Anda di halaman 1dari 5

System ekskresi adalah system yang berperan dalam proses pembuangan zat yang sudah tidak diperlukan atau

zat yang membahayakan tubuh, dalam bentuk larutan. Urin atau air seni adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian dikeluarkan dalam tubuh melalui proses urinasi. Urin normal berwarna jernih transparan warna kuning muda. Urin beraasal dari zat warna empedu. Urine berbau khas jika diberikan agak lama, berbau ammonia pada kisar 6.8-7.2. kandungan air, urea, asam urat, ammonia, keratin, asam oksalat, asam fosfat, asam sulfat, klorida. Volume urine normal, kisaran 900-1200ml. Sumber: 2008. Sistem Ekskresi Manusia. (http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/18/sistem-ekskresipada-manusia/). Diakses pada 20 maret 2011 Manusia memiliki organ atau alat-alat ekskresi yang berfungsi membuang zat sisa hasil metabolisme. Zat sisa hasil metabolisme merupakan sisa pembongkaran zat makanan, misalnya: karbondioksida (CO2), air (H20), amonia (NH3), urea dan zat warna empedu. Zat sisa metabolisme tersebut sudah tidak berguna lagi bagi tubuh dan harus dikeluarkan karena bersifat racun dan dapat menimbulkan penyakit. Organ atau alat-alat ekskresi pada manusia terdiri dari: 1. Paru-paru, 2. Hati, 3. Kulit, dan 4. Ginjal.

Dari beberapa organel ekskresi, salah satu organ yang mengekskresikan urin, yaitu berupa ginjal. Dalam Dunia kedokteran biasa menyebutnya ren (renal/kidney). Bentuknya seperti kacang merah, berjumlah sepasang dan terletak di daerah pinggang. Ukurannya kira-kira 11x 6x 3 cm. Beratnya antara 120-170 gram. Struktur ginjal terdiri dari: kulit ginjal (korteks), sumsum ginjal (medula) dan rongga ginjal (pelvis). Pada bagian kulit ginjal terdapat jutaan nefron yang berfungsi sebagai penyaring darah. Setiap nefron tersusun dari Badan Malpighi dan saluran panjang (Tubula) yang bergelung. Badan Malpighi tersusun oleh Simpai Bowman (Kapsula Bowman) yang didalamnya terdapat Glomerolus. FUNGSI GINJAL 1. Menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme tubuh 2. Mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan 3. Reabsorbsi (penyerapan kembali) elektrolit tertentu yang dilakukan oleh bagian tubulus ginjal 4. Menjaga keseimbanganan asam basa dalam tubuh manusia 5. Menghasilkan zat hormon yang berperan membentuk dan mematangkan sel-sel darah merah (SDM) di sumsum tulang

PROSES PEMBENTUKAN URINE Ginjal berperan dalam proses pembentukan urin yang terjadi melalui serangkaian proses, yaitu: penyaringan, penyerapan kembali dan augmentasi. 1. Penyaringan (filtrasi) Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di kapiler glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit), tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses penyaringan. Selain penyaringan, di glomelurus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil yang terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat dan urea dapat melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan. Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrat glomerolus atau urin primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya 2. Penyerapan kembali (reabsorbsi)

Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer akan diserap kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam amino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal. Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Zat amonia, obat-obatan seperti penisilin, kelebihan garam dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan bersama urin. Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya urea. 3. Augmentasi Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Dari tubulus-tububulus ginjal, urin akan menuju rongga ginjal, selanjutnya menuju kantong kemih melalui saluran ginjal. Jika kantong kemih telah penuh terisi urin, dinding kantong kemih akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan keluar melalui uretra. Komposisi urin yang dikeluarkan melalui uretra adalah air, garam, urea dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin.

Striknin atau Strychnine (baca : striknain) adalah alkaloid yang melumpuhkan korban dan menyebabkan kematian oleh kegagalan pernafasan. Strychnine terbuat dari biji dari tanaman Strychnos nux vomica, ditemukan di Asia dan Australia. Racun pertama kali diambil dari tanaman pada tahun 1818 oleh dua ahli kimia Perancis, Pierre-Joseph Pelletier dan Joseph-Bienaim Caventou. Striknin telah digunakan sebagai obat homeopati (dalam bentuk yang sangat diencerkan), kinerja-enhacing obat bagi para atlet, sedikit halusinogen digunakan untuk memotong jalan narkoba, dan paling sering sebagai racun tikus.

Gejala keracunan striknin yang mula-mula timbul ialah kaku ototmuka dan leher. Setiap rangsangan sensorik dapat menimbulkan gerakan motorik hebat.Pada stadium awal terjadi gerakan ekstensi yang masih terkoordinasi,akhirnya terjadi konvulsi tetanik. Episode kejang ini terjadi berulang,frekuensi dan hebatnya kejang bertambah dengan adanya perangsangan sensorik. Kontraksi otot ini menimbulkan nyeri hebat,dan penderita takut mati dalam serangan berikutnya.

Sayangnya, tidak ada obat penawar khusus untuk strychnine. Pengobatan keracunan strychnine melibatkan aplikasi oral infus arang aktif yang berfungsi untuk menyerap sisa racun yang di dalam saluran pencernaan yang belum diserap ke dalam darah. Antikonvulsan seperti fenobarbital atau diazepam diberikan untuk mengendalikan kejang, bersama dengan relaksan otot seperti dantrolene untuk memerangi kekakuan otot. Jika pasien bertahan 24 jam terakhir, pemulihan memungkinkan. Perawatan untuk keracunan strychnine di akhir abad 19 dan awal abad ke-20 adalah untuk mengelola asam tanat yang mengendap strychnine sebagai garam tannate larut, dan kemudian anaesthetise pasien dengan kloroform sampai efek strychnine itu memudar.

Sepuluh sampai dua puluh menit setelah paparan, otot-otot tubuh mulai kejang, dimulai dengan kepala dan leher dalam bentuk trismus dan risus sardonicus. Kejang kemudian menyebar ke setiap otot dalam tubuh, dengan kejang hampir terus menerus, dan memburuk pada stimulus sedikit. Kejang berlanjut, meningkatkan intensitas dan frekuensi sampai tulang punggung melengkung. Kejang menyebabkan asidosis laktat, hipertermia dan rhabdomyolysis. Ini diikuti oleh depresi postictal. Kematian berasal dari sesak napas yang disebabkan oleh kelumpuhan jalur saraf yang mengontrol pernapasan, atau kelelahan dari kejang-kejang. Subjek meninggal dalam waktu 2-3 jam setelah paparan.

Penggunaan Striknin yang fenomenal : 1. Oskar Dirlewanger, pemimpin terkenal dari SS Sturmbrigade Dirlewanger dalam Perang Dunia

Kedua, diketahui telah membunuh beberapa wanita Yahudi dengan membuat mereka telanjang dan menyuntik mereka dengan strychnine. Dia dan anak buahnya kemudian mengawasi mereka mengejang sampai mati, hanya untuk hiburan mereka. 2. Margot Begeman, teman masa kecil Vincent van Gogh, mencoba bunuh diri dengan menelan strychnine pada tahun 1884. 3. Pada akhir abad ke-19, pembunuh berantai Thomas Neill Cream menggunakan strychnine untuk membunuh beberapa pelacur di jalanan London.

Sekian info tentang striknin. Semoga Bermanfaat :)

Sumber : Wikipedia, ucieyonisblogg.blogspot.com, indonesiaindonesia.com