Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat


rahmat Nya kami kelompok 2 dapat menyelesaikan makalah Seni
Rupa ini yang membahas tentang lukisan karya Affandi. Kami juga
melakukan berbagai pencarian sumber yang tepat mengenai lukisan-
lukisan karya Affandi dan juga melakukan diskusi kelompok untuk
mendeskripsikan lukisannya.
Makalah ini berisikan tentang biogrfi pelukis, deskripsi
lukisan yang bertemakan ekspresi. Makalah ini dibuat agar para
pembaca mengetahui maksud dari lukisan Affandi tersebut sekaligus
mengetahui biografinya.
Kami selaku penyusun makalah ini berterimakasih
kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah
ini. Terutama kepada Ibu Siti selaku guru Seni Rupa yang membantu
mengarahkan kita agar dapat lebih baik dalam menyelesaikan
makalah ini. Kami juga mohon maaf apabila ada kesalahan dalam
makalah ini, hal ini karena kurangnya pengalaman kami. Kritik dan
saran dapat membantu sekali agar kami dapat lebih baik lagi.

Jakarta, Mei 2008

Tim Penyusun

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar 1

Daftar Isi 2

BAB I : PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang 3
I.2 Tujuan

BAB II : ISI
II.1 Biografi Penulis
II.2 Contoh Karya
II.3 Deskripsi Karya

BAB III : PENUTUP


III.1 Kesimpulan
III.2 Saran

Daftar Pustaka

2
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Dalam mempelajari suatu ilmu kita harus berfikir secara


kritis. Demikian pula saat kita mempelajari Seni Rupa. Cara berfikir
kritis tersebut dapat di tuangkan dalam bentuk kritik seni. Yaitu
dengan mengkritik, mengapreasiakn suatu karya seni. Selain itu
dengan mengenal profil serta mengetahui karya karya lain dari sang
seniman. Kita dapat mengetahui bagaimanakah karya seni tersebut
dapat tercipta di tangan sang seniman.

I.2 Tujuan

Tujuan dari tugas seni rupa kali ini adalh untuk


memahami seni rupa lebih dalam lagi melalui krtik seni. Selain itu
juga bertujuan agar kita mengetahui nilai dari suatu karya seni. Yaitu
dengan mengapreasikan karya seni tersebut.

3
BAB II
ISI

II.1 Biofrafi Penulis

Affandi adalah seorang pelukis Indonesia, dia menjadi pelopor


aliran ekspresionime.

II.1.1 Masa Muda

Sosok Affandi Koesoema yang lebih dikenal dengan


panggilan Affandi lahir di Cirebon Jawa Barat tahun 1907.
Sejak kecil ia memiliki kesukaan menonton pertunjukan
wayang kulit yang ternyata nantinya memiliki pengaruh
terhadap profesi yang digelutinya yakni seni lukis. Jiwa
seninya telah tercermin sejak kecil dengan kesukaannya
melukis di tanah yang berlanjut di atas batu tulis dan kertas
(sarana belajar di sekolah). Cita-cita orangtuanya untuk
menjadikannya insinyur tidak dapat dipenuhi demi memilih
kecintaannya terhadap dunia lukis atau tukang gambar --
seperti yang diistilahkannya.

Ayah beliau yang bernama R. Koesoema adalah seorang


mantri ukur pada pabrik gula di Ciledug. Affandi menempuh
pendidikan terakhir AMS-B di Jakarta. Pada umur 26 tahun,
tepatnya pada tahun 1933, Affandi menikah dengan Maryati,

4
gadis kelahiran Bogor . Affandi dan Maryati dikaruniai
seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya
sebagai pelukis, yaitu Kartika

II.1.2 Aktivitas

Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru


dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan
pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung
bioskop di Bandung . Pekerjaan ini tidak lama digeluti karena
Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis. Sekitar tahun 30-
an, Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung, yaitu
kelompok lima pelukis Bandung . Mereka itu adalah Hendra
Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi serta Affandi yang
dipercaya menjabat sebagai pimpinan kelompok. Kelompok
ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni
rupa di Indonesia . Kelompok ini berbeda dengan Persatuan
Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938,
melainkan sebuah kelompok belajar bersama dan kerjasama
saling membantu sesama pelukis.

Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal


pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang
berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat
Serangkai --yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohammad
Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur--
memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga
Rakyat) untuk ikut ambil bagian. Dalam Seksi Kebudayaan

5
Poetera ini Affandi bertindak sebagai tenaga pelaksana dan S.
Soedjojono sebagai penanggung jawab, yang langsung
mengadakan hubungan dengan Bung Karno.

Sebelum dan setelah Proklamasi Kemerdekaan


Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang
dikumandangkan Bung Karno dan Bung Hatta, Affandi aktif
membuat poster-poster perjuangan untuk membangkitkan
semangat perjuangan rakyat Indonesia terhadap kaum
kolonialisme Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.
Kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan pelukis dan
seniman lain yang tergabung dalam Seksi Kebudayaan
Poetera, antara lain: S. Soedjojono, Dullah, Trubus, dan
Chairil Anwar. Selanjutnya, Affandi memutuskan untuk pindah
ke Yogyakarta dan mendirikan perkumpulan "Seniman
Masyarakat" 1945. Perkumpulan ini akhirnya menjadi
"Seniman Indonesia Muda" setelah S. Soedjojono juga
pindah ke Yogyakarta . Pada tahun 1947, Affandi mendirikan
"Pelukis Rakyat" bersama Hendra Gunawan dan Kusnadi,
untuk memberikan kesempatan belajar kepada angkatan muda
yang haus mendapatkan pendidikan dan praktek seni lukis.
Lalu pada tahun 1948, Affandi pindah kembali ke Jakarta dan
turut mendirikan perkumpulan "Gabungan Pelukis
Indonesia".

Tidak lama setelah itu, yaitu pada tahun 1949, Affandi


mendapat Grant dari pemerintah India dan tinggal selama 2
tahun di India . Di sana , Affandi melakukan aktivitas

6
melukisnya dan juga mengadakan pameran di kota-kota besar
hingga tahun 1951 di India . Selanjutnya, Affandi mengadakan
pameran keliling di negara-negara Eropa, diantaranya London
, Amsterdam , Brussel, Paris dan Roma. Affandi juga ditunjuk
oleh pemerintah Indonesia untuk mewakili Indonesia dalam
pameran Internasional (Biennale Exhibition) tiga kali berturut-
turut, yaitu di Brasil (1952), di Venice (Italia - 1954), dan di
Sao Paulo (1956). Di Venice, Italia, Affandi berhasil
memenangkan hadiah.

Dalam melukis Affandi melangkah dengan lebih


mengutamakan kebebasan berekspresi. Dilandasi jiwa
kerakyatan, Affandi tertarik dengan tema kehidupan
masyarakat kecil. Teknik melukis bentuk bahkan yang
cenderung memperintah objeknya seperti yang dilakukan
angkatan Moi India atau India Jelita, dirasakan Affandi tidak
mewakili kondisi masyarakat dengan kemelaratan akibat
penjajahan.

Dengan pengalaman dan melihat kondisi masyarakat


yang menderita, Affandi lebih tergugah mengungkapkan lewat
tumpahan dan goresan warna kusam dan tema kemelaratan.
Pengamatan terhadap sensitivitas lingkungan diungkapkan
secara lugas, sehingga karyanya yang berjudul "Pejuang
Romusa" yang menampilkan rakyat dalam kemelaratan tidak
ditampilkan Jepang dalam usaha mengumandangkan
perjuangan Romusa. Jepang yang saat itu merebut simpati
masyarakat lewat gerakan Romusa, merekrut masyarakat

7
Indonesia untuk bersatu melawan Belanda dan sekutunya
melihat karya Affandi kurang menguntungkan pihaknya.
Menurut pihak Jepang karya tersebut memperlihatkan
kekejaman penjajah terhadap penduduk.

Humanisme Affandi terlihat juga pada karyanya "Dia


Datang, Menunggu, dan Pergi" (1944). Dalam karya ini
ditampilkan seorang pengemis yang baru datang, kemudian
meminta, lalu pergi. Raut muka pengemis yang kurus dengan
pakaian lusuh, namun dari sisa ketegarannya masih
bersemangat menjalani kehidupan walaupun dengan
mengemis. Pengamatan Affandi seperti ini menunjukkan
keprihatinan jiwanya terhadap penderitaan sesama antara anak
bangsa. Tema-tema kerakyatan menjadi dominasi dalam karya-
karya Affandi.

Almarhum Dullah seniman lukis Indonesia


menyebutkan, Affandi punya perhatian yang sangat besar
terhadap kemanusiaan, seperti tercermin dalam lukisannya
yang lebih banyak menggambarkan sifat humanis. Karena
itulah, dia jarang mau berucap atau bertutur kata yang
menyakitkan. Jiwa dan hasil karya Affandi yang humanis
menjadikan dirinya menerima hadiah perdamaian internasional
dari Dag Hammarskjoeld yang dibagikan dalam suatu upacara
di gedung San marzano, Florence, Itali.

Demikian sebagian perjuangan Affandi dalam bidang


seni lukis Indonesia yang kini diwariskan pada generasi

8
sekarang. Tanggal 23 Mei 1990 adalah waktu kepergian sang
Maestro untuk menghadap sang Pencipta. Tanpa terasa, 15
tahun sudah kepergian seniman humanis Indonesia itu.

II.1.3 Kehidupan Pribadi

Untuk mewujudkan keinginan menjadi pelukis, pada


awalnya Affandi menjadi guru pada sekolah di Jakarta bagi
anak-anak yang tak sempat mengenyam pendidikan. Dari hasil
ini Affandi berharap dapat mendatangkan penghasilan untuk
biaya hidup dan memenuhi keperluan untuk melukis. Pada
kesempatan ini Affandi bertemu dengan Maryati yang menjadi
anak didik, yang kemudian menjadi istrinya. Sambil menjalani
hidup berkeluarga yang masih muda, Affandi merasa
pekerjaan sebagai guru tidak memberi banyak peluang untuk
melukis.

Istrinya menyetujui keinginan Affandi mencari


pekerjaan lain. Berbagai pekerjaan sempat diambil Affandi di
antaranya menjadi pembuat poster, reklame, sobek karcis
bioskop, bahkan tukang cat. Program minimum keluarga
dicanangkan yakni memanfaatkan waktu 10 hari dalam
sebulan untuk mencari penghasilan demi terpenuhinya
kebutuhan keluarga dan sisa waktu berikutnya dapat
dimanfaatkan untuk melukis.

9
Tantangan hidup dihadapinya dengan penuh perjuangan,
ketabahan, dan kesederhanaan. Dalam situasi ekonomi yang
sulit, Affandi melakoni aktivitias melukis dengan teman-
temannya seperti Wahdi, Barli, Hendra Gunawan, Abedy,
Sudarso, hingga S. Sudjojono. Dalam sebuah kesempatan
pameran yang diselenggarakan setiap tahun di alun-alun
Kebon Raya Bandung, karya Affandi dibeli seseorang. Alasan
pembeli tersebut bukan karena lukisan Affandi bagus, namun
dalam karyanya terdapat spirit, semangat, yang nantinya bisa
melahirkan lukisan yang bagus. Affandi disarankan untuk terus
melanjutkan melukis. Belakangan pembeli tersebut diketahui
bernama Safei Samardja yang memiliki pengalaman belajar
seni lukis di Eropa, dan nantinya menjadi Guru Besar pada
Institus Teknologi Bandung (ITB).

Dengan kontinyuitas berkarya, Affandi menjadi pelukis


yang sangat produktif. Hal ini menjadikan ia dipercaya pada
berbagai kesempatan organisasi dalam bidang lukis, di
antaranya pengasuh bidang seni rupa di gedung Poetera
(Badan Poesat Tenaga Rakyat) Jakarta pada masa pendudukan
Jepang, pendiri Seniman Masyarakat di Yogyakarta tahun
1946, ketua Gabungan Pelukis Indonesia di Jakarta tahun
1948. Pada 1949, ia dapat beasiswa diri India untuk belajar
melukis di Santiniketan -- perguruan tinggi yang didirikan oleh
Rabindranath Tagore.

10
Dua tahun di India, Affandi sempat mengadakan
beberapa pameran yang hasilnya cukup dipergunakan untuk
perjalanannya keliling beberapa negara Eropa dan Amerika.

II.2 Contoh Karya

II.3 Deskripsi Karya

Lukisan Affandi yang menampilkan sosok pengemis ini


merupakan manifestasi pencapaian gaya pribadinya yang kuat.
Lewat ekpresionisme, ia luluh dengan objek-objeknya bersama
dengan empati yang tumbuh lewat proses pengamatan dan
pendalaman. Setelah empati itu menjadi energi yang masak,
maka terjadilah proses penuangan dalam lukisan seperti luapan
gunung menuntaskan gejolak lavanya. Dalam setiap ekspresi,
selain garis-garis lukisanya memunculkan energi yang meluap
juga merekam penghayatan keharuan dunia bathinnya. Dalam
lukisan ini terlihat sesosok tubuh renta pengemis yang duduk
menunggu pemberian santunan dari orang yang lewat.
Penggambaran tubuh renta lewat sulur-sulur garis yang
mengalir, menekankan ekspresi penderitaan pengemis itu.
Warna coklat hitam yang membangun sosok tubuh, serta
aksentuasi warna-warna kuning kehijauan sebagai latar
belakang, semakin mempertajam suasana muram yang
terbangun dalam ekspresi keseluruhan.

11
Namun dibalik kemuraman itu, vitalitas hidup yang kuat
tetap dapat dibaca lewat goresan-goresan yang
menggambarkan gerak sebagian figur lain. Dalam konfigurasi
objek-objek ini, komposisi yang dinamis. Dinamika itu juga
diperkaya dengan goresan spontan dan efek-efek tekstural
yang kasar dari plototan tube cat yang menghasilkan kekuatan
ekspresi.

Pilihan sosok pengemis sebagai objek-objek dalam


lukisan tidak lepas dari empatinya pada kehidupan masyarakat
bawah. Affandi adalah penghayat yang mudah terharu,
sekaligus petualang hidup yang penuh vitalitas.Objek-objek
rongsok dan jelata selalu menggugah empatinya. Oleh
karenanya, ia sering disebut sebagai seorang humanis dalam
karya seninya. Dalam berbagai pernyataan dan lukisannya, ia
sering menggungkapkan bahwa matahari, tangan dan kaki
merupakan simbol kehidupannya. Matahari merupakan
manifestasi dari semangat hidup. Tangan menunjukkan sikap
yang keras dalam berkarya dan merealisir segala idenya. Kaki
merupakan ungkapan simbolik dari motivasi untuk terus
melangkah maju dalam menjalani kehidupan. Simbol-simbol
itu memang merupakan kristalisasi pengalaman dan sikap
hidup Affandi, maupun proses perjalanan keseniannya yang
keras dan panjang. Lewat sosok pengemis dalam lukisan ini,
kristalisasi pengalaman hidup yang keras dan empati terhadap
penderitaan itu dapat terbaca.

12
BAB III
PENUTUP

III.3 Kesimpulan

Affandi adalah seorang maestro pelukis Indonesia yang telah


banyak sekali menghasilkan karya-karya yang bernilai estetika tinggi
dan tentu saja telah dikenal oleh masyarakat.

Dalam melukis Affandi melangkah dengan lebih


mengutamakan kebebasan berekspresi. Dilandasi jiwa kerakyatan,
Affandi tertarik dengan tema kehidupan masyarakat kecil. Teknik
melukis bentuk bahkan yang cenderung memperintah objeknya
seperti yang dilakukan angkatan Moi India atau India Jelita,
dirasakan Affandi tidak mewakili kondisi masyarakat dengan
kemelaratan akibat penjajahan. Dengan pengalaman dan melihat
kondisi masyarakat yang menderita, Affandi lebih tergugah
mengungkapkan lewat tumpahan dan goresan warna kusam dan
tema kemelaratan.

III.2 Saran

13
DAFTAR PUSTAKA

14