Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH PERPINDAHAN KALOR

PEMICU IV: PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI PAKSA DAN ALAT


PENUKAR KALOR


Kelompok 2
Adilfi Finasthi Kusuma Putri (1106018594)
Ikhsan Nur Rosid (1106007691)
Nuri Liswanti Pertiwi (1106015421)
Rizqi Pandu Sudarmawan (0906557045)
Wahyudi Maha Putra (1106005742)


Departemen Teknik Kimia
Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Depok 2013
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 2

Peta Konsep


Konveksi Paksa
Konsep Dasar
Definisi
Mekanisme
Temperatur Bulk
Aplikasi: Alat
Penukar Kalor
Cara Kerja
Komponen
Fenomena pada
Alat Penukar Kalor
Pressure Drop
Fouling
Parameter Kinerja
Faktor Pengotor
LTMD
Efektifitas NTU
Jenis Alat Penukar
Kalor
Shell and Tube
Arus Silang
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 3

Daftar Pustaka

Peta Konsep ................................................................................................. 2
Daftar Isi...................................................................................................... 3
Pendahuluan
- Latar Belakang ................................................................................... 4
- Perumusan Masalah ........................................................................... 4
- Tujuan Penulisan ............................................................................... 4
Jawaban Pertanyaan
1. Tugas I
- Soal 1 ........................................................................................ 5
- Soal 2 ........................................................................................ 6
- Soal 3 ........................................................................................ 9
2. Tugas II
- Soal 1 ........................................................................................ 12
- Soal 2 ........................................................................................ 12
- Soal 3 ........................................................................................ 13
- Soal 4 ........................................................................................ 15
3. Soal Perhitungan
- Soal 1 ........................................................................................ 17
- Soal 2 ........................................................................................ 21
Kesimpulan ................................................................................................. 25
Daftar Pustaka ............................................................................................. 26

Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 4

Pendahuluan

I. Latar Belakang

Proses produksi dalam suatu pabrik tidak dapat lepas dari proses perpindahan
panas yang terjadi antara dua fluida yang memiliki perbedaan temperatur. Alat
yang digunakan adalah penukar panas (heat exchanger). Penukar panas adalah
peralatan proses yang digunakan untuk memindahkan panas dari dua fluida
yang berbeda dimana perpindahan panasnya dapat terjadi secara langsung
(kedua fluida mengalami pengontakan) ataupun secara tidak langsung
(dibatasi oleh suatu dinding pemisah atau sekat). Fluida yang mengalami
pertukaran panas dapat berupa fasa cair-cair, cair-gas, dan gas-gas.

II. Perumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan alat penukar kalor?
2. Bagaimanakah prinsip kerja alat penukar kalor?
3. Apa saja komponen penyusun alat penukar kalor?
4. Apa saja jenis-jenis alat penukar kalor?
5. Fenomena-fenomena apa saja yang dapat terjadi pada alat penukar kalor?
6. Parameter apa sajakah yang diperlukan untuk mengetahui kinerja suatu
alat penukar kalor?

III. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui definisi alat penukar kalor.
2. Mengetahui prinsip kerja alat penukar kalor.
3. Mengetahui jenis-jenis alat penukar kalor.
4. Mengetahui fenomena-fenomena yang terjadi pada alat penukar kalor.
5. Mengetahui parameter kinerja dari alat penukar kalor.



Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 5

Jawaban Pertanyaan

Tugas I:
1. Apa yang anda ketahui tentang alat penukar kalor dan bagaimana prinsip
kerjanya?
Jawab:
Alat penukar kalor adalah alat yang difungsikan untuk melakukan perpindahan
sejumlah kalor atau panas dari suatu fluida ke fluida yang lainnya. Tujuan
perpindahan panas ini di dalam proses produksi adalah untuk memanaskan
ataupun mendinginkan suatu fluida hingga mencapai temperatur tertentu yang
diinginkan ataupun juga bertujuan untuk mengubah keadaan (fase) fluida dari
satu fase ke fase yang lainnya. Biasanya, medium pemanas dipakai uap lewat
panas (super heated steam) dan air biasa sebagai air pendingin (cooling water).
Penukar panas dirancang sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida
dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak,
baik antara fluida terdapat dinding yang memisahkannya maupun keduanya
bercampur langsung begitu saja. Pada alat penukar kalor ini perpindahan panas
dapat terjadi secara konduksi, konveksi ataupun radiasi tergantung dari tipe dan
konstruksi alat tersebut.
Prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas dari dua fluida
pada temperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara langsung
ataupun tidak langsung.
a. Secara kontak langsung
Panas yang dipindahkan antara fluida panas dan dingin melalui permukaan
kontak langsung berarti tidak ada dinding antara kedua fluida. Transfer panas
yang terjadi yaitu melalui interfase atau penghubung antara kedua fluida. Sebagai
contoh aliran steam pada kontak langsung yaitu dua zat cair yang immiscible
(tidak dapat bercampur), gas-liquid, dan partikel padat-kombinasi fluida.
b. Secara kontak tak langsung
Perpindahan panas terjadi antar fluida melalui dinding pemisah. Dalam sistem
ini, kedua fluida akan mengalir. Kalor mengalir dari fluida yang bertemperatur
tinggi ke fluida yang bertemperatur rendah.
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 6


2. Jelaskan jenis alat penukar kalor berdasarkan kompleksitas alat!
Jawab:
a. Double Pipe Heat Exchanger
Double Pipe Heat Exchanger adalah salah satu tipe APK yang memiliki
konfigurasi paling sederhana. Alat ini terdiri dari dua concentric circular tubes
dengan suatu fluida mengalir di bagian dalam tube dan fluida yang lain mengalir
di dalam annular space di antara tubes. Umumnya digunakan dalam proses
pendinginan fluida di mana dibutuhkan luas perpindahan panas yang kecil. Alat
ini dapat didesain dengan berbagai pengaturan aliran (parallel flow & counter
flow), dan dapat pula disusun seri atau paralel dengan APK lain dalam suatu
sistem.

Gambar 1. Double Pipe Heat Exchanger
(Sumber: http://www.brighthubengineering.com/hvac/64548-double-pipe-heat-
exchanger-design/#imgn_0)
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 7


Gambar 2. Double Pipe Heat Exchanger Counter Flow
(Sumber: http://www.brighthubengineering.com/hvac/64548-double-pipe-heat-
exchanger-design/#imgn_1)

Gambar 3. Double Pipe Heat Exchanger Parallel Flow
(Sumber: http://www.brighthubengineering.com/hvac/64548-double-pipe-heat-
exchanger-design/#imgn_2)

b. Shell and Tube Heat Exchanger
APK jenis ini sangat banyak digunakan sebagai power condensers, oil coolers,
preheaters, dan steam generators. Alat ini terdiri dari banyak tubes yang disusun
sejajar satu sama lain dalam suatu cylindrical shell. Aliran dapat diatur secara
parallel flow, counter flow, atau cross flow dan dapat juga merupakan kombinasi
dari aliran-aliran tersebut. Desain shell and tube heat exchanger memiliki standar
yang ditetapkan oleh TEMA (Tubular Exchanger Manufacturers Association).

Tabel 1. Advantages and Disadvantages of Shell & Tube Heat Exchangers
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 8


(Sumber: http://www.hcheattransfer.com/selection.html)

Gambar 4. Shell & Tube Heat Exchanger
(Sumber: http://www.globalspec.com/reference/81443/203279/chapter-22-shell-
and-tube-heat-exchangers-heat-transfer-fouling-resistance)
c. Compact Heat Exchanger
APK jenis ini sangat bergantung pada penggunaan extended surface untuk
meningkatkan overall surface area dengan tetap mempertahankan ukuran
minimum alat. Umumnya digunakan sebagai oil coolers, automotive radiators,
intercoolers, cryogenics, dan electronics cooling applications. Yang termasuk
dalam golongan APK tipe ini adalah:
Plate & frame heat exchanger (gasketed, semi-wielded,
wielded)
Spiral heat exchanger
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 9

Blazed plate & frame heat exchanger
Plate-fin heat exchanger
Printed circuits heat exchanger

Tabel 2. Advantages and Disadvantages of Compact Heat Exchangers

(Sumber: http://www.hcheattransfer.com/selection.html)


3. Bagaimana fenomena fouling dan pressure drop dapat menurunkan kinerja dari
alat penukar kalor?
Jawab:
a. Faktor Pengotor (Fouling Factor)
Fouling dapat didefinisikan sebagai akumulasi endapan yang tidak diinginkan
pada permukaan perpindahan panas alat penukar kalor. Pengotoran ini dapat
terjadi endapan dari fluida yang mengalir, juga disebabkan oleh korosi pada
komponen dari alat penukar kalor akibat pengaruh dari jenis fluida yang
dialirinya. Selama heat exchanger ini dioperasikan pengaruh pengotoran pasti
akan terjadi. Terjadinya pengotoran tersebut dapat menganggu atau
mempengaruhi temperatur fluida yang mengalir, temperature dinding tube serta
kecepatan aliran fluida. Selain itu, juga dapat menurunkan ataau mempengaruhi
koefisien perpindahan panas menyeluruh dari fluida tersebut. Oleh sebab itu,
perancang heat exchanger akan memasukkan nilai koefisien fouling pada saat
penentuan koefisien keseluruhan (overall coefficient heat transfer) untuk
memastikan bahwa heat exchanger tersebut nantinya ketika dioperasikan tidak
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 10

mengalami masalah dalam jangka waktu yang cepat. Faktor pengotoran (fouling
factor, R
f
) dapat dicari dengan menggunakan persamaan berikut.

(1)
dimana U pipa yang sudah tua tersebut dapat dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :

(2)
Jika nilai fouling factor di atas sudah memiliki nilai sedemikian besar, maka alat
penukar kalor tersebut tersebut dapat disimpulkan sudah tidah baik kinerjanya.
Nilai faktor pengotoran untuk berbagai fluida ditunjukkan pada Tabel 1 berikut.
Tabel 3. Faktor Pengotoran Untuk Beberapa Fluida

(Sumber: Holman, J.P. 2009. Heat Transfer 10
th
Edition. New York: McGraw-
Hill, hal 527)
b. Penurunan Tekanan (Pressure Drop)
Perhitungan Pressure Drop pada aliran dalam pipa alat penukar kalor sangat
penting karena mempengaruhi desain heat exchanger secara keseluruhan.
Kekasaran pipa, panjang pipa, diameter pipa, jenis fluida yang mengalir,
kecepatan dan bentuk aliran fluida yang terjadi sangat berhubungan dengan
penurunan tekanan pada sistem alat penukar kalor.
Aliran fluida didalam pipa pada kenyataannya mengalami penurunan tekanan
seiring dengan panjang pipa yang dilalui fluida tersebut. Menurut teori dalam
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 11

mekanika fluida, hal ini disebabkan karena fluida yang mengalir memiliki
viskositas. Viskositas ini menyebabkan timbulnya gaya geser yang sifatnya
menghambat. Untuk melawan gaya geser tersebut diperlukan energi sehingga
mengakibatkan adanya energi yang hilang pada aliran fluida. Energi yang hilang
ini mengakibatkan penurunan tekanan aliran fluida atau disebut juga kerugian
tekanan (head loses). Akibatnya, pada sistem heat exchanger membutuhkan
energi tambahan untuk meningkatkan energi pompa untuk mengalirkan fluida.
Presure drop pada shell heat exchanger dapat dihitung dengan persamaan berikut.

(3)
dimana:
N
b
= jumlah baffle
G
s
= laju aliran massa per satuan
luas
f
s
= friction factor
D
e
= diameter ekivalen

s
= rasio viskositas
= massa jenis fluida dalam
shell
D
s
= Diameter dalam shell
Pressure drop dalam tube heat exchanger dapat dihitung dengan menggunakan
persaman Nikuradse.

(4)
Dimana,
L = panjang tube
N
p
= jumlah laluan tube/pass
f = fanning friction factor
d
i
= diameter dalam tube
= massa jenis fluida dalam tube
v = kecepatan alir fluida dalam
tube
Pada saat fluida dalam tube berubah arah ketika melakukan pass (bila pass rube
N
1
>1) maka akan terjadi pressure drop tambahan yang disebabkan oleh kontraksi
dan ekspansi pipa.

(5)
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 12

Dimana:
V = velocity of fluid
S
g
= spesific gravity
G = konstanta gravitasi
Maka pressure drop total (P
T
) sisi tube:

(6)
Pressure Drop bertambah seiring dengan meningkatnya fouling factor pada heat
exchanger. Pressure Drop yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kavitasi dan
getaran pada pipa sehingga menghambat kerja sistem alat penukar kalor.

TUGAS II:
1. Pada perpindahan kalor konveksi paksa didefinisikan suatu temperatur yang
disebut Temperature Bulk. Beikan penjelasan tentang Temperature Bulk?
Jawab:
Suhu limbak / ruah (Temperature Bulk),

, merupakan suhu fluida yang dirata-


ratakan energinya di seluruh penampang tabung dan menunjukkan energi rata-rata
dan dapat dihitung dengan :
p
r
p
r
b
uc dr r
T uc dr r
T T
. . 2
. . 2
0
0
0
0
t
t
}
}
= =
(7)
x
T r u
T T
c b
o o
c
+ =
2
0 0
96
7
(8)
Perbedaan suhu limbak / ruah digunakan untuk menentukan energi total yang
ditambahkan dalam suatu aliran tabung. Sedangkan suhu limbak / ruah itu sendiri
digunakan untuk menentukan perpindahan kalor total dan koefisien perpindahan
kalor (kalor yang ditambahkan).
2. Jabarkan neraca energi yang terjadi pada alat penukar kalor!
Jawab:
Dalam neraca entalpi pendingin dan pemanas didasarkan pada asumsi bahwa
dalam penukar kalor tidak terjadi kerja poros, sedang energi mekanik, energi
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 13

potensial, dan energi kinetik semuanya kecil dibandingkan dengan suku-suku lain
dalam persamaan neraca energi. Maka, untuk satu arus dalam penukar kalor
Q = m (H
b
-H
a
) (9)

Dimana,
m = laju aliran massa dalam arus tersebut
t
Q
q =
= laju perpindahan kalor ke dalam arus
H
a
dan H
b
= entalpi per satuan massa arus pada waktu masuk dan pada
waktu keluar.

Penggunaan laju perpindahan kalor dapat lebih disederhanakan dengan asumsi
salah satu dari fluida dapat mengambil kalor dan melepaskan kalor ke udara
sekitar jika fluida itu lebih dingin dari udara. Perpindahan kalor dari atau ke udara
sekitar dibuat sekecil mungkin dengan isolasi yang baik sehingga kehilangan kalor
tersebut diabaikan terhadap perpindahan kalor yang melalui dinding tabung yang
memisahkan udara panas dan udara dingin. Dengan asumsi tersebut, perpindahan
kalor pada fluida panas adalah:
m
h
(H
hb
H
ha
) = q
h
(10)

sedangkan untuk fluida dingin adalah :
m
c
(H
cb
H
ca
) = q
c
(11)

Tanda q
c
positif sedangkan tanda q
h
negatif karena fluida panas menerima kalor
sedangkan fluida dingin melepas kalor. Dengan asumsi tidak ada kalor yang
terbuang ke lingkungan, maka
q
c
= -q
h
(12)
Maka persamaan neraca entalpi keseluruhan adalah
m
h
C
ph
(T
hb
T
ha
) = m
c
C
pb
.(T
cb
T
ca
) = q
c
(13)

3. Bagaimana mekanisme dan hubungan empiris untuk perpindahan kalor konveksi
paksa pada aliran sejajar dengan benda?
Jawab:
Suhu limbak atau bulk temperature menunjukkan energi rata-rata atau kondisi
seperti pada Gambar ? dibawah ini
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 14


Gambar 5. Perpindahan Kalor Menyeluruh Dinyatakan dengan Beda Suhu
Ruah
(Holman, J.P, dan E. Jasjfi. 1991. Perpindahan Kalor. Erlangga: Jakarta)
dimana perpindahan kalor menyeluruh dinyatakan dengan beda suhu limbak,
sesuai dengan rumus berikut ini :

(14)
Energi total yang ditambahkan dapat dinyatakan dengan beda suhu limbak, dengan
syarat Cp sepanjang aliran tersebut tetap. Kalor dq yang ditambahkan dalam
panjang diferensial dx dapat dinyatakan dengan beda suhu limbak atau dengan
koefisien perpindahan kalor yaitu :
(15)
dimana Tw dan Tb masing-masing adalah suhu dinding dan suhu limbak pada
posisi x tertentu. Perpindahan kalor total dapat pula diyatakan sebagai:
(16)
Untuk aliran turbulen yang sudah jadi atau berkembang penuh (fully
developed turbulent flow) dalam tabung licin, disarankan menggunakan persamaan
berikut :
(17)
Untuk persamaan ini, sifat-sifat ditentukan pada suhu fluida limbak dan nilai
eksponen n adalah sebagai berikut :
n = 0,4 (untuk pemanasan)
n = 0,3 (untuk pendinginan)


Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 15

Persamaan diatas berlaku untuk fluida dengan angka Prandtl antara 0,6 hingga
100. Bentuk paling sederhananya adalah fungsi eksponen dari masing-masing
parameter, sehingga didapat :
(18)
dimana C, m, dan n ialah konstanta yang harus ditentukan dari data percobaan.

4. Apa yang anda ketahui tentang faktor kekotoran keseluruhan (overall dirty factor
= fouling factor)? Bagaimana menentukan suhu rata-rata log atau log mean
temperature difference (LMTD) pada alat penukar kalor?
Jawab:
a. Fouling Factor
Fouling factor adalah besaran yang menyatakan seberapa besar kekotoran suatu
alat penukar kalor. Kekotoran yang dimaksud adalah deposit pada dinding alat
penukar kalor yang diakibatkan oleh adanya pengotor dari fluida yang mengalir
dalam alat penukar kalor atau hasil korosi dari interaksi fluida dan dinding alat
penukar kalor. Deposit ini akan menyebabkan tambahan hambatan termal pada
alat penukar kalor, sehingga dapat mempengaruhi performa alat penukar kalor.
Pengaruh dari pengotor tersebut dinyatakan dalam besaran fouling factor. Fouling
factor dapat dihitung dengan persamaan dalam buku Perpindahan Kalor edisi 6
karangan J.P. Holman:

(19)
Nilai faktor pengotor untuk berbagai fluida dapat dilihat lebih lengkap di Daftar
10-2 pada buku Perpindahan Kalor Edisi 6 karangan J.P. Holman di halaman 486.
Nilai faktor pengotor ini kemudian dimasukkan ke dalam persamaan untuk
menghitung koefisien perpindahan kalor menyeluruh bersama tahanan termal lain
dalam sistem.
b. Log Mean Temperature Difference (LTMD)
Untuk menganalisis suatu alat penukar kalor, digunakan persamaan:
(20)
dimana q adalah laju perpindahan kalor, U adalah koefisien perpindahan kalor
menyeluruh dan T adalah perbedaan suhu dalam alat penukar kalor. Untuk
menyelesaikan persamaan tersebut, maka salah satu besaran yang dibutuhkan
adalah perbedaan suhu dalam alat penukar kalor.
Profil suhu pada alat penukar kalor aliran parallel dapat digambarkan menjadi:


Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 16

Gambar 6. Profil suhu pada alat penukar kalor aliran paralel
(sumber: Cengel, Y.A. 2009. Heat Transfer: A Practical Approach, Second
Edition. McGraw-Hill, halaman 681)
Dengan mengasumsikan bahwa pertukaran kalor yang terjadi hanyalah antar fluida
dalam alat penukar kalor dan mengabaikan energi kinetik serta potensial, maka
neraca energi dalam alat penukar kalor dapatdituliskan menjadi:

(21)

(22)
dimana merupakan laju perpindahan kalor, merupakan laju massa, c
merupakan kalor jenis dan dT adalah perbedaan suhu. Transkrip c dan h
menyatakan fluida dingin dan panas. Pada fluida panas, neraca energinya bertanda
negatif karena fluida melepaskan panas. Persamaan di atas dapat diselesaikan
untuk dT sehingga didapatkan:

(23)

(24)
Selisih dari persamaan di atas adalah:

) (25)
Laju perpindahan kalor juga dapat dituliskan dengan persamaan:

(26)
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 17

Dengan mensubstitusi persamaan (26) ke persamaan (25) dan menyusunnya
kembali, maka akan didapatkan:

) (27)
Persamaan (27) kemudian diintegrasikan dari keadaan inlet hingga keadaan outlet
sehingga didapatkan:

) (28)
Persamaan (28) kemudian kita substitusikan ke persamaan (21), dan setelah
penyusunan ulang, maka akan didapatkan perbedaan suhu dalam alat penukar
kalor yang juga disebut log mean temperature difference (LTMD):


(29)
T
1
menyatakan perbedaan suhu pada inlet dan T
2
menyatakan perbedaan suhu
pada bagian outlet alat penukar kalor. Persamaan ini dapat digunakan untuk aliran
paralel maupun berlawanan.


SOAL PERHITUNGAN
1. Helium mengalir dengan kecepatan 5 gr/dtk dalam pipa sebuah alat penukar
kalor pipa ganda dengan aliran berlawanan arah. Helium masuk pada suhu 300 K
dan keluar pada suhu 84 K, diameter dalam pipa 2 cm. Gas nitrogen mengalir
dalam annulus berlawanan dengan He pada kecepatan 35 gr/dtk. Keadaan
annulus dapat diekivalenkan dengan pipa yang diameternya 8 cm. Suhu N
2
78 K.
Sifat-sifat fisis He dan N
2
sbb:
He: Cp=1,25 kal/gr
o
C; =0,018 cp; k=0,082 btu/jam.ft.
o
F
N
2
: Cp=0,25 kal/gr
o
C; =0,0165 cp; k=0,014 btu/jam.ft.
o
F
Hitunglah:
a. Perpindahan kalor antara He dan N
2

b. Suhu nitrogen keluar dari alat penukar kalor
c. LMTD
d. h
N2

e. Panjang pipa jika U
1
=400 btu/jam.
o
F.ft
2

Jawab:
Diketahui:
He = 5 gr/s
N
2
= 35 gr/s
T
in
He = 300 K
T
in
N
2
= 78 K
T
out
He = 84 K
D
N2
= 8 cm = 0,08 m
D
He
= 2 cm = 0,02 m
Cp
He
= 1,25 kal/gr
o
C = 5,23x10
3

J/kg.K
Cp
N2
= 0,25 kal/gr
o
C = 1,05x10
3
J/kg.K

Ditanyakan:
a) q
b) T
out
N
2

c) LMTD
d) h
N2

e) panjang pipa jika U
1
=400
btu/jam.
o
F.ft
2

Penyelesaian:
Asumsi:
c. Tidak ada faktor pengotor dalam alat penukar kalor
d. Tidak ada perpindahan kalor lain yang terjadi selain perpindahan kalor secara
konveksi antara helium dan nitrogen
Skema sistem:
a) Menghitung perpindahan kalor antara helium dan nitrogen
Perpindahan kalor antara helium dan nitrogen dapat dihitung dari kalor yang
dilepas oleh helium dengan persamaan:



Tanda negatif menandakan bahwa helium melepas kalor.
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 19

b) Suhu nitrogen keluar dapat dihitung dengan menggunakan persamaan yang
digunakan di bagian (a), dengan mengasumsikan bahwa kalor yang
dikeluarkan oleh helium sama dengan kalor yang diterima oleh nitrogen




c) Nilai LMTD dihitung dengan menggunakan persamaan (29):

]







(

)

(tak berdimensi)
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 20

d) Nilai h
N2
dapat dihitung dengan persamaan:


e) Untuk menghitung panjang dengan jika U
1
=400 btu/jam.
o
F.ft
2
atau 2271,28
J/s.m
2
.
0
K, maka digunakan persamaan:
(10)
dimana F adalah faktor koreksi. Faktor koreksi didapatkan dari Figure 10-9 pada
buku Heat Transfer 10
th
Edition karangan J.P. Holman halaman 534. Untuk
mendapatkan faktor koreksi, maka dibutuhkan parameter P dan R yang didapatkan
dengan persamaan:

.(11)





(12)





Dengan nilai R = 0,71 dan P = 0,97, didapatkan nilai F = 0,75. Nilai F kemudian
dimasukkan ke dalam persamaan (10) untuk mendapatkan nilai A:


Nilai A kemudian digunakan untuk menghitung panjang pipa:

Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 21




2. Sebanyak 96000 lb zat cair A akan didinginkan dari suhu 400
o
F menjadi 200
o
F.
Sebagai pendingin digunakan zat cair B yang akan naik suhunya dari 100
o
F
menjadi 200
o
F. Alat yang tersedia untuk tersedia untuk keperluan ini adalah
sebuah alat pertukaran kalor shell and tube dengan ID shell = 29 in, jumlah
tube/pipa dalam shell= 338 buah. Diameter pipa OP = 1 in (BWG 14), panajng
16 ft. letak pipa triangular pitch PT = 1,25 in, jarank antara 2 penghalang/baffle
10 in. Aliran pipa 4 pass dan aliran dalam shell 1 pass. Diketahui sifat-sifat fluida
(konstan terhadap suhu) sebagai berikut.
A: Cp = 0,4 BTU/lb.F; = 0,6 cp; k= 0,07 BTU/jam.ft.F
B: Cp = 0,6 BTU/lb.F; = 0,8 cp; k= 0,08 BTU/jam.ft.F
Hitunglah:
a. Jumlah zat cair B yangbisa dipanaskan
b. Koefisien perpindahan kalor dalam pipa
c. Koefisien perpindahan kalor dalam shell
d. Koefisien perpindahan kalor menyeluruh jika dalam kedaan baru (bersih)
e. Fouling factor (Rd)


Gambar 7. Heat Exchanger Shell and Tube
(Sumber: Cengel. 2010. Heat Transfer 2
nd
Edition)
Jawab:
Diketahui:
- Jenis heat exchanger = shell
and tube (4 pass, 1 shell)
- T
A,in
= 400
o
F = 204,4
o
C
- T
A,out
= 200
o
F = 93,33
o
C
- T
B,in
= 100
o
F = 37,78
o
C
- T
B,out
= 200
o
F = 93,33
o
C
- Diameter shell (inner) = 29 in
= 0,7366 m
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 22

- Diameter tube (outer) = 1 in =

m
- L tube = 16 ft = 4,877 m
- Jumlah tube = 338
- Jarak baffle = 10 in = 0,254 m
- PT = 1,25 in
-

= 96000 lb/jam

Asumsi
- Aliran fluida adalah steady state
- Heat exchanger terinsulasi sehingga tidak ada kalor yang terbuang ke
lingkungan
- Energy potensial dan energy kinetikk dari fluida diabaikan
- Aliran fluida adalah counter flow

Bagian 2a
Menentukan massa zat cair B yang dipanaskan

Gambar 8. Penampang Sederhana dari Heat Exchanger Shell and Tube
(Sumber: Cengel. 2010. Heat Transfer 2
nd
Edition)

) (



Bagian 2b
Menentukan nilai Q
Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 23

) (





Menentukan nilai P, R, dan F

Dari soal diketahui
- T
A,in
= t1 = 400
o
F = 204,4
o
C
- T
A,out
= t2 = 200
o
F = 93,33
o
C
- T
B,in
= 100
o
F = 37,78
o
C
- T
B,out
= 200
o
F = 93,33
o
C




Menentukan nilai F dari grafik berikut

Gambar 9. Grafik hubungan P, R, dan F
(Sumber: Cengel. 2010. Heat Transfer 2
nd
Edition)

Nilai F tidak ada yang memenuhi sehingga asumsikan nilai F = 1

Menentukan

dan


Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 24





Nilai

tidak dapat ditentukan, oleh karena itu digunakanlah nilai

, karena
nilai

tidak berbeda jauh (error sekitar 1%) dengan nilai

apabila
perbedaan

lebih dari 40%.

+

Menentukan A tube, A shell, dan A baffle

) (


) (

) (



Bagian 2b (Menentukan nilai U
tube)



Bagian 2c (Menentukan U shell)



Bagian 2d (Menentukan U
menyeluruh)




Bagian 2e (Menentukan nilai R)
Asumsikan nilai U kotor = 80% U
bersih =


Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 25

Kesimpulan

1. Alat penukar kalor adalah alat yang difungsikan untuk melakukan
perpindahan sejumlah kalor atau panas dari suatu fluida ke fluida yang
lainnya. Tujuan perpindahan panas ini di dalam proses produksi adalah untuk
memanaskan ataupun mendinginkan suatu fluida hingga mencapai temperatur
tertentu yang diinginkan ataupun juga bertujuan untuk mengubah keadaan
(fase) fluida dari satu fase ke fase yang lainnya.
2. Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat
dinding yang memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung begitu
saja. Pada alat penukar kalor ini perpindahan panas dapat terjadi secara
konduksi, konveksi ataupun radiasi tergantung dari tipe dan konstruksi alat
tersebut.
3. Jenis-jenis alat penukar kalor antara lain double pipe heat exchanger, shell
and tube heat exchanger, compact heat exchanger dan lain-lain. Masing-
masing jenis memiliki kompleksibilitas dan tujuan penggunaan yang berbeda.
4. Pressure drop dan fouling dapat terjadi pada pengoperasian alat penukar
kalor.
5. Parameter untuk mengukur kinerja alat penukar kalor antara lain faktor
pengotor, LTMD, dan efektifitas NTU.

Makalah Konveksi Paksa-Kelompok 2 26

Daftar Pustaka

Cengel, Y. 2006. Heat Transfer 2
nd
Editon. USA: McGraw-Hill
Holman, J.P. 2009. Heat Transfer 10
th
Edition. New York:McGraw-Hill
Anonim. 2013. Diakses dari
http://www.globalspec.com/reference/81443/203279/chapter-22-shell-and-
tube-heat-exchangers-heat-transfer-fouling-resistance