Anda di halaman 1dari 13

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kelinci Sebagai Hewan Percobaan Hewan laboratorium atau hewan percobaan adalah hewan yang sengaja dipelihara dan diternakkan untuk dipakai sebagai hewan model guna mempelajari serta mengembangkan berbagai macam bidang ilmu dalam skala penelitian atau pengamatan laboratorium (Sevendsen dan Hau 1994). Para ahli sering menggunakan hewan yang memiliki karakteristik kebutuhan biologi untuk menjawab pertanyaan dalam penelitian tersebut. Umumnya hewan yang digunakan dalam penelitian adalah rodensia dan kelinci. Jenis hewan lain yang dapat digunakan untuk penelitian ialah reptil, amfibi, ikan, ayam, babi, kambing, anjing, kucing, dan monyet (Bride 1997). Menurut Smith dan Mangunwijoyo (1998), hewan percobaan adalah hewan yang digunakan dalam penelitian biologis maupun biomedis atau jenis hewan yang dipelihara secara intensif di laboratorium. Sebagai hewan percobaan, hewan laboratorium harus memiliki persyaratan-persyaratan, antara lain (1) mudah diperoleh dengan jumlah yang memadai; (2) mudah dipelihara, diproduksi dan ditangani; (3) mudah diamati/dimonitor; (4) memberikan responss fisiopatologi yang cenderung sama; (5) tersedia cukup informasi tentang positif dan negatifnya hewan tersebut menjadi model; (6) tidak tergantikan dengan model non-hewan seperti simulasi komputer ataupun oleh studio in-vitro. Kelinci merupakan satu diantara mamalia yang bermanfaat. Kelinci biasanya dimanfaatkan untuk produksi daging, hewan percobaan, dan hewan peliharaan. Jenis kelinci untuk beberapa tujuan berbeda-beda (Curnin dan Bassert 1985). Banyak jenis kelinci yang tersedia, satu diantara yang umum dipakai di laboratorium adalah New Zealand White (Wolfensohn dan Iloyd 1988). Kelinci (Oryctolagus cuniculus) yang dipelihara sekarang berasal dari kelinci liar di Eropa. Kelinci yang dipelihara di Indonesia sebagian besar adalah keturunan kelinci yang dibawa dari Belanda dan termasuk jenis kelinci kecil dengan bobot badan kurang dari 2 kg. Jenis inilah yang sering digunakan sebagai hewan percobaan. Selain kelinci kecil terdapat juga kelinci yang lebih besar ( 5 kg) yang sengaja diimpor dari Eropa, Selandia Baru, Australia, dan Amerika

untuk tujuan produksi daging bagi konsumsi manusia. Hasil persilangan antara kedua jenis kelinci tersebut sudah banyak dipelihara oleh petani dan biasanya kelinci jenis besar digunakan untuk produksi antiserum, sedangkan kelinci jenis kecil digunakan untuk uji-uji kualitatif (Malole dan Pramono 1989).

2.1.1. Taksonomi Kelinci

Secara umum taksonomi kelinci (Oryctolagus cuniculus) adalah sebagai berikut (Sirosis 2005): Phylum Subphylum Class Order Family Genus : Chordata : Vertebrata : Mamalia : Lagomorpha : Leporidae : Oryctolagus (rabbits), Lepos(hares), Octona(pikas), Silvilagus (cottontails) Species : cuniculus forma domestica (domestic rabbit), cuniculus (wild rabbit)

2.1.2. Karakteristik Umum Kelinci Selain karakteristik sepasang gigi seri atas, ada perbedaan yang membedakan kelinci dari hewan rodensia lainnya. Tabel 1 merupakan ringkasan data fisiologis yang unik dari kelinci (Sirosis 2005).

Bobot badan Jantan dewasa Betina dewasa Bobot lahir Pemeriksaan Klinis Temperatur rektal Jantung normal Respirasi normal 38.5OC (101.3OF-104.OF) 180-250 kali/menit 30-60 kali/menit 2-5 kg 2-6 kg 30-80 g

Umur Pubertas dan kawin Kematangan sexual (jantan) (betina) Kawin (Jantan) (betina) 22-52 minggu 22-52 minggu 60-72 bulan 24-36 bulan

Gambar 1. Kelinci yang biasa digunakan sebagai hewan laboratorium

2.1.3. Temperatur Tubuh Pengaturan keseimbangan temperatur didalam tubuh diakibatkan adanya suatu reaksi yang berjalan cepat maupun lambat yang menyebabkan kenaikan maupun penurunan temperatur tubuh. Temperatur tubuh bervariasi pada kerja fisik dan pada temperatur lingkungan yang ekstrem (Guyton dan Hall 1997). Berdasarkan hubungan antara temperatur tubuh dan lingkungan sekitar, hewan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yakni hewan berdarah dingin atau poikilotermik dan hewan berdarah panas atau homeotermik (Sevendsen dan Carter 1993). Kelinci merupakan hewan mamalia sehingga merupakan hewan berdarah panas atau homeothermic. Hewan homoiterm mempunyai variasi temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam dan faktor makanan yang dikonsumsi (Swenson 1997).

Kelinci memiliki temperatur tubuh mulai 38,5 - 39,5 oC (OMalley 2005). Temperatur ini dipertahankan dengan cara pembakaran makanan di dalam tubuhnya serta jika diperlukan kelinci bergerak agar tetap hangat dengan cara menggigil. Cara lain untuk mempertahankan temperatur tubuh ialah dengan menghilangkan panas dalam tubuh yang dapat dilakukan melalui empat metode, yaitu evaporasi, konveksi, radiasi, dan konduksi (Fielding 1992). Temperatur tubuh, diatur hampir seluruhnya oleh mekanisme persarafan umpan balik dan hampir semua mekanisme ini terjadi melalui pusat pengaturan temperatur yang terletak pada hipotalamus (Guyton dan Hall 1997). Kelinci sangat sensitif terhadap panas, sehingga kandangnya harus bertemperatur 15-21 oC karena

temperatur yang tinggi dapat menghalangi pemasukan air dan panting, yang dapat mempercepat dehidrasi dan menjadi fatal (OMalley 2005). Stress akibat panas tidak akan terjadi jika temperatur dapat dipertahankan (Fielding 1992). Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan kelinci mencari tempat yang teduh untuk beristirahat pada liang/galiannya atau berbaring untuk mengurangi luas area permukaannya. Kelinci lebih suka berada dibawah tanah galiannya yang kelembabannya normal, karena mereka sensitif terhadap kelembaban rendah namun pada kelembaban yang tinggi tidak menjadi masalah baginya. Telinganya yang panjang juga penting dalam menyebarkan panas, pendinginan telinga secara langsung menyebabkan penurunan temperatur tubuh dan juga sebaliknya ( O'Malley 2005).

2.1.4. Sistem Kardiovaskuler Sistem sirkulasi darah terdiri atas jantung, pembuluh darah, dan saluran limfa. Jantung merupakan organ pemompa yang besar yang memelihara peredaran melalui seluruh tubuh, pembuluh darah merupakan jalan lalu lintas lewatnya darah, sedangkan saluran limfa berfungsi mengumpulkan, menyaring, dan menyalurkan kembali ke dalam darah yang dikeluarkan melalui dinding kapiler halus untuk membersihkan jaringan (Pearce 2006). Prinsip mendasar dari sirkulasi adalah kemampuan setiap jaringan untuk mengendalikan aliran darah lokalnya sendiri sesuai dengan kebutuhan metaboliknya. Selanjutnya, karena kebutuhan aliran darah berubah, aliran akan mengikuti perubahan tersebut (Guyton dan Hall

1997). Kekuatan darah masuk ke dalam aorta selama kontraksi tidak hanya menggerakkan darah dalam pembuluh ke depan, tetapi juga menyusun suatu gelombang tekanan yang berjalan sepanjang arteri. Gelombang tekanan mendorong dinding arteri seperti ia berjalan dan pendorongnya teraba sebagai jantung. Kelinci memiliki jantung yang bervariasi antara 180-250 denyut per menit (OMalley 2005). Kecepatan jantung dalam keadaan sehat berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh makanan, umur dan emosi. Irama dan denyut sesuai dengan siklus jantung (Pearce 2006).

2.1.5. Sistem Reproduksi Reproduksi merupakan suatu proses yang kompleks, karena pengaturan fungsinya tidak hanya dipengaruhi oleh organ reproduksi, tapi juga dipengaruhi oleh hormon (Fielding 1992). Organ reproduksi dapat dibagi menjadi dua, yakni organ eksterna dan organ interna. Organ eksterna ialah vulva dan organ interna yang terletak didalam pelvis ialah uterus, dua ovarium dan tuba uterina (Fallopian) (Pearce 2006). Siklus reproduksi pada kelinci berbeda dari hewan lain (Dallas 2006). Siklus reproduksi pada semua jenis hewan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Data siklus reproduksi (Dallas 2006).


Spesies Anjing Kucing Kelinci Marmot Mencit Hamster Tikus Pubertas 7-12 bulan 6-10 bulan 3 bulan 4-5 minggu 3-4 minggu 6-10 minggu 6 minggu Oestrus 2 kali setahun Setiap 21 hari Ketika ovulasi 15-16 hari 4-5 hari 4 hari 4-5 hari Kehamilan 63-67 hari 63-65 hari 30-33 hari 60-72 hari 19-21 hari 15-22 hari 20-22 hari

Kelinci merupakan satu diantara hewan mamalia. Diketahui bahwa hewan mamalia memiliki sistem reproduksi yang maju baik dalam mekanisme pembuahan serta pemeliharaannya (Dallas 2006). Kelinci baru mengalami ovulasi pada 9-13 jam sesudah dikawinkan (induced ovulator). Ovulasi merupakan

pematangan folikel De Graaf dan pengeluaran ovum (Pearce 2006).

Kelinci

betina tidak memiliki siklus estrus, tetapi terdapat periode subur selama 4-17 hari yang diselingi oleh masa tidak subur yang sangat singkat (1-2 hari), saat folikelfolikel yang sudah atropi diganti dengan folikel-folikel yang baru. Masa subur ditandai oleh vulva yang bengkak dan merah, serta kesediaan kelinci betina untuk dikawini. Perubahan-perubahan pada vulva tersebut tidak konstan dan tidak merupakan satu-satunya kriteria untuk menentukan masa kawin. Kelinci masih bersedia kawin dalam masa bunting dan laktasi. Oleh karena itu kelinci betina tidak boleh dicampur dengan kelinci jantan sesudah dikawinkan sampai anaknya disapih. Puncak libido timbul kurang lebih pada hari ke 26 dan 39 sesudah melahirkan. Kelinci betina jenis kecil (Indonesia, Belanda dan Polandia) mulai dikawinkan pada umur 4-5 bulan, sedangkan kelinci jenis sedang (yang berasal dari New Zealand dan California) pada umur 5-6 bulan dan kelinci jenis besar (yang berasal dari Flemish dan Checkered) pada umur 6-7 bulan. Kelinci betina mencapai dewasa kelamin lebih awal daripada kelinci jantan yang baru mencapai dewasa kelamin pada umur 6-7 bulan (Malole dan Pramono 1989). Semua proses ini dikontrol oleh banyak substansi yang disebut hormon yang diproduksi didalam kelenjar endokrin didalam tubuh serta organ tubuh (Fielding 1992). Fielding (1992) menambahkan bahwa hormon reproduksi yang utama, tempat produksi dan target organ pada kelinci dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hormon reproduksi yang utama pada kelinci, tempat produksi dan target organ (Fielding 1992)
Hormon Follicle Hormone (FSH) Luteinising hormone (LH) Prolaktin Kelenjar pituitari, Oxytocin Oestrogen Progesteron Jaringan fetal kelenjar pituitari Ovari Ovari (corpora lutea) Testis Uterus dan jaringan mamari Uterus dan jaringan mamari Uterus dan jaringan mamari Uterus dan jaringan mamari Uterus dan jaringan mamari Kelenjar pituitari Ovari atau Testis Stimulating Tempat Produksi Kelenjar pituitari Target Organ Ovari atau Testis

2.1.6. Sistem Pernapasan Tujuan pernapasan adalah untuk menyediakan oksigen bagi jaringan dan membuang karbondioksida (Guyton dan Hall 1997). Menurut Cunningham (2002), sistem pernapasan dengan tujuan menyediakan oksigen untuk mendukung metabolisme jaringan dan membuang karbondioksida. Kelinci memiliki sensor pada setiap nostril sehingga membuat mereka sensitif terhadap sentuhan di daerah tersebut. Terdapat 20-25 tactil vibrissae yang terdapat pada bibir atas. Nostril pada kelinci twitching 20-25 twitches/menit ketika dalam posisi tenang atau istirahat. Os. turbinatio pada kelinci memiliki organ vemeronasal dan epitel olfaktori yang membuat penciuman mereka menjadi tajam. Kelinci memiliki glotis yang kecil dan sering tertutup oleh lidah, oropharynx yang datar serta laringospasmus sehingga akan sulit melakukan intubasi. Kelinci memiliki thorax yang lebih kecil dibandingkan dengan abdomen yang besar. Paru-paru kelinci terbagi menjadi tiga, yaitu cranial, tengah dan caudal. Paru-paru cranial sebelah kiri lebih kecil dari yang kanan karena adanya jantung. Kelinci memiliki pleura yang sangat tipis dan tidak memiliki septum yang membatasi paru-paru menjadi lobulus. Kelinci memiliki frekuensi napas antara 30-60 napas/menit. Pada saat istirahat, kelinci lebih banyak menggunakan otot diafragma dan tidak menggunakan otot intercostalis (OMalley 2005).

2.2. Temu Putih (Curcuma Zedoaria (Berg.)Roscoe) Temu putih (Curcuma Zedoaria (Berg.)Roscoe) termasuk dalam suku Zingiberaceae. Masyarakat umum lebih mengenal temu putih dengan sebutan kunyit putih berserat. Masyarakat Jawa mengenal temu putih sebagai koneng bodas

2.2.1. Karakteristik Temu putih umumnya ditanam sebagai tanaman obat yang tumbuh liar pada tempat-tempat terbuka yang tanahnya lembap. Tanaman ini mirip dengan temulawak, namun dapat dibedakan dari rimpangnya. Temu putih ini banyak ditemukan di Indonesia, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera, Ambon,

hingga Irian serta dibudidayakan di India, Bangladesh, China, Madagaskar, Filipina, dan Malaysia. Daunnya memiliki rasa seperti sereh sehingga bisa digunakan sebagai bumbu. Tanaman Curcuma zedoaria (Berg.)Roscoe dapat mencapai tinggi 2 meter. Satu diantara ciri khas dari spesies ini adalah adanya warna ungu di sepanjang ibu tulang daun. Helaian daun berwarna hijau muda sampai hijau tua dengan punggung daun berwarna pudar dan berkilat. Panjang daun antara 31-75 cm dan lebar daun 7-20 cm (Syukur 2003).

Gambar 2. Tamanan Temu Putih (Sumber: http://www.4.bp.blogspot.com)

Tangkai bunga langsung muncul dari bagian perakaran sebelum munculnya daun dari permukaan tanah. Bunga steril berwarna merah muda dan bagian ujung bunga berwarna lebih tua dengan tangkai berwarna hijau pada permukaan tanah (Syukur 2003). Rimpang induk berbentuk lanset-lonjong, sedangkan rimpang cabang yang berupa akar menggembung pada bagian ujungnya membentuk umbi dengan kulit rimpang berwarna putih. Antara satu rimpang dan rimpang lain cukup liat untuk dipatahkan. Pada ujung-ujung akar terdapat bulatan-bulatan atau bintil-bintil yang

merupakan cadangan air (Gambar 3). Kulit rimpang berwarna putih. Apabila diiris, daging rimpangnya berwarna putih kearah kuning muda dan rasanya pahit (Syukur 2003).

Gambar 3. Rimpang tanaman temu putih yang sering digunakan dalam pengobatan. Sumber: http://www.asyifaherbal.com)

Rimpangnya mengandung kurkuminoid (diarilheptanoid), minyak asiri, polisakarida dan golongan lain. Kurkominoid yang telah diketahui meliputi kurkumin, demektosikurkumin, bisdemetoksikurkumin dan 1,7-bis (4hidroksifenil)-1,4,6 heptatrien-3-on. Minyak asiri berupa cairan kental kuning emas yang mengandung monoterpen dan seskuiterpen. Berdasarkan tingkat oksidasinya (Syukur 2003).

Tabel 3. Kandungan Senyawa Seskuiterpen dalam C. Zeodaria ( Syukur 2003)


No 1 2 3 Golongan Bisabolan Elemen Germakran Senyawa Ar-tumeron, -tumeron, Zingiberen, Detertrahidro-ar-tumeron -elemen, Kurzerenon Germakron, Kurdion, Neokurdion, Furanodien, Dehidrokurdion 13hidroksigermakron, Kurzeon 4 5 Eudesman Guaian Kurkolonal Guaidiol, Aerugidiol, Kurkumenollso-kurkumenol, Kurkumenon, Zedoarondion, Prokurkumenol, Epiprokurkumenol ,Zedoarol, Zedoaren, Kurkumol 6 Spirolakton Kurkumanolid A, Kurkumanolid B

Monoterpen C. zeodaria terdiri atas monoterpen hidrokarbon 1-pinen, Dkamfen, monoterpen alkohol, D-borneol, monoterpen keton, D-kamfor,

monoterpen oksida, dan sineol. Seskuiterpen dalam C. Zeodaria terdiri atas berbagai golongan, seperti bisabolan, elemen, germakran, eudesman, guaian, dan golongan, spirolakton (Tabel 3). Kandungan lainnya meliputi etil-p-

metoksisinamat, 3,7- dimettilin, dan 5-asam karboksilat. Simplisia adalah bagian tanaman obat berupa daun, batang, akar, atau rimpang yang dikeringkan (Syukur 2003).

2.2.2. Sifat dan Khasiat Rimpang temu putih rasanya sangat pahit, pedas, sifatnya

menghangatkan, berbau aromatik, dengan afinitas ke organ hati dan limpa. Temu putih termasuk tanaman obat melancarkan sirkulasi dan menghilangkan nyeri. Rimpang digunakan untuk pengobatan nyeri sewaktu haid, tidak datang haid karena tersumbatnya aliran darah, pembersih darah setelah melahirkan, memulihkan ganguan pencernaan makanan seperti rasa mual dan kembung karena banyak gas, sakit perut, pembesaran hati (hepatomegali) dan limpa

(splenomegali), luka, memar, sakit gigi, radang tenggorok, batuk, serta meningkatkan efektivitas pengobatan radiasi, dan kemoterapi pada penyakit kanker (Dalimartha 2005).

2.3. Tumor Kadang-kadang kita dapat menemukan jaringan, organ, atau bagian tubuh yang lebih kecil atau lebih besar daripada normal. Keadaan ini dapat timbul melalui dua macam cara, yaitu organ atau jaringan tersebut tidak pernah tumbuh sampai keukuran normal, atau organ tersebut dapat mencapai ukuran normal dan kemudian mengecil ( Price dan Wilson 2006). Tumor atau neoplasma adalah pembengkakan didalam tubuh yang disebabkan oleh perkembangbiakan sel-sel secara abnormal (Wijayakusuma 2006). Menurut Tjarta (1973) neoplasma ialah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus menerus secara tidak terbatas, tidak berkoordinasi dengan jaringan sekitarnya, dan tidak berguna bagi tubuh. Seperti diketahui, sel mempunyai dua tugas utama, yaitu melakukan fungsinya dan memperbanyak diri (Tjarta 1973). Semua fungsi tersebut dikontrol secara ketat pada kondisi normal (Price dan Wilson 2006). Bekerjanya suatu sel bergantung pada aktivitas sitoplasma, sedangkan berkembang biak bergantung pada aktivitas intinya. Terjadinya perubahan sifat pada sel sehingga sebagian besar energi digunakan untuk berkembang biak menyebabkan terjadinya tumor (Tjarta 1973). Berdasarkan jaringan asalnya, tumor dapat terbentuk dari jaringan epitel, mesenkim (jaringan fibrosa, tulang, tulang rawan, dan pembuluh darah), neuroektodermal, hemopoietik serta sel-sel limfoid, dan sel-sel kecambah (Macfarlane et al 2000). Tumor dapat bersifat jinak maupun ganas. Tumor yang bersifat jinak tidak menyebar ke jaringan lain, sedangkan yang bersifat ganas disebut kanker menyerang seluruh tubuh dan tidak terkendali serta berkembang dengan cepat (Wijayakusuma 2006). Sel-sel tumor ganas yang berproliferasi mempunyai kemampuan untuk melepaskan diri dari tumor induk (tumor primer) (Price dan Wilson 2006). Sel-sel tersebut kemudian merusak dan menyerang jaringan tubuh melalui aliran darah dan pembuluh getah bening sehingga dapat tumbuh dan berkembang di tempat baru. Organ yang berpotensi terkena antara lain paru-paru, mammari, sistem reproduksi (uterus, serviks, ovarium pada wanita serta prostat pada pria), usus besar (kolon dan rektum), lambung, kulit, nasofaring, kelenjar

getah bening, hati, otak, darah dan rongga mulut (Wijayakusuma 2006). Tumor primer paling sering berasal dari paru-paru dan mammari (Price dan Wilson 2006). Tumor dirangsang oleh perubahan satu diantara banyak gen yang mengatur pertumbuhan dan/atau pembedaan sel (mutasi dalam DNA sel). Mutasi yang mengaktifkan onkogen atau menekan gen penahan tumor yang akhirnya dapat menyebabkan tumor. Sel memiliki mekanisme yang memperbaiki DNA dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel untuk menghancurkan dirinya melalui apoptosis bila DNA rusak terlalu parah. Mutasi yang menahan gen untuk mekanisme ini dapat juga menyebabkan kanker. Sebuah mutasi dalam satu onkogen atau satu gen penahan tumor biasanya tidak cukup menyebabkan terjadinya tumor (Hamdani 1999). Tumor tenang adalah pertumbuhan yang disebabkan oleh perbanyakan sel yang tidak semestinya terbatas dan tidak menyerang jaringan sekitarnya, sebaliknya tumor ganas menyebar secara lokal dan mungkin bersifat metastasis, yaitu dapat menyebar keseluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah atau sistem limfe. Tumor ganas seperti itu sering disebut sebagai kanker. Tumor ganas dari sel epitel dikenal sebagai karsinoma, yang berasal dari sel mesenkim disebut sarkoma dan yang berasal dari lemak disebut linfoma jika berasal dari leukosit disebut leukemia. Proses perkembangan tumor disebut dengan onkogenesis, alih kata untuk tumorgenesis dan karsinogenesis. Berdasarkan histogenesisnya ada karsinoma berasal dari duktus ( karsinoma ductus) dan berasal dari duktulus terminal/ lobulus (karsinoma lobular). Berdasarkan topografinya dibagi menjadi jenis invasif dan noninvasif (Hamdani 1999). Pembentukan tumor terjadi sebagai proses bertahap majemuk. Tahap-tahap yang paling penting adalah inisiasi tumor (dengan perubahan DNA), periode laten (dengan perubahan morfologi sel), dan manifestasi tumor (dengan invasi dan metastase) (Schunack et al 1990). Faktor risiko pemicu tumor dibagi menjadi dua, yakni faktor pemicu genetis (keturunan) dan faktor lingkungan. Sebagian besar faktor pemicunya adalah interaksi antara faktor lingkungan hidup dan lingkungan kerja yang disebut sebagai zat karsinogenik. Karsinogen dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian yakni karsinogen kimia (nikotin dan tar dari rokok, zat aditif (pengawet dan

pewarna) makanan, nitosamin, asbes, arsen, batu bara, merkuri, dan alkohol), karsinogen fisika (sinar X, sinar ultraviolet, dan radiasi dari bom atom) serta karsinogen biologi, seperti infeksi virus (papiloma dan herpes yang merupakan satu diantara faktor risiko kanker serviks) dan jamur (misalnya jamur Aspergillus flavus yang merupakan satu diantara penyebab kanker hati (Wijayakusuma 2006).

2.4. Methilnitrosourea (MNU) Satu diantara penyebab penyakit kanker adalah serangan senyawa kimia terhadap DNA. Senyawa kimia ini ada yang dalam keadaan fisiologiss dapat membentuk senyawa intermediate yang langsung menyerang tempat-tempat kaya elektron pada DNA, tetapi ada juga senyawa kimia yang teraktivasi justru karena mengalami metabolisme normal didalam tubuh. Senyawa intermediate yang terbentuk biasanya berupa ion karbanium atau ion nitronium yang bersifat sangat elektrofilik. Senyawa ini tidak stabil dan segera menyerang DNA hingga terjadi alkilasi dan memicu perkembangan tumor dan kanker. Alkylating agent yang menyerang DNA ini akan menyebabkan kesalahan pasang (mistmatch) basa DNA, sehingga pada waktu replikasi akan terjadi perubahan urutan basa DNA (mutasi). Terjadinya mutasi pada tempat tertentu didalam DNA akan memicu perkembangan neoplastik yang akan menghasilkan tumor atau kanker. N-metil-Nnitrosourea (MNU) sebagai alkylating agent karena MNU adalah direct-acting alkylating agent yang akan mengalkilasi DNA tanpa membutuhkan aktivasi

metabolisme (Lu SJ dan Archer 1992).