Anda di halaman 1dari 45

BUKU PENUNTUN PRAKTIKUM ANALISA FLUIDA RESERVOIR

DISUSUN OLEH:

RONI ALIDA, ST

LABORATORIUM ANALISA FLUIDA RESERVOIR PRODI TEKNIK EKSPLORASI PRODUKSI MIGAS POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allas SWT atas tersusunnya Buku Penuntun Praktikum Analisa Fluida Reservoir ini yang merupakan panduan untuk memenuhi kebutuhan bahan ajar mata kuliah Praktikum Analisa Fluida Reservoir di Program Studi Teknik Eksplorasi Produksi Migas Politeknik Akamigas Palembang. Buku penuntun ini pada dasarnya dibuat untuk memberikan pemahaman sekaligus penerapan kepada mahasiswa pada saat di lapangan guna mendasari bekal keilmuan yang berkaitan dengan fluida reservoir. Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada seluruh pihak yang telah memberikan sumbangsihnya sehingga Buku Penuntun Praktikum ini dapat terselesaikan. Kami menyadari bahwa buku petunjuk praktikum ini masih sangat sederhana sehingga masih banyak yang perlu diperbaharui lagi, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaan Buku ini kedepannya. Akhirnya kami berharap semoga Penuntun Praktikum ini dapat banyak membantu dan bermanfaat bagi praktikan pada khususnya dan mahasiswa Prodi Teknik Eksplorasi Produksi Migas pada .

Palembang, Maret 2013

Penyusun

PETUNJUK DAN TATA TERTIB PRAKTIKUM ANALISA FLUIDA RESERVOIR

PERATURAN DAN TATA TERTIB YANG HARUS DITAATI Laboratorium berfungsi sebagai tempat untuk melakukan percobaan, oleh karena itu mahasiswa atau praktikan harus mentaati ketentuan-ketentuan berikut : 1. Menjaga sopan santun di laboratorium 2. Praktikan diwajibkan memakai baju lab & pelindung diri. 3. Praktikan dilarang merokok, makan dan minum di dalam laboratorium. 4. Praktikan dilarang membawa barang-barang yang tidak diperlukan di dalam laboratorium seperti barang-barang berharga, senjata tajam, senjata api dan sebagainya. 5. Praktikan diwajibkan datang untuk melakukan percobaan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. 6. Jadwal praktikum dan percobaan yang akan dilakukan dapat dilihat pada papan pengumuman, jadwal praktikum diatur dan disusun untuk satu semester. 7. Apabila praktikan tidak dapat hadir karena sesuatu dan lain hal, maka praktikum harus memberitahu atau meminta izin kepada asisten pengawas atau petugas labor atas sepengetahuan kepala laboratorium. 8. Praktikan yang tidak hadir pada saat praktikum yang dilaksanakan sebelumnya dan telah memberitahu kepada asisten atau petugas labor, maka diharuskan membawa keterangan yang benar untuk melaksanakan praktikum susulan, antara lain : a. Keterangan dari ketua prodi yang menyatakan bahwa praktikan tersebut berhalangan hadir pada saat itu b. Keterangan dokter bagi praktikan yang sakit 9. Praktikan harus datang ke laboratorium paling lambat 15 menit sebelum percobaan dimulai dan bagi yang terlambat 15 menit dengan keterangan yang tidak jelas maka dianggap tidak hadir dan tidak boleh mengikuti praktikum, sehingga nilai praktikum pada hari itu dianggap nol. 10. Pelajarilah penuntun praktikum, buatlah persiapan sebelum melakukan percobaan sehingga benar benar siap melaksanakan praktikum di laboratorium.

11. Praktikan tidak diperkenankan berkeliaran pada saat percobaan dilaksanakan. 12. Praktikan dilarang membawa arsip laporan ke dalam laboratorium sewaktu melakukan praktikum. 13. Dalam melakukan praktikum, praktikan akan dibimbing oleh asisten yang akan memberikan petunjuk melaksanakan percobaan, merangkai peralatan, menggunakan alat dan cara membuat laporan yang baik dan benar. 14. Praktikan harus membawa kartu praktikum dan diserahkan kepada asisten setiap melakukan praktikum dan menyerahkan laporan. 15. Praktikan yang kehilangan kartu praktikum harus melaporkannya kepada asisten pengawas sesegera mungkin. 16. Jagalah dengan hati-hati setiap alat yang dipinjam selama percobaan. Untuk meminjam alat disediakan bon peminjaman dan peralatan tersebut nantinya setelah selesai harus diserahkan kembali. 17. Laporkan kepada asisten apabla ada kerusakan atau kehilangan alat-alat dan setiap kerusakan dan kehilangan alat yang disebabkan keteledoran praktikan harus diganti oleh praktikan ybs. 18. Setelah melakukan percobaan, mintalah kembali kartu praktikum yang telah diparaf atau ditanda tangani oleh asiten yang membimbing anda pd hari itu. 19. Setiap praktikan setelah selesai melakukan percobaan, masing-masing harus membuat dan melaporkan hasil pengamatan yang diperoleh dengan meminta pengesahan dan persetujuan dari asisten ybs. 20. Praktikan yang tidak mengikuti praktikum lebih dari dua kali dengan keterangan yang tidak jelas, maka praktikan tersebut dianggap gagall melakukan praktikum (dengan nilai D).

LAPORAN-LAPORAN 1. Setiap praktikan harus membuat laporan praktikum sesuai dengan judul percobaan yang akan dilakukan, yang terdiri dari : I. Laporan Pendahuluan, dibuat sebelum melakukan praktikum. II. Laporan Akhir, setelah melakukan praktikum. 2. Laporan ditulis tangan dengan rapi, dengan menggunakan kertas A4 (min 70 gram) dengan margin kertas : atas = 3, bawah = 3, kiri= 4 dan kanan= 3.

3. Format Laporan Pendahuluan adalah sebagai berikut : I. NOMOR PERCOBAAN II. JUDUL PERCOBAAN III. TUJUAN PERCOBAAN IV. ALAT DAN BAHAN SERTA FUNGSI V. DASAR TEORI (Minimal 5 lembar) VI. DATA HASIL PENGAMATAN (tabel kosong) VII. DAFTAR PUSTAKA 4. Format Laporan Akhir, sebagai berikut : I. NOMOR PERCOBAAN II. JUDUL PERCOBAAN III. TUJUAN PERCOBAAN IV. ALAT DAN BAHAN SERTA FUNGSI V. DASAR TEORI (Minimal 5 lembar) VI. DATA HASIL PENGAMATAN (yang telah terisi datanya) VII. PENGOLAHAN DATA VIII. PEMBAHASAN/ ANALISA HASIL PERCOBAAN IX. KESIMPULAN DAN SARAN X. SUMBER KESALAHAN XI. DAFTAR PUSTAKA XII. GAMBAR ALAT & RANGKAIAN PERCOBAAN. XIII. LAMPIRAN TUGAS (Jika Ada) 5. Laporan Akhir harus dikumpulkan sendiri oleh praktikan ybs, sewaktu pelaksanaan percobaan selanjutnya. 6. Praktikan yang terlambat mengumpulkan laporannya maka nilainya akan dikurangi 15% sehari maksimal 3 hari dan selebihnya tidak diterima. 7. Praktikan yang tidak membuat laporan akhir maka pecobaannya dianggap batal. 8. Laporan yang telah dikumpulkan akan dikoreksi oleh asisten yang membimbing anda pada saat percobaan, apabila diperlukan perbaikan maka laporan tersebut akan dikembalikan pada praktikan yang bersangkutan untuk diperbaiki dan dikumpulkan kembali bersaman dengan pengumpulan laporan praktikum berikutnya.

Demikian peraturan dan ketentuan ini dibuat untuk kelancaran dalam pelaksanaan praktikum Geofisika Eksplorasi yang dilaksanakan di Lab. Geofisika Prodi. Teknik Eksplorasi Produksi Migas Politeknik Akamigas Palembang. Apabila terjadi hal-hal yang belum tercantum dalam peraturan dan ketentuan ini, maka keputusan akan diambil berdasarkan kebijaksanaan asisten dengan sepengetahuan kepala laboratorium.

Palembang, Maret 2013 Kepala Laboratorium Analisa Fluida Reservoir Prodi. Teknik Eksplorasi Produksi Migas Politeknik Akamigas Palembang

Roni Alida, ST

PERSENTASE PENILAIAN

Penilaian Akhir Praktikum didasarkan atas kehadiran (absensi), responsi, tugas laporan, Ujian Praktikum & Ujian Akhir Semester dengan bobot penilaian adalah sbb :

Absensi kehadiran Responsi (Tes Berkala) Tugas Laporan Ujian Praktikum (UTS) Ujian Akhir Semester (UAS)

: 5% : 5% : 20 % : 30 % : 40 %

Persentase ini didasarkan pada acuan yang telah disepakati di Institusi Politeknik Akamigas Palembang.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .......................................................................................................... Daftar Isi ................................................................................................................... Petunjuk & Tata Tertib ................................................................. ........................... Persentase Penilaian ................................................................................................ Pendahuluan ............................................................................................................

Penentuan Densitas, Specific Gravity dan 0API Gravity .................................. Penentuan Kandungan Air Dan Endapan Sedimen ( Bs & W ) .................... Analisa Kimiawi Air Formasi ....................................................................... Penentuan Viscositas ..................................................................................... Penyulingan Minyak Mentah ..................................................................... Penentuan Flash Pint dan Fire Point .......................................................... Penentuan Cloud Point, Cold Point dan Pour Point ..................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG Pada zaman sekarang ini, minyak merupakan bahan bakar yang sangat

penting. Kita ketahui, hampir semua alat transportasi di dunia, memakai bahan bakar minyak. Pada saat minyak ditemukan tidak langsung berbentuk seperti fraksi solar, kerosin, minyak rem dan lain lainnya. Minyak mentah yang ditemukan harus melalui berbagai proses hingga menghasilkan jenis jenis seperti solar, kerosin, bensin, dan lain lain. Praktikum Analisa Fluida Reservoir dilakukan untuk lebih memahami apa saja sifat fisik fluida yang dapat kita analisa dari data data yang telah kita dapati. Sifat fisik fluida reservoir yang dianalisa pada praktikum kali ini adalah : densitas, viskositas, kompresibilitas, faktor volume formasi minyak, dan kelarutan gas dalam minyak. Selain itu, praktikum Analisa Fluida Reservoir juga dapat mempermudah mahasiswa memahami mata kuliah yang berkaitan dengan praktikum serta dapat dijadikan bekal setelah lulus kuliah nantinya. Ilmu Analisa Fluida Reservoir sendiri sangatlah berkaitan dengan ilmu ilmu perminyakan lainnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa ilmu Analisa Fluida Reservoir merupakan dasar dari ilmu ilmu perminyakan lainnya. Di lain sisi, data data yang didapat dari informasi ilmu Analisa Fluida Reservoir sangat berguna sebagai pembanding di dalam aplikasinya di dunia perminyakan. Tidak hanya 5 sifat fisik fluida yang dapat kita pelajari di praktikum ini akan tetapi juga memuat mengenai apa saja yang kita peroleh dari proses eksplorasi dan produksi baik yang dapat dimanfaatkan, maupun yang dapat merugikan dalam proses eksplorasi produksi itu sendiri. Selain itu dalam praktikum ini kita juga dapat mengetahui bagaimana akibat dari banyaknya fluida selain minyak yang diproduksi dan material lainnya seperti watercut, air formasi, endapan, dan lain lainnya.

Praktikum Analisa Fluida Reservoir yang dilakukan ini adalah salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa Semester II Program Studi Teknik Eksplorasi Produksi Migas Politeknik Akamigas Palembang dan terdiri dari 7 macam percobaan yaitu : 1. Penentuan Densitas, Specific Gravity dan 0API 2. Penentuan Kandungan Air dan Endapan (BS & W) 3. Analisa Kimiawi Air Formasi 4. Penentuan Viskositas 5. Penyulingan Minyak Mentah 6. Penentuan Flash Pint dan Fire Point 7. Penentuan Cloud Point, Cold Point dan Pour Point

BAB II PENENTUAN DENSITAS, SPECIFIC GRAVITY DAN 0API GRAVITY

2.1. TUJUAN PERCOBAAN 1. 2. 3. Mengukur Densitas fluida pada berbagai temperatur. Mengukur specific gravity fluida. Menentukan busarnya OAPI gravity sample fluida.

2.2. TEORI DASAR Densitas minyak adalah massa persatuan volume pada suhu tertentu, atau dikenal juga dengan perbandingan massa minyak dengan volume pada kondisi tekanan dan temperatur tertentu. Selain densitas, salah satu sifat minyak bumi yang penting dan mempunyai nilai dalam perdagangan adalah specific gravity (gravitasi jenis). Specific gravity minyak adalah perbandingan anatara berat jenis minyak pada temperatur standar dengan berat jenis air dengan temperature yang sama da di tulis :

SG =

pada tekanan dan temperatur standar

Di Indonesi biasanya berat jenis dinyatakan dalam fraksi, misalnya 0.5 : 0,1 untuk minyak bumi suhu yang digunakan adalah 15O C atau 60O F. Dalam dunia perdagangan terutama yang dikuasai oleh perusahaan Amerika, gravitasi jenis atau lebih sering disingkat dengan SG ini dinyatakan dalam API grafity dan juga API ( American Petroleum Institute ) yang sangat mirip dengan Baume gravity adalah suatu besaran yang merupakan fungsi dinyatakan dengan persamaan : dari berat jenis yang dapat

API =

131.5

=
SG =

SG =

API gravity minyak bumi sering menunjukan kualitas dari minyak bumi tersebut. Makin kecil SG-nya atau makin tinggi OAPI-nya, maka minyak bumi itu makin berharga karena lebih banyak mengandung bensin. Sebaliknya makin rendah OAPI atau makin besar SG-nya, maka mutu minyak itu kurang baik karena lebih banyak mengandung lilin. Perhatikan tabel dibawah ini:
O

Componen Minyak Ringan Minyak Berat Tar

API

Specific Gravity < 0.934 0.934-1.000 >1.000

>20 10-20 <10 Tabel 2.1 Componen, API, dan SG

Namun dari minyak bumi berat pun dapat dibuat fraksi bensin lebih banyak dengan sistem Cracking dalam penyulingan. Walaupun demikian tentu proses ini memerlukan ongkos atau biaya yang lebih besar lagi. Selain API juga dapat dipakai Baume yaitu :

Baume =

130

Sistem Baume tidak banyak digunakan didalam industry perminyakan. Perbandingan antara skala yang menggunakan specific gravity dengan OAPI dan
O

Baume dapat dilihat pada table. Perlu dicatat bahwa yang di maksud dengan

specific gravity adalah specific gravity keseluruhan minyak mentah tersebut, jadi semua fraksi. Selain itu specific gravity minyak bumi juga tergantung pada

temperature, sehingga bila temperaturnya tinggi maka makin rendah specific gravity-nya.

2.3. ALAT DAN BAHAN PERCOBAAN Alat : Gelas ukur 100 ml Gelas ukur 500 ml Gelas ukur 10 ml Gelas ukur 25 ml Picnometer 50 ml Pipet tetes Hydrometer Labu volumetric 250 ml Thermometer Bahan : Gliserin 25% Gliserin 50% Gliserin 75% Air formasi Crude oil 250 ml Minyak rem ( heavy duty)

2.4. GAMBAR ALAT

Gelas Ukur

Picnometer

Picnometer

Hidrometer

Labu volumetric

Thermometer

Gambar 2.1 Peralatan percobaan I

2.5. PROSEDUR PERCOBAAN A. Picnometer 1. Timbang terlebih dahulu picnometer kosong, kemudian isi picnometer dengan crude oil. 2. Timbang kembali picnometer yang telah berisi crude oil, pastikan crude oil yang diuji telah keluar dari lid ( tutup yang memilki rongga untuk mengalirkan fluida ). 3. Selisih berat picnometer ini adalah massa crude oil. 4. Volume picnometer dapat dilihat dari table yang ada pada alat atau dengan menuangkan crude oil kedalam gelas ukur untuk mengetahui volume crude oil yang diuji.

5. Densitas crude oil dapat diperoleh dari perbandingan massa crude oil terhadap volumenya. 6. Gunakan untuk fluda seperti Gliserin, Air formasi, Minyak rem B. Penggunaan Hidrometer Jar a. Mengambil air formasi 500 ml b. Masukan kedalam gelas ukur 500 ml c. Masukan hydrometer mulai dari harga yang terendah (200API 350API ) d. Masukan thermometer kedalamnya e. Baca harga berat jenis dan temperaturnya pada Hidrometer dibatas Fluida. f. Dari harga pembacaan, gunakan table untuk mendapatkan gravity API sebenarnya. g. Gunakan pada fluida lainnya seperti Gliserin, crude oil dan minyak rem.

2.6. TUGAS 1. Diketahui suatu fluida AK#1 dengan = 0,880 gr/ml, konversikan ke : a. PPG (Pound Per Galon) b. lb/ft3 (Pound Per Cubic feet) c. lb/bbl (Pound Per Barel) 2. Buatlah grafik perbandingan antara fluida gliserin 25%, 50%, 75% dengan densitas yang diperoleh, kemudian jelaskan. 3. 4. Gambarkan dan jelaskan 5 petroleum system ! Mana yang lebih cepat melarutkan crude oil, toluena atau bensin? jelaskan dan buat rumus kimia bensin dan toluena ! 5. Apa hubungan : a. b. c. SG dengan temperatur dengan
0

API dengan flash point

BAB III PENENTUAN KANDUNGAN AIR DAN ENDAPAN SEDIMEN ( BS & W )

3.1. TUJUAN PERCOBAAN Untuk menentukan kadar air dan endapan dari crude oil dengan menggunakan BS & W centrifuge.

3.2. TEORI DASAR Dalam suatu proses produksi, air dan padatan padatan yang terbawa atau ikut terproduksi bersama minyak, harus dipisahkan. Air yang terproduksi dapat menggunakan proses pretinary. Sedangkan padatan yang ikut terproduksi biasanya adalah pasir dan serpihan, itu dapat mengganggu alat produksi. Hal ini disebabkan oleh karena batuan yang unconsolidate dan porous. Butir butir ini sedemikian kecilnya sehingga dapat lolos dan saringan dan mengendap dibawah sumur. Untuk pemisahan zat zat padat dari minyak berat yang penguapannya rendah atau kecil sehingga fraksi minyak yang hilang kecil atau sedikit digunakan metode centrifuge. Pemisahan minyak dari air dan padatan pada waktu produksi mempunyai maksud tertentu : 1. Mencegah korosi 2. Mencegah erosi 3. Mencegah terbentuknya scale Ada dua macam centrifuge yang digunakan dalam industri perminyakan yaitu shaples supercentrifuge dan de laval separotor. Penggunaan alat ini terutama untuk ekstrasi padatan padatan dalam minyak, di kilang. Alat ini juga digunakan untuk emulsi minyak. Dengan metode centrifuge ini, air yang densitasnya lebih besar atau lebih tinggi berada di atas sedangkan minyak yang densitasnya lebih rendah berada dibawahnya, pasir dan padatan yang lebih besar akan tertinggal dalam centrifuge.

Centrifuge ini mempunyai kelebihan, antara lain : a. Waktu yang diperlukan untuk memisahkan air dan minyak serta endapan lain lebih singkat dari pada Dean and Stark method b. Pemindahan alat sangat mudah dilakuka c. Penguapan yang terjadi sangat kecil karena yang dipakai adalah sistem tertutup d. Methode yang dipakai ini sangat fleksibel didalam penggunaan produksi yang berubah hanya mengurangi dan menambahkan unitnya. Pada metode centrifuge kita dapat melihat apa saja yang terkandung atau tercampur dalam crude oil tersebut. Diantaranya yaitu air, sedimen dan endapan. Adapun sedimen dan endapan yang teramati dapat berbentuk seperti pasir atau lumpur. Dalam percobaan, memungkinkan kita untuk mendapati water cut. Adapun % water cut dalam setiap volume dapat kita cari manggunakan rumus :

% water cut =

x 100%

Setelah mendapati % water cut, kita juga bisa mencari % oil cut, berikut adalah rumus % oil cut :

% vol. Oil cut = % vol. Total - % water cut

Untuk % water cut sendiri memiliki batas, yaitu % max dari water cut yaitu 0,2 %. Setiap dibawah 0,2 % maka crude oil layak dimasukkan / dikirim ke tanki dg terlebih dahulu melalui beberapa tes untuk memisahkan air dengan pasir (apabila water cut terdapat pasir). Sedangkan untuk water cut yang lebih besar dari 0,2 % maka perlu dilakukan pemisahan ulang lagi. Adapun ketetapan lain yaitu, semakin tinggi viskositas, maka endapan akan semakin banyak. Selain demulsifier yang berguna untuk memisahkan minyak dari air, kita juga bisa reverse yang berfungsi untuk memisahkan air dan minyak.

3.3. ALAT DAN BAHAN PERCOBAAN Alat : Gelas sentrifugal Gelas ukur 250 ml Gelas ukur 50 ml Gelas ukur 25 ml Gelas kimia 100 ml Corong Pipet tetes Bahan : Crude oil 500 ml Air formasi Demulsifier

3.4. GAMBAR ALAT

Gelas Ukur

Gelas sentrifugal

Pipet Tetes Gelas Kimia

Corong

Mesin BS & W

Gambar 3.1 Peralatan percobaan II

3.5. PROSEDUR PERCOBAAN A.1. Pengaruh agitasi terhadap kestabilan emulsi Siapkan 60 ml minyak mentah yang belum dipisahkan dengan air, masukkan kedalam gelas kimia. Siapkan 40 ml air formasi. Aduk minyak mentah dengan mixer perlahan lahan, masukkan air formasi perlahan lahan juga dan kocok dengan mixer pada 250 RPM selama 3 menit. Pengocok harus konstan. Kemudian masukkan kedalam gelas ukur. Amati pemisahan air dari minyak setiap selang waktu 2 menit. Selama 40 60 menit. Volume air komulatif Vs waktu dicatat. A.2. Prosedur diatas diulangi untuk putaran 500 RPM A.3. Prosedur diatas diulangi untuk putaran 750 RPM. Bandingkan hasilnya ! Pengaruh ion ion terdapat dalam air formasi terhadap kestabilan emulsi : Prosedur A.2 ( 500 RPM ) diulangi, tetapi air yang digunakan adalah air murni Bandingkan hasilnya dengan hasil A.3

B.

C.

Pemecahan emulsi dengan cara kimia Emulsi dibuat dengan prosedur A.3 ( 750 RPM ) Diamkan selama kira kira 1 menit, 30 tetes demulsifer ditambahkan kemudian. Aduk kembali pada 750 RPM selama 3 menit Masukkan kedalam gelas ukur. Amati tiap selang waktu 0,5 menit selama 40 60 menit.

D.

Pemecahan emulsi dengan cara centrifugal Ulangi percobaan A.3 ( 750 RPM ) Masukkan kedalam gelas centrifugal, putar pada 1500 RPM selama 3 menit Bandingkan hasilnya untuk waktu yang sama dengan metode sebelumnya.

3.6. TUGAS 1. 2. 3. 4. Apakah yang dimaksud dengan demulsifier ? Apa yang dimaksud dengan reverse demulsifier ? Jelaskan metode metode untuk mencegah terjadinya emulsi ! Apa pengaruh viskositas terhadap terjadinya emulsi ?

BAB IV ANALISA KIMIAWI AIR FORMASI

4.1. TUJUAN PERCOBAAN Untuk menentukan besarnya harga indeks stabilitas guna mengetahui tingkat pengendapan perkaratan yang disebabkan oleh air formasi.

4.2. TEORI DASAR Dalam mengeksploitasi minyak dari dalam reservoir, kita tidak hanya mendapati minyak tetapi juga mengandung fluida lainnya. Diantaranya yaitu minyak itu sendiri, gas dan air. Air disini merupakan air formasi. Air formasi disebut pula dengan oil field water atau connate water atau intertitial water yaitu air yang terproduksi bersama sama dengan minyak dan gas, karena adanya gaya dorong dari air ( water drive ) yang mengisi pori pori yang ditinggalkan minyak. Air formasi hampir selalu ditemukan didalam reservoir hidrokarbon. Air formasi diperkirakan berasal dari laut yang ikut terendapkan bersama dengan endapan sekelilingnya. Karena situasi pengendapan batuan reservoir minyak terjadi pada lingkungan pengendapan laut. Air formasi memiliki 2 sifat yaitu asam dan basa. Sifat asam mengakibatkan korosi. Korosi adalah pengkaratan. Hal ini dapat menyebabkan pemproduksian minyak terganggu. Bila air formasi yang bersifat asam tetap dialirkan maka dapat merusak pipa. Hal ini dikarenakan air yang melengket di pipa pipa yang semakin lama semakin megeras dan mengakibatkan pengkaratan. Pengkaratan yang dibiarkan terus menerus lama kelamaan pipa akan bocor dan minyak akan meluber kemana mana. Sehingga mengurangi hasil produksi minyak. Sedangkan sifat air formasi yang basa, mengakibatkan terjadinya endapan. Endapan dapat berbentuk pasir dan sedimen. Endapan dapat dihancurkan menggunakan demulsifier. Endapan sendiri dapat mengakibatkan merusak produksi minyak yang dihasilkan. Dalam artian, minyak yang mengandung endapan akan memperburuk minyak yang dihasilkan. Adapun kandungan utama

dalam air formasi ini adalah unsur K (kalium), Na (Natrium) dan Cl (Chlor) dijumpai dalam jumlah yang sangat banyak Keberadaan air formasi akan menimbulkan gangguan pada proses produktifitas sumur, tetapi walau demikian keberadaan air formasi juga mempunyai kegunaan cukup penting, antara lain : 1. Untuk mengetahui penyebab korosi pada peralatan produksi suatu sumur. 2. 3. Untuk mengetahui adanya scale formation. Untuk dapat menentukan sifat lapisan dan adanya suatu kandungan yodium dan barium yang cukup besar dan dapat digunakan untuk mengetahui adanya reservoir minyak yang cukup besar. Adapun kesulitan yang ditimbulkan karena adanya air formasi adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Adanya korosi Adanya solid deposit Adanya scale formation Adanya emulsi Adanya kerusakan formasi

4.3. ALAT DAN BAHAN PERCOBAAN Alat : Gelas ukur 10 ml, 25 ml, 100 ml dan 500 ml Gelas kimia 100 ml, 250 ml dan 500 ml Labu buret Corong Erlenmeyer Statif Ph meter Pipet tetes

Bahan : NaOH Air formasi Metyl Orange Phenolptaline K2CrO4 AgNO3 H2SO4 Larutan buffer pH 10 + indikator Larutan buffer calver + tepung indikator calser II

4.4. PROSEDUR PERCOBAAN A. Penentuan pH 1. Dengan menggunakan pH meter dapat langsung menentukan harga pH dari sample. 2. Dengan alat ukur elektrolit, kalibrasi sebelum digunakan dengan cara mengisi botol dengan larutan buffer yang telah diketahui harga pH nya, memasukkan elektroda pada botol yang berisi larutan buffer. Memutar tombol kalibrasi sampai digit menunjukkan harga pH larutan buffer 3. Mencuci botol elektrodanya sebelum digunakan untuk menguji sample dengan air destilasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi.

B. Penentuan alkalinitas Alkali dari suatu cairan bisa dilaporkan sebagai ion , , dan

, dengan mentitrasi sample dengan larutan asam lemah dan larutan indicator. Larutan penunjuk (indicator) yang digunakan dalam penentuan kebasahan dan , adalah phenolptalein (PP),

sedangkan metyl orange (MO) digunakan sebagai indicator dalam penentuan .

Prosedur percobaan 1. Mengambil contoh air pada gelas titrasi sebanyak 1 cc dan menambahkan larutan phenolptalein (PP) sebanyak 2 tetes. 2. Mentitrasi dengan larutan H2SO4 0,02 N sambil digoyang. Warna akan berubah dari pink menjadi jernih. Mencatat jumlah larutan asam tersebut sebagai Vp 3. Menetesi lagi dengan 2 tetes metil orange, warna akan berubah menjadi orange. 4. Mentitrasi lagi dengan H2SO4 0,02 N sampai warna menjadi merah / merah muda. Mencatat banyaknya larutan asam total yaitu : jumlah asam (2) + asam 4 sebagai Vm. Perhitungan Kebasahan P = Vp / banyaknya cc contoh air Kebasahan M = Vm / banyaknya cc contoh air Penentuan untuk setiap ion dalam mili eqivalen (me/ L) dapat ditentukan dari table berikut :

P=0 P=M 2P = M 2P < M 2P > M

M x 20 0 0 20 x ( M 2P ) 0

0 0 40 x P 40 x P 40 x ( M P )

0 20 x P 0 0 20 x ( 2P M )

Tabel 4.1 Klasifikasi konsentrasi ion

C. Penentuan kalsium dan magnesium Penentuan kesadahn total 1. Mengambil 20 ml air suling dan menambahkan 2 tetes larutan buffer kesadahan total dan 1 tetes indicator, warna harus biru asli (jernih).

2. Menambah 5 ml contoh air, warna akan berubah merah. 3. Mentitrasi dengan larutan kesadahan total hingga warna kembali jernih, mencatat volume pentitrasi. 4. Perhitungan : Bila menggunakan larutan 1 ml = 2 epm Kalsium, me / L = Bila menggunakan larutan 1 ml = 20 epm Kalsium, me / L = Konversi kadar Ca dalam mg / L = Ca, mg / L x 20 Penentuan kasium (Ca) 1. Mengambil 20 ml air suling, menambahkan 2 tetes larutan buffer calver dan 1 tepung indicator calcer II, warna akan berubah menjadi cerah. 2. Menambahkan 5 cc air yang dianalisa. Bila ada Ca larutan yang berubah menjadi kemerahan 3. Mentitrasi dengan larutan kesadahan total 20 epm, warna akan berubah jernih, mencatat volume titrasi. Penentuan magnesium (Mg) Magnesium, me / L = ( kesadahan total, me / L) ( kalsium, me / L) = magnesium, me / L x 12,2

D. Penentuan klorida 1. Mengambil 20 ml air sample, menambahkan 5 tetes K2CrO4, warna akan menjadi bening. 2. Mentitrasi dengan larutan AgNO3 1 ml = 0,001 g Cl sampai warna coklat kemerahan, mencatat volume pentitrasi. 3. Jika menggunakan AgNO3 0,001 N : Kadar Cl, mg / L =

E. Penentuan sodium 1. Mengkonversikan mg / L anion dengan me / L dan menjumlahkan harganya. 2. Mengkonversikan mg / L kation menjadi me / L dan menjumlahkan harganya 3. Kadar sodium (Na), mg / L = (anion kation) x 23

F. Grafik hasil analisa air Hasil analisa air sering dinyatakan dengan bentuk grafik. Kita dapat menandai perbedaan dari contoh air dengan membandingkan dua macam contoh air (atau lebih) dari grafik tersebut

G.

Perhitungan indeks stabilitas CaCO3 Indeks stabilitas ini didapat dengan memplotkan jumlah harga tenaga

ion dengan Ca dan CO3 pada grafik yang telah disediakan, bila indeks berharga positif berarti air sample memiliki gejala membentuk endapan dan apabila bernilai negatif bersifat korosif.

4.5. TUGAS 1. a. Apa yang dimaksud dengan reaksi penetralan / penggaraman ? b. Apakah yang dimaksud dengan reaksi pengenceran ? c. Apakah yang dimaksud dengan titrasi ?

2. a. Apa yang dimaksud dengan scale formation ? b. Apakah yang dimaksud dengan skin formation ?

BAB V PENENTUAN VISCOSITAS

5.1. TUJUAN PERCOBAAN 1. Menentukan konstanta alat viscometer ostwald. 2. Menentukan viscositas fluida dengan Ostwald dan Redwood Viskometer

5.2. TEORI DASAR Viskositas adalah keengganan suatu minyak untuk mengalir. Viskositas terbagi menjadi Viskositas kinematik, merupakan viskositas yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi dan Viskositas dinamik, merupakan viskositas yang tidak dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi. Viskositas dapat diukur dengan alat yang disebut Viskosimeter. Contoh peralatan viskosimeter yang sering digunakan adalah Rolling Ball Viscosimeter, Redwood Viscosimeter dan Ostwald Viscosimeter. Viscositas fluida newtonian yang mengalir melalui pipa diukur berdasarkan persamaan pouseulle :

= Dimana : r t = Viskositas (poise) = Jari jari pipa kapiler (cm) = Waktu pengaliran (detik)

P = Tekanan (dyne / cm) V L = Volume cairan (cc) = Panjang pipa kapiler (cm)

Ada bermacam macam viskometer tipe pipet yang dapat digunakan untuk menentukan viskositas kinematis, baik untuk produk minyak yang tembus pandang (transparan) maupun tidak. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung viskositas kinematis adalah :

kin = C . t

Dimana : kin = Viskositas kinematik (poise) C t = Konstanta alat oswald (centi stroke / detik) = Waktu pengaliran (detik)

Untuk menjamin agar aliran cairan dalam pipa kapiler viskometer laminer, harus digunakan viskometer yang mempunyai ukuran pipa kapiler sedemikian sehingga waktu alir lebih dari 200 detik. Pada dasarnya pengukuran viskometer kinematis produk minyak bumi adalah mengukur waktu alir produk minyak bumi yang mempunyai volume tertentu melalui pipa kapiler viskometer pada suhu tertentu. Selain viskositas kinematik ada lagi yang dikenal dengan viskositas dinamis. Untuk menghitung viskositas dinamis digunakan rumus di bawah ini : din = d . kin

Dimana : d = Specific gravity

Disamping viskometer tipe pipet diatas, viskositas minyak bumi dan produknya pernah ditentukan dengan menggunakan viskosimeter saybolt, namun uji ini sekarang sudah tidak digunakan. Kekentalan saybolt adalah waktu alir dalam detik, yang diperlukan untuk mengalir contoh sebanyak 60 cc dari suatu tabung viskosimeter pada suhu tetap melalui lubang (orifice) yang telah dikalibrasi yang terdapat pada dasar tabung viskosimeter. Tetapi penentuan viskositas absolute secara langsung adalah hal yang sulit, karena beberapa faktor yang sulit dipenuhi. Prinsip pengukuran viskositas adalah mengukur waktu yang diperlukan cairan untuk mengalir dalam jumlah tertentu melewati pipa kapiler dengan panjang tertentu yang disebabkan dorongan gravitasi. Dengan menggunakan alat

yang sama ditentukan waktu yang diperlukan fluida fluida lainnya untuk mengalir melewati pipa kapilernya.

5.3. ALAT DAN BAHAN PERCOBAAN Alat : Gelas Kimia 250 ml Gelas Kimia 100 ml Picnometer 25 ml Redwood Viskosimeter Viskosimeter Oswald Thermometer Bahan : Crude Oil 250 ml Gliserin 25 % Gliserin 50 % Gliserin 75 % Minyak Rem Bensin Table ASTM Stopwatch Bola Karet Pemanas Listrik Corong Gelas Ukur 25 ml

5.4. GAMBAR ALAT

Gelas Kimia

Picnometer

Redwood Viskosimeter

Viskosimeter Oswald

Pemanas Listrik

Stopwatch

Corong

Gelas Ukur

Gambar 5.1 Peralatan percobaan IV

5.5. PROSEDUR PERCOBAAN 5.5.1. Menentukan Viskositas dengan Viscisimeter Oswald A. Menentukan Viskositas Cairan 1. 2. Sebagai larutan standart dipakai air. Siapkan Viskosimeter Oswald yang bersih dan kering. Masukkan 10 cc air yang telah diukur suhunya ke dalam Viskosimeter. Tunggu sampai temperature air dan alat benarbenar sama. 3. Hisap cairan dalam Viskosimeter dengan bola karet sampai cairan berada kira-kira 1 mm diatas batas semula. 4. Ukur waktu pengaliran air untuk melewati batas-batas yang tertera pada batas Oswald. Jika waktu pengaliran lebih kecil dari 200 detik, pilih viskosimeter yang lebih kecil dan ulangi prosedurnya. Catatan : Densitas larutan diukur pada temperature yang sama dengan yang digunakan untuk mengukur waktu pengaliran.

B. Menentukan Densitas Gliserin 1. 2. 3. 4. Buat 40 ml larutan = 25%, 50% dan 75% gliserin dalam air. Timabng picnometer kosong. Isi picnometer dengan larutan dan timbang. Selisih berat picnometer yang berisi larutan dan picnometer kosong adalah berat larutan. 5. Karena volume picnometer diketahui, maka densitas larutan dapat dicari. 6. Densitas masing-masing larutan kemudian dapat diketahui.

5.5.2. Menentukan Viscositas dengan Redwood Viscosimeter 1. Panaskan crude oil 250 ml selama 1 jam denga temperature 110 F lalu dinginkan hingga temperature 90 F. 2. Bersihkan Oil Cup dengan bensin, heater lalu dinginkan. Kemudian masukkan sample kedalam Oil Cupsampai batas. 3. Sample dipanaskan beberapa derajat diatas suhu percobaan, begitu pula water bath. 4. 5. Tempatkan flash dibawah orifice. Bila temperature sample telah konstan pada suhu percobaan, catat waktu pengaliran 50 cc sample dengan cara membuka valvedan menjalankan stopwatch. 6. 7. Matikan stopwatch jika sample mencapai 50 cc. Ulangi percobaan diatas pada temperature 100, 110, 130, 150, 180 dan 210 F.

5.8. TUGAS 1. Selain viscometer oswald, dan viskometer redwood adakah alat yang dapat mengukur viskometer ? 2. Apa yang dimaksud dengan viskositas index dan viskositas absolut ? 3. Dik : d = 4 inc P1 = 10 atm P2 = 25 atm V = 100 ml L = 3 feet t = 2 menit
Dit :?

BAB VI PENYULINGAN MINYAK MENTAH

6.1

TUJUAN PERCOBAAN Menentukan titik didih serta hasil destilasi minyak mentah.

6.2

TEORI DASAR Destilasi berfraksi adalah penyulingan serta pengembunan kembali berbagai

macam cairan yang yang mempunyai titik didih berbeda-beda. Yang memiliki titik didih berlebihan antara alin : gas, bensin (benzene), kerosin. Minyak diesel (solar), pelumas ringan, pelumas berat dan crude oil ini terdiri dari bermacammacam fraksi dengan titik didih yang berlainan ditentukan oleh banyak dan homolognya. Dengan penyulingan minyak juga dapat diketahui jenis minyak dengan mencari API dari crude oil yang dihasilkan. Adapun rumus API adalah : Adapun 3 jenis minyak yang terbagi berdasarkan besar API, antara lain : Low shrinkage oil, memiliki oil gravity <15 API Black oil, memilki gravity = 15 s/d 40 API High shrinkage oil, memiliki oil gravity 14-55 API Initial boiling point juga berfungsi menentukan jenis minyak yang diproduksi. Misalnya, apabila initial boiling point terjadi pada suhu 290 C, maka minyak yang dihasilkan tergolong minyak solar. Pada suhu 200 C, maka minyak yang dihasilkan tergolong pada minyak bensin, begitu juga selanjutnya.Berikut adalah pembagian jenis minyak berdasarkan carbon yang terkandung : C1 C4 C5 C10 C11 C13 C14 C17 C18 C25 C26 C35 C36 C60 = Gas = Bensin = Kerosin = Solar = Destilasi Minyak Ringan = Destilasi Minyak Berat = Residu

Setelah kotoran,air dan gas dipisahkan dari crude oil maka selanjutnya crude oil akan ses untuk mendapatkan apa yang disebut PETROLEUM PRODUCT. Proses yang digunakan meliputi : Physical processing Chemical processing Refining processing

Dalam percobaan inin hanya dipakai metoda Physical processing yaitu destilasi berfraksi. Jika tekanan barometer tidak menunujukan 760 mmHg, maka setiap pengukuran destilat perlu dilakukan koreksi temperature begitu juga pressure loss untuk pembacaan celcius.

6.3

ALAT & BAHAN PERCOBAAN Alat : Flash Destilation Kondensor Thermometer Alat pemanas listrik Gelas ukur 20 mL Picnometer Neraca digital

Bahan : Crude Oil 250 mL

6.4

GAMBAR ALAT

Flash Destilation + Kondensor

Thermometer

Gelas Ukur

Picnometer

Pemanas Listrik

Neraca Digital

Gambar 6.1 Peralatan percobaan V 6.5 PROSEDUR PERCOBAAN 1. 2. Ambil sample sebanyak 75 cc Tentukan SG sample dan harga API pada kondisi lab, dengan picnometer 25 cc. 3. 4. 5. Timbang flash kosong + thermometer. Timbang flash berisi sample + thermometer. Bersihkan dan keringkan gelas ukur, letakkan gelas ukur tersebut sedemikian rupa sehingga ujung outlet masuk sedikit ke dalam gelar ukur penampung destilat. Tutup gelas ukur untuk mencegah agar uap tidak keluar dari tabung. 6. 7. Sirkulasikan cairan pendingin melalui kondensor. Jalankan pemanasan dan atur kuat panasnya perlahan-lahan, supaya cairan destilasi menetes dengan speed (kecepatan) + tetes/detik. 8. Amati temperatture sampai mencapai Initial Boiling Point.

9.

Setelah initial boiling point tercapai, amati volume destilat untuk setiap kenaikan temperature 25 C, sampai tercapai final atau End Boiling Point.

10. Hentikan pemanasan pada end boiling point dan biarkan cairan destilat menetes pada gelas ukur. 11. Setalah pendinginan, catat volume total destilat. 12. Timbang flash + residu + thermometer. 13. Ukur SG residu dengan picnometer (10 mL) pada kondisi laboratorium. 14. Ukur temperature dan tekanan udara laboratorium selama percobaan

6.6 1. 2. 3.

TUGAS Jelaskan apakah yang dimaksud dengan cracking ? Apakah yang dimaksud dengan refinery ? Jelaskan proses yang terjadi pada Gathering System dan Refinery Unit, buat komponen-komponennya dan serta flow prosesnya secara sederhana!

4. 5.

Jelaskan pengaplikasian percobaan crude oil destilation di dunia Migas Apakah yang dimaksud dengan gas condensate ?

BAB VII PENENTUAN FLASH POINT DAN FIRE POINT

7.1

TUJUAN PERCOBAAN Untuk menentukan titik nyala (flash point) dengan menggunakan Tag Close

Tester dari cairan-cairan yang mempunyaiviskositas kurang dari 5,5 cst (pada 25C) dan titik nyala dibawah 200 F, kecuali cairan cairan yang cenderung membentuk surface film dibawah kondisi percobaan dan material-material yang mengandung suspended solid. Untuk keadaan-keadaan terakhir ini digunakan alat Pneskey martens.

7.2

TEORI DASAR Flash point atau titik nyala adalah suhu terendah dimana minyak (uap

minyak) dan produknya dalam campuran dengan udara akan menyala apabila terkena percikan api kemudian mati kembali. Minyak bumi yang mempunyai flash point terendah akan membahayakan, karena minyak tersebut mudah terbakar. Apabila minyak tersebut mempunyai titik nyala tinggi juga kurang baik, karena akan susah mengalami pembakaran. Tetapi kalau ditinjau dari segi keselamatan maka minyak yang baik mempunyai flash point yang tinggi karena tidak mudah terbakar. Fire point adalah suhu terendah dimana uap minyak bumi dan produknya akan menyala dan terbakar secara terus- menerus kalau terkena nyala api pada kondisi tertentu. Flash point ditentukan dengan jalan memanaskan sample dengan pemanasan yang tetap, setelah tercapai suhu tertentu nyala penguji (test flame) diarahkan pada permukaan sample. Test flame ini terus diarahkan pada permukaan sample dengan berganti-ganti sehingga mencapai atau terjadi semacam ledakan karena adanya tekanan dan api yang terdapat pada test flame akan mati. Inilah yang disebut dengan flash point. Penetuan fire point ini sebagai kelanjutan dari flash point dimana apabila contoh akan terbakar / menyala kurang lebih lima detik maka lihat suhunya

sebagai fire point. Penentuan titik nyala tidak dapat dilakukan pada produkprodukyang volatile seperti gasolin dan solven-solven ringan, karena mempunyai flash point dibawah temperatur normal. Semula penentuan flash point dan fire point ini dimaksudkan untuk keamanan dimana orang yang bekerja tanpa kuatir akan terjadinya kebakaran, tetapi perkembangannya yaitu dapat mengetahui mudah tidaknya minyak tersebut menguap. Koreksi untuk tekanan Barometer : Tekanan Barometer dicatata pada saat akhir percobaan, bila tekanan tidak sama dengan 760 mmHg (101,3 kPa), titik nyala dapat dikoreksi sebagai berikut : a. Cc = C + 0,25 ( 101,3 P ) b. Cc = F + 0,06 ( 760 P ) c. Cc = C + 0,0033 ( 760 P ) Dimana : F = titik nyala yang diamati ( F ) C = titik nyala yang diamati ( C ) P = tekanan Barometer ( mmHg , kPa )

7.3

ALAT & BAHAN Alat : Tag Close Tester Gelas Kimia 100 ml Gelas Ukur 10 ml Gelas Ukur 50 ml Alumunium Foil Termometer

Bahan : Crude Oil 100 ml

7.4

GAMBAR ALAT

Gelas Kimia

Tag Close Tester

Thermometer Gelas Ukur

Aluminium foil

Gambar 7.1 Peralatan percobaan VI

7.5

PROSEDUR PERCOBAAN 1. Isi bath dengan air sampai batas maksimum 2. Tuangkan dengan hati-hati 50 ml sample kedalam cup yang sebelumnya telah dibersihkan. Kemudian pasang penutup (lid) bersama termometer pada tempatnya. 3. Hidupkan penyala, atur hingga nyala baik dan konstan. 4. Atur pemanas sample sedapat mungkin sampai diperoleh lagi kenaikan temperature 1 C 5. Untuk mendapatkan titik nyala, arahkan lidah api kedalam cup dengan cepat (tidak lebih dari 1 detik) 6. Ulangi langkah 5 pada setiap kenaika 1 hingga diperoleh titik nyala 7. Bila titik nyala telah diperoleh ( uap sample cup menyala ) hentikan pemanasan. Catat titik nyala yang diperoleh. 8. Ulangi langkah 2 sampai dengan 7 untuk sample-sample yang lain. 9. Catat tekanan barometernya

7.6

TUGAS

1. Apa saja faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya flash point ? 2. Apa hubungan flash point dengan kualitas minyak ? 3. Apakah faktor sehingga seringkali tidak ditemukannya fire point ?

BAB VIII PENENTUAN COULD POINT, COLD POINT DAN POUR POINT

8.1

TUJUAN PERCOBAAN 1. Menentukan titik kabut (cloud point) untuk minyak mentah. 2. Menentukan titik tuang (pour point)untuk minyak mentah. 3. Menentukan titik beku untuk minyak mentah.

8.2

TEORI DASAR Pada perjalanan dari formasi menuju permukaan, minyak bumi mengalami

penurunan temperatur. Apabila hal ini tidak diwaspadai, maka akan terjadi pembekuan minyak di dalam pipa, sehingga tidak bisa lagi untuk mengalir. Penurunan temperatur ini akan memyebabkan suatu masalah yang akan menjadi besar akibatnya apabila tidak segera diatasi. Harus diketahui dimana minyak mengalami perubahan temperatur, agar dapat mengetahui atau mengantisipasi dan mengambil tindakan yang terbaik agar minyak dapat ditranspotasikan secara lancar dari formasi ke permukaan sesuai dengan kebutuhan. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, kita dapat mengambil sample minyak formasi dan mengadakan uji coba untuk mengetahui titik kabut, titik beku, dan titik tuang minyak tersebut. Salah satu sifat hampir semua minyak adalah membeku menjadi semi fluid atau massa solid yang sukar bergerak jika padanya terjadi penurunan temperature. Test titik kabut umumnya dilakukan pada minyak yang dihasilkan dengan destilasi. Test ini menentukan temperatur dimana Wax (lilin paraffin) mulai mengkristal dan terpisah dari minyak membentuk semacam kabut tipis. Test ini dilakukan untuk menentukan temperature dimana minyak tidak dapat mengalir lagi. Besarnya pour point berbeda beda untuk setiap tipe minyak tergantung pada komposisi zat yang dikandungnya. Untuk melaksanakan test ini, sample minyak ditempatkan pada botol yang dilengkapi termometer. Kemudian sample dan yar diletakkan pada mesin pendingin untuk diamati temperature dan fluidanya. Untuk menentukan titik kabut, sample diamati pada tiap penurunan

temperature 2 F (-16.6667 C) hingga terbentuk endapan (kabut). Sedangkan untuk titik tuang, sample diamati pada tiap penurunan suhu 5 F (-15 C) hingga minyak tidak mengalir lagi jika dituangkan. Cloud point, cold point dan pour point sendiri dilakukan untuk memperkirakan jumlah lilin yang terdapat dalam minyak. Hal ini dikarenakan semakin rendah suatu suhu, maka minyak akan cepat membeku. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, dapat kita simpulkan semakin rendah titik kabut maka makin banyak kandungannya dan sebaliknya. Untuk pour point dalam pengaplikasiannya digunakan untuk mengetahui titik tuang dari crude oil tersebut, sehingga lilin yang terkandung dapat dipisahkan dari minyak. Cloud point dapat diketahui dari pengamatan yang dilakukan . dalam pengaplikasiannya cloud point digunakan untuk mengetahui pada temperature berapa minyak akan membeku. Temperatur tersebut digunakan untuk diterapkan pada pipa minyak. Temperature pipa diatur sehingga minyak yang terdapat dipipa tidak membeku dan menyumbat minyak untuk mengalir. Untuk titik tuang (pour point) akan dipengaruhi oleh rantai karbon. Semakin panjang rantai karbon, titik tuangnya akan semakin tinggi, titik tuang akan terjadi apabila suhu diatas suhu cloud point dan cold point. Cloud point timbul karena adanya Kristal - kristal ( padatan ) didalam bahan bakar. Walaupun bahan bakar masih bisa mengalir. Pada titik ini keberadaan kristal didalam bahan bakar dapat mempengauhi kelancaran aliran bahan bakar didalam filter, pompa, dan injector. Hubungan cloud point, cold point serta pour point sendiri terhadap viscositas adalah semakin rendah viscositas maka semakin tinggi temperaturnya. Hal ini disebabkan karena komposisi di minyak berupa fraksi ringan, maka

minyak akan semakin ringan dan mudah mengalir. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan kalau minyak tersebut tergolong minyak yang bagus atau minyak ringan.

8.3

ALAT & BAHAN Alat : Water Bath Termometer Tabung Reaksi Corong Stopwatch Pemanas Aluminium Foil

Bahan : Crude Oil 100 ml Es Batu Garam

8.4

GAMBAR ALAT

Thermometer

Water Bath

Tabung Reaksi

Corong

Stopwatch

Pemanas Listrik

Gambar 8.1 Peralat percobaan VI

8.5

PROSEDUR PERCOBAAN Penentuan Titik Kabut ( Cloud Point ) dan Titik Beku ( Cold Point ) a. Mengambil sample dan memasukkannya ke dalam tube sampai garis batas. b. Menyiapkan es batu kemudian menambahkan garam secukupnya untuk agar es batu tidak cepat mencair. c. Memasukkan thermometer ke dalam bath. d. Mengamati temperatur dan kondisi sample yang diteliti setiap 3 menit. e. Mencatat pembacaan temperatur ( dalam celcius atau Fahrenheit ) pada saat terjadinya kabut atau disebut juga Cloud Point. f. Kemudian melanjutkannya sampai sample diyakini telah membeku atau Cold Point. Penentuan Titik Tuang ( Pour Point ) a. Setelah mendapatkan titik beku, mengeluarkan tube yang berisi sample dari dalam bath pada kondisi sample masih beku. b. Mendiamkan pada temperatur kamar. c. Mengamati perubahan temperatur pada saat seluruh sample dapat dituangkan. Melaporkan temperatur tersebut sebagai Pour Point.

8.6

TUGAS

1. Jelaskan definisi cloud point, cold point dan pour point ! 2. Apakah hubungan cloud point, cold point dan pour point dengan kualitas hidrokarbon? 3. Jelaskan faktor - faktor yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya uji penentuan percobaan ini ? 4. Buatlah contoh aplikasi dari uji lab ini di lapangan ! 5. Berikanlah pendapat anda mengenai hasil uji lab yang telah dilakukan !