Anda di halaman 1dari 43

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) telah lama dikenal sebagai tempat yang menarik untuk pengamatan burung (Birdwatching), bahkan Birdlife

International menjuluki kawasan ini sebagai Endemik Bird Area. Diantara jenis burung yang disukai wisatawan untuk kegiatan birwatching adalah jenisjenis burung pemangsa/raptor diantaranya Elang Sulawesi. Di kawasan TNLL terdapat sekitar 26 jenis raptor yang terdiri 18 jenis dari Famili Accipitridae, 3 jenis dari Famili Falconidae, 2 jenis dari famili Tytonidae, dan 3 jenis dari Famili Strigidae. Dari famili Accipitridae, terdapat 5 jenis yang endemik yaitu Elang Ular Sulawesi (Spilornis rufipectus), Elang-alap Kepala Kelabu (Accipiter griseiceps), Elang-alap Ekor Totol (Accipiter trinotatus), Elangalap Kecil (Accipiter nanus), Elang-alap Dada Merah (Accipiter rhodogaster), dan Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus). Selain endemik, Elang Sulawesi juga merupakan burung pemangsa yang keberadaannya saat ini sudah mendekati terancam punah. Jenis raptor ini dimasukkan ke dalam lampiran jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 Tahun 1999 dan termasuk Appendix II CITES. Status perlindungan lainnya adalah SK. Menteri Pertanian No. 421/ Kpts/Um/8/70, SK. Menteri Pertanian No. 301/ Kpts/Um/8/91, UU RI No. 5 Tahun 1990 dan KEPRES No. 43 Tahun 1978.

Untuk mendapatkan data terkini mengenai keberadaan Elang Sulawesi di kawasan TNLL, perlu dilakukan study analisa sebaran dan populasi Elang Sulawesi.

B. Rumusan Masalah Keragamaan jenis burung di Taman Nasional Lore Lindu telah dikenal relatif tinggi dibandingkan dengan kawasan-kawasan berhutan alam di daratan Pulau Sulawesi. Bahkan banyak pengamat kehidupan hayati menyebut TN Lore Lindu sebagai suaka burung karena endemisitasnya yang mungkin tertinggi yaitu sekitar 71 % jenis endemik sulawesi. Dari riset yang dilakukan oleh LIPI pada tahun 2003 yang berhasil mengidentifasi burung yang ada di TN Lore Lindu berjumlah 267 jenis, namun demikian data tentang jumlah populasi dan sebaran habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu belum ada.

C. Tujuan Tujuan dari karya tulis ini adalah untuk mengetahui kondisi terkini tentang : 1. 2. 3. 4. Dugaaan jumlah populasi; Lokasi Penyebaran; Kondisi Habitat; Perilaku;

jenis Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus) di kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Elang Sulawesi Dalam zona Wallacea, Sulawesi merupakan yang terkaya, paling banyak memiliki fauna endemik dan dunia burung yang sangat berbeda dengan tempat lain Sebagai pulau yang berada di antara dua kawasan benua dan merupakan bagian dari kawasan Wallacea, Sulawesi telah menjadi rumah bagi elemen fauna campuran Oriental dan Australasia yang mengagumkan dan menjadi arena evolusi jenis burung endemik yang luar biasa banyaknya. Salah satu burung yang merupakan jenis endemik pulau Sulawesi adalah Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus). Coates, et.al., 1997 dalam Kama 2009 menyebutkan bahwa burung pemangsa (raptor) diketahui sebanyak 30 jenis yang ada di Sulawesi. Jumlah ini mewakili sekitar 74% dari 41 jenis raptor yang ada di kawasan Wallacea. Enam spesis burung pemangsa yaitu Spilornis rufipectus, Spizaetus lanceolatus, Accipiter griseiceps, A. trinotatus, A. nanus dan A. rhodogaster adalah spesis endemik Sulawesi. Shannaz, dkk, (1995) dalam Kama (2009) menyebutkan 6 jenis raptor sangat membutuhkan perhatian karena penyebarannya sudah terbatas dan kelestariannya terancam punah yaitu Aviceda jerdoni, Ichthyopaga humilis, I. ichthyaetus, Accipiter nanus, Butastus liventer, Spizaetus lanceolatus (Elang Sulawesi). Elang Sulawesi merupakan burung pemangsa (raptor) yang keberadaannya saat ini sudah mendekati terancam punah. Jenis raptor ini dimasukkan ke dalam lampiran jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi berdasarkan

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 Tahun 1999 dan termasuk Appendix II CITES. Startus perlindungan lainnya adalah SK. Menteri Pertanian No. 421/ Kpts/Um/8/70, SK. Menteri Pertanian No. 301/ Kpts/Um/8/91, UU RI No. 5 Tahun 1990 dan KEPRES No. 43 Tahun 1978 (BKSDA Sulsel 2010).

B. Morfologi Menurut Inam (2009) Elang Sulawesi merupakan elang-alap yang berukuran sedang, 56 64 cm, tanpa bulu jambul yang mencuat. Pada Elang dewasa bulu sayap dan bagian belakang/ punggung berwarna coklat gelap, sisi atau bulu ekor berwarna coklat gelap dengan empat palang hitam, sisi bawah abu-abu coklat dengan tiga palang hitam dan abu-abu coklat di ujung bulu ekor; kepala dan tengkuk berwarna coklat gelap; garis moustachial dan mesial coklat gelap sampai kehitaman, pada tenggorokan abu-abu kecoklatan. Dada berwarna merah karat sampai coklat dengan bintik-bintik hitam yang sangat kecil, perut dan bagian bawahnya berwarna coklat karat dengan berpalang putih; cakar cukup panjang dengan garis-garis halus coklat kotor dengan bulu penutup bawah kaki yag kuning terang. Warna paruh dan kuku tidak diketahui, namun tampaknya sama dengan spesies yang lain. Berbeda halnya dengan elang yang masih remaja (immature), kepala dan bagian bawah berwarna bungalan krem pucat dengan coretan gelap. Beberapa ahli berpendapat bahwa Elang Sulawesi ini sangat identik dengan Sikep Madu (Pernis celebensis). Namun bila dilihat

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

dari aspek morfologisnya, antara kedua burung ini memiliki banyak perbedaan.

C. Habitat, Distribusi dan Sebaran Elang Sulawesi sedikit dijumpai di wilayah dataran rendah Sulawesi Selatan, terutama karena habitat di dataran rendah di wilayah ini sebagian besar sudah berubah menjadi lahan pertanian dan tambak. Semakin ke arah utara, jenis ini semakin banyak dijumpai, terutama mulai dari wilayah Kebupaten Tana Toraja dan Polewali-mamasa, ke Luwu Utara dan Mamuju sampai memasuki wilayah Sulawesi Tengah. Di wilayah Sulawesi tengah burung ini tersebar luas dan hampir terdapat di setiap lokasi berhutan (Nurwatha dkk., 2000). Populasi Elang Sulawesi relatif sedikit dan keberadaannya tersebar luas, menghuni hutan primer dan hutan hutan pamah sekunder yang tinggi, hutan perbukitan dan hutan pegunungan, terkadang sampai ke daerah pedesaan yang terbuka, dari permukaan laut sampai di ketinggian 2300 m dpl. Burton (1989) dalam BKSDA Sulsel (2010) melaporkan Elang Sulawesi tercatat bersarang pada bulan Agustus di pohon besar pada ketinggian 1600 mdpl. Elang Sulawesi tersebar hampir di seluruh pulau Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya yaitu pulau Muna, Buton, Banggai, Sula. Nurwatha dkk (2000) dalam pengamatannya di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah berhasil mengumpulkan data mengenai distribusi dan sebaran populasi jenis ini. Dalam pengamatannya pada kedua propinsi tersebut, diketahui terdapat 36

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

tempat dimana Elang Sulawesi pasti berada. 11 tempat di Sulawesi Selatan dan 25 tempat di Sulawesi Tengah.

D. Ancaman Gangguan yang paling mengancam jenis-jenis burung-burung pemangsa adalah hilangnya atau rusaknya habitat, perburuan dan perdagangan. Penggunaan insektisida dan pestisida yang biasanya bersifat lokal juga diduga menjadi salah satu ancaman bagi kelestarian jenis burung, namun dampaknya seing berpengaruh secara signifikan (BKSDA Sulsel, 2010).

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

III. GAMBARAN UMUM LOKASI

A. Letak dan Luas Secara geografis TNLL berada pada posisi 1190 901200 16 BT dan 10 810 3 LS. Secara administratif terletak dalam 2 (dua) wilayah kabupaten yaitu

sebagian besar di Kabupaten Sigi dan sebagian lagi di Kabupaten Poso, terbagi dalam 10 kecamatan yaitu: Kecamatan Kulawi Selatan, Kulawi, Gumbasa, Tanambulava, Sigibiromaru dan Palolo di Kabupaten Sigi, Kecamatan Lore Utara, Lore Piore, Lore Selatan dan Lore Barat di Kabupaten Poso. Luas kawasan TN Lore Lindu dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Surat Menteri Pertanian No. 736/Menteri/X/1992 tanggal 14 Oktober 1982 luas kawasan Taman Nasional Lore Lindu adalah 231.000 ha. 2. Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 593/Kpts-II/1993 luas kawasan Taman Nasional Lore Lindu adalah 229.000 ha. 3. Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 464/Kpts-II/1999 tanggal 23 Juni 1999, Taman Nasional Lore Lindu dikukuhkan dengan luas kawasan 217.991,18 ha dan angka inilah yang menjadi dasar pengelolaan TN Lore Lindu saat ini.

B. Status Pengelolaan Status Pengelolaan TN Lore Lindu, dikelola oleh Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu sesuai Surat Keputusan Menteri No. P.03/Menhut-II/2007 dan

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

berdasarkan SK Dirjen PHKA No. SK.69/IV-Set/HO/2006, TNLL ditunjuk sebagai salah satu TN Model di Indonesia.

C. Batas Kawasan - Di bagian utara dibatasi oleh Dataran Palolo - Sebelah timur dibatasi oleh Dataran Napu - Sebelah selatan dibatasi oleh Dataran Bada, dan - Sebelah barat oleh Sungai Lariang dan hulu Sungai Palu (Lembah Kulawi).

D. Keadaan Fisik Kawasan 1. Topografi Taman Nasional Lore Lindu berada pada ketinggian 200 - 2.610 meter di atas permukaan laut, puncak tertinggi adalah Gunung Nokilalaki (2.355 m) dan gunung Tokosa/ Rorekatimbu (2.610 m). Bentuk topografi bervariasi mulai dari datar, landai, agak curam, curam, hingga sangat curam. 2. Geologi TN Lore Lindu terletak antara dua patahan utama di Sulawesi Tengah. Pada daerah pegunungan, umumnya berasal dari batuan asam seperti Gneisses, Schists dan granit, punya sifat peka terhadap erosi. Formasi lakustrin banyak ditemukan di bagian Timur Taman Nasional, umunya dataran danau yang datar atau berawan. Bahan endapan dari campuran batuan sediment, metamorfosa dan granit.

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

Bagian barat ditemukan formasi alivium yang umumnya berbentuk kipas aluvial/koluvial atau dataran hasil deposisi sungai seperti teras atau rawa belakang. Sumber bahan aluvial ini berasal dari batuan metaforfosa dan granit.

3. Tanah Keadaan tanah di TNLL bervariasi dari yang belum berkembang (entisol), sedang berkembang (inseptisol) sampai sudah berkembang (alfisol) dan sebagian kecil ultisol.

4. Iklim, Suhu, Curah Hujan, Kelembaban Bagian utara kawasan TN Lore Lindu mempunyai tipe iklim C/D (musiman) dengan curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 855-1200 mm/tahun. Bagian Timur kawasan TNLL punya tipe iklim B (agak musiman) dengan curah hujan berkisar antara 344-1400 mm/tahun. Bagian barat TNLL punya tipe iklim A (lembab permanen) dengan curah hujan rata-rata tahunan antara 1200-2200 mm/tahun. Secara keseluruhan curah hujan di TNLL bervariasi dari 2000-3000 mm/tahun di bagian utara dan 3000-4000 mm/tahun di bagian Selatan. Suhu/temperatur berkisar antara 22-340 C, rata-rata kelembaban udara 98 % dengan kecepatan angin rata-rata 3,6 km/jam.

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

5. Hidrologi Taman Nasional Lore Lindu mempunyai fungsi tangkapan air yang besar, didukung oleh dua sungai besar yaitu sungai Gumbasa di bagian utara yang bergabung dengan sungai Palu di bagian barat serta sungai Lariang di bagian Timur, selatan, dan baratnya. Fungsi hidrologis ini sangat besar manfaatnya bagi masyarakat sekitar kawasan dan Sulawesi Tengah umumnya.

6. Aksesibilitas Dapat dicapai melalui jalur darat dari kota Palu. Lokasi yang dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat adalah PaluBidang Pengelolaan TN Wilayah I Saluki, Palu-Bidang Pengelolaan TN Wilayah II Makmur, Palu-Bidang Pengelolaan TN Wilayah III Poso. Ada beberapa resort yang hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki/naik kuda dan motor ojek yaitu jalur Gimpu-Bada, Bada-Doda, Toro-Katu dan Rahmat-Dataran Lindu.

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

F. Kondisi Biologi Kawasan 1. Flora TN Lore Lindu terbagi ke dalam 4 zona vegetasi, yaitu : Hutan Hujan Dataran Rendah (<1.000 mdpl) Hutan Hujan Sub Pegunungan (1.000 1.500 mdpl) Hutan Pegunungan (1.500 2.000 mdpl) Hutan Sub Alpin (>2.000 mdpl). - Vegetasi Hutan Hujan Dataran Rendah Komposisi floranya lebih beragam. Flora yang ditemukan antara lain: Pawa (Mussaendopsis beccariana), Tahiti (Dysoxylum sp.), Nunu (Ficus sp.), Ngkera dan Lawedaru (Myristica spp.), Mpora dan Mpire (Caryota spp.), Saguer (Arenga pinnata), Take (Arenga sp.), Uru ranto (Elmerilia ovalis), Luluna (Strychnos axillaris), Palaku (Celtis sp.), Ntorade (Pterospermum subpeltatum), Ndolia (Canangium odoratum), Tea here (Artocarpus elasticus), Tea uru (Artocarpus teijmannii), Duria (Durio zibethinus), Wara dilameo (P. hirsuta), Bambu pemanjat (Dinochloa scandens), Elastostema, Costus, Cyrtandra, Nephrolepis, Neuburgia. - Vegetasi Hutan Hujan Sub pegunungan Flora yang ditemukan: Kelompok uru (Magnoliaceae), Uru ranto (Elmerillia ovalis), Uru tomu (Elmerillia sp.), Elmerillia celebica, Manglietia glauca, Talauma liliiflora, Konore (Adinandra sp.), Pangkula, ntangoro (Ternstroemia spp.), Kauntara (Meliosma nitida), Kau tumpu (Turpinia sphaerocarpa), Mpo maria (Engelhardtia serrata).

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

10

- Vegetasi Hutan Pegunungan Flora yang ditemukan antara lain: Kaha (Castanopsis argentea), Palili bahe, palili nete, palili pance (Lithocarpus spp.). Agathis philippinensis, Podocarpus neriifolia, Podocarpus imbricatus, Taxus baccatus, Dacrydium falcifolia, Phyllocladus hypophyllus, Tristania whiteana dan Tristania sp., Calophyllum spp., Garcinia spp., Tetractonia haltumi, Polyosma integrifolia dan Gynotraches axillaris, Coelogyne, Thelasis, Appendicula, Goniophlebium bantamense. - Vegetasi Sub Alpin Flora yang ditemukan Leptospermum, Rapanea, Myrsine, Phyllocladus hyphophyllus, Eugenia sp., Paku pohon (Alsophylla sp.), jenis palem (Pinanga). Glomera, Phreatia, Elastostema, neliiformis, Cyrtandra, Diplazium

persicifolium,

Oleandra

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

11

2. Fauna - Mamalia besar Anoa atau kerbau kerdil, satwa endemik Sulawesi. Nama daerah: Sapi utan, Anoang, Kerbau pendek, Dangko, Bondago tutu, Buulu, Tutu dan Sako. Dua jenis anoa di TN Lore Lindu yaitu Anoa quarlesi dan Anoa deoressicornis. Babi rusa (Babyrousa babyrusa), babai Sulawesi (Sus celebensis), Macaca tonkeana, Phalanger ursinus, kus-kus sulawesi (P. celebencis), Tarsius Sulawesi (Tarsius spectrum), Rusa (Cervus timorensis). - Burung Kawasan hutan TN Lore Lindu merupakan taman surga tempat hidup berbagai jenis burung. Berdasarkan hasil penelitian Dick Watling tahun 1981 mencatat 197 jenis, Mallo dan Buttu Madika tahun 1999 mencatat 227 jenis dan Mallo tahun 2001 mencatat 249 jenis burung. Hasil penelitian terbaru Dewi M. Prawiradilaga, Idrus Tinulele, dkk Juli 2003 mencatat ada 267 jenis burung ditemukan di TN Lore Lindu. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah jenis burung di TN Lore Lindu masih terus bertambah, bahkan diduga masih bisa mendapatkan jenis baru. - Reptil Ular pyton (Phyton reticulatus), ular Racers (Elaphe erythrura, Gonyosonia janseni, Mack viver (Psammodymaster pulverulenthus dan Xemopeltis unicolor), king cobra (Ophiophagus hannah)

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

12

IV. METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama 10 hari, mulai pada tanggal 20 April sampai dengan 30 April 2012, berlokasi di 36 Desa pada 3 Bidang Pengelolaan Taman Nasional Lore Lindu dengan rincian sebagai berikut : BPTNW I Saluki : 1. Desa Gimpu 2. Desa Toro 3. Desa Sungku 4. Desa Mataue 5. Desa Namo 6. Desa Sidaunta 7. Desa Puroo 8. Desa Tomado 9. Desa Anca 10. Gunung Potong 11. Desa Salua 12. Desa Tuva 13. Desa Simoro 14. Desa Pakuli BPTNW II Makmur : 15. Desa Kalawara 16. Desa Sibowi 17. Desa Bora 18. Desa Bobo 19. Desa Kapiroe 20. Desa Petimbe 21. Desa Kamarora A 22. Desa Rahmat 23. Danau Tambing 24. Dongi-Dongi 25. Desa Sedoa 26. Desa Watumaeta BPTNW III Poso : 27. Desa Wuasa 28. Desa Dodolo 29. Desa Siliwanga 30. Desa Katu 31. Desa Torire 32. Desa Bariri 33. Desa Doda 34. DesaLengkeka 35. Desa Lilio 36. Desa Tuare

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

13

Peta lokasi penelitian :

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

14

B. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini peta desa penyangga Taman Nasional Lore Lindu. Sedangkan alat yang digunakan terdiri dari : - Tally sheet : sebagai panduan pencatatan data lapangan - Global Positioning System (GPS) : untuk pengambilan titik koordinat - Kompas : untuk mengetahui arah pola hadap lubang peneluran - Kamera : sebagai alat dokumentasi - Komputer : sebagai alat pengolahan data

C. Kegiatan Pendahuluan Kegiatan pendahuluan meliputi : 1. Orientasi lapangan Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui informasi mengenai daerah penyebaran Elang Sulawesi baik melalui survei lapangan maupun melalui wawancara dengan masyarakat. 2. Kajian pustaka Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan literatur dan informasi yang berkaitan dengan Elang Sulawesi.

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

15

D. Kebutuhan Data Data yang dibutuhkan dibagi menjadi 2 yaitu : 1. Data Elang Sulawesi a. Titik perjumpaan b. Perkiraan jarak pengamat dengan Elang Sulawesi c. Jenis & Jumlah Elang Sulawesi d. Aktifitas/perilaku e. Waktu

2. Karakteristik Habitat a. Kondisi habitat (hutan,kebun, sawah dll)

F. Pengumpulan data Pengumpulan data dilapangan dilakukan dengan menggunakan metode titik dan metode eksplorasi lapang. 1. Metode Titik (Point count) Metode ini digunakan untuk mengetahui kisaran populasi Elang Sulawesi di TNLL dengan cara menentukan plot sampel dalam titik-titik yang ditempatkan secara acak di suatu wilayah kegiatan. 2. Metode Eksplorasi Lapang Metode ini dilakukan untuk mengetahui posisi atau keberadaan objek dalam wilayah kegiatan dengan cara menjelajahi wilayah kegiatan.

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

16

G. Analisis Data Analisis data dilakukan untuk mengetahui pendugaan ukuran populasi Elang Sulawesi, menggunakan analisis metode titik (Point count) (Sayogo, 2010) dengan persamaan sebagai berikut :

Dimana : Pi = Ukuran populasi pada lokasi konsentrasi ke-i (individu) = Jumlah individu yang dijumpai pada pengamatan ke-i (individu) P c n = Total populasi pada seluruh areal penelitian = Jumlah seluruh lokasi konsentrasi yang diamati = Jumlah ulangan pengamatan

Kisaran populasi ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :


( )

[ Dimana :

= Ragam Populasi ] = Sebaran Normal Z

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

17

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Jumlah Populasi Dari hasil analisis data dengan tingkat kepercayaan 5 %, didapatkan dugaan populasi Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus) di kawasan Taman Nasional Lore Lindu berada pada kisaran 252 253 ekor. Data ini baru merupakan data awal, karena belum ada data mengenai populasi Elang Sulawesi di Taman Nasional Lore Lindu sebelumnya. Penelitian untuk mengetahui status kelestarian raptor di Sulawesi memang masih sangat jarang dilakukan, sehingga sulit untuk menentukan secara pasti status kelestarian setiap jenis raptor yang ada (Kama, 2010). Namun beberapa data penelitian mengenai Elang Sulawesi yang dilakukan di Sulawesi secara umum dapat dijadikan perbandingan. Ferguson-Lees et al. (2001) dalam Inam (2009) menyebutkan bahwa diperkirakan populasi Elang Sulawesi di habitatnya berkisar antara 5000-10.000 individu dan masuk kategori Terancam Punah menurut IUCN dan dikategorikan dalam appendix II dalam CITES. Data populasi terkini masih belum diupdate lagi dan

kemungkinan besar populasinya mengalami penurunan akibat degradasi habitat yang terjadi di Sulawesi. Jika mengacu pada data ini, maka jumlah Elang Sulawesi di Taman Nasional Lore Lindu berada pada persentase 2.5 5 % dari keseluruhan jumlah populasi Elang Sulawesi di habitat alaminya. Jika diasumsikan penyebaran Elang Sulawesi tersebar secara merata di seluruh pulau sulawesi dan sekitarnya, dan persentase luas kawasan TNLL yang hanya sekitar 1,25 % dari luas pulau Sulawesi, maka jumlah Elang
Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

18

Sulawesi di kawasan TNLL masih berada di atas rata-rata kepadatan populasi habitatnya. Data lain adalah data hasil survei
Gambar 2 : Elang Sulawesi

Elang

Sulawesi

di

Nurwatha, dkk., (2000) di 36 tempat

di Sulawesi (11 tempat di Sulawesi Selatan dan 25 tempat di Sulawesi tengah), menyebutkan populasi Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus) di seluruh lokasi yang disurvei antara 254-306 pasang atau sekitar 508-612 ekor. Jika dibandingkan dengan data ini maka populasi elang sulawei di kawasan TNLL masih berada pada persentase sekitar 50 % dari jumlah populasi Elang Sulawesi di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Data ini menunjukkan bahwa masih tingginya populasi Elang Sulawesi di kawasan TNLL dan mengindikasikan bahwa Taman Nasional Lore Lindu merupakan salah satu habitat yang cukup sesuai bagi Elang Sulawesi. Bahkan bisa jadi Taman Nasional Lore Lindu merupakan salah satu benteng terakhir bagi Elang Sulawesi. Karena menurut BKSDA Sulsel (2010) Elang Sulawesi sedikit dijumpai di wilayah dataran rendah Sulawesi Selatan, terutama karena habitat di dataran rendah di wilayah ini sebagian besar sudah berubah menjadi lahan pertanian dan tambak. Kama (2010) menyebutkan dari pengamatan yang dilakukan di beberapa tempat khususnya di Sulawesi Tengah, setidaknya dalam 5 tahun terakhir, 12 jenis raptor yang jarang terlihat diantaranya adalah Elang Sulawesi. Namun khusus Accipiter nanus

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

19

dan Spizaetus lanceolatus, kawasan Sulawesi bagian tengah merupakan kawasan penting bagi penyebaran kedua jenis raptor ini. Di wilayah Sulawesi Tengah kedua jenis raptor ini masih umum dijumpai, terutama di beberapa kawasan konservasi seperti kawasan Taman Nasional Lore Lindu dan Cagar Alam Morowali. Di wilayah Sulawesi Tengah, sepertinya Elang Sulawesi memiliki populasi yang cukup sehat untuk daerah yang luas (secara umum).

B. Penyebaran Dari 36 titik pengamatan Elang Sulawesi pada kegiatan ini, di 29 titik berhasil diamati keberadaan jenis elang dan alap-alap, namun hanya 5 titik pengamatan yang berhasil menjumpai spesies Elang keberadaan Sulawesi,

yaitu di titik : Desa Toro, Desa Sidaunta, Desa Sedoa, Desa Katu, Desa Doda. Sulsel Elang relatif

Menurut (2010) Sulawesi

BKSDA populasi memang

sedikit dan keberadaannya tersebar secara luas.

Gambar 3. Titik Penyebaran Elang Sulawesi

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

20

C. Kondisi dan penggunaan Habitat Di daerah dimana ditemukan keberadaan Elang Sulawesi, kondisi habitat secara umum adalah hutan primer, hutan sekunder, kebun masyarakat yang berdekatan dengan hutan, persawahan yang berdekatan dengan hutan, dan savana. Di desa katu Elang Sulawesi terlihat di daerah sekitar hutan primer, hutan sekunder, dan persawahan dekat hutan yang relatif jauh dari pemukiman penduduk. Di desa Doda terlihat Elang menggunakan daerah hutan primer, kebun dan savana yang Jauh dari perkampungan. Di Desa Sedoa dan Desa Sidaunta Elang Sulawesi menggunakan habitat hutan dan kebun masyarakat yang berdekatan dengan pemukiman penduduk. Di Desa Toro menggunakan habitat hutan, kebun dan persawahan yang dekat dengan perkampungan penduduk.
Gambar 4. Habitat Elang Sulawesi di Desa Katu

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

21

Dari hasil ini dapat diketahui bahwa hampir di seluruh wilayah dimana terdapat Elang Sulawesi, habitat utama Elang Sulawesi adalah hutan primer yang berdekatan dengan daerah yang relatif terbuka seperti kebun, hutan sekunder, persawahan dan savana. Sedangkan penggunaan tipe-tipe habitat oleh Elang Sulawesi di daerah pengamatan adalah sebagai berikut : Habitat hutan primer diduga berfungsi sebagai cover dan sarang. Hal ini diketahui dari perilaku Elang Sulawesi yang menggunakan hutan primer sebagi tempat hinggap. Daerah terbuka di dekat hutan primer seperti seperti kebun, hutan sekunder, persawahan dan savana diduga berfungsi sebagi tempat mencari makan. Karena di tempat-tempat ini Elang Sulawesi teramati dalam kondisi soaring atau terbang mencari mangsa. Sedangkan kondisi lain yang dapat disimpulkan adalah, Elang Sulawesi dapat menghuni daerah yang berdekatan maupun berjauhan dari pemukiman manusia, sepanjang tidak ada gangguan terhadap spesies dan gangguan ekstrim terhadap habitat, terutama habitat utamanya yaitu hutan primer. Kama (2010) menyebutkan bahwa elang masih sanggup bertahan pada tingkat deforestasi dan fragmentasi habitat tertentu. Tetapi tentunya Elang ini tidak akan bertahan hidup dengan gangguan total. Kondisi habitat Elang Sulawesi di Taman Nasional Lore Lindu relatif sama dengan kondisi habitat Elang Sulawesi pada umumnya. BKSDA Sulsel

(2010) dan Kulilo (2009) mendeskripsikan habitat Elang Sulawesi adalah

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

22

hutan primer dan hutan sekunder tua yang berbatasan dengan daerah terbuka pada ketinggian 250-2000 m, terkadang sampai ke daerah pedesaan yang terbuka, dari permukaan laut sampai di ketinggian 2300 m dpl. Bertengger di dahan yang tersembunyi menunggu mangsa, kemudian menukik cepat untuk menyerang mangsa. Lebih suka berburu di padang rumput terbuka sekitar hutan.

D. Perilaku Perilaku yang dapat diamati dari Elang Sulawesi di daerah pengamatan secara umum adalah : Penggunaan Waktu : seperti halnya raptor siang lainnya, Elang Sulawesi mulai beraktifitas ketika ada sinar matahari. Penggunaan Ruang : Elang Sulawesi menggunakan Hutan Primer sebagai Cover dan daerah terbuka untuk mencari makan Perilaku Pengelompokan : diduga Elang Sulawesi lebih banyak

berperilaku soliter ketika tidak berada pada musim kawin. Hal ini diindikasikan dari hasil
Gambar 5. Elang Hitam Sulawesi

pengamatan bahwa dari 7 ekor Elang Sulawesi yang berhasil teramati, 2 ekor diketahui berpasangan sedangkan 5 ekor terlihat secara soliter. Kondisi ini diduga karena pada saat pengamatan yaitu di bulan Desember, Elang Sulawesi telah melewati masa kawin. Menurut

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

23

Nurwatha, dkk., (2000) Elang Sulawesi tercatat bersarang pada bulan Agustus, sarang berada 20 m di atas permukaan tanah pada pohon yang besar dan dipenuhi epifit. Interaksi antar spesies satu relung : Tercatat Elang Sulawesi menggunakan habitat secara bersama atau bergantian dengan jenis beberapa jenis raptor lain yaitu : Elang Ular Sulawesi, Elang Alap Ekor Totol, Elang Hitam, Elang Alap Dada Merah dan Elang Perut Karat.

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

24

VI. PENUTUP

A. Kesimpulan Kesimpulan dari kegiatan ini adalah : 1. Jumlah Populasi Elang Sulawesi di Taman Nasional Lore Lindu diperkirakan antara 252 253 ekor 2. Penyebaran Elang Sulawesi di TNLL yaitu di : Desa Toro, Desa Sidaunta, Desa Sedoa, Desa Katu, dan Desa Doda 3. Kondisi habitat Elang Sulawesi di TNLL adalah hutan primer, hutan sekunder, kebun , sawah dan padang rumput. 4. Perilaku Elang Sulawesi adalah : Mulai beraktifitas ketika ada sinar matahari. Menggunakan Hutan Primer sebagai cover dan daerah terbuka untuk mencari makan Lebih banyak berperilaku soliter ketika tidak berada pada musim kawin. Menggunakan habitat secara hampir bersama atau bergantian dengan jenis beberapa jenis raptor lain yaitu : Elang Ular Sulawesi, Elang Alap Ekor Totol, Elang Hitam, Elang Alap Dada Merah dan Elang Perut Karat.

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

25

B. Saran Data yang didapatkan dari kegiatan penelitian ini adalah sebagai data awal sehingga perlu monitoring untuk mengetahui perkembangan populasi Elang Sulawesi pada waktu mendatang.

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

26

DAFTAR PUSTAKA

BKSDA Sulsel. 2010. Elang Sulawesi. http://ksdasulsel.org/artikel-fauna/118 Inam. 2009. Elang Sulawesi. http://lorelindu.wordpress.com/2009/05/13/elangsulawesi Kama, H. 2010. Sekilas Tentang Raptor Di Sulawesi.

http://bumianoa.wordpress.com /2010/05/19 Kulilo, K. 2009. Elang Sulawesi. http://burungpemangsa.blogspot.com/2009/07 /elang-sulawesi.html Nurwatha, P.F., Z. Rakhman dan Wahyu Raharjaningtrah. 2000. Distribusi dan Populasi Elang Sulawesi Spizaetus lanceolatus di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Yayasan Pribumi Alam Lestari. Bandung. Sayogo, A.P. 2010. Rekomendasi Teknik Pengamatan Raptor di Taman Nasional Lore Lindu. Fauna & Flora International. Kalimantan Barat

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

27

I. Lampiran Lampiran 1 : Dokumentasi Kegiatan

Elang Ular Sulawesi

Elang Bondol

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

28

Elang Perut Karat

Elang Hitam

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

29

Elang Sulawesi

Pengamatan Elang di Savana

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

30

Pengamatan Elang di Dekat Kebun

Pengambilan Titik GPS

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

31

Pengambilan Titik GPS

Habitat Persawahan

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

32

Habitat Hutan Primer

Habitat Hutan Primer

Habitat Savana

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

33

Habitat Persawahan & Perkampungan

Habitat Hutan & Sungai

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

34

Lampiran 2. Data perjumpaan Elang Lokasi Waktu Jenis Aktifitas Jarak dari pengam at 600 m Deskripsi Habitat Keterang an

Gimpu

15.19

Tak teridentifik asi

Soaring di atas kawasan

Perbatasan kawasan dengan sungai dan persawahan Hutan primer, sekunder, kebun an persawahan, perkampungan

Soliter

Toro

10.15 10.15 10.30 10.30. 02.00 02.05 02.20 02.35 03.10 03.40

Elang ular sulawesi Elang Ular Sulawesi Elang Bondol Elang Bondol Elang sulawesi Elang sulawesi Elang alap ekor totol Elang hitam Baza Jerdon Elang sulawesi Elang hitam Elang hitam Elang ular sulawesi Tak teridentifik asi Tak

Terbang ( soaring) Terbang ( soaring) Terbang ( soaring) Terbang ( soaring) Terbang berburu Terbang berburu Bertengge r Terbang berburu Terbang berburu Terbang berburu Soaring Soaring Soaring

200 m 200 m 300 m 300 m 50 m 50 m 30 m 50 m 150 m 100 m

Sepasang

Soliter Soliter Sepasang

Soliter Soliter Soliter Soliter

Sungku

10.35 10.35 14.20

700 m 700 m 200 m

Perbatasan kawasan, kebun masyarakat dan sungai

Sepasang

Soliter

Mataue

11.30

soaring

700 m

Hutan primer, sekunder, kebun an persawahan Persawahan

Soliter

Namo

11.40

Soaring

500 m

Soliter 35

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

11.40

12.30

teridentifik asi Tak teridentifik asi Tak teridentifik asi Elang Sulawesi Elang hitam

diatas kawasan Soaring diatas kawasan Soaring diatas kawasan Terbang sambil bersuara Terbang sambil bersuara Soaring Soaring

700 m

Soliter

900 m

Soliter

Sidaunt a

11.10

300 m

1145

200 m

Kemiringan 70 derajat, berhutan, kebun masyarakat, 10% tanah terbuka Hutan Primer, Danau, Perkampungan

Soliter

Soliter

Puroo

09.14 09.14

Elang Bondol Elang Bondol Elang Bondol Jenis

Sepasang

Tomad o Lokasi

08.58

Bertengke r Aktifitas

50 m

Waktu

Jarak dari pengam at 50 m

Hutan Primer, Danau, Perkampungan Deskripsi Habitat

Soliter

Keterang an

Kanaw u

09.35

Elang Bondol

Terbang melintas

Hutan Primer, Danau, Perkampungan

Soliter

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

36

Anca

06.00 10.00 10.00 10.00 10.00 16.45

Elang Bondol Elang Bondol Elang Bondol Elang Bondol Elang Bondol Elang Bondol Elang ular Elang Alap-alap Elang hitam Elang Hitam Elang bondol Elang bondol Elang bondol

Soaring Soaring Soaring Soaring Soaring Soaring

100 m 700 m 700 m 700 m 700 m 50 m

Hutan Primer, Danau, Perkampungan

Soliter Sepasang

Sepasang

Soliter

Gunung potong

11.50 11.51 11.18 11.37

Soaring Soaring Soaring Soaring

300 m 400 m 100 m 200 m

Berbatasan dengan jalan dan gunung potong

Soliter Soliter Soliter Soliter

Salua

12.05 12.05 12.15

Soaring Soaring Soaring

70 m 70 m 50 m

Hutan primer, Hutan Sekunder, Kebun masyarakat, jalan, Perkampunga n Berhutan, kebun masyarakat, ada sungai

Sepasang

Soliter

Tuva

11.00 11.16 11.16 12.40 15.45

Elang ular Elang ular Elang Alap Elang ular Elang Perut Karat

Terbang Terbang Terbang Terbang Terbang

20 m 300m 300 m 350 m 100 m

Soliter Soliter Soliter, berkelahi Soliter

Simoro

NIHIL

Hutan primer, Hutan Sekunder, Kebun masyarakat, Perkampunga n, Sungai 37

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

Pakuli

15.21 15.21

Elang kelelawar Elang kelelawar

Soaring Soaring

300 m 300 m

Hutan primer, Perkampunga n

Sepasang

Kalawara

NIHIL

Hutan primer, Hutan Sekunder, Kebun masyarakat, Perkampunga n Hutan primer, Hutan Sekunder, Kebun masyarakat, Perkampunga n Hutan primer, Hutan Sekunder, Kebun masyarakat, Perkampunga n Deskripsi Habitat

Sibowi

NIHIL

Bora

NIHIL

Lokasi

Waktu

Jenis

Aktifitas

Jarak dari pengamat

Keterangan

Bobo

NIHIL

Hutan primer, Hutan Sekunder, Kebun masyarakat, Perkampunga n 100 m 400 m Hutan, kebun Sepasang

Kapiroe

12.15 12.20

Elang alap kecil Elang alap kecil

Terbang Terbang

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

38

Petimbe

8.30 Paria 8.50 Paria 8.51 Perut karat Elang rawa 9.31 Tutul Elang Alap 9.50 Kecil Elang Perut 10.7 Karat Elang 11.50 bondol 9.20 9.30 9.45 10.00 10.00 Elang paria Elang perut karat Elang paria Elang paria Elang Perut Karat

Terbang Terbang Terbang Terbang Terbang Terbang Terbang Terbang Terbang terbang Terbang, berkelahi Terbang, berkelahi

500m 300m 300m 250m

Hutan, Perkampunga n

Soliter Soliter Soliter Soliter Soliter

300m Soliter 100m Soliter 50 m 300m 400m 500m 300 m 300 m Lahan terbuka, Kebun Coklat, Pemukimam, Sungai 1 km 1 km 50 m 20 m Kebun Coklat, Kebun Jagung Kebun Coklat, Hutan Soliter Soliter Danau, Terbuka Soliter Soliter Soliter Soliter Hutan, Kebun Soliter Soliter Soliter Soliter, berkelahi

Kamaror aA

Rahmat NIHIL

Danau Tambing

9.10 9.11 9.24 9.29

Elang perut karat Elang perut karat Elang Paria Elang ikan kecil

Terbang Terbang Terbang Bertengge r terbang

Dongidongi Sedoa 9.30 9.44 Elang Sulawesi Elang Sulawesi Elang Sulawesi

NIHIL

terbang terbang/m engeluark an suara terbang

300 m 300 m

Soliter 300 m 39

10.46

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

11.00 14.05

Elang Hitam Elang Sulawesi

Soliter terbang terbang 300 m Soliter 200 m

Lokasi

Wakt u

Jenis

Aktifitas

Jarak dari pengam at

Deskripsi Habitat

Keterangan

Watumae ta

7.00

11.3

11.42 12.3 Wuasa 09.25

Tak teridentifik asi Elang Ikan Kepala Kelabu Elang Ikan Kepala Kelabu Elang Rawa Tutul Elang ikan kepala kelabu Elang parut karat Tak teridentifik asi Elang hitam

Bersuara

300 M

Hutan primer/sekund er,

Soliter

Soliter Terbang 400 M Soliter Terbang Terbang Terbang 500 M 50 M 15 m Kebun, Hutan ketinggian 1133,7 mdpl Soliter

Sepasang

10.15

Terbang

80 m

Dodolo

09.20

Terbang

500 m

Hutan primer

Soliter

Siliwang a

10.15

Terbang dan hinggap Terbang Terbang Terbang

50 m

Safana,

Soliter

Katu

10.30

Elang sulawesi Elang ular sulawesi Elang alap dada merah

500 m 500 m 500 m

Hutan primer/sekund er,

Soliter Soliter Soliter

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

40

Elang ikan kepala kelabu Torire

Terbang

500 m

Soliter

NIHIL

Safana,hutan primer, ketinggian 1191,6 mdpl 500 m Hutan primer, ketinggian 133,5 mdpl Hutan primer dan alangalang dan kebun masyarakat Soliter

Bariri

15.15

Tak teridentifik asi Elang alap dada merah Elang alap dada merah Elang sulawesi Elang sulawesi Elang perut karat

Hinggap, bersuara

Doda

09.15 09.15 09.35 10.00 10.05

Terbang Terbang Terbang Terbang Terbang

1,5 m 1,5 m 500 m 500 m 5m

Sepasang

Soliter Soliter Soliter

Lengkeka Lilio 11.25

NIHIL Elang Ular Sulawesi Elang Ular Sulawesi Terbang 300 m

Hutan Primer Hutan primer, Savana Hutan Primer Soliter

Tuare

12. 00

Hinggap Di pohon

20 m

Soliter

Lampiran 3. Perhitungan Dugaan Populasi

Ukuran Populasi : P1(toro) P2(sidaunta) P3(sedoa) = 5/2= 2.5 3 ekor = 1/2= 0.5 1 ekor = 2/2= 1.0 1 ekor

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

41

P4(katu) P5(doda)

= 1/1= 1.0 1 ekor = 1/1= 1.0 1 ekor

Pi = 3 +1+1+1+1 = 7
Dimana :

Total Populasi :

c = 36 titik pengamatan
= 1.96 pada tingkat kepercayaan 5%

P= 36x7 = 252 ekor

Kisaran Populasi : (
= 0.323

( ) ) (( ) )

[ [ [ Pmaks Pmin

] ]

= 252 + 0.0176 = 252.0176 253 ekor = 252 0.0176 = 251.9824 252 ekor

Jadi kisaran populasi Elang Sulawesi di wilayah kegiatan diduga antara 252-253 ekor

Analisis Populasi dan Sebaran Habitat Elang Sulawesi di TN Lore Lindu

42