Anda di halaman 1dari 10

JUAL BELI OLEH ANAK-ANAK YANG BELUM DEWASA (STUDI KOMPARASI SYARAT-SYARAT JUAL BELI MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG

HUKUM PERDATA DAN HUKUM ISLAM)

Contoh Proposal Thesis

Azim Izzul Islami NIM: P2EA13034

Dosen Pengampu: Prof. Dr. Khudzaifah Dimyati, SH., M.Hum.

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2014

JUAL BELI OLEH ANAK-ANAK YANG BELUM DEWASA (STUDI KOMPARASI SYARAT-SYARAT JUAL BELI MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DAN HUKUM ISLAM)

1.1. Latar Belakang Menurut Aristoteles sebagaimana dikutip oleh Yaumil Khairiah, manusia merupakan makhluk sosial (zoon politicon)1 yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Artinya, manusia akan menemui masalah-masalh dalam kehidupannya, dan tidak akan mungkin manusia akan dapat menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan siapapun. Oleh sebab itu tolong-menolong merupakan hal yang mutlak harus dilakukan oleh manusia sebagaimana Allah menyuruh kita dalam al-Quran pada surat alMaidah: 2 yang artinya:
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.2

Islam sebagai sistem ajaran keagamaan yang lengkap dan sempurna memberi tempat sekaligus menyatukan unsur kehidupan lahir dan bathin dengan memayunginya di bawah prinsip keseimbangan atau dengan
3

bahasa

Afzalur

Rahman

mengkombinasikan keduanya secara harmonis.

Jelaslah bahwa Islam bukan ajaran

tentang akhirat saja, yang menyuruh manusia hanya agar menyelamatkan jiwa mereka untuk akhirat melalui ritual ibadah belaka, akan tetapi juga kebutuhan fisik harus terpenuhi. Ajaran tentang perlunya keseimbangan ini sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari tujuan Islam itu sendiri, yaitu memberi kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dengan adanya keseimbangan ini pula diharapkan manusia dapat mengambil kerahmatan dari Islam. Sistem ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. adalah sistem yang

http://littlemiss-whooops.blogspot.com/2010/09/aristoteles-manusia-zoon-politikon.html, akses

pada 20 Januari 2014


2 3

QS. Al-Maidah (5) : 2 Afzalur Rahmn, Doktrin Ekonomi Islam, Alih Bahasa Soeroyo dkk . Yogyakarta: PT. Dana

Bhakti Wakaf, 1995, hlm. 14.

membawa bahagia bagi seluruh umat manusia dan memimpinnya kepada kesempurnaan.4 Meskipun demikian, suatu kerahmatan pada dasarnya adalah sebuah potensi yang perlu diaktualisasikan. Islam tidak bisa menyebarkan kemaslahatan atau kerahmatan tanpa diaktualisasikan oleh manusia itu sendiri dalam setiap aspek kehidupan. Dalam kaitan ini, akan dikaji salah satu aspek kehidupan manusia, yaitu aspek hubungan dengan manusia yang lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada dasarnya setiap manusia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, tanpa adanya bantuan dari yang lain, hal ini disebabkan karena manusia itu kodratnya sebagai makhluk sosial. Ahmad Azhar Basyir dalam bukunya yang berjudul Asas-asas Hukum Mu'amalat menjelaskan bahwa manusia sebagai makhluk sosial disadari atau tidak selalu berhubungan satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pergaulan hidup tempat setiap orang melaksanakan pergaulan perbuatan dalam hubungannya dengan orang lain, dalam agama Islam disebut dengan istilah mu'amalat.5 Masalah mu'amalat senantiasa berkembang di dalam kehidupan masyarakat, tetapi dalam perkembangannya perlu sekali adanya perhatian dan pengawasan, sehingga tidak menimbulkan kesulitan, ketidakadilan, dan penindasan atau pemaksaan dari pihak-pihak tertentu sehingga prinsip-prinsip dalam bermu'amalat dapat dijalankan.6 Salah satu akad muamalah yang paling sering dilakukan adalah jual beli (bai). Jual beli menurut bahasa artinya pertukaran atau saling menukar. Sedangkan menurut pengertian fikih, jual beli adalah menukar suatu barang dengan barang yang lain dengan rukun dan syarat tertentu. Jual beli juga dapat diartikan menukar uang dengan barang yang diinginkan sesuai dengan rukun dan syarat tertentu. Setelah jual beli dilakukan secara sah, barang yang dijual menjadi milik pembeli sedangkan uang yang dibayarkan pembeli sebagai pengganti harga barang, menjadi milik penjual.7 Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) atau Burgerlijk Wetboek (BW) Jual beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya

4 5

Hamka, Tafsir al-Azhr. Surabaya: Pustaka Islam, 1983, hlm. 149. A mad Azhar Basyir, Asas-asas Hukum Mu'amalat (Hukum Perdata Islam).Yogyakarta: UII

Press, 2000, hlm. 11.


6 7

Ibid, hlm 17. http://basicartikel.blogspot.com/2013/04/pengertian-jual-beli-dan-ruang.html, akses pada 18

Januari 2014.

untuk menyerahkan suatu barang, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang dijanjikan. Perkembangan muamalah sebagaimana telah disebutkan di atas juga menyinggung sisi muamalah jual beli dan perkembangan tersebut terdapat hampir di setiap aspek jual beli seperti; syarat sah dan rukun jual beli, syarat-syarat barang yang diperjualbelikan, metode pembayaran dan sebagainya. Begitu peliknya permasalahan jual beli hingga akhirnya banyak para ulama dan ahli hukum memunculkan gagasan-gagasannya tentang prinsip dasar jual beli. Salah satu aspek yang menjadi permasalahan dalam jual beli adalah syarat sah para subjek akad, yakni anak kecil (anak yang belum dewasa). Tidak dapat dipungkiri memang bahwa jual beli merupakan tindakan hukum yang sangat mudah dilakukan, bahkan anak kecil yang belum dewasapun mampu untuk melaksanakan akad muamalah yang satu ini. Namun disadari atau tidak, beberapa ahli hukum dari kalangan Islam (Ulama) mensyaratkan kecakapan atau kedewasaan dalam melakukan hubungan perdata jual beli. Lebih jelasnya, bahwa syarat jual beli adalah: 1. Adanya penjual dan pembeli 2. Adanya barang yang dijual/yang ditransaksikan 3. Ijab (akad) Lebih dalam lagi, sebagaimana dikutip Rachmat Syafei, bahwa syarat Aqid (orang yang berakad) menurut madzhab syafii adalah: 1. Dewasa (mumayiz tidak sah) 2. Tidak dipaksa 3. Beragama Islam Sedang menurut madzhab Maliki: 1. Penjual dan pembeli harus mumayiz 2. Keduanya merupakan pemilik barang atau yang jadi wakil 3. Keduanya sukarela 4. Keduanya dalam keadaan sadar dan dewasa.8

Rachmat Syafei, Fiqh Muamalah, cet. Ke 10. Bandung: Pustaka Setia, 2001, hlm. 80 82.

Berdasarkan pendapat Ulama sangat jelas bahwa jual beli yang dilakukan oleh anak kecil yang belum dewasa bisa menjadi sah apabila anak tersebut sudah mumayiz. 9 Anak kecil yang belum mumayiz tidak sah akad muamalah jual belinya. Namun pendapat yang berbeda disampaiakn oleh KUH Perdata pada pasal 1330, dimana syarat jual beli antara lain: 1. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya 2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan 3. suatu hal tertentu 4. suatu sebab yang halal.

Untuk syarat yang nomor 2, yakni kecakapan, sesorang yang dianggap cakap menurut undang-undang adalah orang-orang yang sudah berumur 21 tahun. Sedang anak-anak (minderjarigheid) adalah orang yang berada di bawah umur 21 tahun. Artinya, anak-anak dianggap tidak cakap untuk melakukan perbuatan hukum termasuk jual beli. Sebagaimana pasal 330 KUH Perdata menyebutkan bahwa: Yang belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap dua puluh satu tahun dan tidak kawin sebelumnya. Bila perkawinan dibubarkan sebelum umur mereka genap dua puluh satu tahun, maka mereka tidak kembali berstatus belum dewasa

Berawal dari banyaknya fenomena jual beli yang dilakukan oleh anak kecil yang bertentangan dengan Hukum Islam maupun hukum positif yang berlaku di Indonesia inilah, maka penyusun tertarik membuat sebuah penelitian Thesis dengan judul: Jual Beli Oleh Anak-Anak Yang Belum Dewasa (Studi Komparasi Syarat-Syarat Jual Beli Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Dan Hukum Islam).

Menurut www.kamusbesar.com makna dari kata mumayiz adalah sudah dapat membedakan yg baik dan sesuatu yg buruk, kira-kira umur 7 tahun (lihat di

sesuatu

http://www.kamusbesar.com/26497/mumayiz, akses pada 20 Januari 2014). Pernyataan ini disandarkan pada pendapat beberapa ulama yang memberi standar usia mumayiz pada usia 7 tahun.

1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka ditarik rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pandangan Hukum Islam dan KUH Perdata Indonesia terhadap perbuatan hukum jual beli yang dilakukan oleh anak kecil (orang yang belum dewasa)? 2. Apa saja persamaan dan perbedaan pandangan antara Hukum Islam dan KUH Perdata terkait fenomena jual beli oleh anak yang belum dewasa?

1.3. Tujuan Penelitian 1. Mendeskripsikan secara komprehensif pandangan Hukum Islam dan KUH Perdata Indonesia terhadap perbuatan hukum jual beli yang dilakukan oleh anak kecil (orang yang belum dewasa). 2. Mendeskripsikan secara komprehensif persamaan dan perbedaan pandangan antara Hukum Islam dan KUH Perdata terkait fenomena jual beli oleh anak yang belum dewasa.

1.4. Manfaat Penelitian 1. Secara akademis proposal penelitian ini diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian Hukum. 2. Secara Ilmiah proposal ini diharapkan mampu memberikan kontribusi ilmiah untuk perkembangan ilmu pengetahuan. 3. Secara umum, proposal ini berguna sebagai sarana informasi bagi para pembaca pada umumnya.

1.5. Kajian Pustaka Kajian pustaka atau biasa juga disebut dengan tinjauan pustaka berguna untuk memberikan cuplikan bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah yang diajukan. Bagian ini penting untuk mengetahui validitas, orisinalitas dan letak penelitian diantara penelitian-penelitian lain yang pernah dilakukan. Pada umumnya sebuah buku hanya mendeskripsikan suatu permasalah secara sepihak, artinya perspektif yang digunakan hanya satu. Sebagaimana buku

Fiqh Muamalah karya Prof. Dr. H. Rachmat Sjafei10 yang menjelaskan secara komprehensif tindakan hukum perdata (muammalah), namun hanya menggunakan landasan hukum Islam yang disandarkan pada pendapat ulama-ulama madzhab dan nash. Buku lain yang cukup menarik perhatian adalah Berbisnis bersama Tuhan karya Joko Syahban11. Meski analisisnya tidak sedalam buku-buka di atas, namun buku ini menarik untuk dibaca karena di dalamnya juga membahas jual beli dari perspektif Hukum Islam dengan sedikit motivasi-motivasi dalam bisnis. Sayangnya, buku ini juga kurang memperhatikan analisis jual beli dalam perspektif hukum positif. Data lain seperti Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW) juga hanya membahas aturan jual beli versi hukum positif. Meski hukum perdata positif dalam BW secara sepintas tidak bertentangan dengan Hukum Islam, namun undangundang ini merupakan warisan kolonial yang tidak tersentuh oleh khazanah keilmuan Islam dalam penyusunannya. Karya ilmiah dari kalangan akademisi berupa thesis juga tidak banyak yang membahas permasalahan jual beli oleh orang yang belum dewasa, khususunya dengan metode komparasi antara Hukum Islam dan Hukum Positif. Sebagai contoh thesis karya Sahat H.M.T. Sinaga yang berjudul Jual Beli Tanah dan Pencatatan Peralihan Hak.12 Thesis ini bahkan sama sekali tidak mengkaji jual beli dari aspek subjek hukum. Selanjutnya ada Thesis Karya Lina Nur Maya Yang Berjudul Konsep Jual Beli Menurut Sayyid Sabiq (Studi Pemikiran Atas Syarat Suci Barang Yang Diperjualbelikan)13 dan karya Syarifatul Firdaus yang berjudul Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Ikan Dalam Perahu (Studi Kasus Di Desa Angin-Angin

10 11 12

Rachmat Syafei, Fiqh Muamalah, cet. Ke 10. Bandung: Pustaka Setia, 2001. Joko Syahban, Berbisnis Bersama Tuhan. Jakarta Selatan: Hikmah, 2008. Sahat. H.M.T. Sinaga, Jual Beli Tanah dan Pencatatan Peralihan Hak. Thesis di Program

Pascasarjana Universitas Padjajaran Bandung, tidak diterbitkan, 2007


13

Lina Nur, Konsep Jual Beli Menurut Sayyid Sabiq (Studi Pemikiran Atas Syarat Suci Barang

Yang Diperjualbelikan). Thesis di Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tidak diterbitkan.2012.

Kecamatan Wedung Kabupaten Demak)14. Kedua thesis ini memang membahas jual beli dari perspektif Hukum Islam dan sedikit menggunakan analisis hukum positif. Namun objek kajian pada kedua thesis ini adalah objek muammalah Letak perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang lain adalah bahwa penelitian ini akan mengkaji jual beli dari aspek subjek hukumnya, yakni anak kecil, dengan model komparasi perspektif Hukum Islam dan hukum positif.

1.6. Metode Penelitian 1.6.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah penelitian pustaka yang normatif. Maksud dari penelitian pustaka yang normatif adalah penelitian dengan menggunakan sumber data dari data sekunder, yakni buku-buku dan peraturan perundang-undangan. 1.6.2. Sifat Penelitian Penelitian yang akan dilakukan adalah dengan metode deskriptifanalitis dimana penyusun akan mencari data di literatur baik buku-buku, kitab kuning dan peraturan perundang-undangan dan kemudian akan dijabarkan secara komprehensif tentang hukum jual beli yang dilakukan oleh anak kecil. Setelah itu, akan dijelaskan analisis hukumnya dan tahap terakhir akan ditarik sebuah kesimpulan 1.6.3. Pendekatan Masalah Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan normatif yuridis, dimana permasalahan yang ada akan dianalisis dengan menggunakan dalil nash syari, pendapat para ulamadan juga dengan menggunakan Hukum Positif yang ada di Indonesia. 1.6.4. Sumber Data Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder yang terdiri dari ayat-ayat al-Quran dan Hadis tentang jual beli, kitab-kitab ulama khususnya yang membahas bab al-Buyu, buku yang

14

Syarifatul Firdaus , Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Ikan Dalam Perahu (Studi Kasus

Di Desa Angin-Angin Kecamatan Wedung Kabupaten Demak). Thesis di Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tidak diterbitkan.2012.

membahas permasalahan jual beli dan Kitab Undang-Undang hukum Perdata (BW) 1.6.5. Metode Analisis Data Analisis dilakukan secara kualitatif deduktif, dimana dari berbagai fakta hukum akan ditarik sebuah kesimpulan khusus, kemudian akan dilakukan komparasi (perbandingan) antara kedua sistem hukum dalam mengkaji permasalahan.

DAFTAR PUSTAKA Buku dan Karya Ilmiah Al-Quran al-Karim Basyir, A mad Azhar, Asas-asas Hukum Mu'amalat (Hukum Perdata Islam).Yogyakarta: UII Press, 2000 Rahmn, Fazlur, Doktrin Ekonomi Islam, Alih Bahasa Soeroyo dkk . Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995 Hamka, Tafsir al-Azhr. Surabaya: Pustaka Islam, 1983, hlm. 149. Syahban, Joko, Berbisnis Bersama Tuhan. Jakarta Selatan: Hikmah, 2008. Nur, Lina, Konsep Jual Beli Menurut Sayyid Sabiq (Studi Pemikiran Atas Syarat Suci Barang Yang Diperjualbelikan). Thesis di Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tidak diterbitkan.2012. Syafei, Rachmat. Fiqh Muamalah, cet. Ke 10. Bandung: Pustaka Setia, 2001. Sinaga, Sahat. H.M.T., Jual Beli Tanah dan Pencatatan Peralihan Hak. Thesis di Program Pascasarjana Universitas Padjajaran Bandung, tidak diterbitkan, 2007 Firdaus, Syarifatul. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Ikan Dalam Perahu (Studi Kasus Di Desa Angin-Angin Kecamatan Wedung Kabupaten Demak). Thesis di Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tidak diterbitkan.2012.

Internet

http://littlemiss-whooops.blogspot.com/2010/09/aristoteles-manusia-zoon-politikon.html, akses pada 20 Januari 2014 http://www.kamusbesar.com/26497/mumayiz, akses pada 20 Januari 2014). http://basicartikel.blogspot.com/2013/04/pengertian-jual-beli-dan-ruang.html, akses pada 18 Januari 2014