Anda di halaman 1dari 18

REFERAT

SPERM WASHING

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Dalam Mengikuti Program Pendidikan Profesi Bagian Obstetri dan Ginekologi

Diajukan Kepada Yth: dr. H.M. Any Ashari, Sp.OG(K)

Disusun oleh: Aria Pratama Surya Anggara, S. Ked 20060310013

SMF ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2010
1

HALAMAN PENGESAHAN

Telah Dipresentasikan Referat Dengan Judul

SPERM WASHING

Hari/Tanggal: Jumat, 24 Desember 2010

Menyetujui Dokter Pembimbing/ Penguji

dr. H. M. Any Ashari, Sp.OG(K)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang hanya dengan seizin-Nya penulis dapat menyelesaikan tinjauan pustaka dengan judul Sperm Washing yang merupakan salah satu tugas dari program Pendidikan Profesi Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, serta shalawat dan salam kepada Rasullullah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat, tabiin, tabiah, dan pengikut beliau hingga akhir zaman. Dengan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak dalam penyelesaian presentasi kasus, maka pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. dr. H.M. Any Ashari, Sp. OG(K) selaku dokter pembimbing dan penguji yang telah banyak memberi bimbingan dan ilmu pengetahuan kepada penulis dalam menyelesaikan tinjauan pustaka ini. 2. dr. H. Bambang Basuki, Sp.OG selaku dokter pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan kepada penulis dalam studi ini. 3. Teman-teman satu stase atas kerjasamanya. 4. Keluarga yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun materiil. 5. Semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu Penulis menyadari bahwa presentasi kasus ini masih jauh dari sempurna, sehingga penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca. Semoga presentasi kasus ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menambah ilmu pengetahuan. Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Yogyakarta, Desember 2010

Penulis
3

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.. i HALAMAN PENGESAHAN ii KATA PENGANTAR iii DAFTAR ISI..... iv BAB 1 PENDAHULUAN A. Definisi infertilitas... 1 B. Infertilitas Primer vs Infertilitas Sekunder... 1 C. Kejadian Kasus Infertilitas... 2 D. Penyebab Infertilitas. 2 BAB IITINJAUAN PUSTAKA A. Sperm Washing...... B. Prosedur.... C. Tingkat Keberhasilan.... BAB III PENUTUP A. Pembahasan.... 13 B. Kesimpulan..... 13 DAFTAR PUSTAKA.. 14 9 10 12

BAB I PENDAHULUAN

Anak adalah salah satu nikmat dari Allah. Maka, saat sang buah hati yang dinanti belum juga dikaruniakan oleh-Nya, hendaklah sepasang suami-istri tetap berhusnuzhon (berprasangka baik) dan ridha akan ketetapan Rabb-nya. Meski demikian, baik suami maupun istri hendaknya tetap terus berusaha dan berdoa. Bukan hanya sekedar doa memohon kehadiran seorang anak, tetapi kehadiran anak-anak yang shalih dan shalihah. Salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah dari segi kesehatan. Bisa jadi ada sebab atau penyakit tertentu yang menyebabkan suami-istri tersebut sulit memiliki keturunan. Istilah yang mungkin sering kita dengar adalah infertilitas. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan infertilitas? Pada dasarnya, infertilitas adalah ketidakmampuan secara biologis dari seorang laki-laki atau seorang perempuan untuk menghasilkan keturunan. Infertilitas juga berarti perempuan yang bisa hamil namun tidak sampai melahirkan sesuai masanya (37-42 minggu). Dalam bahasa awam, infertil disebut juga tidak subur.

A. Definisi Infertilitas Menurut dokter ahli reproduksi, sepasang suami-istri dikatakan infertil jika:
1.

Tidak hamil setelah 12 bulan melakukan hubungan intim secara rutin (1-3 kali seminggu) dan bebas kontrasepsi bila perempuan berumur kurang dari 34 tahun.

2.

Tidak hamil setelah 6 bulan melakukan hubungan intim secara rutin (1-3 kali seminggu) dan bebas kontrasepsi bila perempuan berumur lebih dari 35 tahun.

3.

Perempuan yang bisa hamil namun tidak sampai melahirkan sesuai masanya (37-42 minggu).

B. Infertilitas Primer vs Infertilitas Sekunder Infertilitas sendiri ada dua macam, yaitu infertilitas primer dan infertilitas sekunder. Pasangan dengan infertilitas primer tidak bisa hamil sedangkan infertilitas sekunder adalah sulit untuk hamil setelah sudah pernah sekali hamil dan melahirkan secara normal sebelumnya.

C. Kejadian Kasus Infertilitas Secara umum, di dunia diperkirakan 1 dari 7 pasangan bermasalah dalam hal kehamilan. Di Indonesia, angka kejadian perempuan infertil 15% pada usia 30-34 tahun, meningkat 30 % pada usia 35-39 tahun dan 64 % pada usia 40-44 tahun. Berdasar survei kesehatan rumah tangga tahun 1996, diperkirakan ada 3,5 juta pasangan (7 juta orang) yang infertil. Mereka disebut infertil karena belum hamil setelah setahun menikah. Kini, para ahli memastikan angka infertilitas telah meningkat mencapai 15-20 persen dari sekitar 50 juta pasangan di Indonesia. Penyebab infertilitas sebanyak 40% berasal dari pria, 40% dari wanita, 10% dari pria dan wanita, dan 10% tidak diketahui.

D. Penyebab Infertilitas Faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas, antara lain:umur, lama infertilitas, emosi, lingkungan, hubungan seksual, kondisi sosial dan ekonomi, kondisi reproduksi wanita (meliputi cervix, uterus, dan sel telur), kondisi reproduksi pria (kualitas sperma dan seksualitas) serta penyebab lain. 1. Umur Kemampuan reproduksi wanita menurun drastis setelah umur 35 tahun. Hal ini dikarenakan cadangan sel telur yang makin sedikit. Fase reproduksi wanita adalah masa sistem reproduksi wanita berjalan optimal sehingga wanita berkemampuan untuk hamil. Fase ini dimulai setelah fase pubertas sampai sebelum fase menopause. Fase pubertas wanita adalah fase di saat wanita mulai dapat bereproduksi, yang ditandai dengan haid untuk pertama kalinya (disebut menarche) dan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder, yaitu membesarnya payudara, tumbuhnya rambut di sekitar alat kelamin, dan timbunan lemak di pinggul. Fase pubertas wanita terjadi pada umur 11-13 tahun. Adapun fase menopause adalah fase di saat haid berhenti. Fase menopause terjadi pada umur 45-55 tahun. Pada fase reproduksi, wanita memiliki 400 sel telur. Semenjak wanita mengalami menarche sampai menopause, wanita mengalami menstruasi secara periodik yaitu pelepasan satu sel telur. Jadi, wanita dapat mengalami menstruasi sampai sekitar 400 kali. Pada umur 35 tahun simpanan sel telur menipis dan
6

mulai terjadi perubahan keseimbangan hormon sehingga kesempatan wanita untuk bisa hamil menurun drastis. Kualitas sel telur yang dihasilkan pun menurun sehingga tingkat keguguran meningkat. Sampai pada akhirnya kirakira umur 45 tahun sel telur habis sehingga wanita tidak menstruasi lagi alias tidak dapat hamil lagi. Pemeriksaan cadangan sel telur dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah atau USG saat menstruasi hari ke-2 atau ke-3. 2. Lama Infertilitas Berdasarkan laporan klinik fertilitas di Surabaya, lebih dari 50% pasangan dengan masalah infertilitas datang terlambat. Terlambat dalam artian umur makin tua, penyakit pada organ reproduksi yang makin parah, dan makin terbatasnya jenis pengobatan yang sesuai dengan pasangan tersebut. 3. Emosi Stres memicu pengeluaran hormon kortisol yang mempengaruhi pengaturan hormon reproduksi. 4. Lingkungan Paparan terhadap racun seperti lem, bahan pelarut organik yang mudah menguap, silikon, pestisida, obat-obatan (misalnya: obat pelangsing), dan obat rekreasional (rokok, kafein, dan alkohol) dapat mempengaruhi sistem reproduksi. Kafein terkandung dalam kopi dan teh. 5. Hubungan Seksual Penyebab infertilitas ditinjau dari segi hubungan seksual meliputi: frekuensi, posisi, dan melakukannya pada masa subur. a. Frekuensi Hubungan intim (disebut koitus) atau onani (disebut masturbasi) yang dilakukan setiap hari akan mengurangi jumlah dan kepadatan sperma. Frekuensi yang dianjurkan adalah 2-3 kali seminggu sehingga memberi waktu testis memproduksi sperma dalam jumlah cukup dan matang. b. Posisi Infertilitas dipengaruhi oleh hubungan seksual yang berkualitas, yaitu dilakukan dengan frekuensi 2-3 kali seminggu, terjadi penetrasi dan tanpa kontrasepsi. c. Masa Subur Satu sel telur dilepaskan oleh indung telur dalam setiap menstruasi, yaitu 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Peristiwa itu disebut ovulasi. Sel
7

telur kemudian menunggu sperma di saluran telur (tuba falopi) selama kurang-lebih 48 jam. Masa tersebut disebut masa subur. 6. Kondisi Sosial dan Ekonomi Kondisi Sosial dan ekonomi yang semakin buruk akan memperbesar kemungkinan terjadinya infertilitas. 7. Kondisi Reproduksi Wanita Kelainan terbanyak pada organ reproduksi wanita penyebab infertilitas adalah endometriosis dan infeksi panggul, sedangkan kelainan lainnya yang lebih jarang kejadiannya adalah mioma uteri, polip, kista, dan saluran telur tersumbat (bisa satu atau dua yang tersumbat). Penyakit Penyebab Infertilitas pada Wanita a. Endometriosis Endometriosis adalah jaringan endometrium yang semestinya berada di lapisan paling dalam rahim (lapisan endometrium) terletak dan tumbuh di tempat lain. Endometriosis bisa terletak di lapisan tengah dinding rahim (lapisan myometrium) yang disebut juga adenomyosis, atau bisa juga terletak di indung telur, saluran telur, atau bahkan dalam rongga perut. Gejala umum penyakit endometriosis adalah nyeri yang sangat pada daerah panggul terutama pada saat haid dan berhubungan intim, serta -tentu saja-i nfertilitas. b. Infeksi Panggul Infeksi panggul adalah suatu kumpulan penyakit pada saluran reproduksi wanita bagian atas, meliputi radang pada rahim, saluran telur, indung telur, atau dinding dalam panggul. Gejala umum infeksi panggul adalah: nyeri pada daerah pusar ke bawah (pada sisi kanan dan kiri), nyeri pada awal haid, mual, nyeri saat berkemih, demam, dan keputihan dengan cairan yang kental atau berbau. Infeksi panggul memburuk akibat haid, hubungan seksual, aktivitas fisik yang berat, pemeriksaan panggul, dan pemasangan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim, misalnya: spiral). c. Mioma Uteri Mioma uteri adalah tumor (tumor jinak) atau pembesaran jaringan otot yang ada di rahim. Tergantung dari lokasinya, mioma dapat terletak di lapisan luar, lapisan tengah, atau lapisan dalam rahim. Biasanya mioma uteri yang sering menimbulkan infertilitas adalah mioma uteri yang terletak di lapisan dalam (lapisan endometrium). Mioma uteri biasanya tidak bergejala. Mioma
8

aktif saat wanita dalam usia reproduksi sehingga -saat menopause- mioma uteri akan mengecil atau sembuh. d. Polip Polip adalah suatu jaringan yang membesar dan menjulur yang biasanya diakibatkan oleh mioma uteri yang membesar dan teremas-remas oleh kontraksi rahim. Polip dapat menjulur keluar ke vagina. Polip menyebabkan pertemuan sperma-sel telur dan lingkungan uterus terganggu, sehingga bakal janin akan susah tumbuh. e. Kista Kista adalah suatu kantong tertutup yang dilapisi oleh selaput (membran) yang tumbuh tidak normal di rongga maupun struktur tubuh manusia. Terdapat berbagai macam jenis kista, dan pengaruhnya yang berbeda terhadap kesuburan. Hal penting lainnya adalah mengenai ukuran kista. Tidak semua kista harus dioperasi mengingat ukuran juga menjadi standar untuk tindakan operasi. Jenis kista yang paling sering menyebabkan infertilitas adalah sindrom ovarium polikistik. Penyakit tersebut ditandai amenore (tidak haid), hirsutism (pertumbuhan rambut yang berlebihan, dapat terdistribusi normal maupun tidak normal), obesitas, infertilitas, dan pembesaran indung telur. Penyakit ini disebabkan tidak seimbangnya hormon yang mempengaruhi reproduksi wanita. f. Saluran Telur yang Tersumbat Saluran telur yang tersumbat menyebabkan sperma tidak bisa bertemu dengan sel telur sehingga pembuahan tidak terjadi alias tidak terjadi kehamilan. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui saluran telur yang tersumbat adalah dengan HSG (Hystero Salpingo Graphy), yaitu semacam pemeriksaan rntgen (sinar X) untuk melihat rahim dan saluran telur. g. Sel Telur Kelainan pada sel telur dapat mengakibatkan infertilitas yang umumnya merupakan manifestasi dari gangguan proses pelepasan sel telur (ovulasi). Delapan puluh persen penyebab gangguan ovulasi adalah sindrom ovarium polikistik. Gangguan ovulasi biasanya direfleksikan dengan gangguan haid. Haid yang normal memiliki siklus antara 26-35 hari, dengan jumlah darah haid 80 cc dan lama haid antara 3-7 hari. Bila haid pada seorang wanita
9

terjadi di luar itu semua, maka sebaiknya beliau memeriksakan diri ke dokter. 8. Kondisi Reproduksi Pria Kondisi reproduksi pria meliputi sperma dan seksualitas. a. Sperma Sperma berasal dari kata spermatozoa, yaitu sel kelamin jantan yang memiliki bulu cambuk. Bentuk sperma mirip kecebong. Sperma dihasilkan oleh testis. Cairan nutrisi sperma berupa cairan putih, kental, dan berbau khas yang disebut semen. Proses pengeluaran semen dan sperma disebut ejakulasi, sehingga cairannya disebut juga dengan cairan ejakulat. Pada pemeriksaan cairan ejakulat yang normal didapatkan: 1. Volume: 2 mililiter. 2. Lama mencair: 60 menit. 3. pH (tingkat keasaman): 7,2. 4. Kadar spermatozoa: 20 juta spermatozoa per mililiter. 5. Jumlah spermatozoa total: 20 juta spermatozoa per ejakulat. 6. Motilitas (pergerakan):
o o

50% motil (grade a dan b)*; atau 25% bergerak progresif (grade a)

dalam 60 menit setelah ejakulasi. 7. Vitalitas: spermatozoa hidup 75%. 8. Sel darah putih: < 1juta per mililiter.
*): Grade a: pergerakan sperma yang cepat, progresif, biasanya membentuk garis lurus. Grade b: pergerakan sperma yang lambat, biasanya kurang membentuk garis lurus.

Sperma membawa sifat dari bapak, yang nantinya akan bertemu dengan sel telur yang membawa sifat dari ibu. Oleh karena itu, kualitas sperma dan sel telur yang baik menjadi faktor penting dalam kehamilan. Penyebab Umum Ketidaksuburan Pria 1. Gangguan di daerah sebelum testis (pretesticular) Gangguan biasanya terjadi pada bagian otak, yaitu hipofisis yang bertugas mengeluarkan hormon FSH dan LH. Kedua hormon tersebut mempengaruhi testis dalam menghasilkan hormon testosteron, akibatnya produksi sperma dapat terganggu. Terapi yang bisa dilakukan adalah dengan terapi hormon.
10

2. Gangguan di daerah testis (testicular) Kerja testis dapat terganggu bila terkena trauma pukulan, gangguan fisik, atau infeksi. Bisa juga terjadi, selama pubertas testis tidak berkembang dengan baik, sehingga produksi sperma menjadi terganggu. Dalam proses produksi, testis sebagai pabrik sperma membutuhkan suhu yang lebih dingin daripada suhu tubuh, yaitu 3435 C, sedangkan suhu tubuh normal 36,537,5 C. Bila suhu tubuh terus-menerus naik 23 C saja, proses pembentukan sperma dapat terganggu. Oleh karena itu, hindari memakai celana dalam atau celana panjang yang ketat. Usahakan tidak mengenakan celana dalam waktu tidur untuk menjaga suhu di bagian tubuh tersebut tetap sejuk. Janganlah merokok, karena penelitian menunjukkan bahwa perokok memiliki jumlah sperma lebih sedikit dibandingkan pria yang tidak merokok. Jangan mengonsumsi alkohol karena dapat mempengaruhi fungsi liver, yang pada gilirannya dapat menyebabkan peningkatan estrogen. Jumlah estrogen yang tinggi dalam tubuh akan mempengaruhi produksi sperma. Usaha lain untuk meningkatkan kualitas dan jumlah sperma adalah mengkonsumsi suplemen alami. Asam amino L-carnitine (ditemukan dalam daging merah dan susu) dan L-arginine (terdapat dalam kacang-kacangan, telur, daging, dan wijen) berkhasiat meningkatkan mutu sperma. 3. Gangguan di daerah setelah testis (posttesticular) Gangguan terjadi di saluran sperma sehingga sperma tidak dapat disalurkan dengan lancar, biasanya karena salurannya buntu. Penyebabnya bisa jadi bawaan sejak lahir, terkena infeksi penyakit -seperti tuberkulosis (Tb)-, serta vasektomi yang memang disengaja. 4. Gangguan lain Gangguan lain yang cukup sering kejadiannya adalah pelebaran pembuluh darah atau varises. Varises pada pembuluh darah yang menyuplai testeis disebut varicocele. Akibatnya, darah kotor yang seharusnya dibawa ke atas untuk dibersihkan, turun lagi dan mengendap di testis. Darah kotor yang mengendap mengandung zat-zat yang melemahkan sperma, seperti adrenalin dan sebagainya.

11

9. Penyebab Lain a. Kelainan Kekebalan Tubuh Kekebalan tubuh berguna melawan benda asing atau kuman penyebab infeksi yang masuk ke dalam tubuh. Janin juga dilindungi dengan kekebalan ini agar berkembang baik. Kekebalan tubuh diperankan oleh antibodi. Antibodi bisa menyerang kuman (benda asing) karena ada antigen pada kuman tersebut. Jadi, antigen berperan sebagai tanda pengenal agar kuman dapat dikenali antibodi, baru kemudian antibodi dapat

menghancurkannya. Akan tetapi, pada beberapa wanita terdapat kelainan adanya antibodi antisperma, akibatnya antibodi tersebut menghancurkan sperma yang masuk sehingga pembuahan gagal terjadi. Pada beberapa pria, juga terdapat kelainan berupa antibodi yang dimilikinya menyerang sperma karena sperma dianggap sebagai benda asing sehingga sperma menjadi berkualitas jelek alias tidak mampu membuahi sel telur. Pada dasarnya, wanita tidak memiliki unsur antigen, seperti halnya pada sperma atau komponen plasma semen. Namun, pada saat wanita mulai berhubungan seksual dengan pria, dalam tubuhnya akan terbentuk antibodi antisperma terhadap antigen sperma. Pada tingkat tertentu antibodi masih dapat ditembus oleh sperma yang bagus kualitasnya dan dapat mengakibatkan kehamilan. b. Infertilitas Sebagai Komplikasi Penyakit Lain Penyakit-penyakit yang berkomplikasi infertilitas, antara lain: penyakit genetik, kencing manis (diabetes mellitus), penyakit kelenjar gondok, kelainan hormon, dan obesitas (kegemukan).

Jika pasangan mengalami masalah fertilitas, mungkin bisa untuk mencoba metode perawatan kesuburan tertentu untuk meningkatkan kesempatan hamil. Intraurine inseminasi (IUI) sering menjadi pilihan pertama pengobatan fertilitas oleh pasangan infertil. Tetapi pada metode ini harus melewati beberapa proses dahulu. Untuk mendapatkan sperma siap untuk prosedur IUI, terlebih dahulu harus dicuci (Sperm Washing). Sperm washing bekerja untuk memastikan bahwa hanya sperma sehat digunakan selama prosedur. Sperm washing dapat meningkatkan peluang konsepsi dan dapat membantu pasangan infertile untuk menyambut tambahan baru untuk keluarga.
12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. SPERM WASHING Sperm washing adalah prosedur yang digunakan untuk mempersiapkan sperma untuk digunakan dalam intrauteri inseminasi (IUI). Hal ini memungkinkan sperma pria memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup dan pemupukan. Sperm washing memisahkan sel-sel sperma dari air mani (semen) laki-laki, membantu untuk menghilangkan sperma mati atau lambat bergerak dan juga bahan kimia tambahan yang dapat mengganggu pembuahan. Setelah sperma sudah dicuci di laboratorium, dapat digunakan selama IUI untuk membantu mencapai kehamilan. Ada berbagai prosedur untuk teknik sperm washing ini. Sperma harus dicuci untuk digunakan dengan IUI. Air mani kasar tidak dapat dimasukkan langsung ke dalam rahim wanita. Hal ini karena air mani mengandung zat kimia yang disebut prostaglandin. Prostaglandin menyebabkan kontraksi otot dan bertanggung jawab atas kram saat menstruasi dan kehamilan. Jika air mani baku dimasukkan langsung ke dalam rahim wanita, saat melalui serviks pertama, bisa menyebabkan nyeri dan kram. Hal ini juga dapat menyebabkan kontraksi uterus berlebihan. Sperma juga dicuci dalam rangka untuk meningkatkan kesempatan wanita untuk menjadi hamil. Sperm washing dapat menghapus sperma mati dan dengan motilitas kecil Ini meninggalkan sperma yang dapat berenang lebih cepat dan yang lebih mungkin untuk membuahi sel telur. Sperm washing juga dapat menyingkirkan sel-sel darah putih, cairan lendir dan mani sekitarnya sperma, yang juga dapat mengganggu kesuburan. Prosedur ini juga dapat bermanfaat bagi pasangan yang: Infertilitas Laki-faktor infertilitas Wanita dengan endometriosis Laki-laki dengan antibodi antisperm

13

B. PROSEDUR 1. Persiapan untuk sperm washing Prosedur mencuci sperma sebenarnya relatif mudah untuk mempersiapkan. Air mani dikumpulkan setelah masturbasi, atau dari sampel yang diambil selama pengambilan sperma bedah. Hal ini penting untuk menahan diri dari hubungan seksual selama dua hari sebelum sperma dikumpulkan. Namun, jangan lebih dari lima hari tanpa hubungan seksual. Antibiotik tertentu juga dapat mempengaruhi kualitas sperma, sehingga berbicara dengan endokrinologi reproduksi jika mengkonsumsi obat.

2. Prosedur sperm washing Ada tiga teknik sperm washing yang sering digunakan mencuci sperma, yaitu: a. Simple Sperm Wash Teknik simple sperm wash adalah cara yang paling dasar dari mencuci dan mempersiapkan sperma untuk IUI. Semen diencerkan dalam tabung reaksi dengan larutan khusus antibiotik dan suplemen protein. Hal ini kemudian ditempatkan dalam sentrifus, mesin yang berputar dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sebagai campuran sperma berputar, sel-sel sperma jatuh ke bagian bawah tabung reaksi, menghasilkan massa padat, sperma yang sangat aktif. sperma ini kemudian dapat dikeluarkan dari tabung reaksi dan digunakan dalam IUI. Sebuah mencuci sperma sederhana membutuhkan waktu sekitar 20 sampai 40 menit.

Gambar 1. Semen diletakkan dalam tabung sentrifus, bersama dengan solusi yang lebih padat. Solusi ini membantu untuk memisahkan semen seperti yang berputar di centrifuge tersebut.

14

b. Density Gradient Sperm Wash Density gradient sperm wash adalah salah satu metode sperm washing yang paling popular. Hal ini karena juga bekerja untuk memisahkan sel-sel sperma mati, sel darah putih, dan produk-produk limbah lain dari sperma. Sebuah tabung reaksi diisi dengan berlapis-lapis cairan kerapatan yang berbeda. Semen ini kemudian diletakkan di lapisan atas cairan dan tabung diputar di dalam mesin pemisah. Setelah itu berputar, aktif, sperma yang sehat akan membuat jalan mereka ke lapisan paling bawah cairan ke dalam tabung reaksi, sementara puing-puing dan sperma mati akan terjebak dalam dua lapisan atas. Lapisan ini bisa tersedot untuk menghapus sperma aktif dari tabung uji. sperma ini kemudian digunakan dalam prosedur IUI. Kepadatan mencuci sperma gradien waktu sekitar 60 menit.

Gambar 2. Proses density gradient sperm wash Sebuah tabung reaksi diisi dengan berlapis-lapis cairan kerapatan yang berbeda. Semen ini kemudian diletakkan di lapisan atas cairan dan tabung diputar di dalam mesin pemisah.

Setelah itu berputar aktif, sperma yang sehat akan


membuat jalan mereka ke lapisan paling bawah tabung reaksi, sementara puing-puing dan sperma mati akan terjebak dalam dua lapisan atas. Lapisan ini bisa tersedot untuk menghapus sperma aktif dari tabung uji.

c. Swim-Up Technique Teknik ini berenang dengan cepat menjadi lebih dan lebih populer di seluruh klinik kesuburan Amerika. Teknik ini berkisar kenyataan bahwa sperma harus berenang ke depan dan sampai untuk mencapai rahim. Hanya sperma yang paling kuat akan mampu melakukan hal ini. Dalam rangka untuk mengambil ini sperma yang kuat, air mani ditempatkan dalam tabung reaksi dengan lapisan solusi media. Sperma tertarik dengan solusi ini, dan akan berenang ke sana. Sebagai sperma berenang ke solusi, mereka dikumpulkan. Teknik ini memakan waktu sekitar dua jam dalam rangka panen sperma yang cukup untuk digunakan dalam IUI.
15

Gambar 3. Swim-Up Technique

C. TINGKAT KEBERHASILAN Tingkat kesuksesan yang meningkat ketika sperm washing digunakan dengan IUI. Karena sperma cuci memastikan bahwa hanya sperma yang paling sehat dan aktif digunakan untuk pemupukan, ada peluang ditingkatkan sehingga Anda akan menjadi hamil bila menggunakan sperma dicuci. Namun, tingkat keberhasilan sangat tergantung pada jumlah sperma pasangan Anda secara keseluruhan. Biasanya, jumlah sperma terendah untuk digunakan dengan mencuci sperma sudah satu juta, bagaimanapun, tingkat keberhasilan secara signifikan lebih rendah jika jumlah sperma Anda jatuh di bawah 5-10 juta. Hitungan sperma terbaik untuk digunakan dengan sperma mencuci adalah mereka antara 20 dan 30 juta.

16

BAB III PENUTUP

A. PEMBAHASAN Persiapan sperma berupa membuat konsentrat sperma yang aktif motilitasnya dalam volume tertentu dan cairan kultur. Teknik laboratorium untuk proses pencucian sperma tergantung keahlian petugasnya. Metode yang sederhana berupa mencuci semen dalam medium kultur (dengan sentrifus dan mengumpulkan pellet). Metode swim up dengan teknik layering merupakan medium kultur special yang diletakkan diatas tabung tes semen. Kualitas sperma yang baik akan berenang ke atas permukaan medium kultur dalam 45 sampai 60 menit, sperma yang ada dipermukaan medium diambil untuk dimasukkan kedalam kavum uterus. Metode yang lebih canggih menggunakan density gradient column. Dilakukan pemisahan kualitas aperma yang baik dari sperma yang motilitasnya kurang baik, dan plasma seminal, karena lebih ringan dari sperma yang motil. Ini cara terbaik untuk memperbaiki motilitas sperma dan merupakan teknik standart yang digunakan sekarang terutama bila kualitas sperma jelek. Perkembangan metode preparasi sperma seperti teknik pencucian dan renang atas (wash and swin-up) serta penggunaan Percoll bertingkat, telah menjadikan para ahli infertilitas menggunakan cara ini sebagai pilihan utama dalam menjalankan teknologi rekayasa konsepsi terhadap para wanita infertile dengan tuba fallopii yang paten. Dengan menggunakan sperma preparasi pada prosedur inseminasi buatan, dapat menurunkan efek samping seperti kram, kollaps dan infeksi.

B. KESIMPULAN Setelah pencucian sperma atau persiapan selesai, konsentrasi sperma diinjeksikan melalui leher rahim ke dalam rahim melalui kateter, tipis fleksibel. Proses inseminasi sebenarnya memakan waktu beberapa menit saja. Perempuan mungkin mengalami kram ringan tetapi sementara selama proses tersebut. Sementara mereka dapat melanjutkan kegiatan rutin mereka hari yang sama, perempuan harus menyadari bahwa ada resiko yang kecil (kurang dari satu persen) dari infeksi berikut IUI. Jika perempuan melihat adanya gejala seperti demam, menggigil, panggul atau sakit perut, mereka harus menghubungi dokter mereka dengan segera.

17

DAFTAR PUSTAKA

Shyam S.R. Allamaneni, Ashok Agarwal, Sreedhar Rama, Pavithra Ranganathan, Rakesh K. Sharma. 2005. Comparative study on density gradients and swim-up preparation techniques utilizing neat and cryopreserved spermatozoa. Center for Advanced Research in Human Reproduction, Infertility and Sexual Function, Glickman Urological Institute and Department of Obstetrics-Gynecology, Cleveland Clinic Foundation, Cleveland, Ohio, USA

Tucker, K.E, Jansen, C.A.M. 2002. SPERM SEPARATION TECHNIQUES: COMPARISON AND EVALUATION OF GRADIENT PRODUCTS. In:
nd

Proceedings 2

International workshop for Embryologists: Troubleshooting

Activities in the ART lab. Ed. R. Basuray and D Mortimer.

18