Anda di halaman 1dari 5

Niat puasa wajib dan Niat puasa sunnah

1.Niat puasa Ramadhan Nawaitu shouma ghodin an adaa-i fardhi syahri romadhoona haadzihis sanati lillaahi taaala. Artinya : Aku berniat puasa esok hari menunaikan kewajiban Ramadhan tahun ini karena Allah Taala
2. Niat Puasa Qhada Ramadhan

.
Artinya : Niat aku puasa esok hari kerana ganti fardhu Ramadhan kerana Allah Ta'ala.

3. Niat Puasa Senin Kamis


" NAWAITU SAUMA YAUMUL ISNAIN SUNNATAN LILLAHI TA'ALA Artinya : Saya niat puasa hari Senin, Sunnah karena Allah taala.


NAWAITU SAUMA YAUMUL KHOMIS SUNNATAN LILLAHI TA'ALA Artinya : Saya niat puasa hari Kamis, sunnah karena Allah taala. 4. Niat Puasa Daud


NAWAITU SAUMA DAWUD SUNNATAN LILLAHI TA'ALA Artinya : Saya niat puasa Daud , sunnah karena Allah taala 5. Niat Puasa Hari-hari Putih . 13,14,15 setiap bulan


NAWAITU SAUMA AYYAMI BIDH SUNNATAN LILLAHI TA'ALA

Artinya : Saya niat puasa pada hari-hari putih , sunnah karena Allah taala. 6. Niat Puasa Bulan Muharram (Puasa Asyura ,10 muharram)


NAWAITU SAUMA 'ASYURA LILLAHI TA'ALA Artinya : Saya niat puasa hari Asyura , sunnah karena Allah taala. 7. Niat Puasa Bulan Rajab


NAWAITU SAUMA SYAHRI RAJAB LILLAHI TA'ALA Artinya : Saya niat puasa bulan Rajab , sunnah karena Allah taala. 8. Niat Puasa Syaban


NAWAITU SAUMA SYAHRI SYAHBAN LILLAHI TA'ALA Artinya : Saya niat puasa bulan syaban , sunnah karena Allah taala. 9. Niat Puasa Syawwal ( puasa 6 hari di awal syawwal boleh berturut-turut atau loncat-loncat )


NAWAITU SAUMA SYAHRI SYAWWAL SUNNATAN LILLAHI TA'ALAH Artinya : Saya niat puasa bulan Syawwal , sunnah karena Allah taala. 10. Niat Puasa Bulan Dzulhijjah Puasa Tarwiyah tanggal 8 Dzulhijah


NAWAITU SAUMA TARWIYAH SUNNATAN LILLAHI TA'ALAH

Artinya : Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah taala. Puasa Arafah 9 Zulhijjah


NAWAITU SAUMA ARAFAH SUNNATAN LILLAHI TA'ALAH Artinya : Saya niat puasa Arafah , sunnah karena Allah taala.

Hari-Hari Diharamkan Puasa


Hari-Hari Diharamkan Puasa 1- Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Kedua hari raya ini diharamkan berpuasa. Sesuai dengan hadist Nabi saw yang diriwayatkan dari Umar bin Khathab ra, ia berkata: Sesungguhnya Rasulallah saw melarang berpuasa di kedua hari raya. Pada hari raya Idul Adha kamu makan daging kurbanmu dan pada hari raya Idul Fitri kamu berbuka puasamu (HR Bukhari Muslim) 2- Hari-hari Tashriq Yaitu 3 hari setelah Idul Adha (11, 12, 13 Dhul Hijjah), diharamkan berpuasa pada hari-hari tersebut sesuai dengan hadits Rasulallah saw, beliau bersabda hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan, minum dan berzikir kepada Allah. (HR Muslim) 3- Hari syak (Hari Diragukan) Yaitu hari terakhir bulan Syaban yang diragukan datangnya awal puasa dan orang melihat rukyah. Pada hari itu diharamkan berpuasa sesuai dengan hadist Rasulallah saw barangsiapa yang puasa di hari diragukan datangnya puasa, maka ia telah berdurhaka kepada Abal Qasim (yakni Rasulalallah saw). (HR Abu Dawud) 4- Setelah tanggal 15 Syaban kecuali jika didahulukan sebelumnya dengan puasa. Maksudnya diharamkan berpuasa setelah tanggal 15 syaban tanpa sebab yaitu tanpa didahulukan sebelumnya dengan puasa Sesuai dengan hadist Rasulallah saw Jika bulan syaban telah menengah (telah lewat dari tanggal 15) maka tidak ada puasa sampai datangnya Ramadhan (HR Shahih Abu Dawud dan atTirmidzi)

Al-wishal (Puasa Non-Stop) Al-wishal artinya dalam bahasa non-stop atau terus-menerus siang dan malam tanpa makan dan minum lebih dari dua hari hukumnya haram bagi ummat Muhammad saw karena membahayakan bagi kesehatan. Jadi puasa wishal adalah apabila saat tiba waktu berbuka, seseorang yang puasa lalu menyambung atau melangsungkan puasanya dua hari secara berturut-turut tanpa sahur. Rasulullah saw telah melarang perbuatan ini, beliau bersabda Janganlah kau berwishal (menyambung puasamu), jangalah kamu berwishal. Kemudian salah seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bukankah Engkau sendiri melakukan puasa wishal? Beliau bersabda: Aku tidak seperti kalian. Sesungguhnya di malam hari aku diberi makan dan minum oleh Allah (HR Bukhari Muslim). Allah berfirman Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. al-Baqarah, 185 Puasa Sepanjang Tahun (Shaumu ad-Dahr) Berpuasa sepanjang tahun selain hari-hari yang diharamkan berpuasa yaitu hari raya idul fitri, hari raya idul adha dan hari hari tasyriq yaitu hari 11, 12, 13 dzul Hijjah, hukumnya jaiz (dibolehkan) bagi orang yang kuat melakukannya. Sesuai dengan hadist Rasulallah saw dari Aisyah ra sesungguhnya Hamzah bin Amr Al-aslami bertanya kepada Rasulallah saw Wahai Rasulallah, sesungguhnya aku adalah orang yang menyukai puasa, apakah aku boleh berpuasa di dalam perjalanan? Beliau bersabdaa bepuasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau (HR Muslim) c. Puasa di Hari Jumat saja Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Saya pernah mendengar Nabi saw. bersabda, Janganlah seorang diantara kamu beribadah puasa pada hari Jumat, kecuali (dengan berpuasa) sehari sebelum atau sesudahnya. (Muttafaqun alaih : Fathul Bari IV : 232 no: 1985, Muslim II: 801 no: 1144, Aunul Mabud VII: 64 no:2403, dan Tirmidzi II: 123 no:740). d. Puasa di hari Sabtu saja Dari Abdullah bin Bisr as-Silmi dari dari saudaranya Ash Shamak- r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, Janganlah kamu berpuasa pada hari Sabtu, kecuali apa yang telah difardhukan atas kalian; dan, jika seorang di antara kalian tidak mendapatkan (makanan), kecuali kulit sebutir buah anggur atau dahan kayu, maka kunyahlah! (Shahih: Aunul Mabud VII: 66 no: 2404, Tirmidzi II: 123 no: 741, dan Ibnu Majah I: 550 no: 1726). e. Setelah Minggu kedua dari bulan Syaban bagi orang yang tidak biasa mengerjakannya Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, Jika bulan Syaban sampai pada pertengahan, maka janganlah kalian berpuasa, (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1339, Aunul Mabud VI: 460 no: 2320, Tirmidzi II: 121 no: 735, Ibnu Majah I: 528 no: 1651, dengan redaksi yang hampir sama). Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, Janganlah sekali-kali seorang diantara kamu berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan, kecuali bagi orang biasa yang melakukan puasa tersebut, maka berpuasalah pada hari itu. (Muttafaqunalaih : Fathul Bari IV:127 no: 1914, Muslim II: 762 no: 1082, Aunul Mabud VI: 459 no: 2318, dan Tirmidzi II: 97 no: 680, Nasai IV: 149 dan Ibnu Majah I: 528 no:1650). h. Ketika suami di rumah, wanita dilarang melakukan puasa (sunnah), kecuali mendapat izin dari suaminya Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, Janganlah seorang isteri berpuasa ketika suaminya di rumah, kecuali mendapat izin darinya. (Muttafaqunalaih : Fathul Bari IX:

293 no: 5192, Muslim II:711 no: 1026, Aunul Mabud VII: 128 no: 2441, dan Tirmidzi II: 140 no: 779 dan Ibnu Majah I: 560 no: 1761 dengan sedikit tambahan). Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah AshShahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 410--414. < Sebelumnya Berikutnya >