Anda di halaman 1dari 12

Struktur Kristal dari Bi2Sr2Ca2Cu3O10 System Bi- 2223 memiliki sebuah struktur berbentuk tetragonal, dalam system ini,

tiga lapisan dari CuO 2 disisipi oleh dua lapisan Ca. Pada lapisan tengan CuO2, Cu(2) merupakan koordinat planar sebanyak empat kali lipat. Lapisan CuO2 / Ca / CuO2 / Ca / CuO2 ini dijepit diantara lapisan alkali tanah, SrO dan oleh dua lapisan dari atom-atom BiO. Parameter kisi dari unit sel yang dihitung menggunakan difraksi sinar-x yaitu a b 5.4 dan c 37 . Gambar 1.11 adalah sebuah model dasar unit sel dari fasa 2223.

Gamabar 1.17 Strutur Kristal dari Bi 2223 [61]

1.10 Aplikasi Aplikasi dari superkonduktor yang didasarkan pada resistansi nol, efek Meissner dan efek Josephson ditunjukkan pada bagan dibawah ini [60].

APLIKASI SUPERKONDUKTOR

Berdasakan Resistansi Nol > Transmisi Daya > Superkonduktivitas Magnets (Volum dan Homogenitas Besar) [MRI] > Motor DC > Generator AC

Berdasarkan Efek Meissner

Berdasarkan Efek Josephson > SQUIDS > Uji Non-Destruktif

> Magnetic Shielding


> Lavitating Trains

> Eksplorasi Mineral


> Computer Switches dan Memories > Detektor Radiasi > Elemen Logic

Bab 2 Metode Eksperimen dan Teknik Karakterisasi 2.1 Persiapan Sampel Banyak metode yang telah dikembangkan untuk tujuan menghasilkan sebuah oksida superkonduksi. Penyusunan serbuk diskalsianasi dapat dicapai melalui proses pada keadaan padatan atau pada fase cair. Pada Proses pada keadaan padatan, oksida logam dan karbonat dicampur, dikalsinasikan, kemudian dilumatkan, menghasilkan serbuk kalsinasi, dimana serbuk kalsinasi tersebut oleh proses fase cair diperoleh dari dekomposisi campuran precursor, yang disintesis pada fase cair. Metoda sintesis dari oksida supercoduksi secara skematis ditunjukkan pada gambar 2.1 [62].

Proses Fabrikasi Oksida Superkonduksi

Proses dalam Padatan

Prose Fase Cair

Proses Fase Gas

Metode reaksi dalam Padatan

Metode Sintering serbuk

Metode Larutan Kimia

Metode Lelehan

CVD Halida

MOCVD

Gambar. 2.1 Proses fabrikasi oksida superkonduksi 2.1.1 Bahan yang digunakan Sampel superkonduktor dengan basis Bi dipersiapkan dengan menggunakan 99,99% serbuk murni dari Bi2O3 (Alfa Aesar), PbO (BDH), SrCO3 (Merck), B2O3, Sm2O3, Tb4O7, CaCO3 (Merck), CuO (Fluka) yang digunakan sebagai materi awal. Materi tersebut secara hati-hati ditimbang dengan ketelitian 0.1 mg dan kemudian dicampur dengan baik dalam mortar batu akik untuk memberikan nominal komposisi Bi1.6Pb0.4Sr2Ca2Cu3O10+. 2.1.2 Kalkulasi rasio molar Bi : Pb : Sr : Ca : Cu 238.62

372.77 :

89.27 :

295.26 :

200.18 :

UNtuk menormalisasikan, bagi dengan angka terkecil misalnya 89.27 4.17 : 1 : 3.31 : 2.24 : 2.67

Jumlahkan seluruh rasio 4.17 + 1 + 2.24 + 2.67 = 13.39 g Total lelehan : 13.39 g

Untuk 30 g sampel, Dengan metode unitary = Kalikan dengan masing-masing rasio dengan 2.24 9.34 : 2.24 : 7.41 : 5.02 : 5.98

Jumlahkan seluruh rasio yang telah dikalikan 9.34 + 2.24 + 7.41 + 5.02 + 5.98 = 29.99 g Total lelehan : 29.99 g 2.1.3 Timbangan berat Materi yang akan digunakan ditimbang dengan sangat akurat dengan akurasi hingga 0.1 mg menggunakan timbangan Shimadzu (Libror AEG-120G). 2.1.4 Mortar dan penumbuk batu akik Setelah pencampuran, serbuk tersebut digiling pada mortar. Selama penggilingan, treatment panas intermediate diperlukan untuk keseragaman dan untuk mengurangi ukuran partikel. Mortar digunakan untuk menngiling padatan menjadi bentuk serbuk yang halus tetapi dibawah kontrol yang ketatuntuk meminimalisir kontaminasi. 2.1.5 Penekan hidrolik Pelet dari serbuk kalsinasi dibuat sebelum sintering. Kekompakan dari pellet bergantung pada ukuran partikel, tekanan yang dikenakan dan durasi. Penekan hidrolik Graseby memiliki tekanan maksimum 15 ton yang digunakan untuk menekan serbuk precursor secara uniaksial. 2.1.6 Tungku suhu tinggi Untuk mendapatkan perlakuan panas seperti proses kalsinasi, sintering dan anil, digunakan tungku elektrik dengan suhu tinggi. Tungku Carbolaite-1300 dilengkapi dengan pengontrol suhu yang dapat diatur hingga mencapai suhu maksimum 1300C yang digunakan dalam laboratorium. 2.2 Teknik pengolahan Teknik pengolahan yang berbeda digunakan untuk produksi bahan Tc tinggi untuk aplikasi praktis. 2.2.1 Metode Serbuk dalam tabung Penelitian secara luas telah dilakukan pada Superkonduktor High Tc (HTS) kearah penggunaan praktis kawat HTS, yang digunakan pada nitrogen cair (77K) sejak ditemukannya pada 1986. Saat ini kawat superkonduktor (Bi,Pb)2Sr2Ca2Cu3Ox (Bi2223) *Tc 110K+ adalah sebuah kawat HTS yang cukup

menjajikan untuk digunakan secara praktis. Metode manufaktur dari kawat superkonduksi Bi 2223 disebut metode Serbuk Dalam Tabung [Powder In Tube PIT] seperti tampak pada gambar 2.6.

Gambar 2.6

Proses dasar manufaktur dari Bi-2223 kawat superkonduksi (Metode Serbuk Dalam Tabung) [63]. Izin oleh SEI untuk memproduksi gambar.

2.2.2 Reaksi dalam Padatan Metode reaksi dalam padatan adalah metode yang paling sering digunakan untuk persiapan sampel BSCCO [51,52]. Serbuk oksida precursor di paletisasi kemudian di-sintering (pemanasan dibawah titik lelehnya) untuk mendapatkan fase Tc tinggi. Siklus pemanasan dapat divariasikan pada rentang suhu dan durasi. 2.2.3 Melt quenching Teknik melt quenching konvensional merupakan salah satu proses pelelehan untuk menghsilkan bahan fase tunggal dengan Tc tinggi [64,69]. Meskipun bahan fase tunggal sangat berguna karena suhu ditingkatkan hingga mencapai suhu kritisnya, namun dalam apliksinya, penggunaan rentang suhu yang lebar sangat penting, dan hal tersebut dapat diperoleh dari bahan multifase. Produksi bahan fase tunggal sangat penting dalam penggunaan praktis dari oksida superkonduksi Tc tinggi karena batas butiran dari bahan ini bertindak sebagai hubungan yang lemah. Selain itu, kristal Quench Melt Growth (QMG) sangat menarik dalam aplikasinya karena memiliki sifat Jc yang sangat bagus, Kristal QMG dapat digunakan sebagai magnet superkonduksi, bantalan superkonduktor dan current leads. Meskipun pemahaman tentang ilmu bahan superkonduktor berbasis Bimasih sangat terbatas dan proses optimasi untuk saat ini agak besifat empiris, namun memiliki perkembangan ke tahap komersial, yang dapat diterima secara mekanika dan densitas arus praktis dalam rentang 30 77 K. Selain terdapat kurangnya pengetahuan tentang daerah konsentrasi dimana 2223 berada dalam keseimbangan di dalam cairan, tetapi beberapa karya menunjukkan kelayakan kristalisasi 2223 dari lelehan [70,71].

Bubuk prekursor yang dihasilkan meleleh dalam wadah platinum dalam tanur listrik (Carbolite 1300). Cairan kemudian dipadamkan dengan menekan cairan cor antara dua blok dari stainless steel. Ketebalan sampel adalah ~ 1cm. Seperti rongga di mana sampel dipadamkan memiliki ukuran yang sama untuk semua blok, sehingga ketebalan semua sampel adalah sama.

Gambar 2.7 Teknik Melt Quenching Program suhu yang diadopsi untuk menyiapkan sampel dari melt quenched diberikan sebagai berikut,

Gambar 2.8 Program suhu yang diadopsi untuk menyiapkan sampel

2.3 Karakterisasi Sampel Sampel dikarakteisasi secara elektris, suhu analitis dan struktural serta sfat yang dipelajari dibandingkan dengan karakteristik yang telah diketahui dari bahan ini yang diperoleh dari literature.

2.4 Resistivitas elektrik Dc Empat teknik standart probe digunakan untuk karakterisasi dari sampel superkonduktor. Pasta perak digunakan untuk membuat kontak pada sampel, resistansi kontak berada pada urutan 0.1 atau lebih rendah. Pengukuran resistivitas dilakukan dari suhu 77K hingga 140K oleh empat konfigurasi probe dengan 1V/cm digunakan sebagai criteria untuk pengukuran Jc. Janis Cryostat (VPF-700) dilengkapi dengan pompa Turbo Molekular (Edwards) dan pengontrol suhu (Lake Shore-331) telah digunakan untuk pengukuran resistansi terhadap suhu nitrogen cair. Arus konstan sebesar 10 mA dilewatkan pada sampel, dengan bantuan sumber arus konstan (Keithley Model 196). Termokopel tipe-K digunakan untuk pengukuran suhu.

Gambar 2.8 Janis Cryostat VPF-700

2.5 Difraksi sinar-X Difraksi sinar-X merupakan alat karakterisasi yang dapat digunakan untuk menentukan perbedaan sifat bahan termasuk struktur Kristal, orientasi butir, perubahan parameter kisi atau membedakan fase dalam bahan multi-fase. 2.5.1 Dalil Bragg Difraktometer sinar X bekerja menurut prinsip dalil Bragg. 2d Sin = n (2.1)

Dalil Bragg menyatakan bahwa untuk sinar-X dengan panjang gelombang tunggal (), terdapat hubungan antara jarak bidang atom (dhkl) dan sudut () dimana sinar-X yang terdifraksi akan saling mempengaruhi secara konstruktif. Cara sedehana untuk memahami bagaimana dalil ini dapat membantu mengkarakterisasi bahan adalah dengan memahami bahwa bahan Kristal yang berbeda memiliki jarak planar yang berbeda pula, sehingga difraksi konstruktif akan terjadi pada sudut yang berbeda tergantung dari bahan. Jika interfernsi ini diplot terhadap dua sudut maka lokasi puncak konstruktif akan berubah bergantung pada bahan yang sedang diperiksa. Sekarang kita tahu bahwa dengan kristal tiga dimensi, banyak terdapat bidang atom, oleh karena itu sebuah bahan akan memiliki banyak puncak, tetapi semua terletak pada sudut yang spesifik terhadap jarak antara bidang atom tersebut. Plot ini dikenal dengan pola difraksi sinar-X dan dapat digunakan untuk identifikasi bahan. Pola XRD dari sampel dalam jumlah besar (setelah 240 jam sintering) terekam pada suhu ruang menggunakan (Philips 3710) difraktometer dengan radiasi Cu-K pada rentang 2 (20-80) dengan tahapan pindai berukuran 0.02. pengukuran berakhir pada suhu ruang sejak tidak ada perubahan bahan superkonduktor sebelum dan sesudah transisi. Data XRD digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan fase yang diperlihatkan pada parameter kisi dan sampel. Gambar 2.9 menunjukkan skematik XRD [72].

Gambar 2.9 Skema dari system XRD

2.5.2 Pengukuran densitas dan porositas Densitas bulk dari sampel superkonduktor diukur menggunakan metode perendaman cairan [73.74]. Toluene digunakan sebagai cairan untuk menimbang sampel. Densitas bulk dihitung berdasarkan hubungan :

Densitas sampel =

(2.2)

Densitas sinar-X dari sampel dihtung dengan parameter kisi (a b c ) yang dihasilkan dari data XRD. Pengguanan parameter kisi densitas XRD dihitung sebagai berikut. Sampel yang digunakan adalah poli kristal, Tc-tinggi dan Tc-rendah. XRD = XRD(2223) + XRD(2212) Densitas BSCCO = Volume unit sel dari BSCCO = {(volume unit sel 2223)(fraksi volume 2223) + (volume unit sel 2212)(fraksi volume 2212)} 1 mol = 6.02 x 1023 molekul Volume 1 mol BSCCO = (6.02 x 1023)(volume unit sel BSCCO) cm3 Berat formula BSCCO = 1023.28 gm 1 mole = 1023.28 gm = berat formula BSCCO Densitas = berat / volum Densitas XRD = Porositas sampel yang didinginkan dengan kuningan, baja, tembaga dan perunggu diukur menggunakan hubungan. Porositas = 1 (2.3)

2.6 Pemindaian menggunakan mikroskop elektron Mikroskop pemindai elektron (Scanning elektrone microscope / SEM) telah digunakan secara luas dalam analisis struktur mikro sebuah spesimen dan komposisi fase. Satu alasan untuk popularita alat ini adalah tersedianya resolusi tinggi, atas berbagai perbesaran. Sebuah SEM bekerja dengan membombardir sebuah spesimen dengan sebuah berkas elektron yang terfokus dengan baikyang memindai seluruh permukaan. Berkas ini berinteraksi dengan sebuah area pada permukaan sampel dan menghasilkan elektron sekunder, elektron backscaterred, elektron auger dan karakteristik sinar-X. sebuah detetktor yang berbeda digunakan untuk tiap emisi, bergantung pada informasi apa yang dibutuhkan.

Elektron sekunder memiliki energi relatif rendah (~ 10 eV) dan dipancarkan dari sebuah Volume mendekat ke permukaan, dekat daerah dampak berkas. Elektron ini membawa informasi mengenai topografi permukaan spesimen. Elektron backscattered membawa energi yang lebih tinggi (5-40 keV) dan menekan spesimen lebih jauh dibanding elektron sekunder. Elektron backscattered mentransmisikan informasi pada komposisi kimia spesimen, orientasi kristal, dan selama interaksi dengan elektron sekunder, topografi permukaan dengan baik.

Gambar 2.10 Mikroskop Pemindai Elektron

2.7 Spektroskopi energi dispersive Karakteristik sinar-X dihasilkan ketika berkas elektron menumbuk sebuah elektron dari kulit dalam atom, meninggalkan kekosongan. Ketika elekteron kulit luar mengisi kekosongan ini, dengan demikian kembali pada keadaan dasar, sinar-X yang dirilis dalah karakteristik dari atom yag tereksitasi. Deteksi sinar-X ini dilakukan dengan spektrometer energi dispersif (Energi Dispersive Spektrometer / EDS), yang mana perangkat dalam adatan yang membedakan antara energi-energi sinar-X. hal ini akan menyediakan informasi komposisi dari berbagai fase untuk elemen dengan berat atom lebih besar dari Na (~23 sma). 2.8 Karakteristik termo analitik Analisis termal adalah nama yang diterapkan pada sebuah kumpulan teknik yang memeiliki prinsip pengoperasian yang umum, seperti sebuah sampel yang dipanaskan atau didinginkan yang diatur oleh program, beberapa sifat fisis sampel direkam sebagai sebuah fungsi temperatur pada sebuah kurva analisis termal. Tiga pertimbangan lebih lanjut harus dipenuhi pada analisis termal seperti yang biasa dipraktekkan.

i. ii. iii.

Sifat fisis dan suhu sampel seharusnya diukur secara kontinyu bukan sesekali. Kedua parameter ini direkam secara otomatis. Suhu sampel seharusnya naik atau turun pada laju yang sama.

Tujuan utama melakukan pengukuran analisis termal jarang hanya untuk evaluasi dari pengukuran sifatnya sendiri sebagai fungsi temperatur, melainkan menggunakan kurva analisis termal untuk mempelajari perubahan baik fisis maupun kimiawi yang diukur pada sampel yang dipanaskan. Interpretasi kurva analisis termal, yang terdiri dari hubungan-hubungan komponennya, kurva temperatur (puncak kurva, diskontinyuitas, perubahan kemiringan, dll) terhadapkejadian termal yang mungkin pasda sampel, seperti reaksi kimia atau transisi fisis yang dihasilkan dari perubahan suhu pada sampel. Karakteristik termoanalisis dari sampel dilakukan untuk mempelajari suhu kristalisasi dan lelehan yang disajikan padafase-fase yang berbeda. Kumpulan fase sangat bergantung pada perlakuan panas suhu dan durasi. 2.8.1 Kalorimetri pemindaian diferensial Kalorimetri pemindaian diferensial (diferential scaning calorimetry / DCS) bergantung pada perbedaan energi yang diperlukan untuk menjaga sampel dan acuan pada suhu yang sama. DCS bekerja menggunakan prinsip bahwa sampel dan acuan dipanaskan pada suhu yang sama. Setiap kali terdapat penyerapan panas pada sampel, suhu dari sampel selalu tertinggal dari acuan, sehingga panas yang diberikan pada sampel oleh sumber untuk menjaga suhu sama dengan acuan. Demikian pula ketika panas dilepaskan oleh sampel, suhu sampel dibandingkan dengan acuan, sehingga panas diberikan ke sink untuk menjaga suhu sama dengan acuan. Aliran panas ini diplot sebagai fungsi temperatur. Suhu kaca transisi Tg dan suhu kristalisasi Tx dianalisa menggunakan DCS (Perkin Elmer DSC-7). DSC dapat digunakan untuk menentukan panas fusi dari Hm fase kristal dan derajat kristalisasi, kinetika kristalisasi, kapasitas panas Cp, miscibility pada campuran polimer dan struktur relaksasi, seperti relaksasi entalpi selama proses penuaan fisik. Operasi suhu pada rentang Perkin Elmer DSC-7 dari suhu ruang hingga 600c, ketika sampel disegel dalam panci alumunium. Perbedaan tingkat pemanasan dan lingkungan pemanasan dapat digunakan. 2.8.2 Analisis diferensial termal Pada analisis termal diferensial (differential thermal analysis / DTA) , perubahan suhu yang terjadi antara sampel dengan bahan inert acuan diukur, ketika keduanya mendapatkan perlakuan panas yang sama. Perubahan suhu ini kemudian diplot terhadap waktu atau terhadap temperatur. Perubahan pada sampel yang disebabkan absorbsi atau evolusi panas dapat dideteksi relatif terhadap inert acuan. Suhu diferensial juga dapat timbul diantara dua sampel inert ketika respon mereka terhadap perlakuan panas yang diterapkan tidak identik. Sehingga DTA dapat digunakan untuk mempelajari sifat termal dan perubahan fase yang tidak menyebabkan perubahan entalpi. Dasar dari kurva DTA kemudian harus menunjukkan diskontinuitas pada suhu transisi dan kemiringan kurva pada setiap titik akan bergantung pada konstitusi struktur mikro pada suhu tersebut.

Sebuah kurva DTA dapat digunakan sebagai sidik jari untuk tujuan identifikasi, sebagai contoh, dalam studi tanah liat dimana kesamaan struktur bentuk yang berbeda membuat percobaan difraksi sulit untuk diintepretasikan. Area dibawah puncak DTA dapat dihubungkan terhadap perubahan entalpi dan tidak berpengaruh terhadap kapasitas panas sampel. DTA dapat didefinisikan secara formal sebagai suatu teknik untuk merekam perbedaan suhu antara substansi dan bahan referensi baik terhadap waktu atau temperatur sebagai dua spesimen dikenakan rezim suhu identik dalam lingkungan yang dipanaskan atau didinginkan pada tingkat yang terkendali.

Gambar 2.12 (a) Sel DTA

Gambar 2.12 (b) Skema sel DTA

Kinetik kristalisasi sampel diteliti dengan menggunakan DTA non-isotermal (Perkin Elmer DTA-7). Tingkat pemanasan yang bervariasi ( 5 - 20C/min) dapat digunakan untuk memanaskan sampel dalam lingkungan berbeda ( Udara, oksigen, nitrogen, argon). Operasi temperatur pada rentang Perkin Elmer DTA-7 dari suhu ruang hingga 1600C. 2.8.3 Analisis Gravimetrik Termal Thermo Gravimetric Analysis (TGA) mengukur penurunan atau kenaikan berat pada sampel ketika diberikan panas. Thermo Gravimetric Analyzer (Perkin Elmer TGA 7) digunakan untuk analisis sampel BSCCO pada rentang suhu 30 - 1000C. Kenaikan berat menggambarkan difusi oksigen kedalam interior sampel pada suhu tersebut. Penurunan berat menggambarkan efusi dari gas yang terserap dalam sampel. Tingkat pemanasan yang bevariasi (5-1000C) dapat digunakan untuk memanaskan sampel pada lingkungan berbeda (udara, oksigen, nitrogen, argon dll ). Kinetik kristaliasi ditentukan menggunakan model dari Bansal dan Doremus [75].