Anda di halaman 1dari 25

Kelompok 3 Perpindahan Kalor

Perpindahan Kalor Konduksi Tunak


Makalah Pemicu 1 Perpindahan Kalor

Arif Variananto Elsa Widowati Hari Purwito Selvi Sanjaya Rizqi Pandu S.

(1006679440) (1006773231) (1006759246) (1006759403) (0906557045) Universitas Indonesia Depok 2012

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] Kata Pengantar Pertama-tama kami ingin mengucapkan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa karena dengan berkat dan rahmatnya yang telah dicurahkan kepada kami. Makalah ini dibuat dalam rangka sebagai salah satu syarat dalam penilaian pada mata kuliah Perpindahan Kalor. Dalam penulisan makalah ini, kami mengalami beberapa kesulitan. Kesulitan yang pertama adalah sulitnya mencari sumber dari data yang kami perlukan. Hal itu terjadi karena kami masih sedikit bingung pada saat awal-awal penulisan karena ada beberapa bagian yang termasuk baru bagi kami. Kesulitan yang lain dan mungkin kesulitan yang paling berat menurut kami adalah masalah waktu. Kami sangat susah untuk mengatur jadwal pertemuan kami dikarenakan jadwal kami yang padat dan berbeda-beda. Kami ingin mengucapkan rasa terima kasih kami kepada semua orang yang telah ikut berperan dan membantu secara aktif dalam segala proses pembuatan makalah ini mulai dari proses pencarian data, proses penyusunan hingga proses pengetikan dan penjilidan. Tanpa usaha dan kerja keras mereka, mustahil bagi kami untuk menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya dan dengan hasil yang sebaik-baiknya. Seperti kata pepatah, Tak ada Gading yang Tak Retak, maka kami ingin mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat kesalahan penulisan kata dan adanya pernyataan-pernyataan yang kami tulis dalam makalah ini yang tidak berkenan di hati saudara. Kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca kepada kami mengenai makalah yang telah kami buat sehingga pada penulisan makalah kami yang selanjutnya dan juga kami dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan kami sehingga makalah kami yang akan datang akan menjadi lebih baik lagi daripada yang sebelumnya. Atas perhatiannya, kami mengucapkan terima kasih.

Depok, 14 Maret 2012

Penyusun

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 1

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] Daftar Isi Kata Pengantar 1 Daftar Isi . 2 Jawaban Pemicu ..3 Tugas 1. Sistem Isolasi Tungku Pembakaran ..3 Nomor 13 Nomor 23 Nomor 34 Nomor 45 Tugas 2. Perpindahan Kalor Tunak .6 Nomor 16 Nomor 27 Nomor 39 Nomor 410 Nomor 514 Tugas 3. Soal Perhitungan19 Nomor a19 Nomor b20 Nomor c21 Nomor d22 Nomor e23 Nomor f23 Daftar Pustaka..24

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 2

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] Jawaban Pemicu 1 Perpindahan Kalor Konduksi Tunak

Tugas 1: Sistem Isolasi Tungku Pembakaran 1. Jelaskan mekanisme kerja suatu sistem isolasi. Perpindahan kalor secara konduksi adalah proses transpor panas dari daerah bersuhu tinggi ke daerah bersuhu rendah dalam satu medium (padat, cair atau gas), atau antara medium-medium yang berlainan yang bersinggungan secara langsung. Proses perpindahan kalor secara konduksi bila dilihat secara atomik merupakan pertukaran energi kinetik antar molekul (atom), di mana partikel yang energinya rendah dapat meningkat dengan menumbuk partikel dengan energi yang lebih tinggi. Pada ujung logam mulai dipanaskan, pada bagian ini atom dan elektron bergetar dengan amplitudo yang makin membesar. Selanjutnya bertumbukan dengan atom dan elektron disekitarnya dan memindahkan sebagian energinya. Ketika ada suatu tahanan termal (isolator) maka proses aliran enrgi dan getaran akan terhambat dikarenakan sifat dari tahanan termal ini. Bahan isolator memiliki elektron-elektron pada kulit atom terluar yang gaya tariknya dengan inti atom sangat kuat. Apabila ujung-ujung isolator dihubungkan dengan sumber energi, elektron terluarnya tidak sanggup melepaskan gaya ikat inti. Oleh karena itu, tidak ada elektron yang mengalir dalam isolator, sehingga tidak ada transfer energi yang mengalir melalui isolator melalui getaran maupun gerakan elektron bebas.

2. Karateristik apa sajakah yang perlu dimiliki oleh suatu bahan/material bila ingin dimanfaatkan sebagai isolator? a) Sifat Termis Bahan penyekat mempunyai tahanan termal yang besar. Penyekat ditujukan untuk mencegah terjadinya kebocoran kalorantara kedua penghantar yang berbeda suhunya atau untukmencegah perpindahan kalor lewat medium. Perpindahan kalor harus dibatasi sekecil-kecilnya (tidak melampui batas sesuai yang diperhitungkan). b) Sifat Mekanis Mengingat luasnya pemakaiannya pemakaian bahan penyekat, maka

dipertimbangkan kekuatan struktur bahannya. Dengan demikian, dapat dibatasi halhal penyebab kerusakan dikarenakankesalahan pemakaiannya. c) Sifat Kimia Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 3

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] Panas yang tinggi yang diterima oleh bahan penyekat dapat mengakibatkan perubahan susunan kimia bahan. Demikian juga pengaruh adanya kelembaban udara, basah yang ada di sekitar bahan penyekat. Jika kelembaban tidak dapat dihindari, haruslah dipilih bahan penyekat yang tahan terhadap air. Demikian juga adanya zat-zat lain dapat merusak struktur kimia bahan.

3. Faktor-faktor apa yang perlu dipertimbangkan dalam desain suatu sistem isolasi? a) Stabilitas volum, pengembangan, dan penyusutan pada suhu tinggi Kontraksi atau ekspansi isolator dapat berlangsung selama umur pakai. Perubahan yang permanen dalam ukurannya dapat disebabkan oleh: Perubahan dalam bentuk allotropic, yang dapat menyebabkan perubahan dalam specific gravity. Reaksi kimia, yang menghasilkan bahan baru dari specific gravity yang berubah. Pembentukan fase cair. Reaksi sintering. Penggabungan debu dan terak atau karena adanya alkali pada isolator semen tahan api, membentuk basa alumina silikat. Hal ini biasanya teramati pada blast furnace. b) Konduktivitas panas Konduktivitas panas tergantung pada komposisi kimia dan mineral dan kandungan silika pada isolator dan pada suhu penggunaan. Konduktivitas biasanya berubah dengan naiknya suhu. Konduktivitas panas isolator yang tinggi dikehendaki bila diperlukan perpindahan panas yang melalui bata, sebagai contoh dalam recuperators, regenerators, muffles, dll. Konduktivitas panas yang rendah dikehendaki untuk penghematan panas seperti isolator yang digunakan sebagai isolator. Isolasi tambahan dapat menghemat panas namun pada saat yang sama akan meningkatkan suhu panas permukaan, sesampai diperlukan isolator yang berkualitas lebih baik. Oleh sebab itu, atap bagian luar dari isolasi dengan perapian terbuka/isolasiopen hearth biasanya tidak diisolasi, karena akan menyebabkan runtuhnya atap. Isolator yang ringan dengan konduktivitas panas yang rendah digunakan secara luas pada isolasi perlakuan panas suhu rendah, sebagai contoh dalam isolasi jenis batch dimana kapasitas panas struktur isolator yang re ndah meminimalkan panas tersimpan selama siklus pemanasan dan pendinginan. Isolator Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 4

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] untuk isolasi memiliki konduktivitas panas yang sangat rendah. Hal ini biasanya dicapai dengan penjebakan sebagian besar udara kedalam struktur. c) Bulk density Bulk density merupakan sifat isolator yang penting, yakni jumlah bahan isolator dalam suatu volum (kg/m3). Kenaikan dalam bulk densityisolator akan menaikan stabilitas volum, kapasitas panas dan tahanannya terhadap penetrasi terak. d) Porositas Porositas merupakan volume pori-pori yang terbuka, dimana cairan dapat menembus, sebagai persentase volum total isolator. Sifat ini penting ketika isolator melakukan kontak dengan terak dan isian yang leleh. Porositas yang nampak rendah mencegah bahan leleh menembus isolator. Sejumlah besar pori-pori kecil biasanya lebih disukai daripada sejumlah kecil pori-pori yang besar.

4. Jika anda diminta untuk mendisain sistem isolasi tungku pembakaran, pertimbangan apa saja yang diperlukan? a) Biaya Hal ini berkaitan dengan budjet yang tersedia. Bahan isolasi dengan kualitas dan ketahanan tinggi biasanya memiliki harga yang lebih tinggi dibanding dengan bahan isolasi yang biasa. Oleh karena itu sebelum mendesain sistem isolasi harus memikirkan berapakah biaya yang tersedia b) Ukuran Bentuk dan ukuran isolator merupakan bagian dari rancangan isolasi, karena hal ini mempengaruhi stabilitas struktur isolasi. Ukuran yang tepat sangat penting untuk memasang bentuk isolator dibagian dalam isolasi dan untuk meminimalkan ruang antara sambungan konstruksinya. c) Jenis bahan Jenis bahan ini mempengaruhi kualitas dari isolasi yang kita buat. Isolasi dengan bahan dengan kualitas bagus dapat bertahan hingga jangka waktu yang lama dan dapat mengisolasi kalor dengan maksimal sesuai dengan perhitungan yang dibuat. d) Meminimalkan kehilangan panas Sekitar 30 sampai 40 persen bahan bakar yang digunakan dalam tungku yang intermittent atau tungku kontinyu digunakan untuk me make-up panas yang hilang melalui kulit/permukaan ataudinding tungku. Besarnya kehilangan pada dinding Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 5

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] tergantung pada emisivitas dinding, konduktivitas panas isolator dan ketebalan dinding. Terlepas dari apakah tungku itu beroperasi secara kontinyu atau hanya intermittent. Terdapat beberapa cara untuk meminimalkan kehilangan panas melalui kulit tungku: Pemilihan bahan isolator yang cocok Penambahan ketebalan dinding Pemasangan batu bata isolasi. Suhu dinding bagian luar dan kehilangan panas dinding komposit sangat rendah untuk dinding batu bata tahan api dan isolasi dibandingkan dengan dinding dengan ketebalan sama yang mengandung hanya batu bata isolator. Alasannya adalah bahwa batu bata isolasi memiliki konduktivitas yang sangat rendah. Perencanaan waktu operasi tungku. Untuk hampir seluruh tungku kecil, jangka waktu operasi bergantian dengan jangka waktu diam/idle. Bila tungku mati, panas yang diserap oleh isolator selama operasi secara perlahan menghambur melalui radiasi dan konveksi dari permukaan dingin dan melalui aliran udara melalui tungku. Perencanaan yang hati- hati terhadap jadwal operasi tungku dapat mengurangi kehilangan panas dan menghemat bahan bakar.

Tugas 2: Perpindahan Kalor Konduksi Tunak

1. Apa yang anda ketahui mengenai perpindahan kalor konduksi? Dan apa pula yang anda ketahui mengenai perpindahan kalor konduksi tunak? Perpindahan kalor adalah ilmu untuk meramalkan perpindahan energi yang terjadi karena adanya perbedaan suhu di antara benda atau material. Kalor dapat berpindah dengan tiga cara, yaitu konduksi atau hantaran, konveksi atau aliran, dan radiasi atau pancaran. Perpindahan kalor secara konduksi adalah perpindahan kalor melalui suatu zat tanpa disertai perpindahan partikel-partikel zat tersebut. Sedangkan yang dimaksud dengan perpindahan kalor konduksi tunak adalah yaitu perpindahan kalor secara konduksi (tanpa disertai perpindahan partikel-partikel zat tersebut) dimana sistem berada dalam kondisi setimbang atau tidak berubah terhadap waktu. Dalam konduksi tak tunak, setiap variabel, seperti energi dalam dan suhu sistem tetap dan tidak berubah terhadap waktu. Dalam setiap persamaan yang ada pada prinsip konduksi tunak, waktu menjadi faktor yang diabaikan dan tidak berarti. Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 6

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1]

2. Apa yang anda ketahui tentang persamaan Fourier dan nilai konduktivitas termal suatu bahan? Hukum Fourier merupakan hukum empiris yang didasarkan hasil observasi. Hukum ini menyatakan laju perpindahan kalor berbanding lurus dengan luas penampang yang dilewati kalor dan perbedaan temperatur sepanjang aliran kalor tersebut. Hal ini bisa dilihat dari Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Volume elemental untuk analisis konduksi satu dimensi (Sumber: Holman, J.P. 2010. Heat Transfer Tenth Edition)

Berdasarkan penjelasan tersebut, kita dapat menuliskan hukum Fourier untuk konduksi panas sebagai berikut (1) di mana q ialah laju perpindahan kaor dan merupakan gradien suhu ke arah

perpindahan kalor. Kontanta positif k disebut konduktivitas atau kehantaran termal (thermal conductivity) benda yang dilalui panas tersebut. Tanda minus yang diselipkan pada persamaan tersebut bertujuan untuk memenuhi hukum kedua termodinamika yang menyatakan bahwa kalor mengalir ke tempat yang lebih rendah dalam skala suhu. Konduktivitas atau keterhantaran termal, k, adalah suatu besaran intensif bahan yang menunjukkan kemampuannya untuk menghantarkan panas. Nilai konduktivitas termal diberikan dalam Tabel 1.

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 7

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1]

Tabel 1. Konduktivitas Termal Berbagai Bahan pada 0 0C (sumber: Holman, J.P. 2010. Heat Transfer Tenth Edition)

Hukum Fourier merupakan dasar dari konduktivitas termal. Untuk meramalkan konduktivitas termal zat cair dan zat padat,ada teori yang dapat dipakai dalam beberapa situasi tertentu. Tetapi pada umumnya, dalam zat cair dan padat terdapat banyak masalah yang memerlukan penjelasan. Mekanisme konduktivitas termal pada gas cukup sederhana. Energi kinetik molekul ditunjukkan oleh suhunya, jadi pada bagian bersuhu tinggi, molekul-molekul mempunyai kecepatan yang lebih tinggi daripada yang berada pada bagian yang bersuhu rendah. Molekul-molekul itu selalu berada dalam gerakan acak, saling bertumbukan satu sama lain, dimana terjadi pertukaran energi dan momentum. Perlu diingat bahwa molekul molekul itu selalu berada dalam gerakan acak dari daerah bersuhu tinggi ke daerah bersuhu rendah. Maka molekul itu mengangkut energi kinetik ke bagian sistem yang suhunya lebih rendah. Dan disini menyerahkan energinya pada waktu bertumbukan dengan molekul yang energinya lebih rendah. Pada umumnya, konduktivitas termal itu sangat bergantung pada suhu.

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 8

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] 3. Bagaimana menentukan nilai koefisien perpindahan kalor konduksi menyeluruh dan ketebalan kritis suatu isolator?

Pada dinding datar yang terdapat pada Gambar 2a di mana terdapat fluida panas A yang memasuki dinding dan pada sisi lainnya fluida B yang lebih dingin. Perpindahan kalor dinyatakan oleh persamaan berikut. ( ) ( ) ( ) (2)

Proses perpindahan-kalor dapat digambarkan dengan jaringan tahanan seperti pada Gambar 2b. Perpindahan kalor menyeluruh dihitung dengan jalan membagi beda suhu menyeluruh dengan jumlah tahanan termal yang dinyatakan dalam persamaan berikut.

(3)

(a)

(b)

Gambar 2. Perpindahan kalor menyeluruh melalui dinding datar (sumber: Holman, J.P. 2010. Heat Transfer Tenth Edition)

Nilai 1/hA yang digunakan di sini merupakan tahanan konveksi. Aliran kalor menyeluruh sebagai hasil gabungan proses konduksi dan konveksi bisa dinyatakan dengan koefisien perpindahan kalor menyeluruh U, yang dirumuskan dalam hubungan (4) Di mana A ialah luas bidang aliran kalor. Sesuai dengan Persamaan 4, koefisien perpindahan kalor menyeluruh adalah

(5)

Apabila kita memperhatikan selapis isolasi yang dipasang di sekeliling pipa bundar seperti pada gambar di bawah, suhu dalam dinding dalam isolasi ditetapkan dalam Ti, sedang muka luarnya terkena lingkungan konveksi apada T. Dari jaringan termal, perpindahan kalor yang terjadi adalah Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 9

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1]

2L ( Ti T )
l n(r0 / ri ) k

r1h
0

(6)

Jika persamaan di atas diolah untuk menentukan jari-jari luar isolasi r0 agar perpindahan kalor maksimum. Kondisi maksimum adalah

dq dr0

2L (Ti T )( k1 r

2 ln(r0 / r 1) 1 k r0 h

1 hr0 2

(7)

dan dihasilkan

r0

k h

(8)

Persamaan diatas memberikan konsep jari-jari kritis isolasi. Jika jari-jari luar kurang dari nilai yang diberikan oleh persamaan itu, maka perpindahan kalor akan meningkat dengan penambahan tebal isolasi. Untuk jari-jari luar yang lebih dari nilai itu, pertambahan tebal isolasi akan mengurangi perpindahan kalor. Konsep sebtralnya adalah bahwa untuk nilai-nilai h yang cukup kecil, rugi kalor konveksi mungkin meningkat karena pertambahan besar isolasi. Hal ini disebabkan karena luas permukaan bertambah. 4. Bagaimana menentukan nilai laju perpindahan kalor konduksi tunak pada sistem dengan penampang yang berbeda dan sistem dengan sumber kalor?

Laju perpindahan kalor konduksi tunak pada sistem berpenampang beda Pada konduksi kondisi tunak (steady) dalam satu dimensi distribusi suhu konstan, suhu hanya merupakan fungsi posisi dan akumulasi sama dengan nol (konduktivitas termal dianggap tetap) sehingga hukum Fourier dapat diintegrasi menjadi: ( ) (9)

Namun bila konduktivitas termal berubah menurut hubungan linear dengan suhu, maka persamaannya menjadi: *( ) ( )+ (10)

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 10

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] Jika dalam sistem lebih dari satu macam bahan, seperti dinding lapis rangkap, analisisnya akan menjadi seperti berikut:

Gambar 3. Perpindahan kalor pada dinding datar lapis rangkap (Sumber: Holman, J.P. 2010. Heat Transfer Tenth Edition)

Untuk gradien suhu seperti gambar diatas, laju perpindahan panasnya adalah sebagai berikut: s (11)

Aliran panas pada setiap bagian adalah sama. Jika ketiga persamaan akan diselesaikan bersamaan maka aliran kalor dapat dituliskan sebagai berikut: (12) Persamaan Fourier terhadap kasus ini: ;

(13)

Sedangkan untuk sistem radial silinder yang panjangnya sangat besar dibanndingkan dengan diameternya diasumsikan aliran kalor berlangsung pada arah radial, sehingga koordinat ruang yang kita perlukan untuk menentukan sistem itu adalah r. Luas bidang aliran kalor: (14) Sehingga hukum Fourier menjadi: Penyelesaian persamaan: Dan tahanan termal ini:
( ( ) ( ) )

(15) (16) (17)

Sedangkan untuk sistem tiga lapis, analisanya dan penyelesaiannya adalah sebagai berikut:
(
( ) ( )

)
( )

(18)

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 11

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1]

Gambar 4. Perpindahan kalor pada sistem radial/silinder lapis rangkap (Sumber: Holman, J.P. 2010. Heat Transfer Tenth Edition)

Kemudian untuk sistem yang berbentuk bola dapat ditangani dalam satu dimensi apabila suhu merupakan fungsi jari-jari saja, sehingga aliran kalornya menjadi seperti berikut:
( )

(19)

Sistem dengan sumber kalor (dinding datar, silinder, silinder berlubang, bola) Pada sistem dinding datar dengan sumber kalor, grafik perubahan temperaturnya akan sama dengan grafik persamaan kuadrat. Pada sistem ini, aliran kalor dianggap hanya mengikuti satu dimensi saja karena dimensi di kedua arah lain dianggap cukup besar. Nilai konduktivitas termal tidak berubah terhadap perubahan suhu. Sehingga didapat persamaan umum, untuk sistem seperti ini adalah (20) Kemudian, dengan menentukan nilai batas dari sistem, dapat ditentukan nilai suhu pada permukaan. Seperti halnya transfer panas diinginkan, suhu di masing-masing permukaan haruslah sama sehingga terjadi distribusi suhu yang kurvanya mirip dengan kurva persamaan kuadrat. Untuk sistem yang steady state, jumlah kalor yang dibangkitkan haruslah sama dengan rugi kalor pada permukaan. Jumlah kalor yang dibangkitkan adalah Ein bentuknya kalor yang dibangkitkan dari sumber kalor dalam sistem, sedangkan rugi kalor adalah Eout adalah kalor yang terbuang dalam bentuk transfer panas secara konveksi. Dari paparan sebelumnya dapat persamaan ( (
( )

) ) (21)

Sehingga nilai laju perpindahan panas q dapat ditentukan dengan persamaan, (22)

Pada dasarnya terdapat dua jenis silinder untuk sistem ini, silinder pejal dan silinder berlubang. Yang membedakan dari kedua nya adalah kondisi batas yang Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 12

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] ditetapkan pada kedua sistem ini. Jika suatu silinder dengan jari-jari r, silinder dialiri oleh sumber kalor rata kesemua bagian, dengan konduktivitas termal yang tetap. Perhitungan silinder seperti ini dapat dianggap sebagai satu dimensi dengan syarat bahwa silinder ini cukup panjang sehingga kalor yang mengalir hanya akan dianggap sebagai fungsi r saja. Persamaan umum yang digunakan, (23) Untuk silinder pejal, kondisi batas yang digunakan adalah

Dengan Tw adalah nilai suhu permukaan, dan R adalah jari-jari dari silinder pejal. Seperti halnya sistem lain pada kondisi tunak. Kalor yang dibangkitkan akan sama dengan rugi kalor pada permukaan. Dengan kalor yang dibangkitkan adalah kalor yang dibangkitkan oleh sumber kalor, dan rugi kalor adalah kalor yang terbuang pada lingkungan secara konveksi. ( ) ( Sehingga nilai laju perpindahan kalor adalah ( ) (25) ) (24)

Untuk silinder berlubang, kondisi batas yang digunakan adalah (muka dalam) (muka luar) Dalam kasus ini, berlaku sistem kesetimbangan energi pada silinder berlubang. Sama halnya dengan pada dinding datar, pada silinder berlubang energi yang dibangkitkan akan sama dengan energi yang yang dipakai pada permukaan. ( ( )
( ( ) )

) ( ) (26)

sehingga nilai laju perpindahan kalor untuk silinder berlubang adalah (27)

Untuk sistem bola dengan sumber kalor, dengan jari-jari R mempunyai sumber kalor yang terbagi rata dan konduktivitas termalnya tetap, maka:
( ) ( )

(28)

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 13

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] Gradient suhu pada permukaan bola atau T merupakan perubahan suhu terhadap posisi dan waktu. Sama hal nya dengan sistem-sistem yang ada, jumlah kalor yang dibangkitkan akan sama dengan rugi kalor yang terbuang melalui konveksi. ( ( sehingga nilai laju perpindahan kalor adalah
( )

) ) (29)

(30)

5. Jelaskan bagaimana penyelesaian masalah dalam perpindahan kalor konduksi tunak dimensi rangkap baik secara analisis matematik, grafik, maupun numerik, serta aplikasi faktor bentuk konduksi. a. Penyelesaian masalah perpindahan kalor kondisi tunak dimensi rangkap Perpindahan kalor kondisi tunak dapat dianalisis menggunakan dua koordinat ruang atau dua dimensi. Untuk keadaan tunak, berlaku persamaan Laplace (31) dengan menganggap konduktivitas termalnya tetap. Persamaan ini dapat diselesaikan secara analitik, grafik, ataupun numerik. i. Analisis matematik Plat siku pada Gambar 1 memiliki tiga sisi yang berada pada suhu tetap T1 sedangkan sisi atasnya mempunyaidistribusi suhu tertentu (dapat berupa suatu nilai suhu tertentu juga atau sesuatu yang lebih rumit seperti distribusi gelombang sinus). Akan terjadi perpindahan panas yang dapat ditinjau secara dua dimensi.

Gambar 5. Aliran kalor pada plat persegi (Sumber: Holman, J.P. 2010. Heat Transfer Tenth Edition)

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 14

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1]

Untuk menyelesaikan kasus tersebut digunakan persamaan (31) dengan metode pemisahan variabel (separation of variables method) di mana persamaan diferensial dianggap mempunyai bentuk hasil perkalian di mana ( ) ( ) (32)

Bentuk fungsi X dan Y sendiri ditetapkan dengan memperhatikan kondisi batas (boundary condition). Untuk kasus pada Bagian A apabila bagian atasnya memiliki fungsi sinus kondisi batasnya adalah sebagai berikut pada ( ) pada (33)

di mana Tm adalah amplitudo fungsi sinus tersebut. Dengan mensubstitusikan persamaan (32) ke persamaan (31) didapatkan (34) Bagian kiri dan kanan persamaan (31) tidak saling bergantung karena x dan y adalah dua variabel bebas dan masing-masing bagian harus sama dengan suatu konstanta. Dengen menggunakan konstanta ini, didapatkan dua buah persamaan diferensial (35) (36) di mana 2 disebut konstanta separasi atau tetapan pemisahan yang nilainya harus ditentukan dari kondisi batas. Bentuk penyelesaian persamaan (35) dan (36) bergantung pada tanda 2 apakah nol, negatif, atau positif. Dengan mensubstitusikan nilai 2 ke persamaan (37) dan (38) didapatkan distribusi T sebagai berikut ( ( ( )( )( )( ) ) ) untuk untuk untuk

Dapat dilihat bahwa yang sesuai dengan fungsi sinus pada persamaan ketiga di atas adalah distribusi T untuk 2>0. Selanjutnya digunakan pendekatan = T-T1

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 15

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] untuk memudahkan perhitungan. ( Penurunan ) persamaan selanjutnya

menghasilkan persamaan (37) di mana dengan demikian nilai sin W harus sama dengan nol. Ada beberapa nilai yang memenuhi persyaratan tersebut yang dapat dituliskan sebagai (38) di mana n bilangan bulat. Jumlah ini tak berhingga sehingga dihasilkan suatu deret. ( ) (39)

yang memerlukan Cn = 0 untuk n>1. Setelah dilakukan penurunan persamaan lebih lanjut berdasarkan kondisi batas tanpa pendekatan dihasilkan perpindahan kalor memenuhi persamaan ii. Analisis grafik Misalkan terdapat sistem dua dimensi seperti Gambar 6 di mana suhu bagian dalam adalah T1 dan suhu luar adalah T2, perpindahan kalor dibayangkan membentuk berkas-berkas garis lengkung. Aliran kalor yang melalui bagian lengkung ini memenuhi hukum Fourier (41)
( ) ( ( ) )

(40)

Gambar 6. Sketsa kurva linier untuk analisis dua dimensi (Sumber: Holman, J.P. 2010. Heat Transfer Tenth Edition)

Jika bagian pada Gambar 6(b) dibuat sedemikian rupa sehingga x=y, maka aliran kalor akan sebanding dengan T. Karena aliran kalor harus konstan, Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 16

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] maka T yang melintasi satu bagian akan sama dengan bagian lain sehingga T yang melintasi satu bagian diberikan oleh (42) di mana N adalah banyaknya jenjang antara permukaan dalam dan luar, sehingga perpindahan kalor dapat ditulis ( ) (43)

di mana M adalah jumlah jalur aliran kalor. Untuk menghitung perpindahan kalornya, cukup digambarkan bujur sangkar lengkung dan menghitung banyaknya tambahan suhu dan jalur aliran kalor. Namun penggambaran harus dilakukan dengan teliti sehingga x=y dan garis-garisnya tegak lurus.

iii.

Analisis numerik Metode analisis numerik dilakukan dengan membagi benda dua dimensi atas sejumlah inkremen kecil yang sama pada arah x dan y. Titik-titik node diberi tanda di mana lokasi m menunjukkan tambahan pada arah x dan lokasi n tambahan pada arah y. Untuk menentukan suhu pada setiap titiok node menggunakan persamaan (28) digunakan beda berhingga sehingga mendekati tambahan diferensial pada koordinat ruang dan suhu. Aprokasimasi beda berhingga untuk persamaan (28) menjadi
( ) ( )

(44)

Jika x=y maka (45) Dalam pendekatan di atas, sistem dianggap tidak memiliki pembangkitan kalor. Apabila ada maka cukup ditambahkan suku q/k ke dalam persamaan umum. Untuk menentukan suhu pada setiap node, persamaan (45) diaplikasikan untuk setiap node sehingga didapatkan sistem persamaan yang memiliki penyelesaian berupa suhu di tiap node. Jika suhu telah ditentukan, maka aliran kalor dapat dihitung dari (46)

Jika benda padat berada dalam kondisi batas konveksi, untuk x=y berdasarkan neraca energi suhu batas dinyatakan dengan persamaan ( )

(47)

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 17

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] Persamaan di atas harus dibuat untuk setiap node sebagaimana pada kasus konduksi. Jadi persamaan (42) digunakan pada daerah batas sedangkan persamaan (40) digunakan untuk titik-titik di bagian dalam. Persamaan (47) berlaku untuk permukaan datar yang mengalami kondisi batas konveksi tetapi tidak untuk kondisi lain, misalnya pada dinding yang diisolasi atau sudut yang mengalami kondisi batas konveksi. Untuk bagian sudut, jika x=y, kondisi batas berdasarkan neraca energi diberikan sebagai ( ) ( ) (48)

Untuk kondisi batas lainnya telah dibuat rangkuman komprehensif mengenai persamaannya. Agar didapatkan hasil yang lebih akurat, titik-titik node dibuat semakin banyak, namun berimbas pada semakin banyaknya persamaan yang harus diselesaikan. Memanfaatkan sifat matriks, persamaan-persamaan tersebut dapat diselesaikan dengan metode penyelesaian iteratif seperti Gauss-Seidel. Namun apabila hanya digunakan beberapa node, dapat digunakan metode relaksasi yang cukup menggunakan perhitungan tangan. Dalam metode ini persamaan node dibuat sama dengan sisa qm,n dan kemudian digunakan prosedur perhitungan berikut: Nilai suhu node diandaikan Nilai sisa untuk setiap node dihitung dengan persamaan yang bersangkutan dan suhu yang diandaikan Sisa-sisa direlaksasi hingga nol dengan mengubah andaian suhu node. Sisa yang terbesar direlaksasi terlebih dahulu. Pada setiap perubahan suhu node, dihitung sisa-sisa baru untuk node-node penghubung. Prosedur ini diteruskan hingga sisa-sisa cukup dekat dengan nol.

b. Aplikasi faktor bentuk konduksi Dalam sistem dua dimensi di mana hanya terlibat dua batas suhu, faktor bentuk konduksi S dapat didefinisikan sehingga didapatkan (49) Faktor bentuk konduksi untuk berbagai macam geometri telah dirangkum dengan komprehensif dan dapat digunakan untuk sistem dua dimensi maupun tiga dimensi.

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 18

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] Sebagai contoh pada tanur, aliran kalor berbeda beda pada dinding, tepi dan sudutnya sehingga digunakan tiga faktor konduksi S yang berbeda, yaitu

di mana A= luas dinding, L= tebal dinding, dan D=panjang tepi. Faktor bentuk totalnya adalah penjumlahan faktor bentuk dinding, tepi, dan sudut sehingga aliran kalor dapat dihitung dengan mensubstitusikan Stotal ke dalam persamaan (49).

Tugas 3: Soal perhitungan

Sebuah tungku pembakaran berbentuk bujur sangkar. Agar panas proses tidak banyak terbuang ke lingkungan, dinding tungku tersebut dibuat tiga lapisan. Lapisan Tebal (inch) k (Btu/jam ft oF) I II III 8 X 6 1 0,25 0,05

Pada saat proses pembakaran berlangsung, suhu permukaan dalam tungku 2700oF sedangkan suhu permukaan luarnya 220oF. a. Berapakah tebal lapisan II agar suhu di tengah dinding 2150oF? Lapisan Tebal (ft) k (Btu/jam ft oF) I II III 0,67 X 0,5 1 0,25 0,05

Gambar 7. Skema Kasus

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 19

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1]

( ( [ ( ( ) )

) ) ( ( ) ) ]

Jadi tebal lapisan II adalah sebesar 21,48 inchi.

b. Berapakah kalor yang masuk dan keluar dari lapisan tersebut per satuan luas waktu? (lapisan III, = 136 lb/ft3, cp=0,2 Btu/lbF) Perpindahan kalor hanya terjadi secara konduksi, sehingga dapat digunakan persamaan Fourier.

Untuk kalor masuk x = 0, sehingga

( Untuk kalor keluar, x1 = 0 dan x2 = 0,5 sehingga

( ) )

[(

) )

( ) )]

Jadi, kalor masuk 2 Btu/jam ft2 dan kalor keluar 1,825 Btu/jam ft2

Jika tungku pembakaran tersebut dianalogikan dengan sebuah batang panjang berpenampang bujur sangkar dengan sisi-sisi 0,9 ft. Ketiga bujur sangkar bersuhu 100C Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 20

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] dan sisi keempat bersuhu 600C. Suhu di sekitar tungku pembakaran selalu mengalami perubahan dan sangat dipengaruhi oleh iklim. Pada musim hujan, suhu rata-rata udara luar 50F. c. Carilah distribusi suhu (penyelesaian numerik) dalam batang yang mengalami perpindahan kalor secara aksial pada keadaan stedi bila ada kalor yang dibangkitkan sebesar 400Btu/jam.ft3 dan nilai k = 20Btu/jam.ft2.F.
600C

0,3 ft

100C

100C

100C

Gambar 8. Skema Kasus

Ketiga sisi bujur sangkar tersebut memiliki suhu yang homogen T1 = T2 = T3 = 100 oC = 212 oF sementara sisi lainnya bersuhu T4 = 600 oC = 1112 oF Penampang batang tersebut dibagi menjadi sembilan bagian sama besar dimana Pada tungku tersebut terdapat kalor yang dibangkitkan sebesar 400 Btu/jam.ft3 sehingga persamaan aproksimasi beda-berhingga adalah
( )

Sehingga

Maka diperoleh distribusi suhu: dan Besarnya aliran kalor dapat dirumuskan melalui : Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 21

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] Oleh karena besarnya (2)

Maka besarnya aliran kalor : Muka 1112oF : [( ) ( )]

Muka 212oF : [( ( ) ( ) ( ) ( ) ( )] )

d. Hitunglah kalor yang hilang melalui dinding tungku per ft2, jika koefisien perpindahan kalor konveksi bebas dan radiasi dapat dianggap sebesar h = 0,1 Btu/jam.ft2.F. Diasumsikan bahwa suhu permukaan luar tungku (dinding tungku) adalah 220F (seperti pada informasi di awal soal perhitungan) sehingga dapat digunakan untuk menghitung rugi kalor konveksi atau kalor yang hilang dengan rumus: ( ( ) ) (8)

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 22

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] e. Berapakah kalor yang hilang melalui dinding berpenyekat tersebut bila suhu permukaan luar penyekat sama dengan suhu udara di sekitarnya Perpindahan kalor menyeluruhnya hanya berupa proses konduksi, sebab suhu isolator sama dengan suhu lingkungan sehingga tidak terjadi perpindahan kalor secara konveksi T1 = 2700 oF T3 = 50 oF f. Jika harga penyekat Rp 1500,- per ft2, berapa lama waktu yang diperlukan untuk membayar harga bahan penyekat itu jika diketahui harga kalor Rp 700,- per satu juta Btu dan tungku pembakaran bekerja 18 jam/hari selama 175 hari/tahun? Karena luas penampang tungku sebesar 0,81 ft2 maka jumlah uang yang dibutuhkan untuk membeli penyekat seukuran luas tersebut adalah

Sedangkan harga kalor per Btu adalah

Karena terjadi pembangkitan kalor sebesar 400 Btu/jam . ft2 dan kalor yang hilang sebesar 148 Btu/jam . ft2, maka didapatkan selisih kalor yang dapat digunakan untuk membayar harga sebesar

Uang yang dihasilkan per jam nya dari kalor tersebut adalah

Maka dibutuhkan waktu

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 23

Perpindahan Kalor [MAKALAH PEMICU 1] DAFTAR PUSTAKA

J.P. Holman. 1997. Perpindahan Kalor, ed. 6, Jakarta: Penerbit Erlangga. Kreith, Frank. 1997. Prinsip-prinsip Perpindahan Panas Edisi 3. Jakarta: Erlangga. Mc.Adams, William. 1958. Heat Transmission. Singapore: Mc.Graw-Hill

Kelompok 3 Perpindahan Kalor | Perpindahan Kalor Konduksi Tunak 24

Anda mungkin juga menyukai