Anda di halaman 1dari 5

Forensik sering kali dikaitkan dengan suatu tindak pidana (tindakan yang melanggar hukum).

Dalam beberapa buku, ilmu forensik pada umumnya diartikan sebagai penerapan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk kepentingan penegakan hukum dan keadilan. Pemecahan suatu kasus kejahatan akan menyertakan proses penyidikan didalamnya, dimana observasi terhadap bukti fisik dan interpretasi dari hasil analisis (pengujian) barang bukti merupakan alat utama dalam penyidikan tersebut (Anderson, 2000; Loomis, 1978) Pada abad ke 19 Josep Bonaventura Orfila mencoba meyakinkan hakim di pengadilan dengan memaparkan percobaan keracunan yang dilakukan terhadap hewan berdasarkan ilmu toksikologi yang dipelajarinya. Hal ini membuka pandangan bahwa ilmu pengetahuan dapat dimanfaatkan untuk memecahkan suatu kasus, bahkan hal yang dianggap berkaitan dengan sesuatu yang mistik. Revolusi dalam upaya penegakan hukum terjadi pada pertengahan abad ke 19, dimana pertama kali ilmu kimia, mikroskopi, dan fotografi dimanfaatkan dalam penyidikan kasus kriminal (Eckert, 1980; Reno et al., 2000). Francis Galton (1822-1911) pertama kali meneliti sidik jari dan mengembangkan metode klasifikasi dari sidik jari. Hasil penelitiannya sekarang ini digunakan sebagai metode dasar dalam personal identifikasi. Pada tahun 1887-1954, seorang professor kedokteran forensik Leone Lattes melakukan investigasi dan identifikasi bercak darah yang mengering a dried bloodstain. Penggolangan darah ke dalam 4 klasifikasi, yaitu A, B, AB, dan O hingga kini masih dijadikan dasar klasifikasi dan dimanfaatkan secara luas sampai sekarang (Saferstein, 1995; Dale et al., 2006). Perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin luas menyebabkan semakin banyak bidang ilmu yang dilibatkan dan dimanfaatkan dalam penyidikan suatu kasus kriminal untuk kepentingan hukum dan keadilan (Purwadianto 2000). Dewasa ini dalam penyidikan suatu tindak kriminal merupakan suatu keharusan menerapkan pembuktian dan pemeriksaan bukti fisik secara ilmiah seperti yang tert ulis dalam Keputusan Menteri Kehakiman No.M.01.PW.07.03 tahun 1983. Dalam upaya pembuktian ilmiah dan menyelesaikan suatu perkara, ilmu forensik tentunya ditunjang oleh berbagai jenis bidang ilmu lainnya. DNA forensik merupakan salah satu cabang ilmu forensik yang juga dikenal sebagai bidang ilmu biologi molekuler. DNA telah dijadikan instrumen yang sangat berguna dan memegang peranan penting dalam penyelidikan kasus kejahatan serta untuk konfirmasi kebenaran. DNA merupakan kode kimiawi yang dapat ditemukan disetiap sel pada seluruh individu dan memiliki karakteristik tersendiri yang unik serta spesifik untuk masing-masing

individu sekalipun pada pasangan kembar identic. Asam deoksiribonukleat atau yang lebih dikenal sebagai DNA merupakan materi genetik yang mengkode setiap sel yang berada didalam tubuh. DNA merupakan sebuah polimer yang terdapat pada bagian nukleus sel (inti sel) dan terdiri dari dua untai berbentuk spiral (double helix structure). DNA terdiri dari unit gula deoksiribosa, fosfat dan empat basa organik yang berbeda yaitu Adenin (A), Timin (T), Cytosin (C) dan Guanin (G) (Murakami, 2008; Kreeger et al., 2003). Keempat zat kimia tersebut berpasang-pasangan dimana Adenin dan timin sementara itu, sitosin dan guanin. Pasangan ini merekatkan kedua untai gula fosfat sehingga menghasilkan bentuk heliks ganda. Inilah gen kita, informasi yang tersimpan di dalam gen kita yang dikenal sebagai infomasi genetik. Infomasi inilah yang sangat dibutuhkan oleh ilmu kedokteran forensik didalam menangani semua kasus yang berhubungan dengan proses identifikasi dalam suatu penegakan hokum (Atmadja, 2007). Sejak ditemukannya penerapan teknologi DNA dalam bidang kedokteran forensik, pemakaian analisis DNA untuk penyelesaian kasus-kasus forensik juga semakin

meningkat.Penerimaan bukti DNA dalam persidangan di berbagai belahan dunia semakin memperkokoh peranan analisis DNA dalam sistem peradilan. Secara umum teknologi DNA dimanfaatkan untuk identifikasi personal, pelacakan hubunga n genetik (disputed

parentaged atau kasus ragu orang tua), dan pelacakan sumber biologis. Identifikasi personal dilakukan pada kasus penemuan korban tak dikenal, seperti pada kasus kecelakaan, pembunuhan, bencana massal, kecelakaan pesawat terbang, dsb. Pelacakan hubungan orang tua dilakukan pada kasus dugaan perselingkuhan, kasus ragu ayah, kasus ragu ibu, kasus bayi tertukar, kasus imigrasi dsb. Sedangkan pelacakan sumber adalah pemeriksaan barang bukti renik (trace evidence) dalam rangka pencarian pelaku delik susila (pemeriksaan bercak mani, usap vagina, kerokan kuku), pencarian korban (bercak darah pada pakaian tersangka, di TKP, dan analisis sel pada peluru bullet cytology) serta analisis potongan tubuh pada kasus mutilasi (Drell et al., 2002; Dale, 2006). Salah satu pemanfaatan DNA forensik adalah pada penyelesaian kasus paternitas yang dialami oleh Raisha Camila. Raisha Camila Diah merupakan seorang bocah tak berdosa, akan tetapi karena status biologis Raisha pula, kedua orang tuanya mengalami pertengkaran. Kedua orang tua Raisha saling melapor ke polisi bahkan bercerai lewat jalur pengadilan agama hanya dikarenakan status biologisnya. Raisha terlahir dari rahim Rahma Azhari. Ketika melahirkan

sang bayi, Rahma berstatus sebagai isteri dari Rauf. Namun Rauf meragukan Raisha sebagai darah dagingnya sendiri dan meminta dilakukan test DNA. Langkah Rauf bukan tanpa dasar. Pasal 44 UU Perkawinan menegaskan: Seorang suami dapat menyangkal sahnya anak yang dilahirkan isterinya (Anonim, 2008). Dalam hal ini, DNA forensic memiliki peranan penting untuk membuktikan status biologis dari Raisha. Short Tandem Repeats (STR) adalah bagian DNA yang pendek dan bersifat polimorfik sehingga dijadikan lokus pilihan untuk penyelesaian kasus-kasus forensic. Pada metode ini, sejenis enzim spesifik digunakan untuk menghasilkan replika dari DNA. Bagian DNA dipotong menjadi bagian-bagian dengan menggunakan enzim lainnya dan dipisahkan dengan elektroforesis. Fragmen selanjutnya divisualisasikan dengan noda perak, dihasilkan noda dengan pola cahaya dan pita yang memiliki karakteristik berbeda untuk setiap individu. Lokus STR memiliki keistimewaan karena memili ki jenis alel yang banyak, tetapi rentang yang sempit sehingga memungkinkan diperbanyak secara multiplexdalam suatu tabung reaksi. Dengan melakukan pemeriksaan pada lokus STR, identifikasi individu dapat dilakukan dengan ketepatan yang amat tinggi. STR merupakan core-DNA sehingga ia

diturunkan menurut hukum Mendel dari kedua orang tua. Pada setiap lokus STR, setiap anak memiliki dua buah alel, dimana satu alel berasal dari ayahnya (DNA paternal), satu alel berasal dari ibunya (DNA maternal). Analisis STR dalam bidang forensik dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu: analisis ayah-anak-ibu (FCM analysis) dan analisis

pembandingan (matching analysis). Pada analisis FCM dilakukan perbandingan alel STR tersangka ayah (F), anak (C), dan ibu (M). Dicari apakah DNA paternal anak ada padanannya atau tidak dengan salah satu DNA tersangka ayah. Adanya kesesuaian pada semua lokus STR yang diperiksa menunjukkan bahwa tersangka ayah adalah ayah biologis dari anak tersebut (Adams, 2008; Jobling, 1997). Berdasarkan hasil test DNA yang dilakukan oleh Rauf di Singapura, diperoleh kesimpulan bahwa dia bukanlah ayah biologis dari Raisha.

Anderson, P D., An Overview of Forensic Pharmacists Practice, Journal of Pharmacy Practice 2000; 13; 179 Anonim. 2008. Forensik DNA, Tak Hanya Sekedar Memperjelas Status Biologis. Cited 2013, Oct 29. Available at: http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol18519/forensik-dnatak-hanya-sekedar-memperjelas-status-biologis. Dale, W. M., O. Greenspan dan D. Orokos. 2006. DNA Forensics: Expanding Uses and Information Sharing. California: SEARCH Daniel Drell, Using DNA to Solve Cold Cases, a special report from the National Institute of Djaja Surya Atmadja, Evi Untoro, Peranan Analisis DNA Pada Penanganan Kasus Forensik, FKUI, Jakarta, 2007, hal. 2. Eckert, W.G., 1980, Introduction to Forensic sciences, The C.V. Mosby Company, St. Louis, Missori Jobling, M.A., A. Pandya dan C. T. Smith. 1997. The Y Chromosome in forensic analysis and paternity testing. Int J Legal Med, Vol. 110. P. 118-124 Kazuo Murakami, The Divine Message of The DNA, PT. Mizan Media Utama, Bandung, 2008, Hal. 31-33.

Kreeger, L. R., S. Attorney, D. M. Weiss dan S. Attorney. 2003. Forensic DNA Fundamentals for the Prosecutor Forensic DNA Fundamentals for the Prosecutor Be Not Afraid. Alexandria: APRI Loomis, T.A., 1978, Toksikologi Dasar, Donatus, A. (terj.) IKIP Semarang Press, Semarang Predictions of the Research and Development Working Group. Washington, DC: National Institute of Justice Purwandianto, A. 2000, Pemanfaatan Laboratorium Forensik Untuk Kepentingan Non-Litigasi, dalam Tim IBA Kriminalistik, Laporan Kegiatan Buku II, Proyek Pengembangan Kewirahusaan Melalui Itegratif Bahan Ajar Kriminalistik, Kepada Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta Reno, J., D. Marcus, M. L. Leary dan J. E. Samuels. 2000. The Future of Forensic DNA Testing: Justice, U.S. DOE Human Genome Program, July, 2002 Lembaga Pengabdian

Saferstein R., 1995, Criminalistics, an Introduction to Forensic Science, 5th Ed., A Simon & Schuster Co., Englewood Cliffs, New Jersey