Anda di halaman 1dari 6

Supplier adalah seseorang/perusahaan yang secara kontinu menjual barang kepada Anda.

Biasanya barang tersebut bukanlah untuk dijual lagi, tapi lebih kepada pendukung kegiatan usaha. Misalnya supplier kertas memasok kertas ke kantor-kantor atau contoh lainnya: supplier besi tua memasok besi ke pabrik pengolahan besi. Jadi barang yg dijual oleh supplier adalah penunjang kegiatan usaha atau berupa bahan mentah. Nah, sekarang Distributor. Distributor adalah seseorang/perusahaan yang membeli produk dari perusahaan yang memproduksinya langsung dan menawarkan/menjual kembali kepada toko/ retail. Distributor bisa saja mengambil produk dari beberapa produsen untuk ditawarkan ke-toko-toko. Jadi Distributor adalah penghubung antara produsen-produsen dan toko-toko retail. Contohnya; Distributor makanan ringan menawarkan berbagai jenis makanan kepada toko retail. Contoh lainnya: Distributor buku dan majalah, mendapatkan buku dan majalah dari berbagai penerbit dan menawarkannya kepada toko buku agar dapat dipajang.

suplier yang nyalurin barang...baik dia sebagai produsennya ato pemasok dengan skala besar/kecil ke konsumen...konsumennya bisa jadi masyarakat langsung ato distributor....kalo distributor...murni sebagai penyalur...ga memproduksi barang...dan tergantung dari hasil produksi dan permintaan pasar... Namanya juga supplier, pemasok atau produsen. sedangkan distributor adalah pendistribusi barang tersebut. perbedaan adalah suplier bikin barang, sedangkan distributor hanya menyalurkan barang tersebut

Distribusi adalah salah satu aspek dari pemasaran. Distribusi juga dapat diartikan sebagai kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen kepada konsumen, sehingga penggunaannya sesuai dengan yang diperlukan (jenis, jumlah, harga, tempat, dan saat dibutuhkan). Pelaku distribusi disebut Distributor. Kontraktor adalah perusahaan yang melakukan kontrak kerja dengan orang atau perusahaan lain untuk memasok barang atau menyelesaikan jasa tertentu. Supplier merupakan suatu perusahaan dan individu yang menyediakan, memasarkan dan menyalurkan sumber daya yang dibutuhkan oleh perusahaan dan para pesaing untuk memproduksi barang dan jasa tertentu.

1)

2)

3)

4)

Metode Procurement (pengadaan) Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang direncanakan dan disetujui, dapat melalui pembelian, produksi/pengemasan kembali, sumbangan. Diharapkan memperoleh pembekalan yang efisien (tak terjadi stock out). Pengadaan obat merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan dibutuhkan melalui: a. Pembelian/pemesanan Terbatas (Hand to mouth buying), pembelian/pemesanan (order) dilakukan sesuai dengan kebutuhan dalam jangka waktu yang pendek, misalnya satu minggu. Pembelian ini dilakukan bila modal terbatas, ED cepat, dan PBF berada tidak jauh dari apotek, misalnya berada dalam satu kota/wilayah sehingga lead time cepat dan selalu siap melayani kebutuhan obat sehingga obat dapat segera dikirim. Terencana, berkaitan dengan pengendalian persediaan barangyang dilakukan dengan cara membandingkan jumlah pengadaan dengan penjualan tiap kurun waktu. Pembelian/pemesanan dalam jumlah yang direncanakan untuk waktu tertentu. Biasanya dilakukan oleh apotek yang mempunyai pelanggan tetap, barang laku/fast moving, mempertimbangkan waktu/musim tertentu, jarak apotek jauh dari PBF/PBF di luar kota sehingga lead time panjang, PBF berkunjung tidak tiap hari, dan pengiriman tidak setiap hari. Cara pembelian ini erat hubungan dengan pengendalian persediaan barang. Pengawasan stok obat/barang sangat penting untuk mengetahui obat/barang mana yang laku keras dan mana yang kurang laku. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kartu stok. Selanjutnya dilakukan perencanaan pembelian sesuai dengan kebutuhan per item. Pengadaan secara intuisi, dilakukan pada sediaan farmasi yangdiperkirakan akan mengalami peningkatan permintaan dalam kurun waktutertentu, misalnya karena adanya pengaruh wabah suatu penyakit. Spekulasi, dilakukan dalam jumlah yang lebih besar dari kebutuhan untuk mengantisipasi akan adanya kenaikan harga dalam waktu dekat atau karena ada diskon atau bonus untuk pembelian jumlah besar. Pembelian/pemesanan dilakukan dengan pertimbangan diskon, adanya penawaran bonus barang dan ada kemungkinan kenaikan harga. Metode spekulasi harus dipertimbangkan kecepatan aliran barang karena bisa jadi apotek rugi karena harus membeli dalam jumlah besar akibat mengejar diskon, bonus atau ada kemungkinan kenaikan harga sehingga barang menumpuk. Apotek bisa untung jika barang tersebut fast moving cepat laku atau solusi lain beli dalam jumlah besar namun bonusnya bagi dengan apotek lain jadi kerja sama dengan apotek lain. (Kekurangan: obat menumpuk. Jadi, solusinya Spekulasi terencana yiatu boleh spekulasi tapi untuk obat fast moving). Cara pembelian ini dilakukan dalam jumlah yang lebih besar dari kebutuhan, dengan harapan ada kenaikan harga dalam waktu dekat atau dikarenakan adanya diskon atau bonus. Meskipun pembelian secara spekulasi memungkinkan mendapatkan keuntungan yang lebih besar tetapi cara ini mengandung resiko yang besar untuk obat-obat dengan waktu kadaluarsa yang relative pendek dan yang bersifat slow moving. Konsinyasi, pemilik barang menitipkan barang kepada apotek.Apotek hanya membayar barang yang terjual, sedangkan sisanya dapat diperpanjang masa konsinyasinya. Cara seperti ini biasanya dilakukan pada produk baru.Pembayaran dilakukan jika barang terjual. PBF menitipkan barang baru (produk baru) ke apotek, jika sudah laku terjual baru kemudian dibayar ke PBF dan jika tidak laku dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati maka barang dapat dikembalikan.

5) JIT (just in time), pembelian dalam jumlah kecil/terbatas, jika sedang butuh, baru memesan atau membeli, biasanya meode ini dipilih untuk barang yang mahal, lama laku, dan keluarnya sedikit. (Kekurangan: barang kosong). Jika dirumash sakit biasanya dikenal secara: Tender Pembelian dg nilai lebih dari 100 juta dilakukan dengan pengumuman terbuka di media massa, dan diikuti oleh rekanan-rekanan yang memenuhi kualifikasi yang ditetapkan. Tender terbuka/lelang Berlaku untuk semua rekanan terdaftar, sesuai kriteria. Butuh konsolidasi dan team yang kuat. Tender terbatas/lelang tertutup Berlaku untuk rekanan tertentu/terbatas dan punya reputasi baik. Harga dapat dikendalikan, beban kerja lebih ringan daripada lelang terbuka. Pembelian negoisasi dan kontrak kerja Dilakukan pendekatan langsung dengan rekanan terpilih untuk tawar-menawar untuk mencapai persyaratan spesifik, harga, penetapan jumlah service delivery,dibuat suatu perjanjian Pembelian/pemilihan langsung ke distribusi untuk persediaan yang perlu segera tersedia. Pembelian dengan sistem membandingkan harga antara 2 atau lebih rekanan, untuk kemudian dipilih yang terendah harganya. Nilai pengadaan antara 50-100 juta. Penunjukan langsung Pembelian langsung ke PBF, senilai kurang dari 50 juta. JIT

a.

1) a) b) 2) a) b) b. 1)

c.

d. e.

et: RS Negeri: a, c, dan d (metode pembelian di RS Negeri (Per Pres No 54 th 2010 ttg pengadaan barang/jasa pemerintah). RS Swasta: b, c, e b. Produksi/pembuatan sediaan farmasi. Merupakan kegiatan membuat, merubah bentuk, dan pengemasan kembali sediaan steril atau non steril untuk memenuhi pelayanan kesehatan di rumah sakit. c. Donasi/hibah, Pemberian/sumbangan.

4. Procurement terdiri dari 2 proses yaitu : a. Perencanaan b. Pengadaan 5. Sistem pengadaan yang tepat di daerah yang terpencil adalah terencana. Pengadaan dengan metode terancana yaitu: a. PBF berada di luar kota. PBF berkunjung tidak tiap hari, dan pengiriman tidak setiap hari. b. Barang laku/fast moving. c. Pertimbangan waktu/musim tertentu.

6. Perbedaan sistem pengadaan Just In Time (JIT) dan Spekulatif: Sistem Pengadaan Just in Time (JIT) Spekulatif a. cara pembelian obat ini untuk obat obat a. Cara pembelian ini dilakukan dalam yang mahal, dibutuhkan segera, waktu jumlah yang besar dari kebutuhan kadaluarsa nya pendek, dan obat itu dengan harapan ada kenaikan harga bersifat slow moving. dalam waktu dekat atau dikarenakan b. Menghindari penumpukan barang (tidak adanya diskon atau bonus. Meskipun perlu gudang). pembelian secara spekulatif c. Dipesan jika diperlukan segera. memungkinkan mendapatkan d. Lokasi dekat dengan PBF. keuntungan yang besar tetapi cara ini mengandung resiko yang besar untuk obat obat dengan waktu kadaluarsa yang relative pendek yang bersifat slow moving. b. Pembelian dikarenakan mengejar diskon/bonus yang ditawarkan (namun biasanya harus dibayar tunai/cash). c. Kemungkinan ada kenaikan harga. d. Digunakan untuk obat fast moving(perhatikan kecepatan aliran barang). Kelebihan: Kelebihan: Tidak perlu gudang. a. Dapat bonus/diskon. b.Keuntungan kemungkinan bisa lebih besar. Kekurangan: Kekurangan: Barang kosong terutama jika ada pasiena. Bayar kontan. dating yang tidak terprediksi missal darib. Barang menumpuk (perlu gudang luar kota. penyimpanan) sehingga adaholding cost. c. Resiko rugi untuk obat-obat dengan ED yang relative pendek dan yang bersifat slow moving. 7. Cara pembayaran kepada PBF: Adapun metode-metode pembelian obat di apotek diantaranya: a. Kredit, yaitu pembayaran pembelian dengan jatuh tempo/tenggang waktu (21-45 hari) yang biasanya dilakukan 21 hari, 1 bulan/28 hari, atau berbulan-bulan (untuk PBF dari luar kota) setelah barang dating, biasanya tidak ada diskon, mungkin ada diskon pada pabrik tertentu tergantung kebijakan pabrik. b. COD (Cash On Delivery), yaitu pembayaran secara langsung cash ketika barang dating/diterima. Biasanya dilakukan pada pembelian obat narkotika dari PBF Kimia Farma/psikotropik ataupun pembelian obat-obatan dengan tunai/yang memberikan bonus (spekulasi). Biasanya ada diskon 1-1,5% disamping diskon cash 5%.

c. Cash/tunai, pembayaran dengan jangka waktu jatuh tempo maksimal 2 minggu, biasanya ada diskon (missal 5%). d. Konsinyasi, yaitu obat yang dititip jual oleh distributor dan pembayaran dilakukan setelah barang sudah laku di jual di apotek. pembayaran dilakukan jika barang terjual. PBF menitipkan barang baru (produk baru) ke apotek, jika sudah laku terjual baru kemudian dibayar ke PBF dan jika tidak laku dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati maka barang dapat dikembalikan. 8. COD (Cash On Delivery) dapat dilakukan: COD ( Cash On Delivery) harus dilakukan yaitu untuk barang barang narkotik dari PBF kimia farma. Ketika barang datang, pembabayaran tunai langsung dilakukan. a. Pembelian obat narkotika dari PBF Kimia Farma (wajib/mutlak COD), psikotropika (terkait peraturan perundang-undangan). b. Jika metode pembeliannya dengan pembayaran tunai misalnya spekulasi untuk mengejar bonus atau diskon. Jika ada barang datang beserta fakturnya maka yang dilakukan adalah: Mengecek kesesuaian barang yang datang dengan yang tertera difaktur serta sesuaikan juga dengan SP (Surat Pesanan) yaitu jumlah dan jenis barang, Expired Date/waktu kadaluarsa dan No. Batch. Jika sesuai maka faktur dicap dan ditandatangani kemudian 1 lembar untuk apotek diambil lembar selebihnya diserahkan kembali kepada yang mengantarkan barang pesanan tersebut. Selanjutnya barang yang baru dating harus ditulis dibuku barang dating (manual) dan/atau diinput dikomputer (komputerisasi) dengan keterangan: Nomor urut barang, tanggal SP, nomor faktur, nama PBF, nama obat, nomor batch, jumlah barang, harga satuan, diskon, total harga, ED. Barang ini disimpan digudang (jika ada) atau ditata dietalase obat, dan dicatat dikartu stok dan buku ED. Atau 1. Pengiriman barang disertai faktur (memuat nama PBF, tanggal, jenis dan jumlah barang), kemudian dicocokkan/pengecekkan (ED, keadaan fisik obat, sesuai dengan permintaan jenis dan jumlah obat). 2. Jika sesuai maka faktur ditanda tangani oleh Apoteker / AA ( nama terang, SK dan cap Apotek). 3. Faktur asli akan diperoleh jika sudah melunasi pembayaran obat. 4. Obat yang diperoleh dicatat di buku penerimaan/ED, menyangkut nama PBF yang mengirim barang, harga barang dan No. Batch. No. batch penting karena sewaktu waktu BPOM dapat menarik obat-obat tertentu dengan no. batch tertentu. 12. Laporan apotek yang harus dilaporkan tiap bulan: a. Laporan Penggunaan Narkotik dan Psikotropik. b. Laporan Statistika Resep dan Penggunaan Obat Generik Berlogo (OGB). Laporan apotek yang harus dilaporkan tiap 3 bulan: a. Laporan Tenaga Kesehatan/karyawan (NaKes). Laporan apotek tahunan:

a. Neraca. b. Laporan Laba/Rugi.