. People forming nation-state: a people with a common origin, tradition, and often language, who form or are capable of forming a nation-state. 3. Ethnic group within a larger entity: an ethnic group that is part of a larger entity such as a stat. 4. Nationhood: political independence as a separate nation. 5. National character: the character of a nation of people. WHAT IS NATIONALISM? Penguin Dictionary of International Relations. 1st ed. (London: Penguin, 1998), 346 : a. Political scientists draw a sharp distinction between the concepts of state and nation. b. State refers to government and other institutions which run the country. c. Nation, by contrast, is a psychological characteristic, what individuals identify with. d. There are nation-states in which almost everyone accepts the state as theirs and makes it the primary home of their political identity and loyalty. PENJELASAN ATAS UU 38/2008 PENGESAHAN CHARTER OF THE ASSOCIATION OF SOUTHEAST ASIAN NATIONS (PIAGAM PERHIMPUNAN BANGSA-BANGSA ASIA TENGGARA): Prinsip-prinsip yang terkandung dalam Piagam ASEAN antara lain: menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesetaraan, integritas wilayah dan identitas nasional; menolak agresi; bebas dari campur tangan eksternal; meningkatkan konsultasi dan dialog; mengedepankan penyelesaian sengketa secara damai; menghormati kebebasan fundamental, pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia; serta menghormati perbedaan budaya, bahasa, dan agama.

http://mardoto.com/2009/04/13/sekali-lagi-tentang-identitas-nasional/

A.

Pengertian Identitas Nasional

Identitas berasal dari bahasa Inggris, yaitu kata identity yang berarti identitas atau persamaan. Identitas dapat diartikan sebagai ciri-ciri, individualitas, jati diri, personalitas, label, nama, ataupun sebutan. Identitas juga dapat diartikan sebagai kondisi atau keadaan untuk menjadi sesuatu yang khusus atau spesifik sehingga bisa dibedakan dengan sesuatu yang lain. Sedangkan nasional berasal dari bahasa inggris, yaitu kata national yang memiliki arti kebangsaan, dalam negeri, domestik, atau lokal.

Jadi dapat disimpulkan bahwa identitas nasional adalah suatu kekhasan yang terdapat pada suatu komunitas masyarakat diwilayah tertentu yang berada dibawah pemerintahan yang sama. Komunitas tersebut biasa disebut dengan bangsa. Sehingga dapat dibedakan antara satu bangsa dengan bangsa lain. Tujuan utama dari identitas nasional tentunya adalah untuk memupuk rasa nasionalisme yang ada pada suatu bangsa. Sehingga tercipta kerukunan didalam suatu bangsa. Semakin jelas identitas suatu bangsa maka semakin bertambah pula nasionalisme yang mengalir pada bangsa tersebut. Apa sebenarnya nasionalisme itu? Kata nasionalisme berakar dari bahasa Inggris, yaitu nasionalism. Nasionalisme adalah suatu rasa cinta dan bangga yang kuat pada bangsanya. Sangat jelas sekali bahwa identitas nasional itu bisa menjadi suatu alat pemersatu bangsa dan bisa menjadi alat untuk mencegah disintegrasi terjadi pada suatu bangsa. Identitas nasional berkaitan erat dengan citra atau gambaran yang diberikan kepada suatu bangsa. Jika citra bangsa itu buruk, contohnya terjadi korupsi seperti yang dewasa ini melanda bangsa Indonesia, maka secara otomatis identitas bangsapun menjadi buruk dimata bangsa, baik bangsa sendiri maupun bangsa lain. Hal in akan berdampak pada rasa percaya dan nasionalisme masyarakat terhadap negaranya. Hilangnya nasionalisme pada masyarakat akan memengaruhi kesatuan negara dan dapat menimbulkan terpecah-belahnya bangsa. Seperti terjadi terorisme, tawuran, dan hal-hal buruk lain yang bisa merobohkan kesatuan bangsa. Agar identitas nasional dapat dipahami secara utuh, maka perlu juga untuk memahami hakikat bangsa dan hakikat identitas nasional itu sendiri.

1. Hakikat Bangsa Bangsa dapat diartikan dari dua sisi, yaitu bangsa dalam arti sosiologis-antropologis dan bangsa dalam arti politis.

a. Bangsa dalam arti sosiologis-antropologis Bangsa dalam arti sosiologis-antropologis adalah persekutuan yang berdiri sendiri yang masingmasing hidup pada tempat yang sama. Anggota persekutuan tersebut merasa satu kesatuan ras, bahasa, agama, dan adat istiadat. Jadi mereka disatukan karena keagamaan, ras, bahasa, agama, dan adat istiadat.

b. Bangsa dalam arti politis Bangsa dalam arti politis adalah suatu masyarakat dalam daerah yang sama dan mereka tunduk pada kedaulatan negaranya sebagai suatu kekuasaan tertinggi. Jadi mereka diikat oleh kekuasaan politik, yaitu negara. Jadi bangsa dalam arti politik adalah bangsa yang sudah bernegara dan mengakui serta tunduk kepada negara yang tersebut.

c. Cultural unity dan political unity Melalui pemahaman yang kurang lebih sama, bangsa pada dasarnya memiliki dua arti, yaitu bangsa dalam arti kebudayaan (cultural unity) dan bangsa dalam pengertian politik kenegaraan (political unity). Cultural unity adalah pengertian bangsa dari sisi sosiologis-antropologis. Political unity adalah pengertian bangsa dari sisi politis. Cultural unity terjadi karena suatu kelompok merasa pada diri mereka terdapat kesamaan pada segi ras, religi, sejarah, dan adat istiadat. Dewasa ini, cultural unity sudah jarang ditemukan seiring berkembangnya zaman, terutama berkembangnya era menjadi era globalisasi. Bahkan cenderung meninggalkan cultural unity mereka. Mungkin hanya beberapa suku yang terasing yang dapat bertahan. Cultural unity sudah menyebar di berbagai negara dunia. Karena terjadi migrasi, akulturasi, maupun naturalisasi. Sedangkan negara homogen semakin sedikit. Misalnya, negara Israel yang terdiri dari suku bangsa Yahudi. Anggota political unity sebagian besar terdiri dari masyarakat yang berbeda corak dan latar belakangnya, tetapi mereka menjadi satu bangsa dalam pengertian politik. Political unity tinggal di suatu wilayah yang sama, dan dibawah pemerintahan yang sama. Jadi, cultural unity bersatu didasarkan pada segi etnik, sedangkan political unity didasarkan pada segi etik. Unsur-unsur yang menyatukan mereka baik etik mapun etnik disebut identitas kebangsaan bagi mereka.

2. Hakikat Identitas Nasional Kata nasional merujuk konsep kebangsaan. Kata nasional tersebut merupakan kelompok-kelompok persekutuan hidup yang lebih besar dari sekadar pengelompokan berdasar pada ras, agama, budaya, bahasa, dan sebagainya. Oleh karena itu, identitas bangsa lebih cenderung pada pengertian politik (political unity). Adapun faktor lahirnya identitas bersama atau kelompok.

a. Primordial Faktor primordial meliputi ikatan kekerabatan (darah dan keuarga), kesamaan suku bangsa, derah asal, bahasa, dan adat istiadat. Faktor primordial merupakan identitas yang menytukan masyarakat sehingga mereka dapat membentuk bangsa-negara. Contoh, Yahudi membentuk negara Israel.

b. Sakral Faktor sakral dapat berupa kesamaan agama yang dipeluk masyarakat atau ideologi yang diakui masyarakat yang bersangkutan. Agama dan ideologi merupakan faktor sakral yang dapat

membentuk bangsa-negara. Faktor sakral ikut menyumbang terbentuknya satu nasionalitas baru. Misalnya, faktor agama kotolik bisa membentuk beberapa negara di Amerika Latin. Negara Unisovyet diikat oleh kesamaan ideologi komunis.

c. Tokoh Kepemimpinan para tokoh yang disegani dan dihormati masyarakat pada suatu tempat, berpengaruh besar tehadap masyarakat tersebut. Karena seorang pemimpin dianggap sosok yang patut dipatuhi dalam setiap perkataan baiknya yang menyangkut kemaslahatan bersama dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga tokoh-tokoh tersebut dapat menjadi pemersatu bangsa-negara. Pemimpin di beberapa negara dianggap sebagai penyambung lidah rakyat, pemersatu rakyat, dan simbol persatuan bangsa tersebut.

d. Kesatuan dalam pluralitas kehidupan Kesatuan di Indonesia dilambangkan dalam kalimat bhineka tungal ika atau dalam istilah asingnya adalah unity in diversity. Kesatuan dalam pluralitas disini maksudnya adalah Kesetiaan suatu warga bangsa pada lembaga negara sebagai pemerintahnya tanpa menghilangkan keterikatan suku bangsa adat, ras, dan agamanya. Sesungguhnya manusia sebagai warga bangsa harus memiliki kesetiaan ganda pada diri mereka, yaitu kesetiaan terhadap identitas primodialnya dan juga harus memiliki kesetiaan terhadap pemerintahan dan negara. Sehingga mereka bisa bersatu tanpa menghilangkan jati diri. Sangat tidak baik jika masyarakat kehilangan identitas primordial mereka. Sebab sesungguhnya keragaman itulah yang menambah keindahan khasanah suatu negara yang harus dilestarikan. Pada akhirnya mereka dapat sepakat hidup bersama di bawah satu bangsa, meskipun memilki latar belakang yang berbeda.

e. Sejarah Pandangan yang sama diantara warga tentang sejarah mereka dapat menyatukan diri dalam satu bangsa. Seperti rasa senasib sepenanggungan yang menimbulkan rasa kedekatan tersendiri dalam masyarakat. Pandangan yang sama dalam suatu masalah tidak hanya melahirkan rasa solidaritas, tetapi juga melahirkan tekad dan tujuan yang sama antaranggota masyarakat itu.

f. Perkembangan ekonomi Perkembangan ekonomi akan melahirkan spesialisasi pekerjaan dan profesi sesuai dengan macam kebutuhan masyarakat seiring perkembangan era. Semakin banyak permintaan variasi kebutuhan, maka semakin saling tergantung antara pekerjaan satu dengan pekerjaan yang lain. Semakin kuat saling ketergantungan ekonomi maka semakin besar rasa solidaritas yang terjadi pada suatu masyarakat, karena kebutuhan mereka untuk beraktifitas dengan orang lain. Faktor ini lebih banyak berlaku di industri maju seperti Amerika Serikat dan sebagainya.

g. Kelembagaan Berupa lembaga pemerintahan dan politik, seperti birokrasi, angkatan bersenjata, pengadilan, dan partai politik. Lembaga tersebut didirikan dengan tujuan untuk melayani dan mempertemukan warga tanpa membeda-bedakan asal-usul dan golongannya dalam masyarakat kerja. Dengan demikian perilaku lembaga dapat mempersatukan warga sebagai satu bangsa. Identitas nasional dapat saja berasal dari identitas suatu bangsa didalamnya yang selanjutnya disepakati sebagai identitas nasionalnya. Identitas kebangsaan bersifat buatan, sekunder, etis, dan nasionalnya. Beberapa bentuk identitas nasional adlah bahasa nasional, lambang nasional, semboyan nasional, bendera nasional, dan ideologi nasional.

Kesediaan warga bangsa untuk mendukung identitas nasional itu perlu ditanamkan, dipupuk, dan dikembangkan secara terus menerus. Karena kesetiaan terhadap identitas nasional sangatlah penting karena dapat mempersatukan warga bangsa itu sebagai satu bangsa dalam satu negara.

B. Unsur-unsur Pembentuk Identitas Nasional identitas nasional indonesia merujuk pada suatu bangsa yang plural atau heterogen. Pluralitas itu merupakan gabungan unsur-unsur pembentuk identitas, yaitu sebagai berikut. 1. Suku bangsa : golongan sosial yang khusus bersifat askriptif atau ada sejak lahir, yang sama coraknya. Di Indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang dari tiga ratus dialek bahasa di berbagai pulau di seluruh nusantara. 2. Agama : bangsa Indonesia dikenal dengan bangsa yang religius. Keanekaragaman agama di Indonesia merupakan identitas alamiah yang sudah ada sejak dulu. Kemerdekaan beragama di Indonesia dijamin oleh negara yang tertuang dalam Undang-Undang dasar 1945, tepatnya pada pasal 29 ayat 2. Kemajemukan agama ini hendaknya dipelihara dan disyukuri dengan sikap tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, baik terhadap orang yang beragama sama dengan diri kita maupun bebeda agama, baik terhadap kelompok minoritas maupun mayoritas. Agama yang tumbuh dan berkembang dinusantara adalah agama Islam, Kong Hu Cu, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Kong Hu Cu pada masa orde baru tidak diakui sebagai agama resmi negara, namun sejak pemerintahan masa Abdurrahman Wahid istilah agama resmi dihapuskan. 3. Kebudayaan : pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah perangkatperangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh pendukungpendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk bertindak dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan sesuai dengan lingkungan kebudayaan yang dihadapi. Aspek kebudayaan yang menjadi unsur pembentuk identitas nasional meliputi tiga unsur, yaitu akal budi, peradaban, dan pengetahuan. Akal budi bangsa Indonesia tercermin pada sikap ramah dan santun terhadap sesama. Sedangkan unsur

identitas peradabannya dapat diketahui dari keberadaan dasar negara pancasila sebagai nilai-nilai bersama bangsa yang heterogen. 4. Bahasa : unsur pendukung identitas nasional yang lain adalah bahasa. Bahasa dipahami sebagai lambang persatuan warga, yang plural dialek kesukubangsaannya, sehingga terjadi komunikasi yang lancar antar warga. Bahasa nasional disebut juga bahasa penghubung berbagai kelompok etnis yang mempunyai dialek tersendiri. 5. Sejarah : sejarah mempersatukan warga bangsa yang sebelumnya belum terbentuk menjadi sebuah negara. Melalui sejarah tersebut masyarakat plural, yang mempunyai etnis bebeda akan menyadari kesamaan nasib dan memerlukan persatuan untuk membangun semangat melawan keterpurukan menuju sebuah kemajuan. Dari unsur-unsur identitas nasional tersebut diatas, dapat dirumuskan pembagiannya menjadi tiga bagian berikut. 1. Identitas fundamental: falsafah bangsa, dasar negara, dan ideologi negara. 2. Identitas instrumental: undang-undang dasar dan tata perundangannya 3. Identitas alamiah : meliputi kepulauan, pluralisme, dalam suku bahasa budaya dan agama serta kepercayaan.

C.

Identitas Nasional Indonesia

Identitas nasional bersifat buatan dan sekunder. Identitas nasional bersifat buatan karena sengaja dibuat, dibentuk, dan disepakati warga bangsa sebagai identitasnya. Bersifat sekunder karena lahir setelah identitas kesukubangsaannya yang telah dimiliki sebelum memiliki identitas bangsa. Jauh sebelum memiliki identitas nasional, warga bangsa telah memiliki identitas primer yang berasal dari identitas primodialnya. Setelah bangsa Indonesia bernegara, mulailah dibentuk dan disepakati segala sesuatu yang dapat menjadi identitas nasional Indonesia. Beberapa bentuk identitas nasional Indonesia adalah sebagai berikut. 1. Bahasa nasional Bahasa nasional Indonesia adalah bahasa Indonesia, merupakan bahasa yang mempersatukan masyarakat Indonesia yang mempunyai bahasa kesukubangsaan yang beraneka ragam. Bahasa Indonesia berawal dari rumpun bahasa Melayu yang kemudian dipergunakan dalam bahasa pergaulan yang kemudian diangkat sebagai bahasa persatuan pada tanggal 28 Oktober 1928, yaitu saat sumpah pemuda dilaksanakan.

2. Bendera negara Bendera negara Indonesia adalah bendera yang berwarna merah-putih. Merah melambangkan keberanian dan putih melambangkan kesucian. Makna filosofis warna merah melambangkan

manusia dan putih melambangkan jiwanya. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan jiwa dan raga manusia untuk membangun indonesia. Bendera merah-putih berasal dari lambang kebesaran kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur pada abad ke-13. Tidak hanya kerajaan Majapahit, dahulu banyak kerajaan yang memakai warna merah-putih seperti kerajaan Kediri dan kerajaan Bone Sulawesi Selatan. Di Kerajaan Bone sendiri lambang kebesarannya disebut Woromporang. Pada waktu perang di Jawa, pangeran Diponegoro memakai panji-panji berwarna merah-putih dalam perjuangannya melawan Belanda. Kemudian warna-warna yang dihidupkan kembali oleh para mahasiswa dan kaum nasionalis di awal abad 20 sebagai ekspresi perlawanan terhadap Belanda. Resmi digunakan dan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

3. Lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Indonesia yang diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman. Dinyanyikan pertama kali pada tanggal 28 Oktober 1928 saat dilaksanakan kongres pemuda II di Batavia. Kelahiran lagu Indonesia Raya menandakan kelahiran pergerakan nasionalisme seluruh nusantara. Pada tahun 1950-an lagu Indonesia Raya di aransemen oleh Jos Cleber yang kemudian disempurnakan oleh Ir. Soekarno .

4. Lambang negara Lambang negara Indonesia adalah Garuda Pancasila. Lambang negara Indonesia berbentuk burung Garuda yang kepalanya menoleh ke sebelah kanan (dari sudut pandang Garuda), perisai berbentuk menyerupai jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda,. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno, dan diresmikan pemakaiannya sebagai lambang negara pertama kali pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950. Lambang negara Garuda Pancasila diatur penggunaannya dalam Peraturan Pemerintah No. 43/1958. Makna filosofis garuda pancasila adalah sebagai berikut. a. Garuda Pancasila sendiri adalah burung Garuda yang sudah dikenal melalui mitologi kuno dalam sejarah bangsa Indonesia, yaitu kendaraan Wishnu yang menyerupai burung Elang Rajawali. Garuda digunakan sebagai Lambang Negara untuk menggambarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat. b. Warna keemasan pada burung Garuda melambangkan keagungan dan kejayaan. c. Garuda memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang melambangkan kekuatan dan tenaga pembangunan.

d. Jumlah bulu Garuda Pancasila melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, antara lain:
o 17 helai bulu pada masing-masing sayap o 8 helai bulu pada ekor o 19 helai bulu di bawah perisai atau pada pangkal ekor o 45 helai bulu di leher

5. Semboyan bangsa Semboyan bangsa adalah Bhineka Tunggal Ika. Semboyan Bhineka Tunggal Ika adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata "bhinneka" berarti beraneka ragam atau berbedabeda, kata "tunggal" berarti satu, kata "ika" berarti itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya tetap satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

6. Dasar falsafah negara Dasar falsafah negara adalah Pancasila. Berisi lima nilai dasar yang dijadikan sebagai dasar filsafat dan ideologi dari negara Indonesia Pancasila merupakan identitas nasional yang berkedudukan sebagai dasar negara dan ideologi nasional Indonesia. Pada dasarnya Pancasila berkedudukan sebagai pandangan hidup bangsa, dasar negara republik Indonesia, dan sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Artinya, hukum di Indonesia tidak boleh keluar atau bertentangan dengan nilai-nilai pancasila. Pancasila sendiri secara tekstual telah tertuang pada pembukaan UUD 1945 alenia keempat.

7. Konstitusi hukum dasar Negara Indonesia adalah negara demokrasi yang berdasarkan atas hukum, oleh karena itu segala aspek dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara diatur dalam suatu sistem peraturan perundang-undangan. Dalam pengertian inilah maka negara dilaksanakan berdasarkan pada suatu konstitusi atau undang-undang dasar negara. Konstitusi Indonesia adalah UUD 1945. UUD 1945 mempunyai kedudukan yang sangat penting karena merupakan suatustaatfundamentalnorm dan berada pada hierarki tertib hukum tertinggi di negara Indonesia. UUD 1945 terdiri dari pembukaan dan batang tubuhnya yang teleh diamandemen untuk disesuaikan keadaan bangsa Indonesia. UUD 1945 juga digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan negara.

8. Bentuk negara Dalam UUD 1945 pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa negara Indonesia negara kesatuan yang berbentuk republik. Kemudian biasa disebut dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Artinya, bentuk negara adalah kesatuan, bentuk pemerintahan adalah republik, dan sistem politik adalah demokrasi atau kedaulatan rakyat.

9. Konsepsi wawasan nusantara Konsepsi wawasan nusantara sebagai cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang beragam dan memiliki nilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, serta kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.

10. Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai kebudayaan nasional Berbagai kebudayaan dari kelompok-kelompok suku bangsa di Indonesia yang memiliki cita rasa tinggi, dapat dinikmati dan diterima oleh masyarakat luas merupakan kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional adalah puncak-puncak kebudayaan daerah.

D.

Pemberdayaan Identitas Nasional Indonesia

Adanya era globalisasi dapat berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Era globalisasi tersebut telah datang dan menggeser nilai-nilai yang telah ada. Nilai-nilai tersebut bersifat positif dan negatif. Ini semua merupakan ancaman, tantangan, dan sekaligus peluang bagi bangsa Indonesia untuk berkreasi dan berinovasi di segala aspek kehidupan. Seiring globalisasi yang semakin kental akan terjadi proses akulturasi, saling meniru, dan saling memengaruhi antara masing-masing budaya. Hal yang perlu dicermati pada proses akulturasi tersebut adalah apakah proses tersebut melahirkan tata nilai yang sesuai dengan jati diri bangsa. Lunturnya budaya bangsa Indonesia dapat ditandai dua faktor berikut. 1. Semakin menonjolnya sikap individualistis, yaitu mengutmakan kepentingan pribadi diatas kepentingan umum. Hal ini akan melahirkan budaya yang bertentangan dengan budaya bangsa Indonesia, yaitu berasaskan gotong royong. 2. Semakin menonjolnya sikap materialistis, yang berarti harkat dan martabat manusia hanya diukur berasalkan materi yang dimiliki, yaitu kekayaan. Jika hal ini terjadi maka masyarakat bisa jadi tidak memikirkan atau mempersoalkan cara memperolehnya, maka etika dan moral telah dilupakan sebagai identitas yang mutlak ada pada budaya bangsa Indonesia. Pengaruh negatif akulturasi harus segera ditangani. Jika tidak lunturnya budaya kan berdampak buruk terhadap bangsa Indonesia, yaitu ketidakbanggaan terhadap bangsa. Indonesia sebagai bagian

dari jagat global memiliki kebudayaan lokal sendiri yang tidak semestinya lenyap pada dominasi global tersebut. Pemberdayaan identitas nasional harus digalakkan sebagai perwujudan upaya pengkokohan persatuan bangsa. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan revitalisasi pancasila dan integrasi nasional. 1. Revitalisasi pancasila adalah pemberdayaan kembali kedaulatan, fungsi, dan peranan pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup, ideologi, dan sumber-sumber nilai bangsa. Revitalisasi pancasila sebagai pemberdayaan identitas nasional harus diarahkan juga pada pembinaan dan pengembangan moral sedemikia rupa, sehingga moralitas pancasila pancasila dapat dijadikan dasar dan arah dalam upaya mengatasi disintegrasi yang cenderung sudah menyantuh kesemua segi kehidupan. 2. Integrasi nasional adalah penyatuan bagian-bagian yang berbeda dari suatu masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh atau menundukkan masyarakat yang berkelompokkelompok menjadi satu bangsa yang utuh. Pengertian integrasi nasional tidak lepas dari pengertian integrasi sosial yang mempunyai arti perpaduan kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda asal menjadi suatu kelompok besar . Dengan demikian, agar identitas nasional dapat dipahami sama oleh masyarakat sebagai penerus tradisi seperti dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang kita, maka pemberdayaan identitas nasional harus relevan dan fungsional terhadap kondisi aktual yang sedang berkembang dalam masyarakat. http://likulros.blogspot.com/2012/10/identitas-nasional.html

2 IDENTITAS NASIONAL
Identitas nasional secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa yang lain.Berdasarkan perngertian yang demikian ini maka setiap bangsa didunia ini akan memiliki identitas sendiri-sendiri sesuai dengan keunikan,sifat,ciri-ciri serta karakter dari bangsa tersebut.Berdasarkan hakikat pengertian identitas nasional sebagaimana di jelaskan di atas maka identitas nasional suatu Bangsa tidak dapat di pisahkan dengan jati diri suatu bangsa atau lebih populer disebut dengan kepribadian suatu bangsa. Bangsa pada hakikatnya adalah sekelompok besar manusia yang mempunyai persamaan nasib dalam proses sejarahnya,sehingga mempunyai persamaan watak atau karakter yang kuat untuk bersatu

dan hidup bersama serta mendiami suatu wilayah tertentu sebagai suatu kesatuan nasional. Beberapa bentuk identitas nasional indonesia adalah : a.Pancasila sebagai dasar falsafah negara b. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional atau bahasa persatuan c. Bendera merah putih sebagai bendera negara d. Lagu kebangsaan yaitu Indonesia Raya e. Lambang Negara yaitu Garuda Pancasila f. Semboyan Negara yaitu Bhineka Tunggl Ika g. Konstitusi negara yaitu UUD 19945 h. Bentuk Negara kesatuan Republik Indonesia yang Berkedaulatan Rakyat i. Konsepsi wawasan nusantara j. kebidayaan daerah yang telah diterima sebagai kebudayaan nasional

A.Karakteristik Identitas Nasional Bangsa memiliki 2 konsep, yaitu Cultural Unitiy dan Political Unitiy, maka identitas juga terdiri dari dua, yaitu identitas identitas suku kebangsaan dan kebangsaan. 1.Identitas Cultural Unity atau Identitas kesukubangsaan Cultural Unity merujuk pada bangsa dalam pengertian kebudayaan atau bangsa dalam arti sosiologis antropoligis. Cultural unitiy disatukan oleh adanya kesamaan ras, suku, agama, adat dan budaya, keturunan dan daerah asal. Unsur-unsur ini menjadi identitas kelompok bangsa yang bersangkutan sehingga bisa dibedakan dengan bangsa lain. Identitas yang dimiliki oleh sebuah cultural unity kurag lebih bersifat ascribtife (sudah ada sejak lahir), bersifat alamiah / bawaan, primer dan etnik. Identitas kesukubangsaan dapat diketahui dari sisi budaya orang yang bersangkutan. Setiap anggota cultur unity memiliki kesetiaan atau loyalitas pada identitasnya. Misalnya, setia pada suku, agama, budaya, kerabat, daerah asal dan bahasanya. Identitas ini sering disebut sebagai

identitas kelompok atau identitas primordial. Dalam hal ini loyalitas pada primodialnya memiliki ikatan emosional yang kuat serta melahirkan solidaritas erat. 2. identitas Political Unity atau Idrntitas Kebangsaan Political Unity merujuk pada bangsa dalam pengertian politik, yaitu bangsa-negara. Kesamaan primordial dapat saja menciptakan bangsa tersebut untuk bernegara namun dewasa ini negara yang relatif homogen yang hanya terdiri dari satu bangsa tidak banyak terjadi. Negara baru perlu menciotakan identitas yang baru pula untuk bangsanya yang di sebut juga sebagai identitas nasional. kebangsaan merupakan kesepakatan dari banyak bangsa didalamnya. Identitas kebangsaan bersifat buatan, sekunder, etis dan nasional. Beberapa bentuk identitas nasional adalah bahasa nasional, lambang nasional, semboyan nasional, bendera nasional dan ideologi nasional. Unsur- Unsur Karakteristik Bangsa : Suku Bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif (ada sejak lahir), yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa atau kclompok etnis dengan tidak kurang 300 dialek bahasa. Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama-agama yang tumbuh dan berkembang di Nusantara adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Agama Kong Hu Cu pada masa Orde Baru tidak diakui sebagai agama resmi negara, tetapi sejak pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara dihapuskan. Kebudayaan: adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.

Bahasa: merupakan unsur pendukung identitas nasional yang lain. Bahasa dipahami sebagai sistem perlambang yang secara arbitrer dibentuk atas unsur-unsur bunyi ucapan manusia dan yang digunakan sebagai sarana berinteraksi antar manusia.

B.Proses Berbangsa dan Bernegara Bangsa adalah suatu masyarakat dalam suatu daerah yang sama dan mereka tunduk kepada kedaulatan negaranya sebagai suatu kekuasaan tertinggi keluar dan kedalam. Jadi mereka diikat oleh satu kekuasaan politik yaitu negara. Ada dua proses pembentukan bangsa negara yaitu model ortodoks dan model mutakhir. Pertama, model ortodoks bermula dari adanya suatu bangsa terlebih dahulu untuk kemudian bangsa itu membentuk satu negara tersendiri. Kedua, model mutakhir yang berawal dari adanya negara terlebih dahulu, yang terbentuk melalui proses tersendiri, sedangkan penduduk negara merupakan sekumpulan suku bangsa dan ras. Kedua model ini berbeda dalam empat hal. Pertama, ada tidaknya perubahan unsur dalam masyarakat. Kedua, lamanya waktu yang diperlukan dalam proses pembentukan bangsa-bangsa. Ketiga, Kesadaran politik masyarakat pada model ortodoks muncul setelah terbentuknya bangsa-negara, sedangkan dalam model mutakhir, kesadaran politik warga muncul mendahului bahkan menjadi kondisi awal terbentuknya bangsa-negara. Keempat, derajat partisipasi politik dan rezim politik. Negara adalah organisasi kekeasaan dari persekutuan hidup manusia. Terjadinya negara-bangsa Indonesia merupakan proses atau rangkaian tahaptahap yang berkesinambungan. Proses terbentuknya negara-bangsa Indonesia secara teoritis dilukiskan sebagaimana dalam keempat alinea Pembukaan UUD 1945, sebagai berikut: 1. Terjadinya negara tidak sekedar dimulai dari proklamasi tetapi adanya pengakuan akan hak setiap bangsa untuk memerdekakan dirinya. Bangsa Indonesia memiliki tekad kuat untuk menghapus segala penindasan dan

penjajahan suatu bangsa atas bangsa yang lain. Inilah sumber motifasi perjuangan. (alinea I pembukaan UUD 1945) 2. Adanya perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan dan menghasilkan proklamasi. Jadi dengan proklamasi tidaklah selesai kita bernegara . Negara yang kita cita-citakan adalah menuju pada keadaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. (alinea II pembukaan UUD 1945) 3. Terjadinya bangsa Indonesia adalah kehendak bersama seluruh bangsa Indonesia. Disamping itu adalah kehendak dan atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Ini membuktikan bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius dan mengakui adanya motivasi spiritual. (alinea III pembukaan UUD 1945) 4. Negara Indonesia perlu menyusun alat-alat kelengkapan negara yang meliputi tujuan negara, bentuk negara, system pemerintahan negara, UUD negara dan dasar negara. Dengan demikian semakin sempurna proses terjadinya negara Indonesia. (alinea IV pembukaan UUD 1945)
http://princesmala.blogspot.com/2012/06/identitas-nasional.html

identitas nasional
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Identitas nasional pada hakikatnya merupakan manifest nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan suatu bangsa dengan cirri-ciri khas. Dengan cirri-ciri khhas tersebut, suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain ddalam hidup dan kehidupanya. Suatu bbangsa harus memiliki identitas nasional dalam pergaaulan internasional. Tanpa identitas nasional, maka bangsa tersebut akan terombang ambing. Identitas nasional bangsa Indonesia terdiri dari empat elemen yyang sering disebut dengan consensus nasional. Consensus yang dimaksud adalah Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhineka Tunggal Ika. Pancasila merupakan ideology yang revalitasnya harus dikembalikan pada eksistensi pancasila sebagai ideology bangsa Indonesia. pancasila sebagai dasar Negara dan falsafah hidup berbangsa idealnya tumbuh dan dipraktekkan dalam setiap aktivitas masyarakat sosialisasi nilai-nilai pancasila harus terus digelorakan. Sehingga timbul kesadaran terhadap pancasila sebagai identitas nasional.

B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa pengertian identitas nasional? 2.

BAB II PEMBAHASAN A. IDENTITAS NASIONAL Kata identitas berasal dari kata identity yang berarti cirri-ciri, tanda-tanda, atau jati diri yang melekat pada seseorang ataau sesuatu yang membedakannya dengan yang lain. Sedangkan nasional berasal dari kata nasion yang memiliki arti bangsa, menunjuk pada sifat khas kelompok yang memiliki cirri-ciri kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama, bahasa, maupun non fisik seperti keinginan, cita-cita, dan tujuan. Jadi identitas nasional adalah identitas suatu kelompok masyarakat yang memiliki cirri dan melahirkan tindakan secara kolektif yang diberi sebutan nasional. Menurut Koento Wibisono (2005), identitas nasional adalah manifestasi niai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam asspek kehidupan suatu bangsa (nasion) denngan cirri-ciri khas, dann dengann yang khas tadi, suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya.[1] Identitas nasional pada hakikatnya merupakan identitas manusia dalam kaitannya dengan masyarakat atau bangsa. Manusia merupakan makhluk multi dimensional, paradoksal daan monopluralistik. Keadaan mannusia yang multidimensional, paradoksal dan munopluralistik akan mempengaruhi eksistensinya. Selain itu, eksistensinya juga dipengarruhi oleh nilai-nilai yang dianutnya atau pedoman hidupnya. Pada akhirnya yang menentukan identitas manusia baik secara individu maaupun kolektif adalah perpaduan antara keunikan keunikan yang ada pada dirinya dan implementaasi nilai-nilai yang dianutnya.

IDENTITAS NASIONAL INDONESIA Identitas nasional Indonesia bersifat pluralistik (ada keanekaragaman) baik menyangkut sosiokultural atau religiositas. Identitas nasional Indonesia terdiri dari: 1. Bahasa nasional atau persatuaan, bahasa Indonesia. 2. Dasar filsafah Negara yaitu Pancasila 3. Lagu kebangsaan Indonesia Raya 4. Lambing Negara Garuda Pancasila 5. Semboyan Negara Bhineka Tunggal Ika 6. Bendera Negara Sang Merah Putih 7. Konstitusi Negara yaitu UUD 1945 yang telah diamandemen 8. Bentuk Negara kesatuan Republik Indonesia 9. Konsep wawasan Nusantara 10. Kebudayaan daerah yang diterima sebagai budaya Nasional. Sudah tentu peranan symbol-simbol nasional sangatlah besar seperti bendera, bahasa, undangundang, kebiasaan yang diakui bersama serta rasa kesatuan dari semua warga Negara yang mendiami nusantara Indonesia dalam bentuk rasa kesatuan ddalam wawasan nusantara. [2] Identitas bangsa Indonesia merupakan suatu gambaran yang utuh, abstrak dan sangat sulit untuk di deleniasi. Identitas bangsa Indonesia merupakan suatu keseluruhan yang bergerak yang mempunyai warna tertentu apabila diletakkan dalam kontur antar-bangsa. Identitas nasional Indonesia adalah sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa lain di dunia. Indonesia terdiri dari berbagai macam kebudayaan, suku bangsa, agama dan merupakan Negara yang terdiri dari pulau-pulau. Oleh karena itu, nilai-nilai yang dianut masyarakatnyaa pun berbeda-beda. Nilai-nilai tersebut kemudian disatupadukan dan diselaraskan dalam pancasila. Nilai-nilai ini penting karena nilai-nilai itulah yang mempengaruui identitas nasional. [3]

B. FAKTOR PEMBENTUK IDENTITAS NASIONAL 1. Primodial, meliputi kekerabatan, kesamaan suku bangsa, daerah asal (home land), bahasa dan adat istiadat. 2. Sakral, dapat berupa kesamaan agama yang dipeluk masyarakat atau ideology doktriner yang diakui oleh masyarakat yang bersangkutan. Agama dan iddeologi merupakan factor sacral yang dapat membentuk bangsa dan Negara.

3. Tokoh, (kepemimpinan dari para tokoh yang disegani dan dihormati) pemimpin dibeberapa Negara dianggap sebagai penyambung lidah rakyat, pemersatu rakyat dan symbol pemersatu bangsa yang bersangkutan. Contoohnya Soekarno (Indonesia), Nelson Mandela (Afrika Selatan), Mahatma Gandhi (India) dan Tito (Yugoslavia). 4. Bhinneka Tunggal Ika, Prinsip kesediaan warga bangsa bersatu dalam perbedaan (unity in diversity). 5. Sejarah, presepsi yang sama diantara warga masyarakat tetang sejarah mereka, pengalaman masa lalu, seperti sama-sama menderita karena penjajahaan, tidak hanya melahirkan solidaritas tetapi juga melahirkan tekkad ddan tujuan yang sama antar anggota masyarakat itu. 6. Perkembangan ekonomi, akan melahirkan spesialisasi pekerjaan profesi sesuai dengan aneka kebutuhan masyarakat. Semakin tinggi mutu dan variasi kebutuhan masyarakat, semakin saling tergantung diantara jenis pekerjaan. 7. Kelembagaan, seperti birokrasi,angkatan bersenjata, pengadilan dan partai politik. Lembagalembaga itu melayani dan mempertemukan warga tanpa membeda-bedakan asal-usul dan golongannya dalam masyarakat.[4] C. PANCASILA SEBAGAI DASAR MEMBANGUN IDENTITAS NASIONAL Suatu bangsa harus memiliki identitas nasional dalam pergaulan internasional. Tanpa identitas nasional, maka bangsa tersebut akan terombang-ambing dan tidak mempunyai prinsip. Dewasa ini bangsa Indonesia dihadapkan pada pentingnya menghidupkan kembali identitas nasional secara nyata dan operatif. Sebagai consensus nasional Indonesia, pancasila sebagai falsafah bangsa mempunyai peranan dalam membangun identitas nasional. Ideology adaalah pedoman hidupp dan rumusan cita-cita aatau nilai-nilai (Sargent, 1981). Dilihat dari bentuknya pancasila merupakan pengalaman sejarah masa lalu untuk menuju sebuah cita-cita yang luhur. Pancasila dilambangkan seekor burung garuda yang mana burung tersebut dalam kisah pewayangan melambangkan anak yang berjuang mencari air suci untuk ibunya, sedangkan pita bertuliskan Bhineka Tunggal Ika berraartikan berbeda-beda tapi tetap satu. Kemudian di dada burung tersebut tergantung sebuah perisai yang mana perisai adalah alat untuk menahan serangan perang pada zaman dahulu, jadi dapat diartikan pancasila difungsikan untuk menjaga integritas bangsa Indonesia baik itu ancaman dari dalam maupun luar yaituu dengan menggunakan perisai yang ada didalamnya terkandung lima sila. Dalam pidato bahasa inggrisnya di Washington Soekarno mendapatkan apresiai yang luar biasa dari bangsa Amerika. Soekarno pada waktu itu mengenalkan ideology Indonesia yaitu Pancasila. Panca berarti lima dan sila berarti landasan atau dasar, yang mana dasar pertama adalah ketuhanan, kedua berdasar kemanusiaan, ketiga persatuan, daan keempat adalah demokrasi, serta kelima adalah keadilan sosial.[5] Dapat dikatakan bahwa hakikat identitas nasional bangsa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam berbagai penataan kehidupan kita dalam arti luas, misalnya dalam pembukaa UUD, system pemerintahan yang diterapkan, nilai-nilai

etik, moral, tradisi, bahsa, mitos, ideology yang secara normative diterapkan dalam pergaulan, bbaik dalam tatanan nasional maupun internasional. Identitas bangsa Indonesia merupakan suatu yang perlu diwujudkan dan terus menerus berkembang seperti dalam rumusan Bung Karno merupakan ekspresi dari roh kesatuan Indonesia, kemauan untuk bersatu dan mewujudkan sesuatu dan bermuatan yang nyata. Perwujudan identitas bangsa Indonesia tersebut jelaslah merupakan hasil proses pendidikan sejak dini Dalam lingkungan keluarga, lingkungan pendidika formal dan informal. Pembinaan identitas bangsa Indonesia tergantung pada masing-masing pribaadi Indonesia. Mengenai pembangunan dan pengembangan Identitas Nasional, maka harus ada nilai-nilai yang harus diyakini bersama yang dapat mempersatukan seluruh bangsa Indonesia. Dengan nilai-nilai itu yaitu pancasila maka akan terbentuk rasa persatuan dan kesatuan serta keinginan mewujudkan nilainilai tersebut di dalam setiap aspek kehidupan bangsa Indonesia. perwujudan nilai-nilai tersebut tentunya berbeda-beda setiap suku bangsa. Sungguhpun demikian harus diakui bahwa rumusan Pancasila merupakan rumusan yang modern. Oleh sebab itu, Pancasila perlu disosialisasikan kepada masyarakat. Sosialisasi nilai-nilai Pancasila dalam etnis yang beragam itu tidak akan mungkin terjadi jika pancasila itu dianggap suatu doktrin atau konsep nilai-nilai. Suatu komunitas etnis melihat suatu nilai dalam realitas bukan dalam suatu abstraksi. Oleh sebab itu, Pancasila harus diterjemahkan di dalam nilai komunitas yang sudah ada. Dengan demikian nilai-nilai Pancasila dapat terinternalisasi dalam kehidupan masyarakat.

Pancasila sebagai ideology terbuka memiliki dimensi yang dapat memberdayakan dan membangun identitas nasional Indonesia. dimensi-dimensi tersebut, yaitu; a. Dimensi Realitas Nilai-nilai diaplikasikan secara kongkrit dalam kehidupan secara obyektif yang bersifat Sein im
sollen dan sollen im sein

b. Idealitas Secara prospektif mempertahankan dan mengembangkan identitas nasional melalui berbagai pergerakan baik dari kalangan akademik, masyarakat atau pemerintahan. c. Fleksibilitas Pancasila untuk memenuhi kebutuhan jaman terus dikembangkan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika secara berkesinambungan pembinaan moral terutama penegakan hokum secara kondussif dan supermatif.[6]

[1] Didik Baehaqi Arif, Identitas Nasional, 4/15/2010 [2] H.A.R. Tilar, Mengindonesiakan Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia: tinjauan dari perspektif ilmu pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007)

[3] http://berita.univpancasila.ac.id/berita-870-identitas-nasional-indonesia.html, akses tgl 4 Oktober 2011, 06.02 [4] Didik Baehaqi Arif, Identitas Nasional, 4/15/2010, slide 5-7 [5] http://ipdn-artikelgratis.blogspot.com/2008/09/ketrekaitan-identitas-nasional-dengan.html, akses tgl 4 Oktober 2011, 06.30 [6] Rukiyati, dkk, Pendidikan pancasila, (Yogyakarta: UNY Pres, 2008)

http://rivarizalfilosuf.blogspot.com/2011/11/identitas-nasional.html

Identitas Nasional Indonesia


20 March 2012 - dalam Pendidikan Kewarganegaraan Oleh cintyarya-fisip11

Identitas dapat kita artikan sebagai ciri-ciri, tanda-tanda, atau jati diri. Identitas menunjukkan ciri khas seseorang yang menunjukkan bahwa seseorang tersebut memiliki perbedaan dengan individu yang lain. Menurut Arnold Dashefsky, identitas atau jati diri adalah pengenalan atau pengakuan terhadap seseorang yang termasuk dalam suatu golongan yang dilakukan berdasarkan atas serangkaian ciri-cirinya yang merupakan suatu satuan bulat dan menyeluruh, serta menandainya sehingga ia dapat dimasukkan ke dalam golongan tersebut. Sedangkan menurut Hank Johnston, Enrique Larana, dan Joseph R. Gusfield (1994: 12-24), identitas tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni; Identitas Individu dan Identitas Kolektif. Identitas Individu lebih berkaitan kepada segala sesuatu yang melekat pada diri seseorang, ia juga dapat dibentuk secara jasmaniah dan sosial. Dalam beberapa hal, identitas dari individu tersebut penting guna memahami adanya keikutsertaan pergerakan social. Pengikut pergerakan social itu sendiri dibentuk dari beberapa identitas social. Bukan hal yang tak mungkin atau hal yang aneh bila dalam diri satu orang memiliki beberapa identitas social. Beberapa identitas social ini difungsikan dalam interaksi sosialnya dengan individu yang lain. Identitas ini didapat seseorang bukan hanya sejak lahir, namun juga hasil proses social yang didapatkannya dari interaksinya dengan social. Konsep mengenai identitas kolektif merujuk pada pengakuan terhadap makna keanggotaan atau makna kebersamaan, batas-batas dan segala kegiatan yang ada dalam suatu kelompok. Identitas Kolektif, menurut Melucci, merupakan suatu interaksi antara individu yang stau dengan individu yang lainnya dalam suatu kelompok dan melakukan tindakan secara bersama-sama, untuk tujuan bersama dalam suatu kelompok. Identitas kolektif umumnya dibangun lewat adanya interaksi antar sesama anggotanya untuk kepentingan bersama, dan keterkaitan kepentingan itu dengan linkungan sekitarnya. Dengan adanya pengalaman kelompoklah yang membuat kita mampu menghayati normanorma kebudayaan dan memiliki nilai-nilai, tujuan, perasaan.

Identitas atau jati dri itu muncul dan ada dalam interaksi. Interaksi adalah kenyataan empiric yang dilakukan oleh seseorag dengan oranglain atau dengan kelompok lain yang berupa tindakan para pelaku yang menandakan adanya hubungan antar pelaku tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa identitad atau jati diri itu muncul dan ada dalam hubungan. Seorang mempunyai jati diri tertentu karena diakui keberadaannya oleh seseorang dalam hubungan yang berlangsung. Sedangkan dalam suatu hubungan yang lain, yang melibatkan pelaku atau pelaku-pelaku lain yang berbeda dari pelaku semula, jati dirinya bisa berbeda, sesuai dengan corak hubungan serta saling mengakui terhadap jati dirinya masing-masing. Seseorang akan mendapatkan jati diri apabila ada pengakuan dari oranglain mengenai dirinya. Karena dalam setiap interaksi, setiap pelaku mengambil suatu posisi. Berdasarkan atas posisi tersebut si pelaku menjalankan peranan-peranannya sesuai dengan corak atau struktur interaksi yang berlangsung. Sebuah interaksi mewujudkan adanya struktur dimana masing-masin pelaku yang terlibat di dalamnya berada dlam suatu hubungan peranan. Di lain pihak dan pada waktu yang sama, corak peanan-peranan yang dilakukan tergantung corak interaksi. Identitas nasional adalah jati diri yang dimiliki suatu bangsa. Jati diri bangsa memiliki satu kekhasan, sesuai dengan budaya yang terkandung di dalam negara tersebut. Kepribadian atau jati diri bangsa akan berbeda dengan negara lain. Kepribadian atau jati diri nasional itu kita adopsi dari nilai-nilai budaya dan nilai-nilai agama yang kita yakini kebenarannya. Identitas nasional itu terbentuk karena kita merasa bahwa kita sebagai bangsa Indonesia mempunyai pengalaman bersama, sejarah yang sama,dan penderitaan yang sama. Identitas nasional diperlukan karena dalam setiap interaksi para pelaku interaksi mengambi suatu posisi dan berdasarkan posisi tersebut masing-masing pelaku menjalankan peranannya. Indonesia adalah negara yang memiliki pluralitas bangsa. Yang dimaksudkan pluralitas bangsa adalah keanekaragaman suku, bahasa, agama, budaya dalam suatu negara. Di Indonesia dikenal sebagai negara yang rawan terjadi konflik karena banyaknya suku bangsa dan agama. Dibutuhkan adanya sikap toleransi dan saling menghormati satu sama lainnya untuk mengatasi konflik-konflik yang akan menyebabkan disintegrasi bangsa. Untuk membangun bangsa dan negara, dibutuhkan ideology yang berfungsi sebagai pegangan agar negara tersebut mampu hidup saling berdampingan. Pancasila adalah rumusan prinsip-prinsip social-politik, suatu jawaban atas pertanyaan berdasarkan filosofis apakah Negara Indonesia itu didirikan. Pancasila bukanlah ideology atau prinsip yang paripurna, tetapi suatu ideology yang dianggap merupakan yang terbaik bagi Indonesia. Ideologi pancasila dibentuk atas dasar kondensus bersama, itulah yang menjadi komitmen Bangsa Indonesia. System-sistem social-politik dan ekonomi yang berjalan sampai sekarang merupakan usaha untuk mewujudkan prinsip-prinsip Pancasila.

Pancasila bukan berarti telah sempurna dan tidak butuh disempurnakan. Pancasila harus terus disempurnakan. Dalam perumusannya, Ir. Soekarno mencoba memadukan nilai-nilai budaya Indonesia dan politik modern. Jadi, Pancasila merupakan sintesis prinsip-prinsip politik, dan memiliki pengruh dari Barat. Dengan demikian pada dasarnya Pancasila merupakan ideology yang terbuka dan membuka diri untuk dialog antarbudaya atau antarperadaban. Lebih-lebih pada dewasa ini, dalam situasi globalisasi keterbukaan dan kreatifitas akan sangat dibutuhkan dalam menciptakan system politik, ekonomi dan budaya. Sejauh mana Pancasila menjadi identitas bangsa Indonesia merupakan suatu proses konstruksi budaya dan politik yang melibatkan penggunaan material bangunan berbagai macam ; Sejarah, geografi, bahasa, hukum, dan lain-lain. Politik identitas nasional Indonesia didasarkan pada keterikatan warganegara, maka dari itu politik nasional Indonesia akan terdiri dari usaha untuk member wujud nyata pada status kewarganegaraanya. Identitas Pancasila mulai dipertayakan apabila mucul ideology lain yang lebih kuat daripada ideology Pancasila itu sendiri. Di era globalisasi ini, muncullah berbagai identitas yang didasarkan pada etnisitas atau identitas religious fundamentalis. Identitas ini merupakan reaksi atas 3 ancaman. Pertama, reaksi terhadap ancaman globalisasi yang membuyarkan otonomi, institusi, organisasi dan system komunikasi dimana orang tinggal. Kedua, reaksi melawan networking dan fleksibilitas, yang mengaburkan batas-batas keanggotan dan keterlibatan individu. Ketiga, reaksi melawan krisis keluarga yang patriarchal, yang menghilangkan rasa aman. Reaksi defensive menjadi identitas. Kebangsaan dengan nilai Pancasila adalah suatu konstruksi identitas yang relative baru, maka juga dapat digoncang oleh berbagai faktor. Sosialisasi identitas nasional adalah sesuatu yang harus dirawat terus menerus agar mampu berhadapan dengan berbagai tantangan. Identitas nasional memerlukan redefinisi. Sejarah dan ingatan kolektif menjadi penting dalam membangun identitas nasional dan nasionalisme. Namun di jaman postmodern ini, kemampuan manusia untuk merekam masa lampaunya dan memaknainya untuk kehidupan di masa kini semakin melemah. http://cintyarya-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-43551-Pendidikan%20KewarganegaraanIdentitas%20Nasional%20Indonesia.html