Anda di halaman 1dari 32

TANTANGAN KONSERVASI DI TN.

LORE LINDU
KUMPULAN PAPER BANJAR YULIANTO LABAN : 1. INDIKASI POTENSI ANCAMAN ILLEGAL LOGGING DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU (DARI CONTOH DESA OBSERVASI ANTROPOLOG TANIA LIE) 2. PLTA PALU III VS PEMISKINAN MASYARAKAT

PLTA PALU III VS UTOPIA AVANT-GARDE

3. PROSPEK NEGATIF PENEBANGAN LIAR DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU 4. KRISIS MARTABAT MEMPERCEPAT GLOBALISASI KEMISKINAN 5. NRM, IDEALISME USAID DI DUNIA PERGOLAKAN : PROGRAM PROYEK ATAU PROYEK PROGRAM

70

INDIKASI POTENSI ANCAMAN ILLEGAL LOGGING DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU, DARI CONTOH DESA OBSERVASI ANTROPOLOG TANIA LIE
PROSES DEGRADASI LATENT. Suatu diskusi menarik telah digelar Yayasan Tanah Merdeka (YTM) di Palu pada tanggal 6 Juni 2000, yang memfasilitasi pembicara tunggal yaitu Mrs. Tania Lie, antropolog dari Canada. Diskusi terfokus pada akses rakyat terhadap sumber daya alam di dataran tinggi Sulawesi Tengah, termasuk TN Lore Lindu dsk yang diteliti Tania selama 5 tahun terakhir ini. Hasil penelitiannya ternyata menunjukkan adanya proses degradasi latent yang berkaitan dengan : Penyempitan penguasaan lahan/wilayah pengelolaan masyarakat adat/lokal, Marginalisasi masyarakat adat/lokal yang biasa dengan pola kehidupan tradisi adatnya, menjadi semakin jauh dari kemudahan jalur transportasi, Pemadaman semangat pencerahan, menyebabkan kemampuan masyarakat adat/lokal untuk mengatur diri sangat lemah. Dominasi peran pemerintahan sampai ke tingkat desa. Peningkatan kondisi yang menyebabkan kecemburuan sosial antar suku dan agama, menjadi sangat peka untuk timbulnya konflik. Terlepas dari proses pengukuhan kawasan Taman Nasional Lore Lindu, karena konteks illegal logging dari aspek pemerintah, hal yang cukup menarik untuk dibahas dalam kaitannya dengan illegal logging di kawasan taman tersebut berdasar aspek antropologi adalah semakin lemahnya kekuatan masyarakat adat/lokal dalam mempertahankan sifat pencerahannya, dan semakin kuatnya tekanan dominasi segala macam aturan yang penuh keraguan dalam menerapkannya. PENCERAHAN SEMAKIN LEMAH Penataan ruang yang menampilkan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP), sebagai alat kewenangan dapat diposisikan sebagai cikal bakal pengikaran birokrat terhadap hak-hak masyarakat adat/lokal atas tanah dan potensinya, serta timbulnya illegal logging menurut pemahaman kehutanan atas status legalitas fungsi suatu kawasan hutan yang sebenarnya diatur pula dalam RTRWP . Lemahnya pengawasan terhadap aplikasi alat tersebut, karena jauh dari paham transparansi di mata rakyat pinggiran, menjadi bahan baku Tania Lie untuk mengungkap indikasi awal timbulnya okupasi wilayah adat dan illegal logging, yaitu adanya pendatang. Pendatang baik dalam kelompok kecil maupun besar yang dikooptasi oleh penguasaan lahan dan potensi sumber daya alam selalu dapat dipastikan akan mendisorganisir pola hidup masyarakat adat/lokal setempat yang secara turun temurun, berkesejarahan ada

71

keterikatan dengan hutan dan lingkungan sekitarnya berdasar kesepakatan mereka untuk mengatur tata tertib kehidupan bersama. Salah satu ciri khas disorganisir tersebut adalah munculnya proyek resettlement . Cara ini berjalan sejak jaman kolonial Belanda sampai Orba, dengan alasan prototype yaitu mempermudah pengelolaan administrasi pelayanan kependudukan karena tebaran pemukiman masyarakat asli (adat/lokal setempat) jaraknya saling berjauhan dan biasanya sesuai dengan luas maupun potensi wilayah adat. Disamping ada alasan lain yang menjadi stigmatisasi masyarakat asli sebagai peladang berpindah yang merusak hutan. Akibatnya ada kekosongan pengawasan secara adat terhadap wilayahnya, sehingga berdampak pada semakin tidak jelasnya hak-hak masyarakat adat /lokal terhadap pendatang lainnya/ berikutnya. Dampak ini semakin parah bila pendatang difasilitasi ijin dari sistem birokrasi. Posisi masyarakat adat/lokal yang telah diatur pemukimannya biasanya menjadi sangat lemah. Tania lie mengidentifikasi kekuatan pemerintah untuk melegalkan disorganisir terhadap masyarakat asli (adat/lokal setempat) terletak pada hukum tanah, surat-surat berharga atas tanah, pajak tanah dan melalui ketentuan perijinan proyek-proyek pembangunan yang memposisikan bumi sebagai obyek. Proyek yang paling berpeluang besar untuk timbulnya illegal logging di TN Lore Lindu dan wilayah adat yang masih berhutan di sekitarnya, adalah proyek pembukaan hutan sebagai aplikasi ijin lokasi yang diterbitkan Bupati untuk penggunaan lain, misalnya usaha pengembangan perkebunan, pertanian ,kawasan industri maupun kawasan pemukiman baru. Penerbitan ijin lokasi tersebut hanya didasarkan pada perencanaan makro yang disebut RTRWP dalam rangka merubah status tanah negara bebas yang berada di ruang Areal Penggunaan Lain (APL) menjadi tanah yang dibebani hukum tanah menurut Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Proses begitu cepat, antara lain melalui rekomendasi-rekomendasi berangkai yang akhirnya terjadi pemanfaatan kayu atau penebangan pohon di lokasi yang berstatus ruang APL tersebut setelah kontraktor land clearing memperoleh Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK) dan Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan ( SKSHH) dari Dinas Kehutanan. Pertimbangan Ka Dinas Kehutanan menerbitkan Surat Keputusan IPK untuk lokasi yang akan dibuka tersebut adalah hasil cruising taksasi kubikasi kayu yang ada, sedangkan SKSHH diberikan setelah kontraktor land clearing membayar Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR) berdasar taksasi kubikasi kayu hasil cruising tersebut. Pengawasan yang lemah, bahkan semakin diperlemah dengan surat edaran Dirjen PH tahun 1997 agar tidak perlu periksa hasil cruising di lapangan dengan alasan menghindari pungli, menyebabkan pentargetan kubikasi IPK pada luasan ijin lokasi tertentu boleh jadi dipenuhi dari luar lokasi yang diijinkan Bupati.

72

Dampaknya, terjadi kerusakan di Hutan Lindung dan Taman Nasional, karena secara tipu muslihat kontraktor land clearing melakukan illegal logging. Illegal menjadi legal dengan SKSHH yang disertakan pada trailer atau truck pengangkutnya. Tipu muslihat dapat terjadi karena pengawasan tunggal yaitu oleh Dinas Kehutanan sesuai ketentuan dalam SK tentang IPK yang bersangkutan. Di pihak masyarakat adat/lokal, Tania Lie menganggap bahwa peristiwa tersebut bukan hanya sekedar illegal logging tetapi lebih pantas disebut penjarahan Hak Azasi Manusia (HAM). Potensi tanah atau wilayah adat yang beranekaragam hayatinya, dalam waktu singkat ludes. Pemegang IPK lari, rencana lokasi untuk kebun, sawah ,pemukiman dan sebagainya ditinggalkan karena hanya kedok saja untuk pengambilan kayu, yang berarti telah mengurangi peluang hidup masyarakat asli di masa depan. Kemudian muncul juragan tanah yang beli murah tanah yang telah terbuka hutannya tersebut dari masyarakat adat/asli setempat. Masyarakat adat/asli setempat memahami menurut pengetahuan asalnya, bahwa tanah kosong di lokasi tersebut sudah tak berpengharapan lagi. Selanjutnya juragan tanah melakukan pengkaplingan, akses jalan dibuat, dengan alasan pengembangan eko wisata atau pemukiman modern di pegunungan, maka timbul spekulasi harga tanah. Siapa yang diuntungkan dalam peristiwa tersebut ? ternyata para juragan kayu dan tanah. CONTOH DESA OBSERVASI TANIA LIE Tania Lie dalam presentasinya tertarik untuk mengungkap contoh 5 (lima) desa di sekitar dan di dalam TN Lore Lindu (Wanua Katu). Desa-desa tersebut adalah Katu, Rompo dan Watumaeta yang terletak di Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso; Desa Rahmat di Kecamatan Palolo Kabupaten Donggala; dan desa Gimpu di Kecamatan Kulawi Kabupaten Donggala. Desa Katu atau lebih dikenal oleh masyarakat adat Robo Behoa Kakao sebagai Wanua Katu mempunyai wilayah adat yang secara normative pemerintahan telah ada pengakuan dari Balai TN Lore Lindu dalam bentuk aplikasi collaborative management. Secara partisipatif berdasar kesejarahan dan pengetahuan asal , kolaborasi tersebut dapat dijamin untuk melaksanakan kearifan adat dalam pengelolaan sumber daya alam yang tak bertentangan dengan prinsip konservasi dan terpisahkan dengan sistem pengelolaan Taman Nasional Lore Lindu. Melalui pengembangan kultur adat asli yang di dasari kesepakatan kepemilikan komunal , ternyata ada upaya pemulihan kekuatan untuk pencerahan diri yang didasari aturanaturan komunal, sangsi-sangsi adat, sehingga ancaman illegal logging terhadap TN Lore Lindu di wilayah adat Katu diharapkan semakin dapat dikendalikan melalui perencanaan partisipatif pengelolaan sumber daya alam di wilayah adatnya selama 10 tahun yang telah mereka buat , yaitu Wanua Katu menuju 2010. Wilayah desa Rompo jauh di luar kawasan TN Lore Lindu, namun potensi hutan desanya kurang. Tania Lie mengungkap bahwa Kepala Desa Rompo otoriter dan

73

akhirnya menjadi panutan masyarakatnya yang lebih mengenal kultur proyek dari pada kultur adat. Hal ini menyebabkan kondisi social desa Rompo sangat labil. Ancaman illegal logging di TN Lore Lindu dari desa Rompo sangat tinggi, antara lain dengan adanya inisiatif Kepala Desa yang didukung pendatang dari Tator untuk memfasilitasi proses ijin lokasi dalam rangka aplikasi rencana proyek pengembangan pemukiman lokal di Padang Parawali yang berbatasan langsung dengan TN Lore Lindu. Kepala Desa Watumaeta saat ini masih dalam proses pengadilan di Poso, sebagai tindak lanjut pengaduan Balai TN Lore Lindu atas kasus jual kawasan Taman Nasional. Tania Lie memperkuat informasi dari hasil eksplorasinya di desa Watumaeta, bahwa wilayah desa ini sempit memanjang dan berbatasan langsung dengan TN Lore Lindu. Hutan di luar Taman Nasional yang terletak di kanan kiri bagian hulu sungai Lariang yang membelah desa Watumaeta, 2 tahun terakhir ini telah banyak mengalami perubahan karena lahannya telah dijual secara otoriter oleh Kepala Desa bersama kroninya kepada para pendatang yang kemudian menebangi pohon-pohon pelindung sungai tersebut, agar lahannya dapat ditanami palawija dan cacao. Tidak heran bila hobby ini telah menjadi sandungan, ketika aspek hukum menerpa dirinya di kawasan Taman Nasional. Porsi penduduk antara asli dan pendatang hampir sama di desa Watumaeta, dan ada kecenderungan masyarakat asli semakin terdesak. Tania Lie mengingatkan bahwa, illegal logging sebagai awal kegiatan perambahan atau sorong batas Taman Nasional akan terjadi, meskipun pelan tapi pasti. Bila ada keputusan pengadilan sebagai akhir proses hukum yang ditimpakan kepada Kepala Desa, bukan berarti suatu terapi tetapi kemungkinan menjadi opini masyarakat setempat sangat besar untuk terus menekan Taman Nasional. Satu-satunya saran hanyalah pemindahan sebagian penduduk ke lokasi yang jauh dari Taman Nasional. Berbeda dengan Kepala Desa Watumaeta, ternyata otoritas Kades Rahmat di Kecamatan Palolo sangat lemah. Kelemahan ini diindikasi dengan minimnya informasi Kades atas akses masyarakatnya terhadap sumber daya alam . Yang jelas ancaman terhadap Taman Nasional Lore Lindu sangat tinggi. Sebagai desa translok yang mulai dibangun dan ditempati tahun 1975 dan sebagian tanah persiapannya telah dikapling oknum, maka menjadi masalah apabila 177 KK warga desa tersebut tak punya lahan. Masyarakatnya yang heterogen etnis dan berjubel di desa tersebut dengan profesi dominan sebagai petani tanpa lahan akan memperparah kawasan Taman Nasional Lore Lindu, bila program pemindahan penduduk secara layak, terutama yang tidak punya lahan, tidak segera diperhatikan Pemerintah Daerah.

74

Lain halnya dengan desa Gimpu di Kecamatan Kulawi. Desa ini dalam sejarahnya diawali sebagai wilayah pemukiman bentukan kolonial Belanda, dengan maksud supaya masyarakat lokal turun gunung dan mudah dimonitor pemerintah kolonial kala itu. Pada perjalanan sejarahnya, secara pelan tapi pasti ternyata ada perubahan komunitas setelah pemerintah daerah pasca proklamasi memenuhi ijin pendatang dari selatan untuk tinggal di Gimpu. Akibatnya masyarakat asli yang tidak tahan berheterogen etnis, kembali naik ke gunung dan hidup aman tenang antara lain di dusun Pipikoro. Data terakhir yang sempat dicatat Tania Lie adalah komposisi heterogen etnis di Gimpu yaitu Bugis 33 KK,Rampi 30 KK, sedang yang asli, Gimpu hanya 26 KK. Tania Lie mengisyaratkan adanya ancaman illegal logging partai besar di TN Lore Lindu, bila pembukaan jalan Gimpu Gintu diijinkan kembali oleh pemerintah. INDIKASI POTENSI ANCAMAN Observasi singkat Tania Lie tersebut di atas, secara garis besar memberikan paling sedikit 4 (empat) kelompok sumber informasi yaitu : 1. Bentuk dan kondisi wilayah desa beserta sarana dan prasarananya; disingkat bentuk dan kondisi. 2. Sistem pemilikan dan pengelolaan sumber daya alam oleh masyarakat setempat; disingkat sistem pengelolaan. 3. Kultur dominan masyarakat setempat; disingkat kultur. 4. Kondisi social yang berkaitan dengan kemampuan pencerahan untuk mandiri dan bergotongroyong; disingkat kondisi social. Masing-masing kelompok sumber informasi tersebut akan memberikan beberapa indikasi potensi ancaman illegal logging di TN Lore Lindu, terutama dari 60 desa yang membatasinya. Masing- masing desa berdasar contoh observasi Tania Lie, ternyata tidak selalu memberi indikasi yang sama kadarnya dan secara kualitatif ada kadar indikasi yang dominan. Indikasi potensi ancaman illegal logging dari bentuk dan kondisi wilayah desa yaitu : tebaran dan kepadatan hutan desa kurang atau sangat sedikit Ada lahan garapan hak masyarakat yang dikapling oknum Ada keputusan sepihak dari pemerintah atas penguasaan lahan/ruang kepada pendatang. Pembukaan jalan baru. Indikasi potensi ancaman illegal logging dari sistem pengelolaan SDA oleh masyarakat desa setempat yaitu : Ada dominasi otoritas Kepala Desa. Ada keresahan masyarakat atas akses ketidakpastian penggunaan lahan . Ada kelemahan Kepala Desa atas pengendalian terhadap tingkah laku warganya. Indikasi potensi ancaman illegal logging dari kultur, yaitu :

75

Intervensi proyek yang berakses pada SDA di luar Taman Nasional. Pengkaplingan dan jual tanah oleh masyarakat lokal kepada pendatang Tingkat heterogenitas etnis sangat tinggi. Indikasi potensi ancaman illegal logging dari kondisi social, yaitu : Banyak warga desa setempat yang tidak mempunyai lahan Masyarakat tidak kompak dan mudah dipengaruhi pemodal/orang luar. REKOMENDASI Memperhatikan beberapa indikasi potensi ancaman illegal logging di Taman Nasional Lore Lindu, perlu ada inisiatif kebijakan yang berkaitan dengan review peraturan dan produk rencana tata ruang, antara lain dengan mempertimbangkan aspek budaya asli, ekologi micro dan pengetahuan adat masyarakat asli setempat. Colaborative management melalui pendekatan adat kepada dominasi komunitas asli dalam aspek kependudukan dan kewilayahan, terbukti di Wanua Katu tidak ada indikasi masalah baik secara antropologis maupun ekologis yang berbasis pada prinsip konservasi dan perencanaan partisipatif yang progresif dipatuhi. Heterogenitas etnis yang secara antropologis telah menunjukkan indikasi dominan sebagai potensi ancaman illegal logging di TN Lore Lindu, kiranya perlu keterpaduan kebijakan antar instansi pemerintah yang terkait. Otoritas Kepala Desa yang mendominasi kekuasaan lokal sehingga berdampak pada penjualan lahan kepada pendatang, perlu dikurangi melalui musyawarah desa yang obyektif dan dilegitimasi masyarakat asli melalui lembaga adat kewilayahan. Kelimpahan penduduk yang sudah tidak sesuai lagi dengan kemampuan daya dukung kondisi dan potensi bio-regional setempat, kiranya dapat diatasi Pemerintah Daerah melalui program pemindahan penduduk ke tempat yang lebih layak, antara lain artinya jauh dari Taman Nasional atau kawasan lindung lainnya. Program ini akan lebih cocok diterapkan di desa-desa bentukan baru tahun 1970 1980 an di sekitar Taman Nasional yang telah padat penduduknya, tinggi tingkat heterogenitas etnisnya dan banyak pasangan baru yang tidak punya lahan. Adapun untuk masyarakat adat asli yang masih mendominasi wilayah adat sesuai kesejarahannya, diharapkan ada inisiatif sendiri untuk mengatur kependudukan dan akses kepada sumber daya alam yang lebih sadar dan arif melalui penguatan komunal dan perluasan jaringan persekutuan dan kesejahteraan bersama di luar wilayah adatnya. Pemahaman wilayah adat sebagai cikal bakal yang dilestarikan akan lebih baik daripada pemahaman wilayah adat sebagai bakal cikal yang dimusnahkan, karena masalah kelimpahan penduduk yang diperkirakan telah melintasi ambang batas kemampuan wilayah adat. Palu, Nopember 2000

76

PLTA PALU III VS PEMISKINAN MASYARAKAT

PLTA PALU III VS UTOPIA AVANT-GARDE

Catatan Pembuka : Tulisan tegak hitam dari Tajuk Harian Radar Sulteng, Rabu, 11 september 2002, yang di re-tipe LPA Awam Green. Tulisan miring adalah tanggapan dari Ka Balai TN Lore Lindu ( Banjar Y Laban) Siapa pun Gubernur, dan kapanpun waktunya, investor kelas wahid tidak bakal melirik bumi tadulako. Kalaupun mereka datang, paling jauh, hanya sekedar travel, atau mungkin hanya mengunjungi sanak saudaranya atau handai tolan. Namun, untuk urusan bisnis, mungkin sulit memberikan ekspektasi yang berlebihan, Hanya investor gila yang mau menanamkan modalnya di Sulawesi Tengah, bila sarana pendukung kelancaran usahanya masih jauh dari minim.

Dalam dunia yang sedang menuju ke alam demokrasi seperti di tanah persada Ibu Pertiwi ini, posisi Gubernur sebagai pengayom dan fasilitator kesejahteraan publik di wilayah Propinsi adalah hal yang jamak bila pelayanan terhadap kepentingan publik menjadi prioritas utama kebijakannya. Mengenai sarana pendukung kelancaran usaha pebisnis yang berniat berinvestasi di Sulawesi Tengah, khususnya sekitar Palu sebagai pusat pemerintahan Propinsi, Gubernur dengan mempertimbangkan kepentingan publik yang lebih luas dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, belum lama ini telah menyampaikan surat kepada Menteri Kehutanan untuk memberikan pertimbangan kembali atas rencana dibangunnya PLTA Palu III dengan menggunakan sumber daya air yaitu terutama air Danau Lindu yang disuply hutan alam keanekaragaman hayati Taman Nasional Lore Lindu. Ternyata Gubernur Sulawesi Tengah sekarang ini, yang dikenal juga sebagai Gubernur mantan Rektor Universitas Tadulako dan ahli Lingkungan, cukup bijak. Beliau tidak hanya sekedar berorientasi kepada kepentingan investor, tetapi kepentingan publik yang lebih luas dan ditambah dengan statemen : sesuai peraturan dan per-undang-undangan yang berlaku. Ada kemungkinan bila Beliau lebih menitikberatkan pada kepentingan investor, maka diduga akan membuat investor gila betulan di mata publik karena dianggap lupa daratan saking senangnya dan semaunya. Dan publikpun dapat menjadi gila karena disemaui investor yang semakin merasa gubernur adalah alat kesenangannya .
Tenaga listrik sebagai kebutuhan vital industri berskala besar, secara teknis operasional, tak memadai kondisinya saat ini. Bila ada investor yang menyatakan minatnya ber-invest di daerah Sulawesi Tengah, tak akan mungkin direalisasikan, kecuali sebatas berkeinginan. Untuk merealisasikan keinginan itu jelas tidak gampang, Di saat investor mulai menanyakan sejumlah sarana, maka disaat itulah niat besarnya akan diurungkan.

77

Terutama bila mereka sudah mulai menanyakan, berapa daya tenaga listrik yang bisa di sediakan daerah ini?

Bicara investasi di Propinsi yang saat ini sedang sarat dengan pergolakan dari berbagai aspek, tidaklah semudah orang menulis selebaran profokasi untuk pembodohan publik bagi kepentingannya sendiri, yaitu sebuah manuver keniscayaan yang tidak memperhatikan, antara lain program pembangunan jangka panjang yang berwawasan lingkungan. Industri berskala besar bila hanya mengandalkan eksploitasi sumber daya alam, jelas seperti biasanya, tidak punya program jangka panjang yang transparan dan boleh dipastikan akan berakhir pada sisa kondisi dan potensi alam yang mengenaskan. Investasi industri perkayuan sebagai contoh, yang sampai tahun 2001 masih bertahan pada kapasitas mesin terpasang 600.000 meter kubik lebih pertahun, dan dominan terletak di Lembah Palu, dengan regulasi dan aplikasi kontrol publik yang lemah terhadap pengadaan bahan baku, dapat diduga akan memperlemah keinginan dan niat investor lainnya yang betul-betul mengandalkan tenaga listrik dari daya air. Jadi saya sepakat bila merealisasi keinginan itu jelas tidak gampang. Dan semakin tidak gampang lagi bila diantara investor sendiri hanya punya satu kesamaan niat yaitu keinginan berinvestasi, tetapi berdasar perhitungan motif untung, ternyata mereka pada tahap pra maupun dalam proses aplikasi, dapat saling masa bodoh atau bertentangan pada cara melestarikan air, yang sebenarnya tidak perlu ada dibenak mereka. Kiranya pantas lah sudah untuk dianggap sebagai tugas dan jaminan pemerintah setempat.
Untuk sarana telekomunikasi, Sulawesi Tengah sudah bisa masuk dalam kategori memadai sedang, kendatipun masih memerlukan tambahan sarana telekomunikasi yang lebih handal. Hal ini cukup beralasan, sebab untuk memenuhi permintaan dalam kota saja, pihak PT Telkom masih kelimpungan, bahkan, bisa disebut juga buang handuk. Tidak jelas, apakah Telkom kandatel Palu memang tak punya dana untuk menambah fasilitas dan meningkatkan kapasitas sambungan, ataukah memang pangsa pasarnya yang tidak ada?.

Sekilas ada hal yang aneh bila Telkom dan PLN yang diposisikan negara sebagai perusahaan monopoli (dengan nama Badan Usaha apapun) yang melayani publik, merasa rugi terus dalam usahanya. Alasan pangsa pasar tidak ada sebenarnya bertentangan dengan peluang demand yang sangat besar. Permasalahan sumber daya suply dan pengadaan sarana/prasarana services akan lebih tepat menjadi alasan utama yang seharusnya dapat diterima publik. Untuk mengeliminir permasalahan tersebut janganlah hanya dititikberatkan pada sistem kategori yang kriterianya mungkin banyak kalangan publik tidak tahu, tetapi alangkah baiknya pada kinerja sistem pengelolaannya yang dapat langsung dinilai publik dengan berbagai perasaan (lesan) atau opini (tertulis). Program Personal Assesment untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) di Telkom maupun PLN dikenal sangat baik bila dibanding instansi pemerintah lain yang duty form nya lebih memprioritaskan pada pelayanan.

78

Menghubungkan antara sistem pengelolaan dengan kualitas SDM akan lebih tepat untuk menilai kinerja pelayanan yang kriteria maupun kategorinya dikumpulkan dari opini publik melalui questioner random sampling. Obyektifitas dan transparansi sangat diperlukan dalam hal ini, sehingga permasalahan yang timbul baik di Telkom maupun PLN adalah permasalahan publik, bukan karena vonis langsung yang masih diragukan bahwa pangsa pasar tidak ada.
Bila mau jujur, tingginya angka daftar tunggu yang membutuhkan sambungan telpon, maka bisa menjadi indikasi bahwa bukan pangsa pasar yang tidak ada, melainkan telkomlah yang tidak berkemampuan untuk itu. Telkomlah terkesan tidak berdaya dalam memenuhi permintaan pasar tapi sekali lagi, untuk sarana telekomunikasi PT Telkom jauh lebih membanggakan dari pada PT. PLN (persero). Jangankan bisa memenuhi permintaan daya listrik bagi industri, untuk Rumah Tangga saja PLN sudah angkat tangan, bahkan untuk daya yang bersubsidi (900 Kwh ke bawah), PLN sudah tidak meladeni permintaan itu. Ini menggambarkan bahwa krisis listrik di Sulteng sudah menjadi realitas kehidupan, yang memerlukan langkah-langkah yang bernuansa futuris.

Permasalahan publik sebagai landasan permasalahan PLN harus diangkat tinggi-tinggi. Kalau telkom divonis bahwa kurang becus atau mampu dalam manajemen pelayanannya, mungkin wajar karena di lingkungan publikpun kalau ada studi yang berkaitan dengan niat berlangganan atau yang sudah jadi pelanggan pasti akan diketemukan perhitungan efisiensi penggunaan pulsa yang wajar bertentangan dengan prediksi kinerja atau harapan pendapatan telkom dari jualan pulsa. Yang penting dalam hal ini adalah jangan sampai membuat permasalahan publik baru, gara-gara proses penyelesaian masalah publik yang berkaitan dengan sistem manajemen PLN, maka Pemda Sulteng tidak memperhatikan indikator atau ramburambu keselamatan publik dalam wawasan manajemen jangka panjang. Ingat aplikasi CSIADCP yang berprinsip phisik dulu, non phisik kurang perlu. Bila PLN sendiri yang angkat tangan, bukanlah pertanda bahwa PLN tidak mampu, tetapi pertanda bahwa publik belum dapat menghayati permasalahan yang sesungguhnya. Memposisikan krisis listrik sebagai realitas kehidupan jangan sampai hanya tepat pada sudut pandang keinginan, karena belum tentu pula tepat pada sudut pandang kebutuhan. Nuansa futuris sangat-sangat sekali diperlukan untuk melangkah ke depan, tentunya perlu hati-hati karena dalam proses kajian kebutuhan dan kajian keinginan: tujuan, cara dan hasilnya sangat berbeda.
Apa yang diusulkan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Alkhaerat (Unisa) Palu, yang mengusulkan dibangunnya PLTA Palu III, merupakan sikap yang patut didukung. Perguruan Tinggi yang punya kepedulian dalam memajukan daerah ini, dukungan terhadap pengadaan sumber daya listrik yang memadai, sudah harus menjadi sikapnya yang tidak bisa ditawar-tawar. Dan untuk daerah Palu dan sekitarnya, PLTA Palu III merupakan alternatif yang paling menguntungkan. Soal adanya teriakan dari

79

kelompok tertentu, sebenarnya kurang rasional. Pasalnya mereka berbicara tak ubahnya sekedar retorika, tanpa ada hasil riset yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Umumnya lontaran alasan yang disampaikan kelompok tersebut masih sarat dengan pernyataan intuisi, logika dan juga asal bunyi, sementara orang yang kapabel dibidangnya, justru mampu memberi solusi atas apa yang diragukan oleh kelompok penentang tersebut.

Mahasiswa yang sudah dikenal sejak saya kuliah dulu sebagai salah satu kelompok publik yang takut dosen, namun berani melawan bahkan di tahun 1998 berhasil menggulingkan presiden, dalam permasalahan krisis listrik di Palu dan sekitarnya ini jangan hanya didukung sikapnya, tetapi diluruskan sekaligus dikuatkan oleh opini publik lainnya. Pelurusan ini erat kaitannya dengan nuansa futuris avant-garde (pelopor seni) yang akhir-akhir ini semakin kuatir terhadap perubahan budaya bangsa. Avant-garde melihat bahwa akhir-akhir ini, di negeri tercinta ini ada kecenderungan bahwa kadar kohesi sosial publik semakin lemah, karena munculnya patron-patron pembawa kebaikan tanpa pesangon kebenaran. Statemen PLTA Palu III sebagai alternatif yang paling menguntungkan harus ditinjau dari aspek seni, sehingga avant-garde tidak hanya sekedar berutopia pada pra, inproses dan pascanya, tetapi ikut memainkan melodi, mengalunkan nada-nada seni yang dapat memperkuat kesepakatan publik sehingga aplikasi PLTA Palu III lebih konstruktif dari berbagai aspek dan dapat mencapai usia lanjut. Sejauh mana kesepakatan publik dapat mengakomondir hal-hal yang rasional dalam recana dan aplikasi PLTA Palu III, tentunya jangan hanya dipandang dari opini satu sempalan karena alasan pudarnya kohesi sosial, tetapi harus dipandang secara holistik dengan terlebih dahulu meningkatkan kekuatan kohesi sosial melalui musyawarah parapihak, sehingga segala investasi yang bertentangan dengan kemuliaan masyarakat adat dan pelestarian sumber daya air bagi pencapaian usia lanjut PLTA Palu III, reduksi maupun pencabutan perijinannya akan menjadi sewajarnya bila berdasarkan kesepakatan publik.
Sekarang, banyak LSM yang piawai beretorika, sementara kemampuan mereka bertalian dengan kajian secara komprehensif, tidak pernah mereka tunjukan. Inilah kenyataan pahit bagi Masyarakat Sulteng yang harus rela menerima kegelapan karena rencana PLTA Palu III yang sudah nyaris dibangun dipindahkan pendanaannya ditempat lain di Tanah Air. Lalu kita dapat apa ? tidak ada, kecuali hanya kegulitaan dalam penerangan dan kegelapan di malam hari. Jangankan Investor tertarik, menyebut saja Sulteng tak ubahnya sekedar basa basi.

Kesepakatan publik jangan hanya diposisikan sebagai charter yang fluktuasif, hanya untuk protes cabut ijin atau lakukan reduksi, kemudian diam tanpa disambung dengan mekanisme konsistensi kontrol yang jelas dan publikatif. Ada kecenderungan semakin meluasnya menyebut Sulawesi Tengah (Sulteng) hanya sekedar basa basi, bukan hanya dilakukan oleh investor yang baru saja menginjak bumi Tadulako, tetapi oleh masyarakat Sulteng yang peka perubahan walaupun mereka patah pinsil dan tidak mampu baca tajuk. Betapa Propinsi ini telah banyak kehilangan dalam

80

perubahan dan berubah cepat dalam proses kehilangan, terutama yang berkaitan dengan sumber daya alam hutan dan kelautan. Masih mampukah kita belajar dari kegulitaan dan kegelapan sekedar basabasi tersebut sebagai alasan untuk meningkatkan spirit pencerahan?. PLTA Palu III tanpa dukungan spirit pencerahan masyarakat tidak ada artinya, demikian juga dukungan Gubernur terhadap PLTA Palu III tidak ada artinya dan mungkin tidak ditulis pada surat yang ditandatangani Beliau untuk ditujukan kepada Menteri Kehutanan bila hanya memfasilitasi semangat pencerahan investor saja yang baru datang dan belum banyak belajar avant- garde masyarakat Sulteng.
Untuk itulah, semua elemen masyarakat harus merapatkan barisan untuk melakukan perlawanan dalam bentuk konsep setiap ada kelompok lain yang hanya menentang, tetapi tidak jelas argumentasinya dan, kalaupun mereka mengemukakan pernyataan, semua berlatar kepentingan, sarad dengan retorika, dan jauh dari suara mewakili kepentingan rakyat yang lebih besar.

Spirit pencerahan tidak hanya perlu perapatan barisan. Hal yang satu ini sebenarnya perlu juga dilandasi pemahaman bahwa krisis martabat dapat mempercepat globalisasi kemiskinan. Dengan demikian konsepnya bukan membuat pertentangan tetapi membuat pertemanan dibawah bendera argumentasi yang konstruktif bahwa proses pelepasan dari kemiskinan berarti semakin terikat pada komitmen publik untuk kembali ke martabat bangsa ini. Retorika memang masih diperlukan, sebagaimana sebuah tajuk diberita harian, tetapi perlu diingat bahwa koridor harus jelas. Bila substansinya menyimpang dari martabat bangsa yang berarti bahwa, antara lain ada statemen yang dapat dipahami investor sebagai peluang yang seluas-luasnya untuk eksploitasi semua sumber daya lokal, termasuk kelompok manusia marginal, maka sepatutnyalah bila retorika atau tajuk menerima kritisi publik.
Semoga dengan suara awal yang dilemparkan BEM Unisa Palu, elemen perguruan tinggi lain, bisa berjuang secara bersama melawan para kelompok penghalang majunya pembangunan, merupakan sikap yang terpuji, sepanjang perlawanan yang diberikan, bukan secara fisik, tetapi secara konseptual. Logis, Ilmiah, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dan inilah harapan kita kedepan, bila Sulteng khususnya Palu, ingin bangkit menyamai kota-kota lain di negeri ini.

Memang sangat luar biasa proses menyatukan opini untuk terealisasinya PLTA Palu III, bahkan mungkin sampai lupa bahwa interkoneksi dengan transmisi regional Sulawesi pun sebenarnya sedang berproses, walaupun agak pelan karena masalah di luar kemampuan teknis yang rencana aplikasinya melintang antara Poso- Palu dan melintas diatas Kawasan Lindung Kebun Kopi. Penguatan kelistrikan di Sulawesi Tengah semoga berjalan dengan lancar, selancar proses penyatuan opini para calon intelektual tradisional, bahkan intelektual tradisional yang jelas lepasan Perguruan tinggi sebagaimana harapan kita bersama.

81

Bagaimana nasib para intelektual organik yang lulus pembelajaran dari lingkungan dan masyarakat marginal? Saya sependapat bahwa intelektual organikpun perlu dilibatkan, sehingga manajemen hulu-hilir Daerah Aliran Sungai sebagai satu-satunya andalan lestarinya PLTA dapat menjadi pemahaman kita bersama. Jangan sampai daerah hulu dirusak karena orang hilir yang telah keenakan mendapat listrik surplus lupa kewajiban kompensasinya bagi orang hulu, bahkan sangat disayangkan bila ada orang hilir membuka peluang bisnis sawmill dengan orang hulu, yang jelas akan semakin tidak mengkondusifkan fungsi air bagi operasional PLTA. Ada baiknya bila wacana pemahaman tersebut diatas dapat memacu atau memperjelas kerja fasilitator CSIADCP yang saat ini masih didominasi intelektual tradisional.
Mari kita berjuang demi kemaslahatan umat. Jangan biarkan saudara-saudara kita terisolasi di Lore Lindu karena dijadikan objek pemberdayaan dengan cara memperdayai. Cara demikian, selain terhina, juga dosa besar. Rakyat diobjekkan dengan cara pemiskinan berkelanjutan, sementara yang melakoni proses kemiskinan, bisa sejahtera lahir dan batin, karena pemiskinan itu sendiri ternyata mendatangkan nikmat bagi pelakonnya.

Berjuang demi kemaslahatan umat sebenarnya tidak mengenal paham hak monopoli. Sangat disayangkan bila masih ada saudara kita yang terisolir karena suatu proyek non phisik CSIADCP yang tidak jelas. Aplikasi proyek non phisik yang jelas akan melibas segala pemahaman yang memposisikan manusia sebagai obyek. Opsi PLTA Palu III berdasarkan kejelasan dan kecerdasan si pengelola proyek non phisik (kalau masih punya) seharusnya dapat membuka peluang intelektual organik berkomunikasi aktif dan kreatif dengan fasilitator yang intelektual tradisional tersebut. Hasil komunikasi yang sehat tentunya dapat diukur dari prediksi usia lanjut PLTA dimaksud, semakin panjang prediksi usia PLTA, berarti ada dukungan dari proses komunikasi yang sehat. Komunikasi yang sehat dalam masalah ini, seyogyanya dapat menghasilkan kebebasan kreatif lokal yang tetap kondusif pada koridor PLTA Palu III yang harus disepakati publik memenuhi 3 syarat yaitu : tidak ada pengorbanan nilai-nilai budaya, tidak ada pengorbanan hutan alam resapan air dan tidak ada kebenaran mutlak. Salah satu produknya yaitu wawasan de-sentralisasi kelistrikan. Aplikasinya sesuai potensi lokal antara lain adalah mikrohidro elektrik yang dikelola dan dimanfaatkan masyarakat lokal sendiri tanpa merepotkan pemerintah, dan secara faktual dapat menjamin aplikasi kompensasi dari hilir dan menjamin usia lanjut PLTA besar (PLTA Palu III) yang dominan ditargetkan untuk masyarakat dan investor di lembah Palu.
Palu, September 2002.

82

PROSPEK NEGATIF PENEBANGAN LIAR DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU


PENGHANTAR MAKALAH Pemilihan judul makalah diatas adalah tepat, bila dikaitkan dengan topik program atau kegiatan pembangunan apapun yang memposisikan Taman Nasional sebagai basis atau pusat perhatian kebersamaan persepsi, yang tetap konsisten dengan batasan fungsinya sebagai kawasan pelestarian alam. Penebangan liar di Indonesia beberapa tahun terakhir ini,dimanapun potensi rimba raya masih ada, tak terkecuali TN Lore Lindu, sudah menjadi hal biasa untuk terjadi sebagai awal aplikasi suatu konspirasi, mulai dari sekelompok orang yang sederhana dengan alasan perut sampai jaringan sindikasi yang menempuh kerumitan politik dengan alasan globalisasi, marginalisasi, sentralistik, eco-fasis dsb. Inisiatif Departemen Kehutanan tentang aplikasi Proyek atau kegiatan terpadu pembangunan kehutanan berbasis Taman Nasional yang pemantapan rencananya dibahas pada bulan Februari 2002, adalah terobosan baru, minimal untuk menghambat laju penebangan liar yang semakin marak menggempur benteng terakhir hutan alam Indonesia. Pemahaman benteng terakhir yang selama ini di posisikan di kawasan konservasi, khususnya Taman Nasional, menjadi salah satu tantangan inisiatif Departemen Kehutanan, karena masih banyak tantangan-tantangan lain yang berkaitan dengan pemahaman keterpaduan pembangunan di sektor kehutanan itu sendiri. Berdasar pengalaman kami di lapangan, ternyata pemahaman itu sendiri perlu perubahan, sebab konsekuensi dari aplikasi pemahaman tersebut selama ini ternyata semakin dirapuhkan dan sangat mudah dipinggirkan oleh konspirasi kuasa gelap yang semakin kenceng membuka peluang penebangan liar sekaligus perambahan di kawasan Taman Nasional. Kencengnya konspirasi kuasa gelap tersebut berdasar pencermatan dan analisis kami terhadap berbagai substansi yang terkait, ternyata selaras juga dengan semakin lebarnya peluang pasar hasil industri perkayuan, kedudukan pola penebangan liar yang semakin kuat dan kondisi kondisi external yang berkaitan dengan aspek politik, budaya, sosial, ekonomi dan penegakan hukum yang semakin kondusif untuk memposisikan penebangan liar sebagai kegiatan bisnis biasa. PELUANG PASAR HASIL LANJUT PENEBANGAN LIAR Pada tanggal 5 15 Nopember 2001 (sepuluh hari) TN Lore Lindu bekerjasama dengan Polda Sulawesi Tengah dan Forum Kemitraan TN Lore Lindu, melakukan pendataan sekaligus pemetaan tebaran industri perkayuan dan kios penjual kayu untuk kebutuhan lokal di lembah Palu, dengan hasil antara lain yaitu ditemukan : (1) industri moulding 2 unit, satu diantaranya tanpa memegang legislasi ijin industri, (2) Industri sawmill 58 unit, 40 unit tanpa ijin, dan

83

(3) dari 77 unit kios penjual kayu untuk pasar lokal, ternyata 65 unit kios tanpa legalitas ijin usaha yang terkait. Dari pihak Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Tengah, atas dasar statemen dari Wakil Kepala Dinas Kehutanan yang dimuat Radar Sulteng tanggal 26 Desember 2001, menyebutkan bahwa dari kurang lebih 120 sawmill yang diinventarisasi, terdapat 95 unit industri sawmill tanpa Rencana Pengadaan Bahan Baku Industri (RPBI) yang disahkan atau dilegitimasi Dinas Kehutanan Propinsi, berarti terdapat 80% industri sawmill yang diposisikan illegal penggunaan bahan bakunya. Selanjutnya, pada tanggal 29 Desember 2001 Harian lokal Radar Sulteng memuat statemen dari Dinas Perindagkop Propinsi Sulawesi Tengah yang membanggakan sekaligus membuat kami meragukan kemampuan sumber bahan baku resminya. Statemen yang dimuat harian lokal tersebut antara lain yaitu : kontribusi hasil industri kayu ke pasar ekspor produk industri Propinsi Sulawesi Tengah, 4 tahun terakhir ini selalu meningkat : 1997 (29%), 1998 ( 35%), 1999 (51%), dan 2000 (54%) dengan tujuan negara importir hasil industri kayu yang semakin meningkat pula : 1997 (4 negara), 1998 ( 6 negara), 1999 ( 9 negara) dan 2000 ( 15 negara). Adapun kapasitas terpasang peralatan industri kayu sebesar 648.249 m cubic. Memperhatikan data dan informasi yang diperoleh mengikuti squen tersebut diatas dan gencarnya penebangan liar di hutan, khususnya TN Lore lindu, untuk sementara dapat diambil kesimpulan bahwa pola penebangan liar di TN Lore Lindu semakin dikuatkan, melalui beberapa substansi masalah sebagai berikut : 1. Pendekatan bisnis ekonomi jangka pendek : kayu cepat jadi uang, dengan uang masyarakat lokal - pada kondisi krisis - tidak dipersulit untuk mendapat peluang pekerjaan dan makan, tanpa berpikir panjang lagi bahwa dirinya telah diperalat untuk merusak hutan. 2. Posisi diperalat semakin mempertajam proses marginalisasi masyarakat lokal. Kebiasaan menerima order yang serba cepat akan semakin mempersulit Pemerintah melakukan pelayanan sosial yang harus melalui proses perencanaan, sehingga akan muncul istilah janji adalah bukan janji. 3. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi masih menjadi satu-satunya alat pemerintah untuk dasar legitimasi usaha pihak pengembang penggunaan wilayah dan pengusaha yang bergerak di bidang kehutanan cq. Kayu. Dampak penggunaan alat tersebut ternyata masih berlanjut pada kebijakan pemerintah untuk pengesahan RPBI yang berkaitan dengan HPH di fungsi hutan produksi dan konversi, serta penerbitan IPK sebagai hasil ikutan proses pembangunan di Areal Penggunaan Lain (APL). Keberlanjutan ini, tergantung situasi dan kondisi bentang alam dan akses transportasi, diduga dapat memberi peluang ke pengusaha nakal untuk pelegalan hasil penebangan liar di Taman Nasional melalui dokumen angkutnya. 4. Terkait dengan butir 3, terutama yang berakses ke Tata Usaha/Peredaran Hasil Hutan (incl. Kayu) Departemen Kehutanan masih memposisikan Kepala Dinas Kehutanan sebagai orang yang hedonis, yaitu orang yang dapat kesempatan untuk selalu happy bagaikan selebriti. Betapa tidak, ada 3 kewenangan sekaligus ditangannya untuk pelayanan kepada pengusaha yang bergerak di bidang hasil hutan eksploitatif yaitu : legitimasi/rekomendasi ijin lokasi, pengesahan rencana produksi (RKT,RPBI) dan pengawasan, sehingga jamak bila musim reformasi

84

sekarang ini yang bersangkutan dapat menjadi selebriti korandan pelanggan tetap hearing DPRD. 5. Di lain pihak, ada lembaga pemerintah atas nama koordinasi maupun non pemerintah yang melakukan aplikasi program pengembangan masyarakat di sekitar Taman Nasional, dalam rangka keterpaduan pembangunan dan konservasi. Banyak aplikasi sumber dana hutang untuk proses realisasi program/proyek ini, namun ternyata lebih banyak pelajaran ketidakmulusan bahkan bencana yang diterima, selama aplikasi phisik proyek (jalan, jembatan, bangunan rumah) dilaksanakan tanpa didasari hasil komunikasi kesetaraan dengan masyarakat lokal. Dengan demikian kiranya masih perlu diwaspadai segala program yang berkaitan dengan Taman Nasional : Apakah pengembangan masyarakat di sekitarnya ada peluang untuk pendekatan yang memposisikan masyarakat tidak/kurang bertanggungjawab terhadap eksistensi dan fungsi kawasan? 6. Kami sebagai yang sedang dipercaya pihak pemerintah untuk mengelola Taman Nasional selalu berusaha untuk membantu proses penegakan hukum , namun kesan represif yang dikooptasikan sebagai pendekatan eco-fascism menjadi tanda bahwa pendekatan hukum masih belum dapat diterima oleh kalangan tertentu, bahkan dilawan dengan mengkondisikan kelompok masyarakat marginal tertentu menjadi anarchis terhadap potensi alam dan alat terjadi chaos sebagai tujuan akhir berupa kehancuran kawasan pelestarian alam sebagai asset kepentingan publik yang lebih luas. 7. Mungkin beberapa bentuk aksi untuk perenggangan kohesi sosial dan konflik horisontal sudah mulai menggunakan kawasan Taman Nasional sebagai kancah proses demokrasi sesaat atau kejutan hanya untuk menyongsong Pemilu 2004, namun implikasi penyelesaian masalahnya harus selalu melalui proses hukum sebagai satu-satunya jalan orang menemukan keadilan. Demokrasi yang tak berkeadilan dan berkelanjutan jangan sampai larut dalam proses penegakan hukum seperti proses penegakan tiang berbendera, artinya cepat selesaikan kasus kecil yang ditanggung rakyat kecil, kemudian umumkan ke dunia bahwa bangsa ini peduli hukum, sementara kasus besar yang bermuatan dalang penghasutan tidak dikibarkan. Tujuh substansi masalah tersebut diatas adalah ilustrasi faktual bagaimana pola penebangan liar yang terjadi di kawasan Taman Nasional Lore Lindu dapat semakin dikuatkan. Departemen Kehutanan sangat tepat bila berhasil menyiapkan protagonis program yang kondusif dengan fungsi dan system pengelolaan Taman Nasional, sehingga penguatan pola penebangan liar di kawasan Taman Nasional semakin dikendorkan mulai dari dalam, artinya (1) seberapa besar niat baik kita dalam era otonomi ini untuk melakukan perubahan strategi dan aturan yang berkaitan dengan pelestarian hutan? Dan (2) kapan lagi kita mencoba menerapkan persepsi dan kepedulian bersama melalui keterpaduan pembangunan dan pengelolaan di sektor kehutanan yang lama dirindukan, terutama berbasis Taman Nasional sebagai benteng terakhir hutan alam Indonesia yang - sekarang ini - nyatanya sudah bopeng disanasini. Kami mencoba merenung, betapa besar tantangan yang harus dihadapi untuk menerapkan program keterpaduan pembangunan kehutanan tersebut, mengingat kondisi bangsa ini yang sedang belajar menyelesaikan masalah secara demokratis.

85

Kondisi eksternal perlu menjadi pertimbangan dan nilai kewaspadaan melalui berbagai aspek berikut ini, agar jajaran kehutanan dapat mengantisipasi secara dini dan tidak semakin eksklusif di mata Pemerintahan Propinsi dan Kabupaten/ Kota serta hati sanubari masyarakat lokal. KONDISI POLITIK DAN BUDAYA

1. PENGEMBANGAN WILAYAH

Opsi otonomi membuka wacana baru yang memposisikan antara lain hutan sebagai asset daerah. Sementara Propinsi belum tuntas bicara hutan sebagai asset, kabupaten sudah berteriak lantang bahwa penerbitan dokumen SKSHH masih dikuasai Propinsi. Politik perebutan asset ini, kelihatannya lebih menjurus ke kantong alokasi pemahaman bahwa hutan identik dengan sapi perah. Apakah keterpaduan pembangunan kehutanan berbasis Taman Nasional yang sedang sakit parah, akan bicara perebutan alokasi semacam itu? Kiranya perlu hati-hati dan kewaspadaan prima untuk penerapan program keterpaduan tersebut. Jangan sampai ada kesan bahwa program tersebut adalah setetes konsentrasi kekuatan kehutanan pusat (Nasional) di daerah (Propinsi/Kabupaten /Kota), di luar Dana Alokasi Khusus Kehutanan.

2. PENDEKATAN DARI ATAS

Kecurigaan daerah terhadap pengembangan opsi sentralistik diduga kuat akan menonjol lebih kencang dipermukaan bentang alam Propinsi dan Kabupaten/Kota, apabila pendekatannya hanya memposisikan Taman Nasional sebagai jargon untuk menggalang kekuatan integrasi dan pemberdayaan di lingkup sektor kehutanan secara instansional. Peran keluar sebagai instansi yang terpadu dalam program pelayanan kepentingan daerah terhadap Taman Nasional sebagai asset lingkungan, kiranya perlu diprioritaskan dalam pelaksanaan program ini.

3. KOLUSI

Budaya kolusi yang terkooptasi dengan dana program, akan menjadi isu yang menonjol di kalangan publik melalui mass media, bila program/proyek keterpaduan pembangunan tersebut menciptakan strategi kekuasaan kewenangan di satu tangan. Jangan sampai terjadi karena Taman Nasional sebagai basis, maka tanggungjawab sepenuhnya di Balai Taman Nasional. Seyogyanya kerja tim keterpaduan fungsional berbagai pihak terkait dapat dicoba terapkan dalam pelaksanaan program ini.

4. AROGAN

Hindari sikap arogan, karena banyak kalangan yang masih menilai aroganitas sektor dari besarnya dana proyek. Uang sebagai alat ukur, memposisikan besarnya dana lebih penting untuk dijadikan isu negatif dari pada prediksi keberhasilan dan tindak lanjut manfaat sesuai rencananya.

5. EXPANSIONIST

Suasana Propinsi maupun Kabupaten/Kota yang sedang bersemangat membangun perangkat hukum untuk memperkuat status dan tingkat kemandirian daerah otonom adalah peluang yang sangat kondusif untuk penerapan program ini, sehingga Taman Nasional secara kolaboratif dapat diposisikan sebagai inti plasma wilayah pembangunan

86

berbasis eko-regional di daerah. Hindari kesan negatif sebagai program okupasi yang dilakukan oleh persekongkolan expansionist dari sektor kehutanan.

6. HAK INDIVIDU

Pendekatan kapitalistik sudah terlalu jamak di kalangan publik sekitar Taman Nasional, yang hasil akhirnya adalah semakin kokohnya pemahaman hak individu dan terdegradasinya pemahaman hak komunal masyarakat adat. Program keterpaduan pembangunan kehutanan ini diharapkan secara budaya dapat semakin memperkuat pemahaman hak komunal dimaksud.

7. TIDAK TRANSPARAN

Ada kecenderungan bahwa proyek terpadu justru menciptakan pendekatan kebersamaan yang tertutup hanya bagi kalangan atau sekelompok orang tertentu yang sama dan sepakat dengan tujuan di belakang layarnya. Diharapkan penerapan program ini tidak direncanakan demikian, tetapi didasarkan pada semangat keterpaduan yang transparan melalui pendekatan kesetaraan para pihak, sehingga secara obyektif dan legitimate dapat diperoleh indikator-indikator keberhasilannya. KONDISI SOSIAL DAN EKONOMI

1. MODAL SOSIAL

Ada kecenderungan yang sudah lama berlangsung bahwa modal pembangunan hanya di dukung oleh investasi yang diukur dengan nilai uang dan modal sumber daya alam sebagai sasaran yang akan dieksploitasi sesuai kemampuan investasi. Modal sosial berupa kearifan tradisional, pemahaman lokal yang berkaitan dengan prinsip konservasi alam dan pengaturan kewilayahan sama sekali kurang diperhatikan. Untuk keterpaduan pembangunan kehutanan berbasis Taman Nasional diharapkan ada upaya untuk memposisikan pemahaman modal sosial ini sebagai bagian dari revitalisasi peran masyarakat lokal/adat menjadi pemerhati utama pelestarian fungsi Taman Nasional.

2. KEBAJIKAN BANGSA

Pemahaman masyarakat tentang kebajikan bangsa sangat rendah. Mungkin terlalu banyak pemerintah memberi kebijakan, sehingga kebajikan bangsa (civic virtue) yang erat kaitannya dengan modal sosial untuk membangun karakter bangsa secara mandiri semakin terdegradasi. Kondisi ini adalah tantangan aplikasi program terpadu untuk terus menerus berhubungan dengan masyarakat melalui konsultasi publik serta proses pembentukan dan revitalisasi kelembagaan masyarakat lokal yang secara inheren punya potensi untuk peduli Taman Nasional. Dari proses inilah diharapkan kolaboratif manajemen Taman Nasional dengan masyarakat lokal/adat dapat segera diselenggarakan.

3. KOHESI SOSIAL

Pendekatan kapitalistik memposisikan anggota masyarakat semakin berpola pikir individual, dampaknya adalah kohesi sosial semakin lemah. Kondisi ini mempermudah terpicunya konflik horisontal, sebab pranata sosial untuk kepentingan komunal yang mengacu pada warisan pemahaman adat dan/atau aturan lokal semakin tergeser dengan kebijakan, aturan dan sistem birokrasi formal. Pada proses penggeseran

87

tersebut, di tingkat masyarakat marginal yang peka dan tanggap profokasi jahat, ternyata dapat terpicu konflik antar etnis dan agama atas penguasaan sumber daya alam. Program keterpaduan akan menghadapi hal yang demikian, sehingga perlu kegiatan yang mempererat kembali kohesi sosial. Kegiatan tersebut tidak harus melalui olah raga sepak bola antar kampung, misalnya, tetapi yang penting adalah bagaimana kohesi sosial yang semakin kondusif ini dapat memperkuat pemahaman masyarakat lokal tentang fungsi Taman Nasional.

4. OBYEK PRODUKSI

Ada kecenderungan bahwa masyarakat lokal diposisikan sebagai obyek untuk pengadaan faktor produksi berupa tanah. Hal inilah yang memicu laju perambahan di Taman Nasional, sebab cukong tanah berperan di belakang layarnya. Diharapkan Program keterpaduan ini dapat menahan laju konspirasi yang melakukan gerakan peminggiran subyek tersebut.

5. MODAL PENGHANCUR HUTAN

Isu yang berkaitan dengan masyarakat tanpa lahan/lapar lahan di sekitar kawasan hutan serta isu yang berkaitan dengan konspirasi bahwa pemerintah tidak perlu melakukan evaluasi terhadap kondisi resettlement atau daerah trasmigrasi di sekitar Taman Nasional, adalah isu yang perlu ditangkal dengan pendekatan khusus kepada masyarakat lokal sekitar kawasan secara dini melalui program terpadu ini. Isu tersebut adalah bom waktu yang akhirnya akan memposisikan masyarakat lokal sebagai modal murah untuk merusak hutan/alam.

6. REPLIKASI AGRIBISNIS

Pendekatan copy-paste yang berkaitan dengan agribisnis monokultur sangat luar biasa dampaknya terhadap eksistensi dan potensi Taman Nasional. Salah satu ancaman yang akhirnya membangun semangat masyarakat lokal untuk merambah adalah penanaman cacao, merupakan tindak lanjut perannya sebagai obyek produksi. Pada tahun 2000 ekspor biji cacao Indonesia mencapai 350.000 ton, 70%nya didukung dari Sulawesi. Bagaimanapun juga program terpadu ini harus mampu mencegah perambahan antara lain melalui pendekatan bio-prospektif (promosi keanekaragaman hayati pangan atau asesoris lokal untuk akses pasarnya).

7. PELARIAN MODAL

Berdasar kondisi lapangan dan suasana ekonomi makro yang penuh dengan ketidakpastian untuk stabilitas jangka panjang, ada kecenderungan para pemodal untuk memberdayakan uang melalui pendekatan ekonomi jangka pendek yang dapat berdampak langsung pada kerusakan sumber daya alam, khusus di Taman Nasional dapat berdampak pada degradasi fungsi yang berkaitan dengan catchment area dan keanekaragaman hayati atau fungsi bank plasma nutfah. Kegiatan ekonomi yang tak bertanggungjawab itu, dari hasil investigasi di lapangan ada kecenderungan berskala internasional, sehingga kalau masalahnya ketahuan akan segera terjadi pelarian modal (capital flight) ke tempat lain yang potensial untuk melakukan perbuatan yang sama. Program keterpaduan diharapkan dapat membangun kewaspadaan bersama yang melibatkan masyarakat lokal, sehingga marginalisasi subyek sekaligus kerusakan lingkungan dapat ditangkal sedini mungkin.

88

KONDISI PENEGAKAN HUKUM

1. BELUM PRIORITAS

Memperhatikan progress upaya hukum yang berkaitan dengan lingkungan dan hutan selama ini yang berkesan lambat dan bahkan diduga ada upaya menghentikan, dapat diambil kesimpulan untuk sementara ini bahwa penerapan hukum yang berkaitan dengan Undang-Undang lingkungan dan kehutanan belum masuk prioritas. Untuk itu diharapkan program keterpaduan ini dapat membangun suatu gerakan moral masyarakat yang bersemangat untuk memicu sekaligus memacu perhatian aparat penegak hukum segera memperhatikan lingkungan dan hutan sebagai prioritas prima. Contoh progress penyelesaian perkara angkutan kayu tanpa dokumen di Polda Sulteng : Kasus bulan juni oktober 2001 sebanyak 40 kasus. Sampai sekarang (Februari 2002, belum ada laporan resmi lebih lanjut) progresnya sbb : Tersangka dan barang bukti diserahkan ke penuntut umum (Kejaksaan) 12 kasus. Berkas tuntutan diserahkan ke Kejaksaan 3 kasus. Dalam tahap pemberkasan : resume 1 kasus, pemeriksaan saksi-saksi 7 kasus dan pemeriksaan saksi-saksi sekaligus tersangka 9 kasus. Dilimpahkan proses sidiknya ke Polres Donggala 5 kasus. Diserahkan ke DENPOM 2 kasus. Sama sekali belum diproses 1 kasus.

2. BELUM KONDUSIF

SDM untuk penegakan hukum di bidang kehutanan belum disiapkan selaras dengan kecenderungan meningkatnya ancaman terhadap potensi dan eksistensi Taman Nasional, antara lain pemberdayaan Polhut, integritas Polhut dan pengadaan PPNS. Di pihak lain, yaitu Kepolisian sebagai satu-satunya inlet proses penegakan hukum, Bagian TIPITER di tingkat Polda SDMnya sangat terbatas, misalnya di Polda Sulteng hanya ada 3 staff Reserse di Bagian TIPITER Ditserse. Diharapkan program terpadu ini dapat memfasilitasi pemberdayaan SDM dimaksud sehingga dapat kondusif dan mengimbangi laju gerakan sindikasi perusak hutan.

3. PENGAWASAN DI SATU TANGAN

Pengrusakan hutan yang terjadi akhir-akhir ini, sebenarnya telah memporak porandakan aturan yang berkaitan dengan tata usaha peredaran hasil hutan yang memposisikan pengawasan ada di satu tangan. Agar dapat mengantisipasi penguatan jaringan sindikasi penebangan liar, maka program keterpaduan harus dapat memfasilitasi pembentukan sekaligus aplikasi sistem multi kontrol melibatkan para pihak yang secara sukarela peduli untuk ikut mengawasi dan menertibkan peredaran hasil hutan dimaksud. 4. KETIDAK PEDULIAN PUBLIK Ada sikap pesimistis dari masyarakat yang selama ini percaya kepada pemerintah dapat mengatasi penebangan liar dan perambahan. Tetapi jaman telah berubah dan ternyata

89

membutuhkan multistakeholders programme, antara lain untuk membangun dan meningkatkan kembali kepedulian masyarakat terhadap hutan. Dengan demikian Program keterpaduan ini diharapkan dapat memfasilitasi upaya tersebut antara lain melalui kegiatan konsultasi publik, siaran pedesaan dan bulletin rutin. REKOMENDASI Ada 2 pokok rekomendasi yang kami sampaikan yaitu yang berkaitan dengan upaya menghadapi dan mencegah penebangan liar serta rekomendasi untuk menghadapi dan mencegah perambahan di kawasan Taman Nasional. Diharapkan rekomendasi ini dapat menjadi acuan untuk membuat lembaran kerja pelaksanaan program keterpaduan, dengan demikian dapat tepat sasaran dan kebutuhan baik untuk jangka pendek ( tahun 2002) maupun jangka panjang keberlanjutan program. Diakui bahwa di Taman Nasional Lore Lindu saat ini sedang berjalan beberapa kegiatan/ proyek keterpaduan yang berkaitan dengan kepentingan Taman Nasional, khususnya pemberdayaan/ pengembangan masyarakat di sekitar kawasan. Namun keterpaduan tersebut berkaitan dengan kegiatan instansi pemerintah yang lain misalnya Bappeda Propinsi dan Kabupaten (Donggala dan Poso), Kimpraswil dan PMD dalam proyek CSIADCP (Central Sulawesi Integrated Area Development and Conservation Project) yang didukung pendanaan loan ADB. Adapun yang di dukung hibah, beberapa NGO internasional juga ikut bermain antara lain TNC menggunakan hibah USAID dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Lore Lindu dan micro interprise, CARE International menggunakan hibah NORAD Norwegia melakukan Community Development serta beberapa Lembaga Grantee yang memfasilitasi pengembangan kelembagaan di tingkat masyarakat local serta LSM lokal dalam membangun kepedulian terhadap Taman Nasional. Program jangka panjang yang berkaitan dengan penelitian dan aplikasinya untuk stabilitas rain forest margin di Taman Nasional sudah berjalan sejak tahun 1999 yaitu melalui program STORMA yang di dukung kolaborasi antara Universitas Tadulako, Institut Pertanian Bogor dan Universitas Gottingen Jerman. Semua institusi tersebut, kecuali yang tergabung dalam CSIADCP, telah ada MOU dengan Balai Taman Nasional Lore Lindu. Mengingat bahwa belum ada program keterpaduan intern Kehutanan yang berbasis Taman Nasional, besarnya masalah perambahan dan penebangan liar serta potensi kependudukan di sekitar kawasan yang meliputi 2 Kabupaten, 6 Kecamatan, 60 desa yang langsung berbatasan dengan Taman Nasional dengan jumlah penduduk lebih dari 67.000 jiwa, 13.000 KK (sensus tahun 2000), maka program keterpaduan intern tersebut sangat diperlukan sehingga ada aplikasi teknis yang diharapkan dapat memperkuat persepsi yang sama disamping mengurangi potensi konflik corps jajaran kehutanan, karena aturan yang sebenarnya sudah tidak kondusif lagi dan perlu perubahan.

90

Dengan demikian rekomendasi yang kami ajukan adalah sebagai berikut : REKOMENDASI I Rekomendasi ini untuk aksi/ kegiatan dalam rangka menghadapi dan mencegah penebangan liar : 1. Pemberdayaan PPNS Kehutanan : Perlu pengadaan atau bantuan PPNS Kehutanan. Di Polda Sulteng hanya ada 3 staff Reserse di Bagian Tipiter, sementara perkara kayu tanpa dokumen lebih dari 50 kasus. 2. Pengadaan Sarana Prasarana, terutama senjata api yang sementara ini dititipkan di Polda ( 10 pucuk laras panjang) untuk membantu mempercepat pelacakan, penangkapan, penyelidikan dan penyidikan. 3. Revitalisasi sistem lelang hasil hutan dalam penanganan kasus : perlu protap lelang kayu tangkapan/rampasan yang lebih lugas dan tegas. 4. Review aturan tata usaha peredaran hasil hutan : perlu transparan dan multi kontrol dari para pihak; quota ditetapkan pemerintah berdasarkan indikator fungsi hutan bagi kepentingan pelayanan publik yang berkaitan dengan kondisi ekologi regional setempat. 5. Proses pembentukan dan penguatan forum Polhut baik di tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota : penyegaran/revitalisasi-integrasi visi, misi, fungsi dan tugas Polhut, sekaligus aplikasinya di lapangan secara terpadu sesuai tingginya nilai ancaman, waktu dan tempat (pewilayahan kerja). 6. Proses pembentukan dan penguatan kelompok masyarakat dalam rangka pengamanan partisipatif : sebagai salah satu upaya penguatan kohesi sosial. 7. Pengadaan paket kegiatan fungsional Polhut dalam rangka : patroli pengamanan kawasan, amputasi angkutan hasil hutan illegal, membantu penyelesaian perkara (jadi saksi) dan fasilitator masyarakat dalam rangka penyusunan rencana pengamanan partisipatif. 8. Pengadaan paket penyelesaian perkara : dari tingkat lidik di POLRI, penuntutan Jaksa dan proses pengadilan. 9. Pengadaan paket asuransi jiwa fungsional Polhut. 10. Seminar kewenangan Sub Seksi Wilayah Konservasi pada posisi eselon IV. REKOMENDASI II Rekomendasi ini berkaitan dengan aksi/kegiatan untuk menghadapi dan mencegah perambahan : 1. Penyelesaian perkara sampai ke pengadilan : perlu pendekatan konsultatatif beraspek hukum yang terkait terhadap para penghasut dan pimpinan organisasi perambah. 2. Proses pembentukan dan penguatan Lembaga Konservasi Desa dan Forum Kecamatan : perlu kerjasama dengan kelembagaan adat atau masyarakat setempat untuk membangun kesepakatan tidak merambah dan membantu menghentikan perambahan, proses pemantapan tata batas fungsi Taman Nasional, pemetaan dan perencanaan partisipatif wilayah maupun potensi desa atau adat. 3. Sosialisasi dan pelayanan hukum : memproses lebih lanjut secara hukum terhadap surat pengaduan masyarakat yang anti perambahan atau sadar tidak lagi merambah.

91

4. Konsultasi publik dan penyuluhan : membangun gerakan moral masyarakat atas kesadaran terhadap perlunya fungsi hutan Taman Nasional sebagai asset pelayanan publik atas hak lingkungan dan potensi pendukung kehidupan yang berkelanjutan dan adil. Dalam hal ini termasuk pula upaya rehabilitasi moral/mental ex perambah. 5. Pengadaan Landsat tahunan untuk monitoring dan evaluasi potensi dan kawasan (terutama sekitar batas), dalam rangka pemberdayaan operasional GIS dan GPS. 6. Rehabilitasi phisik ex perambahan : penerapan system hutan kerakyatan, penanaman kembali dengan mengutamakan jenis-jenis pohon komersial asli setempat, menjaga secara bersama proses suksesi alam dan diawali dengan mengutamakan kepentingan catchment area untuk rehabilitasi fungsi tata air. 7. Penataan pemukiman : koordinasi program kembali ke asal serta re resettlement ke APL yang layak dan jauh dari kawasan Taman Nasional melalui konsep pendekatan ekologi-regional yang memposisikan Taman Nasional sebagai inti plasma wilayah pembangunan yang berwawasan lingkungan, berkelanjutan dan adil. 8. Pemeliharaan dan rekonstruksi batas kawasan : setiap tahun pemeliharaan batas di Taman Nasional Lore Lindu rata-rata hanya dijatah 15 Km. Jadi untuk panjang batas 644 Km diperlukan waktu 43 tahun. Palu, Februari 2002 Catatan : Makalah ini disampaikan dalam rangka rapat penyusunan proyek/kegiatan Pengamanan Hutan Terpadu Berfocus Kawasan Taman Nasional di Hotel Safari Garden Cisarua Bogor, 14 16 Februari 2002. Statemen - statemen dalam makalah didukung data dan informasi yang kami peroleh dari lapangan dan referensi lokal yang terbatas dan mungkin terlalu kecil untuk ukuran Indonesia. Namun rekomendasi dalam makalah ini, diharapkan dapat menjadi segelintir garam ya ng semakin merubah rasa tawar sistem kerja Departemen Kehutanan, sehingga SDMnya mampu membangun persepsi bersama untuk mengendorkan semangat konspirasi kuasa gelap yang terus berusaha untuk menghitamkan dan mengkelabukan hutan Indonesia. Selanjutnya, butir-butir rekomendasi diharapkan menjadi masukan untuk tolok ukur dalam lembaran kerja kegiatan/proyek yang baru, semoga.

92

KRISIS MARTABAT MEMPERCEPAT GLOBALISASI KEMISKINAN


PENGANTAR Koordinator Parliament & Government Watch Sulawesi Tengah, Sdr. Agus Faisal, pada tanggal 5 Agustus 2002 datang ke Kantor Balai Taman Nasional Lore Lindu dan menyampaikan undangan Semiloka tentang Dampak Globalisasi terhadap Kemiskinan yang rencananya diselenggarakan tanggal 7 9 Agustus 2002 di Palu Golden Hotel. Namun pada hari H penyelenggaraan acara Lokakarya tersebut, saya tidak datang, karena memilih lebih baik pergi ke Dataran Lindu memenuhi undangan Ketua Lembaga Adat Masyarakat setempat, yang cenderung tidak bicara kemiskinan sebagai lawan atau teman, tetapi spirit pencerahan. Prinsip dasarnya adalah bagaimana masyarakat marginal pada komunitas tertentu dapat lepas secara bersama dari belenggu kemiskinan. Salah satu hasilnya antara lain adalah secara bersama harus mampu menahan diri dengan cara mengombo/ mempusokan danau Lindu untuk tidak diambil ikannya dalam waktu 6 (enam) bulan setiap tahun atau mengatur penggunaan jaring ikan dengan lebar lubang minimum 3,5 inchi. Beberapa aspirasi yang hebat untuk aplikasi yang tepat memang sangat kita perlukan. Masalahnya adalah apakah kita harus melawan kemiskinan, sementara kemiskinan itu sendiri adalah refleksi dari krisis martabat kita sebagai bangsa ? Berikut ini saya sampaikan sebagian curahan opini saya yang terpancing referensi lokakarya di Palu Golden Hotel sekaligus aplikasi langsung temu kampoeng di Dataran Lindu. GLOBALISASI KEMISKINAN Globalisasi pada prinsipnya adalah proses cepat unifikasi dunia untuk menuju ke efisiensi waktu dan efektifitas eksploitasi sumber daya di negara berkembang. Korban yang ditimbulkan dalam proses tersebut adalah manusia marginal yang pada umumnya berpola pikir sederhana. Umat Tuhan ini dikuatirkan semakin lama akan semakin kehilangan martabat. Proses reposisi kelompok manusia macam ini menjadi mesin yang harus direkayasa untuk mencapai globalisasi sangat luar biasa, ingat : fast food,

fast services, fast occupation and fast growing species monoculture.

Parlemen maupun pemerintah negara ketiga di seluruh dunia akan menghadapi siang dan malam bagaikan arena pacuan, sehingga semua langkah hanya dipertimbangkan dari sudut pandang politik praktis. Kalah atau menang sebagai opsi antagon dalam pacuan politik tersebut, menyebabkan hanya ada strategi tunggal yang dominan yaitu bagaimana mempercepat martabat tidak jadi beban manusia lagi. Kemiskinan, akhirnya tidak dapat dilawan tetapi dipertemankan dengan waktu itu sendiri. Martabat punya peluang untuk dimoratorium tanpa batas waktu, dampaknya harus diakui bahwa keadilan bukan lagi cita-cita politik. Fluktuasi kemiskinan hanya ditentukan oleh sang Patron. Ketika sang Patron bicara moral, artinya kebaikan menjadi dasar

93

gerakannya, tanpa melihat kebenaran lagi yang dinilai terlalu banyak dimonopoli regulasi. Asset Produksi diharmonikan dengan efisiensi waktu , sehingga posisi asset produksi hanya dipandang sebagai obyek kebaikan yang tanpa dievaluasi justru secepatnya dapat dirubah menjadi asset yang semakin melanggengkan kemiskinan. Fluktuasi dalam multi krisis sering mendadak dan tanpa dapat diprediksi secara situasional, sehingga banyak pihak yang berpendapat bahwa liberalisme keuangan dapat dihubungkan secara signifikan dengan kemiskinan. Hal yang sebenarnya aneh bila penghubungan tersebut masih dijadikan wacana, karena globalisasi kemiskinan tanpa martabat pada umumnya tidak dapat diukur lagi dengan uang, tetapi dengan momentum waktu politik peralihan pemahaman. Modal sang Patron yang lebih banyak berperan sebagai opportunis itu hanyalah waktu dan isu . Pembelajarannya tentang sejarah dan pengalaman penindasan maupun diskriminasi yang sistematis sering digunakan sebagai referensi isu. Selanjutnya isu ini, dengan segala manuver ada fakta dan kesan umum justru dipraktekkan sebagai paradigma sang Patron. Pertimbangannya antara lain yaitu : waktu yang tepat dan efisien bagi peralihan pemahaman publik, cepat terkenal dan hasil yang banyak bagi kepentingan kelompoknya , serta efektif untuk perubahan yang boombastis bagi tujuan politiknya, tanpa menyadari bahwa praktek tersebut tidak dibenarkan regulasi maupun kesepakatan publik yang lebih luas dan justru akan mempercepat proses globalisasi kemiskinan. Persoalan tanah dijadikan wacana yang memperkuat fakta berbasis isu. Sejarah pertanahan dan proses aplikasi legalitas pertanahan berdasar regulasi yang pernah ada, tidak pernah dirunut legitimasi publiknya, akhirnya menghasilkan konflik baru akibat penerapan polarisasi masalah yang serba kilat dan salah arah. Dengan demikian globalisasi kemiskinan tidak hanya dipercepat tetapi semakin diperkuat. AMBIGUISTIS DALAM PROSES PEMISKINAN Ketua Yayasan Pekurehua, Thius Sehox (2002), dalam suatu makalahnya yang rencananya akan dimuat di Nuansa Post, menulis bahwa okupasi, penebangan liar dan perambahan hutan di Dongi-dongi Taman Nasional Lore Lindu adalah pembohongan dan pengkianatan terhadap lingkungan hidup, sekaligus bohong dan memperalat masyarakat tradisional/marginal. Kepentingan okupasi yang dilakukan rakyat mendominasi praktek tersebut atas legitimasi LSM jaringan WALHI Sulteng. Okupasi tanah yang berlanjut pada proses pemiskinan berupa penghancuran potensi hutan alam sebagai resapan dan sumber air tersebut berdampak pada kepentingan publik yang vital dan luas secara ekologis regional, disamping itu secara kesejarahan adat ternyata legitimasi LSM jaringan WALHI Sulteng tersebut sekaligus mengokupasi wilayah adat Tawaelia Pekurehua. Selanjutnya Thius Sehox dalam makalahnya tersebut menyatakan sangat terkejut ketika mendengar statement WALHI Sulteng yang diwakili Sdr. Aristan dan Sdr Harley di Radio Nebula Palu tanggal 1 Agustus 2002, ketika bicara lingkungan untuk tolak tambang.

94

Kedua tokoh jaringan WALHI Sulteng tersebut melegitimasi Undang Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan bahkan mendukung tetap lestarinya Undang Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Berarti ada ambiguistis dalam proses pemiskinan yaitu pengingkaran dan inkonsistensi visi di tubuh jaringan WALHI Sulteng bila dikaitkan dengan legitimasinya terhadap okupasi di Dongi-Dongi. SOLUSINYA : KEMBALIKAN DAN PERTAHANKAN MARTABAT Situasi dan kondisi. Proses globalisasi kemiskinan punya sejarah panjang di beberapa negara dunia ketiga. Bangsa Indonesia tertimpa proses globalisasi kemiskinan ini lebih dari 300 tahun dibawah pemerintahan kolonialis Belanda (1602 1942). Namun demikian ada hal yang perlu dipertanyakan bila kebijakan yang semakin melanggengkan proses ini tetap dipelihara selama merdeka 57 tahun. Apakah globalisasi kemiskinan telah membudaya di Indonesia? Bagaimana situasinya? dan siapa yang mengkondisikan? Mungkin dua pertanyaan terakhir ini yang harus kita jawab berdasarkan martabat. Situasi untuk mengisi kemerdekaan selama lebih 57 tahun ini memang sangat luar biasa. Aspek politik yang mengarah pada ekonomi sebagai satu-satunya jargon kesejahteraan masyarakat mendominasi situasi. Dominasi aspek ekonomi yang menjurus pada perdagangan komoditas tanpa bisnis akreditas yang transparan, menyebabkan martabat pun dapat dinilai dengan uang sebagai standar ukuran keberhasilan yang tersembunyi. Undang Undang Nomor 1 tahun 1945 yang memfasilitasi perkembangan Otonomi Swatantra dilemahkan Demokrasi Terpimpin dan semakin lemah martabat bangsa ini ketika kapitalis sentralistik diaplikasikan lebih dari 30 tahun di negeri ini (terutama pada era Orde Baru). Siapa yang mengkondisikan ? hanya ada satu jawaban yaitu : pasar, antara lain takut kehilangan pasar dan melayani permintaan pasar, sehingga bangsa ini takut kehilangan pengakuan dunia atas potensinya dalam percaturan pasar. Bencana besar yang hingga sekarang sulit untuk ditanggulangi karena terlanjur larut dalam pasar adalah perubahan pemahaman yang berkaitan dengan permodalan. Pemerintah dan Parlemen hanya mengenal dua modal saja yaitu sumber daya alam dan perbankan. Martabat sebagai bagian yang paling hakiki dari modal sosial diabaikan. Dengan hilangnya martabat, bangsa Indonesia telah menjadi alat dan menjadi bagian dari proses globalisasi kemiskinan dunia. Bagaimana bangsa ini lepas dari posisi alat ini, tentunya tidak cukup dengan regulasi tetapi diperlukan hasil dialog kesepakatan yang lokalitas situasional, sehingga keanekaragaman bentuk martabat di persada Ibu Pertiwi ini punya peluang untuk mengkondisikan pasar berbasis keanekaragaman hayati dan modal sosial yang Bhineka Tunggal Ika.

95

Hindari pendekatan yang ambiguistis melalui perjuangan khusus, karena pendekatan inilah yang diprediksi dan sudah terbukti di beberapa tempat dilakukan oleh patron-patron bergaya politik praktis yang sudah terbiasa memposisikan martabat sebagai bagian dari kebaikan (moral sebagai alat politik), bukan bagian dari kebenaran (hukum sebagai kesepakatan publik). Otonomi Daerah berarti kemandirian Parlemen. Otonomi sejak awal kemerdekaan Bangsa Indonesia sudah menjadi wacana tokohtokoh penting pada waktu itu, bahkan sempat diatur melalui UU Nomor 1 tahun 1945 tentang Otonomi Swatantra. Namun pada aplikasinya, bukannya mengikuti aturan tetapi menguji aturan, sehingga terjadi tarik ulur kepentingan yang membudaya sampai sekarang. Fluktuasi tarik ulur kepentingan ini, frekuensinya tergantung pada sistem pemerintahan yang dipakai. Ada kecenderungan bahwa semakin mengarah ke Otokrasi frekuensi fluktuasinya semakin rendah, dan semakin tinggi bila peluang ke arah demokrasi semakin dibuka. Otonomi Daerah yang berbasis pada Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 sekarang ini adalah peluang bagus untuk beberapa opsi politik dalam kancah demokrasi tersebut. Namun perlu diingat bahwa koridor hukum yang digariskan pada Undang-Undang tersebut masih sangat longgar untuk improvisasi politik sekaligus sangat sempit untuk penerapan prinsip. Contohnya antara lain terminologi kewilayahan yang disebut Desa, masih memungkinkan untuk berimprovisasi politik menggunakan terminologi lain yang bernuansa lokal sebagai basis prinsipnya. Adanya wacana bahwa Otonomi Daerah berarti kemandirian parlemen, sebenarnya bukan bagian dari improvisasi tetapi prinsip yang digariskan Undang Undang Nomor 22 tahun 1999. Dengan demikian kemandirian Parlemen, khususnya di tingkat Kabupaten/Kota menurut Undang-Undang itu harus dilaksanakan. Masalahnya adalah bagaimana melaksanakan prinsip kemandirian parlemen bila Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) sektoral masih menjadi wacana bebas parlemen Kabupaten/Kota bahkan Propinsi untuk minta kepada Pemerintah (Pusat). Ciri khas kemandirian adalah semangat untuk memberi. Jadi selama semangat itu tidak dikembangkan, maka minta sebagai ciri khas kemiskinan tetap menjadi sandangan Kabupaten/Kota dan Propinsi. Kemandirian Parlemen jangan sampai tergelincir dari semangat memberi. Pemahaman Parlemen terhadap modal sosial lokal harus ditingkatkan dan diprioritaskan sehingga pengelolaan sumber daya alam dan perbankan tidak lepas dari karakteristik martabat manusiawi lokal yang holistik. Sebenarnya patut disesalkan bila pidato Bupati Donggala Sulawesi Tengah di TVRI Palu pada Ulang tahun Kabupaten yang ke-50 pertengahan Agustus 2002 lalu, tidak terucap sama sekali perencanaan Kabupaten yang terkait dengan strategi Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang partisipatoris, adil dan berkelanjutan. Ini adalah suatu contoh bahwa karakteristik martabat manusia lokal

96

Donggala masih jauh dari perhatian kebijakan Pemerintah. Parlemen Donggala pun diam, pertanda bukan berarti emas tetapi jelas kurang paham kemandirian.

Perlu mendapat jawaban kritis dari jeritan kemiskinan. Saya sependapat bila kemiskinan tidak dapat dipersonifikasi, sehingga kita mendengar jeritan kemiskinan. Kemiskinan adalah situasi yang dibuat oleh kekuatan. Dan kekuatan ini secara sistematis dan regeneratif berproses menuju ke krisis martabat. Permasalahannya sekarang ini adalah siapa yang memonopoli reproduksi martabat di satu pihak dan memandulkan martabat di lain pihak, karena nilai martabat bangsa ini sudah mundur mencapai titik nol kilometer lagi. Jadi jawaban kritisnya tidak dari jeritan kemiskinan tetapi dari nol kilometer yang harus bebas dari monopoli dan pemandulan martabat. Sikap yang ambigu adalah gejala paranoid yang membingungkan banyak orang sehingga sulit melangkah dari titik nol kilometer lagi, oleh karena itu sikap ambigu harus dihilangkan dengan cara re-legitimasi publik. Ingat, kemiskinan bukan monopoli publik dan tujuan regulasi sistem demokrasi yang tidak lepas dari prinsip kesetaraan, keadilan dan keberlanjutan. Kemiskinan adalah situasi artifisial yang membutuhkan ketegasan tindak dan konsistensi sikap publik demokrasi untuk menghindari situasi itu. Hanya ada satu cara yaitu kembalikan dan pertahankan martabat bangsa pada hati sanubari kita masing-masing sebagai landasan ketegasan dan konsistensi bersama untuk menghindari situasi kemiskinan.

Kemiskinan belum tentu masalah regional/ Nasional. Bicara kemiskinan tidak harus semena-mena dikaitkan dengan masalah regional atau nasional. Sampai hari ini tidak ada bangsa atau negara di dunia ini yang memperingati hari kemiskinannya. Kewilayahan identik dengan kemerdekaan dari belenggu penindasan sebagai biang kemiskinan, dan sudah jamak disebutkan orang yang sadar bermartabat. Namun demikian ada hal yang perlu kita renungkan bersama yaitu bagaimana mungkin dalam situasi kemiskinan global yang merdeka ini, orang sadar akan adanya proses pendekatan penguasaan wilayah yang brutal dan menyebabkan krisis martabat ? Ada kemungkinan kita terlalu terbuai dan terlena oleh manuver-manuver politik yang penuh janji-janji pembangunan wilayah yang bebas kemiskinan melalui proyekproyek kemanusiaan sesaat. Sasarannya adalah manusia, tetapi prosesnya tidak manusiawi karena terlalu terfokus pada pendekatan pendekatan teknis yang duniawi.

97

Memprihatinkan memang, tapi apa harus dibiarkan begitu saja. Masih sering diucap orang yang berkepentingan sesaat pada suatu wilayah, salah satu pemeo yang cukup menarik yaitu : mana yang lebih penting manusia atau monyet. Bagi orang yang bermartabatpun akan dijawab lebih penting manusia, hanya argumentasi kepentingannya yang berbeda. Bagi yang bertanya sudah jelas bahwa arah kepentingannya adalah supaya kemiskinan bukan lagi menjadi masalah nasional/ regional karena ukuran kesejahteraan hidupnya sebagai manusia hanya pada kebebasan menguasai tanah. Sedangkan bagi yang menjawab seperti yang diharapkan penanya akan dianggap melegitimasi bila tanpa disertai argumentasi kepentingannya. Ukuran argumentasi kepentingan orang yang bermartabat adalah negara. Negara tanpa tanah bukan tujuannya. Negara harus bertanah. Negara dengan pemerintahannya yang dilegitimasi masyarakat demokratis harus dapat mengatur dan mengelola ekosistem yang lengkap dengan monyetnya bagi pelayanan publik, karena ekosistem tanpa tanah dan monyet tidak ada artinya. Jadi saya pertegas opini disini bahwa, situasi kemiskinan jelas menjadi masalah yang harus dapat menjadi wawasan keprihatinan nasional maupun regional, karena untuk menghindari situasi ini memerlukan kebijakan yang kondusif dengan martabat sebagai bagian dari kebajikan yang selalu memandang bahwa wilayah dapat menjadi zona kerakusan sekaligus proses pemiskinan. Kemiskinan dapat diatasi dengan dukungan aktif dan partisipatoris seluruh elemen bangsa. Pertumbuhan kemiskinan yang mengglobal sebagai bagian dari situasi yang dibuat atas nama kepentingan seseorang atau kelompok sindikasi tertentu, sebenarnya sangat sulit untuk kita atasi langsung dengan cara apapun termasuk menggalang dukungan aktif dan partisipatoris seluruh elemen bangsa. Kesulitan tersebut timbul karena akarnya yaitu budaya tanpa martabat dalam selimut pembangunan ekonomi masih berpeluang besar untuk berkembang ke seluruh elemen bangsa. AFTA 2003 perlu diwaspadai, karena berpeluang besar untuk memperlancar akses pengembangan tersebut. Budaya tanpa martabat mengenal dan mempraktekkan juga dukungan aktif dan partisipatoris dalam mengembangkan pemahamannya. Perbedaannya dengan budaya bermartabat yang terlihat dipermukaan hanya pada hasil akhir dan prediksi tingkat keberlanjutan manfaat hasil akhir. Hasil akhir (Output) yang positif pada manfaat (outcome) yang jelas kesetaraannya bagi kepentingan keadilan di kalangan publik dan berkelanjutan bahkan berkembang untuk durasi yang panjang, adalah indikasi bahwa martabat hadir dalam proses penyusunan rencananya.

98

Membentuk Komite Penanggulangan Kemiskinan dan menyampaikan People Charter. Pembentukan komite adalah salah satu jalan keluar yang belum tentu sukses untuk masuk ke relung dalam sel-sel akar kemiskinan. Sistem sektoralisasi yang dilegitimasi suatu bentuk lingkaran pemerintahan, akhirnya dapat memporak porandakan kebulatan tekad sebagai landasan misi bila kinerja masing-masing sektor hanya diukur dari indikasi keberhasilan sektor dimaksud, artinya bukan keberhasilan lingkaran. Mungkin komite dapat menjembatani antar sektor untuk kembali ke kebulatan tekad, namun yang perlu dipikirkan adalah apakah virus krisis martabat juga telah masuk dalam sektor dan semakin memperkuat ego sektoral? Contohnya : kinerja Departemen Perindustrian dan Perdagangan meningkat karena sepanjang tahun, sesuai kaca mata sektornya, berhasil meningkatkan ekspor hasil industri kayu dengan tujuan negara importir yang semakin banyak. Di lain pihak Departemen Kehutanan idealnya, harusnya merasa berhasil berkinerja yang meningkat sepanjang tahun bila dapat mengendalikan potensi bahan baku berbasis pengelolaan ekosistem, melalui pengesahan Rencana Pengadaan Bahan Baku Industri kepada pengusaha saw mill. Namun fakta kinerja di Departemen Kehutanan yang ditemukan sepanjang tahun adalah semakin menghilangkan fungsi pengendalian. Dengan demikian tugas komite adalah membangun regulasi yang dilegitimasi publik untuk menyelaraskan berdasarkan prinsip pengelolaan ekosistem. Melalui salah satu contoh tersebut diatas, suatu komite harus dapat merubah situasi yang secara ilmiah, alamiah dan murah akan semakin didukung opini publik, tanpa harus membuat PEOPLE CHARTER yang lembaga penerimanya belum tentu paham kebulatan tekad bermartabat. Palu, Agustus 2002

99

NRM, IDEALISME USAID DI DUNIA PERGOLAKAN : PROGRAM PROYEK ATAU PROYEK PROGRAM
PUSARAN ISU Sejak pertemuan saya yang pertama kali dengan Reed Merill di Palu pada tahun 1998, pemahaman saya tentang NRM tidak berubah, yaitu NRM ( Nature Resource Management) adalah wahana intelektual yang disiapkan dan disediakan USAID untuk menebarkan jala Pengembangan Internasional yang pusat simpulnya berdomisili di Amerika Serikat, suatu negara adidaya di dunia. Wahana tersebut dapat digambarkan sebagai suatu lahan pembelajaran bagaimana seorang intelektual dapat frustrasi dan mungkin jadi anarkhis dalam membantu membangun suatu sistem pengelolaan sumber daya alam di dunia pergolakan. Seandainya NRM ini seekor rubah, akhir-akhir ini kelihatan sedang kena flu, sehingga penciumannya kurang tajam. Bila flu tersebut berkelanjutan, maka dampaknya adalah dapat lupa bekas kencingnya sendiri yang dikuatirkan sekaligus akan mempersempit

home range.

Saya melihat hubungan home range dengan keluasan dunia pergolakan sangat dekat. Namun NRM sebagai rubah cerdik rupanya sedang sakit. Kekuatiran akan sakit ingatan, tentunya tak beralasan bila hanya sekedar kena flu. Semoga cepat sembuh, untuk segera bersemangat, setidaknya ingat bekas kencing dan dapat kembali ke home range semula. KRITIK : NRM SEBAGAI PROGRAM PROYEK Belajar dari pengalaman membantu implementasi NRM tiga tahun belakangan ini di Sulawesi Tengah, saya tertarik pada isu progress intelektualitas yang berusaha dibangun USAID melalui NRM. Sulawesi Tengah sebagai bagian dunia pergolakan dibawah jargon otonomi daerah dan konservasi sumber daya alam, menurut UU No. 22 tahun 1999, ternyata diposisikan USAID pada porsi NRM paket kecil, dengan alasan karena paket besarnya telah diraih The Nature Conservancy (TNC ) yang sekasur dekat simpul dengan Home Base USAID. Tingkat intelektualitas yang terkooptasi proyek dengan syarat-syarat jelas, durasi tegas, mudah kontrol dan ada jaminan pusat seperti proyek review rencana pengelolaan Taman Nasional Lore Lindu untuk 25 tahun yang jatuh kontrak pada TNC, membuktikan bahwa NRM sebagai wahana intelektual masih menampung pemahaman dunia pergolakan adalah dunia yang dapat diatur melalui proyek. Kesan idealisme program proyek yang berarti bahwa NRM adalah program untuk membuat proyek-proyek pengelolaan sumber daya alam, pada fakta tersebut diatas sangat membekas di benak saya. Apakah rehabilitasi dampak tragedi Dongi-Dongi dapat diproyekkan melalui program NRM ?

100

Bila dikaitkan dengan pengembangan tingkat intelektualitas, apakah NRM hanya untuk kelompok intelektual tradisional yang hanya muncul pada tataran tradisi proyek ?, kemudian tenggelam manakala dunia pergolakan membutuhkan program solusi konflik dan recovery. Sulawesi Utara yang saya nilai telah kehilangan Bunaken sebagai Taman Nasional, adalah contoh bagaimana program NRM memposisikan proyek sebagai alat untuk membangun partisipasi kekuasaan. Prediksi saya, makna Bunaken sebagai Taman Nasional lambat laun akan lenyap di mata dan sanubari kroni Pemda, seiring dengan penonjolan manfaat wisata alam yang berdasar kekuasaan semakin diposisikan hanya sebagai sapi perah yang kehilangan habitatnya dan keterbukaan peran gandanya bagi masyarakat lokal. REKOMENDASI : NRM SEBAGAI PROYEK PROGRAM Ketika kekicauan berubah jadi kekacauan di Dongi-Dongi, gambaran dunia pergolakan tiba-tiba muncul di benak saya. Kekacauan yang didominasi teriakan orang yang lapar lahan dan ketawa orang yang puas membodohi orang, menyadarkan saya dari mati suri kemapanan intelektual tradisional. Mungkin sudah waktunya ada perubahan pendekatan, yaitu pendekatan melalui proyek penyusunan program, dengan kata lain NRM sebagai proyek program. Kesempatan ini adalah waktu yang kondusif untuk membangun dan memberdayakan kelompok intelektual organik, yaitu kelompok intelektual yang berkembang idealismenya karena telah melebur dalam organ dunia pergolakan itu sendiri. Apakah idealisme NRM punya pendekatan yang semacam itu ? luar biasa, ternyata kritik dan rekomendasi dalam tulisan ini ada di perut NRM, hanya mana yang akan dimuntahkan dulu, dalam arti di go public kan tanpa pandang sempit lebarnya home range, itu yang saya tunggu komitmennya. Kiranya implementasi paket-paket kecil di Sulawesi Tengah mulai dari buffer zone TN Lore Lindu, Kep. Togean sampai C A Morowali layak jadi contoh, bagaimana kelompok intelektual organik mulai berani menyebut diri sebagai provokator konservasi, konservasi bukan sekedar kawasan dan potensi flora fauna, tetapi bagian dari perilaku masyarakat. Konsekuensi melebur dalam organ dunia pergolakan masyarakat lokal/adat memang sangat berat, namun cukup memuaskan bila berhasil meredam pergolakan dari dalam, hanya karena proyek sebagai trigger factor berupa inventarisasi, identifikasi, penyusunan peta dan rencana partisipatif sehingga muncul program masyarakat yang berkaitan dengan kesepakatan konservasi, inner empowering, pencerahan dan kemandirian. Palu, Agustus 2001.

101